Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

FISIKA LANJUTAN

“KONSTANTA PLANCK”

Tanggal Pengumpulan : 15 April 2019

Tanggal Praktikum : 11 April 2019

Waktu Praktikum : 07.30 – 10.00

Nama : Siti Sarah Salsabila

NIM : 11170163000019

Kelompok : IV (Empat)

Anggota :

1. Alda Apriliani (11170163000016)


2. Imas Nurhamidah (11170163000030)

Kelas : Pendidikan Fisika 4A

LABORATORIUM FISIKA LANJUTAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2019
KONSTANTA PLANCK

A. Tujuan
1. Menganalisis pengaruh tegangan ambang terhadap frekuensi cahaya
2. Menentukan nilai konstanta Planck
3. Mengukur tegangan pada kotak h/e untuk beberapa warna cahaya

B. Dasar Teori
Efek fotolistrik merupakan hasil eksperimen klasik yang menunjukkan sifat
kuantisasi cahaya. Ketika cahaya monokromatik dijatuhkan pada sebuah logam dalam
ruang hampa, elektron dapat terlepas dari permukaan logam. Gejala terlepasnya
elektron dari permukaan logam ketika disinari cahaya atau gelombang
elektromagnetik lain disebut efek fotolistrik. Elektron yang terlepas dari logam akibat
efek fotolistrik disebut fotoelektron (Saripudin, dkk. 2016:181).
Gambar 1 memperlihatkan skema perangkat eksperimen efek fotolistrik.

(Gambar 1. Skema Perangkat Eksperimen Efek Foto Listrik)


Gejala efek fotolistrik dapat diterangkan sebagai berikut: geombang cahaya
membawa energi, dan sebagian energi diserap dalam logam terkonsentrasi pada
elektron tertentu dan muncul sebagai energi kinetik. Salah satu sifat yang
menimbulkan pertanyaan pengamat adalah distribusi elektron yang dipancarkan
(fotoelektron), ternyata tidak bergantung pada intensitas cahaya. Berkas cahaya yang
lemah untuk frekuensi yang sama, akan tetapi energi elektron rata-rata sama saja
(Wiyatno, 2016: 33).
Pada tahun 1900, Max Planck mengusulkan sebuah gagasan atau postulat yang
kemudian dikenal sebagai Teori Kuantum Planck. Teori ini menyatakan bahwa
osilator-osilator berfrekuensi U sebagai sumber radiasi, hanya bisa melepaskan
tenaganya dalam bentuk kuantum (paket-paket) energi (Srathern, 2003: 33).
Dalam teori Planck, setiap osilator yang dapat memancarkan atau menyerap
energi hanya dalam jumlah yang merupakan kelipatan bulat dari suatu energi dasar ε .
E=h ∙ ε … … … … … n=1,2,3 …
N menyatakan jumlah kuanta. Selanjutnya energi setiap kuanta ini ditentukan
oleh frekuensi menurut
ε =h ∙ v
H adalah suatu tetapan Planck, yang sekarang dikenal sebagai tetapan Planck (
h=6,626 ×10−34 J ∙ s) (Krane, 2014: 95).
Pada gambar 1, v merupakan tegangan penghambat maupun material emitor
yang dapat bervariasi. Elektron-elektron yang memiliki cukup energi akan mampu
mengatasi tegangan hambatan V dan akan mecapai kolektor, kemudian akan
terdeteksi sebagai arus I dalam Ampereter A. Dalam upaya mencapai kolektor,
elektron-elektron harus memiliki energi kinetik yang setara atau lebih besar dari pada
energi potensial listrik yang dihasilkan diantara emitor dan kolektor, yaitu
1
m c v 2 ≥ eV
2
Untuk material emitor tertentu, tegangan penahannya akan bervariasi secara
linear dengan frekuensi mengikuti hubungan
e V s=hv −e W 0

Ketika K max =e V s, hubungan energi maksimumnya menjadi

e V s=hv −∅

Dengan ∅=e W 0 (Gauthreau, 1999: 53).

Setiap cahaya memiliki frekuensi yang berbeda tergantung spektrum warna


yang digunakan. Cahaya yang kita lihat biasa disebut cahaya tampak. Cahaya tampak
merupakan energi elektromagnetik dengan spektrum frekuensi yang mempunyai
panjang gelombang 380 nm-780 nm. Spektruk cahaya ampak dapat dilihat pada
gambar 2

(Gambar 2. Spektrum warna cahaya tampak)

Meskipun spektrum cahaya tampak adalah spektrum yang kontinyu, tabel 1


memberikan batas kira-kira untuk wrna-warna spektrum.

Tabel 1. Tabel panjang gelombang spektrum warna tampak

No
Warna Panjang Gelobang (nm)
.
1 Ungu 380-450
2 Biru 450-495
3 Hijau 495-570
4 Kuning 570-590
5 Jingga 590-620
6 Merah 620-750
(Faridal, 2018: 3-4).
C. Alat Dan Bahan

No. Nama Alat dan Bahan Jumlah Gambar


1. Peralatan konstanta 1 set
Planck

2. Catudaya AC 12v/1A 1 unit

3. Lampu merkuri 1 unit

4. Elektrometer amplifier 1 unit

5. Multimeter 1 unit

6. Saklar 1 unit

7. Kabel BNC 1 unit


8. Stopwatch 1 unit

9. Kabel penghubung secukupnya

10. Adaptor 1 unit

D. Langkah Kerja

No. Langkah Percobaan Gambar


1. Siapkan alat dan bahan yang
akan digunakan

2. Cek kondisi kabel


penghubung dengan
multimeter

3. Cek kelengkapan peralatan


konstanta planck

4. Hubungkan elektrometer
amplifier dengan multimeter
5. Hubungkan perlengkapan
konstanta planck dengan
elektrometer aplifier

6. Nyalakan catudaya yang telah


dihubugkan dengan stop
kontak

7. Atur prisma yang berada di


dalam peralatan konstanta
planck sampai spektrum yang
diinginkan muncul

8. Arahkan spektrum cahaya


warna yang diinginkan ke
fotosel dengan mengatur arah
pantulan cermin
9. Kososngkan kapasiotor
dengan menekan saklar
hingga jarum pada multimeter
menunjuk pada angka nol

10. Mulai mengukur dengan


melepas saklar, tunggu
sekitar 30-60 detik sampai
kapasitor terisi pada tegangan
U0.
11. Catat hasil pengukuran U0
dan ulangi sebanyak 5 kali
untuk warna yang sama.
12. Lakukan kembali langkah 8-
11 untuk mengambil data
pada warna yang berbeda.

E. Data Praktikum

No warna Tegangan U0 (volt) Gambar


1 2 3 4 5
1. Merah 0.42 0.42 0.4 0.42 0.42
2

2. Ungu 0.6 0.63 0.6 0.63 0.6


3

3. Kuning 0.42 0.42 0.4 0.45 0.42


2

4. Hijau 0.45 0.45 0.4 0.45 0.45


5

5. Biru 0.45 0.45 0.4 0.45 0.45


5

F. Pengolahan Data
h w
U = .v+
e e
y=b . x +a
1. Tabel Pengolahan Data
No v(1015 Hz) u(volt ) v 2(10 30 Hz) u2 ( volt) v . u(1015 VoltHz)
1. 0.5714 0.45 0.3265 0.2025 0.2571
2. 0.75 0.62 0.5625 0.3844 0.4650
3. 0.5217 0.43 0.2722 0.1849 0.2243
4. 0.4615 0.42 0.2130 0.1764 0.1938
5. 0.6316 0.45 0.3989 0.2025 0.2842
∑ 2.9362 2.37 1.7731 1.1507 1.4244

2. Koefisien Regresi a, b, dan r


 Koefisien a

( ∑ U ) ( ∑ v 2 )−( ∑ v )( ∑ Uv )
a=
n ( ∑ v 2 ) −¿ ¿

( 2.37 volt ) ( 1.7731× 1030 Hz ) −(2.9362 ×1015 Hz)(1.4244 ×1015 VoltHz)


a=
5 ( 1.7731× 1030 Hz ) −( 8.6212×10 30 Hz)
( 4.202247 ×1030 VHz )−(4.18232328 ×10 30 VHz)
a=
( 8.8655 ×1030 Hz )−(8.6212 ×1030 Hz)
0.0199232×10 30
a=
0.2443× 1030
a=0.8155
 Koefisien b
n ( ∑ Uv ) −( ∑ v )( ∑ U )
b=
n ( ∑ v 2) −¿ ¿

5 (1.4244 ×1015 VoltHz)−(2.9362 ×1015 Hz) ( 2.37 volt )


b=
5 ( 1.7731 ×1030 Hz ) −(8.6212 ×1030 Hz)
( 7.122×10 15 VHz )−(6.958794 × 1015 VHz)
b=
( 8.8655× 1030 Hz ) −( 8.6212× 1030 Hz)
0.163206× 1015
b=
0.2443× 1030
b=0.668 ×10−15
 Koefisien r
n ( ∑ Uv ) −( ∑ v )( ∑ U )
r=
√¿ ¿ ¿
r =5(1.4244 ×1015 VoltHz)−(2.9362 ×1015 Hz)¿ ¿
( 7.122 ×1015 VHz )−(6.958794 ×1015 VHz)
r=
√ (( 8.8655× 1030 Hz ) −( 8.6212 ×1030 Hz ) )(5.7535−( 5.8160 V ))
0.163206 ×10 15
r=
√ ( 0.2443 ×1030 ) ( 0.1366 )
0.163206× 1015
r= 30
√ ( 0.0334 × 10 )
0.163206 × 1015
r=
0.182757 × 1015
r =0.893

3. Tabel Spektrum Warna

No Panjang gelombang
Warna Frekuensi (THz)
. (m)
1. Hijau 525 ×10−9 526−606
2. Ungu 400 × 10−9 668−789
3. Kuning 575 ×10−9 508−526
4. Merah 650 ×10−9 400−484
5. Biru 475 × 10−9 606−668

4. Grafik vU (Hubungan Frekuensi Cahaya terhadap Tegangan)

Grafik vU (Hubungan Frekuensi Cahaya terhadap Tegangan)


1:12
1:04
0:57
0:50
0:43
0:36
0:28
0:21
0:14
0:07
0:00
3.2 3.62 4.39 0.05

5. Nilai Konstanta Planck (h) dan Fungsi kerja w

e . U 0 +w
h=
c
λ
Keterangan :
e=muatan elektron ( 1,6 ×10−19 c )
U 0 =tegangan ambang ( volt )

W =energi ambang kalium ( 3,5224 ×10−19 Joule )


λ= panjang gelombang ( m )
c=kecepatancahaya (3 ×108 m/s)
a. Hijau
e . U 0 +w
h=
c
λ
( 1,6× 10−19 c ) ( 0,45 V ) + ( 3,5224 × 10−19 J )
h=
(3 ×10 8 m/s )
525× 10−9 m
( 0,72× 10−19 cV ) + ( 3,5224 ×10−19 J )
h=
5,7143 ×1014 s−1
( 4,2424 ×10−19 J )
h=
5,7143 ×10 14 s−1
h=0,742431136 ×10−33 J . s
h=7,42431136 ×10−34 J . s
b. Ungu
e . U 0 +w
h=
c
λ
( 1,6× 10−19 c ) ( 0,618 V ) + ( 3,5224 × 10−19 J )
h=
(3 ×10 8 m/s )
400× 10−9 m
( 0,988× 10−19 cV ) + ( 3,5224 × 10−19 J )
h=
7,5 ×1014 s−1
( 4,5112 ×10−19 J )
h=
7,5 ×1014 s−1
h=0,6014933 ×10−33 J . s
h=6,014933 ×10−34 J . s

c. Kuning
e . U 0 +w
h=
c
λ
( 1,6× 10−19 c ) ( 0,426 V ) + ( 3,5224 × 10−19 J )
h=
(3 ×10 8 m/s )
575× 10−9 m
( 0,6816 ×10−19 cV ) + ( 3,5224 × 10−19 J )
h=
5,217391304 ×1014 s−1
( 4,204 × 10−19 J )
h=
5,217391304 × 1014 s−1
h=0,80576667 ×10−33 J . s
h=8,0576667 ×10−34 J . s

d. Merah
e . U 0 +w
h=
c
λ
( 1,6× 10−19 c ) ( 0,42 V ) + ( 3,5224 × 10−19 J )
h=
(3 ×108 m/s)
650 × 10−9 m
( 4,1944 × 10−19 J )
h=
4,615384615× 1014 s−1
h=0,90878667 ×10−33 J . s
h=9,0878667 ×10−34 J . s

e. Biru
e . U 0 +w
h=
c
λ
( 1,6× 10−19 c ) ( 0,45 V ) + ( 3,5224 × 10−19 J )
h= 8
(3 ×10 m/s )
475× 10−9 m
( 0,72× 10−19 cV ) + ( 3,5224 ×10−19 J )
h=
6,3157895 ×1014 s−1
( 4,2424 ×10−19 J )
h=
6,3157895 ×10 14 s−1
h=0,6717133 ×10−33 J . s
h=6,717133 ×10−34 J . s
G. Pembahasan
Pada praktikum kosntanta Planck ini, percobaan bertujuan untuk memahami
dan mempelajari efek fotolistrik, menentukan nilai konstanta Planck dan mengetahui
pengaruh dari frekuensi warna terhadap grafik yang terbentuk. Praktikum konstanta
Planck dilakukan dengan menggunakan set peralatan konstanta Planck yang terdiri
atas beberapa komponen seperti celah geser, lensa konvergen, prima, lengan putar,
diafragma dan celah penutup.
Sumber cahaya yang digunakan adalah lampu merkuri yang cahayanya akan
terfokus pada celah geser pada set peralatan konstanta Planck sehingga membentuk
spektrum warna. Praktikum ini difokuskan untuk mendapatkan nilai tegangan
ambang dari setiap warna yang berbeda-beda, perbedaan warna akan mempengaruhi
perhitungan konstanta Planck (h) yang didapati.
Tujuan daru pengosongan kapasitor sebelum dilakukan pengukuran tegangan
ambang adalah agar tegangan yang terukur tidak terpengaruh oleh nilai sebelumnya.
Dari data yang didapatkan pada data hasil praktikum, akan diketahui hubungan
antara frekuensi cahaya dan tegangan ambang.
Hubungan antara besarnya tegangan henti dan frekuenai dapat dilihat
berdasarkan tabel data hasil praktikum dan tabel spektrum warna. Terlihat bahwa
tegangan ambang dari sinarsinar ungu dengan frekuensi 728,5X10^2 Hz memiliki
tegangan ambang yang paling kecil yaitu 0,42 V. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa frekuensi berbanding lurus dengan tegangan ambang.
Dalam menentukan tegangan ambang, kita dapat mengetahui nilainya melalui
multimeter secara langsung. Namun, untuk konstanta Planck perlu dilakukan
perhitungan terlebih dahulu. Hasil pencarian nilai konstanta Planck ada dalam
pengolahan data, hasil akhir rata-rata nilai konstanta Planck yang didapatkan adalah
kurang lebih 7,460 x 10^-34 Js. Apabila dilakukan perhitungan error, error dalam
penentuan konstanta Planck sebesar 12,5 % sehingga dapat dikatakan bahwa
praktikum ini berhasil.

H. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Energi kinetik elektron yang lepas dapat diukur dengan cara mengukur tegangan
pada saat kapasitor terisi penuh.
2. Dari percobaan yang telah dilakukan pada warna merah, kuning, hijau, biru, dan
ungu didapatkan nilai Konstanta Planck secara berturut-turut yaitu
9,0878667 ×10−34 J . s ,8,0576667 × 10−34 J . s , 7,42431136 ×10−34 J . s , 6,717133 ×10−34 J . s , 6,014
3. Tingkat pancaran elektron tergantung pada frekuensi cahaya yang datang bukan
dari intensitasnya.

I. Kritik Dan Saran


1. Praktikan masih kurang memahami rangkaian praktikum sehingga diperlukan
arahan atau video tutorial agar membuat praktikan memiliki gambaran lebih jelas
2. Praktikan kesulitan dalam mengatur prisma, diperlukan arahan mengatur prisma

J. Daftar Pustaka

Faridah, Nur. 2018. Cahaya dan Warna. Yogyakarta: Leukaprio.

Gautreau, Ronald. 1999. Shaum’s: Outline of Modern Physics. NY: Mc GrawHill.

Krane, Kenneth. 2014. Fisika Modern. Jakarta: UI Press.

Strathern, Paul. 2003. Bohr dan Teori Kuantum. Jakarta: Erlangga.

Saripudin, Aip. 2004. Praktis Belajar Fisika. Jakarta: Fisisndo Media Persada.

Wiyatmo, Yusman. 2016. Fisika Modern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Lampiran