Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL

BEDAH DENGAN PRIMARY BONE TUMOR (TUMOR TULANG PRIMER)

Di susun oleh:

Dian Nirmala Putri

(14401.16.17007)

PRODI D-III KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HAFSHAWATY

PESANTREN ZAINUL HASAN

PROBOLINGGO

2019
LAPORAN PENDAHULUAN
PRIMARY BONE TUMOR (TUMOR TULANG PRIMER)
A. KONSEP MEDIS
1. DEFINISI
Tumor tulang primer (osteosarkoma) merupakan neoplasma
tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh di bagian metafisis
tulang tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung
tulang panjang, terutama lutut. Tempat-tempat yang paling sering terkena
adalah femur distal, tibia proksimal dan humerus proksimal. Tempat
yang paling jarang adalah pelvis, kolumna, vertebra, mandibula,
klavikula, skapula, atau tulang-tulang pada tangan dan kaki. Lebih dari
50% kasus terjadi pada daerah lutut. ( Otto.2007 : 72 ).
2. ETIOLOGI
a. Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi
b. Keturunan
c. Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya seperti penyakit paget
(akibat pajanan radiasi).
d. Virus onkogenik ( Smeltzer. 2006: 2347 ).
3. PATOFISIOLOGI
Primary bone tumor merupakan neoplasma tulang primer yang
sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang
paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang,
terutama lutut.
Penyebab primary bone tumor belum jelas diketahui, adanya
hubungan kekeluargaan menjadi suatu predisposisi. Begitu pula adanya
hereditery. Dikatakan beberapa virus onkogenik dapat menimbulkan
osteosarkoma pada hewan percobaan. Radiasi ion dikatakan menjadi 3%
penyebab langsung osteosarkoma. Akhir-akhir ini dikatakan ada 2 tumor
suppressor gene yang berperan secara signifikan terhadap tumorigenesis
pada osteosarkoma yaitu protein P53 ( kromosom 17) dan Rb (kromosom
13).
Lokasi tumor dan usia penderita pada pertumbuhan pesat dari
tulang memunculkan perkiraan adanya pengaruh dalam patogenesis
primary bone tumor. Mulai tumbuh bisa didalam tulang atau pada
permukaan tulang dan berlanjut sampai pada jaringan lunak sekitar tulang
epifisis dan tulang rawan sendi bertindak sebagai barier pertumbuhan
tumor kedalam sendi. Primary bone tumor mengadakan metastase secara
hematogen paling sering keparu atau pada tulang lainnya dan didapatkan
sekitar 15%-20% telah mengalami metastase pada saat diagnosis
ditegakkan. (Salter, robert : 2006).
Adanya tumor di tulang menyebabkan reaksi tulang normal
dengan respons osteolitik (destruksi tulang) atau respons osteoblastik
(pembentukan tulang).
Beberapa tumor tulang sering terjadi dan lainnya jarang terjadi,
beberapa tidak menimbulkan masalah, sementara lainnya ada yang sangat
berbahaya dan mengancam jiwa.
Tumor ini tumbuh di bagian metafisis tulang panjang dan biasa
ditemukan pada ujung bawah femur, ujung atas humerus dan ujung atas
tibia. Secara histolgik, tumor terdiri dari massa sel-sel kumparan atau
bulat yang berdifferensiasi jelek dan sring dengan elemen jaringan lunak
seperti jaringan fibrosa atau miksomatosa atau kartilaginosa yang
berselang seling dengan ruangan darah sinusoid. Sementara tumor ini
memecah melalui dinding periosteum dan menyebar ke jaringan lunak
sekitarnya; garis epifisis membentuk terhadap gambarannya di dalam
tulang.
Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak diinvasi
oleh sel tumor. Timbul reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik
yaitu proses destruksi atau penghancuran tulang dan respon osteoblastik
atau proses pembentukan tulang. Terjadi destruksi tulang lokal.. Pada
proses osteoblastik, karena adanya sel tumor maka terjadi penimbunan
periosteum tulang yang baru dekat lempat lesi terjadi sehingga terjadi
pertumbuhan tulang yang abortif.
PATHWAY

Faktor Resiko, Keturunan, cedera,


Virus Onkogenik, dan Radiasi

Sel Tumor Menginvasi Jaringan Lunak

Respon osteolitik Respon osteoblastik


(pembentukan tulang)
Destruksi tulang Penimbunan periosteum
tulang yang terdapat lesi
Penghancuran
tulang lokal Terjadi pertumbuhan
tulang yang abortif
Spasme otot Pertumbuhan massa
Tumor tulang pada tulang
Pelepasan histamin
Dilakukan proses
Protein plasma pembedahan
hilang
Pengangkatan sel Terputusnya
Edema tumor kontinuitas jaringan

Penekanan Nyeri dipersepsikan


pembuluh darah Kelemahan

Penurunan perfusi Tirah baring Nyeri


jaringan

Intoleransi aktifitas
Gangguan
perfusi jaringan Kerusakan
Kerusakan jaringan lunak
integritas kulit
Terpapar bakteri

Resiko infeksi
4. MANIFESTASI KLINIK
a. Rasa sakit (nyeri), Nyeri dan atau pembengkakan ekstremitas yang
terkena (biasanya menjadi semakin parah pada malam hari dan
meningkat sesuai dengan progresivitas penyakit).
b. Pembengkakan, Pembengkakan pada atau di atas tulang atau
persendian serta pergerakan yang terbatas.
c. Keterbatasan gerak
d. Fraktur patologik.
e. Menurunnya berat badan
f. Teraba massa, lunak dan menetap dengan kenaikan suhu kulit di atas
massa serta distensi pembuluh darah maupun pelebaran vena.
g. Gejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada, batuk, demam,
berat badan menurun dan malaise (Smeltzer. 2006: 2347).
5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan yang biasa dilakukan:
a. Pemeriksaan radiologis menyatakan adanya segitiga codman dan
destruksi tulang.
b. CT scan dada untuk melihat adanya penyebaran ke paru-paru.
c. Biopsi terbuka menentukan jenis malignansi tumor tulang, meliputi
tindakan insisi, eksisi, biopsi jarum, dan lesi- lesi yang dicurigai.
d. Skening tulang untuk melihat penyebaran tumor.
e. Pemeriksaan darah biasanya menunjukkan adanya peningkatan alkalin
fosfatase.
f. MRI digunakan untuk menentukan distribusi tumor pada tulang dan
penyebaran pada jaringan lunak sekitarnya.
g. Scintigrafi untuk dapat dilakukan mendeteksi adanya “skip lesion”, (
Rasjad. 2006).
6. PENATALAKSANAAN
a. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan tergantung pada tipe dan fase dari tumor
tersebut saat didiagnosis. Tujuan penatalaksanaan secara umum
meliputi pengangkatan tumor, pencegahan amputasi jika
memungkinkan dan pemeliharaan fungsi secara maksimal dari
anggota tubuh atau ekstremitas yang sakit. Penatalaksanaan meliputi
pembedahan, kemoterapi, radioterapi, atau terapi kombinasi. Primary
bone tumor biasanya ditangani dengan pembedahan dan / atau radiasi
dan kemoterapi. Protokol kemoterapi yang digunakan biasanya
meliputi adriamycin (doksorubisin) cytoksan dosis tinggi
(siklofosfamid) atau metrotexate dosis tinggi (MTX) dengan
leukovorin. Agen ini mungkin digunakan secara tersendiri atau dalam
kombinasi.
Bila terdapat hiperkalsemia, penanganan meliputi hidrasi
dengan pemberian cairan normal intravena, diurelika, mobilisasi dan
obat-obatan seperti fosfat, mitramisin, kalsitonin atau kortikosteroid. (
Gale. 2006: 245 ).
b. Penatalaksanaan Keperawatan
1) Manajemen nyeri
Teknik manajemen nyeri secara psikologik (teknik
relaksasi napas dalam, visualisasi, dan bimbingan imajinasi) dan
farmakologi (pemberian analgetika).
2) Mengajarkan mekanisme koping yang efektif
Motivasi klien dan keluarga untuk mengungkapkan
perasaan mereka, dan berikan dukungan secara moril serta
anjurkan keluarga untuk berkonsultasi ke ahli psikologi atau
rohaniawan.
3) Memberikan nutrisi yang adekuat
Berkurangnya nafsu makan, mual, muntah sering terjadi
sebagai efek samping kemoterapi dan radiasi, sehingga perlu
diberikan nutrisi yang adekuat. Antiemetika dan teknik relaksasi
dapat mengurangi reaksi gastrointestinal. Pemberian nutrisi
parenteral dapat dilakukan sesuai dengan indikasi dokter.
4) Pendidikan kesehatan
Pasien dan keluarga diberikan pendidikan kesehatan
tentang kemungkinan terjadinya komplikasi, program terapi, dan
teknik perawatan luka di rumah. (Smeltzer. 2001: 2350 ).
5) Jika diperlukan traksi, Prinsip Perawatan Traksi
a) Berikan tindakan kenyamanan ( contoh: sering ubah posisi,
pijatan punggung ) dan aktivitas terapeutik.
b) Berikan obat sesuai indikasi contoh analgesik relaksan otot.
c) Berikan pemanasan lokal sesuai indikasi.
d) Beri penguatan pada balutan awal / pengganti sesuai dengan
indikasi, gunakan teknik aseptic dengan tepat.
e) Pertahankan linen klien tetap kering, bebas keriput.
f) Anjurkan klien menggunakan pakaian katun longgar.
g) Dorong klien untuk menggunakan manajemen stress, contoh:
bimbingan imajinasi, nafas dalam.
h) Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan
i) Identifikasi tanda atau gejala yang memerlukan evaluasi
medik, contoh: edema, eritema.
Tujuan dari penatalaksanaan adalah untuk menghancurkan
atau mengankat jaringan maligna dengan menggunakan metode
yang seefektif mungkin.
Secara umum penatalaksanaan primary bone tumor ada dua,
yaitu:
a. Pada pengangkatan tumor dengan pembedahan biasanya diperlukan
tindakan amputasi pada ekstrimitas yang terkena, dengan garis
amputasi yang memanjang melalui tulang atau sendi di atas tumor
untuk control lokal terhadap lesi primer. Beberapa pusat perawatan
kini memperkenalkan reseksi lokal tulang tanpa amputasi dengan
menggunakan prosthetik metal atau allograft untuk mendukung
kembali penempatan tulang-tulang.
b. Kemoterapi
Obat yang digunakan termasuk dosis tinggi metotreksat yang
dilawan dengan factor citrovorum, adriamisin, siklifosfamid, dan
vinkristin.
7. KOMPLIKASI
a. Akibat langsung : Patah tulang
b. Akibat tidak langsung : Penurunan berat badan, anemia, penurunan
kekebalan tubuh
c. Akibat pengobatan : Gangguan saraf tepi, penurunan kadar sel darah,
kebotakan pada kemoterapi.
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Identitas pasien
Nama, umur, jenis kelamin, pendidkan, pekerjaan, status perkawinan,
alamat, dan lain-lain.
b. Riwayat kesehatan
1) Pasien mengeluh nyeri pada daerah tulang yang terkena.
2) Klien mengatakan susah untuk beraktifitas/keterbatasan gerak
3) Mengungkapkan akan kecemasan akan keadaannya
c. Pengkajian fisik
1) Pada palpasi teraba massa pada derah yang terkena.
2) Pembengkakan jaringan lunak yang diakibatkan oleh tumor.
3) Pengkajian status neurovaskuler; nyeri tekan
4) Keterbatasan rentang gerak
d. Hasil laboratorium/radiologi
1) Terdapat gambaran adanya kerusakan tulang dan pembentukan
tulang baru.
2) Adanya gambaran sun ray spicules atau benang-benang tulang dari
kortek tulang.
3) Terjadi peningkatan kadar alkali posfatase.
2. MASALAH KEPERAWATAN
a. Nyeri
b. Gangguan perfusi jaringan
c. Intoleransi aktifitas
d. Kerusakan integritas kulit
e. Resiko infeksi
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Nyeri
 Tujuan: Menyatakan nyeri berkurang atau hilang
 Kriteria Hasil:
a. Mendemonstrasikan penggunaan teknik relaksasi dalam waktu 1 hari.
b. Menunjukkan menurunnya tegangan, rileks dan mudah bergerak dalam
waktu 3 hari.
 Intervensi:
a. Observasi
1. Identifikasi lokasi, karakteristik,durasi, frekwensi, kualitas, intensitas
nyeri
2. Identifikasi skala nyeri
3. Identifikasi respon nyeri non verbal
4. Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
5. Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
6. Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
7. Monitor efek penggunaan analgetik
b. Teraupeutik
1. Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
2. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri
3. Fasilitasi istirahat dan tidur
4. Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam memperlihatkan
strategi meredakan nyeri
c. Edukasi
1. Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi meredakan nyeri
3. Anjurkan monitor nyeri secara mandiri
4. Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
5. Anjurkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
2. Intoleransi Aktifitas
 Tujuan:
Mendemostrasikan peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur
 Kriteria Hasil:
a. Melaporkan tidak adanya angina/terkontrol dalam rentan waktu selama
pemberian obat
 Intervensi:
a. Observasi
1. Identifikasi gangguan fungsi tubuh yangmengakibatkan kelelahan
2. Monitor kelelahan fisik dan emosional
3. Monitor pola danjam tidur
4. Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas
b. Teraupiotik
1. Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus
2. Lakukan latihan rentag gerak pasif dan/atau aktif
3. Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan
4. Fasilitasi duduk disisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau
berjalan
c. Edukasi
1. Anjurkan tirah baring
2. Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
3. Anjurkan menghubingi perawat jika tanda dan gejala kelemahan
tidak berkurang
4. Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan
DAFTAR PUSTAKA

Wijaya Andra Saferi, Putri Yessie Mariza, 2013. Keperawatan Medikal Bedah 2
(Keperawatan Dewasa). Yokyakarta: Nuha Medika

Wilkinson Judith M, 2007. Buku saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC

Nurarif Amin Huda, Kusuma Hardhi, 2013. Panduan penyusunan asuhan


keperawatan profesional. Jakarta: EGC

Pearce. C Evelyn, 2009. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Jakarta:


Gramedia.
TIM POKJA SDKI DPP PPNI, 2016. Strandar Diagnosis Keperawatan Indonesia,
Eds: 1, Jakarta Selatan: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat
Nasional Indonesia

TIM POKJA SLKI DPP PPNI, 2016. Strandar Luaran Keperawatan Indonesia,
Eds : 1, Jakarta Selatan: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat
Nasional Indonesia

TIM POKJA SIKI DPP PPNI, 2016. Strandar Intervensi Keperawatan Indonesia,
Eds : 1, Jakarta Selatan: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat
Nasional Indonesia