Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN SKILLS LAB II

BLOK XIX
ANAMNESIS PEMERIKSAAN EKSTRA & INTRA ORAL PASIEN ANAK

DOSEN PEMBIMBING :
drg. Sri Pandu Utami, M. Si

NAMA MAHASISWA

AHMAD MUKHLAS ABROR 1710070110026


MUTHIA SYUKMA PERTIWI 1710070110027
GITA YULIA SUCI 1710070110028
M.RISKI BAIHAQI HARDIANSYAH 1710070110029
HELSA YOFINSZKY 1710070110030
REGINA NORYA UTAMI 1710070110031
DHIA RATU HAFIZA 1710070110032
SITI SANIYYAH YUNUS 1710070110033
DWI RABIANTI 1710070110034
SITI HERDIYANTI 1710070110035
SYAHFITRI INDRALIM 1710070110036
MERRY AYUNDA PUTRI 1710070110037

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS BAITURRAHMAH
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan
karunianya kami dapat menyelesaikan laporan ini. Kami juga mengucapkan
terimakasih yang sebesar-besarnya kepada drg. Sri Pandu Utami, M. Si dan drg. Leny
Sang Surya, MKM sebagai dosen pembimbing yang sudah memberikan kepercayaan
kepada kami untuk menyelesaikan laporan ini.
Proses pembuatan laporan ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh
karena itu, kami juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai media yang materi
maupun gambarnya yang telah kami gunakan sebagai referensi.
Kami menyadari bahwa makalah ini tidaklah luput dari segala kekurangan dan
keterbatasan sehingga masih belum sempurna. Oleh sebab itu, kami mengharapkan
adanya kritik dan saran yang bersifat membangun demi peningkatan kemampuan
penyusunan pada masa yang akan datang
Semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam rangka menambah pengetahuan
kita dan mudah-mudahan makalah ini dapat dipahami oleh semua para pembaca. Kami
mohon maaf yang sebesar-besarnya jika terdapat kata-kata yang kurang berkenan.

Padang, 13 Juni 2020

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

JUDUL
KATA PENGANTAR……………………………………………………………. ii
DAFTAR ISI……………………………………………………………………… iii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………… 1
1.1 Latar Belakang……………………………………………………………. 1
1.2 Tujuan Pembahasan………………………………………………………. 2
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………. 3
2.1 Anamnesis…..…...…………………………………………..……………. 3
2.2 Prosedur Anamnesis ……………………………………………………… 4
2.3 Pemeriksaan intra Oral pada anak………………………………………… 5
2.4 Pemeriksaan Ekstra Oral pada anak………………………………………. 6
2.5 Restorasi Gigi pada anak…………………………………………………. 9
2.6 Perilaku Anak terhadap Perawatan Gigi dan Mulut………………………. 13
2.7 Manajemen Perilaku Mengatasi Kecemasan Anak……………………….. 17
2.8 Cara Menggosok gigi yang baik dan benar……………………………….. 22
2.9 Komunikais Edukasi Informasi ke orang tua pasien……………………… 24
2.10 Dialog Anamnesis Antara Dokter Gigi dan Pasien Anak…………………25
2.11 Analisis Anamnesis Berdasarkan Video…………………………………. 28
BAB IV PENUTUP……………………………………………………………….. 30
3.1 Kesimpulan………………………………………………………………. 30
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………….. 31

iii
BAB I
PENDAHLUAN

1.1 Latar Belakang


Pemeliharaan gigi anak merupakan salah satu komponen penting dalam
mencegah timbulnya permasalahan lebih lanjut pada rongga mulut. Pencegahan
yang dilakukan sejak dini dapat mempertahankan kesehatan gigi dan menjaga
kesehatan struktur rongga mulut. Ilmu Kedokteran Gigi Anak mencakup diagnosis
dan perawatan berbagai penyakit mulut serta kondisi yang ditemukan pada rongga
mulut anak dan remaja termasuk karies, penyakit periodontal, gangguan
mineralisasi, gangguan perkembangan dan erupsi gigi, serta trauma baik pada
anak-anak yang sehat maupun anak-anak dengan kebutuhan khusus.
Dalam melakukan perawatan terhadap pasien anak-anak yang harus di
perhatikan adalah bagaimana perilaku anak menerima suatu perawatan yang
diberikan oleh dokter gigi. Anak-anak memiliki berbagai macam sifat yang di
pengaruhi oleh lingkungan keluarga, masyarakat dan lingkungan praktek dokter
gigi. Perilaku anak tersebut ada kalanya dapat menyulitkan atau mempermudah
dokter gigi dalam melakukan perawatan. Dalam hal ini ada banyak cara yang bisa
dilakukan sehingga penting untuk dokter gigi untuk mengetahui perilaku anak dan
bagaimana cara berkomunikasi dengan anak agar saat melakukan perawatan lebih
mudah.
Dalam profesi kedokteran, komunikasi dokter pasien merupakan salah
satu kompetensi yang harus dikuasai dokter. Komunikasi menentukan
keberhasilan dalam membantu penyelesaian masalah kesehatan pasien. Tidak
mudah bagi dokter untuk menggali keterangan dari pasien karena memang tidak
bisa diperoleh begitu saja. Perlu dibangun hubungan saling percaya yang dilandasi
keterbukaan, kejujuran dan pengertian akan kebutuhan, harapan, maupun
kepentingan masing-masing. Dengan terbangunnya hubungan saling percaya,
pasien akan memberikan keterangan yang benar dan lengkap sehingga dapat
membantu dokter dalam mendiagnosis penyakit pasien secara baik dan memberi

1
obat yang tepat bagi pasien. Pengembangan hubungan dokter pasien secara efektif
yang berlangsung secara efisien, dengan tujuan utama penyampaian informasi atau
pemberian penjelasan yang diperlukan dalam rangka membangun kerja sama
antara dokter dengan pasien (Konsil Kedokteran Indonesia, 2006).
Hubungan yang baik antara dokter dengan pasien mampu mempengaruhi emosi
pasien dalam pengambilan keputusan tentang rencana tindakan selanjutnya. Sikap
profesional seorang dokter ditunjukkan ketika dokter berhadapan dengan tugasnya
dan mampu menghadapi berbagai macam tipe pasien serta mampu bekerjasama
dengan profesi kesehatan yang lain. Proses penggalian riwayat penyakit pasien
oleh dokter disebut dengan anamnesis. Anamnesis adalah proses tanya jawab yang
dilakukan oleh dokter terhadap pasien untuk menggali semua informasi mengenai
keluhan sakit atau kelainan yang diarasakan pasien. Tanya jawab yang dilakukan
dengan bahasa awam yang dimengerti oleh pasien (Arma. 2009).
Anamnesis merupakan bagian dari komunikasi dokter pasien. Penggalian
riwayat penyakit (anamnesis) dapat dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan
kepada pasien (Konsil Kedokteran Indonesia, 2006).

1.2 Tujuan Pembahasan


1. Untuk mengetahui dan menjelaskan bagaimana melakukan anamnesis
kepada pasien anak
2. Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan ekstra oral pada pasien anak
3. Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan intra oral pada pasien anak
4. Untuk mengetahui dan menjelaskan teknik anamnesis pada pasien anak

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Anamnesis Pada Pasien Anak


Anamnesis Untuk menegakkan diagnosis suatu kelainan dalam rongga mulut
perlu keterlibatan berbagai ilmu di bidang kedokteran gigi sekaligus ilmu-ilmu di
bidang Kedokteran Umum, karena rongga mulut merupakan bagian dari tubuh
manusia secara keseluruhan. Sebelum kita sampai ke diagnosis, hal-hal yang perlu
diperhatikan antara lain adalah:
1. Tanda/ gejala penyakit termasuk riwayat terjadinya kelainan/penyakit yang
meliputi riwayat penyakit yang dikeluhkan penderita, riwayat kesehatan
umum penderita, riwayat pengobtan (modern, tradisional, herbal) riwayat
kesehatan gigi sebelumnya, riwayat penyakit yang diderita oleh keluarga
dan riwayat social penderita. Semua factor tersebut harus secara baik dapat
ditarik dari anamnesis (tanya jawab dokter gigi dengan penderita) yang
secara langsung maupun tidak langsung akan 8 mempengaruhi ketepatan
diagnosis dari kelainan/lesi di dalam mulut penderita.
2. Gambaran klinis kelainan, yang meliputi pemeriksaan ekstra maupun intra
oral.
3. Penentuan pemeriksaan penunjang untuk membantu menegakkan
diagnosis yang dapat berupa : pemeriksaan gigi (misalnya: bentuk,
vitalitas, rongten foto, dll) dan medis rutin (pemeriksaan darah,dll) serta
pemeriksaan tambahan seperti biopsi atau pemeriksaan penunjang lain
seperti pemeriksaan darah, swab jamur, atau bakteri.

3
SKENARIO
Seorang anak perempuan bernama siti berusia 6 tahun dibawa orang tuanya ke
klinik dokter gigi dengan keluhan gigi belakang kanan bawah berlubang. pada saat
akan diperiksa, anak tersebut takut dan menolak untuk membuka mulut. menurut ibu,
anak belum pernah ke dokter gigi. Setelah diperiksa dokter gigi ternyata gigi geraham
belakang kanan bawah belakang mengalami kerusakan, tepatnya pada region 74 karies
mesial dan oklusal.
PEMERIKSAAN SUBJEKTIF
Identitas diri
1. Jenis kelamin : perempuan
2. Usia : 6 tahun
Anamnesis
1. Chief complaint (CC) : gigi belakang kanan bawah berlubang
2. Present illness (PI) : gigi tersebut dirasakan sakit bila untuk makan
3. Past dental history (PDH) : pasien belum pernah merasakan sakit
4. Past medical history (PMH) : kondisi anak sehat
5. Family history (FH) :-
6. Social history (SH) :-
PEMERIKSAAN OBJEKTIF
1. Tinggi badan : 128 cm
2. Berat badan : 25 kg
3. Ekstra oral : tidak ada kelainan

2.2 Prosedur Anamnesis


Tujuan anamnesis adalah mengumpulkan informasi sebanyak-
banyaknya mengenai keluhan penderita dan sekaligus membangun kepercayaan
antara dokter gigi dan penderita sehingga dokter giginya dapat mengetahui
harapan yang diinginkan oleh penderita.
Anamnesis meliputi :

4
a. Identitas Penderita : nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan, alamta dan
nomor telepon yang dapat dihubungi.
b. Keluhan yang diderita saat ini, meliputi:
What – Apa yang dirasakan?
When – Kapan kelainan tersebut timbul?
Where – Dimana lokasi kelainan/lesi tersebut (semakin membesar,
semakin sakit, dll)
c. Riwayat kesehatan umum, meliputi: penyakit-penyakit yang pernah
diderita dan pengobatan yang pernah didapat, misalnya 3 tahun yang lalu
didiagnosis menderita diabetes mellitus dan hipertensi dan hingga kini
masih terus mengkonsumsi obat-obatan untuk menurunkan kadar gula
darahnya dan anti hipertensi.
d. Riwayat kesehatan gigi sebelumnya, meliputi: status kebersihan gigi dan
jaringan pendukung gigi, hal ini sekaligus melihat motivasi penderita
dalam melakukan perawatan kesehatan gigi dan mulutnya, yang sedikit
banyak akan mempengaruhi kepatuhan penderita dalam hal pemakaian
obat-obatan yang diberikan.
e. Riwayat keluarga. Hal ini terutama diperlukan pada kelainan/ lesi dalam
mulut yang berhubungan dengan faktor keturunan seperti kanker,
stomatitis aftosa rekuren, penyakit sistemik tertentu, dan lainlain.
f. Riwayat sosial. Hal ini berguna untuk dapat mengetahui profil kehidupan
penderita sehari-hari, seperti kebiasaan makan, kebiasaan merokok , atau
kebiasaan buruk lainnya yang mungkin dapat mempunyai hubungan
dengan terjadinya kelainan/lesi pada penderita.
2.3 Pemeriksaan Intra Oral pada pasien anak
Pemeriksaan inta oral anak
1. Pipi dan pipi bagian dalam
Diperiksa dengan menarik pipi dan bibir akan terlihat mukosa labial
dilanjutkan dengan memeriksa mukosa bukal apakah terdapat
pembengkakan atau perubahan lain.

5
2. Gingiva
Pemeriksaan ginguva meliputi warna, ukuran, bentuk dan konsistensinya.
3. Lidah dan tonsil
Untuk memeriksa lidah anak diminta menjulurkan lidahnya kedepan.
Periksa ukuran, bentuk, warna dan pergerakannya. Daerah dibawah lidah
harus diperiksan karena sering terjadi pembengkakan atau ulserasi yang
dapat mengganggu bila bicara dan sewaktu lidah digerakkan. Selain
menganggu anak berbicara. Dasar lidah diperiksa perlahan-lahan dengan
menggunakan kain kasa yang diletakkan diantara ibu jari dan telunjuk.
Permukaan lidah anak umumnya licin, halus dan papila filiformis relatif
pendek.
4. Tonsil
Untuk memeriksa tonsil, lidah ditekan dengan kaca mulut atau tongue
blade dilihat apakah ada perubahan warna, ulserasi atau pembengkakan.
5. Palatum
Untuk melihat langsung bentuk, warna dan lesi pada jaringan lunak dna
keras palatum, kepala pasien direbahkan kebelakang. Pembengkakan,
kelainan bentuk dan konsistensinya dapat diketahui dengan palpasi.
6. Gigi
Pemeriksaan gigi dengan menggunakan kaca mulut,eskavator dan pinset.
Perlu diketahui apakah ada gigi yang dicabut sebelum waktunya (prematur
loss), gigi yang sudah waktunya tanggal atau gigi persistensi (gigi
penggantinya sudah erupsi tetapi gigi sulung belum tanggal). Gigi
persistensi dan gigi yang mengalami prematur loss akan menganggu
susunan gigi dan perkembangan lengkung rahang (Tim IKGA, 2012).
2.4 Pemeriksaan Ekstra Oral pada pasien anak
Pemeriksaan ekstraoral merupakan pemeriksaan yang dilakukan di
daerah sekitar mulut bagian luar. Meliputi bibir, TMJ, kelenjar limfe, hidung,
mata, telinga, wajah, kepala dan leher. Pemeriksaan ekstraoral dilakukan untuk
mendeteksi adanya kelainan yang dilihat secara visual atau terdeteksi dengan

6
palpasi. Seperti adanya kecacatan, pembengkakan, benjolan luka, cedera, memar,
dan fraktur dislokasi lain sebagainya.
Kesimpulan berdasarkan video
Identitas diri
1. Nama : Siti
2. Jenis kelamin : perempuan
3. Usia : 6 tahun
4. Alamat : Lubuk Minturun, Padang
5. No Rekan Medis : 025609
6. Elemen Gigi : 74
Anamnesis
1. Chief complaint (CC) : gigi belakang kanan bawah berlubang
2. Present illness (PI) : gigi tersebut dirasakan sakit bila untuk
makan
3. Past dental history (PDH) : pasien belum pernah merasakan sakit
4. Past medical history (PMH) : kondisi anak sehat
5. Family history (FH) :-
6. Social history (SH) :-
PEMERIKSAAN OBJEKTIF
Pemeriksaan Ekstra Oral
1. Tinggi badan : 128 cm
2. Berat badan : 25 kg
3. Ekstra oral : tidak ada kelainan
4. Penampakan umum : pasien tampak baik
5. Cara berjalan : Normal
6. Mata : Normal
7. Kulit : Normal
8. Bentuk wajah : Oval
9. Profil wajah : lurus
10. Kelenjar limfa : normal

7
Pemeriksaan Intra Oral
1. Pipi : Nornal
2. Bibir : Tipis
3. Lidah : Normal
4. Tonsil : Normal
5. Palatum : Normal
6. Gingiva : Normal
7. Gigi geligi : Karies region 74
8. OH : Baik
Berdasarakan pemeriksaan klinis gigi 74
1. Elemen gigi : 74
2. Perkusi : (-)
3. Palpasi : (-)
4. Sondase : (+)
5. Mobility : (-)
6. Tes Thermal : (+)

ODONTOGRAM

8
2.5 Restorasi Gigi pada pasien anak
Resin Komposit
Teknik Preparasi Gigi
a. Kavitas kelas 1
Preparasi
1. Untuk preparasi komposit kelas 1 yang besar, mulai dari pit oklusal di
distal gigi.
2. Dengan bur diamond inverted cone, posisikan parallel dengan axis dari
mahkota tersebut.
3. Dengan mempreparasi bagian distal terlebih dahulu kemudian ke mesial,
operator akan mendapat penglihatan yang lebih baik.
4. Buat kedalaman 1,5 mm pada lantai pulpa.
5. Saat central groove dihilangkan, ukuran bukal atau lingual akan semakin
dalam, biasanya sekitar 1,75 mm.
6. Pengurangan ke arah bukal atau lingual bergantung ada besarnya karies.

Buat kedalaman 1,5 mm bur digerakan ke mesial

Teknik restorasi
1. Basahkan permukaan gigi yang akan dietsa
2. Beri etsa menggunakan microbrush, foam sponge, atau applicator tip.
Penggunaan lamanya etsa bergantung cara penggunaan dari pabrik.
3. Gunakan komposit dengan ketebalan 1 hingga 2 mm lalu curing selama
20 hingga 40 detik. Lakukan langkah ini hingga cavitas tertutup.
4. Lakukan countouring 3 menit setelah material mengeras.
5. Contouring menggunakan round carbide bur atau blade finisihing bur.

9
Insersi composite dan curing Countouring dan polishing

b. Kavitas kelas 2
Desain preparasi
1. Preparasi lebih pada kelasi inin lebih membulat, kurang kotak.
2. 2) Hilangkan karies, kerusakan, atau material lama.
3. 3) Hilangkan struktut gig yang rapuh
4. 4) Sudut cavorsurface harus 90 derajat atau lebih besar
Preparasi
1. Preparasi pada bagian oklusal sama seperti preparasi kelas 1
2. Perbedaan utamanya adalah pada bagian proksimal.
3. Gunakan bur diamond no. 330 atau 245 utnuk preparasi pit di permukaan
yang berlawanan dengan proksimal.
4. Bur diposisikan parallel dengan aksis panjang gigi.
5. Preparasi lantai pulpa dengan bur diamond dengan kedalaman 1,5 mm
dari central groove. Setelah central groove dihilangkan, kedalaman facial
atau lingual akan semakin besar, sekitar 1,75 mm.
6. Bur digerakan ke arah proksimal. Usahakan agar lebar faciolingual
berbentuk seperti panah.
7. Jika masih terdapat karies pada lantai pulpa,tambhakn kedalaman hingga
0,2 mm ke arah DEJ.
8. Dindikan oklusal biasanya berbentuk konvergen karena penggunaan bur
inverted.
9. Untuk membuat proksmial box harus berhati hati agar gigi sebelahnya
tidak terkena.

10
10. Tahan bur diamond diatas DEJ dengan ujung dari bur diposisikan untuk
membuat dinding gingival sedalam 0,2 mm kedalam DEJ.
11. Lalu bur digerakan keatah facial dan linguan dan gingival untuk
menghilangkan semua kerusakan, karies atau material lama.
12. Selama proses ini, bur diamond harus dipegang parallel terhadap sumbu
panjang gigi.
13. Gunakan bur yang lebih keciluntuk permukaan cavosruface
Teknik Restorasi
1. Basahkan permukaan gigi yang akan dietsa
2. Beri etsa menggunakan microbrush, foam sponge, atau applicator tip.
Penggunaan lamanya etsa bergantung cara penggunaan dari pabrik.
3. Penggunaan matrix harus berhati hati karena sulit untuk mendapat kontak
proksimal yang baik.
4. Sebelum menggunakan komposit, matrix band harus berkontak dengan
gigi sebelahnya. Matrix digunakan sebelum etsa.
5. Composite Matrix
6. Gunakan komposit dengan kedalaman 1-2 mm lalu curing selama 20-40
detik. Lakukan tahap ini berulang untuk mecegah pengkerutan.
7. Lakukan countouring 3 menit setelah material mengeras.
8. Contouring menggunakan round carbide bur atau blade finisihing bur.

c. Kavitas kelas 3
Desain preparasi
1. Hilangkan restorasi lama.
2. Penempatan groove retentinf, jika perlu. Kedalaman dinding ini biasanya
sekitar 0.75 mm ke arah dentin.
Preparasi
1. Gunakan round bur atau diamond bur, persiapkan bentuk outline di
permukaan.
2. Buat axial wall dengan kedalaman 0.2 m dari DEJ dengan bentuk konveks.

11
3. Preparasi dimulai dari daerah gingival groove pada faciogingioaxial angle
dan berlanjut ke arah gingiviaxial line angle hingga linguogingivoaxial
point angle.
4. Buat retensi dengan bur no. ¼ axioincisal dengan jarak 0.2 mm dari DEJ
dengna kedalaman 0.2 mm
5. Buat bevel untuk mendukung area permukaan.
6. Bevel cavosurface dibuat menggunakan flame-shape dan dibentuk sudut
45 derajat.
7. Hilangkan inected dentin dengan round bur.
Tekinik restorasi
1. Pengunaan etsa bergantung pada ketentuan pabrik.
2. Gunakan microbrush untuk melakukan etsa
3. Penggunaan matriks berguna agar gingival cavosurface tidak fraktur
karena insersi.
4. Gunakan komposit dengan kedalaman 1-2 mm lalu curing selama 20-40
detik. Lakukan tahap ini berulang untuk mecegah pengkerutan.
5. Lakukan countouring 3 menit setelah material mengeras.
6. Contouring menggunakan round carbide bur atau blade finisihing bur.

d. Restorasi kelas 4
Desain preparasi
1. Preparasi dengan bevel biasanya diindikasikan untuk resotarasi kelas 4
yang besar.
2. Untuk meningkatkan retensi, dinding yang dipreparasi perlu dipersiapkan
terhadap kekuatan oklusi. Ini biasanya membutuhkan preparasi dinding
proksimal facial dan lingual dengan sudut 90 derajat.
Preparasi
1. Hilangkan semua bagian yang terkena karies.
2. Bentuk dinding axial dengan kedalaman 0.5 mm dengan bentuk parallel
dengan sumbu panjang gigi.

12
3. Buat buat bevel cavosruface dengan sudut45 derajat dengan flame-shape
atau round bur diamond dengan ketebalan bevel 0.25-2 mm terantung
jumlah struktur gigi yang rusak.
4. Buat retensi dengan menggunakan but b0. ¼ dengan kedalaman 0.25
Restorasi
1. Gunakan strip polyester sebagai matrix
2. Aplikasikan komposit dan disinari dengan light cured sama seperti pada
kelas
e. Restorasi kelas 5
Indikasi
1. Tumpatan yang membutuhkan estetik.
2. Restorasi pada gigi anterior maupun posterior
3. Berada pada 1/3 gingival
Desain preparasi
1. Buat preparasi membentuk seperti ginjal.
2. Enamel margin dibuat bevel.
Preparasi
1. Tapered fissure carbide bur (no. 700,701, atau 271) digunakan pada high-
speed
2. Buat sudut 45 derajat kearah permukaan gigi dengan memutar handpiece
kearah distal.
3. Buat bevel dengan tepi cavosruface 90 derjat.
Restorasi
1. Gunakan strip polyester sebagai matrix
2. Aplikasikan komposit dan disinari dengan light cured sama seperti pada
kelas bentuk preparasi kelas 5
2.6 Perilaku Anak terhadap Perawatan Gigi dan Mulut
Perilaku kesehatan adalah respon seseorang terhadap stimulus yang
berhubungan dengan konsep sehat, sakit, dan penyakit.Sedangkan perilaku
kesehatan gigi adalah pengetahuan, sikap, dan tindakan yang berkaitan dengan

13
konsep sehat dan sakit gigi serta upaya pencegahannya. Bentuk operasional dari
perilaku dapat dikelompokkan menjadi tiga wujud, yaitu
a. Perilaku dalam wujud pengetahuan yakni dengan mengetahui situasi dan
rangsangan dari luar yang berupa konsep sehat, sakit, dan penyakit.
b. Perilaku dalam wujud sikap yakni tanggapan batin terhadap rangsangan
dari luar yang dipengaruhi faktor lingkungan: fisik yaitu kondisi alam;
biologis yang berkaitan dengan makhluk hidup lainnya; dan lingkungan
sosial yang berkaitan dengan masyarakat sekitarnya.
c. Perilaku dalam wujud tindakan yang sudah nyata, yakni berupa perbuatan
terhadap situasi atau rangsangan luar.
Setiap anak yang datang berkunjung ke dokter gigi memiliki kondisi
kesehatan gigi yang berbeda-beda dan akan memperlihatkan perilaku yang
berbeda pula terhadap perwatan gigi yang akan diberikan. Ada anak yang bersikap
kooperatif terhadap perawatan gigi dan ada juga yang menolak untuk dilakukan
pemeriksaan gigi. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, baik dari
internal anak itu sendiri maupun dari eksternal seperti pengaruh orang tua, dokter
gigi, maupun lingkungan klinik gigi.
Klasifikasi perilaku anak menurut White
Pada dasarnya pembagian perilaku yang diajukan oleh White
merupakan penjelasan atas dua klasifikasi perilaku sebelumnya, khususnya
penjelasan atas klasifikasi potensial kooperatif yang masih belum jelas. Klasifikasi
perilaku anak terhadapat perawatan gigi dan mulut menurut White, yaitu:
1. Perilaku kooperatif (Cooperative patient)
Perilaku kooperatif merupakan kunci keberhasilan dokter gigi dalam
melakukan perawatan gigi dan mulut.Anak dapat dirawat dengan baik jika
dia menunjukkan sikap positif terhadap perawatan yang dilakukan.
Kebanyakan pasien gigi anak menunjukkan sikap kooperatif dalam
kunjungannya ke dokter gigi.
Tanda-tanda pasien anak dan remaja yang tergolong kooperatif adalah:
a. Tampak rileks dan menikmati kunjungan sejak di ruang tunggu

14
b. Mengikuti semua instruksi yang disampaikan dengan rileks
c. Memahami sendiri semua perintah
d. Terlihat antusias terhadap perawatan yang akan dilakukan
e. Penanganan dalam klinik biasanya cukup dengan teknik tell show do
(TSD)
f. Adanya hubungan antara dokter
2. Perilaku tidak mampu kooperatif (Inability to cooperative patient)
Ada dua kelompok pasien yang termasuk dalam kelompok perilaku tidak
mampu kooperatif, yakni:
a. Anak yang berumur di bawah 3 tahun yang masih sangat bergantung
kepada ibunya.
b. Pasien anak atau remaja yang handicapped, baik retardasi mental maupun
keterbatasan fisik/cacat. Kedua kelompok pasien ini pada dasarnya adalah
ketidakmampuan untuk berkomunikasi dan untuk memahami segala
instruksi.Hal ini sangat menyulitkan dokter gigi dalam melakukan
perawatan.Pasien anak dengan kategori tidak mampu kooperatif dapat
ditangani dengan premedikasi dan menggunakan anastesi umum.
3. Perilaku histeris (Out of control patient)
Ada beberapa karakteristik pada pasien anak yang tergolong dalam perilaku
histeris, yakni:
a. Pasien umumnya berumur 3-6 tahun dan merupakan kunjungan pertama
b. Tangisan yang keras, memekik, dan marah
c. Merengek dan mudah marah d. Memiliki tingkat kecemasan dan ketakutan
yang tinggi Perilaku jenis ini dapat ditangani dengan mengevaluasi pasien
sebelum melakukan perawatan dan melakukan pendekatan kepada anak
secara lembut disertai pemberian penjelasan mengenai prosedur
perawatan untuk mengurangi tingkat kecemasannya.
4. Perilaku keras kepala (Obstinate/ defiant patient) Beberapa karakteristik anak
dengan perilaku keras kepala, yakni:
a. Melawan pada setiap instruksi

15
b. Pasif mempertahankan diri dan tidak ada perhatian terhadap perintah
c. Berdiam diri tidak mau bergerak dan membuka mulut.
d. Bersikap menentang dan tidak sopan Pasien anak dengan perilaku keras
kepala dapat ditangani dengan mencoba memahami dan melakukan
komunikasi dengan pasien tersebut tanpa melakukan paksaan. Karena
dengan paksaan akan semakin menyulitkan dokter gigi dalam melakukan
perawatan.
5. Perilaku pemalu (Timid patient)
Perilaku pemalu dalam perawatan gigi dan mulut merupakan suatu perasaan
gelisah atau mengalami hambatan dalam membentuk hubungan atau
komunikasi antara dokter gigi dan pasien anak sehingga mengganggu
tercapainya keberhasilan perawatan. Pemalu dapat berubah menjadi fobia
yang menjadikan pasien tersebut menjadi tidak kooperatif terhadap
perawatan gigi dan mulut.
Karakteristik anak dengan perilaku pemalu, yakni:
a. Pemalu karena takut berbuat salah dan susah mendengarkan instruksi
b. Menghindari kontak mata dan berlindung di belakang orang tua
c. Tidak banyak bicara, menjawab secukupnya saja
d. Membutuhkan dorongan kepercayaan diri
e. Berasal dari lingkungan keluarga yang bersifat overprotektif.
6. Perilaku tegang (Tense patient)
a. Anak tersebut tampak tegang secara fisik, dahi dan tangan berkeringat,
bibir kering
b. Suara terdengar tremor
c. Memulai percakapan dengan “tidak” dan “saya tidak akan”
d. Tangan bergetar
e. Menatap ke sekeliling ruang klinik
f. Menerima perawatan yang diberikan
g. Anak jenis ini ingin tampak berani dan tumbuh dewasa.
7. Perilaku cengeng (Whining patient)

16
a. Merengek atau menangis sepanjang prosedur perawatan
b. Masih tetap bisa menerima perawatan
c. Bisa menerima perhatian dari dokter gigi
d. Penangan yang paling tepat adalah dokter gigi harus bersikap sabar dan
tenang.
Dokter gigi sebaiknya memberikan pujian terhadap mereka jika
bersikap kooperatif selama perawatan gigi dan menyampaikan bahwa tidak akan
lama lagi dan mereka bisa pulang ke rumah.

2.7 Manajemen Perilaku Mengatasi Kecemasan Anak


Manajemen Perilaku Mengatasi Kecemasan Anak terhadap Perawatan Gigi
Berikut ini adalah beberapa teknik manajemen perilaku yang umum digunakan.
Pemilihan tehknik manajemen prilaku tergantung pada individu pasien. Beberapa
tehnik manajemen prilaku juga dapat dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan
pasien.
1. Tell – show – do Teknik ini secara luas digunakan untuk membiasakan
pasien dengan prosedur baru, sambil meminimalkan rasa takut. Dokter gigi
menjelaskan kepada pasien apa yang akan dilakukan (memperhitungkan
usia pasien menggunakan bahasa yang mudah dipahami). Memberikan
demontrasi prosedur misalnya gerakan handpiece yang lambat pada jari)
kemudian lakukan tindakan yang sesuai dengan prosedur yang telah
ditetapkan. Tell-show-do dapat mengurangi kecemasan pada pasien anak
yang baru pertama ke dokter gigi (Gupta, 2014).
2. Behavior shaping Pembentukan perilaku (Behavior shaping) merupakan
teknik nonfarmakologi. Teknik ini merupakan bentuk modifikasi perilaku
yang didasarkan pada prinsipprinsip pembelajaran sosial. Prosedur ini
secara bertahap akan mengembangkan perilaku dan memperkuat perilaku
sosial. Behavior shaping terjadi saat perawat gigi atau dokter gigi
mengajarkan anak bagaimana cara berperilaku. Anak-anak diajarkan

17
melalui prosedur ini secara bertahap. Berikut ini adalah outline untuk
behavior shaping model:
a. Pada tahap pertama, jelaskan sejak awal tujuan atau tugas anak
b. Jelaskan pentingnya prosedur yang akan dilakukan. Seorang anak akan
mengerti alasan dan dapat bekerja sama.
c. Jelaskan prosedur dengan sederhana. Seorang anak sulit memahami
prosedur dengan satu penjelasan, sehingga harus dijelaskan secara
perlahan dan bertahap.
d. Perhatikan tingkat pemahaman anak. Gunakan ungkapan yang lebih
halus dan sederhana.
e. Gunakan perkiraan dalam keberhasilan. Sejak tahun 1959, teknik
TellShow-Do merupakan acuan dalam panduan berperilaku.
f. Memperkuat/membentuk perilaku yang tepat. Sespesifik mungkin,
karena memperkuat perilaku dengan spesifik lebih efektif daripada
pendekatan umum. Saran ini didukung oleh penelitian klinis Weinstein
dan rekanrekannya, yang meneliti respon dokter gigi terhadap perilaku
anak-anak dan menemukan bahwa penguatan perilaku secara langsung
dan spesifik paling konsisten diikuti oleh penurunan perilaku terkait
rasa takut pada anak-anak.
g. Mengabaikan perilaku yang tidak pantas. Perilaku buruk yang
diabaikan cenderung akan hilang sendiri ketika dilakukan
pembentukan perilaku (Dean dkk., 2011)
Pembentukan perilaku dianggap sebagai model pembelalajaran. Aturan
umumn mengenai model pembelajaran bahwa model pemebelajaran yang
paling efektif adalah yang paling mendekati teori model pembelajaran.
Penyimpangan dari model pembelajaran akan mengurangi efisensi dalam
proses pembelajaran. Salah satu cara untuk meningkatkan konsistensi di
bidang ini adalah dengan merekam berbagai sesi klinis dengan pasien anak,
menggunakan alat perekam atau sistem rekaman video dan kemudian
meninjau rekaman dengan mengingat dasar-dasar model pembelajaran

18
pembentukan perilaku. Meskipun tell-show-do (ceritakan-perlihatkan-
lakukan) mirip dengan pembentukan perilaku (behavior shaping),
keduanya berbeda. Selain memerlukan penguatan perilaku kooperatif,
pembentukan perilaku memerlukan penelusuran/pengulangan kembali
langkah langkah yang dilakukan bila terjadi perilaku yang tidak diinginkan.
Misalnya, jika anak diperlihatkan instrumen dan berpaling, dokter gigi
harus kembali ke langkah penjelasan prosedur. Pembentukan perilaku
mengharuskan untuk selalu mengawasi “perilaku yang diinginkan”. Jika
dokter gigi melanjutkan langkahlangkah berikutnya dan mulai melakukan
perawatan ketika perilaku yang diinginkan belum terbentuk, maka terjadi
penyimpangan dari model pembelajaran dan kemungkinan terjadinya
perilaku yang tidak diinginkan akan lebih tinggi (Dean dkk., 2011).
3. Disentisasi adalah jenis manajemen perilaku yang diperkenalkan oleh
Joseph Wolpe (1969) berdasarkan pemahaman bahwa relaksasi dan
kecemasan tidak dapat ada pada individu di saat yang bersamaan. Dalam
prakteknya, untuk manajemen kecemasan dental, stimulus penghasil rasa
takut dibangun, dimulai dengan stimulus dengan ancaman terendah.
Namun, sebelum ini dilakukan, pasien diajarkan untuk rileks. Jika keadaan
relaksasi sudah tercapai, stimulus yang menimbulkan rasa takut mulai
diperkenalkan diawali dengan stimulus yang tidak menimbulkan
kecemasan kemudian dapat dilanjutkan dengan stimulus yang mulai
menimbulkan rasa takut (Duggal dkk., 2013).
Desentisasi membantu seseorang untuk menangani ketakutan atau
phobia yang spesifik melalui kontak yang berulang. Stimulus penghasil
rasa takut diciptakan dan diterapkan pada pasein secara berurutan, dimulai
dengan yang paling sedikit menimbulkan rasa takut. Teknik ini berguna
untuk menangani ketakutan yang spesifik, contohnya anastesi gigi pada
anak (Gupta dkk., 2014).
4. Sedasi Terdapat berbagai metode untuk sedasi pada pasien anak. Obat-
obatan sedatif dapat diberikan melalui inhalasi, atau melalui oral, rektal,

19
submukosa, intramuskular, atau intravena. Penggunaan obat kombinasi
dan pilihan rute pemberian tertentu bertujuan untuk memaksimalkan efek,
meningkatkan keamanan, serta memaksimalkan penerimaan pada pasien.
Inhalasi campuran nitrous oxide sering disertai dengan pemberian agen
sedasi lain dengan rute pemberian berbeda (Dean dkk., 2011).
Adapun Kriteria Pemulangan pasca penggunaan sedasi, adalah:
a. Fungsi kardiovaskular yang stabil dan memuaskan.
b. Saluran nafas tidak terganggu dan memuaskan.
c. Pasien dapat dibangunkan dengan mudah dan reflek protektif masih
intak.
d. hidrasi pasien yang adekuat.
e. Pasien dapat berbicara, jika memungkinkan.
f. Pasien dapat berjalan, jika memungkinkan, dengan bantuan
minimal.
g. Jika anak masih sangat kecil atau mengalami cacat, tidak mampu
memberi respon yang biasanya diharapkan, dapat dibandingkan
dengan tingkat responsivitas pre-sedasi apakah sama atau
mendekati tingkat tersebut.
h. Terdapat individu yang dapat bertanggung jawab terhadap pasien
(Dean dkk., 2011).
Peresepan obat-obatan sedatif harus dalam pengawasan langsung
dari tenaga kesehatan terlatih. Penggunaan obat sedatif diluar fasilitas
kesehatan tidak lagi dibenarkan (contoh: pemberian oleh orang tua atau
perawat di rumah) karena memiliki risiko yang berat, terutama bagi bayi
dan anak balita (pedoman AAPD). Tujuan teknik sedasi yaitu
menghasilkan pasien yang tenang untuk kualitas pengobatan terbaik,
mencapai rencana pengobatan yang lebih kompleks atau lebih panjang
dalam periode singkat dengan memperpanjang periode pertemuan dan
mengurangi jumlah kunjungan ulangan. Berkurangnya kecemasan dapat
mengurangi jumlah analgesia yang dibutuhkan. Sedasi juga dapat

20
memberikan suasana pengobatan yang nyaman dan lebih diterima bagi
pasien dengan gangguan fisik maupun kognitif. Walaupun adanya
gangguan kesehatan tertentu merupakan kontraindikasi sedasi, beberapa
pasien mendapatkan manfaat dari penggunaan sedasi.
Tentu saja hal ini dapat menimbulkan risiko untuk mengalami
komplikasi, sehingga harus dipantau ketat oleh dokter yang biasa
menangani mereka (Dean dkk., 2011).
5. Distraksi (Pengalihan Perhatian) Beberapa jenis kegiatan dapat digunakan
untuk mengalihkan perhatian anak, seperti memainkan film yang sesuai
usia anak, bermain video game, dan lainnya bisa bermanfaat untuk
mengalihkan perhatian anak. Namun, berbicara dengan anak selama
perawatan adalah metode yang efektif untuk mengalihkan perhatian anak
(Duggal dkk., 2013).
6. Modelling Video klip dari anak-anak lain yang sedang menjalani
perawatan gigi yang diputar di monitor TV dapat dijadikan sebagai model
saat mereka menjalani 22 prosedur perawatan gigi. Sebagian besar studi
modeling menunjukkan bahwa ada baiknya memperkenalkan anak ke
dokter gigi dengan cara ini, namun tidak semua penelitian menunjukkan
perilaku kooperatif yang secara statistik lebih baik pada anak-anak.
Kurangnya replikasi mungkin disebabkan oleh perbedaan dalam desain
eksperimental, tim dokter gigi, kaset video dan film. Ini menunjukkan
perlunya rekaman video atau pemilihan film yang digunakan pada kantor
dokter gigi (Dean dkk., 2011; Koch dan Pulsen, 2009).
Modifikasi perilaku dapat juga dilakukan pada pasien seperti
saudara kandung, anak-anak lainnya, atau orangtua. Banyak dokter gigi
mengijinkan anak untuk mengajak orang tuanya masuk keruang operator
untuk melihat riwayat medis gigi. Karena anak yang sedang mengamati
kemungkinan akan diperkenalkan perawatan gigi, dimulai dengan
pemeriksaan gigi. Kunjungan kembali orang tua dapat dijadikan
kesempatan modeling yang baik. Pada kesempatan ini banyak anak yang

21
langsung menaiki dental chair setelah kunjungan kembali. Pada saat anak
menaiki dental chair, dokter gigi harus berhati-hati. Pasien anak biasanya
ditakutkan dengan suara yang keras seperti suara pada high-speed
handpiece (Dean dkk., 2011).

2.8 Cara Menggosok Gigi yang baik dan benar


Sewaktu menyikat gigi harus diingat bahwa sebaiknya arah penyikatan
adalah dari gusi ke permukaan gigi, dengan tujuann selain membersihkan gigi
juga dapat dilakukan suatu pengurutan yang baik terhadap gusi (Fatarina, 2010).
Sebelum dan pada waktu menyikat gigi terdapat beberapa hal yang
biasanya dilakukan. Hal ini dilakukan agar dapat lebih mudah dalam
membersihkan gigi, yaitu :
1. Membasahi sikat gigi sebelum diberi pasta gigi
2. Berkumur dan melaksanakan penyikatan sampai pasta gigi berbuih
(Fatarina,2010)
Dalam pelaksanaan menyikat gigi yang optimal perlu diperhatikan faktor-faktor
sebagai berikut :
1. Teknik penyikatan harus dapat membersihkan semua permukaan gigi
2. Gerakan sikat gigi tidak boleh melukai jaringan lunak maupun jaringan
keras
3. Teknik penyikatan harus sederhana dan mudah dipelajari
4. Teknik harus tersusun dengan baik, sehingga setiap bagian gigi dapat
disikat bergantian dan tidak ada daerah yang terlewatkan (Manson & Eley,
1993).
Berikut ini prinsip-prinsip dalam menyikat gigi (Madan, dkk., 2011) :
1. Pegangan sikat harus dipegang dengan kuat tetapi jangan terlalu kuat
karena akan melelahkan tangan dan pergelangan tangan
2. Hindari pandangan ke bawah bidang
3. Metode menyikat gigi yang benar harus dianjurkan tergantung
pertumbuhan gigi dan keadaan gusi

22
4. Dianjurkan untuk menggunakan jenis sikat gigi yang lembut, pertengahan
atau keras (sikat gigi yang lembut bulunya berdiamter 0,2 mm,
pertengahan 0,3 mm, dan keras 0,4 mm), tergantung pada gusi.
5. Keefektifan dalam menyikat gigi juga tergantung pada sikat. Warna bulu
tidak efektif untuk membersihkan, sikat harus diganti. Warna penunjuk
bulu sikat gigi dianjurkan yang dapat berubah warna, jadi apabila bulu
sikat sudah tidak efektif lagi maka warna bulu sikat akan berubah warna.

Menurut Depkes RI (1996), cara menyikat gigi adalah sebagai berikut :


1. Pada permukaan labial sikat gigi digerakkan dengan gerakan maju mundur
yang pendek. Artinya sikat gigi digerak-gerakkan di tempat. Gosok
terlebih dahulu gigi-gigi yang terletak di belakang
2. Sesudah itu, barulah sikat gigi dipindahkan ke tempat berikutnya,
kemudian gosoklah gigi depan
3. Pada gigi permukaan dekat lidah, gosok dahulu gigi-gigi yang terletak di
belakang, kemudian dilanjutkan bagian depan
4. Pada permukaan dataran pengunyahan dari gigi-gigi
5. Rahang atas maupun rahang bawah digosok dengan gerakan maju
mundur. Cara ini merupakan cara yang dianjurkan, karena menyikat
giginya dilakukan berulang-ulang pada satu tempat dahulu sebelum
pindah ke tempat lain.
Sedangkan menurut Srigupta (2004), cara menyikat gigi adalah sebagai
berikut :
1. Bersihkan permukaan dalam dan luar dari gigi bagian atas dengan gerakan
memutar ke bawah
2. Bersihkan permukaan dalam dan luar dari gigi bagian bawah dengan
gerakan memutar ke atas
3. Tekan dan putar sikat dengan lembut pada gusi guna melakukan pemijatan
pada gusi

23
4. Bersihkan permukaan gigi depan bagian dalam dengan gerakan dari dalam
keluar
5. Bersihkan permukaan gigi geraham bagian atas dan bawah yang
digunakan untuk mengunyah dengan gerakan dari belakang ke depan lalu
dari dalam keluar dan dari luar ke dalam

Beberapa cara menyikat gigi yang lain ;


1. Teknik vertikal Unuk menyikat bagian depan gigi kedua rahang tertutup
lalu disikat dengan gerakan ke atas dan ke bawah. Untuk permukaan gigi
belakang gerakan yang dilakukan mulut dalam keadaan terbuka.
2. Teknik horizontal Semua permukaan gigi disikat dengan gerakan ke kiri
dan ke kanan. Kedua cara tersebut cukup sederhana, tetapi tidak begitu
baik digunakan karena dapat mengakibatkan turunya gusi.
3. Teknik bebas Bulu sikat diletakkan dengan posisi mengarah ke arah gigi,
sehingga sebagian bulu sikat menekan gusi. Ujung bulu sikat digerakkan
perlahanlahan sehingga kepala sikat bergerak membentuk lengkungan
melalui permukaan gigi. Cara penyikatan ini terutama bertujuan untuk
pemijatan gusi, supaya kotoran dapat keluar, dan untuk pembersihan
daerah selasela gigi.

2.9 KIE
Edukasi dan promosi kesehatan untuk karies gigi penting untuk mencegah
terjadinya karies dan perburukan penyakit. Edukasi yang diberikan misalnya cara
menggosok gigi yang benar 2 kali sehari dan mengurangi makanan yang bersifat
asam dan manis. Edukasi perawatan gigi sudah bisa diberikan kepada anak-anak
ketika anak tersebut mulai tumbuh gigi dengan memperkenalkannya ke dokter
gigi. Idealnya, perawatan gigi enam bulan sekali, seperti orang dewasa. Membawa
anak ke dokter gigi bukan hanya apabila gigi sudah bermasalah saja, justru
sebelum gigi berlubang maka juga sudah diharuskan mengajak anak ke dokter
gigi untuk mengedukasinya mengenai kesehatan gigi. Dengan diperkenalkannya

24
pasien anak ke dokter gigi maka diharapkan kepedulian anak terhadap kesehatan
gigi pun meningkat. Akan tetapi, mengajak anak kedokter gigi juga tidak boleh
dilakukan dengan paksaan dan pukulan, karena hal tersebut bisa menyebabkan
anak menjadi takut dan trauma ke dokter gigi.
Edukasi pada pasien dengan karies gigi sangat diperlukan untuk mencegah
terjadinya karies sekunder maupun perluasan karies. Berikut ini merupakan
edukasi yang dapat diberikan pada pasien karies gigi:
1. Jaga kebersihan rongga mulut dengan menggosok gigi teratur dua kali
sehari pagi sesudah makan dan malam sebelum tidur
2. Gunakan pasta gigi yang mengandung fluoride
3. Bersihkan mulut dengan cairan aseptik secara rutin
4. Kurangi makanan yang bersifat asam dan manis
5. Tingkatkan konsumsi makanan dan minuman yang mengandung kalsium,
seperti susu dan sayur-sayuran
6. Pasien yang telah dilakukan perawatan restorasi dianjurkan tidak
menggosok gigi terlalu keras dan menggunakan sikat gigi yang lembut
7. Rutin kontrol ke dokter gigi enam bulan sekali
Pencegahan terjadinya karies gigi pada masyarakat dapat
dilakukan dengan memberikan penyuluhan mengenai cara menggosok gigi yang
benar dan bahaya dari karies gigi. Selain itu, program sikat gigi bersama di
sekolah-sekolah juga dapat dilakukan untuk membiasakan anak-anak menggosok
gigi rutin dan benar.
2.10 Dialog Anamnesis
Seorang anak perempuan bernama siti berusia 6 tahun dibawa orang
tuanya ke klinik dokter gigi dengan keluhan gigi belakang kanan bawah
berlubang. pada saat akan diperiksa, anak tersebut takut dan menolak untuk
membuka mulut. menurut ibu, anak belum pernah ke dokter gigi.
Receptionist : Selamat malam buk, ada yang bisa saya bantu?
Ibu Siti : Malam bu , ini anak saya giginya sakit, jadi saya mau konsul
ke dokter gigi

25
Receptionist : Ibu pernah kesini sebelumnya?
Ibu Siti : Belum buk, ini baru yang pertama kali
Receptionist : Bisa saya dapatkan infonya bu?
Ibu Siti : Bisa buk
Receptionist menanyakan nama umur dan alamat si anak kepada ibunya
dan menyuruh ibu dan anak tersebut menunggu sebentar.
15 menit kemudian..
Seorang perawat keluar dari ruangan dan menyuruh ibu dan siti masuk
ke ruangan dokter sang ibu tampak merayu siti yang takut untuk masuk kedalam
bertemu dengan dokter.
Nurse : Silahkan masuk bu
Ibu Siti : baik sus
Dokter : Selamat siang bu, silahkan duduk bu
Ibu Siti : Selamat siang dok, terimakasih dok
Dokter mulai mendekati Siti dengan memanggil dia adek
Dokter : Adek ini sakit giginya ya
Ibu Siti : Iya dok
Dokter : Namanya siapa dek ?
Siti : Nama saya siti dok
Dokter : Sudah berapa lama sakit gigi nya Ibu ?
Ibu Siti : Sudah dari 2 hari yang lalu dok, jadi dia setiap makan selalu
bilang giginya sakit dok
Dokter : Jadi gitu, adek suka makan yang manis-manis ya?
Ibu Siti : Suka dok, jadi siti ini suka makan permen dan coklat tapi suka
malas kalau disuruh gosok giginya dok
Dokter : Ibu pernah periksain gigi adek sebelumnya?
Ibu Siti : Belum dok, ini yang pertama kalinya soalnya sitinya susah
diajak ke dokter gigi
Lalu si dokter mengajak siti untuk melihat giginya terlebih dahulu dan
siti menolak karna takut dan dokter berusaha merayu siti untuk melihat dulu

26
giginya siti tetap tidak mau, dokter pun akhirnya mengajarkan siti cara
menggosok gigi yang benar terlebih dahulu, suster menyediakan phantom dengan
sikat gigi dan dokter memperagakan bagaimana cara menggosok gigi yang benar.
Ibu Siti : Jadi ini sakit giginya siti gimana ya dok? Siti kalau malam
susah tidur dan sering mengeluhkan sakit
Dokter : Jadi untuk sekarang saya berikan obat dulu, adek kan baru
pertama datang ke dokter gigi, jadi biar adek mengenal dulu
biar bisa bersahabat
Ibu Siti : Baik dok,
Dokter meresepkan obat untuk siti dan memberitahukan 2 hari lagi siti
datang untuk di tindak lanjuti
4 hari kemudian
Ibu dan siti datang kembali ke praktik dokter dan mendaftar ke
receptionist. Setelah menunggu suster memanggil nama siti dan masuk kedalam
ruangan dokter, siti pun sudah merasa tenang dan tidak takut lagi utuk masuk
bertemu dengan dokter.
Dokter : Bagaimana adek, giginya masih sakit ga?
Siti : Masih dok sedikit
Dokter : Oh gitu ?, baik bu sekarang kita langsung aja melakukan
penambalan, tapi nanti setelah penambalan ada kunjungan lagi
1 atau 2 kali kunjungan untuk melihat tambalan siti apakah
pecah atau tidak
Ibu Siti : Baik dok
Lalu dokter merayu siti duduk di dental unit, dokter dan suster
memperlakukan siti dengan baik. Dan melakukan proses penambalan dengan
lancar. Setelah selesai melakukan penambalan siti senang giginya sudah tidak
sakit lagi. Dokter memuji dia hebat telah mau ditambal giginya, lalu si dokter
mengingatkan ibunya agar siti datang 4 hari lagi untuk melihat tambalan gigi abi
apakah pecah atau tidak. Dokter memberikan hadiah buat abi karna sudah mau
giginya ditambal dan abipun senang.

27
2.11 Analisis Anamnesis Berdasarakan Video
Pada kunjungan pertama,ibu tersebut menjelaskan keluhan yang di alami
anaknya kepada dokter gigi. Setelah selesai menjelaskan keluhan tersebut, dokter
gigi melakukan pemeriksaan langsung pada anak tersebut, dan anak tersebut
menolak tidak ingin di periksa karena takut, karena baru pertama kali ke dokter
gigi. Seharusnya dokter harus bisa merayu si anak tersebut dengan teknik tell
show do dengan memperkenal kan alat alat dan cara perawatan dengan bahasa
yang mudah dipahami anak sehingga anak lebih bisa mengerti apa yang dilakukan
dokter gigi tidak menakutkan dan mrnyakitkan seperti yang di bayangkan. Karena
hal tersebut dokter gigi hanya peragakan cara merawat gigi dengan cara menyikat
gigi, kemudian si ibu nmapak kurang puas dan menanyankan solusi untuk gigi
anaknya karena sering mengeluhkan sakit, kemudian dokter meresepkan obat
untuk anak tersebut dan memberi tahu bahwa 4 hari lagi ibu dan anaknya dating
lagi supaya bisa ditindak lanjuti.
Pada kunjungan kedua dokter gigi merayu anak dengan cara jika si anak mau
melakukan pemeriksaan dokter gigi tersebut akan memberi hadiah kepada si anak,
dan dokter gigi berhasil merayu ank tersebut untuk memeriksakan giginya yang
sakit, dan melakukan proses penambalan dengan lancar. Setelah proses
penambalan selesai dokter gigi memuji keberanian anak tersebut dan memberikan
hadiah yang di janjikan tadi agar si anak mau kedokter gigi lagi. Setelah itu dokter
menyuruh dating kembali setelah 4 hari lagi untuk melihat tambalan pecah atau
tidak.

28
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Anamnesis adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan antara dokter
sebagai pemeriksa dan pasien yang bertujuan untuk mendapatkan informasi
tentang penyakit yang diderita dan informasi lainnya yang berkaitan sehingga
dapat mengarahkan diagnosis penyakit pasien. Selanjutnya dilakukan
pemeriksaan intra oral dan ekstraoral. Pemeriksaan Intraoral dilakukan dalam
mulut pasien untuk mengetahui kondisi rongga mulut pasien baik jaringan keras
maupun lunak. Pemeriksaan ekstraoral dilakukan untuk melihat kelainan diluar
rongga mulut.
Berdasarkan dari video tentang anamnesis dan pemeriksaan intra dan
ekstra oral pada kasus gigi anak tersebut dapat disimpulkan bahwa anak
perempuan yang berumur 6 tahun datang ke dokter gigi bersama orang tuanya
dengan keluhan merasakan sakit pada gigi nya dan ingin berkonsultasi sekaligus
merawat gigi anaknya.
Pada saat dokter gigi melakukan anamnesis pada hari pertama dapat
dilihat bahwa anal itu memiliki perilaku yang kurang baik dan tidak kooperatif,
dikarenakan takut untuk ke dokter gigi. Anak itu mengeluhkan sakit pada giginya
dan dokter hanya meresepkan obat dihari pertama. Dihari kedua setelah
dilakukannya anamnesis, dokter gigi melakukan pemeriksaan ketika diperiksa
pada gigi anak itu ternyata giginya berlubang yang tidak terlalu dalam.
Kemudian, dokter gigi menyarankan untuk giginya ditambal dan anak itu mau
ditambal dengan sangat kooperatif. Rahasianya adalah dokter gigi dihari pertama
hanya menciptakan hubungan yang baik terlebih dahulu ke pasien anaknya,
dihari kedua dokter gigi memulai tindakannya yang sesuai dengan kasus.
Setelah ditambal, anak itu sangat senang dan tidak kesakitan lagi.
Dengan sikap abi yang kooperatif dokter gigi memberikan hadiah kepada anak
itu karena telah mau turuti dokternya. Kemudian, dokter gigi memberi

29
komunikasi informasi dan edukasi dengan mengingatkan untuk rajin menyikat
gigi 2 kali sehari saat pagi dan malam sebelum tidur.

30
DAFTAR PUSTAKA

Arma. 2009. Ilmu Penyakit Mulut: Padang. Hal 1-2


Chadwick, B.L. dan Hosey, M.T., 2003, Child Taming : How To Manage in Dental
Prectice, 1st ed., Quintessence Publishing Co. Ltd., London, hal.9-11, 19-20, 27-
28.
Dean, Avery, McDonald, 2011, Dentistry for the Child and Adolescent, 9th ed.,
Mosby inc., London, hal. 52, 260-261.
Duggal, M., Cameron, A., Toumba, J., 2013, Paediatric Dentistry at a Glance, 1st
ed.,Blackwell Pub., Oxford, hal.21.
Gupta, A., dkk., 2014, Behaviour management of an anxious child, Stomatologija,
Baltic Dental and Maxillofacial Journal; Vol. 16, No 1.
Konsil Kedokteran Indonesi. 2006. Komunikasi Efektif Dokter Pasien.
Https://Www.Academia.Edu/15495806/Komunikasi_Dokter-Pasien.Diakses
Tanggal 8 Juni 2020
Susanti, L, Seyla, K & Soetopo, MS 2017, 'Teknik Komunikasi Informasi Edukasi
Kesehatan Gigi Mulut pada Anak dengan Sindroma Apert Usia 14 Tahun (Laporan
Kasus)', Paper presented at Pertemuan Ilmiah Nasional Ilmy Kedokteran Gigi
Anak ke-10, Jakarta, Indonesia, 1/01/17.
Tim IKGA. 2012. Bahan Kuliah Ilmu Kedokteran Gigi Anak. Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara: Medan. Hal 100-102.

31