Anda di halaman 1dari 4

Kajian tematik 

adalah sebuah sarana bagi seorang muslim dalam


mencari ilmu untuk memperdalam pengetahuan akan Agama Islam,
dengan adanya sebuah kajian yang di selenggarakan di lingkungan
masyarakat, kami berharap akses masyarakat untuk memperdalam
Agama Islam akan dapat lebih mudah mereka dapatkan tanpa harus
masuk ...

yaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

‫أن يف الدنيا جنة من مل يدخلها ال يدخل جنة اآلخرة‬


“Sesungguhnya di dunia ada surga, barangsiapa yang tidak
memasukinya, maka ia tidak akan masuk surga di
akhirat.”[1]
Tentu saja surga di dunia itu adalah kebahagiaan dengan
petunjuk agama yang benar.
Hendaknya kita sebagai seorang muslim, apalagi yang
notabenenya sudah lama “ngaji”
1. Belajar agama secara ta’shili (bertahap dan terkurikulum),
tetapi istiqamah meskipun hanya seminggu sekali (masa’
sih untuk belajar agama benar-benar tidak ada waktu
luang??) karena bisa jadi ada yang punya kesibukan dan
amanah yang lebih penting. Jika bisa lebih dari sekali
seminggu bahkan bisa mengatur waktu maka bisa lebih
banyak
2. Belajar agamanya hendaknya dengan kitab/kurikulum
dan bukan HANYA kajian tematik, atau kajian rutin tetapi
tidak istiqamah.Bukan belajar “semau gue”, mau datang
kajian bisa, tidak datang juga tidak masalah, belajar agama
juga tidak sistematis atau belajar secara ta’siliy [belajar dari
dasar] sehingga belajar agama terkesan berat dan
membosankan dan tentu bukan ketenangan yang didapat.
3. Istiqamah ketika kajian rutin, tidak loncat-loncat
pembahasannya dari kitab satu ke kitab yang lainnya. Sabar
dalam menuntut ilmu agama.
Syaikh Muhammad Shalih bin
Al-‘Utsaimin rahimahullahu berkata mengenai hal ini,

‫ أو من كل فن قطعة مث يرتك؛ ألن هذا الذي‬،‫أال يأخذ من كل كتاب نتفة‬


‫ فمثالً بعض الطالب يقرأ يف النحو‬،‫ ويقطع عليه األيام بال فائدة‬،‫يضر الطالب‬
‫وكذلك يف‬.. .‫ ومرة يف األلفية‬،‫ يف األجرومية ومرة يف منت قطر الندي‬:
‫ ومرة يف‬، ‫ ومرة يف املغين‬،‫ ومرة يف عمدة الفقه‬،‫ مرة يف زاد املستقنع‬:‫الفقه‬
‫حيصل‬
ُ ‫ هذا يف الغالب ال‬، ‫ وهلم جرا‬،‫ وهكذا يف كل كتاب‬،‫شرح املهذب‬
ً‫ ولو حصل علماً فإنه حيصل مسائل ال أصوال‬،ً‫علما‬
“Janganlah mempelajari buku sedikit-sedikit, atau setiap
cabang ilmu sepotong-sepotong kemudian
meninggalkannya, karena ini membahayakan bagi penuntut
ilmu dan menghabiskan waktunya tanpa faidah,
misalnya:
sebagian penuntut ilmu memperlajari ilmu nahwu, ia belajar
kitab Al-Jurumiyah sebentar kemudian berpindah ke Matan
Qathrun nadyi kemudian berpindah ke Matan Al-Alfiyah..
Demikian juga ketika mempelajari fikih, belajar Zadul
mustaqni sebentar, kemudian Umdatul fiqh sebentar
kemudian Al-Mughni kemudian Syarh Al-Muhazzab, dan
seterusnya.
Cara seperti Ini umumnya tidak mendapatkan ilmu,
seandainya ia memperoleh ilmu, maka ia tidak memperoleh
kaidah-kaidah dan dasar-dasar.”[2]
4. Sebagaimana kita bersusah payah dan bersabar belajar ,
menghapal dan memahami untuk ilmu dunia dan agar
sukse ilmu dunia. Begitu juga dengan ilmu agama dan untuk
masuk surga.
Yang namanya belajar baik ilmu dunia maupun akhirat tentu
bersabar dan butuh perjuangan. Terlebih lagi ilmu agama
yang mungkin tidak ada/sedikit  “keuntungan dunia” bagi
sebagian orang yang kurang imannya.
Imam Syafi’i rahimahullah berkata,

‫ ولكن من طلبه بذلة‬،‫ال يطلب هذا العلم من يطلبه بالتملل وغىن النفس فيفلح‬
‫ أفلح‬،‫ وخدمة العلم‬،‫ وضيق العيش‬،‫النفس‬
“Tidak mungkin menuntut ilmu orang yang pembosan,
merasa puas jiwanya kemudian ia menjadi beruntung,
akan tetapi ia harus menuntut ilmu dengan menahan
diri, merasakan kesempitan hidup dan berkhidmat
untuk ilmu, maka ia akan beruntung.”[3]
 
Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata,

‫وال يستطاع[ العلم براحة اجلسد‬


“Ilmu tidak akan diperoleh dengan tubuh yang
santai (tidak bersungguh-sungguh)”[4]