ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA KELUARGA Tn.
M
DENGAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA ANAK DEWASA
DENGAN MASALAH UTAMA HIPERTENSI PADA Ny. A
DI LINGKUNGAN DASAN CERMEN UTARA
TANGGAL 1–5 MARET 2021
Oleh:
IRWINA SYAFITRI
NIM. P07120420013N
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
2021
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Pendahuluan dan Laporan Kasus ini telah disahkan dan disetujui oleh
pembimbing lahan dan pembimbing akademik pada :
Nama : Irwina Syafitri
NIM : P07120420013N
Kasus :
Hari/Tanggal :
Bangsal/Ruangan :
Mengetahui :
Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan
( ) ( )
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
A. Pengertian Asuhan Keperawatan Keluarga
Asuhan keperawatan keluarga adalah suatu rangkaian kegiatan yang di berikan
melalui praktek keperawatan kepada keluarga, untuk membantu menyleseikan masalah
kesehatan keluarga tersebut dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan
(Depkes RI,1998).
Asuhan keperawatan keluarga merupakan proses yang kompleks dengan
menggunakan pendekatan sistematik untuk bekerjasama dengan keluarga dan individu
sebagai anggota keluarga (Mubarok,dkk, 2006).
Sedangkan pengertian yang lain perawatan keluarga adalah tingkat keperawatan
kesehatan yang ditujukan atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau kesatuan
yang dirawat, Dengan sehat sebagai tujuan melalui perawatan sebagai saran atau
penyalur (Effendi,1998).
Dalam memberikan asuhan keperawatan keluarga digunakan suatu pendekatan
yang sistemik yaitu dengan keperawatan kesehatan keluarga. Pendekatan ini
digunakan dalam rangka mengidentifikasi dan memecahkan masalah-masalah yang
dihadapi keluarga dimulai dari pengkajian, penemuan diagnosa keperawatan keluarga,
perencanaan, pelaksanaan dan teknik evaluasi.
B. Tujuan Asuhan Keperawatan Keluarga
1. Tujuan Umum
Untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam memelihara kesehatan
keluarga mereka sehingga dapat meningkatkan status kesehatan keluarganya.
2. Tujuan Khusus
Ditingkatkannya kemampuan keluarga dalam :
a. Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengidentifikasi masalah
kesehatan yang dihadapi oleh keluarga.
b. Meningkatkan kemampuan keluarga dalam menanggulangi masalah-masalah
kesehatan dasar dalam keluarga.
c. Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan yang tepat
dalam mengatasi masalah kesehatan para anggotanya.
d. Meningkatkan kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan keperawatan
terhadap anggota keluarga yang sakit dan dalam mengatasi masalah kesehatan
anggota keluarganya.
e. Meningkatkan produktivitas keluarga dalam meningkatkan mutu hidupnya
(Effendi,1998).
C. Sasaran Asuhan Keperawatan Keluarga
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan keluarga, yang menjadi prioritas utama
adalah keluarga-keluarga yang tergolong resiko tinggi dalam bidang kesehatan,
meliputi:
1. Keluarga dengan anngota keluarga dalam masa usia subur dengan masalah sebagai
berikut :
a. Tingkat social ekonomi rendah.
b. Keluarga kurang atau tidak mampu mengatasi masalah kesehatan sendiri.
c. Keluarga dengan keturunan yang kurang baik/keluarga dengan penyakit
keturunan.
2. Keluarga dengan ibu dengan resiko tinggi kebidanan. Waktu hamil :
a. Umur ibu (16 tahun atau lebih dari 35 tahun)
b. Menderita kekuarangan gizi atau anemia.
c. Menderita hipertensi.
d. Primeparaatau multipara.
e. Riwayat persalinan dengan komplikasi.
3. Keluarga dimana anak menjadi resiko tinggi, karena :
a. Lahir premature/BBLR
b. Berat badan sukar naik.
c. Lahir dengan cacat bawaan.
d. ASI ibu kurang sehingga tidak mencukupi kebutuhan bayi,
e. Ibu menderita penyakit menular yang dapat mengancam bayi atau anaknya.
4. Keluarga mempunyai masalah dalam hubungan antara anggota keluarga.
a. Anak yang tidak dikehendaki dan pernah dicoba untuk digugurkan.
b. Tidak ada kesesuaian pendapat antara anggota dengan sering timbul cekcok
dan ketegangan.
c. Ada anggota keluarga yang sering sakit.
d. Salah satu orang tua (istri/suami) meninggal, cerai, atau lari meninggalkan
keluarga (Effendi,1998).
D. Struktur Keluarga
Menurut Friedman struktur keluarga terdiri atas:
1. Pola dan proses komunikasi.
Pola interaksi keluarga yang berfungsi :
a. Bersifat terbuka dan jujur
b. Selalu menyelesaikan konflik keluarga
c. Berpikiran positif
d. Tidak mengulangi isu dan pendapat sendiri
1) Karakteristik pengirim
a) Yakin dalam mengemukakan sesuatu atau pendapat
b) Apa yang disampaikan jelas dan berkhualitas
c) Selalu meminta dan menerima umpan yang baik
2) Karakteristik penerima
a) Siap mendengarkan
b) Memberikan umpan balik
c) Melakukan validasi
2. Struktur peran.
Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi sosial
yang diberikan, yang dimaksud posisi atau status adalah posisi yang diberikan,
yang dimaksud posisiatau status adalah posisi individu dalam masyarakat misalnya
status sebagai istri, suami, atau anak.
3. Struktur kekuatan
Kekuatan merupakan kemampuan (potensial dan aktual) dari individu untuk
merubah perilaku ke arah yang positif.
4. Nilai – nilai keluarga
Nilai meruoakan suatu sistem, sikap dan kepercayaan yang secara sadar atau tidak,
mempersatukan anggota keluarga dalam satu budaya. Nilai keluarga juga
merupakan suatu pedoman bagi perkembangan norma dan peraturan.
E. Fungsi Keluarga
Lima fungsi dasar keluarga menurut Friedman adalah :
1. Fungsi Afektif
Apakah anggota keluarga merasa kebutuhan-kebutuhan individu-individu
lain dalam keluarga terpenuhi, apakah orang tua (suami/istri) mampu
menggambarkan kebutuhan-kebutuhan persoalan-persoalan lain dari anak-anak
mereka dan pasangannya, apakah mereka saling menghormati satu sama lain,
bagaimana mereka saling mendukung satu sama lain.
2. Fungsi sosialisasi
Sosialisasi di mulai sejak lahir. keluarga merupakan tempat individu
belajar bersosialisasi. Keberhasilan perkembangan individu dan keluarga di capai
melalui interaksi atau hubungan antar anggota keluarga yang di wujudkan dalam
sosialisasi. Anggota keluarga belajar disiplin, belajar tentang norma, budaya, dan
perilaku melalui hubungan interaksi dalam keluarga.
3. Fungsi reproduksi
Keluarga berfungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan
menambah sumber daya manusia. Dengan adanya program keluarga bencana maka
fungsi ini sedikit terkontrol.
4. Fungsi ekonomi
Sejauh mana keluarga memenuhi kebutuhan sandang,pangan dan
papan.Dan sejauh mana keluarga memanfaatkan sumber yang ada di masyarakat
dalam upaya peningkatan status kesehatan keluarga.
5. Fungsi perawatan keluarga
Keyakinan-keyakinan, nilai-nilai dan perilaku keluarga terhadap
kesehatan, definisi keluarga tentang tingkat pengetahuan mereka. Apakah keluarga
dapat melaporkan mulai kapan terjadi stroke dan menyebutkan tanda-tanda atau
perubahan yang terjadi pada anggota keluarga dengan stroke. Apakah yang sudah
di lakukan keluarga, apa persepsi keluarga tentang hal yang telah di lakukan dalam
mengatasi masalah tersebut.
Bagaimana kebiasaan tidur keluarga : apakah anggota keluarga
memenuhi syarat tidur sesuai dengan tuntutan usia. Kebiasaan menggunakan obat-
obatan : Apakah keluarga terbiasa mengonsumsi alkohol, kopi, teh dan rokok.
Apakah keluarga secara reguler menggunakan obat yang di beli di toko untuk
menghilangkan pusing. Peran keluarga dalam perawatan diri : Apakah yang di
lakukan kelurga untuk memperbaiki satus kesehatan. Siapa yang membuat
keputusan dalam bidang kesehatan.
F. Tahap dan Tugas Pengembangan Keluarga
Dalam pengkajian ini penulis menggunakan format pengkajian keluarga dari
Friedman (1998), pada keluarga dengan stroke pengkajian adalah sekumpulan
tindakan yang digunakan oleh perawat untuk mengukur keadaan keluarga memakai
norma-norma kesehatan keluarga maupun sosial, yang merupakan sistem yang
terintegrasi dan kesanggupan keluarga untuk mengatasi.
Meskipun setiap keluarga melalui tahapan perkembangan secara unik, namun
secara umum seluruh keluarga mengikuti pola yang sama. Perkembangan keluarga
berdasarkan konsep Duvall dan Miller (Friedman, 1998) adalah sebagai berikut :
1. Tahap I : Pasangan baru (keluarga baru)
Keluarga baru dimulai saat individu membentuk keluarga melalui perkawinan
yang sah. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini antara lain:
a. Membina hubungan intim yang memuaskan.
b. Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, kelompok sosial.
c. Mendiskusukan rencana memiliki anak.
2. Tahap II : Keluarga “ Child Bearing “ (Keluarga anak pertama)
Keluarga yang menantikan kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai kelahiran
anak pertama dan berlanjut sampai anak pertama dan berlanjut sampai anak
pertama berusia 30 bulan. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini antara lain
:
a. Persiapan menjadi orang tua.
b. Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan
seksual, dan kegiatan.
c. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.
3. Tahap III : Keluarga dengan anak pra sekolah
Tahap ini di mulai saat kelahiran anak pertama berusia 2,5 tahun dan berakhir saat
anak berusia 5 tahun. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini antara lain :
a. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat tinggal,
privasi dan rasa aman.
b. Membantu anak untuk bersosialisasi.
c. Beradaptasi dengan anak yang lain juga harus terpenuhi
d. Mempertahankan hubungan yang sehat baik didalam maupun diluar keluarga
(keluarga lain dan lingkungan sekitar)
e. Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak.
f. Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.
g. Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh dan kembang anak.
4. Tahap IV : Keluarga dengan anak sekolah
Tahap keluarga yang dimulai saat anak masuk sekolah pada usia 6 tahun dan
berakhir pada usia 12 tahun. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini antara
lain :
a. Membantu anak sosialisasi anak dengan tetangga, sekolah dan lingkugan.
b. Mempertahankan keintiman pasangan.
c. Memenuhi kebutuhan dan biaya hidup yang semakin meningkat, termasuk
kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga.
5. Tahap V : Keluarga dengan anak remaja
Tahap ini dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun berakhir sampai 6-7
tahun kemudian, yaitu pada saat meninggalkan rumah orang tuanya. Tugas
perkembangan keluarga pada tahap ini antara lain :
a. Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab mengingat
remaja yang sudah bertambah dewasa dan meningkatkan otonomnya.
b. Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua. Hindari
perdebatan, kecurigaan dan permusuhan.
c. Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang.
6. Tahap VI : Keluarga dan anak dewasa (pelepasan)
Tahap ini di mulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah. Lamanya
tahap ini tergantung dalam jumlah anak dalam keluarga atau jika ada anak yang
belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua. Tugas perkembangan pada
tahap ini antara lain :
a. Memperluaskan keluarga inti menjadi keluarga yang besar.
b. Mempertahankan keintiman pasangan istri yang sedang sakit dan memasuki
masa tua.
c. Membantu anak untuk mandiri di masyarakat.
d. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.
7. Tahap VII : Keluarga usia pertengahan
Tahap ini dimulai pada saat anak terakhir meninggalkan rumah dan berakhir pada
saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal dunia. Tugas perkembangan
keluarga pada ini antara lain :
a. Mempertahankan kesehatan.
b. Mempertahankan hubungan dengan teman sebaya dan anak – anak.
c. Meningkatkan keakraban pasangan.
8. Tahap VIII: Keluarga usia lanjut
Pada tahap terakhir perkembangan keluarga ini dimulai saat salah satu pasangan
pensiun berlanjut saat salah satu pasangan meninggal sampai keduanya meninggal.
Tugas perkembangan keluarga tahap ini antara lain :
a. Mempertahankan rumah yang menyenangkan.
b. Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan
pendapatan.
c. Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat.
d. Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat.
e. Melakukan life – preview, perenungan hidup/masa lalu.
LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTENSI
A. Definisi
Hipertensi menurut Caraspot merupakan peningkatan tekanan sistolik lebih besar
atau sama dengan 160 mmHg dan atau tekanan diastolic sama atau lebih besar 95 mmHg
(Kodim Nasrin, 2003 ). Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten
dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada
populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan
diastolik 90 mmHg. (Smeltzer, 2001). Hipertensi adalah tekanan darah sistolik >140
mmHg dan tekanan darah diastolik >90 mmHg, atau bila pasien memakai obat
antihipertensi.
Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Committee on Detection (JIVC)
sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat
keparahannya, mempunyai rentang dari tekanan darah (TD) normal tinggi sampai
hipertensi maligna. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140
mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg (Luckman Sorensen,1996).
Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara 95–104 mmHg,
hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105 dan 114 mmHg, dan hipertensi
berat bila tekanan diastoliknya 115 mmHg atau lebih. Pembagian ini berdasarkan
peningkatan tekanan diastolik karena dianggap lebih serius dari peningkatan sistolik
(Smith Tom, 1995).
B. Klasifikasi
Klasifikasi hipertensi menurut WHO, diantaranya:
1. Tekanan darah normal yaitu bila sistolik kurang atau sama dengan 140 mmHg dan
diastolik kurang atau sama dengan 90 mmHg
2. Tekanan darah perbatasan (broder line) yaitu bila sistolik 141-149 mmHg dan
diastolik 91-94 mmHg
3. Tekanan darah tinggi (hipertensi) yaitu bila sistolik lebih besar atau sama dengan 160
mmHg dan diastolik lebih besar atau sama dengan 95mmHg.
Krisis hipertensi adalah Suatu keadaan peningkatan tekanan darah yang mendadak
(sistole ≥180 mmHg dan/atau diastole ≥120 mmHg), pada penderita hipertensi, yg
membutuhkan penanggulangan segera yang ditandai oleh tekanan darah yang sangat
tinggi dengan kemungkinan timbulnya atau telah terjadi kelainan organ target (otak,
mata (retina), ginjal, jantung, dan pembuluh darah).
Tingginya tekanan darah bervariasi, yang terpenting adalah cepat naiknya tekanan
darah. Dibagi menjadi dua:
1. Hipertensi Emergensi
Situasi dimana diperlukan penurunan tekanan darah yang segera dengan obat
antihipertensi parenteral karena adanya kerusakan organ target akut atau
progresif target akut atau progresif. Kenaikan TD mendadak yg disertai kerusakan
organ target yang progresif dan di perlukan tindakan penurunan TD yg segera
dalam kurun waktu menit/jam.
2. Hipertensi urgensi
Situasi dimana terdapat peningkatan tekanan darah yang bermakna tanpa adanya
gejala yang berat atau kerusakan organ target progresif bermakna tanpa adanya
gejala yang berat atau kerusakan organ target progresif dan tekanan darah perlu
diturunkan dalam beberapa jam. Penurunan TD harus dilaksanakan dalam kurun
waktu 24-48 jam (penurunan tekanan darah dapat dilaksanakan lebih lambat (dalam
hitungan jam sampai hari).
C. Etiologi
Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik
(idiopatik). Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan
tekanan perifer. Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:
1. Genetik: Respon neurologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau transport Na.
2. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan tekanan darah
meningkat.
3. Stress Lingkungan.
4. Hilangnya Elastisitas jaringan dan arterosklerosis pada orang tua serta pelebaran
pembuluh darah.
Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:
a. Hipertensi Esensial (Primer)
Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi
seperti genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, system
rennin angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas, merokok dan stress.
b. Hipertensi Sekunder
Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vaskuler renal.
Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil. Gangguan endokrin dll.
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan –
perubahan pada :
a. Elastisitas dinding aorta menurun
b. Katub jantung menebal dan menjadi kaku
c. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah
berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan
menurunnya kontraksi dan volumenya.
d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah
Hal ini terjadi karena kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk
oksigenasi Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer. Meskipun hipertensi
primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian telah
menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Faktor
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan
lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita
hipertensi.
1) Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah:
a) Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat )
b) Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan )
c) Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih )
2) Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah :
a) Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr )
b) Kegemukan atau makan berlebihan
c) Stress
d) Merokok
e) Minum alcohol
f) Minum obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin )
b. Adapun penyebab hipertensi sekunder adalah:
1) Ginjal
2) Glomerulonefritis
3) Pielonefritis
4) Nekrosis tubular akut
5) Tumor
6) Vascular
7) Aterosklerosis
8) Hiperplasia
9) Trombosis
10) Aneurisma
11) Emboli kolestrol
12) Vaskulitis
13) Kelainan endokrin
14) DM
15) Hipertiroidisme
16) Hipotiroidisme
17) Saraf
18) Stroke
19) Ensepalitis
20) SGB
21) Obat – obatan
22) Kontrasepsi oral
23) Kortikosteroid
D. Faktor Resiko
Adapun resikonya sebagai berikut :
1. Riwayat keluarga dengan penyakit jantung dan hipertensi
2. Pria usia 35 – 55 tahun dan wanita > 50 tahun atau sesudah menopause
3. Kebanyakan mengkonsumsi garam/natrium
4. Sumbatan pada pembuluh darah (aterosklerosis) disebabkan oleh beberapa hal seperti
merokok, kadar lipid dan kolesterol serum meningkat, caffeine, DM, dsb.
5. Factor emosional dan tingkat stress
6. Gaya hidup yang monoton
7. Sensitive terhadap angiotensin
8. Kegemukan
9. Pemakaian kontrasepsi oral, seperti esterogen.
E. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak
dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf
simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla
spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor
dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis
ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan
merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan
dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor
seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap
rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap
norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah
sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan
tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang
menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya,
yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang
mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Renin
merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II,
suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh
korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal,
menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung
mencetuskan keadaan hipertensi.
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan
fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan
darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya
elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang
pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah.
Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi
volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan
curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001).
Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi palsu”
disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff
sphygmomanometer (Darmojo, 1999). Menurunnya tonus vaskuler merangsang saraf
simpatis yang diteruskan ke sel jugularis. Dari sel jugularis ini bisa meningkatkan
tekanan darah. Dan apabila diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi
pada rennin yang berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada
angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah,
sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.Selain itu juga dapat meningkatkan hormone
aldosteron yang menyebabkan retensi natrium. Hal tersebut akan berakibat pada
peningkatan tekanan darah. Dengan peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan
kerusakan pada organ-organ seperti jantung. ( Suyono, Slamet. 1996 ).
F. Pathways
Gambar 5.1
G. Tanda Dan Gejala
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :
1. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan
darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti
hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.
2. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri
kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang
mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.
Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita
hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala, pusing Lemas, kelelahan, Sesak nafas,
Gelisah, Mual Muntah, Epistaksis, Kesadaran menurun.
Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah :
1. Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg
2. Sakit kepala
3. Pusing / migraine
4. Rasa berat ditengkuk
5. Penyempitan pembuluh darah
6. Sukar tidur
7. Lemah dan lelah
8. Nokturia
9. Azotemia
10. Sulit bernafas saat beraktivitas
H. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dilakukan dua cara yaitu :
1. Pemeriksaan yang segera seperti :
a. Darah rutin (Hematokrit/Hemoglobin): untuk mengkaji hubungan dari sel-sel
terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko
seperti: hipokoagulabilitas, anemia.
b. Blood Unit Nitrogen/kreatinin: memberikan informasi tentang perfusi / fungsi
ginjal.
c. Glukosa: Hiperglikemi (Diabetes Melitus adalah pencetus hipertensi) dapat
diakibatkan oleh pengeluaran Kadar ketokolamin (meningkatkan hipertensi).
d. Kalium serum: Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama
(penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik.
e. Kalsium serum : Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi
f. Kolesterol dan trigliserid serum : Peningkatan kadar dapat mengindikasikan
pencetus untuk/ adanya pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler )
g. Pemeriksaan tiroid : Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan
hipertensi
h. Kadar aldosteron urin/serum : untuk mengkaji aldosteronisme primer (penyebab)
i. Urinalisa: Darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal dan ada DM.
j. Asam urat : Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi
k. Steroid urin : Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme
l. EKG: 12 Lead, melihat tanda iskemi, untuk melihat adanya hipertrofi ventrikel
kiri ataupun gangguan koroner dengan menunjukan pola regangan, dimana luas,
peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
m. Foto dada: apakah ada oedema paru (dapat ditunggu setelah pengobatan
terlaksana) untuk menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup, pembesaran
jantung.
2. Pemeriksaan lanjutan (tergantung dari keadaan klinis dan hasil pemeriksaan yang
pertama):
a. IVP :Dapat mengidentifikasi penyebab hipertensi seperti penyakit parenkim
ginjal, batu ginjal / ureter.
b. CT Scan: Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati.
c. IUP: mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti: Batu ginjal,
perbaikan ginjal.
d. Menyingkirkan kemungkinan tindakan bedah neurologi: Spinal tab, CAT scan.
e. (USG) untuk melihat struktur gunjal dilaksanakan sesuai kondisi klinis pasien
I. Komplikasi
Efek pada organ:
1. Otak
a. Pemekaran pembuluh darah
b. Perdarahan
c. Kematian sel otak : stroke
2. Ginjal
a. Malam banyak kencing
b. Kerusakan sel ginjal
c. Gagal ginjal
3. Jantung
a. Membesar
b. Sesak nafas (dyspnoe)
c. Cepat lelah
d. Gagal jantung
J. Penatalaksanaan
Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas
akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan
pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.
Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :
1. Terapi tanpa Obat Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi
ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa
obat ini meliputi :
a. Diet
b. Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
1) Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr
2) Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh
c. Penurunan berat badan
d. Penurunan asupan etanol
e. Menghentikan merokok
f. Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk
penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip yaitu:
Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging, bersepeda,
berenang dan lain-lain. Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari
kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona
latihan. Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam zona
latihan Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x
perminggu
2. Edukasi Psikologis
Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi:
1. Tehnik Biofeedback
Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek
tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap
tidak normal.
2. Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik
seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan psikologis seperti
kecemasan dan ketegangan.
3. Tehnik relaksasi
Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi
ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar
membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks Pendidikan Kesehatan
(Penyuluhan)
Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang
penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan
hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
3. Terapi dengan Obat
Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi
juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat
bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup
penderita.
Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi (JOINT
NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION, EVALUATION AND TREATMENT
OF HIGH BLOOD PRESSURE, USA, 1988) menyimpulkan bahwa obat diuretika,
penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai
obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain
yang ada pada penderita. Pengobatannya meliputi :
a. Step 1
Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca antagonis, ACE inhibitor
b. Step 2
Alternatif yang bisa diberikan:
1) Dosis obat pertama dinaikkan
2) Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama
3) Ditambah obat ke –2 jenis lain, dapat berupa diuretika , beta blocker, Ca
antagonis, Alpa blocker, clonidin, reserphin, vasodilator
c. Step 3 : Alternatif yang bisa ditempuh
1) Obat ke-2 diganti
2) Ditambah obat ke-3 jenis lain
d. Step 4 : Alternatif pemberian obatnya
1) Ditambah obat ke-3 dan ke-4
2) Re-evaluasi dan konsultasi
3) Follow Up untuk mempertahankan terapi
Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan
komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan (perawat, dokter)
dengan cara pemberian pendidikan kesehatan.
K. Pengkajian Keperawatan
a. Aktivitas / istirahat
Gejala :
1. Kelemahan
2. Letih
3. Napas pendek
4. Gaya hidup monoton
Tanda :
1. Frekuensi jantung meningkat
2. Perubahan irama jantung
3. Takipnea
b. Sirkulasi
Gejala : Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner / katup,
penyakit serebrovaskuler
Tanda :
1. Kenaikan TD
2. Nadi : denyutan jelas
3. Frekuensi / irama : takikardia, berbagai disritmia
4. Bunyi jantung : murmur
5. Distensi vena jugularis
6. Perubahan warna kulit, suhu dingin ( vasokontriksi perifer ), pengisian kapiler
mungkin lambat
c. Integritas Ego
Gejala: Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, marah, faktor
stress multiple ( hubungsn, keuangan, pekerjaan )
Tanda :
1. Letupan suasana hati
2. Gelisah
3. Penyempitan kontinue perhatian
4. Tangisan yang meledak
5. otot muka tegang ( khususnya sekitar mata )
6. Peningkatan pola bicara
d. Eliminasi
Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu ( infeksi, obstruksi, riwayat
penyakit ginjal )
e. Makanan / Cairan
Gejala :
1. Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam, lemak dan
kolesterol
2. Mual
3. Muntah
4. Riwayat penggunaan diuretik
Tanda :
1. BB normal atau obesitas
2. Edema
3. Kongesti vena
4. Peningkatan JVP
5. Glikosuria
f. Neurosensori
Gejala :
1. Keluhan pusing / pening, sakit kepala
2. Episode kebas
3. Kelemahan pada satu sisi tubuh
4. Gangguan penglihatan ( penglihatan kabur, diplopia )
5. Episode epistaksis
Tanda :
1. Perubahan orientasi, pola nafas, isi bicara, afek, proses pikir atau memori
(ingatan)
2. Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman
3. Perubahan retinal optic
g. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala :
1. Nyeri hilang timbul pada tungkai
2. Sakit kepala oksipital berat
3. Nyeri abdomen
h. Pernapasan
Gejala :
1. Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas
2. Takipnea
3. Ortopnea
4. Dispnea nocturnal proksimal
5. Batuk dengan atau tanpa sputum
6. Riwayat merokok
Tanda :
1. Distress respirasi/ penggunaan otot aksesoris pernapasan
2. Bunyi napas tambahan ( krekles, mengi )
3. Sianosis
i. Keamanan
Gejala : Gangguan koordinasi, cara jalan
Tanda : Episode parestesia unilateral transien
j. Pembelajaran / Penyuluhan
Gejala:
1. Factor resiko keluarga ; hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, DM ,
penyakit serebrovaskuler, ginjal
2. Faktor resiko etnik, penggunaan pil KB atau hormon lain
3. Penggunaan obat / alkohol
L. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
1. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan
afterload, vasokonstriksi, hipertrofi/rigiditas ventrikuler, iskemia miokard
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ketidakseimbangan suplai dan
kebutuhan oksigen.
3. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
4. Cemas berhubungan dengan krisis situasional sekunder adanya hipertensi yang
diderita klien
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses
penyakit
M. Intervensi Keperawatan
RENCANA KEPERAWATAN
DIANGOSA
NO
KEPERAWATAN TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)
DX
DAN KOLABORASI
1 Resiko tinggi terhadap NOC : NIC :
penurunan curah jantung Cardiac Pump effectiveness Cardiac Care
berhubungan dengan Circulation Status Evaluasi adanya nyeri dada ( intensitas,lokasi, durasi)
peningkatan afterload, Vital Sign Status Catat adanya disritmia jantung
vasokonstriksi, Kriteria Hasil: Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac putput
hipertrofi/rigiditas Tanda Vital dalam rentang normal (Tekanan darah, Monitor status kardiovaskuler
ventrikuler, iskemia Nadi, respirasi) Monitor status pernafasan yang menandakan gagal jantung
miokard Dapat mentoleransi aktivitas, tidak ada kelelahan Monitor abdomen sebagai indicator penurunan perfusi
Tidak ada edema paru, perifer, dan tidak ada asites Monitor balance cairan
Tidak ada penurunan kesadaran Monitor adanya perubahan tekanan darah
Monitor respon pasien terhadap efek pengobatan antiaritmia
Atur periode latihan dan istirahat untuk menghindari kelelahan
Monitor toleransi aktivitas pasien
Monitor adanya dyspneu, fatigue, tekipneu dan ortopneu
Anjurkan untuk menurunkan stress
Vital Sign Monitoring
Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
Catat adanya fluktuasi tekanan darah
Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri
Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas
Monitor kualitas dari nadi
Monitor adanya pulsus paradoksus
Monitor adanya pulsus alterans
Monitor jumlah dan irama jantung
Monitor bunyi jantung
Monitor frekuensi dan irama pernapasan
Monitor suara paru
Monitor pola pernapasan abnormal
Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
Monitor sianosis perifer
Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign
2 Intoleransi aktivitas NOC : NIC :
berhubungan Energy conservation
dengan Energy Management
kelemahan, Self Care : ADLs Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas
ketidakseimbangan Kriteria Hasil : Dorong anal untuk mengungkapkan perasaan terhadap keterbatasan
suplai dan kebutuhan Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan
oksigen. peningkatan tekanan darah, nadi dan RR Monitor nutrisi dan sumber energi tangadekuat
Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan
mandiri Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas
Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien
Activity Therapy
Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalammerencanakan progran terapi yang
tepat.
Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan
Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yangsesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan
social
Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang
diinginkan
Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek
Bantu untu mengidentifikasi aktivitas yang disukai
Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang
Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas
Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas
Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan
Monitor respon fisik, emoi, social dan spiritual
3 Nyeri akut berhubungan NOC : NIC :
dengan peningkatan Pain Level, Pain Management
Pain control,
tekanan vaskuler serebral
Comfort level Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi,
Kriteria Hasil : frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
mengurangi nyeri, mencari bantuan) Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
menggunakan manajemen nyeri Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa
Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan lampau
tanda nyeri) Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan
Tanda vital dalam rentang normal kebisingan
Kurangi faktor presipitasi nyeri
Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
Ajarkan tentang teknik non farmakologi
Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri
Analgesic Administration
Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat
Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
Cek riwayat alergi
Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu
Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri
Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara teratur
Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali
Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat
Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)
4 Cemas berhubungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x Anxiety Reduction
dengan krisis situasional 24 jam, cemas pasien berkurang dengan kriteria Gunakan pendekatan yang menenangkan
sekunder adanya hasil: Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien
hipertensi yang diderita Anxiety Control Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
klien Coping Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
Vital Sign Status Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis
Menunjukan teknik untuk mengontrol cemas teknik Dorong keluarga untuk menemani anak
nafas dalam Lakukan back / neck rub
Postur tubuh pasien rileks dan ekspresi wajah tidak Dengarkan dengan penuh perhatian
tegang Identifikasi tingkat kecemasan
Mengungkapkan cemas berkurang Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
TTV dbn Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi
TD = 110-130/ 70-80 mmHg Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi
RR = 14 – 24 x/ menit Barikan obat untuk mengurangi kecemasan
N = 60 -100 x/ menit
S = 365 – 375 0C
5 Kurang pengetahuan NOC : NIC :
berhubungan Kowlwdge : disease process
dengan Teaching : disease Process
kurangnya Kowledge : health Behavior
informasi Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik
tentang proses penyakit Kriteria Hasil : Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan
Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang fisiologi, dengan cara yang tepat.
penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat
Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
yang dijelaskan secara benar Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat
Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat
yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya.
Hindari harapan yang kosong
Sediakan bagi keluarga atau SO informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat
Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di
masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit
Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion dengan cara yang
tepat atau diindikasikan
Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat
Rujuk pasien pada grup atau agensi di komunitas lokal, dengan cara yang tepat
Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan
kesehatan, dengan cara yang tepat
N. Implementasi
Merupakan pelaksanaan tindakan yang sudah direncanakan dengan tujuan
kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal dalam rencana keperawatan. Tindakan
keperawatan mencakup tindakan mandiri (independent), saling
ketergantungan/kolaborasi, dan tindakan rujukan/ ketergantungan ( dependent).
(Tartowo & Wartonah , 2015)
O. Evaluasi
Menurut (Tartowo & Wartonah , 2015) Adalah proses keperawatan dengan cara
melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai atau tidak
dan perbandingan yang sistematis dan terencana tentang kesehatan klien dengan tujuan
yang telah ditetapkan, keluarga dan tenaga kesehatan lainnya. Tujuan evaluasi untuk
melihat kemampuan klien dalam mencapai tujuan yang disesuaikan dengan riteria hasil
pada tahap perencanaan.
Untuk mempermudah mengevaluasi/memantau perkembangan pasien digunakan
komponen SOAP adalah sebagai berikut:
S : Data subjektif
Perawat menuliskan keluhan pasien yang masih dirasakan setelah dilakukan tindakan
keperawatan
O : Data objektif
Data berdasarkan hasil pengukuran atau observasi perawat secara langsung kepada
pasien dan yang dirasakan pasien setelah dilakukan tindakan keperawatan
A : Analisa
Merupakan suatu masalah atau diagnosis keperawatan yang masih terjadi, atau juga
dapat dituliskan suatu masalah/ diagnosis baru yang terjadi akibat perubahan status
kesehatan pasien yang telah teridentifikasi datanya dalam data subjektif dan
objektif
P : Planning
Perencanaan keperawatan yang dilanjutkan, dihentikan, dimodifikasi atau
ditambahkan dari rencana tindakan keperawatan yang telah ditentukan sebelumnya,
tindakan yang telah menunjukkan hasil yang memuaskan data tidak memerlukan
tindakan ulang pada umumnya dihentikan.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC,
Hamzah, : Ensiklopedia Artikel Indonesia, Surabaya
Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC,
Goonasekera CDA, Dillon MJ, 2003. The child with hypertension. In: Webb NJA, Postlethwaite
RJ, editors. Clinical Paediatric Nephrology. 3rd edition. Oxford: Oxford University
Press
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New Jersey:
Upper Saddle River
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition. New
Jersey: Upper Saddle River
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima
Medika
Smet, Bart.1994. Psikologi Kesehatan. Pt Grasindo:Jakarta
Soeparman dkk,2007 Ilmu Penyakit Dalam , Ed 2, Penerbit FKUI, Jakarta
Smeljer,s.c Bare, B.G ,2002 Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah,
Imam, S Dkk.2005. Asuhan Keperawatan Keluarga.Buntara Media:malang
----------------------------------------------------
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA KELUARGA Tn. M
DENGAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA ANAK DEWASA (PELEPASAN)
DENGAN MASALAH UTAMA HIPERTENSI PADA Ny. A
DI LINGKUNGAN DASAN CERMEN UTARA
TANGGAL 1–5 MARET 2021
I. PENGKAJIAN
A. DATA UMUM
1. Nama kk : Tn. M
2. Umur : 60 Tahun
3. Pendidikan : SD
4. Pekerjaan : Petani
5. Alamat : Lingkungan Dasan Cermen Utara RT 04
6. Komposisi Keluarga
No Nama Umur Jenis Hub. dengan Status Pekerjaan
(inisial) Kelamin Kepala Keluarga Perkawinan
1. Ny. A 55 tahun Perempuan Istri Sudah kawin IRT
2. Tn. S 28 tahun Laki-laki Anak - Buruh
3. Tn. K 20 tahun Laki-laki Anak - Buruh
7. Genogram
X X X X
Keterangan:
: laki-laki
: perempuan
X : meninggal
: garis keturunan
: garis perkawinan
: tinggal serumah
8. Tipe keluarga
Tipe keluarga Tn.M adalah tipe keluarga inti terdiri dari ayah, iibu, dan anak.
9. Budaya
a. Suku bangsa : Sasak
b. Bahasa yang digunakan : Bahasa Sasak dan Bahasa Indonesia
10. Agama : Islam
11. Status sosial ekonomi keluarga
Tn. M mengatakan dalam keluarga penghasilannya ± Rp. 500.000/per bulan dan
kedua anaknya berpenghasilan sekitar ± Rp. 700.000/per. Tn M mengatakan
penghasilannya masih kurang, terlebih di saat pandemi penghasilan sedikit
menyusut dan kebutuhan banyak.
12. Aktivitas rekreasi atau waktu luang
Klien mengatakan aktivitas waktu luangnya dihabiskan dengan beristirahat di
rumah.
B. RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA
13. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Keluarga Tn. M sekarang pada tahap perkembangan keluarga dengan anak dewasa.
Tugas perkembangan keluarga yang seharusnya dilalui oleh keluarga adalah
memperluaskan keluarga inti menjadi keluarga yang besar, mempertahankan
keintiman pasangan istri yang sedang sakit dan memasuki masa tua, membantu
anak untuk mandiri di masyarakat, penataan kembali peran dan kegiatan rumah
tangga.
14. Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Keluarga Tn. M mengatakan keluarganya sudah bahagia hanya saja anak-anaknya
belum ada yang ingin menikah. Tahap perkembangan keluarga yang belum
terpenuhi adalah memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
15. Riwayat kesehatan keluarga
a. Riwayat penyakit keturunan
Keluarga Tn. M mengatakan tidak ada yang mempunyai penyakit keturunan
b. Riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga
Keluarga Tn. M mengatakan ada salah satu anggota keluarganya yang sedang
mengidap penyakit darah tinggi yaitu istrinya Ny. A.
No Nama Umur Keadaan Status Masalah Tindakan yang
. kesehatan imunisasi kesehatan dilakukan
1 Tn. M 60 Sehat - Tidak ada -
tahun
2 Ny. A 55 Sakit - Hipertensi KIE gizi dan
tahun konsumsi obat
3 Tn. S 28 Sehat Lengkap - -
tahun
4 Tn. K 20 Sehat Lengkap - -
tahun
16. Riwayat kesehatan sebelumnya
Keluarga Tn. M mengatakan pernah mengalami penyakit batuk, pilek, demam, dan
darah tinggi.
C. LINGKUNGAN
17. Karakteristik rumah
a. Denah rumah
Wc Kamar Kamar
Dapur
Tidur Tidur
b. Status rumah Ruang Kamar atas nama Tn. M
: Rumah milik sendiri
Keluarga Tidur
c. Tipe rumah : rumah permanen
d. Luas rumah : 1,0 are
e. Keadaan rumah
Keluarga Tn. M mengatakan tetap membersihkan rumah, lingkungan sekitar
rumah tampak bersih.
f. Kebersihan dan Pencahayaan
Keluarga Tn. M mengatakan pada pagi hari selalu membuka korden sehingga
cahaya matahari dapat masuk. Terdapat jendela dan ventilasi udara di rumah,
pencahayaan rumah cukup baik.
18. Karakteristik tetangga dan komunitas
Keluarga Tn. M mengatakan keluarga tetap menjalin hubungan dengan baik sesama
tetangganya, tetap bersosialisasi dan saling membantu.
19. Mobilitas geografis keluarga
Keluarga Tn M mengatakan tidak pernah kemana-mana dan jarang ber-rekreasi,
namun jika ingin ke rumah sakit / puskesmas dirinya menggunakan motor atau
diantar oleh anaknya.
20. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Keluarga Tn M mengatakan selalu berhubungan baik dan berinteraksi dengan
keluarga, tetangga sekitarnya maupun dengan masyarakat lainnya.
21. Sistem pendukung keluarga
Keluarga Tn M mengatakan selain keluarga besar, masyarakat sekitar rumahnya
menjadi pendukung bagi keluarganya.
D. STRUKTUR KELUARGA
22. Pola komunikasi keluarga
Keluarga Tn M mengatakan setiap anggota keluarga selalu saling terbuka satu sama
lain dan saling membantu bila ada masalah.
23. Struktur kekuatan keluarga
Keluarga Tn M mengatakan saling menghargai satu sama lain, saling membantu
atau mendukung. Keluarga Tn M mengatakan selalu mencoba untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari.
24. Struktur peran
Keluarga Tn M mengatakan dalam keluarganya yang berperan mencari nafkah
adalah dirinya dan anak-anaknya.
25. Nilai dan norma keluarga
Keluarga Tn M mengatakan nilai dan norma selalu di terapkan dan junjung tinggi
di keluarga, baik norma agama, kesopanan, kesusilaan dan hukum.
E. FUNGSI KELUARGA
26. Fungsi afektif
Tn M mengatakan sangat menyayangi keluarganya, selalu mencoba membantu
semua kebutuhan keluarganya.
27. Fungsi sosialisasi
Keluarga Tn M mengatakan tetap berinteraksi dan bersosialisasi dengan keluarga
dan tetangganya.
28. Fungsi perawatan kesehatan (Data Spesifik)
a. Kemampuan mengenal masalah kesehatan
Keluarga Tn M mengatakan tidak mengetahui tanda dan gejala penyakit darah
tinggi. Ny A mengatakan tidak tahu penyebab penyakitnya. Ny A mengatakan
sekarang tidak pernah merasa sakit kepala.
b. Kemampuan mengambil keputusan untuk melakukan tindakan
Keluarga Tn M mengatakan apabila ada keluarga yang sakit dibawa ke
puskesmas atau rumah sakit.
c. Kemampuan melakukan perawatan terhadap anggota keluarga yang sakit
Keluarga Tn M mengatakan tidak pernah membatasi makanan untuk Ny A. Ny
A mengatakan tetap melakukan pekerjaan rumah ketika sakit. Tn M
mengatakan hanya memberi minum obat dari puskesmas untuk istrinya.
d. Kemampuan menciptakan lingkungan yang dapat meningkatkan kesehatan
Keluarga Tn M mengatakan istrinya tetap membersihkan rumah, dan
lingkungan di sekitar selalu dibersihkan, jendela tetap dibuka setiap pagi, lantai
masih menggunakan semen.
e. Kemampuan keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada
Keluarga Tn M mengatakan, apabila keluarga sakit selalu dibawa ke puskesmas
dan rumah sakit. Apabila sedang sakit demam, flu, batuk biasanya pasien
membeli obat di warung.
F. STRESS DAN KOPING KELUARGA
1. Stressor jangka pendek
Keluarga Tn M mengatakan istrinya sering merasa pusing dan sakit leher.
2. Stressor jangka panjang
Tn M mengatakan merasa khawatir jika penyakit istrinya memburuk.
3. Koping keluarga
Keluarga Tn M mengatakan apabila jenuh biasanya berkumpul dengan keluarga
besar untuk bebagi cerita dan bersilaturahmi, terkadang berkumpul dengan tetangga
dan teman-temannya. Apabila ada masalah biasanya keluarga Tn M selalu
menasehati anaknya dan terkadang berdiskusi dengan keluarga besarnya.
G. Harapan Keluarga Terhadap Perawat Berhubungan Dengan Masalah Yang
Dihadapi:
Dengan adanya kunjungan keluarga dapat menambah pengetahuan tentang kesehatan
dan bagaimana perawatan yang diberikan untuk keluarga Tn M serta membantu dalam
proses peningkatan status kesehatan keluarganya.
H. PEMERIKSAAN FISIK (HEAD TO TOES)
Anggota Tn M Ny. A Tn. S Tn K
keluarga
Kepala Inspeksi: Inspeksi: Inspeksi : Inspeksi :
Rambut memutih, Rambut tampak Rambut hitam, tidak Rambut tampak bersih,
bentuk oval, tidak memutih, bentuk oval, ada ketombe, bentuk berwarna hitam, bentuk
terdapat lesi, bibir tidak terdapat lesi. oval, tidak terdapat oval, tidak terdapat lesi
tampak lembab, Wajah tampak pucat, lesi Palpasi :
wajah tampak keriput konjungtiva anemis, Palpasi: Tidak ada nyeri tekan,
Palpasi : bibir tampak kering, Tidak ada nyeri tidak teraba benjolan
Tidak ada nyeri tekan, kulit mulai keriput. tekan, tidak teraba
tidak teraba benjolan Palpasi: benjolan
Tidak ada nyeri tekan,
tidak teraba benjolan
Leher Inspeksi : Inspeksi : Inspeksi : Inspeksi :
Tidak ada lesi, tidak Tidak ada lesi, tidak Tidak ada lesi, tidak Rambut tampak bersih,
ada pembesaran ada pembesaran ada pembesaran berwarna hitam, bentuk
kelenjar tiroid, limfe kelenjar tiroid, limfe. kelenjar tiroid, limfe, oval, tidak terdapat lesi
Palpasi : Palpasi : vena jugularis Palpasi :
Tidak ada Tidak ada pembesaran Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.
pembesaran kelenjar kelenjar tiroid dan Tidak ada nyeri tidak ada pembesaran
tiroid dan limfe limfe tekan, tidak ada kelenjar tiroid.
pembesaran kelenjar
tiroid.
Dada Inspeksi : Inspeksi : Inspeksi : Inspeksi :
Tampak simetris, Tampak simetris, Tampak simetris, Tampak simetris,
pergerakan dinding pergerakan dinding pergerakan dinding pergerakan dinding
dada simetris, tidak sama, tidak ada lesi dada simetris, tidak dada simetris, tidak ada
ada lesi. ada lesi. lesi.
Palpasi : Palpasi : Palpasi :
Tidak ada benjolan, Tidak ada benjolan, Tidak ada benjolan, Palpasi :
tidak ada nyeri tekan. tidak ada nyeri tekan. tidak ada nyeri tekan. Tidak ada benjolan,
Auskultasi : Auskultasi: Auskultasi : tidak ada nyeri tekan.
Tidak ada suara napas Tidak ada suara napas Tidak ada suara Auskultasi :
tambahan. tambahan. Suara napas tambahan. Tidak ada suara napas
Perkusi : jantung terdengar Perkusi : tambahan.
Terdengar suara cepat. Terdapat suara Perkusi :
sonor. Perkusi: sonor. Terdengar suara sonor.
Terdapat suara sonor.
Abdomen Inspeksi : Inspeksi : Inspeksi : Inspeksi :
Tampak simetris, Tampak simetris, Tampak simetris, Tampak simetris, tidak
tidak ada lesi. tidak ada lesi. tidak ada lesi. ada lesi.
Auskultasi : Auskultasi : Auskultasi : Auskultasi :
Peristaltik usus Peristaltik terdengar 8 Peristaltik terdengar Peristaltik terdengar 10
terdengar 10 kali/menit. 12 kali/menit. kali/menit.
kali/menit. Perkusi : Perkusi : Perkusi :
Perkusi : Terdengar Timpani Terdengar Timpani Terdengar Timpani dan
Terdengar Timpani dan pekak saat dan pekak saat pekak saat mengenai
dan pekak saat mengenai batas organ mengenai batas batas organ Palpasi :
mengenai batas organ Palpasi : organ Palpasi : Tidak ada nyeri tekan,
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, Tidak ada nyeri tidak asites
Tidak ada nyeri tekan. abdomen terasa tekan, tidak asites
tegang
Ekstremitas Inspeksi : Inspeksi : Inspeksi : Inspeksi :
Tidak ada lesi, Tidak ada lesi, Tidak ada lesi, Tidak ada lesi,
ekstremitas atas dan ekstremitas atas dan ekstremitas atas dan ekstremitas atas dan
bawah tampak bawah simetris, kuku bawah tampak bawah tampak simetris.
simetris. tampak kotor, simetris. Palpasi :
Palpasi : Palpasi : Palpasi : Tidak ada nyeri tekan,
Tidak ada nyeri tekan, Tidak terdapat nyeri Tidak ada nyeri tidak terdapat edema,
tidak terdapat edema, tekan pada tekan, tidak terdapat turgor kulit < 2 detik
turgor kulit > 2 detik ekstremitas, nadi edema, turgor kulit <
teraba cepat, turgor 2 detik
kulit > 2 detik. CRT 2
detik
Data Tambahan :
1. Tn M : TD :90/70 mmHg
N : 80 x/menit
S : 36,5 0C
RR : 20 x/menit
2. Ny. A : TD : 140/90 mmHg
N : 90 x/menit
S : 36 0C
RR : 20 x/menit
3. Tn. S : TD : 110/70 mmHg
N : 80 x/menit
S : 36,4 0C
RR : 20 x/menit
4. Tn. K : TD : 90/80 mmHg
N : 88 x/menit
S : 36,2 0C
RR : 20 x/menit
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
A. Analisa Data
No Data Etiologi Diagnosa Keperawatan
1. DS: Ketidakmampuan Kurang pengetahuan
- Keluarga Tn M keluarga mengenal
mengatakan tidak masalah kesehatan
mengetahui tanda dan
gejala penyakit darah
tinggi.
- Ny A mengatakan tidak
tahu penyebab
penyakitnya
DO:
- TD : 140/90 mmHg
N : 86 x/menit
S : 36 0C
RR : 20 x/menit
- Keluarga Tn M tidak
mampu menyebutkan
tanda gejala hipertensi
2. DS : Ketidakmampuan Resiko terjadinya
- Keluarga Tn M keluarga merawat komplikasi
mengatakan tidak pernah anggota keluarga yang
membatasi makanan sakit
untuk Ny A.
- Ny A mengatakan tetap
melakukan pekerjaan
rumah ketika sakit.
DO :
- Wajah tampak pucat
- Bibir tampak kering
- Suara jantung terdengar
cepat
- Nadi teraba cepat,
N:90x/menit
- CRT 2 detik
B. RUMUSAN DIAGNOSA
1. Kurang pengetahuan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenal
masalah
2. Resiko terjadinya komplikasi berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam
merawat anggota keluarga yang sakit
III. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
Diagnosa Tujuan Evaluasi
Rencana tindakan
keperawatan Umum Khusus Kriteria Standar
Kurang Setelah 1. Pengetahuan Verbal: Hipertensi adalah peningkatan 1. Kaji pengetahuan keluarga
pengetahuan dilakukan keluarga Keluarga dapat tekanan darah sistolik lebih dari
tentang hipertensi
berhubungan kunjungan bertambah menyebutkan 140 mmHg dan tekanan darah
dengan rumah dan tentang pengertian, diastolik lebih dari 90 mmHg 2. Berikan pendidikan
ketidakmampu penyuluhan, hipertensi penyebab, Penyebab:
kesehatan pada keluarga
an keluarga di harapkan 2. Keluarga faktor resiko 1. Genetik
dalam keluarga mampu hipertensi, 2. Stress Lingkungan. tentang pengertian,
mengenal dapat lebih mengenal tanda dan 3. Hilangnya Elastisitas jaringan
penyebab dan tanda gejala,
masalah mengetahui masalah gejala, dan arterosklerosis pada orang
tentang kesehatan komplikasi dari tua serta pelebaran pembuluh komplikasi dari hipertensi,
penyakit 3. Keluarga hipertensi, darah.
penatalaksanaan darah
hipertensi mampu penatalaksanaa 4. Konsumsi garam yang tinggi
merawat n darah tinggi. (melebihi dari 30 gr) tinggi.
keluarga 5. Kegemukan atau makan
3. Tanyakan kembali bila ada
yang sakit berlebihan
6. Merokok yang belum dimengerti
7. Minum alcohol
4. Minta keluarga untuk
8. Minum obat-obatan
( ephedrine, prednison, menyebutkan kembali
epineprin )
Faktor resiko:
1. Riwayat keluarga dengan
penyakit jantung dan hipertensi
2. Pria usia 35 – 55 tahun dan
wanita > 50 tahun atau sesudah
menopause
3. Kebanyakan mengkonsumsi
garam/natrium
4. Sumbatan pada pembuluh
darah (aterosklerosis)
disebabkan oleh beberapa hal
seperti merokok, kadar lipid
dan kolesterol serum
meningkat, caffeine, DM, dsb.
5. Factor emosional dan tingkat
stress
6. Gaya hidup yang monoton
7. Sensitive terhadap angiotensin
8. Kegemukan
9. Pemakaian kontrasepsi oral,
seperti esterogen.
Tanda dan gejala:
1. Sakit kepala
2. Pusing / migraine
3. Rasa berat ditengkuk
4. Penyempitan pembuluh darah
5. Sukar tidur
6. Lemah dan lelah
7. Nokturia
8. Azotemia
9. Sulit bernafas saat beraktivitas
Komplikasi:
Efek pada organ:
1. Otak
a. Pemekaran pembuluh
darah
b. Perdarahan
c. Kematian sel otak : stroke
2. Ginjal
a. Malam banyak kencing
b. Kerusakan sel ginjal
c. Gagal ginjal
3. Jantung
a. Membesar
b. Sesak nafas (dyspnoe)
c. Cepat lelah
d. Gagal jantung
Penatalaksanaan:
Terapi tanpa Obat Terapi tanpa
obat digunakan sebagai tindakan
untuk hipertensi ringan dan sebagai
tindakan suportif pada hipertensi
sedang dan berat. Terapi tanpa obat
ini meliputi :
a. Diet
Diet yang dianjurkan untuk
penderita hipertensi adalah :
1) Diit rendah garam dari 10
gr/hr menjadi 5 gr/hr
2) Diet rendah kolesterol dan
rendah asam lemak jenuh
b. Penurunan berat badan
c. Penurunan asupan etanol
d. Menghentikan merokok
e. Latihan Fisik atau olah raga
yang teratur
Resiko Setelah 1. Keluarga Keluarga dapat Hipertensi merupakan penyebab 1. Anjurkan keluarga untuk
terjadinya dilakukan mampu merawat utama gagal jantung, stroke, dan memberikan lingkungan
komplikasi kunjungan merawat anggota gagal ginjal. Disebut sebagai yang tenang, nyaman,
berhubungan rumah dan anggota keluarga yang “pembunuh diam-diam” karena kurangi aktifitas/keributan
dengan penyuluhan keluarga sakit dengan orang dengan hipertensi sering lingkungan.
ketidakmampu di harapkan yang sakit membatasi tidak menampakan gejala. Akibat 2. Anjurkan keluarga untuk
an keluarga keluarga 2. Keluarga aktivitas. gejala yang tidak tampak, penderita mempertahankan
dalam merawat mampu mampu hipertensi sering melakukan pembatasan aktifitas, seperti
anggota merawat mengenali aktivitas melebihi batas. Yang pada istirahat ditempat
keluarga yang anggota komplikasi akhirnya dapat menimbulkan tidur/kursi.
sakit keluarga akibat berbagai komplikasi. 3. Ajarkan keluarga untuk
yang sakit hipertensi melakukan tindakan
3. Keluarga tindakan yang nyaman,
mampu seperti pijatan punggung
membatasi dan leher, meninggikan
aktifitas kepala di tempat tidur.
yang 4. Ajarkan klien dan keluarga
menyebabk teknik relaksasi, panduan
an imajinasi, aktifitas
hipertensi pengalihan.
IV. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI FORMATIF
No Tanggal Diagnosa Implementasi Evaluasi TTD
Keperawatan Formatif
1. Selasa, 2 Kurang pengetahuan 1. Mengkaji pengetahuan 1. S: keluarga mengatakan tidak
Maret 2021 berhubungan dengan tahu tentang tanda dan gejala
keluarga tentang hipertensi
ketidakmampuan penyakit darah tinggi
keluarga dalam O: keluarga bertanya tentang
mengenal masalah penyakit darah tinggi
2. Memberikan pendidikan 2. S: keluarga mengatakan
menjadi tahu tentang
kesehatan pada keluarga
hipertensi
tentang pengertian, penyebab O: keluarga tampak
memperhatikan penjelasan
dan tanda gejala, komplikasi
perawat
dari hipertensi,
penatalaksanaan darah tinggi.
3. Meminta keluarga untuk 3. S: keluarga mengatakan
sedikit lupa penjelasan yang
menyebutkan kembali
di berikan
penjelasan yang di berikan O: keluarga menyebutkan
beberapa tanda dan gejala
hipertensi
4. Menanyakan kembali bila 4. S: keluarga mengatakan
sudah mengerti tentang
ada yang belum dimengerti
hipertensi
O: Keluarga tidak bertanya
2. Selasa, 2 Resiko terjadinya 1. Menganjurkan keluarga 1. S: keluarga mengatakan
maret 2021 komplikasi untuk memberikan rumahnya sangat berdekatan
berhubungan dengan lingkungan yang tenang, dengan tetangga, sehingga
ketidakmampuan nyaman, kurangi masih belum bisa
keluarga dalam aktifitas/keributan memberikan lingkungan yang
merawat anggota lingkungan. tenang
keluarga yang sakit O: keluarga memahami
anjuran perawat
2. Menganjurkan keluarga 2. S: keluarga mengatakan tidak
untuk mempertahankan ada yang mengurus rumah
pembatasan aktifitas, seperti selain istrinya
istirahat ditempat tidur/kursi. O: keluarga tampak sedih
3. Mengajarkan keluarga untuk 3. S: keluarga mengatakan akan
melakukan tindakan tindakan melakukan pijatan pada Ny A
yang nyaman, seperti pijatan yang sakit
punggung dan leher, O: keluarga tampak memijit
meninggikan kepala di Ny.A
tempat tidur.
4. Mengajarkan klien teknik 4. S: klien mengatakan mencoba
relaksasi napas dalam melakukan napas dalam
setiap hari
O: klien tampak mengikuti
perawat
No Tanggal Diagnosa Implementasi Evaluasi TTD
Keperawatan Formatif
1. Rabu, 3 Kurang pengetahuan 1. Mengkaji pengetahuan 1. S: keluarga mengatakan ingat
Maret 2021 berhubungan dengan sedikit tentang hipertensi
keluarga tentang hipertensi
ketidakmampuan O: keluarga mencoba
keluarga dalam menjelaskan tentang
mengenal masalah hipertensi
2. Memberikan pendidikan 2. S: keluarga mengatakan
menjadi tahu tentang
kesehatan pada keluarga
hipertensi
tentang pengertian, penyebab O: keluarga tampak
menjelaskan apa yang di ingat
dan tanda gejala, komplikasi
dari hipertensi,
penatalaksanaan darah tinggi.
3. Meminta keluarga untuk 3. S: keluarga mengatakan
sedikit lupa penjelasan yang
menyebutkan kembali
di berikan
penjelasan yang di berikan O: keluarga menyebutkan
beberapa tanda dan gejala
hipertensi
4. Menanyakan kembali bila 4. S: keluarga mengatakan
sudah mengerti tentang
ada yang belum dimengerti
hipertensi
O: Keluarga tidak bertanya
2. Rabu, 3 Resiko terjadinya 1. Menganjurkan keluarga 1. S: keluarga mengatakan
maret 2021 komplikasi untuk memberikan lingkungan rumah tidak ada
berhubungan dengan lingkungan yang tenang, yang ribut
ketidakmampuan nyaman, kurangi O: keluarga memahami
keluarga dalam aktifitas/keributan anjuran perawat
merawat anggota lingkungan.
keluarga yang sakit 2. Menganjurkan keluarga 2. S: keluarga mengatakan
untuk mempertahankan sudah membantu Ny A
pembatasan aktifitas, seperti mengurus rumah
istirahat ditempat tidur/kursi. O: Ny. A tampak beristirahat
di kamar
3. Mengajarkan keluarga untuk 3. S: keluarga mengatakan
melakukan tindakan tindakan sudah melakukan pijatan pada
yang nyaman, seperti pijatan Ny A yang sakit
punggung dan leher, O: keluarga tampak memijit
meninggikan kepala di Ny.A
tempat tidur.
4. Mengajarkan klien teknik 4. S: klien mengatakansudah
relaksasi napas dalam melakukan napas dalam
setiap hari
O: klien tampak melakukan
tehnik relaksasi napas dalam
secara mandiri
No Tanggal Diagnosa Implementasi Evaluasi TTD
Keperawatan Formatif
1. Jumat, 5 Kurang pengetahuan 1. Mengkaji pengetahuan 1. S: keluarga mengatakan ingat
Maret 2021 berhubungan dengan sedikit tentang hipertensi
keluarga tentang hipertensi
ketidakmampuan O: keluarga mencoba
keluarga dalam menjelaskan tentang
mengenal masalah hipertensi
2. Memberikan pendidikan 2. S: keluarga mengatakan
menjadi tahu tentang
kesehatan pada keluarga
hipertensi
tentang pengertian, penyebab O: keluarga tampak
menjelaskan apa yang di ingat
dan tanda gejala, komplikasi
dari hipertensi,
penatalaksanaan darah tinggi.
3. Meminta keluarga untuk 3. S: keluarga mengatakan
sedikit lupa penjelasan yang
menyebutkan kembali
di berikan
penjelasan yang di berikan O: keluarga menyebutkan
beberapa tanda dan gejala
hipertensi
4. Menanyakan kembali bila 4. S: keluarga mengatakan
sudah mengerti tentang
ada yang belum dimengerti
hipertensi
O: Keluarga tidak bertanya
2. Jumat, 5 Resiko terjadinya 5. Menganjurkan keluarga 5. S: keluarga mengatakan
maret 2021 komplikasi untuk memberikan lingkungan rumah tidak ada
berhubungan dengan lingkungan yang tenang, yang ribut
ketidakmampuan nyaman, kurangi O: keluarga memahami
keluarga dalam aktifitas/keributan anjuran perawat
merawat anggota lingkungan.
keluarga yang sakit 6. Menganjurkan keluarga 6. S: keluarga mengatakan
untuk mempertahankan sudah membantu Ny A
pembatasan aktifitas, seperti mengurus rumah
istirahat ditempat tidur/kursi. O: Ny. A tampak beristirahat
di kamar
7. Mengajarkan keluarga untuk 7. S: keluarga mengatakan
melakukan tindakan tindakan sudah melakukan pijatan pada
yang nyaman, seperti pijatan Ny A yang sakit
punggung dan leher, O: keluarga tampak memijit
meninggikan kepala di Ny.A
tempat tidur.
8. Mengajarkan klien teknik 8. S: klien mengatakansudah
relaksasi napas dalam melakukan napas dalam
setiap hari
O: klien tampak melakukan
tehnik relaksasi napas dalam
secara mandiri
V. EVALUASI SUMATIF
No Tanggal Diagnosa Keperawatan Evaluasi Sumatif
1. Jumat, 5 Kurang pengetahuan berhubungan dengan S: Keluarga Tn M mengatakan paham dan mengerti
maret 2021 ketidakmampuan keluarga dalam tentang penyakit hipertensi
mengenal masalah
O:
Keluarga mampu mnejelaskan tantang penyakit
hipertensi
TTV Ny A:
TD: 130/90 mmHg
N : 88 x/menit
S : 36 0C
RR : 20 x/menit
A: Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan
2. Jumat, 5 Resiko terjadinya komplikasi S : Keluarga Tn M mengatakan sudah membatasi
maret 2021 berhubungan dengan ketidakmampuan aktivitas Ny A
keluarga dalam merawat anggota
keluarga yang sakit O:
-Ny A tampak beristirahat di teras rumah
-Ny A tampak rileks dan bisa bersenda gurau
-keluarga tampak memijit Ny A
A : Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan