LAPORAN PRAKTIKUM RAD MODUL 4
“Penguat Inverting dan Non-Inverting”
Kelompok :3
Nama (NIM) : 1) Anastasia Martha Kenek Udak (90218003)
2) Imam Ganjar Maulana (90218010)
Asisten (NIM) : Ahmad Radhy (20217321)
Hari/Tanggal : Senin, 11 Februari 2019
I. Tujuan
1) Menentukan besar faktor penguatan tegangan dan membandingkan hasilnya dengan
hasil perhitungan untuk rangkaian non-inverting dan inverting.
II. Alat dan Komponen
1) Multimeter
2) Signal generator
3) Catu daya DC
4) Kabel jumper
5) IC op-amp dan soketnya
6) Project board
7) Resistor
III. Dasar Teori
1) Op-amp Sebagai Penguat Non-inverting
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, untuk membuat op-amp sebagai rangkaian
penguat membutuhkan jalur umpan balik negatif. Salah satu rangkaian penguat paling
sederhana dari op-amp adalah rangkaian penguat non-inverting. Skema rangkaian
penguat ini dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Rangkaian penguat non-inverting pada op-amp (diambil dari buku
"Fundamentals of Analog Circuits, 2nd edition" oleh Thomas L. Floyd dan David Buchla)
Dengan memberikan sinyal masukan V𝑖𝑛 pada kaki non-inverting dan memberikan
umpan balik negatif V𝑓 pada kaki inverting yang berasal dari sinyal keluaran Vout, maka
op-amp akan stabil pada kondisi tegangan masukan di kaki inverting V− sama dengan
tegangan masukan di kaki non-inverting V+ .
V𝑖𝑛 = V+ = V− = V𝑓 (1)
Namun dari rangkaian tersebut kita dapat melihat bahwa tegangan umpan balik V𝑓
merupakan fraksi dari tegangan keluaran V𝑜𝑢𝑡 yang dilewatkan pada pembagi tegangan
yang terdiri dari dua buah resistor R𝑓 dan R 𝑖 , sehingga kita dapat menuliskan:
𝑅𝑖
V𝑓 = V𝑜𝑢𝑡 (2)
𝑅𝑓 + 𝑅𝑖
Sehingga kita dapat menuliskan bahwa besarnya penguatan dari rangkaian penguat
non-inverting adalah sebagai berikut:
𝑉𝑜𝑢𝑡 𝑅𝑓
𝐴= = +1 (3)
𝑉𝑖𝑛 𝑅𝑖
2) Op-amp Sebagai Penguat Inverting
Konfigurasi lainnya dari op-amp sebagai penguat dengan menggunakan jalur umpan
balik negatif adalah sebagai penguat inverting. Pada konfigurasi ini, sinyal masukan V𝑖𝑛
akan diberikan pada kaki masukan inverting dari op-amp seteleh melewati hambatan R 𝑖 ,
sedangkan kaki masukan non-inverting dihubungkan dengan ground sehingga tegangan di
kaki non-inverting V+ maupun di kaki inverting V− akan sama dengan nol. Kondisi ini
disebut dengan virtual ground. Seperti biasa, sinyal keluaran Vout dari kaki keluaran
diumpan balik melewati hambatan R𝑓 menuju kaki masukan inverting. Konfigurasi
penguat inverting dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Rangkaian penguat inverting pada op-amp (diambil dari buku "Fundamentals
of Analog Circuits, 2nd edition" oleh Thomas L. Floyd dan David Buchla)
Pada rangkaian penguat inverting, arus yang berasal sinyal masukan yang melewati
hambatan R 𝑖 adalah:
𝑉𝑖𝑛 −𝑉− 𝑉𝑖𝑛
𝐼= = (4)
𝑅𝑖 𝑅𝑖
Akibat dari kondisi virtual ground dan impedansi masukan yang tinggi, maka tidak ada
arus yang akan masuk ke op-amp dan semua arus akan diteruskan ke rangkaian umpan
balik negatif:
𝐼𝑖 = 𝐼𝑓 (5)
Besarnya arus yang melewati jalur umpan balik negatif dapat dituliskan sebagai berikut:
𝑉− − 𝑉𝑜𝑢𝑡 − 𝑉𝑜𝑢𝑡
𝐼= = (6)
𝑅𝑓 𝑅𝑓
Sehingga didapatkan penguatan dari rangkaian penguat inverting adalah sebagai berikut:
𝑉𝑜𝑢𝑡 𝑅𝑓
𝐴= =− (7)
𝑉𝑖𝑛 𝑅𝑖
3) Op-amp Sebagai Komparator
Untuk membuat op-amp sebagai komparator dengan histeresis, dibutuhkan jalur
umpan balik positif dari kaki keluaran op-amp menuju kaki masukan non-inverting dengan
sinyal masukan diberikan pada kaki masukan inverting.
Kaki keluaran dari op-amp dapat bernilai ±𝑉𝑜𝑢𝑡(𝑚𝑎𝑥) , sehingga kaki masukan non-
inverting dapat bernilai:
𝑅2
𝑉+ = (±𝑉𝑜𝑢𝑡(𝑚𝑎𝑥) ) (8)
𝑅1 + 𝑅2
Saat kaki keluaran bernilai +𝑉𝑜𝑢𝑡(𝑚𝑎𝑥) , maka kaki masukkan non-inverting akan bernilai:
𝑅2
𝑉+ = 𝑉𝑈𝑇𝑃 = (+𝑉𝑜𝑢𝑡(𝑚𝑎𝑥) ) (9)
𝑅1 + 𝑅2
sehingga sinyal masukan pada kaki inverting harus bernilai lebih besar dari nilai tegangan
tersebut untuk dapat memicu kondisi off dari op-amp. Tegangan batas ini dinamakan
tegangan ambang batas atas (upper threshold point, UTP). Sedangkan saat keluaran dari
op-amp berada pada kondisi LOW (−𝑉𝑜𝑢𝑡(𝑚𝑎𝑥) ), maka kaki masukan non-inverting akan
bernilai:
𝑅2
𝑉− = 𝑉𝐿𝑇𝑃 = (−𝑉𝑜𝑢𝑡(𝑚𝑎𝑥) ) (9)
𝑅1 + 𝑅2
sehingga sinyal masukan pada kaki inverting harus turun melewati nilai tegangan tersebut
untuk dapat memicu op-amp menjadi kondisi on. Tegangan batas ini dinamakan tegangan
ambang batas bawah (lower threshold point, LTP). Akibat kondisi titik nyala dan mati dari
op-amp yang berbeda, maka rangkaian ini dinamakan rangkaian komparator dengan
histeresis.
Gambar 3. Rangkaian komparator dengan histeresis pada op-amp (diambil dari buku
"Fundamentals of Analog Circuits, 2nd edition" oleh Thomas L. Floyd dan David Buchla)
IV. Data dan Analisis
1) Op-amp Sebagai Penguat Non-inverting
Tabel 1. Hubungan antara frekuensi dan tegangan keluaran untuk R 𝑖 dan R𝑓 sebesar 2
kΩ dengan Vcc sebesar 10 Volt.
Frekuensi (KHz) Vin (V) Vo (V) A = 𝑅𝑓 + 1 A = 𝑉𝑜𝑢𝑡
𝑅𝑖 𝑉𝑖𝑛
20 2 14 2 7
40 2 15 2 7,5
60 2 16,2 2 6,1
80 2 17 2 8,5
100 2 17,4 2 8,7
Tabel 2. Hubungan antara frekuensi dan tegangan keluaran untuk R 𝑖 sebesar 2 kΩ dan
R𝑓 sebesar 5 kΩ dengan Vcc sebesar 10 Volt.
Frekuensi (KHz) Vin (V) Vo (V) A = 𝑅𝑓 + 1 A = 𝑉𝑜𝑢𝑡
𝑅𝑖 𝑉𝑖𝑛
20 2 17,25 3,5 8,625
40 2 18 3,5 9
60 2 18,5 3,5 9,25
80 2 19 3,5 9,5
100 2 19,1 3,5 9,55
Tabel 3. Hubungan antara frekuensi dan tegangan keluaran untuk R 𝑖 sebesar 2 kΩ dan
R𝑓 sebesar 1 kΩ dengan Vcc sebesar 10 Volt.
Frekuensi (KHz) Vin (V) Vo (V) A = 𝑅𝑓 + 1 A = 𝑉𝑜𝑢𝑡
𝑅𝑖 𝑉𝑖𝑛
20 2 13 1,5 6,5
40 2 15 1,5 7,5
60 2 16 1,5 8
80 2 17 1,5 8,5
100 2 17,2 1,5 8,51
2) Op-amp Sebagai Penguat Inverting
Tabel 4. Hubungan antara frekuensi dan tegangan keluaran untuk R 𝑖 dan R𝑓 sebesar 2
kΩ dengan Vcc sebesar 10 Volt.
𝑅 𝑉
Frekuensi (KHz) Vin (V) Vo (V) A=− 𝑓 A = 𝑜𝑢𝑡
𝑅𝑖 𝑉𝑖𝑛
20 2 8 1 4
40 2 11 1 5.5
60 2 12 1 6
80 2 14 1 7
100 2 15 1 7.5
Tabel 5. Hubungan antara frekuensi dan tegangan keluaran untuk R 𝑖 sebesar 2 kΩ dan
R𝑓 sebesar 5 kΩ dengan Vcc sebesar 10 Volt.
𝑅 𝑉
Frekuensi (KHz) Vin (V) Vo (V) A=− 𝑓 A = 𝑜𝑢𝑡
𝑅𝑖 𝑉𝑖𝑛
20 2 12 2,5 6
40 2 15 2,5 7,5
60 2 16,5 2,5 8,25
80 2 17,5 2,5 8,75
100 2 18 2,5 9
Tabel 6. Hubungan antara frekuensi dan tegangan keluaran untuk R 𝑖 sebesar 2 kΩ dan
R𝑓 sebesar 1 kΩ dengan Vcc sebesar 10 Volt.
𝑅 𝑉
Frekuensi (KHz) Vin (V) Vo (V) A=− 𝑓 A = 𝑜𝑢𝑡
𝑅𝑖 𝑉𝑖𝑛
20 2 4 0,5 2
40 2 5 0,5 2,5
60 2 6 0,5 3
80 2 6 0,5 3
100 2 7 0,5 3,5
Gambar 4. Grafik hubungan antara tegangan keluaran (Vo) dengan frekuensi masukan untuk
berbagai nilai Rf pada rangkaian penguat non-inverting
Gambar 5. Grafik hubungan antara tegangan keluaran (Vo) dengan frekuensi masukan untuk
berbagai nilai Rf pada rangkaian penguat inverting
V. Pembahasan
Set Pada eksperimen penguat non-inverting, terlihat bahwa rangkaian op-amp memberikan
penguatan pada signal input dengan hasil penguatan yang jauh berbeda dengan perhitungan teori. Teori
yang ada memaparkan bahwa rangkaian penguat non-inverting akan memberikan penguatan signal
sebesar perbandingan Vin dengan Vout. Pada variasi percobaan pertama praktikan memakai resistor
dengan perbandingan nilai yang sama antara resistor input dan output. Hasilnya diperoleh penguatan
non inverting yang sangat besar sampai rata-rata tujuh kali penguatan. Berikutnya untuk yang kedua
kombinasi resistor input dan output menghasilkan tegangan keluaran sebesar rata-rata sebesar sembilan
kali penguatan dan yang ketiga sebesar rata-rata enam kali penguatan. Hasil penguatannya juga
dilakukan perhitungan secara teori.
Terdapat perbedaan nilai penguatan dan tegangan output antara hasil praktikum dengan
perhitungan teori, dengan nilai perhitungan teori untuk ketiga variasi resistor yang digunakan selalu
lebih kecil dari nilai penguatan pengukuran. Adapun perbedaan nilai ini disebabkan oleh beberapa
faktor, terutama ketidak idealan komponen elektronik yang dipakai. Seringkali perhitungan dalam teori
cenderung menghilangkan hambatan dalam dari semua komponen elektronik selain resistor tentunya.
Hal inilah berdampak pada hasil perhitungan yang bisa dikatakan sebagai perhitungan ideal. Alasan
lain yang mungkin menjadi penyebab perbedaan nilai ini disebabkan dari peralatan elektronik yang
diduga berasal dari komponen op-Amp yang tidak bekerja dengan semestinya atau dapat juga
kemungkinan.
Praktikan memvariasikan frekuensi input pada masing-masing kombinasi rangkaian penguat non-
inverting untuk mengamati respon tegangan output dan penguatan rangkaian. tidak terdapat pengaruh
yang berarti untuk rentang frekuensi input antara 20kHz – 100kHz. Tetapi, terjadi penaikan penguatan
dan tegangan output ketika frekuensi diperbesar. Hasil eksperimen rangkaian penguat non-inverting
juga memperlihatkan hasil tidak sesuai teori. Nilai penguatan tegangan relatif tidak sama antara
perhitungan teori dengan hasil praktikum, dengan sangat besarnya perbedaan nilai yang penyebabnya
sama seperti pada rangkaian penguat non-inverting. Semakin besar perbandingan nilai resistor input
dan output maka penguatan yang dihasilkan akan semakin besar pula. Praktikan juga memvariasikan
frekuensi input sebagaimana perlakuan pada rangkaian non-inverting. Hasilnya penguatan relatif
meningkat seiring dengan nilai frekuensi.
VI. Kesimpulan
Pada rangkaian non-inverting dan inverting, besar penguatan secara perhitungan dan besar
penguatan hasil pengukuran menunjukkan hasil yang berbeda dimana penguatan hasil
pengukuran lebih besar dari penguatan hasil perhitungan.
DAFTAR PUSTAKA
Septiawan, Reza Rendian. 2015. Modul 04 Op-Amp: Penguat Inverting, Non-Inverting, dan
Comparator dengan Histeresis. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
LAMPIRAN 1
LAMPIRAN 2
Tugas Tambahan Praktikum RAD Modul 4
Aplikasi Op-Amp Pada Rangkaian Pengkondisian Sinyal Termokopel
Gambar 1. Rangkaian Pengkondisian sinyal Termokopel
Untuk mengetahui suhu rendah yang sangat kritis, maka diperlukan sebuah alat ukur
berupa termometer. Termometer sendiri merupakan pengembangan dari sebuah prinsip
termokopel. Pada sebuah termokopel berlaku efek seebeck yang itu pengkonversian dari
perubahan suhu yang ddeteksi sebagai perubahan tegangan. Karena perubahan tegangan
pada sebuah termokopel sangat kecil maka diperlukan sebuah rangkaian penguat tegangan
agar nilai tegangan yang terdeteksi bisa diukur oleh alat ukur. Rangkaian penguat sendiri
memiliki beberapa macam salah satunya merpakan penguat non-inverting seperti yang
akan digunakan dalam rangakaian pengkondisian sinyal termokopel. Rangkaian
pengkondisian sinyal berfungsi untuk mengolah sinyal dari tranduster termokopel berupa
tegangan yang cukup kecil menjadi tegangan yang lebih besar, sehingga output dari
rangkaian ini dapat dibaca oleh untai Analog Digital Converter (ADC).
Rangkaian signal conditioning terbagi dalam 3 blok fungsi:
1. Low Pas Filter
Termokopel yang terlalu panjang bisa menangkap sinyal liar layaknya sebuah
antenna, karena output dari termokopel merupakan sinyal berfrekuensi rendah, perlu
dipasang sebuah filter untuk menghilangkan sinyal frekuensi tinggi yang tidak lain adalah
noise. R4, R5, C1, dan C2 adalah komponen penyusun low pass filter yang memiliki
frekuensi cut off sekitar 3Hz. Diode zener D1 dan D3 digunakan untuk membatasi input
yang masuk ke rangkaian. Resistor pull up 1MΩ berfungsi sebagai pengaman pada saat
termokopel putus / tidak terhubung, karena saat termokopel tidak terhubung input
rangkaian signal conditioning menjadi besar sehingga pemanas tidak akan menyala bila
alat ini digunakan sebagai pengendali suhu.
2. Penguat Tingkat 1
Penguat Tingkat I adalah rangkaian non Inverting OP-AMP menggunakan IC OP 07.
Penguat jenis non-inverting digunakan dengan pertimbangan penguat non-inverting
memiliki impedansi masukan yang sangat tinggi dan impedansi keluaran yang rendah,
selain itu sinyal input dari termokopel sebanding dengan kenaikan suhu. Didalam
rangkaian ini terdapat 2 buah potensiometer, R3 sebagai zero adjustment, berfungsi untuk
mengatur besar kecilnya tegangan offset keluaran. Tegangan offset adalah tegangan yang
timbul pada keluaran saat nilai inputannya nol. Tegangan ini digunakan untuk menentukan
suhu terendah yang bisa dibaca alat ukur ini. R10 sebagai gain adjustment, berfungsi untuk
mengatur besar penguatan pada tingkat ini, dengan menganggap tegangan offset sama
dengan 0V, besar penguatannya adalah seperti berikut:
Penguatan saat potensiometer posisi minimal:
R10 = 0
(R10 + R11)
A1𝑚𝑖𝑛 = 1 +
R9
(0 + 300)
A1𝑚𝑖𝑛 = 1 +
10
A1𝑚𝑖𝑛 = 31
Penguatan saat potensiometer posisi maksimal:
R10 = 100 KΩ
(R10 + R11)
A1𝑚𝑖𝑛 = 1 +
R9
(100 + 300)
A1𝑚𝑖𝑛 = 1 +
10
A1𝑚𝑖𝑛 = 41
3. Penguat tingkat II
Penguat tingkat II juga menggunakan penguat non-inverting, sama seperti penguat
tingkat I. Op-amp yang digunakan adalah LF 353. Pada penguat ini nilai gain adalah tetap
yaitu sebesar:
(R7)
AII = 1 +
R8
(68)
AII = 1 +
10
AII = 6.8
Selanjutnya bila rangkaian di analisis secara keseluruhan, rangkaian signal
conditioning memiliki penguatan sebesar:
Penguatan saat potensiometer posisi minimal:
A = AImin × AII
A = 31 × 6.8
A = 210.8
Penguatan saat potensiometer posisi maksimal:
A = AImax × AII
A = 41 × 6.8
A = 278.8
Besarnya penguatan rangkaian signal conditioning adalah 210 – 279 kali. Sedangkan
tegangan outputnya sebesar:
V0 = V𝑜𝑓𝑓𝑠𝑒𝑡 + V𝑖𝑛 × 𝐴
Refrensi:
Kristanto, Sigit Adi. 2013. Penggunaan Termokopel Tipe K Berbasis Mikrokontroler
ATMEGA16 Untuk Mengukut Suhu Rendah di Mesin Kriogenik. Jurnal Sains dan Seni
Pomit Vol.2. (1): 1-6.
https://www.academia.edu/9851839/Operational_Amplifier_Op-Amp_ (diakses hari
Minggu, 17 Februari 2019, jam 20.27 WIB).