Anda di halaman 1dari 6

TUGAS 2

ILMU HUKUM/PTHI
MAZHAB HUKUM

NAMA : BAIQ NUNUNG RIANA HAPSARI


NIM : 041020573

FAKULTAS HUKUM, ILMU SOSIAL, DAN ILMU POLITIK (FHISIP)


UNIVERSITAS TERBUKA
Tugas.2

1. Apakah kelebihan dan kelemahan Aliran atau Mahzab Hukum Alam dalam kaitan dengan
pembentukan hukum?
Aliran hukum alam hukum itu berlangsung bersumber dari tuhan, bersifat universal dan
abadi, serta antara hukum dan moral tidak boleh dipisahkan.
Selanjutnya dalam perkembangannya menurut Thomas Aquinas (dalam Nandang
Alamsah Delianoor (2020: 8.2). Hukum alam menjadi empat komponen:
1) Lex Aeterna, hukum ini bersumber dari Tuhan dan menjadi dasar bagi semua
hukum yang ada.
2) Lex Divina, merupakan bagian dari rasio tuhan yang ditangkap atas dasar wahyu
yang diterimanya.
3) Lex Naturalis, bagian dari Lex Aeterna yang dapat ditangkap oleh manusia
melalui akal pikiran yang dianugrahkan oleh Tuhan kepadanya.
4) Lex Humana, penyesuaian hukum dengan dalil-dalil akal, dimana hukum tidak
adil dan tidak dapat diterima akal bukanlah hukum, tetapi hukum yang
menyimpang.
Dari uraian dan teori diatas dapat diketahui adanya kelebihan dan kelemahan Aliran atau
Mahzab Hukum Alam dalam kaitan dengan pembentukan hukum.
Kelebihan Mahzab Hukum Alam dalam kaitan dengan pembentukan hukum yakni:
1) Hukum alam juga dianggap sebagai hukum tertinggi yang diturunkan Tuhan
kepada manusia melalui rasio dan akalnya.
2) Sebagai dasar hukum keadilan, perlindungan terhadap HAM dan sebagai
instrument utama pada saat hukum perdata romawi kuno ditransformasikan
menjadi sistem hukum internasional.
3) Hukum Internasional berhasil difahami melalui pendekatan hukum alam, upaya
untuk lebih menjamin kepastian hukum tentu dapat dilakukan dengan cara yang
lebih konkret
4) Dijadikan oleh hakim untuk menggali hukum dari sumber yang lain, misalnya
dari yurisprudensi perjanjian dan doktrin.
5) Hukum alam sebagai prinsip-prinsip dasar dalam perundang-undangan yang
merupakan suatu bagian dari hukum yang berlaku. Contoh: Prinsip-prinsip hukum
alam dijadikan senjata oleh para hakim Amerika Setikat pada waktu itu mereka
memberikan tafsiran terhadap konstitusi mereka, dengan menolak campur tangan
Negara melalui perundang-undangan yang ada yang ditujukan untuk membahas
kemerdekaan ekonomi.
6) Segala kekurangan dan kekosongan hukum positif diisi oleh hukum alam dan
hukum positif merupakan perwujudan dari hukum alam.
7) Hukum alam tercantum ketentuan-ketentuan yang mengatur tingkahlaku manusia
atau yang disebut kaidah-kaidah hukum atau kaidah-kaidah kesusilaan.
8) Kaum Stoa, Thomas Aquinas, Cicero dan Hugo Grotius. Teori hukum alam
seringkali digunakan sebagai landasan moral dan filosofisdalam mengkaji isu
tertentu.
Kelemahan Mahzab Hukum Alam dalam kaitan dengan pembentukan hukum yakni:
1) Hukum alam baru menjadi hukum yang sebenarnya bila ia menerima bentuk suatu
norma hukum sebagai hasil hukum.
2) Anggapan bahwa hukum bersifat mutlak, universal dan abadi itu sebenarnya tidak
bisa berlaku karena perkembangan hukum selalu disesuaikan dengan kebutuhan
manusia dan negara sesuai dengan perkembangan zaman.
3) Baru benar-benar menjadi hukum setelah dituangkan kedalam bentuk undang-
undang, diumumkan oleh manusia sebagai pembuat undang-undang menjadi
hukum positif.
4) Dihadapkan pada masalah muncul aliran hukum positivisme yang menilai hukum
alam sebagai hukum yang tidak rasional, karena ajaran ini menganggap setiap
hukum adalah positif dimana tidak ada hukum kecuali yang ditetapkan oleh
pemegang kekuasaan di dalam Negara.
2. Dalam praktek di Pengadilan, aliran atau mahzab hukum apa yang digunakan oleh hakim
dalam menangani perkara sesuai ketentuan yang berlaku? 

Dalam praktik peradilan terdapat beberapa aliran atau mahzab hukum yang mempunyai
pengaruh luas dan digunakan oleh hukum dan proses peradilan. Aliran atau mahzab hukum yang
dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Aliran Legisme
Cara pandang aliran legisme adalah bahwa semua hukum terdapat dalam undang-
undang. Maksudnya diluar undang-undang tidak ada hukum. Dengan demikian,
hakim dalam melaksanakan tugasnya hanya melakukan pelaksanaan undang-undang
belaka (wetstiopasing), dengan cara yuridische sylogisme, yakni suatu deduksi logis
dari perumusan yang umum (preposisi mayor) kepada suatu keadaan yang khusus
(preposisi minor), sehingga sampai kepada suatu kesimpulan (konklusi).
Sebagai contoh:
a) Siapa saja karena salahannya menyebabkan matinya orang dihukum penjara
selama-lamanya lima tahun (preposisi mayor).
b) Si Fina karena salahnya menyebabkan matinya orang (preposisi minor).
c) Si Yani dihukum penjara selama-lamanya lima tahun (konklusi).
Aliran ini berkeyakinan bahwa semua persoalan sosial akan dapat diselesaikan
dengan undang-undang. Oleh karena itu, mengenai hukum yang primer adalah
pengetahuan tentang undang-undang, sedangkan mempelajari yurisprudensi adalah
sekunder.
2. Aliran Freie Rechts Lehre atau Freierechtsbewegung atau Freie Rechtsschule (aliran
bebas/hukum bebas).
Pandangan Aliran freie rechts lehre/rechtsbewegung/rechtsschule berbeda cara
pandang dengan aliran legisme. Aliran ini beranggapan, bahwa di dalam
melaksanakan tugasnya, seorang hakim bebas untuk melakukan sesuatu menurut
undang-undang atau tidak. Hal ini dikarenakan pekerjaan hakim adalah menciptakan
hukum. Aliran ini beranggapan bahwa hakim benar-benar sebagai pencipta hukum
(judge made law), karena keputusan yang berdasarkan keyakinannya merupakan
hukum. Oleh karena itu, memahami yurisprudensi merupakan hal primer di dalam
mempelajari hukum, sedangkan undang-undang merupakan hal yang sekunder.
Tujuan daripada freie rechts lehre menurut R. Soeroso (2005) adalah sebagai berikut:
1) Memberikan peradilan sebaik-baiknya dengan cara member kebebasan kepada
hakim tanpa terikat pada undang-undang, tetapi menghayati tata kehidupan
sehari-hari.
2) Membuktikan bahwa dalam undang-undang terdapat kekurangan-kekurangan dan
kekurangan itu perlu dilengkapi.
3) Mengharapkan agar hakim memutuskan perkara didasarkan kepada rechts ide
(cita keadilan)
3. Aliran Rechtsvinding (penemuan hukum)
Sedangkan aliran rechtsvinding adalah suatu aliran yang berada di antara aliran legisme
dan aliran freie rechtslehre/rechtsbewegung/rechtsschule. Aliran ini berpendapat bahwa hakim
terikat pada undang-undang, tetapi tidak seketat sebagaimana pendapat aliran legisme, sebab
hakim juga mempunyai kebebasan.
Dalam hal ini, kebebasan hakim tidaklah seperti pendapat freie rechtsbewegung, sehingga
hakim di dalam melaksanakan tugasnya mempunyai kebebasan yang terikat. (gebonden vrijheid),
atau keterikatan yang bebas (vrije gebondenheid). Jadi tugas hakim merupakan melakukan
rechtsvinding, yakni menyelaraskan undang-undang yang mempunyai arti luas.
Kebebasan yang terikat dan keterikatan yang bebas terbukti dari adanya beberapa
kewenangan hakim, seperti penafsiran undang-undang, menentukan komposisi yang terdiri dari
analogi dan membuat pengkhususan dari suatu asas undang-undang yang mempunyai arti luas.
Menurut aliran rechtsvinding bahwa yurisprudensi sangat penting untuk dipelajari di
samping undang-undang, karena di dalam yurisprudensi terdapat makna hukum yang konkret
diperlukan dalam hidup bermasyarakat yang tidak ditemui dalam kaedah yang terdapat dalam
undang-undang. Dengan demikian memahami hukum dalam perundang-undangan saja, tanpa
mempelajari yurisprudensi tidaklah lengkap, Namun demikian, hakim tidaklah mutlak terikat
dengan yurisprudensi seperti di negara Anglo Saxon, yakni bahwa hakim secara mutlak
mengikuti yurisprudensi.
Dari aliran/mazhab diatas dimana aliran yang berlaku di Indonesia adalah aliran
rechtsvinding, bahwa hakim dalam memutuskan suatu perkara berpegang pada undang-undang
dan hukum lainnya yang berlaku di dalam masyarakat secara kebebasan yang terikat (gebonden
vrijheid) dan keterikatan yang bebas (vrije gebondenheid).
Tindakan hakim tersebut berdasarkan pada Pasal 20 AB (hakim harus mengadili
berdasakan undang-undang), 22 AB (hakim yang menolak untuk mengadili dengan alasan
undang-undangnya bungkam), tidak jelas atau tidak lengkap, dapat dituntut karena menolak
untuk mengadili) UU Kekuasaan Kehakiman 1970. Dan Pasal 16 ayat (1) yang berbunyi:
Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara yang
diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk
memeriksa dan mengadilinya., dan Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004
tentang kekuasaan kehakiman yang berbunyi: hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami
nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.
Selanjutnya tentang kekuasaan hakim dalam Pasal 24 ayat (1) UUD Negara Republik
Indonesia tahun 1945 menegaskan bahwa kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang
merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.
Makna dari Pasal 24 ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 diatas adalah hakim
di tuntut untuk menegakkan hukum dan keadilan bukan memenangkan perkara-perkara
yang berorientasi pada nilai ekonomi, pragmatis, sehingga dapat mendistorsi moral, nilai
etis, teksUndang-Undang, pembelokan pada nilai kebenaran, logika rasionalitas yang
berpijak pada penalaran hukum pada azas legalitas formal.

Referensi:

1. UU No. 14 Tahun 1970 tentang Kekuasaan Kehakiman.


2. Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
3. Nandang Alamsah Delianoor (2020). Pengantar Ilmu Hukum/PTHI. Uviversitas
Terbuka: Tangerang. (ISIP4130: Modul 2-9).
4. Ahmad Rifai. 2011.Penemuan Hukum Oleh Hakim Dalam Perspektif Hukum
Progresif.Cetakan Kedua.Jakarta: Sinar Grafika.
5. Duong, Wendy N.2007. Following The Path Of Oil: The Law of the Sea or Real
Politik –What Good does Law do in the South China Sea Territorial Conflicts?,
Fordham International Law Journal, April, 2007.