MAKALAH
Tentang
ASIA PACIFIC ECONOMIC COOPERATION
(APEC)
Disusun oleh :
1. BQ. RISMA LAELA ROYANI
2. ELFIA HAERUNNISA
3. ERNI YUHANA
4. LILIK ISNIATI
Kelas :
PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
DINAS PENDIDIKANDAN KEBUDAYAAN
SMA NEGERI 1 JONGGAT
Alamat: jln.RayaUbung KM.16 UbungKec.Jonggat Lombok Tengah 83561 Telp.
(0370)6829446, e-mail : smansajgt@yahoo.co.id,
laman :http://smansa1jonggat.sch.id.n
TAHUN PELAJARAN 2020/2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena atas berkat dan rahmat-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Asia Pacific Economic Cooperation (APEC)”.
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk
penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat
penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita
sekalian.
Ubung, 16 Februari 2021
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................i
DAFTAR ISI .................................................................................................ii
BAB I ENDAHULUAN.................................................................................1
A. Latar Belakang....................................................................................1
B. Rumusan Masalah...............................................................................1
C. Tujuan...................................................................................................
BAB II EMBAHASAN....................................................................................
A. Sejarah APEC......................................................................................
B. Permasalahan di Dalam Tubuh APEC..................................................
C. Dominasi AS Di Dalam APEC.............................................................
D. Pergeseran Misi APEC.........................................................................
E. Perpecahan Dalam APEC.....................................................................
F. Manfaat dan Tujuan APEC...................................................................
G. 21 Anggota APEC................................................................................
BAB III NUTUP...............................................................................................
A. Kesimpulan...........................................................................................
B. Saran.....................................................................................................
DAFTAR USTAKA.........................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) atau Kerja Sama
Ekonomi Negara-negara Asia Pasifik terbentuk pada tahun 1989 dalam suatu
pertemuan tingkat menteri di Canberra, Australia. Gagasan APEC muncul atas
prakarsa Robert Hawke, PM Australia saatitu.Pembentukan kerjasama
regional di kawasan Asia Pasifik dilatar belakangi oleh beberapa faktor, yaitu
sebagai berikut.
1. Adanya dinamika proses globalisasi. Dinamika ini berdampak sangat luas
dan terjadi secara global di seluruh belahan bumi, termasuk kawasan Asia
Pasifik. Oleh karena itulah, negara-negara di kawasan ini dituntut untuk
melakukan berbagai penyesuaian lewat perubahan struktur ekonomi agar
tidak merugikan mereka. Perubahan ini kemudian mendorong
perekonomian negar-negara di kawasan Asia Pasifik menjadi saling
tergantung (interdependensi).
2. Perubahan dalam konstelasi politik dunia seperti munculnya berbagai
kelompok perdagangan regional yang bersifat tertutup dan cenderung
membedakan kedudukan negara-negara Asia Pasifik dalam bidang
perdagangan dan investasi. Contoh dari kerjasama regional ituantara lain
NAFTA (North American Free Trade Area) atau kerjasama ekonomi
negara-negara Amerika Utara.
3. Adanya kekhawatiran akan gagalnya perundingan Putaran Uruguay.
Kekhawatiran tersebutsempat menimbulkan ketidak pastianatas masa
depan perekonomian dunia.
4. Adanya perubahan besar di bidangpolitik dan ekonomi yang terjadi dan
berlangsung di Uni Soviet danEropaTimur.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam pembuatan makalah ini yaitu :
1. Bagaimanakah sejarah terbentuknya APEC?
2. Apa saja permasalahan di dalam tubuh APEC?
3. Bagaimana dominasi AS di dalam APEC?
4. Bagaimanakah pergeseran misi APEC?
5. Bagaimana perpecahan yang terjadi dalam APEC?
6. Apa manfaat dan tujuan APEC?
7. Negara apa saja yang masuk dalam 21 Anggota APEC?
C. Tujuan
Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui sejarah terbentuknya APEC
2. Untuk mengetahui permasalahan di dalam tubuh APEC
3. Untuk mengetahui dominasi AS di dalam APEC
4. Untuk mengetahui pergeseran misi APEC
5. Untuk mengetahui perpecahan yang terjadi dalam APEC
6. Untuk mengetahui manfaat dan tujuan APEC
7. Untuk mengetahui Negara apa saja yang masuk dalam 21 Anggota APEC
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah APEC
APEC adalah Asia-Pacific Economic Coorperation atau Kerjasama
Ekonomi Asia Pasifik. APEC didirikan pada tahun 1989. APEC bertujuan
mengukuhkan pertumbuhan ekonomi dan mempererat komunitas negara-
negara di Asia Pasifik[1]. Koferensi negara-negara kawasan Asia Pasifik yang
dilaksanakan atas prakarsa Australia pada bulan November 1989 di Canberra
merupakan forum antar pemerintah yang kemudian dikenal dengan nama
“Asia Pacific Economic Cooperation” atau disingkat APEC. Latar belakang
berdirinya APEC ditandai dengan kebutuhan pembangunan ekonomi regional
akibat globalisasi sistem perdagangan, dan adanya perubahan berbagai situasi
politik dan ekonomi dunia sejak pertengahan tahun 1980-an.
Asia pasific Economic Cooperation-APEC merupakan forum yang
terbentuk dan perkembangannya dipengaruhi antara lain oleh kondisi politik
dan ekonomi dunia saat itu yang berubah secara cepat di Uni Soviet dan Eropa
Timur, kekhawatiran gagalnya perundingan Putaran Uruguay yang akan
menimbulkan proteksionisme dengan munculnya kelompok regional serta
timbulnya kecenderungan saling ketergantungan diantara negara-negara di
kawasan Asia Pasifik. Forum yang dibentuk tahun 1989 di Canbera-Australia
ini telah melaksanakan langkah besar dalam menggalang kerjasama ekonomi
sehingga menjadi suatu forum konsultasi, dialog dan sebagai lembaga
informal yang kerjasama ekonominya berpedoman melalui pendekatan
liberalisasi bersama berdasarkan sukarela, melakukan inisiatif secara kolektif
dan untuk mendukung keberhasilannya dilakukan konsultasi yang intensif
terus menerus diantara 21 ekonomi anggota.
Kerja sama APEC dibentuk dengan pemikiran bahwa dinamika
perkembangan Asia Pasifik menjadi semakin kompleks dan di antaranya
diwarnai oleh perubahan besar pada pola perdagangan dan investasi, arus
keuangan dan teknologi, serta perbedaan keunggulan komparatif, sehingga
diperlukan konsultasi dan kerja sama intra-regional. Anggota ekonomi APEC
memiliki keragaman wilayah, kekayaan alam serta tingkat pembangunan
ekonomi, sehingga pada tahun-tahun pertama, kegiatan APEC difokuskan
secara luas pada pertukaran pandangan (exchange of views) dan pelaksanaan
proyek-proyek yang didasarkan pada inisiatif-inisiatif dan kesepakatan para
anggotanya. APEC dianggotai oleh 21 negara dari seluruh dunia, kebanyakan
anggota dari APEC adalah negara yang memiliki garis pantai ke Samudra
Pasifik, dan letak sekretariasnya berada di Singapore.
Sebagai salah satu forum kerja sama ekonomi utama di kawasan,
APEC bertujuan untuk mencapai Bogor Goals, yaitu terciptanya liberalisasi
perdagangan dan investasi di kawasan Asia Pasifik sebelum tahun 2010 untuk
anggota Ekonomi Maju dan sebelum tahun 2020 untuk anggota Ekonomi
Berkembang. Dalam mencapai Bogor Goals, APEC melandaskan kerjasama
yang dibangun pada tiga pilar, yaitu :
1. liberalisasi perdagangan dan investasi,
2. fasilitasi bisnis, dan kerjasama ekonomi, dan
3. teknik (ECOTECH).
Pada awalnya terdapat 12 negara sebagai pendiri yaitu Australia,
Brunei Darussalam, Kanada, Indonesia, Jepang, Republik Korea, Malaysia,
Selandia Baru, Filipina, Singapura, Thailand, dan Amerika Serikat. Sejak saat
itu telah menjadi wahana utama di kawasan Asia Pasifik dalam meningkatkan
keterbukaan dan praktek kerjasama ekonomi sehingga dapat menarik masukan
beberapa negara yaitu Republik Rakyat China, Hongkong-Cina dan Chinese-
Taipe untuk bergabung pada 1991 yang kemudian disusul masuknya Meksiko
dan Papua New Guinea tahun 1993 seerta Chili pada 1994. Sedangkan tiga
ekonomi anggota terakhir yaitu Federasi Rusia, Peru dan Vietnam bergabung
dalam forum APEC tahun 1998.
Dalam perkembangannya APEC memiliki peran cukup strategis
dengan penduduk sekitar 2 milyar jjiwa atau lebih dari 40% populasi dunia
dan mewakili 45% nilai perdagangan dunia (1996) – sebuah pasar potensial
untuk perdagangan barang, jasa dan sumber daya manusia. Realisasi
pertumbuhan GDP APEC tahun 2000 sebesar 4.1% berarti relatif sedikit lebih
rendah dari pertumbuhan GDP dunia yang sebesar 4.7%, disamping itu APEC
juga memiliki arti penting dalam rangka pembangunan nasional karena
mewakili 69.1% pasar ekspor non-migas dan merupakan 63.3% sumber impor
non-migas Indonesia masing-masing tahun 2000.
Serangkaian upaya penguatan infrastruktur forum kerjasama APEC
terus diintensifkan kerjasamanya sehingga forum tersebut menjadi lebih kuat
dan tangguh di kawasan. Forum ini sangat diharapkan tetap menjadi pelopor
dalam pelaksanaan putaran uruguay untuk mencapai sistem perdagangan yang
adil, terbuka dan transparan untuk mempertahankan serta meningkatkan
pertumbuhan ekonomi regional dan global. Mengingat pentingnya peranan
APEC dalam rangka memberikan dukungan terhadap sistem perdagangan
dimaksud dalam menunjang pertumbuhan ekonomi regional dan global di
kawasan, maka Para Pemimpin Ekkonomi APEC telah mengesahkan sejumlah
Deklarasi yang memuat kesepakatan-kesepakatan yang signifikan terhadap
perkembangannya antara lain mengenai VISI APEC, Bogor Goals, Osaka
Actions Agenda (OAA) – yang memberikan arahan atau pedoman kerjasama
APEC, dan taahun 1996 meluncurkan fase implementasi daripada OAA dalam
bentuk MAPA (Manila Action Plans For APEC)[2]. Sedangkan tindakan
konkrit lain yaitu berupa implementasi Rencana Aksi Kolektif (RAK) maupun
Rencan Individu (RAI) oleh seluruh anggotanya sehingga penjabaran secara
keseluruhan terhadap langkah-langkah implementasi dalam melakukan
liberalsme ekonominya merupakan cermin yang kuat dalam mewujudkan
kearah sistem perdagangan dan investasi bebas dan terbuka tahun 2010/2020
untuk ekonomi maju dan berkembang APEC.
Implementasi kerjasam ekonomi dan teknik yang terkait dengan
bidang perdagangan dan investasi, sesungguhnya baru berlangsung dalam 6
tahun terakhir sejak disahkannya MAPA, namun demikian dengan waktu yang
singkat APEC berhasil mencatat berbagai kemajuan yang berarrti dalam
rangka memperlancar arus barang, jasa, investasi dan mobilitasi para pelaku
usaha dikawasan yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah, dunia usaha dan
para pihak yang terkait untuk mengetahhui perkembangan berbagai
kesepakatan terakhir kerjasama ekonomi khususnya dalam mengantisipasi
perdaganan bebas APEC.
B. Permasalahan di Dalam Tubuh APEC
Sejak berdirinya APEC, badan kerjasama ekonomi ini telah
menghadapi berbagai macam tantangan. Di antara tantangan-tantangan
tersebut adalah masalah dominasi AS dalam APEC, pergeseran misi APEC
dan perpecahan dalam APEC. Dalam penjelasan berikut ini, penulis akan
menguraikan setiap tantangan tersebut secara rinci.
C. Dominasi AS Di Dalam APEC
AS dengan kebijakan politik luar negerinya yang
mengedepankan power selalu berusaha menjadi controller dalam berbagai
forum kerjasama internasional, termasuk dalam APEC. Dalam Konferensi
Tingkat Tinggi APEC 2003 di Bangkok, Thailand, pada tanggal 20 Oktober,
2003, isu nuklir Korea Utara, terorisme, dan kegagalan pembahasan sistem
perdagangan dunia mendominasi hari pertama. Fakta ini membuktikan
dominasi Amerika Serikat atas penyusunan topik yang dibahas di APEC.
Bahkan sebelum pelaksanaan KTT tersebut, AS sudah mengambil
langkah-langkah awal untuk memantapkan dominasinya di APEC. Dalam tur
Asia sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) George Walker Bush telah
mencanangkan penekanan isu terorisme di forum Kerja Sama Ekonomi Asia
Pasifik (APEC). Sebelum tiba di Bangkok, Bush mendarat di Tokyo,
kemudian di Filipina, dengan tujuan menggalang dukungan Asia untuk
membasmi terorisme. Misi Bush yang lain adalah meraih dukungan soal
rekonstruksi di Irak. Bush juga sudah menekankan bahwa dalam pertemuan
puncak APEC dia akan menekankan “dunia ini masih berbahaya”.
Tentu saja banyak pihak merasa keberatan dengan sikap AS dan
agenda politiknya dalam KTT APEC. Namun demikian, untuk mengurangi
kritikan bahwa APEC telah didominasi oleh AS melalui pemaksaan
pembahasan isu-isu non ekonomi, pihak AS mencoba memberikan
argumentasi soal itu. Pada rangkaian pertemuan menteri perdagangan dan
menteri luar negeri APEC di Thailand pada minggu pertama bulan Oktober
2003, AS lewat forum APEC memberikan sinyal bahwa buruknya keamanan
akan bisa merusak perekonomian anggota APEC yang merupakan tempat bagi
60 persen kegiatan perekonomian dunia. Pihak AS lebih lanjut menegaskan
bahwa keamanan dan ekonomi tidak terpisahkan.
Dominasi AS juga nampak sekali dalam usulan mereka untuk
membahas masalah nilai tukar Yuan (mata uang Cina). Dalam pertemuan
bilateral selama masa KTT APEC 2003, Bush dan Presiden Cina Hu Jintao
setuju untuk menunjuk para ahli membentuk panel. Tujuannya, menjajaki
tentang bagaimana Beijing bisa membuat nilai yuan dapat mendekati nilai
pasar. Sampai saat pelaksanaan KTT tersebut Cina masih mengontrol dan
mematok nilai yuan. Usulan AS ini berawal dari keluhan para pebisnis AS
yang mengeluh bahwa yuan memiliki nilai yang terlalu rendah (vastly
undervalued). Kondisi ini membuat harga komoditas ekspor Cina menjadi
murah dan menyerbu pasaran AS. Hal itu telah pula menyebabkan
tergerogotinya sejumlah kesempatan kerja di AS. Faktor tersebut telah
membuat AS berusaha keras untuk menekan Cina supaya mengambil
kebijakan dalam bidang keuangan yang tidak merugikan kepentingan pelaku-
pelaku bisnis AS.
D. Pergeseran Misi APEC
Dalam KTT-KTT APEC akhir-akhir ini, pembahasan APEC tidak lagi
terfokus pada masalah-masalah ekonomi, akan tetapi justru berkisar pada isu-
isu non-ekonomi. Ini merupakan bukti nyata bahwa karena dominasi AS di
APEC maka misi APEC telah mengalami pergeseran.
Anggota-anggota APEC sendiri banyak yang telah menyadari
pergeseran misi APEC tersebut di atas. Menanggapi pergeseran misi ini,
sejumlah anggota forum APEC merasa keberatan karena persoalan keamanan
telah mengurangi penekanan APEC terhadap perekonomian dan isu
perdagangan. Topik non-ekonomi juga mengurangi fokus pembahasan pada
penghidupan kembali sistem perdagangan multilateral yang gagal pada
pertemuan di Cancun, Meksiko, awal September 2003.
Mahathir Mohamad, yang pada tahun 2003 masih menjabat sebagai
Perdana Menteri Malaysia mengatakan, bahwa APEC dibentuk sebagai satu
kelompok kerja sama ekonomi. Itulah sebabnya Malaysia dan beberapa
anggota APEC tidak setuju pengabaian isu ekonomi dengan mengutamakan
isu keamanan, militer, atau politik yang bukan merupakan misi APEC. Untuk
menjaga supaya APEC kembali pada misi awalnya, beberapa pemimpin
negara anggota APEC mencoba mendesakkan pembahasan isu ekonomi dalam
pertemuan-pertemuan APEC. Mereka menekankan pentingnya menciptakan
peraturan global perdagangan untuk menghasilkan pertumbuhan yang
berimbang. Mereka meminta agar agenda pembahasan perdagangan didorong,
termasuk oleh APEC.
E. Perpecahan Dalam APEC
Perpecahan dalam tubuh APEC semakin kelihatan nyata. Pada KTT
APEC 2003 saja terdapat dua hal penting yang mengindikasikan adanya
perseteruan dan perpecahan dalam tubuh APEC. Seperti biasanya, di sela
pertemuan APEC 2003, Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan-
pernyataan diplomatic yang dapat membahayakan kesatuan anggota-anggota
APEC. Dalam KTT APEC 2003, lewat Condoleezza Rice, yang waktu itu
menjabat sebagai Penasihat Keamanan Nasional Bush, AS mengecam PM
Malaysia. Kecaman ini dilontarkan AS sehubungan dengan pernyataan
Mahathir pada KTT Organisasi Konferensi Islam (OKI) bahwa Yahudi
mengatur dunia secara tidak langsung. AS mengatakan, pernyataan Mahathir
seperti itu bukan hanya terjadi sekali, tetapi sudah beberapa kali dan AS tidak
dapat mentolerir pernyataan racist semacam itu. Tentu saja pernyataan AS ini
menciptakan suatu perseteruan diplomatic antara AS dan Malaysia. Bila hal
ini dibiarkan saja, besar kemungkinan bahwa keharmonisan antar anggota
APEC dapat terganggu. Bukan hanya menyerang Malaysia, AS juga
menyerang junta militer di Myanmar dalam KTT APEC 2003. AS mengecam
keras penahanan pejuang demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi, dan
kegagalan Myanmar memperkenalkan demokrasi. Kecaman ini sudah pasti
membuat pihak Myanmar berang dan makin menjaga jarak dengan AS.
Ketika pertemuan para pemimpin APEC berlangsung di Santiago, para
pebisnis dan ekonom di Asia Pasifik mengkritik APEC sebagai suatu forum
kerjasama yang tidak mengalami kemajuan yang berarti terutama dalam enam
tahun terakhir. Bahkan dalam usianya yang sudah 19 tahun, APEC dinilai
terancam pecah. Niat APEC untuk mengurangi hambatan pada aliran
perdagangan dan investasi tidak memperlihatkan gerakan. Menurut ekonom
terpandang AS, APEC sedang berubah ke sistem perdagangan global yang
terbagi tiga (tripolar global trading system). Hal itu menjadi ancaman bagi
kesatuan APEC dan bertentangan dengan semangat Organisasi Perdagangan
Dunia (WTO).
Potensi keterpecahan APEC itu diutarakan ekonom AS, Dr Fred C
Bergsten. Pada awal 1990-an, Bergsten merupakan bagian kelompok
terkemuka (eminent persons group/EPG), yang membidani perkembangan
APEC. Dia mengatakan, APEC kini tampaknya lebih tumpul. Liberalisasi
Sukarela Sektoral Secara Dini (The Early Voluntary Sectoral Liberalization)-
diprakarsai oleh AS untuk membuat APEC segera mengurangi hambatan
perdagangan dan investasi di sektor tertentu-gagal terrealisasi karena
penolakan Jepang.
Rencana-rencana Aksi Individu (The Individual Action Plans/IAP),
yang diharapkan sebagai cetak biru bagi anggota untuk mempercepat
liberalisasi perdagangan, hanya berakhir tak lebih dari sekadar laporan
nasional. APEC didasarkan pada asas sukarela atas inisiatif sendiri. Anggota
APEC punya rencana sendiri-sendiri (IAP) soal percepatan liberalisasi itu.
Namun, penurunan tarif global berjalan lambat-termasuk di APEC,
yang dipicu oleh kegagalan WTO-mempercepat liberalisasi perdagangan.
Sejumlah anggota APEC mulai menciptakan kesepakatan perjanjian
perdagangan bilateral sendiri atau dengan beberapa negara di kawasan.
Padahal, rencana APEC adalah untuk membentuk satu kawasan
perdagangan bebas tahun 2010 bagi anggotanya yang lebih maju dan tahun
2020 bagi anggota yang masih berkembang. Selain ada sejumlah perjanjian
perdagangan bebas yang sudah terbentuk, sejumlah perjanjian baru dalam
proses perundingan. Dan semua itu bukan dalam semangat tema APEC Cile
2004 “One Community, Our Future”.
Di Asia misalnya, 10 negara anggota ASEAN bersama Jepang, Korea
Selatan, dan India sedang mengarah pada pembentukan kelompok
perdagangan tersendiri mencakup 3 miliar penduduk.
Perundingan untuk formulasi Kawasan Perdagangan Bebas Amerika
(Free Trade Area of the Americans) juga sedang berlangsung. “Perjanjian
seperti itu berkembang pesat dan membentuk pengelompokan di APEC
sendiri. Muncul peraturan perdagangan yang saling tumpang tindih dan
perjanjian perdagangan itu berkualitas rendah,” kata Fred C Bergsten.[1][8]
Ekonom dari Korea Selatan, Kim Kih-wan, juga mengingatkan bahwa
kesepakatan itu bersifat diskriminatif dan akan mengalihkan arus perdagangan
di APEC menjadi antarkelompok sendiri. Kim mengatakan, kesepakatan
perdagangan di APEC telah terpecah menjadi kelompok Asia dan Amerika,
padahal Asia Pasifik memiliki APEC.
F. Manfaat dan Tujuan APEC
Tujuan APEC adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan
pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Pasifik dan meningkatkan kerja sama
ekonomi melalui peningkatan volume perdagangan dan investasi. Selan itu,
APEC bertujuan untuk memperjuangkan kepentingan ekonomi di kawasan
tersebut di tengah-tengah perkembangan ekonomi internasional. Untuk
mencapai tujuan tersebut APEC melakukan kerja sama dalam tiga ruang
lingkup yang disebut dengan Tiga Pilar Kerja Sama APEC. Ketiga pilar itu
adalah liberalisasi perdagangan dan investasi, fasilitasi usaha, kerja sama
ekonomi, dan teknik
APEC adalah singkatan kepanjangan dari Asian Pasific Economic
Coorporation, merupakan organisasi kerjasama ekonomiregional di kawasan
Asia Pasifik.
APEC pertamakali dibentuk pada tahun 1989, saat pertemuan tingkat
menteri Negara-negara Asia Pasifik diadakan di Canberra, Australia. APEC
adalah forum ekonomi untuk meningkatkan kerjasama dan liberalisasi
perdagangan yang meliputi semua ekonomi besar di wilayah Asia Pasifik.
Perwakilan dari Negara-negara anggota APEC yang berjumlah 22 anggota,
bertemu secara tahunan untuk mendiskusikan isu-isu yang dihadapi kelompok
tersebut.
Berikut ini beberapa manfaat APEC bagi para anggotanya :
1. Kerjasama dari APEC memberikan manfaat bagi negara anggotanya
terutama anggotanya yang sedang dalam kondisi berkembang dan
termasuk Indonesia juga, membuat harga barang dan jasa menjadi lebih
murah dan dapat meningkatkan kemampuan untuk lebih berpartisipasi
dalam meningkatkan ekspor.
2. APEC juga memberikan manfaat bagi negara anggotanya dengan
menciptakan lebih banyak lagi kesempatan pada tempat kerja, juga dapat
membuat negara anggota untuk memenuhi kebutuhan negeri serta untuk
terjalinnya kerjasama sehingga akan mempermudah dalam proses tolong
menolong antara negara anggota yang secara otomatis akan menciptakan
kedamaian dunia ketertiban internasional.
3. Manfaat APEC bagi para anggotanya selanjutnya adalah untuk
meningkatkan perdagangan bebas di kawasan Asia Pasifik.
4. Bermanfaat dalam meningkatkan arus barang dan juga jasa sekaligus
memajukan pertumbuhan ekonomi negara anggotanya. Dan juga dapat
membuka pasar bagi industri dalam negeri yang akan semakin meningkat.
5. APEC juga merupakan salah satu organisasi yang dapat meningkatkan
jumlah ekspor dan impor sekaligus untuk meningktkan kerjasama terutama
dalam budang ekonomi dari para negara anggota.
6. Untuk meningkatkan peran swasta untuk menuju liberalisasi perdagangan.
Dalam salah satu pilar APEC adalah untuk memfasilitasi perdagangan dan
investasi secara langsung.
7. APEC merupakan salah satu organisasi yang dapat digunakan sebagai
salah satu wadah untuk saling bertukar pengalaman. Karena salah satu
forum yang ada pada APEC adalah Policy Dialogue yang secara tidak
langsung akan memberikan manfaat yang sangat besar terutama untuk
menarik berbagai pelajaran dan juga pengalaman positif dan juga negatif
antara negara anggota APEC lainnya terutama dalam hal pengambilan dan
juga pembuatan suatu kebijakan liberalisasi perdagangan dan juga
investasi.
G. 21 Anggota APEC
Berikut ini adalah Daftar Negara-negara Anggota APEC (Asia-Pacific
Economic Cooperation) beserta Ibukota dan tahun Negara tersebut bergabung
ke dalam APEC.
Tahun
No. Nama Negara Anggota Ibukota
Bergabung
1 Australia Canberra 1989
2 Brunei Darussalam Bandar Seri Begawan 1989
3 Kanada Ottawa 1989
4 Indonesia Jakarta 1989
5 Jepang Tokyo 1989
6 Korea Selatan Seoul 1989
7 Malaysia Kuala Lumpur 1989
8 Selandia Baru Wellington 1989
9 Filipina Manila 1989
10 Singapura Singapura 1989
11 Thailand Bangkok 1989
12 Amerika Serikat Washington DC 1989
13 China (Republik Rakyat China) Beijing 1991
14 Hong Kong (China) Hong Kong 1991
15 Taiwan (Republik China)* Taipei 1991
16 Meksiko Mexico City 1993
17 Papua Nugini Port Moresby 1993
18 Chile Santiago 1994
19 Peru Lima 1998
20 Rusia Moskwa 1998
21 Vietnam Hanoi 1998
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
APEC adalah singkatan kepanjangan dari Asian Pasific Economic
Coorporation, merupakan organisasi kerjasama ekonomiregional di kawasan
Asia Pasifik.
APEC pertamakali dibentuk pada tahun 1989, saat pertemuan tingkat
menteri Negara-negara Asia Pasifik diadakan di Canberra, Australia. APEC
adalah forum ekonomi untuk meningkatkan kerjasama dan liberalisasi
perdagangan yang meliputi semua ekonomi besar di wilayah Asia Pasifik.
Perwakilan dari Negara-negara anggota APEC yang berjumlah 22 anggota,
Visi dari organisasi APEC ini adalah untuk mengurangi tarif dan
hambatan perdagangan lain di wilayah Asia Pasifik, menciptakan ekonomi
domestik yang efisien dan secara dramatis meningkatkan ekspor. Setiap satu
tahun sekali organisasi APEC selalu mengadakan suatu perundingan yang
nantinya menghasilkan sebuah deklarasi/ misi dalam mencapai visi APEC.
Bagi rakyat Indonesia KTT APEC diharapkan mampu menjadi
jembatan internasional yang dapat meningkatkan nilai perekonomian, demi
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Namun, di sisi lain organisasi APEC
juga bisa menjadi sebuah senjata untuk menjajah produk/ industri lokal,
melalui liberalisasi perdagangan yang bebas dan terbuka.
DAFTAR PUSTAKA
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/10/08/1434343/
Pemimpin.APEC.Sepakat.Akselerasi.Pencapaian.Bogor.Goals. Pu
kul 19.20 tanggal 10/ 10/ 2013
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/10/08/1704443/
Inilah.Tujuh.Hasil.Kesepakatan.APEC.2013?
utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp Puk
ul 20.49 tanggal 10/ 10/ 2013
http://jogja.tribunnews.com/2013/10/06/sby-banggakan-pertumbuhan-
ekonomi-indonesia-di-ktt-apec Pukul 22.58 tanggal 06/ 10/ 2013
http://www.geocities.ws/irsjournal/APEC.html Pukul 07.08 tanggal
09/10/2013
http://www.g-excess.com/2769/pengertian-apec-atau-asia-pasific-economic-
cooperation/ Pukul 22.57 tanggal 06/10/2013
https://www.gurupendidikan.co.id/sejarah-apec/
Koran harian pagi Tribun Jogja tanggal 6 Oktober 2013
Koran harian pagi Tribun Jogja tanggal 7 Oktober 2013
Koran KOMPAS tanggal 8 Oktober 2013