Anda di halaman 1dari 49

ANALISIS KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Kebutuhan air untuk tanaman padi

• Menentukan besar kebutuhaan air tanaman di


sawah, yang merupakan penjumlahan dari
kebutuhan air untuk keperluan :
1. Penyiapan lahan
2. Penggunaan Konsumtif
3. Perkolasi
4. Penggantian lapisan air
5. Hujan efektif
• Besarnya kebutuhan air di sawah bervariasi
menurut jenis dan umur tanaman dan
bergantung kepada cara pengolahan lahan.
• Besarnya kebutuhan air di sawah dinyatakan
dalam mm/ hari.
1. Penyiapan lahan
• Faktor yang menentukan besarnya kebutuhan air untuk
penyiapan lahan adalah :
1. Lama waktu penyiapan lahan
2. Jumlah air untuk penyiapan lahan

• Untuk seluruh petak tersier, jangka waktu yang di


anjurkan untuk penyiapan lahan adalah 1,5 bulan
(45 hari)
• Bila penyiapan lahan terutama dilakukan
dengan peralatan mesin, jangka waktu satu bulan (30
hari) dapat dipertimbangkan
• Kebutuhan air untuk pengolahan lahan (puddling)
bisa diambil 200 mm, ini untuk penjenuhan
(presaturation). Dan untuk keperluan
penggenangan sawah pada awal transplantasi
akan ditambahkan lapisan air 50 mm lagi.
• Angka 200 m di atas mengandaikan bahwa tanah
itu tidak ditanami selama lebih dari 2,5 bulan.
Jika tanah itu dibiarkan bera lebih lama lagi,
ambillah 250 mm untuk penjenuhan dan 50 mm
lagi untuk lapisan airnya, sebagai kebutuhan air
untuk penyiapan lahan.
• Kebutuhan air untuk penyiapan lahan dapat
dihitung dengan rumus Van de Goor dan Ziljstra
(1968) dengan rumus :
IR = kebutuhan air di sawah (mm/hr)
M = Kebutuhan air untuk menggantikan air yg
hilang akibat evaporasi dan perkolasi di sawah
yang sudah dijenuhkan (mm/hr)
Eo = evaporasi air terbuka selama penyiapan lahan
(mm/hr)
P = perkolasi (mm/hr)
T = jangka waktu penyiapan lahan (hari)
S = kebutuhan air untuk penjenuhan sebesar
200mm + 50mm untuk lapisan genangan.
• Tabel kebutuhan air untuk penyiapan lahan
Eo + P T = 30 hari T = 45 hari
mm/hari S 250 mm S 300 mm S 250 mm S 300 mm
5 11.1 12.7 0.4 9.5
5.5 11.4 13 8.8 9
6 11.7 13.3 9.1 10.1
6.5 12 13.6 9.4 10.4
7 12.3 13.9 9.8 10.8
7.5 12.6 14.2 10.1 11.1
8 13 14.5 10.5 11.4
8.5 13.3 14.8 10.8 11.8
9 13.6 15.2 11.2 12.1
9.5 14 15.5 11.6 12.5
10 14.3 15.8 12 12.9
10.5 14.7 16.2 12.4 13.2
11 15 16.5 12.8 13.6
Sumber : Roedy, Soekibat., 2005
2. Penggunaan konsumtif
• Penggunaan konsumtif (consumptive use)
adalah jumlah air yang dipakai untuk proses
evapotranspirasi
• Dihitung dengan rumus :

• Etc = Evapotranspirasi crop (mm/hr)


• Eto = Evapotranspirasi potensial (mm/hr)
• kc = koefisien tanaman
ETc
• evapotranspirasi potensial (Eto)
adalah evapotranspirasi tanaman acuan yang
nilainya diperoleh dengan rumus Penman.
• Koefisien tanaman (kc) adalah harga konversi
untuk mendapatkan nilai Etc (evapotranspirasi
tanaman)
• Besarnya kc dipengaruhi dari jenis, varietas
dan umur tanaman
• Berikut ini contoh koefisien tanaman padi
berdasarkan tabel FAO dan Nedeco/Prosida
(Dirjen Pengairan, Bina Program PSA 010, 1985)
Bulan Nedeco/Prosida FAO
Varietas Varietas Varieta Varietas
biasa unggul s biasa unggul
0.5 1.2 1.2 1.1 1.1
1 1.2 1.27 1.1 1.1
1.5 1.32 1.33 1.1 1.05
2 1.4 1.3 1.1 1.05
2.5 1.35 1.3 1.1 0.95
3 1.24 0 1.05 0
3.5 1.12 0.95
4 0 0
• Harga koefisien tanaman palawija berdasarkan
FAO (Ref. FAO, 1977)
bulan Masa 0.5 1 1.5 2 2.5 33.5 4 4.5 5 5.5 6 6.5 7
tumbu
h (hari)
Kedelai 85 0.5 0.75 1.0 1 0.82 0.45

Jagung 80 0.5 0.59 0.96 0.96 1.05 1.02 0.95

Kacang 130 0.3 0.51 0.66 0.85 0.95 0.95 0.95 0.55 0.55
tanah
Bawang 70 0.5 0.54 0.69 0.69 0.9 0.95

Buncis 75 0.5 0.64 0.89 0.89 0.95 0.88

kapas 195 0.5 0.5 0.58 0.75 0.91 1.04 1.05 1.05 1.05 0.78 0.65 0.65 0.65

Sumber : FAO Guideline for Crop Water Requirements (Ref. FAO, 1977)
3. Perkolasi dan rembesan
• Perkolasi ini dipengaruhi antara lain oleh:
a. Tekstur tanah, tanah dengan tekstur halus
mempunyai angka perkolasi yang rendah,
sedangkan tanah dengan tekstur yang kasar
mempunyai angka perkolasi yang besar.
b. Permeabilitas tanah
c. Tebal lapisan tanah bagian atas, makin tipis
lapisan tanah bagian atas ini makin
rendah/kecil angka perkolasinya.
• Perkolasi ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
perkolasi vertikal dan horizontal. Menurut hasil
penelitian di lapangan, perkolasi vertikal lebih
kecil dari pada perkolasi horizontal, angkanya
berkisar antara 3 sampai 10 kali, hal ini terutama
untuk sawah-sawah dengan keadaan lapangan
yang mempunyai kemiringan besar yaitu sawah-
sawah dengan teras-teras.
• Akan tetapi perkolasi horizontal ini, masih dapat
dipergunakan lagi oleh petak sawah dibawahnya
sehingga perkolasi horizontal tidak
diperhitungkan sebagai kehilangan.
• Di Jepang menurut hasil penelitian di lapangan,
angka-angka perkolasi untuk berbagai jenis tanah
disawah dengan lapisan tanah bagian atas (top
soil) lebih tebal dari 50 Cm adalah sebagai berikut
(Rice Irrigation in Japan, OTCA 1973)
Macam Tanah Perkolasi Perkolasi Vertikal (mm/hari)

Sandy loam 3-6


Loam 2-3
Clay Loam 1-2
• Sedangkan Pemerintah Indonesia telah
membuat standar pemakaian angka perkolasi
seperti disajikan dalam tabel berikut :
Tingkat perkolasi pada berbagai tekstur tanah
Jenis Tanah Angka Perkolasi
Padi (mm/hari) Palawija (mm/hari)

Tekstur Berat 1 2
Tekstur Sedang 2 4
Tekstur Ringan 5 10

Sumber : standar Perencanaan Irigasi KP. 01


• Di Indonesia menurut penelitian di lapangan,
angka perkolasi ini seperti untuk Proyek Irigasi
Sempor adalah 0,70 mm/hari. Didaerah
daratan pantai utara pulau Jawa dari
percobaan-percobaan yang telah dilakukan
berkisar 1 mm/hari. Di NTB digunakan angka
2mm/hari.
• Untuk menentukan besarnya perkolasi secara
tepat, satu satunya cara yang diperlukan
adalah dengan mengadakan pengukuran di
lapangan
Penggantian lapisan air (WLR)
• WLR (water layer replacement) adalah
penggantian air genangan di sawah dengan air
irigasi yang baru dan segar.
• Penggantian lapisan air dilakukan setelah
pemupukan. Penggantian lapisan air dilakukan
menurut kebutuhan.
• Biasanya dilakukan penggantian lapisan air
sebanyak 2 kali masing-masing 50mm atau (3,3
mm/hari) selama 1 bulan dan 2 bulan setelah
transplantasi.
5. Curah hujan efektif

• Curah hujan efektif adalah curah hujan yang


jatuh selama masa tumbuh tanaman, yang
dapat digunakan untuk memenuhi air
konsumtif tanaman.
• Besarnya curah hujan ditentukan dengan 70%
dari curah hujan rata–rata tengah bulanan
dengan kemungkinan kegagalan 20% (Curah
hujan R80 ). Dengan menggunakan metode
Basic Year
curah hujan efektif
Perhitungan curah hujan efektif dilakukan dengan menggunakan metode ”Basic
Years”, sebagai berikut :
1. Mengumpulkan data hujan setengah bulanan selama n tahun pengamatan
2. Menghitung jumlah seluruh curah hujan tiap tahun pada stasiun pengamatan
yang diperoleh dari unit hidrologi,
3. Menyusun urutan curah hujan tahunan dari curah hujan yang kecil sampai besar,
4. Menentukan tahun dasar perencanaan menggunakan rumus berikut:
R 80% dengan R80 = (n/5 )+1 untuk tanaman padi
R 50% dengan R50 = (n/2 )+1 untuk tanaman palawija

3. Menghitung curah hujan efektif setengah bulanan di setiap bulan pada tahun
dasar perencanaan dengan rumus :

0.7 x R 80%, untuk tanaman padi


0.7 x R 50%, untuk tanaman palawija
• Curah hujan efektif diperoleh dari 70%xR80
per periode waktu pengamatan. Apabila data
hujan yang digunakan 10 harian maka
persamaannya menjadi :
− Repadi =(R80 x 70%)/10 mm/hari.
− Retebu =(R80 x 60%)/10 mm/hari.
− Repalawija =(R80 x 50%)/10 mm/hari
DATA CURAH HUJAN SETENGAH BULANAN
: Lingkok
Pos Lima
Desa/ Kec./ : Lingkok Lima/ Batu Kliang/
Kab. Loteng

TAHU JAN PEB MAR APR MEI JUN JUL AGT SEP OKT NOV DES Jumlah
N I II I II I II I II I II I II I II I II I II I II I II I II
1984 169 190 170 121 0 0 246 37 172 0 4 91 2 42 59 12 307 237 128 76 92 196 158 135 2,644
1985 132 197 336 326 226 38 7 138 28 222 231 28 24 2 32 40 9 44 4 93 69 25 36 185 2,472
1986 174 253 130 129 214 113 91 7 16 12 39 265 21 80 4 5 30 24 233 92 129 269 - - 2,330
1987 151 202 50 38 121 70 18 61 37 141 3 32 14 6 16 40 6 98 26 1 252 451 387 322 2,543
1988 306 232 95 99 286 199 60 34 113 0 0 40 20 0 24 22 45 20 52 45 79 211 - - 1,982
1989 190 245 135 199 418 88 142 68 82 96 0 8 76 97 53 360 4 0 102 60 0 0 314 349 3,086
1990 134 330 142 99 0 81 0 59 0 130 2 20 4 30 0 64 0 50 0 6 137 91 157 190 1,726
1991 148 82 138 55 98 62 23 160 0 0 0 0 0 43 0 8 0 0 0 0 551 472 86 177 2,103
1992 0 64 34 180 380 154 272 8 79 17 2 0 0 19 4 2 58 107 117 245 30 405 116 83 2,376
1993 56 216 241 92 95 151 102 8 40 3 32 36 5 18 2 7 0 22 259 35 175 178 69 332 2,174
1994 49 0 0 2 0 0 0 0 30 3 2 0 1 0 4 0 5 0 32 0 36 0 10 15 189
1995 88 276 141 125 96 259 206 38 67 245 0 0 0 0 0 6 8 11 133 0 205 218 268 31 2,421

No TAHU JAN PEB MAR APR MEI JUN JUL AGT SEP OKT NOV DES jumlah
N I II I II I II I
II I II I II I II I II I II I II I II I II 189
1 1984 49 0 0 2 0 0 0 0 30 3 2 0 1 0 4 0 5 0 32 0 36 0 10 15 1,726
2 1985 134 330 142 99 0 81 0 59 0 130 2 20 4 30 0 64 0 50 0 6 137 91 157 190 1,982
3 1986 306 232 95 99 286 199 60 34 113 0 0 40 20 0 24 22 45 20 52 45 79 211 - -
2,103
4 1987 148 82 138 55 98 62 23 160 0 0 0 0 0 43 0 8 0 0 0 0 551 472 86 177
2,174
5 1988 56 216 241 92 95 151 102 8 40 3 32 36 5 18 2 7 0 22 259 35 175 178 69 332
174 253 130 129 214 113 91 7 16 12 39 265 21 80 4 5 30 24 233 92 129 269 - -
2,330
6 1989
7 1990 0 64 34 180 380 154 272 8 79 17 2 0 0 19 4 2 58 107 117 245 30 405 116 83 2,376
8 1991 88 276 141 125 96 259 206 38 67 245 0 0 0 0 0 6 8 11 133 0 205 218 268 31 2,421
9 1992 132 197 336 326 226 38 7 138 28 222 231 28 24 2 32 40 9 44 4 93 69 25 36 185 2,472
10 1993 151 202 50 38 121 70 18 61 37 141 3 32 14 6 16 40 6 98 26 1 252 451 387 322 2,543
11 1994 169 190 170 121 0 0 246 37 172 0 4 91 2 42 59 12 307 237 128 76 92 196 158 135 2,644
12 1995 190 245 135 199 418 88 142 68 82 96 0 8 76 97 53 360 4 0 102 60 0 0 314 349 3,086
Kebutuhan Air di Sawah

• untuk tanaman palawija :


NFR = ETc – Reff
• untuk tanaman padi :
NFR = ETc + P + E + W + WLR – Reff
dengan :
NFR = kebutuhan air di sawah/netto farm requirement (mm/hari),
ETc = kebutuhan air untuk tanaman (mm/hari),
E = evaporasi (mm/hari),
WLR = penggantian genangan air/kebutuhan persemaian (mm/hari),
P = perkolasi (mm/hari),
Reff = hujan efektif (mm/hari),
W = genangan air di petak sawah (mm/hari),
Efisiensi Irigasi
• Efisiensi merupakan persentase perbandingan antara jumlah air yang
sampai di sawah dengan jumlah air yang dikeluarkan dari pintu
pengambilan.
• Agar air yang sampai pada tanaman tepat jumlahnya seperti yang
direncanakan, maka air yang dikeluarkan dari pintu pengambilan harus
ditambahkan sejumlah air yang diperkirakan hilang akibat rembesan,
penguapan maupun pencurian di sepanjang perjalanan .
• Biasanya Efisiensi Irigasi dipengaruhi oleh besarnya jumlah air yang hilang
di perjalanannya dari saluran primer, sekunder hingga tersier.
− saluran tersier : 80 %
− saluran sekunder : 90 %
− saluran primer : 90 %
Efisiensi irigasi total (C)= 80% x 90% x 90% = 65 %
Kebutuhan Air Irigasi

• Kebutuhan air irigasi pada pintu pengambilan dapat


dihitung dengan persamaan
NFR
DR =
8,64.eff

dengan :
DR = kebutuhan air irigasi pada pintu pengambilan
(lt/dt/ha),
NFR = kebutuhan air irigasi pada lahan pertanian
(mm/hari),
eff = efisiensi irigasi.
8,64 = faktor konversi dari mm/hari ke lt/dt/ha.
Ringkasan Langkah-langkah
perhitungan kebutuhan air

• Menentukan besarnya nilai evapotranspirasi


daerah setempat, dengan menggunakan metode
Penman, radiasi, thornwhite, atau yang lain.
• Menentukan koefisien tanaman berdasarkan
acuan (kc) berdasarkan tabel FAO atau NEDECO.
• Menentukan penggunaan konsumtif tanaman (Cu
atau ETc), didapatkan dengan cara mengalikan
koefisien tanaman dengan angka
evapotranspirasi potensial (ETo).
• Menentukan kebutuhan air untuk persiapan
lahan (PL), biasanya ditentukan berdasarkan
kondisi kekeringan lahan serta kebiasaan
petani. Besarnya 200 + 50 mm untuk
genangan, atau 250 mm utk tanah kering
berat/pecah2 + 50mm untuk genangan.
• Menentukan nilai perkolasi. Nilai perkolasi untuk
daerah NTB (biasanya diasumsikan) sebesar 2,0
mm/hari.
• Menentukan evaporasi selama penyiapan lahan
yang didapatkan dari mengalikan nilai
evapotranspirasi potensial dengan koefisien 1,1.
• Penggantian lapisan air dilakukan sebanyak 2 kali
masing-masing 50 mm pada saat sebulan dan dua
bulan setelah transplantasi (atau 3,333mm/hari
selama setengah bulan).
• Menentukan hujan efektif R eff dengan rumus : (0,7 x
R80)/Jumlah hari setengah bulanan.
− R80 adalah hujan dengan probabilitas 80%, untuk
tanaman padi.
− R50 adalah hujan dengan probabilitas 50% untuk
tanaman palawija.
• Menentukan kebutuhan air irigasi di sawah yaitu
dengan cara mengurangi total kebutuhan air dengan
hujan efektif untuk tanaman padi/palawija.
• Mengkonversi satuan kebutuhan air di sawah dari
mm/hari menjadi l/dt/ha dengan cara membagi
kebutuhan air irigasi dengan 8,64. (lihat contoh
hitungan).
• Menentukan kebutuhan air di intake (DR) yaitu
dengan cara membagikan kebutuhan air di sawah
dengan efisiensi irigasi. Nilai efisiensi irigasi
keseluruhan adalah 0,65.
Kebutuhan air untuk tanaman palawija
• Perhitungan kebutuhan air untuk tanaman
palawija sama dengan perhitungan kebutuhan air
untuk padi, hanya saja R efektif untuk palawija
adalah R50.
• Selain itu tanaman palawija tidak membutuhkan
air untuk pengolahan lahan serta pergantian
lapisan air.
• Contoh perhitungan kebutuhan air untuk
tanaman Padi dan palawija dapat dilihat pada
tabel terlampir.
Awal tanam
• Satu kali masa tanam disebut 1 musim tanam.
tanaman Pengolahan lahan Umur tanaman
Padi 1 bulan 2,5 – 3 bulan
palawija - 3 bulan

• Musim tanam pertama biasanya dimulai ketika awal


musim hujan
• Musim tanam pertama disebut MT1 dilanjutkan musim
tanam kedua MT2 dan Musim tanam ketiga MT3
Intensitas tanam
Intensitas tanam didefinisikan sebagai prosentase luas
lahan yang dapat ditanami terhadap luas seluruh
Daerah Irigasi
Contoh :
Jika diketahui luas DI 1000ha. Maka perhitungan
intensitas tanamnya diilustrasikan seperti dlm tabel
berikut

Musim tanam Luas tanam (ha) Intensitas tanam (%)


MT1 1000 100
MT2 750 75
MT3 500 50
IT Total (setahun) 225
Pola tanam

• Untuk memenuhi kebutuhan air bagi


tanaman, penentuan pola tanam merupakan
hal yang perlu dipertimbangkan.
• Berikut ini contoh pola tanam yang biasa
dipakai :
Ketersediaan air irigasi pola tanam dalam satu tahun
1. Berlimpah/ banyak Padi – padi - palawija
2. cukup/sedang Padi – padi – Kosong
Padi – Palawija - Palawija
3. Kurang Padi – Palawija - Kosong
Palawija _ Padi - Kosong
Neraca air

• Neraca air adalah perimbangan antara


kebutuhan dan ketersediaan air di daerah
studi
• Debit kebutuhan didapat dari perhitungan
kebutuhan air irigasi berdasarkan pola tanam
yang terpilih
• Debit ketersediaan didapat dari perhitungan
debit andalan di sungai atau tempat
pengambilan air
• Bila debit melimpah maka kebutuhan
dipenuhi sesuai luas sawah maksimum.
• Bila debit kurang, maka ada tiga alternatif
solusi yaitu :
1. luas daerah irigasi dikurangi
2. melakukan modifikasi dalam pola tanam
3. rotasi teknis golongan
Padi sistem hemat air
• Mengantisipasi ketersediaan air yang semakin
terbatas maka perlu dicari terus cara budidaya
tanaman padi yang hemat air. Salah satunya
adalah Cara pemberian air terputus/berkala
(intermittent irrigation).
• Cara ini terbukti efektif dilapangan dalam usaha
hemat air, namun mengandung kelemahan dalam
membatasi pertumbuhan rumput.
• Sistem pemberian air terputus/ berkala sesuai
untuk daerah dengan debit tersedia aktual lebih
rendah dari debit andalan 80 %.
Sistem golongan
• Sumber air tidak selalu dapat menyediakan air
irigasi yang dibutuhkan, sehingga harus dibuat
rencana pembagian air yang baik.
• Kebutuhan air tertinggi dalam petak tersier
disebut Qmax.
• Pada saat air tidak memenuhi kebutuhan air
tanaman dengan pengaliran menerus, maka
pemberian air tanaman diberikan secara
bergilir.
• Dalam sistem pemberian air secara bergilir,
permulaan tanam tidaklah serempak. Sawah
dibagi menurut golongan-golongan dan
permulaan pekerjaan sawah dijalankan secara
bergiliran menurut golongan masing-masing
Keuntungan sistem rotasi kekurangan
1. Q puncak berkurang 1. Bisa menimbulkan komplikasi sosial
2. Kebutuhan pengambilan bertambah 2. Kehilangan air akibat eksploitasi lebih
secara berangsur2 pd periode tinggi
penyiapan lahan
3. Eksploitasi lebih rumit
4. Jangka waktu penanaman lebih lama
(khususnya utk tanaman padi karena
membutuhkan pengolahan lahan), dan
mengakibatkan waktu utk tanaman
kedua menjadi berkurang
5. Daur hama sulit diberantas. Jadi akan
ada pemakaian pestisida.
• Contoh perhitungan rotasi

• Petak tersier seluas 135,65 ha terdiri dari 3


petak sub tersier dengan masing-masing luas
− Sub tersier a luas 53,10 ha dengan
kebutuhan air 2,84 l/dt/ha
− Sub tersier b luas 47,55 ha dengan
kebutuhan air 2,95 l/dt/ha
− Sub tersier c luas 35,00 ha dengan
kebutuhan air 3,26 l/dt/ha
A. Perhitungan debit rencana
• Kondisi batas : Jika debit tersedia >65% Qmaks,
maka pemberian air dilakukan secara terus menerus

• Pemberian air (Q) Jika Q = 100% Qmaks

− Petak a dapat air = 53,10 ha x 2,84 l/det /ha = 150,80 l/det


− Petak b dapat air = 47,55 ha x 2,95 l/det/ha = 140,27 l/det
− Petak c dapat air = 35,00 ha x 3,26 l/det/ha = 114,10 l/det
jumlah Q max = 405,17 l/det
• Pemberian air jika Q = 65% Qmaks.
Sebesar 65/100 x 405,17 l/det = 263,36 l/det.
Maka pemberian air nya menggunakan
cara rotasi sub tersier I
• Periode I. Sub tersier a+b diairi, c ditutup
Luas a+b = 53,10 + 47,55 = 100,65 ha
− Qa = (53,10/100,65) x 263,36 = 138,94 l/det
− Qb = (47,55/100,65) x 263,36 = 124,42 l/det
• Periode II. Sub tersier a+c diairi, b ditutup
Luas a+c = 53,10 + 35,00 = 88,10 ha
− Qa = (53,10/88,10) x 263,36 = 158,73 l/det
− Qc = (35,00/88,10) x 263,36 = 104,63 l/det

• Periode III. Sub tersier b+c diairi, a ditutup


Luas b+c = 47,55 + 35,00 = 82,55 ha
− Qa = (47,55 / 82,55) x 263,36 = 151,73 l/det
− Qc = (35,00/ 82,55) x 263,36 = 111,55l/det
• Pemberian air jika Q = 35% Qmaks,
maka pemberian airnya menggunakan
cara rotasi sub tersier II
• Pemberian air nya = 0,35 x 405,17 = 121,55 l/dt
• Air sebanyak 121,55 l/det tidak dapat dibagikan
secara proporsional dalam waktu yang bersamaan,
sehingga diberikan secara bergilir di masing-masing
sub tersier a, b dan c, dengan penjadwalan dan lama
waktu pemberiannya diperhitungkan sesuai proporsi
luas masing-masing.
• Hasil hitungan pemberian air di atas, dapat dirangkum
dalam tabel berikut :
petak sub Luas (ha) Q (l/det) Q rencana
tersier 100% 65% 35% (l/det)
a 53.10 150.80 158.73 121.55 158.73
b 47.55 140.27 151.70 121.55 151.70
c 35.00 114.10 104.63 121.55 121.55

• Dari tabel di atas dapat diambil kesimpulan bahwa


debit yang terbesar tidak selalu terdapat pada Q =
Qmax. Sehingga debit rencana tidak selalu dapat
ditentukan dari 100%Qmax, melainkan harus dihitung
juga pemberian airnya secara rotasi.
B. Perhitungan jam rotasi

• Q> 65%, Semua petak mendapatkan giliran


pemberian air secara terus menerus
• 65% > Qmax > 35%
• 2 golongan dibuka dan 1 golongan ditutup
• Qmax < 35%
• 1 golongan dibuka, 2 golongan ditutup
Hari Pemberian air terus Rotasi I (Q = 35% - 100%) Rotasi II (Q < 35%)
menerus (Q = 65% –
100%)
jam Petak yang jam Petak yang jam Petak yang
diairi diairi diairi
Senin 6:00 6:00 6:00 b
Selasa
Rabo a+b 17:00 c
Kamis
Jumat 12:00 a
Sabtu a+b+c 11:00
Minggu
Senin 6:00 b
Selasa b+c
Rabo 17:00 17:00 c
Kamis
Jumat a+c 12:00 a
Sabtu
Minggu
senin 6:00 6:00 6:00

Anda mungkin juga menyukai