Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada mulanya persoalan – persoalan ilmu pengetahuan adalah

diseputar metode dan substansi yang tidak terpisahkan dari filsafat alam

(Jerome R. Ravertz : 92). Disebut sebagai filsafat alam, karena alam yang

dijadikan objek kajian oleh para filsuf. Pemikir – pemikir itu mendiskusikan

asal-usul dan evolusi alam semesta, bentuk dan zatnya, struktur dan hukum-

hukumnya, dengan istilah-istilah yang seterusnya menjadi dasar

perbendaharaan kata untuk bahasa ilmiah (Franz Dahler dan Eka Budianta,

2000 : 175). Pada Perkembangan berikutnya, Filsafat lebih memfokuskan

objek kajiannya, yakni manusia.

Pokok permasalahan yang dikaji filsafat mencakup tiga segi, yakni

logika, etika dan estetika. Logika terkait dengan apa yang benar dan apa

yang disebut salah, etika berhubungan dengan mana yang dianggap baik

dan mana yang dianggap buruk, sedangkan estetika mengacu kepada apa

yang disebut indah dan apa yang termasuk jelek. Dalam perkembangan

berikutnya, ketiga segi itu bertambah lagi. Pertama, teori tentang ada;

tentang hakikat keberadaan zat, tentang hakikat pikiran, serta kaitan antara

zat dan pikiran yang semuanya terangkum dalam metafisika. Kedua,

politik : yakni kajian mengenai organisasi sosial / pemerintahan yang ideal.

Selanjutnya cabang-cabang ini berkembang menjadi cabang-cabang filsafat

yang masing-masing mempunyai bidang kajian yang lebih spesifik lagi.

1
Filsafat ilmu (ilmu pengetahuan-pen) termasuk di antara cabang –

cabang filsafat dimaksud (Jujun S. Suriasumantri : 32) Memang Filsafat

diakui sebagai “induk” ilmu pengetahuan. Pernyataan ini mengisyaratkan,

bahwa ilmu pengetahuan yang terus berkembang menjadi berbagai disiplin

itu semuanya bersumber dari filsafat. Namun setelah lepas dan mandiri,

ikatan nilai – nilai etika yang “diamanatkan” oleh “sang induk” semakin

diperlonggar, dan akhirnya dilupakan sama sekali. Kehadiran filsafat ilmu

pengetahuan dapat dinilai sebagai upaya sadar para ilmuan peletak

dasarnya, untuk menyatukan kembali ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai

kearifan filsafat sebagai induknya.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Ontologi ?

2. Bagaimana objek- objek tentang kajian filsafat ?

3. Apa saja aliran dalam metafisika ontologi ?

4. Apa saja cabang – cabang dari filsafat ?

C. Tujuan Penulisan

1. Agar mahasiswa dapat mendeskripsikan definisi ontologi.

2. Agar mahasiswa dapat menjelaskan objek kajian filsafat.

3. Agar mahasiswa dapat mendeskripsikan aliran dalam metafisika ontologi.

4. Agar mahasiswa dapat menganalisa tentang cabang – cabang filsafat.

2
BAB II |

PEMBAHASAN

A. Definisi Ontologi

Ontologi berasal dari kata yunani on (ada), dan ontos berarti

keberadaan. Sedangkan logos berarti pemikiran. Jadi ontologi adalah

pemikiran mengenai yang ada dan keberadaannya (suparlan Suhartono :

111). Kata Yunani onto berarti “yang ada secara nyata”, kenyataan yang

sesungguhnya. (Nadiroh : 142) Ontologi adalah ilmu yang mengkaji tentang

hakikat ilmu. Hakikat apa yang dikaji (Jujun R. Suriasumantri : 61).

Dikemukakan pula bahwa ontologi ilmu mengkaji apa hakikat ilmu

pengetahuan, apa hakikat kebenaran rasional atau kebenaran deduktif dan

kenyataan empiris yang tidak terlepas dari persepsi tentang apa dan

bagaimana (yang) “ada” itu (Nadiroh, 2011 : 143) Adapun yang dimaksud

dengan ontologi adalah kajian yang memusatkan diri pada pemecahan

esensi sesuatu atau wujud, tentang asas – asasnya dan realitas (Hafiz

Ghulam Sarwa, 1976 : 25).

Asas – asas tentang sesuatu wujud yang nyata. Keberadaan dan

realitasnya dapat dicermati dan ditangkap oleh panca indera manusia.

Dengan demikian, ontologi adalah telaah secara filsafat yang ingin

menjawab objekk apa yang ditelaah oleh ilmu? Bagaimana wujud hakiki

dari objek tersebut? Bagaimana hubungan objek tersebut dengan daya

tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang

membuahkan pengetahuan (Jujun S. Suriasumantri, 2000 : 33).

Dikemukakan, bahwa ontologi menyelidiki hakikat dari segala sesuatu

dari alam nyata yang sangat terbatas bagi panca indera kita. Bagaimana

3
realita yang ada ini, adalah materi semata, apakah wujudnya bersifat tetap,

kekal tanpa perubahan? Juga apakah realita itu juga terbentuk dari satu

unsur (monisme), dua unsur (dualisme), atau banyak unsur (pluralisme).

Dengan demikian, alam semesta ini sebagai sebuah realita apakah juga

berhakikat monistik atau pluralistik, bersifat tetap atau berubah-ubah. Juga

apakah alam semesta ini merupakan kesungguhan (actual) atau

kemungkinan (potency). (Suparlan Suharsono : 111).

Dengan demikian, ontologi membatasi diri pada ruang kajian

keilmuan yang dapat difikirkan manusia secara rasional yang bisa diamati

melalui panca indera manusia. Wilayah ontologi terdapat pada jangkauan

pengetahuan ilmiah manusia (Nadiroh : 143). Manakala ruang kajian

ontologi tidak semata – mata dihubungkan dengan panca indera manusia,

melainkan juga fikiran (rasio), maka objek telaahnya menjadi titik terbatas

pada “wujud” materi semata. Tidak hanya objek yang bersifat fisik materi,

tapi juga mencakup objek yang metafisik (metafisika).

Berdasarkan uraian diatas, penulis menyimpulkan bahwa Ontologi

adalah rumusan tentang gejala pengamatan yang dibatasi pada suatu pokok

telaah khusus yang tidak tergarap oleh bidang telaah lain.

B. Objek Kajian Filsafat

Seperti ilmu pengetahuan lainnya, filsafat juga mempunyai objek

kajian yang meliputi objek materi dan objek formal. Dalam kaitan ini, Louis

O. Kattsoff menulis bahwa : “Lapangan kerja filsafat itu bukan main

luasnya, yaitu meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu apa

saja yang ingin diketahui manusia”. Sedangkan, A.C.Ewing mengatakan :

“pertanyaan – pertanyaan pokok filsafat adalah Truth (kenenaran), Matter

4
(materi), Mind (budi), the Rlation of Matter and Mind (hubungan materi

dan budi), Space and Time (ruang dan waktu), Cause (sebab), Freedom

(kemerdekaan), Monism versus Pluralism (monisme melawan pluralisme)

dan God (Tuhan).

Sementara M.J. Langeveld menyatakan : “Bahwa hakikat filsafat itu

berpangkal pada pemikiran keseluruhan segala sesuatu (sarwa) yang ada

secara radikal dan menuru sistem.” Objek Materi dan Objek Formal

filsafat : Objek Materi Filsafat, yaitu hal atau bahan yang didelidiki (hal

yang dijadikan sasaran penyelidikan). Atau segala sesuatu yang ada. “ada”

di sini mempunyai tiga pengertian, yaitu ada dalam kenyataan, pikiran dan

kemungkinan.

Pengertian lain adalah segala sesuatu yang menjadi masalah filsafat,

segala sesuatu yang dimasalahkan oleh atau dalam filsafat, terdapat tiga

persoalan pokok :

1. Hakikat Tuhan

2. Hakikat Alam

3. Hakikat Manusia

Objek Formal Filsafat yaitu sudut pandang (point of view), dari mana

hal atau bahan tersebut dipandang. Objek Formal filsafat adalah

menyeluruh secara umum. Menyeluruh di sini berarti bahwa filsafat dalam

memandangnya dapat mencapai hakikat (mendalam), atau tidak ada satupun

yang ebrada di luar jangkauan pembahasan filsafat. Objek formalnya adalah

metode untuk memahami objek materil tersebut, seperti pendekatan induktif

dan deduktif.

5
Pengertian lain menyebutkan bahwa Objek Formal Filsafat adalah

usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam – dalam sampai ke akar –

akarnya) tentang objek materi filsafat. Menurut Ir. Poedjawijatna, objek

materi filsafat adalah ada dan mungkin ada. Objek materi tersebut sama

dengan objek materi dari ilmu seluruhnya. Objek material filsafat adalah

segala yang ada, baik mencakup ada yang tampak dan ada yang tidak

tampak. Yang tampak adalh empriris sedangkan yang tidak tampak adalah

alam metafisika.

Sebagian filosof membagi objek material filsafat menjadi tiga bagian,

yaitu yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam alam pikiran dan yang

ada dalam kemungkinan. Yang menentukan perbedaan ilmu yang satu

dengan yang lainnya adalah objek formalnya, sehingga kalau ilmu

membatasi diri dan berdasarkan pengalaman, sedangkan filsafat tidak

membatasi diri, filsafat hendak mencari keterangan yang sedalam –

dalamnya, inilah objek formal filsafat.

Dalam perspektif ini dapat diuraikan bahwa ilmu filsafat pada prinsipnya

memiliki 2 objek substansif dan 2 objek instrumentatif, yaitu Objek

Substantif yang terdiri dari 2 hal

1. Kenyataan (Fakta) Fakta (kenyataan) yaitu empiri yang dapat dihayati oleh

manusia. Dalam memahami fakta ini ada beberapa aliran filsafat yang

memberikan pengertian yang berbeda – beda, diantaranya yaitu positivme

(hanya mengakui pengayatan yang empirik dan sensual. Sesuatu sebagai

fakta apabila ada korespondensi antara sensual satu dengan yang lainnya.

Data empiriksensual tersebut harus objektif tidak boleh masuk subjektifitas

peneliti. Fakta itu yang faktual ada phenomenologi. Fakta buka sekedar data

6
empirik sensual tetapi data yang sudah dimaknai sehingga ada subjektifitas

peneliti tetapi, subjektifitas peneliti disini tidak berarti sesuai selera

peneliti.subjektif dalam arti tetap selektif sejak dari pengumpulan data,

analisis data sampai kesimpulan.data selektifnya disa berupa ide moral dan

lain-lain.orang yang mengamati terkait langsung pada konsep-konsep yang

dimiliki.

2. Kebenaran (truth) Positivisme, benar substantif yang menjadi identik

dengan benar sesuai dengan empiri sensual. Kebenaran positivistik

didasarkan pada ditemukan frekwensi tinggi atau fariansi yang besar. Bagi

positivisme sesuatu itu benar apabila ada korespondwnsi antara fakta yang

satu dengan fakta yang phenominology. Kebenaran dibuktikan berdasarkan

pada oenemuan yang esensial yang dipilih dari non esensial atau

esksemplar dan sesuai dengan skema tertentu. Secara dikenal teori

kebenaran, yaitu kebenaran korespondensi dan teori kebenaran koherensi.

Bagi phenominology fenomena baru dapat dinyatakan benar setelah diuji

kebenarannya dengan yang dipercaya. Realisme methafisik ia mengakui

kebenaran bila yang faktual itu koheren dengan kebenaran objektif

universal. Realisme sesuatu yang benar apabila didukung teori dan ada

faktanya. Realisme baru menutut adanya 5 konstruk teori (yang disusun

deduktif probabilisti) dan adanya empiri terkonstruk pula. Islam sesuatu itu

benar apabila yang empirik faktual yang koheren dengan kebenaran

transeden berupa wahyu. Pregamatisme mengakui kebenaran apabila

faktual berfungsi.

Rumusan substantif tentang kebenaran ada beberapa teori, menurut

Michael Williams ada 4 teori kebenaran yaitu:

7
a. Kebenaran Preposisi yaitu teori kebenaran yang didasarkan pada kebenaran

preposisinya baik preposisi formal maupun preposisi materialnya.

b. Kebenaran Koherensi atau Konsistensi yaitu teori kebenaran yang

mendasarkan suatu kebenaran pada adanya kesesuaian suau pernyataan

denag pernyataanpernyataan yang lainnya yang sudah lebih dahulu

diketahui, diterima dan diakui kebenarannya.

c. Kebenaran Performatif yaitu teori kenbenran yang mengakui bahwa sesuati

itu dianggap benar apabila dapat diaktualisasikan dalam tindakan.

d. Kebenaran Praqmatik yaitu toeri kebenaran yang mengakui bahwa sesuatu

itu benar apabila mempunyai kegunaan praktif.

Dengan kata lain sesuatu itu dianggap benar apabila mendatangkan

manfaat dan salah apabila tidak mendatangkan manfaat. Obyek

Instrumentatif melalui Konfirmasi Fungsi ilmu adalah untuk menjelaskan,

memprediksi proses dan produk yang akan datang atau memberikan

pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi

absolut denga menggunakan landasan : asumsi, postulat atau axioma yang

sudah dipastikan benar. Pemaknaan juga dapat ditampilkan sebagai

konfirmasi probabilistik dengsn mengggunakan metode induktif, deduktif,

reflektif.

Pemaknaan juga dapat ditmpilkan sebagai konfirmasi probabilistik

dengan menggunakan metode induktif, deduktif, reflektif. Dalam ontologi

dikenal pembuktian apriori dan aposteriori. Untuk memastikan kebenaran

penjelasan atau kebenaran perdiksi para ahli mendasarkan pada dua aspek :

(1) Aspek Kuantitatif

(2) Aspek Kualitatif.

8
Dalam hal konfirmasi.sampai saat ini dikenal ada tiga teori konfirmasi,

yaitu:

1) Decision Theory: menerapkan kepastian berdasar keputusan apakah

hubungan antara hipotesis dengan evidensi memang memiliki manfaat

aktual.

2) Estimation Thory: menetapkan kepastian dengan memberi peluang

benar atau salah dengan menggunakan konsep probabilitas.

3) Reliability Analysis: menetapkan kepastian dengan mencermati

stabilitas evidensi (yang mungkin berubah-ubah karena kondisi atau karena

hal lain) terhadap hepotesis.

C. Aliran dalam Metafisika Ontologi

Aliran-aliran yang terdapat dalam filsafat sangat banyak dan kompleks.

Di bawah ini akan kita bicarakan aliran metafisika, aliran etika, dan aliran-

aliran teori pengetahuan. Pluralisme adalah aliran yang berpendapat bahwa

unsur pokok hakikat kenyataan ini banyak. Menurut Empedokles: udara,

api, air dan tanah. yang mengenai kualitas (sifat). Yang mengenai kualitas

dibagi juga menjadi dua bagian besar, yakni yang melihat hakikat

kenyataan itu tetap, dan yang melihat hakikat kenyataan itu sebagai

kejadian.

Yang termasuk golongan pertama (tetap) ialah: ” Spiritualisme, yakni

aliran yang berpendapat bahwa hakikat itu bersifat roh. ” Materialisme,

yakni aliran yang berpendapat bahwa hakikat itu bersifat materi. Yang

termasuk golongan kedua (kejadian) ialah: ” Mekanisme, yakni aliran yang

berkeyakinan bahwa kejadian di dunia ini berlaku dengan sendirinya

menurut hukum sebab-akibat. ” Aliran teleologi, yakni aliran yang

9
berkeyakinan bahwa kejadian yang satu berhubungan dengan kejadian yang

lain, bukan oleh hukum sebab-akibat, melainkan semata-mata oleh tujuan

yang sama. ” Determinisme, yaitu aliran yang mengajarkan bahwa kemauan

manusia itu tidak merdeka dalam mengambil putusan-putusan yang penting,

tetapi sudah terpasti lebih dahulu. ” Indeterminisme, yaitu aliran yang

berpendirian bahwa kemauan manusia itu bebas dalam arti yang seluas-

luasnya.

D. Cabang – cabang Filsafat

Telah kita ketahui bahwa filsafat adalah sebagi induk yang mencakup

semua ilmu khusus.akan tetapi,dalam perkembangan selanjutnya ilmu-ilmu

khusus itu satu demi satu memisahkandiri dari induknya,filsafat Mula-mula

matematika dan fisika melepaska diri,kemudian di ikuti oleh ilmu-ilmu lain.

Adapun psikologi baru pada akhir-akhir ini melepaskan diri dari

filsafat,bahkan di beberapa institut,psikologi masih terpaut dengan fisafat.

Setelah filsafat di tinggalkan oleh ilmu-ilmu khusus,ternyata ia tidakmati,

tetapi hidup dengan corak baru sebagai “ilmu istimewa“ yang memecahkan

masalah yang tidak terpecahkan oleh ilmu-ilmu khusus.

Yang menjadi pertanyan ialah apa saja kah yang masih merupakan

bagian dari filsafat dalam coraknya yang baru ini? Persoalan ini membwa

kita kepada pembicaraan tentang cabang-cabang filsafat. Berikut ini

pengetian dari cabang-cabang filsafat yang utama. Logika adalah cabang

filsafat yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita.Laporan dalam

logika adalah asas-asas yang ,menentukan pemikiran yang lurus,tepat,dan

sehat. Dengan mempelajari logika diharapkan dapatmenerapkan asas

bernalar sehingga dapat menarik kesimpulan dengan tepat.

10
Epistomologi adalah bagian filsafat yang membicarakan tentang

terjadinya pengetahuan,sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan,batas-

batas, sifat, metode. Adapun filsafat ilmu mempelajari tentangciri-ciri

pengetahuan ilmiah dan cara bagaimana mendapatkanya. Dengan belajar

dan filsafat ilmu diharapkan dapat membedakan antara pengetahuan dan

ilmu serta mengetahui dan menggunakan metode yang tepat dalam

memperoleh suati ilmu serta mengetahui kebenaran suatu ilmu itu ditinjau

dari isinya.

Etika adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau

perbuatan manusia dalam hubunganya dengan baik-buruk. Dengan belajar

etika diharapkan dapat membedaksn istilah yang sering muncul seperti

etika, norma, dan moral. Di samping itu, dapat mengatuhui dan memahami

tingkah laku apa yang baik menurut teori-teori tertentu, dan sikap yang baik

sesuatu dengan kaidah-kaidah etika. Jadi objek material etika adalah

tingkah laku atau perbuatan manusia. Perbuatan yang dilakukan secara

sadar dan bebas.

Objek formal etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan

tidak bermoral dari tingkah laku tersebut. Estetika adalah cabang filsafat

yag membicarakan tentang keindahan. Objek dari estetika adalah

pengalaman akan keindahan. Dengan belajar estetika diharapkan dapat

membedakan antara estetika filsafati dan estetika ilmiah,berbagi teori-teori

keindahan,pengertian seni,penggolongan seni,aliran dalam seni dan teori

penciptaan dalam seni.

Metafisikaadalah cabang filsafat yang menbicarakan tentang yang ada.

Metafisika membicarakan sesuatu disebalik yang tampak.dengan belajar

11
netafisika orang justru akan mengenal akan tuhannya,dan mengetahui

sebagai macam aliran yang ada dalam metafisika.persoalan-persoalan

metafisis dibedakan menjadi tiga, yaitu persoalan ontologi,persoalan

kosmologi,dan persoalan antropologi. Ada tiga cabang filsafat ilmu yaitu

secara garis besarnya adalah Ontologi, Epistimologi, dan Axiologi.

Ontologi Dalam kamus besar bahasa indonesia diterjemahkan makna

dari ontologi itu sendiri yaitu cabang ilmu filsafat yang berhubungan

dengan hakikat hidup. Lebih spesifik dalam kuliah prof noeng menjelaskan

bahwa ontologi itu lebih menjelaskan tentang ada, tentang objek atau esensi

keberadaan sesuatu. Objek yang menjadi kajian dalam ontologi tersebut

adalah realita yang ada dan dalam ontologi adalah studi tentang yang ada

yang universal, dengan mencari pemikiran semesta universal. Ontologo

berusaha mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan atau

menjelaskan yang ada dalam setiap bentuknya.

Epistimologi Dalam kamus besar bahasa indonesia diterjemahkan

makna dari epistemologi adalah cabang dari ilmu filsafat tentang dasar-

dasar dan batasan-batasan pengtahuan.lebih spesifik dijelaskan bahwa

bagaimana kebenaran didapatkan oleh manusia dalam hai ini cara

menangkap keberadaan sesuatu dan mengetahui adanya. Axiologi Dalam

kamus besar bahasa indonesia diterjemahkn makna dari axiologi tersebut

adalah kegunaan ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia atau kajian

tentang nilai khususnya etika. Lebih spesifik makna dari axiologi itu adalah

tentang nilai dari adanya sesuatu tersebut. Axiologi itu sendiri terdiri dari 2

cabang ilmu lain yaitu estetika dan etika.

12
a. Estetika berhubungan dengan akal, persepsi dan apresiasikeindahan. Hai ini

luas danmeliputi segala sesuatuyang berhubungan dengan apresiasi seni dan

budaya.

b. Etika berkaitan dengan moralitas dan nilai-nilai. Etika berusaha untuk

memahami dasarmoral, perkembangannya dan bagaimana harus diikuti.

13
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Seperti telah dikatakan, ilmu filsafat itu sangat luas lapangan

pembahasanya. Y ang ditunjunya ialah mencari hakikat kebenaran dari

segala sesuatu, baik dalan kebenaran berpikir (logika), berperilaku(etika),

maupun dalam mencarihakikat atau keaslian(metafisika). Maka

persoalannya menjadi apakah sesuatu itu hakiki (asli) atau palsu (maya).

Dari tinjauan diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam tiap-

tiap pembagian sejak zaman Aritoteles hingga dewasa ini lapangan-

lapangan yang paling utama dalam ilmu filsafat selalu berputar disekitar

logika, metafisika,dan etika .

B. SARAN

Filsafat merupakan bidang studi sedemikian luasnya sehingga

diperlukan pembagian yang lebih kecil lagi.Dalam pembagian tersebut tidak

ada tata cara pembagian sehingga terdapat perbedaan,hingga banyak cebang

yang muncul dan di buat dari banyaknya cabang tersebut hendak lah kita

dapat menyaring segala hal yang baik, baik untuk kita sendiri maupun

untuk orang lain.

14
15