Anda di halaman 1dari 12

RANCANG BANGUN ALAT PEMANAS HEMAT BAHAN BAKAR

UNTUK KANDANG INDUKAN PADA BUDIDAYA AYAM RAS

Oleh:
Heris Syamsuri

ABSTRAK

Pemeliharaan ayam Ras pada fase strarter, yaitu sejak umur sehari sampai umur 15 hari
membutuhkan temperatur yang mendekati temperatur indukan (brooder). Kebutuhan temperatur
ini dapat dipenuhi dengan menggunakan alat pemanas. Permasalahan yang ada saat ini bahwa
sistem pemanas yang digunakan peternak masih fokus terhadap temperatur yang dihasilkan belum
mempertimbangkan jumlah konsumsi bahan bakar yang diperlukan untuk menghasilkan
temperatur tersebut, sehingga perlu dilakukan rancang bangun sistem pemanas ayam Ras. Tujuan
penelitian ini adalah menemukan performa yang terbaik sistem pemanas untuk fase starter ayam
Ras. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan melakukan rancang
bangun alat pemanas, yang diawali melakukan uji performan terhahap sistem pemanasan.
Perlakukan yang diujicobakan yaitu dengan mengaplikasikannya pada kandang indukan dengan
volume kandang 3m x 4m x 2m selama 12 hari dengan temperatur yang dihasilkan 32oC - 35oC
dengan bahan bakar gas LPG. Dari hasil ujicoba terhadap alat tersebut, menunjukan bahwa alat
pemanas ini memerlukan bahan bakar LPG seberat 139,9 kg

Kata kunci : ayam Ras, temperatur, sistem pemanas, performa

I. PENDAHULUAN antar wilayah kabupaten di Jawa Barat adalah


Berternak ayam ras merupakan bentuk
154.121.252 ekor, dan untuk kabupaten
usaha yang banyak dilakukan oleh
Ciamis sebanyak 79.689.156 ekor, atau
masyarakat yang berbisnis di bidang
sebesar 51,71 persen dari jumlah ayam
peternakan. Badan Pusat Statistik tahun
pedaging Propinsi Jawa Barat, sedangkan
2015, mencatat bahwa terdapat peningkatan
jumlah ayam pedaging yang keluar dari Jawa
jumlah populasi unggas secara nasional pada
barat adalah sebanyak 275.379.295 ekor dan
tahun 2014 jika dibandingkan dengan tahun
dari Ciamis sebanyak 60.773.389 ekor atau
2013 sebesar 7,38 persen yaitu sebanyak
sebesar 22,07 persen dari jumlah ayam yang
1.443,35 juta ekor. Populasi ayam ras pada
keluar dari Jawa Barat. Jumlah kubutuhan
tahun 2015 sebanyak 1.497.625.658 ekor dan
daging ayam di Jawa Barat sebanyak
dihasilkan daging seberat 1.627.107 ton.
25.683.423 kg dan Ciamis menghasilkan
Menurut Dinas Peternakan Jawa Barat
2.912.012 kg atau sebanyak 11,34 persen
dalam buku Jawa Barat Dalam Angka
kebutuhan Jawa barat.
dihasilkan 566.559 ton dengan populasi
Ayam ras mempunyai sifat
678.326.917 ekor, jumlah ayam yang masuk

Jurnal Media Teknologi


Vol. 04 No. 02 Maret 2018 107
pertumbuhan yang cepat, karena perbaikan bahkan hilang, yang dapat menyebabkan
genetik hasil pemuliabiakan yang didukung pertumbuhan bobot ayam menjadi tidak
oleh faktor lingkungan yang sesuai. Faktor optimal, bahkan dapat mengakibatkan
genetik merupakan sifat dasar ternak yang kematian. Sehubungan dengan hal
diwariskan. tersebut maka perlu dilakukan Rancang
Lingkungan adalah faktor eksternal bangun alat pemanas (broder) ayam Ras
bersifat biologis dan fisika yang langsung yang hemat bahan bakar.
mempengaruhi kehidupan, pertumbuhan, dan
reproduksi organisme. Berternak ayam Ras Tujuan penelitian ini adalah merancang
meskipun cukup sederhana, namun banyak bangun alat pemanas yang hemat bahan
peternak mempermasalahkan tentang bakar untuk kandang indukan pada budidaya
bagaimana merawat anak ayam yang baru ayam Ras. Manfaat yang ingin diperoleh
saja menetas dari telurnya, karena anak ayam adalah dapat diciptakan alat pemanas model
pada periode ini belum bisa mengatur baru dengan performan yang baik sehingga
temperatur tubuhnya sendiri. diperoleh sistem pemanas yang hemat
Kebutuhan terhadap temperatur konsumsi bahan bakar LPG.
lingkungan ini dapat dipenuhi dengan
membuat kandang indukan yang terdiri dari II. TINJAUAN PUSTAKA
alat pemanas (brooding) yang dilengkapi 2.1 Ayam
dengan tempat pakan, air minum, dan Ayam Ayam merupakan hewan unggas
pencahayaan. Alat pemanas yang digunakan yang temperatur tubuhnya selalu dijaga tetap
peternak saat ini, memiliki permasalahan, walaupun terjadi fluktuasi temperatur
diantaranya: lingkungan disekitarnya. Kenyamanan di
1. penggunaan bahan bakar (LPG) sangat dalam ruangan kandang dipengaruhi oleh
tinggi. Berdasarkan hasil survey lapangan, temperatur udara, pergerakan udara dan
untuk satu musim pemeliharaan, dengan kelembaban udara dan akan tergantung pada
kapasitas 500 ekor, menghabiskan LPG toleransi terhadap temperatur udara,
sebanyak 10-12 tabung berkapasitas 11 pergerakan udara dan kelembaban udara di
kilo gram/tabung luar kandang (Mei Sulistyoningsih: 2003).
2. Jika api mati, mengakibatkan temperatur Ayam dapat tumbuh dan berproduksi
ruang turun sangat cepat, hal ini secara optimal jika pemeliharaan dilakukan
mengakibatkan ayam strees sehingga pada lingkungan nyaman. Temperatur rendah
nafsu makan ayam menjadi berkurang akan menyebabkan ayam bergerombol dan

Jurnal Media Teknologi


Vol. 04 No. 02 Maret 2018 108
malas beraktifitas sedangkan temperatur pengeram/penghangat, karena ayam baru
tinggi menyebabkan meningkatnya konsumsi dapat mengatur temperatur tubuh pada umur
air minum dan mengurangi konsumsi pakan. 14 hari.
Temperatur ideal dalam budidaya Brooding adalah masa penyesuaian
ayam Ras pada periode stater adalah mulai ayam pada lingkungan baru yang merupakan
29ºC - 35ºC, dan pada periode finisher masa awal perkembangan terutama organ-
membutuhkan Temperatur 20ºC. (Reny organ penting pada tubuh ayam. Ukuran ideal
Puspa Wijayanti : 2011). brooder anak ayam dengan kapasitas 100
R. Denny Purnama (2002) menyatakan ekor adalah 4,5 m2. Ruangan yang terlalu
Kebutuhan temperatur anak ayam fase starter sempit mengakibatkan berkurangnya
adalah minggu I : 35°C, minggu II : 32°C, aktifitas anak ayam, sementara ruangan yang
minggu III : 29°C , dan minggu IV : 28°C dan terlalu besar akan mengakibatkan aktifitas
untuk minggu seterusnya disesuaikan dengan meningkat dan pertumbuhan akan lebih lama
temperatur lingkungannya. Temperatur serta membutuhkan panas yang lebih besar.
tinggi menyebabkan ayam stres, sehingga
mengakibatkan konversi pakan tinggi.
Temperatur tinggi dapat memberikan
dampak negatif terhadap kondisi fisiologis
dan produktivitas ayam, sehingga berakibat Umur satu hari Umur tujuh hari
kematian. (Gunawan: 2004).
Kematian sangat mempengaruhi
tingkat keberhasilan usaha peternakan ayam.
Tingkat kematian yang tinggi sering terjadi
Umur 15 hari Umur 30 hari
pada periode awal pemeliharaan dan akan Gambar 1. Umur Ayam Ras
mengalami penurunan pada periode akhir
pemeliharaan. Angka mortalitas diperoleh 2. Kandang Indukan
dari perbandingan jumlah ayam yang mati Kandang Indukan adalah kandang yang
dengan jumlah ayam yang dipelihara khusus dipergunakan untuk memelihara anak
(Medion, 2006). 1. Pemeliharaan Anak ayam. Kandang ini dibuat disesuaikan
Ayam Ras. Pemeliharaan pada masa dengan jumlah anak ayam dan dapat
brooding merupakan pondasi yang kuat menjamin sirkulasi udara dengan lancar serta
dalam pemeliharaan ayam Ras. Brooding mempunyai lantai yang mudah dibersihkan
bertujuan sebagai pengganti dan tidak lembab. Lantai lembab

Jurnal Media Teknologi


Vol. 04 No. 02 Maret 2018 109
menimbulkan penyakit cacing dan timbul mempengaruhi performans ayam dengan
macam-macam penyakit lainnya. berkurangnya pertambahan bobot badan,
meningkatkan kematian dan peka terhadap
Bahan litter yang dipergunakan adalah penyakit. Perubahan yang terjadi secara
sekam padi yang terbebas dari insektisida, fisiologis sebagai akibat dari temperatur
jamur dan bahan kimia yang membahayakan lingkungan tinggi adalah fungsi hormon
dengan ketebalan 5cm–7,5cm, dan tinggi, yang akan mempengaruhi
kelembaban sekitar 25 %. metabolisme. Panas dapat mengalir dari
tubuh ternak ke lingkungan atau sebaliknya.
(Jon Harianto Tabara: 2012).

2.2. Proses Perpindahan Panas


Gambar 2. Kandang indukan Perpindahan panas merupakan ilmu
yang meramalkan perpindahan energi dalam
3. Pemanas Kandang bentuk panas. Dalam proses perpindahan
Alat pemanas dipilih berdasarkan energi tersebut akan terjadi kecepatan
kemampuan dalam menghasilkan temperatur perpindahan panas, yang lebih dikenal
ruangan kandang sesuai kebutuhan anak dengan laju perpindahan panas, terdapat tiga
ayam, stabil dan sebaran panasnya merata di bentuk perpindahan panas, yaitu :
dalam ruangan kandang serta tidak 1. Perpindahan Panas secara Konduksi
mengeluarkan suara berisik. Konduksi adalah proses perpindahan
panas dari daerah yang bertemperatur
tinggi ke bertemperatur rendah dalam
suatu medium (padat, cair atau gas) atau
antara medium-medium yang berbeda dan
Gambar 3. Pemanas Tradisional bersinggungan secara langsung sehingga
terjadi pertukaran energi dan momentum.

Gambar 4. Alat Pemanas Pabrikan

Gambar 5. Perpindahan panas konduksi


Panas atau dingin yang ekstim akan

Jurnal Media Teknologi


Vol. 04 No. 02 Maret 2018 110
Laju perpindahan panas yang terjadi kA
q k = − ∆x (𝑇2 − 𝑇1 ) …… (2)
berbanding dengan gradien temperatur
normal sesuai dengan persamaan berikut : Bilamana konduktivitas termal (thermal
dT conductivity) dianggap tetap. Tebal
q k = −kA dx ……………..…...(1)
dinding adalah Δx, sedangkan T1 dan T2
dimana :
adalah temperatur muka dinding. Jika
q = Laju Perpindahan Panas (kj/det,W)
konduktivitas berubah menurut hubungan
k = Konduktifitas Termal (W/m.°C)
linear dengan temperatur, seperti K = k0 (1
A = Luas Penampang (m²)
+βT), maka persamaan aliran panas
dT = Perbedaan Temperatur (°C, °F)
menjadi :
dX = Perbedaan Jarak (m/det)
kA 𝛽
ΔT = Perubahan Temperatur (°C, °F) qk = − [𝑇2 − 𝑇1 + (𝑇22 − 𝑇12 )] …(3)
∆x 2

dT/dx = gradient temperatur kearah k adalah sifat fisik material yang disebut
perpindahan panas.konstanta positif ”k” konduktivitas termal. Berdasarkan
disebut konduktifitas atau kehantaran rumusan itu maka dapat dilaksanakan
termal benda itu, sedangkan tanda minus pengukuran untuk menentukan
disisipkan agar memenuhi hokum kedua konduktifitas termal berbagai bahan.
termodinamika, yaitu bahwa panas
Tabel 1. Konduktivitas Termal pada 0 oC
mengalir ketempat yang lebih rendah Konduktivitas termal
dalam skala temperatur. K
Bahan W/m.° Btu/h . ft
C . ºF
Hubungan dasar aliran panas melalui logam
perak ( murni ) 410 237
konduksi adalah perbandingan antara laju tembaga ( murni ) 385 223
aluminium (murni) 202 117
aliran panas yang melintas permukaan nikel ( murni ) 93 54
besi ( murni ) 73 42
isothermal dan gradient yang terdapat Baja karbon, 1% C 43 25
pada permukaan tersebut berlaku pada Timbal (murni) 35 20,3
baja karbon-nikel 16,3 9,4
setiap titik dalam suatu benda pada setiap ( 18% cr, 8% ni )
bukan logam
titik dalam suatu benda pada setiap waktu kuarsa(sejajar sumbu) 41,6 24
magnesit 4,15 2,4
yang dikenal dengan hukum fourier. marmar 2,08- 1,2-1,7
batu pasir 2,94 1,06
Kaca, jendela 1,83 0,45
Dalam penerapan hukum Fourier Kayu maple atau ek 0,78 0,096
Serbuk gergaji 0,17 0,034
(persamaan 1) pada suatu dinding datar, Wol kaca 0,059 0,022
jika persamaan tersebut diintegrasikan
maka akan didapatkan :

Jurnal Media Teknologi


Vol. 04 No. 02 Maret 2018 111
Zat cair sedangkan panas yang dipindahkan selalu
Air-raksa 8,21 4,74
Air 0,556 0,327 mempunyai tanda positif ( + ).
Amonia 0,540 0,312
Minyak lumas, SAE 50 0,147 0,085
Freon 12, 22FCCI 0,073 0,042 3. Perpindahan Panas secara Radiasi
Gas
Hidrogen 0,175 0,101 Radiasi adalah proses perpindahan panas
Helium 0,141 0,081
dari material bertemperatur tinggi ke
Udara 0,024 0,0139
Uap air ( jenuh ) 0,0206 0,0119 bertemperatur rendah yang terpisah di
Karbon dioksida 0,0146 0,00844
dalam ruang.
2. Perpindahan Panas secara Konveksi
Konveksi adalah proses perpindahan
panas karena adanya aliran pencampuran
dari bagian bertemperatur tinggi kepada
bagian bertemperatur rendah.

Gambar 7. Perpindahan panas radiasi

Energi radiasi dihasilkan oleh material


karena temperatur yang dipindahkan
melalui ruang antara, dalam bentuk
Gambar 6. Perpindahan panas konveksi
gelombang elektromagnetik. Bila energi
Beda temperatur dapat dihitung dengan radiasi menimpa suatu material, maka
persamaan : sebagian radiasi dipantulkan, sebagian
q = - hA)Tw - T∞) .....(4) diserap dan sebagian diteruskan seperti
gambar 7. Sedangkan besarnya energi:
dimana : Qpancaran = AT4 .........................(5)
q = Laju Perpindahan Panas (kj/det
atau W ) dimana :
h = Koefisien perpindahan Panas
Konveksi ( W / m2.oC ) Qpancaran = laju perpindahan panas ( W)
pancaran Q
A = Luas Bidang Permukaan
Perpindahaan Panas ( ft2 , m2 )  = konstanta boltzman (5,669.10-8
W/m2.K4)
Tw = Temperature Dinding ( oC , K )
A = luas permukaan benda (m2)
T∞ = Temperature Sekeliling ( oC , K )
T = temperatur absolut benda (0C)

Tanda minus ( - ) digunakan untuk


III. METODOLOGI PENELITIAN
memenuhi hukum II thermodinamika,

Jurnal Media Teknologi


Vol. 04 No. 02 Maret 2018 112
3.1. Metode yang Digunakan Mulai

Data dan sumber daya yang diperlukan Survey lapangan mengenai


uji eksperimen terhadap
Pengumpulan Data Awal sistem pemanas yang
kondisi kandang indukan digunakan peternak
dalam penelitian ini diperoleh dengan
melakukan studi kasus sebagai pendekatan Analisis Data Awal

penelitian (Heris Syamsuri: 2016). Dalam


Perancangan Alat Pemanas
Tidak
rancang bangun alat pemanas, dilakukan tiga
Pembuatan Alat Pemanas Analisis Data dan
tahap kegiatan yaitu: Pembahasan
Performa Alat :
 Waktu Ya
 Perubahan Temperatur Pengujian
Kesimpulan dan saran

1. Tahapan Persiapan
Selesai
Pada tahap ini, dilakukan untuk
memperoleh data-data yang objektif Gambar 8. Diagram Alur Penelitan
sebagai data/bahan refrensi yang
diperlukan dalam proses perancangan 3.2. Penentuan Lokasi dan Sasaran Penelitian
sistem pemanas. kegiatan yang dilakukan Penelitian dilaksanakan selama enam
adalah sebagai berikut : bulan, dilakukan pada peternakan ayam ras di
a) Menyiapkan konsep rancangan. wilayah Kecamatan Lumbung Kabupaten
b) Studi pustaka Ciamis Propinsi Jawa Barat.
c) Menyiapkan desain rancangan
2. Tahapan Pelaksanaan Rancangan Alat 3.3. Teknik Pengujian Alat
Tahapan pelaksanaan rancangan ini Untuk mengetahui performa alat
dilakukan untuk memperoleh desain pemanas parameter penelitian yang
gambar teknik untuk memudahkan digunakan adalah konsumsi bahan bakar
dalam proses pembuatan sistem LPG yaitu jumlah bahan bakar yang
pemanas. dikonsumsi (kg) selama masa pemeliharaan,
3. Tahapan Pengerjaan yang diperoleh dengan cara melakukan
Tahap pengerjaan adalah proses pabrikasi, penimbangan jumlah bahan bakar yang
yaitu mengaplikasikan desain gambar terpakai.
teknik menjadi alat jadi yang siap
digunakan. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Perancangan
Perancangan diawali dengan
melakukan observasi terhadap alat pemanas

Jurnal Media Teknologi


Vol. 04 No. 02 Maret 2018 113
yang telah digunakan peternak saat ini. 3 Mesin membuat lubang
Bor pada mesin
Perancangan dilakukan untuk menghasilkan pemanas

hal-hal sebagai berikut :


1. Konsumsi bahan bakar harus lebih hemat 4 Jangka mengukur dimensi
Sorong alat pemanas
dari pemanas saat ini.
5 Gunting memotong penutup
2. Biaya pembuatan alat harus lebih murah seng samping alat
pemanas.
dari harga beli pemanas dipasaran
6 Seal mencegah
3. Mudah dioperasikan tape kebocoran pada
sambungan pipa
4. Mempunyai tingkat keamanan yang lebih api dan kran.
handal dibandingkan dengan pemanas
yang ada saat ini 2. Bahan
Bahan yang digunakan adalah :
a. Besi siku ASTM A36 40x40
b. Plat besi tebal 1 mm dan 10 mm
c. Pipa besi Galvanis ᴓ 19
d. Selang gas dan Regulator
e. Plat Seng, Keran dan U bolt
f. Tangki gas 11 kg

Gambar 9. Gambar Alat Pemanas g. Baut, Klem dan Seal tape

4.2. Alat dan Bahan 4.3. Perakitan Alat Pemanas


1. Alat 1. Proses Pengerjaan
Alat yang digunakan adalah: Proses pengerjaan dilaksanakan
dengan langkah kerja sebagai berikut :
Tabel 2. Alat pada proses pembuatan a. Pemasangan besi siku untuk rangka
Nama Gambar
No Fungsi
Alat
1 Meteran mengukur panjang,
lebar dan tinggi
besi siku yang
akan dibuat
menjadi rangka
2 Mesin memotong dan
Gerinda menghaluskan
komponen- Gambar 10. pemasangan rangka
komponen mesin

b. Proses Pemasangan U bolt .

Jurnal Media Teknologi


Vol. 04 No. 02 Maret 2018 114
Gambar 11. pemasangan U bolt
Gambar 15. pemasangan penutup samping
c. Di lanjut dengan Pemasangan pipa api .
g. Proses Pemasangan kran pengatur api

Gambar 12. pemasangan pipa api

Gambar 16. Pemasangan Kran pengatur Api


d. Pemasangan plat penahan panas

h. Proses Pemasangan selang gas

Gambar 13. pemasangan plat penahan panas

Gambar 17. Gambar pemasangan selang gas


e. Proses pemasangan plat penutup atas

i. Proses Pemasangan regulator

Gambar 14. pemasangan Plat penutup atas

f. Proses pemasangan plat penutup samping. Gambar 18. Pemasangan regulator

Jurnal Media Teknologi


Vol. 04 No. 02 Maret 2018 115
2. Hasil Proses Perakitan 2) Penurunan temperatur ruangan saat
pemanas dimatikan
 A(m²) = Luas Ruangan
 T1(˚C)= Jarak terdekat antara alat ukur
termometer dengan pemanas
 T2(˚C)= jarak terjauh antara alat ukur
termometer dengan pemanas

Tabel 4. Pengukuran Penurunan temperatur


Gambar 19. Alat Pemanas Jenis Gas LPG
Waktu/ V Temperatur(˚C)
No
menit (m3) T1 T2
3. Pengukuran Panas pada Alat Pemanas 1 0 24 42,2 35,6
2 30 24 40,1 33,6
Alat pemanas yang telah dihasilkan
3 60 24 39,1 31,9
selanjutnya diuji kelajuan panasnya, hal ini 4 90 24 35,1 30,2
5 120 24 30,3 28,2
bertujuan untuk mengetahui penyebaran
6 150 24 27,4 24,3
panas yang dihasilkan pada ruang indukan
ayam ras. Alat ukur yang digunakan untuk c. Pengukuran Pemakaian Bahan Bakar LPG

mengetahui temperatur yang disebarkan oleh Pemakaian LPG diperoleh dengan

pemanas digunakan termometer. melakukan penimbangan LPG selama masa

a. Hasil Pengukuran Kenaikan Temperatur pemeliharaan. Data hasil penimbangan

dan Penurunan Temperatur pemakaian bahan bakar LPG, seperti tersaji

1) Kenaikan Temperatur ruangan pada tabel berikut :


Tabel 5. Hasil Penimbangan LPG
 V(m²) = Volume Ruang Kandang Bruto Tabung Konsumsi
Perc Waktu Penimbangan
LPG LPG
 T1(˚C) = Jarak terdekat antara alat ukur ke-
Jam Awal Jam Akhir Awal Akhir (Kg)
termometer dengan pemanas
1 9:23:05 AM 9:21:05 AM 15,2 5,1 10,1
 T2(˚C) = jarak terjauh antara alat ukur
termometer dengan pemanas 2 9:23:05 AM 9:21:05 AM 15,2 4,9 10,3
3 9:23:05 AM 9:21:05 AM 15,1 4,9 10,2

Tabel 3. Pengukuran Kenaikan Temperatur 4 9:23:05 AM 9:21:05 AM 15,3 5,1 10,2


5 9:23:05 AM 9:21:05 AM 15,2 4,9 10,3
Waktu/ V Temperatur (˚C)
No 6 9:23:05 AM 9:21:05 AM 15,2 4,9 10,3
menit (m3) T1 T2
7 9:23:05 AM 9:21:05 AM 15,3 5,1 10,2
1 0 24 28,4 28,4
8 9:23:05 AM 9:21:05 AM 15,2 4,9 10,3
2 60 24 36,1 30,6
9 9:23:05 AM 9:21:05 AM 15,3 5,1 10,2
3 120 24 37,6 31,1
4 180 24 38,2 31,8 10 9:23:05 AM 9:21:05 AM 15,2 4,9 10,3
5 240 24 39,2 32,3 11 9:23:05 AM 9:21:05 AM 15,2 4,9 10,3
6 300 24 42,2 35,6 12 9:23:05 AM 9:21:05 AM 15,1 4,9 10,2
13 9:23:05 AM 9:21:05 AM 15,3 5,3 10
14 9:23:05 AM 9:21:05 AM 15,1 4,9 10,2

Jurnal Media Teknologi


Vol. 04 No. 02 Maret 2018 116
15 9:23:05 AM 3:35:07 PM 15,2 12,2 3 Dari pemahasan sebelumnya dapat
Jumlah 136,9
disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

4.4. Hasil Analisis 1. Konsumsi bahan bakar LPG untuk satu


musim pemeliharaan fase starter dengan
45 Grafik Naik Suhu (˚C)
40
temperatur ruangan 35° C adalah 136,9 kg
35
30 2. Waktu pemanasan ruang kandang indukan
Suhu ˚C

25
T1/GAS
20 hingga dicapai temperatur 35° C, adalah
15
T2/GAS
10 300 menit.
5
0
60 120 180 240 300 waktu/menit
3. Waktu pendinginan ruang kandang
indukan hingga dicapai temperatur
Gambar 20. Grafik Kenaikan Temperatur lingkungan (20° C), adalah 150 menit.
45
Grafik Penurunan Suhu (˚C)
40
35
5.2 SARAN
30
1. Hasil rancangan ini perlu dikembangkan
suhu (˚C)

25
20
15
T1/GAS dari kegunaan, kekuatan, dan peruntukan
T2/GAS
10
5
material benda menjadi lebih baik.
0
2. Untuk penelitian berikutnya sebaiknya
30 60 90 120 Waktu/menit
lebih memperhatikan plat penutup atas
Gambar 21. Grafik Penurunan Temperatur
agar dapat lebih lama menahan panas .
2,44 DAFTAR PUSTAKA
2,42
2,4
Anita dan Widagdo, 2011, Budidaya Ayam
2,38
Ras 28 Hari Panen, Cetakan I, Pinang
2,36
2,34
Merah Publisher, Yogyakarta.
09.16.03
00.00.36
18.01.15
12.01.54
06.02.33
00.03.12
18.03.51
12.04.30
06.05.09
00.05.48
18.06.27
12.07.06

Dede Risnajati, , Maret 2011 Pengaruh Jenis


Alat Pemanas Kandang Indukan
terhadap Performan Layer Periode
Pemanas Rancangan Starter. Sains Peternakan Vol. 9 (1) :
20-24, ISSN 1693-8828.
Gambar 22. Grafik Konsumsi LPG
Fajrin Sidiq dan Wira Wisnu Wardani, 2014,
Selama masa pemanasan alat pemanas Strategi Menghadapi Cekaman
Panas pada Industri Unggas Modern,
hasil rancangan menghabiskan bahan bakar Masterlab Asia and Trouw Nutrition
LPG seberat 79,9 kg. Indonesia, Bekasi Indonesia
Gunawan dan D.T.H. Shihombing, 2011,
V. KESIMPULAN DAN SARAN
Pengaruh Temperatur Lingkungan
Tinggi terhadap Kondisi Fisiologis
5.1 KESIMPULAN

Jurnal Media Teknologi


Vol. 04 No. 02 Maret 2018 117
dan produktivitas Ayam Buras. Menuju Pemikiran Mandiri. Poultry
Watrazoa Vol.14 No. 01. Indonesia Indonesia. Edisi Maret.
Heris Syamsuri, 2015, Re-desain Canting Sonty Lena, 2014. Perancangan dan
Listrik untuk meningkatkan implementasi Pemantau Temperatur
Produktivitas Pengrajin Batik serta Penanganan Dini Kandang
Ciamisan, Jurnal Media Teknologi, Ayam Ras Berbasis Mikrokontrol,
Vol,3 No.1 hal. 71-84 Jurnal LPKIA, Vol. 1 No. 1.
https://jurnal.unigal.ac.id/index.php/ Indonesia
mediateknologi/article/viewFile/235 Sukardi, 2001, Budidaya Ayam Buras Umur
4/2058 0-5 Bulan, LIPTAN (Lembar
Mei Sulistyoningsih, 2003, Pengaruh Informasi Pertanian), BPTP,
temperatur lingkungan terhadap Karangploso.
ayam ras, Majalah Ilmiah Lontar,
Vol. 17 No. 01, Semarang
Mohammad Hasil Tamzil, 2014, Stres Panas
pada Unggas: Metabolisme, Akibat
dan Upaya Penanggulangannya,
Watrazoa Vol.24 No. 02. Indonesia.
Mufid Dahlan dan Nur Hudi, 2011. Studi
Manajemen Perkandangan Ayam Ras
di Dusun Wangket Desa Kaliwates
Kecamatan Kembangbahu
Lamongan. Jurnal ternak, Vol. 02 No.
01. Indonesia
Nuhu Ali Ademoh, dkk, 2016. Investigation
of Neem Seed Oil as an Altanative
Metal Cutting Fluid. American
Journal of Mechanical Engineering,
Vol. 4, No. 5, 191-199.
Puspa Wijayanti, R., Woro Busono, dan
Rositawati Idrati. Effect of House PENULIS :
Temperature On Performance Of
Boiler In Starter Period. Jurnal Heris Syamsuri
Faculty Animal Husbandry Tempat/Tgl Lahir : Ciamis, 26-12-1970
University of Brawijaya,
Rasyaf, M. 1993. Beternak Ayam Pedaging.
Edisi kelima. Penebar Swadaya. Dosen Tetap Yayasan Pendidikan Galuh
Jakarta. pada Program Studi Teknik Mesin
Universitas Galuh
Sahrudin. Dkk, 2012, Performa Ayam Ras
Pedaging terhadap Pembatasan
Waktu Aksesibilitas Pakan, Program
Pascasarjana, Ilmu Peternakan
Universitas Hasanudin, Makasar.
Santoso, U. 2000. Menciptakan Ras yang
Seragam. Jurnal Urip Santoso.

Jurnal Media Teknologi


Vol. 04 No. 02 Maret 2018 118