Anda di halaman 1dari 64

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

DEFISIT PERAWATAN DIRI

OLEH :

1. I Nyoman Agus Astrawan (17C10050)

2. Ni Putu Regina Pramestia Putri (17C10051)

3. Ni Luh Ayu Deviana Sari Budaya (17C10052)

4. Ni Wayan Sariningsih (17C10053 )

5. Made Mega Ayunda Sari (17C10054 )

6. Kadek Yuni Dwitri Azhari (17C10055 )

7. Kadek Sri Handayani (17C10056)

8. Luh Ade Oka Pujastuti (17C10057)

9. Ni Made Wirastui Shanti (17C10058)

SARJANA KEPERAWATAN
INSTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN BALI
TAHUN AJARAN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan
rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah laporan pendahuluan dan asuhan
keperawatan deficit perawatan diri ini tepat pada waktunya. Makalah ini kami susun untuk
memenuhi tugas mata kuliah keperawatan jiwa serta meningkatkan pemahaman tentang
bagaimana makalah laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan deficit perawatan diri.
Makalah ini kami sajikan dalam konsep dan bahasa yang sederhana sehingga dapat
membantu pembaca dalam memahami makalah ini. Dalam menyusun makalah ini, kami
mengucapkan banyak terimakasih kepada Dosen pengampu mata kuliah Keperawatan jiwa
yang telah membimbing kami dalam penyusunan makalah ini. Dan juga teman-teman
kelompok yang telah bekerjasama dari awal sampai terselesaikannnya makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca.

Denpasar, 09 November 2019

Penulis,
DAFTAR ISI

COVER
Kata Pegantar............................................................................................................. ii
Daftar isi..................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
BAB II
BAB III

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan……………………………………………………………………… 13
4.2 Saran……………………………………………………………………………… 13
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………… 14
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gangguan jiwa adalah sindrom atau pola perilaku yang secara klinis bermakna yang
berhubungan dengan distres atau penderitaan dan menimbulkan gangguan pada satu atau
lebih fungsi kehidupan manusia. Gangguan jiwa merupakan kumpulan dari keadaan-keadaan
yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan fisik maupun mental yang meliputi
gangguan jiwa dan sakit jiwa. Seseorang yang mengalami gangguan jiwa masih mengetahui
dan merasakan kesulitannya, serta kepribadiannya tidak jauh dari realitas dan masih hidup
dalam alam kenyataan. Sedangkan orang yang terkena sakit jiwa tidak memahamai
kesulitannya, kepribadiannya dari segi tanggapan, perasaan, dan dorongan motivasi sangat
terganggu. Orang tersebut hidup jauh dalam alam kenyataan. (Keliat, 2011)
Gangguan jiwa adalah suatu ketidakberesan kesehatan dengan manifestasi-manifestasi
psikologis atau perilaku terkait dengan penderitaan yang nyata dan kinerja yang buruk,
disebabkan oleh gangguan biologis, sosial, psikologis, genetik, fisis dan kimiawi. Gangguan
jiwa memiliki suatu keadaan tidak beres yang berhakikatkan penyimpangan dari suatu konsep
normatif. Setiap jenis ketidakberesan kesehatan itu memiliki tanda-tanda dan gejala-gejala
yang khas (Kurniawan, 2012).
Keperawatan jiwa adalah salah satu bidang spesialisasi dari praktik keperawatan, yang
menerapkan teori perilaku sebagai ilmunya dan penggunaan diri secara terapeutik sebagai
kiatnya. Teori lain mengatakan keperawatan jiwa adalah menerapkan teori perilaku dengan
penggunaan diri secara total dalam membantu proses penyembuhan seperti sikap positif
dalam menanggapi keluhan pasien. Jadi fokus perhatian dalam memberikan pelayanan
keperawatan jiwa adalah bagaimana meningkatkan motivasi seseorang yang menderita
gangguan jiwa. (Suliswati, 2010)
Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara mental, fisik,
spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut, menyadari kemampuan sendiri, dapat
mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk
komunitasnya.Orang dengan masalah kejiwaan adalah seseorang yang mempunyai masalah
fisik, mental, social, pertumbuhan dan perkembangan, atau kulaitas hidup sehingga memiliki
resiko mengalami gangguan jiwa (UU Kesehatan Jiwa, 2014).
Fenomena gangguan jiwa pada saat ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan,
dan setiap tahun di berbagai belahan dunia jumlah penderita gangguan jiwa bertambah.
Berdasarkan data dari World Health Organisasi (WHO) ada sekitar 450 juta orang di dunia
yang mengalami gangguan jiwa. WHO menyatakan setidaknya ada satu dari empat orang
didunia mengalami masalah mental, dan masalah gangguan kesehatan jiwa yang ada di
seluruh dunia sudah menjadi masalah yang sangat serius. (Yosep 2013)
Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan jiwa adalah berbagai
karakteristik positif yang mengambarkan keselarasan kepribadiannya (Kusmati dan Hartono,
2011).
Menurut National Insitute of Mental Health gangguan jiwa mencapai 13 % dari
penyakit secara keseluruhan dan diperkirakan akan berkembang menjadi 25% di tahun 2030.
Kejadian tersebut akan memberikan andil meningkat prevalensi gangguan jiwa dari tahun
ketahun di berbagai Negara. Gangguan jiwa mencapai 13% dari penyakit dunia,
dibandingkan TBC (7,2%), kanker (5,8%) , jantung (4,4%), maupun malaria (2,6%). Masalah
gangguan jiwa terus meingkat jika tidak dilakukan penanganan.Dapertemen of Health and
Human Service (2000), memperkirakan 51 juta penduduk Amerika dapat didiagnosis
mengalami gangguan jiwa. Dari jumlah tersebut 6.5 juta mengalami disabilitas akibat
gangguan jiwa yang berat dan 4 juta diantaranya adalah anak remaja (Vidbeck,2008). Azwar
mengatakan bahwa WHO memperkirakan ada sekitar 450 juta orang didunia yang mengalami
gangguan jiwa.Menurut Dharmono (2007) mengatakan bahwa peneltian yang dilakukan
WHO berkaitan dengan alasan pasien yang datang kepusat pelayanan kesehatan dasar
diberbagai negara menunjukkan gejala gangguan jiwa atau sebesar 20-30% pasien di seluruh
dunia.Gangguan jiwa hampir merata diseluruh dunia, termasuk di wilayah Asia tenggara.
Berdasarkan dari World Health Organization, hampir satu pertiga dari penduduk di wilayah
Asia Tenggara pernah mengalami gangguan neuropsikiatri ( Yosep, 2011 ).
Kebijakan pemerintah dalam menangani pasien gangguan jiwa tercatum dalam
Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan jiwa, disebutkan dalam pasal 149 ayat
(2) mengatakan bahwa pemerintah dan masyrakat wajib melakukan pengobatan dan
perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan bagi penderita gangguan jiwa yang terlantar,
menggelandang, mengancam keselamatan dirinya dan menganggu ketertiban atau keamanan
umum, termasuk pembiayaan pengobatan dan perawatan penderita gangguan jiwa untuk
masyarakat miskin.
Dari hasil survey diseluruh rumah sakit Indonesia yang dilakukan oleh chaer (2009),
ada 0,5-1,5 perseribu penduduk mengalami gangguan jiwa, sedangkan di kota-kota besar
jumlahnya berkisar antara 0,5-1 perseribu penduduk. Pravalensi psikosis tertinggi di
Yogyakarta dan Aceh (masing-masing 2,7%). Sedangkan yang terendah dikalimantan barat
(0,7%). Pravalensi gangguan jiwanasional sebesar 1,7 per mil dengan jumlah seluruh
responden sebanyak 1.728 orang (Rikesdas, 2013).

Tabel 1.1 Rekam Medik Rumah Sakit Jiwa Kalimantan Barat


Diagnosa Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016
Keperawatan (Januari- (Januari- (Januari-
Desember) Desember) November)
Harga diri rendah 1,3 % 5,8 % 6,6 %
Isolasi sosial 2,2 % 3,5 % 3,7 %
Halusinasi 80,9 % 62,6 % 66,5 %
Waham 1,2 % 9,1 % 8,3 %
Prilaku kekerasan 6,6 % 7,2 % 6,1 %
Defisit perawatan 6,6 % 11,6 % 8,7 %
diri
Resiko Bunuh 0,2 % 0,2 % 0,1 %
Diri
Sumber : Rekam Medik Rumah Sakit jiwa Propinsi kalimantan Barat, 2016

Berdasarkan fenomena dari data rekam medik dan hasil observasi langsung pada pasien
di Rumah Sakit jiwa Provinsi Kalimantan Barat tahun 2016, defisit perawatan diri menjadi
kasus terbanyak No 2, tenaga kesehatanya terbatas dan asuahan keperawatan yang diberikan
belum maksimal banyak ditemukan, data-data yang tidak lengkap, khususnya pada
pemeriksaan fisik, data penunjang, SOAP yang sama dalam setiap evaluasi, dalam penerapan
SP (Strategi Pelaksanaan) sendiri banyak pasien tidak dilaksanakan SP sesuai dengan
penyakit dan tahapannya serta pemberian obat yang tidak tepat waktu. Sehingga proses
penyembuhan pasien sangat lama, bahkan proses penyembuhannya terjadi bertahun –tahun.
Bedasarkan fenomena yang terjadi, peneliti tertarik mengambil penelitian tentang defisit
perawatan diri karena peneliti merasa perlu melakukan asuhan keperawatan pada pasien
defisit perawatan diri sebab jika tidak dilakukan asuhan keperawatan maka keadaan pasien
akan parah menjadi gangguan pemeliharaan kesehatan kemudian berlanjut isolasi sosial dan
kemudian berlanjut pada halusinasi dan akhirnya dapat mengakibatkan resiko harga diri
rendah kronis.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana Konsep Asuhan Kepeawatan Defisit Perawatan Diri?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan deficit perawatan diri?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Defisit Perawatan Diri


1. Definisi
Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi
kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan
sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya
jika tidak dapat melakukan perawatan diri ( Depkes, 2010).
Defisit perawatan diri adalah suatu kondisi pada seseorang yang mengalami
kelemahan kemampuan dalam melakukan atau melengkapi aktivitas perawatan diri
secara mandiri seperti mandi (hygiene), berpakaian atau berhias, makan (Keliat,2010).
Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan
kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis, kurang perawatan diri
adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan
untuk dirinya ( Tarwoto dan Wartonah 2010 ).
Jenis–Jenis Perawatan Diri:
a. Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan
b. Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan
aktivitas mandi/kebersihan diri.
c. Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian / berhias.
Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan
memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri.
d. Kurang perawatan diri : Makan
Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk menunjukkan
aktivitas makan.

2. Etiologi
Menurut Tarwoto dan Wartonah, (2010) Penyebab kurang perawatan diri adalah
sebagai berikut :
a. Kelelahan fisik
b. Penurunan kesadaran
Menurut Depkes (2010: 20), penyebab kurang perawatan diri adalah:
1. Faktor prediposisi
a. Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan
inisiatif terganggu.
b. Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan
diri.
c. Kemampuan realitas turun
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang
menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri.
d. Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya.
Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri.

2. Faktor presipitasi
Yang merupakan faktor presiptasi defisit perawatan diri adalah kurang penurunan
motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah/lemah yang dialami
individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan
diri.
Menurut Depkes (2010: 59) Faktor – faktor yang mempengaruhi personal hygiene
adalah:
a. Body Image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri
misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan
kebersihan dirinya.

b. Praktik Sosial
Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan
akan terjadi perubahan pola personal hygiene.
c. Status Sosial Ekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat
gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk
menyediakannya.
d. Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik
dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita diabetes
mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.
e. Budaya
Disebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan.
f. Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri
seperti penggunaan sabun, sampo dan lain – lain.

Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene.


1. Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak
terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik, gangguan fisik yang
sering terjadi adalah : Gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa
mulut, infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku.
2. Dampak psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan
kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga
diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

3. Tanda dan Gejala


Menurut Depkes (2010: 20) Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri
adalah:
a. Fisik
1) Badan bau, pakaian kotor
2) Rambut dan kulit kotor
3) Kuku panjang dan kotor
4) Gigi kotor disertai mulut bau
5) Penampilan tidak rapi
b. Psikologis
1) Malas, tidak ada inisiatif
2) Menarik diri, isolasi diri
3) Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.
c. Sosial
1) Interaksi kurang
2) Kegiatan kurang
3) Tidak mampu berperilaku sesuai norma
4) Cara makan tidak teratur
5) Gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri.
4. Proses Terjadinya
Data yang biasa ditemukan dalam deficit perawatan diri adalah:
a. Data subyektif
1). Pasien merasa lemah
2). Malas untuk beraktivitas
3). Merasa tidak berdaya.
b. Data obyektif
1). Rambut kotor, acak – acakan
2). Badan dan pakaian kotor dan bau
3). Mulut dan gigi bau.
4). Kulit kusam dan kotor
5). Kuku panjang dan tidak terawat

5. Rentang Respon Kognitif


Menurut Keliat (2009) Rentang respon perawatan diri pada pasien adalah sebagai
berikut:

Gambar 1.1 Rentang Respon Kognitif

Adaptif Maladaptif

- Pola perawatan diri - Kadang perawatan diri -Tidak melakukan


seimbang kadang tidak perawatan saat
stress

Berikut ini dijelaskan tentang respons yang terjadi pada defisit perawatan diri :
a. Pola perawatan diri seimbang, saat klien mendapatkan stresor dan mampu untuk
berprilaku adaftif, maka pola perawatan yang dilakukan klien
seimbang, klien masih melakukan perawatan diri.
b. Kadang perawatan diri kadang tidak, saat klien mendapatkan stresor kadang –
kadang klien tidak memperhatikan perawatan dirinya.
c. Tidak melakukan perawatan diri, klien mengatakan dia tidak peduli dan tidak bisa
melakukan perawatan saat stresor.
6. Fase
Pada mulanya klien merasa dirinya tidak berharga lagi sehingga merasa tidak
aman berhubungan dengan orang lain. Biasanya klien berasal dari lingkungan yang
penuh permasalahan, ketegangan, kecemasan dimana-mana, tidak mungkin
mengembangkan kehangatan emosional, dan hubungan positif dengan orang lain yang
melibatkan diri dalam situasi yang baru. Ia terus berusaha mendapatkan rasa aman.
Begitu menyakitkan sehingga rasa nyaman itu tidak tercapai. Hal ini menyebabkan ia
membayangkan nasionalisasi dan mengaburkan realitas dari pada kenyataan. Keadaan
dimana seorang individu mengalami atau beresiko mengalami suatu ketidakmampuan
dalam mengalami stressor interval atau lingkungan dengan adekuatnya.

7. Jenis-jenis Defisit Perawatan Diri


a. Kebersihan Diri :
Misalnya mandi adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas mandi /
kebersihan diri.
b. Kebersihan Pakaian :
Klien memiliki gangguan kemampuan memakai pakaian dan aktivitas berdandan
c. Kurang memperhatikan makan
Klien memiliki gangguan kemampuan untuk menunjukkan aktifitas makan.

8. Perilaku
Perilaku klien tidak yakin dengan apa yang diharapkan jika perilaku klien tidak
lazim atau tidak dapat diperkirakan keluarga. Juga dapat merasa bersalah atau
bertanggung jawab dengan meyakini bahwa mereka gagal menyediakan kehidupan
penuh cinta dan dukungan klien bahwa mereka gagal menyediakan kehidupan
dirumah dan dukungan.

9. Penatalaksanaan
a. Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri
b. Membimbing dan menolong klien merawatan diri
c. Ciptakan lingkungan yang mendukung

B. Konsep asuhan keperawatan pada pasien deficit perawatan diri


1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan,
terhadap pengkajian terdiri dari pengumpulan data, pengelompokkan data dan analisa
data.
Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual, dimana
pengumpulan data dilakukan pada saat klien masuk dan dilanjutkan secara terus
menerus selama keperawatan berlangsung (Stuart dan Sudden, 2005).
Cara pengkajian lain berfokus pada (5) lima dimensi: Fisik, Emosional, Intelektual,
Sosial dan Spiritual.
Isi pengkajian meliputi:
a. Identitas Klien
Biodata klien yang meliputi : nama, umur, jenis kelamin, alamat, tanggal masuk
rumah sakit, nomor register dan tanggal pengkajian.
b. Keluhan Utama
Klien dibawa kerumah sakit pada umumnya karena Defisit dalam merawat diri,
dari perawatan -perawatan diri yang biasa dilakukan, dan sekarang jarang
dilakukan dengan diawali masalah seperti senang menyendiri, tidak mau banyak
berbicara dengan orang lain, terlihat murung.

c. Faktor Predisposisi
1) Pada umumnya klien pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu.
2) Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan
diri.
3) Pengobatan sebelumnya kurang berhasil.
4) Harga diri rendah, klien tidak mempunyai motivasi untuk merawat diri
5) Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan yaitu perasaan ditolak,
dihina, dianiaya, dan saksi penganiyaan
6) Ada anggota keluarga yang pernah mengalami gangguan jiwa.
7) Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan yaitu kegagalan yang dapat
menimbulkan frustasi.

d. Pemeriksaan Fisik
Pengkajian fisik difokuskan pada system dan fungsi organ; yang meliputi:
1) Ukur dan observasi tanda–tanda vital, tekanan darah, nadi, suhu, dan
pernapasan klien.
2) Ukur tinggi badan dan berat badan klien
3) Keluhan fisik: biasanya tidak ada keluhan fisik.
e. Aspek Psikososial
1) Gambaran diri: pada umumnya klien bisa menerima anggota tubuh yang
dimiliki.
2) Identitas diri: klien mengetahui status dan posisi klien sebelum dirawat.
3) Peran: klien tidak mampu melaksanakan perannya sebagaimana mestinya, baik
peran dalam keluarga ataupun dalam kehidupan masyarakat.
4) Ideal diri: klien memiliki harapan untuk segera sembuh dari penyakitnya, dan
kembali hidup normal seperti sebelum klien sakit.
5) Harga diri: klien mengalami harga diri rendah berhubungan dengan kegagalan
yang terjadi dimasa lampau dan klien merasa tidak dihargai oleh orang lain.

f. Status Mental
1) Penampilan: penampilan klien tidak rapi, misalnya rambut acak–acakan,
kancing baju tidak tepat, dan baju tidak pernah diganti.
2) Pembicaraan: pembicaraan yang ditemukan pada klien yaitu pembicaraan yang
berbelit-belit.
3) Aktivitas motorik: klien mengalami tegang, gelisah dan agitasi.
4) Alam perasaan: putus asa atau sedih dan gembira yang berlebihan.
5) Afek: labil yaitu emosi yang cepat berubah – ubah.
6) Interaksi selama wawancara: Biasanya klien menunjukkan kurang kontak mata
dan kadang-kodang menolak bicara dengan orang lain.
7) Persepsi: Biasanya gangguan persepsi terutama halusinasi pendengaran, klien
biasanya mendengan suara-suara yang mengancam, sehingga klien cenderung
menyendiri, pandangan kosong, kadang-kadang bicara sendiri, sering
menyendiri dan melamun,.
8) Proses pikir:
a. Arus pikiran
Sirkumtansial yaitu pembicaraan yang berbelit tetapi sampai dengan tujuan
pembicaraan dan perseverasi yaitu pembicaraan yang diulang berkali – kali.
Selain sirkumtansial dan perseverasi klien dengan halusinasi visual
biasanya juga mengalami gangguan dalam bentuk Blocking, yaitu jalan
pikiran tiba-tiba berhenti atau berhenti di tengah sebuah kalimat. Pasien
tidak dapat menerangkan kenapa ia berhenti.
b. Bentuk pikiran
Klien lebih sering diam dan larut dengan menyendiri, bersikap seperti
malas-malasan
c. Isi pikiran
Klien merasa lebih senang menyendiri daripada berkumpul dengan orang
lain. Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika
sedang kesal atau marah, klien biasanya waham curiga atau phobia.
d. Tingkat kesadaran dan orientasi tempat dan waktu baik.
e. Memori: memori klien biasanya baik.

f. Kebutuhan persiapan pulang


1) Makan

Klien tidak bisa mengambil makanan sendiri, makanan berceceran, dan


makan tidak pada tempatnya
2) Mandi
Klien biasanya jarang mandi, gangguan kebersihan diri, rambut kotor, gigi
kotor, kulit berdaki dan bau, serta kuku panjang dan kotor
3) Berpakaian / berhias
Klien biasanya jarang mengganti pakaian, biasanya pakaian tidak
sesuai,rambut acak-acakan, pakain kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai,
pada pasien laki-laki bercukur, pada pasien perempuan tidak berdandan.
4) Istirahat dan tidur
Biasanya istirahat dan tidur klien terganggu.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah identifikasi atau penilaian terhadap pola respon
klien baik aktual atau potensial (Stuart dan Sudden, 2005).Rumusan diagnosa dapat
menggunakan PE yaitu permasalahan (P) yang berhubungan dengan etiologi (E) dan
keduanya ada hubungan sebab akibat secara ilmiah. Rumusan PES sama dengan PE
hanya ditambah symtom (S) atau gejala sebagai data penunjang dalam perawatan jiwa
ditemukan diagnosa anak beranak (pohon masalah), dimana jika etiologi sudah
diberikan tindakan dan permasalahan belum selesai maka P dijadikan etiologi pada
diagnosa yang baru, demikian seterusnya. Hal ini dapat dilakukan karena
permasalahan tidak disebabkan oleh suatu etiologi yang sama sehingga walaupun
etiologi sudah diberi tindakan maka permasalahan belum selesai. Untuk jalan
keluarnya jika permasalahan tersebut menjadi etiologi maka tindakan diberikan secara
tuntas.
Setelah selesai pengkajian dilakukan maka data yang terkumpul tersebut dianalisa
sehingga dapat dirumuskan keperawatan yang ada dan selanjutnya dibuat rencana
keperawatan masalah yang dapat dirumuskan pada umumnya dari apa yang klien
perlihatkan sampai dengan adanya deficit perawatan diri.

Pohon masalah
Gambar 2.2 Pohon Masalah

Kerusakan Interaksi Sosial :


Menarik diri

Isolasi Sosial Defisit Perawatan Diri

Koping individu tidak efektif

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Defisit perawatan diri


2. Isolasi sosial

3. Rencana tindakan keperawatan


Rencana tindakan keperawatan terdiri dari tiga aspek yaitu tujuan umum, tujuan
khusus dan rencana tindakan keperawatan.
Tujuan umum berfokus pada penyelesaian permasalahan (P) dari diagnosa
tertentu. Tujuan khusus berfokus pada penyelesaian etiologi (E) dari diagnosa
Rencana tindakan
DX. Kep.
Tujuan Kriteria evaluasi Tindakan kep.
tertentu. Tujuan khusus merupakan rumusan kemampuan klien yang harus dicapai
atau dimiliki klien. Kemampuan ini dapat bervariasi sesuai dengan masalah dan
kebutuhan klien. Umumnya kemempuan pada tujuan khusus dapat dibagi jadi tiga
aspek (Stuart dan Sudden, 2005) yaitu kemampuan kognitif yang diperlukan untuk
menyelesaikan etiologi dari diagnosa keperawatan.

Tabel 2.2. Rencana Keperawatan


Rencana tindakan
DX. Kep.
Tujuan Kriteria evaluasi Tindakan kep.
Defisit a. Pasien mampu- Klien mampu SP I :
Perawatan mandi secara mandiri menjaga kebersihan1. - Identifikasi masalah
Diri b. Pasien mampu diri secara mandiri pera-watan diri: kebersihan
membersihkan - Klien mampu diri, berdandan,
rambut/keramas menyebut-kan makan/minum, BAK/BAB
secara mandiri pengertian dan2. -Jelaskan pentingnya
c. Pasien mampu tanda-tanda kebersi-han diri
gosok gigi secara kebersihan diri 3. - Jelaskan cara dan alat
mandiri - Klien dapat kebersihan diri
d. Pasien mampu mengetahui 4. - Latih cara menjaga
memotong kuku pentingnya kebersihan diri: mandi dan
secara mandiri kebersihan diri ganti pakaian, sikat gigi,
cuci rambut, potong kuku
5. - Masukan pada jadwal
kegiatan untuk latihan
mandi, sikat gigi (2x
sehari), cuci rambut (2x
perminggu), potong kuku
(1x perminggu).
SP II :
1. - Evaluasi kegiatan
kebersi-han diri. Beri
pujian.

2. - Jelaskan cara dan alat


untuk berdandan.
3. - Latih cara berdandan
setelah kebersihan diri:
sisiran, rias muka untuk
perempuan; sisiran,
cukuran untuk pria.
4. - Masukan pada jadwal
kegiatan untuk kebersihan
diri dan berdandan.

SP III :
-Evaluasi tanda & gejala
defisit perawatan diri.
-Validasi kemampuan
kegiatan pertama & kedua
Defisit Keluarga mampu - SP I K :
Perawatan merawat anggota a-Diskusikan masalah yg
Diri keluarga yang dirasakan dalam merawat
mengalami masalah pasien
Kurang perawatan dir -Jelaskan pengertian, tanda
dan gejala, dan proses
terjadinya defisit
perawatan diri (gunakan
booklet).
-Diskusikan dengan
keluarga tentang fasilitas
kebersihan diri yang
dibutuhkan oleh pasien
untuk menjaga perawatan
diri pasien.
-Jelaskan cara merawat
defisit perawatan diri.
-Latih keluarga cara
merawat kebersihan diri,
berdandan, makan dan
minum, BAB dan BAK
(Bimbing cara merawat :
kebersihan diri)
-Anjurkan membantu
pasien sesuai jadual dan
memberikan pujian.
1

SP II K :
1. -Evaluasi kemampuan
keluarga mengidentifikasi
gejala defisit perawatan
diri
b. -Validasi kemampuan
keluarga dalam
membimbing pasien
melaksanakan kegiatan
yang telah dilatih
c. -Evaluasi manfaat yang
dirasakan keluarga dalam
4. Implementasi Keperawatan
Implementasi adalah : inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang
spesifik, tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan
pada Nursing Orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh
karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor–
faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien (Iyer et al 2010).
Tujuan pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan
kesehatan dan memfasilitasi koping.
Perencanaan tindakan keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik jika
klien mempunyai keinginan untuk berpatisipasi dalam pelaksanaan tindakan
keperawatan. Tindakan yang dilakukan bertujuan membantu individu memenuhi
kebutuhan yang tidak dapat dipenuhinya sendiri serta mengarahkan dan membantu
dalam mengatasi permasalahan yang dihadapinya.

5. Evaluasi
Evaluasi adalah proses yang berkelenjutan untuk menilai efek dari tindakan
keperawatan pada klien. Evaluasi dilaksanakan terus menerus pada respon klien
terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi jadi
dua yaitu: Evaluasi proses atau formatif dilakukan setiap selesai melaksanakan
tindakan.
Evaluasi hasil atau sumatif dilakukan dengan membandingkan respon klien.
Evaluasi dapat dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP, sebagai pola
fikir.
S = respon subyektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
O = respon obyektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
A = analisa ulang atas data subyektif dan obyektif untuk menyimpulkan apakah
masalah masih tetap atau muncul masalah baru atau ada data yang kontradiksi dengan
masalah yang ada.
P = perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon klien.
Rencana tindak lanjut dapat berupa :
a. Rencana teruskan, jika masalah tidak berubah.
b. Rencana di modifikasi jika masalah tetap, semua tindakan sudah dijalankan tetapi
hasil belum memuaskan.
c. Rencana dibatalkan jika ditemukan masalah baru dan bertolak belakang dengan
masalah yang ada serta diagnosa lama dibatalkan. (Stuart dan Laria, 2005)

6. Dokumentasi Keperawatan
Adalah kegiatan pendokumentasian keperawatan mencakup rencana secara
sistematis.Semua kegiatan dalam kegiatan kontrak perawat-klien dalam kurun waktu
tertentu, secara jelas, lengkap dan objektif. Hal ini bertujuan untuk memberi
kemudahan dalam memberikan asuhan keperawatan dan jaminan mutu, disamping
pencatatan, kegiatan pendokumentasian keperawatan juga mencakup penyimpangan
atau pemeliharaan hasil pencatatan dan pendokumentasian pada anggota sesama tim
kesehatan untuk kepentingan pengelolaan klien serta kepada aparat penegak hukum
bila diperlukan untuk pembuktian (Dongoes, 2006).
BAB III
TINJAUAN KASUS

PENGKAJIAN KEPERAWATAN
KESEHATAN JIWA

RUANG RAWAT: TANGGAL DIRAWAT:

I. IDENTITAS KLIEN
Inisial : Tn. D (L) Tanggal Pengkajian :14 Oktober 2019
Umur :26 tahun RM No. :-
Alamat :Br. Kawan Serangan
Pekerjaan :-
Informan: Pasien dan keluarga
II. ALASAN MASUK
Pasien dirawat di RSJ Provinsi Bali terakhir pada 2 minggu yang lalu.

III. FAKTOR PRESIPITASI/ RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Keluarga pasien mengatakan pasien mengalami gangguan kejiwaan sejak 6 tahun yang
lalu. Keluarga pasien sering menyendiri di kamar, bicara sedikit dan sulit
berkomunikasi dengan orang lain.
IV. FAKTOR PREDISPOSISI
 RIWAYAT PENYAKIT LALU
1. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu? ya tidak

Bila ya jelaskan : Pasien dan keluarga mengatakan bahwa pasien pernah dirawat di
RSJ Provinsi Bali sebelumnya.
2. Pengobatan sebelumnya Berhasil Kurang Berhasil Tidak Berhasil
3. Pernah mengalami penyakit fisik (termasuk gangguan tumbuh kembang)
ya tidak

Bila ya jelaskan : -

 RIWAYAT PSIKOSOSIAL
Pelaku/ usia Korban/ usia Saksi/ usia
1. Aniaya fisik
2. Aniaya seksual
3. Penolakan
4. Kekerasan dalam keluarga
5. Tindakan kriminal

Jelaskan : Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien tidak pernah melakukan


kekrasan terhadap orang lain.

6. Pengalaman masa lalu lain yang tidak menyenangkan (bio, psiko, sosio, kultural,
spiritual):
Keluarga pasien mengatakan pasien sering menyendiri dikamar,bicara sedikit dan
sulit berkomunikasi dengan oranglain.
Masalah keperawatan : Isolasi sosial

7. Kesan Kepribadian klien: extrovert introvert lain-lain : Keluarga pasien


mengatakan bahwa pasien tidak dapar bersosialisasi dengan baik di lingkungannya
(saat pengkajian).

 RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

1. Adakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa?


ya tidak
Hubungan keluarga Gejala Riwayat Pengobatan/ perawatan
______________ ______________ _________________________
______________ ______________ _________________________
Masalah keperawatan :-

V. STATUS MENTAL

1. Penampilan
tidak rapi penggunaan pakaian Cara berpakaian
tidak sesuai tidak seperti biasanya
Jelaskan : : Pasien tampak mengenakan pakaian dengan sekedar,
dan terlihat lusuh dan kotor
Masalah keperawatan : Defisit perawatan diri

2. Kesadaran
 Kwantitatif/ penurunan kesadaran]
compos mentis apatis/ sedasi somnolensia
sopor subkoma koma

 Kwalitatif
tidak berubah berubah
meninggi disosiasi
hipnosa
gangguan tidur: sebutkan : Pasien mengatakan terkadang ia sulit tidur di malam
hari
3. Disorientasi
waktu tempat orang

Jelaskan:
Pasien tidak mengalami masalah disorientasi
Masalah keperawatan : -

4. Aktivitas Motorik/ Psikomotor


Kelambatan:
hipokinesia, hipoaktivitas sub stupor katatonik
katalepsi flexibilitas serea

Peningkatan:
hiperkinesia, hiperaktivitas gaduh gelisah katatonik
TIK grimase
tremor gagap
stereotipi mannarism
katalepsi akhopraxia
command automatism atomatisma
nagativisme reaksi konversi
verbigerasi berjalan kaku/ rigit
kompulsif lain-2 sebutkan

5. Afek/ Emosi
adequat tumpul dangkal/ datar
labil inadequat anhedonia
marasa kesepian eforia ambivalen
marah depresif/ sedih apati
cemas: ringan sedang
berat panik
Jelaskan : Kelurga pasien mengatakan pasien dapat emosi jika ada hal yang
membuatnya tidak nyaman
Masalah keperawatan : -

6. Persepsi
halusinasi ilusi depersonalisasi

derealisasi

Macam Halusinasi
pendengaran penglihatan perabaan
pengecapan penghidu/ pembauan lain-lain,
sebutkan...................

Jelaskan
:_________________________________________________________________
Masalah keperawatan :
_________________________________________________________________
7. Proses Pikir
 Arus Pikir
koheren inkoheren asosiasi longgar
fligt of ideas blocking pengulangan pembicaraan/
persevarasi
tangansial sirkumstansiality logorea
neologisme bicara lambat bicara cepat
irelevansi main kata-kata afasi
assosiasi bunyi lain2 sebutkan..

Jelaskan : Kalimat pasien dapat dipahami namun berbelit-belit


Masalah keperawatan : -
 Isi Pikir
obsesif ekstasi fantasi
bunuh diri ideas of reference pikiran magis
alienasi isolasi sosial rendah diri
preokupasi pesimisme fobia
sebutkan.........................
waham: sebutkan jenisnya
agama somatik, hipokondrik kebesaran
curiga nihilistik sisip pikir
siar pikir kontrol pikir kejaran
dosa

Jelaskan : Pasien mengatakan takut bertemu orang banyak dan lebih senang
berdiam diri dikamar.
Masalah keperawatan : Isolasi sosial

 Bentuk Pikir
realistik nonrealistik
autistik dereistik

8. Memori
gangguan daya ingat jangka panjang gangguan daya ingat jangka pendek
gangguan daya ingat saat ini amnesia, sebutkan.........................
paramnesia, sebutkan jenisnya........................................................
hipermnesia, sebutkan ...................................................................

Jelaskan : Pasien tidak mengalami gangguan ingatan


Masalah keperawatan : -

9. Tingkat Konsentrasi dan Berhitung


mudah beralih tidak mampu berkonsentrasi tidak mampu berhitung
sederhana

Jelaskan : Pasien mampu berhitung dan berkonsentrasi dengan baik


Masalah keperawatan : -

10. Kemampuan Penilaian


gangguan ringan gangguan bermakna

Jelaskan : Pasien dapat memutuskan apa yang harus dilakukan terlebih dahulu
Masalah keperawatan : -

11. Daya Tilik Diri/ Insight


mengingkari penyakit yang diderita menyalahkan hal-hal diluar dirinya

Jelaskan : Pasien mengatakan dirinya sudah sehat.


Masalah keperawatan : -
12. Interaksi selama Wawancara
bermusuhan tidak kooperatif mudah tersinggung
kontak mata kurang defensif curiga

Jelaskan : Pasien tampak kooperatif dengan petugas kesehatan yang berkunjung


Masalah keperawatan : -

VI. FISIK
1. Keadaan umum : Keadaan umum pasien tampak baik.
2. Tanda vital: TD: 110/70 mmHg N: 80 x/menit S: 36,4ºC P:
20x/menit
3. UKur: TB: 160 cm BB: 80 kg turun naik
4. Keluhan fisik: tidak ya
jelaskan...............................
5. Pemeriksaan fisik:
a. Kepala pasien tampak kotor dan tidak ada lesi.
b. Kulit pasien tampak kotor, kuku pasien tampak panjang, turgor kulit elastis
dan kulit berwarna sawo matang
c. Postur tubuh dan bangun tubuh tegap
Jelaskan : Kondisi fisik pasien tidak bermasalah, tetapi kebersihan tubuh pasien kurang
Masalah keperawatan : Defisit perawatan diri

VII. PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL (sebelum dan sesudah sakit)


1. Konsep Diri
a. Citra tubuh : Pasien mengatakan menyukai semua bagian tubuhnya.
b. Identitas : Pasien mengatakan bernama Tn. D dan anak pertama dari dua
bersaudara.
c. Peran : Pasien mengatakan di dalam keluarganya atau dirumah
sebagai anak.
d. Ideal diri : Pasien mengatakan ingin cepat sembuh.
e. Harga diri : Pasien mengatakan malu jika berhadapan langsung dengan orang lain
selain ibu, bapak, adiknya, lebih senang berdiam diri di kamar dan pasien kurang
berinteraksi.

Masalah keperawatan : Isolasi sosial

2. Genogram
Keterangan :

: Perempuan : Pasien

: Laki-laki

: Meninggal

: Tinggal Serumah
: Garis Penghubung

3. Hubungan Sosial
a. Hubungan terdekat : Orang yang dekat dengan pasien adalah ibu, baoak, dan
adiknya.
b. Peran serta dalam kelompok/ masyarakat : Keluarga pasien mengatakan sebelum
sakitpasien sering aktif dalam kegiatan masyarakat.
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain : Selama pasien rawat jalan/
berobat jalan temannya kurang berkurang karena pasien merasa malu dan tidak ingin
berkomunikasi dengan orang lain selain orang yang ia kenal dan merasa malu
berkomunikasi.
Masalah keperawatan : Menarik diri
4. Spiritual dan kultural
a. Nilai dan keyakinan : Pasien mempercayai tuhan dan pasien mengatakan
pasien beragama hindu

b. Konflik nilai/ keyakinan/ budaya : Keluarga pasien mengatakan pasien dapat


melakukan kegiatan persembahyangan dengan baik

c. Kegiatan ibadah : Keluarga pasien mengatakan pasien sering sembahyang di


merajan rumhnya

Masalah keperawatan: -

VIII. AKTIVITAS SEHARI-HARI (ADL)

1. Makan
Bantuan minimal Sebagian Bantuan total
Mandiri
2. BAB/BAK
Bantuan minimal Sebagian Bantuan total
Mandiri

3. Mandi
Bantuan minimal Sebagian Bantuan total
Mandiri
4. Berpakaian/berhias
Bantuan minimal Sebagian Bantuan total
Mandiri

5. Istirahat dan tidur


Tidur siang lama : ± 8 jam
Tidur malam lama : ± 8 jam
Aktivitas sebelum / sedudah tidur :

6. Pengginaan obat
Bantuan minimal Sebagian Bantuan total

7. Pemeliharaan kesehatan
Perawatan Lanjutan Ya Tidak
Sistem pendukung Ya Tidak

8. Aktivitas di dalam rumah


Mempersiapkan makanan Ya Tidak
Menjaga kerapihan rumah Ya Tidak
Mencuci pakaian Ya Tidak
Pengaturan keuangan Ya Tidak

9. Aktivitas di luar rumah


Belanja Ya Tidak
Transportasi Ya Tidak
Lain-lain Ya Tidak

Jelaskan : Pasien mengatakan malu untuk keluar rumah.


Masalah keperawatan : Isolasi sosial

IX. MEKANISME KOPING


Adatif Maladaptif
Bicara dengan orang lain Minum Alkohol
Mampu menyelesaikan masalah Reaksi lambat / berlebih
Teknik relokasi Bekerja berlebihan
Aktivitas konstruktif Menghindar
Olah raga Mencederai diri
Lainnya ...................... Lainnya : Pasien memilih untuk
mengasingkan diri
Masalah keperawatan : Koping individu tidak efektif

X. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN


Masalah dengan dukungan kelompok, uraikan
Keluarga pasien mengatakan bahwa klien mengalami masalah dilingkungan
kelompok.
Masalah berhubungan dengan lingkungan, uraikan
Kluarga pasien mengatakan pasien menarik diri dari lingkungan.
Masalah dengan pendidikan, uraikan
Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien tidak mengalami masalah pendidikan.
Masalah dengan pekerjaan, uraikan
Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien tidak bekerja.
Masalah dengan perumahan, uraikan
Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien tidak mengalami masalah dengan
perumahan.
Masalah dengan ekonomi, uraikan
Keluarga pasien mengatakan masalah ekonomi tercukupi dan dapat dikontrol.
Masalah dengan pelayanan kesehatan, uraikan
Keluarga pasien mengatakan untuk minum obat pasien harus diingatkan keluarga.
Masalah lainnya, uraikan
-
Masalah keperawatan : -
XI. KURANG PENGETAHUAN TENTANG
Penyakit jiwa Sistem pendukung
Faktor presiptasi Penyakit fisik
Koping Obat-obatan
Lainnya : Keluarga pasien mengatakan bahwa pasie susah mengontrol emosinya
saat kambuh.
Masalah keperawatan : Koping individu tidak efektif.

XII. ASPEK MEDIK


Diagnosa medik : Skizofrenia
Terapi medik : Haloperidol (HLP) 5 mg (3x1)
Trihexyphenidil (THP) 2 mg (3x1)
Chlorpomazin (CPZ) 100 mg (1x1)

XIII. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN


a. Koping Individu Tidak Efektif
b. Isolasi Sosial
c. Kerusakan Interaksi Sosial : Menarik diri
d. Defisit Perawatan Diri

XIV. ANALISA DATA

No DATA MASALAH
1. DS : Koping individu tidak efektif
 Pasien mengatakan dirinya
tidak berguna.
DO :
 Pasien tampak tidak ingin
bertemu dengan orang lain
kecuali orang yang sangat
dia kenal dan dia percaya
seperti Ibu, Bapak, Adik
dan perawat yang sudah
menjalin hubungan saling
percaya dengannya.

2.
DS : Isolasi sosial

 Pasien mengatakan malu


untuk berinteraksi dengan
orang lain dan merasa
dirinnya tidak berguna atau
tidak pantas diantara
mereka.
DO :
 Pasien tidak melakukan
kontak mata saat diajak
berbicara dan pasien
3. tampak malu saat Kerusakan interaksi sosial : Menarik diri
berbicara.

DS :
 Keluarga pasien
mengatakan pasien sering
menunduk dan tidak mau
berinteraksi.
DO :
4.  Pasien tampak menyendiri
Defisit Perawatan Diri

DS :
 Keluarga pasien
mengatakan pasien sulit
untuk mandi, berhias, dan
memakai pakaiannya.
DO :
 Pasien tampak kotor dang
mengenakan pakaian yang
tidak rapi
XV. POHON MASALAH

Kerusakan Interaksi Sosial :


Menarik diri

Isolasi Sosial Defisit Perawatan Diri

Koping individu tidak efektif

XVI. DIAGNOSA KEPERAWATAN

3. Defisit perawatan diri


4. Isolasi sosial

______________________________
Mahasiswa

______________________________
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BALI

DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN


(Berdasarkan prioritas)
Ruang :
Nama Pasien : Tn. D
No. Register : -
No. TANGGAL DIAGNOSA KEPERAWATAN TANGGAL TANDA
Dx MUNCUL TERATASI TANGAN
1. 14 Oktober Defisit Keperawatan Diri 18 Oktober
2019 2019
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BALI

LAPORAN PENDAHULUAN
STRATEGI PELAKSANAAN
TINDAKAN KEPERAWATAN HARI KE 1 (14 Oktober 2019)

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Deskripsi Pasien
Data subjektif : Pasien mengatakan malu untuk berinteraksi dengan orang lain dan
merasa tidak pantas di antara mereka. Pasien mengatakan malas mandi dan memotong
kukunya.
Data objektif : Pasien tampak kotor dengan pakaian yang tidak rapi.

2. Diagnosa Keperawatan
Defisit perawatan diri: Kebersihan diri

3. Tujuan Keperawatan pada Klien


a. Pasien mampu mandi secara mandiri
b. Pasien mampu membersihkan rambut/keramas secara mandiri
c. Pasien mampu gosok gigi secara mandiri
d. Pasien mampu memotong kuku secara mandiri

4. Rencana Tindakan Keperawatan Pada Pasien Defisit Perawatan Diri


SP 1: Melatih pasien cara-cara perawatan kebersihan diri (pengkajian dan melatih
cara menjaga kebersihan diri: mandi
a. Identifikasi masalah perawatan diri: kebersihan diri: mandi
b. Menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan diri: mandi
c. Menjelaskan alat-alat untuk mandi
d. Menjelaskan cara-cara melakukan kebersihan diri : mandi dan ganti pakaian, sikat
gigi, cuci rambut, potong kuku
e. Melatih pasien mempraktekkan cara mandi.
f. Memasukkan dalam jadwal kegiatan.

A. Rencana Komunikasi Keperawatan Pada Pasien Defisit Perawatan Diri


1. Fase Orientasi:
a. Salam Terapeutik
“Selamat Pagi, Bapak”.
“Saya suster Aulia Anggraini, suster suka dipanggil suster Aulia, saya suster yang
bertugas pada pagi ini dari jam 08.00-14.00 WITA. Selama 1 minggu kedepan
suster akan merawat Bapak.”

b. Validasi klien
“Nama Bapak siapa? Biasanya dipanggil siapa, pak?”
“Suster lihat dari tadi Bapak menggaruk badannya. Kenapa, pak?” “Bapak, apa
tadi pagi bapak sudah mandi?”
“Kenapa, Bapak belum mandi?”

c. Kontrak Kerja
“Kalau begitu pak, bagaimana kalau kita bicara tentang perawatan kebersihan
diri, kira-kira waktunya 20 menit, tempatnya disini saja. Gimana pak?”

2. Fase Kerja:
SP 1: Melatih pasien cara-cara perawatan kebersihan diri (pengkajian dan melatih
cara menjaga kebersihan diri: mandi
a. Identifikasi masalah perawatan diri: kebersihan diri
“Bapak berapa kali biasanya mandi”
“Kenapa jadi seperti itu, pak?”

b. Menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan diri.


“Kalau begitu kita sekarang bicara tentang pentingnya mandi. Coba bapak
pikirkan, kalau bapak mandi, apa yang bapak rasakan?”
“Nah, sekarang suster akan menyebutkan gunanya jika bapak mandi. Pertama,
Bapak bersih. Kalau, yang kedua apa Bapak?”
“Coba, Bapak ingat-ingat dulu”
“Iya bapak benar, lalu apa lagi pak?”
“Iya, Bapak bagus sekali. Terus, kalau kita tidak mandi apa akibatnya?” “Iya,
Bapak bagus sekali”

c. Menjelaskan alat-alat untuk menjaga kebersihan diri


“Baiklah pak, Sekarang coba bapak sebutkan dulu alat-alat yang biasanya
digunakan bapak untuk mandi”
“Suster sebutkan dulu ya pak.. pertama sabun.. lalu apa lagi pak?”
“Benar pak, lalu apa lagi pak?”
“Benar sekali bapak”

d. Menjelaskan cara-cara melakukan kebersihan diri: mandi dan ganti pakaian, sikat
gigi, cuci rambut, potong kuku dan melatih pasien mempraktekkan cara menjaga
kebersihan diri.
“Nah bapak sudah tahu kan alat-alat untuk mandi. Sekarang suster akan
menjelaskan cara-cara mandi, sikat gigi, cuci rambut, dan potong kuku,”
“Kita mulai dengan mandi ya pak, pertama kita guyur seluruh tubuh, ambil sabun,
tuangkan sabun ke telapak lalu gosok-gosok, pak Donny. Kemudian usapkan
keseluruh tubuh.”
“Sekarang pakai shampoo pak, pertama tuangkan sedikit shampoo di telapak
tangan, lalu gosok-gosok, lalu gosokkan di kepala”
“Terakhir kita guyur seluruh badan sampai shampoo dan sabunnya hilang, ya
Pak.”
“Kemudian pakai handuk. Selanjutnya gosok gigi.”
“Pertama beri pasta gigi di atas sikat gigi, beri sedikit air lalu digosokkan ke
mulut dan gigi, setelah itu kumur-kumur dan buang airnya.”
“Kalau sudah ganti baju dulu, terus kita lanjutkan dengan memotong kuku”
“Kalau pak Donny melakukan kegiatan ini nanti badannya tidak gatal sama bau
lagi, pak. Tiap hari bapak jadi wangi, pak.”
“Sekarang suster praktekkan dulu, pak Donny lihat ya.”

e. Melatih pasien mempraktekkan cara menjaga kebersihan diri


“Nah sekarang kita praktekkan di kamar mandi ya pak”

f. Memasukkan dalam jadwal kegiatan.


“Bapak Donny tadi kita sudah selesai mempraktekkan cara menjaga kebersihan
diri, nanti Bapak mau latihan mandinya jam berapa?”
“Kalau sikat gigi? potong kukunya?”
“Baik, pak Donny suster masukkan ke jadwal ya”

3. Fase Terminasi Sementara


a. Evaluasi Subjektif
“Nah, Bapak bagaimana perasaanya setelah mandi?”

b. Evaluasi Objektif
Bapak masih ingat apa yang kita lakukan tadi?”

c. Tindak Lanjut
“Bapak Donny, tadi kan sudah dibuat jadwal kapan pak Donny mau
melakukannya, besok suster cek ya sudah dilakukan apa belum. Kalau pak Donny
sudah melakukan sendiri tanpa diingatkan, nanti dijadwal suster tulis M ya, kalau
masih perlu diingatkan nanti suster tulis B ya.”

d. Kontrak Yang Akan Datang


“Kalau begitu Pak, Saya akan kembali ke ruang perawat, besok saya akan
menemui bapak lagi jam 09.00 pagi untuk latihan berdandan, tempatnya di
ruangan ini saja. Bagaimana, pak?”
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BALI

LAPORAN PENDAHULUAN
STRATEGI PELAKSANAAN
TINDAKAN KEPERAWATAN HARI KE 2 (15 Oktober 2019)
A. Proses Keperawatan
1. Deskripsi Pasien
Data subjektif : Pasien mengatakan malu untuk berinteraksi dengan orang lain dan
merasa tidak pantas di antara mereka. Pasien mengatakan malas mandi dan memotong
kukunya.
Data objektif : Pasien tampak kotor dengan pakaian yang tidak rapi.

2. Diagnosa Keperawatan
Defisit perawatan diri: Berdandan

3. Tujuan Keperawatan pada Klien


a. Pasien mampu berpakaian secara mandiri
b. Pasien mampu menyisir rambut secara mandiri
c. Pasien mampu mencukur jenggot secara mandiri

4. Rencana Tindakan Keperawatan Pada Pasien Defisit Perawatan Diri


SP 2: Melatih cara berdandan setelah kebersihan diri: sisiran, rias muka untuk
perempuan; sisiran, cukuran untuk pria
a. Evaluasi tanda & gejala defisit perawatan diri
b. Validasi kemampuan pasien melakukan kegiatan pertama
c. Evaluasi manfaat melakukan kegiatan pertama
d. Jelaskan cara dan alat untuk berdandan
e. Latih cara berdandan setelah kebersihan diri: sisiran, rias muka untuk
perempuan; sisiran, cukuran untuk pria
Masukkan pada jadwal kegiatan untuk kebersihan

B. Rencana Komunikasi Keperawatan Pada Pasien Defisit Perawatan Diri


1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Selamat pagi, pak Donny”
“Bapak Donny masih ingat dengan suster?”

b. Validasi Pasien
“Bagaimana perasaan Bapak hari ini?”
“Iya bapak, bapak tampak segar dan wangi, bapak sudah mandi ya”

c. Kontrak kerja
“Nah bapak sesuai janji kita kemarin hari ini kita akan melakukan kegiatan
merias diri atau berdandan, tempatnya disini saja pak, waktunya kurang lebih 20
menit. Bagaimana pak?”

2. Fase Kerja
SP 2: Melatih cara berdandan setelah kebersihan diri: sisiran, rias muka untuk
perempuan; sisiran, cukuran untuk pria
a. Evaluasi tanda & gejala defisit perawatan diri
“ Bapak Donny, suster liat kancing baju Bapak Donny tidak pas.”
“Terus, Bapak Donny tadi setelah mandi sudah sisiran.”
“Bapak, jenggotnya kapan terakhir dicukur?

b. Validasi kemampuan pasien melakukan kegiatan pertama


“Gimana pak, apakah bapak ada kesulitan melakukan kegiatan yang telah kita
jadwalkan kemaren pak?”
“Bapak melakukan kegiatannya diingatkan perawat atau melakukannya sendiri?”
“Bagus sekali, Bapak”

c. Evaluasi manfaat melakukan kegiatan pertama


“Apa yang Bapak rasakan setelah melakukan kegiatan tersebut pak?”
“Iya bapak, benar sekali

d. Jelaskan cara dan alat untuk berdandan, latih cara berdandan setelah
kebersihan diri: sisiran, rias muka untuk perempuan; sisiran, cukuran
untuk pria
“Nah, sekarang kita belajar berdandan ya pak.. ”
“Pertama kita cukuran dulu, oleskan krim didagu terus kita cukur sampai bersih,
kemudian kita bilas pakai air dan keringkan, pak.”
“Terus pakai baju pak, masukkan tangan bapak satu-satu, setelah itu masukkan
kancingnya ke lubang yang sesuai.”
“Habis itu kita sisir rambut, pak Donny.
“Nah, pak kalau pak Donny melakukannya nanti bapak akan terlihat lebih rapi
pak.”
“Sekarang suster contohkan ya, pak Donny lihat suster”
“Nah pak Donny coba ya sekarang.”

e. Masukkan pada jadwal kegiatan untuk kebersihan diri dan berdandan


“Nah, Bapak bisa melakukan berdandan ini setelah mandi. Kalau mencukur
bapak kapan mau melakukannya?”
“Suster masukkan ke dalam jadwal ya, pak.”

3. Fase Terminasi Sementara


a. Evaluasi Subjektif
“Nah bagaimana perasaan bapak setelah belajar berdandan tadi?”

b. Evaluasi Objektif
“Nah Bapak… Bapak masih ingat kita tadi belajar apa?”
“Coba sebutkan pak.”
“Bagus bapak, bapak bisa mengingatnya dengan tepat.”

c. Rencana Tindak Lanjut


“Nah tadi kan, bapak Donny bilang ingin melakukan kegiatan berdandan dan
mencukur semingu sekali, ini akan dimasukkan ke jadwal harian Bapak. Nah
lakukan ya, pak.”
“Nah, beri tanda jika Bapak sudah melakukannya. Tanda M jika Bapak
melakukannya sendiri atau tanpa bantuan orang lain, tanda B jika diingatkan baru
dilakukan, dan tanda T jika tidak dilakukan.”
d. Kontrak Yang Akan Datang
“Baiklah Pak, kalau begitu saya permisi ya pak, saya ke ruang perawat dulu,
Nanti siang jam 12 kita latihan makan dan minum yang baik di ruang makan.”

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BALI
LAPORAN PENDAHULUAN
STRATEGI PELAKSANAAN
TINDAKAN KEPERAWATAN HARI KE 3 (16 Oktober 2019)

A. PROSES KEPERAWATAN

1. Deskripsi Pasien
Data subjektif : Pasien mengatakan malu untuk berinteraksi dengan orang lain dan
merasa tidak pantas di antara mereka. Pasien mengatakan malas mandi dan memotong
kukunya.
Data objektif : Pasien tampak kotor dengan pakaian yang tidak rapi.
2. Diagnosa Keperawatan
Defisit perawatan diri: makan dan minum

3. Tujuan Keperawatan pada Klien


a. Pasien mampu makan dan minum secara mandiri
b. Pasien mampu makan dan minum dengan baik
c. Pasien mampu makan dan minum dengan rapi

4. Rencana Tindakan Keperawatan Pada Pasien Defisit Perawatan Diri


SP 3: Melatih pasien makan secara mandiri (melatih cara makan dan minum yang
baik)
a. Evaluasi tanda & gejala defisit perawatan diri.
b. Validasi kemampuan kegiatan pertama & kedua yg telah dilatih & beri pujian.
c. Evaluasi manfaat melakukan kegiatan pertama, kedua & ketiga
d. Menjelaskan kebutuhan (kebutuhan makan perhari dewasa 2000-2200 kal
(perempuan) dan laki-laki antara 2400-2800 kal setiap hari makan: minum 8
gelas (2500ml setiap hari) dan cara makan dan minum.
e. Menjelaskan cara makan yang tertib.
f. Menjelaskan cara merapihkan peralatan makan setelah makan.
g. Praktek makan sesuai dengan tahapan makan yang baik; latihan cara makan dan
minum yang baik.
h. Masukkan latihan kegiatan pada jadwal kegiatan.

B. Rencana Komunikasi Keperawatan Pada Pasien Defisit Perawatan Diri


1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Selamat pagi, pak Donny”

b. Validasi Pasien
“Bapak siang ini masih terlihat rapi ya.”

c. Kontrak kerja
“Nah Bapak sesuai janji kita kemaren hari ini kita akan melakukan kegiatan
latihan makan dan minum yang baik, tempatnya disini, waktunya kurang lebih 20
menit. Bagaimana pak?”

2. Fase Kerja
SP 3: Melatih pasien makan secara mandiri (melatih cara makan dan minum yang
baik).
a. Evaluasi tanda dan gejala defisit perawatan diri
“Bapak biasanya makan dimana?”

b. Validasi kemampuan pasien melakukan kegiatan pertama dan kedua yang telah
dilatih dan beri pujian
“Gimana pak, apakah bapak ada kesulitan melakukan kegiatan yang telah kita
jadwalkan, pak?”
“Bapak melakukan kegiatannya diingatkan perawat atau melakukannya sendiri?”
“Wah, itu bagus sekali, Bapak.. tetap lanjutkan sampai Bapak bisa melakukan
tanpa diingatkan.”

c. Evaluasi manfaat melakukan kegiatan pertama dan kedua


“Bagaimana perasaan bapak setelah mandi, pak?”
“Kalau setelah berdandan, apa yang Bapak rasakan?”
“Iya bapak, benar sekali

d. Menjelaskan kebutuhan (kebutuhan makan perhari dewasa 2000-2200 kal


(perempuan) dan laki-laki antara 2400-2800 kal setiap hari makan: minum 8
gelas (2500ml setiap hari) dan cara makan dan minum.
“Bapak, sekarang kita membicarakan tentang kebutuhan kita makan perhari, yaitu
satu kali makan kita dengan 1 piring nasi dengan sayur dan lauk pauk sama 1
gelas air, ya pak.”
“Sekarang suster nanya apa yang harus kita lakukn sebelum makan?”
“Sebelum makan kita harus cuci tangan, Setelah itu?”
“Suster akan menjelaskan cara makan yang baik, saat makan kita harus menyuap
makanan satu-satu dengan pelan-pelan. Jika, merasa haus, Bapak Donny bisa
minum.”

e. Menjelaskan cara makan yang tertib


“Bapak Donny kalau makan yang tertib, ya…., Ini piring dan makanan Bapak
Donny. Dan, itu piring punya teman Bapak. Jadi, Bapak makan yang ada di piring
Bapak, ya.”

f. Menjelaskan cara merapihkan peralatan makan setelah makan


“Setelah selesai kita bereskan dan taruh gelas dan piring yang kotor ke tempat
pencucian piring. Setelah itu, Bapak cuci tangan.”
“Pak Donny, kalau bapak makan tiap hari sesuai kebutuhan nanti badan bapak
akan lebih sehat.”

g. Praktik makan sesuai dengan tahapan makan yang baik; Latihan cara makan dan
minum yang baik.
“Sekarang, ayo kita ke ruang makan, pak Donny.”
“Ada Suster Lida ingin membagikan obat.”
“Coba Bapak Donny sendiri yang minta obatnya.”

h. Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan makan dan minum yang baik
“Nah, Bapak kapan akan melakukan latihan makan dan minum ini.”
“Suster masukkan ke jadwal ya pak.”

3. Fase Terminasi Sementara


a. Evaluasi Subjektif
“Nah bagaimana perasaan bapak setelah belajar latihan makan dan minum yang
baik tadi?”

b. Evaluasi Objektif
“Nah Bapak… Bapak masih ingat kita tadi belajar apa?”
“Coba sebutkan Bapak.”
“Bagus bapak, bapak bisa mengingatnya dengan tepat. “

c. Rencana Tindak Lanjut


“Nah tadi kan, bapak Donny bilang ingin melakukan latihan makan dan minum
yang baik sewaktu makan, ini akan dimasukkan ke jadwal harian Bapak. Nah
lakukan ya, pak…”
“Nah, beri tanda jika Bapak sudah melakukannya. Tanda M jika Bapak
melakukannya sendiri atau tanpa bantuan orang lain, tanda B jika diingatkan baru
dilakukan, dan Tanda T jika tidak dilakukan.”

d. Kontrak Yang Akan Datang


“Baiklah Pak, kalau begitu saya permisi ya pak, saya ke ruang perawat dulu,
Besok jam 09.00 pagi latihan BAB/BAK secara mandiri disini saja, waktunya
kurang lebih 20 menit.

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BALI
LAPORAN PENDAHULUAN
STRATEGI PELAKSANAAN
TINDAKAN KEPERAWATAN HARI KE 4 (17 Oktober 2019)

A. Proses Keperawatan
1. Deskripsi Pasien
Tanggal 7 Mei 2014 pada jam 09.00 pagi klien merasa segar, rapi dan
bersemangat. Tampak baju yang dipakai dan rambut klien rapi, jenggot dicukur,
makan tidak sembarangan lagi. Tetapi klien sering didapatkan BAK dan BAB di
sembarang tempat.

2. Diagnosa Keperawatan
Defisit perawatan diri: BAK/BAB

3. Tujuan Keperawatan pada Klien


a. Pasien mampu melakukan BAK/BAB secara mandiri
b. Pasien mampu melakukan BAK/BAB pada tempatnya

4. Rencana Tindakan Keperawatan Pada Pasien Defisit Perawatan Diri


SP 4 : Mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK secara mandiri
a. Evaluasi tanda & gejala defisit perawatan diri
b. Validasi kemampuan melakukan kegiatan pertama, kedua & ketiga yg telah dilatih
& beri pujian
c. Evaluasi manfaat melakukan kegiatan pertama,kedua & ketiga
d. Menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai
e. Menjelaskan cara membersihkan diri setelah BAB dan BAK
f. Menjelaskan cara membersihkan tempat BAB dan BAK.
g. Latih BAB dan BAK yang baik.
h. Masukkan pada jadwal kegiatan

B. Rencana Komunikasi Keperawatan Pada Pasien Defisit Perawatan Diri


1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Selamat pagi Bapak Donny”

b. Validasi Pasien
“Bapak tampak segar dan wangi, bapak sudah mandi ya”
“Bapak pagi ini terlihat rapi ya.”

c. Kontrak kerja
“Nah bapak sesuai janji kita kemaren hari ini kita akan melakukan kegiatan
latihan BAB/BAK secara mandiri tempatnya disini, waktunya kurang lebih 20
menit. Bagaimana pak?”

2. Fase Kerja
SP 4 : Mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK secara mandiri
a. Evaluasi tanda & gejala defisit perawatan diri
“Bapak, biasanya BAB dan BAK dimana?”
“Setelah selesai BAB atau BAK apa yang Bapak Donny lakukan?”

b. Validasi kemampuan melakukan kegiatan pertama, kedua dan ketiga yang


telah dilatih dan beri pujian
“Gimana pak, apakah bapak ada kesulitan melakukan kegiatan yang telah kita
jadwalkan, pak?”
“Bapak melakukan kegiatannya diingatkan perawat atau melakukannya sendiri?”
“Wah, itu bagus sekali, Bapak. Terus, Bagaimana dengan latihan makan dan
minum, kemarin.”
“Wah, bagus sekali.”

c. Evaluasi manfaat melakukan kegiatan pertama, kedua dan ketiga


“Bagaimana perasaan bapak setelah mandi, pak?”
“Kalau setelah berdandan, apa yang Bapak rasakan?”
“Iya bapak, benar sekali. Terus, setelah Bapak latihan makan dan minum yang baik
kemarin. Apa yang Bapak rasakan?”
“Bagus sekali, Bapak Donny

d. Menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai


“Sekarang Suster tanya, dimana seharusnya Bapak Donny BAB dan BAK?”
“Iya, betul sekali. Kalu kita mau BAB dan BAK tempatnya di WC.”

e. Menjelaskan cara membersihkan diri setelah BAB dan BAK.


“Sekarang Suster akan menjelaskan cara Bapak Donny membersihkan diri setelah
BAB dan BAK. Setelah BAB dan BAK Bapak membersihkan anus atau kemaluan
dengan air yang bersih dan pastikan tidak ada tinja/air kencing yang masih tersisa
di tubuh Bapak Donny. Bapak paham.”

f. Menjelaskan cara membersihkan tempat BAB dan BAK.


“Setelah Bapak Donny selesai membersihkannya, jangan lupa tinja/air kencing
yang ada di WC dibersihkan. Caranya siram tinja/air kencing tersebut dengan air
secukupnya sampai tinja/air kencing itu tidak tersisa di WC. Jika Bapak Donny
membersihkan tinja/air kencing seperti ini, berarti Bapak ikut mencegah
menyebarnya kuman yang berbahaya yang ada pada kotoran/air kencing. Setelah
selesai membersihan tinja/air kencing, Bapak Donny perlu merapihkan kembali
pakaian sebelum keluar dari WC. Pastikan resleting celana telah tertutup rapi, lalu
cuci tangan dengan menggunakan sabun.”

g. Latih BAB dan BAK yang baik.


“Sekarang kita latihan ya, Pak…”
“Pertama, kita latihan membersihkan diri setelah BAB atau BAK”
“Kedua, kita latihan membersihkan tempat BAB dan BAK”

h. Masukkan pada jadwal kegiatan


“Nah, Bapak bisa lakukan latihan ini sewaktu Bapak ingin BAK atau BAK.”
“Jadi, bapak sewaktu ingin BAB atau BAK Bapak bisa melakukan latihan yang
kita lakukan tadi.”

3. Fase Terminasi Sementara


a. Evaluasi subjektif
“Nah bagaimana perasaan bapak setelah belajar BAB atau BAK secara mandiri
tadi?”
b. Evaluasi Objektif
“Nah Bapak… Bapak masih ingat kita tadi belajar apa?”
“Coba sebutkan Bapak..”
“Bagus bapak, bapak bisa mengingatnya dengan tepat.
c. RencanaTtindak Lanjut
“Nah tadi kan, bapak Donny bilang akan melakukan latihan BAB dan BAK secara
mandiri sewaktu Bapak ingin BAB atau BAK, ini akan dimasukkan ke jadwal
harian Bapak. Nah lakukan ya, pak…”
“Nah, beri tanda jika Bapak sudah melakukannya. Tanda M jika Bapak
melakukannya sendiri atau tanpa bantuan orang lain, tanda B jika diingatkan baru
dilakukan, dan Tanda T jika tidak dilakukan.”
d. Kontrak Yang Akan Datang
“Baiklah Pak, kalau begitu saya permisi ya pak, saya ke ruang perawat dulu,
“Besok jam 09.00 pagi saya akan menemui Bapak untuk berdiskusi tentang
perkembangan kondisi Bapak Donny dengan keluarga Bapak di ruangan bapak
Donny.”

ANALISA PROSES INTERAKSI

Nama Klien : Tn. D (L)


Status Interaksi :
Pertemuan ke :
Kondisi Klien :

Kondisi Lingkungan :

Tujuan :
Nama Mahasiswa :
Waktu Interaksi :
Tanggal :
Ruang :

Komunik Komunik Analisa Berfokus Analisa Berfokus Rasional


asi Verbal asi Non pada Perawat pada Klien
Verbal
P: P:
________________ ________________
K: ____ ____
________________
____ ________________
K: K: ____

P: ________________
________________ ____
____
________________ ________________
____ ____

________________
____

________________
____

________________
____

________________
____

P: P:
________________ ________________
K: ____ ____
________________
____ ________________
K: K: ____

P: ________________
________________ ____
____
________________ ________________
____ ____

________________
____

________________
____

________________
____

________________
____

Rekomendasi :
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BALI

PETUNJUK TEKNIS PENGISIAN FORMULIR


PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

Setiap melakukan pengkajian, tulis tempat klien dirawat dan tanggal dirawat

I. IDENTITAS
1. Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak dengan klien
tentang : nama perawat, nama klien, panggilan perawat, panggilan klien, tujuan,
waktu, tempat pertemuan, topik yang akan dibicarakan.
2. Usia dan No. RM Lihat RM
3. Alamat
4. Pekerjaan
5. Mahasiswa menuliskan sumber data / informan

II. ALASAN MASUK


Tanyakan kepada klien/keluarga :
1. Apa yang menyebabkan klien/keluarga datang ke Rumah Sakit saat ini?
2. Bagaimaa gambaran gejala tersebut ?

III. FAKTOR PREDISPOSISI


1. Tanyakan riwayat timbulnya gejala gangguan jiwa saat ini
2. Tanyakan penyebab munculnya gejala tersebut.
3. Apa saja yang sudah dilakukan oleh keluarga mengatasi masalah ini ?
4. Bagaimana hasilnya ?

IV. FAKTOR PREDISPOSISI


 RIWAYAT PENYAKIT MASA LALU
1. Tanyakan kepada klien / keluarga apakah klien pernah mengalami gangguan jiwa di
masa lalu, bila ya beri tanda 3 pada kotak ya dan bila tidak beri tanda 3 pada kotak
tidak
2. Apabila pada poin 1 ya, maka tanyakan bagaimana hasil pengobatan sebelumnya.
Apabila dia dapat beradaptasi di masyarakat tanpa ada gejala-gejala gangguan jiwa
maka beri tanda 3 pada kotak berhasil. Apabila dia dapat beradaptasi tapi masih ada
gejala-gejala sisa maka beri tanda 3 pada kotak kurang berhasil. Apabila tidak ada
kemajuan atau gejala-gejala bertambah atau menetap maka beri tanda 3 pada kotak
tidak berhasil.
3. Tanyakan apakah klien pernah mengalami gangguan fisik / penyakit termasuk
gangguan pertumbuhan dan perkembangan

 RIWAYAT PSIKOSOSIAL
1. Tanyakan pada klien apakah klien pernah melakukan dan atau mengalami dan atau
menyaksikan penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan
dalam keluarga dan tindakan kriminal. Beri tanda 3 sesuai dengan penjelasan klien /
keluarga apakah klien sebagai pelaku dan atau korban, dan atau saksi, maka beri
tanda 4 pada kotak pertama. Isi usia saat kejadian pada kotak ke dua. Jika klien
pernah mengalami pelaku dan jelas tentang kejadian yang dialami klien
2. Tanyakan pengalaman masa lalu lain yang tidak menyenangkan baik bio, psiko,
sosio, kultural, spiritual seperti (kegagalan, kehilangan / perpisahan / kematian,
trauma selama tumbuh kembang) yang pernah dialami klien pada masa lalu
3. Bagaimana kesan kepribadian klien ?

 RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


1. Tanyakan kepada klien / keluarga apakah ada anggota keluarga lainnya yang
mengalami gangguan jiwa, jika ada beri tanda 3 pada kotak ya dan jika tidak beri
tanda 3 pada kotak tidak. Apabila ada anggota keluarga lain yang mengalami
gangguan jiwa maka tanyakan bagaimana hubungan klien dengan anggota keluarga
terdekat. Tanyakan apa gejala yang dialami serta riwayat pengobatan dan perawatan
yang pernah diberikan pada anggota keluarga tersebut. Masalah keperawatan ditulis
sesuai dengan data

V. STATUS MENTAL
Beri tanda 3 pada kotak sesuai dengan keadaan klien boleh lebih dari satu :
1. Penampilan
Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat / keluarga
a. Penampilan tidak rapi jika dari ujung rambut sampai ujung kaki ada yang tidak
rapi.
Misalnya : rambut acak-acakan, kancing baju tidak tepat, resleting tidak dikunci,
baju terbalik, baju tidak diganti-ganti.
b. Penggunaan pakaian tidak sesuai. Misalnya : pakaian dalam dipakai di luar baju
c. Cara berpakaian tidak seperti biasanya jika penggunaan pakaian tidak tepat
(waktu, tempat, identitas, situasi/kondisi)
d. Jelaskan hal-hal yang ditampilkan klien dan kondisi lain yang tidak tercantum
e. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data

2. Kesadaran
 Kwantitatif/penurunan kesadaran
 Compos mentis :sadarkan diri
 Apatis :individu mulai mengantuk acuh tak acuh
terhadap rangsang yang masuk, diperlukan rangsang
yang kuat untuk menarik perhatian
 Somnolensia :jelas sudah mengantuk, diperlukan
rangsang yang kuat lagi untuk menarik perhatian
 Sopor :ingatan, orientasi dan pertimbangan
sudah hilang
 Subkoma dan koma :tidak ada respon terhadap rangsang yang
keras
 Kwalitatif
a. Tidak berubah : Mampu mengadakan hubungan
dan pembatasan dengan lingkungannya dan dirinya
(sesuai dengan kenyataan)
b. Berubah : Tidak mampu mengadakan
hubungan dan pembatasan dengan lingkungannya dan
dirinya pada taraf tidak sesuai dengan kenyataan
c. Gangguan tidur : Dapat berupa insomnia,
somnambulisme, nightmare, narkolepsi
d. Meninggi : Keadaan dengan respon yang
meninggi terhadap rangsang seperti suara terasa lebih
keras, warna terlihat lebih tenang dll
e. Hipnosa : Kesadaran yang sengaja diubah
menurun / menyempit
f.Disosiasi : Tingkah laku / kejadian yang
memisahkan dirinya secra psikologik dengan
kesadarannya contoh : trans, fugue dll

3. Orientasi waktu, tempat dan orang jelas


Jelaskan data objektif dan subjektif terkait hal-hal diatas
Masalah keperawatan sesuai dengan data

4. Aktivitas Motorik
Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat / keluarga
Kelambatan
a. Hipokinesa, hipoaktifitas: gerakan atau aktivitas yang berkurang
b. Sub stupor katatonik : reaksi terhadap lingkungan
sangat berkurang gerakan dan aktivitas menjadi lambat
c. Katalepsi : mempertahankan secara kaku
posisi badan tertentu juga bila hendak diubah orang
lain
d. Flexibilitas serea : mempertahankan posisi yang
dibuat orang lain

Peningkatan
a. Hiperkinesa, hiperaktivitas
gerakan atau aktivitas yang berlebihan
b. Gaduh gelisah katonik
aktivitas motorik yang tidak bertujuan yang berkali-kali seakan tidak
dipengaruhi rangsang luar
c. Tik
gerakan involunter sekejap dan berkali-kali mengenai sekelompok oto yang
relatif kecil
d. Grimase
gerakan otot muka yang berubah-ubah yang tidak dapat dikontrol
e. Tremor
jari-jari yang tampak gemetar ketika klien menjujurkan tangan
f. Kompulsif
Kegiatan yang dilakukan berulang-ulang, seperti berulangkali mencuci tangan,
mencuci muka, mandi, mengeringkan tangan
g. Mannerism
Pergerakan yang stereotipe dan testrsi (seperti bermain sandiwara)
h. Ekhopraksia
Meniru gerakan orang lain pada saat dilihatnya.
i. Verbegerasi
Berkali-kali mengucapkan sebuah kata yang tidak tercantum

Jelaskan aktivitas yang ditampilkan klien dan kondisi lain yang tidak tercantum
Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data

5. Afek-emosi
Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat / keluarga
a. Adekuat : Afek emosi yang sesuai dengan stimulus yang ada
b. Inadekuat : emosi yang tidak sesuai atau bertentangan dengan stimulus
yang ada
c. Datar/dangkal : Tidak ada perubahan roman muka pada saat ada stimulus yang
menyenangkan atau menyedihkan
d. Tumpul : Hanya bereaksi bila ada stimulus emosi yang kuat
e. Labil : emosi yang cepat berubah-ubah
f. Anhedonia : Ketidak mampuan merasakan kesenangan
g. Kesepian : Merasa dirinya ditinggalkan
h. Eforia : Rasa gembira yang berlebihan
i. Ambivalensi : Afek emosi yang berlawanan timbul bersama-sama terhadap
seseorang, obyek atau sesuatu hal.
j. Apati : Berkurangnya afek emosi terhadap sesuatu atau semua hal
disertai rasa terpencil dan tidak peduli
k. Marah : Sudah jelas
l. Depresif/sedih : Seperti perasaan susah, tak berguna, gagal,
putus asa dsb
m. Cemas : Perasaan khawatir yang tidak jelas obyeknya, sebutkan
tingkatnya

Jelaskan hal-hal yang tidak tercantum


Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data

Persepsi

a. Apakah ada halusinasi ? kalau


ada termasuk jenis apa ?
b. Apakah ada ilusi ? kalau ada
deskripsikan
 Jenis-jenis halusinasi sudah jelas
 Jelaskan isi halusinasi, frekuensi gejala yang tampak pada saat klien
berhalusinasi
 Masalah keperawatan sesuai dengan data
c. Apakah ada depersonalisasi :
perasaan aneh tentang dirinya atau perasaan bahwa pribadinya tidak seperti
biasanya, tidak menurut kenyataan.
d. Derealisasi : perasaan aneh
tentang lingkungannya dan tidak menurut kenyataan

Jelaskan hal-hal yang tidak tercantum


Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data

6. Proses pikir
Data diperoleh dari observasi pada saat wawancara
7.1 Arus pikir
a. Koheren : kalimat / pembicaraan dapat dipahami
dengan baik
b. Inkoheren : kalimat tidak terbentuk, pembicaraan sulit
dipahami
c. Sirkumstansial : pembicaraan yang berbelit-belit tapi sampai
pada
tujuan pembicaraan
d. Tangensial : pembicaraan yang berbelit-belit tapi tidak
sampai
pada tujuan
e. Asosiasi longgar : pembicaraan tak ada hubungan antara satu
kalimat
dengan kalimat lainnya, dan klien tidak menyadarinya
f. Flight of Ideas : pembicaraan yang melompat dari satu topik
ke topik
lainnya masih ada hubungan yang tidak logis dan
tidak sampai pada tujuan
g. Bloking : pembicaraan terhenti tiba0tiba tanpa
gangguan
eksternal kemudian dilanjutkan kembali
h. Perseverasi : berulang-ulang menceritakan sesuatu ide,
tema secara berlebihan
i. Logorea : pembicaraan cepat tidak terkontrol
j. Neologisme : membentuk kata-kata baru yang tidak
dipahami oleh
umum
k. Irelevansi : ucapan yang tidak ada hubungannya dengan
pertanyaan atau dengan hal yang sedang dibicarakan
l. Assosiasi bunyi : mengucapkan perkataan yang mempunyai
persamaan
bunyi
m. Main kata-kata : membuat sajak secara tidak wajar
n. Afasi : bisa sensorik (tidak mengerti pembicaraan
orang lain),
motorik (tidak bisa atau sukar berbicara)
Jelaskan apa yang dikatakan oleh klien pada saat wawancara
Masalah keperawatan sesuai dengan data
7.2 Isi pikir
Data didapatkan melalui wawancara
a. Obsesi : pikiran yang selalu muncul meski klien berusaha
menghilangkannya
b. Phobia : ketakutan yang phatalogis / tidak logis terhadap obyek
/ situasi tertentu
c. Ekstasi : kegembiraan yang luar biasa
d. Fantasi : isi pikiran tentang sesuatu keadaan atau kejadian yang
diinginkan
e. Bunuh diri : ide bunuh diri
f. Ideas of reference : pembicaraan orang lain, benda-benda atau sesuatu
kejadian yang dihubungkan dengan dirinya.
g. Pikiran Magis : keyakinan klien tentang kemampuannya melakukan
hal- hal yang mustahil / diluar kemampuannya
h. Preokupasi : pikiran yang terpaku pada satu ide
i. Alienasi : perasaan bahwa dirinya sudah menjadi lain, berbeda,
asing
j. Rendah diri : merendahkan atau menghina diri sendiri,
menyalahkan diri sendiri tentang suatu hal yang
pernah atau tidak pernah dilakukan
k. Pesimisme : mempunyai pandangan yang suram mengenai banyak
hal dalam hidupnya
l. Waham
 Agama
Keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan dan
diucapkan secara berulang tetapi tidak sesuai dengan
kenyataan

 Somatik / hipokondrik
Klien mempunyai keyakinan tentang tubuhnya dan dikatakan
secara berulang yang tidak sesuai dengan kenyataan

 Kebesran
Klien mempunyai keyakinan yang berlebihan terhadap
kemampuannya yang disampaikan secara berulang yang
tidak sesuai dengan kenyataan

 Curiga
Klien mempunyai keyakinan bahwa ada seseorang atau
kelompok yang berusaha merugikan atau mencederai dirinya
yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai dengan
kenyataan

 Nihilistik
Klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia /
meninggal yang dinyatakan secara
berulang yang tidak sesuai dengan kenyataan

 Kejaran
Yakin bahwa ada orang / kelompok yang mengganggu,
dimata-matai atau kejelekan sedang
dibicarakan orang banyak

 Dosa
Keyakinan bahwa ia telah berbuat dosa atau kesalahan
yang besar yang tidakbisa diampuni

Waham bizar
 Sisip pikir
Klien yakin ada ide pikiran orang lain yang disispkan di
dalam pikiran yang disampaikansecara berulang dan tidak
sesuai dengan kenyataan
 Siar pikir
Klien yakin bahwa orang lain mengetahui apa yang dia
pikirkan walaupun dia tidak
menyatakan kepada orang tersebut yang
dinyatakan secara berulang dan tidak sesuai dengan
kenyataan
 Kontrol pikir
Klien yakin pikirannya dikontrol oleh kekuatan dari luar
Jelaskan apa yang dikatakan oleh klien pada saat wawancara
Masalah keperawatan sesuai dengan data

7.3 Bentuk pikir


a. Realistik : cara berpikir sesuai kenyataan /
realita yang ada
b. Nonrealistik : cara berpikir yang tidak sesuai
dengan kenyataan
c. Autistik : cara berpikir berdasarkan
lamunan/fantasi/halusinasi/wahamnya sendiri
d. Dereistik : cara berpikir dimana proses
mentalnya tidak ada sangkut pautnya
dengan kenyataan, logika, atau pengalaman.

7. Memori
Data diperoleh melalui wawancara
a. Gangguan daya ingat jangka panjang :
Tidak dapat mengingat kejadian yang terjadi lebih dari satu bulan
b. Gangguan daya ingat jangka pendek :
Tidak dapat mengingat kejadian yang terjadi dalam minggu terakhir
c. Gangguan daya ingat saat ini :
Tidak dapat mengingat kejadian yang baru saja terjadi
d. Amnesia : Sebutkan macamnya Amnesia retrograde / anterograde
e. Paramnesia :Ingatan yang keliru karena distorsi pemanggilan kembali contoh :
 De javu
Seperti sudah pernah melihat sesuatu tetapi sebenarnya belum
 Jamais vu
Seperti belum pernah melihat sesuatu tetapi sebenarnya sudah
 Konfabulasi
Secara tidak sadar mengisi lubang-lubang dalam ingatannya dengan cerita
yang tidak sesuai dengan kenyataan
 Fasse reconaisance
Pengelan kembali yang keliru, merasa bahwa itu benar tetapi sesungguhnya
tidak benar
f. Hipermnesia : Penahanan dalam ingatan dan pemanggilan kembali yang
berlebihan

Jelaskan sesuai dengan data terkait


Masalah keperawatan sesuai dengan data

8. Tingkat konsentrasi dan berhitung


Data diperoleh melalui wawancara
a. Mudah dialihkan
Perhatian klien mudah berganti dari satu obyek ke obyek lain
b. Tidak mampu berkonsentrasi
Klien selalu minta agar pertanyaan diulang/tidak dapat menjelaskan kembali
pembicaraan
c. Tidak mampu berhitung
Tidak dapat melakukan penambahan/pengurangan pada benda-benda nyata
Jelaskan sesuai dengan data terkait
Masalah keperawatan sesuai dengan data

9. Kemampuan penilaian
a. Gangguan kemampuan penilaian ringan :
Dapat mengambil keputusan yang sederhana dengan bantuan orang lain.
Contoh : berikan kesempatan pada klien untuk memilih mandi dulu sebelum
makan atau makan dulu sebelum mandi. Jika diberi oenjelasan, klien dapat
mengambil keputusan
b. Gangguan kemampuan penilaian bermakna :
Tidak mampu mengambil keputusan walaupun dibantu orang lain.
Contoh : berikan kesempatan pada klien untuk memilih mandi dulu sebelum
mandi. Jika diberi penjelasan klien masih tidak mampu mengambil keputusan
Jelaskan sesuai dengan data terkait
Masalah keperawatan sesuai dengan data

10. Daya Tilik Diri / insight


Data diperoleh dari wawancara
a. Mengingkari penyakit yang diderita :
Tidak menyadari gejala penyakit (perubahan fisik, emosi) pada dirinya dan
merasa tidak perlu pertolongan
b. Menyalahkan hal-hal diluar dirinya :
Menyalahkan orang lain / lingkunagn yang menyebabkan kondisi saat ini

Jelaskan sesuai dengan data terkait


Masalah keperawatan sesuai dengan data
11. Interaksi selama wawancara
Data ini didapatkankan melalui hasil wawancara dan observasi perawat / keluarga
a. Bermusuhan, tidak kooperatif, mudah tersinggung sudah jelas
b. Kontak mata kurang: tidak mau menatap lawan bicara
c. Defensif : selalu berusaha mempertahankan pendapat dan
kebenaran dirinya
d. Curiga : menunjukkan sikap/perasaan tidak percaya pada
orang lain

Jelaskan sesuai dengan data terkait


Masalah keperawatan sesuai dengan data

VI. FISIK
Pengkajian fisik difokuskan pada sistem fungsi organ :
1. Ukur dan observasi tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan klien
2. Ukur tinggi badan dan berat badan klien
3. Tanyakan apakah, berat badan naik atau turun dan beri tanda 3 sesuai hasil
4. Tanyakan kepada klien / keluarga, apakah ada keluhan fisik yang dirasakan oleh
klien, bila ada beri tanda 3 di kotak ya dan bila tidak beri tanda 3 pada kotak tidak
5. Kaji/lakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut sistem dan fungsi organ dan jelaskan
sesuai dengan keluhan yang ada
6. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data yang ada

VII. PSIKOSOSIAL
1. Konsep diri
a. Citra tubuh :
 Tanyakan persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian tubuh yang disukai dan
tidak disukai

b. Identitas diri, tanyakan tentang :


 Status dan posisi klien sebelum dirawat
 Kepuasan klien terhadap status dan posisinya (sekolah, tempat kerja,
kelompok)
 Kepuasan klien sebagai laki-laki / perempuan

c. Peran : Tanyakan,
 Tugas / peran yang diemban dalam keluarga / kelompok / masyarakat
 Kemampuan klien dalam melaksanakan tugas / peran tersebut

d. Ideal diri : Tanyakan,


 Harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas / peran
 Harapan klien terhadap lingkungan (keluarga, sekolah, tempot kerja,
masyarakat)
 Harapan klien terhadap penyakitnya

e. Harga diri : Tanyakan,


 Hubungan klien dengan orang lain sesuai dengan kondisi no. 2a, b, c, d
 Penilaian / penghargaan orang lain terhadap diri dan kehidupannya

f. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data


2. Genogram
a. Buatlah genogram minimal tiga generasi yang dapat menggambarkan hubungan
klien dan keluarga, contoh :

45

: Perempuan : pisah

: Laki-laki : stillbirth/ aborsi

: cerai : konflik

: meninggal : sangat dekat

: orang tinggal serumah : dekat

: perkawinan : distant/ berjarak

: klien : proyeksi
45
: umur : cut off/ menghindar

b. Jelaskan masalah yang terkait dengan komunikasi, pengambilan keputusan dan


pola asuh
c. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data
3. Hubungan sosial
a. Tanyakan pada klien siapa orang terdekat dalam kehidupannya, tempat
mengadu, tempat bicara, minta bantuan atau sokongan
b. Tanyakan pada klien kelompok apa saja yang diikuti dalam masyarakat
c. Tanyakan pada klien sejauh mana ia terlibat dalam kelompok di masyarakat
d. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data

4. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan : Tanyakan tentang,
 Pandangan dan keyakinan, terhadap gangguan jiwa sesuai dengan norma
budaya dan agama yang dianut
 Pandangan masyarakat setempat tentang gangguan jia
b. Kegiatan ibadah : Tanyakan,
 Kegiatan ibadah di rumah secara individu dan kelompok
 Pendapat klien/keluarga tentang kegiatan ibadah
c. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data

VIII. AKTIFITAS SEHARI-HARI (ADL)


1. Makan
a. Observasi dan tanyakan tentang : frekuensi, jumlah, variasi, macam (suka / tidak
suka / pantang) dan cara makan
b. Observasi kemampuan klien dalam menyiapkan dan membersihkan alat makan

2. BAB/BAK
a. Observasi kemampuan klien untuk BAB/BAK
 Pergi, menggunakan dan membersihkan WC
 Membersihkan diri dan merapikan pakaian

3. Mandi
a. Observasi dan tanyakan tentang frekuensi, cara mandi, menyikat gigi, cuci
rambut, gunting kuku, cukur (kumis, jenggot dan rambut)
b. Observasi kebersihan tubuh dan bau badan

4. Berpakaian
a. Observasi kemampuan klien dalam mengambil, memilih dan mengenakan
pakaian dan alas kaki
b. Observasi penampilan dandanan klien
c. Tanyakan dan observasi frekuensi ganti pakaian
d. Nilai kemampuan yang harus dimiliki klien : mengambil, memilih dan
mengenakan pakaian
5. Istirahat dan Tidur
a. Observasi dan tanyakan tentang :
 Lama dan waktu tidur siang / malam
 Persiapan sebelum tidur seperti : menyikat gigi, cuci kaki dan berdoa
 Aktivitas sesudah tidur seperti : merapikan tempat tidur, mandi / cuci muka
dan menyikat gigi
6. Penggunaan Obat
a. Observasi dan tanyakan kepada klien dan keluarga tentang :
 Penggunaan obat : frekuensi, jenis, dosis, waktu dan cara pemberian
 Reaksi obat
7. Pemeliharaan Kesehatan
a. Tanyakan kepada klien dan keluarga tentang :
 Apa, bagaimana, kapan dan kemana perawat lanjut
 Siapa saja sistem pendukung yang dimiliki (keluarga, teman, instituisi dan
lembaga pelayanan kesehatan) dan cara penggunaannya
8. Aktivitas di Dalam Rumah
a. Tanyakan kemampuan klien dalam :
 Merencanakan, mengolah dan menyajikan makanan
 Merapikan rumah (kamar tidur, dapur, menyapu, mengepel)
 Mencuci pakaian sendiri
 Mengatur kebutuhan biaya sehari-hari
9. Aktivitas di luar Rumah
a. Tanyakan kemampuan klien
 Belanja untuk keperluan sehari-hari
 Dalam melakukan perjalanan mandiri dengan berjalan kaki, menggunakan
kendaraan pribadi, kendaraan umum
 Aktivitas lain yang dilakukan di luar rumah (bayar listrik/telepon/air, kantor
pos dan bank)

Jelaskan data terkait


Masalah keperawatan ditulis sesuai data

IX. MEKANISME KOPING


Data didapat melalui wawancara pada klien atau keluarganya. Beri tanda 3 pada kotak
koping yang dimiliki klien, baik adaptif maupun maladaptif.

X. MASALAH-MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN


Data didapat melalui wawancara pada klien atau keluarganya. Pada tiap masalah yang
dimiliki klien beri uraian spesifik, singkat dan jelas.

XI. PENGETAHUAN
Data didapatkan melalui wawancara pada klien . Pada tiap item yang dimiliki oleh klien
simpulkan dalam masalah.
XII. ASPEK MEDIK
Tuliskan diagnosa medik klien yang telah dirumuskan oleh dokter yang merawat.
Tuliskan obat-obatan klien saatini, baik obat fisik, psikofarmaka dan terapi lain.

XIII. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN


1. Tuliskan semua masalah disertai data pendukung, yaitu subyektif dan data objektif
2. Buat pohon masalah dari data yang telah dirumuskan

XIV. ANALISA DATA


Tulis dan kelompokkan data subyektif dan obyektif serta masalah apa yang timbul

XV. POHON MASALAH

XVI. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN


Rumuskan diagnosis dengan rumusan P (permasalahan) dan E (Etiologi) berdasarkan
pohon masalah.
Urutkan diagnosis sesuai dengan prioritas.
Pada akhir pengkajian, tulis tempat dan tanggal pengkajian serta tanda tangan dan nama
jelas mahasiswa.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Gangguan jiwa adalah sindrom atau pola perilaku yang secara klinis bermakna yang
berhubungan dengan distres atau penderitaan dan menimbulkan gangguan pada satu atau
lebih fungsi kehidupan manusia. Gangguan jiwa merupakan kumpulan dari keadaan-keadaan
yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan fisik maupun mental yang meliputi
gangguan jiwa dan sakit jiwa. Seseorang yang mengalami gangguan jiwa masih mengetahui
dan merasakan kesulitannya, serta kepribadiannya tidak jauh dari realitas dan masih hidup
dalam alam kenyataan. Sedangkan orang yang terkena sakit jiwa tidak memahamai
kesulitannya, kepribadiannya dari segi tanggapan, perasaan, dan dorongan motivasi sangat
terganggu. Orang tersebut hidup jauh dalam alam kenyataan.
Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara mental,
fisik, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut, menyadari kemampuan sendiri, dapat
mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk
komunitasnya. Orang dengan masalah kejiwaan adalah seseorang yang mempunyai masalah
fisik, mental, social, pertumbuhan dan perkembangan, atau kulaitas hidup sehingga memiliki
resiko mengalami gangguan jiwa

B. Saran

Klien diharapkan dapat mengikuti program penyembuhan yang direncanakan oleh


dokter dan perawat dan mampu untuk mengikuti guna kesembuhan klien. Keluarga nantinya
mampu memberikan motivasi dan semangat pada klien untuk mengembalikan kepercayaan
diri baik di rumah maupun di rumah sakit.
DAFTAR PUSTAKA

Elvara, Tiara. 2014. Makalah Defisit Perawatan Diri.


https://www.academia.edu/34831905/makalah_defisit_perawatan_diri.docx