Anda di halaman 1dari 5

Tugas I

Manajement Berbasis Sekolah

Oleh :

RINI SUSANTI NIM 836390703

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS TERBUKA
Tugas 1:

1. Mengapa MBS perlu diperkenalkan di Indonesia ?

Jawab:

Ada beberapa alasan mengapa MBS perlu diterapkan di indonesia, yaitu sistem pemerintahan
indonesia yang baru mengfalami perubahan besar danmasih terus berkembang, sistem
pendididkan, kebijakan yang mendukung dan pengalaman indonesia di masa lalu dan
dianggap guru terbaik.

Menurut sumber https://materiinside.blogspot.com/2014/11/alasan-penerapan-manajemen-


berbasis-sekolah.html lebih di jelaskan tentang alasan MBS perlu diperkenalkan di Indonesia.

Alasan-alasan diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah menurut Rohiat (2008: 50-51)


adalah sebagai berikut:

1. Dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada sekolah, sekolah akan lebih inisiatif
dan kreatif dalam meningkatkan mutu sekolah;
2. Dengan pemberian fleksibilitas/keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk
mengelola sumberdayanya, sekolah akan lebih luwes dan lincah dalam mengadakan dan
memanfaatkan sumber daya sekolah secara optimal untuk meningkatkan mutu sekolah;
3. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya
sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk
memajukan sekolahnya;
4. Sekolah lebih mengetahui kebutuhannya, khususnya input pendidikan yang akan
dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat
perkembangan dan kebutuhan peserta didik;
5. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi
kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi
sekolahnya;
6. Penggunaan sumberdaya pendidikan lebih efisien dan efektif jika dikontrol oleh
masyarakat setempat;
7. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah
menciptakan transparansi dan akuntabilitas sekolah;
8. Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada
pemerintah, orang tua peserta didik, dan masyarakat sehingga ia akan berupaya
semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran mutu pendidikan yang
telah direncanakan;
9. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah lain dalam
peningkatan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif yang didukung oleh orang tua
siswa masyarakat sekitar, dan pemerintah daerah setempat; dan
10. Sekolah dapat segera merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan
cepat.
Dari hal hal yang sudah di tulis di atas dapat disimpukan bahwa MBS sangatlah penting
diperkenalkan atau dilaksanakan di sekolah. Jika ingin sekolah untuk dapat lebih maju dan
tertata rapi maka MBS ini perlu dilaksanakan di sekolah sekolah yang ada di Indonesia.
Karena kita tahu bahwa teknologi dan perkembangan sosial dan pendidikan sangatlah
cepat. Jika tidak dibarengin dengan management yang baik maka sekolah tidak akan bisa
mengikuti perkembangan yang ada.melainkan akan mengalami staknan tidak mengalami
perkembangan.

2. Bagaimana penerapan MBS di Indonesia ?

Penerapan di Indonesia menurut saya tidak mudah ada yang menerima ada juga menolak.

Yang mengerti pentingnya MBS dilakukan di sekolah akan menerima dan akan menerapkan
karena merasa bahwa MBS akan membantu perkembangan sekolah. Tetapi bagi yang tidak
mau menerima akan beranggapan bahwa MBS akan membuat ribet. Dan juga karena terpola
dengan pola kerja yang lama maka akan sulit menerima perubahan dengan cepat. Kalo
menurut saya semua tergantung paradigma. Dan untuk merubah paradigma itu butuh proses
karena tidak semudah membalikan telapak tangan.

3. Indentifikasi dan jelaskan landasan hukum penerapan MBS di Indonesia ?

1. Landasannya adalah Pasal 51 ayat(1) UU no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan


Nasional , MBS mencakup Madrasah sebagai bentuk satuan pendidikan yang sejajar
status dan perannya sehingga pembahasan lebih lanjt dalam konteks Indonesia akan di
sebut management Berbasis sekolah? Madrasah ( Modul 1.13 )
2. UU No. 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah PP No 25 tahun 2000 Tentang
kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai daerah Otonomi
3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional dan
Kemendiknas No. 122/U/2001 tentang rencana strategis Pembangunan pendidikan ,
pemuda dan Olah raga Tahun 2000-2004
4. UU SisDikNas tahun 2003 memberikan landasan hukum yang kuat untuk
diterapkannya management Berbasis masyarakat atau School based management dan
Pendidikan masyarakat atau comunity based education.

4. Identifikasi butir-butir perbedaan sisdiknas menurut UU No. 2 Thn 1998 dan UU No.
20 Thn. 2003 ?

UU No. 20 tahun 2003 dan UU No. 2 tahun 1989 merupakan Undang-Undang yang
mengatur tentang Sistem Pendidikan Nasional. UU SISDIKNAS yang berlaku saat ini
adalah UU No. 20 tahun 2003. Sebelum UU No. 20 tahun 2003 ini dibentuk,
Indonesia menggunakan UU No. 2 tahun 1989.

Terdapat beberapa Perbedaan UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003 dengan UU


SISDIKNAS No. 2 tahun 1989. Misalnya dari jumlah bab dan pasal yang terkandung
di dalamnya, UU No. 2 tahun 1989 mempunyai 20 bab dan 59 pasal, sedangkan UU
No. 20 tahun 2003 mempunyai 22 bab dan 77 pasal.

Dari contoh tersebut sudah jelas kan, bahwa UU No. 20 tahun 2003 mempunyai
jumlah bab dan pasal yang lebih banyak dari UU No. 2 tahun 1989. Lalu perbedaan
apalagi yang ada dalam UU No. 2 tahun 1989 dengan UU No. 20 tahun 2003??
Berikut ini saya sampaikan beberapa perbedaan antara kedua UU SISDIKNAS
tersebut dalam sebuah tabel agar mudah untuk dipahami dan dibandingkan.
Tabel Perbedaan UU No. 2 tahun 1989 dengan UU No. 20 tahun
2003(http://www.pendidikanekonomi.com/2013/09/perbedaan-uu-no-20-tahun-2003-
dengan-uu.html)

Perihal UU No. 2 tahun 1989 UU No. 20 tahun 2003


Jumlah bab 20 bab dan 59 pasal 22 bab dan 77 pasal
dan pasal
Fungsi Belum ada fungsi untuk Sudah ada fungsi untuk membentuk watak
pendidikan membentukwatak (karakter) peserta didik.
nasional (karakter)peserta didik.
Jalur Hanya dua jalur pendidikan, Ada tiga jalur pendidikan, yaitu: pendidikan
pendidikan yaitu: jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.
sekolah dan jalur pendidikan
luar sekolah
Alokasi dana Belum ada aturan alokasi Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya
pendidikan dana pendidikan dari APBN. pendidikan kedinasan dialokasikan minimal
20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan
minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD). (pasal 49 ayat 1)
Badan hukum Belum ada badan hukum Sudah ada badan hukum pendidikan,
pendidikan pendidikan. sebagaimana tertuang pada pasal 53 bahwa
“penyelenggara dan/atau satuan pendidikan
formal yang didirikan oleh Pemerintah atau
masyarakat berbentukbadan hukum
pendidikan”
Peran serta Hanya sebatas mitra Sudah ada aturan tentang dewan pendidikan dan
masyarakat pemerintah (pasal 47 ayat 1) komite sekolah (pasal 56 ayat 1) “masyarakat
dalam “Masyarakat sebagai mitra berperan dalam peningkatan mutu pelayanan
pendidikan Pemerintah berkesempatan pendidikan yang meliputi perencanaan,
yang seluas-luasnya untuk pengawasan, dan evaluasi program pendidikan
berperan serta dalam melaluidewan pendidikan dankomite
penyelenggaraan pendidikan sekolah/madrasah.”
nasional.”
Akreditasi Belum ada aturan Diatur dalam Bab XVI bagian kedua pasal 60
ayat 1, 2, 3, dan 4.
Sertifikasi Belum ada aturan Diatur dalam Bab XVI bagian ketiga pasal 61
ayat 1, 2, 3, dan 4.
Ketentuan Masih terbatas, hanya Tidak hanya sebatas gelar akademik dan lulusan
pidana mengatur hukum pidana perguruan tinggi, tetapi juga menyangkut
terkait dengan lulusan dan jiplakan karya ilmiah dan penyelenggara satuan
gelar akademik perguruan pendidikan (pasal 67 – 71).
tinggi (pasal 55 dan 56)
Kesetaraan Belum ada ketentuan Madrasah setara dengan sekolah
kesetaraan antara sekolah
dengan madrasah
Pengembangan Belum ada aturan tentang Pengembangan kurikulum diatur dalam pasal 36
kurikulum pengembangan kurikulum (pengembangan kurikulum dilakukan dengan
mengacu pada standar nasional pendidikan dan
dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan
satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta
didik)