Asesmen Psikologi dalam Psikologi Klinis
Asesmen Psikologi dalam Psikologi Klinis
ASESMEN PSIKOLOGI
Disusun Oleh:
Kelompok C
Noor Sharmilla 1904031009
Firu Ikhsani 1904030002
Tamara Setya Nuraini 1803021011
Puji syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah
dengan judul “Asesmen Psikologi” dengan baik dan lancar. Makalah ini disusun guna
memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah Psikologi Klinis. Penyusun menyadari bahwa
makalah ini masih jauh sempurna, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Besar harapannya penyusun mendapat masukan
kritis untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas makalah ini. Semoga materi yang
terdapat pada makalah ini dapat menambah wawasan pembaca.
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
COVER
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan Makalah 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi dan Tujuan Asesmen 3
B. Definisi dan Tujuan Asesmen dalam Psikologi Klinis 3
C. Sasaran Asesmen dalam Psikologi Klinis 5
D. Metode Asesmen dalam Psikologi Klinis 5
E. Proses Asesmen dalam Psikologi Klinis 12
F. Berbagai Jenis Asesmen dalam Psikologi Klinis 15
DAFTAR PUSTAKA
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Psikologi Klinis merupakan salah satu bidang psikologi terapan yang menggunakan
konsep-konsep Psikologi Abnormal, Psikologi Perkembangan, Psikopatologi dan
Psikologi Kepribadian. Assesmen dalam Psikologi klinis sangat diperlukan agar psikolog
klinis dapat melakukan diagnosa dan menetapkan intervensi sehingga lebih memahami
masalah-masalah psikologis, gangguan penyesuaian diri dan tingkah laku abnormal pada
klien.
Asesmen psikologi memiliki prosedur evaluasi yang dilaksanakan secara sistematis.
Termasuk didalamnya terdapat prosedur observasi, wawancara, pemberian satu atau
seperangkat instrumen atau alat tes yang bertujuan untuk melakukan penilaian dan/atau
pemeriksaan psikologi.
Asesmen klinis merupakan proses yang digunakan psikolog klinis untuk mengamati
dan mengevaluasi masalah sosial dan psikologis klien, baik menyangkut keterbatasan
maupun kapabilitasnya. Sebagai prasyarat bagi terapi, asesmen klinis menyediakan
jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan kunci, seperti menyangkut kelemahan klien dan
akibat-akibatnya, defisiensi dan gangguan apa yang terjadi pada pemfungsian klien atau
lingkungan sosialnya untuk mengelola masalah dan atau mengembangkan kecenderungan
positifnya, serta intervensi apa yang terbaik digunakan untuk dapat memenuhi kebutuhan
klien.
Asesmen juga memberikan kontribusi terhadap riset klinis, antara lain dengan
menyediakan landasan ilmiah untuk mengevaluasi terapi dan membangun teori-teori
pemfungsian dan disfungsi manusia. Asesmen klinis sering pula diartikan sebagai
psikodiagnostik, yaitu upaya untuk memahami sumber sumber penyakit melalui gejala-
gejala sakit atau maladaptif dan kemudian memasukkannya ke dalam kelompok jenis
gangguan yang baku atau telah dibakukan.
Usaha-usaha atau penekanan asesmen yang dilakukan disesuaikan dengan
pendekatan atau teori yang akan digunakan. Penekanan asesmen berkaitan dengan
dinamika kepribadian, latar belakang lingkungan sosial dan keluarga, pola interaksi
dengan orang lain, persepsi terhadap diri dan realita atau riwayat secara genetis dan
fisiologi.
1
Berdasarkan penjelasan di atas, penyusun tertarik untuk membahas lebih dalam hal-
hal yang berkaitan dengan assesmen dalam psikologi klinis.
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dan tujuan asesmen dalam psikologi klinis?
2. Apakah sasaran asesmen dalam psikologi klinis?
3. Apa saja metode asesmen dalam psikologi klinis?
4. Bagaimana proses asesmen dalam psikologi klinis?
5. Apa saja jenis-jenis asesmen dalam psikologi klinis?
C. Tujuan Makalah
Menjabarkan definisi dan tujuan Asesmen dalam Psikologi klinis, mengetahui
sasaran Asesmen dalam Psikologi Klinis, mampu menyebutkan metode-metode Asesmen
dalam Psikologi Klinis, dapat memahami proses sistematis Asesmen dalam Psikologi
Klinis, dan mengenali berbagai jenis Asesmen dalam Psikologi Klinis.
2
BAB II
PEMBAHASAN
3
Memungkingkan klinisi untuk mendiskusikan gangguan dengan cara efektif
bersama profesional yang lain (Sartorius et.al, 1996).
b. Deskripsi
Para klinisi beranggapan bahwa untuk memahami content dari perilaku klien
secara utuh maka harus mempertimbangkan juga tentang konteks sosial, budaya dan
fisik klien. Hal itu menyebabkan asesmen diharapkan dapat mendeskripsikan
kepribadian seseorang secara lebih utuh dengan melihat pada person-environtment
interactions. Dalam fungsinya sebagai sarana untuk melakukan deskripsi terhadap
kepribadian seseorang secara utuh, di dalam asesmen harus terdapat antara lain :
motivasi klien, fungsi intrapsikis, respon terhadap tes, pengalaman subjektif, pola
interaksi, kebutuhan (needs) dan perilaku. Dengan menggunakan pendekatan
deskriptif tersebut memudahkan klinisi untuk mengukur perilaku pra treatment,
merencanakan jenis treatment dan mengevaluasi perubahan perilaku pasca
treatment.
c. Prediksi
Tujuan asesmen yang ketiga adalah untuk memprediksi perilaku seseorang.
Misalnya klinisi diminta oleh perusahaan, kantor pemerintah atau militer untuk
menyeleksi seseorang yang tepat bagi suatu posisi kerja tertentu. Dalam kasus
tersebut, klinisi akan melakukan asesmen dengan mengumpulkan dan menguji data
deskriptif yang kemudian digunakan sebagai dasar untuk melakukan prediksi dan
seleksi.
Klinisi kadang dihadapkan pada situasi untuk memprediksi hal-hal yang
berbahaya, misalnya pertanyaan seperti “Apakah si A akan bunuh diri ?”, “Apakah
si B tidak akan menyakiti orang lain setelah keluar dari RS?”. Pada saat itu klinisi
harus menentukan jawaban “ya” atau “tidak”. Prediksi klinisi tentang “berbahaya”
atau “tidak berbahaya” dapat dievaluasi dengan empat kemungkinan jawaban.
True positive, jika prediksi klinisi berbahaya dan ternyata klien menunjukkan
perilaku berbahaya.
True negative, jika prediksi klinisi tidak berbahaya dan ternyata klien
menunjukkan perilaku yang tidak berbahaya.
False negative, jika prediksi klinisi tidak berbahaya tetapi klien menunjukkan
perilaku berbahaya.
4
False positive, jika prediksi klinisi berbahaya tetapi klien menunjukkan perilaku
tidak berbahaya.
5
menyadari sikapnya terhadap klien/pasien agar tidak terjadi proyeksi dalam
menafsirkan/menginterpretasi suatu hasil wawancara/pengamatan terhadap klien.
Pewawancara harus sadar sepenuhnya atas tindakannya sendiri dan dampak
tindakannya terhadap pasien/kliennya.
Pemeriksaan Psikologi Klinis pada Tahap Awal
Setelah pertanyaan-pertanyaan mengenai data objektif seperti nama, umur, alamat,
pekerjaan, pendidikan, dan lain-lain didapat, maka percakapan pertama yang
dilakukan dalam pemeriksaan klinis adalah mengenai masalah/keluhan. Pada
pertemuan pertama sebaiknya pemeriksa membiarkan klien mengutarakan
persoalannya. Dalam hal ini pemeriksa tidak memberikan pertanyaan yang terlalu
mendalam atau mengenai sebab-sebab dari keluhannya. Hal ini penting untuk
mendapat rapport yang baik dengan klien. Setelah itu pembicaraan diarahkan pada
keluhan klien. Beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam melakukan
pembicaraan yang mendalam yaitu klien cukup stabil, tak begitu terganggu dan
pemeriksa siap serta ada waktu yang cukup untuk membicarakan hal tersebut. Pada
akhir pertemuan pertama sebaiknya pemeriksa mempersiapkan akhir wawancara
dengan memberikan pengarahan wawancara pada satu topik tertentu, dan
mempersiapkannya untuk pertemuan konsultasi selanjutnya.
Anamnesis dan Bentuk-bentuk Percakapan/Wawancara Klinis
Anamnesis berasal dari Bahasa Yunani yang artinya mengingat kembali. Anamnesis
merupakan kegiatan menanyakan kepada klien mengenai suatu persoalan yang
dialaminya, mengenai riwayat hidupnya. Setelah pada tahap awal pemeriksaan
dibahas mengenai keluhan/masalah klien dan latar belakangnya maka selanjutnya
diadakan eksplorasi mengenai riwayat keluhan dan riwayat hidup klien. Ada
beberapa teknik bertanya yang dikemukakan ole Wallen sehubungan dengan
pengambilan anamnesis. Teknik-teknik bertanya tersebut adalah:
a. Narrowing Questions: mulai dengan mengajukan pertanyaan luas, kemudian
disusul dengan pertanyaan yang lebih mendetail. Fungsinya ialah untuk
mengetahui sikap klien yang spontan atau yang sejujur-jujurnya.
b. Progressing Questions: mulai dengan memberikan pertanyaan tentang suatu
yang dekat dengan apa yang sesungguhnya ingin diketahui, kemudian menyusul
pertanyaan yang secara progresif mengarah pada hal yang sesungguhnya ingin
diketahui.
6
c. Embedding Questions: menyembunyikan pertanyaan yang lebih signifikan, ke
dalam pertanyaan lain.
d. Leading Questions: memberikan pertanyaan yang terarah pada sesuatu yang
ingin diketahui, dengan cara yang hati-hati.
e. Holdover Questions: menunda suatu pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam
pikiran pemeriksa, sewaktu klien sedang menceritakan suatu peristiwa.
f. Projective Questions: menanyakan pendapat klien tentang hal-hal tertentu atau
orang lain, untuk mengetahui sistem nilai klien yang diterapkan terhadap pada
diri sendiri atau terhadap orang lain.
2. Observasi dalam Psikologi Klinis
Lima keadaan/cara menerapkan observasi yakni pada studi lapangan, introspeksi,
studi kasus, metode klinis dan metode eksperimen. Studi lapangan tidak mengontrol
apa yang diobservasi, tapi berusaha untuk membuat proses observasi itu dapat
diandalkan semaksimal mungkin. Introspeksi atau pengamatan diri sendiri ialah suatu
proses asosiasi yang hanya dikontrol oleh subjek yang melakukan introspeksi. Studi
kasus adalah observasi historis yang didasarkan pada penggunaan dokumen pribadi.
Metode observasi klinis memberikan kemungkinan kontrol dengan menggunakan
situasi standar, stimuli standar (misalnya wawancara dan tes) dan pengarahan standar.
Metode observasi eksperimental berbeda dari empat metode sebelumnya di mana
observer menentukan lebih dahulu hal-hal yang akan diobservasi dan di mana atau dari
mana ia akan mendapatkannya. Metode klinis terdiri dari observasi yang dikendalikan
oleh wawancara dan tes. Metode klinis digunakan untuk mendapatkan baik diagnosis
informal maupun diagnosis formal atau nama-nama penyakit jiwa.
3. Tes Terstruktur
Tes ini meminta subyek untuk menjawab pertanyaan secara tegas, tidak samar-
samar, ya atau tidak, dan maknanya uniform, serta merespons pertanyaan dengan cara
yang terbatas. Tes terstruktur membutukan standarisasi yang hati-hati dan norma yang
representatif. Termasuk dalam hal standarisasi ini adalah prosedur pengetesan dan klien
serta tempat dan suasana di mana tes berlangsung. Setiap tes sebagai bagian dalam
keseluruhan asesmen, pada dasarnya dapat dibakukan. Yang penting adalah adanya
paling sedikit, reliabilitas dan validitas yang memadai dalam hal alat tesnya, dan
terdapat keseragaman dalam pelaksanaan tes maupun kejelasan subyek pengetesan atau
biasa disebut testee. Wilayah psikis-mental yang dapat dijangkau oleh tes terstruktur
tidak hanya menyangkut dominan kognitif, seperti inteligensi, melainkan juga yang
7
bersifat afektif, seperti emosionalitas, dan motivasi. Standardisasi, atau pembakuan,
diperlukan agar efek dari faktor-faktor luar yang tidak dikehendaki, misalnya perbedaan
yang tidak dimaksudkan untuk diukur dari orang-orang yang dites, diminimalkan.
4. Tes Tak Terstruktur
Disebut tak terstruktur karena stimulus tesnya tidak membutuhkan jawaban yang
ditentukan secara tegas dan jelas. Faktor pribadi testee sangat menentukan. Dalam tes
tak terstruktur tidak terdapat ikatan yang terlalu kuat akan adanya item tes dan lebih
menekankan pada bagaimana subyek berespons terhadap alat tes yang ambiguous. Pada
dasarnya terdapat beberapa kemungkinan cara penafsiran, yang terpenting ialah asosiasi
dan simbolisasi. Dengan asosiasi dimaksudkan, bahwa respons-respons itu memiliki
kedekatan dengan kehidupan atau kejadian sehari-hari yang paling dekat dialami
klien/pasien dan memiliki kaitan dengan keluhan yang dimilikinya. Dengan simbolik
dimaksudkan, bahwa apa yang menjadi respons itu bukanlah keadaan yang wujudnya
sama dengan keadaan atau permasalahan yang dialami klien dalam kehidupan sehari-
hari. Wujud itu harus ditafsirkan lebih dalam.
5. Asesmen-asesmen Keperilakuan (Behavorial Assessments)
Observasi ini merupakan observasi sistematik yang dilakukan dalam
laboratorium, di klinik, kelas, ataupun dalam perilaku sehari-hari. Dalam situasi klinis
observasi ini kadang-kadang dimaksudkan untuk mendapatkan informasi yang tidak
diperoleh melalui wawancara, mengevaluasi ketepatan komunikasi verbal klien dan
konsistennya dengan komunikasi non-verbal, dan motivasi yang perlu mendapat
perhatian khusus yang melahirkan perilaku klien. Pendekatan behavioral dalam
asesmen ini mengarahkan pada contoh-contoh perilaku yang langsung dijaring dalam
proses investigasi. Daripada menggunakan tes untuk mendapatkan pemahaman
mengenai ciri-ciri kepribadian atau psikodinamika, pendekatan behavioral dirancang
lebih untuk menggambarkan pola perilaku kehidupan nyata subyek dan akibat dari
keadaan lingkungan terhadap pola-pola perilaku ini.
6. Kunjungan Rumah
Psikolog klinis umumnya tidak (boleh) melakukan kunjungan ke rumah, karena
merupakan wewenang pekerja sosial atau perawat kesehatan masyarakat. Namun makin
lama makin dirasakan penting bagi klinikus untuk melakukan kunjungan rumah
tersebut, dengan maksud memahami kehidupan alamiah klien di rumah dan keadaan
serta pola kehidupan keluarga klien. Termasuk di sini adalah setiap pola relasi
8
antaranggota keluarga dan perannya masing-masing. Terdapat enam keuntungan dari
kunjungan rumah ini:
Fungsi keseluruhan keluarga terlihat sebagaimana adanya
Setiap anggota keluarga lebih berpeluang untuk melaksanakan peran sehari-harinya
Terdapat lebih sedikit kemungkinan untuk tidak hadirnya anggota keluarga dalam
sesi terapi
Terdapat peluang untuk melihat seluruh keluarga dalam permasalahan, bukan hanya
pada seseorang anggota saja
Terdapat kemungkinan untuk tidak merasa cemas dalam lingkungannya keluarga,
sehingga lebih terbuka dan minimalnya perilaku dibuat-buat
Terapi yang berlaku terbebas dari hubungan formal dokter-pasien
7. Catatan Kehidupan
Psikolog sering tertarik untuk mempelajari riwayat hidup klien, karena riwayat itu
dapat mendasari permasalahan yang dialaminya saat ini. Permasalahan yang dialaminya
saat ini. Selain itu, juga dari catatan peristiwa dan kesan-kesan pribadi yang akan
memberi pengaruh pada keadaannya saat ini. Bisa jadi permasalahan yang dialami saat
ini justru lebih banyak terungkap dari catatan kehidupan pasien di masa lalu. Ini
didukung oleh teori yang menyatakan bahwa kehidupan sesorang di masa kini tidak
lepas dari kehidupannya di masa lalu. Sebagai alat bantu untuk asesmen adalah dengan
menafsirkan berbagai peristiwa yang dialaminya serta apa yang dilakukan atau
dipikirkannya, kita bisa menafsirkan kepribadian macam apakah individual itu. Dari
situ kita dapat menduga kurang lebih dinamika atau proses kejiwaan macam apakah
yang telah dialaminya, bahkan gangguan macam apakah yang akan dialami orang
dengan kepribadian tersebut. Dengan kata lain, kita dapat menduga mengenai apa saja
yang menjadi penyebab dan jenis gangguan apa yang dialami pasien tersebut.
8. Dokumen Pribadi
Dokumen pribadi pun tidak harus berisikan mengenai peristiwa dan sikap serta
angan-angan klien, melainkan bisa jadi foto-foto yang dikumpulkannya, ialah
peristiwa-peristiwa apa yang dianggapnya penting. Demikian juga jenis barang-barang
koleksi, seperti barang-barang antik yang ditafsirkan, misalnya oleh McCleland sebagai
tanda kepribadian yang dilandasi oleh kebutuhan akan harga diri, kekuatan, atau
menguasai orang lain.
9
9. Pemfungsian Psikologis
Hubungan psikis-mental dan faal organ tubuh sangatlah erat. Teekanan darah,
misalnya, sering berhubungan dengan adanya kecemasan dan juga merupakan reaksi
atas tekanan-tekanan psikologis. Seorang yang marah biasanya menampilkan muka
yang merah karena darah banyak dipompa jantung sehingga mengisi saluran-saluran
darah kapiler di permukaan kulit. Bisa jadi juga menjadi gemetar karena ketegangan
diotot (untuk sementara) harus ia tahan, padahal justru ingin dilampiaskan. Makin lama
makin banyak ditemukan organ tubuh yang fungsinya berkaitan erat dengan kondisi
dan situasi psikologis. Dalam gangguan psikolofisiologis yang pernah mengganti nama
gangguan psikosomatis, tercatat hampir semua organ tubuh dapat terganggu fungsinya
oleh kondisi psikologis tertentu.
10. Pemberian Tes dalam Pemeriksaan Psikologi Klinis
Untuk pemeriksaan klinis sebaiknya klien diberikan tes khusus sesuai dengan
masalah klien. Tes ini digunakan sebagai alat bantu utama untuk dapat lebih mengerti
keadaan klien. Tes baru dapat diberikan jika suda ada kontak yang baik antara klien
dengan pemeriksa, cukup banyak informasi dari anamnesis, dan ada kesediaan klien
untuk dites. Terutama pada klien yang pandai, administrasi tes perlu dipersiapkan dan
diterangkan kegunaan serta batas-batasnya. Tes yang biasanya diadministrasikan pada
subjek antara lain tes intelegensi umum, tes proyeksi, tes grafis, dan inventori
kepribadian. Tes intelegensi umum diberikan untuk mengetahui tingkat kecerdasan
pada waktu kini untuk membandingkan keadaan kini dengan keadaan sebelum sakit.
Tes memori perlu diberikan pada klien yang mempunyai keluhan sering lupa, sukar
konsentrasi, sakit kepala, dan lain-lain. Tujuannya adalah melihat kestabilan
perhatian, ketelitian dan kecepatan kerja. Tes proyeksi merupakan yang penting
dilakukan untuk pemeriksaan klinis dengan tujuan mengungkapkan hal-hal yang
kurang atau tidak disadari. Tes grafis adalah yang paling digemari oleh psikolog di
Indonesia karena memakan waktu yang relatif singkat dan kebanyakan menggunakan
analisis kuantitatif. Kelemahan tes grafis ialah bahwa seringkali pemeriksa
terpengaruh oleh keindahan gambar atau keterampilan menggambar klien dan
melupakan segi-segi formal gambar.
11. Penyampaian Hasil Asesmen Klinis dan Laporan Pemeriksaan Psikologi Klinis
Penulisan hasil asesmen dapat dilakukan untuk keperluan akademik (menulis
laporan kasus untuk diskusi ilmiah, keperluan penelitian longitudinal) dan dapat
dilakukan untuk keperluan praktik (membalas surat konsultasi dari dokter tentang
10
seorang pasien, memberikan hasil evaluasi psikologis kepada seorang yang mengirim
kliennya kepada psikolog klinis).
Penulisan Laporan Akademik
Untuk keperluan akademik, penulisan laporan pemeriksaan, atau penulisan hasil
asesmen disarankan membedakan berdasarkan pengumpulan data dari observasi
dan wawancara saja (laporan ‘life’), atau dari hasil tes saja dengan data terpenting
subjek seperti seks, usia, pendidikan, masalah subjek. Penulisan laporan
berdasarkan tes dan data terpenting klien disebutkan laporan ‘blind’ karena tidak
meliat subjek yang diperiksa.
a. Laporan Pemeriksaan ‘Life’
Laporan kasus yang didasarkan atas wawancara dan observasi dapat meliputi
aspek-aspek:
o Keluhan, simtom, atau masalah yang menyebabkan klien datang
o Kepribadian yaitu predisposisi, temperamen, tipologi, struktur, dinamika
kepribadian klien
o Frustasi atau konflik atau stresor terakhir yang dihadapi
o Penyesuaian diri pada saat akhir pemeriksaan
b. Penulisan Laporan ‘Blind’
Laporan pemeriksaan psikologis dapat pula dibuat atas dasar data tes yang
diberikan pada subjek/klien/pasien. Kesimpulan yang diperoleh umumnya
meliputi deskripsi intelegensi dan kepribadiannya subjek. Inferensi/interpretasi
data tes juga dapat menghasilkan suatu gambaran kepribadian namun konsep
dan konstruknya lebi banyak mengambil dari teori tes yang terkait.
o Hasil Pemeriksaan untuk Disampaikan Kepada Klien atau Pihak yang
Meminta
Bila laporan pemeriksaan klinis akademik dibuat untuk tujuan pendidikan
calon psikolog dan untuk melakukan penelitian, maka laporan pemeriksaan
klinik untuk pihak luar tujuannya adalah untuk memberi informasi, saran
atau jawaban terhadap masalah yang diajukan peminta laporan tersebut, agar
dapat dimengerti dan bermanfaat bagi pihak yang meminta laporan tersebut.
Perlu dihindari kemungkinan terjadinya penyalahgunaan, penafsiran yang
tidak tepat, atau elaborasi yang tidak menjawab masalah yang ditanyakan,
yang mungkin dapat mengganggu kesejahteraan beberapa pihak. Untuk itu
11
sangat dianjurkan bahwa antara pemeriksa, klien dan peminta laporan,
terlebih dahulu ada kesepakatan tentang isi dan bentuk laporan, penggunaan
dan kerahsiaannya, agar sesuai dengan apa yang dianjurkan dalam Kode Etik
Himpsi. Bila pemeriksa diminta sendiri oleh klien maka biasanya tidak perlu
ditulis sebuah laporan. Penyampaian laporan yang isinya positif tidak terlalu
menimbulkan masalah dalam penyampaiannya. Pemeriksa perlu tahu apakah
subjek memahami benar arti laporan tanpa terjadi misinterpretasi.
Penyampaian hasil pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara dua arah, artinya
klien tidak hanya mendengarkan hasil tapi juga mendapat kesempatan
bertanya. Bila bentuk hasil pemeriksaan adalah tertulis dan akan dibaca
nonpsikolog, perlu dipertimbangkan isi laporan dan metode menjaga
kerahasiaannya.
12
dengan orang lain, persepsi terhadap diri dan realita atau riwayat secara genetis dan
fisiologi.
Penekanan tersebut harus selalu disesuaikan dengan pendekatan yang akan
digunakan:
a. Psikodinamika lebih memfokuskan pada pertanyaan seputar motif bawah sadar,
fungsi ego, perkembangan pada awal kehidupan (5 tahun pertama) dan berbagai
macam defense mechanism.
b. Kognitif-behavior memfokuskan pada skill, pola berpikir yang biasa digunakan,
berbagai stimulus yang mendahului serta permasalahan perilaku yang
menyertainya.
c. Fenomenologi cenderung mengikuti outline asesmen dan melihat bahwa
serangkaian asesmen merupakan kolaborasi untuk memahami klien dalam hal
bagaimana klien melihat atau mempersepsi dunia.
Tingkat Asesmen dan Data yang Berkaitan:
TINGKAT JENIS DATA
ASESMEN
1. Somatis Golongan darah, pola respon somatis terhadap stres, fungsi hati,
karakteristik genetis, riwayat penyakit, dsb
2. Fisik Berat/tinggi badan, jenis kelamin, warna kulit, bentuk tubuh, tipe
rambut, dsb
5. Kognitif/intelektual Respon terhadap tes intelegensi, daya pikir, respon terhadap tes
persepsi, dsb
6. Emosi/afeksi Perasaan, respon terhadap tes kepribadian, emosi saat bercerita, dsb
13
Pengumpulan Data Melalui Wawancara, Observasi, dan Tes
Sesuai dengan pertanyaan pada tahap perencanaan maka ditentukan bagaimana
wawancara dilakukan dan informasi apa yang diutamakan. Demikian juga untuk
observasi, perlu ditentukan metode dan focus observasi.
Wawancara adalah metode asesmen yang relatif murah dan mudah.
Wawancara dapat dilakukan di mana saja dan fleksibel dalam pelaksanaannya.
Namun wawancara mempunyai kelemahan yakni dapat terdistorsi oleh sifat
pewawancara dan pertanyaan apa yang diajukan, dipengaruhi oleh keadaan klien
yang diwawancara, dan oleh situasi tempat wawancara diadakan.
Hasil observasi juga merupakan sumber informasi yang penting untuk
asesmen. Keuntungan observasi adalah dapat melihat langsung apa yang dilakukan
subjek yang merupakan sasaran asesmen. Ini lebih baik daripada hasil wawancara
yang dapat direkayasa oleh subjek yang diwawancara. Situasi untuk observasi dapat
dipilih yang paling tepat serta dapat diarahkan secara lebih spesifik untuk tujuan
kuantifikasi. Kelemahan observasi adalah adanya pengaruh bias dari observer.
Tes, seperti wawancara, juga memberikan sample dari tingkah laku.
Keuntungan dari tes adalah mudah, ekonomis, dapat dilakukan oleh banyak orang
(asal professional) dan terstandardisasi. Bentuk tes yang sudah standar tersebut
membantu untuk mengurangi bias yang mungkin muncul selama proses asesmen
berlangsung. Respon yang diberikan biasanya dapat diubah dalam bentuk skor dan
dibuat analisis kuantitatif. Hal itu membantu klinisi untuk memahami klien. Skor
yang didapat kemudian diinterpretasi sesuai dengan norma yang ada.
Life record merupakan asesmen yang dilakukan melalui data-data yang
dimiliki seseorang baik berupa ijazah sekolah, arsip pekerjaan, catatan medis,
tabungan, buku harian, surat, album foto, catatan kepolisian, penghargaan, dsb.
Banyak hal dapat dipelajari dari life record tersebut. Pendekatan ini tidak meminta
klien untuk memberi respon yang lebih banyak seperti melalui interview, tes atau
observasi. Selama proses ini, data dapat lebih terhindar dari distorsi memori, jenis
respon, motivasi atau faktor situasional. Dengan merangkum informasi yang di dapat
tentang pikiran dan tingkah laku klien selama periode kehidupan yang panjang, life
records memberikan suatu sarana bagi klinisi untuk memahami klien dengan lebih
baik.
14
Pengolahan Data dan Pembentukan Hipotesis
Bila data telah terkumpul, pemeriksa dapat member makna atau
menginterpretasi sesuai dengan tujuan dan orientasi teoretiknya. Data mentah dari
observasi, wawancara, dan tes diubah menjadi kesimpulan (hipotesis, image, dan
hubungan-hubungan) yang dapat dibedakan dalam tingkatan abstraksinya, dalam
orientasi teoretiknya, dan dalam kaitannya dengan tujuan asesmen.
Temuan dari observasi dan wawancara dapat digunakan sebagai sampel
tingkah laku, sebagai korelasi tingkah laku, atau sebagai tanda dari adanya hal yang
melandasi tingkah laku itu.
Mengkomunikasikan data asesmen baik dalam bentuk laporan maupun dalam bentuk
lisan
Hasil dari asesmen biasanya akan ditulis menjadi sebuah laporan asesmen.
Ada tiga kriteria yang harus dipenuhi suatu laporan asesmen yaitu jelas, relevan
dengan tujuan dan berguna.
Jelas: Kriteria pertama yang harus dipenuhi adalah laporan itu harus jelas.
Tanpa kriteria ini, relevansi dan kegunaan laporan tidak dapat dievaluasi.
Ketidakjelasan laporan psikologis merupakan suatu masalah karena kesalahan
interpretasi dapat menyebabkan kesalahan pengambilan keputusan.
Relevan dengan tujuan: Laporan asesmen harus relevan dengan tujuan yang
sudah ditetapkan pada awal asesmen. Jika tujuan awalnya adalah untuk
mengklasifikasikan perilaku klien maka informasi yang relevan dengan hal itu harus
lebih ditekankan.
Berguna: Laporan yang ditulis diharapkan dapat memberikan sesuatu
informasi tambahan yang penting tentang klien. Kadang terdapat juga laporan yang
mempunyai validitas tambahan yang rendah.
15
perkembangan kepribadian dan pendalaman disiplin seseorang dalam melakoni
kehidupannya, di bidang apa pun.
2. Asesmen Kepribadian
Asesmen kepribadian merupakan istilah yg umum dalam upaya umtuk
menemukan pola perilaku dan pola pikiran atau penyesuaian diri seseorang secara khas
terhadap lingkungannya. Dalam asesmen kepribadian, pendapat psikoanalisis tentang
adanya subtansi yg direpresi, merupakan asumsi yang tidak dapat dihindarkan. Setiap
gejala yg tampil dalam perilaku, selain didasari oleh intensi yang sadar, juga sangat
penting mengenai peran yang tidak sadar. Dalam banyak kasus bisa dikemukakan,
bahwa perilaku yang disadari atau disengaja, sering dilatarbelakangi kebutuhan atau
motivasi yang tidak sadar. Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk memahami latar
belakang itu, antara lain dengan melihat simbol atau latar belakang motivasi dibalik
tingkah laku sadarnya.
Laporan kepribadian bersifat dinamis, dan berarti menggunakan teori-teori yang
menggunakan pendekatan psikodinamik, tetapi tidak harus selalu psikoanalisis dari
Sigmund Freud. Asesmen kepribadian pada dasarnya terdapat pembagian menjadi
projective assesment dan objective assesment.
Projective Assesment
Projective Assesment berkembang dari perspektif teoritis yang menampilkan
karakterisitika dinamis sebagai inti kepribadian (seperti teori psikoanalisis). Karena
itu, metode dasarnya melibatkan upaya menyiapkan subyek dalam suatu bentuk
kisah, ambifus, dan hampir tanpa isi terhadap mana untuk berespons bersama suatu
minimum struktur atau instruksi. Secara teoretis, pemeriksa menganggap bahwa bila
semua alat tes berisikan suatu isi yang minimum maka respons subyek hanya
merupakan fungsi kepribadian subyek. Dapat dikatakan, makin banyak kesempatan
subyek harus berespons bebas idiosinkratis, makin personal dan bermaknalah
respons-respons itu. Berdasarkan pandangan teori psikodinamik mengenai
kepribadian, proyeksi dilihat sebagai alat yang sensitif bagi aspek tak sadar
perilaku.mekanisme pertahan diri dan kecenderungan laten disimpulkan dari data
fantasi tak terstruktur yang dihasilkan dalam konteks dimana tidak ada jawaban yang
benar dan salah.
Objective Assesment
16
Pendekatan obyektif asesmen kepribadian merupakan usaha yang secara ilmiah
berusaha menggambarkan karakteristika atau sifat-sifat individu atau kelompok
sebagai alat untuk memprediksi perilaku.Standarisasi sangat penting dalam tes
obyektif. Secara singkat, asesmen obyektif merupakan pendekatan yang terstruktur,
ilmiah, dan non subyektif dalam deskripsi individual.
3. Asesmen Pemfungsian Neuropsikologis
Asesmen neuropsikologis melibatkan pengukuran tanda-tanda perilaku yang
mencerminkan kesehatan atau kekurangan dalam fungsi otak. Terdapat tiga kegiatan
psikolog klinis dalam asesmen neuropsikologis, yaitu menyangkut fokus perhatian
asesmen ini, sejumlah alat tes neuropsikologis yang utama, dan bukti-bukti riset
menyangkut reliabilitas dan validitas tes untuk asesmen neuropsikologis.
Pertanyaan-pertanyaan Asesmen Neuropsikologis yang Memerlukan Jawaban
Asesmen neuropsikologis berusaha untuk membujuk kehadiran, dan lokasi, dari
cedera otak dengan enam pertanyaan berikut:
o Apakah gangguan otak itu jelas lokasinya atau kabur?
o Apakah gangguan bersangkutan dengan pergeseran jaringan atau penyakit
jaringan?
o Apakah gangguan bersifat progresif atau non progresif?
o Apakah gangguan akut atau kronik?
o Apakah disfungsi itu organik atau fungsional?
o Mungkinkah “Minimal Brain Dysfunction?”
Berbagai Tes Asesmen Neuropsikologis
o Tes Persepsi Visual
o Tes-tes Persepsi Pendengaran
o Test of Tactile Perception
o Test of Motor Coordination and Steadiness
o Test of Sensomotor Construction Skill
o Test of Memory
o Test of Verbal (Kemampuan Bahasa)
o Test of Conceptuan Reasoning Skill
4. Asesmen Perilaku
17
Asesmen perilaku merupakan pendekatan situasi spesifik, dimana variasi spesifik
dalam keadaan lingkungan dengan teliti dan periksa untuk menentukan peranan mereka
terhadap pemfungsian klien. Asesmen perilaku dapat juga dilihat sebagai pandangan
konseptual yang didalamnya, pengaruh resiprokal tindakan orang dan konteks-konteks
lingkungan, mendapat penekanan. Secara tipikal asesor perilaku akan berusaha untuk
mengidentifikasikan hubungan antara interpersonal klien dan lingkungan fisiknya dan
perilaku yang mencerminkan permasalahan klien dalam kehidupannya.
Ada pun landasan penggunaan asesmen perilaku adalah perspektif perilaku
dimana pemfungsian manusia dilihat sebagai produk dari interaksi yang terus menerus
antara pribadi dan situasi. Orang membentuk kehidupannya sendiri melalui
perilakunya, pemikiran dan perencanaan, serta emosinya.
Metode Asesmen Perilaku
Terdapat lima metode asesmen perilaku yang umumnya dikenal orang, yaitu
observasi naturalistik, pemantauan sendiri, laporan diri situasi spesifik oleh klien,
observasi analog, dan observasi dan rating oleh orang lain yang signifikan.
Laporan Diri dalam Asesmen Perilaku
Kalau pusat perhatian dan observasi pada laporan diri adalah perilaku spesifik yang
terjadi dalam perangkat spesifik, maka laporan diri memiliki nilai akurasi yang
tinggi. Pengukuran laporan diri telah berkembang untuk mengakses aspek-aspek
situasi seperti juga untuk mengakses perilaku.
Asesmen Analog
Asesmen analog bisa jadi dilaksanakan dengan cara berikut: paper-and-pencil test,
audiotape atau video tape test, enacment tests, role play test, dan stimulasi. Metode-
metode ini berbeda dalam alat yang mana situasi analog ditampilkan dalam
partisipan klien dan dalam tipe respons yang diminta dari klien
Observasi Perilaku dan Peringkatan Perilaku Orang Dekat
Teman bermain, orang tua, guru-guru, dan staf bangsal psikiatris diminta untuk
melakukan observasi langsung atau secara restospektif membuat peringkat atas
perilaku klien. Metode ini menampilkan sumber data yang menyeluruh karena cara
di mana orang dipandang oleh orang yang secara signifikan sangat kuat
mempengaruhi perilaku dan persepsi diri orang.
Wilayah Tambahan Asesmen Perilaku
18
Asesmen respons fisiologis dan asesmen kognitif spesifik menampilkan dua wilayah
tambahan area dalam asesmen kepribadian.
o Asesmen Psikofisiologis
Pengukuran atau penilaian psikofisiologis, yang mengukur besarnya keadaan
psikologi yang ditampilkan dalam gejala-gejala fisiologis, fisik, atau organik,
secara umum dapat didefinisikan sebagai “kuantifikasi kejadian-kejadian biologis
sebagaimana mereka berhubungan dengan pengubah-pengubah psikologis”.
o Asesmen Kognitif-Perilaku
Target dasar atau umum asesmen kognitif keperilakuan, adalah respons spesifik,
tetapi respons-respons ini adalah aktivitas kognitif klien atau subyek penelitian
dan bukan kejadian yang dapat diamati. Dalam hal ini, kejadian-kejadian kognitif
bukan merupakan bagian asesmen perilaku. Meskipun demikian, asesmen
respons-respons kognitif yang spesifik dalam situasi spesifik, baik sebagai
bantuan untuk penanggulangan atau pengubah terikat dalam penelitian,
merupakan tambahan penting bagi asesmen perilaku.
19
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Asesmen dalam psikologi klinis ialah pengumpulan informasi untuk digunakan sebagai
dasar bagi keputusan-keputusan yang akan disampaikan oleh penilai. Tujuan Asesmen dalam
Psikologi Klinis ada tiga macam yaitu klasifikasi diagnostik, deskripsi dan prediksi. Asesmen
dalam psikologi juga memiliki 3 sasaran atau target yang akan diusahakan dalam
pembuatannya yaitu, disfungsi psikologis individual; menemukan kekuatan klien dalam
aspek keterampilan, kemampuan, atau sensitivitasnya; dan juga psikolog klinis dapat diminta
melakukan evaluasi dan melukiskan kepribadian subyek.
Ada empat komponen dalam proses asesmen psikologi klinis yakni: Perencanaan
dalam prosedur pengumpulan data (planning data collection procedures), pengumpulan data
untuk asesmen, pengolahan data dan pembentukan hipotesis atau ‘image making’,
mengkomunikasikan data asesmen baik dalam bentuk laporan maupun dalam bentuk lisan.
20
DAFTAR PUSTAKA
Slamet I. S., Suprapti & Markam, Sumarmo. 2006. Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta:
UI-Press.
Wiramihardja, Sutardjo A., Prof, Dr. 2012. Pengantar Psikologi Klinis. Bandung:
Refika Aditama.
21