Anda di halaman 1dari 8

STATUS PAKAN DAN PERSEPSI PETANI DALAM PEMBERIAN PAKAN TERNAK KAMBING LOKAL DI LAHAN KERING DESA SAMBELIA

Sasongko WR dan Yohanes G. Bulu Balai pengkajian Teknologi Pertanian NTB

ABSTRAK
Kemampuan produksi ternak kambing dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Perubahan performan berdasarkan faktor genetis sifatnya tetap sedang pada faktor lingkungan adalah pada manajemen salah satunya pengelolaan pakannya. Permasalahan yang dihadapi oleh petani-peternak di lahan kering adalah keterbatasan pakan di musim kemarau baik kualitas maupun kuantitasnya. Keragaman bahan baku pakan lokal yang tersedia memberikan alternatif pilihan untuk dimanfaatkan secara efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas dan kuantitas pakan dan persepsi petani terhadap pakan yang diberikan pada ternak kambing lokal yang dipelihara di lahan kering. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2004 di desa Sambelia, Kabupaten Lombok Timur. Pengamatan dilakukan pada 15 petani kooperator dan 15 non kooperator. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara terstruktur serta analisa kandungan nutrisi hijauan pakan ternak. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan pada ternaknya tergantung pada ketersediaan dan sistem usahatani yang dilakukannya. Ternak dikandangkan oleh petani kooperator 70,8% dan non kooperator 57%. Konsekuensinya pakan disediakan setiap hari yang diperoleh dengan sistem cut and carry. Pada musim hujan komposisi rumput dalam ransum bisa mencapai 100% sedangkan pada musim kemarau berkisar 50-80% selain itu berupa legum seperti turi dan lamtoro 20-50%. Jerami kacang tanah dan biomas tanaman jagung merupakan pakan alternatif, 95,8% petani kooperator menyatakan menggunakannya dan 52% petani non kooperator menyatakan bahwa pakan diberikan berdasarkan kualitasnya; yang tujuannya untuk meningkatkan produksi, mempertimbangkan status reproduksi (induk bunting atau induk menyusui). Kemampuan reproduksi terlihat dari calving interval rata-rata 6 bulan (kooperator) dan 8 bulan (non kooperator); dengan jumlah sekelahiran rata-rata 1,6 anak. Kesimpulan sementara dinyatakan bahwa dengan status pakan yang diberikan terhadap ternaknya relatif cukup memenuhi kebutuhan didukung pada persepsi petani dalam memberikan pakan pada ternaknya menunjukkan bahwa pengembangan usaha ternak kambing dalam sistem usahatani di lahan kering desa Sambelia memungkinkan untuk dilaksanakan. Kata kunci: Status pakan, kambing dan lahan kering.

PENDAHULUAN Populasi kambing di NTB cukup tinggi yaitu 239.225 ekor yang menyebar di seluruh wilayah terutama di lahan kering. Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu kabupaten yang memiliki populasi terbanyak yaitu 45.747 ekor atau sekitar 20% dari seluruh populasi (Dinas Peternakan NTB; BPS, 2002). Lahan marginal mencapai 1,7 juta hektar sekitar 9,1% berada di wilayah kabupaten Lombok Timur. Kambing merupakan komoditas yang cukup populer di kalangan masyarakat petani yang sebagian merupakan salah satu komponen sistem usahatani di lahan kering. Dipelihara dengan pola semi intensif atau ekstensif yang merupakan usaha sampingan atau bahkan sebagai tabungan hidup. Oleh Sibanda et al., (1999) yang disitasi oleh Dahlanuddin, (2001) dikatakan bahwa sebagian besar populasi kambing dimiliki oleh peternak tradisional dengan usaha kecil. Hasil survei yang dilaksanakan oleh UNRAM bahwa di Pulau Lombok (Dahlanuddin, 2001) menunjukkan bahwa pemilikan ternak kambing sangat kecil, yaitu 4 5 ekor ternak per rumah tangga. Rendahnya kepemilikan dan produktivitas ternak kambing kemungkinan besar disebabkan oleh keterbatasan modal peternak dan kemampuan untuk menyediakan sarana produksi. Hal ini dapat dimengerti karena sebagian besar peternak masih beranggapan bahwa memelihara ternak kambing merupakan pekerjaan sambilan. Akibatnya investasi dalam bentuk waktu, tenaga kerja dan modal yang dialokasikan untuk pemeliharaan kambing sangat kecil dibandingkan dengan investasi pada usaha lain seperti tanaman pangan (Dahlanuddin, et. al., 2002). Ternak kambing mempunyai peluang yang besar terhadap peningkatan pendapatan petani lahan kering melalui perbaikan atau penerapan teknologi alternatif (hasil rekayasa) sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas kambing.

Kemampuan produksi ternak kambing dipengaruhi pada faktor genetis dan faktor lingkungan. Perubahan performan yang dilakukan melalui upaya penyesuaian kondisi lingkungan salah satunya adalah perbaikan nutrisi dan pengelolaan pakannya. Keragaman bahan baku pakan lokal yang tersedia memberikan alternatif pilihan bagi petani-peternak untuk dimanfaatkan secara efisien. Menurut Panjaitan dan Tiro, (1996), bahwa ternak kambing merupakan ternak ruminansia kecil yang mampu beradaptasi dengan baik pada wilayah lahan kering karena dapat memanfaatkan berbagai sumber tanaman sebagai sumber pakan. Selanjutnya menurut Djafar, (2004) menyatakan ternak kambing sudah lama diketahui sebagai ternak yang diusahakan oleh petani miskin oleh karena cocok dipelihara di daerah kering dengan kualitas tanah yang sangat marginal. Ternak lokal yang telah beradaptasi baik dengan lingkungan alam dan iklim Indonesia perlu terus dikembangkan menjadi ternak andalan yang akan memberikan manfaat yang besar bagi peternak kita. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui kualitas dan kuantitas pakan dan persepsi petani terhadap yang diberikan pada ternak kambing lokal yang dipelihara di lahan kering. MATERI DAN METODE Penelitian dilaksanakan pada tahun 2004 di desa Sambelia, Kabupaten Lombok Timur. Pemberdayaan petani melalui pengembangan kelembagaan kelompok tani yang berbasis usaha ternak kambing. Pengamatan dilakukan terhadap 15 petani kooperator yang tergabung dalam 3 Kelompok Tani (Kelompok Pade Angen, Kelompok Kasih Sayang dan Kelompok Kesambiq) masing-masing beranggotakan 5 orang dan 15 petani non kooperator yang tinggal di sekitarnya. Pengumpulan data melalui wawancara terstruktur dan pengamatan terhadap manajemen pakan dan pengambilan contoh pakan. Data yang diperoleh dianalisa secara kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan statistik sederhana. HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Pemeliharaan Kambing Pemeliharaan ternak dilakukan dengan sistem semi intesif-tradisonal, yaitu kombinasi antara dikandangkan dan diikat pindah atau digembalakan saat musim kemarau. Penerapan sistem ekstensif murni sudah jarang dijumpai di desa Sambelia, karena adanya pertimbangan faktor keamanan dan terjadinya penyusutan luasan padang penggembalaan. Sistem pemeliharaan ternak secara tradisonal merupakan indikasi rendahnya tingkat investasi dan penerapan teknologi. Tujuan pemeliharaan umumnya sebagi usaha sampingan berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan mendesak, penyangga resiko kegagalan panen dan peningkatan penggunaan tenaga kerja keluarga di samping melengkapi kegiatan pertanian lain dengan tingkat produksi rendah (Sabrani dan Levin, 1993 dalam Didik et al., 1998).

D ik an da ng ka n D iik at pi nd ah D ig em ba la ka n C am pu ra n

80 70 60 50 40 30 20 10 0

Pe r s e ntas e (%)

Kooperator Non Kooperator

Sis te m pe m e lihar aan k am bing

Gambar 1. Sistem pemeliharaan Ternak kambing oleh petani di Lahan Kering

Grafik (Gambar 1) menunjukkan bahwa sistem pemeliharaan dengan cara dikandangkan relatif banyak dilakukan oleh petani kooperator (70,8%). Sedangkan sistem pemeliharaan dengan cara digembalakan, diikat pindah dan campuran lebih sedikit masing-masing 4,2%, 0,0% dan 25%. Sistem pemeliharaan campuran adalah kombinasi antara dikandangkan, diikat pindah, dan digembalakan. Hal ini berkaitan dengan musim, luas kepemilikan lahan dan kontribusi tenaga keluarga. Pada musim hujan lahan dimanfaatkan sepenuhnya untuk usaha pertanian, sehingga ternak tidak dapat digembalakan atau diikat pindah karena akan merusak tanaman. Ternak dikandangkan dan diberikan pakan yang cukup, karena saat musim hujan pakan melimpah terutama berupa rumput alam. Karakteristik Kambing yang Dipelihara Petani Jenis kambing yang diusahakan umumnya kambing lokal, yang berasal dari wilayah setempat. Petani memiliki jenis kambing ini dengan pertimbangan daya adaptasinya lebih baik, sebab bila kambing dari luar wilayah dikhawatirkan membawa penyakit dan tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan. Yang dimaksud kambing lokal di sini memang masih rancu, namun jika dilihat dari karakteristiknya atau penampilan fisiknya kambing-kambing tersebut merupakan hasil persilangan antara kambing Kacang dan kambing Peranakan Etawah (PE). Berat badan rata-rata 24,74 kg dengan tinggi 66,2 cm serta panjang badan 45,4 cm. Pakan dan Pengelolaannya Pemberian pakan hijauan pada ternak kambing yang sesuai dengan kualitas dan kuantitas pakan yang tersedia akan mendorong pertumbuhan ternak kambing. Jenis pakan yang diberikan terutama pada musim hujan dominan rumput alam (50%) dan pada musim kemarau (54,70%). Jerami tanaman justru lebih tinggi penggunaan pada musim hujan (25%) dari pada musim kemarau (8,20%). Jerami yang dimaksud adalah jerami kacang tanah (Grafik 2). Pada lahan kering hanya bisa ditanami sekali dalam satu tahun, jenis tanaman antara lain jagung, kacang tanah dan padi gogo. Pada saat akhir musim hujan pada umumnya merupakan waktu panen sehingga jenis pakan berupa jerami melimpah. Lahan persawahan dapat ditanami 3 kali setahun yang didominasi oleh tanaman padi. Rumput cukup banyak tumbuh di sekitar lahan persawahan, sehingga pada musim kemarau lahan sawah merupakan sumber hijauan berupa rumput.

60% 50% 40% 30% 20% 10% 0%

50% 54,7%

50%

25% 15% 19% 4% Rumput Alam Turi Gamal 13,3% 6% Daundaunan 8,2% Jerami Tanaman

Persentase pemberian pakan hijauan pada MH Perserntase pemberian pakan hijauan pada MK
Gambar 2. Grafik persentase pemberian pemberian pakan kambing pada MH dan MK

Pemanfaatan Gamal sebagai pakan ternak memang masih belum familiar, sehingga petani jarang yang memberikan gamal untuk ternaknya. Daun-daunan meningkat pemberiannya pada saat musim kemarau (13,30%) dibanding musim hujan (6%). Pada saat rumput berkurang maka pakan alternatif yang diberikan petani adalah daun-daunan seperti : daun nangka, daun kayu banten atau daun mangga. Rumput alam dan legum seperti turi dan lamtoro merupakan jenis pakan yang tersedia sebagai pakan ternak kambing di Sambelia. Hijauan pakan seperti rumput terdapat pada daerah persawahan sedangkan legume terdapat di sekitar lahan pertanian yang berfungsi sebagai pagar atau yang ditanam khusus sebagai sumber HMT. Menurut Simon P. Ginting, (2004), menyatakan bahwa pakan lokal adalah setiap bahan baku yang merupakan sumberdaya lokal yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan secara efisien oleh ternak kambing baik sebagai suplemen, konsentrat maupun sebagai pakan dasar. Selanjutnya dikatakan bahwa keragaman bahan baku pakan ternak yang tinggi menawarkan fleksibilitas yang tinggi bagi peternak juga menawarkan kompleksitas bagi nutrisionis agar dapat dimanfaatkan secara efisien.
Tabel 1. Kandungan Nutrisi Hijauan Pakan Ternak Yang Berasal Dari Sambelia. No. 1. 2. 3. Jenis Hijauan Lamtoro Turi Rumput Kandungan Nutrisi Protein Kasar (%) 20,08 19,97 13,77 Serat Kasar (%) 17,86 14,00 20,60 Kalori kal/gr 4.362,42 4.718,56 3.751,95

Sumber : Data primer diolah. Sampel diambil pada bulan Oktober 2004.

Pada Tabel 1. dapat dilihat bahwa pada saat musim kemarau beberapa jenis hijauan yang dominan diberikan untuk pakan kambing memiliki kandungan nutrisi yang cukup baik. Pemberian pakan dilakukan dua kali pada siang hari, sedangkan pada malam hari ternak tidak diberi pakan. Komposisi rumput dan legum yang diberikan petani sangat beragam tergantung pada ketersediaan hijauan serta kemampuan petani dalam memilih atau memperoleh hijauan.

Tabel 2. Jenis Hijauan Yang Diberikan Pada Kambing Pada Musim Hujan dan Musim Kemarau

Uraian Musim Hujan Rumput Turi Lamtoro Jerami padi Jerami kacang tanah Musim Kemarau Rumput Turi Lamtoro Jerami padi Jerami kacang tanah

n 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15

Kooperator (%) Tidak Diberikan diberikan 100 0 65,2 0 7,7 100 100 65,4 3,8 57,7 0 100 34,6 100 92,3 0 0 34,6 96,2 42,3

n 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15

Non Kooperator (%) Tidak Diberikan diberikan 60 80 41,7 8,3 28 60 52 48 20 52 40 20 58,3 91,7 72 40 48 52 80 48

Data primer yang diolah 2004.

Pada Tabel 2. dapat dilihat bahwa petani kooperator menjadikan rumput sebagai pakan uatama yang diprioritaskan pemberiannya di musim hujan dan musim kemarau. Pada musim kemarau jenis pakan selain rumput yang mendominasi adalah turi dan jerami kacang tanah. Karena pada saat awal musim kemarau sebagian besar petani tengah memanen tanaman kacang tanah, sehingga saat itu jerami kacang tanah cukup melimpah. Keragaman jenis bahan pakan dengan tingkat komposisi kimiawi yang fluktuatif mengindikasikan bahwa sistim pakan yang lebih sesuai adalah pendekatan feed budget yang bertujuan untuk memaksimalkan penggunaan bahan pakan, terlepas apakah kebutuhan standar nutrisi ternak terpenuhi atau tidak (feeding Standard), (Simon P. Ginting, 2004)
Tabel 3. Kandungan Nutrisi Ransum Ternak Kambing Yang Diberikan Oleh Petani Kooperator. No. 1. 2. 3. 4. 5. Ransum ternak kambing yg ada di kandang Sampel 1 Sampel 2 Sampel 3 Sampel 4 Sampel 5 Kandungan Nutrisi Protein Kasar (%) 14,21 17,95 12,87 14,78 21,42 Serat Kasar (%) 20,26 25,01 23,73 24,65 12,38 Kalori kal/gr 4.029,67 4.693,02 3.225,79 2.466,99 4.803.,08 Keterangan 75% rumput & 25% legum 50% rumput & 50% legum 75% rumput & 25% legum 75% rumput & 25% legum 100% legum

Sumber: Data primer diolah

Pada Tabel 3. contoh ransum ternak kambing yang diambil dari tempat-tempat pakan di beberapa kandang, umumnya berupa campuran beberapa jenis hijauan yang komposisinya terdiri dari rumput alam, legum merambat, jenis semak-semak dan legum pohon seperti turi dan lamtoro. Namun secara garis besarnya hijauan pakan ternak ruminansia dikategorikan dalam dua jenis yaitu rumput dan legum. Rumput alam memiliki komposisi yang lebih tinggi antara 60-80% bahkan mencapai 100%. Makin besar komposisi rumput dalam ransum maka semakin kecil kandungan proteinnya; demikian sebaliknya semakin besar komposisi legum dalam ransum maka semakin tinggi proteinnya dan makin rendah serat kasarnya. Berdasarkan pola pemberian pakan, kualitas pakan yang diberikan cukup seperti tercantum pada pada Tabel 3. Dilihat dari komposisi ransumnya, merupakan indikasi bahwa kandungan nutrisi ransum yang diberikan cukup memenuhi syarat kelayakan sebagai pakan ternak ruminansia kecil seperti kambing. Yang menjadi pertanyaan sekarang bahwa apakah dari segi kuantitas sudah cukup tersedia. Pada Tabel berikut ini dapat dilihat sumber hijauan pakan ternak :

Tabel 4. Sumber Hijauan Pakan Ternak Uraian Musim Hujan Rumput Alam Turi Lamtoro Musim Kemarau Rumput Alam Turi Lamtoro
Data Primer yang diolah tahun 2004.

Lahan Sendiri (%) 12,5 76,7 34,75 19,6 67,3 23,3 Orang lain (%) 66,7 19 47,2 65,5 28,85 57,2 Umum (%) 20,8 4,3 18,05 14,9 3,85 19,45

Tabel 4. menunjukkan bahwa rumput alam diperoleh sebagian besar berasal dari lahan orang lain, terutama lahan persawahan yang terdapat di desa Sambelia. Lahan pertanian yang berupa sawah milik peternak luasannya relatif kecil rata-rata dibawah 0,25 ha. Walaupun relatif tidak luas tapi dapat ditanami padi 3 kali setahun karena airnya tersedia. Sebaliknya tanaman turi sebagian besar diperoleh dari lahan milik sendiri, baik dari lahan pertanian maupun dari lahan pekarangannya. Turi dan legum lainnya ditanam sebagai pagar di lahan pertanian. Telah ada upaya penanaman hijauan pakan ternak, dengan mempertimbangkan kontinuitas usaha ternak. Petani kooperator yang telah memiliki pengetahuan tentang manajemen pakan, terutama untuk mengantisipasi kekurangan hijauan segar pada saat musim kemarau; mereka sudah mulai menanam hijauan pakan ternak. Petani non kooperator belum banyak yang mengadopsi penanaman hijauan pakan ternak namun mereka mengharapkan pemanfaatan jerami sebagai sumber pakan ternaknya.
Tabel 5. Upaya penyediaan pakan ternak yang mencukupi Uraian Menanam HMT Pemanfaatan jerami
Data primer yang diolah 2004.

Kooperator (%) Ya 88,5 57,7 Tidak 11,5 42,3

Non Kooperator (%) Ya 37,5 80 Tidak 62,5 20

Petani kooperator sebagian besar telah mampu menentukan pilihan pada hijauan yang akan diberikan pada ternaknya berdasarkan kualitasnya. Semula hal itu hanya sekedar pengetahuan yang berasal dari pengalamannya. Dengan seringnya mendengarkan berbagai penjelasan mengenai manajemen pakan sehingga petani sudah mulai memahami bagaimana seharusnya dalam memberikan pakan pada ternaknya. Disamping itu berkaitan dengan sumberdaya manusianya dimana rata-rata tingkat pendidikan yang rendah. Bisa jadi pemilihan pakan berdasarkan nalurinya.
Tabel 6. Persepsi petani dalam memberikan pakan pada ternak kambing. Uraian Pemberian pakan berdasarkan kandungan nilai gizinya Memberikan pakan sesuai tujuan produksi Induk bunting diberikan pakan yang berkualitas baik Induk melahirkan anak diberikan pakan berkualitas baik
Data primer yang diolah 2004.

n 15 15 15 15

Kooperator (%) Tidak 4,2 33,3 16,7 0 Ya 95,8 66,7 83,3 100

n 15 15 15 15

Non Kooperator (%) Tidak 48 64 60 60 Ya 52 36 40 40

Petani non kooperator yang relatif belum banyak mengetahui tentang teknologi pemeliharaan ternak kambing dapat dibanding persepsi mereka terhadap manajemen pakan yang dilakukan dalam memelihara ternaknya.

Produktivitas Tatalaksana pemberian pakan pada kambing akan menentukan tingkat produktivitasnya. Oleh karena itu penyediaan pakan ternak harus pula memperhatikan kualitas, disamping kuantitasnya sedangkan yang dimaksud kualitasnya adalah kandungan gizi yang terdapat di dalam bahan pakan tersebut (Anonim, 1989 yang disitasi oleh Isbandi, 2002). Produktivitas pada ternak kambing digambarkan oleh jumlah anak sekelahiran dan total bobot sapih/induk/kelahiran. Produktivitas kambing yang produknya adalah berupa daging, kriteria tersebut merupakan hal yang terpenting, tanpa mengabaikan sifat-sifat lainnya, misalnya komposisi karkas (Subandriyo, 2004). Dengan pengelolaan yang semestinya potensi produksi yang meningkat dari kambing cukup tinggi. Kebanyakan akan bergantung apakah nilainya sebagai hewan piaraan, dan belum mempertimbangkan keekonomisannya. Menyertai sifat-sifat ini adalah kesuburan reproduksi yang tinggi dan interval waktu generasi yang pendek, yang berarti bahwa dapat berproduksi 5 bulan setelah perkawinan pertama dan bahwa anak pertama mungkin terjual dalam waktu kurang dari 1 tahun. Rata-rata kemampuan kambing induk melahirkan 1,6 ekor. Tingkat produktivitas kambing mencapai 60,87%. Sedangkan rata-rata tingkat kematian anak sejak lahir hingga umur 1 (satu) bulan mencapai 15%. KESIMPULAN Kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan pada ternaknya sangat dipengaruhi oleh persepsi petani dalam menyediakan dan memberikan pakan. Sumberdaya alam yang ada cukup mendukung dalam penyediaan hijauan pakan ternak, dimana rumput dan legum tersedia sepanjang tahun. Pengembangan usaha ternak kambing dalam sistem usahatani memungkinkan untuk dilaksanakan terutama dalam menunjang pendapatan bagi petani. Saran-saran Untuk meningkatkan produksi dan populasi ternak kambing yang dapat menjamin peningkatan produktivitas ternak kambing secara kontinue maka masih perlu dukungan teknologi. Pemberdayaan kelembagaan produksi kambing masih perlu ditingkatkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam sistem dan usaha agribisnis ternak kambing. Pemeliharaan kambing yang dapat dilakukan secara terpadu dalam sistem usahatani sebagai suatu sistem produksi dimana antara pemeliharaan kambing, pengembangan pakan hijauan, usahatani tanaman pangan dan pemanfaatan limbah pertanian serta pengelolaan kotoran ternak menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman pangan. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik Kabupaten Lombok Timur., 2002. Lombok Timur Dalam Angka Tahun 2002, Selong. Badan Pusat Statistik Propinsi NTB., 2002. Nusa Tenggara Barat Dalam Angka Tahun 2002, Mataram. Badan Pusat Statistik Propinsi NTB., 2003. Nusa Tenggara Barat Dalam Angka Tahun 2003, Mataram. Djafar Makka, 2004. Tantangan dan Peluang Pengembangan Agribisnis Kambing Ditinjau dari Aspek Pewilayahan Sentra Produksi Ternak. Prosiding Lokakarya Nasional Kambing Potong. Puslitbangnak. Badan Litbang Pertanian. Bogor.

Isbandi, Muchi Martawidjaja, Bambang Setiadi dan Achmad Saleh. 2002. Studi Ketersediaan Pakan Kambing pada Agroekosistem yang Berbeda. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Puslitbangnak. Badan Litbang Pertanian. Departemen Pertanian. Bogor. Simon P. Ginting. 2004. Tantangan dan Peluang Pemanfaatan Pakan Lokal untuk Pengembangan Peternakan Kambing di Indonesia. Prosiding Lokakarya Nasional Kambing Potong. Puslitbangnak. Badan Litbang Pertanian. Bogor. Subandriyo. 2004. Strategi Pemanfaatan Plasma Nutfah Kambing Lokal dan Peningkatan Mutu Genetik Kambing di Indonesia. Prosiding Lokakarya Nasional Kambing Potong. Puslitbangnak. Badan Litbang Pertanian. Bogor. Yohanes G. Bulu, Sasongko WR, Ketut Puspadi, Nurul Agustini, Wildan Arief dan Sri Hastuti. 2004. Sistem Usahatani Ternak Kambing pada Lahan Kering di Kabupaten Lombok Timur. Laporan Pengkajian. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat.