Anda di halaman 1dari 14

MANIPULASI PROSES NUTRISI TERNAK

Edwin J.L. Lazarus


Pinta M. Ginting

PENDAHULUAN
Manipulasi proses nutrisi pada ternak merupakan suatu upaya manusia untuk
merekayasa perolehan nutrisi bagi ternak dengan tujuan terjadi peningkatan dalam
produktivitas. Berbagai zat makanan banyak terdapat dalam bahan pakan, namun karena
berbagai kendala zat makanan (nutrisi) tersebut tidak dapat dimanfaatkan dengan efektif
dan efisien oleh ternak. Sebagai contoh, berbagai hijauan yang dimakan ternak
ruminansia karena kualitasnya rendah maka berdampak pada tingkat konsumsi dan
kecernaannya dan pada akhirnya produktivitasnya menjadi menurun. Untuk mengubah
kondisi tersebut, diperlukan suatu rangsangan (stimulus) melalui manipulasi akan pakan
yang diberikan. Manipulasi tersebut antara lain dapat dilakukan dengan memberikan
pakan suplemen. Suplemen ini dapat berperan menambah atau melengkapi nutrisi yang
kurang pada pakan yang diberikan sehingga produktivitas ternak meningkat. Pada unggas
misalnya dapat dilakukan substitusi (penggantian) pakan tertentu terhadap komponen
pakan dalam ransumnya yang dapat berdampak yang sama dengan pakan yang
digantinya. Pada herbivore non-ruminansia, dapat dilakukan berbagai imbangan antara
pakan hijauan dan konsentrat untuk meningkatkan performansnya.
Pada dasarnya tujuan manipulasi nutrisi adalam memperbaiki produktivitas ternak
melalui penataan ransum dengan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi pada ternak
sesuai fase pertumbuhannya. Manipulasi dapat melalui penyediaan pakan yang
inkonvensional (tidak lasim) sampai pada pemrosesan pakan untuk penyediaan nutrisi
bagi ternak.
Dalam modul ini, akan dibahas mengenai salah satu prinsip dalam ilmu nutrisi
ternak dalam rangka mendapatkan suatu produksi ternak, yaitu melakukan berbagai
teknik atau cara yang dapat merubah berbagai kondisi yang selama ini menjadi kebiasaan
atau karakter nutrisi ternak.untuk yang dapat meningkatkan produksinya.

156
Setelah mempelajari modul ini, anda diharapkan:
1. Mampu menentukan model manipulasi nutrisi pakan pada berbagai ternak
2. Mampu memanfaatkan teknik manipulasi pakan untuk meningkatkan produksi
ternak

A. MANIPULASI RANSUM
Manipulasi ransum bertujuan merubah berbagai komposisi ransum sesuai
karakteristiknya untuk memenuhi kebutuhan ternak akan berbagai zat makanan agar
produksinya meningkat. Manipulasi ransum juga berkaitan erat dengan tingkah laku
“ingestif” dari ternak. Melalui manipulasi ransum, ternak diharapkan mampu
mempertahankan konsumsi pakan yang cukup untuk hidup dan tercapainya produksi
yang diharapkan. Pemahaman akan pola tingkahlaku yang ditampilkan ternak dalam
mencari, mendapatkan, mengevaluasi, dan memakan pakan perlu diketahui sehingga
berbagai upaya manipulasi yang dilakukan untuk peningkatan produksinya dapat
dilakukan dengan baik dan terarah.
Manipulasi ransum dilakukan pada berbagai pola pemeliharaan ternak, seperti
pemeliharaan ternak secara bebas di alam, setengah bebas (semi intensif), maupun secara
intensif dipelihara dalam kandang. Pada pola pemeliharaan ternak secara bebas,
manipulasi ransum dapat dilakukan dengan merubah bahan pakan yang selama ini biasa
dimakan ternak melalui penambahan berbagai bahan pakan (suplementasi) di tempat-
tempat tertentu dalam area pemeliharaan ternak. Rangsangan untuk memakan pakan
tambahan tersebut terjadi secara bebas melalui upaya ternak sendiri. Peternak dapat
merekayasa tindakan melalui berbagai cara agar ternak dapat tertarik atau merespon
keberadaan pakan tersebut. Apabila telah terjadi kontak antara ternak dengan pakan
tersebut, diharapkan ada respon menerima. Intensitas pemberian pakan tambahan tersebut
harus dilakukan secara terus menerus sehingga pada suatu saat keberadaan pakan tersebut
menjadi lasim bagi ternak dan bahkan bisa menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan
dalam pola makannya sehari-hari. Tindakan manipulasi dengan memodifikasi kondisi di
lapangan dapat merubah pola makan ternak. Berikut ditampilkan interaksi beberapa
factor yang dapat menentukan susunan pakan ternak pada ternak herbivore yang
dipelihara secara bebas.

157
TERNAK

Arus penggerak

Refleks dari perhatian, pendekatan, pengujian dan konsumsi atau penolakan

Indra penglihatan, penciuman, perabaan dan rasa

TANAMAN
Ketersediaan jenis tanaman dan karakteristik kimia dan fisik dan
keterediaan

Manipulasi oleh

Lingkungan tanaman
Jenis tanah
Kesuburan tanah
Kelompok tanaman

Manipulasi oleh

Lingkungan fisik
Topografi (kemiringan, aspek dan tempat tanaman)
Jarak tanaman dari sumber air
Jarak tanaman dari jalan atau naungan

Manipulasi oleh

Faktor ternak
Spesies ternak
Sifat individu ternak
Kondisi fisiologi (kebutuhan makanan)

Tingkah laku social



Manipulasi oleh

PENGALAMAN TERDAHULU

KOMPOSISI MAKANAN

Diagram 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi seleksi makanan dari satu tingkah


laku merumput (Sumber : Arnol, 1985 dikutip Tomasewscka, et al.,
1991).

Dari diagram tersebut dapat dijelaskan bahwa manipulasi dapat dilakukan pada
berbagai tahapan, baik pada ternak maupun tanaman sebagai penyuplai pakan sampai
tersusun suatu komposisi makanan yang diinginkan untuk memenuhi kebutuhan ternak.

158
Pada ternak unggas, misalnya ayam kampung atau itik/entok dan merpati yang
dipelihara bebas, manipulasi melalui penyediaan pakan tertentu dalam waktu tertentu
yang dilakukan secara intensif akan mempengaruhi pola makan dan produksi dapat
meningkat karena meningkatnya konsumsi.
Di negara India, ternak sapi yang dipelihara bebas diberikan blok urea molasses
yang disebut sebagai “buffalo chocolate” di padang penggembalaan. Saat istirahat
merumput, ternak sapi akan menuju tempat-tempat tertentu yang telah diletakkan coklat
tersebut untuk dijilati. Blok coklat tersebut telah diramu dalam komposisi tertentu sesuai
zat makanan yang defisien dalam padang penggembalaan. Di sini peranan utama dari
blok urea molasses adalah untuk mensuplementasi pakan basal (hijauan) yang berkualitas
rendah dan umumnya blok tersebut mengandung karbohidrat dan nitrogen yang mudah
difermantasi dan pelepasannya lambat serta kontinyu. Bagi ternak sapi, kambing atau
domba yang dipelihara di Nusa Tenggara Timur, teknik ini dapat diujicoba.
Ternak di lapangan cenderung mengkonsumsi pakan sesuai seleranya tanpa
mempertimbangkan berkualitas atau tidak berkualitas. Kita sebagai peternak atau yang
memeliharanya lebih mengetahui kebutuhan zat makanan yang ada dalam bahan pakan
sesuai produksi yang diinginkan harus melakukan manipulasi agar ternak terpenuhi akan
kebutuhannya untuk berproduksi. Dalam keadaan dikandangkan secara intensif,
pemberian pakan pada ternak herbivore seperti ruminansia, peranan manusia sangat
tinggi dalam mengontrol tingkah laku makan ternak. Dalam kondisi ini apabila ternak
diberi makan dalam jumlah terbatas dalam waktu tertentu, tidak ada pilihan lain kecuali
memakan semua pakan yang diberikan. Pembatasan pemberian pakan ini merupakan
suatu tindakan manipulasi yang bertujuan meningkatkan perolehan zat makanan dari
pakan yang diberikan. Pada pemberian pakan secara ad libitum ternak cenderung
memilih-milih pakan yang ada sesuai seleranya.
Pada sistem potong dan angkut (cut and carry), peternak mempunyai kontrol yang
lengkap terhadap pakan apa yang dimakan oleh ternak yang dipeliharanya dan berapa
banyak yang dimakan oleh ternak tersebut. Hal ini memungkinkan dilakukan berbagai
manipulasi seperti mengatur keseimbangan komposisi pakan, mencincang pakan hijauan
menjadi ukuran yang lebih kecil, memprosesing pakan menjadi berbagai bentuk dan
berbagai tindakan lain yang bertujuan mencapai efisiensi dalam produksi ternak.

159
Pengetahuan akan karakter setiap ternak dapat membantu dalam melakukan tindakan
manipulasi. Pada induk ayam misalnya, diberi makan sampai kenyang dan kemudian
ayam betina yang lain dalam keadaan lapar dimasukkan ke dalam kandang, ayam yang
sudah kenyang akan makan lagi. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk memanipulasi
perolehan zat makanan bagi ternak ayam. Pada jenis ternak yang lain, mungkin sudah
cukup bahwa ternak yang lain dapat melihat, mendengar atau bahkan mencium, tetapi
pada ternak tertentu mungkin secara fisik harus berada dalam kandang untuk terjadinya
konsumsi yang maksimal. Peningkatan jumlah pakan yang dimakan ternak mungkin
disebabkan oleh meningkatnya stimulasi untuk makan atau mengurangi perasaan takut
dari seekor ternak saat diisolasi dari kelompoknya. Pada ternak babi mungkin cukup
dengan mendengar suara makan dari babi yang lain akan menstimulus selera makannya.
Seekor ternak bisa mengontrol jumlah pakan yang dimakannya dengan cara lain,
yaitu menolak untuk memakan satu pakan atau pakan lainnya. Ada kelompok pakan
konvensional yang dapat dimakan ternak dengan enak, ada pula beberapa pakan lain yang
bernilai gizi tinggi dan harganya murah tetapi ternak tidak merasakan enaknya selama
memakan pakan tersebut untuk pertama kalinya. Tindakan manipulasi diperlukan dalam
mengatasi masalah seperti ini. Misalnya dengan menambahkan garam pada pakan yang
tidak disukai atau mencampurkan dengan pakan yang disukai pada awalnya sampai pakan
tersebut termakan oleh ternak dan setelah dilakukan dalam kurun waktu tertentu pakan
yang tidak disukai tersebut akan dapat dikonsumsi ternak. Cara efektif yang dapat
dilakukan bagi ternak yang tidak mau memakan pakan yang bernilai gizi tinggi dan
murah tetapi baunya tidak disukai adalah dengan menutup hidung ternak tersebut.
Sejumlah penelitian telah dilakukan terhadap ternak domba di Armidale, Australia
(Linch, et al.) menemukan bahwa ternak domba sulit menerima suatu pakan baru dalam
ransumnya, apalagi pemberian pakan tersebut secara tiba-tiba, terutama dalam kondisi
kekurangan pakan (musim kering natau dingin atau saat pengantarpulauan). Beberapa
ternak memilih untuk tidak menerima pakan baru tersebut dan mati karena kelaparan.
Akhirnya para ahli berkesimpulan bahwa sebenarnya ternak dapat belajar pada awal
kehidupannya dan mampu mengingat dengan baik dalam jangka waktu panjang. Melihat
teman dalam kelompok yang telah berpengalaman untuk memakan pakan baru, dapat
membantu ternak yang belum berpengalaman untuk memakan pakan baru tersebut. Hal

160
ini dapat menjadi pertimbangan bagi para peneliti dalam mengintroduksi pakan baru
dalam ransum ternak. Pemilihan ternak penelitian sebaiknya perlu dipertimbangkan
kebiasaan dan perlakuan yang telah berlaku pada ternak pada setiap wilayah dimana
ternak dipelihara sehingga penerapan perlakuan dapat diadaptasikan lebih cepat pada
ternak-ternak tersebut. Contoh hasil penelitian para ahli pada ternak domba
menggambarkan sebagai berikut : sebanyak 12 dari 16 ekor ternak domba yang belum
berpengalaman makan gandum, pada hari ke-2 mulai memakan gandum setelah diberikan
15 menit setiap hari pada saat adanya ternak yang telah berpengalaman memakan
gandum. Lima belas dari 16 ternak domba memakan dengan baik pada hari ke-5.
Sebaliknya, ternak domba pada kelompok control yang diberikan gandum tanpa
kehadiran ternak yang berpengalaman ternyata gagal memakan gandum lebih dari 5 hari.
Hal ini menunjukkan bahwa memberikan masa perkenalan bagi ternak terhadap pakan
atau suplementasi yang mungkin diharapkan untuk dimakan dalam keadaan darurat
merupakan hal yang sangat berguna. Dalam kegiatan penelitian, terutama pada akhir
masa perkuliahan anda di Fakultas Peternakan, anda dihadapkan pada suatu kegiatan
penelitian yang membutuhkan pemahaman akan manipulasi dalam rangka pencapaian
tujuan penelitian. Pemahaman akan karakteristik tiap ternak sudah harus anda ketahui.
Model sederhana dapat digunakan untuk mengecek ternak mana yang memakan
dan tidak memakan pakan yang baru diperkenalkan. Hal ini bias dilakukan dengan
menggunakan satu tempat pakan. Pada tempat pakan ini, ternak harus menempatkan
kepalanya dan menekan sepotong spons yang diisi pewarna atau menyentuh benang yang
diwarnai. Dengan cara ini ternak yang cepat menangkap pelajaran dipindahkan untuk
memberi kesempatan yang lebih lama belajar dan mengurangi persaingan bagi mereka
yang lebih lambat belajar. Ternak yang lambat menangkap pelajaran mendapatkan
beberapa pakan yang disenanginya untuk tetap menjaga fungsi rumennya, semantara
ternak ini lambat memulai memakan pakan yang baru. Terkadang dalam penelitian agar
tujuan penelitian tercapai, kita memaksakan ternak memakan pakan baru dengan cara-
cara kekerasan, seperti mencekokinya langsung ke dalam mulut ternak. Hal tersebut bias
mengakibatkan trauma dan stress pada ternak sehingga justru kondisi tubuhnya menurun
dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian malah menjadi gagal.

161
Masalah baru bisa timbul apabila pakan tambahan (suplemen) yang harganya
mahal lebih disukai daripada pakan dasar yang murah. Peternak mungkin menghendaki
pakan tersebut sebagai suplementasi, tetapi ternak itu sendiri memperlakukan pakan
tersebut sebagai pakan pengganti, misalnya pada saat kurangnya rumput lapangan atau
rumput gajah yang dipotong dan lebih banyak tambahan konsentrat yang harganya mahal.
Untuk itu diperlukan kehati-hatian dalam memanipulasi pemberian pakan. Pengalaman
yang sama dialami penulis ketika melakukan penelitian akhir pada studi S2 di Universitas
Padjadjaran, Bandung. Ternak domba yang digunakan dalam penelitian hanya
membutuhkan waktu 2 hari untuk beradaptasi dengan ransum konsentrat yang diberikan,
wallaupun masa adaptasi disiapkan selama 7 hari. Walaupun pembatasan pakan
konsentrat sebagai suplemen diperlakukan, niat untuk memakan pakan terus ditunjukkan
ternak-ternak penelitian itu. Pada akhir penelitian, semua pakan konsentrat tidak
diberikan lagi dan ternyata ternak domba tidak mau mengkonsumsi rumput gajah yang
diberikan dan terus mengembik dan menunjukkan sikap agresif terhadap petugas yang
menanganinya. Menghadapi hal ini diperlukan upaya penurunan secara perlahan-lahan
pemberian pakan tambahan agar ternak tidak menjadi stress. Cara manipulasi lain yang
dapat dilakukan apabila ternak belum mengenal pakan baru yang akan diberikan adalah
melalui pencampuran antara pakan yang enek dan tidak enak yang kemudian menjadi
sedikit enak (misalnya urea atau gula air), pemberian pakan yang murah pertama kali,
atau pemberian pakan tambahan pada waktu yang tidak teratur sehingga ternak tidak
mempunyai pengharapan dan menunggu untuk makan pada waktu tertentu adalah
merupakan jalan pemecahan problem tersebut di atas.

B. MANIPULASI RANSUM PADA TERNAK UNGGAS DAN BABI


Peningkatan produktivitas ternak unggas dan babi sangat tergantung pada kualitas
ransum yang dikonsumsinya. Bahan pakan penyusun ransum untuk ternak unggas dan
babi banyak yang masih dikonsumsi oleh manusia sehingga terjadi kompetisi kebutuhan.
Pengenalan berbagai jenis pakan inkonvensional yang harganya murah dan belum
dimanfaatkan dalam ransum unggas perlu terus diupayakan. Identifikasi dan analisis
laboratorium terhadap berbagai bahan pakan baik hijauan maupun biji-bijian, umbi-
umbian atau berbagai bahan organic atau an-organik yang diyakini mengandung zat

162
makanan tertentu yang berguna bagi ternak unggas perlu dikaji melalui berbagai
penelitian. Untuk merealisasi berbagai bahan tersebut dalam ransum unggas perlu
dilakukan tindakan manipulasi untuk tujuan tertentu sesuai karakteristik bahan yang akan
digunakan. Penggunaan biji-bijian leguminosa tertentu sebagai pakan substitusi perlu
dimanipulasi melalui perlakuan teknologi tertentu dengan tujuan mengurangi efek toksik
maupun mempermudahnya bercampur dengan bahan pakan lain dalam ransum.
Manipulasi juga dilakukan melalui ujicoba pemberian pakan baru dalam ransum secara
bertingkat (level) sampai pada penggunaan secara total dalam ransum. Pakan untuk
ternak unggas terutama adalah konsentrat yang terdiri dari biji-bijian ataupun umbi-
umbian. Di alam terdapat banyak tanaman penghasil bahan tersebut yang belum
dimanfaatkan dalam ransum. Misalnya bijian gamal atau biji saga, atau biji tanaman lain
yang mengandung zat makanan tertentu dapat dimanfaatkan untuk mengganti sumber
pakan yang selama ini sebagai penyusun ransum unggas tentunya dilakukan secara
bertahap.
Pada ternak babi, karena makanannya terutama seimbang antara hijauan dan
konsentrat, maka manipulasi dapat dilakukan melalui kombinasi berbagai bahan dalam
susunan ransumnya serta melalui upaya pemasakan bahan ransum selain diberikan dalam
bentuk mentah. Walaupun saat ini telah ada pakan babi produksi pabrik, upaya
pemanfaatan pakan inkonvensional bagi ternak ini masih sangat terbuka. Sistem
pencernaannya yang seimbang antara monogastrik dan ruminan membawa keuntungan
tersendiri bagi ternak babi dalam kemampuannya mengkonsumsi pakan.

C. MANIPULASI RANSUM PADA TERNAK HERBIVORA NON-RUMINAN


Ternak herbivore non-ruminan seperti kuda dan kelinci lambungnya sangat kecil
tetapi konsumsi hijauannya cukup banyak. Sebenarnya kedua ternak ini sangat tergantung
pada pakan konsentrat untuk meningkatkan produktivitasnya. Manipulasi pakan untuk
ternak ini dapat dilakukan sama seperti ternak unggas dan babi, yaitu dengan
memanfaatkan berbagai biji-bijian yang belum digunakan dalam ransumnya untuk
meningkatkan perolehan nutrisi. Prosesing pakan hijauan seperti pencincangan,
penepungan atau penggilingan juga dapat dilakukan sebagai suatu tindakan manipulasi
untuk meningkatkan ketersediaaan zat nutrisi bagi ternak ini. Khusus untuk ternak kuda,

163
diperlukan pengayaan nutrisi untuk meningkatkan kinerjanya yaitu sebagai ternak kerja
dan pacuan. Untuk itu pakan sumber energi perlu dimaksimalkan dalam ransumnya.
Manipulasi ransum untuk meningkatkan proses fermentasi dalam sekum dan kolon kedua
ternak ini masih perlu dipelajari dan dipertimbangkan lagi.

D. MANIPULASI RANSUM PADA TERNAK RUMINANSIA


Ternak ruminansia terdiri dari ternak sapi, kerbau, kambing dan domba memiliki
keunikan disbanding jenis ternak lainnya karena memiliki lambung fermentasi dan
lambung ensimatis. Lambung fermentasi adalah lambung yang terdapat di bagian depan
saluran pencernaan yang terdiri dari rumen, reticulum dan omasum serta lambung bagian
belakang yaitu abomasum. Tindakan manipulasi dilakukan dalam rangka
mengoptimalkan proses fermentasi dalam lambung bagian depan khususnya rumen serta
juga dilakukan untuk penerimaan nutrisi pada lambung bagian belakang. Keunikan ini
membuat banyak peluang bagi berbagai penelitian untuk memanipulasi penerimaan
nutrisi bagi ternak ini untuk meningkatkan produktivitasnya. Hasil kajian pada ternak ini
juga sering digunakan dalam memanipulasi pakan bagi ternak kuda dan kelinci untuk
sebagian kondisi.
Upaya utama manipulasi nutrisi ransum pada ternak ruminansia adalah
meningkatkan perolehan nutrisi pada lambung bagian depan dan lambung bagian
belakang melalui perlakuan terhadap pakan (di luar lambung) dan mengatur berbagai
kondisi untuk meningkatkan proses kecernaan (di dalam lambung). Berikut dibahas
mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan manipulasi terhadap fermentasi dan
ekosistem rumen.
Tiga tujuan utama manipulasi fermentasi dalam rumen untuk meningkatkan
produktivitas ternak ruminansia adalah :
1. Meningkatkan kecernaan karbohidrat yang sulit dicerna dalam rumen
2. Meningkatkan proporsi asam propionate dalam total asam lemak terbang (Volatile
fatty acids = VFA) yang dihasilkan
3. Merubah ratio protein terhadap energi (P / E ratio) dalam produk akhir
pencernaan

164
Berbagai perlakuan kimia dapat digunakan untuk meningkatkan laju potensial dan
tingkat degradabilitas pakan berserat melalui perlakuan kimia terhadap hijauan yang
diberikan sebagai pakan ternak ruminansia. Perlakuan kimia dimaksud seperti
penggunaan zat alkalis seperti urea, natrium hidroksida, kalium hidroksida, dan lain-
lain. Perlakuan kimia pada hijauan sebagai bentuk manipulasi nutrisi sebagai berikut
1. Amoniasi : Amoniasi adalah salah satu proses pengolahan pakan berserat atau
pakan kasar dengan menggunakan ammonia. Amonia yang digunakan dapat
berupa gas, sebagai larutan ammonium hidroksida atau melalui yang berasal dari
urea dari ensilase jerami pada kandungan air tinggi.
2. Perlakuan gas asam : Asam hidroklorat (khususnya dalam bentuk gas) dan asam
sulphur (biasanya sebagai sulphurdioksida) juga efektif dalam perlakuan pada
jerami dan limbah pakan kasar lainnya. Sulphurdioksida dikombinasikan dengan
ammonia tampaknya peerlakuan yang sangat potensial dalam meningkatkan
kecernaan jerami.
3. Perlakuan penguapan : metoda hidrolisis asam melalui perlakuan penguapan
dengan tekanan tinggi, khususnya dengan hasil limbah pertanian seperti pucuk
tebu, jerami jagung, rumput kering, dan lain-lain. Efek penguapan pada
temperature tinggi adalh untuk melepaskan asam asetat, dimana terjadi hidrolisis
ikatan lignin-karbohidrat.
Manipulasi melalui peningkatan kecernaan serat dalam rumen dilakukan karena
defisiensi zat makanan yang dibutuhkan oleh mikroorganisme dalam rumen terjadi. Pada
umumnya terjadi penurunan biomasa mikroba dank arena itu menurunkan kecernaan
pakan khususnya pada pakan berserat. Kriteria pertama dalam manipulasi ekosistem
rumen terhadap suatu ransum adalah harus menyediakan substrat esensial untuk
pertumbuhan mikroba. Dalam manipulasi ini yang perlu diperhatikan adalah
terpenuhinya ammonia rumen, ketersediaan peptide dan asam amino serta zat makanan
lainnya,
Manipulasi berikutnya adalah merubah produksi asam propionate dalam rumen.
Sejumlah zat kimia bila dimasukkan dalam ransum ruminant akan merubah proporsi
relative dari VFA yang dihasilkan dala rumen.

165
Manipulasi dengan merubah imbangan protein dan energi (P/E ratio) antara lain
melalui penghambatan proteolisis atau deaminase asam amino, mengatur laju cairan
rumen dan mengurangi jumlah protozoa dalam rumen (defaunasi). Sejumlah hasil
penelitian yang dilakukan para ahli mendapatkan bahwa pengurangan protozoa dalam
rumen dapat meningkatkan imbangan protein dan energi dalam rumen. Adapun alasan
dilakukan manipulasi melalui tindakan defaunasi adalah karena protozoa sering memakan
bakteri apabila pakan yang disediakan tidak memenuhi kebutuhannya, protozoa sering
memakan nutrient yang dibutuhkan oleh bakteri dan protozoa tetap tinggal dalam rumen
karena bentuknya yang besar dan melekat pada partikel pakan yang kasar sehingga hal ini
akan mengurangi kontribusinya sebagai sumber protein bagi ternak ruminansia.
Untuk tingginya tingkat pertumbuhan dan untuk mensuport kebuntingan akhir dan
sedang, untuk produksi susu yang tinggi, permintaan akan asam amino esensial sangat
tinggi dibandingkan yang disediakan melalui peningkatan fermentasi rumen. Suplemen
dari bypass protein dapat diberikan untuk memaksimalkan konsumsi dan produksi.
Sumber bypass protein yang dapat diberikan pada ternak misalnya tepung ikan, tepung
darah, dan bahan pakan lain yang tidak mengalami degradasi dalam rumen. Manipulasi
melalui pemberian pakan bypass ini diketahui dapat meningkatkan produksi ternak.
Banyak zat anti nutrisi yang ada dalam berbagai tanaman dapat digunakan untuk
melindungi protein pakan dari degradasi mikroba rumen. Penggunaan zat sintetis seperti
formaldehida (formalin) dapat dilakukan tetapi perlu hati-hati mengingat residunya dalam
tubuh ternak akan sangat berbahaya bagi manusia jika mengkonsumsi daging dari ternak
yang diberi formalin. Tanin adalah salah satu senyawa alamiah yang dapat digunakan
untuk melindungi protein pakan dari degradasi dalam rumen.
Berbagai prosesing pakan untuk menyediakan ammonia dan VFA bagi mikroba
rumen juga telah diteliti seperti pemasakan pakan sumber karbohidrat dengan urea.
Manipulasi dengan cara ini akan memperlambat produk yang dihasilkan kedua bahan
tersebut bagi mikroba sehingga lebih mudah dalam memanfaatkannya.

166
RANGKUMAN
Manipulasi proses nutrisi pada ternak merupakan suatu upaya manusia untuk
merekayasa perolehan nutrisi bagi ternak dengan tujuan terjadi peningkatan dalam
produktivitas. Berbagai zat makanan banyak terdapat dalam bahan pakan. Pada
dasarnya tujuan manipulasi nutrisi adalah memperbaiki produktivitas ternak melalui
penataan ransum dengan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi pada ternak sesuai
fase pertumbuhannya. Manipulasi dapat melalui penyediaan pakan yang
inkonvensional (tidak lasim) sampai pada pemrosesan pakan untuk penyediaan
nutrisi bagi ternak. Manipulasi nutrisi adalah suatu tindakan rekayasa yang dilakukan
terhadap bahan pakan maupun kehidupan ternak untuk meningkatkan produktivitas.
Manipulasi ransum dilakukan pada berbagai pola pemeliharaan ternak, seperti
pemeliharaan ternak secara bebas di alam, setengah bebas (semi intensif), maupun
secara intensif dipelihara dalam kandang.
Pada ternak babi, karena makanannya terutama seimbang antara hijauan dan
konsentrat, maka manipulasi dapat dilakukan melalui kombinasi berbagai bahan
dalam susunan ransumnya serta melalui upaya pemasakan bahan ransum selain
diberikan dalam bentuk mentah.
Pada ternak ruminansia tindakan manipulasi dilakukan dalam rangka
mengoptimalkan proses fermentasi dalam lambung bagian depan khususnya rumen
serta juga dilakukan untuk penerimaan nutrisi pada lambung bagian belakang. Upaya
utama manipulasi nutrisi ransum pada ternak ruminansia adalah meningkatkan
perolehan nutrisi pada lambung bagian depan dan lambung bagian belakang melalui
perlakuan terhadap pakan (di luar lambung) dan mengatur berbagai kondisi untuk
meningkatkan proses kecernaan (di dalam lambung).
Tiga tujuan utama manipulasi fermentasi dalam rumen untuk meningkatkan
produktivitas ternak ruminansia adalah 1) meningkatkan kecernaan karbohidrat yang
sulit dicerna dalam rumen, 2) meningkatkan proporsi asam propionate dalam total
asam lemak terbang (Volatile fatty acids = VFA) yang dihasilkan dan 3) merubah
ratio protein terhadap energi (P / E ratio) dalam produk akhir pencernaan.

TEST FORMATIF

167
Setelah mempelajari isi modul ini, anda dipersilahkan menjawab pertanyaan di
bawah ini. Setelah anda menjawab, cocokkan jawaban anda dengan jawaban yang telah
dipersiapkan.

1. Apa yang dimaksud dengan manipulasi proses nutrisi pada ternak?.


2. Apa tujuan sebenarnya dilakukan suatu manipulasi nutrisi pada ternak !
3. Dilakukan dimana saja suatu tindakan manipulasi terhadap ternak !
4. Tindakan manipulasi pada ternak ruminansia dilakukan untuk apa saja !
5. Apa keuntungan dengan manipulasi nutrisi yang dilakukan pada ternak babi !

JAWABAN TEST FORMATIF


1. Manipulasi proses nutrisi pada ternak merupakan suatu upaya manusia untuk
merekayasa perolehan nutrisi bagi ternak dengan tujuan terjadi peningkatan dalam
produktivitas.
2. Tujuan manipulasi nutrisi adalah memperbaiki produktivitas ternak melalui
penataan ransum dengan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi pada ternak sesuai
fase pertumbuhannya.
3. Manipulasi ransum dilakukan pada berbagai pola pemeliharaan ternak, seperti
pemeliharaan ternak secara bebas di alam, setengah bebas (semi intensif), maupun
secara intensif dipelihara dalam kandang.
4. Untuk mengoptimalkan proses fermentasi dalam lambung bagian depan
khususnya rumen serta juga dilakukan untuk penerimaan nutrisi pada lambung
bagian belakang.
5. Sistem pencernaannya yang seimbang antara monogastrik dan ruminan membawa
keuntungan tersendiri bagi ternak babi dalam kemampuannya mengkonsumsi
pakan.

DAFTAR PUSTAKA

168
Kearl, L.C. 1982. Nutrient Requirements of Ruminants in Developing Countries.
International Feedstuffs Institute, Utah Agricultural Experiment Station, Utah
State University, Logan, Utah.

Preston, T.R. and R.A. Leng. 1987. Matching Ruminant Production Systems With
Available Resources in the Tropics and Sub-Tropics. Penambul Books, Armidale,
Australia.

Ranjhan, S.K. 1980. Animal Nutrition in Tropics. Vikas Publishing House.


PVT.LTD. India.

Sutardi, T. 1980. Landasan Ilmu Nutrisi. Jilid I. Departemen Ilmu Makanan


Ternak. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

Tillman, A.D., H. Hartadi., S. Reksohadiprodjo., S. Prawirokusumo dan S.


Lebdosoekojo. 1986. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada
University Press. Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada.

Williams, I.H. 1982. Growth and Energy. In Nutrition and Growth Manual. Editor by
H. Lloyd Davies. Australian Universities, International Development Program
(AUIDP), formerly known as the Australian-Asian and Universities Co-
operation Scheme (AAUCS), Melbourne, Australia.

169