Anda di halaman 1dari 22

CRITICAL BOOK REVIEW

MK.KETERAMPILAN
DASAR PENDIDIKAN SD

PRODI S1 PGSD-FIP

KETERAMPILAN DASAR PENDIDIKAN DI SD Skor Nilai :


(Universitas Negeri Medan)

Nama Mahasiswa : RoyHan Febriyanta Sembiring

Nim : 1193111055

Jurusan : Pendidikan Pra dan Sekolah Dasar

Program Studi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Kelas : E Reguler 2019

Dosen Pengampu :Dr.Eva Betty Simajuntak S,Pd M,Pd

Mata Kuliah : Keterampilan Dasar Pendidikan SD

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN – UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MEDAN

OKTOBER 2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkatd a n R a h m a t - N y a s e h i n g g a p e n u l i s d a p a t m e n y e l e s a i k a n
t u g a s m a k a l a h m a t a k u l i a h ini KETERAMPILAN DASAR
PENDIDIKAN SD yang berjudul “CRITICAL BOOK REPORT”. Penulis
berterima k a s i h k e p a d a I b u E v a B e t t y S i m a j u n t a k y a n g s u d a h
me mb e r i k a n bimbingannya.Penulis juga menyadari bahwa tugas ini masih
banyak kekurangan oleh karena itupenulis meminta maaf jika ada kesalahan
dalam penulisan dan penulis juga mengharapkan kritikdan saran yang
membangun guna kesempurnaan tugas ini.Akhir kata penulis mengucapkan
terimakasih semoga dapat bermanfaat dan bisamenambah pengetahuan bagi
pembaca.

Medan,16 Oktober 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………………………………………….i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………………………………………ii

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang………………………………………………………………………………………………………………………1

B.Tujuan Penulisan CBR…………………………………………………………………………………………………………….1

C.Manfaat CBR………………………………………………………………………………………………………………………….1

D.Identitas Buku………………………………………………………………………………………………………………………..2

BAB II RINGKASAN BUKU

Isi Ringkasan Buku……………………………………………………………………………………………………………………16

BAB III KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU

Kelebihan dan Kekurangan Buku………………………………………………………………………………………………17

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan dan saran buku……………………………………………………………………………………………………..18

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………………………………..19
BAB I

PENDAHULUAN
A.Latar Belakang

Sering kali kita bingung memilih buku referensi untuk membaca dan pahami.Terkadang
kita memilih satu buku,namun kurang memuaskan hati kita.Misalnya dari segi analisis bahasa ,
pembahasan tentang kepemimpinan .
Oleh karena itu, penulis membuat Critical Book Report ini untuk mempermudah pembaca dalam
memilih buku referensi,terkhusus pada pokok bahasa tentang kepemimpinan.

B.Tujuan Penulisan CBR

Critical Book Review ini bertujuan :

a. Mengulas Isi sebuah buku

b. Mencari dan mengetahui informasi yang ada dalam buku

c. Melatih diri untuk berpikir kritis dalam mencari informasi yabg diberikan oleh setiap bab dari
buku

C.Manfaat CBR

a. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keterampilan Dasar Pendidikan SD

b. Untuk menambah pengetahuan para pembaca

c. Memudahkan pembaca dalam memahami isi dari buku

d. Menambah wawasan penulis

D.Identitas Buku Yang Direview :

Buku Utama :

1. Judul :Keterampilan Dasar Pendidikan Di SD

1
2. Edisi :Terbaru

3. Pengarang :-Dr.Naeklan Simbolon,M.Pd

-Dr.Eva Betty Simanjuntak,M.Pd

-Drs.Robenhart Tamba,M.Pd

4. Penerbit :Universitas Negeri Medan

5. Kota Terbit :Medan

6. Tahun Terbit :2019

7. ISBN :-

8. Ukuran Buku :17,6 x 25,3 cm

9. Jumlah Halaman :92 hlm

Buku Pembanding :

1. Judul :Implementasi Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar

2. Edisi :Pertama

3. Pengarang :Sadun Akbar

4. Penerbit :PT.Remaja Rosdakarya

5. Kota Terbit :Bandung

6. Tahun Terbit :2016

7. ISBN :978-979-692-713-5

8. Ukuran Buku :26,7 x 19,8 cm

9. Jumlah Halaman :227 hlm

2
BAB II

Ringkasan Buku Utama


Bab 1 (Pendidikan Dasar Di Indonesia)

A.Pengertian Pendidikan Dasar

Pendidikan dasar adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan keterampilan,


menumbuhkan sikap dasar yang diperlukan dalam masyarakat, serta mempersiapkan peserta
didik untuk mengikuti pendidikan menengah. Pendidikan dasar diselenggarakan untuk
memberikan bekal dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat berupa
pengembangan sikap, pengetahuan dan keterampilan dasar. Pendidikan dasar disebut sekolah
dasar (SD) yaitu lembaga pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan sebagai
dasar untuk mempersiapkan siswanya yang dapat ataupun tidak dapat melanjutkan
pelajarannya ke lembaga pendidikan yang lebih tinggi, untuk menjadi warga negara yang baik.

B.Tujuan Pendidikan Dasar

1. Bidang Pengetahuan

 Memiliki pengetahuan dasar fungsional.

 Memiliki pengetahuan dasar tentang kesejahteraan keluarga.

 Memiliki pengetahuan dasar tentang berbagai bidang pekerjaan yang terdapat di


masyarakat sekitarnya.

2. Bidang Keterampilan

 Menguasai cara-cara belajar yang baik.

 Terampil menggunakan bahasa Indonesia lisan dan tulisan.

 Memiliki keterampilan berolahraga.

 Mampu bekerja sama dengan orang lain.

 Menguasai sekurang-kurangnya satu jenis keterampilan khusus.

3. Bidang Nilai dan Sikap

 Menerima dan melaksanakan ajaran agama dan kepercayan terhadap Tuhan.

3
 Memiliki sifat demokratis dan tenggang rasa.

 Memiliki sikap hemat dan produktif.

 Percaya pada diri sendiri.

 Memiliki minat dan sikap positif terhadap ilmu pengetahuan.

C.Landasan-landasan Pendidikan Dasar

1.Landasan Filosofis Pendidikan di Indonesia

Secara filosofis, bangsa Indonesia sebelum mendirikan negara adalah sebagai bangsa
yang berketuhanan dan berkemanusiaan, hal ini berdsarkan kenyataan objektif bahwa manusia
adalah makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Syarat mutlak suatu negara adalah persatuan yang
terwujudkan sebagai rakyat (merupakan unsur pokok negara), sehingga secara filosofis negara
berpersatuan dan berkerakyatan. Konsekuensinya rakyat adalah merupakan dasar ontologis
demokrasi, karena rakyat merupakan asal mula kekuasaan negara. Atas dasar pengertian itulah
maka nilai pancasila merupakan dasar filosofis negara.

Pancasila menjadi acuan untuk berkarya pada segala bidang. Sejalan dengan ini, pasal 2
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang “Sistem Pendidikan Nasional” menyatakan
bahwa “Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.

2.Landasan Psikologis Pendidikan

Psikologi sebagai sebuah landasan dalam pendidikan adalah bahwa dalam pelaksanaan
pendidikan haruslah menerapkan unsur-unsur psikologis karena yang menjadi sasaran
pendidikan tersebut adalah manusia. Oleh karena itu, dalam penyelenggaraannya, pendidikan
selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia. Untuk memahami berbagai karakteristik siswa yang
beragam maka diperlukan psikologi dalam pendidikan. Pendidikan memposisikan manusia
sebagai objek dan subjeknya sehingga sangat diperlukan psikologi sebagai landasan pendidikan.

3.Landasan Sosial Budaya

Proses belajar mengajar disekolah,juga mendapat pengaruh dari institusi lain di


luarnya,seperti teman sebaya,keluarga dan masyarakat.Sosiobudaya dari institusi ini akan
mempengaruhi sosiokultural yang ada disekolah.

4
4.Landasan Hukum

Dengan memahami landasan hokum,guru lebih siap menerima penyesuaian yang perlu
dilakukan dan kemungkinan dapat diadakan inovasi dalam bidang pendidikan.Pancasila seperti
yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945,merupakan kepribadian,tujuan dan pandangan
hidup bangsa Indonesia.Oleh karena itu acuan yang harus menjadi dasar landasan hokum
sistem pendidikan nasional adalah pancasila.

D.Latar Belakang dan Arah Pendidikan Dasar

Pendidikan dasar dalam UU 50 yang disebut dengan pendidikan


rendah, definisinya sangat jelas, bahwa level ini adalah level untuk menumbuhkan minat,
mengasah kemampuan pikir, olah tubuh dan naluri.
Berdasarkan pasal 17 UU RI No. 20 tahun 2003 menerangkan bahwa:
A) Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan
menengah.
B) Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk
lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs),
atsu bentuk lain yang sederajat.
C) Ketentuan mengenai pendidikan dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur
lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Penjelasan atas pasal 17 ayat (2) menyatakan bahwa “Pendidikan yang sederajat dengan
SD/MI adalah program seperti Paket B yang diselenggarakan pada jalur pendidikan nonformal.
Dalam UU No. 2 tahun 1989, Pendidikan dasar diselenggarakan untuk mengembangkan
sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan
untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan
untuk mengikuti
pendidikan menengah.

E.Kurikulum Sekolah Dasar


Dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP) pasal 1 ayat 15 (Mulyasa, 2010: 15)
dikemukakan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional
yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan dengan memperhatikan
dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan
Standar Sistem Pendidikan (BSNP). Masnur Muslich (2010: 1) menyatakan bahwa pada
prinsipnya, KTSP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Standar Isi, namun
pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai dengan kebutuhan sekolah itu
sendiri. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan
kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Mulyasa (2010: 20)
menyatakan bahwa KTSP merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan
sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi. Suparlan (2011: 97) menyatakan, konsep dasar
KTSP meliputi tiga aspek yang saling terkait, yaitu (a) kegiatan pembelajaran, (b) penilaian,
5
(c) pengelolaan kurikulum berbasis sekolah. Kegiatan pembelajaran dalam KTSP mempunyai
beberapa karakteristik yang meliputi: (a) berpusat pada peserta didik, (b) mengembangkan
kreativitas, (c) menciptakan kondisi yang menyenangkan dan menantang, (d) kontekstual, (e)
menyediakan pengalaman belajar yang beragam, dan (f) belajar melalui berbuat.
F.Jenis-jenis Sekolah Dasar

1. Sekolah Dasar (SD) Konvensional


SD Konvensional adalah sekolah dasar biasa, yang menyelenggarakan pendidikan enam tahun,
terdiri atas enam kelas dengan enam orang guru kelas, satu guru mata pelajaran Pendidikan
Agama, satu orang guru mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan, satu orang kepala
sekolah dan satu orang pesuruh.
2. Sekolah Dasar (SD) Percobaan
SD Percobaan adalah sekolah dasar konvensional yang menyelenggarakan pendidikan enam
tahun. Hanya saja, SD percobaan ini diberi kewenangan untuk melakukan percobaan-percobaan
tertentu dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di sekolah dasar.
3. Sekolah Dasar (SD) Inti
SD inti adalah sekolah dasar konvensional yang menyelenggarakan pendidikan enam tahun,
terdiri atas enam kelas dengan enam orang guru kelas, satu guru mata pelajaran Pendidikan
Agama, satu orang guru mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan, satu orang kepala
sekolah dan satu orang pesuruh. SD inti ini dilengkapi dengan satu ruang kelompok kerja guru
(KKG), satu ruang perpustakaan sekolah, dan satu ruang serbaguna.
4. Sekolah Dasar (SD) Kecil atau SD Inpres
SD Kecil awalnya adalah sekolah dasar yang pada umumnya terdapat di daerah terpencil
dengan sistem pendidikan yang berbeda dengan SD konvensional. Proses belajar mengajar
diselenggarakan dengan menggunakan modul, penggabungan kelas dan tutor sebaya.
5. Sekolah Dasar (SD) Satu Guru
SD Satu Guru adalah sekolah dasar yang pada umumnya terdapat di daerah terpencil. Proses
belajar mengajar diselenggarakan dengan menggunakan modul, penggabungan kelas dan tutor
sebaya.
6. Sekolah Dasar (SD) Pamong
SD Pamong adalah lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat, orang tua, dan
guru untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi anak putus sekolah dasar atau anak lain
yang karena satu dan lain hal. Tidak dapat datang secara teratur belajar di sekolah
7. Sekolah Dasar (SD) Terpadu
SD Terpadu adalah sekolah dasar yang menyelenggarakan pendidikan bagi anak normal dan
penyandang cacat dan normal secara bersama-sama dengan menggunakan kurikulum sekolah
dasar konvensional.
G.Karakteristik Pendidikan Dasar DiIndonesia
 Senang bermain
Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang
bermuatan permainan lebih – lebih untuk kelas rendah. Guru sd seyogiyanya merancang
model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di dalamnya. Guru
hendaknya mengembangkan model pengajaran yang serius tapi santai.
6
 Senang bergerak
Orang dewasa dapat duduk berjam-jam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan
tenang paling lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu, guru hendaknya merancang model
pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak. Menyuruh anak
untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang lama, dirasakan anak sebagai siksaan.

 Anak senang bekerja dalam kelompok

Dari pergaulanya dengan kelompok sebaya, anak belajar aspek-aspek yang penting
dalam proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar
setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar
menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif),
mempelajarai olah raga dan membawa implikasi bahwa guru harus merancang model
pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok,
serta belajar keadilan dan demokrasi.

 Senang merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu secara langsung.


Ditunjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional
konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep baru
dengan konsep-konsep lama.
Kebutuhan siswa
Bertolak dari kebutuhan peserta didik. Pemaknaan kebutuhan siswa SD dapat
diidentifikasi dari tugas-tugas perkembangannya. Tugas-tugas perkembangan adalah.
”tugas-tugas yang muncul pada saat atau suatu periode tertentu dari kehidupan individu, yang
jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa arah keberhasilan dalam
melaksanakan tugas-tugas berikutnya, sementara kegagalan dalam melaksanakan tugas
tersebut menimbulkan rasa tidak bahagia, ditolak oleh masyarakat dan kesulitan dalam
menghadapi tugas-tugas berikutnya”
H.Cara Belajar Anak
Cara belajar anak disekolah dasar memilki tiga ciri dalam panduan lengkap KTSP,yaitu:
 Konkret
Mengandung makna proses belajar beranjak dari hal yang konkret yakni yang dapat
dilihat,didengar,dibaui,diraba,dan diotak atik dengan titik penekanan pada pemanfaatan
lingkungan sebagai sumber belajar.
 Integratif
Hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum dari bagian ke
bagian.
 Hierarkis
Pada tahapan ini,cara belajar anakl berkembang secara bertahap mulai dari hal yang
sederhana ke hal yang lebih kompleks.

7
Bab 2 (Keterampilan Belajar di SD)
A.Pengertian Keterampilan Belajar
Keterampilan belajar adalah cara untuk mempertahankan dan mengungkapkan
pengetahuan yang dianggap efektif oleh tenaga pendidik sehingga seorang murid akan bisa
menyerap pengetahuan yang di dapatkan dalam mata pelajaran dengan mudah.
B.Hakikat Keterampilan Belajar
 Keterampilan Manajemen Pribadi
 Interpersonal dan Keterampilan Kerjasama Tim
 Kesempatan Eksplorasi
C.Tujuan Penerapan Keterampilan Belajar
 Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran.
 Menumbuhkan minat dan motivasi belajar.
 Membentuk peserta didik yang mandiri dalam belajar.
D.Aspek-aspek Keterampilan Belajar
1) Mengatur waktu atau Manajemen waktu Menurut Teo Aik Cher (2013:111) “manajemen
waktu atau pengaturan waktu adalah strategi yang digunakan untuk memanfaatkan waktu yang
ada sepenuhnya”. Manajemen waktu dapat juga diartikan memanfaatkan waktu yang ada
sepenuhnya dan sebaikbaiknya untuk melakukan kegiatan yang positif dan menyelesaikan
suatu hal dengan tepat waktu. Oleh sebab itu, diperlukan keterampilan manajemen waktu agar
waktu yang ada tidak terbuang sia-sia.
2) Keterampilan membaca Menurut Henry G. Tarigan (2008:7) membaca adalah suatu proses
yang dilakukan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis
melalui media kata-kata atau bahasa tulis. The Liang Gie (1998:11) mendefinisikan “membaca
adalah serangkaian kegiatan pikiran seseorang yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk
memahami sesuatu keterangan yang disajikan kepada indera penglihatan dalam bentuk
lambang huruf dan tanda lainnya”. Penjelasan dari pengertian tersebut yaitu membaca
merupakan kegiatan untuk memahami suatu informasi yang disajikan dalam bentuk tulisan
melalui indera penglihatan. Nana S Sukmadinata (2007:310) membaca adalah menangkap
informasi, konsep-konsep orang lain melalui lambang-lambang tulis. Membaca yang baik adalah
mampu menangkap informasi, konsep yang sesuai dengan yang dimaksud oleh penulis
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa membaca merupakan
suatu keterampilan dalam berbahasa dan serangkaian kegiatan untuk memahami informasi
dalam bentuk tulisan melalui indera penglihatan.
3) Keterampilan mencatat Dinar Apriyanto (2013:78) “mencatat merupakan bagian yang
penting dalam belajar kerena inti pengetahuan dan informasi dirangkum untuk kemudian
ditransfer ke memori-meningkatkan kemampuan daya ingat”. Mencatat adalah kegiatan
menyajikan kembali informasi yang dari audio atau visual kedalam bentuk tulisan. Mencatat
merupakan kegiatan yang tidak bisa lepas dari kegiatan belajar. Dalam mencatat dibutuhkan
keterampilan, seperti membuat catatan secara singkat dan menarik agar dapat lebih mudah
dipahami dan diingat oleh siswa. Karena tujuan dari mencatat adalah agar siswa bisa mengingat
kembali meteri yang telah diberikan.
4) Keterampilan konsentrasi Menurut The Liang Gie (1998:63) “konsentrasi yaitu pengarahan
8
pikiran seseorang terhadap suatu mata pelajaran dengan mengesampingkan semua hal lainnya
yang tidak berhubungan dengan pelajaran itu”. Pernyataan diatas dapat diartikan bahwa
konsentrasi ialah fokus terhadap sesuatu yang sedang dikerjakan dan mengesampingkan hal
lain yang tidak berhubungan. Dalam hal ini siswa harus bisa memusatkan perhatiannya pada
apa yang dihadapinya.
5) Keterampilan mengingat Mengingat adalah berusaha memberikan “tanda” pada hal yang
akan diingat (Dinar Apriyanto, 2013: 53). Mengingat adalah kemampuan individu untuk
menyimpan informasi dari masa lalu dan memanggil kembali informasi tersebut. Berbeda
dengan menghafal yang merupakan memori jangka pendek, mengingat merupakan menyimpan
informasi untuk jangka panjang. Keterampilan mengingat dapat diartikan sebagai kemampuan
unutuk memperhatikan, menyimpan dan memanggil kembali informasi. 6) Keterampilan
mengikuti ujian Hendra Surya (2013:255) menjelaskan ketika menghadapi ujian seorang siswa
harus memiliki persiapan agar ujian dapat dilaksanakan dengan maksimal dan memperoleh
hasil yang memuaskan. Meskipun siswa sudah mempersiapkan ujian dengan baik, siswa masih
dapat mengalami kesulitan ujian.

9
Ringkasan Buku Pembanding
Bab 1 (Pengembangan Perangkat Belajar Tematik)

A.Pembelajaran Tematik

Pembelajaan tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk


mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna
kepada siswa.Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan
(Poerwadarminta, 1983).
Dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya:
1. Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,
2. Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi
dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama;
3. Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
4. Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan matapelajaran
lain dengan pengalaman pribadi siswa;
5. Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan
dalam konteks tema yang jelas;
6. Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk
mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari
matapelajaran lain;
7. Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik
dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu
selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.
Landasan Pembelajaran Tematik
Landasan Pembelajaran tematik mencakup:
1. Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat
yaitu: (a) progresivisme, (b) konstruktivisme, dan (c) humanisme.
Aliran progresivisme yang memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada
pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural),
dan memperhatikan pengalaman siswa.
Aliran konstruktivismeyang melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences)
sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi
atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan
obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer
begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh
masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses
yang berkembang terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya
sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya.
Aliran humanisme yang melihat siswa dari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, dan
10
motivasi yang dimilikinya.
2. Landasan psikologis. Dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi
perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan
terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa
agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.
Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik
tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya.
3. Landasan yuridis. Dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau
peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Landasan
yuridis tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan
bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka
pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal
9). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap
peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai
dengan bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).
Arti Penting Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara
aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan
terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui
pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan
menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Teori pembelajaran ini
dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran
haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak.
Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan
sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang
pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman
belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran
lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema,
sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Selain itu, dengan
penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu siswa, karena sesuai
dengan tahap perkembangannya siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu
keutuhan (holistik).
B.Perangkat Pembelajaran Tematik

Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada

rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti

IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat

perkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampu

memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih

11
bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami secara langsung.

Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD kelas I –III untuk setiap mata pelajaran

dilakukan secara terpisah, misalnya IPA 2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran, dan Bahasa

Indonesia 2 jam pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata

pelajaran yaitu hanya mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang

berhubungan dengan mata pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang

masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (holistic), pembelajaran yang

menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan

anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik.

Selain itu, dengan pelaksanaan pembelajaran yang terpisah, muncul permasalahan pada

kelas rendah (I-III) antara lain adalah tingginya angka mengulang kelas dan putus sekolah.

Angka mengulang kelas dan angka putus sekolah peserta didik kelas I SD jauh lebih tinggi

dibandingkan dengan kelas yang lain. Data tahun 1999/2000 memperlihatkan bahwa angka

mengulang kelas satu sebesar 11,6% sementara pada kelas dua 7,51%, kelas tiga 6,13%,

kelas empat 4,64%, kelas lima 3,1%, dan kelas enam 0,37%. Pada tahun yang sama angka

putus sekolah kelas satu sebesar 4,22%, masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan

kelas dua 0,83%, kelas tiga 2,27%, kelas empat 2,71%, kelas lima 3,79%, dan kelas enam

1,78%.

Angka nasional tersebut semakin memprihatinkan jika dilihat dari data di masing-masing

propinsi terutama yang hanya memiliki sedikit taman Kanak-kanak. Hal itu terjadi terutama

di daerah terpencil. Pada saat ini hanya sedikit peserta didik kelas satu sekolah dasar yang

mengikuti pendidikan prasekolah sebelumnya. Tahun 1999/2000 tercatat hanya 12,61%

atau 1.583.467 peserta didik usia 4-6 tahun yang masuk Taman Kanak-kanak, dan kurang

12
dari 5 % Peserta didik berada pada pendidikan prasekolah lain.

Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar peserta didik

kelas awal sekolah dasar di Indonesia cukup rendah. Sementara itu, hasil penelitian

menunjukkan bahwa peserta didik yang telah masuk Taman Kanak-Kanak memiliki

kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang tidak mengikuti

pendidikan Taman Kanak-Kanak. Selain itu, perbedaan pendekatan, model, dan prinsipprinsip

pembelajaran antara kelas satu dan dua sekolah dasar dengan pendidikan prasekolah

dapat juga menyebabkan peserta didik yang telah mengikuti pendidikan pra-sekolah

pun dapat saja mengulang kelas atau bahkan putus sekolah.

C.Integrasi Karakter Dalam Pembelajaran

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
(UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam
mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan,
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang Demokratis serta bertanggung jawab”. Tujuan pendidikan nasional
itu merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh
setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar
dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Bab 2 (Implementasi Pembelajaran Tematik Di Sekolah Dasar)

A.Implementasi Brain Based Thematic Learning Model Di Sekolah Dasar

Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan
berlangsung seumur hidup, sejak dia bayi sampai ke liang lahat (Sardiman, 2001: 1). Proses
belajar selalu eksis dalam proses kehidupan dari awal hingga akhir. Salah satu pertanda
seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya.

13
Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut perubahan bersikap pengetahuan
(kognitif) dan keterampilan (psikomotorik) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).
Menurut Winkel belajar didefinisikan sebagai suatu aktifitas mental atau psikis yang
berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, keterampilan dan nilai-nilai sikap yang
yang bersifat relatif konstan dan berbekas. Sedangkan pembelajaran adalah serangkaian yang
dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa. Pembelajaran mengacu
pada segala kegiatan yang berpengaruh langsung terhadap proses belajar siswa dan
pembelajaran harus menghasilkan. Belajar merupakan konsep yang tidak dapat dihilangkan
dalam proses belajar mengajar/pembelajaran (Faturrohman, 2012: 9). Proses belajar mengajar
merupakan inti dari proses formal disekolah yang di dalamnya terjadi interaksi antara berbagai
komponen di sekolah, komponen tersebut dikelompokkan atas tiga kategori utama yaitu guru,
materi, dan siswa. Interaksi antara tiga komponen utama melibatkan sarana dan prasarana
seperti metode, media, lingkungan tempat belajar sehinggga tercipta situasi belajar mengajar
yang memungkinkan tercapainya tujuan yang telah direncanakan, dengan demikian guru
memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar (Fathurrahman, 2012: 37).

B.Implementasi Pembelajaran Tematik Berbasis Multiple Intelligences,Joyfull Learning Dan


Keunggulan Lokal Di Sekolah Dasar

Perkembangan teknologi yang semakin maju mendorong perlunya optimalisasi segala


kemampuan yang dimiliki manusia.Lembaga pendidikan yang berkepentingan di
dalamnyasebagai tempat berlangsungnya proses belajar mengajar memiliki peranan yang
sangat besar dalam mengembangkan kecerdasan siswa,yang pada penerapannya tidak hanya
menekankan pada kecerdasan logika dan bahasa saja. Pembelajaran tematik sebagai salah satu
model pembelajaran menyesuaikan cara belajar dengan kecerdasan yang dimiliki oleh siswa.
Memahami dan menganalisis tiga hal. Yaitu:Bagaimana perencanaan, pelaksanaan, dan
penilaian pembelajaran tematik berbasis multiple intelligences di Sekolah Dasar .Penelitian ini
dilaksanakan di Sekolah Dasar Plus Al-Kautsar Malang. Dalam metodenya peneliti menggunakan
penelitian studi kasus jenis studi kasus intrinsik, sementara teknik pengumpulan data dilakukan
melalui observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Untuk melakukan analisa data,
peneliti menggunakan teori analisis menurut Miles dan Huberman dengan cara mereduksi data,
menyajikan data dan penarikan kesimpulan. Pada tahap pengecekan keabsahan data, peneliti
menggunakan metode triangulasi.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa, implementasi pembelajaran tematik berbasis multiple


intelligences terdiri dari: 1) Perencanaan pembelajaran tematik berbais multiple intelligencesSD
Plus Al-Kautsar dengan melakukan tes MIR, dan Merancang lesson plan/ (RPP). 2) Pelaksanaan
pembelajaran tematik berbasis multiple intelligencesSD Plus Al-Kautsar yakni melakukan,a) Pra-
kegiatan (salam pembuka, absen, menayakan kabar, hafalan, menyanyikan lagu Indonesia

14
Raya).b) kegiatan pendahuluan (Zona Alfa, warmer, pree-tech, secene setting).

c)Kegiatan Inti (strategi discovery learningdan Inquiry base learning, Sumber belajar, Prosedur
aktifitas (mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan), Teaching Aids
dan proyek). d) Penutup (refleksi, umpan balik, menyimpulkan dan penilaian guru dan siswa). 3)
Penilaian pembelajaran tematik berbasis multiple intelligencesSD Plus Al-Kautsar yang
digunakan adalah penilaian autentik dengan aspek yang dinilai sosial-spiritual, kognitif dan
psikomotorik. Melakukan remedial untuk siswa di bawah ketuntasan.

C.Implementasi Penataan Iklim Pembelajaran Tematik Di Sekolah Dasar

Sebelum kita membahas tentang model pembelajaran, terlebih dahulu akan kita kaji
apakah yang dimaksud dengan model. Secara menyeluruh model dimaknakan sebagai suatu
objek atau konsep yang digunakan untuk merepresentasikan seuatu hal. Sesuatu yang nyata
dan di konversi untuk sebuah bentuk yang lebih komperhensip (Meyer, W. J. 1985:2). Sebagai
contoh, model pesawat terbang, yang terbuat dari kayu, plastik dan lim adalah model nyata
dari pesawat terbang. Contoh lain adalah ide politik, opini publik diibaratkan sebagai sebuah
pendulum sebab ia berubah-ubah tiap periodiknya dari kiri ke kanan begitu terus berkelanjutan.
Secara terminologi, kita dapat mengatakan bahwa pendulum adalah sebuah model untuk opini
publik.
Dalam matematika kita juga mengenal istilah model matematika yaitu sebuah model
yang bagian-bagiannya terdiri dari konsep matematika, seperti ketetapan (Konstanta), variable,
fungsi, persamaan, pertidaksamaan, dan sebagainya (Meyer, W. J. 1985:2). Sebagai
contoh,model matematika gerak parabola, model matematika gerak jatuh bebas dan
sebagainya (Trianto, 2008: 1).
Model pesawat terbang dan pendulum adalah obyek nyata; tetapi mereka
bukanlah model matematika. Lalu apa yang di maksud dengan model pembelajaran sendiri?
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai
pedoman dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk
di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain (Joyce, 1992:4). Selanjutnya
Joyce menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarahkan kita kedalam mendesain
pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupasehingga tujuan pembelajaran
tercapai.
Adapun Soekamto, dkk (dalam Nurulwati, 2000: 10) mengemukakan maksud dari model
pembelajaran adalah “Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi
sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan
aktivitas belajar mengajar“ . dengan demikian aktivitas pembelajaran benar-benar merupakan
kegiatan bertujuan yang tertata secara sistematis.Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukan
oleh Eggen dan Kauchak bahwa model pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi guru
15
untuk mengajar.
D.Implementasi Pendidika Karakter Dalam Pembelajaran Tematik Di Sekolah Dasar
Pendidikan karakter menjadi penting ditengah perkembangan jaman seperti sekarang
ini. Karakter yang baik dan kuat akan mampu menjadi filter bagi anak dalam bergaul, sehingga
ia tidak terjerat dalam pergaulan bebas yang membawa pada kehancuran moral. Penanaman
karakter pada anak harus terus dilakukan secara kontinu agar anak bisa menjadi generasi
penerus bangsa yang unggul dan beradab yang membawa kemajuan bangsa dan negara.
Sehingga tujuan pendidikan nasional berupa untuk pembentukan karakter peserta didik dapat
terwujud. Karakter peserta didik dapat ditanamkan dan dikembangkan melalui lembaga
pendidikan, baik informal, formal, maupun nonformal harapannya dengan penanaman karakter
ini mampu mengatasi berbagai permasalahan moral yang semakin rumit. Adapun
penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah, harus berpijak pada nilai-nilai karakter dasar
manusia. Dengan melibatkan komponen-komponen yang ada di sekolah. Komponen tersebut
meliputi isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata
pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan kokurikuler, pemberdayaan
sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga sekolah atau lingkungannya.(
Asmani , 2013: 35).
Dalam struktur kurikulum, pada dasarnya setiap mata pelajaran memuat materi-materi
yang berkaitan dengan karakter. Maka yang perlu dilakukan adalah mengimplementasikan
pendidikan karakter secara terpadu yang ada Kurikulum 2013 disajikan dengan basis tematik.
Melalui pembelajaran tematik ini seorang guru harus mampu menanamkan karakter unggul
secara bertahap. Hal ini dikarenakan konsep tematik yang disajikan tidak bertolak pada satu
materi ajar, tetapi berhubungan dengan suatu persoalan yang didalamnya ada nilai-nilai
karakter yang ingin ditanamkan pada diri peserta didik. Bahan materi ajar yang saling berkaitan
juga diharapkan mampu merangsang pola pikir anak lebih luas dan mendorong anak untuk aktif
dalam pembelajaran sehingga mereka lebih mudah mengembangkan potensi dirinya.

16
BAB III

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU

KELEBIHAN :

 Buku ini memiliki pembahasan yang jelas,padat,dan singkat sehingga mudah dimengerti oleh
para pembaca

 Terdapat contoh laporan perkembangan anak usia dini yang membuat pembaca mengerti
tentang sistematika penilaian paud

 Sistematika penulisan buku sangat jelas

 Terdapat sebuah kalimat inti dari rangkuman paragraph pada buku ini

 Cover atau sampul buku sangat menarik dan berwarna sehingga membuat pembaca tertarik
untuk membacanya

KEKURANGAN :

 Terlalu banyak sub-sub topik sehingga untuk kalangan awam dapat merasa bingung
akan hal itu

 Terdapat satu bab dalam buku ini yang pembahasan nya sudah dijelaskan dua kali dalam buku
ini

 Tidak adanya gambar dalam buku ini sehingga membuat para pembaca merasa cepat bosan
dalam membaca buku ini

17
BAB IV
KESIMPULAN

Di dalam buku Keterampilan Pendidikan Di SD ini terdapat beberapa kelebihan seperti Buku ini
memiliki pembahasan yang jelas,padat,dan singkat sehingga mudah dimengerti oleh para pembaca.
Terdapat contoh laporan perkembangan anak usia dini yang membuat pembaca mengerti tentang
sistematika penilaian paud. Sistematika penulisan buku sangat jelas. Terdapat sebuah kalimat inti dari
rangkuman paragraph pada buku ini. Cover atau sampul buku sangat menarik dan berwarna sehingga
membuat pembaca tertarik untuk membacanya.

Juga didalam buku ini terdapat kekurangan seperti terlalu banyak sub-sub topik sehingga
untuk kalangan awam dapat merasa bingung akan hal itu,terdapat satu bab dalam buku ini yang
pembahasan nya sudah dijelaskan dua kali dalam buku ini, Tidak adanya gambar dalam buku ini
sehingga membuat para pembaca merasa cepat bosan dalam membaca buku ini.

Jadi kesimpulan saya adalah buku ini sangat cocok di baca oleh anda karena buku ini memilki
kelebihan yang dapat and abaca sehingga anda mengerti tentang apa itu PAUD.

SARAN

Mungkin akan lebih baik apabila penulis memberikan gambar keterangan yang terkait dengan
materi agar para pembaca tidak bosan ketika membaca buku ini.

18
DAFTAR PUSTAKA
Keterampilan Dasar Pendidikan Di SD,Universitas Negeri Medan

Implementasi Pembelajaran Tematik Di SD,PT.Remaja Rosdakarya

19