Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

PENGKAJIAN SISTEM ENDOKRIN METABOLIK

Disusun untuk memenuhi tugas metode discovery learning


mata kuliah Pengkajian Keperawatan Medikal Bedah

DISUSUN OLEH

1. Anggun Hidayatur Rahmi (131914153011)


2. CH.R. Yeni Suryandari (131914153018)
3. Ahmad Miftahul Azis Bosniawan (131914153028)
4. Elok Faradisa (131914153033)
5. Dian Retno Pratiwi (131914153048)
6. Muhamad Syarifudin (131914153055)

PRORAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah Nya,
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah mengenai Pengkajian Sistem Endokrin
Metabolik dengan tepat waktu. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
Pengkajian Keperawatan. Penyusunan makalah ini tentu tidak lepas dari kontribusi dan
bantuan berbagai pihak. Kami menyadari dalam menyelesaikan tugas ini banyak
kekurangan dari teknik penulisan dan kelengkapan materi yang jauh dari sempurna. Kami
juga menerima kritik dan saran yang membangun sebagai bentuk pembelajaran agar
meminimalisir kesalahan dalam tugas berikutnya. Semoga dengan terselesaikan tugas ini
dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Surabaya, 12 September 2019

Tim Penyusun

iii
DAFTAR ISI

Halaman Sampul ......................................................................................... i


Kata Pengantar ............................................................................................ ii
Daftar Isi...................................................................................................... iii
BAB 1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................... 1
1.3 Tujuan ........................................................................................... 1
BAB 2. Tinjauan Pustaka
2.1 Anatomi dan Fisiologi................................................................... 2
2.2 Data Subjektif ............................................................................... 13
2.3 Data Objektif ................................................................................. 16
2.4 Diagnostic Test ............................................................................. 22
BAB 3. Penutup
3.1 Kesimpulan .................................................................................... 27
3.2 Saran............................................................................................... 27
Daftar Pustaka ............................................................................................. 28
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem endokrin merupakan sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (duictless)
yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk
mempengaruhi organ-organ lain. Sistem endokrin terdiri dari kelenjar-kelenjar
yang menyekresi hormone yang membantu memelihara dan mengatur fungsi vital
seperti respon terhadap stress dan cidera, pertumbuhan dan perkembangan,
reproduksi, homeostasis ion, metabolism energy dan respon kekebalan tubuh.
Kelenjar-kelenjar tersebut mempunyai struktur yang berbeda, sekresi yang
dihasilkan dan fungsinya juga berbeda.
Kelainan pada sistem endokrin metabolik perlu adanya pengkajian secara
subjektif dan objektif serta pemeriksaan diagnostik guna menentukan diagnosa dan
pemberian intervensi yang tepat untuk klien.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana anatomi dan fisiologi sistem endokrin metabolik?
2. Bagaimana pengkajian data subyektif dalam sistem endokrin metabolik?
3. Bagaimana pengkajian data objektif dalam sistem endokrin metabolik?
4. Apa saja pemeriksaan diagnostik yang digunakan pada sistem endokrin
metabolik?

1.3 Tujuan
Adapun tujaun penelitian makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui anatomi fisiologi dari sistem endokrin metabolic
2. Untuk mengetahui pengkajian data subyektif dalam sistem endokrin metabolic
3. Untuk mengetahui pengkajian data objektif dalam sistem endokrin metabolic
4. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik yang digunakan pada sistem
endokrin metabolik

1
BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 Anatomi dan Fisiologi
2.1.1 Sistem Endokrin
Sistem endokrin merupakan suatu sistem yang bekerja dengan perantara
zat-zat kimia (hormon) yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin. Kelenjar endokrin
atau yang lebih sering dikenal dengan kelenjar buntu (sekresi secara internal) akan
mengirim hasil sekresinya langsung ke dalam darah dan cairan limfe. Hasil
sekresi tersebut beredar dalam jaringan kelenjar tanpa melewati saluran (duktus).
Adapun hasil dari sekresi disebut dengan hormon. Sistem endokrin terdiri dari
kelenjar-kelenjar endokrin. Sistem endokrin bekerja sama dengan sistem saraf
yang mempunyai peranan penting dalam pengendalian kegiatan organ-organ
tubuh. Oleh karena itu, kelenjar endokrin mengeluarkan suatu zat yang disebut
hormon (Syarifuddin, 2002:200).
Sisrtem endokrin terdiri atas badan-badan jaringan kelenjar, seperti tiroid,
tapi juga terdiri atas kelenjar yang ada di dalam suatu organ tertentu, seperti testis,
ovarium, dan jantung. Sistem endokrin menggunakan hormon untuk
mengendalikan dan mengatur fungsi tubuh (Parker.2009: 104).
2.1.1.1 Kelenjar Hipofisa
Kelenjar hipofisis merupakan suatu kelenjar endokrin yang terletak di dasar
tengkorak fossa pituitari os sfenoid, besarnya kira-kira 10x13x6 mm dan beratnya
sekitar 0,5 gram. Fungsi hipofise dapat diatur oleh susunan saraf pusat melalui
hipotalamus yang dilakukan oleh sejumlah hormon yang dihasilkan hipotalamus
akibat rangsangan susunan saraf pusat . hormon-hormon yang mengatur fungsi
hipofase disebut hormon hipofisitropik. Kelenjar hipofisis disebut juga dengan
kepala kelenjar di karenakan mengendalikan sebagian besar kelenjar endokrin
(Parker.2009: 104).
Hormon ini dihasilkan oleh sel-sel neurosekretoris yang terdapat dalam
hipotalamus. Kelenjar hipofise ini sebenarnya adalah dua kelenjar berbeda yang
menjadi satu, yaitu lobus anterior dan lobus posterior (Parker.2009: 106).

2
1. Lobus anterior
Berasal dari kantong rathke yang menempel pada jarigan otak lobus
posterior dan menghasilkan sejumlah hormon yang bekerja sebagai pengendali
produksi dari semua organ endokrin yang lain (Syarifuddin, 2010:202).
a. Somatotropik hormon (growth hormon/GH)
Hormon pertumbuhan yang berfungsi merangsang pertumbuhan tulang,
jaringan lemak dan veisera penting pada individu yang masih muda untuk
pertumbuhan. Growth hormon (gambar 2) mempengaruhi berbagai metabolisme
dalam tubuh seperti berikut:
 Metabolisme protein merangsang pembentukan kolagen.
 Metabolisme elektrolit menahan N, P, Ca, K dan Na dengan cara
meningkatkan absorbsi ion Ca diseluruh pencernaan, menurunkan eksresi
ion ca dan ion K lewat ginjal.
 Metabolisme karbohidrat memilikiefek diabetogenik karena meningkatkan
pengelepasan glukosa dari sel hati dan menurunkan kepekaan sel terhadap
insulin.
 Metabolisme lemak menimbulkan kadar asam lemak bebas dalam plasma
darah.
b. Hormon tirotropik (thyroid stimulating hormon/TSH)
Mengendalikan kelenjar tiroid (gambar 2) dalam menghasilkan tiroksin.
Fugsinya menstimulus pembesaran tiroid, menambah ambilan yaodium dan
menambah sintesis trioglobulin (Syarifuddin, 2014:204).
c. Hormon adrenokortikotropik (ACTH)
Mengendalikan kelenjar suprarenal dalam menghasilkan kortisol yang
berasal dari korteks kelenjar suprarenal (Syarifuddin, 2010:204).
d. Hormon gonadotropin
Hormon gonadrotropin (gambar 2) menghasilkan :
 Follicle stimulating hormone (FSH), merangsang perkembangan folikel de
Graf dalam ovarium dan pembentukan spermatozoa pada testes meragsang
gametogenesis pria (Syarifuddin, 2010:205).
 Luitizing hormone (LH), mengendalikan sekresi estrogen dan progesteron
dalam ovarium yang mempengaruhi luteinisasi pada wanita dan pada pria

3
disebut sebagai interestisial stimulating (ICSH) yang mempengaruhi
produksi testosteron dalam testis (Syarifuddin, 2010:205).
e. Prolaktin
Memulai dan mempertahankan laktasi dengan mempengaruhi langsung
kelenjar-kelenjar susu di mamae. Akibat pengaruh estrogen, kadar prolaktin
pada perempuan akan meningkat lebih tinggi sesudah dewasa. Selama
kehamilan kadar prolaktin akan terus meningkat sejak dini sampai mendekati
lahir, setelah persalinan kadar prolaktin mulai menurun. Sekresi prolaktin
(gambar 2) diatur dan diawasi oleh hipotalamus (Syarifuddin, 2010::205).
f. Melancyte stimulating hormone (MSH)
Dihasilkan oleh hipofise pars intermedius dan didapati pada manusia
dalam fase kihidupan fetus. MSH (gambar 2) dan proses fisiologinya berperan
terhadap kulit (Syarifuddin, 2010::205).

Gambar. Hormon pada lobus anterior


Sumber: Sloane, 2003:205
2. Lobus Posterior
Menghasilkan ADH dan oksitosin yang disintesis oleh sel-sel saraf dalam
hipotalamus, dibawa di sepanjang akson dan disimpan dalam neurohipofisis
untuk dilepas ke ujung akson. Masing-masing hormon disekresi oleh
sekelompok neuron yang terpisah (Sloane, 2003:208).
1) ADH atau vasopresin, disintesis dalam neuron nukleus supraoptik
hipotalamus.
a. Efek fisiologis
 Meningkatkan retensi air

4
 Meningkatkan tekanan darah dengan merangsang kontraksi pembuluh
darah perifer.
b. Kendali sekresi
Pelepasan ADH diatur melalui perubahan osmolaritas darah dan
perubahan volume serta tekanan darah.
 Peningkatan konsentrasi cairan tubuh atau penurunan volume darah
menyebabkan sekresi ADH.
 Penurunan konsentrasi cairan tubuh atau peningkatan volume darah
menyebabkan inhibisi ADH.
 Pelepasan ADH diinhibisi (kehilangan air) oleh alkohol dan kafein.
 Pelepasan ADH distiulus oleh nyeri, kecemasan dan trauma selain itu
juga disebabkan oleh obat-obatan sepert nikotin, morfin dan barbiturat.
c. Sekresi abnormal ADH
 Hiposekresi mengakibatkan diabetes insipidus.
 Hipersekresi terjadi setelah hipotalamus mengalami cidera atau karena
tumor.
2) Oksitosin, disintesis dalam sel neuron pada nukleus paraventrikular
hipotalamus.
a. Efek fisiologis
 Menstimulasi kotraksi sel-selotot polos uterus selama senggama dan
saat persalinan serta kelahiran pada ibu hamil.
 Menyebabkan keluarnya air susu dari kelenjar mamae pada ibu
menyusui dengan menstimulus sel-sel mioepitelial disekitar alveoli
kelenjar mame
b. Kendali sekresi
 Pengisapan payudara, desahan napas atau suara seorang bayi atau
stimulus puting atau areola pada iu yang menyusuimengakibatkan
stimulus saraf hipotalamus yang mengsekresi oksitosin dan keluarnya
air susu (refleksi keluar air susu).
 Penghambatan pelepasan oksitosin dan air susu oleh stres emosional.

5
2.1.1.2 Kelenjar Tiroid dan Kelenjar Paratiroid
Kelenjar tiroid terletak di leher bagian depan dengan keempat kelenjar kecil
paratiroid menempel di “sayap” sisi paling belakang. Hormon yang dihasilkan
tiroid memiliki berbagai efek pada proses kimia tubuh, meliputi pengaturan berat
tubuh, tingkat penggunaan energiglukosa darah, dan frekuensi denyut jantung
(Parker.2009: 107).

1. Kelenjar Tiroid
A. Morfologi
Menurut Sloane (2003:208) kelenjar tiroid:
1. Terdiri dari dua lobus lateral yang dihubungkan melalui sebuah ismus yang
sempit.
2. Folikel merupakan unit fungsional kelenjar tiroid
3. Rongga folikel berisi koloid, tersusun dari protein globular troglobulin (bentuk
cadangan hormon tiroid yang berfungsi dalam sintesis hormon tiroid).
4. Sel parafolikular yang berjumlah sedikit yang mensekresi kalsitonin.
B. Pembentukan, penyimpanan dan pelepasan hormon tiroid
1. Sekresi kelenjar tiroid (Sloane, 2003:209):
a. Tiroksin atau tetraiodotironin (T4), mencapai 90% dari seluruh sekresi
kelenjar tiroid.
b. Triioditironin (T3) disekresikan dalam jumlah yang sedikit.
2. Iodium yang tertelan bersama makanan dibawa aliran darah menuju kelenjar
tiroid. Oleh sel folikular iodium dipisahkan dari darah serta mengubahnya
menjadi molekul iodium dengan tirosin untuk membentuk monoiodotirosi dan
diioditirosin (Sloane 2003:209).
a. Dua molekul diioditirosin membentuk T4.

6
b. Satu molekul monoiodotirosi dan datu molekul diioditirosin membentuk
T3.
3. T3 dan T4 disimpan dalam bentuk tiroglobulin selama berminggu-minggu.
Hormon tiroid dilepas karena dipengaruhi TSH, enzim proteolisis memisahkan
hormon dari tiroglobulin selanjutnya hormon berdifusi dan masuk ke dalam
pembuluh darah (Sloane 2003:209).
C. Efek Fisiologis
Menurut Sloane (2003:209), efek fisiologis dari tiroid, yaitu:
1. Meningkatkan laju metabolik
2. Pertumbhan dan maturasi normal tulang, gigi, jaringan ikat dan jarigan saraf.
D. Kendali sekresi
1. Tiroid diatur oleh hormon perangsang tiroid (TSH) hipofisis, dibawah kendali
hormon pelepas tirotropin (TRH) hipotalamus (Sloane 2003:209).
2. Faktor yang mempengaruhi laju TRH dan TSH yaitu kadar hormon tiroid yang
bersirkulasi dan laju metabolik tubuh (Sloane 2003:209).
E. Abnormalitas sekresi
1. Hipotiroidisme, pada orang dewasa menyebabkan miksedema dan pada anak
kecil menyebabkan kretinisme (Sloane 2003:210).
2. Hipertiroidisme dapat menyebabkan penyakit Grave.
3. Pembesaran kelenjar tiroid sampai dua atau tiga kali lipat mengakibatkan
gondok (Sloane 2003:210).

2. Kelenjar Paratiroid
A. Morfologi
Terdapat dua jenis sel dalam kelenjat paratiroid: sel utama (mensekresi
hormon paratiroid (PTH)) dan sel oksifilik (tahapperkembangan sel chief) (Sloane
2003:210).
B. Efek fisiologis
1. PTH mengendalikan keseimbangan kalsium dan fosfat melalui peningkatan
kalsium dalam darah dan menurunkan fosfat dalam darah (Sloane 2003:210)
2. PTH meningkatkan mekanisme kalsium darah melalui tiga mekanisme, yaitu
(Sloane 2003:210):

7
a. PTH menstimulus osteoklas menyebabkan pengeluaran kalsium dari tualang
ke cairan ekstraseluler.
b. PTH secara tidak langsung meningkatkan absorbsi kalsium intestinal dan
menguarangi kalsium dalam feses.
c. PTH menstimulus reansorpsi kalsium dari tubulus ginjaluntuk
menggantikan fosfor, sehingga menurunkan kalsium dalam urine dan
meningkatkan kalsium dalam darah.
C. Pengendali sekresi
1. Penurunan kalsium dalam darah menyebabkan meningkatnya sekresi PTH.
2. Alsitoninberantagonis langsung dengan PTH dan menurunkan kalsium darah.
D. Abnormalitas sekresi
1. Hipersekresi, mengakibatkan peningkatan aktivitas osteoklas, resorpsi tulang
dan deklasifikasi dan pelemahan tulang (Sloane 2003:211).
2. Hiposekresi,mengakibatkan penurunan kalsiun dalam darah (Sloane 2003:211).

2.1.1.3 Kelenjar Adrenal


Medula didalam dan korteks di luar kelenjar adrenalin masing-masing
mensekresi hormon yang berbeda. Hormon kortikal merupakan steroid dan
meliputi glukokortikoid, seperti kortisol, yang mempengaruhi metabolisme;
mineralokortikoid, seperti aldoseteron, yang mempengaruhi keseimbangan garam
dan mineral; dan gonadokortikoid yang bekerja pada ovarium dan testis. Medula
didalam berfungsi sebagai kelenjar terpisah. Serat serat medula terhubung dengan
sistem saraf simpatis dan medula menghasilkan hormon “tempur dan kabur”,
seperti adrenalin (Parker.2009: 107).

8
A. Morfologi
Masing-masing kelenjar adrenal terdiri dari (Sloane 2003:211):
1. Korteks mensekresikan steroid
2. Medula mensekresihormon medular
B. Hormon
1. Hormon medular, meliputi (Sloane 2003:211):
a. Epinefrin, menyebabkan frekuensi jantung, metabolisme dan konsumsioksigen
meningkat serta kadar gula darah menigkat melalui stimulus glikogenolisis
pada hati dan simpanan glikogen otot.
b. Norepinefrin, menigkatkan terkanan darah dan menstimulus otot jantung.
2. Horon kortikal adrenal
a. Mineralokortikoid
Aldosteron, mengatur keseibangan air dan elektrolit melalui pengemdalian
kadar natrium dan kalium darah (Sloane 2003:211).
b. Glukokortikoid, hormon yang terpenting adalah kortisol (Sloane 2003:211)
1) Glukokortikoid mempengaruhi metabolisme glukosa, protein dan lemak
untuk cadangan molekul, meningkatkan sintesis glukosa, meningkatkan
penguraian lemak dan protein.
2) Sekresi glukokortikoid melalui kendali ACTHdalam mekanisme umpan
balik negatif. Stimulus dapat berupa stres fisik atau emosional.
c. Gonadokortikoid (steroid kelamin) berfungsi untuk prekursor pengubah
testosterondan estrogen (Sloane 2003:211).
C. Abnormal sekresi
a. Hiposekresi dapat menyebabkan penyakit addison.
b. Hipersekresi, bergantung pada jenis sel dalam korteks adrenal yang mensekresi
hormon dalam julah yang besar.

9
2.1.1.4 Kelenjar Pineal

A. Morfologi
1. Kelenjar epifisis terbentuk dari jaringan saraf dan terletak dilangit-langit
ventrikel ketiga otak (Sloane 2003:214).
2. Seiring bertambahnya usia, kelenjar mengakumulasi cadangan kalsium (Sloane
2003:214).
B. Sekresi
Kelenjar pinela (epifisis) berupa melatonin, yang memiliki efek (Sloane 2003:214):
a. Pada binatang mempengaruhi fungsi kelenjar endokrin, korteks adrenaldan
gonad.
b. Pada manusia melatonin memiliki efek inhibisi terhadap pelepasan gonadotropin
dan menghambat produksi melanin.
C. Pengendali
1. Intensitas dan durasi cahaya lingkungan (Sloane 2003:214).
2. Siklus alami produksi melatonin mungkin berkaitan dengan irama beberapa
proses fisiologis harian (Sloane 2003:214).

2.1.1.5 Kelenjar Timus


A. Morfologi
Terletak dibagian posterior toraks terhadap sternumdan melapisi bagian atas
jantung. Seiring pertambahan usia kelenjar ini mengecil (Sloane 2003:214).
B. Hormon
Hormon yang dihasilkan timosin (Sloane 2003:214).
C. Fungsi timosin
1. Mengendalikan sistem imun dependen timus dengan menstimulus diferensiasi
dan poliferasi sel limfosit T (Sloane 2003:214).

10
2. Berperan dalam penyakit immunodefisiensi kongentalyaitu letidak mampuan
total dalam memproduksi anti bodi (Sloane 2003:214).

2.1.1.6 Pankreas
Pankreas merupakan kelenjar yang berfungsi ganda. Pankreas menghasilkan
enzim pencernaan didalam sel yang disebut asini, tapi juga mempunyai fungsi
endokrin. Diantara jaringan asini terdapat sekitar satu juta kumpulan yang disebut
pulau Langerhans. Pulau langerhans sel penghasil hormon yang terlibat dalam
kendali glukosa (gula darah), sumber energi dalam tubuh. Sel beta menghasilkan
hormon insulin, yang memacu pengambilan glukosa oleh sel dan mempercepat
perubahan glukosa menjadi glikogen untuk disimpan didalam hati. Dengan cara
ini insulin menurunkan kadar glukosa darah.hormon lain, glukagon , dihasilkan di
sel alfa yang bekerja berlawanan, yaitu meningkatkan kadar glukosa darah. Sel
delta membentuk somastostatin, yang mengatur sel alfa dan beta (Parker.2009:
107).

2.1.1.7 Hormon
Hormon merupakan penghantar kimiawi yang dilepas dari sel-sel khusus ke
dalam aliran aliran darah dan selanjutnya dibawa sel-sel tanggap ditempat
terjadinya khasiat itu. Secara khusus hormon dikaitkan dengan kimia organik
yang mempunyai aktivitas tinggi meskipun hanya diberikan dalam jumlah yang
sedikit. Hormon yang dihasilkan langsung disekresikan ke pembuluh darah ke
organ tujuan. Hormon melakukan kegiatan yang spesifik, yakni mengatur proses
metabolisme dari organ tujuan (Syarifuddin, 2002:200).
A. Struktur Kimiawi Hormon
Struktur kimiawi hormon dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Derivat asam amino
Dikeluarkan oleh kelenjar buntu yang berasal dari jarigan nervus medula
supraren dan neurohipofisis, adapun yang tergolong dalam hormon ini yaitu
epiferin dan norepinefrin hasil modifikasi dari asam aminotriosin (Syarifuddin,
2002:201).
2. Peptida/derivat peptida

11
Dibuat oleh kelenjar buntu yang berasal dari jaringan pencernaan. Peptida
bersirkulasi bebas dalam lebih kurang 2-10 menit (Syarifuddin, 2002:201).
3. Steroid
Mempunyai inti cyclo-pentano perihidro phenantren yang dibuat oleh kelenjar
buntu yang berasal dari mesotelium (Syarifuddin, 2002:201).
4. Asam lemak
Hormon prostaglandin merupakan satu-satunya hormon yang termasuk
kategori ini yang merupakan bio sintesis dari dua asam lemak, yaitu asam lemak
arachidonic dan di-homo-gama-linoletik (Syarifuddin, 2002:202).
5. Hormon perkembangan
Hormon yang memegang peranan penting dalam perkembangan dan
pertumbuhan biologi reproduksi, mulai dari kandungan sampai usia remaja.
Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar gonad (Syarifuddin, 2002:202).
6. Hormon metabolisme
Proses hemeostatis gula dalam tubuh diatur oleh bermacam-macam hormon
seperti glukagon dan katekolamin (Syarifuddin, 2002:202).
7. Hormon trofik
Hormon yang dihasilkan struktur khusus dalam pengaturan fungsi kelenjar
endokrin, yaitu kelenjar hipofisis (Syarifuddin, 2002:202).
8. Hormon pengatur metabolisme air dan mineral
Kalsitonin yang dihasilkan kelenjar tiroid unuk mengatuk kalsium dan fosfor.
Bila kalsitonin meningkat menyebabkan menurunnya kalsium dan fosfor dalam
darah dan meningkatnya sekresi kalsium, fosfor, natrium, kalium dan magnesium
melalui ginja (Syarifuddin, 2002:202).
9. Hormon pengatur sistem kardiovaskuler
Epinefrin yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal bagi medula. Pada jantung
mengakibatkan peningkatan konduksi dan kontraksi jantug (Syarifuddin,
2014:202).

B. Kerja Hormon
1. Pemicu Hormon
Rangsangan penyebab kelenjar endokrin melepas lebih banyak hormonnya
bisa berbeda-beda. Dalam beberapa kasus, kelenjar bereaksi langsung terhadap

12
kadar zat tertentu dalam darah, menggunakan sistem umpan balik. Dalam kasus
lain, terdapat mekanisme perantara didalam sistem umpan balik seperti kompleks
hipotalamus – hipofisis (Parker.2009: 108).
2. Mekanisme Kendali Hormon
Dari sifat kimianya, ada dua jenis utama hormon, yang terdiri atas molekul
protein dan amino dan yang terdiri atas molekul steroid. Kedua kelompok ini
secara keseluruhan bekerja dengan cara serupa. Mereka berperan secara
biokimiawi untuk mengubah tingkat pembentukkan zat tertentu, biasanya dengan
meninggalkan atau memproduksi enzim yang mempercepat pertumbuhan zat
tertentu (Parker.2009: 108).
3. Mekanisma Umpan Balik
Kadar hormon di dalam darah dikendalikan oleh mekanisme umpan balik,
atau siklus. Mekanisme ini bekerja seperti termostat yang mengendalikan sistem
pemanas pusat. Jumlah hormon tertentu yang beredar atau sedang disekresi ke
dalam aliran darah dideteksi dan dikirim ke unit pengendalian. Adapun yang
menjadi kompleks pengendaliannya ialah hipotalamus-hipofisis- di dalam otak
(Parker.2009: 108).

2.2 Data Subyektif : Health history questions


2.2.1 Data Demografi
Usia dan jenis kelamin merupakan data dasar yang penting. Beberapa
gangguan endokrin baru jelas dirasakan pada usia tertentu merupakan proses
patologis sudah berlangsung sejak lama. Kelainan-kelainan somatik harus
selalu dibandingkan dengan usia dan gender , misalnya berat badan dan tinggi
badan. Tenpat tinggal juga merupakan data yang perlu di kaji, khususnya
tempat tinggal pada masa bayi dan kanak-kanak dan juga tempat tinggal klien
sekarang.
2.2.2 Riwayat Kesehatan Keluarga
Mengkaji kemungkinan adanya anggota keluarga yang mengalami
gangguan seperti yang di alami klien atau gangguan tertentu yang berhubungan
secara langsumg dengan gangguan hormonal seperti:
a. Obesitas
b. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan

13
c. Kelainan pada kelenjar tiroid
d. Diabetes melitus
e. Infertilitas
Dalam mengidentivikasi informasi ini tentunya perawat harus dapat
menerjemahkan informasi yang ingin diketahui dengan bahasa yang sederhana
dan di mengerti oleh klien atau keluarga.
2.2.3 Riwayat Kesehatan dan Keperawatan Klien
Perawat mengkaji kondisi yang pernah dialami oleh klien di luar gangguan
yang dirasakan sekarang khususnya gangguan yang mungkin sudah
berlangsung lama bila di hubungkan dengan usia dan kemungkinan
penyebabnya namun karena tidak mengganggu aktivitas klien, kondisi ini tidak
di keluhkan. Tanda-tanda seks sekunder yang tidak berkembang, misalnya
amenore, bulu rambut tidak tumbuh, buah dada tidak berkembang dan lain-lain.
Berat badan yang tidak sesuai dengan usia, misalnya selalu kurus meskipun
banyak makan dan lain-lain. Gangguan psikologia seperti mudah marah, sensiif,
sulit bergaul dan tidak mampu berkonsentrasi, dan lain-lain.
Hospitalisasi, perlu dikaji alasan hospitalisasi dan kapan kejadiannya. Bila
klien dirawat beberapa kali, urutkan sesuai dengan waktu kejadiannya. Juga
perlu memperoleh informasi tentang penggunaan obat-obatan di saat sekarang
dan masa lalu. Penggunaan obat-obatan ini mencakup obat yang di peroleh dari
dokter atau petugas kesehatan maupun obat-obatan yang di peroleh secara
bebas.jenis obat-obatan yang mengandung hormon atau yang dapat merangsang
aktivitas hormonal seperti hidrokortison;levothyroxine; kontrasepsi oral; dan
obat-obatan anti hipertensif.
2.2.4 Riwayat Diit
Perubahan status nutrisi atau gangguan pada saluran pencernaan dapat
saja mencerminkan gangguan endokrin tertentu atau pola dan kebiasaan makan
yang salah dapat menjadi faktor penyebab, pleh karena itu kondisi berikut ini
perlu di kaji:
a. Adanya nausea, muntah dan nyeri abdomen
b. Penurunan atau penambahan berat badan yang drastis
c. Selera makan yang menurun atau bahkan berlebihan
d. Pola makan dan minum sehari-hari

14
e. Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang dapat mengganggu fungsi
endokrin seperti makanan yang bersifat goitrogenik terhadap kelenjar
tiroid
2.2.5 Status Sosial Ekonomi
Karena status sosial ekonomi nerupakan aspek yang sangat peka bagi
banyak orang maka hendaknya dalam mengidentifikasi kondisi ini perawat
melakukannya bersama-sama dengan klien. Menghindarkan pertanyaan yang
mengarah pada jumlah atau nilai pendapatan melainkan lebih di fokuskan pada
kualitas pengelolaan suatu nilai tertentu. Mendiskusikan bersama-sama
bagaiman klien dan keluarganya memperoleh makanan yang sehat dan bergizi,
upaya mendapatkan pengobatan bila klien dan keluarganya sakit dan upaya
mempertahankan kesehatan klien dan keluarga tetap optimal dapat
mengungkapkan keadaan sosial ekonomi klien dan menyimpulkan bersama-
sama merupakan upaya untuk mengurangi kesalahan penafsiran
2.2.6 Masalah Kesehatan Sekarang
Perawat memfokuskan pertanyaan pada hal-hal yang menyebabkan
klien meminta bantuan pelayanan seperti :
a. Apa yang di rasakan klien
b. Apakah masalah atau gejala yang dirasakan terjadi secara tiba-tiba atau
poerlahan dan sejak kapan dirasakan
c. Bagaimana gejala itu mempengaruhi aktivitas hidup sehari-hari
d. Bagaimana pola eliminasi baik fekal maupun urine
e. Bagaimana fungsi seksual dan reproduksi
f. Apakah ada perubahan fisik tertentu yang sanat menggangu klien
Hal-hal lain yg perlu dikaji karena berhubungan dengan fungsi
hormonal secara umum
a. Tingkat Energi
Perubahan kekuatan fisik dihubangkan dengan sejumlah gangguan
hormonal khusunya disfungsi kelenjar tiroid&adrenal. Kaji kemampuan
Klien dalam melakukan aktifitas sehari-hari
b. Pola Eliminasi dan keseimbangan cairan

15
Pola eliminasi khususnya urine dipengaruhi oleh fungsi endokrin secara
langsung oleh ADH, aldosteron, dan kortisol. Kaji pola berkemih ak dan
jml vol urine
c. Pertumbuhan dan Perkembangan
Secara langsung tumbang dibawah pengaruhi GH, Kelenjar tiroid dan
kelenjar gonad. Gangguan tumbang dapat terjadi semenjak dalam
kandungan, itu terjadi pada ibu hamil hipertiroid.
1) Kaji gangguan tumbang yang dialami semenjak lahir atau terjadi
selama proses pertumbuhan
2) Kaji secara lengkap dari penambahan ukuran tubuh dan fungsinya :
Tk intelegensi, kemampuan berkomunikasi dan rasa tgg jwb. Kaji
juga perubahan fisik dampaknya terhadap kejiwaan.
d. Seks dan reproduksi
Pada wanita kaji siklus menstruasi (lamanya), volume, frek dan
perubahan fisik terutama sensasi nyeri atau kram abdomen. Jika
bersuami kaji :
1) Apakah pernah hamil
2) Abortus
3) Melahirkan
e. Pada Pria kaji apakah mampu ereksi dan orgasme. Dan kaji juga apakah
terjadi perubahan bentuk dan ukuran alat genitalnya.
2.3 Data Obyektif: the physical exam
Pengkajian fisik dalam keperawatan secara umum bisa dilakukan dengan cara
inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Tetapi dalam pemeriksaan fisik sistem
endokrin tidak selalu menggunakan ke empat cara tersebut karena melihat respon
gangguan sistem sistem endokrin itu sendiri tidak memungkinkan menggunakan
empat cara tersebut. Dua aspek utama yang dapat di gambarkan pada pemeriksaan
fisik sistem, yaitu :
1. Kondisi kelenjar endokrin
2. Kondisi jaringan atau organ sebagai dampak dari kondisi endokrin
Pemeriksaan fisik terhadap kondisi kelenjar hanya dapat dilakukan terhadap
kelenjar tiroid dan kelenjar gonad pria (testis). Secara umum, tekhnik pemeriksaan
fisik yang dapat dilakukan untuk memperoleh berbagai penyimpangan fungsi.

16
2.3.1 Kelenjar Hipofisis
2.3.1..1. Hiperpituitari
a. Amati bentuk wajah, khas pada hipersekresi GH seperti bibir dan hidung
besar, tulang supraorbita menjolok.
b. Kepala, tangan/lengan dan kaki juga bertambah besar, dagu menjorok ke
depan.
c. Amati adanya kesulitan mengunyah dan gigi yang tidak tumbuh dengan
baik.
d. Pemeriksaan ketajaman penglihatan akibat kompresi saraf optikus, akan
dijumpai penurunan visus.
e. Amati perubahan pada persendian di mana klien mengeluh nyeri dan sulit
bergerak. Pada pemeriksaan ditemukan mobilitas terbatas
2.3.1..2. Hipopituitari
a. Amati bentuk, dan ukuran tubuh, ukur berat badan dan tinggi badan,
b. Amati bentuk dan ukuran buah dada, pertumbuhan rambut axilla dan pubis
dan pads klien pria amati pula pertumbuhan rambut di wajah (jenggot dan
kumis).
c. Palpasi kulit, pada wanita biasanya menjadi kering dan kasar.
d. Tergantung pada penyebab hipopituitrisme, perlu juga dikaji data lain
sebagai data penyerta seperti bila penyebabnya adalah tumor maka perlu
dilakukan pemeriksaan terhadap fungsi cerebrum dan fungsi nervus
kranialis, dan adanya keluhan nyeri kepala.
e. Kaji pula dampak perubahan fisik terhadap kemampuan klien dalam
memenuhi kebutuhan dasarnya.
2.3.2 Kelenjar Tiroid dan Paratiroid
2.3.2.1. Kelenjar Tiroid
2.3.2.1.1. Inspeksi
Perawat berdiri di depan penderita. Pasien diposisikan duduk dengan
sedikit hiperekstensi agar sternokleidomastoideus relaksasi sehingga tumor
tiroid mudah dievaluasi. Jika pembengkakan atau nodul, perlu diperhatikan
beberapa hal berikut:
a. Lokasi : lobus kanan, lobus kiri, ismus
b. Ukuran : besar/kecil, permukaan rata/noduler

17
c. Jumlah : uninodusa atau multinodusa
d. Bentuk : apakah leher terlihat bengkak ataukah berupa noduler local
e. Gerakan : pasien diminta untuk menelan, apakah pembengkakannya
ikut bergerak
f. Pulsasi : bila nampak adanya pulsasi pada permukaan
pembengkakan
2.3.2.1.2. Palpasi
Pasien diminta untuk duduk, leher dalam posisi fleksi, pemeriksa berdiri
di belakang pasien dan meraba tiroid dengan menggunakan kedua tangan.
Beberapa hal yang perlu dinilai pada pemeriksaan palpasi:
a. Perluasan dan batas tiroid
b. Gerakan saat menelan, apakah batas bawah dapat diraba atau tidak dapat
diraba trachea dan kelenjarnya.
c. Konsistensi, temperatur, permukaan, dan adanya nyeri tekan
d. Hubungan dengan m. sternocleidomastoideus (tiroid letaknya lebih dalam
daripada musculus ini.)
e. Limfonodi dan jaringan sekitar
f. Pada kondisi normal: kelenjar tiroid tidak teraba
Derajat pembesaran kelenjar tiroid:
 Derajat 0-a : kelenjar tiroid tidak teraba atau bila teraba tidak lebih
besar dari ukuran normal
 Derajat 0-b : kelenjar tiroid jelas teraba, tapi tidak terlihat bila kepala
dalam posisi normal
 Derajat I : mudah dan jelas teraba, terlihat dengan kepala dalam
posisi normal, dan terlihat nodul
 Derajat II : jelas terlihat pembesaran jarak dekat
 Derajat III : tampak jelas dari jauh
 Derajat IV : sangat besar
2.3.2.1.3. Auskultasi
Pada auskultasi perhatikan adanya bising tiroid yang menunjukkan adanya
hipertiroid. Pada daerah leher, diatas kelenjar tiroid dapat terdengar bunyi
“bruit“. Bruit adalah bunyi yang dihasilkan oleh karena turbulensi pada
pembuluh darah tiroidea. Normalnya bunyi ini tidak terdengar. Dapat

18
terdengar bila terjadi peningkatan sirkulasi darah ke kelenjar tiroid sebagai
dampak peningkatan aktivitas kelenjar tiroid.
2.3.3 Kelenjar Paratiroid
Pada pemeriksaan fisik kelenjar paratiroid ini, difokuskan untuk mengetahui
gangguan pada kekuatan otot, persendian yang berkaitan dengan kelenjar
paratiroid.
2.3.3.1. Kekuatan Otot
a. Inspeksi ukuran otot, bandingkan satu sisi dengan sisi yang lain dan amati
adanya atrofi atau hipertrofi.
b. Jika didapatkan perbedaan antara kedua sisi, ukur keduanya dengan
menggunakan mistar.
c. Amati adanya otot dan tendo untuk mengetahui kemungkinan kontraktur
yang ditujukan oleh malposisi suatu bagia tubuh.
d. Lakukan palpasi pada saat otot istrahat dan pada saat otot bergerak secara
aktif dan pasif untuk mengetahui adanya kelemahan (lasiditas), kontraksi
tiba-tiba secara involunter(spastisitas).
e. Uji kekuatan otot dengan cara menyeluruh klien menarik atau mendorong
tangan pemeriksa, bandingkan kekuatan otot ekstremitas kiri dengan
ekstremitas kiri.
f. Amati kekuatan suatu bagian tubuh dengan cara memberi penahanan
secara resisten.
g. Amati kenormalan susunan dan deformitas.
h. Palpasi untuk mengetahui adanya edema atau nyeri tekan.
i. Amati keadaan tulang untuk mengetahui adanya pembengkakan.
2.3.3.2. Persendian
a. Inspeksi persendian untuk mengetahui adanya kelainan persendian.
b. Palpasi persendian untuk mengetahui adanya nyeri tekan, gerakan,
bengkak dan nodul.
c. Kaji rentang gerak persendian (Range of motion, ROM)

2.3.4 Kelenjar Adrenal


2.3.4.1. Inspeksi

19
Pemeriksaan fisik secara inspeksi pada kelenjar adrenal ini, bertujuan untuk
mengetahui apakah ada kelainan yang dialami klien yang ada kaitannya dengan
penyakit pada gangguan kelenjar adrenal tersebut.
a. Penyakit Addison
1) Pigmentasi pada kulit
2) Buku-kuku jari, lutut, siku, membran mukosa
3) Warna kulit: pucat, sianosis
4) RR cepat
5) Suhu tubuh diatas normal
6) Tanda-tanda dehidrasi
7) Bibir tampak kering
8) Kelemahan umum
9) Pasien tampak haus
10) Membran mukosa kering
b. Cushing Sindrom
1) Kifosis
2) Buffalo hump
3) Moon face
4) Kulit wajah berminyak dan tumbuh jerawat.
5) Virilitas pada wanita
6) Hirsutisme (tumbuhnya bulu wajah yang berlebihan)
2.3.4.2. Palpasi
Pemeriksaan fisik secara palpasi pada kelenjar adrenal ini, bertujuan untuk
mengetahui apakah ada kelainan yang dialami klien yang ada kaitannya dengan
penyakit pada gangguan kelenjar adrenal tersebut.
a. Penyakit Addison
1) Nadi cepat dan lemah
2) Nyeri abdomen
3) Turgor kulit
b. Cushing Sindrom
1) Kulit tipis, rapuh dan mudah luka
2) Atropi payudara
3) Klitoris yang membesar

20
2.3.4.3. Auskultasi
a. Penyakit Addison: Tekanan darah rendah
b. Cushing Sindrom: Suara yang dalam

2.3.5 Kelenjar Pancreas


2.3.5.1. Inspeksi
a. Pasien berbaring terlentang dengan tangan dikedua sisi dan sedikit
menekuk. Bantal kecil diletakkan dibawah lutut untuk menyokong dan
melemaskan otot-otot abdomen.
b. Buka abdomen mulai dari prosessus xifoideus sampai simfisis pubis
c. Amati bentuk perut secara umum, warna kulit, kontur permukaan kulit,
adanya retraksi, penonjolan, adanya ketidaksimetrisan, jaringan parut dan
striae
d. Perhatikan posisi, bentuk, warna dan adanya inflamasi atau pengeluaran
umbillikus
e. Amati gerakan-gerakan kulit pada perut saat inspirasi dan ekspirasi
2.3.5.2. Palpasi : teraba masa pada abdomen
Teknik palpasi pada perut ini terbagi atas 2:
1) Palpasi Ringan
a) Palpasi ringan abdomen diatas setiap kuadran. Hindari area yang
sebelumnya sebagai titik bermasalah.
b) Letakkan tangan secara ringan diatas abdomen dengan jari-jari
ekstensi dan berhimpitan. Tempatkan tangan klien dengan ringan
diatas tangan pemeriksa untuk mengurangi sensasi geli
c) Jari-jari telapak tangan sedikit menekan perut sedalam 1-2 cm.
d) Palpasi untuk mendeteksi area nyeri, penegangan abnormal, atau
adanya massa
e) Selama palpasi, observasi wajah klien untuk mengetahui tanda
ketidaknyamanan.
f) Jika ditemukan adanya keluhan nyeri, uji adanya nyeri lepas: tekan
dalam kemudian lepas dengan cepat untuk mendeteksi apakah nyeri
timbul dengan melepaskan tangan.
2) Palpasi Dalam

21
a) Gunakan metode bimanual
b) Tekan dinding abdomen sekitar 4 - 5 cm
c) Catat adanya massadan struktur organ dibawahnya. Jika terdapat
massa, catat ukuran, lokasi, mobilitas, kontur, dan kekakuan
2.3.5.3. Auskultasi : untuk mendengarkan bising usus meningkat.
1) Hangatkan bagian diafragma dan bell stetoskop
2) Letakkan sisi diafragma stetoskop tadi diatas kuadran kanan bawah pada
area sekum.
3) Berikan tekanan yang sangat ringan. Minta klien agar tidak berbicara
4) Dengarkan bising usus dan perhatikan frekuensi dan karakternya.
5) Jika bising usus tidak mudah didengar, lanjutkan pemeriksaan sistematis,
dengarkan setiap kuadran abdomen
6) Catat bising usus apakah terdengar normal, tidak ada, hiperaktif atau
hipoaktif
7) Letakkan bagian bell atau sungkup stetoskop diatas aorta, arteri renalis,
arteri iliaka dan arteri femoral
2.4 Diagnostic test
2.4.1 Pemeriksaan laboratorium
2.4.1.1 Growth hormone
Digunakan untuk melihat kelebihan/ kekurangan hormon pertumbuhan.
Nilai normal dewasa pada Laki-laki: 5 ng/mL; dan pada perempuan: <10
ng/mL. Apabila terjadi peningkatan pada kadar growth hormon maka dapat
mengindikasikan adanya akromegali. Implikasi keperawatan yang harus
diperhatikan sebelum pasien dilakukan pengambilan sampel darah untuk
pemeriksaan growth hormon adalah pasien harus berpuasa serta tidak boleh
mengalami stres baik fisik maupun emosi.
2.4.1.2 Water deprivation test
Tes penurunan air dengan cara melakukan urin tampung. Biasanya
dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab polidypsi dan polyuria yang
merupakan manifestasi dari diabetes insipidus. Pasien akan diinstruksikan
untuk menahan cairan selama 8-12 jam. Evaluasi osmolalitas plasma dan urin
dilakukan di awal dan akhir tes. Ketidakmampuan untuk meningkatkan berat

22
jenis dan osmolalitas urin adalah karakteristik dari Diabetes Insipidus.
Nilainormal: 1-5 pg/ml (Smeltzer et al, 2010).
2.4.1.3 TSH (Thyroid-Stimulating Hormone)
Merupakan tes skrining terbaik untuk menilai fungsi tiroid karena
memiliki sensitivitas yang tinggi. Kemampuan dalam mendeteksi perubahan
TSH dalam menit dapat membedakan subklinis pada gangguan fungsi tiroid.
Selain itu, pemeriksaan TSH juga berfungsi utuk memantau perkembangan
thyroid hormone replacement therapy dan juga untuk membedakan antara
gangguan yang terjadi pada kelenjar tiroid itu sendiri dan gangguan hipofise
atau hipotalamus. Nilai normalnya: 2-10 mcg/ml (Smeltzer et al, 2010).

2.4.1.4 T3 dan T4
Pengukuran T3 (triiodothyronine) dan T4 (thyroxine) bertujuan untuk
mengevaluasi fungsi tiroid apakah terjadi peningkatan level (hipertiroid) atau
penurunan level (hipotiroid). Nilai normal untuk T4 adalah 4,5 hingga 11,5 g /
dL (58,5 hingga 150 nmol / L) dan kisaran untuk serum T3 adalah 70 hingga
220 ng / dL (1,15 hingga 3,10 nmol / L). Meskipun kadar serum T3 dan T4
umumnya naik atau turun bersamaan, level T3 tampaknya menjadi indikator
hipertiroidisme yang lebih akurat, yang menyebabkan peningkatan T3 yang
lebih besar daripada level T4 (Smeltzer et al, 2010).
2.4.1.5 Serum calcium
Pemeriksaan serum calcium berfungsi untuk mengidentifikasi adanya
abnormalitas pada kelenjar paratiroid. Nilai normalnya 9-10.5 mg/dl. Apabila
terjadi peningkatan maka dapat diindikasikan adanya hiperparatiroid. Namun
untuk mengidentifikasi hiperparatiroid dapat juga dilakukan pemeriksaan
Radioimmunoassays untuk parathormon. membedakan hiperparatiroidisme
primer dari penyebab lain hiperkalsemia pada lebih dari 90% pasien dengan
peningkatan kadar kalsium serum (Smeltzer et al, 2010).
2.4.1.6 Serum phosphat
Nilai normalnya 3-4.5 mg/dl, apabila ditemukan abnormalitas pada hasil
pengukuranya maka dapat mengindikasikan beberapa kondisi berikut (Smeltzer
et al, 2010):
Hipophospate Hiperphospat

23
1. Hypercalcaemia terutama 1. Gagal ginjal
pada saat terjadi peningkatan 2. Hypoparathyroidism
level PTH 3. Hypocalcaemia
(parathyriodhormone) 4. Diabetic ketoacidosis (pada saat
2. Penggunaan obat diuretik awal terdeteksi)
secaa berlebihan
3. Diabetic ketoacidosis
4. Hypothyroidism

2.4.1.7 Kortisol
Tujuan pemeriksaan serum kortisol adalah mengevaluasi fungsi korteks
adrenal. Biasanya pemeriksaan dilakukan pada serum kortisol pagi hari karena
kadar kortisol akan menurun sebanyak 50% pada malam hari. Nilai normal
dalam pemeriksaan serum kortisol adalah Normal: 5-23 mcg/dl (pada jam 8
pagi); 3-13 mcg/dl (pada jam 8 malam). Apabila terjadi peningkatan level
kortisol serum maka dapat mengindikasikan terjadinya cushing syndrome,
sebaliknya jika terjadi penurunan kadar kortisol maka dapat mengindikasikan
terjadinya addison disease (Smeltzer et al, 2010).
2.4.1.8 Urinary 17 ketostetoid
Selain pemeriksaan kortisol, pada pemeriksaan urinary 17 ketosteroid
juga dapat menjadi salah satu pemeriksaan laboratorium untuk mengidentifikasi
adanya cushing syndrome dan Addison disease. Nilai normalnya 6-20 mg/ 24
jam (pada laki-laki); 6-17 mg/ 24 jam (pada perempuan). Apabila terjadi
peningkatan dari nilai normal maka dapat mengindikasikan terjadinya cushing
syndrome, dan apabila terjadi penurunan maka dapat mengindikasikan
terjadinya addison disease (Smeltzer et al, 2010).
2.4.1.9 Gula darah (puasa/sewaktu)
a. Gula darah puasa
Pemeriksaan kadar gula darah setelah pasien melakukan puasa (kondisi
tidak ada asupan kalori) selama minimal 8 jam. Jika hasilnya >126 mg/dl
maka dapat mengidentifikasi diabetes melitus, dan jika terjadi penurunan
(<70 mg/dl) dapat mengindikasikan adanya addison disease (ADA, 2014).
b. Gula darah sewaktu

24
Pemeriksaan kadar gula darah yang dilakukan sewaktu-waktu tanpa
mempertimbangkan waktu pengukuran dan pasien tidak perlu puasa. Nilai
normalnya kurang dari 200 mg/dl (ADA, 2014)
2.4.1.10 HbA1C
Pengukuran hemoglobin A1c atau glycated hemoglobin adalah tes darah
yang mencerminkan kadar glukosa darah rata-rata selama sekitar 2 hingga 3
bulan. Normal: 5,7-6,4%. jika terdapat peningkatan pada hasil pemeriksaan
HbA1C maka dapat mengindikasikan kondisi diabetes yang tidak terkonrol,
namun pemeriksaan ini bukanlah pemeriksaan yang digunakan untuk
penegakan diagnosa diabetes melitus (ADA, 2014).
2.4.1.11 Two Hours Post Load Glucose
Digunakan untuk menghitung kadar glukosa setelah 2 jam diberikan
beban glukosa 75 gr. Nilai Normal: < 140 mg/dl. Yang harus menjadi perhatian
perawat adalah pemberian edukasi kepada pasien untuk tidak makan apapun
sampai dengan tes dilakukan (ADA, 2014).
2.4.1.12 Urin glukosa/Urin keton
Pada kondisi normal urin glukosa dan urin keton tidak terdeteksi saat
dilakukan pemeriksaan laboratorium. Adanya glukosa dan keton dalam urin
menunjukkan kondisi metabolisme lemak yang tidak sempurna dan merupakan
tanda-tanda penurunan insulin serta komplikasi DKA (Diabetic Ketoacidosis)
(Smeltzer et al, 2010).
2.4.1.13 Urin mikroalbumin
Albumin adalah salah satu protein darah terpenting yang dapat
mengalami kebocoran ke dalam urin. Meskipun jumlah kebocoranya sangat
sedikit dan mungkin tidak terdeteksi selama bertahu-tahun, namun adanya
serum albumin dalam urin merupakan salah satu tanda paling awal yang dapat
digunakan untuk mendeteksi diabetik neprophathy. Nilai normalnya 0.2-1.9
mg/dL. Tanda klinis neprophathy ditemukan pada 85% penderita yang
mengalami mikroalbuminuria, sehingga pemeriksaanya harus dilakukan setiap
tahun untuk deteksi (Smeltzer et al, 2010).
2.4.2 Imaging/radiologi
2.4.2.1 MRI

25
Menggunakan medan magnet dan signal frekuensi radio.Identifikasi
tumor pada kelenjar pituitary dan hipotalamus, identifikasi struktur dan fungsi
adrenal, serta struktur dan fungsi tiroid (Black & Hawks, 2014).
2.4.2.2 CT SCAN
Merupakan pemeriksaan imaging dengan hasil yang lebih detail
dibandingkan X Ray, menggunakan prinsip radiasi pengion, dapat dikerjakan
dengan atau tanpa kontras. Contoh: CT-Scan abdominal dapat menidentifikasi
tumor pada pada kelenjar adrenal atau pankreas. Kontraindikasi CT Scan
meliputi Riwayat alergi obat dan seafood, riwayat reaksi media kontras, asma,
gagal ginjal dan masalah jantung, kehamilan dan menyusui serta diabetes
(Black & Hawks, 2014).
2.4.2.3 Thyroid scan
Prosedurnya meliputi pemberian radiofarmaka melalui IV kanula, lalu
pasien diminta untuk meminum satu gelas air selama 15 menit, lalu akan
dilakukan pemotertan selama 2o menit setelah pemberian radiofarmaka. Pada
saat dilakukan pemeriksaan posisi pasien terlentang dengan kamera gamma
langsung diatas kepala dan leher dan kamera gamma akan bergerak bolak-balik
pada area yang akan diperiksa. Thyroid scan sangat membantu dalam
menentukan lokasi, ukuran, bentuk, dan fungsi anatomi kelenjar tiroid,
khususnya ketika jaringan tiroid bersifat substernal atau besar. Mengidentifikasi
area dengan fungsi yang meningkat atau fungsi yang menurun serta dapat
membantu dalam penegakan diagnosis (Smeltzer et al, 2010).
2.4.2.4 Radioactive iodine (RAI) uptake test
Pemeriksaan yang berfungsi untuk mengukur laju penyerapan yodium
oleh kelenjar tiroid. Pasien akan diberikan kapsul/ cairan iodine 123 atau cairan
radionuklida lain. Ini adalah tes sederhana dan memberikan hasil yang andal.
Pemeriksaan Ini dipengaruhi oleh asupan iodida pasien atau hormon tiroid
sehingga pengkajian terkait riwayat klinis pasien harus dilakukan secara cermat
agar evaluasi hasil dapat dilakukan secara akurat Pasien dengan hipertiroidisme
menunjukkan serapan tinggidari 123I (pada beberapa pasien, setinggi 90%),
sedangkanpasien dengan hipotiroidisme menunjukkan penyerapan yang sangat
rendah (Smeltzer et al, 2010).

26
BAB 3
PENUTUPAN
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil literature review dapat disimpulkan bahwa sistem endokrin
merupakan sistem yang mengatur, mengintegrasi, dan mengkoordinasi sel, organ,
dan system tubuh melalui substansi kimia (hormon) yang disekresikan oleh kelenjar
(pituitary, tiroid, paratiroid, adrenal, pineal) dan organ (hipotalamus, gonad,
pankreas, tymus). beberapa gangguan pada sistem endokrin dapat berupa
kekurangan sekresi hormon, kelebihan sekresi hormon, kegananasan pada kelenjar
dan juga infeksi.
untuk menegakkan diagnosis keperawatatan dan intervensi yang tepat maka
perawat perlu melakukan pengkajian dengan mengumpulkan data subjektif berupa
riwayat kesehatan dan pengobatan serta data objektif yang didapat dari hasil
pemeriksaan fisik terfokus sesuai dengan keluhan. Selain itu, hasil pemeriksaan
diagnostik juga dapat menjadi pertimbangan untuk menegakkan diagnoasa serta
terapi yang tepat.
3.2 Saran
Dalam penyusunan makalah ini, mungkin masih banyak terdapat kesalahan. Untuk
itu, diperlukan kritik dan saran dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini,
semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

27
DAFTAR PUSTAKA
American Diabetes Association (ADA). (2014). Diagnosis and classification of diabetes
mellitus. Diabetes Care, 37(Suppl 1), S86–S87.
Black, J.M., & Hawks, J.H. (2014). Keperawatan medikal Bedah: Manajemen Klinis
Untuk Hasil yang Diharapkan. Jakarta: Salemba Medika.
Brunner, Suddarth. (2014). Keperawatan Medikal Bedah Edisi 12. Jakarta : ECG.
Malone, Laruie Kennedy. Plank, Lori Martin. Duffy, evelyn. (2018). Advance Practice
Nursing in the Care of Older Adults. Philadelpia : F.A Davis
Parker. Steve. (2009). Ensklopedia Tubuh Manusia. Jakarta: Erlangga.
Smeltzer, S.C., Bare, B.G., Hinkle, J.L., Cheever, K.H. (2010). Brunner And Suddartth’s
Textbook of Medical Surgical-Nursing. 12th Edition. Philadelphia: Lippincott
William & Wilkins.
Sloane, Ethel. (2004). Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta: EGC.
Syaifuddin. H. (2010). Anatomi fisiologi kurikulum berbasis kompetensi. Jakarta: EGC
Williams, Linda S. Hopper, Paula D. (2011). Understanding Medical Surgical Nursing.
Philadelpia : F.A Davis
.

28