MAKALAH
JAMINAN KESEHATAN NASIONAL
Oleh:
Kelompok 1
1. Fatmah Anggaleda (1321119002)
2. Nurtila Manusu (1321119011)
3. Salma Ibrahim (1321119013)
PROGRAM STUDI S1-ILMU GIZI
STIKES BAKTI NUSANTARA GORONTALO
TAHUN AKADEMIK 2022-2023
i
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kemudahan sehingga
kami dapat menyelesaikan laporan ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-nya
tentunya penulis tidak dapat menyelesaikan makalah Sistem Jaminan Kesehatan
ini dengan baik.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat
yang di berikannya, baik itu berupa sehat fisik maupun akan pikiran sehingga
penulis mampu untuk menyelesaikan Makalah dari mata kuliah Sistem Jaminan
Kesehatan.
Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari sepenuhnya bahwa
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena pengalaman dan pengetahuan
yang terbatas. Oleh karena itu, kritik dan saran di harapkan demi terciptannya
makalah yang lebih baik lagi di masa mendatang.
Gorontalo,16 Maret 2022
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ........................................................................................ ii
Daftar Isi .................................................................................................. iii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................. 4
B. Rumusan Masalah ........................................................................ 6
C. Tujuan .......................................................................................... 6
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian dari JKN ................................................................... 7
B. Apa latar belakang dan tujuan JKN ........................................... 7
C. Prinsip pelaksanaan program JKN ............................................. 8
D. Siapa saja yang menjadi peserta JKN ....................................... 9
E. Manfaat JKN ............................................................................. 11
BAB III PENUTUP
A. Simpulan .................................................................................... 13
B. Saran .......................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 14
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan adalah salah satu hak asasi manusia sehingga kesehatan
merupakan kewajiban pemerintah kepada warga negaranya terutama
terhadap warga negara yang kurang memiliki akses terhadap pelayanan
kesehatan yang bermutu karena pengaruh ketidakmampuan secara
ekonomi. Pada tahun 2000, untuk pertama kalinya kata-kata “kesehatan”
tercantum dalam UUD 1945 pada pasal 28H yang merupakan hasil
amandemen tahun 2000 “setiap penduduk berhak atas pelayanan
kesehatan”. Hal ini tentu saja merupakan jaminan hak-hak kesehatan bagi
seluruh rakyat Indonesia sesuai dengan deklarasi Hak Asasi Manusia oleh
PBB pada tahun 1947.
Hak tingkat hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan
dirinya dan keluarganya merupakan hak asasi manusia dan diakui oleh
segenap bangsa-bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Pengakuan itu
tercantum dalam Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1948
tentang Hak Azasi Manusia. Pasal 25 Ayat (1) Deklarasi menyatakan,
setiap orang berhak atas derajat hidup yang memadai untuk kesehatan dan
kesejahteraan dirinya dan keluarganya termasuk hak atas pangan, pakaian,
perumahan dan perawatan kesehatan serta pelayanan sosial yang
diperlukan dan berhak atas jaminan pada saat menganggur, menderita
sakit, cacat, menjadi janda/duda, mencapai usia lanjut atau keadaan
lainnya yang mengakibatkan kekurangan nafkah, yang berada di luar
kekuasaannya.
Di Indonesia, falsafah dan dasar negara Pancasila terutama sila ke-5
juga mengakui hak asasi warga atas kesehatan. Hak ini juga termaktub
dalam UUD 45 pasal 28H dan pasal 34, dan diatur dalam UU No. 23/1992
4
yang kemudian diganti dengan UU 36/2009 tentang Kesehatan. Dalam UU
36/2009 ditegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam
memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan dan memperoleh
pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau. Sebaliknya,
setiap orang juga mempunyai kewajiban turut serta dalam program
jaminan kesehatan social.
Untuk mewujudkan komitmen global dan konstitusi di atas,
pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan jaminan kesehatan
masyarakat melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi kesehatan
perorangan. Usaha ke arah itu sesungguhnya telah dirintis pemerintah
dengan menyelenggarakan beberapa bentuk jaminan sosial di bidang
kesehatan, diantaranya adalah melalui PT Askes (Persero) dan PT
Jamsostek (Persero) yang melayani antara lain pegawai negeri sipil,
penerima pensiun, veteran, dan pegawai swasta. Untuk masyarakat miskin
dan tidak mampu, pemerintah memberikan jaminan melalui skema
Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Jaminan Kesehatan
Daerah (Jamkesda). Namun demikian, skema-skema tersebut masih
terfragmentasi, terbagi- bagi. Biaya kesehatan dan mutu pelayanan
menjadi sulit terkendali.
Untuk mengatasi hal itu, pada 2004, dikeluarkan Undang-Undang
No.40 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). UU 40/2004 ini
mengamanatkan bahwa jaminan sosial wajib bagi seluruh penduduk
termasuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui suatu Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Undang-Undang No. 24 Tahun
2011 juga menetapkan, Jaminan Sosial Nasional akan diselenggarakan
oleh BPJS, yang terdiri atas BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.
Khusus untuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) akan diselenggarakan
oleh BPJS Kesehatan yang implementasinya dimulai 1 Januari 2014.
Secara operasional, pelaksanaan JKN dituangkan dalam Peraturan
Pemerintah dan Peraturan Presiden, antara lain: Peraturan Pemerintah
No.101 Tahun 2012 tentang Penerima Bantuan Iuran (PBI); Peraturan
5
Presiden No. 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan; dan Peta Jalan
JKN (Roadmap Jaminan Kesehatan Nasional)
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari JKN ?
2. Apa latar belakang dan tujuan JKN?
3. Bagaimana prinsip pelaksanaan program JKN?
4. Siapa saja yang menjadi peserta JKN?
5. Manfaat yang diperoleh peserta JKN antara lain :
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Pengertian dari JKN
2. Untuk mengetahui apa latar belakang dan tujuan JKN.
3. Untuk mengetahui bagaimana prinsip pelaksanaan program JKN.
4. Untuk mengetahui siapa saja yang menjadi peserta JKN
5. Untuk mengetahui manfaat yang diperoleh peserta JKN.
6
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) adalah program Pemerintah
yang bertujuan memberikan kepastian jaminan kesehatan yang
menyeluruh bagi seluruh rakyat Indonesia untuk dapat hidup sehat,
produktif dan sejahtera. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang sering
diajukan (Frequently Asked Questions/FAQ) terkait dengan Program JKN.
B. Latar Belakang danTujuan JKN
Kesehatan adalah hak dasar setiap orang, dan semua warga negara
berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. UUD 1945 mengamanatkan
bahwa jaminan kesehatan bagi masyarakat, khususnya yang miskin dan
tidak mampu, adalah tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah. Pada
UUD 1945 Perubahan, Pasal 34 ayat 2 menyebutkan bahwa negara
mengembangkan Sistem Jaminan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pemerintah menjalankan UUD 1945 tersebut dengan mengeluarkan UU
No 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) untuk
memberikan jaminan sosial menyeluruh bagi setiap orang dalam rangka
memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak menuju terwujudnya
masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmur. Dalam UU No
36 Tahun 2009 tentang Kesehatan juga ditegaskan bahwa setiap orang
mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di
bidang kesehatan dan memperoleh pelayanan kesehatan yang aman,
bermutu, dan terjangkau.
7
Sesuai dengan UU No 40 Tahun 2004, SJSN diselenggarakan dengan
mekanisme Asuransi Sosial dimana setiap peserta wajib membayar iuran
guna memberikan perlindungan atas risiko sosial ekonomi yang menimpa
peserta dan/atau anggota keluarganya. Dalam SJSN, terdapat Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN) yang merupakan bentuk komitmen pemerintah
terhadap pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia seluruhnya.
Sebelum JKN, pemerintah telah berupaya merintis beberapa bentuk
jaminan sosial di bidang kesehatan, antara lain Askes Sosial bagi pegawai
negeri sipil (PNS), penerima pensiun dan veteran, Jaminan Pemeliharaan
Kesehatan (JPK) Jamsostek bagi pegawai BUMN dan swasta, serta
Jaminan Kesehatan bagi TNI dan Polri. Untuk masyarakat miskin dan
tidak mampu, sejak tahun 2005 Kementerian Kesehatan telah
melaksanakan program jaminan kesehatan sosial, yang awalnya dikenal
dengan nama program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi Masyarakat
Miskin (JPKMM), atau lebih populer dengan nama program Askeskin
(Asuransi Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin). Kemudian sejak tahun
2008 sampai dengan tahun 2013, program ini berubah nama menjadi
program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).
Seiring dengan dimulainya JKN per 1 Januari 2014, semua program
jaminan kesehatan yang telah dilaksanakan pemerintah tersebut (Askes
PNS, JPK Jamsostek, TNI, Polri, dan Jamkesmas), diintegrasikan ke
dalam satu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS
Kesehatan). Sama halnya dengan program Jamkesmas, pemerintah
bertanggungjawab untuk membayarkan iuran JKN bagi fakir miskin dan
orang yang tidak mampu yang terdaftar sebagai peserta Penerima Bantuan
Iuran (PBI).
C. Prinsip Pelaksanaan Program JKN
Sesuai dengan UU No 40 Tahun 2004 tentang SJSN, maka
Jaminan Kesehatan Nasional dikelola dengan prinsip :
8
1. Gotong royong. Dengan kewajiban semua peserta membayar iuran
maka akan terjadi prinsip gotong royong dimana yang sehat
membantu yang sakit, yang kaya membantu yang miskin
2. Nirlaba. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tidak diperbolehkan
mencari untung. Dana yang dikumpulkan dari masyarakat adalah dana
amanat, sehingga hasil pengembangannya harus dimanfaatkan untuk
kepentingan peserta.
3. Keterbukaan, kehati – hatian, akuntabilitas, efisiensi, dan efektivitas.
Prinsip manajemen ini mendasari seluruh pengelolaan dana yang
berasal dari iuran peserta dan hasil pengembangan
4. Portabilitas. Prinsip ini menjamin bahwa sekalipun peserta berpindah
tempat tinggal atau pekerjaan, selama masih di wilayah Negara
Republik Indonesia tetap dapat mempergunakan hak sebagai peserta
JKN
5. Kepesertaan bersifat wajib. Agar seluruh rakyat menjadi peserta
sehingga dapat terlindungi. Penerapannya tetap disesuaikan dengan
kemampuan ekonomi rakyat dan pemerintah serta kelayakan
penyelenggaraan program.
6. Dana Amanat. Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan
dana titipan kepada badan penyelenggara untuk dikelola sebaik –
baiknya demi kepentingan peserta.
7. Hasil pengelolaan dana jaminan sosial dipergunakan seluruhnya untuk
pengembangan program dan untuk sebesar – besar kepentingan
peserta.
D. Yang menjadi peserta JKN
Sebagaimana telah dijelaskan dalam prinsip pelaksanaan program
JKN di atas, maka kepesertaan bersifat wajib. Peserta adalah setiap orang,
termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di
Indonesia, yang telah membayar iuran. Peserta JKN terdiri dari Peserta
9
Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan Peserta Non Penerima Bantuan Iuran
(Non PBI).
a. Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI)
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2012 tentang
Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan, diantaranya disebutkan
bahwa:
1. Kriteria fakir miskin dan orang tidak mampu ditetapkan oleh Menteri
Sosial setelah berkoordinasi dengan Menteri dan/atau pimpinan
lembaga terkait.
2. Hasil pendataan fakir miskin dan orang tidak mampu yang dilakukan
oleh lembaga yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
statistik (BPS) diverifikasi dan divalidasi oleh Menteri Sosial untuk
dijadikan data terpadu.
3. Data terpadu yang ditetapkan oleh Menteri Sosial dirinci menurut
provinsi dan kabupaten/kota dan menjadi dasar bagi penentuan jumlah
nasional PBI Jaminan Kesehatan
4. Menteri Kesehatan mendaftarkan jumlah nasional PBI Jaminan
Kesehatan sebagai peserta program Jaminan Kesehatan kepada BPJS
Kesehatan.
Untuk tahun 2014, peserta PBI JKN berjumlah 86,4 juta jiwa yang
datanya mengacu pada Basis Data Terpadu (BDT) hasil Pendataan
Program Perlindungan Sosial (PPLS) yang dilaksanakan pada tahun
2011 oleh BPS dan dikelola oleh Sekretariat Tim Nasional Percepatan
Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K).
Namun demikian, mengingat sifat data kepesertaan yang dinamis,
dimana terjadi kematian, bayi baru lahir, pindah alamat, atau peserta
adalah PNS, maka Menteri Kesehatan mengeluarkan Surat Edaran
Nomor 149 tahun 2013 yang memberikan kesempatan kepada
10
Pemerintah Daerah untuk mengusulkan peserta pengganti yang
jumlahnya sama dengan jumlah peserta yang diganti. Adapun peserta
yang dapat diganti adalah mereka yang sudah meninggal, merupakan
PNS/TNI/POLRI, pensiunan PNS/TNI/POLRI, tidak diketahui
keberadaannya, atau peserta memiliki jaminan kesehatan lainnya.
Disamping itu, sifat dinamis kepesertaan ini juga menyangkut
perpindahan tingkat kesejahteraan peserta, sehingga banyak peserta
yang dulu terdaftar sebagai peserta Jamkesmas saat ini tidak lagi
masuk ke dalam BDT.
b. Peserta Non Penerima Bantuan Iuran (Non PBI)
Yang dimaksud dengan Peserta Non PBI dalam JKN adalah setiap
orang yang tidak tergolong fakir miskin dan orang tidak mampu, yang
membayar iurannya secara sendiri ataupun kolektif ke BPJS
Kesehatan. Peserta Non PBI JKN terdiri dari :
1. Peserta penerima upah dan anggota keluarganya, yaitu Setiap orang
yang bekerja pada pemberi kerja dengan menerima gaji atau upah,
antara lain Pegawai Negeri Sipil, Anggota TNI, Anggota Polri,
Pejabat Negara, Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri Sipil,
Pegawai Swasta, dan Pekerja lain yang memenuhi kriteria pekerja
penerima upah
2. Pekerja bukan penerima upah dan anggota keluarganya, yaitu setiap
orang yang bekerja atau berusaha atas risiko sendiri, antara lain
pekerja di luar hubungan kerja atau pekerja mandiri, dan lain
sebagainya
3. Bukan pekerja penerima dan anggota keluarganya, setiap orang yang
tidak bekerja tapi mampu membayar iuran Jaminan Kesehatan, antara
lain Investor, Pemberi kerja, Penerima pensiun, Veteran, Perintis
kemerdekaan, dan bukan pekerja lainnya yang memenuhi kriteria
bukan pekerja penerima upah.
11
E. Manfaat yang diperoleh Peserta JKN antara lain :
Pelayanan yang dijamin bagi peserta adalah komprehensif sesuai
kebutuhan medis yang meliputi:
a) Pelayanan Kesehatan Tingkat I/Dasar, yaitu pelayanan kesehatan non
spesialistik yang mencakup:
1. Administrasi pelayanan
2. Pelayanan promotif dan preventif
3. Pemeriksaan, pengobatan & konsultasi medis
4. Tindakan medis non spesialistik, baik operatif maupun non operatif
5. Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai
6. Transfusi darah sesuai kebutuhan medis
7. Pemeriksaan penunjang diagnostik lab Tk. I
8. Rawat Inap Tk. I sesuai dengan Indikasi Medis
b) Pelayanan Kesehatan Tingkat II/Lanjutan, terdiri dari:
1) Rawat jalan, meliputi:
1. Administrasi pelayanan
2. Pemeriksaan, pengobatan & konsultasi spesialistik
3. Tindakan medis spesialistik sesuai dengan indikasi medis
4. Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai
5. Pelayanan alat kesehatan implant
6. Pelayanan penunjang diagnostik lanjutan sesuai dengan indikasi
medis
7. Rehabilitasi medis
8. Pelayanan darah
9. Pelayanan kedokteran forensik
10. Pelayanan jenazah di fasilitas kesehatan
12
2) Rawat Inap yang meliputi:
1. Perawatan inap non intensif
2. Perawatan inap di ruang intensif
3. Pelayanan kesehatan lain yang ditetapkan oleh Menteri
3) Adapun Pelayanan yang TIDAK dijamin meliputi:
1. Pelayanan yang tidak mengikuti PROSEDUR
2. Pelayanan di luar fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan
BPJS Kesehatan
3. Pelayanan untuk tujuan kosmetik/estetika
4. General check up, pengobatan alternatif
5. Pengobatan untuk mendapatkan keturunan, pengobatan impotensi
6. Pelayanan kesehatan pada saat bencana
7. Pasien bunuh diri/penyakit yang timbul akibat kesengajaan untuk
menyiksa diri sendiri/bunur diri/narkoba
13
BAB III
PENUTUP
Simpulan
JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) adalah program Pemerintah yang
bertujuan memberikan kepastian jaminan kesehatan yang menyeluruh bagi
seluruh rakyat Indonesia untuk dapat hidup sehat, produktif dan sejahtera.
Latar Belakang dan Tujuan JKN yaitu Kesehatan adalah hak dasar
setiap orang, dan semua warga negara berhak mendapatkan pelayanan
kesehatan.
Prinsip Pelaksanaan Program JKN Telah diaut oleh UU No 40
Tahun 2004 tentang SJSN. Yang menjadi peserta JKN :
Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 101 Tahun 2012 tentang Peserta Non Penerima Bantuan Iuran
(Non PBI)
Saran
Oleh karena itu penting sekali mengetahui mengenai jaminan
kesehatan yang sudah di programkan oleh pemerintah, di himbau agar
masyarakat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk menjadikan
masyarakat yang sehat dan menekan kematian yang begitu banyak di
Indonesia.
14
DAFTAR PUSTAKA
Azwar, Azrul, Pengantar Administrasi Kesehatan, Binarupa Aksara, Jakarta 1996.
Edberg M., Buku Ajar Kesehatan Masyarakat : Teori Sosial dan Perilaku,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta 2007.
Kementerian Kesehatan RI, Buku Saku FAK BPJS Kesehatan, Sekretariat
Jenderal, Jakarta 2013.
Kementerian Kesehatan RI, Panduan Manajemen Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat Menuju Kabupaten/ Kota Sehat, Direktorat Jenderal Binkesmas, Jakarta
2010.
Mukti A.G., Moertjahjo, Sistem Jaminan Kesehatan : Konsep Desentralisasi
Terintegrasi, PT KHM, Yogyakarta 2008.
Murti B., Dasar-Dasar Asuransi Kesehatan, Penerbit Kanisius, Yogyakarta 2000.
Sarwono S., Sosiologi Kesehatan: Beberapa Konsep Beserta Aplikasinya, Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta 2007.
Muzaham F., Memperkenalkan Sosiologi Kesehatan, Penerbit Universitas
Indonesia, Jakarta 2007.
15