Anda di halaman 1dari 20

ANAMNESA TENTANG KONDISI PSIKOLOGIS-SOSIAL DAN

PEMERIKSAAN TANDA KECEMASAN


Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah 2 (KMB 2)
Universitak Bhakti Kencana Garut.

Oleh:

Asifa Nurfadilah
01810039

Tingkat 2B

UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA


GARUT
2019
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Assalamu’alaikum. wr. wb.

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan ridho-Nya penulis
dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah yang berisi Anamnesa Tentang Kondisi Psikologis-
Sosial Dan Pemeriksaan Tanda Kecemasan ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Keperawatan Medikal Bedah 2 (KMB 2) Universitak Bhakti Kencana Garut.
Menyadari banyaknya kekurangan dan keterbatasan dalam Ilmu Pengetahuan serta

kemampuan penulis, maka penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila terdapat

kesalahan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi penulis dan bagi

perkembangan mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah 2 (KMB 2) Universitak Bhakti Kencana

Garut.

Wassalamu’alaikum. wr. wb

Garut, Mei 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................................i

DAFTAR ISI...................................................................................................................................ii

BAB I...............................................................................................................................................1

PENDAHULUAN...........................................................................................................................1

1.1 Latar Belakang..................................................................................................................1

1.2 Rumusan masalah.............................................................................................................1

BAB II.............................................................................................................................................2

PEMBAHASAN..............................................................................................................................2

2.1 Anamnesa tentang kondisi psikologis-sosial.........................................................................2

2.1.1 Pengertian Anamnesa.....................................................................................................2

2.1.2 Keterampilan untuk pelaksanaan anamnesa...................................................................2

2.1.3 Anamnesa Tentang Konsidi Psikologik-Sosial..............................................................3

2.2 Pemeriksaan tanda kecemasan...............................................................................................4

2.2.1 Pengertian Kecemasan....................................................................................................4

2.2.2 Fisiologi Kecemasan.......................................................................................................5

2.2.3 Faktor- faktor yang mempengaruhi respon kecemasan;.................................................5

2.2.4 Rentang respon kecemasan.............................................................................................8

2.2.6 Penatalaksanaan kecemasan.........................................................................................10

2.2.7 Alat ukur kecemasan.....................................................................................................11

BAB III..........................................................................................................................................16

PENUTUP.....................................................................................................................................16

3.1 Kesimpulan.....................................................................................................................16

3.2 Saran................................................................................................................................16

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan yang sangat primer dan mutlak dipenuhi untuk
memelihara keseimbangan biologis dan kelangsungan kehidupan bagi tiap manusia. kebutuha ini
merupakan syarat dasar, apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi maka dapat mempengaruhi
kebutuhan yang lain. Keadaan fisik dari klien wajib diketahui dan dikaji oleh perawat/bidan
maupun tenaga kesehatan lainnya yang memberikan asuhan. Anamnesa dan pemeriksaan fisik
merupakan salah satu data penunjang dan mengetahui masalah apa yang dialami oleh klien agar
diagnose dapat ditegakkan.
Sebuah pemeriksaan yang legkap akan terdiri dari penilaian kondisi pasien secara umum dan
sistem organ yang spesifik. Dalam prakteknya, tanda vital atau pemeriksaan suhu, denyut dan
tekanan darah selalu dilakuka pertama kali.
1.2 Rumusan masalah

A. Bagaimana Anamnesa tentang kondisi psikologis-sosial?


B. Bagaimana Pemeriksaan tanda kecemasan?

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Anamnesa tentang kondisi psikologis-sosial

2.1.1 Pengertian Anamnesa


Anamnesa berasal dari bahasa Yunani ‘anamnesis’ yang berarti mengingat kembali jiwa.
Istilah tersebut dimunculkan pertama kali oleh Platon, seorang filsuf Yunani kuno (427-347
SM.). Berangkat dari pertanyaan Sokrates mengenai norma dan motiv dari tindakan manusia,
Platon mengembangkan ajarannya sendiri. Menurut pandangan Platon indera manusia hanya
memperlihatkan dunia, yaitu dunia menjadi dan proses untuk menjadi. Penghubung antara
keberadaan dan ketiadaan, menurutnya ditekankan pada alasan-alasan yang mengarah pada
keabadian, pada ide-ide atau pada sesuatu yang kedudukannya di luar, tidak tersentuh oleh
indera, namun membentuk makna yang sebenarnya dari kehidupan (Schuster/Ricken, 1992,
dalam Osten, 2000). Jiwa manusia dengan demikian bermula dari suatu dunia luar, dari
tempat tersebut jiwa melihat ide-ide dalam keadaan yang paling murni. Anamnesis, dengan
demikian merupakan pembangkitan jiwa, suatu ingatan kembali yang tergugah melalui
indera, yang mengacu pada ide-ide yang sebenarnya telah ada sebelum pemunculannya.
Dengan anamnesis, proses mengingat kembali dimaksudkan Platon sebagai proses kembali
pada gambaran asal atau pada akar dari sesuatu yang muncul saat ini. Anamnesa pada masa
itu senantiasa dihubungkan dengan kesehatan jiwa, yaitu bagaimana masalah dalam
kesehatan jiwa dikenali melalui anamnesa, melalui upaya untuk melihat asal mulanya.

2.1.2 Keterampilan untuk pelaksanaan anamnesa


Sebagai upaya pengumpulan informasi mengenai klien dalam suatu percakapan,
beberapa keterampilan dianggap memegang peran utama dalam pelaksanaan anamnesa (lihat
Osten, 2000; Kubinger & Deegener, 2001). Keterampilan tersebut meliputi:
1. Keterampilan untuk mendapatkan informasi dalam semua tataran. Keterampilan ini
diperlukan melihat kenyataan bahwa sumber informasi amat beragam. Sebagian
informasi bisa diperoleh melalui pertanyaan, sebagian informasi didapat melalui
observasi, sebagian lagi melalui hal-hal yang dirasakan oleh pemeriksa, misalnya seperti
atmosfir percakapan; sebagian lagi dilakukan melalui kerja sama dengan rekan lain untuk
melihat validitas intersubjektif. Melalui keterampilan ini diharapkan bisa diperoleh
informasi yang diperlukan, mengenai cerita kini dan sebelumnya (Kubingen dan
2
Deegener, 2001), mengenai pribadi klien serta gangguan psikologik atau hambatan
perkembangan psikologik yang dialaminya (Osten, 2000), agar selanjutnya dapat
dimaknakan.
2. Keterampilan untuk membangun dan membina percakapan. Percakapan hendaknya
memiliki atmosfir tertentu yang sudah dibangun sejak awal, sehingga terkonsentrasi dan
membentuk relasi tertentu antara psikolog dan klien (Yunani: symballein). Untuk
kepentingan ini secara metodologi anamnesa terbagi dalam tiga fase, yaitu kontak
pertama, interviu awal, dan pelaksanaan anamnesa (Osten, 2000).
3. Keterampilan untuk membangun hipotesis mengenai masalah klien. Untuk
mendapatkan keputusan yang sesuai dalam rangka penyelesaian masalah klien, maka
perumusan masalah klien menjadi penting. Karena itu dikatakan bahwa anamnesa adalah
kegiatan membangun hipotesis mengenai masalah yang diajukan klien, serta mengujinya
kembali, melalui percakapan yang terjalin dalam rangka mendapatkan informasi dari
klien. Hal ini menghendaki keterampilan dalam menggali informasi, misalnya melalui
pemilihan pertanyaan efektif, sehingga psikolog terhindar dari pertanyaan yang hanya
akan memuaskan rasa ingin-tahu (lihat Kubinger & Deegener, 2001).

2.1.3 Anamnesa Tentang Konsidi Psikologik-Sosial


Riwayat psikososial yang lengkap menunjukkan siapa sistem pendukung klien, termasuk
pasangan, anak-anak anggota keluarga lain, atau teman dekat. Riwayat psikososial termasuk
informasi tentang cara-cara yang biasanya klien dan anggota keluarga gunakan untuk
mengatasi stres.perilaku yag sama seperti berjalan-jalan, membaca, atau berbicara dengan
teman, dapat digunakan sebagai intervensi keperawatan jika klien mengalami stres ketika
menerima perawatan kesehatan.perawat juga belajar apakah klien telah mengalami suatu
kehilangan baru-baru ini yang dapat menciptakan suatu rasa berduka.
Menurut Helen Varney tahun 2007, komponen anamnesa adalah sebagai berikut :
Mengidentifikasi informasi
1. Nama
Sebaiknya nama lengkap bukan nama panggilan atau alias.
2. Usia

3
Terutama penting pada pasien anak-anak karena kadang-kadang digunakan untuk
menentukan dosis obat. Juga dapat digunakan untuk memperkirakan kemungkinanpenyakit
yang diderita, beberapa penyakit khas untuk umur tertentu.
3. Ras/etik
Berhubungan dengan kebiasaan tertentu atau penyakit-penyakit yang berhubungan dengan
ras/suku bangsa tertetu.
4. Alamat/telepon
Apabila pasien sering berpindah-pindah tempat maka tanyakan bukan hanya alamat sekarang
saja tetapi juga alamat pada waktu pasien merasa sakit untuk pertama kalinya. Data ini
kadang diperlukan untuk mengetahui terjadinya wabah, penyakit endemis atau untuk data
epidemiologi penyakit.
5. Agama
Keterangan ini berguna untuk mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh (pantangan)
seorang pasien menurut agamanya.
6. Status pernikahan
Kadang berguna untuk mengetahui latar belakang psikologi pasien.
7. Pekerjaan
Bila seorang dokter mencurigai terdapatnya hubungan antara penyakit pasien dengan
pekerjaannya, maka tanyakan bukan hanya pekerjaan sekarang tetapi juga pekerjaan-
pekerjaan sebelumnya.
8. Jenis kelamin
Sebagai kelengkapan harus juga ditulis datanya.

2.2 Pemeriksaan tanda kecemasan

2.2.1 Pengertian Kecemasan


Kecemasan adalah satu perasaan subjektif yang dialami seseorang terutama oleh adanya
pengalaman baru, termasuk pada pasien yang akan mengalami tindakan invasif seperti
pembedahan. Dilaporkan pasien mengalami cemas karena hospitalisasi, pemeriksaan dan
prosedur tindakan medik yang menyebabkan perasaan tidak nyaman (Rawling, 1984).
Kecemasan adalah respon emosional terhadap penilaian yang menggambarkan
keadaan khawatir, gelisah, takut, tidak tentram disertai berbagai keluhan fisik. Keadaan
tersebut dapat terjadi dalam berbagai situasi kehidupan maupun gangguan sakit. Selain itu

4
kecemasan dapat menimbulkan reaksi tubuh yang akan terjadi secara berulang seperti rasa
kosong di perut, sesak nafas, jantung berdebar, keringat banyak, sakit kepala, rasa mau buang
air kecil dan buang air besar. Perasaan ini disertai perasaaan ingin bergerak untuk lari
menghindari hal yang dicemaskan (Stuart and Sundeen, 1998).
Kecemasan adalah gejala yang tidak spesifik dan aktivitas saraf otonom dalam
berespon terhadap ketidakjelasan, ancaman tidak spesifik yang sering ditemukan dan sering
kali merupakan suatu emosi yang normal (Carpenito, 2000).

2.2.2 Fisiologi Kecemasan


Reaksi takut dapat terjadi melalui perangsangan hipotalamus dan nuclei amigdaloid.
Sebaliknya amigdala dirusak, reaksi takut beserta manisfestasi otonom dan endokrinnya tidak
terjadi pada keadaan- keadaan normalnya menimbulkan reaksi dan manisfestasi tersebut,
terdapat banyak bukti bahwa nuclei amigdaloid bekerja menekan memori- memori yang
memutuskan rasa takut masuknya sensorik aferent yang memicu respon takut terkondisi
berjalan langsung dengan peningkatan aliran darah bilateral ke berbagai bagian ujung
anterior kedua sisi lobus temporalis. Sistem saraf otonom yang mengendalikan berbagai otot
dan kelenjar tubuh. Pada saat pikiran dijangkiti rasa takut, sistem saraf otonom menyebabkan
tubuh bereaksi secara mendalam, jantung berdetak lebih keras, nadi dan nafas bergerak
meningkat, biji mata membesar, proses pencernaan dan yang berhubungan dengan usus
berhenti, pembuluh darah mengerut, tekanan darah meningkat, kelenjar adrenal melepas
adrenalin ke dalam darah. Akhirnya, darah di alirkan ke seluruh tubuh sehingga menjadi
tegang dan selanjunya mengakibatkan tidak bisa tidur (Ganong, 1998).

2.2.3 Faktor- faktor yang mempengaruhi respon kecemasan;


1. Faktor predisposisi
Menurut Stuart and Sundeen (1998), teori yang dikembangkan untuk menjelaskan penyebab
kecemasan adalah
1) Teori psikoanalitik
Menurut Freud struktur kepribadian terdiri dari 3 elemen yaitu id, ego, dan super ego. Id
melambangkan dorongan insting dan impuls primitif, super ego mencerminkan hati nurani
seseorang dan dikendalikan oleh norma- norma budaya seseorang, sedangkan ego
digambarkan sebagai mediator antara tuntutan dari id dan super ego. Ansietas merupakan

5
konflik emosional antara id dan super ego yang berfungsi untuk memperingatkan ego tentang
sesuatu bahaya yang perlu diatasi.
2) Teori interpersonal
Kecemasan terjadi dari ketakutan akan pola penolakan interpersonal. Hal ini juga
dihubungkan dengan trauma pada masa perkembangan atau pertumbuhan seperti kehilangan,
perpisahan yang menyebabkan seseorang menjadi tidak berdaya. Individu yang mempunyai
harga diri rendah biasanya sangat mudah untuk mengalami kecemasan berat
(Stuart&Sundeen, 1998).
3) Teori perilaku
Kecemasan merupakan hasil frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan
seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Para ahli perilaku menganggap ansietas
merupakan sesuatu dorongan yang dipelajari berdasarkan keinginan untuk menghindarkan
rasa sakit. Teori ini meyakini bahwa manusia yang pada awal kehidupannya dihadapkan pada
rasa takut yang berlebihan akan menunjukkan kemungkinan ansietas yang berat pada
kehidupan masa dewasanya (Smeltzer&Bare, 2001).
4) Teori keluarga
Intensitas cemas yang dialami oleh individu kemungkinan memiliki dasar genetik. Orang tua
yang memiliki gangguan cemas tampaknya memiliki resiko tinggi untuk memiliki anak
dengan gangguan cemas. Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan kecemasan
merupakan hal yang bisa ditemui dalam suatu keluarga.
5) Kajian biologis
Kajian biologi menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus benzodiazepines.
Reseptor ini mungkin membantu mengatur kecemasan. Penghambat asam aminobutirik-
gamma neroregulator (GABA) dan endorfin juga memainkan peran utama dalam mekanisme
biologis berhubungan dengan kecemasan.
2.Faktor presipitasi
Kecemasan adalah keadaan yang tidak dapat dielakkan pada kehidupan manusia dalam
memelihara keseimbangan. Pengalaman ansietas seseorang tidak sama pada beberapa situasi
dan hubungan interpersonal. Ada 2 faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien pre
operasi :
1) Faktor eksternal

6
a. Ancaman integritas fisik, meliputi ketidakmampuan fisiologis atau gangguan terhadap
terhadap kebutuhan dasar (penyakit, trauma fisik, jenis pembedahan yang akan dilakukan).
b. Ancaman sistem diri antara lain : ancaman terhadap identitas diri, harga diri, dan
hubungan interpersonal, kehilangan serta perubahan status atau peran (Stuart and Sundeen,
1998).
2) Faktor internal :
Menurut Stuart and Sundeen (1998) kemampuan individu dalam merespon terhadap
penyebab kecemasan ditemukan oleh :
a. Potensi stressor
Stressor psikososial merupakan setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan
dalam kehidupan seseorang sehingga orang itu terpaksa mengadakan adaptasi
(Smeltzer&Bare, 2001).
b. Maturitas
Individu yang memiliki kematangan kepribadian lebih sukar mengalami gangguan akibat
kecemasan, karena individu yang matur mempunyai daya adaptasi yang lebih besar terhadap
kecemasan (Hambly, 1995).
c. Pendidikan dan status ekonomi
Tingkat pendidikan dan status ekonomi yang rendah akan menyebabkan orang tersebut
mudah mengalami kecemasan. Tingkat pendidikan seseorang atau individu akan berpengaruh
terhadap kemampuan berfikir, semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin mudah
berfikir rasional dan menangkap informasi baru termasuk dalam menguraikan masalah yang
baru (Stuart&Sundeen, 1998).
d. Keadaan fisik
Seseorang yang akan mengalami gangguan fisik seperti cidera, operasi akan mudah
mengalami kelelahan fisik sehingga lebih mudah mengalami kecemasan, di samping itu
orang yang mengalami kelelahan fisik mudah mengalami kecemasan (Oswari, 1998).
e. Tipe kepribadian
Orang yang berkepribadian A lebih mudah mengalami gangguan akibat kecemasan daripada
orang dengan kepribadian B. Adapun ciri- ciri orang dengan kepribadian A adalah tidak
sabar, kompetitif, ambisius, ingin serba sempurna, merasa diburu waktu, mudah gelisah,
tidak dapat tenang, mudah tersinggung, otot- otot mudah tegang. Sedang orang dengan tipe

7
kepribadian B mempunyai ciri- ciri berlawanan dengan tipe kepribadian A. Karena tipe
keribadian B adalah orang yang penyabar, teliti, dan rutinitas (Stuart&Sundeen, 1998).
f. Lingkungan dan situasi
Seseorang yang berada di lingkungan asing ternyata lebih mudah mengalami kecemasan
dibanding bila dia berada di lingkungan yang biasa dia tempati (Hambly, 1995).
g. Umur
Seseorang yang mempunyai umur lebih muda ternyata lebih mudah mengalami gangguan
akibat kecemasan daripada seseorang yang lebih tua, tetapi ada juga yang berpendapat
sebaliknya (Varcoralis, 2000).
h. Jenis kelamin
Gangguan panik merupakan suatu gangguan cemas yang ditandai oleh kecemasan yang
spontan dan episodik. Gangguan ini lebih sering dialami oleh wanita daripada pria
(Varcoralis, 2000).
Menurut Frued dalam Stuart and Sundeen (1998), ada 2 tipe kecemasan yaitu:
Kecemasan primer
Kejadian traumatik yang diawali saat bayi akibat adanya stimuli tiba- tiba dan trauma pada
saat kelahiran, kemudian berlanjut dengan kemungkinan tidak tercapainya rasa puas akibat
kelaparan atau kehausan. Penyebab kecemasan primer adalah ketegangan atau dorongan
yang diakibatkan oleh faktor internal.
Kecemasan sub sekunder
Sejalan dengan peningkatan ego dan usia. Frued melihat ada jenis kecemasan lain akibat
konflik emosi diantara 2 elemen kepribadian yaitu id dan super ego. Freud menjelaskan bila
terjadi kecemasan maka posisi ego sebagai pengembang id dan super ego berada pada
kondisi bahaya.

2.2.4 Rentang respon kecemasan


Respon rentang kecemasan yaitu respon tentang sehat- sakit yang dapat dipakai untuk
menggambarkan respon adaptif maladaptif pada kecemasan.
Klasifikasi tingkat dan respon kecemasan menurut Stuart and Sundeen, 1998 :
Ansietas ringan
Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan dan waspada. Manisfestasi yang
muncul pada ansietas ringan, antara lain:

8
1) Respon fisiologis
Respon fisiologis meliputi sesekali nafas pendek, mampu menerima rangsang yang pendek,
muka berkerut dan bibir bergetar.
2) Respon kognitif
Respon kognitif meliputi koping persepsi luas, mampu menerima rangsang yang kompleks,
konsentrasi pada masalah, dan menyelesaikan masalah.
3) Respon perilaku dan emosi
Respon perilaku dan emosi meliputi tidak dapat duduk tenang, tremor halus pada lengan, dan
suara kadang meninggi.
Ansietas sedang
Ansietas sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dengan
mengesampingkan yang lain perhatian selektif dan mampu melakukan sesuatu yang lebih
terarah. Manifestasi yang muncul pada kecemasan sedang antara lain:
1) Respon fisiologis
Sering napas pendek, nadi dan tekanan darah naik, mulut kering, diare atau konstipasi, tidak
nafsu makan, mual, dan berkeringat setempat.
2) Respon kognitif
Respon pandang menyempit, rangsangan luas mampu diterima, berfokus pada apa yang
menjadi perhatian dan bingung.
3) Respon perilaku dan emosi
Bicara banyak, lebih cepat, susah tidur dan tidak aman.
Ansietas berat
Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak
dapat berfikir tantang hal lain. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat
memusatkan pada suatu area lain. Manifestasi yang muncul pada kecemasan berat antara
lain:
1) Respon fisiologis
Napas pendek, nadi dan tekanan darah naik, berkeringat dan sakit kepala, penglihatan kabur,
dan ketegangan.
2) Respon kognitif
Lapang persepsi sangat sempit, dan tidak mampu menyelesaikan masalah.

9
3) Respon perilaku dan emosi
Perasaan terancam meningkat, verbalisasi cepat, dan menarik diri dari hubungan
interpersonal.
Panik
Tingkat panik berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan terror. Panik melibatkan
disorganisasi kepribadian, terjadi peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan
untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran
yang rasional. Manifestasi yang muncul terdiri dari:
1) Respon fisiologis
Napas pendek, rasa tercekik dan palpitasi, sakit dada, pucat, hipotensi, dan koordinasi
motorik rendah.
2) Lapang kognitif
Lapang persepsi sangat sempit, dan tidak dapat berfikir logis.
3) Respon perilaku dan emosi
Mengamuk- amuk dan marah- marah, ketakutan, berteriak- teriak, menarik diri dari
hubungan interpersonal, kehilangan kendali atau kontrol diri dan persepsi kacau.

2.2.6 Penatalaksanaan kecemasan


Pengobatan yang paling efektif untuk pasien dengan gangguan kecemasan umum adalah
kemungkinan pengobatan yang mengkombinasikan psikoterapi, farmakoterapi dan
pendekatan suportif (Kaplan and Sadock, 1998).
1. Psikoterapi
Teknik utama yang digunakan adalah pendekatan perilaku misalnya relaksasi dan bio feed
back (proses penyediaan suatu informasi pada keadaan satu atau beberapa variabel fisiologi
seperti denyut nadi, tekanan darah dan temperatur kulit).
2. Farmakoterapi
Dua obat utama yang dipertimbangkan dalam pengobatan kecemasan umum adalah
buspirone dan benzodiazepin. Obat lain yang mungkin berguna adalah obat trisiklik sebagai
contohnya imipramine (tofranil) –antihistamin dan antagonis adrenergik beta sebagai
contonya propanolol (inderal).
Pendekatan suportif

10
Dukungan emosi dari keluarga dan orang terdekat akan memberi kita cinta dan perasaan
berbagai beban. Kemampuan berbicara kepada seseorang dan mengekspresikan perasaan
secara terbuka dapat membantu dalam menguasai keadaan (Smeltzer and Bare, 2000).

2.2.7 Alat ukur kecemasan


Untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan seseorang apakah ringan, sedang,
berat dan berat sekali, orang menggunakan alat ukur (instrumen) yang dikenal dengan nama
Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A). Alat ukur ini terdiri 14 kelompok gejala yang
masing- masing kelompok dirinci lagi dengan gejala- gejala yang lebih spesifik. Masing-
masing kelompok gejala diberi penilaian angka (skore) antara 0-4, yang artinya adalah
Nilai 0 = tidak ada gejala / keluhan
Nilai 1 = gejala ringan / satu dari gejala yang ada
Nilai 2 = gejala sedang / separuh dari gejala yang ada
Nilai 3 = gejala berat / lebih dari separuh dari gejala yang ada
Nilai 4 = gejala berat sekali / semua dari gejala yang ada
Masing- masing nilai angka (skore) dari 14 kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan dari
hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat kecemasan seseorang, yaitu:
Total nilai (skore) :
kurang dari 14 = tidak ada kecemasan
14 – 20 = kecemasan ringan
21 – 27 = kecemasan sedang
28 – 41 = kecemasan berat
42 – 56 = kecemasan berat sekali / panik
Adapun hal- hal yang dinilai dalam alat ukur HRS-A ini adalah sebagai berikut:
Perasaan cemas (ansietas)
a) Cemas
b) Firasat buruk
c) Takut akan pikiran sendiri
d) Mudah tersinggung
2. Ketegangan
a) Merasa tegang
b) Lesu

11
c) Tidak bisa istirahat dengan tenang
d) Mudah terkejut
e) Mudah menangis
f) Gemetar
g) Gelisah
3. Ketakutan
a) Pada gelap
b) Pada orang asing
c) Ditinggal sendiri
d) Pada binatang besar
e) Pada keramaian lalu lintas
f) Pada kerumunan banyak orang
4. Gangguan tidur
a) Sukar masuk tidur
b) Terbangun malam hari
c) Tidur tidak nyenyak
d) Bangun dengan lesu
e) Banyak mimpi- mimpi
f) Mimpi buruk
g) Mimpi menakutkan
Gangguan kecerdasan
a) Sukar konsentrasi
b) Daya ingat menurun
c) Daya ingat buruk
6. Perasaan depresi (murung)
a) Hilangnya minat
b) Berkurangnya kesenangan pada hobi
c) Sedih
d) Bangun dini hari
e) Perasaan berubah- ubah sepanjang hari
7. Gejala somatik/ fisik (otot)

12
a) Sakit dan nyeri di otot- otot
b) Kaku
c) Kedutan otot
d) Gigi gemerutuk
e) Suara tidak stabil
8. Gejala somatik/ fisik (sensorik)
a) Tinitus (telinga berdengung)
b) Penglihatan kabur
c) Muka merah/ pucat
d) Merasa lemas
e) Perasaan di tusuk- tusuk
Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah)
a) Takikardia (denyut jantung cepat)
b) Berdebar- debar
c) Nyeri di dada
d) Denyut nadi mengeras
e) Rasa lesu/ lemas seperti mau pingsan
f) Detak jantung menghilang (berhenti sekejap)
10. Gejala respiratori (pernapasan)
a) Rasa tertekan / sempit di dada
b) Rasa tercekik
c) Sering menarik napas
d) Napas pendek / sesak
11. Gejala gastrointestinal (pencernaan)
a) Sulit menelan
b) Perut melilit
c) Gangguan pencernaan
d) Nyeri sebelum dan sesudah makan
e) Perasaan terbakar di perut
f) Rasa penuh / kembung
g) Mual

13
h) Muntah
i) Buang air besar lembek
j) Sukar buang air besar (konstipasi)
k) Kehilangan berat badan
12. Gejala urogenetal (perkemihan dan kelamin)
a) Sering buang air kecil
b) Tidak dapat menahan air seni
c) Tidak datang bulan (tidak ada haid)
d) Darah haid berlebihan
e) Darah haid amat sedikit
f) Masa haid berkepanjangan
g) Masa haid amat pendek
h) Haid beberapa kali dalam sebulan
i) Menjadi dingin (frigid)
j) Ejakulasi dini
k) Ereksi melemah
l) Ereksi hilang
m) Impotensi
13. Gejala autonom
a) Mulut kering
b) Muka merah
c) Mudah berkeringat
d) Kepala pusing
e) Kepala terasa berat
f) Kepala terasa sakit
g) Bulu – bulu berdiri
Tingkah laku (sikap) pada wawancara
a) Gelisah
b) Tidak tenang
c) Jari gemetar
d) Kerut kening

14
e) Muka tegang
f) Otot tegang / mengeras
g) Napas pendek dan cepat
h) Muka merah

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Anamnesis adalah suatu tehnik pemeriksaan yang dilakukan lewat suatu percakapan antara
seorang dokter dengan pasiennya secara langsung atau dengan orang lain yang mengetahui
tentang kondisi pasien, untuk mendapatkan data pasien beserta permasalahan medis.
Sebuah pemeriksaan yang legkap akan terdiri dari penilaian kondisi pasien secara umum dan
sistem organ yang spesifik. Dalam prakteknya, tanda vital atau pemeriksaan suhu, denyut dan
tekanan darah selalu dilakuka pertama kali.

3.2 Saran
Penulis mengharapkan agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kita, menambah ilmu
pengetahuan serta wawasan bagi para pembaca khususnya bagi mahasiswa keperawatan, namun
penulis menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka penulis mengharapkan kritik dan
saran dari para pembaca demi perbaikan makalah selanjutnya.

16
17