Anda di halaman 1dari 12

I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Pengelolaan limbah industri pangan terutama limbah peternakan diperlukan untuk meningkatkan pencapaian tujuan pengelolaan limbah yaitu tidak mencemari lingkungan dan ramah lingkungan, serta untuk

meningkatkan efisiensi pemakain sumber daya. Secara umum, pengelolaan limbah merupakan rangkaian kegiatan yang terdiri dari empat prinsip yang di kenal dengan prinsip 4R yaitu, 1. reduce (mengurangi) 2. reuse (memakai kembali) 3. recycle (mendaur ulang) 4. replace ( mengganti)

Namun fakta di lapangan prinsip tersebut belum dapat di terapkan secara terpadu, karena memiliki beberapa hambatan dalam proses pelaksanaannya. Diantaranya: 1. Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang cara beternak yang baik dan benar. 2. Mayarakat petani "peternak" cenderung mengembangkan adat lama secara turun temurun dari keluarga untuk mengelola petanian. 3. Masih rendahnya pengetahuan masyarakat petani ternak dalam

memaksimalan pengolahan limbah peternakan sebagai produk ramah lingkungan. 4. Pengetahuan masyarakat petani ternak,limbah kotoran ternak hanya sebagai pupuk tanpa ada proses lebih lanjut dimana nantinya dapat menimbulkan bau tidak sedap. 5. kurang pedulinya masyarakat pada umumnya pada kelestarian lingkungan.

Selain itu, terdapat beberapa faktor lain yang dapat menghambat prinsip prinsip tersebut seperti kurangnya sosialisasi dari pelaku peternakan dan tidak adanya pendidikan mengenai limbah sejak dini

1.2. Maksud dan Tujuan a. Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya minat masyarakat dalam mengolah imbah b. Memberikan pengetahuan tentang cara pengolahan limbah yang murah dan praktis

II TINJAUAN PUSTAKA

Sejak dicanangkan menjelang akhir 1980an, pembangunan berkelanjutan muncul sebagai konsep penting. Banyak negara mengadopsinya untuk memandu proses pembangunan, terutama yang menyangkut pemanfaatan sumberdaya alam. Paradigma dasar dari pembangunan berkelanjutan adalah tidak hanya

pembangunan yang berorientasikan kepada produksi semata, tetapi membangun sebuah kawasan secara keseluruhan yang meliputi juga aspek sosial dan lingkungan. Paradigma pembangunan berkelanjutan sesungguhnya merupakan perpaduan dari kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan hidup. Dalam konsep pembangunan berkelanjutan, pencapaian tujuan-tujuan ekonomi harus selaras dengan tujuan sosial maupun kepentingan lingkungan. Selain itu, kepentingan antar kelompok masyarakat dan antar generasi mendapat perhatian besar (Bruntdland, 1988). Kelestarian lingkungan merupakan pilar penting dalam pembangunan berkelanjutan. Pelestarian lingkungan dimaksudkan untuk melindungi

kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan dan atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan (Wiyono, 2007). Terdapat beberapa cara pandang yang menjelaskan hubungan antara manusia dan lingkungannya. Cara pandang tersebut sangat mempengaruhi tindakan seseorang terhadap lingkungan. Menurut cara pandang lingkungan, manusia adalah subordinat dan seluas-luasnya diatur oleh lingkungan. Cara pandang teologi, menekankan bahwa manusia adalah superior terhadap lingkungan dan manusia mempunyai hak untuk mengatur semua aspek lingkungan. Kedua cara pandang ini adalah cara pandang yang ekstrem sehingga seolah-olah manusia dan lingkungan (alam sekitar) diposisikan sebagai pihak yang bertentangan. Jalan tengah dari dari dua posisi tersebut adalah dari cara pandang ekologi yang mempercayai bahwa manusia

adalah bagian yang integral dari alam, adalah hubungan manusia dan lingkungannya seharusnya merupakan hubungan yang simbiotik dan tidak mengeksploitasi. (Muchlis, 2006). Dalam cara pandang ekologi, manusia bertanggung jawab untuk mengatur alam sekitar dengan seadil-adilnya. Bagaimana seseorang mengambil keputusan untuk mengatur lingkungannya akan terpulang kepada cara pandang yang dia anut. Keputusan yang diambil akan menimbulkan dampak balik kepada manusia, oleh itu diperlukan pengetahuan dan kesadaranserta sikap yang memadai tentang lingkungan. Dalam kaitan ini, pemeliharaan kemampuan lingkungan untuk mendukung penduduk dan kegiatannya adalah suatu keharusan. Dalam konteks Indonesia, Undang-undang Nomor 23 Tahun tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan ruang berupaya untuk mewujudkan keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan (termasuk ruang). Perhatian terhadap perbaikan lingkungan

merupakan aspek penting dalam upaya tersebut. Dalam memenuhi kebutuhan dasarnya, manusia berupaya untuk

memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungannya. Kegiatan tersebut secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada kualitas lingkungan. Kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi terbentur dengan keterbatasan kemampuan lingkungan untuk menyediakannya. Hubungan yang tidak seimbang ini menyebabkan perubahan lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak balik pada manusia itu sendiri. Perbaikan lingkungan merupakan hal yang esensial dalam mengelola perubahan lingkungan, namun pada umumnya masyarakat banyak yang kesulitan untuk memahaminya. Pemahaman masyarakat terhadap lingkungan dibentuk oleh aneka ragam situasi kemasyarakatan. Masyarakat perkotaan memandang lingkungan sebagai pendukung aktifitas, sedangkan masyarakat perdesaan memandang lingkungan sebagai penyedia utama kebutuhan dasar mereka seperti kebutuhan pangan. Perbedaan pemahaman tersebut menentukan perilaku masyarakat terhadap lingkungannya.

Terlepas dari perbedaan tersebut, pemahaman pentingnya perbaikan lingkungan perlu ditanamkan sehingga masyarakat bersedia untuk melakukan upaya individual maupun kolektif untuk memelihara bahkan meningkatkannya. Pemahaman terhadap pentingnya perbaikan lingkungan dan kesediaan untuk memperbaiki lingkungan merupakan salah satu bentuk perilaku masyarakat. Perilaku masyarakat merupakan resultansi dari berbagai kondisi, baik kondisi internal maupun eksternal dan merupakan refleksi dari pengetahuan, kesadaran dan sikap positif terhadap lingkungan.

III PEMBAHASAN

Banyak pihak yang belum mengetahui potensi ekonomi dan non ekonomi. Potensi ekonomi memberikan nilai manfaat berupa produk yang memiliki nilai harga jual sedangkan potensi non ekonomi memberi manfaat dalam usaha pencemaran lingkungan. Oleh karena itu perlu adanya upaya aktif dari pemerintah terkait dalam mensosialisasikan pengolahan limbah secara terpadu. selain itu perlu adanya kesadaran dari masyarakat tentang pentingnya pengolahan limbah yang tujuannya agar limbah tidak mencemari lingkungan, meskipun pada pelaksanaannya pengolahan limbah sendiri tidak mengarah kepada tujuan tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut, terdapat beberapa fakor yang menyebabkan kurangnya sosialisai terhadap pengolahan limbah,yaitu: a. Banyaknya pelaku peternakan yang bekerja di luar bidangnya. Indonesia memiliki banyak fakultas peternakan yang tersebar sampai ke daerah. Setiap tahun fekultas tersebut meluluskan banyak mahasiswa yang unggul baik dalam materi maupun praktik. Akan tetapi lulusan tersebut lebih memilih untuk bekerja di luar bidangnya, misalnya saja bekerja di Bank ataupun instansi lain. Padahal apabila setiap lulusan peternakan bekerja pada bidangnya, maka sosilisasi terhadap pengolahan limbah akan mudah untuk di laksanakan b. Pendidikan mengenai limbah tidak di terapkan secara dini.

Pendidikan merupakan sarana dalam pengembangan pengetahuan, tidak terkecuali pengetahuan mengenai pengolahan limbah. Pengolahan limbah dapat di masukan kedalam kurikulum pendidikan, misalnya saja pengolahan limbah menjadi mata pelajaran (mulok) mulai dari SD,SMP dan SMA. Sehingga pemahan mengenai limbah dapat di terapkan ketika siswa lulus dari sekolah dan diharapkan dapat membuat mata pencaharian dari pengelolaan limbah. Selain itu, diharapkan dapat menjadi media dalam mensosialisasikan pentingnya limbah peternakan c. Kecenderungan menganut pengetahuan turun temurun dalam mengolah limbah peternakan Pengetahuan mengeangenai pengolahan limbah sudah sejak lama di ketahuai oleh masyarakat, namun mereka cenderung mengenut pengetahuan dari leluhurnya. Mereka tidak berkreasi untuk mengadopsi atau menciptakan pengetahuan baru. Masyarakat hanya mengolah limbah peternakan hanya sebagai pupuk, padahal terdapat jenis jenis pengolahan limbah,diantaranya:

Limbah Ternak Sebagai Bahan Pakan dan Media Tumbuh Sebagai pakan ternak, limbah ternak kaya akan nutrien seperti protein, lemak BETN, vitamin, mineral, mikroba dan zat lainnya (unidentified subtances). Ternak membutuhkan sekitar 46 zat makanan esensial agar dapat hidup sehat. Limbah feses mengandung 77 zat atau senyawa, namun didalamnya terdapat senyawa toksik untuk ternak. Untuk itu pemanfaatan limbah ternak sebagai makanan ternak memerlukan pengolahan lebih lanjut. Tinja

ruminansia juga telah banyak diteliti sebagai bahan pakan termasuk penelitian limbah ternak yang difermentasi secara anaerob. Penggunaan feses sapi untuk media hidupnya cacing tanah, telah diteliti menghasilkan biomassa tertinggi dibandingkan campuran feces yang ditambah bahan organik lain, seperti feses 50% + jerami padi 50%, feses 50% + limbah organik pasar 50%, maupun feses 50% + isi rumen 50%. Dengan pengolahan lebih lanjut limbah ternak yang berpotensi mencemari limkungan dapat diubah menjadi lebih

bermanfaat dan bernilai tinggi. Terselamatkanlah bumi kita ini, tentu tersenyumlah alam kita.

Limbah Ternak Sebagai Penghasil biogas. Permasalahan limbah ternak, khususnya manure/kotoran dapat diatasi dengan memanfaatkan menjadi bahan yang memiliki nilai yang lebih tinggi. Salah satu bentuk pengolahan yang dapat dilakukan adalah menggunakan limbah tersebut sebagai bahan masukan untuk menghasilkan bahan bakar gasbio. Kotoran ternak ruminansia sangat baik untuk digunakan sebagai bahan dasar pembuatan biogas. Ternak ruminansia mempunyai sistem pencernaan khusus yang menggunakan mikroorganisme dalam sistem pencernaannya yang berfungsi untuk mencerna selulosa dan lignin dari rumput atau hijauan berserat tinggi. Oleh karena itu pada tinja ternak ruminansia, khususnya sapi mempunyai kandungan selulosa yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa tinja sapi mengandung 22.59% sellulosa, 18.32% hemi-sellulosa, 10.20% lignin, 34.72% total karbon organik, 1.26% total nitrogen, 27.56:1 ratio C:N, 0.73% P, dan 0.68% K. Beberapa tahun terakhir harga minyak dunia menembus angka tertinggi yaitu mencapai 100 U$ per barel yang menjadikan alasan yang serius yang menimpa banyak negara di dunia terutama Indonesia.Untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak pemerintah telah menerbitkan Peraturan presiden republik Indonesia nomor 5 tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak. Kebijakan tersebut menekankan pada sumber daya yang dapat diperbaharui sebagai altenatif pengganti bahan bakar minyak. Salah satu sumber energi alternatif adalah biogas/gasbio.

Gasbio adalah campuran beberapa gas, tergolong bahan bakar gas yang merupakan hasil fermentasi dari bahan organik dalam kondisi anaerob, dan gas yang dominan adalah gas metan (CH4) dan gas karbondioksida (CO2). Gasbio memiliki nilai kalor yang cukup tinggi, yaitu kisaran 4800-6700

kkal/m3, untuk gas metan murni (100 %) mempunyai nilai kalor 8900 kkal/m3. Konversi limbah ternak melalui proses anaerobik digestion dengan menghasilkan biogas memiliki beberapa keuntungan, yaitu :

- Biogas merupakan energi tanpa menggunakan material yang masih memiliki manfaat termasuk biomassa sehingga biogas tidak merusak keseimbangan karbondioksida yang diakibatkan oleh penggundulan hutan (deforestation) dan perusakan tanah.

- Energi biogas dapat berfungsi sebagai energi pengganti bahan bakar fosil sehingga akan menurunkan gas rumah kaca di atmosfer dan emisi lainnya.

- Metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang keberadaannya diatmosfer akan meningkatkan temperatur, dengan menggunakan biogas sebagai bahan bakar maka akan mengurangi gas metana di udara.

- Limbah berupa sampah kotoran hewan ternak merupakan material yang tidak bermanfaaat, bahkan bisa menngakibatkan racun yang sangat berbahaya. Aplikasi anaerobik digestion akan meminimalkan efek tersebut dan meningkatkan nilai manfaat dari limbah.

Limbah Ternak Sebagai Pupuk Organik Selain keuntungan energi yang didapat dari proses anaerobik digestion dengan menghasilkan gas bio, produk samping seperti sludge. Meterial ini diperoleh dari sisa proses anaerobik digestion yang berupa padat dan cair. Masing-masing dapat digunakan sebagai pupuk berupa pupuk cair dan pupuk padat dalam mendukung sektor pertania tentu dengan produk ramah lingkungan pula. Sebanyak 8-10 kg tinja yang dihasilkan oleh seekor sapi per hari dapat menghasilkan pupuk organik atau kompos 4-5 kg per hari. Dengan memanfaatkan limbah ternak sebagai pupuk organik, sumber bahan makan

kita akan terbebas dari pestisida yang mempunya dampak yang kurang baik bagi tubuh dan tentunya berdapakan buruk bagi lingkungan

d.

Paradigma pemikiran masyarakat yang menganggap limbah sebagai hal yang di pandang sebelah mata Bagi sebagian orang, limbah di anggap sebagai hal yang tidak penting atau tidak bermanfaat. Padahal apabila kita mampu menerapkan prinsip 4R, maka limbah dapat menjadi produk baru yang memiliki nilai tambah baik ekonomis maupun non ekonomis. Paradigma ini hendaknya di hapuskan karena dapat menghambat sosialisasi terhadap pengolahan limbah.

IV KESIMPULAN Sosialisasi merupakan hal yang cukup penting dalam pengolahan limbah, sehingga apabila sosialisasi tidak dijalankan secara tepat maka akan berdampak terhadap pengolahan limbah yang kurang tepat dan kurangnya minat masyarakat dalam mengolah limbah peternakan. Selain itu, paradigma masyarakat yang menganggap limbah sebagai hal yang tidak penting akan tetap melekat bila kurangnya sosialisasi

DAFTAR PUSTAKA

Badrussalam, R. (2008). Membuat Biogas dari Sampah Organik. Jakarta: Indocamp http://www.petra.ac.id/science/applied _technology/biogas98/biogas.htm