ASUHAN KEPERAWATAN HALUSINASI PENDENGARAN
PADA PASIEN DENGAN SKIZOFRENIA DI RSJ PROF. DR. SOEROJO
MAGELANG
PROPOSAL KTI
Di ajukan guna memenuhi sebagian persyaratan menyelesaikan pendidikan
Diploma Tiga Keperawatan Fakultas Kesehatan
Universitas Harapan Bangsa
Oleh:
HENGKI HIKMAWAN NUGROHO
200102023
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM DIPLOMA TIGA
FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS HARAPAN BANGSA
2022
LEMBAR PERSETUJUAN JUDUL KARYA TULIS ILMIYAH
JUDUL : ASUHAN KEPERAWATAN HALUSINASI
PENDENGARAN PADA PASIEN DENGAN
SKIZOFRENIA DI RSJ PROF. DR. SOEROJO
MAGELANG
PENYUSUN : HENGKI HIKMAWAN NUGROHO
NIM : 200102023
Purwokerto,28 oktober 2022
Pembimbing l Pembimbing ll
NS. Arni Nur Rahmawati., S. Kep., M. Madyo Martoyo, S. Kep., Ns MNS
Kep NIK.103609030581
NIK. 108701120888
Mengetahui
Koordinator KTI
Prasanti Adriani, S.Kep.,Ns.,M.Kes.
NIK. 108602120687
LEMBAR PERSETUJUAN
PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH
ASUHAN KEPERAWATAN HALUSINASI PENDENGARAN PADA
PASIEN DENGAN SKIZOFRENIA DI RSJ PROF. DR. SOEROJO
MAGELANG
Proposal KTI
Disusun Oleh:
Hengki Hikmawan Nugraha
200102023
Telah Disetujui untuk dilakukan Presentasi Proposal KTI
Pada tanggal 29 desember 2022
Purwokerto,......................2022
Menyetujui,
Pembimbing I Pembimbing ll
NS. Arni Nur Rahmawati, S. Kep.,M.Kep Madyo Martoyo, S Kep Ns MNS
NIK. 108701120888 NIK. 103609030581
KATA PENGANTAR
Alhamdulilah puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayahnya kepada kita semua, sehingga penulis dapat menyusun
karya tulis ilmiah ini yang berjudul Asuhan Keperawatan Halusinasi Pendengaran
pada pasien Skizofrenia di RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang. Tujuan penulisan
Karya Tulis Ilmiah ini, yaitu sebagai memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan
pendidikan yang bergelar ahli madya keperawatan di universitas harapan bangsa
purwokerto.
Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini, penulis telah banyak
mendapatkan bimbingan, pengarahan, bantuan dan dukungan dari berbagai pihak.
Untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada
1. Lis Setiawan Mangkunegara, S. Kom., M. TI sebagai Ketua Yayasan
pendidikan Dwi Puspita
2. Dr. Pramesti Dewi M. Kes., sebagai Rektor Universitas Harapan Bangsa
Purwokerto.
3. Dewi Novitasari, S.Kep.,Ns.,MSc., Sebagai Dekan Fakultas Kesehatan.
4. Ns Arni Nur Rahmawati S. Kep., selaku Ketua Program Studi Keperawatan
D3 Universitas Harapan Bangsa Purwokerto dan selaku pembimbing I yang
telah memberikan bimbingan dan arahan dalam mengerjakan Karya Tulis
Ilmiah.
5
5. Madyo Martoyo, S Kep Ns MNS., selaku pembimbing II yang telah
memberikan bimbingan dan arahan dalam mengerjakan Karya Tulis Ilmiyah.
6. Murniati, S. Kep.,M. Kep., selaku penguji Krya Tulis Ilmiah.
7. Seluruh Dosen dan Karyawan Universitas Harapan Bangsa Purwokerto.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini masih
jauh dari sempurna dan masih banyak kekuranganya, oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi ke arah yang lebih
baik
Purwokerto 22 November 2022
Penulis
6
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN JUDUL KARYA TULIS ILMIYAH..................ii
LEMBAR PERSETUJUAN PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH.............iii
KATA PENGANTAR.....................................................................................iv
DAFTAR ISI...................................................................................................vi
DAFTAR TABEL..........................................................................................viii
DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................ix
BAB I.............................................................................................................10
PENDAHULUAN..........................................................................................10
A. LATAR BELAKANG................................................................................10
B. RUMUSAN MASALAH............................................................................14
C. TUJUAN PENELITIAN.............................................................................14
D. MANFAAT PENELITIAN........................................................................15
BAB II...................................................................................................................17
TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................................17
A. Konsep Dasar Skizofrenia...........................................................................17
1. Definisi....................................................................................................17
2. Tanda Gejala...........................................................................................17
3. Patofisiologi............................................................................................18
4. Pemeriksaan Penunjang...........................................................................19
5. Komplikasi..............................................................................................19
A. Konsep Asuhan Keperawatan Halusinasi Pendengaran.............................21
1. Pengkajian...............................................................................................21
3. Intervensi.................................................................................................27
B. Implementasi...........................................................................................29
C. Evaluasi...................................................................................................29
A. Konsep Halusinasi Pendengaran.................................................................30
7
1. Pengertian................................................................................................30
2. Gangguan Halusinasi Pada Skizofrenia..................................................30
4. Edukasi Halusinasi Pada Skizofrenia......................................................33
BAB III..................................................................................................................35
METODE STUDI KASUS .................................................................................35
1. Rancangan Studi Kasus...............................................................................35
2. Subyek Studi Kasus....................................................................................35
3. Fokus Studi.................................................................................................35
4. Definisi Oprasional.....................................................................................36
5. Tempat Dan Studi Kasus............................................................................37
6. Metode Pengumpulan Data.........................................................................37
7. Penyajian Data............................................................................................38
8. Etika Studi Kasus........................................................................................38
8
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Intervensi Hausinasi Pendengaran.........................................................30
9
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Lembar Persetujuan Judul Karya Tulis Ilmiyah................................ii
Lampiran 2 : Lembar Persetujuan Proposal Karya Tulis Ilmiah............................iii
10
11
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Masalah kesehatan jiwa merupakan masalah kesehatan masyarakat
yang begitu tinggi dibandingkan dengan masalah kesehatan yang lainya
yang ada dimasyarakat. Menurut hasil survey World Health Organization
(WHO) tahun 2001, setiap saat dapat terjadi 450 juta orang diseluruh dunia
terkena dampak permasalahan gangguan jiwa, syaraf maupun perilaku dan
jumlahnya terus menerus meningkat. Berdasarkan data hasil Riskesdas tahun
2013, prevalensi gangguan jiwa berat pada penduduk di Indonesia mencapai
1,7 per mil. Di beberapa provinsi terdapat gangguan jiwa berat yang paling
banyak di antaranya yaitu provinsi yogyakarta, Aceh, Bali, sulawesi selatan,
dan yang terahir di Jawa Tengah.Provinsi dengan prevalensi ganguan mental
emosional tertinggi yaitu provinsi Sulawesi Tengah,Sulawesi Selatan,
yogyakarta, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Krisis ekonomi dunia
yang semakin berat mendorong jumlah penderita gangguan jiwa di dunia, dan
Indonesia khususnya kian meningkat (Try Wijayanto & Agustina, 2017).
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, masalah
gangguan jiwa di Indonesia mencapai 7,0 per 1.000 penduduk, dan untuk
wilayah Jawa Tengah tercatat mencapai 9%. Gangguan jiwa terbanyak yang di
alami yaitu skizofrenia (Departemen Kesehatan RI, 2018 ).
12
Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat yang memiliki tanda
gejala halusinasi. Salah satu tanda positif bahwa seseorang mengalami
skizofrenia yaitu halusinasi. Halusinasi yang tercatat pada wilayah Jawa
Tengah yaitu mencapai 0,23% dari jumlah penduduk yang melebihi angka
nasional 0,17%. Halusinasi yang paling banyak terjadi adalah halusinasi
pendengaran. Halusinasi pendengaran ditandai dengan perilaku seseorang
yang secara tiba-tiba tampak tertawa sendiri, berbicara sendiri, marah-marah,
serta menutup telinga karena menurut pasien mengganggap itu ada (P &
Rahmawati, 2022).
Gangguan jiwa adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang
menimbulkan penderitaan pada individu atau hambatan dalam melaksanakan
peran sosial. Salah satu diagnosis gangguan jiwa yang sering dijumpai adalah
Skizofrenia. Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang ditandai dengan
adanya penyimpangan yang sangat dasar dan adanya perbedaan dari pikiran,
disertai dengan adanya ekspresi emosi yang tidak wajar. (Mulia & Damayanti,
2021).
Skizofrenia juga merupakan sekelompok reaksi psikotik yang dapat
mempengaruhi berbagai area fungsi individu, diantaranya yaitu berkomunikasi
berpikir, merasakan dan menunjukkan emosi serta gangguan otak yang
ditandai dengan pikiran kacau, halusinasi, dan perilaku aneh (Pardede &
Ramadia, 2021). Menurut ECA (2021) Prevelensi Amerika Serikat skizofrenia
telah meningkat dari 30% jiwa. Sedangkan di Indonesia prevelensi skizofrenia
13
meningkat menjadi 25% penduduk. Prevelensi Sumatera utara meningkat
menjadi 7% penduduk (Putri et al., 2021).
Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat yang memiliki tanda
gejala halusinasi. Salah satu tanda positif bahwa seseorang mengalami
skizofrenia yaitu halusinasi. Halusinasi yang tercatat pada wilayah Jawa
Tengah yaitu mencapai 0,23% dari jumlah penduduk yang melebihi angka
nasional 0,17%. Halusinasi yang paling banyak terjadi adalah halusinasi
pendengaran. Halusinasi pendengaran ditandai dengan perilaku seseorang
yang secara tiba-tiba tampak tertawa sendiri, berbicara sendiri, marah-marah,
serta menutup telinga karena menurut pasien mengganggap itu ada (P &
Rahmawati, 2022).
Berdasarkan peningkatan pada pasien skizofrenia, perubahan respon
persepsi merupakan gejala pertama yang muncul pada skizofrenia. Sekitar
70% pasien skizofrenia mengalami halusinasi. Halusinasi merupakan suatu
persepsi panca indera tanpa adanya stimulus eksternal. Klien dengan
halusinasi sering merasakan keadaan/kondisi yang hanya dapat dirasakan
olehnya namun tidak dapat dirasakan oleh orang lain. Dampak yang
ditimbulkan dari adaya halusinasi yaitu kehilangan social diri, dimana dalam
situasi ini dapat membunuh diri,membunuh orang lain,dan bahkan merusak
lingkungan. Dalam memperkecil dampak yang ditimbulkan halusinasi
dibutuhkan penangan yang tepat. Dengan banyaknya kejadian halusinasi,
semakin jelas bahwa peran perawat nntuk membantu pasien agar dapat
mengontrol halusinasi (Putri et al., 2021).
14
Menurut Yosep Ada beberapa faktor penyebab halusinasi seperti faktor
perkembangan, faktor sosiokultural, faktor biokimia, faktor psikologis, faktor
genetik dan pola asuh. Karena rendahnya kontrol dan kehangatan keluarga
yang menyebabkan klien tidak mampu mandiri sejak kecil, mudah frustasi,
hilang percaya diri dan mudah stress, selain itu seseorang yang merasa dirinya
tidak diterima di lingungannya akan merasa diasingkan, kesepian, tidak
percaya diri dan malas untuk mencari pekerjaan atau karena faktor ekonomi,
dan pernikahan. (malau, 2021).
Upaya yang dilakukan untuk menangani penderita halusinasi yaitu
dengan memberikan tindakan keperawatan dengan cara membantu pasien
untuk mengenali halusinasi, isi halusinasi, waktu terjadi halusinasi, frekuensi
terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan halusinasi muncul dan respon
klien saat halusinasi muncul. Kemuadian dengan melatih klien agar
mengontrol halusinasi dengan cara menggunakan strategi pelaksanaanya itu
yaitu dengan cara menghardik halusinasi, bercakap-cakap dengan orang lain,
melakukan aktivitas yang terjadwal dan menggunakan obat secara teratur
(Simanjuntak, 2021).
Pada studi pendahuluan tanggal 12 desember 2017 di RSJ Prof. dr.
Soerojo Magelang peneliti mendapat bangsal Abiyasa. Pemilihan tempat
untuk melakukan penelitian ditunjuk berdasarkan quantitas pasien yang
dibutuhkan untuk memenuhi pelaksanaan penelitian. Di bangsal abiyasa RSJ
Prof. dr. Soerojo Magelang pada tanggal 12 Desember 2017 melalui
wawancara dengan kepala TIM yang bernama Adi terdapat pasien skizofrenia
15
di bangsal tersebut berjumlah 289 orang dari bulan Januari – November 2017.
Sedangkan angka kejadian terkait dengan masalah halusinasi di bangsal
abiyasa RSJ. dr. Prof Soerojo Magelang pada bulan januari – November
berjumlah 177 orang. Untuk bulan desember 2017 sementara data yang di
dapat untuk pasien halusinasi terdapat dua orang dari 10 pasien skizofrenia
lainya. Dari data diatas menyatakan bahwa halusinasi adalah masalah
terbanyak yang ditemukan di RSJ Prof. dr. Soerojo Magelang, sehingga perlu
mendapat perhatian dari perawat. Asuhan keperawatan jiwa merupakan
spesialistik, namun tetap dilakukan secar holistic pada saat melakukan asuhan
kepada pasien ( Fellyati, 2017 ).
B. RUMUSAN MASALAH
Dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien gangguan persepsi
sensori halusinasi pendengaran membina hubungan saling percaya serta dapat
menciptakan suasana teraupetik dalam pelaksanaan asuhan keperawatan yang
diberikan, sehingga pasien menjadi nyaman. Berdasarkan uraian latar
belakang di atas maka dapat di rumuskan masalah sebagai berikut” bagaimana
gambaran asuhan keperawatan jiwa pada pasien skizofrenia dalam keadaan
halusinasi pendengaran pada pasien di RSJ Prof. Dr Soerojo Magelang.
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
16
Penulis mampu melaksanakan asuhan keperawatan secara komprehensif
pada pasien dengan halusinasi pendengaran di RSJ
2. Tujuan Khusus
a. Karya tulis ilmiah ini dilakukan supaya penulis mampu melakukan
pengkajian pada pasien dengan halusinasi pendengaran
b. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan
halusinasi pendengaran
c. Mampu membuat perencanaan tindakan keperawatan pada pasien
dengan halusinasi pendengaran
d. Mampu melakukan tindakan/implementasi pada pasien dengan
halusinasi pendengaran
e. Mampu mengevaluasi dan mendokumentasikan hasil asuhan
keperawatan pada pasien dengan halusinasi pendengaran
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat Teoritis
Komprenshif sebagai bahan awal teori dalam memberikan asuhan
keperawatan secara kompleks pada pasien dengan halusinasi pendengaran
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber bahan referensi
dan bahan pembelajaran di Universitas Harapan Bangsa terkait
pengembangan penelitian bagi civitas mengenai asuhan keperawatan
pada pasien dengan halusinasi pendengaran .
17
b. Bagi Profesi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadikan para perawat dalam
peningkatan pemberian asuhan keperawatan terutama bagi pasien jiwa
dengan halusinasi pendengaran.
c. Bagi Penulis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan
penulis dalam menganalisis mengenai penerapan asuhan keperawatan,
sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan kualitas pendidikan di
institusi serta menambah pengetahuan penulis dsalam pembuatan
karya tulis ilmiah ini.
d. Bagi Rumah Sakit
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas asuhan
keperawatan yang diberikan, sehingga dapat meningkatkan kualitas
pelayanan.
e. Bagi Pasien
Hasil penelitian ini diharapkan dapat terpenuhinya kebutuhan masalah
kesehatan pasien dan dapat meningkatkan pengetahuan pasien dan
keluarga pasien dalam membantu proses penyembuhan.
f. Bagi Mahasiswa
18
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan data
tambahan dalam penelitian selanjutnya terutama yang berhubungan
halusinasi pendengaran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Skizofrenia
1. Definisi
Skizofrenia adalah sekumpulan sindroma klinik yang ditandai
dengan adanya perubahan kognitif, presepsi, emosi dan aspek lain dari
perilaku skizofrenia yang merupakan suatu kondisi dimana gangguan
psikotik yang ditandai dengan adanya gangguan utama dalam pikiran yaitu
seperti emosi dan perilaku yang terganggu, dimana berbagai pemikiran
tidak saling berhubungan secara logis, persepsi dan perhatian yang keliru,
afek yang datar atau tidak sesuai dengan berbagai gangguan aktivitas
motorik aneh yang disebut skizofrenia. (Makhruzah et al., 2021).
2. Tanda Gejala
Tanda dan gejala halusinasi dinilai dari hasil observasi terhadap
pasien serta ungkapan pasien, menurut (Manurung, 2020).
1. Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai
2. Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara
3. Gerakan mata cepat
19
4. Menutup telinga
5. Respon verbal lambat atau diam
6. Diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasyikkan
7. Terlihat bicara sendiri
8. Menggerakkan bola mata dengan cepat
9. Bergerak seperti membuang atau mengambil sesuatu
10. Duduk terpaku, memandang sesuatu, tiba-tiba berlari ke ruangan
Lain
11. Disorientasi (waktu, tempat, orang)
12. Perubahan kemampuan dan memecahkan masalah
13. Perubahan perilaku dan pola komunikasi
14. Gelisah, ketakutan, ansietas
15. Peka rangsang
16. Melaporkan adanya halusinasi
3. Patofisiologi
Patofisiologi skizofrenia disebabkan adanya ketidakseimbangan
neurotransmitter di otak, terutama norepinefrin, serotonin, dan dopamine.
Namun, proses patofisiologi skizofrenia masih belum diketahui secara
pasti. Secara umum penelitian telah mendapatkan bahwa skizofrenia
dikaitkan dengan adanya penurunan volume otak, terutama pada bagian
temporal (termasuk mediotemporal), bagian frontal, dan termasuk
substansia alba serta grisea. Dari sejumlah penelitian ini, pada daerah otak
20
yang secara konsisten menunjukan kelainan yaitu pada area hipokampus
dan parahipokampus (Astuti et al., 2015).
4. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mengetahui
penyebab dari halusinasi yaitu:
a. Pemeriksaan darah dan urine, untuk melihat kemungkinan infeksiserta
penyalahgunaan alkohol dan NAPZA.
b. EEG (elektroensefalogram), yaitu pemeriksaan aktivitas listrik otak
untuk melihat apakah halusinasi disebabkan oleh epilepsi.
c. Pemindaian CT scan dan MRI, untuk mendeteksi stroke serta
kemungkinan adanya cedera atau tumor di otak (Suparyanto dan Rosad
(2015, 2020).
5. Komplikasi
Halusinasi dapat menjadi suatu alasan mengapa pasien melakukan
tindakan perilaku kekerasan karena suara-suara yang memberinya perintah
sehingga rentan melakukan perilaku yang tidak adaptif. Perilaku kekerasan
yang timbul pada pasien skizofrenia diawali dengan adanya perasaan yang
tidak berharga, takut dan ditolak oleh lingkungan sehingga individu akan
menyingkir dari hubungan interpersonal dengan orang lain. Komplikasi
yang dapat terjadi pada klien dengan masalah utama gangguan sensori
21
persepsi halusinasi, di antaranya yaitu resiko prilaku kekerasan, harga diri
rendah dan isolasi sosial (Anugrah, 2021).
6. Penatalaksanaan
1. Psikofarmakologis
Dengan pemberian oabat-obatan yang cocok yang digunakan pada
gejala halusinasi pendengaran yang merupakan gejala pada klien
skizoprenia yaitu obat-obatan anti psikosis, karena skizofrenia
merupakan salah satu jenis gangguan psikosis. Pada klien halusinasi
terapi medis seperti haloperidol (HLP), Clapromazine (CPZ),
Trihexyphenidyl (THP).
2. Terapi kejang listrik (ECT)
Terapi kejang listrik adalah pengobatan untuk menimbulkan kejang
melewatkan aliran listrik melaui elecrode yang dipasang pada satu atau
dua temples, terapi kejang listrik 4-5 joule/detik.
3. Terapi Kelompok
a. Terapi group (kelompok terapeutik)
b. Terapi aktivitas kelompok (adjuntive group activity therapy)
c. TAK stimulus persepsi halusinasi
Sesi 1 : Mengenal halusinasi
Sesi 2 : Mengontrol halusinasi dengan menghardik
Sesi 3 : Mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan
22
Sesi 4 : Mencegah halusinasi dengan bercakap-cakap
Sesi 5 : Mengontrol halusinasi dengan patuh minum obat
d. Terapi lingkungan (Oktiviani, 2020).
B. Konsep Asuhan Keperawatan Halusinasi Pendengaran
1. Pengkajian
Menurut (Amazihono, 2021), Pada tahap ini ada beberapa yang
perlu dieksplorasi baik pada klien yang berkenaan dengan kasus halusinasi
yang meliputi :
a. Identitas klien
Meliputi nama klien, umur, jenis kelamin, status perkawinan, Agama,
tanggal MRS, informan, tanggal pengkajian, nomor rumah klien, dan
alamat klien.
b. Keluhan utama
Keluhan utama Biasanya berupa bicara sendiri, tertawa sendiri, senyum
sendiri, menggerakkan bibir tanpa suara, menarik diri dari orang lain, tidak
dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata, ekspresi muka tegang
mudah tersinggung, jengkel dan marah ketakutan biasa terdapat
disorientasi waktu tempat dan orang, tidak dapat mengurus diri dan tidak
melakukan kegiatan sehari-hari.
c. Faktor predisposisi
Faktor predisposisi adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan
jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi
23
stres. Diperoleh baik dari klien maupun keluarganya, mengenai faktor
perkembangan sosial kultural, biokimia psikologis dan genetik yaitu
faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat
dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stres.
1. Faktor perkembangan ; biasanya tugas perkembangan mengalami
hambatan dan hubungan interpersonal terganggu maka individu
akan mengalami stres dan kecemasan.
2. Faktor sosiokultural ; berbagai faktor di masyarakat dapat
menyebabkan seseorang merasa disingkirkan oleh kesepian
terhadap lingkungan tempat klien dibesarkan.
3. Faktor biokimia ; adanya stres yang berlebihan dialami seseorang
maka di dalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat
halusinogenik neuro kimia.
4. Faktor psikologis; hubungan interpersonal yang tidak harmonis,
adanya peran ganda yang bertentangan dan tidak diterima oleh
anak akan mengakibatkan stres dan kecemasan yang tinggi dan
berakhir dengan gangguan orientasi realitas seperti halusinasi
5. Faktor genetik; Apa yang berpengaruh dalam skizoprenia. Belum
diketahui, tetapi Hasil studi menunjukkan bahwa faktor keluarga
menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit
ini.
d. Faktor presipitasi
24
Faktor presipitasi adanya rangsangan lingkungan yang sering yaitu
seperti partisipasi klien dalam kelompok, terlalu lama diajakomunikasi
objek yang ada di lingkungan juga suasana sepi / isolasi adalah sering
sebagai penyebab terjadinya halusinasi karena hal tersebut dapat
meningkatkan stres dan kecemasan yang merangsang tubuh
mengeluarkan zat halusinogenik.
e. Aspek fisik Hasil pengukuran tanda vital (TD, nadi, suhu, pernapasan,
TB, BB) dan keluhan fisik yang dialami oleh klien. Terjadi
peningkatan denyut jantung pernapasan dan tekanan darah.
f. Aspek psikososial Genogram yang menggambarkan tiga generasi.
g. Konsep diri
1. Gambaran diri Tanyakan persepsi pasien terhadap tubuhnya,
bagian tubuh yang disukai, reaksi pasien terhadap bagian tubuh
yang tidak disukai dan bagian tubuh yang disukai.
2. Identitas diri Pasien dengan halusinasi tidak puas akan dirinya
merasa bahwa pasien tidak berguna.
3. Fungsi peran pada pasien halusinasi bisa berubah atau berhenti
fungsi peran yang disebabkan penyakit, trauma akan masa lalu,
menarik diri dari orang lain, dan perilaku agresif.
4. Ideal diri
25
pasien yang mengalami halusinasi cenderung tidak peduli dengan
diri sendiri maupun sekitarnya. Mengungkapkan keputuasaan
karena penyakitnya dan mengungkapkan keinginan yang terlalu
tinggi.
5. Harga diri Pasien yang mengalami halusinasi cenderung menerima
diri tanpa syarat meskipun telah melakukan kesalahan, kekalahan,
dan kegagalan ia tetap merasa dirinya sangat berharga. Perasaan
malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri sendiri,
gangguan hubungan sosial, merendahkan martabat, mencederai diri
dan kurang percaya diri.
h. Status mental
Pada pengkajian status mental pasien halusinasi ditemukan data berupa
bicara sendiri, senyum sendiri, tertawa sendiri, menggerakkan bibir
tanpa suara, pergerakan mata yang cepat, respon verbal yang lambat,
menarik diri dari orang lain berusaha untuk menghindari orang lain,
tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata, terjadi
peningkatan denyut jantung pernapasan dan tekanan darah, perhatian
dengan lingkungan yang kurang /hanya beberapa detik com
berkonsentrasi dengan pengalaman sensori, sulit berhubungan dengan
orang lain, ekspresi muka tegang, mudah tersinggung, jengkel dan
marah tidak mampu mengikuti perintah dari perawat, tampak tremor
dan berkeringat, perilaku panik, agitasi dan kataton curiga dan
bermusuhan, bertindak merusak diri orang lain dan lingkungan,
26
ketakutan, tidak dapat mengurus diri, biasa terdapat disorientasi waktu
tempat dan orang.
i. Mekanisme koping
Apabila mendapat masalah, pasien takut / tidak mau menceritakan
kepada orang lain (koping menarik diri). Mekanisme koping yang
digunakan pasien sebagai usaha mengatasi kecemasan yang merupakan
suatu kesepian nyata yang mengancam dirinya. Mekanisme koping
yang sering digunakan pada halusinasi adalah :
1. Regresi
menjadi malas beraktivitas sehari-hari.
2. Proyeksi
menjelaskan perubahan suatu persepsi dengan berusaha untuk
mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.
3. Menarik diri
sulit mempercayai orang lain dan asik dengan stimulus internal.
j. Aspek medik
Terapi yang diterima klien bisa berupa terapi farmakologi psikomotor
terapi okupasional, dan rehabilitas.
2. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan prioritas masalah utama yaitu Gangguan Persepsi Sensori
Halusinasi Pendengaran.
a. Definisi
27
Halusinasi pendengaran adalah salah satu gejala gangguan sensori
persepsi yang dialami oleh pasien gangguan jiwa, pasien merasakan
sensasi berupa suara tanpa stimulus nyata. Halusinasi pendengaran
paling sering terjadi ketika pasien mendengar suara-suara, halusinasi
ini sudah melebur dan pasien merasa sangat ketakutan, panik dan tidak
bisa membedakan antara khayalan dan dengan kenyataan yang
dialaminya. Halusinasi pendengaran adalah kondisi dimana pasien
mendengar suara, terutama suara-suara orang yang sedang
membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan
untuk melakukan sesuatu (Karsa & Karsa, 2022).
b. Batasan karakteristik
Batasan karakteristik klien dengan gangguan persepsi sensori
halusinasi yaitu perubahan dalam pola perilaku, tidak dapat
membedakan keadaan yang nyata atau tidak, perubahan dalam
ketajamn sensori, kurang konsentrasi dengan lingkungan sekitar, sulit
berkomunikasi dengan orang lain, ekpresi muka tegang, pergerakan
mata cepat, respon verbal lambat dan muncul perasaan takut (M.
Pratiwi & Setiawan, 2018).
c. Faktor Resiko
Faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang
dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stres.
1. Faktor perkembangan
28
biasanya tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan
interpersonal terganggu maka individu akan mengalami stres dan
kecemasan.
2. Faktor sosiokultural
berbagai faktor di masyarakat dapat menyebabkan seseorang
merasa disingkirkan oleh kesepian terhadap lingkungan tempat
klien dibesarkan.
3. Faktor biokimia
adanya stres yang berlebihan dialami seseorang maka di dalam
tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik
neuro kimia.
4. Faktor psikologis
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis, adanya peran ganda
yang bertentangan dan tidak diterima oleh anak akan
mengakibatkan stres dan kecemasan yang tinggi dan berakhir
dengan gangguan orientasi realitas seperti halusinasi.
5. Faktor genetik
Apa yang berpengaruh dalam skizoprenia ini belum juga diketahui,
tetapi hasil studi membuktikan bahwa faktor keluarga
menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini
(Mislika, 2020).
29
3. Intervensi
Perencanaan dalam proses keperawatan lebih dikenal dengan
rencana asuhan keperawatan yang merupakan tahap selanjutnya setelah
pangkajian dan penentuan diagnosa keperawatan. Pada tahap perencanaan
penulis hanya menyusun rencana tindakan keperawatan sesuai dengan
pohon masalah keperawatan yaitu gangguan persepsi sensori halusinasi
pendengaran (sventinus mendorofa, 2022).
Tabel : 2.1 Intervensi
No Diagnosa SLKI SIKI
1. Gangguan Persepsi sensori Manajemen halusinasi
Persepsi (L.09083) (l.09288)
Sensori Setelah dilakukan 1. Observasi
Halusinasi asuhan keperawatan a. Monitor prilaku
Pendengaran selama 3x24 jam yang mengindikasi
diharapkan persepsi halusinasi
sensori dapat membaik b. Monitor isi
dengan kriteria hasil: halusinasi
1. Verbalisasi kekerasan atau
mendengar 2 – 4 yang
2. Perilaku halusinasi membahayakan
2-4 diri
3. Respon sesuai 2. Teraupetik
stimulus 2 – 4 a. Pertahankan
4. Konsentrasi 2 – 5 lingkungan yang
aman
1. Keterangan 3. Edukasi
a. Anjurkan
1. Memburuk memonitor sendiri
2. Cukup memburuk situasi terjadinya
3. Sedang halusinasi
4. Cukup membaik b. Ajarkan pasien dan
5. Membaik keluarga cara
mengontrol
halusinasi
30
Sumber : (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2016).
31
4. Implementasi
Pada tahap ini penulis melakukan implementasi sesuai dengan
perencaan keperawatan yang sebelumnya sudah dibuat. Implementasi yang
pertama bertujuan agar klien dapat mengenal halusinasinya dan klien dapat
mengontrol halusinasinya dengan cara menghardik, yang kedua bertujuan
agar klien dapat mengontrol halusinasinya dengan cara berbincang-
bincang dengan orang lain, yang ketiga agar klien dapat mengontrol
halusinasinya dengan cara melakukan kegiatan yang sudah terjadwal, dan
yang keempat agar klien dapat memahami manfaat dari program
pengobatan dan mengikuti pengobatan secara optimal. (Lesmana &
Furnama, 2021).
5. Evaluasi
Evaluasi keperawatan adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara
terus menerus yang bertujuan untuk menentukan apakah rencana
keperawatan efektif dan bagaimana rencana keperawatan dilanjutkan
untuk merevisi rencana atau menghentikan rencana keperawatan.
Berdasarkan hasil evaluasi, setelah dilakukan tindakan selama 3 hari
diagnosa gangguan persepsi sensori pendengaran dapat teratasi dengan
kriteria hasil verbalisasi mendengar bisikan menurun (A. D. I. Pratiwi &
Rahmawati, 2022).
32
C. Konsep Halusinasi Pendengaran
1. Pengertian
Halusinasi pendengaran merupakan suatu jenis halusinasi yang
sering muncul pada pasien skizofrenia. Semakin lama akan semakin
berdampak pada dirinya dan orang lain. Seperti risiko menciderai
orang lain, risiko bunuh diri, isolasi sosial dan tidak bisa membedakan
mana yang realita dan mana yang bukan. Sehingga perlu adanya latihan
yang dapat mengontrol halusinasi sehingga tidak berdampak negatif pada
diri sendiri dan orang lain (Hertati et al., 2022).
2. Gangguan Halusinasi Pada Skizofrenia
Gangguan halusinasi pada skizofrenia merupakan gangguan jiwa
berat di tandai dengan komunikasi yang tidak wajar, gangguan realitas
(halusinasi atau waham), afek yang tidak wajar dan gangguan
psikologis serta kesulitan untuk melakukan kegiatan sehari-hari.
Skizofrenia adalah gangguan yang terjadi di otak yang sangat berat dimana
menganggu jalan berfikir seseorang, tingkat emosi, dan perilaku seseorang
yang akan membawa dampak fisik seseorang untuk melakukan pekerjaan
menjadi terabaikan akibat tidak bisa menilai keadaanya nyata. Gejala
yang banyak muncul dan dijumpai pada pasien skizofrenia yaitu
halusinasi diman, suatu kondisi terdapat gangguan dipanca indra
seseorang yang tidak terdapat dorongan dari luar seperti halusinasi
pendengaran. (Hertati et al., 2022).
33
3. Pengaturan Halusinasi Pada Skizofrenia
Pengaturan halusinasi pada skizofrenia di sebut dengan fase. Dan
dimulai dari beberapa tahap, hal ini dapat di pengaruhi oleh keparahan dan
respon individu dalam menanggapi adanya rangsangan dari luar.
Halusinasi terjadi melalui beberapa fase antara lain:
a. Fase Pertama
Disebut juga dengan fase comforting yaitu fase menyenangkan. Pada
tahap ini masuk dalam golongan non-psikotik.
1) Karakteristik
klien mengalami stress, cemas, perasaan perpisahan, rasa bersalah,
kesepian yang memuncak, dan tidak dapat diselesaikan. Klien
mulai melamun dan memikirkan halhal yang menyenangkan, cari
ini hanya menolong sementara.
2) Perilaku klien
Tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibir
tanpa suara, pergerakan mata cepat, respon verbal yang lambat jika
sedang asyik dengan halusinasinya dan suka menyendiri.
b. Fase Kedua
Disebut dengan fase condemming atau ansietas berat yaitu halusinasi
menjadi menjijikkan. Termasuk dalam psikotik ringan.
1) Karakteristik
34
pengalaman sensori menjijikan dan menakutkan, kecemasan
meningkat, melamun dan berpikir sendiri jadi dominan. Mulai
dirasakan ada bisikan yang tidak jelas. Klien tidak ingin orang lain
tahu, dan ia tetap dapat mengontrolnya.
2) Perilaku klien
meningkatnya tanda-tanda sistem saraf otonom seperti peningkatan
denyut jantung dan tekanan darah. Klien asyik dengan
halusinasinya dan tidak bisa membedakan realitas.
c. Fase Ketiga
Disebut dengan fase controlling atau ansietas berat yaitu pengalaman
sensori menjadi berkuasa. Termasuk dalam gangguan psikotik.
1) Karakteristik
bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai dan
mengontrol klien. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya
terhadap halusinasinya.
2) Perilaku klien
kemauan dikendalikan halusinasi, rentang perhatian hanya
beberapa menit atau detik. Tanda-tanda fisik berupa klien
berkeringat, tremor dan tidak mampu mematuhi perintah.
d. Fase Keempat
Conquering atau panik yaitu klien lebur dengan halusinasinya.
termasuk dalam psikotik berat.
35
1) Karakteristik halusinasinya berubah menjadi mengancam,
memerintah, dan memarahi klien. Klien menjadi takut, tidak
berdaya hilang kontrol dan tidak dapat berhubungan secara nyata
dengan orang lain di lingkungan sekitarnya.
2) Perilaku klien : perilaku teror akibat panik, potensi bunuh diri,
perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri atau katakonik, tidak
mampu merespon terhadap perintah kompleks, dan tidak mampu
berespon lebih dari satu orang (Wulandari & Pardede, 2020).
4. Edukasi Halusinasi Pada Skizofrenia
Edukasi halusinasi pada pasien skizofrenia menggunakan beberapa
teknik yang digunakan yaitu presentasi menggunakan powerpoint,
pemutaran film, dan tanya jawab. Materi yang disajikan di dalam
powerpoint adalah data statistik tentang gangguan jiwa, karakteristik,
tahapan, dan cara deteksi dini berupa gambar-gambar untuk memudahkan
pemahaman dan lebih ringkas. Film yang diputar adalah tentang
pengalaman hidup seorang laki-laki dan perempuan yang telah menjadi
penyintas skizofrenia, produksi komunitas peduli skizofrenia indonesia.
Selama proses presentasi, pesertajuga diberikan kesempatan untuk
bertanya, sehingga terjadi dialog interaktif selama proses edukasi
berlangsung. tahapan, dan cara deteksi dini berupa gambar-gambar untuk
memudahkan pemahaman dan lebih ringkas. Film yang diputar yaitu
tentang pengalaman hidup seorang laki-laki dan perempuan yang telah
menjadi penyintas skizofrenia, produksi komunitas peduli skizofrenia
36
Indonesia. Selama proses presentasi, pesertajuga diberikan kesempatan
untuk bertanya, sehingga terjadi dialog interaktif selama proses edukasi
berlangsung (Prasetyo, 2019).
37
BAB III
METODE STUDI KASUS
1. Rancangan Studi Kasus
Jenis rancangan serta pendekatan yang digunakan dalam penelitian
ini yaitu studi kasus, menggunakan pendekatan proses keperawatan.
Peneliti mendapatkan data pasien menggunakan metode wawancara,
observasi, studi dokumentasi dan studi kepustakaan. Instrument penelitian
yang digunakan pada wawancara yaitu peneliti sendiri dengan alat bantu
pedoman pengkajian dan Strategi Pelaksanaan (SP). Sedangkan instrumen
yang lain dengan menggunakan tensimeter, termometer dan timbangan.
(Zelika & Dermawan, 2015).
2. Subyek Studi Kasus
Subyek pada studi kasus ini adalah pasien dengan Asuhan
keperawatan Gangguan Persepsi Sensori Halusinasi Pendengaran dengan
Skizofrenia di RSJ Prof. Dr Soerojo Magelang.
3. Fokus Studi
Fokus studi dalam karya tulis ilmiah ini adalah pasien dengan
asuhan keperawatan halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia di
RSJ Prof. Dr Soerojo Magelang.
38
4. Definisi Oprasional
Operasional adalah unsur penelitian yang menjelaskan cara
menentukan dan mengukur suatu variabel, atau informasi ilmiah yang
membantu peneliti lain yang menggunakan variabel yang sama.
Rancangan variabel penelitian, definisi operasional dan skala pengukuran
penelitian (Pravitasri, 2015).
a. Halusinasi pendengaran
Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara atau kebisingan,
dan yang paling sering yaitu merupakan suara orang. Suara berbentuk
kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas, berbicara
tentang klien, bahkan sampai pada percakapan lengkap antara dua
orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien
mendengar perkataan bahwa klien disuruh untuk melakukan sesuatu
dan kadang dapat membahayakanya (Lase & Pardede, 2019).
b. Pasien skizofrenia
Pasien skizofrenia adalah pasien yang menderita gangguan jiwa
berat, dan skizofrenia merupakan sindrom kompleks dari gangguan
perkembangan otak yang menyebabkan penyimpangan perilaku dan
kognitif serta disebabkan oleh faktor genetik atau faktor lingkungan.
Pasien skizofrenia umumnya mengalami gejala-gejala seperti gejala
positif dan negaf. Delusi dan halusinasi merupakan salah satu
gejala positif yang sering dialami pada skizofrenia, selain
ituskizofrenia erat hubungannya dengan perilaku kekerasan.
39
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh insight pada proses
kesembuhan pasien skizofrenia (NMA, 2021).
5. Tempat Dan Studi Kasus
a. Tempat Studi Kasus
Pengelolaan kasus pada Pasien halusinasi pendengaran dengan
skizofrenia ini akan dilaksanakan di RSJ Prof. Dr Soerojo Magelang
b. Waktu Penyusunan
Waktu penyusunan ini akan dilakukan selama tiga hari dimulai pada
awal dilakukan pengkajian sampai proses evaluasi.
c. Waktu Pengambilan Studi Kasus
Studi kasus ini akan dilaksanakan pada tanggal 9 januari sampai 21
januari 2023.
6. Metode Pengumpulan Data
Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis mengumpulkan
data dari berbagai sumber dengan cara :
1) Wawancara mendalam dengan perawat dan keluarga yang berkaitan
dengan pengalaman keluarga merawat pasien skizofrenia dengan
masalah keperawatan halusinasi pendengaran pasca hospitalisasi
dengan menggunakan alat perekam, kamera, lembar panduan
wawancara mendalam dan alat-alat tulis.
2) Pengambilan data yang dilakukan dengan melakukan pencarian
terhadap dokumen yang terkait dengan Pengalaman Keluarga Merawat
40
Pasien Skizofrenia Dengan Masalah Halusinasi Pendengaran Pasca
hospitalisasi dengan menggunakan lembar, setelah dokumen yaitu
buku status list pasien (riwayat masuk rumah sakit jiwa dan diagnosa)
dan buku laporan rawat inap (Harkomah, 2019).
7. Penyajian Data
Penyajian data yang dibuat oleh peneliti secara narasi, dimana
asuhan keperawatan dibuat dalam suatu rangkaian kalimat yang
menceritakan suatu rangkaian kejadian. Dalam melakukan studi kasus,
penulis memandang perlu adanya ijin pada pihak institusi. Setelah
mendapat persetujuan barulah dilakukan studi kasus dengan menekankan
pada masalah etika penelitian (Karsa & Karsa, 2022).
8. Etika Studi Kasus
Dicantumkan etika yang mendasari penyusunan studi kasus, terdiri dari :
a. Informed Consent (persetujuan menjadi klien)
Memberikan bentuk persetujuan antara dan responden studi kasus
dengan memberikan lembar persetujuan. Tujuan Informed Consent
adalah agar subjek mengerti maksud dan tujuan studi kasus.
b. Anonimity (tanpa nama)
Masalah etika studi kasus merupakan masalah yang memberikan
jaminan dalam penggunaan subjek studi kasus dengan cara
memberikan atau menempatkan nama responden dan hanya
41
menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil studi kasus
yang akan disajikan.
c. Confidentiality (kerahasiaan)
Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh
peneliti studi kasus. (Julioe, 2017).
42
43
DAFTAR PUSTAKA
Amazihono, V. (2021). Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Tn . C Dengan
Halusinasi Pendengaran di Ruang Dolok Sanggul. 1–32.
Anugrah, T. (2021). Asuhan Keperwatan Jiwa Pada Tn . E Dengan Gangguan
Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran Di Ruangan Dolok Sanggul Ii.
1–38.
Astuti, S. I., Arso, S. P., & Wigati, P. A. (2015). Patofisiologi, kaplan dan sadock,
2014. Analisis Standar Pelayanan Minimal Pada Instalasi Rawat Jalan Di
RSUD Kota Semarang, 3, 103–111.
Harkomah, I. (2019). Analisis Pengalaman Keluarga Merawat Pasien Skizofrenia
dengan Masalah Halusinasi Pendengaran Pasca Hospitalisasi. Jurnal
Endurance, 4(2), 282. https://doi.org/10.22216/jen.v4i2.3844
Hertati, H., Wijoyo, E. B., & Nuraini, N. (2022). Pengaruh Pengendalian
Halusinasi Teknik Distraksi Menghardik terhadap Penurunan Halusinasi
Pendengaran: Studi Literatur. Jurnal Ilmiah Keperawatan …, 5(2), 145–156.
http://jurnal.umt.ac.id/index.php/jik/article/view/2918%0Ahttp://jurnal.umt.a
c.id/index.php/jik/article/download/2918/3328
Julioe, R. (2017). No TitleÉ?______. Ekp, 13(3), 1576–1580.
Karsa, P. S., & Karsa, P. S. (2022). PENDENGARAN.
Lase, A. A. N., & Pardede, J. A. (2019). Penerapan Terapi Generalis ( SP 1-4 )
Pada Penderita Skizofrenia Dengan Masalah Halusinasi Di Ruang Sibual-
buali : Studi Kasus. 1–38.
Lesmana, N. K., & Furnama, F. (2021). Asuhan Keperawatan Pada Tn. D Dengan
44
Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran Diruang Dahlia Rumah
Sakit Umum Gunung Jati Cirebon. Jurnal Ilmiah Akper Buntet Pesantren
Cirebon, 5(1), 107–115.
Makhruzah, S., Putri, V. S., & Yanti, R. D. (2021). Pengaruh Penerapan Strategi
Pelaksanaan Perilaku Kekerasan terhadap Tanda Gejala Klien Skizofrenia di
Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi. Jurnal Akademika Baiturrahim
Jambi, 10(1), 39. https://doi.org/10.36565/jab.v10i1.268
malau, mei yanti. (2021). Manajemen Asuhan Keperawatan Jiwa Dengan
Masalah Halusinasi Pada Penderita Skizofrenia. 22–24.
http://dx.doi.org/10.31219/osf.io/nbv42
Manurung, R. D. (2020). Penerapan Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Tn . M
Dengan Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran. 2018, 1–37.
Mislika, M. (2020). Penerapan Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Ny . N Dengan
Halusinasi Pendengaran. 1–35. https://scholar.google.com/scholar?
hl=id&as_sdt=0%2C5&q=halusinasi+pendengaran&oq=#d=gs_qabs&u=
%23p%3DmuqhG8XBeJIJ
Mulia, M., & Damayanti, D. (2021). Tabel 1 Tingkat Halusinasi Sebelum
Diberikan Terapi Musik Klasik Pada Pasien Skizofrenia dengan Diagnosa
Keperawatan Halusinasi ( n = 2 ) Klien Skor Tingkat Halusinasi Halusinasi
Tn . R Halusinasi Tingkat Sedang Tn . A Halusinasi Tingkat Sedang. 2(2), 9–
13.
NMA, W. (2021). Pengaruh Insight pada Proses Kesembuhan pasien Skizofrenia.
Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 10(1), 163–169.
45
https://doi.org/10.35816/jiskh.v10i1.573
Oktiviani, D. (2020). Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Tn.K dengan masalah
Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran di Ruang Rokan
Rumah Sakit Jiwa Tampan. Diploma thesis, Poltekkes Kemenkes Riau.
Nuevos Sistemas de Comunicación e Información, 2013–2015.
P, N. A., & Rahmawati, A. N. (2022). STUDI KASUS HALUSINASI
PENDENGARAN PADA PASIEN SCHIZOFRENIA A CASE STUDY OF
AUDITORY HALLUCINATION IN SCHIZOFRENIA PATIENTS Program
Studi Profesi Ners , Universitas Harapan Bangsa perilaku seseorang yang
dengan tiba-tiba adanya. 10, 20–27.
Prasetyo, F. A. (2019). Edukasi Tentang Deteksi Dini Gangguan Skizofrenia.
Prosiding Seminar Nasional Teknologi Dan Sains, September.
Pratiwi, A. D. I., & Rahmawati, A. N. (2022). Studi Kasus Penerapan Terapi
Dzikir Pada Pasien Gangguan Persepsi Sensori (Halusinasi Pendengaran)
Diruang Arjuna Rsud Banyumas. 1(6), 315–322.
Pratiwi, M., & Setiawan, H. (2018). Tindakan Menghardik Untuk Mengatasi
Halusinasi Pendengaran Pada Klien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa.
Jurnal Kesehatan, 7(1), 7. https://doi.org/10.46815/jkanwvol8.v7i1.76
Pravitasri, G. A. (2015). Gambaran Manajemen Gejala Halusinasi Pada Orang
Dengan Skizofrenia (ODS) Diruang Rrawat Inap RSJD Dr. Amino
Gondohutomo Semarang. September. http://eprints.undip.ac.id/51770/
Putri, N. N., Lissa, N., Nainggolan, O., Vandea, S., & Saragih, M. (2021). Studi
Kasus : Asuhan Keperawatan Jiwa Dengan Gangguan Persepsi Sensori :
46
Halusinasi Pada Penderita Skizofrenia.
Simanjuntak, J. (2021). Asuhan keperawatan jiwa pada Ny. I dengan masalah
halusinasi pendengaran. OSF Preprints, 846(March), 11–43.
https://osf.io/preprints/9xn25/
Suparyanto dan Rosad (2015. (2020).. Suparyanto Dan Rosad (2015, 5(3), 248–
253.
sventinus mendorofa, D. (2022). Asuhan keperawatan jiwa pada Tn. B dengan
masalah halusinasi pendengaran. OSF Preprints, 1(April), 11–43.
https://doi.org/10.31219/osf.io/mdnts
Try Wijayanto, W., & Agustina, M. (2017). Efektivitas Terapi Musik Klasik
Terhadap Penurunan Tanda dan Gejala pada Pasien Halusinasi Pendengaran.
Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia, 7(1), 189–196.
Wulandari, Y., & Pardede, J. A. (2020). Aplikasi Terapi Generalis Pada
Penderita Skizofrenia Dengan Masalah Halusinasi Pendengaran. Riskesdes
2018.
Zelika, A. A., & Dermawan, D. (2015). Kajian Asuhan Keperawatan Jiwa
Halusinasi Pendengaran Pada Sdr . D Di Ruang Nakula Rsjd Surakarta.
Profesi, 12(2), 8–15.
Amazihono, V. (2021). Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Tn . C Dengan
Halusinasi Pendengaran di Ruang Dolok Sanggul. 1–32.
Anugrah, T. (2021). Asuhan Keperwatan Jiwa Pada Tn . E Dengan Gangguan
Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran Di Ruangan Dolok Sanggul Ii.
1–38.
47
Astuti, S. I., Arso, S. P., & Wigati, P. A. (2015). Patofisiologi, kaplan dan sadock,
2014. Analisis Standar Pelayanan Minimal Pada Instalasi Rawat Jalan Di
RSUD Kota Semarang, 3, 103–111.
Harkomah, I. (2019). Analisis Pengalaman Keluarga Merawat Pasien Skizofrenia
dengan Masalah Halusinasi Pendengaran Pasca Hospitalisasi. Jurnal
Endurance, 4(2), 282. https://doi.org/10.22216/jen.v4i2.3844
Hertati, H., Wijoyo, E. B., & Nuraini, N. (2022). Pengaruh Pengendalian
Halusinasi Teknik Distraksi Menghardik terhadap Penurunan Halusinasi
Pendengaran: Studi Literatur. Jurnal Ilmiah Keperawatan …, 5(2), 145–156.
http://jurnal.umt.ac.id/index.php/jik/article/view/2918%0Ahttp://jurnal.umt.a
c.id/index.php/jik/article/download/2918/3328
Julioe, R. (2017). No TitleÉ?______. Ekp, 13(3), 1576–1580.
Karsa, P. S., & Karsa, P. S. (2022). PENDENGARAN.
Lase, A. A. N., & Pardede, J. A. (2019). Penerapan Terapi Generalis ( SP 1-4 )
Pada Penderita Skizofrenia Dengan Masalah Halusinasi Di Ruang Sibual-
buali : Studi Kasus. 1–38.
Lesmana, N. K., & Furnama, F. (2021). Asuhan Keperawatan Pada Tn. D Dengan
Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran Diruang Dahlia Rumah
Sakit Umum Gunung Jati Cirebon. Jurnal Ilmiah Akper Buntet Pesantren
Cirebon, 5(1), 107–115.
Makhruzah, S., Putri, V. S., & Yanti, R. D. (2021). Pengaruh Penerapan Strategi
Pelaksanaan Perilaku Kekerasan terhadap Tanda Gejala Klien Skizofrenia di
Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi. Jurnal Akademika Baiturrahim
48
Jambi, 10(1), 39. https://doi.org/10.36565/jab.v10i1.268
malau, mei yanti. (2021). Manajemen Asuhan Keperawatan Jiwa Dengan
Masalah Halusinasi Pada Penderita Skizofrenia. 22–24.
http://dx.doi.org/10.31219/osf.io/nbv42
Manurung, R. D. (2020). Penerapan Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Tn . M
Dengan Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran. 2018, 1–37.
Mislika, M. (2020). Penerapan Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Ny . N Dengan
Halusinasi Pendengaran. 1–35. https://scholar.google.com/scholar?
hl=id&as_sdt=0%2C5&q=halusinasi+pendengaran&oq=#d=gs_qabs&u=
%23p%3DmuqhG8XBeJIJ
Mulia, M., & Damayanti, D. (2021). Tabel 1 Tingkat Halusinasi Sebelum
Diberikan Terapi Musik Klasik Pada Pasien Skizofrenia dengan Diagnosa
Keperawatan Halusinasi ( n = 2 ) Klien Skor Tingkat Halusinasi Halusinasi
Tn . R Halusinasi Tingkat Sedang Tn . A Halusinasi Tingkat Sedang. 2(2), 9–
13.
NMA, W. (2021). Pengaruh Insight pada Proses Kesembuhan pasien Skizofrenia.
Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 10(1), 163–169.
https://doi.org/10.35816/jiskh.v10i1.573
Oktiviani, D. (2020). Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Tn.K dengan masalah
Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran di Ruang Rokan
Rumah Sakit Jiwa Tampan. Diploma thesis, Poltekkes Kemenkes Riau.
Nuevos Sistemas de Comunicación e Información, 2013–2015.
P, N. A., & Rahmawati, A. N. (2022). STUDI KASUS HALUSINASI
49
PENDENGARAN PADA PASIEN SCHIZOFRENIA A CASE STUDY OF
AUDITORY HALLUCINATION IN SCHIZOFRENIA PATIENTS Program
Studi Profesi Ners , Universitas Harapan Bangsa perilaku seseorang yang
dengan tiba-tiba adanya. 10, 20–27.
Prasetyo, F. A. (2019). Edukasi Tentang Deteksi Dini Gangguan Skizofrenia.
Prosiding Seminar Nasional Teknologi Dan Sains, September.
Pratiwi, A. D. I., & Rahmawati, A. N. (2022). Studi Kasus Penerapan Terapi
Dzikir Pada Pasien Gangguan Persepsi Sensori (Halusinasi Pendengaran)
Diruang Arjuna Rsud Banyumas. 1(6), 315–322.
Pratiwi, M., & Setiawan, H. (2018). Tindakan Menghardik Untuk Mengatasi
Halusinasi Pendengaran Pada Klien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa.
Jurnal Kesehatan, 7(1), 7. https://doi.org/10.46815/jkanwvol8.v7i1.76
Pravitasri, G. A. (2015). Gambaran Manajemen Gejala Halusinasi Pada Orang
Dengan Skizofrenia (ODS) Diruang Rrawat Inap RSJD Dr. Amino
Gondohutomo Semarang. September. http://eprints.undip.ac.id/51770/
Putri, N. N., Lissa, N., Nainggolan, O., Vandea, S., & Saragih, M. (2021). Studi
Kasus : Asuhan Keperawatan Jiwa Dengan Gangguan Persepsi Sensori :
Halusinasi Pada Penderita Skizofrenia.
Simanjuntak, J. (2021). Asuhan keperawatan jiwa pada Ny. I dengan masalah
halusinasi pendengaran. OSF Preprints, 846(March), 11–43.
https://osf.io/preprints/9xn25/
Suparyanto dan Rosad (2015. (2020). 済無 No Title No Title No Title.
Suparyanto Dan Rosad (2015, 5(3), 248–253.
50
sventinus mendorofa, D. (2022). Asuhan keperawatan jiwa pada Tn. B dengan
masalah halusinasi pendengaran. OSF Preprints, 1(April), 11–43.
https://doi.org/10.31219/osf.io/mdnts
Try Wijayanto, W., & Agustina, M. (2017). Efektivitas Terapi Musik Klasik
Terhadap Penurunan Tanda dan Gejala pada Pasien Halusinasi Pendengaran.
Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia, 7(1), 189–196.
Wulandari, Y., & Pardede, J. A. (2020). Aplikasi Terapi Generalis Pada
Penderita Skizofrenia Dengan Masalah Halusinasi Pendengaran. Riskesdes
2018.
Zelika, A. A., & Dermawan, D. (2015). Kajian Asuhan Keperawatan Jiwa
Halusinasi Pendengaran Pada Sdr . D Di Ruang Nakula Rsjd Surakarta.
Profesi, 12(2), 8–15.
51