Anda di halaman 1dari 159

ETNOBOTANI DAN POTENSI TUMBUHAN BERGUNA

DI KAMPUNG KEAY, KABUPATEN KUTAI BARAT,


KALIMANTAN TIMUR

LIANA ANGRIYANTIE

DEPARTEMEN
KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
ETNOBOTANI DAN POTENSI TUMBUHAN BERGUNA
DI KAMPUNG KEAY, KABUPATEN KUTAI BARAT,
KALIMANTAN TIMUR

LIANA ANGRIYANTIE

Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN
KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
RINGKASAN

Liana Angriyantie. E34061710. Etnobotani dan Potensi Tumbuhan Berguna


di Kampung Keay, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Dibawah
bimbingan : SISWOYO dan AGUS HIKMAT.

Kampung Keay merupakan salah satu kampung yang berada di Kabupaten


Kutai Barat, Kalimantan Timur. Terdapat empat suku yang menghuni kampung
ini, yaitu Suku Dayak, Jawa, Toraja, dan Bugis. Suku Dayak Benuaq merupakan
suku yang mendominasi di kampung ini dan merupakan suku yang masih
memiliki nilai-nilai kearifan tradisional dalam pemanfaatan tumbuhan. Melalui
kajian etnobotani diharapkan pengetahuan masyarakat Kampung Keay khususnya
Suku Dayak Benuaq dalam pemanfaatan tumbuhan dapat terdokumentasi dan
diwariskan kepada generasi mendatang, sehingga pengetahuan tersebut tidak
punah.
Metode penelitian ini dilakukan melalui dua tahap, yaitu: (1) Pengumpulan
data yang diperoleh melalui studi literatur, wawancara, survei dan inventarisasi
lapang, analisis vegetasi, dan herbarium; (2) Pengolahan dan analisis data yang
meliputi klasifikasi kelompok kegunaan, klasifikasi kelompok penyakit dan
macam penyakit/penggunaannya, persentase habitus dan bagian yang digunakan,
indeks nilai penting (INP), keanekaragaman spesies Shannon-Wienner, dan
persentase potensi tumbuhan berguna.
Ditemukan sebanyak 396 spesies tumbuhan dari hasil wawancara dan
analisis vegetasi yang termasuk dalam tiga kategori yaitu tumbuhan hasil
etnobotani (285 spesies), tumbuhan hasil analisis vegetasi di hutan alam (158
spesies) dan tumbuhan hasil analisis vegetasi di kebun karet (34 spesies). Dari
jumlah tersebut, 285 spesies tumbuhan yang termasuk dalam 78 famili telah
diketahui manfaatnya dan dikelompokkan ke dalam 16 kelompok kegunaan.
Potensi tumbuhan berguna yang ada di hutan alam yaitu sebesar 53,79%
sedangkan potensi tumbuhan berguna yang ada di kebun karet yaitu sebesar 50%.
Spesies tumbuhan yang dominan pada hutan alam yaitu keranyiq (Fordia
johorensis) yang memiliki INP terbesar pada tingkat tiang (19,69%), pancang
(25,46%), dan semai (24,67%). Pada kebun karet, tumbuhan yang dominan adalah
karet (Hevea brasiliensis) karena memiliki INP terbesar pada tingkat pohon
(300%), tiang (284,63%), pancang (143,59%), dan semai (52,42%).
Kegunaan tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan adalah untuk
pengobatan yaitu sebanyak 95 spesies dari 43 famili. Dalam interaksi masyarakat
dengan lingkungan sekitar Kampung Keay, masyarakat lebih banyak
memanfaatkan tumbuhan yang berada di hutan dibandingkan dengan kebun karet,
dikarenakan masih banyaknya spesies-spesies tumbuhan berguna yang berada di
hutan. Spesies-spesies tumbuhan berguna potensial yang ada di hutan Kampung
Keay antara lain mara uleq (Eurycoma longifolia), uwe (Korthalsia sp., Calamus
sp., Daemonorops sp.), empulung (Asplenium nidus), dan kerakap (Platycerium
bifurcatum). Potensi lain diluar potensi tumbuhan di hutan alam, yaitu karet
(Hevea brasiliensis).

Kata kunci : Etnobotani, kearifan tradisional, Suku Dayak Benuaq


SUMMARY

Liana Angriyantie. E34061710. The Ethnobotany and Potential of Useful


Plant at Keay Village, West Kutai Regency, East Kalimantan. Under
supervision of SISWOYO and AGUS HIKMAT.

Keay Village is one of villages in West Kutai Regency, East Kalimantan.


There are four ethnic groups occupying this village, i.e. Dayak, Javanese, Toraja,
and Bugis. Dayak is the dominant ethnic group occupying the village, which still
has traditional wisdom/knowledge in plants use. Ethnobotany is expected to
document and hand on the knowledge of Dayak Benuaq ethnic group in using
plants, and keep the knowledge from being loss.
Data were collected through literature study, interview, field survey and
inventory, vegetation analyses, and herbarium collection. Data on plants species
found were classified in to classification of use, classification of illnesses,
habitués percentage and parts of plants used, important value index, Shannon-
Wienner species diversity index, and percentage of useful plants potential.
There were 396 plant species found through ethnobotany and vegetation
analyses, which was categorized into three categories i.e. plant species found
through ethnobotany (285 species), plant species found through vegetation
analyses in natural forest (158 species), plant species found through vegetation
analyses in hevea plantation (34 species). There were 285 species belong to 78
families which uses had been known and grouped into 16 use groups. There were
53,79% of plants species in natural forest had the potential as useful plants, while
in hevea plantation there were 50% of that species had the potential as useful
plants.
Dominant plant species in natural forest was keranyiq (Fordia johorensis)
with IVI (Important Value Index) of pole level as much as 19,69%, sapling
(25,46%), and seedling (24,67%). In hevea plantation, dominant plant species
was hevea (Hevea brasiliensis) with IVI the highest IVI of tree level as much as
300%, pole (284,63%), sapling (143,59%), and seedling (52,42%).
Plants use most widely used for medicinal as much as 95 species of 43
families. The community uses more plants from the forest than from the
plantation, because there were more useful plants species in the forest. Potential
useful plants at the forest of Keay village included mara uleq (Eurycoma
longifolia), uwe (Korthalsia sp., Calamus sp., Daemonorops sp.), empulung
(Asplenium nidus), and kerakap (Platycerium bifurcatum). Other potential other
than plants potential in the natural forest was hevea (Hevea brasiliensis).

Key words: Ethnobotany, traditional knowledge, Dayak Benuaq ethnic group


PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Etnobotani dan


Potensi Tumbuhan Berguna di Kampung Keay, Kabupaten Kutai Barat,
Kalimantan Timur” adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan
dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada
perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain
telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian
akhir skripsi ini.

Bogor, Desember 2010

Liana Angriyantie
NIM E34061710
Judul Skripsi : Etnobotani dan Potensi Tumbuhan Berguna di Kampung
: Keay, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Nama Mahasiswa : Liana Angriyantie
NIM : E34061710

Menyetujui :

Pembimbing I, Pembimbing II,

Ir. Siswoyo, M.Si Dr. Ir. Agus Hikmat, M.Sc.F


NIP. 19650208 199203 1 003 NIP. 19620918 198903 1 002

Mengetahui,
Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor,

Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, M.S.


NIP. 19580915 198403 1 003

Tanggal Lulus :
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas
limpahan karunia dan rahmat-Nya serta diiringi doa yang tulus dari kedua orang
tua, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Etnobotani dan Potensi
Tumbuhan Berguna di Kampung Keay, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan
Timur”. Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Kehutanan pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan
Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum
tentang pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat Kampung Keay dalam
pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Hal lainnya untuk melihat praktek
konservasi masyarakat serta aturan adat yang masih ada dan berlaku pada
masyarakat.
Besar harapan penulis, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi
semua pihak yang membutuhkan data tentang pemanfaatan tumbuhan. Penulis
juga menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna, oleh karena itu kritik dan
saran dari semua pihak sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan penulisan
skripsi ini.

Bogor, Desember 2010


Penulis
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kandangan, tanggal 28 Februari


1988 sebagai anak pertama dari dua bersaudara pada keluarga
Kadeni dan Fitri Mulyani. Penulis masuk lingkungan
pendidikan sekolah dasar pada tahun 1994 di SD Negeri 065
Rapak Mahang Tenggarong hingga tahun 2000. Penulis
melanjutkan pendidikan sekolah menengah pertama di SLTP
Negeri 1 Tenggarong pada tahun 2000 hingga tahun 2003. Pada tahun 2003
penulis melanjutkan pendidikan di SMU Negeri 2 Tenggarong dan lulus tahun
2006.
Pada tahun 2006 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur
Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Kutai Kartanegara pada Departemen Konservasi
Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB. Selama menempuh
pendidikan di Institut Pertanian Bogor, penulis aktif di beberapa organisasi,
diantaranya adalah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) voli (2006-2008),
Himakova (2006-sekarang), Forum Mahasiswa Beasiswa Utusan Daerah Kutai
Kartanegara (FM-BUD KUKAR) dari tahun 2006 hingga sekarang.
Pada tahun 2008 penulis melaksanakan kegiatan Praktek Pengenalan
Ekosistem Hutan (P2EH) di Sancang-Kamojang. Tahun 2009 penulis mengikuti
Praktek Pengenalan dan Pengelolaan Hutan (P2H) di Hutan Pendidikan Gunung
Walat, Sukabumi. Tahun 2010 penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapang
Profesi (PKLP) di Taman Nasional Kerinci Seblat, Provinsi Jambi.
Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kehutanan, pada
tahun 2010 penulis melakukan penelitian dan penyusunan skripsi dengan judul
“Etnobotani dan Potensi Tumbuhan Berguna di Kampung Keay, Kabupaten Kutai
Barat, Kalimantan Timur” di bawah bimbingan Ir. Siswoyo, M.Si dan Dr. Ir. Agus
Hikmat, M.Sc.F.
UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdulillahirobbila’lamin penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang


telah memberikan rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul “Etnobotani dan Potensi Tumbuhan Berguna di Kampung Keay
Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur” ini dengan lancar. Penulis menyadari
bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis mendapatkan bimbingan,
bantuan, dukungan, dan tentunya doa dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini
penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Pemerintah Daerah Kutai Kartanegara yang telah memberikan beasiswa kepada
penulis melalui jalur BUD (Beasiswa Utusan Daerah).
2. Bapak Ir. Siswoyo M.Si dan Bapak Dr. Ir. Agus Hikmat M.Sc.F atas
bimbingan, arahan, motivasi, petunjuk, dan waktu yang telah diberikan kepada
penulis dalam penyusunan dan penyelesaian skripsi ini.
3. Bapak Dr. Ir. Sudarsono Soedomo, M.S sebagai dosen penguji dari
Departemen Manajemen Hutan, Bapak Dr. Ir. Sri Wilarso Budi R., M.S
sebagai dosen penguji dari Departemen Silvikultur, dan Ibu Istie Sekartining
Rahayu, S. Hut, M.Si sebagai dosen penguji dari Departemen Hasil Hutan yang
telah menguji dan memberikan masukan dalam penyempurnaan skripsi ini.
4. Bapak dan Ibu tercinta, adik tersayang serta seluruh keluarga besar atas doa
yang tulus, dukungan, bantuan moral, spiritual, dan materil, serta kasih sayang
dan motivasi dalam penyelesaian skripsi ini.
5. Keluarga besar Pak Muda atas doa, dukungan, dan bantuannya yang
memberikan fasilitas tempat tinggal dan lainnya kepada penulis selama
penelitian di lapangan.
6. Keluarga besar Pak Mudhoif atas doa, dukungan, dan bantuannya dalam
pengambilan data dilapangan dan lainnya kepada penulis selama penelitian.
7. Bapak Rudy Rumpang S.TH sebagai Kepala Kampung dan Bapak Yosef
sebagai Ketua Adat atas izin dan bantuannya sehingga penulis dapat
melaksanakan penelitian di Kampung Keay ini.
8. Om Sarjono, Om Setyono, dan Om Buang atas doa, dukungan, dan bantuannya
kepada penulis selama penelitian.
9. Pak Rani atas bantuannya dalam pengambilan data lapang dan identifikasi.
10. Seluruh masyarakat Kampung Keay yang memberikan bantuan dalam
pengambilan data serta sambutan yang baik kepada penulis dalam penelitian.
11. Mas Sukri, Mas Eno, Rully BN, Bayu Wiratama, Pande, Kak Sareh, Rudy,
Niken, Kak Ari, Kak Adiba, Kak Ibra, Meyana, Amel atas doa, dukungan,
motivasi, dan bantuannya kepada penulis.
12. Seluruh keluarga besar “Wisma Kutai” (Feny, Ari, Mey, Isur, Kak Muti, Kak
muning, Kak Fina) dan “Kostan Green Pink” (Erlin, Bones, Bongky, Hilda,
Teh Didah, Santi) atas doa, dukungan, motivasi, dan bantuannya selama ini
kepada penulis.
13. Keluarga Besar KSHE 43 (Cendrawasih) atas kerjasama, tawa, canda, dan
duka yang dilalui bersama-sama.
14. Kawan, sahabat, dan saudara seperjuangan di Lab. Konservasi
Keanekaragaman Tumbuhan, Departemen KSHE atas bantuan, kerjasama,
motivasi, dan kebersamaannya dengan penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
15. Keluarga besar Himpunan Mahasiswa Konserrvasi Sumberdaya Hutan dan
Ekowisata (HIMAKOVA), Kelompok Pemerhati Goa (KPG), dan Kelompok
Pemerhati Ekowisata (KPE) atas dukungan, ilmu pengetahuan, pengalaman,
dan kerjasamanya dalam pendidikan dan penyusunan skripsi.
16. Seluruh Keluarga Besar FMBUD Kukar (Forum Mahasiswa Beasiswa Utusan
Daerah Kutai Kartanegara) atas doa, dukungan, motivasi, dan bantuannya
kepada penulis.
17. Semua pihak yang belum disebutkan yang telah membantu, mendukung, dan
memotivasi penulis.
Semoga amal kebaikan yang telah diberikan mendapat balasan dan pahala
yang sesuai dari Allah SWT, Amin.
x

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR .................................................................................. vi
DAFTAR ISI ................................................................................................. x
DAFTAR TABEL ........................................................................................ xiii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xvii
BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................. 1
1.2 Tujuan Penelitian ......................................................................... 2
1.3 Manfaat Penelitian ....................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ 3
2.1 Etnobotani .................................................................................... 3
2.2 Keanekaragaman Sumberdaya Alam Hayati Indonesia ............... 3
2.3 Sistem Pengetahuan Tradisional .................................................. 4
2.4 Pemanfaatan Tumbuhan Berguna ................................................ 5
2.4.1 Tumbuhan obat ................................................................. 6
2.4.2 Tumbuhan hias .................................................................. 6
2.4.3 Tumbuhan aromatik (minyak atsiri) ................................. 7
2.4.4 Tumbuhan penghasil pangan ............................................ 7
2.4.5 Tumbuhan penghasil pakan ternak ................................... 8
2.4.6 Tumbuhan penghasil pestisida nabati ............................... 8
2.5.7 Tumbuhan penghasil bahan pewarna ................................ 8
2.4.8 Tumbuhan penghasil bahan bangunan .............................. 9
2.4.9 Tumbuhan penghasil tali, anyaman, dan kerajinan ........... 9
2.4.10 Tumbuhan penghasil kayu bakar ...................................... 9
2.4.11 Tumbuhan untuk ritual adat dan keagamaan .................... 10
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ................................................. 11
3.1 Lokasi dan Waktu ........................................................................ 11
3.2 Bahan dan Alat ............................................................................. 11
3.3 Metode.......................................................................................... 12
xi

3.3.1 Pengumpulan data ............................................................... 12


3.3.2 Identifikasi spesies tumbuhan berguna ............................... 16
3.3.3 Kriteria tumbuhan berguna potensial .................................. 16
3.3.4 Analisis data ........................................................................ 16
BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN .............................. 22
4.1 Letak dan Luas ............................................................................. 22
4.2 Batas Wilayah .............................................................................. 22
4.3 Topografi ...................................................................................... 22
4.4 Iklim ............................................................................................. 22
4.5 Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat ........................................... 22
4.5.1 Jumlah penduduk ................................................................ 22
4.5.2 Tingkat pendidikan ............................................................. 23
4.5.3 Mata pencaharian ................................................................ 23
4.5.4 Luas pemanfaatan lahan ...................................................... 23
4.5.5 Sarana dan prasarana........................................................... 24
4.5.6 Bahasa ................................................................................. 24
4.5.7 Susunan organisasi .............................................................. 24
4.6 Sosial Budaya Masyarakat ........................................................... 26
4.6.1 Sistem pemerintahan adat ................................................... 26
4.6.2 Kesenian .............................................................................. 26
4.6.3 Sistem mata pencaharian..................................................... 27
4.6.4 Hukum adat ......................................................................... 29
4.6.5 Upacara adat........................................................................ 30
4.6.6 Rumah adat Dayak Benuaq ................................................. 31
BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................... 33
5.1 Pemanfaatan Tumbuhan Berguna oleh Masyarakat
Kampung Keay ............................................................................ 33
5.1.1 Karakteristik responden ...................................................... 33
5.1.2 Keanekaragaman spesies tumbuhan yang dimanfaatkan
oleh masyarakat Kampung Keay ........................................ 38
5.1.3 Kelompok penggunaan tumbuhan berguna ........................ 41
5.2 Potensi Tumbuhan Berguna di Areal Hutan/Kebun sekitar
Kampung Keay ............................................................................ 61
xii

5.2.1 Tumbuhan berguna potensial .............................................. 62


5.2.2 Keanekaragaman spesies tumbuhan berdasarkan
Shannon-Wienner Index (H’) .............................................. 64
5.2.3 Kerapatan spesies tumbuhan ............................................... 66
5.2.4 Dominansi spesies tumbuhan .............................................. 68
5.3 Interaksi Masyarakat Kampung Keay dengan Areal
di sekitarnya dalam Pemanfaatan Tumbuhan Berguna ................ 71
5.3.1 Pemanfaatan tumbuhan berguna di areal sekitar
Kampung Keay oleh masyarakat ........................................ 71
5.3.2 Aturan adat tentang pemanfaatan tumbuhan berguna ......... 72
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN .................................................... 74
6.1 Kesimpulan .................................................................................. 74
6.2 Saran ............................................................................................ 74
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 75
LAMPIRAN .................................................................................................. 79
xiii

DAFTAR TABEL

No. Halaman
1. Jenis dan metode pengumpulan data........................................................ 12
2. Jumlah responden yang diwawancarai di Kampung Keay ...................... 13
3. Klasifikasi kelompok kegunaan sumberdaya alam hayati
berupa tumbuhan ...................................................................................... 17
4. Klasifikasi kelompok penyakit/penggunaan dan macam
penyakit/penggunaannya .......................................................................... 17
5. Jumlah penduduk Kampung Keay berdasarkan jenis kelamin ................ 23
6. Tingkat pendidikan masyarakat Kampung Keay ..................................... 23
7. Mata pencaharian masyarakat Kampung Keay........................................ 23
8. Luas pemanfaatan lahan berdasarkan jenis penggunaan tanah ................ 24
9. Sarana dan prasarana di Kampung Keay ................................................. 24
10. Jumlah responden berdasarkan pekerjaan ................................................ 36
11. Jumlah responden berdasarkan tingkat pendidikan ................................. 37
12. Persentase tumbuhan berguna berdasarkan habitus ................................. 39
13. Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat
Kampung Keay ........................................................................................ 40
14. Kelompok kegunaan tumbuhan ............................................................... 42
15. Rekapitulasi jumlah spesies tumbuhan obat di Kampung Keay
berdasarkan kelompok penyakit/penggunaan .......................................... 43
16. Spesies-spesies tumbuhan penghasil minuman
di Kampung Keay .................................................................................... 47
17. Penggunaan tumbuhan pada bagian-bagian bangunan
masyarakat Kampung Keay .................................................................... 48
18. Spesies-spesies tumbuhan sebagai pakan ternak
di Kampung Keay .................................................................................... 51
19. Spesies-spesies tumbuhan sebagai bahan pestisida nabati
dan racun alami di Kampung Keay .......................................................... 53
20. Spesies-spesies tumbuhan sebagai penghasil serat
di Kampung Keay .................................................................................... 57
xiv

21. Nilai keanekaragaman spesies (H’) di hutan alam


berdasarkan habitus .................................................................................. 64
22. Nilai keanekaragaman spesies (H’) di kebun karet
berdasarkan habitus .................................................................................. 65
23. INP terbesar di hutan alam berdasarkan habitus ...................................... 68
24. INP terbesar di kebun karet berdasarkan habitus ..................................... 70
25. Nilai denda adat atas spesies tumbuhan di hutan dan “lembo”................ 73
xvi

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman
1. Peta lokasi penelitian di Kampung Keay
(Sumber: www.dephut.go.id) ................................................................. 11
2. Metode snowball..................................................................................... 13
3. Desain petak contoh dalam analisis vegetasi .......................................... 14
4. Struktur Organisasi Badan Perwakilan Kampung (BPK) ....................... 25
5. Struktur Organisasi Adat Dayak Benuaq di Kampung Keay ................. 25
6. Struktur Organisasi Pemerintah Kampung Keay.................................... 26
7. Alat musik Dayak Benuaq ...................................................................... 27
8. Proses pemotongan hewan dan “blontang” ............................................ 31
9. Upacara adat “beliatn” ............................................................................ 31
10. Persentase suku bangsa responden ......................................................... 33
11. Persentase jenis kelamin responden ....................................................... 34
12. Jumlah responden berdasarkan kelas umur ............................................ 35
13. Aktivitas lansia dalam membuat kerajinan tangan ................................. 36
14. Keanekaragaman spesies tumbuhan berguna
berdasarkan famili .................................................................................. 38
15. Persentase spesies tumbuhan berdasarkan asalnya ................................. 41
16. Contoh spesies tumbuhan obat di Kampung Keay
(a) muk’ng (Blumea balsamifera),
(b) mara uleq (Eurycoma longifolia) ...................................................... 44
17. Kategori tumbuhan pangan pada masyarakat Kampung Keay ............... 45
18. Contoh spesies tumbuhan pangan (a) terong asam
(Solanum lasiocarpum) dan (b) terincing (Ananas comosus) ................ 46
19. Contoh pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan bangunan
(a) lumbung pare (Oryza sativa), (b) rumah penduduk .......................... 49
20. Contoh spesies tumbuhan hias di Kampung Keay
(a) empulung (Asplenium nidus)
(b) komat (Codiaeum variegatum) ......................................................... 50
xvi

21. Contoh spesies tumbuhan pakan ternak jabau


(Manihot utilisima) dan bentuk pemanfaatannya ................................... 52
22. Salah satu contoh kerajinan masyarakat Dayak Benuaq
(a) “tampah”, (b) “berangka”.................................................................. 53
23. Contoh spsies tumbuhan pestisida dan racun alami (a) tuaq
(Derris elliptica), (b) serai jemuq (Cymbopogon nardus) ...................... 55
24. Contoh spesies tumbuhan aromatik (a) popot
(Jasminum sambac), cengkeh (Syzygium aromaticum) .......................... 56
25. Contoh spesies tumbuhan pewarna (a) jomit
(Curcuma domestica), (b) terujaq (Dicliptera chinensis)....................... 59
26. Contoh bentuk pemanfaatan tumbuhan sebagai tolak bala
(a) nyui (Cocos nucifera), (b) uwe sit (Daemonorops sp.) .................... 60
27. Interaksi masyarakat Kampung Keay dalam pemanfaatan
tumbuhan berguna dengan areal sekitarnya............................................ 71
i

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman
1. Daftar rekapitulasi spesies tumbuhan di Kampung Keay ........................ 80
2. Daftar tumbuhan obat yang digunakan masyarakat
Kampung Keay......................................................................................... 89
3. Beberapa spesies tumbuhan obat yang pemanfaatannya
dicampur dengan bahan lain..................................................................... 104
4. Daftar spesies tumbuhan pangan di Kampung Keay ............................... 105
5. Daftar spesies tumbuhan sebagai bahan bangunan
di Kampung Keay .................................................................................... 107
6. Daftar spesies tumbuhan hias di Kampung Keay .................................... 108
7. Daftar spesies tumbuhan sebagai kayu bakar
di Kampung Keay .................................................................................... 110
8. Daftar spesies tumbuhan sebagai bahan tali,
anyaman dan kerajinan di Kampung Keay .............................................. 110
9. Daftar spesies tumbuhan aromatik di Kampung Keay ............................. 112
10. Daftar spesies tumbuhan penghasil warna di Kampung Keay ................. 113
11. Daftar spesies tumbuhan sebagai bahan upacara adat
di Kampung Keay .................................................................................... 114
12. Daftar spesies tumbuhan yang dipercaya sebagai tolak bala
di Kampung Keay .................................................................................... 115
13. Daftar spesies tumbuhan untuk kecantikan/kosmetik
di Kampung Keay .................................................................................... 117
14. Daftar spesies tumbuhan penghasil lain-lain............................................ 118
15. Hasil analisis vegetasi di hutan alam ....................................................... 119
16. Hasil analisis vegetasi di kebun karet ...................................................... 136
17. Daftar rekapitulasi responden di Kampung Keay .................................... 140
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Etnobotani merupakan ilmu yang mempelajari pemanfaatan tumbuhan
secara tradisional oleh suku bangsa terpencil (Soekarman & Riswan 1992). Studi
etnobotani dapat memberi kontribusi yang besar dalam proses pengenalan
pemanfaatan tumbuhan yang ada di suatu wilayah. Pemanfaatan tumbuhan
berguna meliputi tumbuhan obat, tumbuhan hias, tumbuhan aromatik, tumbuhan
penghasil pakan ternak, tumbuhan penghasil pangan, tumbuhan penghasil bahan
pewarna dan tanin, tumbuhan penghasil pestisida nabati, tumbuhan untuk kayu
bakar, tumbuhan untuk upacara adat, tumbuhan penghasil bahan bangunan, dan
tumbuhan penghasil tali, anyaman dan kerajinan.
Kampung Keay merupakan salah satu kampung yang berada di Kabupaten
Kutai Barat, Kalimantan Timur. Terdapat empat suku yang menghuni kampung
ini, yaitu Suku Dayak, Jawa, Toraja, dan Bugis. Suku Dayak Benuaq merupakan
suku yang mendominasi di kampung ini dan merupakan salah satu Suku Dayak
yang masih memiliki nilai-nilai kearifan tradisional dalam pemanfaatan
tumbuhan.
Berbekal pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun,
Suku Dayak Benuaq mampu memanfaatkan berbagai hal dari alam, salah satunya
adalah dari sumberdaya hutan yang ada di sekitarnya. Kehidupan masyarakat
tradisional yang tidak terlepas dari hutan mengakibatkan adanya interaksi yang
sangat erat antara masyarakat tradisional dengan sumberdaya alam dan
lingkungannya. Salah satunya adalah interaksi yang berhubungan dengan
pemanfaatan tumbuhan.
Pengetahuan atau kearifan tradisional dalam memanfaatkan sumberdaya
hutan yang ada untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari merupakan
pengetahuan yang sangat berharga dan merupakan kekayaan budaya yang perlu
digali agar pengetahuan tradisional tersebut tidak hilang seiring dengan
perkembangan zaman.
2

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, melalui kajian etnobotani


diharapkan pengetahuan masyarakat Kampung Keay khususnya Suku Dayak
Benuaq dalam pemanfaatan tumbuhan dapat terdokumentasi dan diwariskan
kepada generasi mendatang, sehingga pengetahuan tersebut tidak punah.

1.2 Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui pemanfaatan tumbuhan secara tradisional oleh masyarakat
Kampung Keay.
2. Mengetahui potensi tumbuhan di kawasan sekitar Kampung Keay.

1.3 Manfaat Penelitian


Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi pihak
Pemerintah Daerah dalam pengembangan dan pelestarian pemanfaatan
sumberdaya hutan, khususnya tumbuhan berbasis pengetahuan atau kearifan lokal
masyarakat Kampung Keay.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Etnobotani
Chandra (1990) diacu dalam Soekarman dan Riswan (1992) menyebutkan
bahwa etnobotani berasal dari dua kata, yaitu etnos (berasal dari bahasa Yunani)
yang berarti bangsa dan botany yang berarti tumbuh-tumbuhan. Etnobotani
merupakan kajian tentang hubungan antara manusia dengan tumbuhan (Martin
1998). Lebih lanjut Waluyo dan Rifai (1992) mengemukakan tentang pengertian
etnobotani, yaitu ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan sumber
daya nabati di lingkungan sekitarnya.
Di Indonesia, etnobotani belum banyak dikenal meskipun dalam
prakteknya sudah banyak dilakukan terutama oleh ahli botani dan antropologi.
Dari sekian melimpahnya kekayaan alam Indonesia, baru sekitar 3-4% tumbuhan
yang tumbuh di Indonesia yang sudah ditanam dan dibudidayakan, sedangkan
sisanya masih tumbuh liar di hutan-hutan. Di sinilah pentingnya kajian etnobotani
guna menggali pengetahuan tradisional pemanfaatan tumbuhan oleh penduduk
setempat. Pengetahuan ini sangat penting dalam mengungkap kegunaan tumbuhan
liar di hutan bagi manusia dalam usaha menanggulangi meningkatnya keperluan
akan sandang, papan, dan pangan yang berkaitan dengan meningkatnya jumlah
penduduk Indonesia (Soekarman & Riswan 1992).

2.2 Keanekaragaman Sumberdaya Alam Hayati Indonesia


Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak dalam lintasan
distribusi keanekaragaman hayati Benua Asia (Pulau Jawa, Sumatera, dan
Kalimantan) dan Benua Australia (Pulau Papua), serta sebaran wilayah peralihan
Wallaceae (Pulau Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara) yang memiliki
keanekaragaman hayati yang kaya dengan tingkat kekhasan yang tinggi dengan
tingkat endemisme yang tinggi pula. Keadaan negara Indonesia yang kaya akan
jenis flora dan fauna tersebut, menjadikan Indonesia sebagai negara yang
memiliki keunikan dan keanekaragaman hayati yang tinggi sehingga Indonesia
menjadi salah satu negara mega biodiversity di dunia (Samedi & Fautina 2006).
4

Menurut Suhartrislakhadi (2007), keanekaragaman jenis tumbuhan di


hutan Indonesia meliputi lebih dari 27.500 jenis tumbuhan berbunga (10% dari
seluruh jenis tumbuhan di dunia didominasi oleh hutan tropis basah). Kekayaan
keanekaragaman hayati tersebut merupakan salah satu modal dasar dalam
pelaksanaan pembangunan nasional, sehingga dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, pemanfaatan tersebut harus
sesuai dengan kemampuan (carrying capacity), karakteristik, dan fungsinya
(Ismanto 2007).
Mengingat pentingnya keanekaragaman hayati sebagai penyedia berbagai
barang dan jasa, mulai dari pangan, energi, dan bahan produksi hingga sumber
daya genetik bahan dasar pemuliaan tanaman komoditas serta obat dan selain
berfungsi juga untuk mendukung sistem kehidupan, maka pemanfaatan
keanekaragaman hayati harus dilakukan dengan benar (Noor 2007). Lebih lanjut
Iskandar dan Karlina (2004) mengemukakan bahwa pemanfaatan sumberdaya
hayati tanpa memperhatikan aspek kelestarian jenisnya, akan mengakibatkan
musnahnya potensi tersebut. Menurut Retnoningsih (2006) diacu dalam
Suhartrislakhadi (2007) dengan mengetahui potensi dan manfaatnya diharapkan
penghargaan terhadap sumberdaya hayati dan keanekaragaman genetiknya
semakin meningkat, sehingga tingkat kerusakan yang terjadi dapat ditekan.

2.3 Sistem Pengetahuan Tradisional


Pengetahuan merupakan kapasitas manusia untuk memahami dan
menginterpretasikan baik hasil pengamatan maupun pengalaman, sehingga bisa
digunakan untuk meramalkan ataupun sebagai dasar pertimbangan dalam
pengambilan keputusan (Kartikawati 2004). Menurut Soekarman dan Riswan
(1992), pengetahuan tradisional adalah pengetahuan yang dimiliki oleh
masyarakat lokal secara turun-temurun. Pusat dari pengetahuan tradisional
mengenai pemanfaatan tumbuhan ini umumnya dijumpai pada negara-negara
berkembang, yang umumnya terletak pada kawasan tropika baik di Amerika,
Afrika, dan Asia.
Pada masyarakat lokal, sistem pengetahuan tentang tumbuhan merupakan
pengetahuan dasar yang amat penting dalam mempertahankan kelangsungan
5

hidup mereka. Dalam kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia,


ketergantungan hidup masyarakat kepada sumber daya alam yang tersedia
tercermin dalam berbagai bentuk tatanan adat istiadat yang kuat (Setyowati &
Wardah 2007).
Lebih lanjut Nopandry (2007) mengemukakan bahwa secara tradisional,
masyarakat memiliki kearifan lokal yang merupakan potensi dan kekuatan dalam
pengelolaan suatu kawasan hutan. Hal ini dapat dilihat dari keberadaan mereka
yang diiringi dengan eksistensi hutan selama beratus-ratus tahun yang merupakan
suatu bukti peradaban dan potensi dalam pelestarian hutan.

2.4 Pemanfaatan Tumbuhan Berguna


Indonesia memiliki hutan yang sangat luas, tercatat 143.970.000 hektar
luasan hutan tersebar di seluruh pulau. Tidak heran jika hutan yang sangat luas
itu, memiliki keanekaragaman tumbuhan yang sangat tinggi (Sastrapradja et al.
1992). Selain diakui sebagai komunitas yang paling kaya, hutan tropika Indonesia
diakui pula sebagai salah satu bagian dunia yang menyisakan kehidupan liar, yang
dapat membangkitkan keajaiban dan kekaguman manusia.
Dalam perkembangan hidupnya, manusia mengenal betul keadaan
sekelilingnya dan memperhatikan segala sesuatu yang bisa dipakai untuk
mempertahankan hidupnya. Salah satu benda hidup yang berada di sekitar
manusia adalah tumbuh-tumbuhan. Manusia benar-benar memperhatikan tumbuh-
tumbuhan karena merupakan salah satu benda yang sangat penting dalam menjaga
kelangsungan hidupnya, yaitu sebagai sumber makanan pokok (Kartiwa &
Martowikrido 1992).
Menurut Purwanto dan Waluyo (1992), tumbuhan berguna dikelompokkan
berdasarkan pemanfaatannya antara lain tumbuhan sebagai bahan pangan,
sandang, bangunan, obat-obatan, kosmetik, alat rumah tangga dan pertanian, tali-
temali, anyam-anyaman, pelengkap upacara adat dan kegiatan sosial, minuman,
dan kesenian.
6

2.4.1 Tumbuhan obat


Menurut Zuhud et al. (1994), tumbuhan obat adalah seluruh spesies
tumbuhan obat yang diketahui dan dipercaya mempunyai khasiat obat, yang
dikelompokkan menjadi: (1) Tumbuhan obat tradisional, yaitu spesies tumbuhan
yang diketahui atau dipercayai masyarakat mempunyai khasiat obat dan telah
digunakan sebagai bahan baku obat tradisional; (2) Tumbuhan obat modern, yaitu
spesies tumbuhan yang secara ilmiah telah dibuktikan mengandung senyawa atau
bahan bioaktif yang berkhasiat obat dan penggunaannya dapat
dipertanggungjawabkan secara medis; dan (3) Tumbuhan obat potensial, yaitu
spesies tumbuhan yang diduga mengandung senyawa atau bahan bioaktif yang
berkhasiat obat, tetapi belum dibuktikan secara ilmiah atau penggunaannya
sebagai bahan obat tradisional.
Pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan sebagai sumber atau bahan
obat oleh masyarakat Indonesia merupakan warisan nenek moyang (Purwanto &
Waluyo 1993). Indonesia kaya akan sumber bahan obat alam dan obat tradisional
yang telah digunakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia secara turun
temurun. Keuntungan obat tradisional yang dirasakan langsung oleh masyarakat
adalah kemudahan untuk memperolehnya dan bahan bakunya dapat ditanam di
pekarangan sendiri, murah dan dapat diramu sendiri di rumah (Zein 2005). Bagi
masyarakat Indonesia khususnya yang tinggal di pedesaan (di sekitar hutan),
pemanfaatan tumbuhan sebagai obat untuk kepentingan kesehatannya bukanlah
merupakan hal yang baru tetapi sudah berlangsung cukup lama (Uji et al. 1992).

2.4.2 Tumbuhan hias


Tumbuhan hias adalah tumbuhan yang memiliki nilai estetika keindahan.
Tumbuhan hias merupakan komoditi holtikultura non-pangan yang digolongkan
ke dalam holtikultur, dalam kehidupan sehari-hari dibudidayakan untuk hiasan
dalam dan luar rumah (Arafah 2005).
Secara umum, tanaman hias dikelompokkan menjadi dua, yaitu tanaman
hias daun dan tanaman hias bunga. Tanaman hias daun yaitu jenis tanaman hias
yang memiliki bentuk dan warna daun yang unik. Sementara daya tarik tanaman
hias bunga terletak pada bentuk, warna, dan aroma bunganya (Ratnasari 2007).
7

2.4.3 Tumbuhan aromatik (minyak atsiri)


Menurut Kick dan Outhmer (1954) diacu dalam Sastrohamidjojo (2004)
minyak atsiri merupakan senyawa yang pada umumnya berwujud cairan, yang
diperoleh dari bagian tanaman, akar, kulit, batang, daun, buah, biji maupun dari
bunga dengan cara penyulingan dengan uap. Sedangkan menurut Sastrohamidjojo
(2004) minyak atsiri atau minyak yang mudah menguap merupakan campuran
dari senyawa yang berwujud cairan atau padatan yang memiliki komposisi
maupun titik didih yang beragam.
Indonesia merupakan penghasil sejumlah minyak atsiri seperti minyak
sereh, minyak daun cengkeh, minyak kenanga, minyak akar wangi, minyak kayu
cendana, minyak nilam, dan sebagainya. Di Indonesia terdapat tidak kurang dari
40 jenis tanaman penghasil minyak atsiri, tetapi yang dikenal di pasaran dunia
hanya 12 jenis saja (Rusli et al. 1988).
Menurut Heyne (1987), tumbuhan yang menghasilkan minyak atsiri
diantaranya adalah dari famili Lauraceae, misalnya kulit kayu manis
(Cinnamomum burmannii); Poaceae, misalnya akar wangi (Andropogon
zizanoides); Santalaceae, misalnya cendana (Santalum album); Zingiberaceae,
misalnya jahe (Zingiber officinale); Annonaceae, misalnya kenanga (Canangium
odoratum) dan sebagainya.

2.4.4 Tumbuhan penghasil pangan


Menurut Depdikbud (1988), tumbuhan pangan adalah segala sesuatu yang
tumbuh, berakar, berdaun, berbatang, dan dapat dikonsumsi oleh manusia (apabila
dikonsumsi oleh hewan disebut pakan), contohnya yaitu buah-buahan, kacang-
kacangan, sayuran, dan tumbuhan yang mengandung karbohidrat. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Kartikawati (2004), sumber makanan pokok dan
sumber karbohidrat masyarakat Dayak Meratus selain padi adalah sagu aren
(Arenga pinnata), gadung (Dioscorea hispida), ubi kayu (Manihot utillisima),
talas/kamuna (Colocasia esculenta), ubi jalar/lelayap (Ipomoea batatas), lumbu
(Colocasia gigantea), jagung (Zea mays), dan jawau/gumbili (Dioscorea
esculenta).
8

2.4.5 Tumbuhan penghasil pakan ternak


Menurut Manetje dan Jones (1992) diacu dalam Kartikawati (2004), pakan
ternak adalah tanaman konsentrasi rendah dan mudah dicerna yang merupakan
penghasil pakan bagi satwa herbivora. Pada umumnya tumbuhan penghasil pakan
ternak merupakan tumbuhan yang memiliki serat yang cukup tinggi (Dwanasuci
2006).

2.4.6 Tumbuhan penghasil pestisida nabati


Menurut Komar (1987) diacu dalam WALHI (1988), pestisida nabati
adalah pestisida yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Beranekaragam jenis
tumbuhan yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati, yaitu tembakau, kenikir,
pandan, kemangi, cabe rawit, kunyit, bawang putih, gadung, sereh dan masih
banyak lagi yang dapat dipakai sebagai bahan-bahan pembuat pestisida
nabati/alami.

2.4.7 Tumbuhan penghasil bahan pewarna


Menurut Lemmens dan Soetjipto (1999) diacu dalam Inama (2008),
pewarna nabati adalah pewarna yang berasal dari tumbuhan. Sebagian besar
warna dapat diperoleh dari tumbuhan seperti warna kuning, merah, biru, cokelat,
dan warna hitam, warna hijau biasanya diperoleh dari perpaduan pewarna nabati
yang berwarna biru dan kuning.
Di Indonesia terdapat beberapa jenis tumbuhan yang menghasilkan zat
pewarna. Beberapa diantaranya adalah zat warna kurkumin pada tanaman tenun-
tenunan, terutama kunyit (Curcuma domestica) dan temulawak (Curcuma
xanthorrhiza) , biji Indigofera arrecta, daun suji (Pleomele angustifolia), daun
salam (Syzygium polyanthum) , Bixa orellana, Gordonia exelsa dan Bischofia
javanica. Tumbuh-tumbuhan tersebut banyak digunakan oleh masyarakat secara
tradisional, baik untuk kerajinan tangan maupun dalam pembuatan makanan
(Rostiana et al. 1992).
Lebih lanjut Heyne (1987) mengemukakan, masyarakat Indonesia telah
banyak menggunakan tumbuhan sebagai bahan pewarna nabati dan sudah lama
mengenal pewarna alami tumbuhan untuk makanan, seperti daun suji (Pleomele
9

angustifolia) untuk warna hijau, rimpang kunyit (Curcuma domestica) untuk


warna kuning, dan kulit kayu soga (Peltophorum pterocarpus) sebagai bahan
pewarna cokelat untuk pewarna batik.

2.4.8 Tumbuhan penghasil bahan bangunan


Pohon-pohon di hutan merupakan sumber bahan bangunan yang dapat
digunakan secara berkesinambungan. Pemanfaatan kayu oleh masyarakat Dayak
Meratus biasanya dilakukan apabila ingin membuat rumah. Biasanya pemilihan
jenis-jenis kayu tersebut berdasarkan pertimbangan kekuatan kayu dan ketahanan
terhadap rayap (Kartikawati 2004).
Berdasarkan penelitian Purwanto dan Waluyo (1992) terhadap Suku Dani
dapat diketahui bahwa masyarakat Dani di pedalaman Irian Jaya pada umumnya
telah mengenal berbagai jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan
bangunan.

2.4.9 Tumbuhan penghasil tali, anyaman dan kerajinan


Tumbuhan penghasil tali, anyaman dan kerajinan adalah tumbuhan yang
biasa digunakan untuk membuat tali, anyaman maupun kerajinan. Beberapa
tumbuhan yang sering digunakan oleh masyarakat untuk membuat anyaman
adalah jenis rotan dan bambu.
Menurut Isdijoso (1992), tumbuhan yang termasuk dalam kelompok
sumber bahan sandang, tali temali dan anyaman antara lain kapas (Gossypium
hirsutum), kenaf (Hibiscus cannabinus), rosella (Hibiscus sabdariffa), yute
(Corchorus capsularis dan C. olitorius), rami (Boehmeria nivea), abaca (Musa
textilis), dan agave/sisal (Agave sisalana dan A. cantula).

2.4.10 Tumbuhan penghasil kayu bakar


Pada dasarnya semua tumbuhan berkayu atau bentuk pohon dapat
digunakan sebagai kayu bakar (Purwanto & Waluyo 1992). Menurut Inama
(2008) kayu bakar merupakan sumberdaya hayati yang sangat penting bagi
masyarakat yang tidak memiliki sumber energi lain seperti listrik, minyak tanah
atau gas.
10

2.4.11 Tumbuhan untuk ritual adat dan keagamaan


Diantara pengetahuan tentang tumbuhan yang dimiliki oleh masyarakat,
ada yang bersifat spiritual, magis, dan ritual. Demikian pula pemanfaatannya,
salah satunya yaitu pemanfaatan di bidang upacara adat. Indonesia memiliki
kurang lebih 350 etnis budaya yang memiliki pengetahuan etnobotani dalam
pemanfaatan maupun penggunaannya di masing-masing daerah khususnya yang
dipakai untuk upacara adat. Dalam upacara-upacara adat yang dilakukan oleh
masyarakat Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan daur hidup, tumbuhan
banyak digunakan untuk keperluan tersebut (Kartiwa & Martowikrido 1992).
Salah satu contoh pemanfaatan tumbuhan untuk upacara tradisional yaitu
upacara tradisional pada masyarakat Suku Banjar. Upacara tradisional yang masih
dilaksanakan oleh Suku Banjar adalah upacara “manaradak”, upacara
“manuping”, upacara “manyanggar danau”, upacara “manyanggar banua”,
upacara “maarak kitab bukhari”, upacara “bamuludan”, upacara “batajak” rumah,
upacara yang berkaitan dengan peristiwa alam, dan upacara yang berkaitan
dengan daur hidup. Misalnya untuk hiasan upacara digunakan tebu kuning, tebu
(betung) merah, mayang bungkus, mayang urai, beringin kurung, anyaman janur
kuning, dan lain-lain. Tumbuhan bagi orang Banjar tidak hanya digunakan untuk
upacara adat, tetapi juga digunakan untuk kekuatan ilmu hitam dan penangkis
ilmu hitam itu sendiri. Dengan demikian upacara itu sendiri sebenarnya untuk
mendatangkan kesejahteraan bagi pelaksananya baik kerabat maupun masyarakat
dan kampungnya (Asnawi 1992).
11

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu


Penelitian ini dilaksanakan di Kampung Keay, Kecamatan Damai,
Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Waktu penelitian selama 2 bulan,
yaitu dari Bulan Mei-Juli 2010. Gambar 1 menyajikan peta lokasi penelitian.

Kampung
Keay

Gambar 1 Peta lokasi penelitian di Kampung Keay (Sumber: www.dephut.go.id).

3.2 Bahan dan Alat


Bahan yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain dokumen atau
laporan dari instansi tertentu, tumbuhan untuk pembuatan herbarium, dan alkohol
70%, sedangkan alat yang digunakan yaitu kamera digital, sasak, kantong plastik,
kuisioner, alat perekam suara, koran, tambang plastik, tally sheet, alat tulis-
12

menulis, kompas, label gantung, meteran, tali rafia, komputer dan


perlengkapannya.

3.3 Metode
3.3.1 Pengumpulan data
3.3.1.1 Jenis data yang dikumpulkan
Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer
dan data sekunder. Data primer yang dikumpulkan antara lain pemanfaatan
tumbuhan berguna oleh masyarakat Kampung Keay, potensi tumbuhan berguna di
sekitar Kampung Keay dan foto spesies-spesies tumbuhan berguna. Data sekunder
yang dikumpulkan yaitu kondisi umum lokasi penelitian dan jenis-jenis tumbuhan
yang terdapat di Kalimantan. Jenis dan teknik pengumpulan data dan informasi
dalam penelitian ini secara rinci disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Jenis dan metode pengumpulan data
Metode
No. Jenis Data Data dan Informasi yang Dikumpulkan Pengumpulan Data
1 Primer 1. Etnobotani :
Spesies tumbuhan yang dimanfaatkan oleh
masyarakat di Kampung Keay:
a. Nama lokal
b. Nama ilmiah
1. Survei lapang
c. Famili
2. Wawancara
d. Habitat
dengan
e. Habitus
masyarakat
f. Kegunaan
3. Analisis vegetasi
g. Bagian tumbuhan yang digunakan
h. Cara penggunaan

2. Potensi tumbuhan berguna di sekitar Kampung


Keay
2 Sekunder 1. Kondisi umum lokasi penelitian
a. Sejarah kawasan
b. Letak dan luas
c. Topografi
d. Iklim
e. Kondisi sosial ekonomi masyarakat
Studi literatur
2. Spesies tumbuhan berguna di Kalimantan
a. Spesies tumbuhan yang dimanfaatkan
b. Habitus
c. Habitat
d. Kegunaan
e. Bagian tumbuhan yang digunakan
f. Cara penggunaan
13

3.3.1.2 Teknik pengumpulan data


a. Pengumpulan data primer
1) Etnobotani
Data etnobotani dikumpulkan dengan melakukan wawancara secara semi
terstruktur dengan menggunakan kuisioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan
masyarakat tentang pemanfaatan tumbuhan yang ada di Kampung Keay. Selain
masyarakat Suku Dayak Benuaq, wawancara juga dilakukan terhadap masyarakat
pendatang, yaitu Suku Jawa, Toraja, dan Bugis. Pemilihan responden dilakukan
dengan menggunakan metode snowball (Gambar 2) dan jumlah responden yang
diwawancarai di Kampung Keay sebanyak 100 orang dengan rincian seperti
tersaji pada Tabel 2.

Kepala adat

Kepala kampung Dukun Tabib/”Pembeliant”


Pengguna Pengguna Pengguna

R D L R D L R D L

Gambar 2 Metode snowball.

Keterangan : R = Remaja
D = Dewasa
L = Lansia

Tabel 2 Jumlah responden yang diwawancarai di Kampung Keay


No. Responden Kelas Umur Jumlah Responden (Orang)
1 Kepala adat Dewasa 1
2 Kepala kampung Dewasa 1
3 Dukun Dewasa 1
4 Tabib/”Pembelian” Dewasa 1
Lansia 2
5 Pengguna Remaja 10
Dewasa 73
Lansia 11
Jumlah 100
14

2) Potensi tumbuhan berguna


Data potensi tumbuhan berguna diperoleh dari analisis vegetasi yang
dilakukan di areal hutan alam (dua lokasi), kebun karet, pemukiman dan ladang.
Lokasi hutan pertama merupakan hutan yang berada dekat dengan masyarakat,
sedangkan lokasi hutan kedua merupakan hutan yang letaknya sedikit lebih jauh
dengan masyarakat. Khusus pada areal pemukiman dan ladang, metode yang
digunakan adalah secara sensus, sedangkan di areal hutan dan kebun karet dengan
menggunakan metode kombinasi jalur dan garis berpetak. Pada metode ini, jalur
dibuat memanjang memotong garis kontur. Panjang jalur adalah 100 m dan lebar
20 m, dibuat sebanyak sepuluh jalur yang diletakkan secara sistematis dengan
jarak antar jalur 100 m. Pada jalur tersebut dibuat petak-petak contoh berukuran
20 m x 20 m, 10 m x 10 m, 5 m x 5 m dan 2 m x 2 m seperti yang tersaji pada
Gambar 3.

d
c
b
b
b
Gambar 3 Desain petak contoh dalam analisis vegetasi.
Keterangan : a = 20 m x 20 m
b = 10 m x 10 m
c=5mx5m
d=2mx2m

Untuk setiap petak ukur dilakukan pengukuran terhadap semua tingkat


pertumbuhan, yaitu :
a) Petak 20 m x 20 m, dilakukan pengukuran dan pencatatan untuk tingkat pohon,
liana, dan epifit.
b) Petak 10 m x 10 m, dilakukan pengukuran dan pencatatan untuk tingkat tiang.
c) Petak 5 m x 5 m, dilakukan pengukuran dan pencatatan untuk tingkat pancang.
d) Petak 2 m x 2 m, dilakukan pengukuran dan pencatatan untuk tingkat semai,
herba, semak, perdu, dan lain sebagainya.
15

Parameter yang diukur pada setiap petak ukur, meliputi :


a) Spesies, jumlah dan diameter tingkat pohon (pohon-pohon yang memiliki
diameter setinggi dada atau dbh = 130 cm dari permukaan tanah dengan
diameter ≥ 20 cm).
b) Spesies, jumlah dan diameter tingkat tiang (pohon-pohon yang memiliki
diameter 10 cm sampai < 20 cm).
c) Spesies, jumlah dan diameter tingkat pancang (anakan pohon dengan tinggi ≥
1,5 m dengan diameter < 10 cm).
d) Spesies, jumlah dan diameter tingkat semai (anakan pohon mulai dari tingkat
kecambah sampai yang memiliki tinggi < 1,5 m), herba, semak, perdu, dan lain
sebagainya.
e) Spesies, jumlah liana dan epifit

3) Pembuatan herbarium
Herbarium merupakan koleksi spesimen tumbuhan yang terdiri dari
bagian-bagian tumbuhan (ranting lengkap dengan daun, buah, dan bunga).
Herbarium dapat dibuat dengan cara basah ataupun kering. Tahapan-tahapan yang
dilakukan dalam pembuatan herbarium adalah :
a) Mengambil contoh herbarium yang terdiri dari ranting lengkap dengan
daunnya, jika ada bunga dan buahnya juga diambil.
b) Contoh herbarium yang telah diambil kemudian dipotong dengan panjang
kurang lebih 40 cm.
c) Kemudian contoh herbarium dimasukkan ke dalam kertas koran dengan
memberikan etiket berukuran (3 x 5 cm). Etiket berisi keterangan tentang
nomor spesies, nama lokal, lokasi pengumpulan dan nama
pengumpul/kolektor.
d) Selanjutnya beberapa herbarium dimasukkan ke dalam plastik dan disemprot
dengan alkohol 70% dan selanjutnya dibawa ke Laboratorium Konservasi
Keanekaragaman Tumbuhan untuk dioven.
e) Herbarium yang sudah kering lengkap dengan keterangan-keterangan yang
diperlukan diidentifikasi untuk mendapatkan nama ilmiahnya di Laboratorium
Konservasi Tumbuhan, Fakultas Kehutanan IPB, Bogor.
16

b. Pengumpulan data sekunder


Data sekunder yang dikumpulkan melalui studi literatur, yaitu meliputi
kondisi umum lokasi Kampung Keay dan jenis-jenis tumbuhan di Kalimantan dari
berbagai laporan survei dan penelitian yang pernah dilakukan oleh berbagai
instansi di Kalimantan Timur.

3.3.2 Identifikasi spesies tumbuhan berguna


Identifikasi spesies tumbuhan berguna dilakukan dengan melakukan cek
silang dengan berbagai buku/literatur tentang tumbuhan berguna yang ada,
meliputi : nama lokal, nama ilmiah, nama famili, habitus, kegunaan, dan bagian
yang digunakan. Literatur yang digunakan dalam mengidentifikasi spesies
tumbuhan berguna antara lain Heyne (1987), Zuhud et al. (1994), Zuhud et al.
(2001), Kebler dan Sidiyasa (1994), Redaksi Agromedia (2008), dan sebagainya.

3.3.3 Kriteria tumbuhan berguna potensial


Dalam menentukan jenis-jenis tumbuhan berguna potensial, ada beberapa
faktor yang biasanya dijadikan sebagai dasar pemilihan. Menurut Purnawan
(2006), faktor-faktor tersebut antara lain: (1) Ekologis, karena jenis tersebut
langka atau terancam punah; (2) Ekonomis, karena jenis tersebut memiliki potensi
ekonomi yang tinggi bila dikembangkan; (3) Manfaat, karena jenis tersebut
memiliki kegunaan yang cukup banyak; (4) Seluruh bagian tumbuhan dari jenis
tersebut dapat dimanfaatkan oleh manusia (daun, batang, akar, bunga, dan buah).

3.3.4 Analisis data


Hasil identifikasi tumbuhan yang telah diperoleh kemudian disusun
berdasarkan spesies dan familinya untuk dianalisis secara deskriptif kualitatif.
Setiap spesies tumbuhan dianalisis mengenai potensi, habitus, kegunaan, dan
bagian tumbuhan yang digunakan.
3.3.3.1 Klasifikasi kelompok kegunaan
Data hasil identifikasi selanjutnya dikelompokkan berdasarkan manfaat
dari masing-masing tumbuhan, seperti tersaji pada Tabel 3.
17

Tabel 3 Klasifikasi kelompok kegunaan sumberdaya alam hayati berupa


tumbuhan
No. Kelompok Kegunaan
1 Tumbuhan obat
2 Tumbuhan hias
3 Tumbuhan aromatik
4 Tumbuhan penghasil pangan
5 Tumbuhan pakan ternak
6 Tumbuhan penghasil pestisida nabati
7 Tumbuhan penghasil serat
8 Tumbuhan bahan pewarna dan tannin
9 Tumbuhan penghasil bahan bangunan
10 Tumbuhan keperluan ritual adat dan keagamaan
11 Tumbuhan anyaman dan kerajinan
12 Tumbuhan penghasil kayu bakar
13 Tumbuhan sebagai tolak bala
14 Lainnya
Sumber : Purwanto dan Waluyo (1992).

3.3.3.2 Klasifikasi kelompok penyakit/penggunaan tumbuhan obat


Khusus untuk tumbuhan obat, dilakukan pengklasifikasian lebih lanjut
berdasarkan kelompok penyakit/kegunaannya, seperti tersaji pada Tabel 4.
Tabel 4 Klasifikasi kelompok penyakit/penggunaan dan macam
penyakit/penggunaannya
Kelompok
No. Macam Penyakit/Penggunaan
Penyakit/Penggunaan
1 Gangguan peredaran darah Darah kotor, kanker darah, kurang darah, pembersih
darah, dan penyakit lainnya yang berhubungan dengan
darah
2 Keluarga Berencana (KB) KB, membatasi kelahiran, menjarangi kehamilan,
pencegah kehamilan, dan penggunaan lainnya yang
berhubungan dengan KB
3 Penawar racun Digigit lipan, digigit serangga, keracunan jengkol,
keracunan makanan, penawar racun, dan penggunaan
lainnya yang berhubungan dengan keracunan
4 Pengobatan luka Luka, luka bakar, luka memar, luka bernanah, infeksi,
dan penggunaan lainnya yang berhubungan dengan luka
5 Penyakit diabetes Diabetes, menurunkan kadar gula darah, sakit gula, dan
penyakit lainnya yang berhubungan dengan penyakit
diabetes
6 Penyakit gangguan urat Lemah urat syaraf, susah tidur, dan penggunaan lainnya
syaraf yang berhubungan dengan gangguan urat syaraf
18

Tabel 4 (Lanjutan)
Kelompok
No. Macam Penyakit/Penggunaan
Penyakit/Penggunaan
7 Penyakit gigi Gigi rusak, penguat gigi, sakit gigi, dan penggunaan
lainnya yang berhubungan dengan gigi
8 Penyakit ginjal Ginjal, sakit ginjal, gagal ginjal, batu ginjal, kencing
batu, dan penggunaan lainnya yang berhubungan dengan
ginjal
9 Penyakit jantung Sakit jantung, stroke, jantung berdebar-debar, tekanan
darah tinggi (hipertensi), dan penggunaan lainnya yang
berhubungan dengan jantung
10 Penyakit kanker/tumor Kanker rahim, kanker payudara, tumor rahim, tumor
payudara, dan penggunaan lainnya yang berhubungan
dengan kanker dan tumor
11 Penyakit kuning Liver, sakit kuning, hepatitis, penyakit hati, hati bengkak,
dan penggunaan lainnya yang berhubungan dengan
penyakit kuning
12 Penyakit khusus wanita Keputihan, terlambat haid, haid terlalu banyak, tidak
datang haid, dan penggunaan lainnya yang berhubungan
dengan penyakit khusus wanita
13 Penyakit kulit Koreng, bisul, panu, kadas, kurap, eksim, cacar, campak,
borok, gatal, bengkak, luka bernanah, kudis, kutu air, dan
penggunaan lainnya yang berhubungan dengan kulit
15 Perawatan organ tubuh Kegemukan, perawatan organ kewanitaan, pelangsing,
wanita dan penggunaan lainnya yang berhubungan dengan organ
tubuh wanita
14 Penyakit malaria Malaria, demam malaria, dan penggunaan lainnya yang
berhubungan dengan malaria
14 Penyakit kelamin Beser mani (spermatorea), gatal di sekitar alat kelamin,
impoten, infeksi kelamin, kencing nanah, lemah syahwat
(psikoneurosis), raja singa/sifilis, sakit kelamin, dan
penggunaan lainnya yang berhubungan dengan kelamin
16 Penyakit mata Radang mata, sakit mata, trakoma, rabun senja, dan
penggunaan lainnya yang berhubungan dengan mata
17 Penyakit mulut Gusi bengkak, gusi berdarah, mulut bau dan mengelupas,
sariawan, dan penggunaan lainnya yang berhubungan
dengan penyakit mulut
18 Penyakit otot dan persendian Asam urat, bengkak kelenjar, kejang perut, kejang-
kejang, keseleo, nyeri otot, rematik, sakit otot, sakit
persendian, sakit pinggang, terkilir, dan penggunaan
lainnya yang berhubungan dengan otot dan persendian
19 Penyakit tulang Patah tulang, sakit tulang, dan penggunaan lainnya yang
berhubungan dengan tulang
20 Penyakit telinga Congek, radang anak telinga, radang telinga, radang
telinga tengah, sakit telinga, telinga berair, dan
penggunaan lainnya yang berhubungan dengan telinga
19

Tabel 4 (Lanjutan)
Kelompok
No. Macam Penyakit/Penggunaan
Penyakit/Penggunaan
21 Tonikum Obat kuat, tonikum, penambah nafsu makan,
meningkatkan enzim pencernaan, astringen/pengelat, dan
penggunaan lainnya yang berhubungan dengan tonikum
22 Penyakit saluran Ambeien, gangguan prostat, kencing darah, peluruh
pembuangan kencing/keringat, sakit saluran kemih, sembelit, susah
kencing, wasir, dan penggunaan lainnya yang
berhubungan penyakit saluran pembuangan
23 Penyakit saluran pencernaan Maag, kembung, masuk angin, sakit perut, cacingan,
murus, peluruh kentut, karminatif, muntah, diare,
disentri, sakit usus, kolera, muntaber, berak lendir, usus
buntu, dan penggunaan lainnya yang berhubungan
dengan saluran pencernaan
24 Penyakit saluran Asma, batuk, flu, influenza, pilek, sesak nafas, sakit
pernafasan/THT tenggorokan, TBC, TBC paru, dan penggunaan lainnya
yang berhubungan dengan saluran penafasan/THT
26 Perawatan kehamilan dan Keguguran, perawatan sebelum/sesudah
persalinan melahirkan/persalinan, penyubur kandungan, susu
bengkak, ASI, dan penggunaan lainnya yang
berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran
27 Perawatan rambut, muka, Penyubur rambut, penghalus kulit, menghilangkan
kulit ketombe, perawatan muka, dan penggunaan lainnya yang
berhubungan dengan rambut, muka, dan kulit
29 Lain-lain Limpa bengkak, beri-beri, sakit kuku, sakit sabun, obat
tidur, obat gosok, penenang, dan penggunaan lainnya
yang tidak tercantum di atas.
Sumber: Zuhud et al. (2000)

3.3.3.3 Persentase habitus


Persentase habitus merupakan telaah tentang besarnya suatu jenis habitus
yang digunakan terhadap seluruh habitus yang ada. Habitus tersebut meliputi
pohon, semak, perdu, liana, herba, dan lain sebagainya. Adapun rumus yang
digunakan untuk menghitung persentase habitus, yaitu sebagai berikut:
20

3.3.3.4 Persentase bagian yang dimanfaatkan


Persentase bagian tumbuhan yang dimanfaatkan meliputi bagian tumbuhan
mulai dari bagian tumbuhan yang paling atas/daun sampai ke bagian bawah/akar.
Untuk menghitung persentase bagian yang dimanfaatkan digunakan rumus :

3.3.3.5 Indeks nilai penting


Nilai penting ini digunakan untuk menetapkan dominasi suatu spesies
terhadap spesies lainnya. Nilai penting merupakan jumlah dari kerapatan relatif
(KR), dominansi relatif (DR) dan frekuensi relatif (FR).
a. Kerapatan (K) (ind/ha)
Jumlah individu
K=
Luas seluruh petak contoh
b. Frekuensi (F)
Jumlah petak ditemukan suatu spesies
F=
Jumlah seluruh petak contoh
c. Dominansi (D)
Luas bidang dasar suatu spesies
D=
Luas seluruh petak contoh
d. Kerapatan Relatif (KR)
Kerapatan suatu spesies
KR = x 100%
Kerapatan seluruh spesies
e. Frekuensi Relatif (FR )
Frekuensi suatu spesies
FR = x 100%
Frekuensi seluruh spesies
f. Dominansi Relatif (DR)
Dominansi suatu spesies
DR = x 100%
Dominansi seluruh spesies
21

g. Indeks Nilai Penting (INP) untuk tingkat pohon dan tiang adalah KR + FR
+ DR (%)
h. Indeks Nilai Penting (INP) untuk tingkat pancang, semai, liana, epifit, dan
sebagainya adalah KR + FR (%)

3.3.3.6 Keanekaragaman spesies berdasarkan Shannon-Wienner Index


Nilai keanekaragaman spesies tumbuhan dapat diketahui dengan
menggunakan kriteria indeks Shannon-Wienner. Menurut Magurran (1988) nilai
indeks keanekaragaman (H’) dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu
keanekaragaman tinggi jika H’>3, keanekaragaman sedang jika 1<H’≤3, dan
keanekaragaman rendah jika H’≤1. Untuk mengetahui keanekaragaman spesies
digunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wienner :
H’ = - ∑ [(Pi) ln (Pi)]
Keterangan : H’ = Indeks keanekaragaman spesies
Pi = ni/N
ni = INP setiap spesies
N = Total INP seluruh spesies

3.3.3.7 Persentase Potensi Tumbuhan Berguna


Berdasarkan hasil analisis vegetasi di hutan sekitar Kampung Keay
dihitung persen potensi tumbuhan berguna, sebagai berikut :
∑ spesies tumbuhan berguna
Potensi tumbuhan berguna = x 100%
∑ seluruh tumbuhan
22

BAB IV
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Letak dan Luas


Secara administratif pemerintahan, Kampung Keay terletak di Kecamatan
Damai, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Kampung ini berada pada
ketinggian tempat 389-1.905 m di atas permukaan laut dengan luas wilayah
10.842 ha (Data Potensi Desa 2009).

4.2 Batas Wilayah


Berdasarkan Data Potensi Desa (2009), Kampung Keay memiliki batas-
batas wilayah sebagai berikut :
Utara : Kampung Mencimai
Timur : Kampung Sekolaq Darat, Kampung Sekolaq Joleq, Kampung Danum
Selatan : Kampung Jerang Dayak, Kampung Mendung, Kampung Jengan Danum
Barat : Kampung Tepulung, Kampung Benung

4.3 Topografi
Kampung Keay terdiri dari tiga topografi, yaitu dataran rendah, dataran
tinggi, dan pegunungan. Tekstur tanah kampung ini yaitu berupa pasir putih, tanah
liat, dan bebatuan (Data Potensi Desa 2009).

4.4 Iklim
Berdasarkan data potensi desa tahun 2009 Kampung Keay memiliki curah
hujan rata-rata 2.625 mm/tahun, dengan suhu udara minimal 20 oC dan maksimal
34oC, sedangkan suhu udara rata-ratanya berkisar 20oC-30oC. Bulan basah
(musim hujan) terjadi pada bulan Oktober-April. Di wilayah ini angin bertiup dari
arah tenggara dan timur laut dengan kecepatan rata-rata 16-20 km/jam (Data
Potensi Desa 2009).

4.5 Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat


4.5.1 Jumlah penduduk
Berdasarkan Data Potensi Desa (2009), jumlah penduduk di Kampung
Keay adalah 848 orang yang terdiri dari laki-laki sebanyak 455 orang dan
perempuan 393 orang, seperti yang dapat dilihat pada Tabel 5.
23

Tabel 5 Jumlah penduduk Kampung Keay berdasarkan jenis kelamin


No. Jenis Kelamin Jumlah (orang) Persentase (%)
1 Laki-laki 455 54
2 Perempuan 393 46
3 Jumlah total 848 100
Sumber: Data Potensi Desa (2009).

4.5.2 Tingkat pendidikan


Tingkat pendidikan masyarakat Kampung Keay antara lain, tamat
SD/Sederajat, tamat SMP/Sederajat, tamat SMA/Sederajat, D1, D3, dan S1.
Sebagian besar masyarakat Kampung Keay memiliki tingkat pendidikan tamat
SD/Sederajat, seperti yang tersaji pada Tabel 6.
Tabel 6 Tingkat pendidikan masyarakat Kampung Keay
No. Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 Tamat SD/Sederajat 135 47
2 Tamat SMP/Sederajat 73 26
3 Tamat SMA/Sederajat 69 24
4 D-1 - -
5 D-3 3 1
6 S-1 6 2
Jumlah 286 100
Sumber: Data Potensi Desa (2009).

4.5.3 Mata pencaharian


Mata pencaharian utama masyarakat Kampung Keay yaitu petani. Selain
itu, sebagian masyarakat juga ada yang bekerja sebagai buruh, PNS, pedagang,
nelayan dan lain-lain, seperti yang tersaji pada Tabel 7.
Tabel 7 Mata pencaharian masyarakat Kampung Keay
No. Mata Pencaharian Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 Petani 425 53
2 Buruh 25 3
3 PNS 17 2
4 Pedagang 15 2
5 Nelayan 20 3
6 Lain-lain 300 37
Jumlah 802 100
Sumber: Data Potensi Desa (2009).

4.5.4 Luas pemanfaatan lahan


Pemanfaatan lahan di Kampung Keay meliputi pemukiman, perkebunan,
hutan, ladang, sawah, rawa, dan lain-lain. Luas pemanfaatan lahan terbesar di
Kampung Keay adalah tanah perkebunan rakyat, seperti yang tersaji pada Tabel 8.
24

Tabel 8 Luas pemanfaatan lahan berdasarkan jenis penggunaan tanah


No. Jenis Penggunaan Lahan Luas (ha) Persentase (%)
1 Pemukiman 4 0,07
2 Perkebunan 259 4,38
3 Hutan 1.425 24,12
4 Ladang 1,77 0,03
5 Sawah 15,75 0,27
6 Rawa 145 2,45
7 Lain-lain 4.057 68,68
Jumlah 5.907,52 100
Sumber: Data Potensi Desa (2009).

4.5.5 Sarana dan prasarana


Sarana dan prasarana yang terdapat di Kampung Keay terdiri dari sekolah,
tempat ibadah, tempat olahraga, dan tempat pelayanan kesehatan seperti tersaji
pada Tabel 9.
Tabel 9 Sarana dan prasarana di Kampung Keay
No Sarana dan Prasarana Jumlah (Unit)
1 SD 1
2 Gereja 6
3 Mushola 1
4 Lapangan bola 1
5 Lapangan voli 4
6 Tenis meja 6
7 Gedung bulutangkis 1
8 Puskesmas pembantu 1
Jumlah 21
Sumber: Data Potensi Desa (2009).

4.5.6 Bahasa
Bahasa yang biasa digunakan untuk berkomunikasi oleh penduduk
Kampung Keay dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa Dayak Benuaq. Selain
bahasa daerah, mereka juga menggunakan bahasa Indonesia jika berkomunikasi
dengan orang selain Suku Dayak.

4.5.7 Susunan organisasi


Masyarakat di Kampung Keay memiliki pranata sosial yang meliputi
beberapa organisasi, seperti Badan Perwakilan Kampung (BPK), Organisasi Adat,
dan Organisasi Pemerintah Kampung, seperti tersaji pada Gambar 4, Gambar 5
dan Gambar 6.
25

Petinggi
Pdt. Rudi Rumpang S.TH

Juru Tulis
Christian Hadi Chandra

Kaur Pemeritahan Kaur Pembangunan Kaur Umum


Sabdar Rudiansyah Busui Suriansyah

Keterangan : Garis komando


Gambar 4 Struktur Organisasi Badan Perwakilan Kampung (BPK).

Kepala Adat
Yosef Calon

Sekretaris
Belok

Staf Staf Staf


Beta Yosef Guntew

Keterangan : Garis komando


Gambar 5 Struktur Organisasi Adat Dayak Benuaq di Kampung Keay.
26

Ketua
Darius Resot

Wakil Ketua
Alfonsius

Sekretaris
Murijan

Anggota Anggota
A. Hermansyah Y. Risa

Keterangan : Garis komando


Gambar 6 Struktur Organisasi Pemerintah Kampung Keay.

4.6 Sosial Budaya Masyarakat


4.6.1 Sistem pemerintahan adat
Kampung Keay dipimpin oleh dua pemimpin, yaitu kepala adat dan
petinggi kampung. Petinggi atau kepala kampung disini bertindak sebagai
pemegang kekuasaan tertinggi dan dapat menentukan segala peraturan yang
berlaku dalam masyarakat. Baik petinggi maupun kepala adat memiliki tugas dan
wewenang yang berbeda. Petinggi bertugas mengurusi hal-hal yang berhubungan
dengan administrasi kampung, sedangkan kepala adat bertugas mengurusi hal-hal
yang berhubungan dengan keadatan seperti upacara adat, pernikahan, perceraian,
dan lain sebagainya.
4.6.2 Kesenian
Kesenian Dayak Benuaq merupakan keahlian orang Benuaq dalam
mengekspresikan ide-ide kreatif, sehingga menghasilkan benda atau karya seni
yang memiliki nilai estetika tinggi. Kesenian ini diciptakan sendiri oleh
27

masyarakat Dayak Benuaq dengan ciri khas tersendiri sehingga hasil keseniannya
pun berbeda dengan Suku Dayak yang lain. Salah satu kesenian yang terdapat di
kampung ini adalah seni rupa dan kerajinan tangan. Seni rupa yang digeluti oleh
masyarakat Dayak Benuaq adalah seni ukir, sedangkan untuk kerajinan tangan
masyarakat lebih banyak membuat “anjat”, “lampit” (tikar dari rotan), “tampah”,
“berangka”, dan sebagainya.
Selain seni rupa dan kerajinan tangan, terdapat pula beberapa alat musik
yang biasa digunakan oleh masyarakat dalam berbagai kegiatan. Alat musik yang
digunakan antara lain gong, gimar, perahi, kelentangan, pompok, dan sebagainya.
Gambar 7 menampilkan beberapa alat kesenian yang biasa digunakan masyarakat
Dayak Benuaq.

(a) Gimar (b) Kelentangan


Gambar 7 Alat musik Dayak Benuaq.

4.6.3 Sistem mata pencaharian


Pada umumnya mata pencaharian masyarakat Kampung Keay adalah
menyadap karet atau dalam bahasa setempat disebut “noreh” dan bertani. Mata
pencaharian tersebut merupakan mata pencaharian utama yang menunjang
sebagian besar perekonomian masyarakat. Sebagai mata pencaharian utama,
hampir setiap keluarga di Kampung Keay memiliki lahan untuk membudidayakan
karet (Hevea brasiliensis). Luas lahan yang dimiliki oleh setiap keluarga untuk
budidaya karet berbeda-beda, pada umumnya masyarakat memiliki 1 atau 2 ha
lahan, namun ada juga yang memiliki lebih dari 2 ha tergantung dengan
kemampuan setiap orang. Bagi masyarakat di Kampung Keay bertani karet
merupakan usaha yang menguntungkan dibandingkan dengan bertani padi karena
selain dapat dipanen seminggu sekali harga jual getah karet lebih tinggi, yaitu
berkisar Rp 7.000 – Rp 10.000 per kg. Harga tersebut selalu berubah-rubah karena
28

arus penjualan getah karet ini ditentukan oleh tengkulak bukan ditentukan oleh
masyarakat. Biasanya para tengkulak yang mendatangi masyarakat untuk
membeli getah karet mereka. Masyarakat biasanya memanen getah karet setiap
seminggu atau dua minggu sekali tergantung dengan keperluan setiap individu
pada saat itu. Jika cuaca selalu cerah karet akan menghasilkan getah yang cukup
banyak, maka dalam 1 minggu masyarakat dapat memperoleh 1 pikul (1 kuwintal)
getah karet dengan areal seluas 1 ha. Selain sebagai petani karet, sebagian
masyarakat juga bekerja sebagai penoreh karet (buruh) di kebun orang lain.
Penoreh karet ini setiap hari bekerja menoreh karet hingga dapat dijual, kemudian
hasil dari penjualan karet tersebut dibagi dua dengan pemilik karet.
Dalam sistem bertani, baik bertani karet (Hevea brasiliensis) maupun padi
(Oryza sativa) masyarakat masih menggunakan sistem teknologi yang sangat
tradisional karena mulai dari pengolahan lahan sampai pada pemanenan
masyarakat Dayak Benuaq tidak menggunakan teknologi dan pupuk kimia.
Masyarakat lebih senang menggunakan alat sederhana seperti parang dan tanpa
menggunakan pupuk karena lahan yang digunakan untuk bertani biasanya lahan
baru atau lama yang sebelumnya telah dibakar sehingga tanahnya menjadi subur.
Kegiatan bertani khususnya padi, biasanya hanya ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan keluarga bukan untuk komersil. Selain karet, terdapat juga komoditi
yang dapat diperdagangkan seperti sepotn (Areca catechu), nyui (Cocos nucifera),
kalang (Durio zibethinus), elai (Durio kutejensis), rambutan (Nephelium
lappaceum), cempedak (Artocarpus champeden), terincing (Ananas comosus) dan
langsat (Lansium domesticum). Ketujuh spesies ini dijadikan sebagai komoditi
yang diperjualbelikan oleh sebagian masyarakat untuk meningkatkan
perekonomian.
Selain menjual hasil perkebunan, untuk meningkatkan perekonomian dan
pemenuhan kebutuhan hidup terhadap protein hewani ataupun sebagai hewan
peliharaan sebagian masyarakat juga ada yang berburu. Hasil buruan yang sering
diperoleh antara lain babi hutan, kijang (payau), monyet, burung, dan sebagainya.
Dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari seperti untuk pangan dan obat
masyarakat biasanya mengambil sumberdaya yang berasal dari pekarangan
29

rumah, ladang, maupun hutan. Akan tetapi, selain mengambil dari lingkungan
sekitar, masyarakat juga membeli kebutuhannya dari masyarakat luar.

4.6.4 Hukum adat


Hukum adat yang terdapat di Kampung Keay ada yang tertulis dan tidak
tertulis. Walaupun tidak tertulis hukum adat mempunyai akibat hukum terhadap
siapa saja yang melanggarnya. Norma-norma dan nilai-nilai yang ada di dalam
hukum adat sangat dipatuhi dan dipegang teguh oleh masyarakat Dayak Benuaq.
Hukum adat yang berlaku di masyarakat Dayak Benuaq pada saat ini
sudah mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan adanya perubahan pola pikir
dari generasi muda terhadap kepercayaan dan aturan adat akibat adanya
perkembangan zaman. Salah satu bentuk pergeseran adat yang terjadi yaitu tidak
diperbolehkan berteriak di pinggir jalan, namun pada saat ini hal tersebut sudah
lazim dilakukan dan denda adat sudah tidak dapat diterapkan lagi pada
pelanggaran tersebut.
Salah satu bentuk hukum adat pada kehidupan sosial yaitu seperti dalam
perilaku manusia dan pernikahan. Dalam adat masyarakat Dayak Benuaq setiap
keluarga yang memiliki anak laki-laki harus mempunyai “mandau” (senjata khas
Suku Dayak). Jumlah mandau yang harus dimiliki adalah satu buah mandau untuk
satu orang anak. Mandau ini nantinya akan digunakan oleh anak tersebut ketika
menikah sebagai mas kawin. Selain mandau, mas kawin yang lainnya adalah
piring dan pisau. Pada acara pertunangan pihak laki-laki harus membawa satu
buah mandau dan satu buah piring, sedangkan pihak perempuan membawa satu
buah pisau dan satu buah piring. Ketika acara nikah adat jumlah piring yang harus
dibawa oleh pihak laki-laki adalah 6-12 piring. Tujuan atau maksud dari
pemberian mas kawin dalam bentuk mandau, pisau dan piring adalah sebagai
bukti bahwa kedua mempelai benar-benar serius dan siap menghadapi segala hal
tantangan hidup ke depan.
Hukum adat yang berhubungan dengan perilaku manusia yaitu larangan
berjalan secara beriringan dengan suami/istri orang lain walaupun tujuan dari
masing-masing orang tersebut berbeda. Nama dari hukum adat tersebut adalah
“dosa kelakuan”. Besarnya denda yang harus dibayar jika melanggar “dosa
30

kelakuan” ini yaitu sebanyak Rp. 200.000. Hukum adat untuk “dosa kelakuan”
hingga saat ini masih berlaku di Kampung Keay.

4.6.5 Upacara adat


Dayak Benuaq merupakan salah satu Suku Dayak yang ada di Kalimantan
yang memiliki adat dan budaya yang hingga saat ini masih dipertahankan. Salah
satu bentuk budaya yang tetap dijalankan yaitu upacara adat. Upacara adat adalah
aktivitas atau rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku
dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang
biasanya terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan (Koentjaraningrat 1984).
Upacara adat yang sering dilakukan oleh masyarakat Dayak Benuaq antara lain
upacara adat “kuangkai”, “beliatn gugu tautn/nalitn tautn”, “kenyau” dan
“beliatn”.
Upacara adat “kuangkai” adalah upacara yang dilaksanakan atas dasar niat
untuk mengungkapkan rasa terima kasih, balas budi, penghormatan kepada arwah
para leluhur atau orang tua. Tujuan upacara adat “kenyau” sama dengan upacara
adat “kuangkai”, bedanya hanya terletak pada lamanya waktu pelaksanaan. Pada
upacara adat “kenyau” lamanya waktu pelaksanaan upacara yaitu 9 hari,
sedangkan upacara adat “kuangkai” berlangsung selama 21 hari. Biasanya setelah
upacara adat “kenyau” maupun “kuangkai” pada hari terakhir acara dilakukan
pemotongan kerbau atau sapi. Hewan yang akan disembelih harus diikat pada
patung yang terbuat dari toluyatn (Eusideroxylon zwageri), patung ini oleh
masyarakat disebut “blontang”. Setelah upacara berakhir “blontang” diletakkan di
depan rumah sebagai pertanda bahwa yang memiliki rumah tersebut pernah
mengadakan potong kurban. Namun, hal ini bukan merupakan keharusan karena
tergantung pada kemampuan orang yang melaksanakan hajatan. Gambar 8
menyajikan proses pemotongan hewan dan “blontang”.
31

Gambar 8 Proses pemotongan hewan dan “blontang”.


Upacara “beliatn gugu tautn/nalitn tautn” dimaksudkan untuk memulihkan
hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa beserta isinya yang telah
mengalami ketidakseimbangan. Upacara “beliatn gugu tautn/nalitn tautn”
merupakan upacara adat yang besar karena upacara adat ini ditujukan untuk
keharmonisan masyarakat dengan Tuhan Yang Maha Esa dan alam, sehingga
tidak heran semua masyarakat ikut serta dalam upacara ini.
Upacara “beliatn” merupakan upacara adat penyembuhan orang sakit,
baik sakit biasa maupun sakit akibat guna-guna. Selain untuk penyembuhan
penyakit, “beliatn” juga dapat dimaksudkan sebagai upacara orang yang sedang
hamil agar kehamilannya selalu sehat dan terhindar dari hal-hal negatif yang dapat
menimpa ibu dan janinnya. Salah satu bentuk kegiatan upacara adat dapat dilihat
pada Gambar 9.

Gambar 9 Upacara adat “beliatn”.

4.6.6 Rumah adat Dayak Benuaq


Rumah adat merupakan hunian atau tempat tinggal bagi suatu suku dengan
ciri khas tersendiri baik bentuk, corak maupun ukurannya. Rumah adat Dayak
Benuaq memiliki ukuran yang panjang dan tinggi hingga mencapai 5 meter
32

sehingga disebut “rumah panjang” atau “lamin”. Lamin dapat dihuni oleh
beberapa keluarga, bahkan dapat dihuni oleh masyarakat satu kampung.
Sekitar tahun 1978 lamin di Kampung Keay sudah tidak ada lagi. Hal ini
dikarenakan telah masuknya pengaruh dari luar atau perkembangan zaman. Selain
itu, penyebab pindahnya masyarakat dari lamin ke rumah biasa adalah untuk
menghindari penyakit. Hal ini dikarenakan jika satu orang terserang penyakit
yang berbahaya atau menular maka penyakit tersebut akan cepat menular kepada
orang lain dan akan menimbulkan wabah penyakit.
33

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Pemanfaatan Tumbuhan Berguna oleh Masyarakat Kampung Keay


5.1.1 Karakteristik responden
Masyarakat yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki
berbagai latar belakang yang berbeda, baik dari segi umur, pendidikan, asal,
maupun jenis pekerjaan. Berdasarkan hasil wawancara, diperoleh data dan
informasi dari 100 responden yang diwawancarai.

5.1.1.1 Suku bangsa


Berdasarkan hasil wawancara atau data kuisioner diketahui bahwa
masyarakat yang ada di Kampung Keay terdiri dari beberapa suku, yaitu Suku
Dayak Benuaq, Jawa, Toraja dan Bugis. Persentase suku bangsa responden tersaji
pada Gambar 10.
6% 2% 2%

Bugis
Dayak
Jawa
90%
Toraja

Gambar 10 Persentase suku bangsa responden.

Berdasarkan Gambar 10 dapat diketahui bahwa Suku Dayak Benuaq


merupakan suku terbesar dibandingkan dengan suku yang lain, yaitu sebanyak
90%. Hal ini dikarenakan Kampung Keay merupakan kampung Suku Dayak,
khususnya Dayak Benuaq. Sedangkan suku-suku yang lain merupakan
masyarakat pendatang yang bekerja atau menikah dengan orang Dayak Benuaq.
Dalam pemanfaatan tumbuhan berguna, Suku Dayak Benuaq lebih sering
intensitasnya dibandingkan dengan suku-suku yang lain. Hal ini dikarenakan Suku
Dayak Benuaq merupakan suku asli sehingga lebih mengetahui dan memahami
lingkungan sekitar, termasuk tumbuhan-tumbuhan yang ada.
34

5.1.1.2 Jenis kelamin


Berdasarkan hasil wawancara dengan 100 responden, jumlah laki-laki dan
perempuan yaitu masing-masing sebanyak 50 orang (50%). Persentase jenis
kelamin responden tersaji pada Gambar 11.

Laki-laki Perempuan
50% 50%

Gambar 11 Persentase jenis kelamin responden.

Berdasarkan hasil wawancara, pengetahuan dan pemanfaatan tumbuhan


berguna antara laki-laki dan perempuan tidak jauh berbeda. Hal ini dikarenakan
baik laki-laki maupun perempuan yang ada di Kampung Keay sama-sama
menggunakan tumbuhan dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk pangan, kayu
bakar, obat dan lain sebagainya. Perbedaan yang terlihat jelas hanya pada
pemanfaatan tumbuhan pada kelompok kegunaan untuk racun alami dan
kecantikan. Dalam pemanfaatan untuk kategori ini, laki-laki lebih banyak
menggunakan tumbuhan racun alami untuk menangkap ikan maupun berburu
dibandingkan perempuan. Hal ini dikarenakan pekerjaan tersebut merupakan
pekerjaan yang lazim dikerjakan oleh laki-laki. Dalam pemanfaatan tumbuhan
untuk kecantikan, perempuan lebih banyak yang menggunakannya karena
perempuan Dayak Benuaq selalu ingin menjaga kecantikannya.

5.1.1.3 Kelas umur


Menurut Hurlock (1980), pengklasifikasian kelas umur dibedakan kedalam
enam kategori yaitu kelas umur bayi (0-2 tahun), balita (3-5 tahun), anak-anak (6-
12 tahun), remaja (13-18 tahun), dewasa (19-59 tahun) dan lansia (≥ 60 tahun).
Berdasarkan hasil wawancara, kelas umur responden dibagi dalam tiga kelas yaitu
kelas umur remaja, dewasa dan lansia. Gambar 12 menyajikan jumlah responden
berdasarkan kelas umur.
35

77
80

Jumlah respoden (orang)


70
60
50
40
30
10 13
20
10
0
Remaja Dewasa Lansia
Kelas umur (tahun)

Gambar 12 Jumlah responden berdasarkan kelas umur.

Dalam pengetahuan dan pemanfaatan tumbuhan berguna, masyarakat


pengguna tumbuhan di Kampung Keay menyebar pada semua kelas umur.
Berdasarkan Gambar 12, jumlah responden remaja merupakan responden terkecil
yaitu sebanyak 10 orang. Pemanfaatan tumbuhan pada kelas umur remaja
terutama perempuan lebih kepada kategori tumbuhan kecantikan dan aromatik.
Salah satu bentuk dari pemanfaatan tumbuhan tersebut yaitu selekop (Lepisanthes
amoena) yang berkhasiat menghilangkan bekas jerawat, flek hitam, menghaluskan
dan memutihkan wajah. Bentuk pemanfaatan dari tumbuhan aromatik yaitu setu
(Andropogon zizanoides) yang digunakan untuk memberi aroma pada pupur
dingin. Pemanfaatan tumbuhan untuk kelas umur dewasa lebih dominan daripada
kelas umur lainnya. Hal ini dikarenakan kelas umur dewasa memanfaatkan semua
kategori tumbuhan berguna. Untuk kelas umur lansia hanya memanfaatkan
beberapa tumbuhan, yaitu tumbuhan pangan, adat, obat, anyaman dan kerajinan,
kayu bakar, dan tolak bala. Sebagian besar pada kelas umur lansia ada yang masih
melakukan aktivitas membuat kerajinan tangan seperti membuat “berangka”,
“anjat” dan lain sebagainya. Gambar 13 menunjukkan aktivitas lansia dalam
membuat kerajinan tangan.
36

Gambar 13 Aktivitas lansia dalam membuat kerajinan tangan.

5.1.1.4 Jenis pekerjaan


Berdasarkan hasil wawancara, pekerjaan responden yang tertinggi yaitu
sebagai IRT (Ibu Rumah Tangga) dengan jumlah sebanyak 28 orang, sedangkan
jumlah pekerjaan terendah yaitu pengrajin sebanyak 3 orang. Sebagian besar
perempuan di Kampung Keay meskipun hanya sebagai IRT (Ibu Rumah Tangga),
mereka juga memiliki pekerjaan sampingan seperti membantu suami menoreh
karet dan bertani ataupun bekerja sebagai buruh penoreh di kebun orang lain.
Pekerjaan sebagai pengrajin di Kampung Keay hanya sebagian kecil saja
masyarakat yang menggeluti pekerjaan ini karena yang memiliki keterampilan
hanya orang dewasa dan lansia saja, sedangkan anak mudanya tidak mau belajar
untuk membuat kerajinan. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh dari luar yang
membuat para pemuda/pemudi lebih tertarik dengan hal-hal baru. Tabel 10
menyajikan jumlah responden berdasarkan jenis pekerjaan.
Tabel 10 Jumlah responden berdasarkan jenis pekerjaan
No. Jenis Pekerjaan Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
1 IRT 28 28
2 Petani 26 26
3 Pelajar 15 15
4 Swasta 15 15
5 Buruh 5 5
6 Pegawai 4 4
7 Pengrajin 3 3
8 Lainnya 4 4

5.1.1.5 Tingkat pendidikan


Tingkat pendidikan di Kampung Keay bervariasi, mulai dari tidak ada
pendidikan (tidak sekolah) sampai perguruan tinggi. Tabel 11 menyajikan data
mengenai jumlah responden berdasarkan tingkat pendidikan.
37

Tabel 11 Jumlah responden berdasarkan tingkat pendidikan


No. Tingkat Pendidikan Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
1 S1 3 3
2 D3 1 1
3 D2 1 1
4 SMA 17 17
5 SMP 22 22
6 SD 33 33
7 Tidak sekolah 23 23

Berdasarkan Tabel 11, jumlah responden dengan pendidikan Sekolah


Dasar (SD) adalah tingkat pendidikan dengan jumlah tertinggi yaitu sebanyak 33
orang, sedangkan responden dengan tingkat pendidikan terendah yaitu pada
tingkat perguruan tinggi dengan jenjang pendidikan D2 dan D3 masing-masing
berjumlah 1 orang. Urutan terbesar kedua dari tingkat pendidikan ini yaitu 23
orang yang tidak mengenyam pendidikan sama sekali atau tidak sekolah. Hal ini
menunjukkan tingkat pendidikan masyarakat di Kampung Keay masih tergolong
rendah.
Namun, jika dihubungkan dengan pengetahuan mengenai tumbuhan
berguna responden dengan tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan yang tidak
sekolah justru lebih banyak pengetahuannya dibandingkan dengan yang lain.
Untuk tingkat pendidikan yang lain, seperti Sekolah Menengah Pertama (SMP),
Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Perguruan Tinggi pengetahuannya tidak
terlalu banyak dan jumlah responden yang mengetahui tumbuhan berguna ini juga
tidak banyak, hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya. Hal ini
dikarenakan responden yang berpendidikan SD dan yang tidak bersekolah
merupakan responden yang sudah tua dan memasuki usia lanjut (lansia), yaitu
berkisar antara 50 tahun sampai 100 tahun. Pendidikan mereka yang rendah ini
bukan karena tidak ingin sekolah, melainkan lebih dikarenakan sulitnya
mengenyam pendidikan pada masa itu. Desakan dan kesulitan hidup membuat
mereka lebih mandiri dengan menjalani hidup berdampingan dengan alam
sehingga pengetahuan mereka terhadap tumbuhan berguna lebih banyak.
38

5.1.2 Keanekaragaman spesies tumbuhan yang dimanfaatkan oleh


masyarakat Kampung Keay
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 396 spesies tumbuhan dari hasil
wawancara dan analisis vegetasi yang termasuk dalam 95 famili. Dari jumlah
tersebut, 285 spesies diantaranya telah diketahui manfaatnya. Daftar total spesies
tumbuhan secara rinci disajikan pada Lampiran 1.

5.1.2.1 Keanekaragaman spesies tumbuhan berguna berdasarkan famili


Berdasarkan familinya, jenis-jenis tumbuhan berguna di Kampung Keay
dapat dikelompokkan kedalam 78 famili. Jenis yang paling banyak ditemukan
adalah dari famili Arecaceae, yaitu sebanyak 20 spesies. Hal ini menunjukkan
bahwa famili Arecaceae memiliki keanekaragaman spesies tertinggi dibandingkan
famili lainnya. Famili yang ditemukan terbanyak kedua dan ketiga adalah
Euphorbiaceae (19 spesies) dan Poaceae (15 spesies). Keanekaragaman spesies
tumbuhan berguna berdasarkan famili disajikan pada Gambar 14 dan daftar
rekapitulasi famili dan jumlah spesies tumbuhan berguna secara lebih rinci tersaji
pada Lampiran 1.

Amaranthaceae 1
Bromeliaceae 2
Annonaceae 3
Agavaceae 4
Acanthaceae 5
Araceae 6
Verbenaceae 8
Famili

Solanaceae 9
Moraceae 10
Zingiberaceae 11
Orchidaceae 13
Fabaceae 14
Poaceae 15
Euphorbiaceae 19
Arecaceae 20
Lain-lain 145

0 20 40 60 80 100 120 140 160


Jumlah spesies
Gambar 14 Keanekaragaman spesies tumbuhan berguna berdasarkan famili.
39

5.1.2.2 Keanekaragaman spesies tumbuhan berguna berdasarkan habitus


Keanekaragaman habitus spesies-spesies tumbuhan berguna di Kampung
Keay dapat dikelompokkan kedalam 9 jenis, yaitu pohon, perdu, herba, liana,
epifit, palma, semak, bambu, dan paku-pakuan. Persentase tumbuhan berguna
berdasarkan habitus tersaji pada Tabel 12.
Tabel 12 Persentase tumbuhan berguna berdasarkan habitus
No. Habitus Jumlah Spesies Persentase (%)
1 Herba 84 29,47
2 Pohon 83 29,12
3 Perdu 49 17,19
4 Liana 18 6,32
5 Epifit 17 5,96
6 Palma 15 5,26
7 Semak 12 4,21
8 Bambu 4 1,40
9 Paku-pakuan 3 1,05

Berdasarkan Tabel 12 terlihat bahwa jumlah spesies terbanyak yang


ditemukan terdapat pada kelompok habitus herba yaitu sebanyak 84 spesies
(29,47%) dan habitus terbanyak kedua yaitu pohon sebanyak 83 spesies (29,12%),
sedangkan habitus terkecil yaitu paku-pakuan dengan jumlah sebanyak 3 spesies
(1,05%). Berdasarkan hasil tersebut kelompok habitus herba merupakan
kelompok dengan keanekaragaman spesies tertinggi sedangkan paku-pakuan
merupakan kelompok dengan keanekaragaman spesies yang paling rendah.
Informasi mengenai habitus masing-masing spesies tumbuhan berguna secara
lebih rinci disajikan pada Lampiran 1.

5.1.2.3 Keanekaragaman spesies tumbuhan berguna berdasarkan bagian


yang dimanfaatkan
Berdasarkan bagian tumbuhan yang dimanfaatkan, sebagian besar
masyarakat Kampung Keay memanfaatkan bagian daun yaitu sebanyak 122
spesies (27,67%) sedangkan yang paling sedikit digunakan yaitu bunga dengan
jumlah sebanyak 13 spesies (2,95%). Sebagian besar penelitian etnobotani yang
telah dilakukan pada masyarakat suku lain yang ada di Indonesia menyebutkan
daun merupakan bagian tumbuhan yang sering dimanfaatkan, seperti penelitian
yang dilakukan oleh Hidayat (2009) di Kampung Adat Dukuh yang menyebutkan
bahwa daun merupakan bagian yang paling banyak dimanfaatkan yaitu sebanyak
40

110 spesies tumbuhan (22,49%). Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan oleh


masyarakat dapat di lihat pada Tabel 13.
Tabel 13 Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Kampung Keay
No. Bagian Tumbuhan Sub Bagian Tumbuhan Jumlah Spesies Persentase (%)
1 Daun Daun 121 27,44
Getah daun 1 0,23
2 Batang Batang 102 23,13
Kulit batang 12 2,72
Air batang 4 0,91
Dahan/ranting 14 3,17
Getah batang 11 2,49
3 Buah Buah 92 20,86
Air buah 2 0,45
Kulit buah 1 0,23
Biji 9 2,04
4 Bunga Bunga 11 2,49
Air bunga 1 0,23
Kulit bunga 1 0,23
5 Akar Akar 28 6,35
Rimpang 11 2,49
6 Umbi Umbi 10 2,27
7 Seluruh bagian Seluruh bagian 10 2,27
tumbuhan tumbuhan

5.1.2.4 Asal tumbuhan


Asal tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat Kampung Keay dapat
dikategorikan menjadi tiga kategori yaitu tumbuhan budidaya, tumbuhan
nonbudidaya (liar), dan tumbuhan budidaya serta liar. Tumbuhan budidaya yaitu
tumbuhan yang sengaja ditanam oleh masyarakat di kebun, ladang, maupun
pekarangan. Tanaman nonbudidaya yaitu tumbuhan yang berasal dari hutan dan
tumbuhan liar di sekitar rumah, di pinggir jalan dan sungai. Dalam
membudidayakan tumbuhan, selain di pekarangan dan ladang masyarakat juga
memiliki lahan tersendiri untuk membudidayakan tumbuhan. Masyarakat Dayak
Benuaq biasa menyebutnya dengan “lembo”. “Lembo” merupakan kebun yang
berada di sekitar rumah ataupun di sekitar hutan. Tumbuhan yang biasa ditanam
oleh masyarakat di “lembo” sebagian besar adalah tumbuhan buah-buahan, seperti
elai (Durio kutejensis), kalang (Durio zibethinus), rambutan (Nephelium
lappaceum), langsat (Lansium domesticum) dan lain sebagainya. Gambar 15
menyajikan persentase spesies tumbuhan berdasarkan asal tumbuhan yang
digunakan oleh masyarakat Kampung Keay.
41

Kategori asal tumbuhan


Budidaya
dan liar
11%

Liar Budidaya
40% 49%

Gambar 15 Persentase spesies tumbuhan berdasarkan asalnya.

Berdasarkan Gambar 15 dapat diketahui bahwa tumbuhan yang sering


dimanfaatkan oleh masyarakat sebagian besar berasal dari tumbuhan budidaya,
seperti pekarangan, kebun, ladang, dan “lembo”. Selain dimanfaatkan untuk
pemenuhan kebutuhan hidup, tumbuhan yang dibudidayakan masyarakat di
pekarangan, kebun maupun ladang juga memiliki nilai ekonomi. Sebagai contoh,
jika musim buah tiba masyarakat biasanya menjual sebagian hasil panen mereka
kepada para tengkulak atau menjual sendiri di depan rumah. Hal ini menunjukkan
bahwa pekarangan, kebun, ladang maupun “lembo” juga memiliki nilai ekonomi
yang cukup tinggi.

5.1.3 Kelompok penggunaan tumbuhan berguna


Interaksi masyarakat dengan hutan yang berlangsung lama menimbulkan
ketergantungan masyarakat terhadap hutan sangat tinggi. Suku Dayak Benuaq
yang telah lama hidup di sekitar hutan menggantungkan hidupnya dari mengelola
dan memanfaatkan hutan yang ada. Salah satu bentuk pemanfaatan hutan adalah
pemanfaatan keanekaragaman tumbuhan yang ada baik untuk pangan, obat,
keperluan adat, kayu bakar, pakan ternak dan sebagainya. Berdasarkan kelompok
kegunaan, spesies-spesies yang terdapat di Kampung Keay dapat dikelompokkan
kedalam 16 kelompok kegunaan, seperti yang tercantum pada Tabel 14.
42

Tabel 14 Kelompok kegunaan tumbuhan


No. Kelompok Kegunaan Jumlah Spesies
1 Tumbuhan obat 95
2 Tumbuhan pangan 87
3 Tumbuhan hias 56
4 Tumbuhan adat 34
5 Tumbuhan penghasil bahan bangunan 31
6 Tumbuhan penghasil bahan tali, anyaman, dan kerajinan 25
7 Tumbuhan aromatik/minyak atsiri 22
8 Tumbuhan kecantikan 17
9 Tumbuhan tolak bala 16
10 Tumbuhan penghasil kayu bakar 14
11 Tumbuhan penghasil lain-lain 13
12 Tumbuhan penghasil pakan ternak 12
13 Tumbuhan pewarna dan tanin 10
14 Tumbuhan penghasil pestisida nabati dan racun alami 9
15 Tumbuhan penghasil serat 9
16 Tumbuhan penghasil minuman 8

Berdasarkan Tabel 14 terlihat bahwa jumlah spesies tumbuhan terbanyak


terdapat pada kelompok tumbuhan obat yaitu sebanyak 95 spesies diikuti
tumbuhan pangan yaitu sebanyak 87 spesies. Kelompok tumbuhan obat memiliki
jumlah tertinggi karena masyarakat Dayak Benuaq hingga saat ini masih sangat
percaya terhadap para dukun dan pengobatan yang dilakukan dengan
menggunakan tumbuhan-tumbuhan yang berasal dari alam. Pengetahuan
penggunaan tumbuhan sebagai obat tradisional diperoleh secara turun temurun
dari orang tua terdahulu. Tumbuhan yang paling sedikit dimanfaatkan terdapat
pada kelompok tumbuhan penghasil minuman yaitu sebanyak 8 spesies. Hal ini
dikarenakan tidak semua tumbuhan memiliki kandungan air, baik air buah, air
batang maupun air bunga yang banyak.

5.1.3.1 Tumbuhan obat


Tumbuhan obat adalah tanaman yang memiliki khasiat obat dan digunakan
sebagai obat dalam penyembuhan maupun pencegahan penyakit. Pengertian
berkhasiat obat adalah mengandung zat aktif yang berfungsi mengobati penyakit
tertentu (Indonesian Herbal 2008). Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh
sebanyak 95 spesies tumbuhan obat dari 43 famili. Berdasarkan kelompok
penyakit atau penggunaannya, spesies-spesies tumbuhan obat di Kampung Keay
dapat dikelompokkan kedalam 24 kelompok penyakit/penggunaan. Rekapitulasi
klasifikasi tumbuhan obat berdasarkan kelompok penyakit atau penggunaannya
tersaji pada Tabel 15.
43

Tabel 15 Rekapitulasi jumlah spesies tumbuhan obat di Kampung Keay


berdasarkan kelompok penyakit/penggunaan
No Kelompok Penyakit/Penggunaan Jumlah Spesies
1 Penyakit saluran pencernaan 25
2 Pengobatan luka 15
3 Sakit kepala dan demam 15
4 Penyakit otot dan persendian 14
5 Penyakit kulit 13
6 Penyakit diabetes 11
7 Penyakit jantung 11
8 Perawatan kehamilan dan persalinan 11
9 Penyakit malaria 8
10 Penyakit saluran pernafasan/THT 8
11 Penyakit tipes 8
12 Penyakit kanker 6
13 Penyakit mulut 6
14 Penyakit tulang 5
15 Penyakit kuning 4
16 Penyakit saluran pembuangan 3
17 Penyakit gigi 3
18 Tonikum 3
19 Penyakit ginjal 2
20 Penyakit khusus wanita 2
21 Penawar racun 2
22 Gangguan peredaran darah 1
23 Penyakit gangguan urat syaraf 1
24 Penyakit mata 1

Jenis penggunaan terbanyak dari tumbuhan obat di Kampung Keay


pertama sebagai obat penyakit saluran perncernaan (25 spesies), kedua sebagai
pengobatan luka (15 spesies) dan obat sakit kepala/demam (15 spesies), dan
ketiga sebagai obat penyakit otot dan persendian (14 spesies), sedangkan sisanya
terbagi kedalam berbagai kelompok penyakit yang ada seperti dalam Tabel 15.
Daftar spesies-spesies tumbuhan obat di Kampung Keay beserta kegunaannya
disajikan pada Lampiran 2.
Sebagian besar spesies tumbuhan obat yang diperoleh untuk setiap spesies
mempunyai kegunaan menyembuhkan lebih dari satu penyakit dan kelompok
penyakit, namun ada spesies yang berkhasiat hanya untuk satu kelompok penyakit
atau penggunaan. Selain itu, untuk menyembuhkan suatu penyakit diperlukan
beberapa spesies tumbuhan obat. Berdasarkan hasil penelitian ini, ditemukan
beberapa penyakit yang dalam penyembuhannya harus menggunakan beberapa
spesies tumbuhan obat. Rekapitulasi beberapa spesies tumbuhan obat yang dalam
penggunaannya dicampur dengan spesies tumbuhan lain tersaji pada Lampiran 3.
44

Menurut Inama (2008), dalam pemanfaatan tumbuhan obat, ada beberapa


hal yang perlu diperhatikan yaitu bagian tumbuhan, cara pemanenan, cara
pengolahan dan aturan pakai. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan karena
jika dalam penggunaan tumbuhan obat dilakukan secara sembarangan maka
tumbuhan obat tersebut dapat membahayakan kesehatan bahkan jiwa orang yang
mengkonsumsinya. Salah satu contoh spesies tumbuhan obat yang cara
pemanennya berbeda dengan tumbuhan yang lain adalah mara uleq (Eurycoma
longifolia). Pemanenan mara uleq (Eurycoma longifolia) yang umum dilakukan
oleh masyarakat Dayak Benuaq yaitu dengan memangkas pohon dan menyisakan
± 5 cm batang dari permukaan tanah. Selanjutnya batang yang tersisa tersebut
ditumbuk dengan benda berat sampai akar pangkalnya patah. Setelah akar pangkal
patah, cabut batang yang tersisa tadi dengan menggunakan tali atau tangan.
Tujuan dari teknik pemanenan ini adalah untuk memudahkan pemanenan karena
mara uleq (Eurycoma longifolia) mempunyai akar tunggang yang sangat kuat
sehingga sulit dipanen jika menggunakan teknik biasa. Beberapa spesies
tumbuhan obat di Kampung Keay ditunjukkan pada Gambar 16.

(a) (b)
Gambar 16 Contoh spesies tumbuhan obat di Kampung Keay (a) muk’ng
(Blumea balsamifera), (b) mara uleq (Eurycoma longifolia).

5.1.3.2 Tumbuhan pangan


Pangan merupakan kebutuhan primer yang sangat dibutuhkan oleh setiap
makhluk hidup untuk menjaga keberlangsungan hidup. Menurut Depdikbud
(1988), tumbuhan pangan adalah segala sesuatu yang tumbuh, hidup, berbatang,
berakar, berdaun dan dapat dimakan atau dikonsumsi oleh manusia. Menurut
45

Sastrapradja et al. (1977) diacu dari Purnawan (2006) tumbuhan pangan dibagi
berdasarkan kandungannya, yaitu tumbuhan mengandung karbohidrat, tumbuhan
mengandung protein, tumbuhan mengandung vitamin dan tumbuhan mengandung
lemak.
Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat, diperoleh 87 spesies
tumbuhan dari 29 famili yang digunakan sebagai bahan pangan. Dari 87 spesies
tumbuhan pangan, 73 spesies (84%) merupakan spesies tumbuhan budidaya dan
sisanya 14 spesies (16%) merupakan tumbuhan liar. Salah satu spesies tumbuhan
liar yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat Dayak Benuaq yaitu uwe ngono
(Calamus manan). Tumbuhan pangan yang diperoleh dari hasil penelitian,
diklasifikasikan kedalam tiga kategori yaitu sayuran, buah-buahan dan penghasil
karbohidrat. Jumlah masing-masing kategori, yaitu sayuran 30 spesies (35%),
buah-buahan 49 spesies (56%) dan penghasil karbohidrat 8 spesies (9%). Gambar
17 menyajikan jumlah spesies tumbuhan berdasarkan kategori pangan.
49
50

40 30
Jumlah spesies

30

20
8
10

0
Karbohidrat Buah Sayur
Kategori pangan

Gambar 17 Kategori tumbuhan pangan pada masyarakat Kampung Keay.

Masyarakat Dayak Benuaq memiliki kebiasaan unik dalam kesehariannya.


Kebiasaan tersebut terlihat dari kebiasaan masyarakat yang memakan buah sepotn
(Areca catechu) setelah makan nasi. Menurut masyarakat Dayak Benuaq,
kebiasaan tersebut sudah ada sejak dahulu. Alasan dibalik kebiasaan tersebut
adalah untuk menghilangkan liur yang tidak sedap setelah makan dan juga untuk
menghilangkan rasa mual. Selain untuk menghilangkan liur yang tidak sedap dan
menghilangkan rasa mual setelah makan, sepotn (Areca catechu) juga dapat
dijadikan sebagai pengganti rokok sehingga tidak heran jika masyarakat Dayak
46

Benuaq, baik laki-laki maupun perempuan selalu membawa sepotn (Areca


catechu) kemana pun dan kapan pun mereka pergi. Kebiasaan masyarakat Dayak
Benuaq ini sangat baik karena dengan mengkonsumsi sepotn (Areca catechu)
selain berdampak pada kesehatan gigi, kebiasaan ini juga dapat mengurangi
penggunaan rokok oleh masyarakat. Beberapa spesies tumbuhan pangan yang ada
di Kampung Keay dapat dilihat pada Lampiran 4.
Tumbuhan yang menjadi makanan pokok bagi masyarakat Dayak Benuaq
adalah pare (Oryza sativa). Areal sawah yang digunakan masyarakat untuk
menanam padi berupa ladang berpindah, yaitu dengan mengolah areal hutan dan
menjadikan areal tersebut sebagai lahan mereka. Biasanya satu keluarga bisa
menggarap 1-2 ha areal. Jenis padi yang ditanam masyarakat adalah padi gunung
dengan kuantitas panen hanya satu kali dalam setahun. Dalam proses mulai dari
pembukaan lahan sampai pemanenan harus dilakukan bersama-sama bagi semua
masyarakat. Pembukaan atau pengolahan lahan biasanya dilakukan pada bulan
Juni-Juli, waktu penanaman dilakukan pada bulan Agustus-September, sedangkan
masa panen yaitu pada bulan Februari-Maret. Sebagian besar masyarakat tidak
menjual hasil panennya, melainkan hanya digunakan untuk konsumsi sehari-hari.
Gambar 18 menunjukkan contoh dua spesies tumbuhan pangan.

(a) (b)
Gambar 18 Contoh spesies tumbuhan pangan (a) terong asam (Solanum
lasiocarpum), (b) terincing (Ananas comosus)

5.1.3.3 Tumbuhan penghasil minuman


Tumbuhan yang biasa digunakan sebagai penghasil minuman oleh
masyarakat di Kampung Keay ada 8 spesies yang termasuk dalam 5 famili.
47

Diantara spesies yang paling umum digunakan sebagai penghasil minuman yaitu
nyui (Cocos nucifera) dan sarap (Arenga pinnata). Selain tumbuhan budidaya,
tumbuhan liar juga ada yang dapat digunakan sebagai penghasil minuman seperti
akar kedot (Spatholobus ferrugineus), ukor (Caryota sp.), uwe (Calamus sp.), dan
ngongong (Nepenthes sp.). Ngongong (Nepenthes sp.) tidak hanya digunakan
sebagai tumbuhan penghasil minuman, namun juga dapat digunakan sebagai
tumbuhan obat karena air bunganya dapat menyembuhkan penyakit dalam, seperti
batu ginjal. Ngongong (Nepenthes sp.) yang dapat diminum adalah yang
bunga/kantongnya yang masih tertutup. Tabel 16 menyajikan spesies-spesies
tumbuhan penghasil minuman di Kampung Keay.
Tabel 16 Spesies-spesies tumbuhan penghasil minuman di Kampung Keay
Bagian yang
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili
digunakan
1 Nyui Cocos nucifera Arecaceae Buah
2 Akar kedot Spatholobus ferrugineus Fabaceae Batang
3 Ukor Caryota sp. Arecaceae Batang
4 Sarap Arenga pinnata Arecaceae Batang
5 Uwe Calamus sp. Arecaceae Batang
6 Terincing Ananas comosus Bromeliaceae Buah
7 Ngongong Nepenthes sp. Nepenthaceae Bunga
8 Tebu Saccharum officinarum Poaceae Batang

5.1.3.4 Tumbuhan penghasil bahan bangunan


Selain pangan, kebutuhan primer manusia lainnya yaitu papan atau rumah.
Rumah merupakan tempat tinggal atau hunian yang berfungsi sebagai tempat
berlindung. Kayu dan bagian lain dari tumbuhan banyak yang berguna untuk
dijadikan bahan bangunan. Bangunan yang terbuat dari tumbuhan ini tidak hanya
untuk membangun rumah, melainkan juga untuk membangun kandang ternak,
lumbung padi, pondok dan lain sebagainya.
Saat ini bangunan rumah di Kampung Keay masih didominasi oleh rumah
yang terbuat dari kayu, sedangkan sisanya sudah terbuat dari beton. Hampir
semua bagian rumah atau bangunan lain berasal dari tumbuhan. Adapun
penggunaan tumbuhan beserta bagian-bagian bangunan secara umum pada
masyarakat Kampung Keay tersaji pada Tabel 17.
48

Tabel 17 Penggunaan tumbuhan pada bagian-bagian bangunan masyarakat


Kampung Keay
No. Bagian Rumah Nama Spesies
1. Atap Toluyatn (Eusideroxylon zwageri), jemiaq
(Metreoxylon rumphii), sarap (Arenga pinnata),
empuratn (Salacca zalacca), peleleq (Lithocarpus
blumeanus), daun biruq (Licuala valida)
2. Dinding Toluyatn (Eusideroxylon zwageri), lempung
(Shorea sp.), jati (Tectona grandis), kapur
(Dryobalanops sp.), jengatn (Shorea laevifolia),
lelutung (Dyera costulata), puti (Koompassia
malaccensis), bane baloq (Gigantochloa atter),
bane temiang (Schizostachyum blumei), bane
betung (Dendrocalamus asper), sepotn (Areca
catechu), kalang (Durio zibethinus), kahoy (Shorea
balangeran), orai (Shorea macrophylla), asam
payang (Mangifera pajang), bernunuq
(Dipterocarpus sp.), sungkai (Peronema canescens)
3. Lantai rumah Toluyatn (Eusideroxylon zwageri), lempung
(Shorea sp.), kapur (Dryobalanops sp.), lelutung
(Dyera costulata), puti (Koompassia malaccensis),
bane baloq (Gigantochloa atter), bane temiang
(Schizostachyum), bane betung (Dendrocalamus
asper), orai (Shorea macrophylla), asam payang
(Mangifera pajang), sepotn (Areca catechu),
bernunuq (Dipterocarpus sp.)
4. Pintu dan jendela Toluyatn (Eusideroxylon zwageri), jengatn (Shorea
laevifolia), sungkai (Peronema canescens)
5. Tiang Toluyatn (Eusideroxylon zwageri), kapur
(Dryobalanops sp.), jengatn (Shorea laevifolia),
puti (Koompassia malaccensis)
6. Plafon Lempung (Shorea sp.), kapur (Dryobalanops sp.),
sungkai (Peronema canescens)
7. Tongkat Toluyatn (Eusideroxylon zwageri), jengatn (Shorea
laevifolia), puti (Koompassia malaccensis)
8. Tali pengikat Uwe (Korthalsia sp., Calamus sp., Daemonorops
sp.), akar kerop (Bauhinia tomentosa), akar kedot
(Spatholobus ferrugineus), akar berempuyut
(Cyratia trifolia), akar mengkelagit (Artabotrys
suaveolens)
9. Reng Toluyatn (Eusideroxylon zwageri), kapur
(Dryobalanops sp.), sungkai (Peronema canescens),
sepotn (Areca catechu), blakangin (Trema
orientalis), ayau buah kuning (Litsea mappacea),
ayau buah merah (Litsea firma), nagag (Schima
wallichii), sepotn (Areca catechu)

Spesies tumbuhan sebagai bahan bangunan pada masyarakat Kampung


Keay ditemukan sebanyak 32 spesies yang termasuk dalam 14 famili. Habitus
yang mendominasi yaitu pohon sebanyak 18 spesies (43%), palma 6 spesies
(38%), liana 5 spesies (12%), dan bambu 3 spesies (7%). Beberapa spesies
49

tumbuhan sebagai bahan bangunan di Kampung Keay dapat dilihat pada


Lampiran 5.
Kayu yang paling disukai oleh mayarakat untuk dijadikan bahan bangunan
yaitu toluyatn (Eusideroxylon zwageri) karena kayunya kuat dan awet.
Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat dahulu penggunaan tumbuhan
sebagai bahan bangunan seperti toluyatn (Eusideroxylon zwageri), lempung
(Shorea sp.) dan jengatn (Shorea laevifolia) sangat mudah diperoleh. Masyarakat
hanya mengambil dari hutan kemudian mengolahnya menjadi balok (tongkat) dan
papan. Namun, semakin banyaknya hutan yang terbakar dan semakin
berkurangnya spesies tersebut di alam, terutama toluyatn (Eusideroxylon zwageri)
masyarakat saat ini sudah tidak mudah lagi memperoleh tumbuhan-tumbuhan
tersebut. Meskipun dapat menggunakan spesies tumbuhan tersebut sebagai bahan
bangunan, masyarakat harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit, misalnya
untuk 1 m3 toluyatn (Eusideroxylon zwageri) harga saat ini dipasaran mencapai
Rp 3.500.000, sedangkan untuk jengatn (Shorea laevifolia) dan lempung (Shorea
sp.) masing-masing Rp 2.500.000 dan Rp 1.800.000. Salah satu contoh
pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan bangunan ditunjukkan pada Gambar 19.

(a) (b)
Gambar 19 Contoh pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan bangunan (a) lumbung
pare (Oryza sativa), (b) rumah penduduk.

5.1.3.5 Tumbuhan hias


Tumbuhan hias merupakan tumbuhan yang memiliki keindahan tersendiri
baik pada bunga, daun, batang dan sebagainya. Berdasarkan hasil wawancara
dengan masyarakat, spesies yang termasuk kategori tumbuhan hias terdapat 56
50

spesies yang termasuk dalam 29 famili. Beberapa spesies tumbuhan hias di


Kampung Keay dapat dilihat pada Lampiran 6. Berdasarkan hasil penelitian,
terdapat beberapa spesies tumbuhan yang termasuk kategori langka yaitu anggrek
hitam (Coelogyne pandurata), anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum), dan
ngongong (Nepenthes sp.) (PP No.7 Tahun 1999). Anggrek hitam (Coelogyne
pandurata) merupakan salah satu spesies dari famili Ochidaceae yang hanya
ditemukan di daerah Kalimantan Timur dan tidak ditemukan di tempat lainnya di
dunia (LIPI 2002). Tumbuhan-tumbuhan tersebut diperoleh masyarakat dari
hutan. Tumbuhan hias yang banyak ditanam masyarakat di pekarangan rumah,
yaitu komat (Codiaeum variegatum), biyowo (Cordyline fruticosa), kerakap
(Platycerium bifurcatum) dan empulung (Asplenium nidus). Gambar 20
menujukkan contoh dua spesies tumbuhan hias di Kampung Keay.

(a) (b)
Gambar 20 Contoh spesies tumbuhan hias di Kampung Keay (a) empulung
(Asplenium nidus), (b) komat (Codiaeum variegatum).

5.1.3.6 Tumbuhan penghasil kayu bakar


Kayu bakar merupakan bahan bakar yang dapat diperoleh dengan mudah
dan tidak memerlukan biaya yang mahal atau bahkan tidak memerlukan biaya
apapun. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kampung Keay masih
menggunakan kayu bakar sebagai alat untuk memasak. Kayu bakar dapat
diperoleh dengan mudah oleh masyarakat karena di sekitar tempat tinggal mereka
terdapat banyak spesies tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar.
Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat, terdapat 14 spesies tumbuhan
dari 11 famili yang sering digunakan masyarakat sebagai kayu bakar. Beberapa
51

spesies tumbuhan sebagai kayu bakar di Kampung Keay, dapat dilihat pada
Lampiran 7.
Berdasarkan hasil penelitian, spesies tumbuhan yang dapat dijadikan
sebagai kayu bakar tidak hanya berasal dari tumbuhan liar. Namun, juga ada yang
berasal dari tumbuhan budidaya seperti karet dan tumbuhan buah. Menurut
masyarakat, dari 14 spesies tumbuhan yang dapat digunakan sebagai kayu bakar
terdapat satu spesies tumbuhan yang sangat disukai masyarakat sebagai kayu
bakar yaitu kelapapaq (Vitex pubescens). Kelapapaq (Vitex pubescens) memiliki
kualitas yang sangat baik sebagai kayu bakar karena menghasilkan bara yang awet
atau tidak cepat menjadi abu. Hal ini menyebabkan kelapapaq (Vitex pubescens)
menjadi bahan bakar yang paling disukai oleh masyarakat. Selain untuk kayu
bakar, kelapapaq (Vitex pubescens) juga dapat dibuat menjadi arang.

5.1.3.7 Tumbuhan penghasil pakan ternak


Selain bertani, masyarakat Kampung Keay juga memelihara hewan ternak
baik untuk dikonsumsi maupun untuk dijual. Hewan peliharaan masyarakat di
Kampung Keay antara lain babi, ayam, mentok, sapi, dan kambing. Babi, ayam
dan mentok merupakan hewan yang banyak dipelihara masyarakat dibandingkan
sapi dan kambing. Dari hasil wawancara dengan masyarakat, tumbuhan yang
sering digunakan sebagai pakan ternak yaitu sebanyak 12 spesies yang termasuk
dalam 7 famili. Tabel 18 menyajikan spesies-spesies tumbuhan sebagai pakan
ternak.
Tabel 18 Spesies-spesies tumbuhan sebagai pakan ternak di Kampung Keay
Bagian yang
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili
digunakan
1 Jabau Manihot utilisima Euphorbiaceae Umbi
2 Jeloq Musa sp. Musaceae Buah
3 Nakatn Artocarpus heterophyllus Moraceae Buah
4 Cempedak Artocarpus champeden Moraceae Buah
5 Jagung Zea mays Poaceae Buah
6 Rumput gajah Pennisetum purpureum Poaceae Daun
7 Rumput bambu Pogonatherum crinitum Poaceae Daun
8 Tonai Caladium sp. Araceae Umbi
9 Terincing Ananas comosus Bromeliaceae Buah
10 Pare Oryza sativa Poaceae Buah
11 Karet Hevea brasiliensis Euphorbiaceae Biji
12 Jemiaq Metreoxylon rumphii Arecaceae Batang
52

Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat, jabau (Manihot


utilisima) merupakan spesies yang sering digunakan oleh masyarakat sebagai
pakan ternak. Hal ini dikarenakan jabau (Manihot utilisima) lebih mudah
diperoleh dari lingkungan sekitar dan hewan ternak seperti babi, ayam dan mentok
sama-sama menyukainya. Dalam pemanfaatan jabau (Manihot utilisima) sebagai
bahan pakan ternak, umbi jabau (Manihot utilisima) harus diparut terlebih dahulu
sebelum diberikan kepada hewan ternak. Salah satu contoh spesies tumbuhan
pakan ternak dan pemanfaatannya tersaji pada Gambar 21.

Gambar 21 Contoh spesies tumbuhan pakan ternak jabau (Manihot utilisima)


dan bentuk pemanfaatannya.

5.1.3.8 Tumbuhan penghasil tali, anyaman dan kerajinan


Tumbuhan penghasil tali, anyaman dan kerajinan yang diperoleh dari hasil
penelitian sebanyak 25 spesies yang termasuk dalam 14 famili. Sebagian besar
habitus tumbuhan penghasil tali, anyaman dan kerajinan adalah pohon, sedangkan
sebagian kecilnya dari habitus liana. Daftar spesies tumbuhan penghasil tali,
anyaman dan kerajinan disajikan pada Lampiran 8.
Dalam pemanfaatan spesies-spesies tumbuhan tersebut, masyarakat sering
menggunakannya untuk membuat anyaman, tali pengikat maupun kerajinan
lainnya. Kerajinan tangan yang sering dibuat oleh masyarakat yaitu “lampit”,
“anjat”, “berangka”, “tampah”, “seraung”, “sarung mandau” dan lain sebagainya.
Selain digunakan sendiri, barang-barang kerajinan tersebut juga dijual oleh
masyarakat. Misalnya, untuk “berangka” ukuran kecil dihargai Rp. 60.000
sedangkan “berangka” ukuran besar dihargai Rp 150.000. Gambar 22 menyajikan
salah satu contoh kerajinan masyarakat Dayak Benuaq.
53

(a) (b)
Gambar 22 Salah satu contoh kerajinan masyarakat Dayak Benuaq (a) “tampah”
(b) “berangka”.

5.1.3.9 Tumbuhan penghasil pestisida nabati dan racun alami


Pestisida nabati adalah pestisida yang terbuat dari tumbuhan dan dapat
dibuat dengan mudah dengan peralatan sederhana dan pengetahuan yang terbatas,
sedangkan racun alami adalah racun yang terbuat dari bahan alami (tumbuhan)
yang dapat menyebabkan kematian pada makhluk hidup. Oleh karena bahan dasar
pestisida nabati berasal dari tumbuhan, maka pestisida ini bersifat ramah
lingkungan dan relatif aman bagi manusia maupun hewan. Berdasarkan hasil
penelitian diperoleh 9 spesies tumbuhan dari 6 famili yang digunakan sebagai
pestisida nabati dan racun alami. Spesies-spesies tumbuhan sebagai bahan
pestisida nabati dan racun alami, dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19 Spesies-spesies tumbuhan sebagai bahan pestisida nabati dan racun
alami di Kampung Keay
Nama Bagian yang
No. Nama Ilmiah Famili Keterangan
Lokal digunakan
1 Tuaq Derris elliptica Fabaceae Batang Racun ikan
2 Muk’ng Blumea balsamifera Asteraceae Daun Pestisida
3 Setu Vertiver zizanoides Poaceae Daun Pestisida
4 Nakatn Annona muricata Annonaceae Daun Pestisida
belana
5 Wangun Clausena anisum- Rutaceae Semua bagian Pestisida
olens tumbuhan
6 Serai jemuq Cymbopogon nardus Poaceae Daun Pestisida
7 Siratn Antiaris toxicaria Moraceae Getah Racun hewan
buruan
8 Melipas - - Kulit batang Pestisida
9 Sinaq - - Getah Racun hewan
buruan
54

Spesies tumbuhan yang sering digunakan oleh masyarakat sebagai racun


alami adalah tuaq (Derris elliptica) dan siratn (Antiaris toxicaria). Hal ini
dikarenakan kebiasaan masyarakat yang biasa mencari ikan dan berburu di hutan
untuk dijadikan bahan makanan sehingga penggunaan kedua tumbuhan ini sering
dilakukan. Tumbuhan pestisida juga sering digunakan karena kehidupan
masyarakat masih bergantung pada kehidupan bercocok tanam dan berternak.
Pengolahan spesies tumbuhan pestisida nabati dan racun alami sangat
sederhana, misalnya untuk keperluan pestisida nabati wangun (Clausena anisum-
olens) hanya dibakar di sekitar ladang karena wangun (Clausena anisum-olens)
memiliki aroma yang menyengat hama-hama yang menyerang padi akan mati
karena menghirup asap dari pembakaran tersebut. Sedangkan untuk
menghilangkan kutu ayam digunakan tumbuhan serai jemuq (Cymbopogon
nardus). Pengolahannya pun sangat sederhana, cukup meletakkan satu genggam
daun serai jemuq ke dalam kandang ayam.
Tumbuhan sebagai racun alami digunakan masyarakat hanya untuk
meracuni hewan. Tuaq (Derris elliptica) sering digunakan masyarakat untuk
menangkap ikan di sungai. Pengolahannya pun sederhana, akar tuaq (Derris
elliptica) ditumbuk sampai berbusa, setelah mengeluarkan busa akar yang telah
hancur tadi dimasukkan ke sungai. Hal ini biasanya dilakukan jika air sungai
sedang dangkal sehingga perolehan ikan pun banyak. Berbeda dengan tuaq
(Derris elliptica), pengolahan siratn (Antiaris toxicaria) sebagai racun alami
sedikit lebih rumit karena memerlukan proses pengolahan yang lebih lama
dibandingkan dengan racun dari tuaq (Derris elliptica). Hal pertama yang
dilakukan dalam proses pembuatan racun dari siratn (Antiaris toxicaria) yaitu
mengambil getah dari pohonnya. Getah tersebut ditampung disebuah wadah dan
kemudian dijemur sampai kental. Jika sudah kental, oleskan getah tersebut pada
anak sumpit dan kemudian dijemur hingga kering. Setelah kering, anak sumpit ini
dapat dipakai untuk berburu.
Dalam penggunaan racun alami dari tumbuhan siratn (Antiaris toxicaria)
tidak boleh dilakukan secara sembarangan karena selain dapat mematikan hewan,
siratn (Antiaris toxicaria) juga dapat menyebabkan kematian pada manusia.
Namun, hal ini tidak akan terjadi jika getah siratn tidak bercampur dengan luka
55

atau darah manusia. Jika hal ini terjadi maka dalam waktu ± 5 menit orang yang
darahnya telah bercampur dengan getah siratn akan meninggal dunia. Contoh
spesies tumbuhan pestisida dan racun alami ditunjukkan pada Gambar 23.

(a) (b)
Gambar 23 Contoh spesies tumbuhan pestisida dan racun alami (a) tuaq (Derris
elliptica), (b) serai jemuq (Cymbopogon nardus).

5.1.3.10 Tumbuhan aromatik


Tumbuhan aromatik merupakan tumbuhan yang menghasilkan minyak
atsiri. Tumbuhan ini memiliki ciri-ciri berbau dan beraroma karena fungsinya
adalah sebagai pengharum baik parfum, pengharum ruangan, kosmetik, sabun,
pasta gigi, pemberi rasa pada makanan maupun produk rumah tangga
(Kartikawati 2004).
Beradasarkan hasil penelitian diperoleh 22 spesies tumbuhan dari 15
famili yang digunakan sebagai tumbuhan aromatik. Tumbuhan aromatik yang ada
memiliki 5 fungsi dalam kehidupan masyarakat Dayak Benuaq, yaitu pengharum
pupur dingin (bedak basah), pengharum ruangan, pengharum minyak rambut serta
pemberi aroma dan pelezat makanan. Beberapa spesies tumbuhan sebagai
aromatik di Kampung Keay tersaji pada Lampiran 9.
Tradisi perempuan-perempuan masyarakat Dayak Benuaq yang tidak
pernah luntur adalah menggunakan pupur dingin yang terbuat dari beras yang
telah ditumbuk dan dijemur. Penggunaan pupur dingin ini tidak pernah lepas dari
keseharian perempuan Dayak Benuaq. Setiap hari perempuan-perempuan Dayak
Benuaq menggunakan pupur dingin agar wajah menjadi halus, putih dan bersih.
56

Agar pupur dingin yang digunakan harum dalam proses penjemuran di atas pupur
dingin ditaburi akar setu (Andropogon zizanoides) yang telah di potong kecil-
kecil.
Kebiasaan lain yang sering dilakukan oleh masyarakat Dayak Benuaq
yaitu membungkus atau menutup nasi dengan daun bengkuk’ng (Macaranga
gigantea). Dalam acara adat atau acara-acara lainnya nasi yang dihidangkan
biasanya ditutup dengan daun bengkuk’ng (Macaranga gigantea) agar nasinya
menjadi harum. Jika sedang bepergian, misalnya ke ladang masyarakat biasanya
membungkus nasi yang menjadi bekal juga dengan daun bengkuk’ng (Macaranga
gigantea). Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat, nasi yang dibungkus
dengan daun bengkuk’ng (Macaranga gigantea) selain aromanya menjadi harum
rasanya pun menjadi enak. Gambar 24 menunjukkan contoh spesies tumbuhan
aromatik.

(a) (b)
Gambar 24 Contoh spesies tumbuhan aromatik (a) popot (Jasminum sambac), (b)
cengkeh (Syzygium aromaticum).

5.1.3.11 Tumbuhan serat


Tumbuhan penghasil serat adalah tumbuhan yang memiliki serat yang kuat
dan lunak sehingga dapat diolah menjadi bahan untuk membuat pakaian.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 9 spesies tumbuhan dari 6 famili yang
dapat diolah menjadi bahan sandang. Tabel 20 menyajikan spesies-spesies
tumbuhan sebagai penghasil serat di Kampung Keay.
57

Tabel 20 Spesies-spesies tumbuhan sebagai penghasil serat di Kampung Keay


Bagian yang
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili
digunakan
1 Doyo Curculigo latifolia Amarillydaceae Daun
2 Terincing meaq Cryptanthus acaulis Bromeliaceae Daun
3 Akar kerop Bauhinia tomentosa Fabaceae Batang (kulit)
4 Suwek’ng Artocarpus sp. Moraceae Batang (kulit)
5 Pekaluk’ng Artocarpus elastica Moraceae Batang (kulit)
6 Bengkuk’ng Macaranga gigantea Euphorbiaceae Batang (kulit)
7 Nunuq Ficus rostrata Moraceae Batang (kulit)
8 Pudoq Parartocarpus sp. Moraceae Batang (kulit)
9 Pengo Antidesma montana Oxalidaceae Batang (kulit)

Penggunaan bahan sandang dari tumbuhan oleh masyarakat Dayak Benuaq


tidak terlepas dari kehidupan Suku Dayak Benuaq di masa lalu yang hidup di
dalam hutan. Kesulitan hidup di masa itu membuat Suku Dayak Benuaq menjadi
kreatif dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selain
kebutuhan pangan, papan dan lain sebagainya yang diperoleh dari hutan, untuk
memenuhi kebutuhan sandang Suku Dayak Benuaq juga memanfaatkan yang ada
disekelilingnya untuk dijadikan bahan sandang atau pakaian. Walaupun tidak
sebaik dan senyaman pakaian yang terbuat dari kain, Suku Dayak Benuaq pada
saat itu sudah merasa nyaman menggunakannya karena mereka terhindar dari rasa
dingin, panas dan gigitan serangga.
Pengolahan bahan sandang dari tumbuhan serat sangat rumit dan
memerlukan waktu yang cukup lama. Hal pertama yang dilakukan adalah
menebang pohon yang agak besar kemudian mengupas kulit dari batangnya.
Setelah kulit tersebut terlepas dari batang, kulit pada bagian luar dibersihkan.
Setelah bersih kulit batang tersebut di pukul-pukul dengan kayu hingga halus.
Kayu yang digunakan untuk memukul sebaiknya kayu yang kuat dan berat.
Biasanya kayu yang digunakan adalah kayu toluyatn atau ulin (Eusideroxylon
zwageri). Kulit batang yang telah halus kemudian dicelupkan ke dalam air, jika
masih kurang halus kulit kayu tersebut dapat dipukul lagi hingga benar-benar
halus. Kulit kayu yang telah dicuci bersih kemudian dijemur, setelah kering baru
bisa diolah menjadi pakaian. Proses pembuatan kain dari kulit kayu ini dilakukan
dengan menggunakan alat khusus agar kain mudah dibentuk. Selanjutnya kain
dari kulit kayu tersebut dibentuk menjadi pakaian maupun cawat. Benang yang
digunakan untuk menjahit juga terbuat dari tumbuhan, yaitu terincing meaq
(Cryptanthus acaulis) dan doyo (Curculigo latifolia). Terincing meaq
58

(Cryptanthus acaulis) dan doyo (Curculigo latifolia) dijadikan benang karena


kedua tumbuhan tersebut memiliki serat yang kuat dan seratnya panjang.
Pembuatan benang dari tumbuhan ini dilakukan dengan cara mengikis daun
dengan menggunakan alat yang terbuat dari kayu kemudian diambil seratnya.
Sebelum digunakan untuk menjahit, benang dari serat tumbuhan harus diberi lilin
terlebih dahulu agar tidak cepat putus. Pakaian Suku Dayak Benuaq ini memiliki
nama yang berbeda-beda sesuai dengan jenis pakaiannya, untuk baju/pakaian
disebut dengan “Sape barutn”, cawat disebut “Belet” dan selimut disebut “Robet”.

5.1.3.12 Tumbuhan penghasil warna


Tumbuhan pewarna adalah tumbuhan yang dapat memberikan warna
kepada makanan, minuman maupun benda lain setelah diolah sebelumnya
(Hidayat 2009). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 10 spesies tumbuhan dari
9 famili yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna. Beberapa spesies
tumbuhan penghasil warna di Kampung keay, dapat dilihat pada Lampiran 10.
Dari 9 spesies tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai pewarna nabati,
terdapat 3 spesies yang sering digunakan oleh masyarakat yaitu jomit (Curcuma
domestica), jomit lepoq (Curcuma xanthorrhiza) dan terujaq (Dicliptera
chinensis). Jomit (Curcuma domestica) sering digunakan masyarakat untuk
pewarnaan nasi atau makanan lainnya. Sedangkan jomit lepoq (Curcuma
xanthorrhiza) dan terujaq (Dicliptera chinensis) lebih sering digunakan untuk
pewarnaan daun nyui (Cocos nucifera) pada saat upacara adat. Jomit lepoq
(Curcuma xanthorrhiza) menghasilkan warna kuning, sedangkan terujaq
(Dicliptera chinensis) menghasilkan warna merah. Selain sebagai bahan pewarna
daun nyui (Cocos nucifera), jomit lepoq juga dapat digunakan sebagai campuran
jamu tradisional sedangkan terujaq fungsinya hanya sebagai pewarna daun nyui
(Cocos nucifera) saja. Contoh spesies tumbuhan pewarna ditunjukkan pada
Gambar 25.
59

(a) (b)
Gambar 25 Contoh spesies tumbuhan pewarna (a) jomit (Curcuma domestica),
(b) terujaq (Dicliptera chinensis).

5.1.3.13 Tumbuhan upacara adat


Dalam upacara adat, tumbuhan memiliki peranan yang sangat penting.
Tumbuhan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari setiap upacara adat
Suku Dayak Benuaq. Dikatakan penting karena tumbuhan memiliki arti tersendiri
bagi masyarakat Dayak Benuaq. Bahkan spesies-spesies tumbuhan yang
digunakan dalam upacara adat tidak dapat digantikan dengan tumbuhan lain dan
upacara adat tidak dapat berlangsung apabila terdapat salah satu komponen yang
tidak lengkap. Kepercayaan masyarakat tersebut berkaitan erat dengan
penghormatan terhadap leluhur dan nenek moyang mereka yang melakukan hal
yang sama. Upacara-upacara adat yang selalu menggunakan tumbuhan antara lain
upacara adat “kuangkai”, “beliatn gugu tautn/nalitn tautn”, “kenyau”, “beliatn”,
pernikahan, dan lain sebagainya. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 34 spesies
tumbuhan dari 19 famili. Beberapa spesies tumbuhan penting sebagai bahan
upacara adat dapat dilihat pada Lampiran 11.

5.1.3.14 Tumbuhan tolak bala


Tumbuhan tolak bala adalah tumbuhan yang dipercaya dan diyakini dapat
menangkal penyakit, santet, dan hal-hal negatif lainnya. Dalam kehidupan
masyarakat Dayak Benuaq, hal-hal magis dan mistis merupakan hal yang sudah
tidak asing lagi. Kepercayaan terhadap leluhur dan nenek moyang mereka yang
begitu kuat membuat kepercayaan terhadap hal-hal mistis tetap melekat pada
masyarakat Dayak Benuaq hingga sekarang. Berdasarkan hasil penelitian
60

diperoleh 16 spesies tumbuhan dari 13 famili yang dipercaya sebagai tumbuhan


tolak bala. Beberapa spesies tumbuhan yang dipercaya sebagai tolak bala dapat
dilihat pada Lampiran 12.
Dari 16 spesies tumbuhan yang dimanfaatkan, 6 spesies tumbuhan cara
pemanfaatannya hanya dengan menanam tumbuhan tersebut di sekitar rumah.
Adapun ke-6 spesies tumbuhan tersebut, yaitu kecubung (Brugmansia
suaveolens), biyowo (Cordyline fruticosa), pasar (Impatiens balsamina), telaseh
(Ocimum basilicum), komat (Codiaeum variegatum) dan jomit bura (Kaempferia
rotunda). Masyarakat Dayak Benuaq mempercayai dengan menanam salah satu
atau beberapa spesies dari tumbuhan tersebut di pekarangan rumah akan
menangkal semua hal-hal buruk. Gambar 26 menunjukkan contoh bentuk
pemanfaatan tumbuhan sebagai tolak bala.

(a) (b)
Gambar 26 Contoh bentuk pemanfaatan tumbuhan sebagai tolak bala (a) nyui
(Cocos nucifera), (b) uwe sit (Daemonorops sp.).

5.1.3.15 Tumbuhan untuk kecantikan/kosmetik


Kecantikan merupakan hal yang selalu diperhatikan oleh setiap
perempuan, tidak terkecuali perempuan Dayak Benuaq. Dalam hal menjaga
kecantikan, perempuan Dayak Benuaq memiliki resep tradisional yang mereka
peroleh secara turun temurun. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh 17 spesies
dari 15 famili tumbuhan sebagai bahan kecantikan dan kosmetik. Beberapa
spesies tumbuhan sebagai bahan kecantikan/kosmetik dapat dilihat pada Lampiran
13.
Tumbuhan yang sering digunakan oleh masyarakat Dayak Benuaq sebagai
bahan kecantikan adalah selekop (Lepisanthes amoena). Pemanfaatan selekop
61

(Lepisanthes amoena) oleh masyarakat dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
langsung menggunakan daun mudanya dengan meremas daun sampai berbusa
kemudian digosokkan pada wajah dan leher. Pemanfaatan lainnya adalah dengan
membuat daun selekop (Lepisanthes amoena) sebagai pupur dingin. Cara
pembuatannya yaitu merendam beras selama satu malam, setelah direndam beras
tersebut dicuci agar tidak berbau. Hal selanjutnya yang dilakukan adalah
menumbuk beras bersama daun selekop (Lepisanthes amoena) hingga halus.
Setelah itu, campuran beras dan daun selekop (Lepisanthes amoena) yang telah
halus dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil dan kemudian dijemur. Jika ingin
pupur dingin menjadi harum pada saat penjemuran taburi pupur dingin dengan
tumbuhan aromatik, seperti setu (Andropogon zizanoides), popot (Jasminum
sambac) dan lain sebagainya.

5.1.3.16 Tumbuhan penghasil lain-lain


Tumbuhan berguna lainnya merupakan tumbuhan yang belum masuk
klasifikasi kategori kegunaan tumbuhan. Dari 15 kategori pengklasifikasian
tumbuhan berdasarkan kegunaannya, terdapat 13 spesies tumbuhan yang belum
masuk klasifikasi kegunaan. Spesies-spesies ini memiliki spesialisasi kegunaan
tersendiri. Ada yang berguna sebagai sabun mandi, lem peti mati, pupuk hijau,
menggugurkan kandungan dan lain sebagainya. Beberapa spesies tumbuhan
penghasil lain-lain dapat dilihat pada Lampiran 14.

5.2 Potensi Tumbuhan Berguna di Areal Hutan/Kebun sekitar Kampung


Keay
Dalam memanfaatkan tumbuhan berguna, masyarakat Dayak Benuaq tidak
hanya memanfaatkan spesies tumbuhan berguna tersebut yang berasal dari
pekarangan, ladang ataupun “lembo”. Masyarakat juga mengambil dari hutan di
sekitar kampung. Untuk mengetahui sejauh mana interaksi masyarakat Dayak
Benuaq dengan tumbuhan yang ada di hutan dan untuk mengetahui jumlah spesies
tumbuhan berguna yang berasal dari hutan, maka dilakukan analisis vegetasi di
hutan sekitar Kampung Keay. Analisis vegetasi ini tidak hanya dilakukan di hutan
melainkan juga di kebun karet.
Analisis vegetasi dilakukan di hutan yang berada di dalam Kampung
Keay. Luasan hutan di wilayah Kampung Keay sebenarnya sangat luas, namun
62

karena beberapa kali terjadi kebakaran dan adanya pembukaan lahan yang
dilakukan oleh masyarakat, luasan hutan yang ada di Kampung Keay menjadi
berkurang. Akibat kurangnya luasan hutan dan keberadaan hutan yang terpencar-
pencar akibat kebakaran dan pembukaan lahan maka analisis vegetasi dilakukan
pada dua lokasi, yaitu lokasi hutan 1 yang dekat dengan pemukiman dan lokasi
hutan 2 yang agak jauh dari pemukiman. Berdasarkan hasil analisis vegetasi di
hutan alam diperoleh 158 spesies tumbuhan yang termasuk dalam 46 famili
(Lampiran 1), sedangkan hasil analisis vegetasi yang diperoleh dari kebun karet
yaitu 34 spesies tumbuhan dari 24 famili (Lampiran 1). Berdasarkan hasil analisis
vegetasi di hutan alam dan kebun karet diketahui potensi tumbuhan berguna yang
ada di hutan alam yaitu 53,79% sedangkan potensi tumbuhan berguna di kebun
karet yaitu 50%.

5.2.1 Tumbuhan berguna potensial


Salah satu contoh spesies tumbuhan berguna yang diperoleh dari hasil
analisis vegetasi di hutan alam yaitu mara uleq (Eurycoma longifolia).
Berdasarkan hasil analisis vegetasi yang dilakukan di hutan alam tumbuhan mara
uleq (Eurycoma longifolia) masih banyak dijumpai di hutan alam. Mara uleq
(Eurycoma longifolia) merupakan spesies tumbuhan yang sudah menjadi komoditi
perdagangan obat tradisional yang cukup laris. Namun, hanya saja belum ada
usaha dari masyarakat untuk membudidayakannya karena sampai saat ini belum
ada yang tahu tentang teknik budidaya mara uleq (Eurycoma longifolia) serta
prospek pemasarannya. Masyarakat memanfaatkan mara uleq (Eurycoma
longifolia) untuk obat malaria, obat kuat, demam, sakit pinggang dan lain
sebagainya.
Selain mara uleq (Eurycoma longifolia), terdapat spesies-spesies
tumbuhan yang juga memiliki potensi yang cukup besar, seperti rotan/uwe
(Korthalsia sp., Calamus sp., Daemonorops sp.), empulung (Asplenium nidus),
dan kerakap (Platycerium bifurcatum). Berdasarkan hasil wawancara dengan
masyarakat, jumlah spesies uwe/rotan (Korthalsia sp., Calamus sp., Daemonorops
sp.) yang ada di Kampung Keay ini sebanyak 19 spesies yaitu uwe sokaq
(Calamus caesius), uwe ngono, uwe pelas (Calamus sp.), uwe urya, uwe meaq
(Korthalsia sp.), uwe deneq, uwe sit (Daemonorops sp.), uwe pulut merah, uwe
63

keheh, uwe lalutn, uwe ore, uwe boyung, uwe sidok’ng, uwe tuu, uwe kotoq, uwe
juaq, uwe jahab, uwe danan (Korthalsia cf. scortechinii), dan uwe biyungan.
Sedangkan berdasarkan hasil analisis vegetasi di hutan alam hanya ditemukan
sebanyak 5 spesies, yaitu uwe meaq (Korthalsia sp.), uwe sokaq (Calamus
caesius), uwe sit (Daemonorops sp.), uwe pelas (Calamus sp.), dan uwe danan
(Korthalsia cf. scortechinii). Namun sangat disayangkan, pemanfaatan uwe/rotan
(Korthalsia sp., Calamus sp., Daemonorops sp.) oleh masyarakat Dayak Benuaq
yang ada di Kampung Keay kurang diminati oleh para generasi muda, yang
memanfaatkan spesies tersebut hanya para orang tua untuk membuat kerajinan.
Padahal hasil olahan dari kerajinan rotan/uwe (Korthalsia sp., Calamus sp.,
Daemonorops sp.) memiliki nilai jual yang cukup tinggi, namun karena telah
masuknya kebudayaan dari luar membuat kerajinan ini kurang diminati oleh
generasi muda.
Berdasarkan inventarisasi di pekarangan, hampir di setiap rumah terdapat
tanaman hias yang berasal dari hutan seperti empulung (Asplenium nidus) dan
kerakap (Platycerium bifurcatum). Kedua spesies ini banyak ditemukan di hutan
maupun di kebun karet. Walaupun empulung (Asplenium nidus) dan kerakap
(Platycerium bifurcatum) mudah untuk dibudidayakan, masyarakat Dayak Benuaq
tidak ada yang membudidayakannya padahal spesies-spesies ini memiliki nilai
jual yang cukup tinggi. Hal ini lebih dikarenakan ketidaktahuan masyarakat
tentang prospek perdagangan dan pemasarannya, sehingga masyarakat tidak ada
yang membudidayakan empulung (Asplenium nidus) dan kerakap (Platycerium
bifurcatum).
Mara uleq (Eurycoma longifolia), rotan/uwe (Korthalsia sp., Calamus sp.,
Daemonorops sp.), empulung (Asplenium nidus), dan kerakap (Platycerium
bifurcatum) merupakan hasil hutan bukan kayu. Hasil hutan tersebut merupakan
hasil hutan yang masih banyak ditemukan di hutan maupun disekitar Kampung
Keay, sedangkan hasil hutan berupa kayu sudah tidak sebanyak dahulu saat
kawasan hutan di kampung ini belum terbakar.
Selain di hutan alam, kebun karet juga memiliki potensi tumbuhan
berguna. Potensi yang ada di kebun karet tidak sama dengan potensi yang ada di
hutan alam. Potensi yang terlihat nyata yaitu tumbuhan karet itu sendiri. Karet
64

merupakan tumbuhan yang dapat menopang kehidupan masyarakat Kampung


Keay, sehingga sebagian besar masyarakat menanam karet di lahan-lahan mereka.
Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat, sebenarnya tumbuhan
karet merupakan tumbuhan yang telah ada sejak dahulu. Namun, karena pada saat
itu masyarakat tidak mengetahui bahwa karet memiliki nilai jual yang tinggi,
maka tidak ada masyarakat yang membudidayakannya dan karet hanya dibiarkan
hidup liar di hutan. Pada saat itu, masyarakat menggantungkan hidupnya dari
menjual hasil hutan berupa rotan (Korthalsia sp., Calamus sp., Daemonorops sp.)
dengan harga Rp 1.000/kg. Namun, sejak diberikannya penyuluhan oleh
Pemerintah Daerah bahwa karet memiliki nilai jual yang tinggi dan prospek
kedepannya baik, sejak saat itu masyarakat mulai membudidayakan karet hingga
saat ini. Dibandingkan dengan harga jual rotan (Korthalsia sp., Calamus sp.,
Daemonorops sp.) yang saat ini hanya Rp 2.500/kg, nilai jual karet lebih tinggi
yaitu berkisar antara Rp 7.000 sampai Rp 10.000 per kg.

5.2.2 Keanekaragaman spesies tumbuhan berdasarkan Shannon-Wienner


Index (H’)
Keanekaragaman spesies merupakan ciri tingkatan komunitas berdasarkan
organisasi biologinya. Keanekaragaman spesies dapat digunakan untuk
menyatakan struktur komunitas. Selain itu, juga dapat digunakan untuk mengukur
stabilitas komunitas, yaitu kemampuan suatu komunitas untuk menjaga dirinya
tetap stabil meskipun ada gangguan terhadap komponen-komponennya (Soegianto
1994 diacu dalam Indriyanto 2006). Berdasarkan hasil analisis vegetasi,
keanekaragaman spesies Shannon-Wienner index (H’) yang ada di hutan alam
dapat dilihat pada Tabel 21.
Tabel 21 Nilai keanekaragaman spesies (H’) di hutan alam berdasarkan habitus
No. Habitus Tingkat Pertumbuhan H’ Nilai
1 Pohon Pohon 3,98 Tinggi
Tiang 3,61 Tinggi
Pancang 3,69 Tinggi
Semai 3,56 Tinggi
2 Liana - 3,05 Tinggi
3 Epifit - 0,64 Rendah
4 Herba - 1,07 Sedang
5 Semak - 1 spesies (H’ = 0) Rendah
6 Perdu - 1 spesies (H’ = 0) Rendah
65

Berdasarkan Tabel 21, dapat dilihat bahwa regenerasi spesies tumbuhan di


hutan alam pada tingkat pohon tinggi karena pada semua tingkat pertumbuhan
(pohon, tiang, pancang, dan semai) nilai keanekaragamannya lebih dari 3. Hal ini
dikarenakan komunitas di hutan Kampung Keay disusun oleh banyak spesies.
Pada tingkat liana, keanekaragamannya tinggi yaitu sebesar 3,05. Untuk herba,
keanekaragamannya sedang dengan nilai sebesar 1,07. Epifit, semak, dan perdu
mempunyai keanekaragaman rendah dengan masing-masing nilai sebesar 0,64
(epifit), sedangkan untuk semak dan perdu nilai keanekaragamannya 0. Semak
dan perdu mempunyai nilai keanekaragaman 0 karena pada petak pengukuran
hanya terdapat 1 spesies, yaitu jiye (Pronephrium nitidum) pada semak dan empar
olau (Ficus aurata) pada perdu.
Keanekaragaman spesies pada hutan alam dan kebun karet jelas berbeda,
karena komposisi tumbuhannya juga berbeda. Keanekaragaman spesies Shannon-
Wienner (H’) yang ada di kebun karet dapat dilihat pada Tabel 22.
Tabel 22 Nilai keanekaragaman spesies (H’) di kebun karet berdasarkan habitus
No. Habitus Tingkat Pertumbuhan H’ Nilai
1 Pohon Pohon 1 spesies (H’ = 0) Rendah
Tiang 0,20 Rendah
Pancang 0,79 Rendah
Semai 1,63 Sedang
2 Liana - 0,57 Rendah
3 Epifit - 1,58 Sedang
4 Herba - 2,09 Sedang
5 Semak - 0,65 Rendah
6 Paku-pakuan - 0,84 Rendah
7 Perdu - 1 spesies (H’ = 0) Rendah

Berdasarkan Tabel 22, dapat dilihat bahwa regenerasi spesies tumbuhan di


kebun karet pada tingkat pohon, tiang, dan pancang adalah rendah dengan
keanekaragaman masing-masing sebesar 0 (pohon), 0,20 (tiang), dan 0,79
(pancang). Pada tingkat semai keanekaragamannya sedang yaitu sebesar 1,63
karena selain karet (Hevea brasiliensis) juga terdapat tumbuhan lain. Pada tingkat
liana, semak, paku-pakuan, dan perdu keanekaragamannya rendah dengan
keanekaragaman masing-masing sebesar 0,57 (liana), 0,65 (semak), 0,84 (paku-
pakuan), dan 0 (perdu). Epifit dan herba memiliki keanekaragaman sedang yaitu
sebesar 1,58 dan 2,09. Pohon dan perdu mempunyai nilai keanekaragaman 0
karena pada petak pengukuran hanya terdapat 1 spesies, yaitu karet (Hevea
66

brasiliensis) pada tingkat pohon dan bakakang buluq (Clidemia hirta) pada perdu.
Berdasarkan data tersebut dapat dikatakan bahwa keanekaragaman pada kebun
karet (Hevea brasiliensis) adalah rendah. Hal ini dikarenakan kurangnya spesies
tumbuhan yang ada di kebun karet (Hevea brasiliensis).

5.2.3 Kerapatan spesies tumbuhan


5.2.3.1 Hutan alam
Kerapatan adalah jumlah individu spesies tumbuhan per satuan ruang
(Indriyanto 2006). Berdasarkan hasil analisis vegetasi di hutan alam, kerapatan
terbesar pada tingkat pohon adalah nakatn (Artocarpus heterophyllus) yaitu
sebesar 30,5 ind/ha, sedangkan kerapatan terkecil adalah asam palong (Mangifera
caesia), kelabunay (Tricalysia malaccensis), mantuleng juwe (Tricalysia
singularis), nancang (Macaranga pruinosa), pepuan (Artocarpus anisophyllus),
dan lain sebagainya dengan masing-masing kerapatan sebesar 0,5 ind/ha.
Berdasarkan hasil analisis vegetasi pada tingkat tiang kerapatan terbesar
adalah keranyiq (Fordia johorensis) yaitu sebesar 38 ind/ha, sedangkan kerapatan
terkecil dimiliki oleh alas (Aquilaria malaccensis), buno (Memecylon
myrsinoides), empana (Garcinia sizygifolia), keni (Garcinia sp.), kumpat
(Castanopsis inermis), dan lain sebagainya dengan masing-masing kerapatan
sebesar 2 ind/ha. Pada tingkat pancang, tumbuhan yang memiliki kerapatan
terbesar adalah keranyiq (Fordia johorensis) yaitu sebesar 224 ind/ha, sedangkan
kerapatan terkecil adalah sungkai (Peronema canescens), pose (Pentace
polyantha), pepuan (Artocarpus anisophyllus), nancang (Macaranga pruinosa),
potai (Parkia speciosa), dan lain sebagainya dengan masing-masing kerapatan 2
ind/ha.
Kerapatan terbesar pada tingkat semai adalah bangkat (Xanthophyllum
affine) yaitu sebesar 4.550 ind/ha, sedangkan kerapatan terkecil adalah deraya
dokor (Gymnacranthera ocellata), mami (Fissistigma manubriatum), nagag
(Schima wallichii), benturung (Artocarpus rigida), dan lain sebagainya dengan
masing-masing kerapatan 50 ind/ha. Kerapatan terbesar pada tingkat liana yaitu
akar berempuyut (Cyratia trifolia) dengan kerapatan sebesar 20,5 ind/ha,
sedangkan kerapatan terkecil adalah akar 1 (Cissus repens) yaitu sebesar 6 ind/ha.
Pada tingkat epifit kerapatan terbesar yaitu empulung (Asplenium nidus) dengan
67

kerapatan sebesar 40,50 ind/ha, sedangkan kerapatan terkecil adalah kerakap


(Platycerium bifurcatum) yaitu sebesar 25 ind/ha.
Spesies tumbuhan yang memiliki kerapatan terbesar pada semak, perdu
dan herba antara lain jiye (Pronephrium nitidum) dengan kerapatan sebesar 2.950
ind/ha (semak), empar olau (Ficus aurata) dengan kerapatan sebesar 450 ind/ha
(perdu), dan muring (Selaginella doederleinii) dengan kerapatan sebesar 2.450
ind/ha (herba). Untuk semak dan perdu hanya ditemukan satu spesies, sedangkan
pada herba ditemukan sebanyak tiga spesies dengan kerapatan terkecil yaitu sabeq
ayus (Schismatoglottis sp.) sebesar 950 ind/ha. Informasi lebih lengkap tentang
kerapatan spesies tumbuhan secara keseluruhan dapat dilihat pada Lampiran 15.

5.2.3.2 Kebun karet


Berdasarkan hasil analisis vegetasi di kebun karet pada tingkat pohon
kerapatan terbesar adalah karet (Hevea brasiliensis) yaitu sebesar 544 ind/ha,
sedangkan kerapatan terkecil tidak ada pada tingkat pertumbuhan ini karena
tegakan ini hanya terdiri dari tumbuhan karet (Hevea brasiliensis). Kerapatan
terbesar pada tingkat tiang yaitu karet (Hevea brasiliensis) dengan kerapatan
sebesar 46 ind/ha, sedangkan kerapatan terkecil yaitu langsat (Lansium
domesticum) dengan kerapatan sebesar 2 ind/ha.
Pada tingkat pancang, karet (Hevea brasiliensis) juga merupakan
tumbuhan yang memiliki kerapatan terbesar yaitu 80 ind/ha, sedangkan tumbuhan
yang memiliki kerapatan terkecil yaitu rambutan (Nephelium lappaceum) dengan
kerapatan sebesar 8 ind/ha. Kerapatan terbesar pada tingkat liana yaitu lengkokoq
(Psychotria sarmentosa) sebesar 48,5 ind/ha, sedangkan kerapatan terkecil yaitu
jangak’ng perey (Lycopodium cernuum) dengan kerapatan sebesar 31 ind/ha.
Sama dengan hutan alam, kerapatan terbesar pada tingkat epifit yaitu empulung
(Asplenium nidus) dengan kerapatan sebesar 19,5 ind/ha, sedangkan kerapatan
terkecil yaitu kerakap (Platycerium bifurcatum) dengan kerapatan sebesar 3,5
ind/ha.
Spesies tumbuhan yang memiliki kerapatan terbesar pada semak, herba,
paku-pakuan, dan perdu yaitu jangak’ng (Gleichenia linearis) dengan kerapatan
sebesar 1.850 ind/ha (semak), Axonopus compressus dengan kerapatan sebesar
29.850 ind/ha (herba), pakuq param (Nephrolepis biserrata) dengan kerapatan
68

sebesar 14.150 ind/ha (paku-pakuan), dan bakakang buluq (Clidemia hirta)


dengan kerapatan sebesar 19.450 ind/ha (perdu). Kerapatan terkecil pada masing-
masing habitus tersebut yaitu pupuq pulut (Clitoria laurifolia) dengan kerapatan
sebesar 1.500 ind/ha (semak), Cynodon dactylon dan bomoy (Smilax zeylanica)
dengan kerapatan masing-masing sebesar 750 ind/ha (herba), pakuq kanau
(Pteridium sp.) dengan kerapatan sebesar 900 ind/ha (paku-pakuan), sedangkan
perdu tidak memiliki kerapatan terkecil karena hanya ditemukan satu spesies
tumbuhan. Informasi lebih lengkap tentang kerapatan spesies tumbuhan di kebun
karet dapat dilihat pada Lampiran 16.

5.2.4 Dominansi spesies tumbuhan


5.2.4.1 Hutan alam
Dominansi merupakan pengusaan spesies tumbuhan dalam satuan ruang.
Dominansi dapat diketahui dengan menggunakan salah satu dari besaran-besaran
luas bidang dasar, volume atau dengan menghitung indeks nilai penting
(Soerianegara & Indrawan 2005). Jika suatu spesies tumbuhan memiliki indeks
nilai penting terbesar maka dominansinya pun juga besar. Menurut Soegianto
(1994) diacu dalam Indriyanto (2006), indeks nilai penting (importance value
index) adalah parameter kuantitatif yang dapat digunakan untuk menyatakan
tingkat dominansi (tingkat penguasaan) spesies-spesies dalam suatu komunitas
tumbuhan. Indeks nilai penting (INP) terbesar berdasarkan habitus pada hutan
alam dapat dilihat pada Tabel 23, selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 15.
Tabel 23 INP terbesar di hutan alam berdasarkan habitus
Tingkat
No. Habitus Spesies Tumbuhan INP (%)
Pertumbuhan
1 Pohon Pohon Nakatn (Artocarpus heterophyllus) 22,46
Tiang Keranyiq (Fordia johorensis) 19,69
Pancang Keranyiq (Fordia johorensis) 25,46
Semai Keranyiq (Fordia johorensis) 24,67
2 Liana - Akar 2 (Eycibe malaccensis) 15,29
3 Epifit - Empulung (Asplenium nidus) 132,99
4 Semak - Jiye (Pronephrium nitidum) 200
5 Herba - Muring (Selaginella doederleinii) 85,36
6 Perdu - Empar olau (Ficus aurata) 200

Berdasarkan Tabel 23, spesies tumbuhan yang memiliki INP terbesar pada
tingkat pohon yaitu Nakatn (Artocarpus heterophyllus) dengan kerapatan sebesar
69

22,46%. Pada tingkat tiang, pancang, dan semai tumbuhan yang memiliki INP
terbesar adalah keranyiq (Fordia johorensis) dengan masing-masing INP sebesar
19,69% (tiang), 25,46% (pancang), dan 24,67% (semai). Berdasarkan data
tersebut dapat diketahui bahwa keranyiq (Fordia johorensis) merupakan spesies
yang mendominansi pada hutan alam di Kampung Keay dikarenakan keranyiq
(Fordia johorensis) memiliki INP terbesar pada tiga tingkat pertumbuhan.
Mendominansinya keranyiq (Fordia johorensis) pada hutan alam ini dapat
dikarenakan faktor lingkungan yang mendukung seperti tanah, cuaca,
kelembaban, dan sebagainya.
Spesies tumbuhan yang memiliki INP terbesar pada habitus liana adalah
akar 2 (Eycibe malaccensis) dengan INP sebesar 15,29%. Pada habitus epifit,
spesies tumbuhan yang mendominansi yaitu empulung (Asplenium nidus) dengan
INP sebesar 132,99%. Pada tingkat semak, herba, dan perdu INP terbesar untuk
masing-masing habitus yaitu jiye (Pronephrium nitidum) dengan INP sebesar
200% (semak), muring (Selaginella doederleinii) dengan INP sebesar 85.36%
(herba), dan empar olau (Ficus aurata) dengan INP sebesar 200% (perdu).

5.2.4.2 Kebun Karet


Sebagian besar wilayah Kampung Keay dimanfaatkan oleh masyarakat
untuk dijadikan perkebunan karet. Hal ini dikarenakan karet (Hevea brasiliensis)
memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Pada kebun karet terdapat beberapa
spesies tumbuhan berguna yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat Kampung
Keay, seperti wangun (Clausena anisum-olens), benuang rangka (Anisophyllea
disticha), dan sebagainya. Berdasarkan hasil analisis vegetasi di kebun karet
diperoleh 34 spesies tumbuhan yang termasuk dalam 24 famili, selengkapnya
tersaji pada Lampiran 1. Indeks nilai penting (INP) terbesar berdasarkan habitus
dapat dilihat pada Tabel 24, selengkapnya tersaji pada Lampiran 16.
70

Tabel 24 INP terbesar di kebun karet berdasarkan habitus


Tingkat
No. Habitus Spesies Tumbuhan INP (%)
Pertumbuhan
1 Pohon Pohon Karet (Hevea brasiliensis) 300
Tiang Karet (Hevea brasiliensis) 284,63
Pancang Karet (Hevea brasiliensis) 143,59
Semai Karet (Hevea brasiliensis) 52,42
2 Liana - Tempahong (Smilax zeylanica) 51,24
3 Epifit - Empulung (Asplenium nidus) 148,42
4 Herba - Axonopus compressus 56,31
5 Semak - Pupuq pulut (Clitoria laurifolia) 130,49
6 Paku-pakuan - Pakuq param (Nephrolepis biserrata) 134,67
7 Perdu - Bakakang buluq (Clidemia hirta) 200
Berdasarkan Tabel 24, karet (Hevea brasiliensis) merupakan tumbuhan
yang memiliki INP terbesar pada tingkat pohon yaitu 300%. Pada tingkat tiang,
pancang dan semai karet (Hevea brasiliensis) juga memiliki INP terbesar, dengan
INP masing-masing sebesar 284,63%; 143,59%; dan 52,42%. Mendominansinya
karet (Hevea brasiliensis) pada tingkat pohon, tiang, pancang, dan semai
dikarenakan kebun karet merupakan tegakan yang hanya terdiri dari satu jenis
tanaman.
Berdasarkan hasil analisis vegetasi pada tingkat liana, ditemukan sebanyak
4 spesies tumbuhan seperti jangak'ng perey (Lycopodium cernuum), lengkokoq
(Psychotria sarmentosa), pakuq 1 (Lygodium sp.), dan tempahong (Smilax
zeylanica). Dari keempat spesies tumbuhan tersebut, tempahong (Smilax
zeylanica) merupakan tumbuhan dengan INP terbesar yaitu 51,24%. Pada tingkat
epifit, hanya ditemukan 2 spesies tumbuhan yaitu empulung (Asplenium nidus)
dan kerakap (Platycerium bifurcatum). Empulung (Asplenium nidus) merupakan
tumbuhan dengan INP terbesar yaitu 148,42% sedangkan kerakap (Platycerium
bifurcatum) memiliki INP sebesar 51,58%.
INP terbesar pada herba, semak, paku-pakuan, dan perdu untuk masing-
masing habitus yaitu Axonopus compressus dengan INP sebesar 56,31% (herba),
pupuq pulut (Clitoria laurifolia) dengan INP sebesar 130,49% (semak), pakuq
param (Nephrolepis biserrata) dengan INP sebesar 134,67% (paku-pakuan), dan
bakakang buluq (Clidemia hirta) dengan INP sebesar 200% (perdu).
71

5.3 Interaksi Masyarakat Kampung Keay dengan Areal di sekitarnya dalam


Pemanfaatan Tumbuhan Berguna
5.3.1 Pemanfaatan tumbuhan berguna di areal sekitar Kampung Keay oleh
masyarakat
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 396 spesies dari hasil wawancara
dan analisis vegetasi. Dari jumlah tersebut dikelompokkan lagi kedalam tiga
kategori yaitu kelompok tumbuhan hasil etnobotani (285 spesies), kelompok
tumbuhan hasil analisis vegetasi di hutan alam (158 spesies) dan kelompok
tumbuhan hasil analisis vegetasi di kebun karet (34 spesies). Informasi mengenai
ketiga kategori tersebut dapat dilihat pada Gambar 27.

Analisis vegetasi
hutan
94
54

10
Analisis
Kajian vegetasi kebun
etnobotani 7 karet
214 17

Gambar 27 Interaksi masyarakat Kampung Keay dalam pemanfaatan tumbuhan


berguna dengan areal sekitarnya.

Berdasarkan gambar 27, spesies tumbuhan yang sering dimanfaatkan oleh


masyarakat dalam kehidupan sehari-hari banyak ditemukan di kawasan hutan,
yaitu sebanyak 64 spesies (Lampiran 1), sedangkan spesies tumbuhan berguna
yang ditemukan di kebun karet yaitu sebanyak 17 spesies (Lampiran 1). Spesies-
spesies tumbuhan berguna yang terdapat pada tiga kategori (etnobotani, hutan,
dan kebun karet) ditemukan sebanyak 10 spesies tumbuhan, antara lain benuang
rangka (Anisophyllea disticha), empulung (Asplenium nidus), kalang (Durio
zibethinus), karet (Hevea brasiliensis), kelabetiq (Syzygium zeylanicum),
kelajempiq (Harisonia perforata), kerakap (Platycerium bifurcatum), pakuq
(Stenochlaena palustris), rambutan (Nephelium lappaceum), dan wangun
(Clausena anisum-olens).
72

Analisis vegetasi di hutan alam dan kebun karet dilakukan untuk


mengetahui potensi tumbuhan yang ada di Kampung Keay. Dari hasil yang
diperoleh, 158 spesies tumbuhan dari hasil analisis vegetasi di hutan alam
sebagian besar tumbuhan tersebut digunakan sebagai obat, pangan, kayu bakar,
bahan bangunan, dan lain sebagainya. Sedangkan dari 34 spesies tumbuhan yang
ditemukan di kebun karet, sebagian besar dimanfaatkan oleh masyarakat untuk
diambil getahnya (ekonomi), sebagai kayu bakar, keperluan adat, dan lain
sebagainya.

5.3.2 Aturan adat tentang pemanfaatan tumbuhan berguna


Dalam aturan adat masyarakat Kampung Keay, setiap orang dilarang
menebang pohon yang besar (apapun spesiesnya), karena pohon-pohon tersebut
merupakan tempat bersarang lebah-lebah hutan. Lebah-lebah tersebut akan
menghasilkan madu yang nantinya akan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk
kepentingan sendiri maupun untuk diperjualbelikan. Salah satu spesies tumbuhan
yang menghasilkan madu hutan yaitu puti (Koompassia malaccensis).
Selain larangan untuk menebang pohon penghasil madu hutan,
hukum/aturan adat yang masih berlaku di masyarakat Suku Dayak Benuaq yang
berhubungan dengan tumbuhan, antara lain dilarang menebang pohon di “lembo”
(kebun) orang lain, membakar ladang sendiri sampai menimbulkan kebakaran di
“lembo” orang lain, dan mencuri sesuatu di “lembo” orang lain. Selain itu, setelah
berakhirnya upacara “beliatn gugu tautn/nalitn tautn”, seluruh masyarakat
Kampung Keay tidak boleh melanggar beberapa aturan adat yaitu tidak
diperbolehkannya menebang pohon, mengambil tumbuhan, menggali tanah dan
lain sebagainya yang berhubungan dengan alam selama 4 hari terhitung dari
berakhirnya upacara “beliatn gugu tautn/nalitn tautn”. Aturan ini oleh Suku Dayak
Benuaq disebut “bejariq”. Hukum yang diberlakukan terhadap pelanggaran
tersebut adalah dikenakannya sanksi denda terhadap pelaku pelanggaran. Bentuk
denda adat atas spesies tumbuhan yang ditebang atau diambil tersaji dalam Tabel
25.
73

Tabel 25 Nilai denda adat atas spesies tumbuhan di hutan dan “lembo”
No. Nama lokal Nama Ilmiah Denda adat
1 Kalang Durio zibethinus 5 antang (guci)
2 Elai Durio kutejensis 5 antang (guci)
3 Asam payang Mangifera pajang 3 antang (guci)
4 Asam putar Mangifera similis 3 antang (guci)
5 Nyui Cocos nucifera 2 antang (guci)
6 Nakatn Artocarpus heterophyllus 5 antang (guci)
7 Cempedak Artocarpus champeden 5 antang (guci)
8 Langsat Lansium domesticum 3 antang (guci)
9 Kapur Dryobalanops sp. 5 antang (guci)
10 Kapul Baccaurea edulis 3 antang (guci)
11 Pepuan Artocarpus anisophyllus 5 antang (guci)
12 Jengatn (bengkirai) Shorea laevifolia 5 antang (guci)
13 Orai (tengkawang) Shorea sp. 10 antang (guci)
14 Puti (benggeris) Koompassia malaccensis 10 antang (guci)
Sumber: Presidium Dewan Adat (2008)

Denda adat tersebut dibuat untuk memberikan sanksi kepada masyarakat


Dayak Benuaq atau masyarakat luar yang melakukan pelanggaran adat. Nilai satu
antang (guci) yaitu Rp 200.000, denda yang harus dibayarkan disesuaikan dengan
spesies tumbuhan yang ditebang. Dengan denda adat seperti ini, diharapkan
masyarakat tidak melakukan tindakan semena-semena terhadap spesies tumbuhan
yang ada di Kampung Keay. Selain itu, juga untuk melindungi spesies-spesies
tumbuhan yang mulai langka seperti jengatn (Shorea laevifolia), orai (Shorea
macrophylla), puti (Koompassia malaccensis), dan lain sebagainya.
74

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Hasil etnobotani pada masyarakat Kampung Keay ditemukan sebanyak 285


spesies dari 78 famili yang terbagi kedalam 16 kelompok kegunaan dan yang
paling banyak dimanfaatkan adalah tumbuhan obat sebanyak 95 spesies dari
43 famili.
2. Terdapat interaksi antara masyarakat dengan lingkungan sekitar Kampung
Keay dalam pemanfaatan tumbuhan. Masyarakat lebih banyak memanfaatkan
tumbuhan yang berada di hutan dibandingkan dengan kebun karet. Tumbuhan
hasil analisis vegetasi di hutan alam ditemukan sebanyak 158 spesies dan
tumbuhan hasil analisis vegetasi di kebun karet sebanyak 34 spesies. Potensi
tumbuhan berguna yang ada di hutan alam yaitu 53,79% sedangkan potensi
tumbuhan berguna di kebun karet yaitu 50%. Spesies-spesies tumbuhan
berguna potensial yang ada di hutan Kampung Keay antara lain mara uleq
(Eurycoma longifolia), uwe (Korthalsia sp., Calamus sp., Daemonorops sp.),
empulung (Asplenium nidus) kerakap (Platycerium bifurcatum), dan lain
sebagainya. Potensi lain di luar potensi tumbuhan di hutan alam, yaitu karet
(Hevea brasiliensis).

6.2 Saran
1. Pengembangan budidaya spesies-spesies tumbuhan berguna perlu dilakukan
dengan berbasis pada pengetahuan tradisional masyarakat Kampung Keay.
2. Pengetahuan tradisional dalam pemanfaatan tumbuhan berguna perlu
diwariskan kepada generasi muda, melalui pendidikan formal maupun
informal.
3. Pengembangan ekowisata berbasis adat tradisi masyarakat Kampung Keay.
75

DAFTAR PUSTAKA

Arafah D. 2005. Studi potensi tumbuhan berguna di kawasan Taman Nasional


Bali Barat. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Asnawi A. 1992. Peranan tumbuhan dalam upacara daur hidup Suku Bangsa
Banjar. Di dalam : Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani; Cisarua-
Bogor, 19-20 Februari 1992. Bogor: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan RI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Perpustakaan
Nasional RI. Bogor. Hal: 202-215.
Data Potensi Desa. 2009. Data Potensi Kampung Keay. Kecamatan Damai:
Kabupaten Kutai Barat.
[Depdikbud] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
[Dephut] Departemen Kehutanan. 1999. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
Jakarta: Dephut.
[Dephut] Departemen Kehutanan. 2009. Peta penggunaan lahan dan penutupan
vegetasi Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur.
http://www.dephut.go.id/Halaman/Peta%20Tematik/Perbatasan/kutaibarat.
jpg [15 agustus 2010].
Dwanasuci N. 2006. Inventarisasi keanekaragaman jenis tumbuhan di kawasan
Taman Nasional Bali Barat (studi kasus di wilayah seksi II Buleleng).
[Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia I-IV. Badan Litbang Kehutanan,
penerjemah. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya. Terjemahan dari: de
Nuttige Planten van Indonesie.
Hidayat S. 2009. Kajian etnobotani masyarakat Kampung Adat Dukuh,
Kabupaten Garut, Jawa Barat. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan.
Institut Pertanian Bogor.
Hurlock EB. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan. Istiwidayati dan Soedjarwo, penerjemah; Sijibat R.
M, editor. McGraw-Hill, Inc. Terjemahan dari: Developmental Psycology:
A Life-Span Approach, Fifth Edition.
Inama. 2008. Kajian etnobotani masyarakat Suku Marind Sendawi Anim di
kawasan konservasi Taman Nasional Wasur, Kabupaten Merauke,
Provinsi Papua. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian
Bogor.
Indonesian Herbal. 2008. Tanaman obat Indonesia untuk pengobatan.
http://indonesian-herbal.blogspot.com/2008/11/tanaman-obat-indonesia-
untuk-pengobatan.html. [20 Juli 2010].
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta: Bumi Aksara
76

Isdijoso SH. 1992. Tumbuhan sebagai sumber bahan sandang, tali temali dan
anyam-anyaman. Di dalam : Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani;
Cisarua-Bogor, 19-20 Februari 1992. Bogor: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan RI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Perpustakaan
Nasional RI. Bogor. Hal: 328-334.
Iskandar S, Karlina E. 2004. Kajian pemanfaatan jenis burung air di Pantai Utara
Indramayu, Jawa Barat. Buletin Plasma Nutfah 10 (1): 4-9.
Ismanto. 2007. Inventarisasi potensi pakis (Cyathea sp) di Kabupaten Mamuju,
Provinsi Sulawesi Barat. Buletin Konservasi Alam 7 (1): 48-56.
Kartikawati SM. 2004. Pemanfaatan sumberdaya tumbuhan oleh masyarakat
Dayak Meratus di kawasan hutan pegunungan Gunung Meratus,
Kabupaten Hulu Sungai Tengah. [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana,
Institut Pertanian Bogor.
Kartiwa S, Martowikrido W. 1992. Hubungan antara tumbuhan dan manusia
dalam upacara adat di Indonesia. Di dalam : Seminar dan Lokakarya
Nasional Etnobotani; Cisarua-Bogor, 19-20 Februari 1992. Bogor:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia, Perpustakaan Nasional RI. Bogor. Hal: 149-155.
Kebler PJA, Sidiyasa K. 1994. Trees of the Balikpapan-Samarinda Area, East
Kalimantan, Indonesia. Netherlands: Tropenbos Foundation.
Koentjaraningrat. 1984. Masyarakat Desa di Indonesia. Jakarta: Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
LIPI. 2002. Laporan Eksplorasi Flora Nusantara : Cagar Alam Kersik Luway,
Kalimantan Timur. Bogor : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Pusat
Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor.
Magurran AE. 1988. Ecological Diversity and Its Measurement. London: Croom
Helm.
Martin GJ. 1998. Etnobotani : Sebuah Manual Pemeliharaan Manusia dan
Tumbuhan. Mohamed M, Penerjemah. Kinabalu: Natural History
Publications (Borneo).
Noor F. 2007. Pentingnya konservasi dalam pengelolaan hutan. Buletin
Konservasi Alam 3(7): 16-21.
Nopandry B. 2007. Hutan untuk masyarakat pemanfaatan lestari hutan konservasi.
Buletin Konservasi Alam 7 (1): 4-8.
Presidium Dewan Adat. 2008. Presidium Dewan Adat Kabupaten Kutai Barat. Di
dalam: Seminar dan Lokakarya Penataan Upacara Adat dan Penetapan
Hukum Adat; Sendawar, 21-22 Februari 2008. Hal: 45. [Tidak diterbitkan].
Purnawan BI. 2006. Inventarisasi keanekaragaman jenis tumbuhan di Taman
Nasional Gunung Gede Pangrango. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan.
Institut Pertanian Bogor.
77

Purwanto Y, Waluyo EB. 1992. Etnobotani Suku Dani di Lembah Baliem-Irian


Jaya : suatu telaah tentang pengetahuan dan pemanfaatan sumber daya
alam tumbuhan. Di dalam : Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani;
Cisarua-Bogor, 19-20 Februari 1992. Bogor: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan RI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Perpustakaan
Nasional RI. Bogor. Hal: 132-148.
Purwanto Y, Waluyo EB. 1993. Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional
oleh masyarakat Tanimbar-Kei. Media Konservasi 4 (2): 99-112.
Ratnasari J. 2007. Galeri Tanaman Hias Bunga. Jakarta: Penebar Swadaya.
Redaksi Agromedia. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Jakarta: Agromedia
Pustaka.
Rostiana O, Hadipoentyanti E, Abdullah A. 1992. Potensi bahan pewarna alami di
Indonesia. Di dalam : Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani;
Cisarua-Bogor, 19-20 Februari 1992. Bogor: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan RI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Perpustakaan
Nasional RI. Bogor. Hal: 127-131.
Rusli S, Nurdjanah N, Laksmanahardja MP. 1988. Keragaan dan program
penelitian pascapanen tanaman industri. Di dalam : Seminar Keragaan
Penerapan Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Bogor:
Departemen Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Tanaman
Industri. Cipayung. Hal: 75-83.
Samedi, Fautina IH. 2006. Manfaat CITES (Convention on International Trade in
Endangered Species of Wild Fauna and Flora) dalam Perlindungan Jenis
Tumbuhan dan Satwaliar di Habitat Alam. Buletin Konservasi Alam 6 (4):
4-9.
Sastrapradja O, Sutisna U, Kalima T. 1992. Keanekaragaman pemanfaatan jenis-
jenis pohon dipterocarpaceae oleh penduduk asli di Indonesia. Di dalam :
Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani; Cisarua-Bogor, 19-20
Februari 1992. Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Perpustakaan Nasional RI. Bogor.
Hal: 344-357.
Sastrohamidjojo H. 2004. Kimia Minyak Atsiri. Yogyakarta: Gadjah Mada Press.
Setyowati FM, Wardah. 2007. Keanekaragaman tumbuhan obat oleh masyarakat
Talang Mamak disekitar Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Riau.
Biodiversitas 8 (3): 228-232. http://www.pdf-search-
engine.com/keanekaragaman tumbuhan obat-pdf-pdf.html [14 November
2009].
Soekarman, Riswan S. 1992. Status pengetahuan etnobotani di Indonesia. Di
dalam : Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani; Cisarua-Bogor, 19-
20 Februari 1992. Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Perpustakaan Nasional RI. Bogor.
Hal: 1-7.
78

Soerianegara I, Indrawan A. 2005. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium


Ekologi Hutan Fakultas Kehutanan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Suhartrislakhadi D. 2007. Konservasi sumberdaya genetik tanaman hutan. Buletin
Konservasi Alam 7 (2): 22-27.
WALHI. 1988. Pengendalian Hama Alternatif Lewat Pertanian Kampungan.
Jakarta: PAN (Pesticide Action Network)-WALHI (Wahana Lingkungan
Hidup).
Waluyo EB, Rifai MA. 1992. Etnobotani dan pengembangan tumbuhan pewarna
Indonesia : ulasan suatu pengamatan di Madura. Di dalam : Seminar dan
Lokakarya Nasional Etnobotani; Cisarua-Bogor, 19-20 Februari 1992.
Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia, Perpustakaan Nasional RI. Bogor. Hal: 119-131.
Uji T, Wiriadinata H, Kitagawa I, Shibuya H, Ohashi K. 1992. Penelitian
pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional di Rejang Lebong,
Bengkulu. Di dalam : Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani;
Cisarua-Bogor, 19-20 Februari 1992. Bogor: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan RI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Perpustakaan
Nasional RI. Bogor. Hal: 323-327.
Zein U. 2005. Pemanfaatan tumbuhan obat dalam upaya pemeliharaan kesehatan.
Medan: Universitas Sumatera Utara. http://www.pdf-search-
engine.com/pemanfaatan tumbuhan obat-pdf.html [14 November 2009].
Zuhud EAM, Ekarelawan, Riswan S. 1994. Hutan Tropika Indonesia sebagai
Sumber Keanekaragaman Plasma Nutfah Tumbuhan Obat dalam
Pelestarian Pemanfaatan Keankaeragaman Tanaman Obat Hutan Tropika
Indonesia. Bogor: Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas
Kehutanan IPB-Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN).
Zuhud EAM, Hikmat A, Siswoyo, Sandra E, Sumantri H. 2000. Inventarisasi,
identifikasi dan pemetaan potensi wanafarma Provinsi Jawa Timur :
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Meru Betiri,
Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Alas Purwo. Laporan Akhir.
Fahutan IPB. Bogor.
Zuhud EAM, Hikmat A, Siswoyo, Sandra E, Adhiyanto E. 2001. Buku Acuan
Umum Tumbuhan Obat Indonesia Jilid IV. Bogor: Yayasan Sarana Wana
Jaya, Fakultas Kehutanan IPB.
79

LAMPIRAN
80

Lampiran 1 Daftar rekapitulasi spesies tumbuhan di Kampung Keay


No. Famili Nama Lokal Nama Ilmiah Habitus
1 Acanthaceae Rudaq* Rhinacanthus nasutus Kurz. Perdu
2 Terujaq* Dicliptera chinensis Ness Herba
3 Terujaq oloq* Jacobinia ghiesbreghtiana Herba
Benth.ex Hookk.f.
4 Pecah beling* Ruellia napifera Zoll Mor Semak
5 Komat sirang* Ruellia rosea Hemsl. Herba
6 Agavaceae Biyowo * Cordyline fruticosa (I.) A. Herba
Chev.
7 Bakuk’ng* Dracaena sanderiana Vand. Herba
Ex L.
*
8 Sansevieria trifasciata Prain. Herba
9 Nanas duri* Agave mericana L. Herba
10 Amaranthaceae Gerongok’ng* Celosia argentea L. Herba
11 Amaryllidaceae Bakung* Hippeastrum sp. Herba
12 Bawang- Zephyranthes candida Herba
bawangan*
13 Pemusi* Eurycles amboinensis Loud. Herba
14 Doyo* Curculigo latifolia Dryand. Herba
15 Anacardiaceae Asam payang*+ Mangifera pajang Pohon
16 Benung*+ Gluta renghas L. Pohon
17 Encam* Mangifera indica L. Pohon
18 Kuini* Mangifera odorata Griff. Pohon
19 Asam putar*+ Mangifera similis BL. Pohon
20 Asam tigu* Mangifera sp.1 Pohon
21 Asam linggau* Mangifera sp.2 Pohon
22 Asam kelauq*+ Mangifera sp.3 Pohon
23 Asam busur+ Mangifera sp.4 Pohon
24 Asam palong+ Mangifera caesia Jack Pohon
25 Asam udang+ Mangifera sp.5 Pohon
26 Empakuq+ Parishia insignis Hook.f. Pohon
27 Tentak’ng+ Buchanania arborescens BL. Pohon
28 Anisophylleaceae Benuang Anisophyllea disticha Baill. Pohon
rangka*+x
29 Annonaceae Akar Artabotrys suaveolens BL. Liana
mengkelagit *+
30 Somputn*+ Goniothalamus macrophyllus Perdu
Hook.f. & Thoms.
31 Nakatn belana* Annona muricata L. Pohon
32 Akar muno+ Uvaria lobbiana (Hook.f. & Liana
Thoms.) Merr.
33 Emparai+ Polyalthia sp. Pohon
34 Mami+ Fissistigma manubriatum Pohon
(Hook.f. & Thoms) Merr.
35 Meliwe+ Polyalthia rumpnii Merill Pohon
*
36 Apiaceae Centella asiatica L. Herba
37 Daun sop* Apium gravedens L. Herba
*
38 Coriandrum sativum L. Herba
39 Apocynaceae Lelutung* Dyera costulata (Mia.) Hook. Pohon
f.
40 Tapak darah* Catharanthus roseus (L.) G. Herba
Don.
41 Kembang kuning* Allamanda cathartica L. Perdu
42 Araceae Sabeq ayus*+ Schismatoglottis sp. Herba
43 Tonai* Caladium sp. Herba
44 Long lamaq*+ Homalomena cordata Schott. Herba
81

Lampiran 1 (Lanjutan)
No. Famili Nama Lokal Nama Ilmiah Habitus
45 Bekulau* Alocasia macrorrhiza Schott. Herba
46 Keladi merah* Caladium hortulanum Herba
47 Akar ngongong+ Rhaphidophora sylvestris Liana
Engl.
48 Omang+ Rhaphidophora korthalsiana Liana
Herb. Lugd.
49 Araliaceae Daun teh* Nothopanax filicifolia Hort. Perdu
50 Arecaceae Jemiaq* Metreoxylon rumphii Mart. Palma
51 Uwe sokaq+ Calamus caesius BL. Liana
52 Nyui* Cocos nucifera L. Palma
53 Sepotn* Areca catechu L. Palma
54 Sarap* Arenga pinnata Merr. Palma
55 Daun biruq* Licuala valida Rumph. Palma
56 Empuratn* Salacca zalacca (Gaertn.) Palma
Voss
57 Uwe pelas*+ Calamus sp. Liana
58 Jerangau* Acorus calamus L. Herba
59 Kelapa sawit * Elaesis guineensis Jacq. Palma
60 Ukor* Caryota sp. Palma
61 Nangaq* Metreoxylon sp. Palma
62 Empuratn hutan* Salacca cf. edulis Reinw. Palma
63 Uwe sit*+ Daemonorops sp. Liana
64 Sepotn sentawar* Areca sp. Palma
65 Palem jari* Rhapis excels Palma
66 Palem kipas* Licuala paladosa Palma
67 Palem putri* Veitchia merrillii Palma
68 Uwe kotoq* - Liana
69 Uwe urya* - Liana
70 Uwe ngono* Calamus manan Miq. Liana
71 Uwe meaq*+ Korthalsia sp. Liana
72 Uwe danan+ Korthalsia cf. scortechinii Liana
Becc.
73 Asphodelaceae Lidah buaya* Aloe vera L. Herba
74 Aspleniaceae Empulung*+x Asplenium nidus L. Epifit
75 Asteraceae Muk’ng* Blumea balsamifera DC. Herba
76 Blewo* Cosmos caudatus H. B. K Perdu
77 Sembung* Blummea balsamifera (L.) DC. Perdu
78 Daun luntas* Pluchea indica (L.) Less. Semak
*
79 Ageratum conyzoides L. Herba
80 Taenayatn* Adenostema laevenia Kunze Herba
81 Auriculariaceae Jamur kuping* Auricularia polytricha Sacc. Herba
82 Balsaminaceae Pasar* Impatiens balsamina L. Herba
83 Basellaceae Kelonoy* Basella rubra L. Herba
84 Bixaceae Geligam* Bixa orellana L. Perdu
85 Bombacaceae Kalang*+x Durio zibethinus Murr Pohon
86 Kertongan*+ Durio griffithii Bakh. Pohon
87 Elai* Durio kutejensis Becc. Pohon
88 Kapuk* Ceiba pentandra L. Gaertn. Pohon
89 Bromeliaceae Terincing* Ananas comosus (L.) Merr. Herba
90 Terincing meaq* Cryptanthus acaulis Herba
91 Burseraceae Jatn*+ Santiria griffithii (Hook. f.) Pohon
Engl.
92 Engkeronong+ Santiria laevigata BL. Pohon
93 Meluwing+ Canarium caudatum King. Pohon
94 Putang pit+ Canarium denticulatum BL. Pohon
95 Caesalpiniaceae Merejang+ Sindora velutina Baker. Pohon
82

Lampiran 1 (Lanjutan)
No. Famili Nama Lokal Nama Ilmiah Habitus
96 Caricaceae Ketelaq* Carica papaya L. Herba
97 Celastraceae Pelehet+ Microtropis sumatrana Merr. Pohon
98 Clusiaceae Empana+ Garcinia sizygifolia Pierre Pohon
99 Keni+ Garcinia sp. Pohon
100 Connaraceae Akar pengesik*+ Roureopsis emarginata (Jack.) Liana
Merrill.
101 Convolvulaceae Ayaq* Ipomoea batatas Poir. Herba
102 Kangkung* Ipomoea reptana Poir. Herba
103 Akar 2+ Eycibe malaccensis C. B. Liana
Clarke
104 Crassulaceae Serampolum* Kalanchoe pinnata (Lam.) Per. Herba
105 Cucurbitaceae Gambas* Luffa acutangula Roxb. Herba
106 Lempeng pera* Luffa cylindrica Roem. Herba
107 Labu kuning* Cucurbita moschata Durch. Herba
108 Labu siam* Sechium edule (Jacq.) Sw. Herba
109 Timun* Cucumis sativus L. Herba
110 Cycadaceae Mawar jambe* Cycas revolute Thunb. Perdu
111 Pakis haji* Cycas rumphii Miq. Palma
112 Cyperaceae Kajak’ng* Mapania palustris Perdu
113 Simpiringx Scleria sumatrensis Retz. Herba
114 Rumput teki* Cyperus rotundus L. Herba
x
115 Cyperus kyllingia Endl. Herba
116 Dichapetalaceae Langir wakai* Dichapetalum sp. Liana
117 Dilleniaceae Akar koyur+ Tetracera scandens Gilg & Liana
Werdem
118 Dioscoreaceae Gadung* Dioscorea hispida Dennst. Semak
119 Dipterocarpaceae Kapur* Dryobalanops sp. Pohon
120 Kahoy* Shorea balangeran Burck. Pohon
121 Orai*+ Shorea macrophylla (De Pohon
Vriese) P.S. Ashton
122 Lempung*+ Shorea sp. 1 Pohon
123 Lempung bura+ Shorea sp. 2 Pohon
124 Lempung suit+ Shorea sp. 3 Pohon
125 Jengatn* Shorea laevifolia Endert Pohon
126 Bernunuq* Dipterocarpus sp. Pohon
127 Dryopteridaceae Pakuq param*x Nephrolepis biserrata Paku-pakuan
128 Pakuq kanaux Pteridium sp. Paku-pakuan
129 Elaeocarpaceae Engkodoy*+ Elaeocarpus glaber BL. Pohon
130 Gancilai+ Elaeocarpus sp. Pohon
131 Euphorbiaceae Bengkuk’ng*+ Macaranga gigantean Muell. Pohon
Arg.
132 Nakatn belana* Annona mucirata L. Perdu
133 Kelikiq* Ricinus communis L. Perdu
134 Jabau* Manihot utilisima Pohl. Herba
135 Karet*+x Hevea brasiliensis Muell. Arg. Pohon
136 Pasi* Baccaurea edulis Merr. Pohon
137 Mawoy*+ Baccaurea sp. Pohon
138 Situn* Sauropus androgynus (L.) Perdu
Merr.
139 Lemposu*+ Baccaurea racemosa Muell. Pohon
Arg.
140 Komat* Codiaeum variegatum (L.) BI. Perdu
141 Mawah* Mallutus paniculatus Muell. Pohon
Arg.
142 Peyai*+ Galearia filiformis Boerl. Pohon
143 Pahaq*+ Elateriospermum tapos BL. Pohon
83

Lampiran 1 (Lanjutan)
No. Famili Nama Lokal Nama Ilmiah Habitus
144 Nancang*+ Macaranga pruinosa Muell. Pohon
Arg.
145 Perijaq* Aleurites moluccana (L.) Pohon
Willd.
146 Kemudi patah* Pedilanthus tithymaloides (L.) Herba
Poit.
147 Jarak* Jatropha curcas L. Perdu
148 Kemenay* Croton tiglium L. Perdu
149 Pohon yodium* Jatropha multifida L. Perdu
150 Pemangir * Daphniphyllum laurinum Pohon
Baill.
151 Entolai+ Microdesmis caseariaeolia Pohon
Planch. ex Hook.f.
152 Losi losoq+ Baccaurea parviflora Muell. Pohon
Arg.
153 Nancang rayau+ Macaranga sp. Pohon
154 Fabaceae Akar kerop*+ Bauhinia tomentosa L. Liana
155 Akar kedot*+ Spatholobus ferrugineus Liana
Benth.
156 Akasia* Acacia mangium Willd. Pohon
157 Asam keranji* Dialium laurinum Baker Pohon
158 Tuaq* Derris elliptica (Sweet) Benth. Liana
159 Potai*+ Parkia speciosa Hassk. Pohon
160 Jering*+ Pithecellebium jiringa Prain. Pohon
161 Nanan* Vigna sinensis L. Herba
162 Kacang mandau* Canavalis ensiformis DC. Herba
163 Geringak’ng* Cassia alata L. Perdu
164 Pupuq pulut*x Clitoria laurifolia Desv. Semak
165 Kesapang piaq*+ Archidendron clepearia Pohon
166 Ekor kucing* Uraria lagopodiodes Desv. Perdu
167 Akar berentimun+ Dalbergia rostrata Grah. ex Liana
Prain.
168 Akar selampat+ Phanera finlaysoniana Benth. Liana
169 Keranyiq+ Fordia johorensis T. C. Pohon
Whitm.
170 Keranji* Dialium platysepalum Backer Pohon
171 Puti*+ Koompassia malaccensis Pohon
Taub.
172 Fagaceae Peleleq daun Lithocarpus blumeanus Pohon
kecil*+ (Korth.) Rehder
173 Kumpat+ Castanopsis inermis (Lindl. ex Pohon
Wall.) B. & H.
174 Limat+ Castanopsis acuminatissima Pohon
A. DC.ex Hance
175 Peleleq daun Lithocarpus gracilis (Korth.) Pohon
besar+ Soepadmo
176 Flacourtiaceae Lalatn+ Hydnocarpus heterophylla BL. Pohon
177 Merowah+ Hydnocarpus polypetala Pohon
(Sloot.) Sleumer
178 Merore+ Hydnocarpus polypetala Pohon
(Sloot.) Sleumer
179 Gleicheniaceae Jangak’ngx Gleichenia linearis Semak
180 Gnetaceae Akar keliat+ Gnetum gnemonoides Brongn. Liana
181 Hypericaceae Irat* Cratoxylum arborescens Pohon
(Vahl) BL.
182 Iridaceae Bawang bromot* Eleuthorine americana Merk. Herba
84

Lampiran 1 (Lanjutan)
No. Famili Nama Lokal Nama Ilmiah Habitus
183 Kemangi* Ocimum sanctum L. Herba
184 Lamiaceae Kumis kucing* Orthosiphon aristatus (BI) Herba
Miq.
185 Pangir wakai* Clerodendrum thomsonae Liana
Balf. F.
186 Telaseh* Ocimum basilicum L. Semak
187 Lauraceae Ayau buah Litsea mappacea Boerl. Pohon
kuning*+
188 Ayau buah Litsea firma Hokk.f. Pohon
merah*+
189 Kayu manis* Cinnamomum burmannii BL. Pohon
190 Toluyatn* Eusideroxylon zwageri Teysm. Pohon
& Binned.
191 Liliaceae Luwaq*x Dianella ensifolia D.C. Herba
192 Bawang bura* Allium sativum L. Herba
193 Linaceae Akar ketuhai+ Indorouchera griffithiana H. Liana
Hallier
194 Loganaceae Engkuduqx Fagraea racemosa Jack ex Perdu
Wall.
195 Loranthaceae Nunuq pengalah* Helixanthera coccinea Dancer Liana
196 Lycopodiaceae Jangak’ng pereyx Lycopodium cernuum Liana
197 Lygodiaceae Pakuq 1x Lygodium sp. Liana
198 Lythraceae Daun pacar* Lawsonia inermis L. Perdu
199 Magnoliaceae Arau+ Elmerillia tsiampacca (L.) Pohon
Dandy
200 Malvaceae Gedi* Hibiscus manihot L. Perdu
201 Rosela* Hibiscus cannabinus L. Perdu
202 Melastomataceae Buno *+ Memecylon myrsinoides BL. Pohon
203 Bakakang buluq*x Clidemia hirta Don. Perdu
204 Bakakang* Melastoma candidum Don. Perdu
205 Kuncing ngadaq+ Pternandra rostrata (Cogn.) Pohon
M. P. Nayar
206 Meliaceae Langsat *x Lansium domesticum Corr Pohon
207 Menispermaceae Wakai ketikong* Fibraurea tinctoria Loureiro Herba
208 Akar sampai* Tinospora tuberculata (Lmk) Liana
Beumee ex. K. Heyne
209 Nulang kokoq+ Albertsia papuana Becc. Pohon
210 Moraceae Siratn* Antiaris toxicaria Lesch. Pohon
211 Sukun* Artocarpus communis Forst. Pohon
212 Nakatn*+ Artocarpus heterophyllus Pohon
Lam.
213 Cempedak* Artocarpus champeden Pohon
Spreng.
214 Pepuan*+ Artocarpus anisophyllus Miq. Pohon
215 Kulur* Artocarpus altilis (Parkison) Pohon
Fosberg
216 Suwek’ng* Artocarpus sp. Pohon
217 Pekaluk’ng*+ Artocarpus elastic Reinw. Pohon
218 Nunuq*+ Ficus rostrata Hort. ex Miq. Pohon
219 Pudoq*+ Parartocarpus sp. Pohon
220 Benturung+ Artocarpus rigida BL. Pohon
221 Obeq+ Ficus hirta Vahl. Pohon
222 Daraq+ Artocarpus dadah Miq. Pohon
223 Empar olau+ Ficus aurata Corner Perdu
224 Musaceae Jeloq* Musa paradisiaca L. Herba
225 Pisang hias* Heliconia colinsiana Herba
85

Lampiran 1 (Lanjutan)
No. Famili Nama Lokal Nama Ilmiah Habitus
226 Sewetn* Musa acuminate Colla. Herba
227 Myristicaceae Deraya buluq*+ Horsfieldia glabra Warb. Pohon
228 Deraya batu+ Gymnacranthera sp. Pohon
229 Deraya dokor+ Gymnacranthera ocellata Pohon
R.T.A. Schoten
230 Myrtaceae Gemong* Syzygium malasccense L. Pohon
231 Jambu air* Syzygium aqueum Burm. f. Pohon
232 Jamuq* Psidium guajava L. Perdu
233 Kelabetiq*+x Syzygium zeeylanicum Perdu
234 Keramunting* Syzygium spicatum Lamk. Perdu
235 Way pulut* Syzygium sp. Pohon
236 Pitaq+ Syzygium pycnanthum Merrill Pohon
& Perry
237 Cengkeh* Syzygium aromaticum (L.) Pohon
Merr. & L. M. Perry
238 Lasaq*+ Syzygium polyanthum (Wight.) Pohon
Walp.
239 Nepenthaceae Ngongong* Nepenthes sp. Herba
240 Nyctaginaceae Bunga kertas* Bougainvillea glabra Choisy Perdu
241 Bunga pukul Mirabilis jalapa L. Herba
empat*
242 Oleaceae Popot* Jasminum sambac (L) Ait. Semak
243 Orchidaceae Anggrek hitam* Coelogyne pandurata J. J. Sm. Epifit
& Schltr.
244 Anggrek tebu* Grammatophyllum speciosum Epifit
245 Anggrek merpati* Dendrobium crumenatum Sw. Epifit
246 Anggrek kuping - Epifit
kerbau*
247 Anggrek 1* Vanda sp. Epifit
248 Anggrek 2* Coelogyne sp. Epifit
249 Anggrek 3* - Epifit
250 Anggrek 4* - Epifit
251 Anggrek 5* - Epifit
252 Anggrek 6* - Epifit
253 Anggrek 7* - Epifit
254 Anggrek 8* - Epifit
255 Anggrek 9* - Epifit
x
256 Vanilla sp. Herba
257 Oxalidaceae Beliming Averrhoa bilimbi L. Pohon
tempuru*
258 Kedondong* Spondias dulcis Forst. Pohon
259 Beliming manis* Averrhoa carambola L. Pohon
260 Pengo*+ Antidesma montana L. Pohon
261 Pandanaceae Pudaq* Pandanus amaryllifolius Herba
Roxb.
262 Passifloraceae Markisa* Passiflora edulis Sims Herba
263 Akar Bangka+ Adenia cordifolia Engl. Liana
264 Kangkong* Passiflora quadrangularis L. Herba
265 Rakap okak* Piper sarmentosum Roxb. ex Herba
Hunter
266 Piperaceae Rakap* Piper betle L. Herba
267 Sahang* Piper ningrum L. Liana
268 Poaceae Bane temiang* Schizostachyum blumei Nees. Bambu
269 Bane betung* Dendrocalamus asper Backer Bambu
270 Bane baloq* Gigantochloa atter (Hassk.) Bambu
Kurz.
86

Lampiran 1 (Lanjutan)
No. Famili Nama Lokal Nama Ilmiah Habitus
271 Setu* Andropogon zizanoides Urban. Herba
272 Serai* Cymbopogon citratus (DC.) Herba
Stapf
273 Serai jemuq* Cymbopogon nardus (L.) Herba
Rendle.
274 Touq* Saccharum officinarum L. Herba
275 Pare* Oryza sativa L. Herba
276 Jagung* Zea mays L. Herba
277 Pulut* Oryza glutinosa L. Herba
278 Tempokah* Ischaemum rugosum Salisb. Herba
279 Bane tolang Schizostachyum grandle Bambu
soloq* Ridley
280 Padang*x Imperata cylindrica (L.) P. Herba
Beauv.
281 Tautoli* Saccharum edule Hassk. Herba
x
282 Axonopus compressus Herba
(Swartz) Beauv.
x
283 Brachiaria distachya (L.) Herba
Stapf.
x
284 Cynodon dactylon (L.) Pers. Herba
x
285 Paspalum comersonii Lamk. Herba
x
286 Paspalum conjugatum Berg. Herba
x
287 Andropogon aciculatus Retz. Herba
288 Polygalaceae Bangkat+ Xanthophyllum affine Korth. Pohon
ex Miq.
289 Kerabumun Xanthophyllum affine Korth. Pohon
botoq+ ex Miq.
290 Polypodiaceae Pakuq*+x Stenochlaena palustris (Burm. Paku-pakuan
F.) Bedd.
291 Pakuq lawa* Diplazium esculentum Swartz. Paku-pakuan
292 Kerakap*+x Platycerium bifurcatum (Cav.) Epifit
C. Chr.
293 Pteridaceae Paku hias 1* Phlebodium aureum Epifit
294 Rosaceae Geme*+ Prunus javanica Miq. Pohon
295 Mawar* Rosa chinensis Jacq. Perdu

296 Rubiaceae Gambir* Uncaria gambir Hunter R. Perdu


297 Engkudu* Morinda citrifolia L. Perdu
298 Titukng galeng* Myrmecodia disticha Epifit
299 Kopi*+ Coffea robusta L. ex De Willd. Perdu
300 Bunga putih* Gardenia jasminoides Ellis Perdu
301 Berentoyung+ Rhotmania macrophylla R. Br. Pohon
302 Kelabunay+ Tricalysia malaccensis Merrill Pohon
303 Kelair+ Tricalysia singularis K. Pohon
Schum
304 Mantuleng juwe+ Tricalysia singularis K. Pohon
Schum.
305 Tumbuhan x+ Chasalia curviflora Thw. Pohon
306 Lengkokoqx Psychotria sarmentosa BL. Liana
307 Rumput Borreria latifolia (Aubl.) K. Liana
mingguanx Sch.
308 Ruscaceae Daun suji* Pleomele angustifolia N. E. Perdu
309 Rutaceae Jeruk purut* Citrus hystrix DC. Perdu
310 Munte* Citrus sinensis (L.) Osbeck. Pohon
311 Jeruk nipis* Citrus aurantifolia (Christm.) Perdu
Swing.
87

Lampiran 1 (Lanjutan)
No. Famili Nama Lokal Nama Ilmiah Habitus
312 Wangun*+x Clausena anisum-olens Merrill Perdu
313 Sapindaceae Rambutan*+x Nephelium lappaceum L. Pohon
314 Keramuq* Nephelium sp. Pohon
315 Engkarai*+ Nephelium ramboutan-ake Pohon
(Labill.) P. W. Leenhouts
316 Selekop*+ Lepisanthes amoena (Hassk.) Perdu
Leent.
317 Namun+ Nephelium ancinatum Radlk. Pohon

318 Rekep+ Nephelium cuspidatum BL. Pohon


319 Schizaeaceae Mintu+ Lygodium circinatum Pohon
(Burm.f.) Swartz
320 Selaginellaceae Muring+ Selaginella doederleinii Herba
Hieron
321 Simaroubaceae Kelajempiq*+x Harisonia perforate Merrill Perdu
322 Mara uleq*+ Eurycoma longifolia Jack. Perdu
323 Smilaxaceae Bomoy*x Smilax zeylanica BL. Herba
324 Tempahongx Smilax zeylanica BL. Liana
325 Solanaceae Kecubung* Brugmansia suaveolens R. Br. Perdu
326 Terong bulat* Solanum indicum L. Perdu
327 Kelurang* Solanum torvum Swartz. Perdu
328 Terong asam* Solanum lasiocarpum Perdu
329 Terong ungu* Solanum melongena L. Perdu
330 Sabeq rawit * Capsicum frutescens L. Herba
331 Tomat* Solanum lycopersicum L. Herba
332 Sabeq merah* Capsicum annum L. Herba
333 Tembakau* Nicotiana tabacum L. Semak
334 Sterculeaceae Berempayang+ Scaphium macropodum (Miq.) Pohon
Beumee
335 Theaceae Nagag*+ Schima wallichii (DC.) Korth. Pohon
336 Thelypteridaceae Jiye*+ Pronephrium nitidum Holt. Semak
337 Thymelaeaceae Alas*+ Aquilaria malaccensis Lam. Pohon
338 Mahkota dewa* Phaleria macrocarpa (Scheff.) Perdu
Boerl.
339 Tiliaceae Pose+ Pentace polyantha Hassk. Pohon
340 Ulmaceae Blakangin* Trema orientalis (L.) BL. Pohon
341 Verbenaceae Pangir* Clerodendron paniculatum Perdu
Vahl.
342 Kelapapaq*+ Vitex pubescens Vahl. Pohon
*
343 Stachytarpheta jamaicensis Herba
(L.) Vahl.
344 Tumbuhan z* Clerodendron fragrans Vent. Semak
345 Bonsai* Duranta repens L. Perdu
346 Jati* Tectona gradis L. f. Pohon
347 Pangir* Clerodendron paniculatum Perdu
Vahl.
348 Sungkai*+ Peronema canescens Jack Pohon
349 Vitaceae Akar Cyratia trifolia Domin Liana
berempuyut*+
350 Akar kelahang+ Ampelocissus imperialis Liana
Planch.
351 Betete* Hornstedtia sp. Herba
352 Akar 1+ Cissus repens Lam Liana
353 Zingiberaceae Emperai* Cucurma cf. mangga Valeton Herba
& Zijb.
354 Kencur* Kaempferia galanga L. Herba
88

Lampiran 1 (Lanjutan)
No. Famili Nama Lokal Nama Ilmiah Habitus
355 Jaung* Etlingera elatior (Jack) R. M. Herba
Smith (Syn.)
356 Toutawai* Costus spesiosus (Koen.) Herba
Smith
357 Jomit * Curcuma domestica L. Herba
358 Jomit bura* Kaempferia rotunda L. Herba
359 Jomit lepoq* Curcuma xanthorrhiza Roxb. Herba
360 Loyaq bura* Zingiber officinale Rosc. Herba
361 Loyaq meaq* Zingiber sp. Herba
362 Topus tongau* Hornstedtia sp. Herba
363 - Perau*+ - Pohon
364 - Melipas*+ - Pohon
365 - Sinaq* - Liana
366 - Toyeq* - Perdu
367 - Meruri ipu* - Perdu
368 - Bentolan+ - Pohon
369 - Bentolan liyau+ - Pohon
370 - Berempate+ - Pohon
371 - Berengtaleng+ - Pohon
372 - Bewai+ - Pohon
373 - Elai liyau+ - Pohon
374 - Empas+ - Pohon
375 - Encamurang+ - Pohon
376 - Gentungan+ - Pohon
377 - Jematuq+ - Pohon
378 - Jompuk’ng+ - Pohon
379 - Kelabahuq+ - Pohon
380 - Kelahuq+ - Pohon
381 - Keramunyik’ng+ - Pohon
382 - Kopeq+ - Pohon
383 - Kotep+ - Pohon
384 - Legang+ - Pohon
385 - Nepoq+ - Pohon
386 - Palong+ - Pohon
387 - Pasi liwas+ - Pohon
388 - Ridatn+ - Pohon
389 - Selapuntiq+ - Pohon
390 - Sengkulai+ - Pohon
391 - Serkangkang+ - Pohon
392 - Tempeyai+ - Pohon
393 - Tengkang lesoq+ - Pohon
394 - Unggaq+ - Pohon
395 - Berai+ - Pohon
396 - Melapar+ - Pohon
Keterangan : * = Spesies tumbuhan berguna di Kampung Keay (hasil etnobotani)
+= Spesies tumbuhan hasil analisis vegetasi di hutan alam
x = Spesies tumbuhan hasil analisis vegetasi di kebun karet
88

Lampiran 2 Daftar tumbuhan obat yang digunakan masyarakat Kampung Keay


No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Bagian Kegunaan Cara pengolahan
1 Sepotn Areca catechu L. Arecaceae Buah, kulit a. Untuk menghilangkan a. Buah yang sudah masak langsung
rasa mual setelah makan dimakan
b. Menguatkan gigi b. Buah dan kapur sirih dibungkus
c. Pengganti rokok dengan daun sirih kemudian
d. Mengobati maag kronis langsung dikunyah-kunyah (nyirih)
e. Obat cacing c. Buah langsung dimakan kapan saja
f. Obat maag d. Buahnya yang masih muda diparut
g. Obat keputihan kemudian diperas dan diminum
h. Obat diabetes airnya
e. Batang mudanya (umbut) langsung
dimakan
f. Buah pinang yang masih kecil
(muda) ditumbuk, kemudian diperas
dan diminum airnya
g. Kulit buahnya yang muda direbus
dengan sirih, kemudian diminum
airnya
h. Buah pinang yang masih muda
direbus kemudian airnya diminum

2 Mara uleq Eurycoma longifolia Simaroubaceae Akar Menjaga stamina, malaria, Akarnya direbus kemudian diminum
Jack. sakit kuning, maag, kadar airnya
gula, asam urat,
menghilangkan rasa capek
atau pegal-pegal,
pinggang, demam, dan
tekanan darah tinggi
3 Nakatn Artocarpus Moraceae Daun Mengeringkan pusar bayi Daun nangka dan daun elai yang sudah
heterophyllus Lam. yang baru lahir kering ditumbuk halus dan dicampur
minyak kelapa. Kemudian dioleskan di

89
pusar bayi yang baru lahir
89

Lampiran 2 (Lanjutan)
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Bagian Kegunaan Cara pengolahan
4 Nakatn belana Annona muricata L. Moraceae Pucuk daun a. Obat demam a. Pucuk sirsak diremas, kemudian
b. Menghilangkan digunakan sebagai kompres
kerumut b. Pucuknya dibuat pupur dingin
c. Obat sakit perut Oleskan pada kulit yang berkerumut
c. Pucuknya direbus kemudian airnya
diminum
5 Ketelaq Carica papaya L. Caricaceae a. Daun a. Obat malaria a. Daun pepaya direbus kemudian
b. Akar b. Obat diabetes dimakan daunnya/diminum air
c. Buah c. Melancarkan rebusannya atau bisa juga daunnya
d. Getah pencernaan ditumbuk kemudian diperas dan
d. Obat luka diminum airnya.
b. Akar pepaya direbus, kemudian
diminum airnya (untuk diabetes)
c. Buahnya langsung dimakan atau
dibuat jus
d. Getah pepaya dioleskan pada kulit
yang terluka
6 Elai Durio kutejensis Bombacaceae Daun Mengeringkan pusar bayi Daun nangka dan daun elai yang sudah
Murr. yang baru lahir kering ditumbuk halus dan dicampur
minyak kelapa. Kemudian dioleskan di
pusar bayi yang baru lahir
7 Beliming manis Averrhoa carambola Oxalidaceae Pucuk daun Menghilangkan gatal-gatal Pucuk belimbing dicampur dengan air
L. sirih, kemudian dioleskan pada bagian
yang gatal
8 Selekop Lepisanthes amoena Sapindaceae Daun Menghilangkan kudis Daunnya yang muda diremas lalu
(Hassk.) Leent. dioleskan pada kulit
9 Rakap okak Piper sarmentosum Piperaceae Akar Obat batuk Akarnya dibersihkan lalu dimakan
L.
10 Daun sop Apium gravedens Apiaceae Seluruh bagian Obat tekanan darah tinggi Daun sop dihancurkan dan dicampur
Linn. air hangat, kemudian diminum
11 Labu siam Sechium edule (Jacq.) Cucurbitaceae Buah Obat tipes Buahnya dibuat jus, kemudian

90
Sw. diminum
90

Lampiran 2 (Lanjutan)
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Bagian Kegunaan Cara pengolahan
12 Nyui Cocos nucifera L. Arecaceae Air buah a. Menghilangkan a. Air kelapa dibakar (airnya masih di
kerumut dalam batok), kemudian diminum
b. Obat campak airnya
b. Air kelapa direbus sebentar lalu
airnya diminum
13 Rakap Piper betle L. Piperaceae Daun a. Mengeringkan pusar a. Daunnya direbus, kemudian airnya
bayi yang baru lahir dicampur gambir. Setelah itu
b. Menghilangkan bau dioleskan di pusar bayi yang baru
mulut dan lahir
mengeluarkan ulat-ulat b. Daunnya direbus kemudian airnya
pada gigi berlubang dibuat kumur-kumur
c. Obat sakit perut saat c. Daunnya direbus dengan jahe,
haid (datang bulan) kemudian airnya diminum
d. Menghentikan mimisan d. Daunnya dicium terus
e. Obat sakit mata e. Daunnya direbus kemudian air
f. Obat keputihan rebusannya digunakan untuk
g. Obat luka mencuci mata
h. Menghilangkan bau f. Daunnya ditumbuk kemudian
badan diperas dan diminum airnya
g. Daunnya diremas lalu dioleskan
pada kulit yang terluka
h. Daunnya direbus, setelah matang
airnya digunakan untuk mandi
14 Bawang bura Allium sativum L. Liliaceae Umbi Obat tekanan darah tinggi Langsung dimakan (jika penderita tidak
memiliki maag). Namun, jika penderita
memiliki maag bawang putih harus
dibakar
15 Telaseh Ocimum basilicum L. Lamiaceae Biji a. Menghilangkan suara a. Biji telaseh dibuat minuman
parau (serak) b. Daun diremas kemudian
b. Menurunkan demam ditempelkan di jidat (buat kompres)
anak

91
91

Lampiran 2 (Lanjutan)
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Bagian Kegunaan Cara pengolahan
16 Loyaq bura Zingiber officinale Zingiberaceae Rimpang a. Menghilangkan suara a. Jahe direbus kemudian airnya
Rosc. parau (serak) diminum
b. Menghangatkan badan b. Jahe diparut kemudian diperas,
c. Menghilangkan rasa airnya untuk diminum
capek/pegal-pegal c. Jahe dan kunyit diparut, kemudian
setelah melahirkan diperas dan diminum airnya (untuk
d. Mempercepat keluarnya darah kotor)
darah kotor setelah d. Jahe diparut kemudian diambil
melahirkan airnya dan dicampur gula merah
e. Obat batuk e. Jahe diparut kemudian diminum
f. Obat masuk angin airnya
f. Rimpangnya direbus kemudian
diminum
17 Sahang Piper ningrum L. Piperaceae a. Akar a. Obat sakit gigi a. Akarnya dimasukkan ke dalam air.
b. Buah b. Mengobati malaria Kemudian airnya dibuat kumur-
kumur dan akarnya dikunyah
b. Buahnya langung dimakan tanpa
diolah terlebih dahulu
18 Akar pengesik Roureopsis Connaraceae Akar a. Obat sakit perut a. Kulit akar dibuang kemudian
emarginata (Jack) (mencret) direbus. Airnya untuk diminum
Merrill b. Meningkatkan stamina b. Akarnya direbus, kemudian
diminum airnya
19 Muk’ng Blumea balsamifera Asteraceae Daun, akar Obat sakit perut dan a. Daun diremas lalu dimasukkan
DC. mencret dalam air panas (air berubah jadi
hijau), kemudian airnya diminum
b. Daun atau akarnya direbus,
kemudian diminum airnya
c. Daunnya diremas lalu ditempelkan
diperut atau akarnya direbus lalu
airnya diminum
20 Komat Codiaeum Euphorbiaceae Daun Menyegarkan badan Daunnya direbus kemudian digunakan

92
variegatum (L.) BI. setelah melahirkan untuk mandi
92

Lampiran 2 (Lanjutan)
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Bagian Kegunaan Cara pengolahan
21 Lasaq Syzygium polyanthum Myrtaceae a. Kulit batang a. Obat sariawan a. Kulitnya diambil kemudian bagian
(Wight.) Walp. b. Daun b. Obat asam urat dalam kulit dikikis, lalu
dimasukkan dalam air panas. Airnya
digunakan untuk berkumur (dewasa)
dan dioleskan pada bibir/mulut
(pada anak-anak)
b. Daunnya direbus kemudian
diminum pada pagi dan sore
22 Uwe Calamus sp. Arecaceae Akar a. Sakit urat, sakit Akar rotan dibersihkan. Kemudian
pinggang, otot kaku diseduh dengan air panas dan diminum
b. Obat malaria
23 Kumis kucing Orthosiphon aristatus Lamiaceae a. Daun, a. Mengobati pegal-pegal, a. Daun, batang, dan akar direbus
(BI) Miq. batang, akar nyeri otot kemudian airnya diminum
b. Akar b. Mengobati sakit b. Akarnya direbus, kemudian airnya
pinggang dan kencing diminum/ semua bagian tumbuhan
manis direbus kemudian airnya diminum
c. Mengobati susah c. Akarnya direbus, kemudian airnya
kencing dan sakit diminum
pinggang d. Daunnya dimasak (dibuat bubur)
d. Maag, gejala usus buntu
24 Jamuq Psidium guajava L. Myrtaceae Daun, batang a. Obat sakit a. Pucuk daunnya direbus kemudian
perut/mencret airnya diminum atau bisa juga
b. Obat sariawan pucuknya langsung dimakan
b. Batang bagian dalamnya dikikis
kemudian oleskan pada mulut
25 Kelonoy Basella rubra L. Basellaceae Daun Obat bisul Daunnya diremas, kemudian
ditempelkan pada bisul
26 Rumput teki Cyperus rotundus L. Poaceae Daun Obat luka Rumput diremas atau ditumbuk,
kemudian ditempelkan di kulit yang
luka
27 Pecah beling Ruellia napifera Zoll Acanthaceae Daun Mengobati sakit pinggang, Daunnya direbus, kemudian diminum

93
Mor reumatik airnya
93

Lampiran 2 (Lanjutan)
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Bagian Kegunaan Cara pengolahan
28 Sungkai Peronema canescens Verbenaceae Daun a. Komplikasi (maag, a. Pucuk daun direbus kemudian
Jack ginjal, penyakit kuning) airnya diminum. Diminum rutin
b. Obat luka selama 3 bulan atau lebih
c. Obat tipes b. Pucuknya diremas lalu ditempelkan
d. Obat demam pada kulit yang luka
c. Pucuknya ditumbuk kemudian
diperas dan diminum airnya
29 Gedi Hibiscus manihot L. Malvaceae Daun Menjaga kesehatan Daun dipotong-potong dan dibuat
lambung (mempertebal bubur
kulit lambung)
30 Mahkota dewa Phaleria macrocarpa Thymelaeaceae Buah a. Obat kanker, luka a. Buah dicuci bersih dan diiris tipis,
(Scheff.) Boerl. lambung, beri-beri, kemudian dijemur sampai kering.
kencing manis, asam Irisan buah mahkota dewa yang
urat, tekanan darah sudah kering direbus dan diminum
tinggi airnya.
b. Obat ambeien b. Buah diiris tipis dan dijemur. Buah
yang telah kering kemudian direbus
dan airnya diminum. Sebelum
diminum sebaiknya disaring terlebih
dahulu (untuk ambeien)
31 Kelapapaq Vitex pubescens Verbenaceae Kulit batang a. Obat tipes a. Kulit batang kelapapaq direbus
Vahl. b. Obat luka kemudian diminum airnya
c. Obat pegal-pegal, b. Pucuknya diremas kemudian
demam ditempelkan pada kulit yamg terluka
d. Obat malaria dan sakit c. Pucuk daun atau kulitnya direbus,
perut kemudian airnya diminum
d. Pucuknya diremas lalu diminum
airnya
32 Rosela Hibiscus cannabinus Malvaceae Kulit bunga dan Mengobati maag a. Kulit bunganya direbus, kemudian
L. buah airnya diminum
b. Buahnya direbus, kemudian airnya

94
diminum
94

Lampiran 2 (Lanjutan)
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Bagian Kegunaan Cara pengolahan
33 Sembung - - a. Akar Mengobati muntaber dan a. Akarnya direbus kemudian diminum
b. Daun sakit perut airnya
b. Daunnya diremas dan dicampur
garam, kemudian diminum airnya
34 Perijaq Aleurites moluccana Euphorbiaceae Kulit, batang a. Obat tipes a. Kulit batang kemiri direbus
Willd. b. Obat maag kemudian diminum airnya/ kulit
c. Obat sariawan arinya dikikis dan direbus, setelah
d. Obat sakit perut itu diminum airnya
b. Kulit bagian dalamnya
dikikis/dikerik kemudian diambil
lendirnya lalu diminum
c. Batang bagian dalamnya dikikis
kemudian oleskan pada mulut
d. Kulit bagian dalamnya dikikis
kemudian ambil lendirnya dan
diminum
35 Langsat Lansium domesticum Meliaceae Kulit batang a. Obat tipes, obat demam a. Kulit batang langsat direbus
Corr. b. Obat malaria kemudian diminum airnya
c. Obat sakit perut b. Kulitnya (bagian dalam) direbus
kemudian diminum airnya
36 Engkudu Morinda citrifolia L. Rubiaceae Buah a. Obat kencing manis a. Buahnya direbus kemudian
b. Obat asam urat diminum airnya
c. Obat maag b. Buah yang masih muda diparut,
kemudian diperas dan diminum
airnya atau buahnya yang masak
diblender
c. Buahnya yang masih muda diparut
lalu diperas dan airnya diminum
37 Bonsai Duranta repens L. Verbenaceae Akar Mengobati tekanan darah Akarnya direbus lalu diminum airnya
tinggi
38 Taenayatn Adenostema laevenia Asteraceae Daun Menambah ASI Pucuknya dimasak dicampur dengan

95
Kunze bubur
95

Lampiran 2 (Lanjutan)
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Bagian Kegunaan Cara pengolahan
39 Jomit bura Kaempferia rotunda Zingiberaceae Rimpang dan a. Obat kencing manis a. Rimpangnya diparut, kemudian
L. daun b. Patah tulang airnya diperas dan diminum
b. Daunnya dipanaskan diatas api
sampai lalu, lalu diikat pada tulang
yang patah. Ada kepercayaan saat
memanaskan daun, selama proses
pelayuan daunnya tidak boleh
dibalik
40 Nunuq Helixanthera Loranthaceae Kulit batang a. Obat patah tulang a. Kulit batangnya dibakar lalu
pengalah coccinea Danser dan daun b. Obat sakit perut diikatkan pada bagian yang patah
c. Obat kuris b. Daunnya direbus kemudian
diminum airnya
c. Pucuknya ditumbuk lalu dicampur
dengan pupur dingin.
Penggunaannya dengan
mengoleskan pupur dingin yang
telah diberi sedikit air pada kulit
41 Serai Cymbopogon citratus Poaceae Batang a. Menghilangkan capek Batangnya direbus, kemudian airnya
(DC.) Stapf. (pegal-pegal) diminum
b. Kencing manis
42 Komat sirang Ruellia rosea Hemsl. Acanthaceae Daun a. Obat sakit tulang, a. Daunnya direbus, airnya buat mandi
menghilangkan capek, b. Daunnya diremas lalu dicampur
obat kudis/kuris dengan pupur dingin
b. Obat gatal
43 Padang Imperata cylindrica Poaceae Akar Obat sakit pinggang Akarnya direbus dengan air 2-3 gelas
(L.) P. Beauv. sampai tersisa setengahnya. Setelah itu
diminum selagi hangat
44 Toutawai Costus speciosus Zingiberaceae Air batang a. Obat pegal-pegal, a. Air dari dalam batangnya diminum
(Koen.) Smith. kencing batu b. Air dari dalam batangnya diambil
b. Obat lemah tulang dan lalu diamkan selama satu malam,

96
urat baru kemudian diminum
96

Lampiran 2 (Lanjutan)
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Bagian Kegunaan Cara pengolahan
45 Kelikiq Ricinus communis L. Euphorbiaceae Daun Obat tekanan darah tinggi Pucuknya diremas lalu diminum airnya
46 Serampolum Kalanchoe pinnata Crassulaceae Daun, akar a. Mengobati reumatik a. Daunnya diparut, kemudian
(lam.) Per. b. Menghilangkan bekas ditempelkan di bagian yang sakit
luka b. Daunnya diperut, kemudian
c. Mengobati luka bakar dicampur dengan pupur dingin
d. Menghilangkan pegal- c. Daunnya diremas/dihaluskan,
pegal kemudian ditempelkan di kulit yang
e. Mengobati asam urat terluka
f. Mengobati patah tulang d. Akarnya direbus kemudian diminum
dan keseleo airnya
g. Obat gatal e. Daunnya direbus kemudian
h. Mengobati kulit diminum airnya
tersiram air panas f. Daunnya dilayukan di api kemudian
i. Obat pegal- setelah layu diikatkan pada bagian
pegal/menambah yang patah/keseleo
stamina g. Daunnya ditumbuk sampai halus
kemudian airnya dioleskan pada
kulit yang gatal
h. Daunnya ditumbuk kemudian
dioleskan pada kulit
i. Daun/akarnya direbus kemudian
diminum airnya
47 Jomit Curcuma domestica Zingiberaceae Rimpang a. Obat bisul a. Rimpangnya direndam dengan
L. b. Obat sakit perut, sedikit air, kemudian dioleskan pada
demam/penurun panas bisul
pada anak, bau badan b. Rimpangnya diparut kemudian
c. Obat maag diperas dan diminum airnya
c. Rimpangnya direbus kemudian
airnya diminum
48 Geringak’ng Cassia alata L. Fabaceae Daun Menghilangkan penyakit a. Daunnya diremas/ditumbuk

97
kulit (panu, kurap) kemudian dioleskan pada kulit
97

Lampiran 2 (Lanjutan)
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Bagian Kegunaan Cara pengolahan
49 Kemudi patah Pedilanthus Euphorbiaceae Akar, getah, a. Mengobati patah tulang a. Akarnya dibakar hingga layu,
tithymaloides (L.) daun b. Keseleo kemudian diikatkan dibagian tulang
Poit. c. Mengobati gigitan yang patah
serangga b. Daun dipanaskan dengan api lalu
diikatkan pada bagian yang
keseleo/patah
c. Getahnya dioleskan pada bagian
yang digigit serangga
50 Gemong Syzygium Myrtaceae Buah Mengobati demam Buahnya yang matang langsung
malasccense L. berdarah dimakan
51 Wakai ketikong Fibraurea tinctoria Menispermaceae Akar Obat sakit kuning, liver a. Dipotong ujung-ujung akarnya
Loureiro dan kencing batu kemudian diambil airnya dan
diminum
b. Air yang ada didalam batang
diminum atau batangnya direbus
kemudian diminum airnya
52 Bekakang buluq Clidemia hirta Don. Melastomataceae a. Daun a. Obat luka a. Daun mudanya diremas, kemudian
b. Batang muda b. Obat sakit perut ditaruh di kulit yang terluka
c. Buah b. Batang muda atau buahnya dimakan

53 Ketumbar Coriandrum sativum Apiaceae Buah Mempercepat keluarnya Buah ketumbar dihaluskan, setelah
L. darah kotor setelah halus diberi air dan diminum
melahirkan
54 Toyeq Jatropha sp. Euphorbiaceae Getah Obat gatal Getahnya dioleskan pada kulit yang
terasa gatal
55 Tembakau Nicotiana tabacum L. Solanaceae Daun Obat luka Tembakaunya ditempelkan dibagian
yang luka
56 Tapak darah Catharanthus roseus Apocynaceae a. Akar, daun a. Obat kanker a. Akarnya direbus kemudian diminum
(L.) G. Don. b. Obat diabetes airnya
b. Akar atau daun direbus kemudian

98
diminum airnya
98

Lampiran 2 (Lanjutan)
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Bagian Kegunaan Cara pengolahan
57 Pakuq Stenochlaena Polypodiaceae Daun a. Menambah ASI dan a. Pakis yang digunakan adalah pakis
palustris (Burm. F.) menambah darah yang masih sangat muda (berwarna
Bedd. b. Menurunkan demam merah), pucuknya kemudian
anak dimasak (dibuat sayur)
b. Pucuknya diremas kemudian
ditempelkan di jidat (buat kompres)
58 Bawang bromot Eleuthorine Iridaceae Umbi a. Obat sakit perut a. Umbinya direbus kemudian
Americana Merk. b. Menghentikan diminum airnya
pendarahan setelah b. Umbinya diparut kemudian diperas
melahirkan dan airnya diminum
c. Obat tumor dan c. Umbinya diparut kemudian diperas
ambeien dan airnya diminum
d. Mempercepat keluarnya d. Umbinya diparut kemudian diperas
darah kotor setelah dan airnya diminum
melahirkan e. Umbinya direbus kemudian
e. Obat kanker diminum airnya
f. Menghilangkan bau f. Umbinya direbus kemudian
badan setelah diminum airnya
melahirkan g. Umbinya direbus kemudian
g. Obat sakit tulang diminum airnya
(reumatik)
59 Emperai Curcuma cf. mangga Zingiberaceae Rimpang a. Obat beri-beri a. Rimpangnya direbus kemudian
Valeton & Zijb. b. Obat bengkak-bengkak diminum airnya
b. Rimpangnya diparut lalu airnya
dicampur dengan bedak
dingin/dibalurkan pada bagian yang
bengkak
60 Jarak pagar Jatropha curcas L. Euphorbiaceae Getah a. Obat sariawan a. Getahnya dioleskan di bagian mulut
b. Menghilangkan yang sakit
bengkak pada b. Getahnya dioleskan dibekas
bayi/balita (setelah suntikan

99
suntik vaksin)
99

Lampiran 2 (Lanjutan)
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Bagian Kegunaan Cara pengolahan
61 Loyaq meaq Zingiber officinale Zingiberaceae Rimpang a. Menghilangkan rasa a. Jahe direbus kemudian airnya
Linn. var. Rubrum. capek/pegal-pegal diminum
b. Menghentikan b. Jahe diparut kemudian diperas dan
pendarahan setelah airnya diminum
melahirkan dan
mempercepat keluarnya
darah kotor
62 Bakuk’ng Dracaena sanderiana Agavaceae Daun Obat keseleo Daunnya dibakar sampai layu
Vand. Ex L. kemudian diikat di bagian yang keseleo
63 Kapuk Eriodendrum Bombacaceae Daun Obat penurun panas Daunnya yang muda dihaluskan sampai
aufractuosum D. C. halus kemudian dibuat kompres
64 Situn Sauropus androgynus Euphorbiaceae Daun a. Obat penurun panas a. Pucuknya dihaluskan kemudian
(L.) Merr. b. Melancarkan ASI dibuat kompres
c. Obat darah tinggi b. Daunnya dibuat sayur
c. Pucuknya direbus setengah matang
kemudian dimakan
65 Jeruk nipis Citrus aurantifolia Rutaceae Buah Obat batuk Jeruk nipis dibakar kemudian dicampur
(Christm.) Swing dengan kecap manis
66 Kemenay Croton tiglium L. Euphorbiaceae Akar a. Obat sakit gigi a. Akarnya digigit-gigit
b. Obat batuk b. Akarnya direbus dan diminum
airnya
67 Pecut kuda Stachytarpheta Verbenaceae Daun atau akar Mengobati tekanan darah Daun atau akarnya direbus kemudian
jamaicensis (L.) tinggi dan diabetes diminum airnya
Vahl.
68 Kencur Kaempferia galangal Zingiberaceae Daun, rimpang Menghilangkan pegal- Rimpangnya diparut kemudian diperas
L. pegal setelah melahirkan airnya dan diminum
69 Benuang rangka Anisophyllea disticha Anisophylleaceae Daun Mengobati luka Daun dicampur dengan pupur dingin
Baill. lalu dioleskan pada bagian yang luka
70 Long lamaq Homalomena cordata Araceae Batang Mengobati sakit polip Batangnya dicium terus
Schott.

100
100

Lampiran 2 (Lanjutan)
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Bagian Kegunaan Cara pengolahan
71 Titukng Myrmecodia tuberosa Rubiaceae Buah, akar a. Liver a. Direbus kemudian diminum airnya
galekng b. Tumor, sesak napas b. Sarang semut diiris kemudian
c. Obat sakit pinggang dan dijemur. Bisa langsung dimakan
reumatik c. Irisan sarang semut direndam
d. Obat asam urat dan dengan air panas kemudian
maag diminum
e. Kista, menghilangkan d. Buahnya direbus lalu diminum
pegal-pegal airnya
e. Akarnya direbus kemudian diminum
airnya
72 Sepotn Areca sp. Arecaceae Akar Mengobati sakit Akarnya (pohon yang masih muda)
sentawar tenggorokan direbus, kemudian diminum airnya
73 Tumbuhan z Clerodenron fragrans Verbenaceae Daun Menurunkan panas anak Daunnya dilayukan dengan api
Vent. kemudian diolesi dengan minyak
kelapa lalu ditempelkan pada perut
anak
74 Beliming Averrhoa bilimbi L. Oxalidaceae Buah a. Obat kanker a. Buahnya direbus dan dicampur gula
tempuru b. Obat tekanan darah merah
tinggi b. Pucuknya diremas lalu diambil
airnya
75 Daun luntas Pluchea indica (L.) Asteraceae Daun Obat tekanan darah tinggi Daunnya direbus kemudian diminum
Less. airnya
76 Pasar Impatiens balsamina Balsaminaceae Bunga Menurunkan panas pada Bunganya diremas kemudian
L. anak digunakan sebagai kompres
77 Jomit lepoq Curcuma Zingiberaceae Rimpang a. Mengobati sakit tulang, a. Rimpangnya direbus kemudian
xanthorrhiza Roxb. obat tipes diminum
b. Menghilangkan gatal b. Rimpang diparut lalu ditempelkan
setelah digigit ulat bulu pada bekas gigitan ulat bulu
78 Akar sampai Tinospora Menispemaceae Batang Anti racun (ular, kelabang, Batangnya langsung dimakan
tuberculata (lmk) kalajengking)

101
Beumee ex. K. Heyne
101

Lampiran 2 (Lanjutan)
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Bagian Kegunaan Cara pengolahan
79 Tempokah Ischaemum rugosum Poaceae Daun, batang a. Obat batuk a. Daunnya yang muda direbus atau
Salisb. b. Obat sakit perut langsung dimakan
b. Batangnya yang masih muda
direbus kemudian diminum airnya
80 Jambu air Syzygium aqueum Myrtaceae Daun a. Obat sakit perut pada a. Pucuknya dihaluskan kemudian
Burm. f. anak ditempelkan diperut
b. Menurunkan panas pada b. Pucuknya dihaluskan kemudian
anak ditempelkan didahi
81 Empuratn hutan Salacca cf. edulis Arecaceae Batang muda Menambah ASI Umbutnya dimasak dicampur dengan
Reinw. (umbut) bubur
82 Pohon yodium Jatropha multifida L. Euphorbiaceae Getah Obat luka Getahnya dioleskan pada kulit yang
terluka
83 Bakakang Melastoma candidum Melastomataceae Daun Obat luka Pucuknya dikunyah kemudian
Don. ditempelkan pada kulit yang terluka
84 Kelonoy Basella rubra L. Basellaceae Buah Obat luka Buah yang telah masak (berwarna
hitam) ditumbuk lalu dioleskan pada
kulit yang luka
85 Ngongong Nephentes sp. Nepenthaceae Air bunga Penyakit dalam (batu Air dari kantong semar (yang masih
ginjal, lambung) tertutup) diambil untuk diminum
86 Pemangir Daphniphyllum Euphorbiaceae Batang Obat sakit perut Batang dalamnya dikikis lalu
laurinum Baill. dimasukan dalam air kemudian
diminum
87 Jeloq Musa paradisiaca L. Musaceae Getah, air a. Obat luka a. Getah pisang dioleskan pada kulit
batang b. Obat muntaber yang terluka
b. Air batang pisang (yang dibagian
bawah) diminum
88 Pudaq Pandanus Pandanaceae Daun Obat tekanan darah tinggi Daun pandan yang masih muda
amaryllifolius Roxb. diremas lalu diperas. Air perasannya
untuk diminum
89 Tuaq Derris elliptica Fabaceae Akar Obat digigit kutu Akarnya ditumbuk kemudian

102
(Sweet) Benth. digosokan pada kulit
102

Lampiran 2 (Lanjutan)
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Bagian Kegunaan Cara pengolahan
90 Kopi Coffea robusta Linn. Rubiaceae Daun Obat malaria dan tipes Pucuknya diremas lalu diminum airnya
ex De Willd.
91 Merurui ipu - - Buah Obat malaria dan tipes Buahnya yang masak langsung
dimakan
92 - Ageratum conyzoides Asteraceae Daun Obat luka Daun diremas kemudian ditempelkan
L. pada kulit yang terluka
93 Terujaq oloq Jacobinia Acanthaceae Daun Obat luka Daunnya diremas lalu ditempelkan
ghiesbreghtiana pada kulit yang terluka
Benth.ex Hookk.f.
94 Topus tongau Hornstedtia sp. Zingiberaceae Akar a. Mempercepat keluarnya a. Akarnya direbus lalu airnya
darah kotor setelah diminum
melahirkan b. Akarnya ditumbuk kemudian
b. Patah tulang dibalurkan pada kaki atau tangan
yang patah lalu dibungkus dengan
bambu.
95 Perau - - Daun Obat luka Daunnya diremas lalu ditempelkan
pada kulit yang terluka

103
104

Lampiran 3 Beberapa spesies tumbuhan obat yang pemanfaatannya dicampur


dengan bahan lain
No. Bahan Ramuan Kegunaan Pengolahan
1 Daun komat (Codiaeum variegatum Menghilangkan Semua bahan direbus
(L.) BI.), daun jabau (Manihot pegal-pegal setelah kemudian gunakan untuk
utilisima Pohl.), benuang rangka melahirkan “betimung”
(Anisophyllea disticha Baill.), daun
emperai (Curcuma cf. mangga
Valeton & Zijb.), daun nagag
(Schima wallichii (DC.) Korth.)
2 Daun komat (Codiaeum variegatum Menyegarkan dan Semua bahan direbus
(L.) BI.) dan serai makan menyehatkan kemudian gunakan untuk
(Cymbopogon citratus (DC.) Stapf) badaan “betimung”
3 Rakap (Piper betle Linn.), sepotn Menguatkan gigi, Semua bahan disatukan
(Areca catechu L.), gambir (Uncaria obat sakit gigi kemudian langsung
gambir Hunter R), kapur sirih dimakan (nyirih)
4 Loyaq meaq (Zingiber sp.), sahang Menguatkan urat Semua bahan diparut,
(Piper ningrum L.), jomit (Curcuma setelah melahirkan kemudian diperas dan
domestica L.) dan kencur diminum airnya.
(Kaempferia galangal L.)
5 Daun rambutan (Nephelium Mempercepat Semua bahan direbus
lappaceum L.), daun jamuq keluarnya darah kemudian gunakan untuk
(Psidium guajava L.), daun komat kotor setelah “betimung”
(Codiaeum variegatum (L.) BI.), dan melahirkan
daun kelapapaq (Vitex pubescens
Vahl.)
6 Sepotn (Areca catechu L.), loyaq Obat maag dan Semua bahan direbus
bura (Zingiber officinale Rosc.), kencing manis kemudian diminum airnya
mara uleq (Eurycoma longifolia
Jack.)
7 Sepotn (Areca catechu L.), rakap Obat keputihan Semua bahan direbus
(Piper betle Linn.) dan jomit kemudian diminum airnya
(Curcuma domestica L.)
6 Emperai ((Curcuma cf. mangga Menyehatkan Semua bahan ditumbuk
Valeton & Zijb.), jomit lepoq badan (agar tidak dan direbus dengan gula
(Curcuma xanthorrhiza Roxb.), mudah sakit) merah. Setelah itu, hasil
kunyit (Curcuma domestica L.), rebusannya disaring dan
kencur (Kaempferia galangal L.), dimasukan dalam
loyaq bura (Zingiber officinale botol/wadah.
Rosc.), daun rakap (Piper betle L.),
daun jamuq (Psidium guajava L.),
daun mahkota dewa (Phaleria
macrocarpa (Scheff.) Boerl.)
Keterangan : “Betimung” merupakan sauna tradisional (menutupi badan dengan tikar dan
beberapa selimut hingga rapat dan ramuan yang telah direbus diletakkan
didalamnya).
105

Lampiran 4 Daftar spesies tumbuhan pangan di Kampung Keay


Bagian yang
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili
digunakan
1 Pare Oryza sativa L. Poaceae Biji
2 Kertogan Durio griffithii Bakh. Bombacaceae Buah
3 Elai Durio kutejensis Becc. Bombacaceae Buah
4 Kalang Durio zibethinus Murr. Bombacaceae Buah
5 Uwe urya - Arecaceae Batang (umbut)
6 Uwe meaq Korthalsia sp. Arecacea Batang (umbut)
7 Uwe ngono Calamus manan Miq. Arecaceae Batang (umbut)
8 Uwe kotoq - Arecaceae Batang (umbut)
9 Gambas Luffa acutangula Roxb. Cucurbitaceae Buah
10 Sukun Artocarpus communis Moraceae Buah
Forst.
11 Tautoli Saccharum edule Hassk. Poaceae Bunga
12 Jabau Manihot utilisima Pohl. Euphorbiaceae Umbi
13 Ayaq Ipomoea batatas Poir. Convolvulaceae Umbi
14 Pakuq Stenochlaena palustris Polypodiaceae Daun
(Burm. F.) Bedd.
15 Pakuq lawa Diplazium esculentum Polypodiaceae Daun, batang
Swartz.
16 Terincing Ananas comosus (L.) Merr. Bromeliaceae Buah
17 Ketelaq Carica papaya L. Caricaceae Buah, daun
18 Jagung Zea mays L. Poaceae Buah
19 Karet Hevea brasiliensis Muell. Euphorbiaceae Daun
Arg.
20 Nyui Cocos nucifera L. Arecaceae Buah, umbut
21 Jemiaq Metreoxylon rumphii Mart. Arecaceae Batang (sagu)
22 Sarap Arenga pinnata Merr. Arecaceae Buah
23 Asam payang Mangifera pajang Anacardiaceae Buah
24 Toyung bulat Solanum indicum L. Solanaceae Buah
25 Kelurang Solanum torvum Swartz. Solanaceae Buah
26 Jeloq Musa paradisiaca L. Musaceae Buah, bunga,
batang
27 Potai Parkia speciosa Hassk. Fabaceae Buah
28 Jering Pithecellebium jiringa Fabaceae Buah
Prain.
29 Sepotn Areca catechu L. Arecaceae Batang (umbut)
30 Kelapa sawit Elaesis guineensis Jacq. Arecaceae Batang (umbut)
31 Bane Dendrocalamus sp. Poaceae Rebung/tunas
32 Encam Mangifera indica L. Anacardiaceae Buah
33 Nakatn Artocarpus heterophyllus Moraceae Buah, biji
Lam.
34 Toyung asam Solanum lasiocarpum Solanaceae Buah
35 Blewo Cosmos caudatus H. B. K Asteraceae Daun
36 Kangkung Ipomoea reptana Poir. Convolvulaceae Daun
37 Sabeq ayus Schismatoglottis sp. Araceae Buah
38 Rambutan Nephelium lappaceum L. Sapindaceae Buah
106

Lampiran 4 (Lanjutan)
Bagian yang
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili
digunakan
39 Pasi Baccaurea edulis Merr. Euphorbiaceae Buah
40 Mawoy Baccaurea sp. Euphorbiaceae Buah
41 Nanan Vigna sinensis L. Fabaceae Buah
42 Toyung ungu Solanum melongena L. Solanaceae Buah
43 Cempedak Artocarpus champeden Moraceae Buah, biji, kulit
Spreng. buah
44 Munte Citrus sinensis (L.) Osbeck Rutaceae Buah
45 Lasaq Syzygium polyanthum Myrtaceae Buah
(Wight.) Walp.
46 Jaung Etlingera elatior (Jack) Zingiberaceae Buah, bunga
R.M.Smith (Syn.)
47 Betete Hornstedtia sp. Zingiberaceae Buah
48 Beliming tempuru Averrhoa bilimbi L. Oxalidaceae Buah
49 Situn Sauropus androgynus (L.) Euphorbiaceae Daun
Merr.
50 Gemong Syzygium malasccense L. Myrtaceae Buah
51 Keramuq Nephelium sp. Sapindaceae Buah
52 Gedi Hibiscus manihot L. Malvaceae Daun
53 Engkarai Nephelium ramboutan-ake Sapindaceae Buah
(Labill.) P.W.Leenhouts
54 Ukor Caryota sp. Arecaceae Batang (umbut)
55 Kapur Dryobalanops sp. Dipterocarpaceae Buah
56 Asam keranji Dialium laurinum Baker Fabaceae Buah
57 Kuini Mangifera odorata Anacardiaceae Buah
58 Pepuan Artocarpus anisophyllus Moraceae Buah
Miq.
59 Asam putar Mangifera similis BL. Anacardiaceae Buah
60 Asam tigu Mangifera sp. 1 Anacardiaceae Buah
61 Asam linggau Mangifera sp. 2 Anacardiaceae Buah
62 Kulur Artocarpus altilis Moraceae Buah
(Parkison) Fosberg
63 Kangkong Passiflora quadrangularis Passifloraceae Buah, daun
L.
64 Lempeng pera Luffa cylindrica Roem Cucrbitaceae Buah
65 Nangaq Metreoxylon sp. Arecaceae Batang (umbut)
66 Langsat Lansium domesticum Corr Meliaceae Buah
67 Gadung Dioscorea hispida Dennst. Dioscoreaceae Umbi
68 Tonai Caladium sp. Araceae Umbi
69 Sabeq rawit Capsicum frutescens L. Solanaceae Buah
70 Jamur kuping Auricularia polytricha Auriculariaceae Seluruh bagian
Sacc. tumbuhan
71 Tomat Solanum lycopersicum L. Solanaceae Buah
72 Lemposu Baccaurea racemosa Euphorbiaceae Buah
Muell. Arg
73 Kacang mandau Canavalis ensiformis DC. Fabaceae Buah
74 Kemangi Ocimum sanctum L. Lamiaceae Daun
107

Lampiran 4 (Lanjutan)
Bagian yang
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili
digunakan
75 Nakatn belana Annona mucirata L. Annonaceae Buah
76 Kedondong Spondias dulcis Forst. Anacardiaceae Buah
77 Beliming manis Averrhoa carambola L. Oxalidaceae Buah
78 Labu kuning Cucurbita moschata Cucurbitaceae Buah, daun
Durch.
79 Labu siam Sechium edule (Jacq.) Sw. Cucurbitaceae Buah
80 Timun Cucumis sativus L. Cucurbitaceae Buah
81 Jambu air Syzygium aqueum Myrtaceae Buah
82 Jamuq Psidium guajava L. Myrtaceae Buah
83 Empuratn Salacca zalacca (Gaertn.) Arecaceae Buah
Voss.
84 Touq Saccharum officinale L. Poaceae Batang
85 Markisa Passiflora edulis Sims. Passifloraceae Buah
86 Pulut Oryza glutinosa L. Poaceae Biji
87 Sabeq meaq Capsicum annum L Solanaceae Buah

Lampiran 5 Daftar spesies tumbuhan sebagai bahan bangunan di Kampung Keay


Bagian yang
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili
digunakan
1 Toluyatn Eusideroxylon zwageri Teysm. Lauraceae Batang
& Binnend.
2 Lempung Shorea sp. 1 Dipterocarpaceae Batang
3 Jengatn Shorea laevifolia Endert. Dipterocarpaceae Batang
4 Jati Tectona grandis L. f. Verbenaceae Batang
5 Lelutung Dyera costulata (Miq.) Hook.f. Apocynaceae Batang
6 Kapur Dryobalanops sp. Dipterocarpaceae Batang
7 Puti Koompassia malaccensis Taub. Fabaceae Batang
8 Bane betung Dendrocalamus asper Backer. Poaceae Batang
9 Bane baloq Gigantochloa atter (Hassk.) Poaceae Batang
Kurz.
10 Jemiaq Metreoxylon rumphii Mart. Arecaceae Daun
11 Bernunuq Dipterocarpus sp. Dipterocarpaceae Batang
12 Sungkai Peronema canescens Jack Verbenaceae Batang
13 Kalang Durio zibethinus Murr. Bombacaceae Batang
14 Asam payang Mangifera pajang Anacardiaceae Batang
15 Kahoy Shorea balangeran Burck. Dipterocarpaceae Batang
16 Orai Shorea macrophylla (De Dipterocarpaceae Batang
Vriese) P.S. Ashton
17 Nyui Cocos nucifera L. Arecaceae Daun
18 Ayau buah Litsea mappacea Boerl. Lauraceae Batang
kuning
19 Ayau buah Litsea firma Hook.f. Lauraceae Batang
merah
20 Nagag Schima wallichii (DC.) Korth. Theaceae Batang
21 Blakangin Trema orientalis (L.) BL. Ulmaceae Batang
22 Sepotn Areca catechu L. Arecaceae Batang
23 Peleleq Lithocarpus blumeanus Fagaceae Batang
(Korth.) Rehder
24 Sarap Arenga Pinnata Merr. Arecaceae Daun
108

Lampiran 5 (Lanjutan)
Bagian yang
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili
digunakan
25 Daun biruq Licuala valida Rumph. Arecaceae Daun
26 Empuratn Salacca zalacca (Gaertn.) Voss Arecaceae Daun
27 Akar kerop Bauhinia tomentosa L. Fabaceae Batang
28 Akar kedot Spatholobus ferrugineus Benth. Fabaceae Batang
29 Uwe pelas Calamus sp. Arecaceae Batang
30 Akar Cyratia trifolia Domin Vitaceae Batang
berempuyut
31 Akar Artabotrys suaveolens BL. Annonaceae Batang
mengkelagit
32 Bane temiang Schizostachyum blumei Poaceae Batang

Lampiran 6 Daftar spesies tumbuhan hias di Kampung Keay


No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Tempat asal
1 Kerakap Platycerium bifurcatum Polypodiaceae Hutan
(Cav.) C.Chr.
2 Empulung Asplenium nidus L. Aspleniaceae Hutan
3 Anggrek hitam Coelogyne pandurata J. J. Orchidaceae Hutan
Sm. & Schltr.
4 Anggrek tebu Grammatophyllum Orchidaceae Hutan
speciosum
5 Ngongong Nepenthes sp. Nepenthaceae Hutan
6 Daun teh Nothopanax filicifolia Araliaceae Dalam kampung
Hort.
7 Bakung Hippeastrum sp. Amaryllidaceae Dalam kampung
8 Pakuq param Nephrolepis biserrata Nephrolepidaceae Dalam kampung
9 Popot Jasminum sambac (L) Ait. Oleaceae Dalam kampung
10 Kembang Allamanda cathartica L. Apocynaceae Dalam kampung
kuning
11 Anggrek Dendrobium crumenatum Orchidaceae Hutan
merpati Sw.
12 Komat Codiaeum variegatum Bi. Euphorbiaceae Dalam kampung
13 Bawang- Zephyranthes candida Amaryllidaceae Luar kampung
bawangan
14 Bekulau Alocasia macrorrhiza Araceae Luar kampung
Schott.
15 Benipih Portulaca oleracea L. Portulacaceae Dalam kampung
16 Pemusi Eurycles amboinensis Amaryllidaceae Dalam kampung
Loud.
17 Bunga kertas Bougainvillea glabra Nyctaginaceae Luar kampung
Choisy
18 Bunga pukul Mirabilis jalapa L. Nyctaginaceae Luar kampung
empat
19 Bunga putih Gardenia jasminoides Ellis Rubiaceae Luar kampung
20 Biyowo Cordyline fruticosa (L.) Agavaceae Hutan
A.Chev
21 Keladi merah Caladium hortulanum Araceae Dalam kampung
22 Komat sirang Ruellia rosea Hemsl. Acanthaceae Dalam kampung
23 Lidah buaya Aloe vera L. Asphodelaceae Luar kampung
24 Lidah mertua Sansevieria trifasciata Agavaceae Luar kampung
Prain.
25 Long lamaq Homalomena cordata Araceae Hutan
Schott.
26 Mawar Rosa chinensis Jacq Rosaceae Luar kampung
109

Lampiran 6 (Lanjutan)
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Tempat asal
27 Mawar jambe Cycas revoluta Cycadaceae Luar kampung
28 Nanas duri Agave americana L. Agavaceae Luar kampung
29 Pakis haji Cycas rumphii Miq. Cycadaceae Luar kampung
30 Palem jari Rhapis excelsa Arecaceae Luar kampung
31 Palem kipas Licuala paladosa Arecaceae Luar kampung
32 Palem putri Veitchia merrillii Arecaceae Luar kampung
33 Pasar Impatiens balsamina L. Balsaminaceae Dalam kampung
34 Pisang hias Heliconia colinsiana Musaceae Luar kampung
35 Bakuk’ng Dracaena sanderiana Agavaceae Dalam kampung
Vand. Ex L.
36 Anggrek 1 Vanda sp. Orchidaceae Hutan
37 Rudaq Rhinacanthus nasutus Acanthaceae Dalam kampung
Kurz.
38 Serampolum Kalanchoe pinnata (lam.) Crassulaceae Dalam kampung
Per.
39 Tapak darah Catharanthus roseus (L.) Apocynaceae Dalam kampung
G. Don.
40 Terujaq Dicliptera chinensis Nees Acanthaceae Dalam kampung
41 Toutawai Costus megalobrachtea Zingiberaceae Dalam kampung
K.Schum.
42 Anggrek kuping - Orchidaceae Hutan
kerbau
43 Anggrek 2 Coelogyne sp. Orchidaceae Hutan
44 Anggrek 3 - Orchidaceae Hutan
45 Anggrek 4 - Orchidaceae Hutan
46 Anggrek 5 - Orchidaceae Hutan
47 Anggrek 6 - Orchidaceae Hutan
48 Anggrek 7 - Orchidaceae Hutan
49 Anggrek 8 - Orchidaceae Hutan
50 Anggrek 9 - Orchidaceae Hutan
51 Ekor kucing Uraria lagopodiodes Desv. Fabaceae Dalam kampung
52 Paku hias 1 Phlebodium aureum Polypodiaceae Hutan
53 Pangir wakai Clerodendrum thomsonae Lamiaceae Dalam kampung
Balf. F.
54 Gerongok’ng Celosia argentea L. Amaranthaceae Dalam kampung
55 Kembang sepatu Hibiscus rosa-sinensis L. Malvaceae Luar kampung
56 Pangir Clerodendron paniculatum Verbenaceae Dalam kampung
Vahl.
110

Lampiran 7 Daftar spesies tumbuhan sebagai kayu bakar di Kampung Keay


Bagian yang
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili
digunakan
1 Kelapapaq Vitex pubescens Vahl. Verbenaceae Batang, dahan,
ranting
2 Kelabetiq Syzygium zeeylanicum Myrtaceae Batang, dahan,
ranting
3 Kelajempiq Harisonia perforata Merrill Simaroubaceae Batang, dahan,
ranting
4 Karet Hevea brasiliensis Muell. Euphorbiaceae Batang, dahan,
Arg. ranting
5 Engkodoy Elaeocarpus glaber BL. Elaeocarpaceae Batang, dahan,
ranting
6 Peleleq Lithocarpus blumeanus Fagaceae Batang, dahan,
(Korth.) Rehder ranting
7 Pahaq Elateriospermum tapos BL. Euphorbiaceae Batang, dahan,
ranting
8 Blakangin Trema orientalis (L.) BL. Ulmaceae Batang, dahan,
ranting
9 Akasia Acacia mangium Willd. Fabaceae Batang, dahan,
ranting
10 Kalang Durio zibethinus Murr. Bombacaceae Batang, dahan,
ranting
11 Nakatn Artocarpus heterophyllus Moraceae Batang, dahan,
Lam. ranting
12 Rambutan Nephelium lappaceum L. Sapindaceae Batang, dahan,
ranting
13 Keramunting Syzygium spicatum Lamk. Myrtaceae Batang, dahan,
ranting
14 Elai Durio kutejensis Becc. Bombacaceae Batang, dahan,
ranting

Lampiran 8 Daftar spesies tumbuhan sebagai bahan tali, anyaman dan kerajinan
di Kampung Keay
Bagian
Nama
No. Nama Ilmiah Famili yang Keterangan
Lokal
digunakan
1 Uwe sokaq Calamus caesius Arecaceae Batang Tikar (lampit),
BL. berangka (tas
punggung),
keranjang
2 Uwe ngono Calamus manan Arecaceae Batang Lampit, kaki
Miq. meja dan kursi
3 Uwe Tuu - Arecaceae Batang Kaki meja dan
kursi
4 Nyui Cocos nucifera L. Arecaceae Daun, Atap, sapu lidi,
bilah daun tali
5 Bane baloq Gigantochloa atter Poaceae Batang Tampah, bubu
(Hassk.) Kurz. (perangkap
ikan), anak
sumpit dan
sebagainya
6 Daun biruq Licuala valida Arecaceae Daun Seraung
Rumph. (semacam
caping)
111

Lampiran 8 (Lanjutan)
Bagian
Nama
No. Nama Ilmiah Famili yang Keterangan
Lokal
digunakan
7 Geme Prunus javanica Rosaceae Batang Tempat beras
Miq.
8 Akasia Acasia mangium Fabaceae Batang Gendang
Willd.
9 Akar kerop Bauhinia tomentosa Fabaceae Batang Tali
L.
10 Perau - - Batang Gendang
11 Buno Memecylon Melastomataceae Batang Tombak
myrsinoides BL.
12 Lelutung Dyera costulata Apocynaceae Akar Anak sumpit
(Miq.) Hook.f.
13 Blakangin Trema orientalis Ulmaceae Batang Sarung
(L.) BL. parang/mandau
14 Toluyatn Eusideroxylon Lauraceae Batang Patung, sarung
zwageri Teysm. & parang/mandau,
Binnend perahu, tombak
15 Jengatn Shorea laevifolia Dipterocarpaceae Batang Sarung
Endert parang/mandau,
perahu
16 Akar Cyratia trifolia Vitaceae Batang Tali
berempuyut Domin

17 Akar kedot Spatholobus Fabaceae Batang Tali


ferrugineus Benth.
18 Akar Artabotrys Annonaceae Batang Tali
mengkelagit suaveolens BL.
19 Kajak’ng Mapania palustris Cyperaceae Daun Tikar, seraung
(semacam
caping)
20 Benung Gluta renghas L. Anacardiaceae Batang Sarung
parang/mandau
21 Keranji Dialium Fabaceae Batang Sarung
platysepalum parang/mandau
Backer
22 Jatn Santiria griffithii Burseraceae Batang Sarung
(Hook. f.) Engl. parang/mandau
23 Orai Shorea macrophylla Dipterocarpaceae Batang Sarung
(De Vriese) P.S. parang/mandau
Ashton
24 Bane Schizostachyum BL. Poaceae Batang Tampah, bubu
temiang (perangkap
ikan), anak
sumpit dan
sebagainya
25 Irat Cratoxylum Hypericaceae Batang Sarung
arborescens (Vahl) parang/mandau
BL.
112

Lampiran 9 Daftar spesies tumbuhan aromatik di Kampung Keay


Nama Bagian yang
No. Nama Ilmiah Famili Keterangan
Lokal digunakan
1 Setu Vertiver zizanoides Poaceae Akar Pengharum
(L.) Nsah. ex Small pupur dingin
2 Pudaq Pandanus Pandanaceae Daun Pengharum
amaryllifolius Roxb. pupur dingin,
pemberi rasa
dan aroma
makanan
3 Serai Cymbopogon Poaceae Batang Pemberi rasa,
citratus (L) Rendle. aroma makanan
4 Emperai Curcuma cf. Zingiberaceae Rimpang Pengharum
mangga Valeton & pupur dingin
Zijb.
5 Perijaq Aleurites moluccana Euphorbiaceae Buah Pemberi rasa,
(L.) Willd. aroma makanan
6 Kemangi Ocimum sanctum L. Lamiaceae Daun Pemberi rasa,
aroma makanan
7 Jeruk Citrus hystrix DC. Rutaceae Daun, buah Pemberi rasa,
purut aroma makanan
8 Popot Jasminum sambac Oleaceae Bunga Pengharum
(L.) Ait. minyak rambut
9 Kayu Cinnamomum Lauraceae Kulit batang Pemberi rasa,
manis burmannii Nees ex aroma makanan
BI.
10 Cengkeh Syzygium Myrtaceae Buah Pemberi rasa,
aromaticum (L.) aroma makanan
Merr. & L. M. Perry
11 Empar Ficus aurata Corner Moraceae Daun Pengharum
olau minyak rambut
dan pupur
dingin
12 Lasaq Syzygium Myrtaceae Daun Aroma
polyanthum makanan
(Wight.) Walp.
13 Telaseh Ocimum basilicum Lamiaceae Daun Pengharum
L. pupur dingin
14 Somputn Goniothalamus Anonaceae Kulit batang Pengharum
macrophyllus ruangan
Hook.f.& Thoms.
15 Jerangau Acorus calamus L. Araceae Akar Pengharum
pupur dingin
16 Serai Cymbopogon nardus Poaceae Batang, akar Pengharum
jemuq (L.) Rendle. minyak rambut
17 Orai Shorea macrophylla Dipterocarpaceae Batang Pengharum
(De Vriese) P.S. minyak rambut
Ashton
18 Beng- Macaranga Euphorbiaceae Daun Pemberi aroma
kuk’ng gigantea Muell. makanan
Arg.
19 Jeloq Musa paradisiaca L. Musaceae Daun Pemberi aroma
makanan
20 Tebu Saccharum Poaceae Daun Pemberi aroma
officinarum L. makanan
21 Daun sop Apium graveolens L. Apiaceae Daun Pelezat rasa
makanan
113

Lampiran 9 (Lanjutan)
Nama Bagian yang
No. Nama Ilmiah Famili Keterangan
Lokal digunakan
22 Kencur Kaempferia galanga Zingiberaceae Umbi Pemberi aroma
L. dan pelezat
makanan

Lampiran 10 Daftar spesies tumbuhan penghasil warna di Kampung Keay


Nama Cara
No. Nama Ilmiah Famili Bagian Warna
Lokal Pengolahan
1 Jomit Curcuma Zingiberaceae Rimpang Kuning Rimpang
lepoq xanthorrhiza diparut ,
Roxb. kemudian
direbus
dengan daun
kelapa yang
akan diwarnai
2 Jomit Curcuma Zingiberaceae Rimpang Kuning Rimpang
domestica L. diparut atau
ditumbuk,
kemudian
dimasukan
dalam
masakan
3 Terujaq Dicliptera Acanthaceae Daun, Merah Daun dan
chinensis Nees. batang batang
ditumbuk,
kemudian
direbus
dengan daun
kelapa yang
akan diwarnai
4 Geligam Bixa orellana L. Bixaceae Biji Merah Biji buah
ditumbuk,
kemudian
dioleskan
pada rambut
5 Pudaq Pandanus Pandanaceae Daun Hijau Daun
amaryllifolius dimasukan
Roxb. dalam
masakan/
minuman
6 Bawang Eleuthorine Iridaceae Umbi Umbi Umbi direbus
bromot Americana Merk. bersama
dengan ikan
7 Daun suji Pleomele Ruscaceae Daun Hijau Daun
angustifolia N. dimasukan
E. Brown. dalam
masakan
8 Daun Lawsonia Lythraceae Daun Merah Daun
pacar inermis L. ditumbuk,
kemudian
dioleskan
pada kuku
jari
114

Lampiran 10 (Lanjutan)
Nama Cara
No. Nama Ilmiah Famili Bagian Warna
Lokal Pengolahan
9 Daun teh Nothopanax Araliaceae Daun Merah Daun diseduh
filicifolia Hort. dengan air
panas dan
diberi gula

10 Pasar Impatiens Balsaminaceae Bunga Merah Daun


balsamina L. ditumbuk,
kemudian
dioleskan
pada kuku
jari

Lampiran 11 Daftar spesies tumbuhan sebagai bahan upacara adat di Kampung


Keay
Bagian yang
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili
digunakan
1 Alas Aquilaria malaccensis Lam. Thymelaeaceae Batang
2 Luwaq Dianella ensifolia DC. Liliaceae Akar
3 Nyui Cocos nucifera L. Arecaceae Daun, batang
4 Komat Codiaeum variegatum (L.) BI. Euphorbiaceae Daun
5 Pare Oryza sativa L. Poaceae Biji
6 Sepotn Areca catechu L. Arecaceae Buah, bunga
(mayang)
7 Sarap Arenga pinnata Merr. Arecaceae Daun
8 Jeloq Musa paradisiaca L. Musaceae Daun, buah,
batang
9 Empuratn hutan Salacca cf. edulis Reinw. Arecaceae Daun
10 Pangir Clerodendron paniculatum Verbenaceae Daun, bunga
Vahl
11 Biyowo Cordyline fruticosa (I.) A. Agavaceae Daun
Chev.
12 Bane tolang soloq Schizostachyum grandle Poaceae Batang
Ridley
13 Bane betung Dendrocalamus asper Backer. Poaceae Batang
14 Bane baloq Gigantochloa atter (Hassk.) Poaceae Batang
Kurz.
15 Mawah Mallutus paniculatus Muell. Euphorbiaceae Batang
Arg.
16 Pepuan Artocarpus anisophyllus Miq. Moraceae Daun
17 Pakuq param Nephrolepis biserrata Dryopteridaceae Daun
18 Peyai Galearia filiformis Boerl. Euphorbiaceae Daun
19 Pengo Antidesma Montana L. Oxalidaceae Daun
20 Tempokah Ischaemum rugosum Salisb. Poaceae Daun
21 Pulut Oryza glutinosa L. Poaceae Biji
22 Lelutung Dyera costulata (Miq.) Apocynaceae Batang
Hook.f.
23 Telaseh Ocimum basilicum L. Lamiaceae Daun, bunga
24 Toutawai Costus speciosus (Koen.) Zingiberaceae Batang,daun
Smith.
25 Puti Koompassia malaccensis Fabaceae Seluruh bagian
Taub. tumbuhan
(semai)
115

Lampiran 11 (Lanjutan)
Bagian yang
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili
digunakan
26 Gerongok’ng Celosia argentea L. Amaranthaceae Bunga
26 Toluyatn Eusideroxylon zwageri Teysm. Lauraceae Seluruh bagian
& Binnend tumbuhan
(semai)
27 Akar mengkelagit Artabotrys suaveolens BL. Annonaceae Batang
28 Nancang Macaranga pruinosa Muell. Euphorbiaceae Batang
Arg.
30 Padang Imperata cylindrica (L.) P. Poaceae Daun
Beauv.
31 Sewetn Musa acuminata Colla. Musaceae Daun, batang
32 Terap Artocarpus elastica Reinw. Moraceae Daun
33 Jiye Pronephrium nitidum Holt. Thelypteridaceae Daun
34 Kahoy Shorea balangeran Burck. Dipterocarpaceae Batang

Lampiran 12 Daftar spesies tumbuhan yang dipercaya sebagai tolak bala di


Kampung Keay
Bagian yang
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Kegunaan
digunakan
1 Pakuq param Nephrolepis Dryopteridaceae Daun Penangkal
biserrata penyakit
2 Nyui Cocos nucifera L. Arecaceae Buah Penangkal
penyakit, guna-
guna dan hal-
hal negatif
3 Jomit bura Kaempferia Zingiberaceae Seluruh Penangkal
rotunda L. bagian guna-guna,
tumbuhan penyakit
(ditanam di
sekitar rumah)
4 Daun biruq Licuala valida Arecaceae Daun Penangkal
Rumph. penyakit dan
hal-hal negatif
5 Somputn Goniothalamus Anonaceae Kulit batang Agar tidak
macrophyllus diganggu
Hook.f.& Thoms. makhluk halus
(digunakan
oleh wanita
setelah
melahirkan)
6 Jerangau Acorus calamus L. Araceae Akar Agar tidak
diganggu
makhluk halus
(digunakan
oleh wanita
setelah
melahirkan)
7 Lelutung Dyera costulata Apocynaceae Batang Penangkal
(Miq.) Hook.f. makhluk halus
(dibuat patung
dan diletakkan
diujung rumah)
116

Lampiran 12 (Lanjutan)
Bagian yang
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Kegunaan
digunakan
8 Uwe sit Daemonorops sp. Arecaceae Daun Penangkal
penyakit dan
hal-hal negatif
9 Nancang Macaranga Euphorbiaceae Batang Penangkal
pruinosa Muell. makhluk halus
Arg. (dibuat patung
dan diletakkan
diujung rumah)
10 Kecubung Brugmansia Solanaceae Seluruh Penangkal
suaveolens R. Br. bagian guna-guna
tumbuhan (ditanam di
sekitar rumah)
11 Deraya buluq Horsfieldia glabra Myristicaceae Batang Penangkal
Warb. makhluk halus
(dibuat patung
dan diletakkan
diujung rumah)
12 Komat Codiaeum Euphorbiaceae Seluruh Penangkal
variegatum (L.) bagian guna-guna,
BI. tumbuhan penyakit
(ditanam di
sekitar rumah)
13 Luwaq Dianella ensifolia Liliaceae Akar Mengusir
DC. makhluk halus
14 Pasar Impatiens Balsaminaceae Seluruh Penangkal
balsamina L. bagian guna-guna
tumbuhan (ditanam di
sekitar rumah)
15 Biyowo Cordyline Agavaceae Seluruh Penangkal
fruticosa (I.) A. bagian guna-guna,
Chev. tumbuhan penyakit
(ditanam di
sekitar rumah)
16 Telaseh Ocimum basilicum Lamiaceae Seluruh Penangkal
L. bagian guna-guna,
tumbuhan penyakit
(ditanam di
sekitar rumah)
117

Lampiran 13 Daftar spesies tumbuhan untuk kecantikan/kosmetik di Kampung


Keay
Nama Bagian yang
No. Nama Ilmiah Famili Kegunaan
Lokal digunakan
1 Geligam Bixa orellana L. Bixaceae Kulit batang Campuran
membuat pupur
dingin
2 - Centella asiatica L. Apiaceae Daun Campuran
membuat pupur
dingin
3 Selekop Lepisanthes Sapindaceae Daun Menghilangkan
amoena (Hassk.) bekas jerawat,
Leent. flek hitam, bekas
luka,
menghaluskan
wajah, dan
memutihkan
wajah
4 Engkodoy Elaeocarpus glaber Elaeocarpaceae Daun Membersihkan
BL. wajah
5 Puti Koompassia Fabaceae Daun Awet muda
malaccensis Taub.
6 Rudaq Rhinacanthus Acanthaceae Akar Membersihkan
nasutus Kurz. wajah
7 Langir Dichapetalum sp. Dichapetalaceae Kulit batang Menghilangkan
wakai gatal-gatal
dikulit kepala
8 Mawah Mallutus Euphorbiaceae Daun Membersihkan
paniculatus Muell. wajah
Arg.
9 Blakangin Trema orientalis Ulmaceae Daun Membersihkan
(L.) BL. wajah dan
menghilangkan
flek hitam
10 Pengo Antidesma Oxalidaceae Buah Menghilangkan
Montana L. ketombe
11 Daun Lawsonia inermis Lythraceae Daun Memperindah
pacar L. dan menguatkan
kuku
12 Bomoy Smilax zeylanica Smilaxaceae Getah Menghitamkan
BL. rambut,
menghilangkan
ketombe dan
mencegah
tumbuhnya uban
13 Asam Mangifera pajang Anacardiaceae Buah Menghilangkan
payang ketombe
14 Asam Mangifera sp. Anacardiaceae Buah Menghilangkan
kelauq ketombe
15 Kencur Kaempferia Zingiberaceae Daun Menghilangkan
galanga L. ketombe
16 Rakap Piper betle L. Piperaceae Daun Menghilangkan
bau badan
17 Jomit Curcuma Zingiberaceae Rimpang Menghilangkan
domestica L. bau badan
118

Lampiran 14 Daftar spesies tumbuhan penghasil lain-lain


Bagian
Nama
No. Nama Ilmiah Famili yang Kegunaan
Lokal
digunakan
1 Langir Dichapetalum sp. Dichapetalaceae Batang Sabun mandi
wakai
2 Lempeng Luffa cylindrica Cucurbitaceae Buah Penggosok
pera Roem badan
3 Bawang Eleuthorine Iridaceae Umbi Menggugurkan
bromot Americana Merk. kandungan
4 Terincing Ananas comosus (L.) Bromeliaceae Buah Menggugurkan
Merr. kandungan
5 Kesapang Archidendron Fabaceae Daun Sebagai
piaq clepearia campuran saat
proses
penghitaman
rotan
6 Jering Pithecellebium Fabaceae Daun Sebagai
jiringa Prain. campuran saat
proses
penghitaman
rotan
7 Kelapapaq Vitex pubescens Verbenaceae Daun Menjernihkan
Vahl. air aren
8 Way pulut Syzygium sp. Myrtaceae Kulit batang Lem peti mati

9 Lelutung Dyera costulata Apocynaceae Getah Lem untuk


(Miq.) Hook.f. menangkap
burung (pulut)
10 Pekaluk’ng Artocarpus elastica Moraceae Getah Lem untuk
Reinw. menangkap
burung (pulut)
11 Sewetn Musa acuminata Musaceae Getah Lem untuk
Colla. menangkap
burung (pulut)
12 Labu Cucurbita moschata Cucurbitaceae Bunga Mengem-
kuning Durch. bangkan kue
13 Pupuq Clitoria laurifolia Fabaceae Seluruh Pupuk organik
pulut Desv. bagian
tumbuhan
118

Lampiran 15 Hasil analisis vegetasi di hutan alam

a. Tingkat pohon
Nama Σ K KR FR DR INP
No. Nama Ilmiah Famili N LBDS F D
lokal Plot (Ind/ha) (%) (%) (%) (%)
1 Arau Elmerillia tsiampacca Magnoliaceae 2 1 20.877,79 1 0,02 10.438,89 0,26 0,22 3,87 4,35
(L.) Dandy
2 Asam Mangifera sp.4 Anacardiaceae 1 1 509,55 0,5 0,02 254,78 0,13 0,22 0,09 0,45
busur
3 Asam Mangifera sp.3 Anacardiaceae 1 1 711,01 0,5 0,02 355,50 0,13 0,22 0,13 0,48
Kelauq
4 Asam Mangifera caesia Jack Anacardiaceae 1 1 796,18 0,5 0,02 398,09 0,13 0,22 0,15 0,50
palong
5 Asam Mangifera pajang Anacardiaceae 2 2 4.877,47 1 0,04 2.438,73 0,26 0,44 0,90 1,61
payang
6 Asam putar Mangifera similis BL. Anacardiaceae 5 4 9.885,67 2,5 0,08 4.942,83 0,66 0,88 1,83 3,37
7 Asam Mangifera sp.5 Anacardiaceae 4 4 1.188,65 2 0,08 594,33 0,53 0,88 0,22 1,63
udang
8 Ayau Litsea mappacea Boerl. Lauraceae 40 18 15.823,25 20 0,36 7.911,63 5,26 3,97 2,93 12,16
9 Bangkat Xanthophyllum affine Polygalaceae 25 10 9.279,60 12,5 0,2 4.639,80 3,29 2,21 1,72 7,21
Korth. ex Miq.
10 Bengkukng Macaranga gigantea Euphorbiaceae 2 2 833,92 1 0,04 4.16,96 0,26 0,44 0,15 0,86
Muell. Arg.
11 Bentolan - - 1 1 286,62 0,5 0,02 143,31 0,13 0,22 0,05 0,41
12 Bentolan - - 2 2 941,16 1 0,04 470,58 0,26 0,44 0,17 0,88
liyau
13 Benung Gluta renghas L. Anacardiaceae 4 3 249,68 2 0,06 124,84 0,53 0,66 0,05 1,23
14 Benturung Artocarpus rigida BL. Moraceae 2 2 4.371,74 1 0,04 2.185,87 0,26 0,44 0,81 1,51
15 Berai - - 1 1 179,64 0,5 0,02 89,82 0,13 0,22 0,03 0,39
16 Berempate - - 1 1 2.784,16 0,5 0,02 1.392,08 0,13 0,22 0,52 0,87

119
119

Tingkat pohon (Lanjutan)


Nama Σ K KR FR DR INP
No. Nama Ilmiah Famili N LBDS F D
lokal Plot (Ind/ha) (%) (%) (%) (%)
17 Berengta- - - 1 1 336,39 0,5 0,02 168,19 0,13 0,22 0,06 0,41
leng
18 Berento- Rhotmania macrophylla Rubiaceae 45 19 12.260,43 22,5 0,38 6.130,21 5,91 4,19 2,27 12,38
yung R.Br.
19 Buno Memecylon myrsinoides Melastomataceae 1 1 1.127,47 0,5 0,02 563,73 0,13 0,22 0,21 0,56
BL.
20 Daraq Artocarpus dadah Miq. Moraceae 2 2 1.117,52 1 0,04 558,76 0,26 0,44 0,21 0,91
21 Deraya Gymnacranthera sp. Myristicaceae 7 3 2.002,26 3,5 0,06 1.001,13 0,92 0,66 0,37 1,95
batu
22 Deraya Horsfieldia glabra Myristicaceae 7 7 1.778,38 3,5 0,14 889,19 0,92 1,55 0,33 2,79
buluq Warb.
23 Deraya Gymnacranthera Myristicaceae 2 2 355,73 1 0,04 177,87 0,26 0,44 0,07 0,77
dokor ocellata R.T.A. Schoten
24 Empakuq Parishia insignis Hook.f. Anacardiaceae 3 3 6.098,73 1,5 0,06 3.049,36 0,39 0,66 1,13 2,19
25 Empana Garcinia Sizygifolia Clusiaceae 11 10 6.067,60 5,5 0,2 3.033,80 1,45 2,21 1,12 4,78
Pierre
26 Emparai Polyalthia sp. Annonaceae 5 5 3.691,74 2,5 0,1 1.845,87 0,66 1,10 0,68 2,44
27 Empas - - 1 1 796,18 0,5 0,02 398,09 0,13 0,22 0,15 0,50
28 Encamu- - - 2 1 366,88 1 0,02 183,44 0,26 0,22 0,07 0,55
rang
29 Engkero- Santiria laevigata BL. Burseraceae 26 17 16.032,63 13 0,34 8.016,31 3,42 3,75 2,97 10,14
nong
30 Entolai Microdesmis Euphorbiaceae 1 1 219,45 0,5 0,02 109,72 0,13 0,22 0,04 0,39
caseariaeolia Planch.
exHook.f
31 Engkarai Nephelium ramboutan- Sapindaceae 15 12 23.766,78 7,5 0,24 11.883,39 1,97 2,65 4,40 9,02
ake (Labill.) P.W.
Leenhouts
32 Gancilai Elaeocarpus sp. Elaeocarpaceae 14 10 5.969,21 7 0,2 2.984,60 1,84 2,21 1,11 5,15

120
33 Geme Prunus javanica Miq. Rosaceae 17 13 8.817,89 8,5 0,26 4.408,95 2,23 2,87 1,63 6,74
120

Tingkat pohon (Lanjutan)


Nama Σ K KR FR DR INP
No. Nama Ilmiah Famili N LBDS F D
lokal Plot (Ind/ha) (%) (%) (%) (%)
34 Gentungan - - 1 1 140,45 0,5 0,02 70,22 0,13 0,22 0,03 0,38
35 Jatn Santiria griffithii (Hook. Burseraceae 22 14 27.345,99 11 0,28 13.672,99 2,89 3,09 5,07 11,05
f.) Engl.
36 Jematuq - - 1 1 2.438,30 0,5 0,02 1.219,15 0,13 0,22 0,45 0,80
37 Jering Pithecelobium jiringa Fabaceae 10 6 3.006,36 5 0,12 1.503,18 1,31 1,32 0,56 3,20
Prain.
38 Jompuk'ng - - 1 1 928,66 0,5 0,02 464,33 0,13 0,22 0,17 0,52
39 Kalang Durio zibethinus Murr. Bombacaceae 1 1 1.743,95 0,5 0,02 871,97 0,13 0,22 0,32 0,68
40 Karet Hevea brasiliensis Euphorbiaceae 16 2 10.924 8 0,04 5.462,00 2,10 0,44 2,02 4,57
Muell. Arg.
41 Kelabahuq - - 7 2 1.762,65 3,5 0,04 881,33 0,92 0,44 0,33 1,69
42 Kelabunay Tricalysia malaccensis Rubiaceae 1 1 161,23 0,5 0,02 80,61 0,13 0,22 0,03 0,38
Merrill
43 Kelair Tricalysia singularis Rubiaceae 5 5 1.307,78 2,5 0,1 653,89 0,66 1,10 0,24 2,00
K.Schum
44 Keni Garcinia sp. Clusiaceae 4 4 1.701,77 2 0,08 850,89 0,53 0,88 0,32 1,72
45 Kelapapaq Vitex pubescens Vahl. Verbenaceae 12 5 4.400,40 6 0,1 2.200,20 1,58 1,10 0,82 3,50
46 Keramun- - - 1 1 128,67 0,5 0,02 64,33 0,13 0,22 0,02 0,38
yik’ng
47 Kopeq - - 1 1 277,15 0,5 0,02 138,57 0,13 0,22 0,05 0,40
48 Kertongan Durio griffithii Bakh. Bombacaceae 1 1 154,14 0,5 0,02 77,07 0,13 0,22 0,03 0,38
49 Kotep - - 2 1 438,93 1 0,02 219,47 0,26 0,22 0,08 0,56
50 Kumpat Castanopsis inermis Fagaceae 10 4 7.478,82 5 0,08 3.739,41 1,31 0,88 1,39 3,58
(Lindl.ex Wall.) B & H.
51 Lalatn Hydnocarpus Flacourtiaceae 1 1 267,83 0,5 0,02 133,92 0,13 0,22 0,05 0,40
heterophylla BL.
52 Legang - - 3 3 1.793,07 1,5 0,06 896,54 0,39 0,66 0,33 1,39
53 Lemposu Baccaura bracteata Euphorbiaceae 1 1 127,39 0,5 0,02 63,69 0,13 0,22 0,02 0,38

121
Muell. Arg.
121

Tingkat pohon (Lanjutan)


Nama Σ K KR FR DR INP
No. Nama Ilmiah Famili N LBDS F D
lokal Plot (Ind/ha) (%) (%) (%) (%)
54 Lempung Shorea sp.1 Dipterocarpaceae 3 2 5.986,15 1,5 0,04 2.993,07 0,39 0,44 1,11 1,94
55 Lempung Shorea sp.2 Dipterocarpaceae 2 2 2.866,24 1 0,04 1.433,12 0,26 0,44 0,53 1,24
bura
56 Lempung Shorea sp.3 Dipterocarpaceae 4 2 4.260,35 2 0,04 2.130,18 0,53 0,44 0,79 1,76
suit
57 Limat Castanopsis Fagaceae 12 5 11.653,92 6 0,1 5.826,96 1,58 1,10 2,16 4,84
acuminatissima A.DC.ex
Hance
58 Mantuleng Tricalysia singularis Rubiaceae 1 1 221,96 0,5 0,02 110,98 0,13 0,22 0,04 0,39
juwe K.Schum
59 Mawoy Baccaurea sp. Euphorbiaceae 3 3 3.470,54 1,5 0,06 1.735,27 0,39 0,66 0,64 1,70
60 Melapar - - 6 4 1.679,69 3 0,08 839,84 0,79 0,88 0,31 1,98
61 Melipas - - 1 1 326,11 0,5 0,02 163,06 0,13 0,22 0,06 0,41
62 Meliwe Polyalthia rumpnii Annonaceae 21 13 9.329,48 10,5 0,26 4.664,74 2,76 2,87 1,73 7,36
Merrill
63 Meluwing Canarium caudatum Burseraceae 30 19 12.923,23 15 0,38 6.461,62 3,94 4,19 2,39 10,53
King
64 Merore Hydnocarpus polypetala Flacourtiaceae 1 1 191,16 0,5 0,02 95,58 0,13 0,22 0,04 0,39
(Sloot.) Sleumer
65 Merejang Sindora velutina Baker. Fabaceae 3 3 8.860,27 1,5 0,06 4.430,14 0,39 0,66 1,64 2,70
66 Merowah - - 33 21 15.195,27 16,5 0,42 7.597,63 4,34 4,64 2,81 11,79
67 Nagag Schima wallichii (DC.) 27 7 17.868,02 13,5 0,14 8.934,01 3,55 1,55 3,31 8,40
Korth.
68 Nakatn Artocarpus Moraceae 61 25 48.186,63 30,5 0,5 24.093,31 8,02 5,52 8,93 22,46
heterophyllus Lam.
69 Namun Nephelium uncinatum Sapindaceae 9 8 3.982.56 4,5 0,16 1.991,28 1,18 1,77 0,74 3,69
Radlk.
70 Nancang Macaranga pruinosa Euphorbiaceae 1 1 379,06 0,5 0,02 189,53 0,13 0,22 0,07 0,42
Muell. Arg.

122
122

Tingkat pohon (Lanjutan)


Nama Σ K KR FR DR INP
No. Nama Ilmiah Famili N LBDS F D
lokal Plot (Ind/ha) (%) (%) (%) (%)
71 Nancang Macaranga sp. Euphorbiaceae 1 1 696,04 0,5 0,02 348,02 0,13 0,22 0,13 0,48
rayau
72 Nepoq - - 2 2 963,69 1 0,04 481,85 0,26 0,44 0,18 0,88
73 Nunuq Ficus rostrata Hort.ex Moraceae 2 2 4.856,69 1 0,04 2.428,34 0,26 0,44 0,90 1,60
Miq.
74 Obeq Ficus hirta Vahl. Moraceae 2 1 270,96 1 0,02 135,48 0,26 0,22 0,05 0,53
75 Orai Shorea macrophylla (De Dipterocarpaceae 5 2 23.833,60 2,5 0,04 11.916,80 0,66 0,44 4,41 5,51
Vriese) P.S. Ashton
76 Pahaq Elasterospermum sp. Euphorbiaceae 27 12 9.899,02 13,5 0,24 4.949,51 3,55 2,65 1,83 8,03
77 Palong - - 15 16 17.788,08 7,5 0,32 8.894,04 1,97 3,53 3,30 8,80
78 Pasi liwas - - 1 1 459,87 0,5 0,02 2.29,94 0,13 0,22 0,09 0,44
79 Pekaluk'ng Artocarpus elastica Moraceae 19 6 7.230,18 9,5 0,12 3.615,09 2,50 1,32 1,34 5,16
Reinw.
80 Pengo Antidesma Montana L. Oxalidaceae 1 1 267,83 0,5 0,02 133,92 0,13 0,22 0,05 0,40
81 Peleleq Lithocarpus gracilis Fagaceae 6 6 1.645,70 3 0,12 822,85 0,79 1,32 0,30 2,42
daun besar (Korth.) Soepadmo
82 Pepuan Artocarpus anisophyllus Moraceae
1 1 4.434,39 0,5 0,02 2.217,20 0,13 0,22 0,82 1,17
Miq.
83 Perau - - 7 3 7.580,81 3,5 0,06 3.790,41 0,92 0,66 1,40 2,99
84 Pose Pentace polyantha Tiliaceae
22 9 10.934,23 11 0,18 5.467,11 2,89 1,99 2,03 6,90
Hassk.
85 Potai Parkia speciosa Hassk. Fabaceae 14 12 9.325,22 7 0,24 4.662,61 1,84 2,65 1,73 6,22
86 Pudoq Paraartocarpus sp. Moraceae 29 18 7.684,89 14,5 0,36 3.842,45 3,81 3,97 1,42 9,21
87 Puti Koompassia malaccensis Fabaceae 9 5 41.167,28 4,5 0,1 20.583,64 1,18 1,10 7,63 9,91
Taub.
88 Pitaq Syzygium pycnanthum Myrtaceae
3 1 1.087,66 1,5 0,02 543,83 0,39 0,22 0,20 0,82
Merrill & Perry
89 Ridatn - - 9 9 5.926,45 4,5 0,18 2.963,22 1,18 1,99 1,10 4,27

123
90 Selapuntiq - - 5 3 1.476,31 2,5 0,06 738,16 0,66 0,66 0,27 1,59
123

Tingkat pohon (Lanjutan)


Nama Σ K KR FR DR INP
No. Nama Ilmiah Famili N LBDS F D
lokal Plot (Ind/ha) (%) (%) (%) (%)
91 Sengkulai - - 1 1 158,37 0,5 0,02 79,19 0,13 0,22 0,03 0,38
92 Serkang- - - 1 1 390,13 0,5 0,02 195,06 0,13 0,22 0,07 0,42
kang
93 Sungkai Peronema canescens Verbenaceae
3 1 489,11 1,5 0,02 244,56 0,39 0,22 0,09 0,71
Jack
94 Tengkang - -
1 1 140,45 0,5 0,02 70,22 0,13 0,22 0,03 0,38
Lesoq
95 Unggaq - - 2 2 2.828,42 1 0,04 1.414,21 0,26 0,44 0,52 1,23
Jumlah 761 453 539.844,90 380,5 9,06 269.922,45 100 100 100 300

b. Tingkat tiang
Σ K KR FR DR INP
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N LBDS F D
Plot (Ind/ha) (%) (%) (%) (%)
1 Alas Aquilaria malaccensis Thymelaeaceae 1 1 83,58 2 0,02 167,16 0,35 0,49 0,46 1,30
Lam.
2 Ayau Litsea mappacea Boerl. Lauraceae 14 8 994,81 28 0,16 1.989,61 4,90 3,92 5,48 14,30
3 Bangkat Xanthophyllum affine Polygalaceae 14 7 911,43 28 0,14 1.822,87 4,90 3,43 5,02 13,35
Korth. ex Miq.
4 Benturung Artocarpus rigida BL. Moraceae 2 2 145,32 4 0,04 290,64 0,70 0,98 0,80 2,48
5 Berengtaleng - - 1 1 49,76 2 0,02 99,52 0,35 0,49 0,27 1,11
6 Berentoyung Rhotmania macrophylla Rubiaceae 13 2 814,16 26 0,04 1.628,33 4,55 0,98 4,49 10,01
R.Br.
7 Buno Memecylon myrsinoides Melastomataceae 1 1 31,85 2 0,02 63,69 0,35 0,49 0,18 1,02
BL.
9 Deraya batu Gymnacranthera sp. Myristicaceae 11 18 782,67 22 0,36 1.565,34 3,85 8,82 4,31 16,98

124
124

Tingkat tiang (Lanjutan)


Σ K KR FR DR INP
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N LBDS F D
Plot (Ind/ha) (%) (%) (%) (%)
10 Deraya buluq Horsfieldia glabra Myristicaceae 9 10 472,07 18 0,2 944,14 3,15 4,90 2,60 10,65
Warb.
11 Deraya dokor Gymnacranthera Myristicaceae 2 2 158,94 4 0,04 317,87 0,70 0,98 0,88 2,56
ocellata R.T.A. Schoten
12 Empana Garcinia Sizygifolia Clusiaceae 1 1 84,10 2 0,02 168,19 0,35 0,49 0,46 1,30
Pierre
13 Emparai Polyalthia sp. Annonaceae 3 3 169,43 6 0,06 338,85 1,05 1,47 0,93 3,45
14 Engkarai Nephelium ramboutan- Sapindaceae 11 9 760,83 22 0,18 1.521,66 3,85 4,41 4,19 12,45
ake (Labill.)
P.W.Leenhouts
15 Engkero- Santiria laevigata BL. Burseraceae 1 1 69,29 2 0,02 138,57 0,35 0,49 0,38 1,22
nong
16 Entolai Microdesmis Euphorbiaceae 2 2 111,41 4 0,04 222,81 0,70 0,98 0,61 2,29
caseariaeolia Planch. ex
Hook.f.
17 Gancilai Elaeocarpus sp. Elaeocarpaceae 10 8 726,53 20 0,16 1.453,07 3,50 3,92 4,00 11,42
18 Geme Prunus javanica Miq. Rosaceae 2 2 188,43 4 0,04 376,86 0,70 0,98 1,04 2,72
19 Jatn Santiria griffithii (Hook. Burseraceae 5 5 340,01 10 0,1 680,01 1,75 2,45 1,87 6,07
f.) Engl.
20 Karet Hevea brasiliensis Euphorbiaceae 7 3 484,28 14 0,06 968,57 2,45 1,47 2,67 6,59
Muell. Arg.
21 Kelabahuq - - 1 1 74,06 2 0,02 148,13 0,35 0,49 0,41 1,25
22 Kelajempiq Harisonia perforata Simaroubaceae 3 2 164,28 6 0,04 328,57 1,05 0,98 0,91 2,93
Merrill
23 Kelabunay Tricalysia malaccensis Rubiaceae 1 1 53,82 2 0,02 107,64 0,35 0,49 0,30 1,14
Merrill
24 Kelahuq - - 1 1 121,10 2 0,02 242,20 0,35 0,49 0,67 1,51
25 Kelair Tricalysia singularis Rubiaceae 7 5 494,21 14 0,1 988,43 2,45 2,45 2,72 7,62

125
K.Schum.
125

Tingkat tiang (Lanjutan)


Σ K KR FR DR INP
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N LBDS F D
Plot (Ind/ha) (%) (%) (%) (%)
26 Keni Garcinia sp. Clusiaceae 1 1 44,34 2 0,02 88,69 0,35 0,49 0,24 1,08
27 Keranyiq Fordia johorensis Fabaceae 19 14 1.122,41 38 0,28 2.244,82 6,64 6,86 6,19 19,69
T.C.Whitm.
28 Kertongan Durio griffithii Bakh. Bombacaceae 2 2 168,89 4 0,04 337,78 0,70 0,98 0,93 2,61
29 Kopi Coffea robusta Linn. ex Rubiaceae 3 2 183,28 6 0,04 366,56 1,05 0,98 1,01 3,04
De Willd.
30 Kumpat Castanopsis inermis Fagaceae 5 2 206,38 10 0,04 412,76 1,75 0,98 1,14 3,87
(Lindl.ex Wall.) B.& H.
31 Limat Castanopsis Fagaceae 5 5 298,88 10 0,1 597,75 1,75 2,45 1,65 5,85
acuminatissima A.DC.ex
Hance
32 Mawoy Baccaurea sp. Euphorbiaceae 2 2 73,65 4 0,04 147,29 0,70 0,98 0,41 2,09
33 Meliwe Polyalthia rumpnii Annonaceae 3 1 121,68 6 0,02 243,35 1,05 0,49 0,67 2,21
Merrill
34 Meluwing Canarium caudatum Burseraceae 12 8 787,12 24 0,16 1.574,24 4,20 3,92 4,34 12,46
King
35 Merowah - - 8 8 484,50 16 0,16 969,01 2,80 3,92 2,67 9,39

36 Nagag Schima wallichii (DC.) Theaceae 5 3 328,59 10 0,06 657,19 1,75 1,47 1,81 5,03
Korth.
37 Nakatn Artocarpus Moraceae 14 8 950,32 28 0,16 1.900,64 4,90 3,92 5,24 14,05
heterophyllus Lam.
38 Namun Nephelium uncinatum Sapindaceae 1 1 35,11 2 0,02 70,22 0,35 0,49 0,19 1,03
Radlk.
39 Nepoq - - 2 2 133,86 4 0,04 267,71 0,70 0,98 0,74 2,42
40 Orai Shorea macrophylla (De Dipterocarpaceae 8 2 500,25 16 0,04 1.000,50 2,80 0,98 2,76 6,53
Vriese) P.S. Ashton
41 Pahaq Elateriospermum tapos Euphorbiaceae 4 3 103,59 8 0,06 207,18 1,40 1,47 0,57 3,44

126
BL.
126

Tingkat tiang (Lanjutan)


Σ K KR FR DR INP
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N LBDS F D
Plot (Ind/ha) (%) (%) (%) (%)
42 Palong - - 6 5 379,96 12 0,1 759,91 2,10 2,45 2,09 6,64
43 Peleleq daun Lithocarpus gracilis Fagaceae 5 2 278,60 10 0,04 557,20 1,75 0,98 1,54 4,26
besar (Korth.) Soepadmo
44 Pengo Antidesma Montana L. Oxalidaceae 1 1 42,12 2 0,02 84,24 0,35 0,49 0,23 1,07
45 Pitaq Syzygium pycnanthum Myrtaceae 2 2 91,12 4 0,04 182,24 0,70 0,98 0,50 2,18
Merrill & Perry
46 Pose Pentace polyantha Tiliaceae 16 8 1.043,53 32 0,16 2.087,07 5,59 3,92 5,75 15,27
Hassk.
47 Potai Parkia speciosa Hassk. Fabaceae 6 4 415,70 12 0,08 831,41 2,10 1,96 2,29 6,35
48 Pudoq Paraartocarpus sp. Moraceae 9 7 534,48 18 0,14 1.068,96 3,15 3,43 2,95 9,52
49 Putang pit Canarium denticulatum Burseraceae 1 1 53,82 2 0,02 107,64 0,35 0,49 0,30 1,14
BL.
50 Rekep Nephelium cuspidatum Sapindaceae 7 3 362,81 14 0,06 725,63 2,45 1,47 2,00 5,92
BL.
51 Selekop Lepisanthes amoena Sapindaceae 12 9 818,90 24 0,18 1.637,81 4,20 4,41 4,51 13,12
(Hassk.) Leent..
52 Somputn Goniothalamus Anonaceae 3 1 192,16 6 0,02 384,32 1,05 0,49 1,06 2,60
macrophyllus Hook.f.&
Thoms.
53 Tentak'ng Buchanania arborescens Anacardiaceae 1 1 103,18 2 0,02 206,37 0,35 0,49 0,57 1,41
BL.
Jumlah 286 204 18.145,62 572 4,08 36.291,24 100 100 100 300

127
127

c. Tingkat pancang
Σ K
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N F KR (%) FR (%) INP (%)
Plot (Ind/ha)
1 Arau Elmerillia tsiampacca (L.) Dandy Magnoliaceae 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93
2 Ayau buah Litsea mappacea Boerl. Lauraceae 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
kuning
3 Bangkat Xanthophyllum affine Korth. ex Miq. Polygalaceae 9 9 72 0,18 4,15 4,19 8,33
4 Benuang rangka Anisophyllea disticha Baill. Anisophylleaceae 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
5 Benung Gluta renghas L. Anacardiaceae 11 11 88 0,22 5,07 5,12 10,19
6 Berempayang Scaphium macropodum (Miq.) Beumee Sterculeaceae 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
7 Berentoyung Rhotmania macrophylla R.Br. Rubiaceae 8 8 64 0,16 3,69 3,72 7,41
8 Buno Memecylon myrsinoides BL. Melastomataceae 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
9 Deraya buluq Horsfieldia glabra Warb. Myristicaceae 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93
10 Empana Garcinia Sizygifolia Pierre Clusiaceae 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
11 Emparai Polyalthia sp. Annonaceae 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93
12 Engkarai Nephelium ramboutan-ake (Labill.) Sapindaceae 4 4 32 0,08 1,84 1,86 3,70
P.W.Leenhouts
13 Engkeronong Santiria laevigata BL. Burseraceae 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
14 Engkodoy Elaeocarpus glaber BL. Elaeocarpaceae 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
15 Entolai Microdesmis caseariaeolia Planch. ex Euphorbiaceae 6 6 48 0,12 2,76 2,79 5,56
Hook. f.
16 Gancilai Elaeocarpus sp. Elaeocarpaceae 3 3 24 0,06 1,38 1,40 2,78
17 Geme Prunus javanica Miq. Rosaceae 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93
18 Jatn Santiria griffithii (Hook. f.) Engl. Burseraceae 3 3 24 0,06 1,38 1,40 2,78
19 Jering Pithecelobium jiringa Prain. Fabaceae 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
20 Karet Hevea brasiliensis Muell. Arg. Euphorbiaceae 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
21 Kelair Tricalysia singularis K.Schum Rubiaceae 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93
22 Kelapapaq Vitex pubescens Vahl. Verbenaceae 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93
23 Keni Garcinia sp. Clusiaceae 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85

128
24 Kerabumun Xanthophyllum affine Korth. ex Miq. Polygalaceae 3 3 24 0,06 1,38 1,40 2,78
botoq
128

Tingkat pancang (Lanjutan)


Σ K
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N F KR (%) FR (%) INP (%)
Plot (Ind/ha)
25 Keramunyik'ng - - 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
26 Keranyiq Fordia johorensis T.C.Whitm. Fabaceae 28 27 224 0,54 12,90 12,56 25,46
27 Kesapang piaq Archidendron clepearia Fabaceae 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
28 Kumpat Castanopsis inermis (Lindl.ex Wall.) Fagaceae 5 5 40 0,10 2,30 2,33 4,63
B & H.
29 Kuncing ngadaq Pternandra rostrata (Cogn.) M.P.Nayar Melastomataceae 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93
30 Lemposu Baccaura bracteata Muell. Arg. Euphorbiaceae 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93

31 Limat Castanopsis acuminatissima A.DC.ex Fagaceae 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93


Hance
32 Losi losoq Baccaurea parviflora Muell. Arg. Euphorbiaceae 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
33 Mami Fissistigma manubriatum (Hook.f.& Annonaceae 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93
Thoms) Merr.
34 Mara uleq Eurycoma longifolia Jack. Simarubaceae 6 6 48 0,12 2,76 2,79 5,56
35 Mawoy Baccaurea sp. Euphorbiaceae 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
36 Meliwe Polyalthia rumpnii Merrill Annonaceae 4 4 32 0,08 1,84 1,86 3,70
37 Meluwing Canarium caudatum King Burseraceae 3 3 24 0,06 1,38 1,40 2,78
38 Merejang Sindora velutina Baker. Fabaceae 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93
39 Merowah - - 4 3 32 0,06 1,84 1,40 3,24
40 Nagag Schima wallichii (DC.) Korth. Theaceae 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93
41 Nakatn Artocarpus heterophyllus Lam. Moraceae 3 3 24 0,06 1,38 1,40 2,78
42 Namun Nephelium uncinatum Radlk. Sapindaceae 10 10 80 0,20 4,61 4,65 9,26
43 Nancang Macaranga pruinosa Muell. Arg. Euphorbiaceae 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93
44 Obeq Ficus hirta Vahl. Moraceae 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93
45 Orai Shorea macrophylla (De Vriese) P.S. Dipterocarpaceae 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
Ashton
46 Pahaq Elasterospermum sp. Euphorbiaceae 5 5 40 0,10 2,30 2,33 4,63

129
47 Palong - - 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93
48 Pekaluk'ng Artocarpus elastica Reinw. Moraceae 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
129

Tingkat pancang (Lanjutan)


Σ K
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N F KR (%) FR (%) INP (%)
Plot (Ind/ha)
49 Pelehet Microtropis sumatrana Merr. Celastraceae 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
50 Peleleq daun Lithocarpus blumeanus (Korth.) Rehder Fagaceae 4 4 32 0,08 1,84 1,86 3,70
kecil
51 Pengo Antidesma Montana L. Oxalidaceae 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
52 Pepuan Artocarpus anisophyllus Miq. Moraceae 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93
53 Perau Tidak teridentifikasi 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93
54 Peyai Galearia filiformis Boerl. Euphorbiaceae 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
55 Pitaq Syzygium pycnanthum Merrill & Perry Myrtaceae 4 4 32 0,08 1,84 1,86 3,70
56 Pose Pentace polyantha Hassk. Tiliaceae 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93
57 Potai Parkia speciosa Hassk. Fabaceae 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93
58 Pudoq Paraartocarpus sp. Moraceae 6 6 48 0,12 2,76 2,79 5,56
59 Puti Koompassia malaccensis Taub. Fabaceae 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
60 Putang pit Canarium denticulatum BL. Burseraceae 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
61 Rambutan Nephelium lappaceum L. Sapindaceae 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93
62 Rekep Nephelium cuspidatum BL. Sapindaceae 3 3 24 0,06 1,38 1,40 2,78
63 Ridatn - - 2 2 16 0,04 0,92 0,93 1,85
64 Selekop Lepisanthes amoena (Hassk.) Leent. Sapindaceae 20 20 160 0,40 9,22 9,30 18,52
65 Sungkai Peronema canescens Jack Verbenaceae 1 1 8 0,02 0,46 0,47 0,93
Jumlah 217 215 1.736 4,30 100 100 200

130
130

d. Tingkat semai
Σ K
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N F KR (%) FR (%) INP (%)
Plot (Ind/ha)
1 Asam putar Mangifera similis BL. Anacardiaceae 30 1 1500 0,02 4,62 0,48 5,11
2 Ayau buah kuning Litsea mappacea Boerl. Lauraceae 10 4 500 0,08 1,54 1,93 3,47
3 Bangkat Xanthophyllum affine Korth. ex Miq. Polygalaceae 91 18 4550 0,36 14,02 8,70 22,72
4 Benturung Artocarpus rigida BL. Moraceae 1 1 50 0,02 0,15 0,48 0,64
5 Benuang rangka Anisophyllea disticha Baill. Anisophylleaceae 8 5 400 0,1 1,23 2,42 3,65
6 Benung Gluta renghas L. Anacardiaceae 16 8 800 0,16 2,47 3,86 6,33
7 Berentoyuk'ng Rhotmania macrophylla R.Br. Rubiaceae 5 2 250 0,04 0,77 0,97 1,74
8 Bewai - - 4 2 200 0,04 0,62 0,97 1,58
9 Deraya dokor Gymnacranthera ocellata R.T.A. Schoten Myristicaceae 1 1 50 0,02 0,15 0,48 0,64
10 Elai liyau Durio sp. Bombacaceae 3 1 150 0,02 0,46 0,48 0,95
11 Empakuq Parishia insignis Hook.f. Anacardiaceae 1 1 50 0,02 0,15 0,48 0,64
12 Emparai Polyalthia sp. Annonaceae 4 2 200 0,04 0,62 0,97 1,58
13 Engkarai Nephelium ramboutan-ake (Labill.) Sapindaceae 4 3 200 0,06 0,62 1,45 2,07
P.W.Leenhouts
14 Engkeronong Santiria laevigata BL. Burseraceae 6 4 300 0,08 0,92 1,93 2,86
15 Gancilai Elaeocarpus sp. Elaeocarpaceae 5 4 250 0,08 0,77 1,93 2,70
16 Jatn Santiria griffithii (Hook. f.) Engl. Fabaceae 1 1 50 0,02 0,15 0,48 0,64
17 Jering Pithecelobium jiringa Prain. Fabaceae 2 2 100 0,04 0,31 0,97 1,27
18 Kalang Durio zibethinus Murr. Bombacaceae 2 1 100 0,02 0,31 0,48 0,79
19 Karet Hevea brasiliensis Muell. Arg. Euphorbiaceae 13 4 650 0,08 2,00 1,93 3,94
20 Kelabetiq Syzygium zeeylanicum Myrtaceae 10 2 500 0,04 1,54 0,97 2,51
21 Kelabunay Tricalysia malaccensis Merrill Rubiaceae 22 3 1100 0,06 3,39 1,45 4,84

131
22 Kelair Tricalysia singularis K.Schum Rubiaceae 3 1 150 0,02 0,46 0,48 0,95
131

Tingkat semai (Lanjutan)


Σ K
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N F KR (%) FR (%) INP (%)
Plot (Ind/ha)
23 Kelajempiq Harisonia perforata Merrill Simaroubaceae 29 5 1450 0,1 4,47 2,42 6,88
24 Keni Garcinia sp. Clusiaceae 5 1 250 0,02 0,77 0,48 1,25
25 Kerabumun botoq Xanthophyllum affine Korth. ex Miq. Polygalaceae 4 3 200 0,06 0,62 1,45 2.07
26 Keramunyik'ng - - 3 3 150 0,06 0,46 1,45 1,91
27 Keranyiq Fordia johorensis T.C.Whitm. Fabaceae 88 23 4400 0,46 13,56 11,11 24,67
28 Kesapang piaq Archidendron clepearia Fabaceae 5 4 250 0,08 0,77 1,93 2,70
29 Kopi Coffea robusta Linn. ex De Willd. Rubiaceae 2 1 100 0,02 0,31 0,48 0,79
30 Kotep - - 5 1 250 0,02 0,77 0,48 1,25
31 Kumpat Castanopsis inermis (Lindl.ex Wall.) Fagaceae 29 6 1450 0,12 4,47 2,90 7,37
B.& H.
32 Kuncing ngadaq Pternandra rostrata (Cogn.) M.P.Nayar Melastomataceae 1 1 50 0,02 0,15 0,48 0,64
33 Lalatn Hydnocarpus heterophylla BL. Flacourtiaceae 1 1 50 0,02 0,15 0,48 0,64
34 Lasaq Syzygium polyanthum (Wight.) Walp. Myrtaceae 3 1 150 0,02 0,46 0,48 0,95
35 Lemposu Baccaura bracteata Muell. Arg. Euphorbiaceae 4 2 200 0,04 0,62 0,97 1,58
36 Limat Castanopsis acuminatissima A.DC.ex Fagaceae 7 3 350 0,06 1,08 1,45 2,53
Hance
37 Mami Fissistigma manubriatum (Hook.f.& Annonaceae 1 1 50 0,02 0,15 0,48 0,64
Thoms) Merr.
38 Mara uleq Eurycoma longifolia Jack. Simarubaceae 15 8 750 0,16 2,31 3,86 6,18
39 Mawoy Baccaurea sp. Euphorbiaceae 1 1 50 0,02 0,15 0,48 0,64
40 Meliwe Polyalthia rumpnii Merrill Annonaceae 7 4 350 0,08 1,08 1,93 3,01
41 Meluwing Canarium caudatum King Burseraceae 3 1 150 0,02 0,46 0,48 0,95
42 Merejang - - 3 1 150 0,02 0,46 0,48 0,95
43 Merowah - - 2 2 100 0,04 0,31 0,97 1,27

132
44 Mintu Lygodium circinatum (Burm.f.) Swartz Schizaeaceae 6 2 300 0,04 0,92 0,97 1,89
132

Tingkat semai (Lanjutan)


Σ K
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N F KR (%) FR (%) INP (%)
Plot (Ind/ha)
45 Nagag Schima wallichii (DC.) Korth. Theaceae 1 1 50 0,02 0,15 0,48 0,64
46 Nakatn Artocarpus heterophyllus Lam. Moraceae 44 11 2200 0,22 6,78 5,31 12,09
47 Namun Nephelium uncinatum Radlk. Sapindaceae 18 1 900 0,02 2,77 0,48 3,26
48 Nancang Macaranga pruinosa Muell. Arg. Euphorbiaceae 7 4 350 0,08 1,08 1,93 3,01
49 Nulang kokoq Albertsia papuana Becc. Menispermaceae 2 2 100 0,04 0,31 0,97 1,27
50 Orai Shorea macrophylla (De Vriese) P.S. Dipterocarpaceae 21 1 1050 0,02 3,24 0,48 3,72
Ashton
51 Pahaq Elateriospermum tapos BL. Euphorbiaceae 4 3 200 0,06 0,62 1,45 2,07
52 Pekaluk'ng Artocarpus elastica Reinw. Moraceae 5 2 250 0,04 0,77 0,97 1,74
53 Pengo Antidesma Montana L. Oxalidaceae 2 1 100 0,02 0,31 0,48 0,79
54 Peyai Galearia filiformis Boerl. Euphorbiaceae 2 2 100 0,04 0,31 0,97 1,27
55 Pitaq Syzygium pycnanthum Merrill & Perry Myrtaceae 5 3 250 0,06 0,77 1,45 2,22
56 Pudoq Paraartocarpus sp. Moraceae 11 3 550 0,06 1,69 1,45 3,14
57 Puti Koompassia malaccensis Taub. Fabaceae 6 5 300 0,1 0,92 2,42 3,34
58 Ridatn - - 3 1 150 0,02 0,46 0,48 0,95
59 Selapuntiq - - 2 1 100 0,02 0,31 0,48 0,79
60 Selekop Lepisanthes amoena (Hassk.) Leent. 45 16 2250 0,32 6,93 7,73 14,66
61 Tempeyai - - 2 2 100 0,04 0,31 0,97 1,27
62 Tumbuhan x Chasalia curviflora Thw. Rubiaceae 2 1 100 0,02 0,31 0,48 0,79
63 Wangun Clausena anisum-olens Merrill Rutaceae 1 1 50 0,02 0,15 0,48 0,64
Jumlah 649 207 32.450 4,14 100 100 200

133
133

e. Liana
Σ K
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N F KR (%) FR (%) INP (%)
Plot (Ind/ha)
1 Akar 1 Cissus repens Lam Vitaceae 12 2 6 0,04 2,05 1,10 3,16
2 Akar Bangka Adenia cordifolia Engl. Passifloraceae 30 14 15 0,28 5,14 7,73 12,87
3 Akar berempuyut Cyratia trifolia Domin Vitaceae 41 7 20,5 0,14 7,02 3,87 10,89
4 Akar berentimun Dalbergia rostrata Grah.ex Prain Fabaceae 39 13 19,5 0,26 6,68 7,18 13,86
5 Akar kedot Spatholobus ferrugineus Benth. Fabaceae 19 8 9,5 0,16 3,25 4,42 7,67
6 Akar kelahang Ampelocissus imperialis Planch. Vitaceae 30 4 15 0,08 5,14 2,21 7,35
7 Akar keliat Gnetum gnemonoides Brongn Gnetaceae 52 4 26 0,08 8,90 2,21 11,11
8 Akar kerop Bauhinia tomentosa L. Fabaceae 25 10 12,5 0,2 4,28 5,52 9,81
9 Akar ketuhai Indorouchera griffithiana H.Hallier Linaceae 30 2 15 0,04 5,14 1,10 6,24
10 Akar koyur Tetracera scandens Gilg & Werdem Dilleniaceae 19 21 9,5 0,42 3,25 11,60 14,86
11 Akar mengkelagit Artabotrys suaveolens BL. Anonaceae 30 3 15 0,06 5,14 1,66 6,79
12 Akar muno Uvaria lobbiana (Hook.f. & Thoms.) Annonaceae 22 20 11 0,4 3,77 11,05 14,82
Merr.
13 Akar 2 Eycibe malaccensis C.B.Clarke Convolvulaceae 28 19 14 0,38 4,79 10,50 15,29
14 Akar ngongong Rhaphidophora sylvestris Engl. Araceae 26 11 13 0,22 4,45 6,08 10,53
15 Akar pengesik Roureopsis emarginata (Jack) Merrill Connaraceae 18 6 9 0,12 3,08 3,31 6,40
16 Akar selampat Phanera finlaysoniana Benth. Fabaceae 19 5 9,5 0,1 3,25 2,76 6,02
17 Omang Rhaphidophora korthalsiana Herb. Lugd. Araceae 27 8 13,5 0,16 4,62 4,42 9,04
18 Pakuq Stenochlaena palustris (Burm. F.) Bedd. Polypodiaceae 21 3 10,5 0,06 3,60 1,66 5,25
19 Uwe danan Korthalsia cf. scortechinii Becc. Arecaceae 22 2 11 0,04 3,77 1,10 4,87
20 Uwe meaq Korthalsia sp. Arecaceae 20 5 10 0,1 3,42 2,76 6,19
21 Uwe pelas Calamus sp. Arecaceae 14 2 7 0,04 2,40 1,10 3,50
22 Uwe sit Daemonorops sp. Arecaceae 25 8 12,5 0,16 4,28 4,42 8,70

134
134

Liana (Lanjutan)
Σ K
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N F KR (%) FR (%) INP (%)
Plot (Ind/ha)
23 Uwe sokaq Calamus caesius Arecaceae 15 4 7,5 0,08 2,57 2,21 4,78
Jumlah 584 181 292 3,62 100 100 200

f. Epifit
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N Σ Plot K (Ind/ha) F KR (%) FR (%) INP (%)
1 Empulung Asplenium nidus L. Aspleniaceae 81 37 40,50 0,74 61,83 71,15 132,99
2 Kerakap Platycerium bifurcatum (Cav.) C.Chr. Polypodiaceae 50 15 25,00 0,30 38,17 28,85 67,01
Jumlah 131 52 65,5 1,04 100 100 200

g. Perdu
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N Σ Plot K (Ind/ha) F KR (%) FR (%) INP (%)
1 Empar olau Ficus aurata Corner Moraceae 9 1 450 0,02 100 100 200
Jumlah 9 1 450 0,02 100 100 200

h. Semak
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N Σ Plot K (Ind/ha) F KR (%) FR (%) INP (%)
1 Jiye Pronephrium nitidum Holt. Thelypteridaceae 59 4 2.950 0.08 100 100 200
Jumlah 59 4 2.950 0,08 100 100 200

135
135

i. Herba
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N Σ Plot K (Ind/ha) F KR (%) FR (%) INP (%)
1 Long lamaq Homalomena cordata Schott. Araceae 32 4 1.600 0,08 32 36,36 68,36
2 Muring Selaginella doederleinii Hieron Selaginellaceae 49 4 2.450 0,08 49 36,36 85,36
3 Sabeq ayus Schismatoglottis sp. Araceae 19 3 950 0,06 19 27,27 46,27
Jumlah 100 11 5.000 0,22 100 100 200

Lampiran 16 Hasil analisis vegetasi di kebun karet

a. Tingkat pohon
No. Nama Lokal Nama Ilmiah N Σ Plot K (Ind/ha) F D KR (%) FR (%) DR (%) INP (%)
1 Karet Hevea brasiliensis Muell. 1.088 50 544 1,00 186.420,52 100 100 100 300
Arg.
Jumlah 1.088 50 544 1,00 186.420,52 100 100 100 300

b. Tingkat tiang
Nama Σ K KR FR DR INP
No. Nama Ilmiah Famili N LBDS F D
Lokal Plot (ind/ha) (%) (%) (%) (%)
1 Karet Hevea brasiliensis Muell. Euphorbiaceae 23 15 1.926,97 46 0.3 3.853,94 95,83 93,75 95,05 284,63
Arg.
2 Langsat Lansium domesticum Corr. Meliaceae 1 1 100,34 2 0.02 200,68 4,17 6,25 4,95 15,37
Jumlah 24 16 2.027,31 48 0.32 4.054,62 100 100 100 300

136
136

c. Tingkat pancang
KR FR INP
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N Σ Plot K (Ind/ha) F
(%) (%) (%)
1 Karet Hevea brasiliensis Muell. Arg. Euphorbiaceae 10 6 80 0,12 76,92 66,67 143,59
2 Kalang Durio zibethinus Murr Bombacaceae 2 2 16 0,04 15,38 22,22 37,61
3 Rambutan Nephelium lappaceum L. Sapindaceae 1 1 8 0,02 7,69 11,11 18,80
Jumlah 13 9 104 0,18 100 100 200

d. Tingkat semai
K KR FR INP
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N Σ Plot F
(Ind/ha) (%) (%) (%)
1 Benuang rangka Anisophyllea disticha Baill. Anisophylleaceae 6 2 300 0,04 2,88 3,23 6,11
2 Engkuduq Fagraea racemosa Jack ex Wall. Loganaceae 45 8 2.250 0,16 21,63 12,90 34,54
3 Karet Hevea brasiliensis Muell. Arg. Euphorbiaceae 52 17 2.600 0,34 25,0P0 27,42 52,42
4 Kelabetiq Syzygium zeeylanicum Myrtaceae 46 17 2.300 0,34 22,12 27,42 49,53
5 Kelajempiq Harisonia perforata Merrill Simaroubaceae 46 12 2.300 0,24 22,12 19,35 41,47
6 Wangun Clausena anisum-olens Merrill Rutaceae 13 6 650 0,12 6,25 9,68 15,93
Jumlah 208 62 10.400 1,24 100 100 200

e. Liana
K KR FR INP
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N Σ Plot F
(Ind/ha) (%) (%) (%)
1 Jangak'ng perey Lycopodium cernuum Lycopodiaceae 62 7 31 0,14 14,45 14,29 28,74
2 Lengkokoq Psychotria sarmentosa Blume Rubiaceae 97 14 48.5 0,28 22,61 28,57 51,18
3 Pakuq 1 Lygodium sp. Lygodiaceae 89 8 44.5 0,16 20,75 16,33 37,07
4 Tempahong Smilax zeylanica BL. Smilaxaceae 106 13 53 0,26 24,71 26,53 51,24
Jumlah 354 42 149.5 0,84 100 100 200

137
137

f. Epifit
K KR FR INP
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N Σ Plot F
(Ind/ha) (%) (%) (%)
1 Empulung Asplenium nidus L. Aspleniaceae 39 7 19,5 0,14 84,78 63,64 148,42
2 Kerakap Platycerium bifurcatum (Cav.) C.Chr. Polypodiaceae 7 4 3,5 0,08 15,22 36,36 51,58
Jumlah 46 23 0,22 100 100 200

g. Semak
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N Σ Plot K (Ind/ha) F KR (%) FR (%) INP (%)
1 Pupuq pulut Clitoria laurifolia Desv. Fabaceae 30 6 1.500 0,12 45 85,71 130,49
2 Jangak’ng Gleichenia linearis Gleicheniaceae 37 1 1.850 0,02 55 14,29 69,51
Jumlah 67 7 3.350 0,14 100 100 200

h. Herba
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N Σ Plot K (Ind/ha) F KR (%) FR (%) INP (%)
1 - Axonopus compressus Poaceae 597 36 29.850 0,72 34 22,64 56,31
(Swartz) Beauv.
2 - Brachiaria distachya (L.) Poaceae 16 4 800 0,08 1 2,52 3,42
Stapf.
3 - Cynodon dactylon (L.) Pers. Poaceae 15 2 750 0,04 1 1,26 2,10
4 - Cyperus kyllingia Endl. Cyperaceae 28 3 1.400 0,06 2 1,89 3,47
5 Padang Imperata cylindrical (L.) P. Poaceae 124 17 6.200 0,34 7 10,69 17,69
Beauv.
6 - Andropogon aciculatus Retz. Poaceae 16 3 800 0,06 1 1,89 2,79
7 - Paspalum comersonii Lamk. Poaceae 166 13 8.300 0,26 9 8,18 17,54
8 - Paspalum conjugatum Berg. Poaceae 47 7 2.350 0,14 3 4,40 7,05
9 Simpiring Scleria sumatrensis Retz. Cyperaceae 181 25 9.050 0,5 10 15,72 25,93

138
10 Bomoy Smilax zeylanica BL. Smilaxaceae 15 4 750 0,08 1 2,52 3,36
138

Herba (Lanjutan)
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N Σ Plot K (Ind/ha) F KR (%) FR (%) INP (%)
11 Luwaq Dianella ensifolia DC. Liliaceae 58 9 2.900 0,18 3 5,66 8,93
12 Rumput mingguan Borreria latifolia (Aubl.) K. Rubiaceae 435 29 21.750 0,58 25 18,24 42,77
Sch.
13 - Vanilla sp. Orchidaceae 75 7 3.750 0,14 4 4,40 8,63
Jumlah 1.773 159 88.650 3,18 100 100 200

i. Perdu
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N Σ Plot K (Ind/ha) F KR (%) FR (%) INP (%)
1 Bakakang buluq Clidemia hirta Don. Melastomataceae 389 43 19.450 0,86 100 100 200
Jumlah 389 43 19.450 0,86 100 100 200

j. Paku-pakuan
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Famili N Σ Plot K (Ind/ha) F KR (%) FR (%) INP (%)
1 Pakuq Stenochlaena palustris (Burm. F.) Bedd. Polypodiaceae 78 6 3.900 0,12 21 24 44,58
2 Pakuq kanau Pteridium sp. Dryopteridaceae 18 4 900 0,08 5 16 20,75
3 Pakuq param Nephrolepis biserrata Dryopteridaceae 283 15 14.150 0,3 75 60 134,67
Jumlah 379 25 18.950 0,5 100 100 200

139
140

Lampiran 17 Daftar rekapitulasi responden di Kampung Keay


Umur Jenis
No. Nama Pendidikan Pekerjaan Suku
(Tahun) Kelamin
1 Aboy 85 L SD Pengrajin Dayak
2 Adhan 19 L SMA Pelajar Dayak
3 Agus 27 L SMA Swasta Jawa
4 Aisyah 35 P SD IRT Dayak
5 Amesto 23 L SMP Swasta Dayak
6 Andre 24 L SMA Swasta Dayak
7 Andriansyah 24 L SMA Swasta Dayak
8 Askar 30 L SD Swasta Bugis
9 Basmang 19 L SMA Buruh Bugis
10 Beta 45 L SD Swasta Dayak
11 Bidaq 60 L SD Swasta Dayak
12 Desy 15 P SMP Pelajar Dayak
13 Dimensius 30 L SMP Petani Dayak
14 Dinah 40 P SD IRT Dayak
15 Eki 25 L S1 Swasta Dayak
16 Emilia 30 P SMP Buruh Dayak
17 Ena Ibung 48 P SD Petani Dayak
18 Endang 20 P SMA Pelajar Dayak
19 Engkong 26 L S1 Pegawai Dayak
20 Erawoq 87 P - Lainnya Dayak
21 Erina 19 P SD IRT Dayak
22 Erma 35 P SMP IRT Jawa
23 Evan 21 L SMP Petani Dayak
24 Florensius 17 L SMA Pelajar Dayak
25 Fransiska 31 P SMP IRT Dayak
26 Fransiskus 18 L SMA Pelajar Dayak
27 Galitia Ariyanti 40 P SMP IRT Dayak
28 Hartati 22 P SD IRT Dayak
29 Hendri 14 L SD Pelajar Dayak
30 Heny Listyana 27 P SMP IRT Dayak
31 Hesti 19 P SD IRT Dayak
32 Ilar 56 L SD Petani Dayak
33 Jahuri 40 L - Petani Dayak
34 Jampo 40 P - IRT Dayak
35 Jemari 90 P - Lainnya Dayak
36 Jerry 30 L SMP Swasta Dayak
37 Jum 35 L SD Swasta Dayak
38 Kasminah 36 P SD IRT Jawa
39 Kitu 87 L - Pengrajin Dayak
40 Kumpu 98 L - Pengrajin Dayak
41 Kunga 50 P - IRT Dayak
42 La’in 38 L SMA Petani Dayak
43 Lai 25 L SD Petani Dayak
44 Lempar 95 P - Lainnya Dayak
45 Lidya 23 P SD IRT Dayak
46 Lingkui 55 P - IRT Dayak
47 Mapan 59 P - IRT Dayak
48 Mardalena 29 P SD Petani Dayak
49 Maria 17 P SMA Pelajar Dayak
50 Martiliani 15 P SMP Pelajar Dayak
51 Martinus 51 L - Petani Dayak
52 Martinus siyeq 30 L SMP Petani Dayak
53 Maxima 15 L SMP Pelajar Dayak
54 Mudhoif 48 L SMA Petani Jawa
141

Lampiran 17 (Lanjutan)
Umur Jenis
No. Nama Pendidikan Pekerjaan Suku
(Tahun) Kelamin
55 Mungken 56 L SD Pegawai Dayak
56 Murijan 51 L SD Swasta Jawa
57 Nari 57 P SD Petani Dayak
58 Nerang 50 P - Buruh Dayak
59 Ngoma 51 L - Petani Dayak
60 Ninda 16 P SMA Pelajar Dayak
61 Nuah 65 L SD Buruh Dayak
62 Nuryati 34 P - IRT Dayak
63 Nyenip 54 L SD Petani Dayak
64 Oraniwati 30 P SMP IRT Dayak
65 Parto 22 L SMA Swasta Dayak
66 Pentem 42 L SD Petani Dayak
67 Petrus 28 L - Petani Dayak
68 Rani 58 L - Petani Dayak
69 Rapinus 25 L SMA Swasta Dayak
70 Rasip 75 L - Petani Dayak
71 Raya 60 P - IRT Dayak
72 Rebinah 21 P SMP IRT Dayak
73 Rema 43 P SD Petani Dayak
74 Rena 43 P SD IRT Dayak
75 Reniye 50 P - Petani Dayak
76 Ridu 52 P SD Petani Dayak
77 Rima 53 P - IRT Dayak
78 Ringah 70 P - IRT Dayak
79 Rudy 56 L S1 Pegawai Toraja
80 Rus 24 P D3 IRT Dayak
81 Rusmasty 15 P SMP Pelajar Dayak
82 Rusminah 30 P SMP IRT Dayak
83 Ruth Rasi 48 P SD IRT Dayak
84 Santi 26 P SD Petani Dayak
85 Semi 29 P SMP IRT Toraja
86 Seni 38 P SD IRT Dayak
87 Sisila 19 P SMA Pelajar Dayak
88 Siska 22 P SMP IRT Dayak
89 Siti 29 P SD Petani Dayak
90 Sukri 70 L SD Lainnya Dayak
91 Sumarmi 49 L D2 Pegawai Jawa
92 Susana 35 P SD Swasta Dayak
93 Tarim 61 L - Petani Dayak
94 Teruni 50 L - Petani Dayak
95 Winarti 16 P SMP Pelajar Dayak
96 Yakup Oktavianus 29 L SMA Buruh Dayak
97 Yohanes 56 L SD Petani Dayak
98 Yosef calon 43 L SMP Swasta Dayak
99 Yudi 16 L SMA Pelajar Dayak
100 Yusuf Roni 37 L SMP Petani Dayak