Anda di halaman 1dari 34

FILOSOFI GEOMETRI EUCLID

(Makalah)

Oleh :
Ayu Naharotu Zahro (2113021072)
Ervina Farahnaz Simatupang (2113021014)
Putri Ayu Kusuma Wardani (2113021026)

Dosen Pengampu :
Drs. Haninda Bharata, M.Pd.

PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2022
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul
"Filosofi Geometri Euclid" dengan tepat waktu. Makalah ini disusun untuk memenuhi
tugas Mata Kuliah Sejarah dan Filsafat. Matematika.

Dalam hal ini penyusun mengucapkan terima kasih ke berbagai pihak yang telah
membantu menyelesaikan laporan ini antara lain:
1. Bapak Drs. Haninda Bharata, M.Pd. selaku dosen pembimbing Mata Kuliah
Sejarah dan Filsafat. Matematika
2. Teman-teman dan pihak-pihak yang tidak tersebut namanya yang telah
membantu terwujudnya makalah ini.

Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna, baik dari sisi materi
dan cara penulisannya. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang membangun diharapkan
demi kesempurnaan makalah ini. Kami berharap makalah ini bermanfaat bagi
pembaca umum dan bagi tenaga pendidik khususnya.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bandar Lampung, 28 Agustus 2022

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................ii
BAB I
PENDAHULUAN.........................................................................................................1
1.1. Latar Belakang................................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah...........................................................................................2
1.3. Tujuan.............................................................................................................2
BAB II
PEMBAHASAN............................................................................................................3
2.1 Sejarah Awal Geometri Euclid.......................................................................3
2.2 Definisi, Aksioma, Postulat, Lemma, Teorema, dan Proposisi......................6
2.3 Perkembangan Geometri Euclid...................................................................21
2.4 Aplikasi Geometri Euclid.............................................................................27
BAB III
PENUTUP...................................................................................................................30
Kesimpulan..............................................................................................................30
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................31

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam pembelajaran matematika, Geometri adalah struktur matematika yang
membicarakan mengenai unsur dan relasi yang ada yaitu titik, garis, bidang, dan
ruang merupakan benda abstrak yang menjadi unsur dasar. Selain unsur dasar,
terdapat sifat-sifat pokok yaitu tidak berdasarkan sifat-sifat yang
mendahuluinnya yaitu aksioma dan postulat yang kemudian dapat diturunkan
menjadi dalil. Dalil merupakan serangkaian pernyataan yang dapat diterima.

Euclid dengan bukunya “the element” menjadikan buku tersebut salah satu hasil
karya terbaik dari matematika klasik. Pokok persoalan umum dalam karyanya
yaitu geometri. Sebelumnya kesimpulan geometri digambarkan melalui grafik
namun dianggap tidak memuaskan. Dilain pihak Euclid bergantung sepenuhnya
menggunakan gambar.

Postulat sejajar Euclid yaitu kalimat yang dinyatakan sebagai berikut “Jika dua
garis dibagi oleh garis transversal sedemikian sehingga jumlah dua sudut
interiornya (sudut dalam) pada sisi transversal adalah kurang dari 180o, garis
tersebut akan bertemu pada sisi transversal tersebut”, pernyataan ini menjadi satu
kalimat penting kontroversial intelektual dalam sejarah.

Sejarah pentingnya postulat didsari pada peran penting teori Euclid. Oleh karena
itu hal pertama adalah mensketsakan teori geometri bidang Euclid. Untuk dapat
mengubah teori menjadi bukti, lakukan pemeriksaan terhadap struktur teori. Hal
yang dilakukan tidak mengikuti detail teori Euclid, tetapi menekankan ide dasar
menggunakan istilah modern yang sesuai dengan sekarang.

1
1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1) Bagaimana sejarah awal dari Geometri Euclid?
2) Apa yang dimaksud dengan definisi, aksioma, postulat, lemma, dan proposisi?
3) Bagaimana perkembangan dari Geometri Euclid?
4) Bagaimana aplikasi penerapan geometri euclid?

1.3. Tujuan
Adapun tujuan dalam makalah ini adalah:
1) Mengetahui sejarah dari awal Geometri Euclid
2) Mengetahui yang dimaksud dengan definisi, aksioma, postulat, lemma, dan
proposisi
3) Mengetahui perkembangan dari Geometri Euclid
4) Mengetahui aplikasi penerapan geometri euclid

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Awal Geometri Euclid


Geometri berasal dari kata latin “Geometria” yaitu“Geo” yang berarti tanah dan
“Metria” yang berarti pengukuran. Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia,
“Geometri” merupakan cabang matematika yang menerangkan sifat-sifat garis,
sudut, bidang, dan ruang atau geometri juga berarti ilmu ukur. Sedangkan
menurut Wallace (1972) Geometri pada awalnya adalah metode survei, atau
pengukuran tanah yang dilakukan dengan pendekatan berdasarkan fakta dari
trial dan error untuk menuju penalaran deduktif, maksudnya mencakup
mengukur segala sesuatu yang ada di bumi. Geometri kuno sebagian dimulai
dari pengukuran praktis yang diperlukan untuk pertanian orang-orang Babylonia
dan Mesir. Kemudian geometri orang Babylonia dan Mesir ini diperluas untuk
perhitungan panjang ruas garis, luas, dan volume. Hasil-hasil ini sering
dinyatakan sebagai deret Aritmetika yang secara empiris tidak benar.

Geometri adalah salah satu ilmu tertua, dimana ilmu yang menyangkut geometri
telah ada sejak zaman Mesir Kuno, Lembah Sungai Indus dan Babilon, sekitar
3000 SM. Pada awalnya geometri hanya menitikberatkan pada jarak, luas,dan
volume. Tetapi pada abad ke-3 SM, geometri telah diletakkan dalam aksioma
Euclid yang disebut Geometri Euclid. Geometri Euclid selalu dikaitkan dengan
seorang matematikawan terkenal sepanjang abad yaitu Euclid (325-265 SM)
dari Alexandria, Mesir.

Euclid terkenal sebagai “Bapak Geometri”, matematikawan kuno yang


menghasilkan karya monumental. Karya tersebut adalah The Elements, buku itu
menjadi karya manusia terkenal dan akan selalu digunakan sepanjang masa.

3
Sekarang The Elements termuat di dalam buku teks sekolah yang berkatian
dengan geometri dan teori bilangan. Buku itu terdiri dari 13 bagian buku. Setiap
buku diawali dengan definisi, postulat (hanya untuk buku I), proposisi, teorema
sebelum ditutup dengan pembuktian dengan menggunakan definisi dan postulat
yang sudah disebutkan.

Buku 1 sampai 6 memuat tentang geometri datar yaitu segitiga, segiempat,


lingkaran, segi banyak, perbandingan dan kesebangunan. Buku 7 sampai dengan
10 tentang teori bilangan, buku 11 tentang geometri ruang yang berhubungan
dengan geometri dengan geometri datar. Buku ke12 membahas tentang limas,
kerucut dan tabung dan buku ke-13 membahas bidang banyak.

Garis besar isi masing-masing buku adalah :


Buku I : Dasar-dasar tentang geometri bidang yang melibatkan garis lurus
Buku II : Dasar-dasar tentang aljabar geometri
Buku III : Dasar-dasar tentang geometri bidang yang melibatkan lingkaran
Buku IV : Konstruksi tentang garis lurus di dalam dan keliling lingkaran
Buku V :Perbandingan
Buku VI : Bentuk yang sebangun
Buku VII : Dasar-dasar teori bilangan
Buku VIII : Perbandingan lanjutan
Buku IX : Aplikasi teori bilangan
Buku X : Besaran yang tidak dapat dibandingkan
Buku XI : Dasar ilmu ukur bidang dan ruang/dimensi 3
Buku XII : Kesebangunan pada segi banyak beraturan dan bangun ruang
Buku XIII : Benda pejal/padat

Sebagian besar teorema muncul dalam The Element tidak ditemukan oleh
Euclid sendiri, tetapi merupakan hasil karya matematikawan Yunani
sebelumnya seperti Pythagoras, Hippocrates Chios, Theaetetus Athena, dan

4
Eudoxus dari Cnidos. Namun, Euclid biasanya terkenal dengan pengaturan
teorema secara logis, sehingga dapat menunjukkan (diakui, tidak selalu dengan
ketelitian yang dituntut oleh matematika modern) bahwa mereka harus
mengikuti dari lima aksioma sederhana. Euclid terkenal dengan rancangan
sejumlah bukti cerdik terutama teorema sebelumnya ditemukan: misalnya,
Teorema 48 pada Buku 1.

Elements juga memasukkan lima “notasi biasa” yaitu :


1) Perkara yang sama dengan benda yang sama tetapi juga setara antara satu
sama lain.
2) Jika setara ditambahkan kepada persamaan, maka jumlah keseluruhan juga
adalah setara.
3) Jika setara ditolak daripada persamaan, maka bakinya juga adalah setara.
4) Perkara yang bertembung di antara satu sama lain juga setara antara satu
sama lain that coincide with one another equal one another.
5) Jumlah keseluruhan juga lebih besar daripada bahagian berkenaan.

Arti penting buku The Elements tidak terletak pada pernyataan rumus-rumus
pribadi yang dilontarkan Euclid. Hampir semua teori yang terdapat didalam buku
itu pernah ditulis orang sebelumnya dan telah terbukti kebenarannya. Kontribusi
Euclid terletak pada cara pengaturan dari bahan-bahan dan permasalahan serta
formulasinya secara menyeluruh dalam perencanaan penyusunan buku. Di sini
yang paling utama adalah pemilihan dalil-dalil serta perhitungan-perhitungannya,
misalnya tentang kemungkinan menarik garis lurus di antara dua titik. Sesudah
itu, dengan cermat dan hati-hati dia mengatur dalil sehingga mudah dipahami
oleh orang-orang sesudahnya.

Adapun hasil karya yang telah Euclid tulis antara lain ::


1) The Elements, pendekatan sistematik dan aksiomatik terhadap geometri.

5
2) The Data, berhubungan dengan sifat dan implikasi dalam masalah geometris;
dan terkait dengan jilid ke-4 buku The Elements.
3) On Divisions of Figures, menyangkut pembagian bidang geometris menjadi
dua atau lebih bagian yang sama atau dengan rasio tertentu.
4) Catoptrics, menyangkut teori matematika cermin, yaitu bentuk gambar pada
cermin cekung.
5) Phaenomena, sebuah risalah astronomi bola.
6) Optik adalah perspektif awal yang masih bertahan di Yunani. Yaitu Euclid
mengikuti tradisi Platonis dimana Vision atau pandangan tersebut disebabkan
oleh sinar diskrit yang berasal dari mata. Hal-hal yang dilihat di bawah sudut
yang lebih besar tampak lebih besar, di bawah sudut yang lebih rendah
tampak lebih kecil, sementara yang di bawah sudut yang sama adalah sama.

Pada umumnya orang-orang Eropa tidak beranggapan bahwa geometri ala Euclid
hanyalah sebuah sistem abstrak. Mereka justru sangat yakin bahwa gagasan
Euclid benar-benar merupakan kenyataan yang sesungguhnya. Pengaruh Euclid
terhadap Isaac Newton juga sangat kentara. The Principe karya Newton mirip
dengan The Elements. Selain itu, berbagai ilmuwan juga mencoba menyamakan
diri dengan Euclid. Caranya dengan memperlihatkan bagaimana semua
kesimpulan mereka secara logis 4 berasal dari asumsi asli. Itulah yang antara lain
dilakukan oleh ahli-ahli matematika seperti Bertrand Russel, Alfred North
Whitehead, dan filosof Spinoza. Kini para ahli matematika telah memaklumi
bahwa geometri Euclid bukan satu-satunya sistem geometri yang menjadi
pegangan pokok. Mereka maklum bahwa selama 150 tahun terakhir banyak
orang yang merumuskan geometri bukan ala Euclid.

2.2 Definisi, Aksioma, Postulat, Lemma, Teorema, dan Proposisi


1. Definisi

6
Definisi adalah kata, frasa atau kalimat yang mengungkapkan makna,
keterangan atau ciri utama dari orang, benda, proses atau aktivitas. Atau
definisi adalah rumusan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu konsep yang
menjadi pokok pembicaraan atau studi.

Dalam pembelajaran geometri ada beberpa definisi pada komponen utama


geometri euclid yang tercantum pada buku 1 “the element”, yaitu:
1) Definisi1: Titik adalah sesuatu yang tidak punya bagian (sesuatu yang
punya posisi tetapi tidak punya dimensi)
2) Definisi 2: garis adalah sesuatu yang punya panjang tetapi tidak punya
lebar.
3) Definisi 3: Ujung-ujung suatu garis adalah titik
4) Definisi 4: Garis lurus adalah garis yang terletak secara rata dengan titik-
titik pada dirinya
5) Definisi 5: Bidang adalah sesuatu yang hanya mempunyai panjang dan
lebar
6) Definisi 6: Sisi-sisi dari bidang berupa garis
7) Definisi 7: Bidang datar adalah bidang yang terletak secara rata dengan
garis-garis lurus pada dirinya
8) Definisi 8: Sudut bidang terbentuk dari dua garis pada bidang yang
bertemu pada sebuah titik dan tidak terletak dalam sebuah garis lurus
9) Definisi 9: Dan ketika garis-garis yang membentuk sudut lurus, sudut
tersebut disebut rectilinear
10) Definisi 10: Ketika garis lurus berdiri pada sebuah garis lurus dan
membentuk sudut berdekatan yang besarnya sama, masing-masing sudut
tersebut adalah sudut siku-siku, dan garis yang berdiri dikatakan tegak
lurus dengan garis kurus tempatnya berdiri
11) Definisi 11: Sudut tumpul adalah sudut yang lebih besar dari sudut siku-
siku.

7
12) Definisi 12: Sudut lancip adalah sudut yang lebih kecil dari sudut siku-
siku.
13) Definisi 13: Batas adalah sesuatu yang merupakan ujung dari apapun
14) Definisi 14: Bangun adalah sesuatu yang dibentuk oleh batas atau batas-
batas.
15) Definisi 15: Lingkaran adalah bangun datar yang dibentuk oleh satu garis
sedemikian hingga semua garis lurus yang jatuh pada bangun tersebut dari
sebuah titik di dalam bangun tersebut pada bangun tersebut panjangnya
sama
16) Definisi 16: Dan titik tersebut disebut pusat lingkaran
17) Definisi 17: Diameter lingkaran adalah suatu garis lurus yang digambar
melalui pusat lingkaran dan berakhir di dua arah keliling lingkaran
18) Definisi 18: Setengah lingkaran adalah bangun yang dibangun oleh
diameter dan keliling lingkaran yang dipotong oleh diameter
19) Definisi 19: Bangun-bangun rectilinear adalah bangun-bangun yang
dibentuk oleh garis lurus. Bangun segitiga adalah bangun yang dibentuk
oleh tiga garis lurus, bangun segiempat adalah bangun yang dibentuk
oleh empat garis lurus, bangun segibanyak adalah bangun yang dibentuk
oleh lebih dari empat garis lurus
20) Definisi 20: Dari bangun segitiga, segitiga sama sisi adalah segitiga yang
memiliki tiga sisi yang sama, segitiga sama kaki adalah segitiga yang
memiliki dua sisi yang sama, segitiga sembarang (segitiga tak sama
panjang) adalah segitiga yang ketiga sisinya tidak ada yang sama
21) Definisi 21: Selanjutnya, pada bangun segitiga, segitiga siku-siku adalah
segitiga yang memiliki sudut siku- siku, segitiga tumpul adalah segitiga
yang memiliki sudut tumpul, segitiga lancip adalah segitiga yang
memiliki sudut lancip
22) Definisi 22: Pada bangun segiempat, persegi adalah bangun yang semua
sisinya memiliki panjang yang sama dan memiliki sudut siku-siku,
persegi panjang adalah bangun yang memilik sudut siku- siku tetapi tidak

8
memiliki dua pasang sisi yang panjangnya sama, belah ketupat adlah
bangun yang semua panjang sisinya sama tetapi tidak memiliki sudut
suku-siku
23) Definisi 23: Garis-garis lurus sejajar adalah garis lurus yang berada pada
bidang datar yang sama, dan jika diperpanjang secara terus menerus pada
kedua arah tidak akan berpotongan di arah manapun.

2. Aksioma
Aksioma adalah pendapat yang dijadikan pedoman dasar dan merupakan dalil
pemula, sehingga kebenarannya tidak perlu dibuktikan lagi atau aksioma yaitu
suatu pernyataan yang diterima sebagai kebenaran dan bersifat umum untuk
semua cabang ilmu, tanpa memerlukan pembuktian. Aksioma bukan istilah
matematika.aksioma adalah sebuah pernyataan logika, yang bisa diterapkan
dalam seluruh aspek kehidupan.

Beberapa aksioma yang diperlukan dalam geometri ruang dikemukakan oleh


Euclid. Aksioma dasar dalam geometri antara lain:
1) Hal-hal yang sama dengan hal yang sama, satu dengan yang lainnya juga
sama.
2) Jika sesuatu yang sama ditambah dengan sesuatu yang sama, jumlahnya
sama

Contoh aksioma pada geometri euclid yang tercantum dalam buku “the
element” adalah :
1) Aksioma 1: Hal-hal yang sama adalah sama dengan suatu yang lain
2) Aksioma 2: Jika sesuatu yang sama ditambah dengan sesuatu yang sama,
jumlahnya sama. A=B, C=D maka A+C=B+D
3) Aksioma 3: Jika sesuatu yang sama dikurangi dengan sesuatu yang sama,
sisanya sama
4) Aksioma 4: Hal-hal yang berimpit satu sama lain, hal-hal tersebut sama

9
5) Aksioma 5: Keseluruhan lebih besar dari pada sebagian

3. Postulat
Postulat adalah asumsi yang menjadi pangkal dalil yang dianggap benar tanpa
perlu membuktikannya, anggapan dasar untuk satu ilmu tertentu. Contoh
postulat dalam geometri Euclid :
1) Melalui dua titik sebarang dapat dibuat garis lurus
2) Ruas garis dapat diperpanjang secara kontinu menjadi garis lurus
3) Melalui sebarang titik dan sebarang jarak dapat dilukis lingkaran
4) Semua sudut siku-siku sama.
5) Jika suatu garis lurus memotong dua garis lurus dan membuat sudut-sudut
dalam sepihak kurang dari dua sudut siku-siku, kedua garis tersebut jika
diperpanjang tak terbatas, akan bertemu dipihak tempat kedua sudut dalam
sepihak kurang dari dua sudut siku-siku.

4. Lemma
Lemma adalah suatu proposisi (pernyataan) yang digunakan untuk
pembuktian pernyataan lainnya. Umumnya tidak ada perbedaan antara lemma
dengan teorema, namun istilah lemma digunakan untuk mengacu pada sebuah
pernyataan yang digunakan sebagai bagian untuk membuktikan sebuah
teorema yang lebih besar.

5. Teorema
Teorema adalah suatu pernyataan matematika yang masih memerlukan
pembuktian. Contoh dalam geometri : jika dua buah bidang yang berbeda
beririsan (berpotongan) maka irisannya berupa garis

6. Proporsisi
Proporsisi adalah suatu hasil yang terbukti dan sering menarik, tetapi biasanya
tidak lebih penting daripada suatu teorema.

10
Beberapa proporsi geometri euclid :
a. Proposisi 1: Jika diberikan garis lurus dengan panjang terbatas, maka
dapat dibuat segitiga sama sisi.

Gambar 1. Proposisi 1
Bukti: Diberikan AB.
Buat lingkaran L1 dengan pusat A dan jari-jari AB ………. (postulat 3)
Buat lingkaran L2 dengan pusat B dan jari-jari AB ………. (postulat 3)
L1 dan L2 berpotongan di C.Tarik garis dari A ke C dan dari B ke C
………. (postulat 1)
∆ABC adalah segitiga sama sisi (terbukti)

b. Proposisi 2: Jika diberikan sebuah garis lurus dan sebuah titik di luar
garis, maka melalui titik tersebut dapat dibuat garis lurus yang
panjangnya sama dengan garis lurus yang diberikan

11
Gambar 2. Proposisi 2

Bukti:
Diberikan garis AB dan titik C di luar AB.
Buat lingkaran L1 dengan pusat B dan jari-jari AB ………. (postulat 3)
Tarik garis dari B ke C ………. (postulat 1)
Buat segitiga sama sisi melalui BC ………. (proposisi 1) Namakan
∆BCD
Perpanjang BD sampai memotong L1 di E ………. (postulat 2)
Buat lingkaran L2 dengan pusat D dan jari-jari DE ………. (postulat 3)
Perpanjang CD sampai memotong L2 di F ………. (postulat 2)
BE = AB ………. (jari-jari L1) ……….1) DE = DF ………. (jari-jari
L2)
DB + BE = DC + CF ………. (aksioma 1) Karena DB = DC ……….
(∆BCD sama sisi) Maka BE = CF ………. (aksioma 2) ……….2) Dari
1) dan 2) diperoleh AB = CF

c. Proposisi 3: Jika diberikan dua garis lurus dengan panjang berbeda, maka
garis lurus yang lebih panjang dapat dipotong sehingga panjangnya sama
dengan garis lurus yang lebih pendek.

d. Proposisi 4: Jika dua buah segitiga memiliki dua sisi bersesuaian yang
panjangnya sama dan sudut-sudut yang dibentuk oleh kedua sisi tersebut
besarnya juga sama, maka panjang sisi dan besar sudut yang bersesuaian
lainnya juga sama.

e. Proposisi 5: Dalam segitiga sama kaki, sudut-sudut alas besarnya sama


dan jika kedua kaki diperparjang maka sudut-sudut di bawah alas juga
sama besar.

12
f. Proposisi 6: Jika dua sudut dalam sebuah segitiga besarnya sama, maka
sisi-sisi yang berhadapan dengan sudut tersebut panjangnya juga sama.

g. Proposisi 7: Jika alas dua buah segitiga berimpit, dan sisi-sisi yang
bersesuaian pada dalam segitiga-segitiga tersebut sama panjang dan
searah, maka titik potong sisi-sisi yang bersesuaian dalam setiap segitiga
berimpit

h. Proposisi 8: Jika sisi-sisi yang bersesuaian dalam setiap segitiga


panjangnya sama, maka sudut-sudut yang bersesauaian besarnya juga
sama.

i. Proposisi 9: Sudut rectilinear dapat dibagi menjadi dua sama besar.

j. Proposisi 10: Garis lurus terbatas dapat dibagi menjadi dua bagian yang
sama panjang

k. Proposisi 11: Jika diberikan sebuah garis lurus dan sebuah titik pada
garis lurus tersebut, maka melalui titik tersebut dapat dibuat garis lurus
yang tegak lurus pada garis lurus yang diberikan

Gambar 3. Proposisi 11
Bukti :
Diberikan sebuah garis lurus AB , dan C terletak pada garis tersebut.
Akan dibuktikan bahwa melalui titik C, dapat dibuat garis lurus yang
tegak lurus dengan garis lurus AB.

13
Misalkan titik D adalah sebarang titik pada AC, maka dapat dibuat garis
CE yang sama dengan CD (Proposisi 2), dan melalui DE dapat dibuat
segitiga sama sisi FDE (Proposisi 1) dengan FC di dalamnya. Akan
ditunjukkan bahwa garis lurus FC membentuk sudut siku-siku terhadap
garis lurus AB dari titik C yang diberikan.
Karena DC sama dengan CE, dan CF adalah garis persekutuan, maka
kedua garis lurus DC dan CF sama dengan masing-masing dua garis
lurus EC dan CF. FDE adalah segitiga sama sisi, maka DF sama dengan
FE, sehingga sudut DCF sama dengan sudut ECF (proposisi 8), dan
mereka saling berdekatan.
Berdasarkan definisi 10,” ketika garis lurus berdiri pada sebuah garis
lurus dan membentuk sudut berdekatan yang besarnya sama, masing-
masing sudut tersebut adalah sudut siku-siku, dan garis yang berdiri
dikatakan tegak lurus dengan garis lurus tempatnya berdiri”. Sehingga
masing-masing sudut DCF dan FCE adalah sudut siku-siku, dan terbukti
bahwa garis lurus FC membentuk sudut siku-siku terhadap garis lurus
AB dari titik C yang diberikan.

l. Proposisi 12: Jika diberikan sebuah garis lurus dan sebuah titik di luar
garis lurus tersebut, maka melalui titik tersebut dapat dibuat garis lurus
yang tegak lurus pada garis lurus yang di berikan.

m. Proposisi 13: jika sebuah garis lurus berdiri pada sebuah garis lurus,
maka akan membentuk dua sudut siku siku atau sudut yang jumlahnya
sama dengan dua sudut siku siku.

n. Proposisi 14: Diberikan sebuah garis lurus dan sebuah titik pada garis
tersebut, jika dua daris lurus melalui titik tersebut dan membentuk sudut
yang besarnya sama dengan dua kali sudut siku-siku, maka kedua garis
lurus tersebut segaris.

14
o. Proposisi 15: Jika dua buah garis lurus berpotongan, maka akan
terbentuk dua sudut bertolak belakang yang besarnya sama. Akibat : jika
dua buah garis lurus berpotongan, maka sudut-sudut pada titik potong
tersebut jumlahnya sama dengan empat sudut siku siku.

p. Proposisi 16: Jika salah satu sisi dalam segitiga diperpanjang, maka
sudut eksteriornya lebih besar dari pada sudut interior yang tidak
bersisian.

Gambar 4. Proposisi 16
Bukti:
Misalkan diketahui ∆ABC dan D pada perpanjangan BC.
Pertama kita tunjukkan bahwa sudut luar  ACD >  A.
Potong AC menjadi 2 bagian, misalkan di E .......... (proposisi 10)
Perpanjang BE melalui E hingga ke F sedemikian hingga BE = EF ..........
(postulat 2)
Karena AE = EC, BE = EF,
AEB = CEF (bertolak belakang)
Maka ∆ AEB  ∆ CEF (ss-sd-ss) ........... (proposisi 4) Jadi  BAE = 
FCE (sudut yang bersesuaian)
Karena ACD > FCE .......... (aksioma 5)
Maka ACD >  BAE =  A ............ ( BAE =  FCE)
Selanjutnya akan ditunjukkan bahwa  ACD >  B
Perpanjang AC melalui C hingga ke H
Potong BC menjadi 2 bagian, misalkan di M .......... (proposisi 10)

15
Perpanjang AM melalui M hingga ke G sedemikian hingga AM =
MG .......... (postulat 2) Karena BM = MC,
AM = MG,
 AMB =  CMG (bertolak belakang)
Maka ∆ AMB  ∆ CMG (ss-sd-ss) ........... (proposisi 4)
Jadi  ABM =  GCM (sudut yang bersesuaian)
Karena  MCH >  GCM .......... (aksioma 5)
Maka  MCH >  ABM =  B ............ (  ABM =  GCM)
Karena  MCH =  ACD .......... (bertolak belakang)
Maka  ACD >  B

q. Proposisi 17: Jumlah dua sudut dalam segitiga kurang dari dua sudut
siku-siku.

Gambar 5. Proposisi 17 (a)

Gambar 6. Proposisi 17 (b)

Misalkan diketahui ABC.


Akan ditunjukkan bahwa  A +  B < dua sudut siku-siku. Karena Geo
Euclid menitik beratkan pembuktian pada gambar, dapat disimpulkan
ABD = dua sudut siku-siku –  B ......................... (1)
Menurut aksioma 2, ”jika sesuatu yang sama ditambah dengan sesuatu
yang sama, nilainya sama” sehingga persamaan (1) menjadi:

16
ABD + B = dua sudut siku-siku – B + B
ABD +  B = dua sudut siku-siku ......................... (2)
Kemudian perpanjang CB melalui B ke titik D, maka ABD adalah
sudut luar  ABC. Berdasarkan Teorema 16 ” Dalam segitiga jika salah
satu sisi diperpanjang, maka sudut eksteriornya lebih besar dari sudut
interior yang tidak bersisian dengan sudut tersebut ” maka
ABD >  A ....................... (3)
Dari (2), (3), dan aksioma 5, ”Seluruhnya lebih besar daripada sebagian”
diperoleh:
A + B < dua sudut siku-siku ............................... (4)
Dengan cara yang sama dapat diperoleh:
A + C < dua sudut siku-siku ............................... (5)
C + B < dua sudut siku-siku ............................... (6)
Dari (4), (5), dan (6) terbukti bahwa dalam segitiga jumlah dua sudut
kurang dari dua sudut siku-siku. TERBUKTI

r. Proposisi 18: Dalam segitiga, sudut dihadapan sisi yang lebih panjang
juga lebih besar.

s. Proposisi 19: Dalam segitiga, sisi dihadapan sudut yang lebih besar juga
lebih panjang.

t. Proposisi 20: Jumlah dua sisi dalam segitiga lebih besar dari sisi yang
lainnya.

u. Proposisi 21: Jika dari ujung-ujung salah satu sisi segitiga dibuat
dua garis lurus sedemikian hingga membentuk segitiga baru, maka
jumlah kedua sisi (yang tidak berimpit) segitiga baru lebih kecil daripada
jumlah kedua sisi (yang tidak berimpit) segitiga awal, tetapi besar sudut
yang dibentuk lebih besar.

17
v. Proposisi 22 Jika diberikan tiga garis lurus maka dari garis lurus, maka
dapat dibentuk sebuah segitiga.

w. Proposisi 23: Jika diberikan sebuah sudut dan sebuah garis lurus, maka
melalui garis lurus tersebut dapat dibuat sudut yang besarnya sama
dengan yang diberikan.

x. Proposisi 24: Jika dua buah segitiga memiliki dua sisi yang bersesuaian,
tetapi sudut yang dibentuk oleh sisi- sisi tersebut pada segitiga pertama
lebih besar, maka alas segitiga pertama lebih panjang.

y. Proposisi 25: Jika dua buah segitiga memiliki dua bersesuaian sisi yang
sama besar, tetapi sisi lainnya pada segitiga pertama lebih besar daripada
yang di segitiga yang ke dua, maka sudut yang berhadapan dengan sisi
yang lebih besar pada segitiga pertama juga lebih besar daripada yang di
segitiga ke dua.

z. Proposisi 26: Jika dua buah segitiga memiliki dua sudut bersesuaian
sama besar dan sisi yang terkait dengan sudut-sudut tersebut sama
panjang, maka sudut dan sisi yang bersesuaian lainnya juga sama besar.

aa. Proposisi 27: Jika sebuah garis lurus memotong dua garis lurus dan
membentuk sudut dalam berseberangan yang sama besar, maka kedua
garis lurus yang dipotong btersebut sejajar.

Gambar 7. Proposisi 27

18
Misalkan sebuah garis transversal memotong dua garis k dan m di titik A
dan B dan membentuk sepasang sudut dalam bersebrangan  1 dan  2
yang sama.
Andaikan k dan m tidak sejajar, maka keduanya berpotongan di titik C,
dan membentuk ∆ABC. Titik C terletak di sebelah kiri AB atau di
sebelah kanannya. Dalam hal ini sudut luar ∆ ABC sama dengan sudut
dalam yang tidak bersisian dengannya (Hal ini kontradiksi dengan
proposisi16), jadi pengandaian salah. Garis m dan k sejajar.

bb. Proposisi 28: Jika sebuah garis lurus memotong dua garis lurus dan
membentuk sudut eksterior sama dengan sudut interior yang tidak
bersisian (sehadap), atau jumlah sudut interiornya sama dengan dua sudut
siku-siku, maka kedua garis lurus yang dipotong tersebut sejajar.

cc. Proposisi 29: Jika sebuah garis lurus memotong dua garis lurus yang
sejajar dan membentuk sudut dalam berseberangan yang sama besar,
maka sudut eksterior sama dengan sudut interior yang tidak bersisian
(sehadap), dan jumlah sudut interiornya sama dengan dua sudut siku-
siku.

dd. Proposisi 30: Jika dua buah garis lurus sejajar dengan sebuah garis
lurus, maka kedua garis lurus tersebut sejajar satu sama lain.

ee. Proposisi 31: Melalui sebuah titk di luar garis lurus dapat dibuat garis
lurus yang sejajar dengan garis lurus tersebut.

ff. Proposisi 32: Dalam sebuah segitiga, jika salah satu sisi diperpanjang,
maka besar sudut eksterior sama dengan jumlah besar sudut interior
yang tidak bersisian.

19
gg. Proposisi 33: Garis lurus yang terkait dengan ujung-ujung garis lurus
yang sejajar dan sama panjang juga sejajar dan sama panjang.

hh. Proposisi 34: Dalam jajar genjang, sudut-sudut yang tidak bersisian
(berhadapan) sama besar dan diagonalnya membagi dua daerahnya
sama besar.

ii. Proposisi 35: Jika dua buah jajargenjang terletak pada garis-garis sejajar
yang sama dan alasanya berimpit maka luas kedua jajargenjang tersebut
sama.

jj. Proposisi 36: Jika dua buah jajargenjang terletak pada garis-garis
sejajar yang sama dan alasanya sama panjang maka luas kedua
jajargenjang tersebut sama.

kk. Proposisi37: Jika dua buah segitiga terletak pada garis-garis sejajar yang
sama dan alasnya berimpit maka luas kedua jajargenjang tersebut sama.

ll. Proposisi 38: Jika dua buah segitiga terletak pada garis-garis sejajar yang
sama dan alasanya sama panjang maka luas kedua jajargenjang tersebut
sama.

mm. Proposisi 39: Jika dua buah segitiga memiliki luas yang sama dan
alasnya serta sisinya berimpit, maka kedua segitiga tersebut terletak pada
garis-garis sejajar yang sama.

nn. Proposisi 40: Jika dua buah segitiga memiliki luas yang sama dan alasnya
serta sisinya sama panjang, maka kedua segitiga tersebut terletak pada
garis-garis sejajar yang sama.

20
oo. Proposisi 41: Jika sebuah jajargenjang memiliki alas yang berimpit
dengan alas sebuah segitiga dan terletak dalam garis sejajar yang sama,
maka luas jajargenjang sama dengan dua kali alas segitiga.

pp. Proposisi 42: Jika diberikan sebuah segitiga dan sebuah sudut
rectilinear, maka melalui sudut rectilinier tersebut dapat dibuat
jajargenjang yang luasnya sama dengan dua kali luas segitiga tersebut.

qq. Proposisi 43: Dalam jajargenjang, komplemen-komplemen jajargenjang


pada diagonal memiliki luas yang sama.

rr. Proposisi 44: Jika diberikan sebuah garis lurus, sebuah sudut rectilinear,
dan sebuah segitiga, maka melalui sudut dan garis lurus tersebut dapat
dibuat sebuah jajargenjang yang luasnya sama dengan dua luas segitiga
yang diberikan.

ss. Proposisi 45: Jika diberikan sebuah sudut dan sebuah bidang rectilinear,
maka melalui sudut tersebut dapat dibuat jajargenjang yang luasnya sama
dengan bidang yang diberikan.

tt. Proposisi 46: Melalui sebuah garis dapat dibuat sebuah jajargenjang.

uu. Proposisi 47: Dalam segitiga siku-siku, kuadrat sisi di hadapan sudut
siku-siku sama dengan jumlah kuadrat dua sisi yang lainnya.

vv. Proposisi 48: Jika dalam segitiga kuadrat salah satu sisi sama dengan
jumlah kuadrat dua sisi yang lainnya, maka sudut yang dibentuk oleh dua
sisi yang lainnya tersebut adalah siku-siku.

2.3 Perkembangan Geometri Euclid

21
Postulat kelima Euclid yang berbeda dengan keempat postulat lainnya
menimbulkan kontroversi dan mencuri perhatian para tokoh geometri. Dua
postulat pertama adalah abstraksi dari hasil menggambar dengan garis lurus.
Untuk postulat ketiga berisi tentang abstraksi dari hasil menggambar dengan
jangka. Postulat keempat Euclid mungkin kurang jelas sebagai abstraksi, namun
postulat tersebut merupakan hasil dari pengukuran sudut dengan busur derajat.
Sedangkan postulat kelima Euclid sulit untuk dibuktikan melalui percobaan
apakah dua garis dapat berpotongan, karena bila menggambar garis hanya
terbatas dan memperpanjang garis tersebut akan terbatas pula.

Bunyi postulat kelima Euclid yaitu : “If straight line falling on two straight lines
makes the interior angles on the same side less than two right angles, the two
straight lines, if produced indefinitely, meet on that side on which are the angles
less than the two right angle.”. Dalam perkembangan geometri, beberapa
matematikawan mencoba membuktikan postulat tersebut. Matematikawan tersebut
berasal dari berbagai wilayah dan waktu, yaitu matematikawan Yunani, Arab, dan
Eropa. Beberapa matematikawan yang telah mengkaji postulat kelima Euclid
adalah:

1. Matematikawan Yunani
Dalam bentuk teorema, Poseidonius (135–51 SM) mencoba merumuskan
ulang postulat kelima Euclid dan berusaha membuktikannya dengan
pernyataan dua garis yang sejajar berjarak sama. Sedangkan Claudius
Ptolemy (85–165) merumuskan ulang postulat tersebut dengan pernyataan:
jika dua garis sejajar dipotong oleh garis transversal, maka jumlah sudut-
sudut dalam pada satu sisi akan sama dengan jumlah sudut-sudut dalam
pada sisi lainya. Commentary adalah buku yang ditulis oleh Proclus (410 –
485), dan isinya menyatakan bahwa postulat kelima Euclid dapat
dibuktikan melalui postulat-postulat sebelumnya. Namun, diketahui bahwa

22
terdapat kesalahan dalam proses pembuktian Proclus. ia menyatakan bahwa
postulat kelima Euclid dapat dinyatakan dengan dua pernyataan berikut:
a. garis-garis sejajar mempunyai jarak yang konstan satu dengan lainnya.
b. melalui sebuah titik P di luar garis l ada tepat satu garis melalui P yang
sejajar l

2. Matematikawan Arab
Ibnu Al-Haytam atau yang dikenal di Eropa dengan Alhazen (965-1039)
merupakan matematikawan Arab dari Irak. Ia berusaha membuktikan
postulat kelima Euclid dengan menggunakan metode kontradiksi. Ibnu
Al-Haytam membuat empat persegi panjang yang sekarang ini dikenal
dengan nama Lambert’s quadrilateral. Ada pula pembuktian cara lain
yang juga dilakukan oleh Al-Haytam adalah mirip dengan yang kemudian
hari dikenal sebagai Aksioma Playfair. Sehingga Lambert dan Playfair
diduga terinspirasi oleh al-Haytam.

Orang yang pertama kali menyatakan adanya kemungkinan geometri baru


yang bukan geometri Euclid yaitu Omar Khayyam (1048 - 1131). Jauh
sebelum Saccheri menciptakan Saccheri quadrilateral, pada abad 11
Omar Khayyam telah menciptakan hal yang sama. Sehingga, Saccheri
diduga terinspirasi oleh pekerjaan yang dilakukan Omar Khayyam.
Menurut Omar Khayyam, ada tiga kemungkinan yang berkaitan dengan
postulat kelima Euclid, yaitu jika dua buah garis tegak lurus terhadap
sebuah garis lain yang memotong keduanya, maka ujung-ujung kedua
garis yang tegak lurus tersebut akan membentuk dua buah sudut dalam
yang sama besarnya dengan tiga kemungkinan (1) kedua sudut dalam
tersebut siku-siku, (2) kedua sudut dalam tersebut lancip, dan (3) kedua
sudut dalam tersebut tumpul. Untuk kemungkinan sudut lancip dan
tumpul, Omar Khayyam meyakinkan dirinya bahwa dari keduanya hanya
akan diperoleh kontradiksi-kontradiksi dengan geometri Euclid, namun ia

23
juga yakin bahwa kedua kemungkinan tersebut akan menghasilkan
geometri baru. Ternyata kedua kemungkinan tersebut terbukti merupakan
asumsi yang ekuivalen dengan postulat kelima Euclid.

Pada tahun 1250, Nasir Eddin (al-Din) at-Tusi menulis sebuah buku
berjudul Al-Risala al-Shafiya’an al-Shakk fi’l-Khutut al-Mutawaziya
(Discussion Which Removes Doubt about Parallel Lines). Buku tersebut
berisi kritikan terhadap postulat kelima Euclid dan pembuktian yang telah
dilakukan oleh Omar Khayyam sekitar satu abad sebelumnya. Nasir
Eddin membuktikan postulat tersebut, yaitu menggunakan metode
kontradiksi. Hasil yang diperoleh Nasir Eddin disempurnakan oleh
anaknya Sad’r al-Din (terkadang disebut Pseudo-Tusi) beberapa tahun
kemudian. Dengan berdasar pada hasil pemikiran ayahnya, Sad’r al-Din
mengutarakan hasil kerjanya ke dalam sebuah buku yang terbit pada
tahun 1298. Buku tersebut memberikan alasan-alasan paling awal
mengenai hipotesa non-Euclid yang ekuivalen dengan postulat kelima
Euclid. Sad’r al-Din juga merevisi aksioma-aksioma dan postulat-postulat
dalam geometri Euclid serta memperbaiki beberapa bukti dari usulan
dalam buku the Elements. Hasil kerjanya kemudian diterbitkan di Roma,
Italia pada tahun 1594 dan dipelajari oleh para ahli geometri Eropa,
termasuk oleh Girolamo Saccheri. Buku Sad’r al-Din menjadi dasar bagi
Girolamo Saccheri, seorang profesor matematika di Universitas Pavio,
Italia, dalam membuktikan postulat kelima oleh Euclid.

3. Matematikawan Eropa
Pada tahun 1663, John Wallis (1616-1703) mencoba membuktikan
postulat kelima Euclid dengan berdasar pada empat postulat sebelumnya.
Wallis berspekulasi bahwa ia telah berhasil membuktikan postulat kelima
Euclid, namun ternyata keliru. Wallis membuktikan postulat kelima

24
Euclid dengan cara membuktikan pernyataan yang bersesuaian maknanya
dengan postulat tersebut, yaitu:
 untuk setiap segitiga, akan terdapat sebuah segitiga sebarang yang
ukurannya sama;
 misalkan diberikan sebuah segitiga ABC dan segmen DE, maka
ada sebuah segitiga DEF yang sebangun dengan segitiga ABC.
Girolamo Saccheri (1667-1733) membuktikan postulat kelima Euclid
sebagai suatu teorema dengan dua cara (1) menggunakan 28 proposisi
Euclid yang pertama dan (2) menolak postulat kelima Euclid dengan
metode kontradiksi. Saccheri menyatakan ulang postulat kelima Euclid
dengan pernyataan: jumlah sudut-sudut dalam dari suatu segitiga adalah
dua kali sudut siku-siku. Pada akhirnya, Saccheri tidak berhasil
menunjukkan bahwa postulat kelima merupakan suatu teorema. Namun,
Saccheri tidak menyadari bahwa yang dilakukannya adalah menemukan
geometri non-Euclid. Hasil temuannya kemudian menjadi dasar, ide atau
gagasan baru untuk perkembangan Geometri Non-Euclid.

Pada tahun 1794, Adrien-Marie Legendre (1752-1833) menulis Elements


de Geometrie. Dalam publikasinya, Legendre menulis ulang proposisi-
proposisi Euclid dari buku the Elements dengan lebih sederhana.
Legendre juga berusaha untuk membuktikan bahwa postulat kelima
Euclid dapat dibuktikan dengan menggunakan keempat postulat lainnya.
Pada akhirnya, Legendre sampai pada suatu pernyataan yang ekuivalen
dengan postulat kelima Euclid. Namun, Legendre tidak berhasil
membuktikan bahwa postulat kelima Euclid independen terhadap
keempat postulat lainnya. Dalam rangka membuktikan postulat kelima
Euclid, Legendre mengajukan tiga masalah yang saling lepas, yaitu
jumlah sudut-sudut segitiga akan (1) lebih besar dari dua sudut siku-siku,
(2) dua kali sudut siku-siku, dan (3) lebih kecil dari dua sudut siku-siku.
Berkaitan dengan masalah pertama, dihasilkan banyak kontradiksi dan

25
untuk masalah ketiga, Legendre tetap saja menemukan kegagalan
meskipun telah mencoba membuktikan berulang kali

Pada dasarnya, semua studi tentang kesejajaran Euclid tetap mendukung


kebenaran postulat kelima Euclid dan semakin meyakinkan bahwa
postulat kelima Euclid bukanlah suatu pernyataan yang kebenarannya
harus dibuktikan. Upaya seluruh ahli matematika dalam menunjukkan
bahwa postulat kelima Euclid sesungguhnya adalah suatu teorema tidak
pernah berhasil. Namun, upaya mereka tidaklah sia-sia. Kegagalan
mereka akhirnya semakin mengukuhkan dominasi Euclid sehingga
geometri yang didasarkan pada kelima buah postulat Euclid dikenal
sebagai geometri Euclid. Selanjutnya, postulat kelima Euclid yang terlalu
panjang, dalam pembelajaran matematika di sekolah diganti dengan
postulat kesejajaran (atau postulat Playfair) yang dipopulerkan oleh John
Playfair.

Jika diperhatikan, dalam pernyataan postulat kelima Euclid tidak ada


istilah kesejajaran yang dikemukakan oleh Euclid. Sebenarnya Euclid
tidak pernah menyebut postulat kelima sebagai postulat kesejajaran.
Istilah postulat kesejajaran muncul setelah John Playfair (1748 – 1819)
menyajikan postulat kelima Euclid tersebut dalam pernyataan sebagai
berikut: “In a plane, given a line and a point not on it, at most one
line  parallel to the given line can be drawn through the point.“. Dalam
matematika sekolah postulat kesejajaran tersebut lebih mudah dipahami
melalui pernyataan berikut: “melalui suatu titik P yang terletak di luar
garis m, terdapat paling banyak (tepat) satu garis yang akan melalui titik
P dan sejajar dengan garis m”.

Tokoh-tokoh dalam perkembangan geometri Euclid dapat digambarkan


sebagai berikut:

26
Euclid
(325SM -265SM)
2.4
Poseidonius Ptolemy Proclus
(135–51 SM) (85 - 165) (410 - 485)

Ibnu al-Haytam Omar Hayyam Nassir Eddin Sad’r al-Din


(965 -1039) (1048 – 1131) (1201-1274) ( Pseudo-Tusi)

John Wallis John Playfair Adrin Legendre


(1616-1703) (1748 -1819) (1752-1833)

Girolamo
Saccheri (1667 -
1733)
Aplikasi Geometri Euclid
Sejak zaman Euclid (300 SM) sampai abad 17 M, geometri diteliti dari
perspektif sintesis sebagai suatu ilmu. Sejumlah ide baru dalam matematika
dikembangkan dan digunakan dalam mempelajari geometri, dengan efek yang
bersifat revolusi. Misalnya yaitu dengan diterapkannya notasi-notasi dan konsep
aljabar ke geometri.

Salah satu hasil dari pemikiran Euclid itu mulai kita kenal di Sekolah Menengah
Pertama sebagai ilmu ukur bidang datar. Semua buku tentang ilmu ukur bidang
datar boleh dianggap sebagai dasar dari The Elements. The Elements dimulai
dengan geometri pesawat yang diajarkan di sekolah menengah sebagai sistem
aksioma pertama dan contoh pertama dari bukti formal adalah geometri ruang
yaitu terdapat pada materi tiga dimensi. Sebagian besar hasil dari The Element
adalah aljabar dan teori bilangan, yang ditulis dalam bahasa geometri. Sebuah
implikasi dari teori Einstein untuk relativitas umum adalah bahwa ruang
Euclidean merupakan pendekatan yang baik terhadap sifat fisik, hanya saja
medan gravitasinya yang tidak terlalu kuat.

27
Di materi diferensial, geometri dikembangkan sebagai suatu konsep dan
menggunakan notasi dari kalkulus yang dikembangkan oleh Newton dan
Leibniz. Seorang ahli matematika Felix Klein (1849–1925) mengusulkan suatu
prinsip untuk mengklasifikasikan berbagai geometri dan menjelaskan hubungan-
hubungan diantara mereka. Inti dari gagasan atau konsep Klein itu adalah
Geometri Transformasi. Geometri Euclid juga dikembangkan dalam Ilmu Tata
Ruang, yang diawali dari filsafat R Descartes yang mengatakan bahwa tata
surya terdiri dari vorteks. Dikemudian hari ungkapan tersebut dikembangkan
menjadi sebuah ilmu yang dikenal dengan nama Voronoi Diagram atau Voronoi
Geometri. Prinsip kerja dari keilmuan ini menggunakan jarak Euclid sehingga
dapat menentukan batas wilayah daerah ataupun batas wilayah negara. Contoh
aplikasi geometri Euclid yaitu:
- Definisi 5 “Bidang adalah sesuatu yang hanya mempunyai panjang dan
lebar”

- Definisi 18 “setengah lingkaran adalah bangun yang dibangun oleh


diameter dan keliling lingkaran yang dipotong oleh diameter”

- Proposisi 27 “Jika sebuah garis lurus memotong dua garis lurus dan
membentuk sudut dalam berseberangan yang sama besar, maka kedua garis
lurus yang dipotong tersebut sejajar.

28
Misalkan sebuah garis transversal memotong dua garis k dan m di titik A
dan B dan membentuk sepasang sudut dalam berseberangan ∠ 1 dan ∠ 2
yang sama.
Andaikan k dan m tidak sejajar, maka keduanya berpotongan di titik C, dan
membentuk ∆ ABC .Titik C terletak di sebelah kiri AB atau di sebelah
kanannya. Dalam hal ini sudut luar ∆ ABC sama dengan sudut dalam yang
tidak bersisian dengannya (∠ 1=∠2). Hal ini kontradiksi dengan
proporsisi 16, jadi pengandaian salah. Garis m dan k sejajar.
- Proposisi 47 “Dalam segitiga siku-siku, kuadrat sisi dihadapan sudut siku-
siku sama dengan jumlah kuadrat dua sisi yang lainnya”, sebelum
mengetahui penggunaannya kita harus membuktikan kebenarannya

Berikut dari Dalil Phytagoras:


Luas daerah yang tidak diarsir = Luas persegi ABCD – 4 x Luas daerah yang
diarsir

( ) 1
c 2=( a+b ) ( a+b )− 4 × ab
2

c =a + 2 ab+b −( 4 × ab )
2 2 2 1
2
2 2 2
c =a + 2 ab+b −( 2 ab )
2 2 2
c =a + b
(Terbukti)

29
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari penyusunan makalah materi filosofi
geometri euclid adalah sebagai berikut :

a. Geometri Euclid berawal dari pemikiran tokoh matematikawan bernama


Euclid (325-265 SM) dari Alexandria, Mesir. Dalam karir nya Euclid telah
menerbitkan buku, salah satu yang paling terkenal adalah “The Elements”.
b. Euclid’s Element terdiri dari definisi, aksioma, postulat, lemma, teorema,
dan proposisi.
a. Terdapat 23 definisi
b. Lebih dari 48 proporsisi
c. Geometri Euclid merupakan sistem aksiomatik, dimana semua teorema
diturunkan dari bilangan aksioma terbatas, yang berarti hasil dari teorema
tersebut merupakan akibat sejajar postulat
d. Peran postulat sejajar Euclid dangat penting. Dengan postulat dapat
ditemukan teori kesamaan, dan teori phytagoras.

30
DAFTAR PUSTAKA

https://www.slideshare.net/windartiaja/geometri-euclid?from_action=save

https://www.academia.edu/8498076/Geometri_Euclid

https://adoc.pub/download/geometri-euclid-makalah-tugas-mat.html

https://www.academia.edu/39492561/Makalah_Geometri_Euclid

31

Anda mungkin juga menyukai