Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH MATA KULIAH KESEHATAN MASYARAKAT

WABAH

Dosen Pengampu : Hasan Aroni, SKM., MPH.

Disusun Oleh :

1. Aulia Cantika Armadianti (P17110233053)


2. Rahma Ayu Nafada Sufyan (P17110233058)
3. Sonya Maulidiya (P17110233071)
4. Nezzla Yuwita Wilarinda (P17110233063)
5. Nasjhwa Aulia Hakiki (P17110233084)
6. Gebrille Alpina Putri (P17110234092)
7. Reigita Aulia Krisna (P17110234093)

KEMENTRIAN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

JURUSAN GIZI PRODI D-III GIZI

2024
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan
rahmatnya penyusun dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu tanpa ada halangan yang
berarti dan sesuai dengan harapan.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Bapak Hasan Aroni, SKM., MPH. sebagai
dosen pengampu mata kuliah Kesehatan Masyarakat yang telah membantu memberikan
arahan dan pemahaman dalam penyusunan makalah ini.

Makalah dengan judul “Wabah” disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan
Masyarakat. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi penulis
dan juga bagi para pembaca. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih
banyak kekurangan karena keterbatasan kami. Maka dari itu penyusun sangat mengharapkan
kritik dan saran untuk menyempurnakan makalah ini. Semoga apa yang ditulis dapat
bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Malang, 12 Februai 2024

Penyusun

1
DAFTAR ISI

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

1.2. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari wabah?


2. Apa saja langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk
menghindari wabah?
3. Bagaimana pengendalian penggunaannya dapat dilakukan untuk mengatasi
wabah yang sedang terjadi?
4. Apa definisi dari kejadian luar biasa dan apa implikasinya dalam konteks
respons terhadap wabah?
5. Bagaimana skala dan luas kejadian luar biasa dapat memengaruhi respons
terhadap wabah?
6. Bagaimana tingkat kedaruratan ditentukan dalam penanganan wabah dan
apa konsekuensinya?
7. Apa definisi dari respon dini dalam konteks respons terhadap wabah dan
bagaimana implementasinya?
8. Mengapa penting untuk merespons wabah dengan cepat dan bagaimana hal
tersebut dapat mengurangi dampak negatifnya?
9. Mengapa koordinasi antar lembaga dan pihak terkait sangat penting dalam
respons terhadap wabah?
10. Bagaimana komunikasi dapat memainkan peran penting dalam respon cepat
terhadap wabah dan bagaimana cara meningkatkan efektivitasnya?

1.3. Tujuan

3
1. Memahami secara menyeluruh tentang wabah, termasuk pengertiannya,
cara pencegahannya, dan langkah-langkah pengendalian yang dapat diambil.
2. Membahas definisi dan implikasi dari kejadian luar biasa dalam konteks
respons terhadap wabah.
3. Menganalisis skala dan luas kejadian luar biasa serta bagaimana hal tersebut
memengaruhi respons terhadap wabah.
4. Menentukan tingkat kedaruratan dalam penanganan wabah dan
konsekuensinya.
5. Memahami pentingnya respon dini dan bagaimana
mengimplementasikannya dalam respons terhadap wabah.
6. Menyoroti pentingnya respons yang cepat dalam mengurangi dampak negatif
dari wabah.
7. Menekankan pentingnya koordinasi antar lembaga dan pihak terkait dalam
respons terhadap wabah.
8. Mengetahui peran komunikasi yang efektif dalam respon cepat terhadap
wabah dan cara meningkatkan efektivitasnya.

1.4. Manfaat

1. Memberikan informasi yang komprehensif kepada pembaca tentang wabah,


termasuk pengertian, pencegahan, dan pengendalian, sehingga pembaca
dapat memahami masalah ini secara lebih baik.
2. Mendorong kesadaran akan pentingnya respons cepat dan koordinasi efektif
dalam penanganan wabah, yang dapat mengurangi dampak negatifnya serta
meningkatkan efisiensi tanggap darurat.
3. Memperkuat pemahaman pembaca tentang respon dini, kejadian luar biasa,
dan tingkat kedaruratan dalam respons terhadap wabah, yang dapat
membantu dalam merencanakan strategi dan tindakan yang tepat dalam
menghadapi situasi darurat kesehatan masyarakat.

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Wabah

Wabah adalah peningkatan kejadian penyakit secara mendadak ketika jumlah


kasus melebihi prediksi normal untuk suatu lokasi atau periode waktu tertentu.
Peningkatan kasus penyakit ini dapat terjadi pada sekelompok populasi yang kecil
dan terlokalisasi atau pada ribuan orang di seluruh benua. Wabah bisa berupa
peningkatan penyakit infeksi atau penyakit yang berasal dari lingkungan, seperti
penyakit bawaan air atau makanan, serta dapat memengaruhi wilayah di suatu
negara atau beberapa negara. pandemi adalah wabah penyakit yang terjadi secara
global ketika banyak negara di seluruh dunia terinfeksi penyakit.Penyakit-penyakit
yang mungkin dapat menjangkit secara pandemik mencakup di antaranya demam
Lassa, demam Rift Valley, virus Marburg, virus Ebola dan Bolivian hemorrhagic
fever. Namun, sampai dengan tahun 2004, kemunculan penyakit-penyakit tersebut
pada populasi manusia sangatlah virulen sampai-sampai tidak tersisa lagi dan
hanya terjadi di daerah geografis terbatas. Dengan demikian, saat ini penyakit-
penyakit tersebut berdampak terbatas bagi manusia.

HIV—virus penyebab AIDS—dapat dianggap sebagai suatu pandemi, tetapi


saat ini paling meluas di Afrika bagian selatan dan timur. Virus tersebut ditemukan
terbatas pada sebagian kecil populasi pada negara-negara lain, dan menyebar
dengan lambat di negara-negara tersebut. Pandemi yang dikhawatirkan dapat
benar-benar berbahaya adalah pandemi yang mirip dengan HIV, yaitu penyakit
yang terus-menerus berevolusi.

Pada tahun 2003, terdapat kekhawatiran bahwa SARS, suatu bentuk baru
pneumonia yang sangat menular, dapat menjadi suatu pandemi. Selain itu,
terdapat catatan pandemi influensa tiap 20–40 tahun dengan tingkat keparahan
berbeda-beda. Pada Februari 2004, virus flu burung dideteksi pada babi di Vietnam,
sehingga meningkatkan kekhawatiran akan munculnya galur virus baru. Yang

5
ditakutkan adalah bahwa jika virus flu burung bergabung dengan virus flu manusia
(yang terdapat pada babi maupun manusia), subtipe virus baru yang terbentuk
akan sangat menular dan mematikan pada manusia. Subtipe virus semacam itu
dapat menyebabkan wabah global influensa yang serupa dengan flu Spanyol
ataupun pandemi lebih kecil seperti flu Hong Kong.

Antara Oktober 2004 dan Februari 2005, sekitar 3.700 perangkat uji yang
mengandung virus penyebab Flu Asia 1957 tanpa sengaja terkirim ke seluruh dunia
dari sebuah laboratorium di Amerika Serikat [1].

Pada bulan November 2004, direktur WHO daerah barat menyatakan bahwa
pandemi influensa tak dapat dihindari dan mendesak dibuatnya rancangan untuk
mengatasi virus influensa.

Pada bulan Oktober 2005, kasus flu burung (dari galur mematikan H5N1)
ditemukan di Turki setelah memakan sejumlah korban jiwa di berbagai negara
(termasuk Indonesia) sejak pertama kali diidentifikasi pada tahun 2003. Namun,
pada akhir Oktober 2005 hanya 67 orang meninggal akibat H5N1; hal ini tidak
serupa dengan pandemi-pandemi influensa yang pernah terjadi.

2.2. Pencegahan Wabah

1. Pengertian Pencegahan

Pengertian pencegahan secara umum adalah mengambil tindakan terlebih


dahulu sebelum kejadian. Dalam mengambil langkah-langkah pencegahan,
haruslah didasarkan pada data atau keterangan yang bersumber dari hasil
analisis dari epidemiologi. Pencegahan penyakit berkembang secara terus
menerus dan pencegahan tidak hanya ditujukan pada penyakit infeksi saja,
tetapi pencegahan penyakit non-infeksi, seperti yang dianjurkan oleh James Lind
yaitu makanan sayur dan buah segar untuk mencegah penyakit scorbut. Bahkan
pada saat ini pencegahan dilakukan pada fenomena non-penyakit seperti
pencegahan terhadap ledakan penduduk dengan keluarga berencana.

6
Pencegahan wabah merujuk pada serangkaian upaya untuk mencegah,
mendeteksi, dan mengendalikan penyebaran penyakit yang dapat menimbulkan
wabah di suatu wilayah atau populasi. Upaya pencegahan wabah meliputi
identifikasi dini kasus penyakit, isolasi, karantina, imunisasi, perbaikan sanitasi,
promosi kesehatan, dan sosialisasi mengenai tindakan pencegahan kepada
masyarakat2. Pencegahan wabah juga melibatkan regulasi, pelaporan, dan
koordinasi antarinstansi terkait guna mengurangi risiko terjadinya penyebaran
penyakit yang luas dan cepat.

Wabah Penyakit Menular yang selanjutnya disebut Wabah adalah kejadian


berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah
penderitanya meningkat secara nyata melebihi daripada keadaan yang lazim
pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.
Penyebab Wabah secara garis besar adalah karena Toxin ( kimia & biologi) dan
karena Infeksi (virus, bacteri, protozoa dan cacing). Sumber penyakit adalah
manusia, hewan, tumbuhan, dan bendabenda yang mengandung dan/atau
tercemar bibit penyakit, serta yang dapat menimbulkan wabah.

2. Tujuan Pencegahan

Tujuan pencegahan adalah menghalangi penyebaran dan perkembangan


sebelum sempat berlanjut. Mencegah penyakit menular, Mengurangi angka
kejadian penyakit, Mengurangi angka kematian, Mencegah penularan penyakit
yang cenderung menjadi wabah. Sehingga diharapkan upaya pencegahan ini
mampu menyelesaikan masalah kesehatan di masyarakat dan menghasilkan
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Strategi pencegahan wabah meliputi berbagai tindakan untuk mencegah,


mendeteksi, dan mengendalikan penyebaran penyakit yang dapat menimbulkan
wabah di suatu wilayah atau populasi.Beberapa strategi yang dapat dilakukan
untuk mencegah adanya wabah, seperti yang dilakukan dalam pencegahan
lonjakan kasus COVID-19, antara lain:

1. Memastikan pelonggaran aktivitas diikuti pengendalian lapangan


yang ketat.

7
2. Meningkatkan laju vaksinasi untuk kelompok rentan.
3. Mendorong percepatan vaksinasi anak.
4. Menertibkan mobilitas pelaku perjalanan internasional dengan aturan
protokol kesehatan yang ketat.
5. Memperkuat peran pemerintah daerah dalam mengawasi kegiatan
dan mengedukasi warga tentang protokol kesehatan.
6. Kampanye protokol kesehatan untuk meningkatkan kedisiplinan
masyarakat.

Adapun Beberapa strategi pencegahan wabah yang lain meliputi:

1. Identifikasi dini kasus penyakit.


2. Isolasi dan karantina.
3. Imunisasi.
4. Perbaikan sanitasi.
5. Promosi kesehatan.
6. Sosialisasi mengenai tindakan pencegahan kepada masyarakat.
7. Regulasi, pelaporan, dan koordinasi antarinstansi terkait.
8. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
9. Mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan, seperti menjaga
jarak, menggunakan masker, dan mencuci tangan secara teratur.
10. Melakukan vaksinasi sesuai jadwal yang telah ditentukan.
11. Memastikan adanya pelaporan dan koordinasi yang baik antarinstansi
terkait.

Dengan menerapkan strategi ini, diharapkan dapat mencegah terjadinya


penyebaran penyakit yang luas dan cepat, serta mencegah terjadinya wabah.

Strategi pencegahan meliputi sasaran dan kegiatan pencegahan yang


bervariasi sesuai dengan masalah kesehatan yang dihadapi serta tingkat
pencegahannya. Sasaran pencegahan dapat merupakan individu maupun
organisasi masyarakat. Dalam melaksanakan pencegahan dengan sasaran
tersebut dapat dilakukan melalui usaha setempat yang bersifat tradisional
terutama pencegahan dasar atau premordial, dan dapat pula dilakukan melalui

8
pusat-pusat pelayanan kesehatan yang tersedia di tempat tersebut. Pelaksanaan
usaha pencegahan yang terencana dan terprogram dapat bersifat wajib maupun
sukarela, seperti pemberian imunisasi dasar, perbaikan sanitasi lingkungan,
penyediaan air minum, dan peningkatan status gizi melalui perbaikan gizi
masyarakat termasuk pemberian makanan tambahan, juga termasuk berbagai
usaha untuk mencegah kebiasaan yang dapat menimbulkan atau menigkatkan
risiko terhadap berbagai gangguan kesehatan tertentu. Sasaran pencegahan
juga meliputi berbagai usaha perbaikan dan peningkatan lingkungan hidup,
perbaikan standar hidup seperti perbaikan perumahan, sistem pendidikan,
sistem kehidupan sosial serta peningkatan standar hidup sehat.

2.3. Pengendalian Penggunaanya Untuk Mengatasi Wabah

Pengendalian penggunaan wabah mengacu pada serangkaian tindakan dan


strategi yang diambil untuk mencegah, mengendalikan, dan mengurangi
penyebaran penyakit menular di antara populasi manusia. Tujuan utama dari
pengendalian wabah adalah melindungi kesehatan masyarakat dan mencegah
dampak negatif yang dapat timbul dari penyebaran penyakit yang dapat
menimbulkan ancaman kesehatan publik.

Langkah-langkah pengendalian penggunaan wabah melibatkan pemantauan


penyakit, deteksi dini kasus, isolasi pasien yang terinfeksi, pemberian perawatan
medis yang tepat, vaksinasi jika tersedia, promosi kebersihan pribadi dan
lingkungan, pembatasan pergerakan, dan komunikasi efektif dengan masyarakat.
Koordinasi antara otoritas kesehatan, lembaga pemerintah, dan masyarakat sangat
penting dalam mengimplementasikan strategi pengendalian wabah dengan efektif.

Penting untuk memahami bahwa pengendalian wabah bukan hanya


tanggung jawab otoritas kesehatan, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif dari
seluruh masyarakat. Kesadaran masyarakat tentang pentingnya tindakan
pencegahan, kepatuhan terhadap pedoman kesehatan, dan kerjasama dalam
pelaksanaan kebijakan pengendalian sangat diperlukan untuk mencapai efektivitas
dalam menghadapi wabah penyakit.

9
Pengendalian penggunaan wabah atau penyebaran penyakit menular
melibatkan serangkaian tindakan untuk mencegah penyebaran penyakit dan
melindungi masyarakat. Berikut adalah beberapa langkah yang umumnya diambil
dalam pengendalian penggunaan wabah:

1. Pemantauan dan Deteksi Awal


Sistem pemantauan kesehatan masyarakat yang efektif untuk
mendeteksi gejala awal penyakit. Pemantauan perjalanan dan kontrol di
pintu masuk negara untuk mengidentifikasi kasus yang masuk dari daerah
terdampak.
2. Koordinasi dan Komunikasi
Koordinasi yang efektif antara pemerintah pusat, pemerintah daerah,
dan lembaga kesehatan. Komunikasi yang jelas dan terbuka kepada
masyarakat untuk memberikan informasi yang akurat tentang penyakit,
langkah-langkah pencegahan, dan perubahan situasi.
3. Karantina dan Isolasi
Karantina untuk orang yang terinfeksi atau diduga terinfeksi. Isolasi
pasien di fasilitas kesehatan yang sesuai untuk mencegah penularan.
4. Vaksinasi dan Pengobatan
Pengembangan dan distribusi vaksin jika tersedia. Penyediaan
perawatan medis yang memadai untuk pasien yang terinfeksi.
5. Higienis Pribadi dan Lingkungan
Edukasi masyarakat tentang praktik higienis pribadi, seperti mencuci
tangan secara teratur. Kebersihan lingkungan, termasuk pembersihan dan
disinfeksi tempat umum.
6. Pengurangan Kontak Sosial
Pembatasan pergerakan dan pertemuan massal. Penerapan kebijakan
kerja dari rumah dan pembatasan kegiatan sosial.
7. Pengujian dan Pelacakan Kontak

Pengujian massal untuk mengidentifikasi kasus baru. Pelacakan


kontak untuk menemukan dan mengisolasi individu yang mungkin
terinfeksi.

10
8. Pemulihan dan Evaluasi
Perencanaan untuk pemulihan ekonomi dan masyarakat setelah
wabah mereda. Evaluasi terhadap respons untuk meningkatkan persiapan
di masa depan.

Penting untuk dicatat bahwa respons terhadap wabah dapat bervariasi


tergantung pada jenis penyakit, tingkat penyebaran, dan karakteristik populasi
setempat. Kolaborasi internasional juga seringkali diperlukan untuk mengatasi
wabah yang melibatkan penyebaran lintas batas.

Pengendalian penggunaan terkait wabah melibatkan upaya untuk


mengendalikan dan mengurangi penggunaan barang dan layanan yang dapat
mempengaruhi tersebarnya penyakit. Beberapa contoh upaya pengendalian
penggunaan wabah antara lain:

1. Pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan pembatasan aktivitas dan


pergerakan masyarakat untuk memutus mata rantai penyebaran virus.
Misalnya pembatasan perjalanan antar kota/daerah, pembatasan kegiatan
di tempat umum, himbauan untuk work from home, dan lain-lain.
2. Masyarakat perlu mengurangi aktivitas di luar rumah yang tidak terlalu
penting, menghindari kerumunan dan menjaga jarak aman dengan orang
lain. Hindari pergi ke tempat ramai seperti mall, bioskop, konser, dan lain-
lain.
3. Perusahaan disarankan menerapkan sistem kerja shift atau work from
home untuk mengurangi interaksi antar karyawan. Bagi yang masih harus
tetap bekerja di kantor, pastikan ruangan selalu berventilasi baik, terapkan
physical distancing, dan gunakan masker.
4. Sekolah dan universitas sebaiknya ditutup untuk sementara dan beralih ke
sistem pembelajaran jarak jauh/online. Hal ini penting untuk mencegah
penularan di kalangan pelajar.
5. Tempat ibadah juga perlu dibatasi jumlah jamaahnya. Disarankan kegiatan
keagamaan dilakukan di rumah masing-masing.

11
6. Diperlukan sosialisasi dan edukasi masif ke masyarakat agar memahami
pentingnya physical distancing dan patuh terhadap aturan yang ditetapkan
pemerintah.
7. Fasilitas kesehatan perlu didukung dengan sumber daya yang cukup,
termasuk alat pelindung diri untuk tenaga medis, fasilitas isolasi/karantina,
dan lain-lain.
8. Pengendalian akses ke bahan kimia dan alat kesehatan, seperti masker,
sabun cuci tangan, dan hand sanitizer
9. Pengendalian penggunaan alat pelindung diri (APD) dan protokol
kesehatan, seperti menjaga jarak, mencuci tangan, dan menggunakan
masker
10. Pengendalian penggunaan obat-obatan dan vaksinasi, seperti mengatur
cakupan vaksinasi dan mengendalikan penggunaan obat-obatan yang dapat
mempengaruhi penyakit
11. Pengendalian penggunaan fasilitas publik, seperti mengatur kapasitas dan
mengatur waktu penggunaan fasilitas.
12. Pengendalian penggunaan sumber daya alam, seperti mengatur
penggunaan air bersih dan mengendalikan penggunaan sumber daya alam
yang dapat mempengaruhi penyakit.
13. Upaya pengendalian penggunaan terkait wabah di Indonesia telah
dilakukan melalui berbagai program dan kebijakan, seperti pengendalian
akses ke bahan kimia dan alat kesehatan, pengendalian penggunaan obat-
obatan, dan pengendalian penggunaan fasilitas publik
14. Pelonggaran penggunaan masker, seperti di wilayah yang tidak padat orang
15. Pembatasan pergerakan
16. Pembatasan perjalanan antar kota/daerah
17. Himbaun untuk stay at home bagi yang tidak ada keperluan mendesak
18. Pembatasan jam operasional fasilitas umum
19. Jaga jarak dan hindari kerumunan
20. Physical distancing minimal 1-2 meter di tempat umum
21. Tidak berkerumun dan membatasi jumlah orang dalam suatu tempat
22. Meniadakan acara yang mengumpulkan massa

12
23. Perilaku higienis
24. Rutin mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir
25. Menggunakan hand sanitizer jika tidak ada fasilitas cuci tangan
26. Menggunakan masker saat di luar rumah
27. Menutup hidung/mulut saat batuk/bersin
28. Penguatan sistem kesehatan
29. Peningkatan kapasitas rumah sakit dan fasilitas isolasi
30. Pengadaan alat pelindung diri untuk tenaga medis
31. Peningkatan kapasitas testing dan tracing
32. Edukasi dan sosialisasi pencegahan
33. Kampanye edukasi melalui media massa dan daring
34. Pemasangan spanduk/banner himbauan protokol kesehatan
35. Penegakan disiplin dan sanksi bagi pelanggar aturan

Dengan disiplin menerapkan berbagai kebijakan ini, diharapkan laju


penyebaran wabah dapat dikendalikan. Kerjasama semua pihak sangat dibutuhkan
dalam situasi darurat ini. Pengendalian penggunaan wabah sangatlah penting
untuk beberapa alas an utama,diantaranya yaitu:

1. Perlindungan Kesehatan Masyarakat:

Pengendalian penggunaan wabah bertujuan utama untuk melindungi


kesehatan masyarakat dari penyebaran penyakit menular yang dapat
menyebabkan kematian, kecacatan, atau dampak kesehatan yang
serius.Pengendalian penggunaan wabah sangat penting untuk perlindungan
kesehatan masyarakat karena penyakit menular dapat memiliki dampak
yang serius dan merugikan terhadap individu dan komunitas secara
luas.Pengendalian wabah penting untuk perlindungan kesehatan
Masyarakat,diantaranya mencegah penyebaran penyakit dari satu individu
ke individu lainnya. Pengendalian wabah membantu melindungi individu-
individu ini dari risiko yang lebih tinggi.Dengan mengendalikan wabah,
dapat mengurangi angka kematian dan tingkat morbiditas yang dapat
terjadi jika penyebaran penyakit tidak terkendali.Wabah yang tidak
terkendali dapat memberikan tekanan berlebih pada sistem kesehatan
13
dengan jumlah kasus yang meningkat tajam. Pengendalian wabah
membantu menjaga stabilitas sosial dan ekonomi dengan mencegah
dampak yang luas.Negara-negara umumnya memiliki kewajiban untuk
mengikuti standar internasional dalam mengendalikan wabah untuk
mencegah penyebaran penyakit melintasi batas-batas negara.Respons
cepat dan efektif terhadap wabah membantu mengurangi kekhawatiran
dan ketidakpastian masyarakat. Komunikasi yang jelas dan tindakan
terkoordinasi dapat membantu meredakan kepanikan.Pengendalian wabah
saat ini memberikan pembelajaran yang berharga untuk mempersiapkan
tanggapan terhadap wabah di masa mendatang.

2. Pencegahan Penyebaran Penyakit:

Pencegahan pencemaran penyakit melibatkan langkah-langkah untuk


mengurangi atau mencegah penyebaran penyakit yang dapat disebabkan
oleh berbagai faktor, termasuk bakteri, virus, jamur, atau zat berbahaya
lainnya. Berikut adalah beberapa langkah umum yang dapat diambil untuk
mencegah pencemaran penyakit diantaranya ,Mencuci tangan secara
teratur dengan sabun dan air mengalir, Menjaga kebersihan tubuh dan
pakaian, Menggunakan tisu atau siku ketika batuk atau bersin.
Mendapatkan vaksinasi sesuai dengan jadwal yang direkomendasikan oleh
tenaga kesehatan, Mengikuti program vaksinasi untuk mencegah penyakit
menular tertentu. Mengisolasi individu yang sedang sakit untuk mencegah
penyebaran penyakit, Menetapkan periode karantina bagi individu yang
telah terpapar penyakit tertentu. Memberikan edukasi kepada masyarakat
tentang praktik-praktik kebersihan yang baik, Menyebarkan informasi
tentang tindakan pencegahan dan gejala penyakit.Mengembangkan sistem
pemantauan penyakit dan merespons dengan cepat terhadap wabah atau
peningkatan kasus penyakit tertentu.Mengurangi emisi zat polutan dan
membatasi paparan terhadap bahan kimia berbahaya.Penggunaan masker,
sarung tangan, atau alat pelindung diri lainnya sesuai kebutuhan, terutama
dalam situasi yang berisiko tinggi.Berpartisipasi dalam upaya bersama
dengan komunitas internasional untuk mengatasi penyakit menular global.

14
3. Mengurangi Beban Sistem Kesehatan:

Dengan mengendalikan penyebaran wabah, terutama jika melibatkan


jumlah kasus yang besar, dapat mengurangi tekanan pada sistem kesehatan
dengan mencegah terjadinya lonjakan kasus yang dapat melampaui
kapasitas pelayanan kesehatan.upaya yang dapat kita lakiukan
diantaranya,Meningkatkan kapasitas pemeriksaan dan pengujian untuk
mendeteksi kasus dengan cepat,Melakukan pelacakan kontak untuk
mengidentifikasi individu yang mungkin terpapar dan mengisolasi
mereka.Meningkatkan sistem penyaringan di pintu masuk, seperti bandara
atau stasiun kereta api,Menggunakan teknologi seperti termometer
inframerah untuk mendeteksi suhu tubuh yang tinggi.Mendorong
penggunaan layanan kesehatan jarak jauh untuk konsultasi medis dan
diagnosa tanpa harus mengunjungi fasilitas kesehatan fisik.Meningkatkan
kapasitas rumah sakit dan pusat kesehatan untuk menangani lonjakan
kasus,Menyediakan peralatan medis dan ventilator yang
cukup.Menerapkan pembatasan pergerakan dan lockdown jika diperlukan
untuk mengurangi interaksi sosial dan penyebaran penyakit.

4. Mencegah Kerugian Ekonomi:

Pengendalian penggunaan wabah tidak hanya berkaitan dengan


aspek kesehatan, tetapi juga sangat penting dalam mencegah kerugian
ekonomi yang dapat timbul akibat penyebaran penyakit.Wabah penyakit
dapat memiliki dampak ekonomi yang signifikan melalui penurunan
produktivitas, absensi pekerja, dan biaya perawatan kesehatan.
Pengendalian wabah membantu meminimalkan kerugian ekonomi ini.
Berikut adalah beberapa strategi yang dapat membantu dalam
mengendalikan penggunaan wabah dan meredakan dampak
ekonominya:Mengembangkan rencana bisnis darurat yang mencakup
langkah-langkah untuk menjaga kontinuitas operasional selama wabah,
Menilai risiko dan menyusun strategi untuk mengurangi dampak ekonomi
yang mungkin timbul. Memastikan keamanan dan kesehatan pekerja
dengan memberikan peralatan pelindung diri dan mengimplementasikan
15
protokol kebersihan di tempat kerja. Menyediakan layanan kesehatan dan
dukungan psikososial kepada pekerja yang mungkin terdampak secara
langsung. Mendorong diversifikasi sektor ekonomi untuk mengurangi
ketergantungan pada industri tertentu yang rentan terhadap wabah.
Menyediakan pelatihan kepada pekerja untuk meningkatkan keterampilan
yang relevan dengan pasar kerja yang berubah. Mengembangkan sumber
daya manusia yang adaptif dan dapat berubah mengikuti perkembangan
ekonomi. Membangun kemitraan antara pemerintah dan sektor swasta
untuk merencanakan dan merespons bersama wabah, Memastikan
kolaborasi yang kuat untuk memitigasi dampak ekonomi. Menyediakan
informasi yang jelas dan akurat kepada masyarakat dan pelaku bisnis untuk
mengurangi kepanikan dan ketidakpastian,Menggunakan saluran
komunikasi yang efektif untuk menyampaikan kebijakan dan langkah-
langkah yang diambil.Menjaga stabilitas keuangan dan sistem moneter
untuk mencegah resesi ekonomi yang lebih Dalam, Memberikan dukungan
kebijakan moneter yang tepat guna.

5. Kepatuhan Internasional:

Negara-negara sering memiliki kewajiban untuk melaksanakan


langkah-langkah pengendalian wabah sesuai dengan standar internasional
dan perjanjian kesehatan global untuk mencegah penyebaran penyakit
lintas batas.Pengendalian penggunaan wabah terkait kepatuan
internasional dapat didiskusikan dalam kontekst dua aspek utama
yaitu,Penanganan Wabah Penyakit Menular.Analisis Hukum terkait
Penanganan Wabah Penyakit Menular serta Pengawasan Obat dan
Makanan yang dilakukan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional Indonesia
pada tahun 2019 meliputi inventarisasi peraturan perundang-undangan
yang berkaitan dengan penanganan wabah penyakit menular. Beberapa
dokumentasi internasional seperti laporan ILO menceritakan update
informasi terkait wabah COVID-19 dan alur penanganannya, serta dokumen
UN Environment Programme yang mengulas Konvensi Minamata yang
memfokuskan pengendalian emisi dan lepasan merkuri dari industri ke

16
udara, air, dan tanah.-Pengendalian Merkuri.Konvensi Minamata
merupakan contoh konvensi internasional yang memfokuskan pada
pengendalian penggunaan merkuri. Konvensi ini membincangkan isu-isu
seperti pedoman terkait emisi merkuri, pengelolaan lahan terkontaminasi,
dan kerjasama internasional dalam pengelolaan bantuan teknis,
pendanaan, dan pertukaran informasi.

6. Melindungi Kelompok Rentan:

Dalam konteks melindungi kelompok rentan terkait pengendalian


penggunaan wabah, terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh
instansi terkait. Beberapa dokumen terkait yang dapat menjadi acuan
adalah petunjuk teknis terkait dengan bantuan hibah barang kepada
kelompok budidaya untuk mewujudkan pengendalian dan penanggulangan
hama dan wabah.penyusunan kajian peta rawan bencana yang melibatkan
koordinasi instansi/lembaga terkait untuk melakukan upaya perlindungan
terhadap kelompok renta,serta Konvensi Minamata yang memfokuskan
pada pengendalian penggunaan merkuri dan membahas isu-isu seperti
pengendalian emisi dan lepasan merkuri dari industri ke udara, air, dan
tanah, pengelolaan limbah merkuri dan lahan terkontaminasi merkuri, serta
kerjasama internasional dalam pengelolaan bantuan teknis, pendanaan,
dan pertukaran informasi. konkret yang dapat dilakukan meliputi
meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, mendorong industri untuk
mengurangi lepasan merkuri ke udara, air, dan tanah, dan mengurangi risiko
tanah, air, dan udara yang terkontaminasi merkuri.

7. Menghindari Ketidakpastian dan Kekhawatiran Masyarakat:

Pengendalian penggunaan wabah terkait melindiki ketidakpastian dan


kekhawatiran masyarakat dapat dicoba melalui beberapa
upaya:Meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan untuk membantu
masyarakat yang terkena dampak akibat merkuri,Mendorong industri untuk
mengurangi lepasan merkuri ke udara, air, dan tanah,Memperkuat
pengaturan dan pengawasan pengelolaan limbah yang mengandung

17
merkuri,.Mengurangi resiko tanah, air, dan udara yang terkontaminasi
merkuri,Menyediakan informasi dan peningkatan kesadaran masyarakat
terkait dampak merkuri,Melakukan penyusunan petunjuk teknis terkait
dengan bantuan hibah barang kepada kelompok budidaya untuk
mewujudkan pengendalian dan penanggulangan hama dan
wabah,Menyusun kajian peta rawan bencana untuk melindungi kelompok
rentan,Reformasi kebijakan pertanahan dan penggunaan lahan untuk
memberikan pembagian kewenangan terkait penggunaan lahan antara
badan usaha dan pemerintah. Semua upaya ini bertujuan untuk
memfasilitasi proses pengendalian penggunaan wabah yang efektif,
memperbaiki kondisi lingkungan, dan memproteksi kelompok masyarakat
yang terlibat.

8. Persiapan untuk Wabah Masa Depan:

Pengendalian wabah saat ini memberikan pembelajaran dan


persiapan untuk menghadapi wabah potensial di masa depan. Evaluasi dan
perbaikan dari pengalaman saat ini dapat meningkatkan kapasitas tanggap
untuk kejadian serupa di masa mendatang.Untuk mempersiapkan diri
menghadapi wabah masa depan, beberapa upaya yang dapat dilakukan
antara lain:Meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan untuk membantu
masyarakat yang terkena dampak akibat wabah penyakit
menular,Menyusun petunjuk teknis terkait dengan bantuan hibah barang
kepada kelompok budidaya untuk mewujudkan pengendalian dan
penanggulangan hama dan wabah,Menyusun kajian peta rawan bencana
yang melibatkan koordinasi instansi/lembaga terkait untuk melakukan
upaya perlindungan terhadap kelompok rentan,Mendorong industri untuk
mengurangi lepasan merkuri ke udara, air, dan tanah,Memperkuat
pengaturan dan pengawasan pengelolaan limbah yang mengandung
merkuri,Mengurangi risiko tanah, air, dan udara yang terkontaminasi
merkuri,Menyediakan informasi dan peningkatan kesadaran masyarakat
terkait dampak merkuri,Reformasi kebijakan pertanahan dan penggunaan

18
lahan untuk memberikan pembagian kewenangan terkait penggunaan
lahan antara badan usaha dan pemerintah.

Semua upaya ini bertujuan untuk memfasilitasi proses pengendalian


penggunaan wabah yang efektif, memperbaiki kondisi lingkungan, dan
memproteksi kelompok masyarakat yang terlibat. Penting untuk dicatat bahwa
pengendalian penggunaan wabah tidak hanya menjadi tanggung jawab otoritas
kesehatan, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat, industri, dan
lembaga lainnya untuk mencapai hasil yang optimal.

2.4. Definisi Kejadian Luar Biasa

Menurut peraturan menteri kejadian luar biasa yang di singkat KLB adalah
timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan/atau kematian yang
bermakna secara epidemiologi pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, dan
merupakan keadaan yang dapat menjurus kepada terjadinya wabah. penderita
yang beresiko menimbulkan KLB dapat diketahui jika melakukan pengamatan yang
merupakan semua kegiatan yang dilakukan secara teratur, teliti dan terus-
menerus, meliputi pengumpulan, pengolahan, analisa/interpretasi, penyajian data
dan pelaporan. Apabila hasil pengamatan menunjukkan adanya tersangka KLB,
maka perlu dilakukan penyelidikan epidemiologis yaitu semua kegiatan yang
dilakukan untuk mengenal sifat-sifat penyebab dan faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi terjadinya dan penyebarluasan KLB tersebut di samping tindakan
penanggulangan seperlunya. penanggulangan KLB yang direncanakan dengan
cermat dan dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait secara terkoordinasi dapat
menghentikan atau membatasi penyebarluasan KLB sehingga tidak berkembang
menjadi suatu wabah (Efendy Ferry, 2009).

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. No.


1501/MENKES/PER/X/2010, suatu daerah dapat ditetapkan dalam keadaan KLB
apabila memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut:

19
1. Timbulnya suatu penyakit menular tertentu yang sebelumnya tidak ada atau
tidak dikenal pda suatu daerah.
2. Peningkatan kejadian kesakitan terus-menerus selama 3 (tiga) kurun waktu
dalam jam, hari atau minggu berturut-turut menurut jenis penyakitnya.
3. Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan
periode sebelumnya dalam kurun waktu jam, hari, atau minggu menurut jenis
penyakitnya.
4. Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 (satu) bulan menunjukkan
kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata jumlah per
bulan dalam tahun sebelumnya.
5. Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama 1 (satu) tahun
menunjukkan kenaikan. dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata
jumlah kejadian kesakitan perbulan pada tahun sebelumnya.
6. Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1 (satu)
kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% (lima puluh persen) atau
lebih dibandingkan dengan angka kematian kasus suatu penyakit periode
sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.
7. Angka proporsi penyakit (Proportional Rate) penderita baru pada satu
periode menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding satu periode
sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik. Indonesia No.


1501/MENKES/PER/X/2010, penyakit menular tertentu yang menimbulkan wabah
adalah:

1. Kolera
2. Pes
3. Demam berdarah.
4. Campak
5. Polio
6. Difteri
7. Pertusis
8. Rabies

20
9. Malaria
10. Flu Burung H5N1
11. Antraks
12. Leptospirosis
13. Hepatitis
14. Pengaruh HINI
15. Meningitis
16. Demam Kuning
17. Chikungunya

Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian luar biasa (KLB) dapat berasal


dari faktor lingkungan, seperti kondisi sanitasi rumah, kondisi iklim dan cuaca serta
kejadian bencana alam, dan kapasitas adaptasi masyarakat dalam pemeliharaan
kesehatan lingkungan, terutama sanitasi dan sampah. Selain itu, faktor lain yang
dapat mempengaruhi kejadian KLB adalah herd immunity yang rendah. Penelitian
juga menunjukkan bahwa perbaikan infrastruktur sistem informasi epidemiologi,
penataan kawasan padat penduduk dan kumuh, mitigasi dan adaptasi terhadap
risiko bencana alam, dan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pemeliharaan
kesehatan lingkungan dapat menjadi strategi pencegahan KLB.

Penyelidikan kejadian luar biasa memerlukan pendekatan yang sistematis


dan terstruktur. Berikut adalah langkah-langkah umum yang dapat diambil:

1. Identifikasi Kejadian

Tentukan kejadian apa yang dianggap luar biasa dan perlu diselidiki.

2. Formulasi Pertanyaan Penyelidikan

Tentukan pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab selama


penyelidikan.

3. Pengumpulan Bukti

Kumpulkan bukti-bukti yang relevan terkait kejadian tersebut, seperti


laporan, saksi mata, rekaman, dan dokumentasi lainnya.

21
4. Analisis Bukti

Evaluasi bukti-bukti yang terkumpul untuk memahami kronologi


kejadian, penyebab yang mungkin, dan implikasi lebih lanjut.

5. Wawancara dan Interogasi

Jika diperlukan, wawancara saksi mata atau pihak terkait lainnya untuk
mendapatkan informasi tambahan.

6. Rekonstruksi Kejadian

Buatlah rekonstruksi atau narasi yang menjelaskan secara kronologis


bagaimana kejadian tersebut terjadi.

7. Evaluasi Bukti dan Kesimpulan

Tinjau bukti-bukti dan analisis yang telah dilakukan untuk mencapai


kesimpulan tentang penyebab dan dampak kejadian.

8. Tindakan Korektif

Jika ada kekurangan atau masalah yang diidentifikasi selama


penyelidikan, ambil langkah-langkah korektif untuk mencegah kejadian
serupa terjadi di masa depan.

9. Dokumentasi

Catat semua langkah yang diambil dan hasil penyelidikan secara rinci
untuk referensi di masa depan dan untuk pelaporan.

10. Pelaporan

Laporkan hasil penyelidikan kepada pihak yang berwenang atau pihak-


pihak terkait sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang berlaku.

2.5. Skala dan Luas Kejadian Luar Biasa

Kejadian luar biasa biasanya diukur dengan menggunakan berbagai parameter


seperti jumlah korban, kerugian materiil, area yang terdampak, dan tingkat dampak

22
sosial-ekonomi. Misalnya, gempa bumi yang memiliki magnitudo tinggi dan
menyebabkan kerusakan yang luas akan memiliki skala dan luas yang besar. Begitu
juga dengan bencana alam seperti banjir atau badai yang melanda wilayah yang luas
dan mengakibatkan kerugian yang signifikan.

Dalam situasi luar biasa, besarnya dan lingkup peristiwa sangat penting.
Kejadian luar biasa dapat dikategorikan ke dalam berbagai skala berdasarkan tingkat
keparahan dan dampaknya. Ini dapat dikategorikan ke dalam skala lokal, yang
terbatas pada wilayah atau wilayah tertentu, seperti desa atau kecamatan, skala
regional, yang mencakup beberapa wilayah atau kabupaten/kota, dan skala nasional,
yang berdampak pada beberapa provinsi di seluruh negeri atau bahkan di seluruh
dunia.

Luas kejadian luar biasa, di sisi lain, mengacu pada area atau wilayah yang
terkena dampak, mulai dari yang sangat kecil dan terlokalisir, sedang yang mencakup
beberapa desa atau kecamatan dalam satu wilayah, luas yang mencakup beberapa
kabupaten, kota, atau bahkan provinsi, hingga sangat luas yang mencakup beberapa
provinsi atau negara. Jumlah dan kedalaman kejadian luar biasa ini sangat penting
untuk menentukan tingkat respons dan penanganan yang diperlukan, serta mobilitas
sumber daya yang diperlukan untuk mengatasi situasi tersebut dengan tepat dan
efektif.

2.6. Tingkat Kedaruratan Kejadian Luar Biasa

Bagian Kedaruratan merupakan bagian penting dalam sistem kesehatan yang


bertanggung jawab untuk menangani situasi darurat, termasuk KLB. Peran utama
Bagian Kedaruratan dalam penanggulangan KLB antara lain:

1. Deteksi Dini

Bagian Kedaruratan melakukan deteksi dini terhadap potensi KLB dengan


memantau gejala atau indikator awal yang mengarah pada KLB.

2. Penanganan Medis

23
Bagian Kedaruratan memberikan penanganan medis kepada korban KLB,
baik itu dalam bentuk pertolongan pertama, perawatan lanjutan, maupun
evakuasi.

3. Koordinasi

Bagian Kedaruratan berperan sebagai koordinator dalam


penanggulangan KLB dengan melibatkan berbagai pihak terkait, seperti tim
medis, relawan, dan instansi terkait lainnya.

4. Pencegahan Penyebaran

Bagian Kedaruratan bertanggung jawab dalam melakukan tindakan


pencegahan penyebaran KLB, seperti isolasi pasien dan vaksinasi massal.

5. Edukasi dan Informasi

Bagian Kedaruratan memberikan edukasi dan informasi kepada


masyarakat terkait KLB, termasuk cara pencegahan dan tindakan yang harus
dilakukan dalam situasi darurat.

Dengan peran yang penting ini, Bagian Kedaruratan berkontribusi besar


dalam penanggulangan KLB untuk melindungi kesehatan masyarakat dan
meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan oleh KLB tersebut.

Sistem Kewaspadaan Dini KLB ( SKD-KLB) adalah kewaspadaan terhadap


penyakit berpotensi KLB beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya dengan
menerapkan teknologi surveilans epidemiologi dan dimanfaatkan untuk
meningkatkan sikap tanggap kesiapsiagaan, upaya - upaya pencegahan dan
tindakan penanggulangan kejadian luar biasa yang cepat dan tepat.

Peringatan Kewaspadaan Dini KLB yaitu peringatan kewaspadaan dini KLB


dan atau terjadinya peningkatan KLB pada daerah tertentu dibuat untuk jangka
pendek (periode 3-6 bulan yang akan datang) dan disampaikan kepada semua unit
terikat di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota , Dinas Kesehatan Propinsi,
Departemen Kesehatan, sektor terkait dan anggota masyarakat, sehingga
mendorong peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap KLB di Unit

24
Pelayanan Kesehatan dan program terkait serta peningkatan kewaspadaan
masyarakat perorangan dan kelompok. Peringatan kewaspadaan dini KLB dapat
juga dilakukan terhadap penyakit berpotensi KLB dalam jangka panjang ( periode 5
tahun yang akan datang), agar terjadi kesiapsiagaan yang lebih baik serta dapat
menjadi acuan perumusan perencanaan strategi program penanggulan KLB.

Peningkatan Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan terhadap KLB terhadap


kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap KLB meliputi peningkatan kegiatan
surveilans untuk deteksi dini kondisi rentan KLB, peningkatan kegiatan surveilans
untuk deteksi dini KLB, penyelidikan epidemiologi adanya dugaan KLB,
kesiapsiagaan menghadapi KLB dan mendorong segera dilaksanakan tindakan
penanggulangan KLB.

Persiapan yang dilakukan oleh Bagian Kedaruratan untuk menghadapi KLB


meliputi beberapa langkah penting, termasuk pelatihan dan simulasi. Berikut
adalah beberapa langkah persiapan yang umum dilakukan oleh Bagian
Kedaruratan:

1. Penyusunan Rencana Respons Darurat


a. Membuat rencana respons darurat yang mencakup prosedur-deteksi,
penanganan, dan pemulihan pasca-KLB.
b. Mengidentifikasi peran dan tanggung jawab setiap anggota tim dan pihak
terkait dalam rencana tersebut.
2. Pelatihan dan Peningkatan Kapasitas
a. Melakukan pelatihan rutin untuk meningkatkan keterampilan dan
pengetahuan tim dalam menghadapi KLB.
b. Melibatkan tim dalam kursus atau workshop yang relevan untuk
meningkatkan pemahaman mereka tentang KLB dan tindakan yang
diperlukan.
3. Simulasi KLB
a. Melakukan simulasi KLB secara berkala untuk menguji rencana respons
darurat dan melatih tim dalam menghadapi situasi darurat yang realistis.
b. Mempersiapkan skenario simulasi yang beragam dan kompleks untuk
memastikan tim siap menghadapi berbagai jenis KLB.
25
4. Pengadaan dan Pemeliharaan Peralatan
a. Memastikan ketersediaan peralatan medis dan fasilitas lain yang
diperlukan untuk penanganan KLB.
b. Melakukan pemeliharaan rutin terhadap peralatan untuk memastikan
kesiapan dan fungsionalitasnya.
5. Koordinasi dengan Pihak Terkait
a. Berkoordinasi dengan pihak terkait seperti instansi pemerintah, lembaga
kesehatan, dan organisasi non-pemerintah untuk meningkatkan
kesiapsiagaan dan koordinasi dalam menghadapi KLB.
b. Membangun jaringan kerjasama yang kuat untuk berbagi informasi dan
sumber daya dalam situasi darurat.
6. Komitmen terhadap Standar Keselamatan dan Keamanan
a. Memastikan bahwa tim mematuhi standar keselamatan dan keamanan
yang relevan dalam penanganan KLB.
b. Mengidentifikasi dan mengatasi potensi risiko keamanan yang terkait
dengan penanganan KLB.

Dengan melakukan langkah-langkah persiapan ini, Bagian Kedaruratan dapat


meningkatkan kesiapsiagaan mereka dalam menghadapi KLB dan memastikan
bahwa mereka siap untuk merespons dengan cepat dan efektif dalam situasi darurat.

Metode deteksi awal untuk mengidentifikasi KLB, yaitu:

1. Surveilans Kesehatan Masyarakat

Pengumpulan dan analisis data kesehatan secara terus-menerus untuk


mendeteksi pola-pola yang tidak biasa atau lonjakan kasus penyakit yang
dapat menandakan adanya KLB.

2. Pemantauan Epidemiologi

Melacak dan menganalisis tren penyakit dan kondisi kesehatan dalam


populasi untuk mengidentifikasi adanya peningkatan kasus yang tidak biasa.

3. Pemantauan Laboratorium

26
Pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi patogen penyebab
penyakit yang dapat menunjukkan adanya KLB.

4. Pelaporan Kasus

Sistem pelaporan kasus penyakit yang diidentifikasi oleh penyedia


layanan kesehatan untuk memantau dan merespons peningkatan kasus yang
mencurigakan.

5. Pemantauan Kesehatan Lingkungan

Pemantauan kondisi lingkungan seperti kualitas udara, air, dan tanah


untuk mendeteksi faktor lingkungan yang dapat berkontribusi pada KLB.

6. Sistem Informasi Kesehatan

Penggunaan sistem informasi kesehatan yang terintegrasi untuk


mengidentifikasi pola dan tren penyakit yang mencurigakan

Langkah-langkah penanganan dan perawatan oleh bagian kedaruratan:

1. Evaluasi dan Triage

Penilaian awal terhadap pasien untuk menentukan tingkat


keparahan dan prioritas penanganan.

2. Pertolongan Pertama

Pemberian pertolongan pertama seperti pemulihan jalan napas,


penghentian pendarahan, dan stabilisasi kondisi pasien.

3. Pengobatan

Pemberian pengobatan yang sesuai sesuai dengan diagnosis dan


kondisi pasien.

4. Monitoring dan Perawatan Lanjutan

Pemantauan terus-menerus terhadap kondisi pasien dan pemberian


perawatan lanjutan sesuai kebutuhan.

5. Pengelolaan Nyeri

27
Pengendalian nyeri yang efektif sesuai dengan standar keperawatan.

6. Intervensi Medis

Melakukan tindakan medis seperti pemasangan infus, pemberian


obat-obatan, atau tindakan bedah darurat jika diperlukan.

7. Pemulihan dan Rehabilitasi

Memberikan perawatan pemulihan dan rehabilitasi kepada pasien


untuk memulihkan fungsi fisik dan psikologis mereka.

8. Konseling dan Dukungan Psikologis

Memberikan konseling dan dukungan psikologis kepada pasien dan


keluarganya dalam menghadapi dampak emosional dari KLB.

2.7. Definisi Respon Dini

CDC menyebut respons dini sebagai tindakan cepat untuk mengidentifikasi


dan merespons ancaman kesehatan masyarakat seperti wabah penyakit atau
bencana alam untuk meminimalkan efeknya.

Respon dini, menurut BNPB, adalah kumpulan tindakan yang diambil segera
setelah bencana untuk menyelamatkan nyawa, melindungi harta benda, dan
memulihkan kehidupan masyarakat secepat mungkin.

WHO menyatakan bahwa respon dini dalam konteks kesehatan masyarakat


mencakup kesiapan sistem kesehatan untuk mengatasi situasi darurat, deteksi dini,
pelaporan cepat, dan intervensi segera terhadap ancaman kesehatan.

Departemen Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) mengatakan


bahwa "respon dini" merujuk pada tindakan cepat yang diambil untuk mengatasi
pencemaran atau bahaya lingkungan, yang mencakup pemulihan dan pencegahan
lebih lanjut terhadap kerusakan lingkungan.

Secara umum, respons dini mengacu pada tindakan pencegahan, antisipatif,


dan persiapan yang diambil segera mungkin untuk mencegah atau mengurangi

28
dampak dari krisis atau bencana yang akan atau sudah terjadi. Menyelamatkan
nyawa, melindungi masyarakat, dan mencegah keadaan darurat memburuk.

Respon dini juga berperan penting dalam mempercepat proses pemulihan


setelah kejadian luar biasa mereda. Dengan menangani situasi sejak awal, aktivitas
masyarakat dapat kembali pulih dalam waktu yang lebih singkat, sehingga
mengurangi gangguan jangka panjang yang dapat terjadi. Selain itu, respon dini
mendorong koordinasi yang lebih baik antara berbagai pihak terkait, seperti
pemerintah, lembaga bantuan, dan masyarakat, serta meningkatkan kesiapsiagaan
untuk menghadapi kejadian serupa di masa mendatang.

Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon merupakan sebuah sistem yang


memiliki kemampuan untuk terus memantau evolusi tren dari suatu penyakit
menular yang berpotensi menyebabkan KLB atau wabah, secara berkala dan dalam
rentang waktu mingguan. Melalui pemantauan ini, sistem mampu memberikan
sinyal peringatan kepada pihak yang bertanggung jawab atas program kesehatan
apabila jumlah kasus yang terdeteksi melebihi ambang batas yang telah ditentukan,
yang pada gilirannya akan mendorong mereka untuk segera mengambil tindakan
responsif. Penting untuk dicatat bahwa penampilan alert atau sinyal pada sistem
ini bukanlah indikasi pasti bahwa KLB telah terjadi, melainkan merupakan tanda
awal (pra-KLB) yang menuntut respons segera dari petugas kesehatan guna
mencegah terjadinya KLB yang lebih luas. Dengan demikian, sistem ini berperan
sebagai alat pendukung yang efektif dalam upaya pencegahan dan pengendalian
penyakit menular potensial di masyarakat.

2.8. Pentingnya Respon Dini

Dalam bidang kesehatan, manajemen risiko bisnis, dan bencana alam,


respons dini sangat penting. Dengan melakukannya dengan benar, kita dapat
melindungi masyarakat, lingkungan, dan diri kita sendiri dari ancaman. Faktor-
faktor berikut menentukan pentingnya respons cepat dalam berbagai situasi:

1. Mengurangi dampak negative

29
Respon dini membantu mengurangi dampak ancaman atau masalah
sebelum menjadi lebih parah.
2. Mempermudah Solusi
Proses penyelesaian yang efektif dan efisien dipermudah dengan
tindakan cepat.
3. Menggalakkan kerja sama
Respon dini mendorong orang untuk bekerja sama untuk
memaksimalkan penggunaan sumber daya.
4. Melindungi Keamanan
Dalam konteks keamanan, respons dini terhadap ancaman
memungkinkan untuk mencegah eskalasi kekerasan atau kekacauan.
5. Memperluas pilihan
Respon dini memungkinkan lebih banyak pilihan, yang dapat
meningkatkan hasil akhir.
6. Memperoleh reputasi positif
Organisasi dengan respons dini yang efektif dapat memperoleh
reputasi baik di masyarakat.
7. Memenuhi standarisasi internasional
Organisasi harus mengikuti standarisasi internasional dalam hal
kesehatan, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
8. Memperkuat resilensi
Respon dini membantu memperkuat resilensi masyarakat, organisasi,
dan negara terhadap ancaman.

Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) memiliki peran penting dalam
mendeteksi, menanggulangi, dan merespons ancaman atau kejadian darurat,
seperti bencana alam, wabah penyakit, atau ancaman keamanan. Pentingnya SKDR
dapat dijelaskan melalui beberapa aspek, antara lain:

1. Deteksi Dini:

SKDR memungkinkan untuk mendeteksi ancaman atau kejadian darurat


secara cepat dan akurat, sehingga tindakan preventif dan respons yang tepat

30
dapat segera dilakukan. Hal ini dapat mengurangi dampak negatif yang
ditimbulkan oleh ancaman atau kejadian darurat tersebut.

2. Respons Cepat

Dengan adanya SKDR, respons terhadap ancaman atau kejadian darurat


dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi. Hal ini dapat menyelamatkan
nyawa, melindungi harta benda, dan meminimalkan kerugian yang
ditimbulkan.

3. Koordinasi dan Kolaborasi

SKDR memungkinkan adanya koordinasi dan kolaborasi antara berbagai


pihak terkait, seperti pemerintah, lembaga kesehatan, lembaga
penanggulangan bencana, dan masyarakat. Hal ini penting untuk memastikan
respons yang efektif dan terintegrasi.

4. Peningkatan Kesiapsiagaan

Dengan adanya SKDR, kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman atau


kejadian darurat dapat ditingkatkan melalui pelatihan, simulasi, dan
perencanaan respons. Hal ini dapat meningkatkan kemampuan dalam
menangani situasi darurat dengan lebih baik.

5. Perlindungan Masyarakat

SKDR bertujuan untuk melindungi masyarakat dari ancaman dan


kejadian darurat, sehingga memberikan rasa aman dan perlindungan bagi
masyarakat.

Pentingnya SKDR didukung oleh berbagai sumber informasi resmi, seperti


pedoman dan regulasi pemerintah, laporan lembaga kesehatan dan
penanggulangan bencana, serta publikasi ilmiah terkait manajemen bencana dan
kesehatan masyarakat. Melalui sumber-sumber ini, dapat ditemukan informasi
yang mendukung pentingnya SKDR dalam menjaga keselamatan dan kesejahteraan
masyarakat.

31
Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk memiliki sistem peringatan
dini dan rencana tanggap darurat yang efektif, serta terus meningkatkan kapasitas
dan kesiapan dalam merespons kejadian luar biasa secara cepat dan terkoordinasi.

2.9. Pentingnya Kordinasi

Salah satu komponen yang sangat penting dalam respons dini terhadap
wabah adalah koordinasi. Ini penting karena beberapa alasan:

1. Memastikan upaya yang efektif dan terintegrasi

Tanpa kerja sama yang efektif, berbagai lembaga dan pemangku


kepentingan dapat bertindak tumpang tindih atau bahkan bertentangan satu
sama lain. Untuk respons yang lebih efisien, koordinasi memungkinkan
penyatuan sumber daya, keahlian, dan strategi.

2. Berbagi informasi dan data secara real-time

Selama wabah, keadaan dapat berubah dengan cepat dengan berbagi


data dan informasi. Untuk meningkatkan proses pengambilan keputusan,
koordinasi membantu semua pihak berbagi informasi terkini tentang
penyebaran penyakit, kasus baru, dan perkembangan lainnya.

3. Memanfaatkan keahlian dan sumber daya yang beragam

Penanganan wabah membutuhkan keahlian dari berbagai bidang,


seperti kesehatan masyarakat, epidemiologi, logistik, komunikasi, dll. Semua
keahlian ini dapat dimaksimalkan dengan bekerja sama.

4. Komunikasi dan pesan yang konsisten

Untuk meningkatkan kepercayaan dan kepatuhan, koordinasi


memastikan bahwa informasi dan instruksi yang diberikan kepada
masyarakat umum konsisten dan tidak membingungkan.

5. Persiapan jangka panjang

32
Untuk persiapan dan perencanaan pengendalian wabah dalam jangka
panjang, jika diperlukan, koordinasi diperlukan selama respons awal wabah.
Respon terhadap wabah baru akan lebih cepat, efektif, dan terorganisir
dengan baik jika pemerintah, organisasi kesehatan, lembaga riset,
perusahaan, dan semua pemangku kepentingan lain bekerja sama dengan
baik.

2.10. Komunikasi dalam Respon Cepat

Respon cepat adalah suatu hal yang sangat penting dalam berkomunikasi.
Banyak faktor yang mempengaruhi respon cepat, seperti situasi, kesibukan, dan
jenis media yang digunakan untuk berkomunikasi. respon cepat pada pesan atau
pertanyaan sangat penting dalam berbagai bidang, termasuk dalam bisnis. selain di
bidang bisnis, arti fast respon juga penting dalam bidang pendidikan. dalam
kehidupan sehari-hari, arti fast respon juga bisa diterapkan dalam berbagai aspek,
seperti dalam membalas pesan teman atau keluarga. intinya fast respon sangat
penting, karena menunjukkan ketepatan dan kemampuan seseorang dalam
merespon.

Dalam respons dini terhadap wabah, komunikasi cepat sangat penting untuk
memberikan informasi yang akurat, relevan, dan tepat waktu kepada masyarakat,
tenaga medis, dan pihak terkait lainnya. Untuk menanggapi wabah penyakit
dengan cepat, komunikasi yang efektif sangat penting. Berikut adalah beberapa
alasan mengapa komunikasi sangat penting dalam respons dini terhadap wabah:

1. Informasi yang akurat dan tepat waktu diperlukan selama wabah

Dengan komunikasi yang efektif, informasi dapat disebarkan dengan


cepat dan jelas kepada masyarakat umum, petugas kesehatan, dan
pemangku kepentingan lainnya.

2. Koordinasi antar lembaga

Banyak lembaga, seperti pemerintah, organisasi kesehatan, dan


lembaga penelitian, terlibat dalam menangani wabah. Lembaga-lembaga ini

33
memerlukan komunikasi yang lancar satu sama lain untuk koordinasi upaya,
berbagi data, dan pengambilan keputusan yang tepat.

3. Komunikasi yang efektif

Manajemen risiko dan penanganan krisis membantu mengelola


persepsi risiko masyarakat, meredakan kekhawatiran, dan memberikan
arahan yang jelas dalam situasi darurat. Ini mengurangi kekacauan dan
memastikan bahwa masyarakat mematuhi protokol kesehatan.

4. Pelibatan masyarakat

Komunikasi dua arah dengan masyarakat diperlukan untuk


mendapatkan umpan balik, memahami kekhawatiran, dan melibatkan
mereka dalam upaya penanggulangan wabah. Hal ini meningkatkan
kepercayaan dan kepatuhan masyarakat.

5. Kerjasama internasional

Komunikasi yang efektif antara negara, badan kesehatan dunia, dan


organisasi lain sangat penting untuk koordinasi respons global yang efektif
terhadap wabah lintas batas negara.

Telepon, situs web, media sosial, dan lainnya adalah beberapa jalur
komunikasi yang harus digunakan. Pesan harus mudah dipahami, konsisten, dan
dapat diandalkan. Kepanikan, kesalahpahaman, dan respons yang tidak efektif
dapat disebabkan oleh komunikasi yang buruk.

34
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

35
DAFTAR PUSTAKA

Alfiansyah, G. (2017). Penyelidikan epidemiologi kejadian luar biasa (KLB) difteri di Kabupaten
Blitar tahun 2015. PREVENTIA, 2(1).

Arisanti, R. R., Indriani, C., & Wilopo, S. A. (2018). Kontribusi agen dan faktor penyebab
kejadian luar biasa keracunan pangan di Indonesia: kajian sistematis. Berita Kedokteran
Masyarakat, 34(3), 99-106.

Febbiyanti, T. R., & Fairuzah, Z. (2019). Identifikasi penyebab kejadian luar biasa penyakit
gugur daun karet di Indonesia. Jurnal Penelitian Karet, 193-206.

Anggraeni, P., Heridadi, H., & Widana, I. K. (2018). Faktor risiko (breeding places, resting
places, perilaku kesehatan lingkungan, dan kebiasaan hidup) pada kejadian luar biasa demam
berdarah dengue di Kecamatan Cikupa Kabupaten Tangerang. Jurnal Manajemen Bencana
(JMB), 4(1).

---

https://bphn.go.id/data/documents/wabah_penyakit_menular.pdf

https://lms-
paralel.esaunggul.ac.id/pluginfile.php?file=%2F75737%2Fmod_resource%2Fcontent%2F1%2
Fsesi5_7517_KMS111_042018_pdf.pdf

https://id.wikipedia.org/wiki/Pencegahan_pandemi

https://dinkes.gorontaloprov.go.id/apa-pengertian-dari-skdr/

https://www.dinkes.lebakkab.go.id/public/deploy/pdf/1659693050_3010488578a1222205
76.pdf

https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Wabah

http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK%20No.%20949%20ttg%20Pedoma
n%20Penyelenggaraan%20Sistem%20Kewaspadaan%20Dini%20KLB.pdf

https://sitkb3.menlhk.go.id/infomerkuri/?p=4660

36
https://pakguru.co.id/arti-fast-respon/

37

Anda mungkin juga menyukai