Anda di halaman 1dari 27

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS TEKS BERITA

DENGAN MODEL PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE


PADA PESERTA DIDIK KELAS VIII MTs.N 1 KUDUS
TAHUN PELAJARAN 2019/2020

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Diajukan kepada Fakultas Bahasa dan Seni


Universitas Negeri Yogyakarta
untuk Memenuhi Tugas Pendidikan Profesi Guru dalam Jabatan Kemenag

oleh
Nurul Nitasari
NIM 19221299005

PENDIDIKAN PROFESI GURU


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2019

i
2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Menulis merupakan salah satu kompetensi berbahasa yang lebih sulit
dikuasai dibandingkan dengan tiga kompetensi berbahasa lainnya lainnya
(Nurgiyantoro, 2001:296). Hal itu disebabkan oleh kemampuan menulis
memerlukan penguasaan berbagai unsur di luar bahasa itu sendiri. Dalam menulis
diperlukan suatu ide atau gagasan yang harus dituangkan dalam suatu bentuk
tulisan yang penuh makna.
Ada beberapa kompetensi menulis di MTs./SMP. Salah satu kompetensi
yang harus dikuasai peserta didik kelas VIII pada kurikulum 2013 adalah menulis
teks berita. Pembelajaran menulis teks berita di kelas VIII terintegrasi dalam KD
3.2 yakni menyajikan data dan informasi dalam bentuk berita secara lisan dan tulis
dengan memerhatikan struktur, kebahasaan, atau aspek lisan (lafal, intonasi,
mimik, dan kinesik).
Dalam pembelajaran menulis teks berita pada kelas VIII di MTs. N 1
Kudus, peserta didik masih kesulitan dalam menuangkan ide atau gagasan ke
dalam suatu bentuk tulisan yang utuh. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil
penilaian menulis teks berita yang telah dilaksanakan oleh guru bahasa Indonesia
pada tahun 2019 yang menunjukkan masih ada 20% peserta didik yang nilainya di
bawah KKM.
Berdasarkan hasil pengamatan selama pembelajaran di kelas, diperoleh
informasi bahwa pembelajaran menulis teks berita selama ini belum sesuai
harapan. Guru dan peserta didik masih mengalami kendala dalam melakukan
proses belajar. Pertama, kurangnya variasi strategi pembelajaran sehingga
pembelajaran terasa monoton karena guru sering hanya memberikan penugasan
menulis dengan memberi tema. Kedua, kemampuan peserta didik dalam menulis
juga masih relatif rendah. Ketiga, kurangnya motivasi menulis pada peserta didik.
Keempat, peserta didik sering kurang maksimal dalam menghasilkan teks berita
yang memuat unsur 5W+1H secara lengkap.
3

Dalam proses pembelajaran menulis teks berita diperlukan kerja sama


antarpeserta didik, baik dalam pramenulis maupun penyuntingan. Tahapan
pramenulis dalam menulis teks berita meliputi investigasi dan wawancara, serta
pembuatan kerangka tulisan. Penyuntingan diperlukan dalam koreksi bersama.
Oleh karena itu, pembelajaran menulis teks berita di kelas dapat dikatakan sebagai
aktivitas yang memerlukan kolaborasi anatarpeserta didik.
Dalam pembelajaran menulis dikenal dengan model pembelajaran think
talk write yang diperkenalkan oleh Huinker dan Laughlin. Model pembelajaran
think talk write merupakan suatu model yang mengutamakan adanya kerjasama,
yakni kerjasama antarpeserta didik dalam kelompok untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Dalam model pembelajaran ini, peserta didik dituntut untuk
mengeluarkan ide yang dimilikinya untuk kemudian membaginya dengan teman
sekelompok untuk saling mendapat masukan dan motivasi.
Bertolak dari permasalahan yang telah dipaparkan, penelitian ini
mengangkat judul “Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Berita dengan Model
Pembelajaran Think Talk Write pada Peserta didik Kelas VIII MTs. N 1 Kudus”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan penelitian ini adalah
sebagai berikut.
1. Bagaimanakah proses pembelajaran keterampilan menulis teks berita dengan
model pembelajaran think talk write bagi peserta didik kelas VIII MTs.N 1
Kudus?
2. Bagaimanakah peningkatan hasil keterampilan menulis teks berita dengan
model pembelajaran think talk write bagi peserta didik kelas VIII MTs.N 1
Kudus?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, penelitian ini bertujuan
sebagai berikut.
4

1. Meningkatkan proses pembelajaran keterampilan menulis teks berita dengan


model pembelajaran think talk write bagi peserta didik kelas VIII MTs.N 1
Kudus.
2. Meningkatkan hasil pembelajaran keterampilan menulis teks berita dengan
model pembelajaran think talk write bagi peserta didik kelas VIII MTs.N 1
Kudus.

3. Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi guru
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
pertimbangan dan saran bagi guru dan calon guru untuk memilih model
pembelajaran think talk write guna lebih mengefektifkan pembelajaran
menulis teks berita untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik secara
lebih optimal.

2. Manfaat bagi sekolah


Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran khususnya pembelajaran bahasa Indonesia.
BAB II
KAJIAN TEORI

A. Deskripsi Teori
Pada bab kajian teori akan diuraikan teori-teori yang berkaitan dengan
judul, yakni hakikat menulis yang mencakup definisi dan tujuan menulis. Dalam
deskripsi teori juga akan dipaparkan hakikat berita yang mencakup definisi berita
dan menulis teks berita. Selain itu, juga berisi penjelasan tentang konsep model
pembelajaran think talk write dan peningkatan keterampilan menulis teks berita
dengan model pembelajaran think talk write

1. Hakikat Menulis
a. Definisi Menulis
Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang digunakan
untuk berkomunikasi secara tidak langsung, secara tidak tatap muka
dengan orang lain (Tarigan, 2008:3). Menulis merupakan salah satu dari
empat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan
menulis. Alwasilah (2005:43) menambahkan bahwa menulis tidak sekadar
menuangkan gagasan melalui tulisan, tetapi juga merupakan sebuah
kemampuan mekanisme dalam menulis sehingga gagasan dapat dimengerti
oleh pembaca. Menurut Suramiharja dkk (1996:2) menulis adalah kegiatan
melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan.
Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat
produktif dan ekspresif. Dibandingkan dengan kemampuan berbahasa
yang lain, keterampilan menulis lebih sulit dikuasai bahkan oleh penutur
ahli bahasa yang bersangkutan sekalipun. Hal itu disebabkan kemampuan
menulis menghendaki penguasaan berbagai unsur di luar bahasa itu sendiri
yang akan menjadi karangan.

b. Tujuan Menulis

4
Yuniawan (2003:179) mengemukakan bahwa tujuan menulis (1)
untuk memperkaya perbendaharaan kata, (2) melatih pikiran dan perasaan
atau ekspresi jiwa, (3) melatih pikiran memaparkan pengalaman-
pengalaman yang tepat, (4) membantu menguasai bahasa secara benar.
Sejalan dengan Yuniawan, Gie (2002: 10) mendefinisikan mengenai
tujuan menulis bermacam-macam sejalan dengan aneka ragamnya
keinginan orang seperti ingin terkenal, mendapat honorarium,
mempengaruhi orang lain, dan mencerdaskan masyarakat. Dari beberapa
pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan menulis untuk
memberikan informasi kepada pembaca, meyakinkan pembaca, dan
memberikan hiburan serta melatih untuk terampil menulis.

2. Berita
a. Definisi Berita

Definisi berita yang pertama, dikemukakan oleh Oramahi (2003:3)


yang menyatakan bahwa sebuah berita harus memiliki unsur-unsur seperti
ketepatan waktu (timelines), kedekatan (nearness), konflik (conflict),
langkah pemerintah (government action), dan peristiwa menarik (human
interest). Oleh karena itu, sebuah berita harus mudah dicerna oleh seluruh
lapisan masyarakat. Dengan demikian, masyarakat akan memahami isi
berita.
Secara umum, berita diartikan sebagai rekaman kejadian atau
peristiwa yang sungguh-sungguh faktual atau terjadi di sekitar kita
(Thobroni 2008:62). Setiap berita memiliki tempat terbatas. Berita hari ini
tidak lagi aktual dengan berita esok hari. Oleh karena itu, para penulis
berita harus cepat dalam mengolah berita pada hari itu.
Peristiwa yang dapat diberitakan yaitu peristiwa yang mengandung nilai
informatif bagi pembaca. Dengan demikian, peristiwa yang informatif harus
memiliki karakteristik tertentu. Karakteristik atau ciri berita yang baik, antara lain
menggunakan bahasa yang singkat, padat, dan jelas (Suharma 2006:86).

5
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa berita
adalah informasi yang bersifat nyata. Informasi-informasi tersebut harus
memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dan dapat diterima oleh khalayak umum,
sehingga berita tersebut memiliki bobot nilai di mata masyarakat.

b. Menulis Teks Berita


Dalam menyusun berita, hal yang harus diperhatikan antara lain headline
(judul berita), dateline (baris tanggal), lead (teras berita), dan body (paragraf-
paragraf pelanjut) (Ermanto 2005:132). Bagian peristiwa yang dianggap paling
penting dan memiliki nilai berita dikemukakan pada teras berita atau paragraf
awal. Setelah teras berita selesai dibuat, paragraf selanjutnya adalah menuliskan
tubuh berita. Tubuh berita dapat dikembangkan dengan menjelaskan kembali
informasi-informasi yang lebih jauh tentang unsur 5W+1H. Pengembangan ini
diurut dari bagian peristiwa yang penting hingga bagian peristiwa yang kurang
penting. Penyusunan tubuh berita ini juga perlu berpedoman pada jalan cerita
peristiwa yang diberitakan.
Konsep berita dan kriteria umum nilai berita berlaku universal, artinya
tidak hanya berlaku untuk surat kabar, tabloid, dan majalah saja tetapi berlaku
untuk radio, televisi, film, dan bahkan juga media online internet. Secara universal
pula, misalnya berita ditulis dengan teknik melaporkan (to report), merujuk
kepada pola piramida terbalik (inverted piramid), dan mengacu kepada rumus
5W1H (Sumadiria 2005:116).
Sejalan dengan Ermanto dan Sumadiria, Djuraid (2009:73) menyatakan
bahwa pelajaran dasar menulis teks berita dimulai dengan pengenalan berita yang
sangat popular yaitu 5W+1H (what, where, when, who, why, how). Dari bahan-
bahan yang sudah diperoleh kemudian dipilah-pilah disesuaikan 5W+1H.
Pedoman ini setidaknya akan memudahkan untuk mulai menulis.

6
30

Setelah bahan-bahan terkumpul, selanjutnya dilakukan identifikasi sesuai dengan


5W+1H. Dengan demikian, akan muncul gambaran tentang kerangka berita yang
akan ditulis.
Setelah pengenalan bagian-bagian tersebut, tahapan berikutnya adalah
merangkaikannya menjadi kalimat. Cara sederhana merangkai bagian-bagian itu
menjadi kalimat dengan mengurutkannya. Penempatan urutan ini tergantung
selera penulis dan kondisi di lapangan. Penempatan tokoh sebagai bagian awal
akan memudahkan membuat kalimat selanjutnya karena sesuai dengan struktur
SPOK (subjek, predikat, objek, dan keterangan).
Berita ditulis menggunakan rumus 5W+1H agar berita itu lengkap,
akurat, dan sekaligus memenuhi standar teknis jurnalistik. Dengan demikian,
berita itu mudah disusun dalam pola yang sudah baku dan mudah dipahami isinya
oleh khalayak umum.

3. Hakikat Model Pembelajaran Think Talk Write


Porter (1992:179) menyatakan bahwa Think Talk Write (TTW)
adalah pembelajaran yang memberikan peserta didik kesempatan untuk
memulai belajar dengan memahami pemasalahan terlebih dahulu,
kemudian terlibat secara aktif dalam diskusi kelompok, dan akhirnya
menuliskan dengan bahasa sendiri hasil belajar yang diperolehnya.
Penerapan TTW (think talk write) dalam pembelajaran kooperatif dapat
mendorong peserta didik untuk berpikir, aktif berpartisipasi dalam pembelajaran,
berkomunikasi dengan baik, siap mengemukakan pendapatnya, menghargai orang
lain, dan melatih peserta didik untuk menuliskan hasil diskusinya ke dalam bentuk
tulisan secara sistematis. Aktivitas peserta didik dalam pembelajaran yang dapat
ditingkatkan melalui penerapan model pembelajaran think talk write adalah
aktivitas melihat, berbicara, mendengarkan, menulis, mental, dan aktivitas
emosional.
Model pembelajaran think talk write (TTW) pada dasarnya dibangun
melalui berpikir, berbicara, dan menulis. Alur TTW dimulai dari keterlibatan
peserta didik dalam berpikir atau berdialog dengan dirinya sendiri setelah proses

30
31

membaca, selanjutnya berbicara dan membagi ide (sharing) dengan temannya


sebelum menulis. Suasana seperti ini lebih efektif jika dilakukan dalam kelompok
heterogen antara 3-5 orang peserta didik. Dalam kelompok ini peserta didik
diminta membaca, membuat catatan kecil, menjelaskan, mendengar, dan membagi
ide bersama teman, kemudian mengungkapkannya melalui tulisan.
Menurut Ansari (2003:4) think talk write adalah suatu tipe model
kooperatif untuk melatih keterampilan peserta didik dalam menalar. Model
ini pada dasarnya dibangun melalui berpikir, berbicara, dan menulis. Alur
kemajuan model kooperatif tipe TTW (think talk write) ini dimulai dari
keterlibatan peserta didik dalam berpikir atau berdialog dengan dirinya
sendiri setelah proses mengamati. Selanjutnya berdiskusi dan membagi ide
dengan temannya melalui diskusi. Pada akhirnya peserta didik dapat
menuliskan hasil pemikirannya.
Model pembelajaran think talk write yang diperkenalkan oleh
Huinker dan Laughlin ini pada dasarnya dibangun melalui berpikir,
berbicara dan menulis. Arah kemajuan model kooperatif tipe TTW (think
talk write) dimulai dari keterlibatan peserta didik dalam berpikir atau
berdialog dengan dirinya sendiri setelah proses mengamati dengan
seksama, selanjutnya berbicara dan membagi ide dengan temannya
sebelum menulis. Model ini lebih efektif jika dilakukan dalam kelompok
heterogen dengan 4-5 peserta didik. Peserta didik diminta mengamati,
membuat catatan kecil, menjelaskan, mendengar, dan berbagi ide bersama
teman dalam kelompok kemudian mengungkapkannya melalui tulisan.
Aktivitas berpikir atau think yang dapat dilihat dari proses
mengamati video peristiwa kemudian membuat catatan mengenai apa yang
telah dilihatnya.
Menurut Wijaya (2007:71) berpikir dapat didefinisikan sebagai serentetan proses
kegiatan merakit, menggunakan, dan memperbaiki model-model simbolik
internal. Arends (2008:158) menambahkan bahwa berpikir adalah suatu
kemampuan untuk menganalisis, mengkritik, dan menarik kesimpulan berdasar

31
32

pada inferensi atau pendapat. Seseorang perlu berpikir agar dapat menggunakan
informasi yang dimiliki dengan baik jika informasi yang diperoleh tidak lengkap.
Wijaya (2007:79) menyatakan bahwa upaya yang dapat dilakukan
guru dalam membina peserta didik agar berpikir adalah dengan
menciptakan kondisi lingkungan yang kondusif, strategi mengajar lebih
banyak ditampilkan keterampilan memecahkan masalah daripada
menyampaikan pengetahuan dan mengajukan pertanyaan untuk bahan
berpikir. Adanya pertanyaan-pertanyaan dari guru membuat peserta didik
mulai mengembangkan cara-cara berpikir tertentu di bawah bimbingan
guru.
Tahap kedua setelah think adalah talk yaitu berkomunikasi dengan
menggunakan kata-kata dan bahasa yang mereka pahami. Kegiatan talking
juga dapat membantu guru untuk mengetahui pemahaman peserta didik
dalam belajar, sehingga dapat mempersiapkan perlengkapan pembelajaran
yang dibutuhkan. Komunikasi model pembelajaran TTW (think talk write)
memungkinkan peserta didik untuk terampil berbicara. Proses komunikasi
dipelajari peserta didik dalam kehidupan sebagai individu yang
berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
Proses komunikasi dapat dibangun di kelas secara alami dan
mudah serta dapat dimanfaatkan sebagai alat sebelum menulis.
Komunikasi dalam suatu diskusi dapat membantu kolaborasi dan
meningkatkan aktivitas belajar dalam kelas, hal ini dapat terjadi karena
ketika peserta didik diberi kesempatan untuk berkomunikasi sekaligus
dapat berpikir bagaimana cara mengungkapkannya dalam tulisan.
Keterampilan berkomunikasi dalam tahap talk dapat mempercepat
kemampuan peserta didik mengungkapkan idenya melalui tulisan.
Berkomunikasi atau berdialog baik antarpeserta didik maupun guru juga
dapat meningkatkan pemahaman. Tahap ketiga adalah write yaitu
menuliskan hasil diskusi secara individual. Menulis membantu peserta
didik merefleksikan pengalaman-pengalaman yang mereka alami
Silberman (2001:179).

32
33

Aktivitas menulis berarti mengkonstruksi ide karena setelah


berdiskusi atau berdialog antarteman dan kemudian mengungkapkannya
melalui tulisan. Aktivitas menulis akan membantu peserta didik dalam
membuat hubungan. Selain itu, akan memungkinkan guru melihat
pengembangan konsep peserta didik.

4. Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Berita dengan Model


Pembelajaran Think Talk Write
Langkah-langkah pembelajaran menulis teks berita dengan menggunakan
model pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) adalah sebagai berikut.
1) Peserta didik bersama guru melakukan apersepsi dengan bertanya jawab
terkait unsur-unsur teks berita yang telah dibahas pada pertemuan sebelumnya.
2) Peserta didik diajak mencermati kejadian atau peristiwa yang terjadi di luar
kelas. Misalnya, ke kantin atau ke sungai dekat sekolah.
3) Peserta didik mencatat unsur-unsur 5W+1H dan temuan dari setiap kejadian
yang terjadi di luar kelas.
4) Peserta didik membentuk kelompok-kelompok belajar yang setiap kelompok
terdiri atas 4-5 orang.
5) Peserta didik bertukar pikiran tentang temuan-temuan dari setiap kejadian atau
peristiwa yang terjadi di luar kelas dengan kelompoknya.
6) Secara individu, peserta didik menulis teks berita berdasarkan hasil temuan
dan diskusi.
Model pembelajaran ini terlihat secara khusus efektif ketika peserta
didik ditugaskan merencanakan, menyusun teks berita, atau merefleksikan,
dan mereka bekerja dalam grup heterogen yang terdiri atas 3-5 peserta
didik. Grup heterogen dimaksudkan agar dalam grup tersebut terdapat
peserta didik yang membantu anggota lain dalam menyelesaikan masalah.
Peranan dan tugas guru dalam mengefektifkan penggunaan model
pembelajaran think talk write antara lain:
1) mengajukan pertanyaan dan tugas yang mendatangkan keterlibatan, dan
menantang setiap peserta didik untuk berpikir;

33
34

2) mendengarkan secara hati-hati ide peserta didik;


3) menyuruh peserta didik mengemukakan ide secara lisan dan tulisan;
4) memutuskan apa yang digali dan dibawa peserta didik dalam diskusi;
5) memutuskan kapan memberi informasi, mengklarifikasi persoalan-persoalan,
menggunakan model, membimbing dan membiarkan peserta didik berjuang
dengan kesulitan;
6) memonitoring dan menilai partisipasi siwa dalam diskusi dan memutuskan
kapan dan bagaimana mendorong setiap peserta didik untuk berpartisipasi.

B. Penelitian yang Relevan

34
35

Penelitian dengan menggunakan model pembelajaran think talk


write pernah dilakukan Bahri (2018) dengan judul “Implementasi Model
Pembelajaran Think Talk Write (TTW) untuk Peningkatan Hasil Belajar
Menulis Puisi Peserta didik Kelas V Sekolah Dasar”. Dari penelitian
tersebut menunjukkan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pra
tindakan memperoleh tingkat ketercapaian klasikal pada aspek kognitif
sebesar 45,33%, dan tindakan I sebesar 70% sedangkan pada tindakan II
sebesar 90%. Persamaan penelitian ini dengan penelitian tersebut adalah
penggunaan model pembelajaran think talk write pada pembelajaran
menulis. Perbedaanya terletak pada keterampilan menulis yang diteliti.
Penelitian tersebut untuk mengajarkan keterampilan menulis puisi,
sedangkan penelitian ini untuk mengajarkan keterampilan menulis teks
berita.
Penelitian berikutnya yang relevan dengan penelitian ini yakni
penelitian yang dilakukan oleh Suntoro (2009) dengan judul “Peningkatan
Keterampilan Menulis Teks Berita Menggunakan Teknik 3 M
(Mengamati, Meniru, dan Menambahi) pada Siswa Kelas VIII A SMP
Negeri 1 Cluwak. Hasil tes prasiklus menunjukkan nilai rata-rata sebesar
62,37 dan pada siklus I diperoleh nilai rata-rata sebesar 73,68. Terjadi
peningkatan sebesar 18,13%. Pada siklus II diperoleh nilai rata-rata kelas
sebesar 79,31. Hal ini menunjukkan peningkatan dari siklus I ke siklus II
sebesar 7,64%. Jadi peningkatan dari tahap prasiklus sampai siklus II
adalah 27,16%. Persamaan penelitian ini dengan penelitian tersebut
terletak pada keterampilan menulis teks berita yang diteliti. Perbedaannya
terletak pada model pembelajaran yang digunakan. Penelitian tersebut
menggunakan teknik 3 M, sedangkan penelitian ini menggunakan model
pembelajaran think talk write.

C. Kerangka Pikir
Bahasa Indonesia merupakan salah satu pelajaran yang penting dalam
Kurikulum 2013. Pemahaman konsep pelajaran bahasa Indonesia khususnya

35
36

menulis teks berita untuk tiap peserta didik berbeda-beda. Namun, cenderung
memiliki tingkat penguasaan yang rendah karena pada umumnya peserta didik
menilai menulis merupakan keterampilan yang sulit. Demikian pula guru-guru
seringkali mengalami kesulitan bagaimana caranya agar materi pelajaran dapat
dipahami oleh peserta didik.
Model pembelajaran think talk write dalam pembelajaran menulis teks
berita dapat melatih peserta didik untuk berpikir, berdiskusi, dan menuangkan ide
atau gagasan ke suatu bentuk tulisan yang berupa berita. Ada beberapa faktor
yang diselidiki dalam penelitian ini yaitu :
1) Karakteristik awal peserta didik
2) Upaya untuk mengaktifkan peserta didik dalam pembelajaran menulis teks
berita
3) Upaya untuk memperbaiki kemampuan peserta didik dengan model TTW
dalam pembelajaran menulis teks berita.
Dengan demikian, penerapan model pembelajaran think talk write dalam
pembelajaran menulis teks berita pada peserta didik kelas VIII MTs. N 1 Kudus
diharapkan dapat memudahkan peserta didik dalam menulis teks berita.

D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teoretis, kajian hasil penelitian, dan kerangka
pikir tersebut, hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini adalah
penggunaan model pembelajaran think talk write dapat meningkatkan
minat, motivasi, dan kemampuan menulis teks berita pada peserta didik
kelas VIII MTs. N 1 Kudus.

36
37

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Desain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) atau
Classroom Action Research (CAR). Penelitian ini merupakan bentuk
penelitian yang tidak dapat dilakukan sendiri, tetapi harus berkolaborasi
dengan guru sebagai mitra peneliti. Menurut Arikunto dkk (2008: 3)
penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan
belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi
dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru
atau dengan arahan dari guru yang dilakukan peserta didik.
Desain penelitian ini menggunakan model Spiral Kemmis dan Taggart.
Penelitian ini meliputi empat komponen penting yang selalu ada pada setiap
siklus, dan menjadi ciri khas penelitian tindakan, yaitu plan, act, observe, dan
reflect atau disingkat PAOR. Adapun gambaran pelaksanaan model tersebut
dapat dilihat dari gambar berikut.

Gambar 3.1 Model Spiral Kemmis dan Taggart

37
38

Arikunto dkk (2008: 17-18) menyatakan tahapan-tahapan yang


terdapat dalam penelitian tindakan kelas meliputi :

(1) Menyusun rancangan tindakan (planning)


Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan,
di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Dalam
penelitian tindakan kelas, yang ideal yakni dengan dilakukan secra
berpasangan antara pihak yang melakukan tindakan dengan pihak yang
mengamati proses jalannya tindakan. Istilah yang sesuai dengan dengan
cara ini adalah penelitian kolaborasi.
(2) Pelaksanaan tindakan (Acting)
Tahap kedua dari penelitian tindakan adalah pelaksanaan yang
merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenai
tindakan kelas. Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam tahap ini pihak
yang melakukan tindakan harus ingat dan berusaha menaati apa yang
sudah dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar dan
tidak dibuat-buat. Bentuk dan isi laporan harus sudah lengkap
menggambarkan semua kegiatan yang dilakukan, mulai dari persiapan
sampai penyelesaian.
(3) Pengamatan (Observing)
Tahap ketiga, yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh
pengamat. Sebenarnya, pengamatan dilakukan bersamaan dengan saat
tindakan itu dilakukan sehingga kurang tepat apabila pengamatan
dipisahkan dengan pelaksanaan tindakan. Dalam pengamatan ini, pihak
peneliti mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi agar data yang
diperoleh akurat untuk perbaikan pada siklus berikutnya.

(4) Refleksi (Reflekting)


Tahap keempat merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali
apa yang sudah dilakukan berdasarkan data yang telah terkumpul
kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan berikutnya.

38
39

Refleksi dalam penelitian tindakan kelas mencakup analisis,


sintesis dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang
dilakukan. Jika terdapat masalah pada proses refleksi maka dilakukan
proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan :
perencanaan ulang, tindakan ulang dan pengamatan ulang sehingga
permasalahan yang ada dapat teratasi.

B. Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MTs.N 1 Kudus. Sekolah ini terletak
di Desa Prambatan Kidul, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Madrasah ini
terdiri atas 33 kelas dengan jumlah keseluruhan peserta didik sebanyak
1200 peserta didik.
Berdasarkan kesepakatan antara peneliti dengan kolaborator,
penelitian ini akan dilaksanakan pada pembelajaran semester gasal tahun
pelajaran 2020/2021. Penelitian tindakan ini akan dilaksanakan pada bulan
Agustus dan September 2020. Penentuan waktu penelitian mengacu pada
kalender akademik sekolah sehingga tidak mengganggu aktivitas
pembelajaran.

Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian


N Kegiatan Bulan Tempat
o Okt Nov Des Jan Ag Sept Okt
t

1 Penyusunan proposal dan     FBS UNY,


pembuatan instrumen
MTs. N 1 Kudus
penelitian

3 Pelaksanaan tindakan   MTs. N 1 Kudus

4  MTs. N 1 Kudus
Monitoring
5 Refleksi dan evaluasi  MTs. N 1 Kudus

39
40

C. Subjek dan Objek Penelitian


Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII K MTs. N 1
Kudus yang terdiri atas 36 orang. Alasan dipilihnya kelas VIII K
dibanding dengan kelas yang lain karena peserta didik kelas VIII K
cenderung pasif dalam menerima pelajaran dan tidak aktif merespon
pelajaran yang diberikan oleh guru. Kemampuan peserta didik dalam
mengembangkan ide ketika pelajaran menulis teks berita juga masih
kurang.
Objek penelitian ini adalah kemampuan menulis teks berita.
Kemampuan menulis peserta didik kelas VIII K sangat kurang. Peserta
didik mengeluh ketika mendapat tugas menulis dan bingung menuangkan
ide dalam menulis.
Untuk itu diperlukan upaya untuk mengatasi permasalahan
tersebut. Langkah yang ditempuh peneliti bersama kolaborator adalah
dengan menggunakan sebuah model pembelajaran yang mudah diterima
oleh peserta didik kelas VIII K. Dengan model pembelajaran tersebut,
peserta didik diberi tindakan dalam siklus-siklus dan dimaksudkan pada
akhir dari siklus tersebut terdapat peningkatan kemampuan peserta didik
dalam menulis teks berita dan peserta didik juga mampu menuangkan
ide/gagasan ke dalam sebuah teks berita.

D. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini terdiri atas satu siklus, yang terdiri atas
perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian ini, setiap
siklus terdiri atas dua pertemuan. Rincian dari keempat tahapan tersebut
adalah sebagai berikut.
1. Perencanaan
1) Peneliti bersama kolaborator menyamakan persepsi dan berdiskusi untuk
mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang muncul berkaitan dengan
pembelajaran menulis teks berita. Masalah yang ada harus berada dalam
jangkauan kemampuan peneliti.

40
41

2) Merumuskan masalah secara jelas. Peneliti dan kolaborator merancang


pelaksanaan pemecahan masalah dalam pembelajaran menulis teks berita
dengan menggunakan PTK agar kemampuan menulis teks berita pada peserta
didik meningkat.
3) Menyiapkan tes pratindakan untuk mengetahui kemampuan awal peserta
didik dalam menulis teks berita.
4) Menyiapkan secara rinci rancangan pelaksanaan tindakan kelas.
5) Menyiapkan instrumen penelitian yang berupa angket, catatan lapangan,
pedoman pengamatan, lembar penilaian menulis naskah drama, dan foto.
6) Melakukan kegiatan pengumpulan data awal tentang kemaampuan naskah
drama
7) Melakukan analisis kemampuan menulis naskah drama berdasarkan data
awal
8) Menyiapkan perangkat pembelajaran
9) Menyiapkan jadwal pelaksanaan tindakan

2. Tindakan
Tindakan dalam penelitian ini adalah penerapan model
pembelajaran think talk write sebagai upaya meningkatkan keterampilan
menulis teks berita pada peserta didik. Pelaksanaan tindakan dalam
penelitian ini terdiri atas dua siklus. Setiap siklus terdiri atas dua
pertemuan. Sebelum dilaksanakan tindakan, terlebih dahulu dilakukan tes
awal/tes pratindakan untuk mengetahui kemampuan peserta didik sebelum
diberi perlakuan. Soal tes awal adalah peserta didik diberi tugas menulis
teks berita tanpa menggunakan media atau strategi yang digunakan oleh
guru. Pelaksanaan tindakan penelitian ini berlangsung di dalam kelas
sesuai dengan jadwal. Kegiatan pada siklus I ini meliputi hal-hal sebagai
berikut.

1) Peserta didik bersama guru melakukan apersepsi dengan bertanya jawab terkait
unsur-unsur teks berita yang telah dibahas pada pertemuan sebelumnya.

41
42

2) Peserta didik diajak mencermati kejadian atau peristiwa yang terjadi di luar
kelas. Misalnya, ke kantin atau ke sungai dekat sekolah. (thinking)
3) Peserta didik mencatat unsur-unsur 5W+1H dan temuan dari setiap kejadian
yang terjadi di luar kelas.
4) Peserta didik membentuk kelompok-kelompok belajar yang setiap kelompok
terdiri atas 4-5 orang.
5) Peserta didik bertukar pikiran tentang temuan-temuan dari setiap kejadian atau
peristiwa yang terjadi di luar kelas dengan kelompoknya. (talking)
6) Secara individu, peserta didik menulis teks berita berdasarkan hasil temuan dan
diskusi. (writing)
3. Observasi
Pada tahap ini, peneliti melakukan pengamatan dan mencatat
semua hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan
berlangsung. Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan
format observasi/penilaian yang telah disusun termasuk juga pengamatan
secara cermat pelaksanaan skenario tindakan dari waktu ke waktu serta
dampaknya terhadap proses dan hasil belajar peserta didik. Data yang
dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif (hasil tes) atau data kualitatif
yang menggambarkan keaktifan peserta didik, antusias peserta didik
terhadap pembelajaran menulis teks berita dengan model pembelajaran
think talk write.

4. Refleksi
Pada tahap refleksi, peneliti dan guru mengkaji secara menyeluruh
tindakan yang telah dilakukan berdasar data yang telah terkumpul
kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan berikutnya.
Refleksi mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil
pengamatan atas tindakan yang telah dilakukan. Kegiatan refleksi dalam
penelitian ini antara lain:

1) Penggunaan model pembelajaran think talk write dapat meningkatkan


keterampilan menulis teks berita peserta didik.

42
43

2) Masalah yang ditimbulkan oleh peserta didik atau penerapan model


pembelajaran think talk write.
3) Tindakan lanjut untuk rencana selanjutnya.

E. Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh data dan
informasi mengenai peningkatan keterampilan menulis teks berita pada
peserta didik dengan model pembelajaran think talk write. Data yang
diambil dalam penelitian tindakan kelas ini adalah data kualitatif dan data
kuantitatif. Data kualitatif berupa data perilaku peserta didik (keaktifan
dan antusias peserta didik) selama proses menulis teks berita dengan
model pembelajaran think talk write . Data kuantitatif berupa skor nilai
keterampilan menulis teks berita pada peserta didik.
Sumber data penelitian diambil pada saat berlangsungnya proses
belajar mengajar Bahasa Indonesia, baik secara formal maupun informal.
Data atau informasi dari penelitian ini diperoleh memalui beberapa cara
diantaranya observasi, tes tertulis, dan dokumentasi.
1. Tes kisi-kisi soal, soal rubrik penilaian
Tes digunakan untuk mengukur keterampilan menulis teks berita
pada peserta didik sebelum implementasi tindakan dan sesudah tindakan.
Tes tersebut menggunakan pedoman penilaian berdasarkan model
penilaian yang telah ditentukan. Penerapan metode ini dalam pembelajaran
menulis teks berita dengan model pembelajaran think talk write dengan
memberikan tugas kepada peserta didik untuk menulis teks berita.

2. Observasi atau Pengamatan pedoman observasi, lembar observasi dengan


catatan lapangan
Pengamatan atau observasi adalah proses pengambilan data dalam
penelitian yang dilakukan oleh peneliti atau pengamat dengan melihat
situasi peneltitian. Observasi atau pengamatan kelas dilakukan untuk
memperoleh data terkait perilaku peserta didik dan guru dalam

43
44

pembelajaran menulis teks berita. Observasi kelas didukung oleh


pengambilan foto (dokumentasi), dan penggunaan catatan lapangan untuk
mencatat semua peristiwa dalam pembelajaran.

3. Wawancara
Wawancara dilakukan oleh guru kolaborator dengan peserta didik
pada saat evaluasi pembelajaran berlangsung serta peneliti dengan peserta
didik di luar mata pelajaran. Tujuannya agar diperoleh umpan balik (feed
back) dari proses pembelajaran menulis teks cerita fantasi yang sudah
berlangsung sebagai dasar penyusunan rencana tindakan siklus berikutnya.
Wawancara dilakukan secara informal, terencana, tetapi tidak terstruktur
agar alami, asli, dan tidak dibuat-buat.

4. Foto (dokumentasi)
Dokumntasi merupakan pengambilan data menggunakan alat
bantu. Dalam peneltiian ini, dokumentasi digunakan untuk
mendokumentasikan proses yang dilakukan dengan alat bantu kamera agar
data yang diproleh valid.

5. Pedoman Penilaian
Pedoman penilaian digunakan peneliti sebagai bahan acuan menilai
teks berita pada peserta didik kelas VIII MTs. N 1 Kudus. Aspek yang
dinilai dalam penelitian ini adalah kelengkapan struktur berita, kesesuaian
struktur teks dengan isi berita, kelengkapan unsur berita, dan ketepatan
penulisan ejaan.

Tabel 3.2 Pedoman Penilaian Menulis Teks Berita

No Aspek Bobot Skor Kreteria penilaian


.
1. Kelengkapan 1 4 Sangat baik: Terdapat 3 struktur teks ,
struktur (kepala yaitu kepala berita, tubuh berita, dan
berita, tubuh ekor berita
berita, dan ekor
berita) 3 Baik: Hanya terdapat 2 struktur teks
dari 3 struktur teks.

44
45

2 Cukup baik: Hanya terdapat 1 struktur


teks dari 1 struktur teks.

1 Kurang baik: Tidak ada struktur teks


yang jelas.

2. Kesesuaian 3 4 Sangat baik: Ada 3 struktur yang


struktur dengan isi sudah sesuai dengan uraian paragraf.
paragraf ( kepala
berita, tubuh 3 Baik: Ada 2 struktur yang sudah sesuai
berita, dan ekor dengan uraian paragraf.
berita )
2 Cukup baik: Hanya ada 1 struktur
yang sudah sesuai dengan uraian
paragraf.

1 Kurang baik: Tidak ada struktur teks


yang sesuai dengan uraian paragraf.

6. Kelengkapan 4 4 Sangat baik: Ada 5-6 unsur berita


unsur
3 Baik: Ada 3-4 unsur berita

2 Cukup baik: Ada 2 unsur berita

1 Kurang baik: Hanya ada 1unsur berita.

7. Penulisan ejaan 1 4 Sangat baik : Hanya terdapat 1-2


dan tanda baca kesalahan penulisan ejaan dan tanda
baca.

3 Baik : Terdapat 3-4 kesalahan


penulisan ejaan dan tanda baca.

2 Cukup baik : Terdapat 5-6 kesalahan


penulisan ejaan dan tanda baca

1 Kurang baik : Terdapat 7 atau lebih


penulisan ejaan dan tanda baca

Jumlah 36

6. Foto (dokumentasi)

45
46

Dokumentasi merupakan pengambilan data menggunakan alat


bantu. Dalam peneltiian ini, dokumentasi digunakan untuk
mendokumentasikan proses yang dilakukan dengan alata bantu kamera
agar data yang diproleh valid.

7. Tes
Tes digunakan untuk mengukur keterampilan menulis teks berita
pada peserta didik sebelum implementasi tindakan dan sesudah tindakan.
Tes tersebut menggunakan pedoman penilaian berdasarkan model
penilaian yang telah ditentukan. Penerapan metode ini dalam pembelajaran
menulis teks berita dengan menggunakan model pembelajaran think talk
write dengan memberikan tugas kepada peserta didik untuk menulis teks
berita.

F. Teknik Analisis Data


Analisis data yang digunakan peneliti adalah membandingkan isi
catatan yang dilakukan dengan kolaborator, kemudian data diolah dan
disajikan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif.

1. Teknik Analisis data Kualitatif


Teknik analisis data kualitatif dalam peneliitian ini menggunakan
teknik deskriptif kualitatif. Data-data yang dikumpulkan berupa angket,
catatan lapangan, dan dokumntasi tugas peserta didik. Langkah-langkah
terkait hal itu adalah sebagai berikut: (a) Perbandingan antara data, yaitu
membandingkan data-data dari setiap informan yang diperoleh, (b)
Kategorisasi, mengelompokkan data-data dalam kategori tertentu, (c)
pembuatan inferensi, memaknai data-data dan menarik kesimpulan.

2. Teknik Analisis Data Kuantitatif


Data kuantitatif diperoleh berdasarkan hasil tes awal (sebelum
tindakan) dan tes akhir (sesudah tindakan). Tindakan yang dilakukan pada
penelitian ini adalah penggunaan model pembelajaran think talk write
dalam pembelajaran menulis teks berita. Data ini berupa skor kemampuan

46
47

penulisan teks berita. Penilaian dalam penulisan teks berita menggunakan


skor tertinggi 10 dan skor terendah 5, dengan aspek yang dinilai yaitu
kelengkapan penulisan unsur berita, kesesuaian antara isi dengan struktur
teks, keruntutan pemaparan berita, dan ketepatan penulisan ejaan.

G. Kriteria Keberhasilan Tindakan


Keberhasilan penelitian tindakan mempunyai karakteristik yaitu
ditandai dengan adanya perubahan ke arah perbaikan. Keberhasilan
penelitian tindakan tersebut meliputi keberhasilan proses dan keberhasilan
produk. Indikator keberhasilan proses dapat dilihat dari: (1) suasana
belajar, yaitu proses pemeblajaran dilaksanakan secara menarik dan
menyenangkan, (2) antusiasme, yaitu peserta didik tertarik mengikuti
pembelajaran yang berlangsung, (3) keaktifan, yaitu keadaan peserta didik
dalam mengikuti pembelajaran berperilaku aktif, dan (4) perhatian, yaitu
peserta didik paham dan terampil menulis teks berita dengan model
pembelajaran menulis teks berita. Peningkatan keberhasilan proses dapat
diketahui dengan pengisisan angket dan observasi penelitian. Selanjutnya,
indikator keberhasilan produk dilihat dari hasil peserta didik menulis teks
berita. Keberhasilan ini dapat diketahui dari nilai sebelum dilakukan
tindakan dan sesudah dilakukan tindakan. Selain itu, keberhasilan produk
juga dapat dilihat dari pencapaian peserta didik menuntaskan praktik
menulis teks berita (aspek penilaian), yaitu 75% peserta didik mendapat
skor di atas 75.

47
48

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, Chaedar. 2005. Pokoknya Menulis. Jakarta: Pustaka Jaya.


Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.
Arends, Richard I. 2008. Classroom Instrument and Management. USA: The
Mc.Graw-Hill Companies.

Bahri, Syaiful. Implementasi Model Pembelajaran Think Talk Write (TTW) untuk
Peningkatan Hasil Belajar Menulis Puisi Siswa Kelas V Sekolah Dasar.
Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, (S.I),V.4,n.1,p.87-100, July 2018.

DePorter, Bobbi. 1992. Quantum Learning. Bandung : Penerbit Kaifa. 


Djuraid, Husnun N. 2009. Panduan Menulis Berita (Edisi Revisi). Malang: UMM
Press.

Ermanto. 2005. Menjadi Wartawan Handal&Profesional. Yogyakarta:


Cinta Pena.
Nurgiyantoro, Burhan. 2001. Menulis Secara Populer. Jakarta: Pustaka
Jaya.
Oramahi, Hasan Asy’ari. 2003. Menulis untuk Telinga (Sebuah Manual Penulisan
Berita Radio). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Suharma, Siti Khoiriyah, Blewuk Setio Nugroho, Siti Khotijah, dan Patoni. 2006.
Bahasa dan Sastra Indonesia. Bogor: Yudhistira.

Sumadiria, As Haris. 2005. Jurnalistik Indonesia (Menulis Berita dan Feature).


Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Suramiharja. 1996. Petunjuk Menulis Praktis. Jakarta: Departemen Pendidikan


dan Kebudayaan.

Silberman, M. 2001. Active Learning: 101 Strategi Pembelajaran Aktif.


Yogyakarta: Yapendis.

Thobroni, M. 2008. Obsesi: Jadi Penulis Beken. Jakarta: Mastara.

Wijaya, Cece. 2007. Pendidikan Remedial Sarana Pengembangan Mutu Sumber


Daya Manusia. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

48
49

Saran dari pak Hartono :

49