UNIVERSITAS INDONESIA
Under Armour’s Strategy in 2016:
How Big a Factor Can the Company Become in the $250
Billion Global Market for Sports Apparel and Footwear?
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Manajemen Stratejik & Kepemimpinan
Dina Bakti Pertiwi
(1806162175)
Yehan Jaya Matuilana
(1806162452)
Magister Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Indonesia
2020
Kami yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa paper terlampir adalah murni
hasil pekerjaan kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang kami gunakan tanpa
menyebutkan sumbernya. Materi ini belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk
makalah pada mata ajaran lain kecuali kami menyatakan dengan jelas bahwa kami
menggunakannya. Kami memahami bahwa tugas yang kami kumpulkan ini dapat
diperbanyak atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.
Nama dan NPM : Dina Bakti Pertiwi (1806162175)
Yehan Jaya Matuilana (1806162452)
Mata Ajaran : Manajemen Stratejik & Kepemimpinan
Nama Pengajar : Rudyan Kopot S.E., M.B.A
Judul Tugas : Under Armour’s Strategy in 2016:
How Big a Factor Can the Company Become in the $250
Billion Global Market for Sports Apparel and Footwear?
UNDER ARMOUR’S STRATEGY IN 2016:
HOW BIG A FACTOR CAN THE COMPANY BECOME IN THE $250 BILLION
GLOBAL MARKET FOR SPORTS APPAREL AND FOOTWEAR?
Assignment Question
1. How strong are the competitive forces confronting Under Armour, Nike, and The
adidas Group? Do a fiveforces analysis to support your answer.
Topics Under Armour (UA) Nike Adidas
Threat of new entrants Industri appareal pakaian olahraga memiliki pangsa pasar yang besar dan memiliki
tingkat ketertarikan yang tinggi dari pemain baru dalam pasar. Sehingga masing-
masing produsen memiliki strategi tersendiri dalam mempertahankan pasarnya
Barriers to entry dari industry tersebut dinilai rendah (low)
UA memberikan Nike mengedepankan Adidas memiliki strategi
pendekatan harga yang inovasi dan memiliki dalam pasar yang hamper
lebih rendah kepada kerjasama dengan sama dengan Nike
konsumen dengan berbagai klub olahraga namun terpusat pada
kualitas yang baik. besar sebagai pendorong pasar eropa.
pemasaran
Threat of Substitutes Msaing masing produsen memiliki tingkat loyalty yang berbeda dari consumer.
Nike mengedepankan inovasi, sehingga barang-barang yang diproduksi memiliki
ciri khas yang disukai pelanggan. Sedangkan UA mengedepankan pendekatan
biaya sehingga dapat menarik pasar yang berbeda. UA mengedepankan
diferensiasi pada kolaborasi dengan beberapa ikon olahraga.
Bargaining power of Bargaining power konsumen untuk UA cenderung lebih rendah tinggi
buyer dibandingkan dengan Nike dan Adidas karena memiliki tingkat loyalitas
konsumen yang lebih tinggi. Atas hal tersebut, UA cenderung dependen dengan
permintaan pasar. Pasar akan cenderung sensitive terhadap biaya yang ditetapkan
untuk sebuah produk UA.
Bargaining power of Ketiga produsen memiliki tingkat bargaining power yang tinggi terhadap supplier
supplier karena telah dapat dikategorikan sebagai perusahaan global yang terpercaya
dengan kualitas dan produknya. Sehingga produsen tersebut dapat dengan mudah
menemukan supplier lain, namun demikian terdapat isu pada jumlah pasokan
mengingat tingkat permintaan atas ketiga produsen tersebut sangat tinggi.
Rivalry among existing Kompetisi antar produsen dinilai sangat tinggi mengingat perusahaan tersebut
competitor memiliki basis pasar yang hampir sama. Masing-masing produsen mencoba untuk
melekat pada seorang/sebuah ikon olahraga tertentu seperti nike dengan Michael
Jordan dan under armor dengan steph curry dalam olahraga basket. Strategi
pemasaran tersebut hingga saat ini cenderung ampuh dalam mendongkrak nilai
pasar masing-masing perusahaan.
Selain itu dalam pasar yang kompetitif, harga juga sangat dominan dalam
mempengaruhi tingkat permintaan, namun demikian hal tersebut tidak berlaku
untuk Nike dengan lini bisnis Jordan dan Adidas dengan Yeezy.
2. Does Under Armour have any core competencies and, if so, what are they?
Under Armor memproduksi produk apparel untuk olahraga/atletik dengan kualitas
yang baik dan dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan dengan Nike. Nike
dan Adidas memang memproduksi barang dengan kualitas baik serta memiliki
inovasi, namun untuk sisi harga cenderung belum kompetitif.
3. Does Under Armour have any resource strengths or competitive capabilities that
qualify as a distinctive competence?
Ya, UA memiliki kemampuan berkompetisi dalam pasar, yang didorong oleh adanya
inovasi serta kemampuan manajerial yang baik dalam pengelolaan usaha.
4. What does a SWOT analysis reveal about the overall attractiveness of Under
Armour’s situation?
Strengths
- Kemampuan finansial yang kuat
- Kemampuan manajerial yang baik
- Produk yang memiliki diferensiasi, baik dari sisi inovasi maupun strategi
pemasaran.
- Brand yang telah dikenal oleh masyarakat Amerika
- Kemampuan produksi dalam jumlah besar
Weakness
- Kurang dikenal untuk lini bisnis tertentu seperti sepatu (cenderung dikenal dan
tinggi tingkat permintaannya untuk produk pakaian)
- Merupakan pemain baru, sehingga belum teruji dalam pasar.
- Brand awareness yang belum mendunia.
Opportunities
- Jumlah masyarakat dunia yang besar, serta kebutuhan akan pakaian dan produk
olahraga
- Teknologi dan inovasi yang dimilik
Threats
- Tuntutan kenaikan gaji dari buruh yang dapat meningkatkan biaya produksi
- Pesaing baru dapat dengan mudah masuk dalam pasar
5. What are the key elements of Under Armour’s strategy?
Kemampuan inovasi yang baik dalam menghasilkan produk masal dengan harga yang
cenderung rendah dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya. Selain itu UA
melakukan pola pemasaran dengana bekerja sama dengan berbagai ikon olahraga
terutama bola basket yang cenderung dapat mendorong penetrasi pasar di amerika.
UA juga memiliki kemampuan pengendalian manajemen yang baik sehingga dapat
menjalankan perusahaan dengan berorientasi pada hasil.
6. Which one of the five generic competitive strategies discussed in Chapter 5 most
closely approximates the competitive approach that Under Armour is employing?
Thompson
(2018) menjelaskan bahwa terdaapat five generic competitive strategies diantaranya
adalah Low Cost Provider, Broad Differentiation, Focused Low Cost, Focused
Differentiation dan Best Cost Provider. Menurut kelompok kami, salah satu
competitive strategy paling mendekati pendekatan kompetitif yang digunakan Under
Armor adalah Focused Differentiation. Hal ini terlihat dari business operation Under
Armour yang berfokus pada penjualan produk sports apparel dan jasa lifestyle berupa
komunitas fitness, semua jenis produk yang dijual Under Armour di desain dengan
kreativitas dan inovasi yang berorientasi pada selera dan kebutuhan kelompok, seperti
kelompok konsumen yang mempunyai hobi olahraga ataupun kelompok atlet
profesional. Oleh karena itu, Under Armour sangat fokus dalam menciptakan produk
yang berbeda (unique).
7. What is impressive about Under Armour’s financial performance during the 2011-
2015 period (as shown in case Exhibit 1)?
8. How does Under Armour’s competitive strength compare against that of Nike and
The adidas Group? Do a weighted competitive strength assessment using the
methodology presented in Table 4.4 in Chapter 4 to support your answer. Based on
your assessment and calculations, does Under Armour have a net competitive
advantage or disadvantage in competing against Nike and The adidas Group?
9. What 3-4 top priority issues do Kevin Plank and Under Armour management need to
address?
10. What recommendations would you make to Under Armour CEO Kevin Plank? At a
minimum, your recommendations should cover what to do about each of the top
priority issues identified in question 9.
DAFTAR PUSTAKA
Thompson Jr, A., A.J.Strickland III, J.E. Gamble, Crafting and Executing Strategy :
The Quest for Competitive advantage 21th Edition, McGraw Hill Boston, 2018.