Anda di halaman 1dari 36

SURFAKTAN

Suatu senyawa kimia yang dapat mengaktifkan permukaan suatu zat lain yang awalnya tidak dapat bereaksi. Memiliki karakter yang unik karena dapat berinteraksi dengan senyawa polar dan non polar Memiliki gugus polar dan non polar sekaligus.

Gambar 3D surfaktan

Surfaktan dapat bersifat polar karena memiliki gugus karboksilat yang memiliki karakter polar. Mengapa gugus karboksilat bersifat polar? Kutub polar dari surfaktan dapat berinteraksi dengan air sehingga bersifat hidrofilik. Surfaktan dapat bersifat non polar karena memiliki rantai karbon yang berkarakter non polar. Mengapa rantai karbon bersifat non polar?

Rantai karbon bersifat hidrofob karena tidak dapat berinteraksi dengan air tetapi bereaksi dengan lemak atau liofilik. Keberadaan kedua gugus dalam surfaktan biasa diistilahkan dengan kepala dan ekor. Sering juga disebut sebagai molekul amphifilik Umum dijumpai dalam keseharian dan industri dalam aplikasi pembersih, deterjen, emulsifier untuk krim kosmetika dan farmasi

4 Jenis Surfaktan
Surfaktan anionik : surfaktan yang dapat membentuk ion negatif atau anion memiliki gugus hidrofilik yang membawa muatan negatif seperti karboksilat, sulfonat dan gugus sulfat. Contoh Alkyl Benzena Sulfonate(ABS), linear Alkil Benzena Sulfonat (LAS), Alpha Olefin Sulfonate(AOS) sodium dodecylsulfate (SDS), C12H25OSO3Na. Termasuk dalam sodium alkilsulfat dalam air terdisosiasi menjadi C12H25OSO3Na C12H25OSO3- + Na+ Contoh lainnya adalah sodium dodecanoate C11H23CO2Na termasuk jenis sodium alkilkarboksilat disebut juga asam lemak atau sabun

Surfaktan kationik,: Surfaktan yang dapat membentuk muatan positif atau kation memiliki muatan positif dibagian hidrofiliknya. Contoh senyawa dodecyl trimethylammonium bromide C12H25N(CH3)3Br dan hexadecyl trimethylammonium bromide yang terdisosiasi di air menjadi C16H33N(CH3)3Br C16H33N+(CH3)3 + Br Muatan positif berada di atom nitrogen. Senyawa ini dikenal juga cetyl ammonium bromide (CTAB)

Surfaktan nonionik surfaktan yang tidak membentuk ion positif atau ion negatif, atau bersifat netral. Bagian hidrofilik diperoleh dari gugus polar seperti polyethylene oxide atau gula Termasuk kelompok ini adalah alkylethylene oxide dikenal juga alkylethylene glycol Contoh senyawa : C10H21(OCH2CH2)8OH dan C12H25(OCH2CH2)6OH Alkylethylene glycol biasa ditulis dengan notasi CncEne dimana nc jumlah atom karbon dan ne jumlah unit ethylene oxide di kepala hidrofilik sehingga untuk kedua senyawa diatas dapat ditulis dengan C10E8 dan C12E6.

Surfaktan amphoteric atau zwitterionik: surfaktan yang dapat membentuk ion positif atau ion negatif. Beberapa lipid seperti phophatidylcholine adalah zwitterion Kebanyakan surfaktan yang umum digunakan adalah surfaktan anionik diikuti oleh nonionik. Surfaktan kationik memiliki potensi masalah lingkungan karena tidak mudah terbiodegradasi sementara surfaktan amphoter mahal dan hanya digunakan untuk keperluan khusus

Tabel 12.1 Struktur Surfaktan umum dan CMC

Berdasar struktur kimia


1. Sabun : Na-Laurat, Na-Stearat,Na-Palmitat, Na-Oleat, dll. 2. Minyak-minyak yang disulfonkan contohnya minyak jarak yang disulfonkan 3. Parafin atau olefin yang disulfurkan, contohnya senyawa sulfochloride yang disabunkan ( mersolat), olefin yang disulfatkan (tefol)

4. Arakil sulfonat, contohnya alkil benzo sulfonat. 5. Alkil sulfat, contohnya alkil sulfat primer dari alkil alkohol primer 6. Kondensat asam lemak. 7. Persenyawaan polietilenaoksida

Sifat-sifat umum surfaktan


1. Sebagai larutan koloid Pada konsentrasi tinggi partikel koloid akan Menggumpal , gumpalan ini disebut misel atau agregat baik berbentuk sferik( daya hantar litriknya tinggi) atau lamelar ( daya hantar listriknya rendah disebut juga koloid netral) dan ada dalam kesetimbangan dengan sekitarnya (pelarut atau dispersi larutan). Kesetimbangan ini akan mencapai konsentrasi kritis misel(CMC)

2. Adsorpsi apabila larutan mempunyai tegangan permukaan lebih kecil dari pelarut murni, zat terlarut akan terkonsentrasi pada permukaan dan terjadi adsorpsi positif. Sebaliknya adsorpsi negatif menunjukkan bahwa molekul-molekul zat terlarut lebih banyak terdapat dalam rongga larutan daripada di permukaan.

3. Kelarutan dan daya melarutkan partikel-partikel tunggal dari surfaktan relatif tidak larut, sedangkan misel mempunyai kelarutan tinggi. Makin panjang rantai hidrokarbonnya, makin tinggi temperatur kritik larutan. 4. Pembasahan pembasahan terjadi karena perubahan tegangan permukaan

5. Daya busa busa adalah dispersi gas dalam cairan dan zat aktif permukaan memperkecil tegangan antar muka, sehingga busa akan stabil, jadi surfaktan mempunyai daya busa. 6. Daya emulsi emulsi adalah suspensi partikel cairan dalam fasa cairan yang lain yang tidak saling melarutkan. Surfaktan akan menurunkan tegangan antarmuka, sehingga terjadi emulsi yang stabil.

Konsentrasi Kritis Misel (CMC)


Salah satu sifat surfaktan adalah mengalami agregasi spontan dalam air dan membentuk struktur seperti misel, silinder, bilayer dll. Struktur ini sering juga dinamakan koloid asosiasi Ketika sodium dodecylsulfate (SDS) ditambahkan ke air, pada konsentrasi rendah, anion molekul dodecylsulfate terlarut sebagai individual ion. Karena adanya rantai karbon, SDS cenderung mengadsorb pada interface / antar muka udara-air dengan rantai hidrokarbon mengarah ke fase uap. Tegangan permukaan turun dengan meningkatnya konsentrasi SDS. Pada konsentrasi tertentu (konsentrasi kritis misel), penurunan akan berhenti dan diatas CMC(dalam air CMC SDS 8,3 mM) tegangan permukaan konstan.

Pada konsentrasi dibawah CMC surfaktan, senyawa hidrofobik kurang terlarut, pada CMC senyawa ini mulai larut dalam larutan ion, kemampuan ini meningkat dengan semakin meningkatnya konsentrasi surfaktan Penjelasan atas hal ini adalah diatas CMC surfaktan secara spontan teragregasi membentuk misel Rantai hidrokarbon berkumpul di dalam agregat dan kepala polar mengarah ke fase larutan Hasilnya adalah objek spheris tersusun atas 30-100 molekul surfaktan dengan fase minyak dibagian dalam

Gambar 12.2

Suatu misel mengandung sejumlah tertentu molekul surfaktan: jumlah agregasi misel rata-rata Nagg. Tidak semua misel memiliki jumlah surfaktan yang persis sama, ada yang lebih banyak atau lebih sedikit Dibawah CMC, kebanyakan surfaktan membentuk monomer atau low number agregat, walau demikian beberapa misel dapat terbentuk Dengan meningkatnya konsentrasi surfaktan, konsentrasi monomer juga meningkat, juga konsentrasi misel bertambah sedikit Saat CMC tercapai konsentrasi monomer konstan dan penambahan surfaktan memicu pembentukan misel baru

Termodinamika Miselisasi
Misel terbentuk karena 2 faktor yang saling berkompetisi 1. Pemindahan rantai hidrokarbon menjauhi air ke interior oil-like mendorong miselisasi. Ini utamanya akibat efek entropi disebut juga efek hidrofobik Terbentuk misel dari molekul surfaktan mendorong penurunan entropi surfaktan namun air mengalami kenaikan entropi jauh lebih besar Saat rantai hidrokarbon belum teragregasi, air relatif berentropi rendah, namun saat rantai hidrokarbon tersembunyi didalam misel, air mengalami peningkatan entropi secara drastis

2. Tolak menolak antar gugus kepala polar saat mereka saling mendekat menghalangi proses agregasi Gugus kepala harus mengalami dehidrasi jika ingin mendekat satu sama lain, hal ini memicu tolakan hidrasi

Struktur Agregat Surfaktan


Surfaktan, tak hanya beragregasi membentuk misel spheris tapi juga silinder, bilayer dan misel terbalik. Tipe struktur agregasi yang terbentuk akan tergantung pada faktor2 berbeda Faktor yang terpenting disebut parameter surfaktan disebut juga packing ratio V

NS

LC A

VC volume bagian hidrofobik surfaktan dan LC panjang rantai hidrokarbon, A efektif area per kepala gugus

Gambar 12.6

Misel spheris terbentuk untuk NS 0,33 contohnya SDS dengan jumlah agregasi 56 dan jari-jari interior hidrofobik 1,7 nm dan efektive head group area 0,62 nm2 Misel silindris (rod-like) terbentuk saat NS 0,5. ujung silinder tertutup oleh hemisphere untuk mencegah exposure interior hidrokarbon oleh air Walau diameter silinder ditentukan oleh panjang surfaktan, misel silindris biasanya polidispersi karena silinder dapat tumbuh lebih panjang dengan menggabungkan lebih banyak surfaktan

Bilayer lebih mudah terbentuk pada NS = 0,51. Lipid yang membentuk bilayer tidak dapat tersusun membentuk miselar atau struktur silindris karena small head group area dan karena rantai alkil terlalu bulky untuk fit ke dalam misel Agar lipid bilayer terbentuk, untuk head group area A dan rantai alkil LC yang sama, rantai harus memiliki volume dua kali lipat Atas alasan ini lipid dengan 2 rantai alkil berkemungkinan besar membentuk bilayer Contohnya adalah phospholipid rantai ganda seperti phophatidyl choline atau phophatidyl ethanolamine Lipid dengan parameter surfaktan sedikit dibawah 1 cenderung membentuk bilayer fleksibel atau vesicles Lipid dengan NS = 1 membentuk bilayer real planar

Makroemulsi
Minyak dan air tidak dapat bercampur, namun proses pencampuran dapat dilakukan dengan emulsifikasi Emulsi adalah dispersi dari dua liquid immiscible (tidak bercampur) Emulsi sangat penting dalam aplikasi seperti oil recovery, produksi krim dan pharmaceutical serta kosmetik. Juga dalam cooking dan food industry seperti margarin, soups, sauces, minuman coklat dll. Secara termodinamika ada 2 tipe emulsi : emulsi yang stabil secara termodinamika disebut mikroemulsi dan emulsi yang metastabil (tidak stabil) dinamakan makroemulsi

Mikroemulsi melibatkan ukuran panjang yang lebih kecil dibanding makroemulsi Tetes mikroemulsi berukuran diameter 5-100 nm sedangkan makroemulsi berukuran pada besaran panjang gelombang sinar tampak 0,5 10 m Makroemulsi biasanya buram (tak tembus cahaya) karena tetes2nya cukup besar untuk menghamburkan (scatter) sinar, ini menjadi alasan kenapa susu berwarna putih. Susu tersusun atas air dimana tetes minyak terdispersi didalamnya Sementara mikroemulsi transparan, tetesnya terlalu kecil untuk dapat menghamburkan sinar Makroemulsi punya kecenderungan memisah menjadi 2 fase ini disebut demulsifikasi Demulsifikasi bisa sangat lambat sehingga seolah-olah makromulsi bersifat stabil

(Makro) Emulsi terpenting adalah emulsi air dalam minyak (W/O) dan emulsi minyak dalam air (O/W) Pada emulsi minyak dalam air (O/W) air membentuk fase kontinyu yang mendispersikan tetes minyak misalnya susu Parameter penting makroelmulsi adalah fraksi volume fase terdispersi d (fraksi volume fase inner) Secara intuitif dapat diasumsikan fraksi volume seharusnya dibawah 50%, tapi dalam kenyataan fraksi volume lebih besar dari itu dapat dijumpai Fase inner tersusun atas tetes spheris dengan ukuran sama sehingga fraksi volume maksimal closed packed sphere (d = 0,74)