LAPORAN KASUS BANGSAL
SEORANG LAKI-LAKI 51 TAHUN DENGAN
TORSIO TESTIS
Diajukan guna memenuhi syarat tugas Program Internsip Dokter Indonesia
di RSUD dr. H. Soewondo Kendal, Jawa Tengah periode tahun 2019
Disusun oleh:
dr. Ayu Yuli Asih
SIP: 33.24.51318/DU/449.1/1462/II/2019
Pembimbing:
dr. Arif Kusno Prabowo, Msi.Med, Sp.B
PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA
RSUD DR. H. SOEWONDO KENDAL
2019
HALAMAN PENGESAHAN
Nama Dokter : dr. Ayu Yuli Asih
SIP : 33.24.51318/DU/449.1/1462/II/2019
Judul Kasus : Seorang Perempuan 51 Tahun Dengan Torsio Testis
Pembimbing : dr.Arif Kusno Prabowo,Msi.Med,Sp.B
Kendal, Desember 2019
Pembimbing Kasus
dr.Arif Kusno Prabowo,Msi.Med,Sp.B
Pembimbing IGD Pembimbing Bangsal
dr. Kusuma Yudopranoto dr. Rahayu Andiyani, Sp.S
BAB I
LAPORAN KASUS
1.1 IDENTITAS PENDERITA
Nama : Tn Achmad Musyafak
Umur : 51 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Pekauman
No. CM : 592530
Tgl. MRS : 3 Desember 2019
Ruang : Bangsal Kenanga
1.2 DATA SUBYEKTIF
Anamnesis :
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 3
Desember 2019 pukul 11.00 WIB di Kamar Operasi RSUD Dr. H. Soewondo
Kendal.
Keluhan Utama :
Buah zakar kanan terasa nyeri
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke IGD dengan keluhan nyeri pada buah zakar kanan sejak 3
hari SMRS. Nyeri timbul mendadak setelah angkat junjung gas elpiji 12kg , nyeri
dirasakan terus menerus, terkena sentuhan sedikit sangat nyeri dan dirasakan
menjalar sampai selangkangan kanan. Pasien juga merasakan tidak nyaman pada
perut dan mual tapi tidak sampai muntah. Pasien menyangkal adanya gangguan
BAK selama sakit yang dirasakan, BAB (-) 2 hari, Kentut (+), Demam (+).
Riwayat Penyakit Dahulu :
- Riwayat trauma pada alat kelamin (-)
- Riwayat dipijit (-)
- Riwayat sakit kencing manis disangkal
- Riwayat sakit tekanan darah tinggi disangkal
- Riwayat alergi disangkal
- Riwayat penyakit seperti ini sebelumnya disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga :
- Riwayat anggota keluarga yang menderita sakit serupa disangkal
- Riwayat kencing manis dalam keluarga disangkal
- Riwayat hipertensi dalam keluarga disangkal
Riwayat Sosial Ekonomi :
Pasien seorang wiraswasta dan tinggal dengan istri dan anak-anaknya.
Pengobatan menggunakan Umum.
Kesan : sosial ekonomi baik
1.3 DATA OBYEKTIF
1.3.1. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan tanggal 3 Desember 2019 pukul 11.00 WIB
di RSUD Dr. H. Soewondo, Kendal.
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis, GCS : E4 M6 V5 = 15
Tanda Vital :
- Tensi : 150/70 mmHg
- Nadi : 101 x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup
- Laju Pernapasan : 24 x/menit
- Suhu : 38,5 oC (axilla)
Kepala : Mesosefal
Mata : Konjungtiva palpebra anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Dada : Simetris saat statis dan dinamis, retraksi (-)
Cor : Iktus kordis tidak tampak, bunyi jantung I-II murni, bising (-)
Pulmo : Sonor di seluruh lapang paru, suara dasar vesikuler (+/+), suara
tambahan (-/-)
Abdomen : Cembung, supel, bising usus (+) normal
Ekstremitas : Tidak ada kelainan
Status Urologi
Sudut costo vertebra
Inspeksi : benjolan (-), memar (-), trauma (-)
Palpasi : benjolan (-), nyeri tekan(-), nyeri ketok (-)
Supra simpisis
Inspeksi : benjolan (-), jejas (-),
Palpasi :benjolan (-), massa (-),buli-buli tidak penuh,
nyeri tekan (+).
Genitalis eksterna : OUE letak normal, merah (-), bengkak (-),
nyeri (-), sekret (-),
Scrotum: Scrotum kanan tampak lebih besar
dibandingkan scrotum kiri, warna scrotum
kanan dan kiri masih normal.Scrotum kanan
terlihat lebih tinggi dengan posisi testis yang
melintang. Scrotum kanan terasa nyeri saat
disentuh dan nyeri menetap saat scrotum
diangkat dan digerakan ke proksimal (prehn
sign). Pada daerah inguinal kanan tidak
didapatkan pembengkakan.
1.3.2. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
HEMATOLOGI
Darah Rutin
Hemoglobin 13,3 gr/dL 11,5 – 16,5 gr/dL
Leukosit 20500 uL 4000 – 10000 uL
Trombosit 236000 uL 150000 – 500000 uL
Hematokrit 39,5 % 35,0 – 49,0 %
Waktu Protrombin (PT) 16,4 detik 11,3 – 14,7 detik
APTT 39,2 detik 27,4 – 39,3 detik
KIMIA KLINIK
Glukosa Sewaktu 209 mg/dL 75 – 115 mg/dL
Ureum 36 mg/dL 10 – 50 mg/dL
Creatinin 0,92 mg/dL 0,50 – 1,10 mg/dL
Natrium 137mmol/L 135-155mmol/L
Kalium 4,4mmol/L 3,5-5,5mmol/L
Calcium 1,22mmol/L 1,13-1,31mmol/L
1.4 RESUME
Seorang laki-laki berusia 51 tahun datang ke RSUD Dr. H. Soewondo
Kendal dengan keluhan nyeri pada buah zakar kanan, terlihat lebih besar dari pada
yang kiri, terkena sentuhan sedikit nyeri hebat dan nyeri dirasakan terus menerus,
mual (+), muntah (-),BAB (-) 2 hari, BAK (+) normal.Keluhan dirasakan sejak ±
3 hari SMRS.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik : dalam batas normal
Status Lokalis :
Scrotum kanan tampak lebih besar dibandingkan scrotum kiri, warna scrotum
kanan dan kiri masih normal.Scrotum kanan terlihat lebih tinggi dengan posisi
testis yang melintang. Scrotum kanan terasa nyeri saat disentuh dan nyeri menetap
saat scrotum diangkat dan digerakan ke proksimal (prehn sign). Pada daerah
inguinal kanan tidak didapatkan pembengkakan.
1.5 DIAGNOSIS
DIAGNOSIS KERJA
- Torsio Testis
DIAGNOSIS BANDING
- Epididimitis
- Epididimoorkitis
- Hernia Skrotalis
1.6 INITIAL PLAN
Problem Torsio Testis Dx
IP Dx : Subjektif : Nyeri pada scrotum kanan, terlihat lebih besar
dan tinggi dibandingkan dengan scrotum kiri, mual.
Objektif : pemeriksaan genitalia, prehn sign, reflek
kremaster, transluminasi.
IP Rx : - Infus RL 20 tpm
- Injeksi Ceftriaxon 2 gr/24 jam
- Injeksi Ketorolac 30 mg/8 jam
- Injeksi Ranitidin 50 mg/8 jam
- Injeksi ondansetron 4mg/8jam Kp
- Infus paracetamol 1gr (ekstra)
- Pasang DC dan NGT
- Puasakan
IP Mx : Keadaan umum dan tanda vital
IP Ex :
- Menjelaskan kepada pasien tentang penyakit yang diderita dan rencana
terapi yang akan dilakukan.
- Menjelaskan rencana tindakan operasi yang akan dilakukan terhadap
pasien.
- Menjelaskan kepada pasien pentingnya control pasca operasi.
1.7 PROGNOSIS
OS
Quo ad sanam Dubia ad bonam
Quo ad vitam Ad bonam
Quo ad functionam malam
1.8 PROGRESS NOTE
Waktu/Tanggal 3/12/2019 4/12/2019 5/12/2019 6/12/2019
Perawatan Hari ke-1 Perawatan Hari ke-2 Perawatan Hari Perawatan Hari ke-4
ke-3
Keluhan - Nyeri pada buah zakar kanan - Nyeri post operasi - Nyeri sudah - Nyeri sudah mulai
- Bengkak mulai berkurang berkurang
Keadaan Baik Baik Baik Baik
Umum
TTV
Tekanan Darah 150/70 mmHg 130/70 mmHg 110/80 mmHg 120/80 mmHg
HR 101 x/m 80 x/m 86 x/m 80 x/m
RR 24 x/m 20 x/m 18 x/m 20 x/m
Suhu 38,5 0C 37 0C 36,8 0C 37 0C
Pemeriksaan - Kepala : CA (-/-), SI (-/-) - Kepala : CA (-/-), SI (-/-) - Kepala : CA (-/- - Kepala : CA (-/-), SI (-/-)
Fisik - Thorax : simetris, fremitus - Thorax : simetris, fremitus ), SI (-/-) - Thorax : simetris, fremitus
(+/+), SDV (+/+), Rh (-/-), (+/+), SDV (+/+), Rh (-/-), - Thorax : (+/+), SDV (+/+), Rh (-/-),
Wh (-/-) Wh (-/-) simetris, Wh (-/-)
- Cor : iktus tidak tampak, - Cor : iktus tidak tampak, fremitus (+/+), - Cor : iktus tidak tampak,
tidak teraba, BJ I-II reguler, tidak teraba, BJ I-II reguler, SDV (+/+), Rh tidak teraba, BJ I-II
bising (-) bising (-) (-/-), Wh (-/-) reguler, bising (-)
- Abdomen : supel, - Abdomen : supel, - Cor : iktus tidak - Abdomen : supel,
organomegali (-), NT (-), BU organomegali (-), NT (-), BU tampak, tidak organomegali (-), NT (-),
(+) (+) teraba, BJ I-II BU (+)
- Ekstremitas : akral hangat, - Ekstremitas : akral hangat, reguler, bising - Ekstremitas : akral hangat,
edem – edem – (-) edem –
- Abdomen :
supel,
organomegali (-
), NT (-), BU
(+)
- Ekstremitas :
akral hangat,
edem –
Terapi - Inf. RL 20 tpm - Inf. Tutofusin 20 tpm - Inf. Tutofusin - Acc Pulang
- Inj. Ceftriaxon 2 gr/24 jam - Inj. Ceftriaxon 2 gr/24 jam 20 tpm - Cefixime 2x100mg
- Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam - Inj Moxiflox 1 amp/24 jam - Inj. Ceftriaxon - Metronidazole 3x500mg
- Inj. Ranitidin 50 mg/8 jam - Inf Paracetamol 1gr/6 jam 2 gr/24 jam - Paracetamol 3x500mg
- Inj. Ondansetron 4mg/8jam - Inj.Dexketoprofen 50 mg/8 - Inj Moxiflox 1
- Inf Paracetamol 1gr ekstra jam amp/24 jam
- Pasang DC dan NGT - Inf Paracetamol
- Puasa 1gr/6 jam
- Operasi Orchidectomy - Inj.Dexketoprof
en 50 mg/8 jam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Testis
Testis adalah organ genitalia pria yang terletak di skrotum. Ukuran testis
pada orang dewasa adalah 4 x 3 x 2,5 cm dengan volume 15-25 ml berbentuk
ovoid. Kedua buah testis terbungkus oleh jaringan tunika albuginea yang melekat
pada testis. Di luar tunika albuginea terdapat tunika vaginalis yang terdiri atas
lapisan viseralis, yang menempel langsung ke testis, dan lapisan parietalis,
sebelah luar testis yang menempel ke muskulus dartos pada dinding skrotum. Otot
kremaster yang berada di sekitar testis memuungkinkan testis dapat digerakkan
mendekati organ abdomen untuk mempertahankan temperature testis agar tetap
stabil. (Purnomo,2009)
Secara histopatologis, testis terdiri atas ± 250 lobuli dan tiap lobules terdiri
atas tubuli seminiferi. Di dalam tubulus seminiferus terdapat sel-sel
spermatogonia dan sel Sertoli, sedang antara tubuli seminiferi terdapat sel-sel
lydig. Sel-sel spermatogonium pada proses spermatogenesis menjadi sel
spermatozoa. Sel-sel Sertoli berfungsi memberi makan pada bakal sperma,
sedangkan sel-sel Leydig atau disebut sel-sel interstisial testis berfungsi dalam
menghasilkan hormone testosterone.(Purnomo, 2009)
Sel-sel spermatozoa yang diproduksi di tubuli seminiferi testis disimpan dan
mengalami permatangan/maturasi di epididimis. Setelah mature (dewasa) sel-sel
spermatozoa bersama-sama dengan getah dari epididimis dan vas deferens
disalurkan menuju ke ampula vas deferens. Sel-sel itu setelah bercampur dengan
cairan-cairan dari epididimis, vas deferens, vesikula seminalis. serta cairan prostat
membentuk cairan semen atau mani. (Purnomo,2009)
Gambar 2.1. Anatomi testis, epididimis, dan potongan transversal testis
(Sumber: Vishal, McGrawhill, 2007)
Testis mendapatkan darah dari beberapa cabang arteri, yaitu (1) arteri
spermatika interna yang merupakan cabang dari aorta, (2) arteri deferensialis
cabang dari arteri vesikalis inferior dan (3) artei kremasterika yang merupakan
cabang arteri epigastrika. Pembuluh vena yang meninggalkan testis berkumpul
membentuk pleksus Pampiniformis. Pleksus ini pada beberapa orang mengalami
dilatasi dan dikenal sebagai variokel. (Purnomo,2009)
2.2 Torsio Testis
2.2.1 Definisi
Torsio testis merupakan suatu keadaan dimana funikulus spermatikus
yang terpuntir mengakibatkan oklusi dan strangulasi dari vaskularisasi vena
atau arteri ke testis dan epididimis. (Siroky, 2004)
Gambar. Testis normal dan torsio testis
(Sumber:
http://familydoctor.org/online/famdocen/home/men/reproductive/916.ht
ml)
2.2.2 Epidemiologi
Torsio testis diderita oleh 1 diantara 4000 pria yang berumur kurang
dari 25 tahun, dan paling banyak diderita oleh anak pada masa pubertas (12-
20 tahun). (Ringdahl dkk, 2006)
Testis kiri lebih sering terjadi disbanding testis kanan, hal ini mungkin
disebabkan oleh karena secara normal funikulus spermatikus kiri lebih
panjang. (Rupp, 2010)
Pada kasus torsio testis yang terjadi pada periode neonatus, 70% terjadi
pada fase prenatal dan 30% terjadi postnatal. (Rupp, 2010)
2.2.3 Etiologi
Penyebab dari torsio testis meliputi kelainan congenital, anomali bell
clapper, testis yang tidak turun, gangguan seksual atupun aktifitas seksual,
trauma, tumor testis dan olahraga. (Rupp, 2010)
Kadang torsio dicetuskan oleh cedera olahraga (Gardjito, 2005).
Beberapa kanker testis intra abdominal dapat mengakibatkan torsio. Setengah
dari pasien memiliki gangguan ini pada saat tidur. Pada beberapa kasus,
kelainan congenital dari tunika vaginalis atau funikulus spermatikus muncul.
(Cranston,2002)
Pada masa janin dan neonatus lapisan parietal menempel pada
muskulus dartos masih belum banyak jaringan penyanggahnya sehingga
testis, epidimis dan tunika vaginalis mudah sekali bergerak dan
memungkinkan untuk terpluntir pada sumbu funikulus spermatikus.
Terpluntirnya testis pada keadaan ini disebut torsio testis ekstravagina. Torsio
ini muncul dengan testis yang keras dan bengkak. (Purnomo, 2009).
(Sumber: Favourito, 2004)
Kelainan ini sering terjadi pada neonatus dan pada kondisi undesensus
testis. (Minevich, 2010)
Terjadinya torsio testis pada masa remaja banyak dikaitkan dengan
kelainan sistem penyanggah testis. Tunika vaginalis yang seharusnya
mengelilingi sebagian dari testis pada permukaan anterior dan lateral testis,
pada kelainan ini tunika mengelilingi seluruh permukaan testis sehingga
mencegah insersi epididimis ke dinding skrotum. Keadaan ini menyebabkan
testis dan epididimis dengan mudahnya bergerak di kantung tunika vaginalis
dan menggantung pada funikulus spermatikus. Kelainan ini dikenal sebagai
anomali bell clapper. Keadaan ini memudahkan testis mengalami torsio
invaginalis. Pada saat ini terjadi, vena pada plexus pampiniform menjadi
terkompresi dan menyebabkan kongesti vena. Setelah beberapa jam, infark
vena akan muncul kecuali torsio di koreksi. (Minevich 2010, Purnomo, 2009)
Gambar. Deformitas Bell-clapper (Siroky, 2004)
2.2.4 Patofisiologi
Torsio testis terjadi pada anak dengan insersi tunika vaginalis tinggi di
funikulus spermatikus sehingga funikulus dengan testis dapat terpuntir dalam
tunika vaginalis. Akibat puntiran tungkai, terjadi pendarahan testis mulai dari
bendungan vena sampai iskemia yang menyebabkan gangren. Keadaan insersi
tinggi tunika vaginalis di funikulus biasanya gambarkan sebagai lonceng
dengan bandul yang memutar dan mengalami nekrosis dan gangren.(Wim De
Jong, 2005)
Secara fisiologis otot kremaster berfungsi menggerakkan testis
mendekati dan menjauhi rongga abdomen guna mempertahankan suhu ideal
untuk testis. adanya kelainan sistem penyanggah testis menyebabkan testis
menyebabkan testis dapat mengalami torsio jika bergerak secara berlebihan.
Beberapa keadaan yang menyebabkan pergerakkan yang berlebihan itu,
antara lain adalah perubahan suhu yang mendadak (seperti pada saat
berenang), ketakutan, latihan yang berlebihan, batuk, celana yang terlalu
ketat, defekasi, atau trauma yang mengenai skrotum. (Purnomo,2009)
Torsio dari funikulus spermatikus mengakibatkan terhambatnya aliran
darah ke testis dan epididimis. Derajat torsi dapat berkisar antara 180-720°.
Peningkatan kongesti pembuluh darah memicu torsio yang berlanjut. Testis
dapat bertahan dalam waktu 6-8 jam. Bila lebih dari 24 jam, akan terjadi
nekrosis dari testis. (Minevich, 2010)
Gambar. Testis nekrosis
2.2.5 Gejala Klinis
Kadang torsio testis dicetuskan oleh cedera olahraga. Biasanya nyeri
testis hebat timbul tiba0tiba yang sering disertai nyeri perut dalam serta mual
atau muntah. Nyeri perut selalu ada karema berdasarkan pendarahan fan
persarafannya, testis merupakan organ perut. Pada permulaan testis teraba
agak bengkak dengan nyeri tekan dan terletak agak tinggi di skrotum dengan
funikulus yang juga bengkak. Akhirnya, kulit skrotum menunjukkan udem
dan menjadi merah sehingga menyulitkan palpasi dan kelainan sukar
dibedakan dengan epididimis akut.(Wim De Jong, 2005)
Gejala pertama dari torsio testis adalah hampir selalu nyeri. Gejala ini
bisa timbul mendadak atau berangsur-angsur, tetapi biasanya meningkat
menurut derajat kelainan. Riwayat trauma didapatkan pada 20% pasien, dan
lebih dari sepertiga pasien mengalami episode nyeri testis yang berulang
sebelumnya. Derajat nyeri testis umumnya bervariasi dan tidak berhubungan
dengan luasnya serta lamanya kejadian.
Pembengkakan dan eritema pada skrotum berangsur-angsur muncul.
Dapat pula timbul nausea dan vomiting, kadang-kadang disertai demam
ringan. Gejala yang jarang ditemukan pada torsio testis ialah rasa panas dan
terbakar saat berkermih, dan hal ini yang membedakan dengan orchio-
epididymitis. Adapun gejala lain yang berhubungan dengan keadaan ini
antara lain :
Nyeri perut bawah
Pembengkakan testis
Darah pada semen
2.2.6 Diagnosis
Diagnosis secara utama dibuat berdasarkan riwayat dan pemeriksaan.
(Cranston,202). Pasien mengeluh nyeri hebat di daerah skrotum, yang
sifatnya mendadak dan diikuti pembengkakan pada testis. Keadaan ini
dikenal sebagai akut skrotum. Nyeri dapat menjalar ke daerah inguinal atau
perut sebelah bawah sehingga jika tidak diwaspadai sering dikacaukan
dengan appendisitis akut (Purnomo, 2009). Kecurigaan diarahkan pada pasien
lelaki muda yang datang dengan nyeri akut dan pembengkakkan, dimana
torsio testis terjadi pada hampir 90 persen dengan gejala akut skrotum pada
kelompok usia 13 sampai 21 tahun. Muntah merupakan salah satu
gejalanya(Cranston,2002). Pada bayi gejalanya tidak khas yakni gelisah,
rewel atau tidak mau menyusui (Purnomo,2009).
Pemeriksaan fisis dapat membantu membedakan torsio testis dengan
penyebab akut skrotum lainnya. Testis yang mengalami torsio pada skrotum
akan tampak bengkak dan hiperemis. Eritema dan edema dapat meluas hingga
skrotum sisi kontralateral. Testis yang mengalami torsio juga akan terasa
nyeri pada palpasi. Jika pasien datang pada keadaan dini, dapat dilihat adanya
testis yang terletak transversal atau horisontal. Seluruh testis akan bengkak
dan nyeri serta tampak lebih besar bila dibandingkan dengan testis
kontralateral, oleh karena adanya kongesti vena. Testis juga tampak lebih
tinggi di dalam scotum disebabkan karena pemendekan dari funikulus
spermatikus. Hal tersebut merupakan pemeriksaan yang spesifik dalam
menegakkan dianosis. Biasanya nyeri juga tidak berkurang bila dilakukan
elevasi testis (Prehn sign). Pemeriksaan fisik yang paling sensitif pada torsio
testis ialah hilangnya refleks cremaster. Dalam satu literatur disebutkan
bahwa pemeriksaan ini memiliki sensitivitas 99% pada torsio testis.(Reynard,
2006)
Pada pemeriksaan fisis skrotum harus selalu diperiksa
(Cranston,2002). Testis membengkak, letaknya lebih tinggi dan lebih
horizontal daripada testis sisi kontralateral. Kadang-kadang pada torsio testis
yang baru saja terjadi dapat diraba adanya lilitan atau penebalan funikulus
spermatikus. keadaan ini biasanya tidak disertai dengan demam
(Purnomo,2009). Udem dan eritem pada skrotum merupakan hal yang sering
terjadi pada torsio dan tidak menunjang diagnosis untuk epididimo-orchitis,
yang sangat jarang terjadi pada kelompok usia lelaki muda. Torsio dari ujung
testicular lebih sering pada anak laki-laki prepubertal, begitu juga dengan
orchitis dan udema scrotal idiopatik. Jarang perdarahan pada tumor testicular
muncul dengan akut skrotum. (Cranstoon,2002).
Pemeriksaan sedimen urin tidak menunjukkan adanya leukosit dalam
urin dan pemeriksaan darah tidak menunjukkan tanda inflamasi, kecuali pada
torsio testis yang sudah lama dan telah mengalami keradangan steril.
(Purnomo, 2009)
Teknik investigative biasanya tidak diperlukan dan menunda
eksplorasi (Cranston,2002). Pemeriksaan penunjang yang berguna untuk
membedakan torsio testis dengan keadaan akut skrotum yang lain adalah
dengan memakai : stetoskop Doppler, ultrasonografi Doppler
(Purnomo,2009) (dapat berguna dalam diagnosis namun dapat salah diartikan,
terutama pada kasus torsio intermitten dengan hyperemia dapat muncul
setelah terjadi pemutaran balik secara spontan (Cranston,2002), dan sintigrafi
testis yang kesemuanya bertujuan menilai adanya aliran darah ke testis. Pada
torsio testis tidak didapatkan adanya aliran darah ke testis sedangkan pada
keradangan akut testis terjadi peningkatan aliran darah ke testis
(Purnomo,2009).
Gambar. A Testis normal (panah merah) B Torsio testis ekogenisitas
A B
menurun,edema
(Sumber: http://mymedicineworld.net/?tag=infarction)
Gambar. Torsio testis dan Orchitis
(Sumber:http://www.catscanman.net/blog/wp-
content/uploads/casebook/orchitis5.jpg)
2.2.7 Diagnosis Banding
Diagnosis bandingnya adalah semua keadaan darurat dan akut di
dalam skrotum seperti hernia inkarserata, orkitis akut, epididimitis akut
dan torsio hidatid morgagni. (Wim De jong, 2005)
Sumber:
(http://www.ebmedicine.net/topics.php?paction=showTopicSeg&topic_id=173&s
eg_id=3410)
(Sumber: Siroky, 2004)
A. Epididimis akut.
Penyakit ini secara klinis sulit dibedakan dengan torsio testis.
Nyeri skrotum akut biasanya disertai dengan kenaikan suhu tubuh,
keluarnya nanah dari uretra, adanya riwayat coitus suspectus (dugaan
melakukan senggama dengan bukan isterinya), atau pernah menjalani
katerisasi uretra sebelumnya (Purnomo,2009).
Jika dilakukan elevasi (pengangkatan) testis, pada epididimitis akut
terkadang nyeri akan berkurang sedangkan pada torsio testis nyeri tetap
ada (tanda dari Prehn). Pasien epididimitis akut biasanya berumur lebih
dari 20 tahun dan pada pemeriksaan sedimen urin didapatkan adanya
leukosituria atau bakteriuria (Purnomo,2009).
Pada kasus epididimo-orkitis, Ultrasound Doppler menunjukkan
adanya peningkatan aliran darah. Pada kasus torsio testis tidak terdapat
aliran darah. (Schwartz, 2005)
B. Hernia skrotalis inkarserata.
Biasanya didahului dengan anamnesis didapatkan benjolan yang
dapat keluar dan masuk ke dalam skrotum (Purnomo,2009).
C. Hidrokel terinfeksi,
Tunika vaginalis di skrotum sekitar testis normlanya tidak teraba,
kecuali bila mngandung cairan membentuk hidrokel, yang jelas bersifat
diafan (tembus cahaya) pada transiluminasi. Hidrokel dapat disebabkan
oelh rangsangan patologik seperti radang atau tumor testis. (Wim De Jong,
2005)
Dengan anamnesis sebelumnya sudah ada benjolan di dalam
skrotum (Purnomo,2009)
D. Tumor testis.
Benjolan tidak dirasakan nyeri kecuali terjadi perdarahan di dalam
testis (Purnomo,2009).
E. Edema skrotum
Dapat disebabkan oleh hipoproteinemia, filariasis, adanya
pembuntuan saluran limfe inguinal, kelainan jantung, atau kelainan-
kelainan lain yang tidak diketahui sebabnya (idiopatik) (Purnomo,2009)
2.2.8 Penatalaksanaan
A. Detorsi Manual
Detorsi manual adalah mengembalikan posisi testis ke asalnya,
yaitu dengan jalan memutar testis kea rah berlawanan dengan arah
torsio. Karena arah torsio biasanya ke medial maka dianjurkan untuk
memutar testis ke arah lateral dahulu, kemudian jika tidak terjadi
perubahan, dicoba detorsi kearah medial. Hilangnya nyeri setelah
detorsi menandakan bahwa detorsi telah berhasil. Jika detorsi berhasil
operasi harus tetap dilaksanakan. (Purnomo,2009).
Bila dilakukan detorsi dalam 6 jam setelah onset gejala makan 97%
testis dapat diselamatkan. Dan bila lebih dari 24 jam hanya ada 10%
kemungkinan. (Kass, Lundak, 1997)
B. Operasi
Tindakan operasi ini dimaksudkan untuk mengembalikan posisi
testis pada arah yang benar (reposisi) dan setelah itu dilakukan
penilaian apakah testis yang mengalami torsio masih viable (hidup)
atau sudah mengalami nekrosis (Purnomo,2009).
Operasi dalam 6 jam biasanya dapat mencegah terjadi iskemia
testis, dan akan mengalami penurunan sebesar 20% dalam 12
jam.(Schwartz, 2005).
Atrofi muncul antara 4 jam sampai 8 jam dan setelah 10 jam
iskemia nekrosis tidak dapat lagi terelakkan (Cranston,2002).
Jika testis masih hidup, dilakukan orkidopeksi (fiksasi testis) pada
tunika darts kemudian disusul orkidopeksi pada testis kontralateral
(Purnomo,2009).
Orkidopeksi dilakukan dengan mempergunakan benang yang tidak
diserap pada 3 tempat untuk mencegah agar testis tidak terpluntir
kembali, sedangkan pada testis yang sudah mengalami nekrosis
dilakukan pengangkatan testis (orkidektomi) dan kemudian disusul
orkidopeksi pada testis kontralateral (Purnomo,2009), Kecuali apabila
terdapat infeksi sekunder karena iskemia nekrosis. Kualitas semen
akan menurun pada testis yang mengalami torsio, dan walaupun
mekanismenya masih belum jelas, terdapat beberapa bukti yang
menyatakan pengembalian suplai darah pada testis yang mengalami
iskemia menstimulasi produksi antitestis dan antibody antisperma
(Cranston,2002).
Gambar 2.5 Torsio tetis (Lonergan, 2007)
Gambar testis yang mengalami nekrosis
BAB III
PEMBAHASAN
Pada hasil anamnesis didapatkan nyeri dan pembesaran pada pada
skrotum. Keluhan ini dapat ditemukan pada orchitis, torsio testis, dan epididimitis.
Dari keluhan pasien ini, sesuai dengan gejala orchitis yaitu nyeri dan bengkak
pada testis. Nyeri yang dirasakan berkisar nyeri ringan sampai berat (Mycyk,
2010).
Nyeri dan pembesaran pada testis dapat ditemukan pada orchitis,
epididimitis, torsio testis dan rupture testis. Dari anamnesis pada torsio testis nyeri
yang ditemukan bersifat akut, mendadak dan pada pasien ini nyeri awalnya ringan
dan semakin memberat. Ruptur testis dapat disingkirkan degan riwayat trauma
sebelumnya. Pada pasien ini tidak didapatkan riwayat trauma. Epididimitis dapat
disingkirkan dengan tidak didapatkannya discharge uretra.
Pada pemeriksaan fisik regio scrotalis didapatkan Scrotum kanan tampak
lebih besar dibandingkan scrotum kiri, warna scrotum kanan dan kiri masih
normal.Scrotum kanan terlihat lebih tinggi dengan posisi testis yang melintang.
Scrotum kanan terasa nyeri saat disentuh dan nyeri menetap saat scrotum diangkat
dan digerakan ke proksimal (prehn sign). Pada daerah inguinal kanan tidak
didapatkan pembengkakan.
Pada anamnesis juga didapatkan keluhan nyeri pada buah zakar kanan
sejak 3 hari SMRS. Nyeri timbul mendadak setelah angkat junjung gas elpiji 12kg
, nyeri dirasakan terus menerus, terkena sentuhan sedikit sangat nyeri dan
dirasakan menjalar sampai selangkangan kanan. Pasien juga merasakan tidak
nyaman pada perut dan mual tapi tidak sampai muntah. Pasien menyangkal
adanya gangguan BAK selama sakit yang dirasakan, BAB (-) 2 hari, Kentut (+),
Demam (+)
Penalaksanaan yang dilakukan pada pasien ini berupa Inf. RL 20 tpm,Inj.
Ceftriaxon 2 gr/24 jam,Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam,Inj. Ranitidin 50 mg/8 jam,Inj.
Ondansetron 4mg/8jam,Inf Paracetamol 1gr ekstra,Pasang DC dan
NGT,Puasa,Operasi Orchidectomy.
Pada pasien ini direncanakan Orchidectomy untuk penanganan torsio
testis.
DAFTAR PUSTAKA
1. Cranston. Torsion of the testicle. In Oxford textbook of surgery.Oxford
University Press 2002
2. Cuckow.P.M, Frank.J.D : Torsion of the testis, BJU International 2000; 86
(3) : 349.
3. Favorito LA, Cavalcante AG, Costa WS, Anatomic aspects of epididymis
and tunica vaginalis in patients with testicular torsion, International braz j
urol, vol.30 no.5, Sept./Oct. 2004 available in
http://www.scielo.br/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S1677-
55382004000500014, july 6, 2004
4. Minevich E, McQuiston LT, Division of Pediatric Urology, University of
Cincinnati, available in http://emedicine.medscape.com/article/438817-
overview. Sep 24, 2010
5. Kass EJ, Lundak BL: The acute scrotum. Pediatr Clin North Am
1997;44:1251.
6. Linda J. Vorvick, MD, MEDEX Northwest Division of Physician Assistant
Studies, University of Washington School of Medicine. available in
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001280.htm, March 9,
2010
7. Lonergan GJ, Children's Hospital of Austin, Washington, DC, available in
http://www.radiologyassistant.nl/images/thmb_45f66b0f05842FIG-
torsion2.jpg, Mei 1, 2007
8. Sabiston. Textbook of Surgery : The Biological Basis of Modern Surgical
Practice. Edisi 16.USA: W.B Saunders companies.2002
9. Schwartz. Principles of Surgery. Edisi Ketujuh.USA:The Mcgraw-Hill
companies.2005
10. Siroky.M.B : Torsion of the testis. In : Siroky.M.B, Oates.R.D,
Babayan.R.K (eds), Handbook of urology: diagnosis and Therapy, 3rd ed,
Lippincot William&Wilkins; Philadelpihia 2004: 369-72.
11. Reynard.J : Torsion of the testis and testicular appendages. In: Reynard.J,
Brewster.S, Biers.S (eds), Oxford Handbook of Urology, Oxford University
Press, New York 2006: 452.
12. Ringdahl E, Teague L. Testicular torsion. Am Fam Physician. Nov
15 2006;74(10):1739-43. [Medline].
13. Rupp.T.J : testicular Torsion, Department of Emergency Medicine, Thomas
Jefferson University, available in
http://www.emedicine.com/med/topic2560.htm, Dec 13, 2006
14. Vishal. Endocrine Physiology. 2nd Ed. McGrawHill. 2007
15. http://www.sciencephoto.com/images/showFullWatermarked.html/M86506
1-Acute_epididymo-orchitis_(inflammation)_of_testis-
SPL.jpg?id=778650061