Anda di halaman 1dari 5

117

TEKNIK SELF-TALK UNTUK MENGURANGI KECEMASAN PADA LANSIA


DENGAN GANGGUAN CEMAS MENYELURUH
Mariya Manna
Jurusan Mapro Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Mariyamanna51@gmail.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk melihat efek penerapan terapi self-talk untuk mengurangi kecemasan
pada lansia yang mengalami Gangguan Cemas Menyeluruh. Self-talk adalah suatu teknik yang
digunakan untuk menyangkal keyakinan yang tidak masuk akal dan mengembangkan pemikiran
yang lebih sehat, yang akan menghasilkan self-talk yang lebih positif. Hipotesis dalam penelitian
ini adalah terapi self-talk dapat mengurangi kecemasan pada lansia yang mengalami Gangguan
Cemas Menyeluruh. Subjek dalam penelitian ini adalah seorang lansia perempuan perempuan usia
73 tahun yang mengalami kecemasan setelah berhenti dari rutinitas pekerjaannya. Penelitian ini
dilakukan dengan metode eksprerimen selama satu minggu. Rancangan eksperimen yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Single Case Design dengan rancangan A-B-A. Penurunan
gejala dievaluasi dengan menggunakan metode SUDs rating scale yaitu subjek mampu melakukan
rating pada ketakutannya. Hasil menunjukkan subjek mengalami penurunan kecemasan dari rating
10 menjadi 5-4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan terapi self-talk dapat mengurangi
kecemasan pada lansia yang mengalami Gangguan Cemas Menyeluruh.
Kata kunci: Gangguan Cemas Menyeluruh, terapi Self-Talk, Lansia

Gangguan anxietas lebih banyak terjadi pada lansia rumahnya. 7 bulan yang lalu subjek memutuskan
dibanding depresi. Penyebab gangguan anxietas untuk berhenti berjualan karena subjek merasa
mencerminkan beberapa kondisi ketika memasuki usianya sudah tua dan sudah waktunya untuk
usia tua (Fisher& Noll, 1996). Masalah kecemasan beristirahat. Namun, beberapa bulan terakhir subjek
sering kali dihubungkan dengan penyakit medis merasa takut, bingung dan gelisah jika di rumah
dan dapat merupakan reaksi atas kekhawatiran sendirian, padahal sebelumnya tidak. Semakin lama
menderita sakit dan menjadi lemah (Heidrich, perasaan takut yang dialami subjek semakin tidak
1993). Gangguan anxietas pada usia tua dapat bisa dikendalikan ketika di rumah tidak ada orang.
merupakan kelanjutan atau kekambuhan dari Karena. Agar subjek tidak merasa takut, akhirnya
masalah yang terjadi pada masa usia terdahulu, atau subjek mencoba berjualan lagi di pasar. Namun,
dapat terjadi pertama kalinya pada usia tua (Kessler perasaan takut dan gelisah itu masih saja ada ketika
dkk., 1994). subjek berada di rumah sendirian. Untuk
Pola asuh yang otoriter dari ayahnya dan mengurangi gejala gangguan cemas menyeluruh
pengalaman hidup yang dialaminya membuat yang dialami oleh subjek, subjek bersedia
klien meiliki kepribadian yang mandiri, menjalankan terapi self-talk yang diberikan oleh
cenderung kaku, mudah tertekan dan mudah terapis. Rumusan masalah penelitian ini adalah
sebagai berikut: Apakah terapi self-talk dapat
merasa ketakutan. Perubahan dalam hidup juga
mengurangi kecemasan pada lansia yang
sangat mempengaruhi keadaan psikologis
mengalami Gangguan Cemas Menyeluruh terapi
klien. Subjek memiliki beberapa pengalaman yang musik instrumental. Tujuan dari penelitian ini
membuat subjek tidak bahagia dalam adalah untuk mengetahui Apakah terapi self-talk
pernikahannya. Selain itu, 3 tahun yang lalu subjek dapat mengurangi kecemasan pada lansia yang
pernah mengalami luka bakar di daerah dadanya. mengalami Gangguan Cemas.
Peristiwa tersebut sangat mempengaruhi keadaan Individu yang menderita GAD terus menerus
psikologis subjek. Saat mengalami luka bakar, merasa cemas, sering kali tentang hal-hal kecil.
subjek merasa takut lukanya tidak akan sembuh Sebagian besar di antara kita dari waktu ke waktu
hingga subjek tidak bisa tidur dimalam hari dan memiliki kekhawatiran. Namun, pasien yang
menjadi gelisah. Subjek sehari-hari bekerja menderita GAD memiliki kekhawatiran kronis.
berjualan sembako di pasar yang berjarak 2 km dari Mereka menghabiskan sangat banyak waktu untuk

Prosiding Seminar Nasional & Call Paper Psikologi Sosial 2019


PSIKOLOGI SOSIAL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0:
PELUANG & TANTANGAN
Fakultas pendidikan Psikologi, Aula C1, 4 Mei 2019
118

menghawatirkan banyak hal dan menganggap Pemikiran utama pandangan ini adalah gangguan
kekhawatiran mereka sebagai sesuatu yang tidak tersebut disebabkan oleh proses-proses berpikir
dapat di kontrol (Ruscio, Borkovek, Ruscio, 2001). yang menyompang. Orang-orang yang menderita
Kekhawatiran yang paling sering di rasakan oleh GAD sering kali salah mempersepsi kejadian-
para pasien GAD adalah kesehatan mereka dan kejadian biasa, seperti menyebrang jalan sebagai
masalah sehari-hari. Pedoman diagnostic Anxiety hal yang mengancam dan kognisi mereka terfokus
berdasarkan DSM V, yaitu: 1. Kecemasan dan pada antisipasi berbagai bencana pada masa
kekhawatiran (kegelisahan pada harapan) yang mendatang (Beck dkk, 1987). Perhatian para psien
berlebihan, terjadi lebih dari sehari atau GAD mudah terarah pada stimuli yang
berlangsung selama enam bulan, 2. Terjadi pada mengancam, terlebih lagi pasien GAD lebih terpicu
berbagai setting kehidupan seperti ditempat kerja untuk mengonterpretasi stimuli yang tidak jelas
atau di sekolah bahkan di rumah tinggal sekalipun, sebagai sesuatu yang mengancam (Mogg, Millar &
3. Individu kesulitan untuk mengendalikan Bradley 2000; Thayer dkk., 2000). Sensitivitas
kecemasan, 4. kecemasan ditandai dengan tiga pasien GAD yang sangat tinggi terhadap stimuli
simptom dari enam simptom: Gangguan tidur, yang mengancam juga muncul walaupun bila
Mudah merasa kelelahan, Sulit konsentrasi, Mudah stimuli tersebut tidak dapat diterima secara sadar
marah, Ketegangan otot, Perasaan tidak berdaya., (Bradley, dkk., 1995).
5. Kecemasan, kekhawatiran atau simptom- 3. Pandangan Biologis
simptom fisik secara klinis disebabkan adanya Beberapa studi mengindikasikan bahwa GAD dapat
distress yang signifikan atau gangguan fungsi memiliki komponen genetik. GAD sering
sosial, okupasional dan area penting lainnya, 6. ditemukan pada orang-orang yang memiliki
Tidak adanya gangguan yang menyertai, hubungan keluarga dengan penderita gangguan ini,
mempengaruhi fisik (seperti penyalahgunaan zat, dan terdapat kesesuaian yang lebih tinggi diantara
pengobatan) atau kondisi medis yang lain (seperti kembar MZ dibanding kembr DZ. Namun, tingkat
hipertiroid), 7. Gangguan kecemasan lainnya komponen genetik ini tampaknya rendah (Hettema,
adalah kecemasan yang tidak terbatas pada M. Neale, & Kendler, 2000).
lingkungan tertentu saja, terdiri dari gangguan Self-talk adalah suatu teknik yang digunakan untuk
panik, gangguan cemas menyeluruh, gangguan menyangkal keyakinan yang tidak masuk akal dan
kecemasan penyakit, gangguan gabungan dari mengambangkan pemikiran yang lebih sehat, yang
konsidi kecemasan dan depresi. Etiologi Gangguan akan menghasilkan self-talk yang lebih positif.
Anxietas Menyeluruh Seseorang dapat menggunakan 2 macam self-talk,
1. Pandangan Psikoanalisis yaitu self-talk positif dan self-talk negatif. Self-talk
Pandangan Psikoanalisis berpendapat bahwa positif yaitu self-talk yang dapat membuat
sumber kecemasam menyeluruh adalah konflik seseorang untuk sangat mungkin tetap termotivasi
yang tidak disadari antara ego dan impuls-impuls untuk mencapai tujuan mereka (Pearson, 2000).
id. Impuls-impuls tersebut yang biasanya bersifat Self-talk negatif sering kali bersifat self-defeating
seksual atau agresif, berusaha untuk dan menceah subjek membaik atau sukses (Egan,
mengekspresikan diri, namun ego tidak 2010) serta didomonasi oleh pesimisme dan
membiarkannya karena tanpa disadari mereka kecemasan (Pearson, 2000).
merasa takut terhadap hukuman yang akan Sebuah metode empat langkah populer untuk
diterima. Karena sumber kecemasan tidak disadari, mengurangi self-talk negati disebut metode
individu terkait mengalami kecemasan dan distres Countering (M.E. Young, 2013). Dalam langkah
tanpa diketahui mengapa demikian. Tidak ada cara pertama, tujuannya adalah untuk mendeteksi dan
lain untuk menghindari kecemasan. Dengan mendiskusikan self-talk negatif. Dalam langkah
demikian orang tersebut hampir setiap hari kedua, tujuannya adalah untuk memeriksa apa
mengalami kecemasan. Pasien dengan fobia maksud self-talk negatif dan mengeksplorasi self-
kecemasannya dialihkan ke objek atau situasi talk negatif subjek. langkah ketiga yaitu konselor
tertentu, yang kemudian dapat dihindarinya. Orang membantu subjek mengembangkan counters atau
dengan GAD tidak mengembangkan tipe pernyataan-pernyataan yang ditujukan kepada
pertahanan tersebut sehingga selalu merasa cemas. dirinya yang tidak compatibel dengan pikiran itu
2. Pandangan Kognitif-Behavioral (M.E. Young, 2013). Counters yang paling efektif
melawan keyakinan yang tidak masuk akal dan

Prosiding Seminar Nasional & Call Paper Psikologi Sosial 2019


PSIKOLOGI SOSIAL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0:
PELUANG & TANTANGAN
Fakultas pendidikan Psikologi, Aula C1, 4 Mei 2019
119

konsisten dengan nilai-nilai subjek. angkah terakhir scale untuk mengamati perilaku cemas pada lansia
dari metode countering adalah subjek meninjau sebelum pemberian terapi self-talk.
kembali conters tersebut setelah mempraktikannya. Intervensi (B)
Subjective units of distress scale (SUDS) dapat Kegiatan intervensi yaitu memberikan perlakuan
digunakan untuk mengevaluasi efektivitas counters. terapi self-talk untuk melihat perubahan perilaku
Berdasarkan kajian teori yang telah diuraikan di yang dilakukan secara berulang-ulang dengan
atas, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian melihat hasil pada saat intervensi. Pada penelitian
sebagai berikut: ―Terapi self-talk dapat mengurangi ini terapi saat ini, perlakuan yang diberikan dengan
kecemasan pada lansia yang mengalami Gangguan terapi self-talk dilakukan sebanyak 5 kali setiap
Cemas Menyeluruh‖ kali cemas muncul pada subjek dan dilakukan
selama satu minggu.
METODE Baseline -2 (A2)
Pendekatan yang digunakan dalam metode Kegiatan baseline -2 merupakan kegiatan
eksperimen pada penelitian ini ialah menggunakan pengulangan kegiatan baseline -1 yang dimaksud
pendekatan penelitian action research dengan jenis sebagai evaluasi dalam melihat pengaruh
penelitian eksperimen dengan subjek tunggal pemberian intervensi dalam pengendalian perilaku
(Single Subject Research). Variabel penelitian cemas pada subjek. Pelaksanaan baseline-2 peneliti
adalah suatu atribut atau ciri-ciri mengenai sesuatu melakukan observasi dan pengukuran dengan
yang diamati dalam penelitian (Juang S. 2006: 12). metode rating scale untuk mengamati perilaku
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel cemas pada lansia setelah pemberian terapi self-
penelitian yang akan menjadi objek yang akan talk..
diteliti, sebagai berikut : 1. Variabel Bebas (dalam Tempat, waktu dan subjek penelitian
penelitian SSR dibuat dengan nama intervensi/ Tempat Penelitian
perlakuan) yakni pemberian terapi self-talk. 2. Rumah subjek berada disebuah perkampungan
Variabel Terikat (dalam penelitian SSR dikenal yang tidak terlalu padat. Rumah yang ditinggali
dengan nama target behavior/ perilaku sasaran) oleh subjek berukuran 7m x 20m yang terdiri dari 3
yakni Gangguan Cemas Menyeluruh pada Lansia. kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dapur,
Penelitian ini termasuk dalam penelitian kamar mandi dan garasi. Subjek tidur di kamar
eksperimental. Penelitian eksperimen dalam berukuran 3m x 5m dengan 2 tempat tidur.
penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan Dirumahnya subjek tinggal bersama anak
desain eksperimen ulang non-random (non- perempuannya, menantu dan ketiga cucunya.
randomized pretest-postest control group design). Waktu Penelitian
Desain ini merupakan desain eksperimen yang Lamanya pengerjaan penelitian ini yaitu dilakukan
dilakukan dengan prestest sebelum perlakuan selama kurang lebih 3 minggu.
diberikan dan postest setelah perlakuan diberikan. Subjek Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah Subjek yang diambil adalah seorang lansia yang
menggunakan rancangan A - B – A. Pada desain A mengalami Gangguan Cemas Menyeluruh dan
- B – A‘ setelah pengukuran pada kondisi bersedia menjalankan terapi yang akan diberikan.
intervensi (B) pengukuran pada kondisi baseline Teknik Pengumpulan Data
kedua (A2) diberikan. Penambahan kondisi a. Metode Observasi
baseline yang kedua (A2) ini dimaksudkan sebagai Observasi dilakukan peneliti dengan mengamati
kontrol untuk fase intrvensi sehingga dan mencatat perilaku cemas pada subjek.
memungkinkan untuk menarik kesimpulan adanya Observasi dilakukan pada saat subjek berada
hubungan fungsional antara variabel bebas dan sendirian di rumah dan saat berada di toko tempat
variabel terikat. subjek berjualan.
Adapun perincian pelaksanaan penelitian dengan b. Metode Wawancara
menggunakan pendekatan penelitian subjek tunggal Tujuan penggunaan metode wawancara adalah
dengan desain penelitian A – B – A‘ dalam untuk memperoleh informasi terkait perilaku
penelitian ini sebagai berikut: subyek sebelum dan sesudah intervensi..
Baseline -1 (A1) Wawancara diberikan kepada subjek, putra-putri
Kegiatan baseline -1 dalam penelitian ini diadakan subjek, tetangga dan rekan kerja subjek. Hasil
observasi dan pengukuran dengan metode rating

Prosiding Seminar Nasional & Call Paper Psikologi Sosial 2019


PSIKOLOGI SOSIAL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0:
PELUANG & TANTANGAN
Fakultas pendidikan Psikologi, Aula C1, 4 Mei 2019
120

wawancara juga berfungsi memperkuat hasil subjek belum mampu mengatasi perasaan takut
observasi yang telah dilakukan peneliti. tersebut.
2. Deskripsi Data Hasil Intervensi
HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian, sesi intervensi/treatment
Deskripsi Subyek Penelitian dilaksanakan selama 5 kali dalam sehari selama
Subjek dalam penelitian ini adalah lansia satu minggu. Pelaksanaannya subjek dengan
perempuan berusia 73 tahun yang sedang dibantu oleh terapis mampu menemukan self-
mengalami Gangguan Cemas Menyeluruh. Subjek talk positifnya. Ketika cemas subjek mampu
dapat dideskripsikan sebagai berikut: mengatakan self-talk positif sebanyak 5 kali dan
Tabel 1. Identitas Subjek diakhiri dengan tarik nafas dalam melalui
Nama DJ
hidung dan menghembuskannya pelan melalui
Tempat Tanggal Mojokerto, 6 Mei 1945
mulut kemudian subjek diminta untuk minum
Lahir
Usia 73 tahun
air putih agar membantunya lebih tenang.
Jenis Kelamin Perempuan Subjek mampu menyelesaikan proses terapi
Agama Islam sesuai dengan rancangan intervensi dan waktu
Pendidikan SD (tidak sampai tamat) yang telah ditetapkan.
terakhir 3. Deskripsi pelaksanaan Baseline-2 (Kemampuan
Anak Ke 2 dari 7 bersaudara Akhir Subjek Setelah Penerapan Intervensi)
Status Janda Pada fase baseline-2 ini dilaksanakan dengan
Perkawinan tujuan ingin mengetahui bagaimana pengaruh
terapi self-talk terhadap gangguan cemas lansia.
Karakteristik Subjek Saat subjek diminta untuk meninjau kembali
Subjek seorang wanita yang memiliki tinggi badan rasa cemas dengan bantuan terapis dengan
155 cm dengan berat badan 55 kg. Subjek memiliki menggunakan Subjective units of distress scale
perawakan kecil dan terkesan kurus. Berkulit putih (SUDS) dapat digunakan untuk mengevaluasi
dan berkacamata. Dalam kesehariannya subjek efektivitas counters. Hasil yang didapatkan
selalu memakai jarik dan kebaya yang biasa setelah subjek menjalani terapi ketakutannya
dipakai orang tua dahulu. menjadi berkurang yaitu berada di angka 5-4.
Subjek memiliki orientasi yang cukup baik pada Hal ini menggambarkan bahwa teknik self-talk
waktu, tempat dan orang. Subjek mampu dapat mangurangi rasa cemas pada lansia.
mengingat hari, tanggal dan jam dengan baik.
Subjek juga masih mampu mengingat dan PENUTUP
menceritakan peristiwa yang telah dialaminya Simpulan
dengan cukup baik. Subjek dapat bercerita dengan Berdasarkan hasil yang dipaparkan dapat
alur tidak berpindah-pindah dan mampu menjawab disimpulkan bahwa terapi self-talk dapat
pertanyaan dengan konsisten. mengurangi kecemasan pada lansia yang
Deskripsi Data Hasil Penelitian mengalami Gangguan Cemas Menyeluruh.
1. Deskripsi Data Hasil Baseline -1 ( Kecemasan Saran
Subjek Sebelum Dilakukan Intervensi) a. Untuk Subjek
Data baseline-1 diperoleh dari hasil observasi Memotivasi subjek untuk selalu menanamkan self-
dan wawancara yang dilakukan peneliti talk positif pada diri subjek agar pikiran-pikiran
terhadap perilaku cemas pada subjek saat yang irrasional tidak akan sempat dirasakan oleh
berada sendirian di rumah. Saat subjek diminta subjek sehingga subjek tidak merasakan takut lagi.
untuk meninjau rasa cemas dengan bantuan Selain itu, sebaiknya subjek juga mengikuti
terapis dengan menggunakan Subjective units kegiatan sosial di lingkungan rumahnya untuk
of distress scale (SUDS) dapat digunakan untuk memperluas wawasan dan hubungan sosial subjek.
mengevaluasi efektivitas counters. Hasil yang b. Untuk keluarga subjek
didapatkan pada rating awal melalui proses Keluarga sebaiknya meluangkan waktu untuk
wawancara, rasa takut subjek berada pada skala menemani dan mendengarkan keluhan-keluhan
10. Hal ini berarti subjek masih sangat merasa subjek serta memotivasi subjek agar selalu berpikir
takut jika berada di rumah sendiri dan diri positif menjalani kehidupannya. Selain itu keluarga
bisa sesekali mengajak subjek untuk menyegarkan

Prosiding Seminar Nasional & Call Paper Psikologi Sosial 2019


PSIKOLOGI SOSIAL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0:
PELUANG & TANTANGAN
Fakultas pendidikan Psikologi, Aula C1, 4 Mei 2019
121

dan merelaksasi pikiran subjek serta mendorong Surabaya: Pusat Penerbitan dan Percetakan
subjek untuk selalu beraktifitas setiap hari dan UNAIR, Airlangga University Press.
mengikuti kegiatan sosial di lingkungan rumahnya. Marialiwun., 2014.Kecemasan Pada Lansia.
Available from:
DAFTAR PUSTAKA file:///E:/PKPPq/KECEMASAN%20PADA%2
0LANSIA%20_%20marialiwun.html
APA. Enuresis non organic. Dalam: DSM-5 Fifth
Edition. 2013 Maslim, Rusdi. Diagnosis Gangguan Jiwa
(Rujukan dari PPDGJ III dan DSM 5). Bagian
Davinson, Gerald C., Neale, John M., Kring, M Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya
Ann. 2010. Psikologi Abnormal edisi ke 9. Jakarta. 2013
Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada
Sarwindah, Dwi. Diktat Kuliah: Psikodiagnostik
Erford, Bradley T., 2017. 40 Teknik yang harus VIII (TAT & CAT). Fakultas Psikologi
Diketahui Setiap Konselor (Edisi kedua). Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. 2016
Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Maramis, W.F., & Maramis, A.A. 2009. Catatan
Ilmu Kedokteran Jiwa (Edisi Kedua).

Prosiding Seminar Nasional & Call Paper Psikologi Sosial 2019


PSIKOLOGI SOSIAL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0:
PELUANG & TANTANGAN
Fakultas pendidikan Psikologi, Aula C1, 4 Mei 2019