Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Gastroenteritis atau diare sampai saat ini masih merupakan masalah

kesehatan, tidak saja di negara berkembang tetapi juga di negara

maju.Menurut Suharyono (2008) gastroenteritis akut didefinisikan sebagai

buang air besar dengan tinja yang cair atau lembek dengan jumlah yang lebih

banyak dari normal, berlangsung kurang dari 14 hari. Sedangkanmenurut

Priyanto (2008) gastroenteritis kronik yaitu yang berlangsung lebih dari 14

hari.Gastroenteritis atau diare dapat disebabkan infeksi maupun non

infeksi.Dari penyebab gastroenteritis yang terbanyak adalah gastroenteritis

infeksi.Gastroenteritis atau diare infeksi dapat disebabkan virus, bakteri, dan

parasit.Menurut Word Health Organization (WHO), di negara maju walaupun

sudah terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat tetapi insiden

gastroenteritis atau diare infeksi tetap tinggi dan masih menjadi masalah

kesehatan. Tingginya kejadian gastroenteritis di negara Barat oleh karena

foodborne infectionsdan waterborne infectionsyang disebabkan bakteri

Salmonella spp, Campylobacter jejuni, Stafilococcusaureus, Bacillus cereus,

Clostridium perfringensdanEnterohemorrhagicEscherichia coli(EHEC)

(Sinaga, 2009).1

Di Indonesia dari 2.812 klien gastroenteritis atau diare yang

disebabkan bakteri yang datang kerumah sakit dari beberapa provinsi seperti
Jakarta, Jawa, Sumatrayang dianalisa dari 2004 s/d 2005. Menurut Mary

Phillips (2010)penyebab terbanyak adalah Vibriocholerae 01,diikutidengan

Shigella spp, Salmonella spp, V. Parahaemoliticus, Salmonella typhi,

Campylobacter Jejuni, V. Cholera non-01 dan Salmonella paratyphi

A.Berdasarkan data profil kesehatan 2011, jumlah kasus diare di Jawa Tengah

berdasarkanlaporan puskesmas sebanyak 420.587 sedangkan kasus

gastroenteritis dirumah sakit sebanyak 7.648 sehingga jumlah keseluruhan

penderita yang terdeteksi adalah 428.235 dengan jumlah kematian adalah

sebanyak 54 orang. Dari laporan surveilan terpadu tahun 2010 jumlah kasus

diare didapatkan 15,3 % di Puskesmas, di rumah sakit didapat 0,20% pada

penderita rawat inap dan 0,05 % klien rawat jalan (Haryawan, 2011).Cakupan

penemuan penderita diare selama tiga tahun terakhir mengalami peningkatan,

meskipun masih dibawah yang diharapkan yaitu sebesar 80%.Peningkatan

cakupan pada tahun 2010 cukup tinggi, disebabkan adanya peningkatan

pengiriman laporandari kab/kota. Peningkatan cakupan penemuan penting

karena mengurangi kematian akibat terlambatnya pertolongan kasus

diare.Halini kalau tidak segera ditangani akan mengancam keselamatan klien

misalnya, jika terjadi dehidrasi akan menyebabkan syok hipovolemik, serta

dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan hai ini disebabkan oleh

kurangnya makanan yang tidak dapat diserap oleh tubuh dan kurangnya

masukan makanan yang masuk dalam tubuh. Oleh karena itu peran perawat

dalam menangani klien dengan gangguan gastroenteritis adalah dengan


memonitor intake dan output klien, monitor tanda-tanda vital, monitor asupan

makanan dan diet klien, menyarankan pada klien untuk banyak minum,

menjaga personal hygiene, dan menjaga lingkungan agar tetap nyaman dan

tenang.

2. PERUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang masalah tersebut diatas, maka penulis penting

mengambil masalah; Bagaimanakah Asuhan Keperawatan Pada Ny.R Dengan

Gastroentritis Di Ruang Rawat Inap Rumh Sakit Bhayangkara?

3. TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan penulisan karya tulis ini meliputi tujuan umum dan tujuan

khusus.

2. Tujuan Umum

Diperoleh pengalaman secara nyata dalam memberikan asuhan

keperawatan pada klien Gastroentritis pendekatan dengan proses

keperawatan.

2. Tujuan Khusus

Laporan ini dilaksanakan untuk mengetahui pelaksanaan asuhan

keperawatan pada Ny.R dengan Gastroentritis di RS BHAYANGKARA

yang meliputi:

a. Dapat melakukan pengkajian pada klien dengan Gastroentritis.

b. Dapat menentukan masalah keperawatan pada klien dengan

Gastroentritis.
c. Dapat merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan

Gastroentritis.

d. Dapat melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan

Gastoentritis.

e. Dapat melakukan evaluasi pada klien dengan Gastroentritis.

4. MANFAAT PENULISAN

1. Bagi Institusi Rumah Sakit

Memberikan informasi kepada rumah sakit selaku pemberi pelayanan

kesehatan mengenai penyakit gastroenteritis.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai informasi lebih lanjut dalam memberikan asuhan keperawatan

pada klien mengenai gastroenteritis.

3. Bagi keluarga

Dapat digunakan sebagai ilmu pengetahuan dan mampu memahami

tentang penyakit gastroenteritis dan yang bisa dilakukan keluarga untuk

menanganinya.

4. Bagi penulis

Meningkatkan wawasan, pengetahuan serta sikap didalam memberikan

asuhan keperawatan pada klien gastroenteritis untuk mempercepat proses

penyembuhan dan mencegah komplikasi lebih lanjut.


BAB II

TINJAUAN TEORIS

1. KONSEP DASAR

A. PENGERTIAN

B. Etiologi

Menurut Simadibrata (2006) diare dapat disebabkan olehbeberapa

faktor,antara lain: Infeksi yang disebabkan oleh bakteri: shigella sp, E.coli

pathogen, salmonella sp, vibrio cholera, yersinia entero colytika,

campylobacter jejuni, v.parahaemolitikus, staphylococcus aureus, klebsiella,

pseudomonas,aeromonas, dll. Virus:rotavirus,adenovirus, Norwalk virus,

Norwalk like virus, cytomegalovirus, echovirus.Makanan beracun atau

mengandung logam,makanan basi, makan makanan yang tidak biasa misalnya

makanan siap saji,makanan mentah,makanan laut.Obat-obatan tertentu

(penggantian hormone tiroid, pelunak feses dan laksatif, antibiotik,

kemoterapi, dan antasida).

C. Manifestasi Klinis

Ditandai dengan meningkatnya kandungan cairan dalam feses, klien terlihat

sangat lemas, kesadaran menurun,kram perut,demam, muntah,gemuruh usus

(borborigimus), anoreksia, dan haus.Kontraksi spasmodik yang nyeri dan

peregangan yang tidak efektif pada anus, dapat terjadi setiap

defekasi.Perubahan tanda-tanda vital seperti nadi dan respirasi cepat, tekanan

darah turun, serta denyut jantung cepat. Pada kondisi lanjut akan didapatkan
tanda dan gejala dehidrasi,meliputi: Turgor kulit menurun <3 detik, pada

anak-anak ubun-ubun dan mata cekung membran mukosakering dan di sertai

penurunan berat badan akut,keluar keringat dingin(Muttaqin: 2011).

D. Klasifikasi Gastritis

Diare terbagi 2 , yaitu ;

1. Diare Akut

Diare yang terjadi secara mendadak dan berlangsung kurang dari 3 -7

hari pada bayi dan anak.

2. Diare kronik

Diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.

E. Pathofisiologi dan Pathway (terlampir)

Proses terjadinya diare dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan

faktor di antaranyafaktor infeksi, proses ini dapat diawali adanya

mikroorganisme (kuman) yang masuk ke dalam saluran pencernaan yang

kemudian berkembang dalam usus dan merusak sel mukosa usus yang dapat

menurunkan daerah permukaan usus. Selanjutnya terjadi perubahan kapasitas

usus yang akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi usus menyebabkan

sistem transpor aktif dalam usus sehingga sel mukosa mengalami iritasi yang

kemudian sekresi cairan dan elektrolit akan meningkatkemudian

menyebabkan diare. Iritasimukosa usus dapat menyebabkan peristaltik usus

meningkat.Kerusakan pada mukosa ususjuga dapat menyebabkanmalabsorbsi


merupakan kegagalan dalam melakukan absorbsi yang mengakibatkan

tekanan osmotik meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke

rongga usus yang dapat meningkatkan isi rongga usus sehingga terjadilah

diare. (Simadibrata: 2006).

F. Pemeriksaan Penunjang

Menurut Davey (2005) pemeriksaan gastroenterititis yang dapat

dilakukan yaitu:

1. Tes darah lengkap,anemia atau trombositosis mengarahkan dugaan

adanya penyakit kronis. Albumim yang rendah bisa menjadi patokan

untuk tingkat keparahan penyakit namun tidak spesifik.

2. Kultur tinja bisa mengidentifikasi organisme penyebab. Bakteri

C.difficile ditemukan pada5% orang sehat. Oleh karenanya diagnosis di

tegakan berdasarkan adanya gejala disertai ditemukanya toksin,bukan

berdasar ditemukanya organismesaja.

3. Foto polos abdomen,pada foto polos abdomen bisa terlhat kalsifikasi

pankreas,walaupun diduga terjadi insufiensi pankreas, sebaiknya

diperiksa dengan endoscopicretrograde cholangiopancreatography

(ERCP) atau CT pancreas.

G. Penatalaksanaan Medis

Hal pertama yang harus diperhatikan dalam penanggulangan diare

adalah masalah kehilangan cairan yang berlebihan (dehidrasi).Dehidrasi ini

bila tidak segera diatasi dapat membawa bahaya terutama bagi balita dan
anak-anak.Bagi penderita diare ringan diberikan oralit, tetapi bila dehidrasi

berat maka perlu dibantu dengan cairan intravena atau infus. Hal yang tidak

kalah penting dalam menanggulangi kehilangan cairan tubuh adalah

pemberian makanan kembali (refeeding) sebab selama diare pemasukan

makanan akan sangat kurang karena akan kehilangan nafsu makan dan

kehilangan makanan secara langsung melalui tinja atau muntah dan

peningkatan metabolisme selama sakit. (sitorus, 2008).

Apabila seseorang sudah mengalami diare, maka perlu dilakukan treatment

agar diare dapat segera berhenti. Berikut ini adalah beberapa treatment untuk

menanggulangi penyakit diare:

1. Rehidrasi yaitu dengan cara mengkonsumsi oralit. Minum cairan oralit

sebanyak mungkin penderita bisa meminumnya. Minum oralit tidak perlu

dalam jumlah banyak sekaligus, tetapi oralit diminum dalam jumlah yang

sedikit dan dengan frekuensi yang sering akan lebih baik dilakukan. Satu

bungkus oralit dilarutkan dalam 200 ml air matang. Apabila oralit tidak

tersedia, maka oralit bisa dibuat dengan cara membuat larutan gula garam.

Caranya yaitu dengan melarutkan dua sendok teh gula pasir dan seujung

sendok garam dapur ke dalam satu gelas air matang. Rehidrasi juga dapat

dilakukan dengan cairan intravena terutama pada kasus dehidrasi yang berat

atau shock.

2. Suplementasi zinc, yang berfungsi untuk mengurangi durasi diare sampai 25%

dan dapat mengurangi volume feses hingga 30%.


3. Mengkonsumsi makanan yang kaya akan zat gizi, diutamakan bagi klien diare

yang disebabkan karena malnutrisi.

4. Pemberian terapi farmakologik

a. Antibiotik

Menurut Suraatmaja (2007), pengobatan yang tepat terhadap penyebab diare

diberikan setelah diketahui penyebab diare dengan memperhatikan umur

penderita, perjalanan penyakit, sifat tinja. Pada penderita diare, antibiotik

boleh diberikan bila:

 Ditemukan bakteri patogen pada pemeriksaan mikroskopik dan atau

biakan.

 Pada pemeriksaan mikroskopik dan atau mikroskopik ditemukan darah

pada tinja.

 Secara klinis terdapat tanda- tanda yang menyokong adanya infeksi anteral.

 Di daerah endemik kolera.

 Neonatus yang diduga infeksi nosokomial. Antibiotik oral yang dapat

diberikan untuk disentri yaitu yang dianjurkan untuk shigella:

b. Obat antipiretik

Menurut Suraatmaja (2007), obat antipiretik seperti preparat salisilat

(asetosal, aspirin) dalam dosis rendah (25mg/tahun/kali) selain berguna untuk

menurunkan panas sebagai akibat dehidrasi atau panas karena infeksi, juga

mengurangi sekresi cairan yang keluar bersama tinja.

5. Pemberian zinc
Pemberian zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat

keparahan diare, mengurangi frekuensi Buang Air Besar (BAB), mengurangi

volume tinja, serta menurunkan kekambuhan diare pada tiga bulan berikutnya

(lintas diare, 2011).

6. Pemenuhan nutrisi

ASI dan makanan dengan menu yang sama saat anak sehat sesuai umur tetap

diberikan untuk mencegah kehilangan berat badan dan sebagai pengganti

nutrisi yang hilang. Adanya perbaikan nafsu makan menandakan

kesembuhan.Anak tidak boleh dipuasakan, makanan diberikan sedikit-sedikit

tapi sering (lebih kurang 6 x sehari), rendah serat, buah-buahan diberikan

terutama pisang (Hegar B. Dan Handryastuti S., 2009).

7. Sebaiknya berikan makanan lunak ke anak agar sistem pencernaan anak tidak

terlalu bekerja keras untuk dapat mencerna makanan. Berikan anak makanan

seperti:

 Pisang, dan buah-buahan lain

 Nasi tim atau bubur nasi

 Roti

 Daging, ayam, ikan yang direbus atau dipanggang

 Telur matang

 Sayuran matang yang tidak mengandung banyak serat, seperti wortel

 Kentang rebus atau panggang

 Yogurt.
2. ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

Pengkajian menurut Carpenito (2009), yaitu, tahap pertama proses

keperawatan yang meliputi pengumpulan data secara sistematis dan cermat

untuk menentukan status kesehatan klien saat ini dan riwayat kesehatan masa

lalu, serta menentukan status fungsional serta mengevaluasi pola koping klien

saat ini dan masa lalu. Pengumpulan data diperoleh dengan cara wawancara,

pemeriksaan fisik, observasi, peninjauan catatan dan laporan diagnostik,

kolaborasi dengan rekan sejawat.

1. Awalan Serangan

Cemas, gelisah, suhu tubuh meningkat, anoreksia kemudian timbuldiare.

2. Keluhan Utama

Tinja semakin cair, muntah, bila kehilangan banyak cairan dan elektrolit

terjadi gejala dehidrasi, berat badan menurun.

3. Riwayat Kesehatan Lalu

Riwayatpenyakit yang diderita.

4. Pola Fungsional menurut Gordon :

a. Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan.Kebersihan lingkungan dan

makanan yang kurang terjaga.

b. Pola Nutrisi Diawali dengan mual, muntah, anoreksia, menyebabkan

penurunan berat badan klien.


c. Pola Eliminasi.Pola eliminasi akan mengalami perubahan yaitu BAB

lebih dari 4 x sehari, BAK sedikit atau jarang.

d. Pola Istirahat Tidur akan terganggu karena adanya distensi abdomen

yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.

e. Pola Aktivitas.Akan terganggu kondisi tubuh yang lemah dan adanya

nyeri akibat disentri abdomen.

f. Pola Nilai dan Kepercayaan.Kegiatan ibadah terganggu karena adanya

distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.

g. Pola Hubungan dan Peran Klien.Hubungan terganggu jika klien sering

BAB.

h. Pola Seksual dan Reproduksi.Menunjukkan status dan pola reproduksi

klien.

i. Pola Kognitif. Menunjukkan tingkat pengetahuan klien tentang

penyakit.

5. PengkajianFisik

Menurut Doenges (2008), meliputi: pengkajian dasar diantaranya adalah:

Identitas klien. Riwayat kesehatan meliputi kesehatan saat ini.Riwayat

kesehatan keluarga.Pola Nutrisi meliputi frekuensi dan nafsu makan.Pola

eliminasi.Pola aktivitas dan latihan meliputi jenis aktivitas dan tempat

bermain.Pola tidur dan istirahat.Pemeriksaan fisik terdiri dari tingkat

kesadaran, vital sign, keadaan kulit meliputi muka, kepala, mata, telinga,

hidung, mulut, leher, alat kelamin, anggota gerak.Sirkulasi meliputi turgor


kulit elastis atau tidak, dehidrasi.Keadaan thorax meliputi jantung dan

dada serta keadaan abdomen.

6. Pemeriksaan penunjang terdiri dari : pemeriksaan tinja, makroskopis dan

mikroskopis, PH dan kadar gula dalam tinja, bila perlu diadakan uji

bakteri, pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah,

dengan menentukan PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah,

pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal,

pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan Posfat.

B. Diagnosa Keperawatan

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


keperawatan
1 Defisit volume cairan b/d NOC: NIC :
kehilangan cairan aktif  Fluid balance Fluid management
 Hydration  Timbang popok/pembalut jika
Definisi : Penurunan cairan  Nutritional Status : Food diperlukan
intravaskuler, interstisial, and Fluid Intake  Pertahankan catatan intake
dan/atau intrasellular. Ini Kriteria Hasil : dan output yang akurat
mengarah ke dehidrasi,  Mempertahankan urine  Monitor status hidrasi (
kehilangan cairan dengan output sesuai dengan kelembaban membran
pengeluaran sodium mukosa, nadi adekuat,
usia dan BB, BJ urine
normal, HT normal tekanan darah ortostatik ),
Batasan Karakteristik : jika diperlukan
- Kelemahan  Tekanan darah, nadi, suhu
tubuh dalam batas normal  Monitor vital sign
- Haus
 Tidak ada tanda tanda  Monitor masukan makanan /
- Penurunan turgor
dehidrasi, Elastisitas cairan dan hitung intake
kulit/lidah
kalori harian
- Membran mukosa/kulit turgor kulit baik, membran
kering mukosa lembab, tidak  Kolaborasikan pemberian
- Peningkatan denyut cairan intravena IV
ada rasa haus yang
nadi, penurunan tekanan berlebihan  Monitor status nutrisi
darah, penurunan  Dorong masukan oral
volume/tekanan nadi  Berikan penggantian
- Pengisian vena menurun nesogatrik sesuai output
- Perubahan status  Dorong keluarga untuk
mental membantu klien makan
- Konsentrasi urine  Tawarkan snack ( jus buah,
meningkat buah segar )
- Temperatur tubuh  Kolaborasi dokter jika tanda
meningkat cairan berlebih muncul
- Hematokrit meninggi meburuk
- Kehilangan berat badan  Atur kemungkinan tranfusi
seketika (kecuali pada
third spacing)
 Persiapan untuk tranfusi
Faktor-faktor yang
berhubungan: Hypovolemia
- Kehilangan volume Management
cairan secara aktif  Monitor status cairan
- Kegagalan mekanisme termasuk intake dan ourput
pengaturan cairan
 Pelihara IV line
 Monitor tingkat Hb dan
hematokrit
 Monitor tanda vital
 Monitor responklien terhadap
penambahan cairan
 Monitor berat badan
 Dorong klien untuk
menambah intake oral
 Pemberian cairan Iv monitor
adanya tanda dan gejala
kelebihanvolume cairan
 Monitor adanya tanda gagal
ginjal
2 Risiko kerusakan NOC : Tissue Integrity : NIC : Pressure
integritas kulit b/d Skin and Mucous Management
ekskresi/BAB sering Membranes  Anjurkan klien untuk
Kriteria Hasil : menggunakan pakaian yang
Definisi : Perubahan pada  Integritas kulit yang baik longgar
epidermis dan dermis bisa dipertahankan  Hindari kerutan padaa tempat
(sensasi, elastisitas, tidur
 Batasan karakteristik :  Jaga kebersihan kulit agar
temperatur, hidrasi,
tetap bersih dan kering
 Gangguan pada bagian pigmentasi)  Mobilisasi klien (ubah posisi
tubuh  Tidak ada luka/lesi pada klien) setiap dua jam sekali
 Kerusakan lapisa kulit kulit  Monitor kulit akan adanya
(dermis)  Perfusi jaringan baik kemerahan
 Gangguan permukaan  Menunjukkan  Oleskan lotion atau
kulit (epidermis) pemahaman dalam minyak/baby oil pada derah
Faktor yang berhubungan proses perbaikan kulit yang tertekan
: dan mencegah  Monitor aktivitas dan
Eksternal : terjadinya sedera mobilisasi klien
 Hipertermia atau berulang  Monitor status nutrisi klien
hipotermia  Mampu melindungi kulit  Memandikan klien dengan
 Substansi kimia dan mempertahankan sabun dan air hangat
 Kelembaban udara kelembaban kulit dan
 Faktor mekanik perawatan alami
(misalnya : alat yang
dapat menimbulkan
luka, tekanan, restraint)
 Immobilitas fisik
 Radiasi
 Usia yang ekstrim
 Kelembaban kulit
 Obat-obatan
Internal :
 Perubahan status
metabolik
 Tulang menonjol
 Defisit imunologi
 Faktor yang
berhubungan dengan
perkembangan
 Perubahan sensasi
 Perubahan status nutrisi
(obesitas, kekurusan)
 Perubahan status cairan
 Perubahan pigmentasi
 Perubahan sirkulasi
 Perubahan turgor
(elastisitas kulit)
3 Ketidakseimbangan NOC : Nutrition Management
nutrisi kurang dari  Nutritional Status :  Kaji adanya alergi makanan
kebutuhan tubuh b/d  Nutritional Status : food  Kolaborasi dengan ahli gizi
penurunan intake and Fluid Intake untuk menentukan jumlah
makanan  Nutritional Status : kalori dan nutrisi yang
nutrient Intake dibutuhkan klien.
 Anjurkan klien untuk
Definisi : Intake nutrisi tidak  Weight control
meningkatkan intake Fe
cukup untuk keperluan Kriteria Hasil :  Anjurkan klien untuk
metabolisme tubuh.  Adanya peningkatan meningkatkan protein dan
berat badan sesuai vitamin C
Batasan karakteristik : dengan tujuan  Berikan substansi gula
- Berat badan 20 % atau
 Beratbadan ideal sesuai  Yakinkan diet yang dimakan
lebih di bawah ideal
dengan tinggi badan mengandung tinggi serat
- Dilaporkan adanya  Mampumengidentifikasi untuk mencegah konstipasi
intake makanan yang kebutuhan nutrisi  Berikan makanan yang terpilih
kurang dari RDA  Tidk ada tanda tanda ( sudah dikonsultasikan
(Recomended Daily malnutrisi dengan ahli gizi)
Allowance)  Menunjukkan  Ajarkanklien bagaimana
- Membran mukosa dan membuat catatan makanan
peningkatan fungsi
konjungtiva pucat harian.
- Kelemahan otot yang pengecapan dari menelan  Monitor jumlah nutrisi dan
digunakan untuk  Tidak terjadi penurunan kandungan kalori
menelan/mengunyah berat badan yang berarti  Berikan informasi tentang
- Luka, inflamasi pada kebutuhan nutrisi
rongga mulut  Kaji kemampuan klien untuk
- Mudah merasa kenyang, mendapatkan nutrisi yang
sesaat setelah dibutuhkan
mengunyah makanan Nutrition Monitoring
- Dilaporkan atau fakta  BB klien dalam batas normal
adanya kekurangan  Monitor adanya penurunan
makanan berat badan
- Dilaporkan adanya  Monitor tipe dan jumlah
perubahan sensasi rasa aktivitas yang biasa
- Perasaan dilakukan
ketidakmampuan untuk  Monitor interaksi anak atau
mengunyah makanan orangtua selama makan
- Miskonsepsi  Monitor lingkungan selama
- Kehilangan BB dengan makan
makanan cukup  Jadwalkan pengobatan dan
- Keengganan untuk tindakan tidak selama jam
makan makan
- Kram pada abdomen  Monitor kulit kering dan
- Tonus otot jelek perubahan pigmentasi
- Nyeri abdominal dengan  Monitor turgor kulit
atau tanpa patologi  Monitor kekeringan, rambut
- Kurang berminat kusam, dan mudah patah
terhadap makanan  Monitor mual dan muntah
- Pembuluh darah kapiler  Monitor kadar albumin, total
mulai rapuh protein, Hb, dan kadar Ht
- Diare dan atau  Monitor makanan kesukaan
steatorrhea  Monitor pertumbuhan dan
- Kehilangan rambut yang perkembangan
cukup banyak (rontok)  Monitor pucat, kemerahan,
- Suara usus hiperaktif dan kekeringan jaringan
- Kurangnya informasi, konjungtiva
misinformasi  Monitor kalori dan intake
nuntrisi
Faktor-faktor yang  Catat adanya edema,
berhubungan : hiperemik, hipertonik papila
Ketidakmampuan lidah dan cavitas oral.
pemasukan atau mencerna  Catat jika lidah berwarna
makanan atau magenta, scarlet
mengabsorpsi zat-zat gizi
berhubungan dengan
faktor biologis, psikologis
atau ekonomi.
4 Cemas b/d perubahan NOC : NIC :
status kesehatan  Anxiety control Anxiety Reduction
 Coping (penurunan kecemasan)
Definisi :  Impulse control  Gunakan pendekatan yang
Perasaan gelisah yang tak Kriteria Hasil : menenangkan
jelas dari  Klien mampu  Nyatakan dengan jelas
ketidaknyamanan atau mengidentifikasi dan harapan terhadap pelaku
ketakutan yang disertai mengungkapkan gejala klien
respon autonom (sumner  Jelaskan semua prosedur
cemas
tidak spesifik atau tidak dan apa yang dirasakan
diketahui oleh individu);  Mengidentifikasi,
mengungkapkan dan selama prosedur
perasaan keprihatinan
disebabkan dari antisipasi menunjukkan tehnik  Pahami prespektif klien
untuk mengontol cemas terhdap situasi stres
terhadap bahaya. Sinyal
ini merupakan peringatan  Vital sign dalam batas  Temani klien untuk
adanya ancaman yang normal memberikan keamanan dan
akan datang dan mengurangi takut
 Postur tubuh, ekspresi
memungkinkan individu wajah, bahasa tubuh dan  Berikan informasi faktual
untuk mengambil langkah mengenai diagnosis,
tingkat aktivitas
untuk menyetujui terhadap tindakan prognosis
menunjukkan
tindakan  Dorong keluarga untuk
berkurangnya kecemasan menemani anak
Ditandai dengan
 Gelisah  Lakukan back / neck rub
 Insomnia  Dengarkan dengan penuh
 Resah perhatian
 Ketakutan  Identifikasi tingkat
 Sedih kecemasan
 Fokus pada diri  Bantu klien mengenal situasi
 Kekhawatiran yang menimbulkan
 Cemas kecemasan
 Dorong klien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
 Instruksikan klien
menggunakan teknik
relaksasi
 Barikan obat untuk
mengurangi kecemasan
FORMULIR PENGKAJIAN

Nama : RS BHAYANGKARA

Tanggal Pengkajian : 28 April 2019

Alamat : Jl. Kartini No. 14

I. Identitas Klien

Nama Ny. R
Tanggal masuk 27 April 2019
Umur 35 tahun
No. pendaftaran 007260
Alamat Rumah Asrama Brimob Polda Riau Jl. Durian
Agama Islam
Status Perkawinan Kawin
Pendidikan Terakhir SMA
Pekerjaan IRT

II. Alasan Kunjungan Ke RS/Puskesmas


Kliendatang dengan keluhan diare sudah 3 hari, frekuensi > 10 kali/hari,

dengan konsistensi cair, dan tidak ada ampas.Muntah 4x/hari, demam sejak 5

hari, nafsu makan menurun, nyeri perut (+).

III. Riwayat Kesehatan

Masalah kesehatan

- Yang pernah dialami

Klien tidak memiliki penyakit menular dan penyakit keturunan

- Yang dirasakan saat ini :

Mencret 10 kali, lemas, nafsu makan menurun, sering terbangun saat tidur

malam karena mencret dan perut mules.

IV. KEBIASAAN SEHARI-HARI

a. Biologis

1. Pola Makan

Sebelumnya klien makan 3x/hari, klien suka mengkonsumsi

cabe.Saat dirawat klien makan 3x/hari makanan lunak,dan hanya

menghabiskan ¼ porsi dari yang disediakan.

2. Pola Minum

Sebelumnya klien minum sekitar 8-9 gelas/hari.Namun sejak

dirawat klien minum 3-4 gelas/hari air putih.Klien merasa mual jika

juka banyak minum.

3. Pola Tidur
Saat dirawat pola tidur klien terganggu, sekitar 4-5 jam pada malam

hari, hal ini dikarenakanklienmerasa mules dan harus bolak balik ke

kamar mandi untuk BAB.

4. Pola Eliminasi (BAB/BAK)

Klien BAK 3-4 kali/hari dan BAB sudah 10 kali dalam satu hari ini

(saat pengkajian).

5. Aktivitas Sehari-hari

Klien dapat melakukan aktifitas sehari-hari tanpa bantuan orang lain

(mandiri).

6. Rekreasi

Klien menghabiskan waktunya selama di rumah sakit dengan

beristirahat di tempat tidur karena badannya masih terasa lemas.

b. Psikologi

1. Keadaan Emosi

Keadaan emosi klien saat dilakukan pengkajian tampak stabil dan

tenang.

c. Sosial

1. Dukungan keluarga

Klien mendapatkan dukungan dari keluarga ditandai dengan saat di

rumah sakit klien ditemani oleh suami dan anak-anaknya.

2. Hubungan antar keluarga


Klien mengatakan dirinya memiliki hubungan yang baik dengan

keluarga.

3. Hubungan dengan orang lain

Klien mengatakan dirinya memiliki hubungan yang baik dengan

orang-orang disekitar klien.

d. Spritual

1. Pelaksanaan ibadah

Selama di rumah sakit klien tidak bisa melaksanakan

sholatdikarenakan kondisi badannya yang masih lemas.

2. Keyakinan tentang kesehatan

Klien merasa yakin akan kesembuhannya. Klien mengatakan ia

menerima keadaannya sekarang dan yakin bahwa Allah

menyayanginya.

V. PEMERIKSAAN FISIK

A. Tanda Vital

a. Keadaan umum : sedang

b. Kesadaran : Composmentis

c. Nadi : 78x/menit, TD:100/70 mmHG, RR : 20x/menit, S : 37,90C

BB : 45 Kg TB : 150cm

B. Kebersihan Perorangan

1. Kepala

- Rambut
Rambut klien bersih dan hitam, tidak ada ketombe dan ikal.

Bentuk kepala simetris dan tidak ada massa.

- Mata

Mata klien normal, bersih, tidak ada secret, tidak memakai

kaca mata, sclera tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis, pupil

isokor, tidak ada oedema, tidak ada katarak serta simetris

kanan dan kiri.

- Hidung

Hidung klien normal, simetris dimedialis, tidak terpasang alat

bantu nafas,pernafasan cuping hidung tidak ada, tidak ada

epistaksis, lubang hidung simetris dan bersih, tidak ada tanda

radang, mukosa hidung kering

- Mulut

Mukosa bibir kering, lidah tampak sedikit kotor, gigi lengkap

dan klien tidak memakai kawat gigi, gusi tidak ada radang dan

perdarahan.

- Telinga

Pendengaran baik, tidak ada serumen, tidak terpasang alat

bantu pendengaran, simetris kanan dan kiri.

2. Leher
Leher klien tidak ada masalah, tidak ada pembesaran tyroid, posisi

trachea simetris, tidak ada pembesaran kelenjar limfa dan tidak ada

distensi vena jugularis.

C. Dada/Thorak

- Dada

Inspeksi :pergerakan dada simetris kiri dan kanan, tidak ada burrel

chest, funnel chest ataupun pigeon chest.

Palpasi : tidak teraba ada benjolan, vocal vremitus.

Perkusi : Sonor

Auskultasi : Vesikuler +/+, Whezing -/-, Ronchi-/-.

- Paru-paru : Normal dan bersih. Pernafasan 20x/menit

- Jantung

Inspeksi : Tidak ada pembesaran pada jantung, tidak tampak ictus

cordis

Palpasi : Tidak teraba ada benjolan, pulsasi teraba.

Auskultasi :Gallop -/-, regular BJ I dan II.

D. Abdomen

Inspeksi :Tidak tampak ada benjolan, striae (+), simetris pada 4 kuadran.

Palpasi : nyeri tekan di bagian epigastrium, tidak ada teraba massa, tidak

teraba adanya acites, tidak ada pembesaran hepar, tidak ada pembesaran

lien,blast tidak teraba.

Perkusi : Hipertimpani, kembung.


Auskultasi : Bising usus normal, peristaltik meningkat 32 x/menit.

E. Muskuloskletal

Simetris kanan dan kiri, klien dapat berdiri tegak atau lurus, tidak ada

oedema pada extremitas, tidak ada deformitas, tidak ada nyeri pada

sendi.

Kekuatan otot 5 5
5 5

Pada tangan kiri klien terpasang infus sehingga gerakkannya agak

terbatas.

VI. INFORMASI PENUNJANG

1. Diagnosa medis : GEA

2. Laboratorium :

Hb : 12,5 g/dl

Leukosis : 9.200 /mm

Trombosit : 233.000 /mm

Ht : 37,5 %

Eritrosit : 4,81 juta/mm

MCV : 87,7 fl

MCH : 25,9 pg

MCHC : 29,6 g/dl

RDW : 13,8 %

PDW : 15,3 %
MPV : 6,6 fl

Hitung jenis leukosit :

LYMF : 12%

MID : 6%

GRAN : 82 %

Elektrolit :

Natrium : 136 mmol/L

Kalium : 3,5 mmol/L

Chlorida : 101 mmol/L

3. Terapi medis

IVFD RL 30 tts/i

Inj. Ranitidin 1a/12 jam

Inf. Metronidazol I fls/8 jam

Diatabs 3x1 tablet

PCT (k/p)

SF 3x1

VII. DAFTAR MASALAH KEPERWATANA

1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d kehilangan cairan dan

elektrolit berlebihan.

2. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake

yang tidak ade kuat.


3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan frekwensi

diare, iritasi diarea anus.

ANALISA DATA

No Data Fokus Masalah Etiologi


1. DS : Gangguan Out put berlebih
Klien mengatakan minum keseimbangan
air putih habis +4 gelas / cairan dan
hari.
elektrolit
Klien mengatakan diare +
10 x/hari
Klien menatakan
konsistensi cair, tidak ada
ampas dan warna
kekuningan.
DO :
Turgor jelek
Kulit tampak kering
Mukosa bibir kering
Feses konsistensi cair dan
tidak ada ampas
warna kekuningan
Ureum 2,5 mg/dl
Creatinin 4,1 mg/dl
Kalium 5,1 mmol / L

2 DS : Perubahan nutrisi Intake tidak adekuat


Klien mengatakan mual kurang dari
dan muntah jika makan kebutuhan tubuh
Klien mengatakan hanya
habis 2 – 3 sendok dari
porsi RS
DO :
Wajah tampak pucat
Konjungtiva anemis
Klien tampak lemah
IMT = 15

3 DS : Gangguan Peningkatan
Klien mengatakan integritas kulit frekuensi diare
mencret +10x/hari
Klien mengatakan perih Kandungan asam yg
diarea perianal tinggi pada feses
DO :
Tampak merah di area Perlukaan di area
perianal anus

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

NO Dx. Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Rencana tindakan


1 Gangguan Setelah dilakukan Catat intake output yang
keseimbangan cairan tindakan 2 x 24 akurat
dan elektrolit b.d jamkekurangan volume Kaji elastisitas turgor
kehilangan cairan cairan dapat teratasi kulit
dan elektrolit dengan kriteria hasil : Kaji kelembaan
berlebihan. Mempertahankan membrane mukosa
urine output normal Monitor masukan
TTV dalam batas makan dan cairan
normal Kolaborasi pemberian
Tidak ada tanda-tanda cairan IV
dehidrasi Kaji TTV
Elastisitas turgor kulit Monitor status nutrisi
baik Dorong keluarga untuk
Membrane mukosa membantu klien makan
lembab Anjurkan klien untuk
Tidak ada rasa haus menambah intake cairan
yang berlebih oral
Gangguan Setelah dilakukan Kaji kekurangan nutrisi
pemenuhan nutrisi tindakan 2 x 24 jam klien
kurang dari gangguan pemenuhan Beri makan secara
kebutuhan tubuh b.d nutrisi kurang dari bertahap
intake yang tidak ade kebutuhan tubuh dapat Lakukan oral hygiene
kuat teratasi dengan kriteria perhari
hasil : Anjurkan makan sedikit
Tidak ada perubahan tapi sering
berat badan Anjurkan makan selagi
Mampu hangat
mengidentifikasi
kebutuhan nutrisi
Tidak ada tanda-tanda
mal nutrisi
Klien dapat menelan
makanan tanpa
gangguan
Klien tidak mual dan
muntah saat makan
Gangguan integritas Setelah dilakukan Kaji keadaan kulit
kulit berhubungan tindakan 2 x 24 jam daerah perianal
dengan peningkatan gangguan integritas kulit Anjurkan klien untuk
frekwensi diare dapat teratasi dengan menjaga kebersihan
kriteria hasil : kulit khususnya
Elastisitas kulit baik didaerah perianal
Tidak terjadi iritasi Observasi adanya
infeksi
Anjurkan klien
menggunakan celana
dalam yang longgar
CATATAN PERKEMBANGAN TERINTEGRASI

NO
HARI/TGL JAM IMPLEMENTASI JAM EVALUASI
Dx
1 Minggu 09.00 Melakukan S : - Klien mengatakan
28-04-2019 komunikasi mencret + 10x/hari
teraupetik untuk -Klien mengatakan
mengetahui intake mual dan muntah saat
dan output klien makan
Mengkaji status
09.15 O : k/u sedang, status
dehidrasi
09.30 Menganjurkan dehidrasi sedang,
klien banyak intake oral 4-5
minum air putih gelas/hari, BAK
09.40 jarang, Membran
Menganjurkan
klien makan mukosa kering
selagi hangat A : Masalah belum
teratasi
P : Intervensi
dilanjutkan

S : Klien mengatakan
2 11.00 Menganjurkan mual dan muntah saat
klien makan makan, klien
secara bertahap
11.10 Melakukan OH mengatakan makan 3-4
12.00 perhari suap saja
Menganjurkan O : Klien tampak
klien makan lemah, konjungtiva
12.10 sedikit tapi sering anemis, klien tampak
Menganjurkan pucat
klien makan
selagi makanan A : Masalah belum
hangat teratasi
P : Intervensi
dilanjutkan

3 14.30 Mengkaji keadaan S : Klien mengatakan


kulit diarea anus perih diarea perianal
14.40 Menganjurkan
O : Tampak merah
klien untuk
diarea perianal
menggunakan
celana dalam yang A : Masalah belum
longgar teratasi
14.45
Menganjurkan P : Intervensi
klien untuk segera dilanjutkan
mengeringkan
area perianal
setelah mencuci
BAB