Anda di halaman 1dari 21

REKAYASA IDE

ANALISIS SUPRASEGMENTAL

BAHASA JAWA

OLEH:

1. DEWI MEIZAR MUSTIKA (2183111067)


2. ELRA AZMI MASFUFAH (2181111002)
3. LILI SARTIKA (2182111006)
4. LISA KIRANTI (2181111007)
5. MEGAWATI (2181111011)

PRODI : PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA


INDONESIA

JURUSAN : BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS : BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS : UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nya kami dapat menyelasaikan laporan makalah ini. Alasan penyusun menyelasaikan
tugas wajib ini dari 6 tugas pokok KKNI karena untuk memenuhi penyelesaian tugas dari
mata kuliah Fonologi Bahasa Indonesia. Semoga hasil laporan ini dapat menambah wawasan
dan pengetahuan bagi para pembaca.

Dalam menyelesaikan laporan makalah rekayasa ini, penyusun juga ingin


mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua yang selalu mendoakan, dan dosen
pengampu Ibu Dra. Inayah Hanum, M.Pd. yang telah membimbing mata kuliah ini.

Penyusun menyadari bahwa laporan reakayasa ide ini masih jauh dari kata sempurna
dan banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kami meminta maaf dan mengharapkan kritik
serta saran agar ke depannya mampu menyempurnakan tugas ini untuk lebih baik lagi. Akhir
kata penyusun mengucapkan terima kasih dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
para pembaca.

Medan, 14 Mei 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................i

DAFTAR ISI......................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................1

A. Latar Belakang.........................................................................................................1
B. Rumusan Masalah....................................................................................................1
C. Tujuan......................................................................................................................1
D. Manfaat....................................................................................................................1

BAB II KAJIAN TEORI...................................................................................................2

A. Fonem Suprasegmental............................................................................................2
B. Fonem Vokal...........................................................................................................2

BAB III PEMBAHASAN..................................................................................................7

BAB IV PENUTUP............................................................................................................15

A. Simpulan..................................................................................................................15
B. Saran........................................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................16

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Unsur bahasa yang terkecil berupa lambang bunyi ujaran disebut fonem.Ilmu yang
mempelajari tentang fonem disebut dengan fonologi atau fonemik.Fonem dihasilkan oleh
alat ucap manusia yang disebut artikulasi.Dalam bentuk tertulisnya disebut huruf.cara
mengucapkan bunyi-bunyi itu disebut dengan lafal.jadi lafal adalah cara seseorang dalam
mengucapkan lambang-lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucapnya.
Lafal sering dipengaruhi oleh bahasa daerah, mengingat pemakai bahasa jWa terdiri dari
berbagai daerah pada pulau jawa dan memiliki bahasa daerah masing-masing.Bahasa daerah
merupakan bahasa ibu yang sulit dihilangkan khususnya pada bahasa jawa. Banyajk sekali
masyarakat yang menggunakan bahasabjaWa.Beda pada lafal akan menyebabkan perbedaan
pada maknanya pula, maka dari itu diperlukan penggunaan tekanan dan intonasi yang tepat
agar maknanya sesuai.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana fonem suprasegmental dalam bahasa Jawa?
2. Bagaimana unsur fonem suprasegmental dalam bahasa Jawa?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui unsur fonem suprasegmental bahasa jawa
2. Untuk mengetahui bagaimana fonem suprasegmental dalam Bahasa jawa

D. Manfaat

Pembaca dapat mengetahui informasi mengenai unsur suprasegmental Bahasa Jawa dan
dapat sebagai sumber referensi perbandingan dengan bahasa lainnya mengenai
suprasegemtal.

1
BAB II

KAJIAN TEORI

A. Fonem Suprasegmental

Sebelum ditemukan sejumlah fonem dalam bahasa Indonesia terlebih akan dirumuskan
mengenai pengertian tentang fonem. Fonem adalah unsur bahasa yang terkecil dan dapat
membedakan arti atau makna (Gleason,1961: 9). Berdasarkan definisi diatas maka setiap
bunyi bahasa, baik segmental maupun suprasegmental apabila terbukti dapat membedakan
arti dapat disebut fonem. Setiap bunyi bahasa memiliki peluang yang sama untuk menjadi
fonem. Namun, tidak semua bunyi bahasa pasti akan menjadi fonem. Bunyi itu harus diuji
dengan beberapa pengujian penemuan fonem. Nama fonem, ciri-ciri fonem, dan watak fonem
berasal dari bunyi bahasa. Adakalanya jumlah fonem sama dengan jumlah bunyi bahasa,
tetapi sangat jarang terjadi. Pada umumnya fonem suatu bahasa lebih sedikit dari pada jumlah
bunyi suatu bahasa. Berdasarkan kenyataan, ternyata di dalam bahasa Indonesia hanya
ditemukan fonem segmental saja, dan bunyi suprasegmental tidak terbukti dapat
membedakan arti. Oleh karena itu, dalam bahasa Indonesia tidak ditemukannya fonem
suprasegmental. Itulah sebabnya dalam kajian berikut ini hanya dibicarakan fonem segmental
bahasa Indonesia yang meliputi fonem vocal, fonem konsonan, dan fonem semi konsonan.

B. Fonem Vokal

Ada lima dalil atau lima prinsip yang dapat diterapkan dalam penentuan fonem-fonem
suatu bahasa. Kelima prinsip itu berbunyi sebagai berikut :
1. Bunyi-bunyi bahasa yang secara fonetis mirip apabila berada dalam pasangan
minimal merupakan fonem-fonem.
2. Bunyi-bunyi bahasa yang secara fonetis mirip apabila berdistribusi komplementer
merupakan sebuah fonem.
3. Bunyi-bunyi bahasa yang secara fonetis mirip apabila bervariasi bebas, merupakan
sebuah fonem.
4. Bunyi-bunyi bahasa yang secara fonetis mirip, yang berada dalam pasangan mirip
merupakan sebuah fonem sendiri-sendiri.
5. Setiap bunyi bahasa yang berdistribusi lengkap merupakan sebuah fonem.

2
Di antara kelima dalil diatas, hanya tiga buah dalil yang merupakan dalil yang kuat,
yaitu dalil (a), (b), dan (c). dalil (d) dan (e) merupakan dalil yang lemah. Ada sejumlah
pengertian yang harus dipahami didalam dalil-dalil atau didalam prinsip-prinsip diatas.
Pengertian-pengertian yang penulis maksudkan, yaitu:
a. Bunyi-bunyi yang secara fonetis mirip
Dasar yang dipakai untuk menentukan apakah bunyi-bunyi itu mirip secara fonetis
ataukah tidak ialah lafal dan daerah artikulasi bunyi itu. Bunyi-bunyi yang dapat dikatakan
mirip secara fonetis adalah sebagai berikut :
 bunyi-bunyi yang lafalnya mirip dan seartikulasi. Misalnya, bunyi [p] dan [b].
 bunyi-bunyi yang lafalnya mirip dan daerah artikulasinya berdekatan. Misalnya,
bunyi [b] dan [d].
 bunyi-bunyi yang lafalnya jauh berbeda dan seartikulasi. Misalnya, bunyi [b] dan [m].
 bunyi-bunyi yang lafalnya mirip dan daerah artikulasinya berjauhan. Misalnya, bunyi
[m] dan [n].

b. Pasanan Minimal
Pasangan minimal merupakan pasangan dua kata dasar yang artinya berbeda, jumlah dan
urutan bunyinya sama, dan didalamnya hanya berbeda satu bunyi. Dari sebuah pasangan
minimal hanya dapat diperoleh dua fonem. Misalnya, gali [gali] – kali [kali] adalah pasangan
minimal dan dari pasangan minimal ini diperoleh dua fonem, yaitu /g/ dan /k/.

c. Distribusi Komplementer
Bilamana dua bunyi dikatakan berada dalam distribusi yang komplementer atau yang
mempunyai distribusi yang komplementer?. Untuk dapat mengetahui hal ini, perlu dilihat
tempat kedua bunyi tersebut berada. Tempatnya dapat ditentukan dengan melihat jenis bunyi
yang mengapitnya atau dapat juga ditentukan dengan melihat jenis suku tempatnya berada.
Selanjutnya, yang perlu diperhatikan ialah bahwa kedua bunyi tidak pernah saling tukar
tempat. Artinya, kalau bunyi yang satu selalu diapait oleh bunyi desis, maka bunyi yang
satunya lagi selalu diapait oleh bunyi yang bukan desis. Apabila dua bunyi telah dapat
dibuktikan tempatnya seperti ini, mak berarti kedua bunyi itu berada dalam distri busi
komplementer atau keduanya berdistribusi komplementer. Demikian pula, kalau ada dua
bunyi yang satu selalu ditemulan pada suku terbuka yang satunya lagi selalu ditemukan pada
suku tertutup, maka berarti kedua bunyi itu berada dalam distribusi yang komplementer.

3
Dalam arus ujaran itu ada bunyi yang dapat di segmentasikan. Sehingga disebut bunyi
Segmental. Tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi
tidak dapat di segmentasikan. Bagian dari bunyi disebut bunyi suprasegmental atau prosodi.
Dalam ssupra segmentasi di bedakan pula menjadi tekanan atau stres, nad atau pitch, dan jeda
atau persendian.
 Pengertian Stress (Nabr)
Stres atau tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Suatu bunyi segmental
yang di ucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar,
pasti, desertai dengan tekanan keras. Sebaliknya, sebuah bunyi segmental yang diucapkan
dengan arus udara yang tidak kuat sehingga amplitudonya menyempit, pasti, disertai dengan
tekanan lunak. Tekanan ini mungkin terjadi secara sporadis, mungkin juga telah berpola;
mungkin juga bersifat distingtif, dapat membedakan makna, mungkin juga tidak distingtif.
Dalam bahasa Inggris tekanan ini bisa distingtif, tetapi dalam bahasa Indonesia tidak.
Contohnya, kata blackboard diberikan tekanan pada unsur black maka maknanya adalah
papan hitam. Sedang dalam bahasa Indonesia kata orang tua maknanya bila tekanannya
dijatuhkan baik pada unsur orang maupun tua maknanya tetap sama saja.

 Pengertian Silabel (Maqtha’)


Silailabel adalah suatu ritmis terkecil dalam suatu ujaran atau runtutan bunyi ujaran. Satu
silabel biasanya meliputi satu vokal atau satu vokal dan satu konsonan atau lebih. Silabel
atau suku kata merupakan runtutan bunyi yang di tandai dengan satu satuan bunyi yang
paling nyaring (puncak kenyaringan: sononitas, yang biasanya jatuh pada sebuah vokal) yang
dapat disertai atau tidak oleh bunyi lain di depannya, di belakang atau sekaligus di depan dan
belakangnya, terjadi karena adanya ruang resonansi berupa rongga mulut, rongga hidung,
atau rongga-rongga lain didalam kepala dan dada.
Bunyi yang paling banyak menggunakan ruang resonansi itu adalah bunyi vokal. Karena
itulah, yang dapat disebut bunyi silabis atau puncak silabis adalah bunyi vokal. Bunyi vokal
memang selalu mungkin puncak silabis atau puncak kenyaringan dalam suatu silabel.
Namun, dalam satuan ritmis tertentu, sebuah konsonan, baik yang bersuara maupun yang
tidak, mempunyai kemungkinan juga untuk menjadi puncak silabis.
Menentukan batas silabel sebuah kata kadang-kadang memang sedikit sukar karena
penentuaan batas itu bukan hanya soal fonetik, tetapi juga soal fonemik, morfologi, dan
ortografi.

4
Bidang Linguistik yang mempelajari, menganalisis dan membicarakan runtutan bunyi-
bunyi bahasa tersebut yang di sebut fonologi, fon: bunyi dan logi: ilmu. Objek studi fonologi
di bedakan menjadi fonetik dan fonemik. Fonetik mempelajari bunyi bahasa tanpa
memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.
Fonemik mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi sebagai pembeda
makna. Fonetik akan berusaha mendeskripsikan perbedaan bunyi-bunyi tersebut serta
menjelaskan sebab-sebabnya. Misalnya −>paru dan baru −>contoh sasaran studi fonemik.

Jenis-jenis Silabel
1. Nomina (kata benda); nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang
dibendakan, misalnya buku, kuda.
2. Verba (kata kerja); kata yang menyatakan suatu tindakan atau pengertian dinamis,
misalnya baca, lari.
 Verba transitif (membunuh),
 Verba kerja intransitif (meninggal),
 Pelengkap (berumah)
3. Adjektiva (kata sifat); kata yang menjelaskan kata benda, misalnya keras, cepat.
4. Adverbia (kata keterangan); kata yang memberikan keterangan pada kata yang bukan
kata benda, misalnya sekarang, agak.
5. Pronomina (kata ganti); kata pengganti kata benda, misalnya ia, itu.
 Orang pertama (kami),  Kata ganti kepunyaan (-
 Orang kedua (engkau), nya),
 Orang ketiga (mereka),  Kata ganti penunjuk (ini,
itu)
6. Numeralia (kata bilangan); kata yang menyatakan jumlah benda atau hal atau
menunjukkan urutannya dalam suatu deretan, misalnya satu, kedua.
 Angka kardinal (duabelas),
 Angka ordinal (keduabelas) vf
7. Kata tugas adalah jenis kata di luar kata-kata di atas yang berdasarkan peranannya
dapat dibagi menjadi lima subkelompok:
 preposisi (kata depan) (contoh: dari),
 konjungsi (kata sambung) –
 Konjungsi berkoordinasi (dan), Konjungsi subordinat (karena),

5
 artikula (kata sandang) (contoh: sang, si) - Umum dalam bahasa Eropa
(misalnya the),
 interjeksi (kata seru) (contoh: wow, wah), dan partikel.
 Pengertian Intonasi (Tanghim)
Intonasi adalah suat bentuk tekanan, nada, dan tempo. Ciri-ciri intonasi yaitu:

1. Tekanan menyertai bunyi ujaran.


2. Tempo yaitu waktu melafalkan suatu arus ujaran.
3. Nada yaitu kemyaringan suatu arus ujaran.

Jenis-jenis Intonasi

1. Intonasi dinamik (keras-lembut): tekanan pada kata-kata yang dianggap penting.


2. Intonasi nada (tinggi-rendah): tekanan tinggi rendahnya suara. Suara tinggi
menggambarkan keriangan, marah, takjub, dan lain sebagainya. Sementara, suara
rendah mengungkapkan kesedihan, pasrah, ragu, putus asa, dan lain sebagainya.
3. Intonasi cepat-lambat: cepat lambat pengucapan suku kata atau kata.

 Jeda (Waqfah)

Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Disebut jeda
karena adanya hentian tersebut, dan disebut persendian karena di tempat perhentian terjadi
persambungan antara segmen yang satu dengan segmen yang lain. Jeda ini dapat bersifat
penuh dan dapat bersifat sementara. Biasanya jeda dibedakan karena adanya sendi dalam atau
internal juncture dan sendi luar atau open juncture.

Sendi dalam menunjukkan batas antara satu silabel dengan silabel yang lain. Sendi dalam,
menjadi batas silabel biasanya diberi tanda (+). Sedang sendi luar menunjukkan batas yang
lebih besar dari segmen silabel. Dalam hal ini biasnya dibedakan :

1. Jeda antara dalam frase diberi tanda berupa garis miring tunggal ( / ).
2. Jeda antara frase dalam klausa diberi tanda berupa garis miring ganda ( // ).
3. Jeda antar kalimat dalam wacana diberi tanda berupa garis silang ganda ( # ).

Jeda dianggap penting karena tekanan dan jeda itu dapat mengubah makna kalimat.

6
BAB III

PEMBAHASAN

Pengertian Unsur Suprasegmental

Ujaran merupakan suatu runtunan bunyi yang sambung bersambung terus menerus
diselang-seling dengan jeda singkat atau jeda agak singkat, disertai dengan keras lembut
bunyi, tinggi rendah bunyi, panjang pendek bunyi, dan sebagainya. Dalam arus ujaran itu ada
bunyi yang dapat disegmentasikan sehingga disebut bunyi segmental;tetapi yang berkenaan
dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan. Bagian
dari bunyi tersebut disebut bunyi suprasegmental atau prosodi. Dalam studi mengenai bunyi
atau unsur suprasegmental ini, biasanya dibedakan atas :

1. Tekanan atau Stres

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi, suatu bunyi segmental yang
diucapkan dengan arus udara yang kuata sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, pasti
dibarengi dengan tekanan keras. Sebaliknya, sebuah bunyi segmental yang diucapkan dengan
arus udara yang tidak kuat sehingga amplitudonya menyempit, pasti dibarengi dengan
tekanan lunak. Tekanan ini mungkin terjadi secara sporadis, mungkin juga telah berpola;
mungkin juga bersifat distingtif dapat membedakan makna, mungkin juga tidak distingtif.
Dalam bahasa Indonesia tidak ada tekanan distingtif, misalnya kata orang tua bila tekanan
dijatuhkan baik pada unsur orang maupun tua maknanya tetap sama saja. Begitu pula dalam
bahasa Jawa kata wong tuwa bila tekanan dijatuhkan baik pada unsur wong maupun tuwa
maknanya tetap sama saja.

2. Nada atau Pitch

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Bila suatu bunyi segmental
diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi, tentu akan disertai dengan nada yang tinggi.
Sebaliknya, kalau diucapkan dengan frekuensi getaran yang rendah, tentu juga akan disertai
dengan nada yang rendah. Dalam bahasa tonal seperti bahasa Vietnam perbedaan tinggi
rendahnya suatu nada dapat mempengaruhi arti akan tetapi dalam bahasa Jawa tinggi
rendahnya bahasa tidak mempengaruhi arti karena bahasa Jawa bukan termasuk bahasa tonal.

7
3. Jeda atau Persendian

Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Disebut jeda
karena hentian itu, dan disebut persendian karena di tempat perhentian itulah terjadinya
persambungan antara segmen yang satu dengan segmen yang lain. Jeda ini dapat bersifat
penuh dan dapat juga bersifat sementara. Biasanya dibedakan adanya sendi dalam atau
internal juncture dan sendi luar atau open juncture.

Sendi dalam yang menunjukkan batas antara silabel satu dengan silabel yang lain
biasanya diberi tanda (+).

Misal /ju + puk/

Sendi luar menunjukkan batas yang lebih besar dari segmen silabel. Dalam hal ini
dibedakan :

a. Jeda antarkata dalam frase diberi tanda (/)


b. Jeda antarfrase dalam klausa diberi tanda ( //)
c. Jeda antar kalimat dalam wacana diberi tanda (#)

Tekanan dan jeda dalam bahasa sangat penting, tidak terkecuali dengan bahasa Jawa.
Karena tekanan dan jeda itu dapat mengubah makna dalam kalimat. Misal :

# buku // sejarah / anyar#

# buku / sejarah // anyar #

4. Silabel

Silabel atau suku kata adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran. Satu silabel
biasanya meliputi satu vokal, atau satu vokal dan satu konsonan atau lebih. Dalam bahasa
Jawa urutan silabelnya berjumlah enam yaitu : V, VK, KV, KVK, KKV dan KKVK.

Contoh: (V) iki (i-ki)

Silabel sebagai satuan ritmis mempunyai puncak kenyaringan atau sonoritas yang
biasanya jatuh pada sebuah vokal. Kenyaringan atau sonoritas, yang menjadi puncak silabel
karena adanya ruang resonansi berupa rongga mulut, rongga hidung atau rongga-rongga lain
di kepala atau dada. Misalnya kata dalam bahasa Jawa lan. Bunyi [l] dan [n] adalah buyi
konsonan, sedangkan bunyi [a] pada kata itu menjadi puncak silabis atau kenyaringan.

8
Dalam silabel terdapat onset yaitu bunyi pertama pada sebuah silabel, misalnya huruf (s)
pada kata sumpah. Sedangkan yang dimaksud dengan koda adalah bunyi akhir pada sebuah
silabel, misal kata sumpah jika diuraikan menjadi [sum + pah], [m] pada akhir suku kata
pertama itu disebut koda. Selain dua hal tersebut terdapat juga yang disebut interlude, yaitu
bunyi yang sekaligus dapat menjadi onset dan koda pada dua buah silabel yang berurutan.

Contohnya adalah :

Demonstrasi De-mon-stra-si(penyukuan pertama)

De-mons-tra-si (penyukuan kedua)

Dari pembahasan di atas kata demonstrasi disebut interlude karena huruf (s) selain
berkedudukan sebagai onset (pada penyukuan pertama) juga menjadi koda pada penyukuan
kedua.

Fonemik

Di depan telah disebutkan bahwa obyek penelitian fonetik adalah fon, yaitu bunyi bahasa
tanpa memperhatikan bunyi bahasa tersebut dapat membedakan makna kata atau tidak.
Sedangkan objek penelitian fonemik adalah fonem, yaitu bunyi bahasa yang dapat atau
berfungsi membedakan makna kata. Dalam fonemik kita meneliti apakah perbedaan bunyi itu
berfungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

1. Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan, kita harus mencari sebuah
satuan bahasa, biasanya sebuah kata, yang mengandung bunyi tersebut, lalu
membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan satuan bahasa yang
pertama. Kalau ternyata kedua satuan bahasa itu berbeda maknanya, maka bunyi tersebut
adalah sebuah fonem. Misalnya adalah kata bahasa Jawa berikut.

Suru turu

Lemper lemper

[lEmpEr] [lǝmpǝr]

Pada kata pertama perbedaannya hanya terdapat pada bunyi pertama yaitu bunyi [s] dan
bunyi [t]. Sedangkan pada kata yang kedua perbedaannya hanya terdapat pada bunyi [E] dan

9
bunyi [ǝ]. Kedua bunyi tersebut menyebabkan kedua kata yang mirip berbeda maknanya. Dua
kata yang mirip seperti kata turu dan suru serta kata lemper [lEmpEr] dan lemper [lǝmpǝr]
disebut kata-kata yang berkontras minimal, atau dua buah kata yang merupakan pasangan
minimal (minimal pair). Jadi, untuk membuktikan sebuah bunyi fonem atau bukan haruslah
dicari pasangan minimalnya.

Namun kadang-kadang pasangan minimal ini tidak memiliki jumlah bunyi yang persis
sama. Misalnya adalah kata dalam bahasa Jawa suruh dan suru juga merupakan pasangan
minimal. Sebab adanya bunyi [h] pada kata pertama dan tidak adanya bunyi [h] pada kata
kedua menyebabkan kedua kata itu berbeda maknanya. Fonem dalam suatu bahasa ada yang
memiliki beban fungsional yang tinggi adapula yang rendah. Fonem dalam bahasa Jawa
beban fungsionalnya tinggi karena sering ditemukan kata yang memiliki pasangan minimal.

Contoh :

ala : apa turu : suru

adu : apu lara : dara

2. Alofon

Alofon adalah bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem atau
alofon adalah rubahnya bunyi yang tidak merubah makna. Dalam bahasa Indonesia
fonem /o/ memiliki dua buah alofon yaitu /o/ seperti dalam kata toko dan /ͻ/ seperti
dalam kata tokoh. Dalam bahasa Jawa pada umumnya vokal yang termasuk alofon
adalah bunyi [i] dan [I] serta bunyi [u] dan [ʊ].

Contoh : [payung] ~ [payʊɳ] [luri?] ~ [lurI?]

Payung payung lurik lurik

Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis. Artinya memiliki


banyak kesamaan dalam pengucapannya. Atau kalau kita lihat dalam peta fonem
letaknya masih berdekatan atau saling berdekatan. Tentang distribusinya ada yang
bersifat komplementer dan bersifat bebas. Yang dimaksud dengan distribusi
komplementer adalah distribusi yang tempatnya tidak bisa dipertukarkan, meskipun
dipertukarkan juga tidak akan menimbulkan perbedaan makna. Contohnya adalah
bunyi /o/ yang berada pada silabel terbuka diucapkan /o/ seperti pada kata bodho dan

10
ogak; dan yang terdapat pada silabel tertutup diucapkan /ͻ/ seperti pada kata goroh
[gͻrͻh]. Yang dimaksud distribusi bebas adalah bahwa alofon-alofon itu boleh
digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu. Contohnya adalah bunyi /o/
dan /ͻ/ adalah alofon dari fonem /o/ maka ternyata pada kata obat dapat dilafalkan
/obat/ dan bisa juga /ͻbat/. Dalam hal distribusi bebas ini ada bunyi oposisi yang jelas
merupakan dua buah fonem yang berbeda karena ada pasangan minimalnya, namun
dalam pasangan yang lain hanya merupakan variasi bebas. Contoh yang merupakan
variasi bebas dalam bahasa Jawa adalah :

Bae– wae Takon – tekon

Kegedhen – gegedhen Lanang – lenang

3. Klasifikasi Fonem

Fonem terbagi atas fonem vokal dan fonem konsonan. Fonem-fonem yang berupa
bunyi, yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem
segmental. Sebaliknya fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem
suprasegmental atau fonem nonsegmental. Jadi, pada tingkat fonemik, ciri-ciri prosodi
itu, seperti tekanan, durasi, dan nada bersifat fungsional alias dapat membedakan
makna. Dalam bahasa Jawa unsur suprasegmental terletak pada intonasi. Misalnya
adalah kalimat dheweke maca komik. Dengan memberi tekanan pada dheweke berarti
yang membaca bukan orang lain; dengan memberi tekanan pada maca berarti dia
tidak menulis atau mendengarkan; dan dengan memberi tekanan pada komik berarti
yang dibaca bukan koran. Begitu juga tanpa perubahan struktur, hanya dengan
memberi intonasi tanya maka akan berubah menjadi kalimat tanya dan dengan
memberi intonasi seruan maka akan menjadi kalimat seru.

4. Khazanah Fonem

Yang dimaksud khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam
satu bahasa. Dalam bahasa Jawa terdapat 7 fonem vokal yaitu : /a/, /ͻ/, /i/, /u/, /e/, /ǝ/
dan /o/ sedangkan fonem konsonan terdiri dari 21 fonem konsonan yaitu : p, b, m, w,
th, dh, t, d, n, s, r, l, c, j, N, y, k, g, ɳ, h dan fonem glotal ? yang merupakan alofon
dari fonem /k/.

5. Perubahan Fonem

11
Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab tergantung pada lingkungannya,
atau fonem-fonem lain di sekitarnya. Misalnya adalah seperti pada uraian berikut :

Fonem /i/ dalam bahasa Jawa jika dalam silabel terbuka akan berbunyi /i/ seperti
pada kata berikut.

Ilu siji Bali risi

Sedangkan jika terdapat dalam fonem tertutup maka akan berbunyi /I/ seperti pada kata
berikut :

Aring [arIɳ] alit [alIt] Jarik [jari?] lurik [luri?]

Fonem /u/ jika terdapat dalam silabel terbuka maka akan berbunyi /u/ seperti pada kata
berikut :

Upa [upͻ] kuku [kuku] Ulam [ulam] kayu [kayu]

Fonem /u/ jika terdapat dalam silabel tertutup maka akan berbunyi /ʊ/ seperti pada kata
berikut :

Irung [irʊɳ] kidung [kidʊɳ] Dumuk [dumʊ?] sembur [sǝmbʊr]

6. Asimilasi dan Desimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya suatu bunyi yang lain sebagai akibat dari
bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai
ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. Biasanya dibedakan
asimilasi progresif. Regresif, dan resiprokal. Pada asimilasi progresif bunyi yang
diubah itu terletak pada belakang bunyi yang mempengaruhinya. Misal kata dalam
bahasa Jawa : stasiun. Bunyi /t/ yang diucapkan secara apiko-dental, tetapi /t/
diucapkan apiko-alveolar karena pengaruh bunyi /s/ di depannya. Pada asimilasi
regresif, bunyi yang diubah terletak di muka bunyi yang mempengaruhinya. Misal
kata dalam bahasa Jawa : pandan pandhan. /n/ dilafal apiko-alveolar tetapi ada
nasal sebelum /dh/ diucapkan apiko-palatal, perubahan tersebut secara progresif dari
bunyi letup palatal /dh/ . asimilasi resiprokal perubahan bunyi itu terjadi pada kedua
bunyi yang saling mempengaruhi. Dalam bahasa Jawa tidak ada asimilasi resiprokal.

12
Desimilasi merupakan perubahan bunyi karena pergantian tempat bunyi dan tidak
merubah makna kata.contoh kata dalam bahasa Jawa adalah sebagai berikut.

Lara-lara lara-lapa Lara ireng rara ireng

13
7. Netralisasi dan Arkifonem

Netralisasi adalah alternasi fonem akibat pengaruh lingkungan atau pembatalan


perbedaan minimal fonem pada posisi tertentu. Contohnya adalah pasangan kata
[sabtu] dan [saptu], baik ditulis dengan huruf /b/ maupun /p/ maka tidak akan
merubah makna. Jadi disini fungsi pembeda makna menjadi batal. Meskipun
sebenarnya dalam kaidah ejaan yang betul adalah bentuk sabtu.

Arkifonem merupakan satu fonem yang bisa berwujud lebih dari satu. Contohnya
dalam bahasa Jawa adalah kata anteb yang diucapkan /antep/ atau juga /anteb/; tetapi
bila diberi imbuhan –ing bentuknya menjadi antebing. Jadi, disini berlaku
arkifonem /B/ yang realisasinya bisa menjadi /b/ atau /p/.

8. Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal

Umlaut adalah perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah
menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal berikutnya yang tinggi.
Dalam bahasa Jawa umlaut adalah rubahnya bunyi pada akhir suku kata karena
adanya imbuhan tertentu. Umlaut juga disebut sebagai harmoni vokal atau modifikasi
vokal. Contohnya dalam bahasa Jawa adalah bunyi [ʊ] dan [I] yang termasuk bunyi
renggang, tetapi setelah diberi imbuhan –e menjadi bunyi kencang, yaitu suara [i] dan
[u].

Contoh : [piriɳ] + -e [piriɳe]

[timʊn] + -e [timune]

Ablaut perubahan vokal bukan hanya terbatas pada peninggian vokal akibat
pengaruh bunyi berikutnya dan bukan pula terbatas hanya pada peninggian bunyi
tetapi juga pada pemanjangan, pemendekan atau penghilangan vokal. Contohnya
dalam bahasa Jawa adalah kata garing [garIɳ] artinya kering, tapi biasa keringnya,
tapi apabila pengucapannya garing berarti maknanya sangat kering atau kering sekali.

9. Kontraksi

Dalam percakapan yang cepat atau situasi informal seringkali penutur


memperpendek atau mempersingkat ujarannya. Contohnya adalah kata dalam bahasa
Jawa ora weruh diucapkan menjadi ra ruh.

14
15
10. Metatesis dan Epentesis

Metatesis adalah proses merubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata.
Lazimnya, bentuk asli dan bentuk metatesisnya sama-sama terdapat dalam bahasa
tersebut. Contoh metatesis dalam bahasa Jawa adalah sebagai berikut.

Wira-wiri riwa-riwi

Bejad jebad

Epentesis adalah penyisipan sebuah fonem tertentu di dalam sebuah kata. Contoh
epentesis dalam bahasa Jawa adalah sebagai berikut.

Akasa angkasa

Upama umpama

16
BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan

Setiap bunyi bahasa memiliki peluang yang sama untuk menjadi fonem. Namun,
tidak semua bunyi bahasa pasti akan menjadi fonem. Bunyi itu harus diuji dengan
beberapa pengujian penemuan fonem. , ternyata di dalam bahasa Indonesia hanya
ditemukan fonem segmental saja, dan bunyi suprasegmental tidak terbukti dapat
membedakan arti. Bahasa daerah merupakan bahasa ibu yang sulit dihilangkan
khususnya pada bahasa jawa. Banyajk sekali masyarakat yang menggunakan
bahasabjaWa.Beda pada lafal akan menyebabkan perbedaan pada maknanya pula,
maka dari itu diperlukan penggunaan tekanan dan intonasi yang tepat agar maknanya
sesuai.

B. Saran

Diharapkan siswa mampu mempelajarii bahasa daerah siswa aga meningkatkan


pengetahuan siswa, bisa mengembangkan bahasa daerah lainya.

17
DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2009. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta

Muslich, Masnur. 2010. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

18