0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
120 tayangan15 halaman

Kelekatan Emosional Remaja Pasca Perceraian

Penelitian ini bertujuan untuk memahami kelekatan emosional remaja yang berasal dari keluarga yang orang tuanya bercerai. Studi kasus dilakukan terhadap seorang remaja di Bojongkulur yang menunjukkan kelekatan emosional yang rendah akibat komunikasi yang kurang dengan kedua orang tua. Hasil wawancara mengungkap persepsi yang berbeda antara remaja dan ibunya mengenai kualitas hubungan di dalam keluarga.

Diunggah oleh

Dita Juwita
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
120 tayangan15 halaman

Kelekatan Emosional Remaja Pasca Perceraian

Penelitian ini bertujuan untuk memahami kelekatan emosional remaja yang berasal dari keluarga yang orang tuanya bercerai. Studi kasus dilakukan terhadap seorang remaja di Bojongkulur yang menunjukkan kelekatan emosional yang rendah akibat komunikasi yang kurang dengan kedua orang tua. Hasil wawancara mengungkap persepsi yang berbeda antara remaja dan ibunya mengenai kualitas hubungan di dalam keluarga.

Diunggah oleh

Dita Juwita
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KELEKATAN EMOSIONAL REMAJA PADA ORANG TUA YANG

BERCERAI

Siti Nur Syaidah Samsudin1), Nabila Putri Desmitha2), Julia Sundari3)


1, 2, 3
Universitas Islam As-syafi’iyah
dita.bk@uia.ac.id

ABSTRAK
Kelekatan didukung oleh tingkah laku lekat (attachment behavior) yang dirancang untuk
memelihara hubungan antara anak dan orang tua. Penelitian ini dilaksanakan untuk
memperoleh gambaran tentang pelaksanaan studi kasus pada keluarga yang berada di
lokasi penelitian mengenai kelekatan di dalam diri remaja dalam kondisi orang tua yang
bercerai. Melalui studi kasus ini peneliti akan dapat memahami subjeknya secara
mendalam. Berdasarkan dari pemaparan yang ada maka metode studi kasus secara nyata
di Bojongkulur untuk mendalami suatu permasalahan dari subjek. Subjek penelitian
dipilih dengan menggunakan purposive sampling dan didapatkan hasil rendahnya
kelekatan remaja dengan kondisi keluarga yang tak utuh. Berdasarkan hasil pengamatan
peneliti di Bojongkulur dan ditemukan beberapa anak remaja yang kelekatan
emosionalnya kurang baik. Terlihat mereka ketika berkomunikasi dengan orangtuanya di
rumah. Pribadi yang terlihat pada subjek yaitu jarang bercerita dan terbuka kepada
orangtuanya, baik kata maupun tindakan, memiliki rasa takut bercerita, dan bahkan tidak
ada komunikasi sedikitpun dengan ayah atau ibu sambung. Ketika peran dalam kehidupan
keluarga lebih khusus orang tua diabaikan maka akan berpengaruh pada karakter si anak.
Salah satu penyebabnya adalah bagaimana cara berkomunikasi orang tua dengan anak.
Secara tidak langsung alasan anak mempunyai emosional maupun kedekatan adalah
bagaimana cara orang tua berinteraksi di lingkungan keluarga. Oleh karena itu orang tua
harus bertanggung jawab atas proses pembentukan karakter dan emosional anak, sehingga
diharapkan selalu memberikan arahan, mengawasi dan membimbing perkembangan anak
melalui interaksi yang dibangun dalam bentuk komunikasi yang baik antara orang tua
dengan anak dalam lingkungan keluarga. Setiap keluarga mempunyai pola-pola tersendiri
dalam berkomunikasi dengan anak.

Kata kunci : Kelekatan, Emosional, Perceraian

ABSTRACT

Attachment is supported by attachment behavior designed to maintain the relationship


between child and parent. This research aims to obtain an overview of the
implementation of case studies in families at the research location regarding how
attachment occurs to adolescents when their parents divorce. Through this case study a
counselor will be able to understand the subject in depth. Based on the explanation
above, a real case study was carried out in Bojongkulur to explore a problem on this
subject. By using purposive sampling, the results obtained were low attachment among
teenagers with incomplete family conditions. Based on the results of observations by
researchers in Bojongkulur, it was found that several teenagers had poor emotional
attachment. The personality that is seen in children is that they rarely tell stories and are
open to their parents (speech/action), are afraid to tell stories, and don't even
communicate at all with their father or mother. When the role in family life, it will have
an impact on the child's character. One reason is the way parents communicate with
their children. Indirectly, the cause of children being emotional and close is parents
interact in the family environment. Therefore, parents must be responsible for the process
of forming their child's character and emotions, so they are expected to always provide
direction, supervision and guidance towards their child's development through
interactions built in the form of good communication between parents and children in the
family environment. Each family has its own communication patterns with children.

Keyword : Attachment, Emotional, Divorce

Pendahuluan
Kelekatan (attachment) merupakan istilah yang pertama kali dikemukakan oleh
seorang psikolog dari Inggris bernama John Bowlby. Attachment merupakan
tingkah laku yang khusus pada manusia, yaitu kecenderungan dan keinginan
seseorang untuk mencari kedekatan dengan orang lain dan mencari kepuasan
dalam hubungan dengan orang tersebut. Kelekatan merupakan suatu ikatan
emosional yang kuat yang dikembangkan anak melalui interaksinya dengan orang
yang mempunyai arti khusus dalam kehidupannya, biasanya orang tua (Mc
Cartney & Dearing dalam Eliasa, 2011). Sebagian besar anak telah membentuk
kelekatan dengan pengasuh utama (primary care giver) pada usia sekitar delapan
bulan dengan proporsi 50% pada ibu, 33% pada ayah dan sisanya pada orang lain
(Sutcliffe dalam Ervika, 2005). Kelekatan bukanlah ikatan yang terjadi secara
alamiah. Ada serangkaian proses yang harus dilalui untuk membentuk kelekatan
tersebut.
Tokoh yang mencetuskan konsep attachment (kelekatan) adalah Bowlby.
Istilah attachment untuk pertama kalinya dikemukakan oleh seorang psikolog dari
Inggris pada tahun 1958, bernama John Bowlby. Kemudian formulasi yang lebih
lengkap dikemukakan oleh Mary Ainsworth pada tahun 1969 bahwa kelekatan
adalah ikatan emosional yang dibentuk seorang individu yang bersifat spesifik,
mengingat mereka dalam suatu kedekatan yang bersifat kekal sepanjang waktu.
Kelekatan merupakan suatu hubungan yang didukung oleh tingkah laku lekat
(attachment behavior) yang dirancang untuk memelihara hubungan tersebut.
Aspek-aspek Kelekatan Orangtua mengacu pada teori Amsden dan Greenberg
(2009) mendesain IPPA (Inventory of Parent and Peer Attachment) untuk
mengukur kualitas attachment remaja terhadap orangtua dan teman sebaya.
Berdasarkan pengembangan IPPA ada tiga dimensi dasar konstruksi yaitu :
komunikasi (comunication), kepercayaan (trust), dan keterasingan (alienation).

Melihat fenomena yang telah dijelaskan, maka peneliti tertarik untuk mengkaji
terkait kehidupan masa kini para remaja yang berada di dalam keluarga yang
bercerai. Peneliti merasa tertarik untuk menyelami dan mengidentifikasi kelekatan
anak remaja pada orang tua yang bercerai dapat mempengaruhi dampak
emosional maupun komunikasi yang terjalin. Hal-hal tersebut itulah yang
melatarbelakangi peneliti untuk melakukan penelitian yang berjudul “Kelekatan
Emosional Remaja Pada Orang Tua Bercerai”

Penelitian ini dilakukan betujuan untuk mendiskripsikan tentang bagaimana


kelekatan anak remaja didalam keluarga yang bercerai mampu mempengaruhi
emosional yang dibentuknya. Idealnya keluarga yang harmonis maka membentuk
emosi yang baik didalam diri anak remaja. Namun realita didalam penelitian
orang tua yang bercerai dan memiliki berbagai konflik nyatanya membuat
emosional anak remaja terganggu.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan studi kasus kualitatif. Peneliti berupaya mendalami


penelitian dalam megidntifikasi kelekatan di suatu kelurga yang telah bercerai
secara utuh. Penelitian ini dilakukan di desa Bojongkulur, kabupaten Bogor.
Subjek penelitiannya adalah anak remaja yang berinisial E dengan informan
pendukung selaku ibu kandung dengan insial X.

Pengambilan sampel atau pemilihan subjek menggunakan purposive sampling.


Adapun kriteria pengambila subjek penelitian adalah seseorang yang telah
memasuki masa remaja akhir (18-21) yang berasal dari keluarga yang orang
tuanya telah bercerai. Pada penelitian ini, melakukan uji keabsahan data yang
dilakukan oleh peneliti adalah dengan teknik trianggulasi. Teknik trianggulasi
yang digunakan adalah trianggulasi sumber, waktu, dan trianggulasi teknik.

Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan


dokumentasi. Observasi dan wawancara digunakan untuk mengambil dan
menggali data primer penelitian. Dalam pengumpulan data, peneliti menyusun
item pernyataan dan pertanyaan yang dituangkan dalam pedoman instrumen.
Sedangkan instrumen kunci dalam pengumpulan dan menggalidata adalah peneiti
sendiri. Setelah di dapatkan data, peneliti melakukan analisis data mengalir (flow
model) dengan urutan reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan
(Miles & Huberman, 1994).

Hasil dan Pembahasan


Pemahaman Orang Tua terhadap Kelakatan pada Anak
Seorang remaja akhir berusia 20 tahun yang berinisial E yang orang tuanya
telah bercerai kurang lebih 12 tahun. Kelekatan merupakan sebuah ikatan
emosional yang ditumbuhkan melalui interaksi dengan sesorang yang berperan
penting di dalam kehidupannya, dalam hal ini adalah orang tua. Kelekatan
merupakan bentuk dari pertalian rasa kasih sayang, dimana hubungan yang
terjalin menimbulkan rasa aman (Utami & Pratiwi, 2021). Berdasarkan hasil
pengamatan peneliti di Bojongkulur ditemukan beberapa anak remaja yang
kelekatan emosionalnya kurang baik. Terlihat mereka ketika berkomunikasi
dengan orangtuanya di rumah. Pribadi yang terlihat pada anak yaitu jarang
bercerita dan terbuka kepada orangtuanya (kata/tindakan), memiliki rasa takut
bercerita, dan bahkan tidak ada komunikasi sedikitpun dengan ayah/ibu sambung.
Salah satu penyebabnya adalah bagaimana cara berkomunikasi orang tua
dengan anak. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan utama anak dalam
mengenal segala sesuatu hingga mereka menjadi tahu dan mengerti. Hasil
wawancara pertama peneliti mendapatkan perbandingan yang tidak sama dari
pernyataan E dan X. Wawancara pernyataan E ‘‘dari kecil saya tidak pernah
merasakan kenyamanan dan rasa dibutuhkan oleh kedua orang tua, jika saya
bukan anak yang diharapkan mengapa saya harus ada di dunia’’. Lalu informan X
mengatakan “ kedekatan kita alhamdulillah baik-baik saja, si E dan ayah tirinya
pun baik-baik saja”. Secara tidak langsung alasan anak mempunyai emosional
maupun kedekatan adalah bagaimana cara orang tua berinterkasi dilingkungan
keluarga. Tetapi juga terdapat orangtua yang utuh namun salah satu maupun
kedua orangtuanya sibuk bekerja, sehingga fungsi keluarga menjadi kurang
optimal (Devor, 2018; Dollberg, 2022; Kacenelenbogen, 2018; Kalb, 2021;
Papadopoulos, 2023; Zemp, 2020).

Upaya memastikan ketidakpahaman orang tua mengenai kelekatan, beberapa


pendalaman hasil wawancara dengan oran tua tersebut berkaitan intensitas mereka
bersama anaknya. Wawancara selanjutnya peneliti memastikan lebih lanjut atas
pernyataan wawancara sebelumnya, maka di peroleh informan Ibu X
menyebutkan bahwa waktu untuk bersama dengan anaknya sangat sedikit
dikarenakan dirinya bekerja dan anaknya pun di asramakan. Pernyataan berikut di
sebutkan ‘‘saya bekerja karena untuk membantu perekonomian keluarga ya
walaupun tidak besar, saya juga menitipkan anak saya di asrama untuk dapat
bersekolah maka dari itu sangat jarang waktu kebersamaan kita dan antara E
dengan ayah tirinya berkomunikasi hanya saat waktu tertentu saja’’. Menurut
Shalini & Archarya (Cahyani, dkk, 2022) pengasuhan yang dilakukan orangtua
berkontribusi terhadap perkembangan kecerdasan emosi anaknya karena setiap
gaya pengasuhan menciptakan iklim emosi yang berbeda.

Komunikasi Kelekatan Anak dan Orang Tua

Komunikasi juga merupakan kegiatan yang pasti terjadi dalam setiap keluarga.
Tanpa komunikasi, kehidupan keluarga pasti sangatlah sepi jika tidak adanya
pembicaraan atau perbincangan antar sesama. Akibatnya hubungan anggota
keluarga tidak terjalin dengan baik dan harmonis.Dengan adanya komunikasi
dapat mencegah adanya kekerasan dalam keluarga ketika terjadi konflik anggota
keluarga terutama orang tua, akan terbiasa menyelesaikan permasalahan dengan
diskusi. Tujuan dari komunikasi dalam keluarga yaitu untuk mengetahui dunia
luar, untuk mengubah sikap dan perilaku. Oleh karena itu dengan melakukan
komunikasi interpersonal yang baik diharapkan perkembangan pemahaman moral
akan berjalan baik pada seorang remaja. (Widjaya dalam Marwa,M, 2019).

Dalam kasus ini anak tidak merasakan komunikasi yang diinginkan.sesuai


dengan pernyataan “saya tidak pernah bercerita hal yang membebani perasaan
saya entah itu ke orang tua kandung ataupun ayah tiri, malahan saya bercerita
semua masalah saya hanya kepada sahabat saya”. Penegasan berikutnya
disampaikan oleh Ibu X bahwa anaknya hanya bercerita yang tidak meyangkut
masalah yang serius “anak saya bercerita seperti kegiatan yang sedang dijalankan,
tapi untuk masalah yang besar belum pernah diceritakan”.

Emsional Anak dari Orang Tua bercerai

Masa remaja menjadi masa perkembangan individu yang erat kaitannya dengan
permasalahan emosi (Ashran dkk., 2020). Kurangnya kasih sayang membuat anak
senang mencari perhatian orang lain dan egosentris dan tidak percaya diri atas
kemampuan yang dia miliki sehingga takut untuk mencoba sesuatu yang baru.
Rendah diri pada anak disebabkan karena orang tua mendidik anak dengan
metode yang keliru dan berdasarkan ancaman (Wiyani, 2014:80). Tingginya
kecerdasan emosional pada remaja searah dengan tingginya skor kelekatan
hubungan dengan orang tuanya, begitupun sebaliknya (Iftinan & Junaidin, 2021;
Damara & Aviani, 2020; Utami & Pratiwi, 2021; Nadhila, 2018).

Identifikasi kasus juga menyangkut siapa individu atau sejumlah individu yang
dapat ditandai atau diduga bermasalah atau memerlukan layanan bantuan. Sejalan
dengan hasil penelitian Muliana, dkk (dalam Triana & Khairil, 2019) yang
menjelaskan bahwa remaja dari keluarga bercerai cenderung sulit mengendalikan
emosi serta sering melakukan kekerasan baik secara fisik maupun verbal, kurang
berempati, acuh terhadap lingkungan, dan kurang mampu dalam menyesuaikan
diri dengan lingkungan sosial. Seperti yang dipaparkan oleh E ‘‘saya takut jika
bercerita kepada orang tua, karena gambaran saya terhadap mereka sangat gelap,
masih terbayang pukulan yang mereka lakukan di masa lalu. Dan ketika saya
mengalami pelecehan seksual pun mereka tidak ada yang peduli dan hanya
menyalahkan diri saya yang kurang bisa menjaga diri’’. Identifikasi ini pun
sebagai bentuk dorongan dari suatu kegiatan dari penelitian untuk menjadi
penyebab suatu kegiatan penelitian terjadi untuk dilakukan, perumusan dapat
dilakukan dengan pengembangan sehingga mendapatkan wawasan baru dan untuk
menghimpun informasi apakah seorang anak mengalami kelainan/penyimpangan
(fisik, intelektual, sosial, emosional). Menurut Gunarsah, keluarga bahagia adalah
keluarga yang semua anggota keluarganya mengalami kebahagiaan yang ditandai
dengan berkurangnya ketegangan, kekecewaan, dan rasa puas terhadap segala
keadaan dan keberadaan dirinya (eksistensi dan aktualisasi diri), yang meliputi
fisik, mental, aspek emosional, dan sosial. Di sisi lain, keluarga yang tidak
bahagia adalah keluarga yang satu atau lebih anggota keluarganya dilanda
ketegangan, kecewa, dan tidak pernah puas, serta terganggu atau terhalang
(Oktaviani et al., 2021)

Dari berbagai informasi yang telah diperoleh melalui pengumpulan data


seperti, observasi, wawancara, maka gambaran umum permasalahan yang
diperoleh menyangkut pada kelekatan dirumah antara anak dan orangtua dan
perencanaan keluarga ideal. Adapun karakteristiknya di jabarkan sebagai berikut;
(1) Ketidakpercayaan diri dalam menyampaikan keluh kesah; (2) gambaran buruk
terhadap orangtua; (3) nyaman bercerita kepada teman dibanding ke orang tua;(4)
Kehidupan keluarga yang kurang komunikasi dengan ekonomi rendah.

Ketika peran dalam kehidupan keluarga lebih khusus orang tua diabaikan maka
akan berpengaruh pada karakter anak. Oleh karena itu orang tua bertanggung
jawab atas proses pembentukan karakter dan emosional anak, sehingga
diharapkan selalu memberikan arahan, mengawasi dan membimbing
perkembangan anak melalui interaksi yang dibangun dalam bentuk komunikasi
yang baik antara orang tua dengan anak dalam lingkungan keluarga. Setiap
kelauarga mempunyai pola- pola tersendiri dalam berkomunikasi dengan anak.

Masa remaja adalah masa yang sangat penting bagi perkembangan pada masa-
masa selanjutnya, karena masa remaja menjadi dasar berhasil atau tidaknya
seseorang menjalani kenyataan hidup pada masa selanjutnya. Pada masa ini
remaja akan berusaha menemukan jati diri, mencapai kemandirian emosional,
kematangan hubungan social, dan mempersiapkan diri meniti karir.

Menurut Aziz Safrudin (2015:235), komunikasi keluarga adalah suatu


pengorganisasian yang menggunakan kata-kata, sikap tubuh, intonasi suara,
tindakan untuk menciptakan harapan image, ungkapan perasaan serta saling
membagi pengertian. Dilihat dari pengertian di atas bahwa kata-kata, sikap tubuh,
intonasi suara, dan tindakan, mengandung maksud mengajarkan, mempengaruhi
dan memberikan pengertian. Sedangkan tujuan pokok dari komunikasi ini adalah
memprakarsai dan memelihara interaksi antara satu anggota dengan anggota
lainnya sehingga tercipta komunikasi yang efektif. Pada hakikatnya komunikasi
dalam sebuah keluarga khususnya antara orang tua dengan anak memiliki
kontribusi yang luar biasa bagi keduanya, karena dengan adanya komunikasi yang
efektif dan efisien yang dilaksanakan secara terus menerus dapat menciptakan
keakraban, keterbukaan, perhatian yang lebih antara keduanya serta orang tua pun
lebih dapat mengetahui perkembangan pada anak baik fisik maupun psikisnya.
Efek perceraian pada anak terkait dengan kemampuan komunikasi kedua orang
tua, sebelum, selama, dan setelah perceraian.Menurut Kiraz dan Ersoy (2017)
anak dengan orang tua tunggal cenderung memiliki self-esteemdan konsep diri
rendah. Sementara itu, remaja dari keluarga utuh memiliki lebih banyak
komunikasi positif daripada remaja dari keluarga bercerai (Borrine, Handal,
Brown,&Searight,1991).

Kesimpulan

Jadi disimpulkan bahwa perceraian tidak hanya berdampak bagi yang


bersangkutan (suami-isteri), namun juga melibatkan anak khususnya yang
memasuki usia remaja, perceraian merupakan beban tersendiri bagi anak sehingga
berdampak pada psikis masalah di sebabkan oleh kepercayaan diri yang kurang
pada dalam memulai interaksi, keadaan keluarga dan kurangnya perhatian
orangtua pada perkembangan anak. kekerasan dimasa kecil dan tidak kesiapan
dalam menerima ayah/ibu tiriHingga saat ini dampak perceraian orang tua
memang dapat memberikan dampak buruk bagi anak, baik fisik maupun
psikologis anak. Sehingga perceraian memang perlu dipertimbangkan matang-
matang, dan orang tua harus bisa memberikan pengertian yang baik kepada anak
sehingga dapat mengurangi dan mengatasi dampak buruk pada anak pada saat
perceraian terjadi. Tetapi fungsi keluarga untuk memberikan pengertian dan
perhatian pada anak/remaja ternyata tidak berfungsi dalam kaitannya dengan
kasus perceraian. Untuk mengatasi perlakuan salah tersebut, maka dalam praktik
pekerjaan sosial, seorang pekerja sosial harus berupaya mewujudkan ketercapaian
akan kesejahteraan bagi anak . Anak yang mendapatkan perlakuan salah dari
keluarganya memerlukan layanan yang tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi
harus juga dilakukan pada keluarganya.. Berdasarkan dari hasil studi kasus yang
dilaksanakan di Bojongkulur maka di ambil kesimpulan sebagai berikut :

Melalui studi kasus ini seorang konselor akan dapat memahami subjeknya
secara mendalam. Konselor akan mampu memperoleh informasi tentang sebab-
sebab timbulnya masalah serta untuk menentukan, diantaranya ; (1)
Ketidakpercayaan diri dalam menyampaikan keluh kesah; (2) Gambaran buruk
terhadap orangtua; (3) Nyaman bercerita kepada teman dibanding ke orang tua,
(4) Kehidupan keluarga yang kurang komunikasi dengan ekonomi rendah. Jadi
disimpulkan bahwa masalah di sebabkan oleh kepercayaan diri yang kurang pada
dalam memulai interaksi, keadaan keluarga dan kurangnya perhatian orangtua
pada perkembangan anak. kekerasan dimasa kecil dan tidak kesiapan dalam
menerima ayah/ibu tiri.

Diharapkan seluruh anggota keluarga saling menghormati, membantu, dan


memahami satu sama lain dalam kerukunan dan kasih sayang. Meskipun orang
tua sudah bercerai, anak harus tetap mendapatkan kasih sayang dan anak berhak
menentukan dengan siapa dia akan tinggal. Setelah bercerai, banyak anak yang
tidak mendapatkan kasih sayang secara penuh akibat keegoisan dari orang tua
sendiri. Sehingga menimbulkan rasa ketakutan dari anak tersebut terhadap salah
satu orang tuanya yang tidak memiliki kuasa secara penuh. Dalam hal anak yang
telah dewasa dapat menentukan kepada siapa ia akan tinggal, namun pada anak
yang belum dewasa dapat ditentukan oleh majelis hakim, pada putusan perceraian
kepada yang dianggap mampu memelihara, mendidik anaknya hingga dewasa
(anak tersebut dapat menentukan kepada siapa ia akan tinggal selanjutnya.

Ucapan Terima Kasih

Dengan rasa syukur kepada Allah SWT. Penulis ucapkan terima kasih kepada
penyelenggara PKM AI karena telah memberikan suatu wadah bagi para
mahasiswa untuk menuangkan kreativitasnya dan karenanya kami dapat
melaksanakan sebuah penelitian dan di bentuk dalam sebuah laporan artikel
ilmiah yaitu berupa studi kasus. pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima
kasih sebesar-besarnya kepada; (1) Dwi Endrasto Wibowo, M.Pd., selaku kepala
program bimbingan dan konseling; (2) Dita Juwita, M.Pd., selaku dosen pengajar
dan pembimbing PKM AI; (3) orang tua bercinta yang telah mensupport dan
memberikan dukungan berupa doa dan ridho; (4) dan kepada semua responden,
narasumber, yang pihak yang memberikan dukungan serta bantuan teknis sama
pelaksanaan studi kasus ini. Semoga laporan artikel ilmiah bisa dikasih ini dapat
memberikan sumbangan positif dan buka ruang diskusi untuk lebih luas di
Indonesia menerima sarana kritik yang membangun dunia kesempurnaan
penelitian ini.

Kontribusi Penulis (huruf Times New Roman 12 cetak tebal)


Dosen Pendamping yang telah memberikan arahan, motivasi, dan ilmu yang
luar biasa dalam segi penulisan artikel yang baik; Penulis pertama menyiapkan
naskah (manuskrip); yang mengusulkan ide penelitian, merancang metodologi
penelitian, mengumpulkan suatu data dari akurat, melakukan analisis data yang
telah penulis kedua melakukan analisis teori dan mengidentifikasi kajian literatur.
Penulis ketiga melakukan arahan riset, desain sesuai template, memperbaiki
kesalahan tata bahasa dan menyinkronkan referensi dan pembuktian yang terdapat
dikutip pan maupun informasi yang telah ada.

Daftar Pustaka

Ashran, K., Latipun, dan Amalia, S. 2020. Perbedaan Kematangan Emosi ditinjau
dari Keutuhan Keluarga pada Remaja. Psycho Holistic. 2 (1) :118-128.

Cahyani, Y. I., Andi, T. F., Moerdiono, R. R. 2022. Hubungan Antara Gaya Pola
Asuh Dengan Kecerdasan Emosional Pada Remaja Dengan Orangtua Tunggal
(Ibu). Journal of Behaviour and Mental Health. 3(1) : 34 – 43.
Damara, G. dan Aviani, Y.I. 2020. Hubungan kelekatan dan kecerdasan emosi
pada siswa seklah menegah atas. Journal Proyeksi. 15 (2) : 151-160.

Devor, C. 2018. Parental Divorce, Social Capital, and Postbaccalaurate


Educational Attainment Among Young Adults. Journal of Family Issues, 39(10) :
2806–2835

Dollberg, D. G. (2022). Mediation-Moderation Links Between Mothers’ ACEs,


Mothers’ and

Children’s Psychopathology Symptoms, and Maternal Mentalization During


COVID-19. Frontiers in Psychiatry. 13.

Iftinan, Q. dan Junaidi. 2021. Hubungan Antara Kelekatan Orang Tua (Ibu)
Terhadap Kecerdasan Emosi Pada Siswa Kelas XII Jurusan IPA SMAN 1
Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat 1. Jurnal Prismawa. 4(1) : 61-68.

Kalb, L. G. (2021). Parental relationship status and age at autism spectrum


disorder diagnosis of their child. Autism. 25(8): 2189–2198

Oktaviani, G., Nisaa, K., Nadhirah, N. A. dan Indonesia, U. P. 2021. Pola Asuh
Orang Tua Di Era Milenial. Jurnal.Masoemuniversity.Ac.IdA RachmaniarJournal
of Education and Counseling (JECO), 2021•jurnal.Masoemuniversity.Ac.Id, 1(2) :
107–114.

Rahmah, S. 2019. Pola Komunikasi Keluarga Dalam Pembentukan Kepribadian


Anak. Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah, 17(33) : 13.

Triana., & Khairil, A. 2019. Perbedaan Kematangan Emosi Ditinjau Dari


Keutuhan Keluarga Pada Remaja. Psycho Holistic. 2 (1) :118 – 128.

Utami, M.D. dan Pratiwi, R.G. 2021. Remaja yang dilihat dari kelekatan orang
tua terhadap kecerdasan emosi. Jurnal Ilmiah Psyche. 15 (1) : 35-44.
Lampiran
Lampiran 1. Biodata Ketua dan Anggota
A. Identitas Diri
1 Nama Lengkap Siti Nur Syaidah Syamsudi
2 Jenis Kelamin Perempuan
3 Program Studi Bimbingan dan Konseling
4 NIM 1520210009
5 Tempat dan Tanggal Lahir Bekasi, 01 November 2002
6 Alamat Email stnursyaidah@gmail.com
7 Nomor Telepon/HP
B. Kegiatan Kemahasiswaan yang Sedang/Pernah Diikuti
No. Jenis Kegiatan Status dalam Kegiatan Waktu dan Tempat
1. Lembaga Dakwah Sekretaris Umum Universitas Islam As-
Kampus Syafi’iyah 2021-2023
2. Himpunan Mahasiswa Anggota Universitas Islam As-
Bimbingan dan Syafi’iyah 2022-2023
Konseling
3. Badan Eksekutif Universitas Islam As-
Mahasiswa Syafi’iyah 2024
C. Penghargaan yang Pernah Diterima
No. Jenis Penghargaan Pihak Pemberi Penghargaan Tahun
1. Sertifikat Human Intiative 2023
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan PKM-AI.
Jakarta, 21 Februari 2024
Ketua/Anggota Tim

(Siti Nur Syaidah Syamsudin)


Lampiran 2. Biodata Dosen Pendamping
A. Identitas Diri
1 Nama Lengkap (dengan gelar) Dita Juwita, M.Pd
2 Jenis Kelamin Perempuan
3 Program Studi Bimbingan dan Konseling
4 NIP/NIDN 0327119401
5 Tempat dan Tanggal Lahir Serang, 27 November 1994
6 Alamat Email dita.bk@uia.ac.id

7 Nomor Telepon/HP 087776643851


No. Jenjang Bidang Ilmu Institusi Tahun Lulus
1. Sarjana (S1) Bimbingan dan Konseling UNY 2015
2. Magister (S2) Bimbingan dan Konseling UNY 2018
A. Riwayat Pendidikan
B. Rekam Jejak Tri Dharma PT (dalam 5 tahun terakhir)
Pendidikan/Pengajaran
No. Nama Mata Kuliah Wajib/Pilihan sks
1. Studi Kasus Wajib 2
2. Psikologi Perkembangan Anak Wajib 2
Penelitian
No. Judul Penelitian Penyandang Dana Tahun
1. Penerapan Metode Journaling untuk Universitas 2023
Meningkatkan Regulasi Diri Siswa dengan
Borderline Intellectual Functioning
2. Gambaran Perilaku Non-Suicidal Self Injury Universitas 2023
(NSSI) pada Siswa SMAN 1 Bogor
Pengabdian Kepada Masyarakat
No. Judul Pengabdian kepada Masyarakat Penyandang Dana Tahun
1. Penyuluhan Cara Menjaga Kesehatan Universitas 2023
Mental di Dunia Kerja melalui Teknik Role
Play di Universitas Al-Khairiyah Cilegon
2. Penyuluhan Mengenai Inovasi Mengajar dan Universitas 2024
Membangun Kelas yang Menyenangkan
untuk Guru
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan PKM-AI.
Jakarta, 21 Februari 2024
Dosen Pendamping

(Dita Juwita, M. Pd)


Lampiran 3. Kontribusi ketua, anggota, dan dosen
pendamping
No. Nama Posisi Penulis Bidang Ilmu Kontribusi
1. Siti Nur Syaidah Penulis pertama Bimbingan dan Menyiapkan naskah
syasudin Koseling (manuskrip); yang
mengusulkan ide penelitian,
merancang metodologi
penelitian, mengumpulkan
suatu data dari akurat,
melakukan analisis data
2. Julia Sundari Penulis kedua Bimbingan dan Melakukan analisis teori dan
Koseling mengidentifikasi kajian
literatur.
3. Nabila Putri Penulis ketiga Bimbingan dan Melakukan arahan riset,
Desmitha Koseling desain sesuai template,
memperbaiki kesalahan tata
bahasa dan menyinkronkan
referensi dan pembuktian yang
terdapat dikutip pan maupun
informasi yang telah ada.
3. Dosen Pengarah Bimbingan dan Pengarah dan desain kegiatan
Pendamping Koseling serta penyelaras akhir
manuskrip
Lampiran 4. Surat Pernyataan Ketua Tim Pengusul

SURAT PERNYATAAN KETUA TIM PENGUSUL

Yang bertandatangan di bawah ini:


Nama Ketua Tim : Siti Nur Syaidah Syamsudin
Nomor Induk Mahasiswa : 1520210009
Program Studi : Bimbingan dan Konseling
Nama Dosen Pendamping : Dita Juwita
Perguruan Tinggi : Universitas Islam As-Syafi’iyah

Dengan ini menyatakan bahwa PKM-AI. saya dengan judul Kelekatan Emosional
Remaja Korban Perceraian Orang Tua yang diusulkan untuk tahun anggaran 2024
adalah:
1. Asli karya kami dan belum pernah dibiayai oleh lembaga atau sumber
dana lain; dan .
2. Tidak dibuat dengan menggunakan kecerdasan buatan/artificial
intelligence (AI).

Bilamana di kemudian hari ditemukan ketidaksesuaian dengan pernyataan ini,


maka saya bersedia dituntut dan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku
dan mengembalikan seluruh biaya yang sudah diterima ke kas negara.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan dengan sebenar-
benarnya.
Jakarta, 21 Februari 2024
Yang menyatakan,

Materai senilai Rp. 10.000

Siti Nur Syaidah Syamsudin


(1520210009)
Lampiran 5. Pernyataan Sumber Tulisan
SURAT PERNYATAAN SUMBER TULISAN PKM-AI

Saya yang menandatangani Surat Pernyataan ini:


Nama Ketua Tim : Siti Nur Syaidah Syamsudin
Nomor Induk Mahasiswa : 1520210009
Program Studi : Bimbingan dan Konseling
Nama Dosen Pendamping : Dita Juwita, M.Pd
Perguruan Tinggi : Universitas Islam As-Syafi’iyah

1. Menyatakan bahwa PKM-AI yang saya tuliskan bersama anggota tim lainnya
benar bersumber dari kegiatan yang telah dilakukan:
a Sumber tulisan dari hasil kegiatan yang telah dilakukan berkelompok oleh
tim penulis, yaitu penyuluhan kesehatan mental keluarga
b Topik Kegiatan : Kelekatan Emosional Remaja Korban Perceraian
c Tahun dan Tempat Pelaksanaan: 2024, Bojongkulur kabupaten Bogor
2. Naskah ini belum pernah diterbitkan/dipublikasikan dalam bentuk prosiding
maupun jurnal sebelumnya dan diikutkan dalam kompetisi.
3. Kami menyatakan kesediaan artikel ilmiah ini ditampilkan pada laman
simbelmawa.

Demikian Surat Pernyataan ini dibuat dengan penuh kesadaran tanpa paksaan
pihak manapun juga untuk dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Jakarta, 21 Februari 2024
Yang menyatakan,

(Siti Nur Syaidah Syamsudin)


1520210009
Lampiran 6. Formulir Penilaian Artikel Ilmiah
Judul Kegiatan : Kelekatan Emosional Remaja Korban Perceraian Orang Tua
Bidang PKM : PKM-AI
Bidang Ilmu : Psikologi Pendidikan
NIM / Nama Ketua : 1520210009/Siti Nur Syaidah Syamsudin
NIM / Nama Anggota 1 : 1520210002/Julia Sundari
NIM / Nama Anggota 2 : 1520210004/Nabila Putri Desmitha
Perguruan Tinggi : Universitas IslamAs-Syafi’iyah
Program Studi : Bimbingan dan Konseling

No Kriteria Bobot Skor Nilai


1 JUDUL: Kesesuaian isi dan judul artikel. 5
2 ABSTRAK/ABSTRACT: Latar belakang, Tujuan, Metode, Hasil, 10
Kesimpulan, Kata kunci.
3 PENDAHULUAN: Persoalan yang mendasari pelaksanaan dan 15
uraian dasar keilmuan yang mendukung kemutakhiran substansi
kajian.
4 METODE: Kesesuaian dengan persoalan yang telah diselesaikan, 25
Pengembangan metode baru, Penggunaan metode yang sudah ada.
5 HASIL DAN PEMBAHASAN: Kumpulan dan kejelasan 30
penampilan data Proses/teknik pengolahan data, Ketajaman analisis
dan sintesis data, Perbandingan hasil dengan hipotesis atau hasil
sejenis sebelumnya.
6 KESIMPULAN: Tingkat ketercapaian hasil dengan tujuan. 10
7 DAFTAR PUSTAKA: Ditulis dengan sistem Harvard (nama, 5
tahun), Sesuai dengan uraian sitasi, Kemutakhiran Pustaka.
Total 100

Keterangan:
Nilai = Bobot x Skor; Skor (1=Buruk; 2=Sangat kurang; 3=Kurang; 5=Cukup; 6=Baik; 7=Sangat
baik);
Komentar: ..........................................................................

Kota,tanggal-bulan-tahun Penilai,

Tandatangan
(Nama Lengkap)

Anda mungkin juga menyukai