Pengertian Kanker Ovarium
Kanker ovarium adalah terjadinya pertumbuhan sel-sel tidak lazim (kanker)
pada satu atau dua bagian indung telur. Indung telur sendiri merupakan salah satu
organ reproduksi yang sangat penting bagi perempuan. Dari organ reproduksi ini
dihasilkan telur atau ovum, yang kelak bila bertemu sperma akan terjadi
pembuahan (kehamilan). Indung telur juga merupakan sumber utama penghasil
hormon reproduksi perempuan, seperti hormon estrogen dan progesteron.Kanker
ovarium adalah kanker atau tumor ganas yang berasal dari ovarium dengan
berbagai tipe histologi, yang dapat mengenai semua umur.
Anatomi Ovarium
Etiologi
Penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti. Akan tetapi banyak
teori yang menjelaskan tentang etiologi kanker ovarium, diantaranya:
1. Hipotesis incessant ovulation
Teori menyatakan bahwa terjadi kerusakan pada sel-sel epitel ovarium untuk
penyembuhan luka pada saat terjadi ovulasi. Proses penyembuhan sel-sel epitel
yang terganggu dapat menimbulkan proses transformasi menjadi sel-sel tumor.
2. Hipotesis androgen
Androgen mempunyai peran penting dalam terbentuknya kanker ovarium. Hal ini
didasarkan pada hasil percobaan bahwa epitel ovarium mengandung reseptor
androgen. Dalam percobaan in-vitro, androgen dapat menstimulasi pertumbuhan
epitel ovarium normal dan sel-sel kanker ovarium.
Patogenesis
Kanker di ovarium terdiri dari berbagai jenis dan multi kompleks. Hal ini
akan menjadi sulit dalam hal menentukan histogenesisnya. Kanker yang berasal
dari epitel, dimulai dengan adanya inklusi epitel permukaan pada stroma yang
berkembang menjadi kista. Selain itu, letak tumor yang tersembunyi dalam rongga
perut dan sangat berbahaya itu dapat menjadi besar tanpa disadari oleh penderita,
makanya diperlukan stadium kanker agar kita mengetahui seberapa jauh
penyebaran kanker tersebut.
Stadium kanker ovarium ditentukan berdasarkan pemeriksaan sesudah
laparatomi. Penentuan stadium dengan laparatomi lebih akurat, oleh karena
perluasan tumor dapat dilihat dan ditentukan berdasarkan pemeriksaan patologi
( sitologi atau histopatologi ), sehingga terapi dan prognosis dapat ditentukan
lebih akurat.
Stadium tersebut menurut International Federation of Gynecologist and
Obstetricians (FIGO) 1987 sebagai berikut :
Stadium kanker ovarium
Stadium kanker Kategori
ovarium primer
(FIGO, 1987)
Stadium I Pertumbuhan terbatas pada ovarium
Ia Pertumbuhan terbatas pada satu ovarium, tidak ada asites
yang berisi sel ganas, tidak ada pertumbuhan di permukaan
luar, kapsul utuh.
Ib Pertumbuhan terbatas pada kedua ovarium, tidak ada asites
berisi sel ganas, tidak ada tumor di permukaan luar, kapsul
intak.
Ic Tumor dengan stadium Ia atau Ib tetapi ada tumor di
permukaan luar satu atau kedua ovarium, atau dengan kapsul
pecah, atau dengan asites berisi sel ganas atau dengan
bilasan peritoneum positif.
Stadium II Pertumbuhan pada satu atau kedua ovarium dengan
perluasan ke panggul.
IIa Perluasan dan/atau metastasis ke uterus dan/atau tuba.
IIb Perluasan ke jaringan pelvis lainnya.
IIc Tumor stadium IIa atau IIb tetapi dengan tumor pada
permukaan satu atau kedua ovarium, kapsul pecah, atau
dengan asites yang mengandung sel ganas atau dengan
bilasan peritoneum positif.
Stadium III Tumor mengenai satu atau kedua ovarium, dengan bukti
mikroskopik metastasis kavum peritoneal di luar pelvis,
dan/atau metastasis ke kelenjar limfe regional.
IIIa Tumor terbatas di pelvis kecil dengan kelenjar getah bening
negatif tetapi secara histologik dan dikonfirmasi secara
mikroskopik adanya pertumbuhan (seeding) di permukaan
peritoneum abdominal.
IIIb Tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant di
permukaan peritoneum dan terbukti secara mikroskopik,
diameter tidak melebihi 2 cm, dan kelenjar getah bening
negatif.
IIIc Implan di abdomen dengan diameter > 2 cm dan/atau
kelenjar getah bening retroperitoneal atau inguinal positif.
Stadium IV Pertumbuhan mengenai satu atau kedua ovarium dengan
metastasis jauh. Bila efusi pleura dan hasil sitologinya
positif dimasukkan dalam stadium IV. Begitu juga
metastasis ke parenkim liver.
Klasifikasi Kanker Ovarium
Klasifikasi kanker ovarium belum ada keseragamannya, namun tidak ada
perbedaan sifat fundamental. Menurut International Federation of Ginecologic
and Obstetrics (FIGO), kanker ovarium di bagi dalam 3 kelompok besar sesuai
dengan jaringan asal tumor dan kemudian masing-masing kelompok terdiri dari
berbagai spesifikasi sesuai dengan histopatologi:
a. Kanker Berasal dari Epitel Permukaan
Kanker yang berasal dari epitel permukaan merupakan golongan terbanyak
dan sebagian besar 85 % kanker ovarium berasal dari golongan ini. Lebih dari
80% kanker ovarium epitel ditemukan pada wanita pascamenopause di mana pada
usia 62 tahun adalah usia kanker ovarium epitel paling sering ditemui.
Jenis-jenis kanker ovarium epitel permukaan :
1. Karsinoma Serosa
Karsinoma ini merupakan keganasan epitel ovarium yang tersering ditemukan.
Mudah tersebar di kavum abdomen dan pelvis, irisan penampang tumor sebagai
kistik solid. Tumor jenis ini di bawah mikroskop menurut diferensiasi sel kanker
dibagi menjadi diferensiasi baik (benigna) yang memiliki percabangan papilar
rapat, terlihat mitosis, sel nampak anaplastik berat, terdapat invasi intersisial jelas,
badan psamoma relatif banyak. Pada kanker diferensiasi sedang (borderline) dan
buruk (maligna) memiliki lebih banyak area padat, papil sedikit atau tidak ada,
dan badan psamoma tidak mudah ditemukan.
2. Karsinoma Musinosa
Karsinoma jenis ini lebih jarang ditemukan dibanding karsinoma serosa. Sebagian
besar tumor multilokular, padat dan sebagian kistik, di dalam kista berisi musin
gelatinosa, jarang sekali tumbuh papila eksofitik, area solid berwarna putih susu
atau merah jambu, struktur rapat dan konsistensi rapuh. Tumor jenis ini di bawah
mikroskop dibagi menjadi tiga gradasi, di mana yang berdiferensiasi baik dan
sedang memiliki struktur grandular jelas, percabangan papila epitel rapat, terdpat
dinding bersama grandular, atipia inti sel jelas, terdapat invasi intersisial. Pada
kanker diferensiasi buruk struktur grandular tidak jelas, mitosis atipikal bertambah
banyak, produksi musin dari sel sangat sedikit.
3. Karsinoma Endometroid
Kira-kira 20% kanker ovarium terdiri dari karsinoma endometroid. Sebagian besar
tumor berbentuk solid dan di sekitarnya dijumpai kista. Arsitek histopatologi
mirip dengan karsinoma endometrium dan sering disertai metaplasia sel skuamos.
Lebih dari 30 % karsinoma endometroid dijumpai bersama-sama dengan
adenokarsinoma endometrium. Endometroid borderline dan endometroid
adenofibroma jarang dijumpai.
4. Karsinoma Sel Jernih ( Clear Cell Carcinoma )
Tumor ini berasal dari duktus muleri. Pada umumnya berbentuk solid, sebagian
ada juga berbentuk kistik, warna putih kekuning-kuningan. Arsitek histopatologi
terdiri dari kelenjar solid dengan bagian papiler. Sitoplasma sel jernih dan sering
dijumpai hopnail appearance yaitu inti yang terletak di ujung sel epitel kelenjar
atau tubulus.
5. Tumor Brenner
Tumor ini diduga berasal dari folikel. Biasanya solid dan berukuran 5-10 cm dan
hampir bersifat jinak. Tumor ini sering dijumpai insidentil pada waktu dilakukan
histerektomi.
b. Kanker Berasal dari Sel Germinal Ovarium (Germ Cell )
T umor ini lebih banyak pada wanita umur di bawah 30 tahun. Di antaranya:
1. Disgerminoma
Adalah tumor ganas sel germinal yang paling sering ditemukan, ukuran diameter
5-15 cm, berlobus-lobus, solid, potongan tumor berwarna abu-abu putih sampai
abu-abu cokelat dengan potongan mirip ikan tongkol. Kelompok sel yang satu
dengan yang lain dipisahkan oleh jaringan ikat tipis dengan infiltrasi sel radang
limfosit. Gambaran histopatologi mirip dengan seminoma testis pada laki-laki.
Neoplasma ini sensitif terhadap radiasi. Tumor marker untuk disgerminoma
adalah serum Lactic Dehydrogenase (LDH) dan Placental Alkaline Phosphatase
(PLAP).
2. Tumor Sinus endodermal
Berasal dari tumor sakus vitelinus/yock sac dari embrio. Usia rata-rata penderita
tumor sinus endodermal adalah 18 tahun. Berupa jaringan kekuning-kuningan
dengan area perdarahan, nekrosis, degenerasi gelatin dan kistik. Khas untuk tumor
sinus endodermal ini adalah keluhan nyeri perut dan pelvis yang dialami oleh 75%
penderita. Tumor marker untuk tomor sinus endodermal adalah alfa fetoprotein
(AFP).
3. Teratoma Immatur
Angka kejadian mendekati tumor sinus endodermal. Massa tumor sangat besar
dan unilateral, penampang irisan bersifat padat dan kistik, berwarna-warni,
komponen jaringan kompleks, jaringan embrional belum berdiferensiasi
umumnya berupa neuroepitel. Tumor ini mempunyai angka rekurensi dan
metastasis tinggi, tapi tumor rekuren dapat bertransformasi dan immatur ke arah
matur, regularitasnya condong menyerupai pertumbuhan embrio normal. Tumor
marker untuk teratoma immatur adalah alfa fetoprotein (AFP) dan chorionic
gonadotropin (HCG).
4. Teratokarsinoma
Sangat ganas, sering disertai sel germinal lain, AFP dan HCG serum dapat positif.
Massa tumor relatif besar, berkapsul, sering ditemukan nekrosis berdarah. Di
bawah mikroskop tampak sel primordial poligonal membentuk lempeng, pita dan
sarang, displasia menonjol, mitosis banyak ditemukan, nukleus tampak vakuolasi,
22
intrasel tampak butiran glasial PAS positif.
c. Kanker Berasal dari Stroma Korda Seks Ovarium (Sex Cord Stromal)
Tumor yang berasal dari sex cord stromal adalah tumor yang tumbuh dari
satu jenis. Kira-kira 10% dari tumor ganas ovarium berasal dari kelompok ini.
Pada penderita tumor sel granulosa, umur muda atau pubertas terdapat keluhan
perdarahan pervagina, pertumbuhan seks sekunder antara lain payudara membesar
dengan kolostrum, pertumbuhan rambut pada ketiak dan pubis yang disebut
pubertas prekoks.
1. Tumor Sel Granulosa-teka
Kira-kira 60% dari tumor ini terjangkit pada wanita post menopause, selebihnya
pada anak-anak dan dewasa. Tumor ini dikenal juga sebagai feminizing tumor,
memproduksi estrogen yang membuat penderita “cepat menjadi wanita”.
Arsitektur histopatologinya bervariasi yaitu populasi sel padat. Neoplasma ini
dikategorikan low malignant. Pada endometrium sering dijumpai karsinoma.
2. Androblastoma
Tumor ini memproduksi hormon androgen yang dapat merubah bentuk penderita
menjadi kelaki-lakian atau disebut juga masculinizing tumor. Penyakit ini jarang
dijumpai.
3. Ginandroblatoma
Merupakan peralihan antara tumor sel granulosa dan arrhenoblastoma dan sangat
jarang.
4. Fibroma
Fibroma kadang-kadang sulit dibedakan dengan tekoma. Sering disertai dengan
asites dan hidrotoraks yang dikenal sebagai sindroma Meigh.
Gejala dan keluhan Kanker Ovarium
Pada umumnya , kanker ovarium pada masa awal berkembang cenderung
tanpa gejala. Inilah yang menyebabkan kanker ini sulit diketahui sejak dini. Lebih
dari 70 % penderita kanker ovarum ditemukan sudah dalam usia stadium lanjut.
Biasanya, keluhan utama yang dirasakan oleh penderita kanker ini adalah
sakit di bagian abdominal (perut bawah) yang disertai dengan rasa kembung, sulit
buang air besar, sering buang air kecil dan sakit kepala.
Kalau kanker ovarium ini sudah masuk dalam stadium lanjut, gejalanya pun
bertambah, seperti : Rasa tidak nyaman di bagian perut bawah selama menstruasi
(akibat darah haid yang terlalu deras keluar atau gumpalan darah haid ), rasa
,
kejang di perut, pendarahan lewat vagina yang tidak normal serta nyeri di seputar
kaki.
Lebih lanjut, perempuan dengan tumor stromal akan mengalami gejala
berikut akibat dari pengaruh hormon estrogen dan progesteron, seperti terjadi
pendarahan padahal sudah menopause, terlalu cepat mendapat menstruasi,
payudara cepat membesar pada remaja, menstruasi terhenti dan adanya
pertumbuhan rambut di muka dan tubuh.
Tanda paling penting adanya kanker ovarium adalah ditemukannya massa
tumor di pelvis. Bila tumor tersebut padat, bentuknya irreguler dan terfiksir ke
dinding panggul, keganasan perlu dicurigai. Bila di bagian atas abdomen
ditemukan juga massa dan disertai asites, keganasan hampir dapat dipastikan.
Faktor Risiko Kanker Ovarium
a. Faktor Genetik
Riwayat keluarga merupakan faktor penting dalam memasukkan
apakah seorang wanita memiliki risiko terkena kanker ovarium. Pada umumnya
kanker ovarium epitel bersifat sporadis, 5-10 % adalah pola herediter atau
familial. Risiko seorang wanita untuk mengidap kanker ovarium adalah sebesar
1,6 %. Angka risiko pada penderita yang memiliki satu saudara sebesar 5 % dan
akan meningkat menjadi 7 % bila memiliki dua saudara yang menderita kanker
ovarium.
Menurut American Cancer Society (ACS), sekitar 10 % penderita kanker
ovarium ternyata memiliki anggota keluarga yang terkena penyakit yang sama.
Umumnya, pasien yang memiliki sejarah keluarga yang menderita kanker akibat
gen mutasi BRCA1 dan BRCA2 memiliki risiko sangat tinggi menderita kanker
ovarium dan diperkirakan mencapai 50-70 % pasien kanker ovarium. Risiko
kejadian kanker ovarium meningkat sesuai dengan pertambahan usia.
b. Usia
Kanker ovarium pada umumnya ditemukan pada usia di atas 40 tahun.
3
Angka kejadian akan meningkat semakin bertambahnya usia. Angka kejadian
kanker ovarium pada wanita usia di atas 40 tahun sekitar 60% penderita,
sedangkan pada wanita usia lebih muda sekitar 40%. Mayoritas kanker ovarium
muncul setelah seorang perempuan melewati masa menopause. Di Amerika
Serikat, insiden usia rata-rata kanker ovarium frekuensi tertinggi berada pada
rentang umur 40-44 tahun, di mana dari 15-16 per 100.000 wanita berusia tersebut
merupakan penderita kanker ovarium.
c. Paritas
Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang dipunyai oleh seorang
wanita. Penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan paritas yang tinggi
memiliki risiko terjadinya kanker ovarium yang lebih rendah daripada nulipara,
yaitu dengan risiko relatif 0,7.
d. Faktor Hormonal
Penggunaan hormon eksogen pada terapi gejala yang berhubungan dengan
menopause berhubungan dengan peningkatan risiko kanker ovarium baik dari
insiden maupun tingkat mortalitasnya. Peningkatan risiko secara spesifik terlihat
pada wanita dengan penggunaaan hormon estrogen tanpa disertai progesteron
karena peran progesteron yaitu menginduksi terjadinya apoptosis sel epitel
ovarium. Pada kehamilan, tingginya kadar progesteron akan membantu
menurunkan risiko tumor ganas ovarium.
Hormon lain yang juga mempengaruhi tingginya angka kejadian kanker
ovarium yaitu hormon gonadotropin di mana fungsinya untuk pertumbuhan.
Menurut teori yang melakukan percobaan kepada binatang di mana pada
percobaan ini ditemukan bahwa jika kadar estrogen rendah di sirkulasi perifer
maka kadar hormon gonadotropin meningkat. Peningkatan kadar hormon
gonadotropin ini ternyata berhubungan dengan semakin besarnya tumor ovarium
pada binatang percobaan tersebut.
Penekanan kadar androgen juga dapat mempengaruhi kejadian kanker
ovarium. Hal ini berkaitan dengan teori yang pertama kali dikemukakan oleh
Risch pada tahun 1998 yang mengatakan bahwa androgen mempunyai peran
penting dalam terbentuknya kanker ovarium karena didasarkan pada bukti bahwa
epitel ovarium mengandung reseptor androgen dan dapat menstimulasi
pertumbuhan epitel ovarium normal serta sel-sel kanker ovarium epitel dalam
kultur sel. Epitel ovarium yang selalu terpapar pada androgenik steroid yang
berasal dari ovarium itu sendiri dan kelenjar adrenal, seperti androstenedion,
dehidropiandrosteron dan testosterone.
e. Faktor Reproduksi
Riwayat reproduksi terdahulu serta durasi dan jarak reproduksi
memiliki dampak terbesar pada penyakit ini. Infertilitas, menarche dini (sebelum
usia 12 tahun), memiliki anak setelah usia 30 tahun dan menopause yang
terlambat dapat juga meningkatkan risiko untuk berkembang menjadi kanker
ovarium.
Pada kanker ovarium, terdapat hubungan jumlah siklus menstruasi yang
dialami seorang perempuan sepanjang hidupnya, di mana semakin banyak jumlah
siklus menstruasi yang dilewatinya maka semakin tinggi pula risiko perempuan
terkena kanker ovarium.
f. Pil Kontrasepsi
Kontrasepsi berarti mengurangi kemungkinan atau mencegah
konsepsi. Penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu masalah kesehatan
reproduksi yang cukup penting pada wanita saat ini. Pada tahun 2005, megacu
kepada United Nation di mana lebih dari 660 juta wanita yang menikah atau hidup
bersama pada usia produktif (15-49 tahun) menggunakan beberapa metode
kontrasepsi dan 450 juta orang menggunakan kontrasepsi oral dan Intrauterina
Devices (IUD).
Penelitian dari Center for Disease Control menemukan penurunan risiko
terjadinya kanker ovarium sebesar 40% pada wanita usia 20-54 tahun yang
memakai pil kontrasepsi, yaitu dengan risiko relatif 0,6. Penelitian ini juga
melaporkan bahwa pemakaian pil kontrasepsi selama satu tahun menurunkan
risiko sampai 11%, sedangkan pemakaian pil kontrasepsi sampai lima tahun
menurunkan risiko sampai 50%. Penurunan risiko semakin nyata dengan semakin
lama pemakaiannya.
g. Kerusakan sel epitel ovarium ( Incessant Ovulation )
Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Fathalla tahun 1972, yang
menyatakan bahwa pada saat ovulasi, terjadi kerusakan pada sel-sel epitel
ovarium. Untuk penyembuhan luka yang sempurna diperlukan waktu. Jika
sebelum penyembuhan tercapai terjadi lagi ovulasi atau trauma baru, proses
penyembuhan akan terganggu dan tidak teratur sehingga dapat menimbulkan
proses transformasi menjadi sel-sel tumor.
h. Obat-Obat yang Meningkatkan Kesuburan (Fertility Drugs )
Obat-obat yang meningkatkan fertilitas seperti klomifen sitrat, yang
diberikan secara oral, dan obat-obat gonadotropin yang diberikan dengan suntikan
seperti follicle stimulating hormone (FSH), kombinasi FSH dengan Luteinizing
hormone (LH), akan menginduksi terjadinya ovulasi atau multiple ovulasi.
Menurut hipotesis incessant ovulation dan hipotesis gonadotropin, pemakaian
obat penyubur ini jelas akan meningkatkan risiko relatife terjadinya kanker
ovarium.
i. Terapi Hormon Pengganti pada Masa Menopause
Pemakaian terapi hormon pengganti pada masa menopause
(menopausal hormon therapy = MHT) dengan estrogen saja selama 10 tahun
meningkatkan risiko relative 2,2. Sementara itu, jika masa pemakaian MHT
selama 20 tahun atau lebih risiko relatif meningkat menjadi 3,2. Pemakaian MHT
dengan estrogen yang kemudian diikuti dengan pemberian progestin, ternyata
masih menunjukkan meningkatnya risiko relatife menjadi 1,5. Oleh karena itu,
MHT, khususnya dengan estrogen saja, secara nyata meningkatkan risiko relatif
terkena kanker ovarium.
j. Penggunaan Bedak Tabur
Penggunaan bedak tabur langsung pada organ genital atau tissue
pembersih bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) terhadap ovarium. Selain
itu, bedak tabur juga mengandung asbes yaitu bahan mineral penyebab kanker.
Pencegahan Kanker Ovarium
A. Pencegahan Primer
Pencegahan primer yaitu upaya mempertahankan orang yang sehat agar
tetap sehat atau mencegah orang sehat menjadi sakit. Upaya pencegahan primer
dapat dilakukan dengan pemberian informasi mengenai kanker ovarium, upaya
pencegahan seperti :
1. Pemakaian pil pengontrol kehamilan
Menurut ACS, perempuan yang menggunakan alat kontrasepsi secara oral
(pil KB) untuk tiga sampai lima tahun diperkirakan mengurangi risiko terkena
kanker indung telur hingga 30 sampai 50 persen lebih rendah.
2. Operasi sterilisasi atau hysterectomy (pengangkatan rahim)
Dari penelitian ACS, operasi sterilisasi, berupa pengikatan saluran indung
telur untuk mencegah kehamilan, mengurangi 67 persen risiko terkena kanker
indung telur. Sementara untuk pengangkatan rahim, memang terbukti efektif
untuk mencegah kanker rahim.
3. Diet
Gaya diet yang memperbanyak makan sayuran, terbukti mengurangi risiko
terkena kanker indung telur. Apalagi, jika anda membatasi konsumsi daging dan
makanan yang mengandung lemak jenuh.
4. Olahraga
Para penelitian, membuktikan olahraga ringan hingga sedang, namun
dilakukan rutin (minimal 3 kali dalam seminggu dengan waktu olahraga minimal
15 menit) dapat meningkatkan kekebalan tubuh, memperbanyak antioksidan dan
mengurangi risiko kegemukan. Semua akibat baik dari olahraga itu penting untuk
menjaga kesehatan, termasuk mencegah terkena kanker.
B. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder bertujuan untuk menghambat progresifitas
penyakit, pencegahan ini dapat dilakukan dengan diagnosa dini dan pengobatan
yang tepat. Diantaranya :
1. Diagnosis Kanker Ovarium
1.1. Operasi
Tindakan operasi dilakukan sangat tergantung dari kondisi kesehatan pasien
dan sejauh mana kanker itu telah menyebar dalam tubuh. Di bawah ini ada
contoh-contoh operasi yang kerap dilakukan untuk menghentikan penyebaran
kanker ovarium, yaitu:
a. Unilateral oophorectomy
b. Bilateral oophorectomy
c. Bilateral salpingectomy
d. Unilateral dan bilateral salpingo-oophorectomy
e. Radical hysterectomy
f. Cytoreduction
1.2. Kemoterapi
Merupakan perawatan dengan obat-obatan untuk membunuh sel kanker.
Obat-obatan kemoterapi di masukkan langsung ke jaringan pembuluh darah atau
diminum. Kemoterapi ini juga penting untuk mencegah kanker menyebar ke
organ tubuh lainnya. Untuk penderita kanker ovarium yang menyerang sel epitel,
biasanya diperlukan 6 kali kemoterapi dengan jarak satu kemoterapi dengan
kemoterapi yang lainnya yaitu 3-4 minggu.
1.3. Terapi radiasi
Gunanya untuk membunuh sel penular dengan menggunakn sinar radiasi
tinggi. Walaupun pengobatan ini efektif untuk kebanyakan jenis kanker tapi
jarang digunakan pada pengobatan kanker indung telur.
1.4. Ultrasonografi (USG)
USG adalah cara pemeriksaan invasif yang lebih murah. Dengan USG dapat
secara tegas dibedakan tumor kistik dengan tumor yang padat. Pada tumor dengan
bagian padat (echogenik) persentase keganasan makin meningkat. Sebaliknya,
pada tumor kistik tanpa ekointernal (anechogenic) kemungkinan keganasan
menurun.
Pemakaian USG transvaginal (transvaginal color flow doppler) dapat
meningkatkan ketajaman diagnosis karena mampu menjabarkan morfologi tumor
ovarium dengan baik. Pemakaian USG transvaginal color Doppler dapat
membedakan tumor ovarium jinak dengan tumor ovarium ganas.
1.5. Computed Tomography Scanning (CT-Scan)
Pemakaian CT-Scan untuk diagnosis tumor ovarium juga sangat
bermanfaat. Dengan CT-Scan dapat diketahui ukuran tumor primer, adanya
metastasis ke hepar dan kelenjar getah bening, asites, dan penyebaran ke dinding
perut.
CT-Scan kurang disenangi karena (1) risiko radiasi, (2) risiko reaksi alergi
terhadap zat kontras, (3) kurang tegas dalam membedakan tumor kistik dengan
tumor padat, dan (4) biaya mahal.
1.6. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Jika dibandingkan dengan CT-Scan, MRI tidak lebih baik dalam hal
diagnostic, menggambarkan penjalaran penyakit, dan menentukan lokasi tumor di
abdomen atau
Pelvis.
2. Penatalaksanaan Medis Kanker Ovarium
Penatalaksanaan kanker ovarium sangat ditentukan oleh stadium,
derajat diferensiasi, fertilitas, dan keadaan umum penderita. Pengobatan utama
adalah operasi pengangkatan tumor primer dan metastasisnya, dan bila perlu
diberikan terapi adjuvant seperti kemoterapi, radioterapi (intraperitoneal
radiocolloid atau whole abdominal radiation), imunoterapi/terapi biologi, dan
terapi hormon.
2.1. Penatalaksanaan operatif kanker ovarium stadium 1
Pengobatan utama untuk kanker ovarium stadium I adalah operasi yang
terdiri atas histerektomi totalis prabdominalis, salpingooforektomi bilateralis,
apendektomi, dan surgical staging.
Surgical staging adalah suatu tindakan bedah laparotomi eksplorasi yang
dilakukan untuk mengetahui sejauh mana perluasan suatu kanker ovarium dengan
melakukan evaluasi daerah-daerah yang potensial akan dikenai perluasaan atau
penyebaran kanker ovarium. Temuan pada surgical staging akan menentukan
stadium penyakit dan pengobatan adjuvant yang perlu diberikan.
1. Sitologi
Jika pada surgical staging ditemukan cairan peritoneum atau asites, cairan tersebut
harus diambil untuk pemeriksaan sitologi. Sebaliknya, jika cairan peritoneum atau
asites tidak ada, harus dilakukan pembilasan kavum abdomen dan cairan bilasan
tersebut diambil sebagian untuk pemeriksaan sitologi. Penelitian pada kasus-kasus
kanker ovarium stadium IA ditemukan hasil sitologi positif pada 36% kasus,
sedangkan pada kasus-kasus stadium lanjut, sitologi positif ditemukan pada 45%
kasus.
2. Apendektomi
Tindakan apendektomi yang rutin masih controversial. Metastasis ke apendiks
jarang terjadi pada kasus kanker ovarium stadium awal (<4%). Pada kanker
ovarium epithelial jenis musinosum, ditemukan metastasis pada 8% kasus. Oleh
karena itu, apendektomi harus dilakukan secara rutin pada kasus kanker ovarium
epithelial jenis musinosum.
3. Limfadenektomi
Limfadenektomi merupakan suatu tindakan dalam surgical staging. Ada dua jenis
tindakan limfadenektomi, yaitu:
a. Limfadenektomi selektif (sampling lymphadenectomy/selective
lymphadenectomy) yaitu tindakan yang hanya mengangkat kelenjar
getah bening yang membesar saja.
b. Limfadenektomi sistematis (systematic lymphadenectomy)
yaitu mengangkat semua kelenjar getah bening pelvis dan
para-aorta.
2.2. Penatalaksanaan kanker ovarium stadium lanjut (II, III, IV)
Pendekatan terapi pada stadium lanjut ini mirip dengan penatalaksanaan
kasus stadium I dengan sedikit modifikasi bergantung pada penyebaran metastasis
dan keadaan umum penderita. Tindakan operasi pengangkatan tumor primer dan
metastasisnya di omentum, usus, dan peritoneum disebut operasi “debulking” atau
operasi sitoreduksi. Tindakan operasi ini tidak kuratif sehingga diperlukan terapi
adjuvant untuk mencapai kesembuhan.
1. Operasi sitoreduksi
Ada dua teknik operasi sitoreduksi, yaitu:
a. Sitoreduksi konvensional
Sitoreduksi konvensional ini adalah sitoreduksi yang biasa dilakukan, yaitu
operasi yang bertujuan membuang massa tumor sebanyak mungkin
dengan menggunakan alat-alat operasi yang lazim seperti pisau, gunting, dan
jarum jahit.
b. Sitoreduksi teknik baru
Sitoreduksi teknik baru sangat berbeda dengan sitoreduksi konvensional yang
memakai pisau, gunting, dan jarum jahit. Dengan teknik baru tersebut dapat
dilakukan sitoreduksi dari massa tumor yang berukuran beberapa milimeter
sampai hilang sama sekali.
Alat-alat yang digunakan adalah sebagai berikut:
Argon beam coagulator, di mana alat electrosurgical ini mengalirkan arus
listrik ke jaringan dengan menggunakan berkas gas argon. Keuntungan
penggunaan alat ini adalah distribusi energi yang dihasilkan merata terhadap
jaringan dan lebih sedikit mengakibatkan trauma panas dan nekrosis jaringan.
Cavitron ultrasonic surgical aspirator (CUSA), di mana alat ini
menggabungkan tiga mekanisme kerja dalam satu hand-set, yaitu: alat fragmentasi
jaringan (vibrating tip), alat irrigator untuk daerah yang difragmentasi dan alat
aspirator jaringan yang difragmentasi. CUSA bekerja sebagai akustik fibrator
dengan frekuensi 23.000 HZ, yang mengubah energi listrik menjadi energi
mekanik.
Teknik laser.
2. Kemoterapi
Keganasan ovarium tidak dapat disembuhkan tuntas hanya dengan operasi,
kemoterapi anti kanker merupakan tindakan penting yang tidak boleh absent
dalam prinsip terapi gabungan terhadap kanker ovarium, lebih efektif untuk
pasien yang sudah berhasil menjalani operasi sitoreduksi.
3. Radioterapi
Sebagai pengobatan lanjutan umumnya digunakan pada tingkat klinik T1 dan T2
(FIGO: tingkat I dan II), yang diberikan kepada panggul saja atau seluruh rongga
perut. Juga radioterapi dapat diberikan kepada penyakit yang tingkatnya agak
lanjut, tetapi akhir-akhir ini banyak diberikan bersama khemoterapi, baik sebelum
atau sesudahnya sebagai adjuvans, radio-sensitizer maupun radio-enhancer.
Di banyak senter, radioterapi dianggap tidak lagi mempunyai tempat dalam
penanganan tumor ganas ovarium. Pada tingkat klinik T3 dan T4 (FIGO: tingkat
III dan IV) dilakukan debulking dilanjutkan dengan khemoterapi. Radiasi untuk
membunuh sel-sel tumor yang tersisa, hanya efektif pada jenis tumor yang peka
terhadap sinar (radiosensitif) seperti disgerminoma dan tumor sel granulosa.
C. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier bertujuan untuk mengurangi ketidakmampuan dan
mengadakan rehabilitasi supaya penderita dapat melakukan aktivitasnya kembali.
Upaya rehabilitasi dilakukan baik secara fisik atau psikis, seperti dukungan moril
dari orang-orang terdekat terhadap pasien pasca operasi karena dia akan ketakutan
tidak dapat mempunyai anak bagi yang belum memiliki anak. Selain itu, dia akan
merasa kehilangan harga dirinya sebagai seorang wanita.
Manifestasi Klinis
Kanker ovarium tidak menimbulkan gejala pada waktu yang lama. Gejala
umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik.
1. Stadium Awal
a. Gangguan haid
b. Konstipasi (pembesaran tumor ovarium menekan rectum)
c. Sering berkemih (tumor menekan vesika urinaria)
d. Nyeri spontan panggul (pembesaran ovarium)
e. Nyeri saat bersenggama (penekanan / peradangan daerah panggul)
f. Melepaskan hormon yang menyebabkan pertumbuhan berlebihan pada lapisan
rahim, pembesaran payudara atau peningkatan pertumbuhan rambut).
2. Stadium Lanjut
a. Asites
b. Penyebaran ke omentum (lemak perut)
c. Perut membuncit
d. Kembung dan mual
e. Gangguan nafsu makan
f. Gangguan BAB dan BAK
g. Sesak nafas
h. Dyspepsia
Prognosis Untuk Kanker Ovarium
Makin dini kanker ovarium terdeteksi dan ditangani, kemungkinan Anda
untuk bertahan hidup pun akan meningkat. Pasien yang didiagnosis positif
mengidap kanker ovarium diperkirakan memiliki kemungkinan untuk bertahan
hidup selama satu tahun sekitar 70-75 persen. Terdapat lebih dari 45 persen dari
pasien kanker ovarium yang bertahan hidup setidaknya selama lima tahun dan 35
persen selama 10 tahun.
Pengidap kanker ovarium stadium lanjut umumnya tidak bisa
disembuhkan dan tujuan dari penanganannya adalah mengurangi gejala dan
mendorong tumor untuk memasuki masa remisi.
Faktor prognostik
Merupakan faktor yang dapat memberikan gambaran apakah perkembangan
penyakit itu akan baik atau jelek. Meliputi :
a. Stadium.
b. Tipe sel. Tipe seperti clear cell atau tipe adeno (kelenjar), tipe sel
embrional mempunyai prognosis yang jelek.
c. Diferensiasi. Merupakan suatu tingkat pertumbuhan sel yang dapat
dinilai berdasar faktor tertentu (misal pertandukan atau adanya pola
tertentu).Berdasarkan patologi, dapat dibagi menjadi 3 : baik, sedang,
buruk. Diferensiasi baik akan sensitif terhadap terapi yang diberikan
(kemoterapi untuk Ca ovari).
d. Menejemen. Seorang penderita Ca ovari, misal IC (tumor pecah atau
adanya asites). Seharusnya diberi kemoterapi, tapi karena tidak diberi
kemo, maka prognosisnya menjadi buruk.
Faktor resiko yang berpengaruh pada prognosis :
a. Keadaan umum dari pasien. Keadaan yang baik akan sangat
menunjang prognosis
b. Stadium
c. Tipe sel
d. Grade (atau bisa dibilang diferensiasi)
e. Banyak operator yang melakukan operasi secara tidak tuntas, misal
begitu membuka cavum abdominal melihat tumornya lengket2
langsung ditutup lagi (gak kuat mental). Padahal seharusnya dokter
bedah harus diap menghadapi segala kemungkinan bentuk tumor yang
ada.
Prognosis
Cancer statistics often use an ‘overall 5-year survival rate’ to give a better
idea of the longer term outlook for people with a particular cancer. Over half of
women diagnosed with ovarian cancer will not live beyond five years.6 The
overall 5-year survival rate for women with ovarian cancer is 45%. This compares
to a 5-year survival rate of up to 89% in women diagnosed with breast cancer.6, 7
The reasons for this poor prognosis are that there is no effective screening for
ovarian cancer and symptoms can be ambiguous, leading to a high percentage of
cases being diagnosed at an advanced stage when the disease is more difficult to
treat.
8