Anda di halaman 1dari 25

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Sejarah Perusahaan PT KALTIM PRIMA COAL DI SANGATTA, KALIMANTAN


TIMUR
PT Kaltim Prima Coal terletak di kota Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur. PT
Kaltim Prima Coal bergerak dibidang penambangan batubara yang mencakup eksplorasi,
produksi, dan pemasaran di Kalimantan Timur ke seluruh penjuru dunia. (HSES Systems
Department, 2017).
Pada bulan April 1982 PT. KPC menandatangani Perjanjian Karya Pertambangan
Batubara dengan Perum Batubara Bukit Asam. Perjanjian tersebut menggariskan persyaratan
bagi PT. KPC dalam melakukan eksplorasi, pengembangan dan pelaksanaan proyek-proyek di
daerah penambangan batubara yang telah ditentukan serta pemasasran produknya dalam masa
kontrak 30 tahun (HSES Systems Department, 2017).
Produksi komersial dimulai pada tahun 1991 dan pengapalan sebanyak 7.3 juta ton
dicapai pada tahun 1996. Produksi pengapalan batubara meningkat terus hingga mencapai
15,7 juta ton pada tahun 2001. Saat ini PT. KPC adalah pengekspor batubara terbesar di
Indonesia dengan produksi batubara sebesar 50,7 juta ton per tahun (HSES Systems
Department, 2017). Penambangan batubara dilaksanakan oleh PT. KPC juga dengan beberapa
kontraktor tambang. Beberapa kontraktor tambang diantaranya yakni PT Thiess Contractor
Indonesia (CTI), PT. Pama Persada, dan PT. Darma Henwa Indonesia. Proses Penambangan
melibatkan banyak alat berat dengan berbagai fungsi, ukuran dan tipe. Beberapa alat berat
diantaranya yakni Shovel, Loader, Haul Truck, dan Dozer. Sampai Mei 2014, terdapat kurang
lebih 24.496 tenaga kerja terdiri dari karyawan PT KPC sebanyak 4.988. dan selebihnya
karyawan kontraktor (HSES Systems Department, 2017).
Total produksi batubara PT. KPC sebesar 90% diekspor ke berbagai negara di Asia
Pasifik, Eropa, dan Amerika serta sebagian kecil dijual ke pasar domestik. Selain pencapaian
target-target bisnis, komitmen lain manajemen PT. KPC adalah memelihara dan menciptakan
lingkungan kerja yang sehat dan aman, mengendalikan dampak lingkungan serta menjaga
keamanan dan ketertiban disekitar wilayah operasional PT. KPC. Target tanpa insiden fatal
dan indeks LTI 0,18 di tahun 2014 merupakan target utama yang harus dicapai dan
dipertahankan melalui program keselamatan dan kesehatan kerja yang SMART. Salah satu
tantangan terbesar dalam pencapaian target pengendalian kesehatan dan keselamatan kerja
adalah skala operasional yang semakin besar dan wilayah kerja yang semakin luas, sebagian
besar aktifitas dilakukan di alam terbuka dengan pola jam kerja 24 jam perhari dan 7 hari
seminggu (HSES Systems Department, 2017).

PT. KPC telah memberikan kontribusi dalam pembangunan infrastruktur di Sangatta.


Salah satu pembangunan infrastruktur dapat dilihat pada gambar 1.1, PT. KPC menyediakan
airport dengan pesawat kecil seperti pada gambar 1.1, untuk menuju bandara Balikpapan yang
juga dapat digunakan oleh masyarakat umum.

Gambar 1.1 Tanjung Bara Airport

Batu Putih houshing merupakan perumahan yang didirikan PT. KPC untuk pekerja
dengan jabatan superintendent hingga general manager. Emergency centre digunakan untuk
melakukan control kesehatan yang wajib dilakukan oleh para pekerja dan sebagai tempat
pengobatan. Aquatic club merupakan tempat wisata pantai yang dapat digunakan untuk
aktivitas memancing sebagai sarana hiburan.

1.2 Gambaran Umum Perusahaan PT KALTIM PRIMA COAL DI SANGATTA,


KALIMANTAN TIMUR
Operasi PT. Kaltim Prima Coal berada di sekitar Sangatta, ibukota Kabupaten Kutai
Timur (Kutim), di Kalimantan Timur. Kota ini adalah di Sungai Sangatta, 50 km sebelah
utara dari khatulistiwa di pantai timur Pulau Kalimantan, 180 km sebelah utara dari
Samarinda ibukota provinsi dan 310 km sebelah utara dari pusat penduduk utama Balikpapan.
PT. Kaltim Prima Coal memiliki sejumlah lubang yang beroperasi di daerah pertambangan
Sangatta ditambang langsung oleh PT. Kaltim Prima Coal dan oleh kontraktor. Pada bulan
Juni 2005, operasi pertambangan dimulai di tambang Bengalon sekitar 25 Km di utara
Sangatta tersebut.
Sesuai dengan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan (PKP2B)
No.j2/ji.D4/16/82 yang ditanda tangani tanggal 8 April 1982, Perusahaan memiliki izin untuk
melaksanakan eksplorasi, produksi dan pemasaran batubara di wilayah seluas 90.938 ha
(D4KW 96PB0363) sampai tahun 2021 di Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan
Timur, Indonesia dengan gambaran wilayah operasional sebagai berikut. Tahap kegiatan
Perusahaan adalah operasi produksi, sesuai dengan SK Penciutan Produksi No.940.K/20.01/
DjP/1999 Tanggal 24 Desember 1989.
Beberapa lokasi pit yang dioperasikan langsung oleh perusahaan adalah: pit Bendili,
pit j, Big AB, dan Inul KWest. Sedangkan pit-pit yang dioperasikan oleh kontraktor
penambangan adalah: Pit A Bengalon Area oleh PT.Darma Henwa; Pit Pelikan, Kangguru, Pit
Kancil dan Pit Pelikan South Small oleh PT. Pama Persada; Pit Melawan, Belut, Beruang,
Mustahil, Khayal dan Pit Peri oleh PT.Thiess. Perusahaan tidak pernah bekerja sama dengan
artisanal and small scale mining (ASM).

Gambar 1.2 Denah operasi perusahaan

1.3 Visi dan Misi Perusahaan PT KALTIM PRIMA COAL DI SANGATTA,


KALIMANTAN TIMUR
Visi dari PT. Kaltim Prima Coal
Visi dari PT Kaltim Prima Coal yaitu “Produsen batubara terkemuka Indonesia untuk
memenui kebutuhan dunia, yang memberikan nilai optimal bagi semua pemangku
kepentingan”.
Misi dari PT Kaltim Prima Coal
1. Memupuk budaya yang mengutamakan kesehatan, keselamatan, dan lingkungan
dalam segala tindakan.
 Mematuhi peraturan perundangan kesehatan, keselamatan, dan lingkungan yang
berlaku.
 Berupaya tanpa henti mempromosikan budaya praktik terbaik dalam pengelolaan
kesehatan, keselamatan, dan lingkungan.
2. Memelihara tatakelola perusahaan yang baik dan mempromosikan perusahaan sebagai
arga yang baik.
 Mendukung pelaksanaan prinsip-prinsip transpransi, tanggung-gugat, tanggung
jawab, integritas, dan keadilan.
 Peka terhadap falsafah bangsa dalam kehidupan sehari-hari.
Menyediakan lingkungan belajar untuk mencapai keunggulan dan meningkatkan
kesejahteraan.
 Mendorong pemberdayaan karyawan.
 Memberikan pengakuan dan penghargaan atas kinerja yang unggul.
 Mendorong terciptanya hubungan yang harmonis dan dinamis.
 Memaksimalkan pengembalian investasi pemegang saham.
 Memastikan para mitra diakui dan didorong memberikan pencapaian lebih tinggi.
 Mendorong terciptanya rasa memiliki, semangat kemitraan, dan dukungan
masyarakat terhadap operasi KPC.
 Menunjukkan kepemimpinan dalam pengelolaan resiko para pemangku
kepentingan.
Menyelenggarakan praktik pengelolaan dan operasi terbaik untuk menghasilkan
produk dan kinerja berkualitas tinggi secara konsisten.
 Terus-menerus berupaya menjadi produsen batubara yang efisien.
 Meminimalkan kerugian.
 Memupuk budaya perbaikan kesinambungan.
BAB 2
MANAJEMEN PERUSAHAAN PT KPC

2.1 Organisasi Perusahaan PT KALTIM PRIMA COAL DI SANGATTA,


KALIMANTAN TIMUR

2.2 Struktur Organisasi Perusahaan PT KALTIM PRIMA COAL DI SANGATTA,


KALIMANTAN TIMUR
PT. Kaltim Prima Coal ini memiliki beberapa divisi yang di pimpin oleh general
manager lalu di bawahnya yaitu manager, lalu di bawahnya terdapat superintedent lalu
dibawahnya terdapat supervisor, lalu dibawah supervisor tedapat staff dan admin sebagai
berikut:
1. Presiden Direktur
2. Wakil Presiden Direktur
3. Direktur
4. Plant Manager
a. Manager Produksi
b. Manager Sales & Purchasing
c. Manager PPIC
5. PMPE General Manager
a. QA/QC Manager
b. Engineering Manager
c. Maintenance Manager
6. PGA Assistant General Manager
a. Personalia
b. HRD
c. General Affair
7. Finance & Accounting Manager
2.3 Gambar Bagan Struktur Organisasi Perusahaan PT KALTIM PRIMA COAL DI
SANGATTA, KALIMANTAN TIMUR
2.4 Job Description Masing – masing Jabatan pada Struktur Organisasi
Pembagian tugas dan tanggung jawab setiap bagian dalam struktur organisasi di PT.
Kaltim Prima Coal adalah sebagai berikut:
1. Chief Executive Officer (CEO)
Tugas dari Chief Executive Officer (CEO) adalah:
a. Memimpin dan mengurus semua aspek kegiatan perusahaan.
b. Mengawasi pencatatan transaksi dan administrasi perusahaan.
c. Mengarahkan kegiatan perusahaan.
2. Chief Operating Officer (COO)
Tugas dari Chief Operating Officer (COO) adalah:
a. Memimpin dan mengurus kegiatan perusahaan.
b. Membina hubungan baik dengan seluruh pihak yang diperlukan.
3. Sekretaris
Tugas dari Sekretaris adalah sebagai berikut:
a. Melaksanakan segala hal yang berhubungan dengan administrasi perusahaan.
b. Membantu mengurus surat menyurat perusahaan.
c. Membantu menyusun dan membuat catatan rapat Chief Executive Officer, Chief
Operating Officer dan General Manager.
4. General Manager Mining Operations
Tugas dari General Manager Mining Operations adalah:
a. Mengawasi dan mengatur operasi produksi yang sedang berjalan.
b. Menyusun langkah-langkah perencanaan dalam proses produksi.
5. Finance General Manager
Tugas Finance General Manager adalah:
a. Mengkoordinir tugas pembukuan dan pertanggungjawaban keuangan.
b. Mengatur penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran uang perusahaan.
c. Menyusun neraca dan perhitungan laba rugi setiap bulan.
d. Merencanakan anggaran pendapatan dan belanja tahunan.
e. Mengatur perhitungan pajak dan kewajiban keuangan perusahaan.
f. Mengkoordinir penagihan atas piutang yang timbul akibat penjualan hasil produksi
dan piutang lainnya.
6. General Manager Human Resources
Tugas General Manager Human Resources adalah :
a. Mengawasi segala kegiatan bagian personalia.
b. Membina hubungan dengan instansi pemerintah dan instansi lain yang terkait.
c. Menyelesaikan perselisihan dan perburuhan sesuai dengan kebijaksanaan perusahaan
dan pemerintah.
d. Mengatur penyedian jasa-jasa administrasi, sekretariat dan arsip.
e. Menyalurkan sasaran perusahaan, kebijaksanaan dan instruksi dari Chief Executive
Officer (CEO) dan Chief Operating Officer (COO) kepada semua yang
berkewajiban.
7. General manager marketing
Tugas General manager marketing adalah :
a. Mengamankan penjualan, pasar dan peluang pasar KPC.
b. Menjual produk kita ke pasar dunia, menegosiasikan harga, mengurus kontrak jual
beli dan jadwal pengapalannya.
8. General Manager Health, Safety, Environmental & Security
Tugas General Manager Health, Safety, Environmental & Security adalah:
a. Keselamatan, kesehatan kerja dan administrasi pelayanan medis, pencegahan bahaya
kebakaran dan pelayanan gawat darurat.
b. Kegiatan perlindungan dan rehabilitasi lingkungan hidup.
c. Keamanan di lokasi

9. General Manager Processing & Infrastructure


Tugas General Manager Processing & Infrastructure adalah:
a. Pengolahan, penggilingan, pencucian, pengiriman, pemuatan & pengawasan mutu
seluruh produk batubara.
b. Pembangkit listrik dan selurun distirbusinya ke sebagian besar prasarana di lokasi.
c. Semua pemeliharaan dan rekayasa yang terkait dengan pabrik pengolahan batubara
Tanjung Bara.
d. Perawatan unit-unit bergerak ringan.
e. Pelayanan pekerjaan sipil dan perawatan sarana dan prasarana serta akomodasi dan
administrasi kota
10. General Manager Supply Chain
Tugas General Manager Supply Chain adalah :
a. Perencanaan dan pemeliharaan armada alat-alat berat bergerak.
b. Pengelolaan kontrak pemeliharaan dan pelayanan rekayasa alat berat.
c. Pengiriman ke lokasi, distribusi, penggudangan dan pengawasan stok barang-barang
yang dibeli serta pelayanan angkutan / transportasi.
BAB 3
KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
PT KALTIM PRIMA COAL DI SANGATTA, KALIMANTAN TIMUR

3.1 Sistem Kerja Manajemen K3


Pada PT. Kaltim Prima Coal sangat menjaga keselamatan kerja bagi karyawannya.
Dalam menjaga kesehatan dan keselamatan kerja, PT. Kaltim Prima Coal memiliki dasar-
dasar yang digunakan dalam managemen K3. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) sangat
penting dalam sebuah perusahaan karena K3 merupakan upaya yang dapat dilakukan
perusahaan dalam melindungi karyawannya beserta lingkungan sekitar dari bahaya yang
dapat ditimbulkan akibat kegiatan yang dilakukan dalam lingkungan perusahaan. Secara
umum tujuan yang ingin dicapai PT. Kaltim Prima Coal dari adanya K3 yaitu melindungi
semua orang yang berada pada lingkungan kerja Pit (area tambang), menjamin agar setiap
sumberdaya produksi dapat dipakai secara aman dan efisien, menjamin proses produksi
berjalan lancar. Dengan pelaksanaan K3 yang benar maka tujuan tersebut akan mudah
tercapai.
Dengan pengelolaan K3 yang baik maka resiko terjadinya kecelakaan kerja semakin
kecil sehingga karyawan dapat menyelesaikan pekerjaan dengan tenang dan nyaman. Selain
itu dengan resiko kecelakaan kerja yang rendah maka produktifitas perusahaan dapat
meningkat. Dengan meningkatnya produktifitas maka permintaan konsumen dapat terpenuhi
dan keuntungan semakin meningkat.
PT. Kaltim Prima Coal sangat mempehatikan kesehatan dan keamanan dalam bekerja.
Keselamatan karyawan adalah fokus utama untuk PT. Kaltim Prima Coal Situs yang Prima
menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan Nirbahaya yang memfokuskan pada kefatalan
& mencegah cedera serius (Fatality Prevention Element), Golden Rules, dan upaya untuk
membuat tempat kerja yang aman dan meminimalkan risiko insiden. Semua karyawan, PT
KPC dan Kontraktor, menerima pelatihan keselamatan & kesehatan. Contractor Management
System (CMS) telah dilaksanakan, kontraktor baru yang dipilih secara hati-hati. Departemen
dan kontraktor PT. Kaltim Prima Coal yang secara berkala diaudit terhadap persyaratan FPE.
PT KPC berkomitmen untuk selalu menjaga kesehatan dan keselamatan karyawannya.
Berbagai aturan telah diberlakukan guna mencapai tujuan tersebut. Ada 12 tipe pekerjaan
yang memiliki potensi resiko fatal telah diidentifikasi dan ditinjau baik dari standar petunjuk
pelaksanaan, kriteria audit dan pelatihannya berdasarkan Occupational, Health and Safety
Assesment Series (OHSAS) 18001. Adapun aturan baku standar keselamatan kerja yang
dikenal dengan istilah “Golden Rules” sudah dilaksanakan sejak beberapa tahun terakhir.
PT Kaltim Prima Coal menerapkan sistem menejemen K3L Prima Nirbhaya untuk
mengelola aspek-aspek keselamatan, kesehatan kerja, dan lingkungan. Sistem yang diterapkan
berdasarkan prinsip-prinsip perencanaan, pelaksanaan dan tinjauan berkala, serta tindak lanjut
(Plant, Do, Check, Action/PDCA) ini disesuaikan dengan standar ISO 14001. Dalam
meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan perusahaan, PT KPC secara
berkelanjutan mengevaluasi sistem K3L secara berkala dengan melakukan audit inspeksi, baik
secara internal maupun eksternal. Selain itu, pelaksanaan tinjauan dan audit berkala oleh
pihak internal maupun eksternal terhadap seluruh program dan target, serta berbagai
impelementasinya dilapangan dilakukan untuk memastikan efektifitas implementasi siste
Prima Nirbhaya ini.
Dalam pelaksanaan dilapangan sejumlah karyawan bertugas setiap hari secara langsung
khusus menangani persoalan kesehatan dan keselamatan kerja karyawan. Tercatat 284
karyawan (kordinator Kesehatan dan Keselamatan Kerja dan lingkungan serta petugas) atau
1,39% dari total 20297 karyawan KPC dan kontraktor yang terlibat dalam tugas ini. Selain itu
terdapat 118 karyawan KPC sebagai perwakilan kesehatan dan keselamatan kerja yang
tersebar pada setiap devisi dan departemen operasional tambang. Penanganan K3L juga
merupakan bagian tanggung jawab dari staf manajemen lini pengelolaan kesehatan dan
keselamatan kerja. Hal ini dilakukan untuk membantu karyawan beserta keluarganya untuk
mencega terjadinya kecelakaan. Untuk memastikan setiap pengemudi mematuhi batas
kecepatan yang berlaku departemen HSE sering melakukan pengecekan kecepatan kendaraan.
PT. Kaltim Prima Coal selalu mengutamakan aspek kesehatan dan keselamatan bagi
seluruh karyawan dalam menjalankan operasional penambangan. Selain diatur di dalam
peraturan keselamatan perusahaan secara khusus, Perjanjian Kerja Bersama yang merupakan
kesepakatan antara manajemen dan wakil pekerja secara tegas telah memuat hal-hal terkait
kesehatan dan keselamatan, antara lain dijelaskan pada uraian berikut:
1. Kewajiban
Perusahaan melaksanakan pemeriksaan kesehatan berkala sesuai dengan peraturan
pemerintah dan standar untuk masing-masing jenis pekerjaan. Karyawan berkewajiban
untuk menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin.
2. Layanan Kesehatan
Perusahaan menyediakan fasilitas kesehatan berupa klinik bagi karyawan dan keluarganya
di sekitar lokasi operasional perusahaan. Selain itu, perusahaan juga menjalin kerja sama
dengan beberapa penyedia layanan medis yang telah memiliki reputasi baik di Sangatta.
3. Peralatan Perlindungan Pribadi (PPE)
Penerapan aturan kesehatan dan keselamatan kerja yang ketat akan menjadi tidak berarti
jika tanpa dibarengi dengan penyediaan alat pelindung diri yang sesuai. uperusahaan
menyediakan peralatan pelindung sesuai dengan standar Kesehatan, Keselamatan Kerja
(K3). Seluruh karyawan wajib menggunakan dan memelihara peralatan keselamatan kerja
yang telah disediakan.
Salah satu sistem kerja manajemen K3 dilapangan yang dilakukan oleh PT KPC
adalah inspeksi. Pelaksanaan kegiatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lapangan
meliputi:
1. Kegiatan K3 di lapangan berupa pelaksanaan safety plan melalui kerja sama dengan
instansi yang terkait K3 yaitu Depnaker, polisi dan Rumah Sakit.

2. Pengawasan pelaksanaan K3, meliputi kegiatan:


a. Safety Patrol, yaitu suatu tim K3 yang terdiri dari 2 atau 3 orang yang melaksanakan
patroli untuk mencatat hal-hal yang tidak sesuai ketentuan K3 dan yang memiliki
risiko kecelakaan.
b. Safety Supervisor, yaitu petugas yang ditunjuk manajer proyek untuk mengadakan
pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan dilihat dari segi K3.
c. Safety Meeting, yaitu rapat dalam proyek yang membahas hasil laporan Safety Patrol
maupun Safety Supervisor yang dilaksanakan 1 minggu sekali di setiap departemen.

3. Pelaporan dan penanganan kecelakaan berat, ringan, korban meninggal dan peralatan
berat.

Dalam pekerjaan konstruksi di lapangan, ada peralatan yang digunakan untuk


melindungi seseorang dari kecelakaan ataupun bahaya konstruksi. Peralatan ini wajib
digunakan dalam pelaksanaan konstruksi. Namun banyak pekerja yang tidak menyadari
pentingnya arti peralatan ini. Adapun Sarana peralatan yang melekat pada orang atau disebut
dengan perlengkapan perlindungan diri (Personal Protective Equipment) yang diwajibkan
oleh PT KPC diantaranya adalah:
1. Perlindungan Kepala (Helmet)
Digunakan untuk melindungi kepala dari jatuhan benda keras, pukulan dan benturan,
terjatuh, dan terkena benda melayang. Alat pelindung diri ini harus dipakai oleh semua tenaga
kerja dan tamu-tamu sewaktu memasuki dan atau berada didalam area tempat kerja dan
daerah operasi pertambangan yang ditandai dengan rambu-rambu.

2. Pelindung Mata (Safety glasses)


Digunakan untuk mata, karena merupakan anggota tubuh vital yang mudah terkena dan
atau terserang bahaya kecelakaan. Oleh karena itu tenaga kerja diharuskan untuk memakai
alat pelindung mata seperti safety glasses untuk melindungi mata dari debu di areal
pertambangan pada pekerjaan yang dapat mencederai mata.

3. Sarung Tangan (Hand Glove)


Alat pelindung tangan ini dibuat dari bermacam-macam bahan, yaitu karet, kulit dan
asbes untuk melindungi tangan dari bahaya kecelakaan dalam menangani barang-barang yang
permukaannya tajam, kasar, panas, bahan kimia yan merusak kulit, pekerjaan listrik dan
sebagainya.

4. Pelindung Kaki (Safety shoes)


Berupa sepatu keselamatan, adalah alat yang harus dipakai dalam melaksanakan
pekerjaan yang mengandung bahaya kejatuhan, tertimpa, terjepit, tersandung, tertusuk benda
tajam dan terkena bahan kimia di dalalam area kerja.

5. Alat pelindung pernapasan


Merupakan suatu peralatan khusus yang dirancang untuk pengamanan pernapasan
ditempat kerja, dari kontaminasi atau pengotoran udara dari debu yang beterbangan,
antara lain:
1) Masker/respirator dengan saringan (cartridge) dimana saringan ini dapat diganti bila
telah penuh dengan debu.
2) Masker kertas, masker ini hanya berupa kertas saringan yang dibentuk dan
disesuaikan dengan sipemakai.
3) Masker karbon, masker ini terbuat dari bahan textile sintetis yang mengandung
karbon aktif, secara periodic dapat dicuci dan digunakan kembali.
6. Alat pelindung pendengaran
Merupakan alat keselamatan untuk menghindari kebisingan yang dapat
membahayakan tenaga kerja yang bekerja dilingkungan mesin-mesin atau peralatan
yang tingkat kebisingannya diatas 85 dBa, antara lain:
1) Sumbat telinga disebut Ear Plug, dipakai untuk tingkat kebisingan ≤ 100 dBa, alat
ini dapat menurunkan tingkat kebisingan 10-15 dBa.
2) Tutup telinga disebut Ear Muff, dipakai untuk kebisingan 100-110 dBa, alat ini dapat
menurunkan tingkat kebisingan 20-25 dBa.

7. Alat pencegah jatuh


Pekerjaan yang dilaksanakan pada tempat yang tinggi, dapat menimbulkan bahaya jatuh,
tidak terdapat pengamanan yang lebih baik, maka tenaga kerja yang bersangkutan diharuskan
memakai alat keselamatan pencegah jatuh. Alat tersebut harus dapat menahan beban 4
(empat) kali berat badan sipemakai, antara lain:
1) Sabuk pengaman serbaguna disebut Multi Purpose-Safety Belt atau disebut juga Full
Body Harness sesuai yang dipersyaratkan oleh SK Dirjen Binawasnaker No. 45
Tahun 2008. Alat ini dapat dipakai dalam pekerjaan-pekerjaan yang tidak
mempunyai tumpuan berpijak untuk melaksanakan pekerjaan.
2) Dalam penggunaan Full Body Harness dilengkapi dengan tali lanyard sebagai
penggantung dan tali anchor (lifeline) sebagai tempat menggantung.
3) Penggunaan alat pencegah jatuh berupa safety belt (ikat pinggang keselamatan) tidak
direkomendasikan dan dalam keadaan darurat boleh digunakan dengan pengawasan
intensive oleh pengawas kerja lapangan.

3.2 Penanggulangan Kecelakaan Akibat Kerja


PT Kaltim Primal Coal telah membentuk sistem dan prosedur bagi seluruh pihak yang
terlibat dalam menangani kecelakaan yang terjadi di tempat kerja. PT KPC senantiasa
berupaya agar setiap kecelakaan yang terjadi dapat ditangani secepatnya, sehingga pihak
terkait mendapatkan penanganan terbaik. Disamping itu, PT KPC berupaya mencegah
berulangnya kejadian serupa di kemudian hari. Adapun lancara penanggulangan kecelakaan
akibat kerja sebagai berikut :
1. Melaporkan kecelakaan kepada atasan masing-masing (Pimpinan berkewajiban untuk
melaporkan setiap kejadian yang terjadi di area yang merupakan cakupan tanggung
jawabnya).
2. Petugas K3 memiliki kewajiban untuk membantu pengumpulan data sehingga petugas
dari benefit section dapat menyusun laporan kepada kantor tenaga kerja, PT
JAMSOSTEK, dan perusahaan asuransi dalam waktu kurang dari 48 jam.
3. Jika katagori kecelakaan termasuk fatality, PT KPC akan segera menghentikan operasi
sementara pada area tempat terjadi fatality untuk melakukan kajian dan investigasi
secara menyeluruh untuk mencari tauh penyebab utama terhadinya fatality tersebut.
4. Hasil dari kajian serta investigasi tersebut akan digunakan untuk merencanakan action
plan sehingga kejadian serupa dapat dihindari dikemudian hari.
Keselamatan kerja bagi karyawan, karyawati, kontraktor, maupun visitors di PT PT
KPC adalah hal yang sangat penting dan merupakan salah satu usaha yang tak dapat ditawar
lagi. Perusahaan ini berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai target zero accident.
Setiap ada karyawan, karyawati, visitor dan kontraktor yang memasuki area produksi PT PT
KPC , maka diwajibkan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang terdiri dari helm,
safety shoes, ear plug, rompi, kacamata dan masker.
Sebagian besar kecelakaan kerja yang terjadi di PT PT KPC bukan dari sistem
keamanan di perusahaan melainkan dari kelalaian sumber daya manusianya sendiri. Pihak PT
KPC berusaha semaksimal mungkin dalam meminimalkan terjadinya kecelakaan kerja.
Hubungannya dengan komitmen dalam mencapai target zero harm, PT KPC pernah meraih
zero numb dengan 3.318.342 jam kerja tanpa terjadi kecelakaan kerja di area PT PT KPC .
Pencapaian zero numb berhenti pada jumlah jam tersebut karena pada waktu itu terjadi
kecelakaan kerja ringan yang dialami oleh kontraktor.
Selain mampu mencapai zero numb, PT PT KPC juga mendapat penghargaan Golden
Flag dari Kementrian Ketenagakerjaan karena telah mencapai peringkat tertinggi dibidang
kesehatan dan keselamatan kerja. Hierarki dari penanggulangan kecelakaan akibat kerja di
PT PT KPC adalah eliminasi (menghilangkan sumber bahaya), substitusi (bahaya tingkat
tinggi digantikan dengan bahaya berlevel rendah), engineering (sumber bahya direkayasa
sehingga aman), Administrasi (jumlah dosis paparan dihilangkan), dan Alat Pelindung Diri
(sebagai pebatas
Setiap karyawan juga wajib mengetahui ketentuan dan prosedur keselamatan kerja
dari perusahaan dimana ia bekerja demi menunjang suasana yang kondusif di tempat kerja
sehingga mampu menciptakan suatu perwujudan sikap yang baik pada perusahaan, terhadap
pekerjaan, pimpinan dan rekan kerja. Terdapat delapan safety rule (golden principle) yang
dimiliki operational healt departement, berikut adalah delapan prinsip tersebut dalam
menegaskan aturan keselamtan kerja yang ada :
1. Kenali bahaya sebelum bekerja sesuai pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan
tersebut dan pastikan menggunakan APD sesuai.
2. Saat bertugas mengawasi pekerjaan orang lain, pastikan pekerja dengan aman
sesuai dengan Job Safety Analysis dan Standar Operational Procedur yang sudah
disosialisasikan kepada semua pekerja.
3. Pengemudi yang ada dibawah pengawasan Holcim, harus selalu menjalankan
kendaraan dalam kondisi aman dengan memastikan kendaraan layak pakai (lolos
inspeksi OH&S) dan mengikuti rambu-rambu 20 km/jam.
4. Bila bekerja yang beresiko jatuh dari ketinggian lebih dari 1,8 meter, maka harus
memakai full body harmes.
5. Bila bekerja dengan alat komponen yang bergerak, maka harus sesuai dengan
prosedur Lag Out & Tag Out (LoTo) dengan matikan Peralatan tersebut, lakukan
isolasi, dan pasang kunci/tanda. Dilarang untuk kerja/mengijinkan orang lain
memindahkan kunci/tanda kecuali yang memasang kunci/tanda, termasuk bagi
atasan. Jenis-jenis gembok yang dibawa oleh karyawan Holcim atau pihak di luar
Holcim sesuai dengan tugasmya seperti berikut:
a. Warna orange untuk tim listrik dan elektro
b. Warna merah untuk tim mekanika
c. Warna putih untuk personal log
d. Wama biru Tamu dan mahasiswa Praktek Kerja Lapangan
e. Warna hitam untuk kontraktor
6. Setiap pekerjaan yang dilakukan harus ada ijin kerja, seperti:
a. Confined space, merupakan ijin kerja untuk ruang tertutup
b. Hot work permit, untuk ijin kerja pengelasan
c. Scaffolding permit, merupakan ijin kerja untuk pemasangan scaffolding
d. High voltage permit, merupakan ijin melakukan pemasangan instalasi yang
bertegangan tinggi
e. Digging permit, merupakan ijin kerja untuk penggalian
7. Dilarang memasuki area Holcim dalam keadaan masih terpengaruh alkohol
8. Bila melihat potensi bahaya, maka segera dilaporkan (hazard report).
3.3 Penanaggulangan Penyakit Akibat Kerja
Berbagai macam penyakit seperti, Demam, flu, penyakit paru-paru, dll dapat
menyebabkan ketidaknyamanan pada saat bekerja. Perusahaan ini berusaha semaksimal
mungkin untuk mencapai agar karyawan tidak mendapatkan penyakit. Setiap ada karyawan,
karyawati, visitor dan kontraktor yang terjangkit penyakit pada saat mengunjungi atau bekerja
di pabrik, PT PT KPC menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) yang terdiri dari helm, safety
shoes, ear plug, rompi, kacamata dan masker dalam meminimalisir penyebab datangnya
penyakit pada karyawan.
Sebagian besar , karyawan yang terjangkit penyakit disebabkan karena kelalaian mereka
yang tidak mengikuti SOP atau peraturan dalam K3. Apabila ada terjadi penyakit pada suatu
pekerja atau karyawan, PT PT KPC menyediakan Rumah sakit dan klinik dalam
mengantisipasi jika karyawan terjangkit penyakit yang disebabkan akibat kerja.

3.4 Pengendalian Kebakaran

Penggunaan batu bara, minyak IDO, instalasi listrik bertekanan tinggi berpotensi
menimbulkan bahaya kebakaran. Sebagai upaya pencegahan kebakaran PT PT KPC telah
menyediakan sarana pemadam kebakaran seperti mobil pemadam kebakaran, APAR, hydrant,
dan fire alarm system. Selain itu, perusahaan telah membentuk tim pemadam kebakaran.
Berdasarkan Kepmenaker No. Kep. 186/Men/1999 tentang Unit Penanggulangan
Kebakaran di Tempat Kerja Pasal 2 (2) huruf b yang berbunyi “Kewajiban mencegah,
mengurangi dan memadamkan kebakaran di tempat kerja meliputi penyediaan sarana
deteksi, alarm, pemadam kebakaran dan sarana evakuasi.” Sehingga, langkah
pengendalian bahaya kebakaran yang telah dilakukan pihak perusahaan dengan
penyediaan sarana pemadam kebakaran seperti mobil pemadam kebakaran, APAR, hydrant,
dan fire alarm system telah sesuai dengan Kepmenaker No. 186/Men/1999 tentang Unit
Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja pasal 2 (2) huruf b yaitu kewajiban mencegah,
mengurangi dan memadamkan kebakaran di tempat kerja meliputi penyediaan sarana deteksi,
alarm, pemadam kebakaran dan sarana evakuasi.
 Tim Pemadam Kebakaran
Anggota Tim Pemadam Kebakaran di PT PT KPC adalah regu Keselamatan dari
Seksi Keselamatan dan Kebersihan. Tim Pemadam Kebakaran disamping bertugas
memadamkan api, juga bertugas sebagai tim evakuasi dan memberikan pertolongan
pertama pada kecelakaan (P3K) apabila bahaya kebakaran terjadi.
Berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pasal
3 ayat 1 huruf b menyebutkan bahwa syarat-syarat keselamatan kerja untuk mencegah,
mengurangi, dan memadamkan kebakaran. Jadi, pengadaan tim pemadam di perusahaan
telah sesuai dengan Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pasal
3 ayat 1 huruf b karena pengadaan tim pemadam kebakaran merupakan salah satu upaya
untuk mencegah, mengurangi, dan memadamkan kebakaran. Dan berdasarkan
Kepmenaker No. Kep. 186/Men/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di
Tempat Kerja pasal 8 (2) yang menyebutkan syarat regu penanggulangan kebakaran yaitu
telah mengikuti kursus teknis tentang penanggulangan kebakaran. Anggota Tim
Pemadam Kebakaran di PT PT KPC telah mendapat sertifikat dari kursus tersebut oleh
salah satu perusahaan jasa pembinaan K3. Sehingga anggota tim pemadam yang telah
bersertifikasi tersebut telah sesuai dengan Kepmenaker No. Kep. 186/Men/1999
tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja pasal 8 (2) yang
menyebutkan syarat regu penanggulangan kebakaran yaitu telah mengikuti kursus teknis
tentang penanggulangan kebakaran.
 Pelatihan atau Training
Pelatihan penyegaran pemadam kebakaran di PT. PT KPC ditujukan kepada
tim pemadam kebakaran tiap 3 minggu sekali dan untuk seluruh tenaga kerja tiap 6 bulan
sekali. Tetapi kadang pelatihan tidak terlaksana sesuai jadwal karena kesibukan dari tim
pemadam kebakaran yang juga bertugas mengawasi pekerjaan rawan bahaya kebakaran
selaku regu keselamatan kerja. Pelatihan penyegaran yang dilaksanakan sangat baik
untuk menjaga kesiapan dari tim pemadam kebakaran.
Berdasarkan Kepmenaker No. Kep. 186/Men/1999 tentang Unit
Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja Pasal 2 (2) huruf e yang berbunyi
”Kewajiban mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran di tempat kerja
meliputi penyelenggaraan latihan dan gladi penanggulangan kebakaran secara berkala.”
Pelatihan pemadam kebakaran di PT PT KPC telah sesuai dengan Kepmenaker No. Kep.
186/Men/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja pasal 2 (2)
huruf e yang menyebutkan kewajiban mencegah, mengurangi dan memadamkan
kebakaran di tempat kerja meliputi penyelenggaraan latihan dan gladi
penanggulangan kebakaran secara berkala.

 Safety Permit
Safety permit diberikan kepada pekerja oleh Seksi K3 sebelum melaksanakan
pekerjaan yang berpotensi menimbulkan bahaya kebakaran seperti pekerjaan mengelas
dan sebagainya dengan prosedur yang telah ditentukan oleh perusahaan. Perusahaan
selalu menginginkan tenaga kerjanya sehat dan selamat dalam melakukan pekerjaan
sehingga produktivitas perusahaan meningkat. Pengadaan safety permit baik bagi
keselamatan dan kesehatan tenaga kerja serta dapat mengurangi kecelakaan kerja.
Berdasarkan Kepmenaker No. Kep. 186/Men/1999 tentang Unit
Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja pasal 2 (4) yang berbunyi ”Prosedur
pelaksanaan pekerjaan berkaitan dengan pencegahan bahaya kebakaran.” Pemberian
safety permit di PT PT KPC telah sesuai dengan Kepmenaker No. Kep. 186/Men/1999
tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja pasal 2 (4) yang menyebutkan
prosedur pelaksanaan pekerjaan berkaitan dengan pencegahan bahaya kebakaran.

 Mobil Pemadam Kebakaran (PMK)


PT PT KPC telah menyediakan 4 unit PMK. 1 unit PMK dioperasikan oleh 5
orang atau minimal 3 orang yang semua personilnya telah mengikuti kursus teknik
penanggulangan kebakaran tingkat dasar I dan II.
Berdasarkan Kepmenaker No. Kep. 186/Men/1999 tentang Unit
Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja pasal 8 ayat 2 yang menyebutkan syarat
regu penanggulangan kebakaran yaitu telah mengikuti kursus teknis tentang
penanggulangan kebakaran. Semua personil PMK telah mengikuti kursus teknik
penanggulangan kebakaran tingkat dasar I dan II. Sehingga, personil PMK di
perusahaan telah sesuai dengan Kepmenaker No. Kep. 186/Men/1999 tentang Unit
Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja pasal 8 ayat 2 yang
menyebutkan syarat regu penanggulangan kebakaran yaitu mengikuti kursus teknis
tentang penanggulangan kebakaran. Dan berdasarkan PP No. 11 Tahun
1979 tentang Keselamatan Kerja pada Pemurnian dan Pengolahan Minyak dan Gas
Bumi Pasal 34 (2) yang berbunyi “Pengusaha wajib menyediakan alat pemadam
kebakaran beserta perlengkapan penyelamat yang baik setiap saat siap untuk
digunakan, termasuk instalasi air yang permanen dengan tekanan yang diperlukan
lengkap dengan hydrant secukupnya, mobil pemadam kebakaran dengan air dan bahan
kimia dalam jumlah yang cukup dan apabila diperlukan instalasi permanen untuk
pemadam kebakaran dengan bahan kimia.” Pengadaan PMK di PT PT KPC telah
sesuai dengan PP No. 11 Tahun 1979 tentang Keselamatan Kerja pada Pemurnian dan
Pengolahan Minyak dan Gas Bumi pasal 34 (2).

 Alat Pemadam Api Ringan (APAR)


Dari hasil pengecekan APAR meliputi tekanan, isi tabung, segel, selang, dan
lain-lain, pembersihan debu atau kotoran yang menempel, pencatatan hasil pemeriksaan
pada catatan sementara dan kartu cek APAR yang menempel pada tabung, dan
pengisian hasil laporan pada blanko cek APAR. Hasil pengecekan yang dilakukan bulan
November 2009 terdapat APAR kosong yaitu 3 buah (2 buah untuk jenis Dry Powder
dan 1 buah untuk jenis CO2), APAR kondisi rusak (tidak ready) sebanyak 2 buah, dan
APAR kondisi baik 363 buah. Sedangkan pemasangan APAR setinggi 125 cm dari dasar
lantai dan semua tabung APAR berwarna merah.
Keadaan dimana masih terdapat APAR kosong atau rusak biasanya disebabkan
karena setelah pemakaian APAR oleh tenaga kerja unit yang bersangkutan tidak melapor
ke Seksi K3. Menurut Permenakertrans No. Per. 04/Men/1980 pasal 4 tentang syarat
pemasangan APAR yaitu tinggi pemberian tanda pemasangan 125 cm dari dasar lantai,
semua tabung alat pemadam api ringan sebaiknya berwarna merah dan pasal 13
tentang pemeliharaan APAR meliputi tekanan, isi tabung, segel, selang, dan lain-lain,
pembersihan debu atau kotoran yang menempel, pencatatan hasil pemeriksaan pada
catatan sementara dan kartu cek APAR yang menempel pada tabung, dan pengisian
hasil laporan pada blanko cek APAR. Sehingga, upaya yang dilakukan PT PT
KPC dalam pemeliharaan dan pemasangan APAR telah sesuai dengan Permenakertrans
No. Per. 04/Men/1980 tentang Syarat Pemasangan dan Pemeliharaan APAR.

 Hydrant
Hydrant di PT PT KPC mempunyai tandon air ± 500 m³ dan dapat
digunakan untuk pemadaman selama 20 jam (dengan 1 nozzle) atau 8 jam
(dengan 2 nozzle). Pada setiap box hydrant dilengkapi dengan nozzle, selang,
kopling penyambung machino, dan kunci hydrant (untuk membuka valve hydrant).
Tetapi ada sebagian yang tidak ada kunci valve dan nozzlenya. Pengecekan dilakukan
tiap 3 bulan sekali.
Persyaratan teknis hydrant adalah sumber air hydrant harus diperhitungkan
minimal pemakaian selama 30 menit, selang (hose) berdiameter maksimum 2,5 inch
terbuat dari bahan tahan panas, dan harus disediakan kopling penyambung yang sama
bentuknya dengan kopling dari unit kebakaran setempat (Safety and Fire Padang
Portland Cement, 2007). Jadi, pemasangan hydrant tersebut sudah sesuai dengan
persyaratan teknis. Dan menurut Sudarjatmo (2000) periode pengecekan hydrant
dilakukan tiap 3 bulan sekali sehingga hydrant selalu dalam kondisi siap pakai. Jadi
pengecekan hydrant di perusahaan telah sesuai dengan pedoman yang ada. Kunci valve
dan nozzle yang tidak ada disebabkan karena tidak dikembalikan lagi ke box hydrant
setelah pemakaian. Pengecekan hydrant ini ditanggungjawabkan pada Seksi K3
khususnya regu Keselamatan.

Dan berdasarkan PP No. 11 Tahun 1979 tentang Keselamatan Kerja pada


Pengolahan dan Pemurnian Minyak dan Gas Bumi Pasal 34 (2) yang berbunyi
“Pengusaha wajib menyediakan alat pemadam kebakaran beserta perlengkapan
penyelamat yang baik setiap saat siap untuk digunakan, termasuk instalasi air yang
permanen dengan tekanan yang diperlukan lengkap dengan hydrant secukupnya, mobil
pemadam kebakaran dengan air dan bahan kimia dalam jumlah yang cukup dan apabila
diperlukan instalasi permanen untuk pemadam kebakaran dengan bahan kimia.”
Pengadaan hydrant di PT PT KPC telah sesuai dengan PP No. 11 Tahun 1979
tentang Keselamatan Kerja pada Pengolahan dan Pemurnian Minyak dan Gas Bumi
Pasal 34 (2) tentang kewajiban meyediakan alat pemadam kebakaran termasuk
instalasi air yang permanen dengan tekanan yang diperlukan lengkap dengan hydrant
secukupnya.

 Fire Alarm System


Pemasangan fire alarm system di PT. PT KPC hanya pada gedung utama,
dormitory, dan CCR. Jenis detektor yang terpasang adalah detektor panas (heat
detector) dan detektor asap (smoke detector). Pemasangan detektor mudah terjangkau
dan pengecekan tiap 4 bulan sekali.
Menurut Permenaker No. PER/02/MEN/1983 tentang Instalasi Alarm
Kebakaran Automatik pasal 3 ayat 1 menyatakan bahwa ”Detektor harus dipasang
pada bagian bangunan kecuali apabila bagian bangunan tersebut telah dilindungi
dengan sistem pemadam kebakaran otomatis”. Pemasangan fire alarm system di PT.
PT KPC telah sesuai dengan Permenaker No. PER/02/MEN/1983 tentang Instalasi
Alarm Kebakaran Automatik pasal 3 ayat 1. Dan berdasarkan SNI 03-3985-2000
tentang Syarat Pemasangan Detektor Panas yaitu “Setiap detektor yang terpasang
harus dapat dijangkau untuk pemeliharaan dan untuk pengujian secara periodik.”
Pemasangan detektor di PT PT KPC yang mudah terjangkau telah sesuai dengan SNI
03-3985-2000 tentang Syarat Pemasangan Detektor Panas. Menurut Sudarjatmo
(2000) periode pengecekan fire alarm system dilakukan tiap 3 bulan sekali sehingga
fire alarm system selalu dalam kondisi siap pakai. Jadi pengecekan fire
alarm system di perusahaan telah sesuai dengan pedoman yang ada.

 Lay Out
Pemasangan lay out di PT. PT KPC hanya pada gedung bertingkat yaitu
gedung utama (2lantai), dormitory (2lantai), dan CCR (4 lantai). Dan untuk rambu-
rambu evakuasi dipasang pada setiap unit kerja. Tetapi keberadaan lay out tersebut
masih kurang dipublikasikan dan sebaiknya pemasangan rambu-rambu jalur evakuasi
lebih diperjelas. Hal ini merupakan tanggung jawab dari Seksi K3.

Berdasarkan Kepmenaker No. Kep. 186/Men/1999 tentang Unit


Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja pasal 2 (2) yang berbunyi
”Kewajiban mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran di tempat kerja
meliputi penyediaan sarana deteksi, alarm, pemadam kebakaran dan sarana evakuasi.”
Pengadaan lay out dan area evakuasi yang ada di ruangan kerja pada bangunan gedung
di PT PT KPC telah sesuai dengan Kepmenaker No. Kep. 186/Men/1999 tentang Unit
Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja pasal 2 (2) yaitu kewajiban mencegah,
mengurangi dan memadamkan kebakaran di tempat kerja meliputi penyediaan sarana
deteksi, alarm, pemadam kebakaran dan sarana evakuasi. Akan tetapi, pemasangan lay
out dan rambu-rambu jalur evakuasi belum sesuai dengan Kepmenaker No.
Kep.186/Men/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja pasal 2
(2) karena pemasangan lay out yang kurang dipublikasikan dan rambu-rambu jalur
evakuasi yang kurang jelas.

 Rambu-rambu K3
Dari hasil pengamatan, rambu-rambu K3 terlihat pada semua area. Rambu-
rambu ini berfungsi memberi motivasi kepada tenaga kerja untuk tidak bertindak yang
dapat membahayakan dirinya dan lingkungan sekitar. Pemasangan rambu K3 sangatlah
penting untuk keselamatan karena biaya untuk pengobatan jauh lebih mahal daripada
untuk hidup yang sehat dan selamat.
Undang-undang No. 1 tahun 1970 pasal 14 (b) menyatakan ”Memasang
dalam tempat kerja yang dipimpinnya, semua gambar keselamatan kerja yang
diwajibkan dan semua bahan pembinaan lainnya, pada tempat-tempat yang mudah
dilihat dan terbaca menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja.”
Dengan adanya rambu K3 berarti PT. PT KPC telah menjalankan peraturan Undang-
undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pasal 14 (b) yaitu memasang
rambu K3.

 Sistem Tanggap Darurat Kebakaran


PT PT KPC telah memperhatikan masalah keadaan darurat. Hal ini dapat
dilihat sudah dibuatnya instruksi kerja tanggap darurat meliputi tanggap darurat tangki
IDO, tanggap darurat pelabuhan Glondong, tanggap darurat bangunan penting (Gedung
Seksi Gudang dan Penerimaan, Gedung Perencanaan Tehnik, Gas Station, Main Sub
Stasion, dan Gudang oli aval), tanggap darurat Gedung Bertingkat (Dormitory, Gedung
Utama, Central Control Room,dan Coal Mill), dan tanggap darurat Water
Treatment. Instruksi kerja tanggap darurat ini didalamnya meliputi langkah tenaga
kerja apabila menghadapi keadaan darurat kebakaran, pengoperasian sarana pendukung,
dan kerja tim bantuan.
Sebagai sarana pendukung dari penanggulangan kebakaran, perusahaan telah
menyediakan mobil PMK, APAR, hydrant, fire alarm system di setiap area. Meskipun
demikian, perusahaan belum pernah mengadakan latihan penanggulangan keadaan
darurat. Menurut Permenaker RI No. Per 05/Men/1996 tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja lampiran I poin 3 mengenai Prosedur
Menghadapi Keadaan Darurat atau Bencana yang menyebutkan bahwa “Perusahaan
harus memiliki prosedur untuk menghadapi keadaan darurat atau bencana, yang diuji
secara berkala untuk mengetahui keandalan pada saat kejadian yang sebenarnya.” Jadi,
dapat dikatakan bahwa pengadaan prosedur tanggap darurat telah sesuai dengan
Permenaker RI No. Per 05/Men/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja lampiran I poin 3 yang menyebutkan bahwa perusahaan harus
memiliki prosedur untuk menghadapi keadaan darurat atau bencana, akan tetapi
pengadaan latihan penanggulangan keadaan darurat belum sesuai dengan
Permenaker RI No. Per 05/Men/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja lampiran I poin 3 yang menyebutkan bahwa prosedur tanggap darurat
diuji secara berkala untuk mengetahui keandalan pada saat kejadian yang sebenarnya.

3.5 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)


Sejak memulai pertambangan hingga akhir September 2016 lebih dari 3.729 hektar
lahan yang telah terganggu direhabilitasi. Sekitar 2.172.933 bibit yang telah ditanam dalam
rehabilitasi kawasan yang terdiri dari 168 spesies (bagian Keanekaragaman Hayati program).
Untuk mendukung program rehabilitasi Mine, PT. Kaltim Prima Coal memiliki bibit yang
memproduksi 300.000 bibit per tahun.
Perusahaan menyadari bahwa pembangunan terbuka akan mengakibatkan perubahan
rona awal lingkungan termasuk punahnya keanekaragaman hayati. Perusahaan melaksanakan
reklamasi dalam 3 tahapan yaitu : penanaman tanaman penutup untuk mengurangi erosi,
penanaman tanaman cepat tumbuh untuk membentuk naungan (canopy), dan penanaman
tanaman hutan hujan tropis (rainforest species). Untuk menjamin terlaksananya pengelolaan
keanekaragaman hayati, perusahaan telah memiliki SOP (Standard Operating Procedure)
pengelolaan keanekaragaman hayati. Ruang lingkup SOP tersebut adalah mengelola aspek
flora dan fauna dari beberapa tahapan kegiatan yaitu : survei flora san fauna prapenambangan
(untuk mengetahui keanekaragaman flora dan fauna yang dijadikan dasar untuk menyiapkan
jenis bibit), pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemantauan dan evaluasi keberhasilan
reklamasi di areal reklamasi bekas tambang. Untuk menjaga keanekaragaman jenis flora, PT
KPC menanam sekitar 30 jenis tanaman pada setiap lokasi reklamasi. Pemantauan fauna
dilakukan untuk inventarisasi hewan apa saja yang terdapat pada areal reklamasi, salah satu
hewan tersebut adalah Orangutan sebagai satwa yang dilindungi dan terancam punah.
Inventarisasi menggunakan metode inventarisasi sarang. Kegiatan ini dilakukan bersama tim
Universitas Mulawarman Samarinda dalam program penyusunan Best Management Practices
untuk konservasi orang utan diarea reklamasi pertambangan. Kesimpulan dari kegiatan yang
di lakukan Tim ini adalah bahwa orangutan menggunakan resource “vegetasi” di area
reklamasi lahan tambang sebagai sumber pakan dan pohon sarang. Hal ini diketahui dengan
banyaknya sarang dan bekas sayatan di batang pohon dalam areal reklamasi. PT KPC juga
melakukan survei keanekaragaman hayati di daerah perairan (sungai) yang terpengaruh oleh
kegiatan penambangan setiap dua tahun. Pemantauan biota perairan di semua sungai dan anak
sungai di Sangatta dan Bengalon yang terpengaruh oleh kegiatan penambangan.

PT. Kaltim Prima Coal juga mengelola dampak lingkungan yang dihasilkan dari
operasi yang telah dilakukan analisis dampak lingkungan dengan cara sebagai berikut:
1. Mencegah pencemaran.
2. Memastikan semua areal bekas tambang ke dalam kondisi yang aman, stabil dan
produktif bagi negara.
3. Mempertahankan keanekaragaman hayati .

PT. Kaltim Prima Coal juga memiliki program pemantauan lingkungan pengukuran
berbagai parameter termasuk kualitas air, kualitas udara dan karakteristik geochemical.
Sebuah lingkungan laboratorium sebagai tempat melaksanakan banyak analisis yang
diperlukan. Pengelolaan limbah hidrokarbon dari proses operasi. Ketika melebihi batas sewa
pertambangan, PT. Kaltim Prima Coal mendukung pemerintah dalam upaya konservasi
sehingga Pemerintah-Industri berinisiatif untuk bekerjasama yang dikenal sebagai Friends of
Kutai. Sembilan industri terletak dekat dengan 200.000 hektar Taman Nasional Kutai bekerja
sama dengan Departemen Kehutanan dengan memberikan nasihat dan manajemen pendanaan
untuk Taman setiap tahun. PT. Kaltim Prima Coal juga mendukung upaya pelestarian mawas
yang terancam punah dengan mendukung BOSF (Balikpapan Orang hutan Survival
Foundation) di dekat Balikpapan.

3.6 Sanitasi Lingkungan


Sebagai wujud komitmen untuk terus memperbarui kinerja sistem Kesehatan,
Keselamatan Kerja dan Lingkungan (K3L), perusahaan menetapkan, memantau dan
memperbaiki capaian parameter indikator kinerja pengelolaan lingkungan. Indikator kinerja
pengelolaan lingkungan ini ditetapkan setiap tahun berdasarkan penilaian terhadap dampak
penting dari kegiatan penambangan serta peraturan lingkungan yang berlaku. Indikator
tersebut meliputi pencapaian kegiatan rehabilitasi daerah bekas tambang, kualitas air, kualitas
udara dan pengelolaan limbah/sampah dan hidrokarbon. Untuk mengukur kinerja lingkungan
dilakukan pemantauan (baik secara internal maupun eksternal oleh laboratorium terakreditasi)
terhadap parameter kualitas air, kualitas udara, pencapaian target reklamasi, dan pengelolaan
hidrokarbon dan limbah. Evaluasi terhadap pencapaian sasaran yang menjabarkan tingkat
kepatuhan terhadap peraturan, dilakukan setiap tahun dalam forum management review
sebagai salah satu persyaratan dari standar ISO-14001:2004. Manajemen perusahaan
selanjutnya menetapkan rencana perbaikan kinerja lingkungan pada setiap parameter indikator
untuk tahun mendatang. Dengan demikian kinerja lingkungan akan terus diperbaiki dari tahun
ke tahun untuk mencapai tingkat kepatuhan yang maksimal, sehingga dampak lingkungan
dapat dikendalikan.
PT Kaltim Prima Coal sebagai mitra pemeintah daerah fokus terhadap pengkatan kulitas
hidup masyarakat, lingkungan dan peningkatan infrastruktur di bidang kesehatan. Program-
program yang dijalankan merujuk pada target Sustainable Development Goals (SDGs) yang
juga menjadi acuan pemerintah daerah dan nasional serta berbagai peraturan lain terkait,
seperti peraturan bersama Menteri dalam Negeri dan Menteri Kesehatan, serta Menteri
Lingkungan. Program yang dilakukan antara lain penanggulangan lingkungan dengan
pengembangan Agribisnis, penanggulangan penyakit infeksi menular, peningkatan
kesehatanibu dan anak, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan serta
bantuan sarana dan prasarana.
Pengembangan Agribisnis suatu upaya yang dilakukan PT KPC dengan masyarakat
dalam mendorong peningkatan prduktivitas masyarakat dan juga sebagai pemanfaatan
lingkungan pascatambang. Program pertanian yang memanfaatkan lahan pascatambang
dilakukan berdasarkan acuan yang tercantum dalam dokumen Rencana Penutupan Tambang
(RPT). Percontohan perternakan sapi, perternakan ayam petelur, dan uji coba penanaman
berbagai tanaman pangan (jagung dan kedelai ) serta Hijauan Makanan Ternak terus dilaukan
di tahun 2016 sampai dengan sekrang. Percontohan ini dproyeksi dapat menjadi pemicu
berbagai usaha lain terkait untuk bertumbuh dengan baik atau tanpa dampingan PT KPC.
Selain itu PT KPC juga bekerjasama dengan koperasi KODIM 0909 Sangata memanfaatkan
lahan bekas tambang PIT J untuk dibudidaya peternakan ayam petelu. Dalam pelaksanaannya
YSB menugaskan stafnya yang merupakan slah satu lulusan peternakan dai Institut Pertanian
Bogor (IPB) penerima beasiswa KPC untuk bekerjasama dan membantu proses pengelolaan
budidaya tersebut .

3.7 Water Treatment