Anda di halaman 1dari 47

HUKUM ACARA

PERADILAN TATA USAHA


NEGARA
Oleh:

Disiplin F. Manao, SH.,MH.


Disampaikan pada:

PENDIDIKAN KHUSUS PROFESI ADVOKAT (PKPA)


KERJASAMA AAI BANDAR LAMPUNG
DAN
FH UBL DENGAN DPN PERADI
2008

HUKUM ACARA PERADILAN TATA USAHA NEGARA

I. PEMBUKAAN
1.
2.
3.

PENGERTIAN DAN SUMBER HUKUM;


PERANAN PERADILAN TUN;
SIFAT KHUSUS PERADILAN TUN.

II. BEBERAPA PENGERTIAN DLM PERADILAN TUN


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

PENGGUGAT (PS. 53)


TERGUGAT (PS 1 BT 2 YO PS 1 BT 6)
OBJEK SENGKETA TUN (PS 1 BT 3)
ALASAN GUGATAN (PS 53 AYAT 2)
ISI TUNTUTAN (PS 53 AYAT 1)
PENGAJUAN GUGATAN (PS 54)
TENGGANG WKT PENGAJUAN GUGATAN (PS 55)
SYARAT FORMAL GUGATAN (PS 56)

III. PROSES PENGAJUAN GUGATAN


1. SKEMA PROSES GUGATAN, PROSES
PENYELESAIAN DAN PROSES PEMERIKSAAN
ACARA BIASA
2. DISMISAL PROSEDURE (PS 62)
3. PEMERIKSAAN PERSIAPAN (PS 63)
4. KEIKUTSERTAAN PIHAK KETIGA (PS 83)
5. ALAT BUKTI (PS 100 107)
6. GANTI RUGI DAN REHABILITASI (PP 43 TAHUN
1991
7. PUTUSAN (PS 108 121)
8. UPAYA HUKUM
9. EKSEKUSI
10. ASAS-ASAS PERADILAN YANG BAIK.

KEKUASAAN KEHAKIMAN
(MENURUT HASIL AMANDEMEN UUD 1945)

MAHKAMAH
AGUNG
UU NO. 5 TAHUN
2004

PERADILAN
UMUM
UU NO. 2 TAHUN
1986 JO UU NO 8
TAHUN 2004

PERADILAN
AGAMA
UU NO. 7 TAHUN
1989 JO UU NO. 3
TAHUN 2006

PERADILAN
MILITER
UU NO. 31 TAHUN
1997

MAHKAMAH
KONSTITUSI
UU NO. 24 TAHUN
2003

PERADILAN
TUN
UU NO. 5 TAHUN
1986 JO UU NO. 9
TAHUN 2004

PENGERTIANPENGERTIAN

PENGADILAN
ADALAH PENGADILAN TATA USAHA
NEGARA DAN PENGADILAN TINGGI TATA
USAHA NEGARA DILINGKUNGAN BADAN
PERADILANTATA USAHA NEGARA
SEBAGAI SALAH SATU PELAKSANA
KEKUASAAN KEHAKIMAN MENURUT
UUD 1945, YANG BERPUNCAK DI
MAHKAMAH AGUNG SEBAGAI
PENGADILAN NEGARA TERTINGGI.

SUMBER HUKUM :
1. SECARA MATERIIL : Semua peraturan perundangan
yang bersifat publik di bidang administrasi/tata
usaha negara dalam rangka pelayanan publik
(Payung Hukum Berupa Undang-Undang
Administrasi/Tata Usaha Negara Masih Dalam
Pembahasan Di DPR);
2. SECARA FORMIL/HUKUM ACARA :
a. TERTULIS :
- UU NO. 5 TAHUN 1986;
- UU NO. 9 TAHUN 2004;
- KUH PERDATA;
- KUH ACARA PERDATA/HIR/RBG;
- SEMA NO. 1 TAHUN 1991 DAN NO. 2 TAHUN
1991
b. TIDAK TERTULIS :
3. ASAS-ASAS UMUM PENGADILAN YANG BAIK.

PERANAN PERADILAN TATA


USAHA NEGARA :

MENGADILI ( MENERIMA, MEMERIKSA,


MUMUTUS DAN MENYELESAIKAN
SENGKETA TATA USAHA NEGARA );
MELAKUKAN PERLINDUNGAN PADA
MASYARAKAT DAN ANGGOTA MASYARAKAT
TERHADAP TINDAKAN MELANGGAR HUKUM
ATAU TINDAKAN SEWENANG-WENANG
PEJABAT/PENGUASA;
MELAKUKAN PENGAWASAN YURIDIS
TERHADAP APARATUR/BADAN ATAU
PEJABAT TATA USAHA NEGARA;
TUGAS/PERANAN LAIN MENURUT
PERUNDANG-UNDANGAN YANG BERLAKU.

KARAKTERISTIK/CIRI KHAS HAPTUN

DOMINUS LITIS, YANG ARTINYA PERANAN HAKIM


LEBIH AKTIF DALAM PROSES PERSIDANGAN UNTUK
MENCARI KEBENARAN MATERIIL, PENENTUAN
BEBAN PEMBUKTIAN DAN PENILAIAN HASIL
PEMBUKTIAN. HAL INI UNTUK MENGIMBANGI
PERBEDAAN KEDUDUKAN PENGGUGAT DENGAN
TERGUGAT ;

TENGGANG WAKTU PENGAJUAN GUGATAN ADALAH


90 HARI TERHITUNG SEJAK DITERIMA/DIUMUMKAN
KEPUTUSAN TUN. HAL INI UNTUK MENJAMIN
KELANCARAN TUGAS PEMERINTAHAN DAN
KEPASTIAN HUKUM ;

PROSEDUR PENOLAKAN (DISMISAL PROCEDURE),


YAITU SEBELUM PEMERIKSAAN, HAKIM KETUA
DALAM RAPAT PERMUSYAWARATAN BERWENANG
MENYATAKAN GUGATAN TIDAK DITERIMA ;

PEMERIKSAAN PERSIAPAN, WAJIB DILAKUKAN HAKIM


SEBELUM MEMERIKSA POKOK SENGKETA DALAM RANGKA
PENGGUGAT MENYEMPURNAKAN/ MEMPERBAIKI
GUGATANNYA, DENGAN MINTA PENJELASAN
TERGUGAT/ISTANSI TERKAIT ;
PREASUMTION JUSTAE CAUSA DALAM ARTI GUGATAN
TIDAK MENUNDA PELAKSANAAN KEPUTUSAN
PEJABAT/BADAN TUN, KARENA SETIAP KEPUTUSAN
BADAN/PEJABAT TUN DIANGGAP SAH DAN BENAR SERTA
DAPAT DILAKSANAKAN, KECUALI DINYATAKAN
SEBALIKNYA ;

ACARA PEMERIKSAAN SESUAI DENGAN KETENTUAN,


DAPAT DENGAN ACARA CEPAT, ACARA SINGKAT, DAN
ACARA BIASA ;

TIDAK ADA PUTUSAN VERSTEK ;

TIDAK ADA REKONVENSI ;

PEMANGGILAN DAN PEMBERITAHUAN PUTUSAN


DILAKUKAN DENGAN SURAT TERCATAT, DENGAN UU NO.
9/2004 PERATUN ADA JURUSITA/JURUSITA PENGGANTI.

PENGGUGAT

SESEORANG ATAU BADAN HUKUM PERDATA YANG


MERASA KEPENTINGANNYA DIRUGIKAN SEBAGAI
AKIBAT DITERBITKANNYA SUATU KEPUTUSAN TATA
USAHA NEGARA, ANTARA LAIN :
SESEORANG -------------------------- ORANG PRIBADI
BADAN HUKUM PERDATA :

PT
CV
FIRMA
YAYASAN,
WALHI KHUSUS DI BIDANG LINGKUNGAN;
DAN LAIN-LAIN LEMBAGA, DENGAN KETENTUAN :

MEMPUNYAI TUJUAN TERTENTU YANG JELAS


TERCANTUM DALAM AD/ART ;
BERBENTUK BADAN HUKUM/YAYASAN ;
CUKUP REPRESENTATIF ;
MEMBUKTIKAN KEPEDULIAN YANG NYATA DALAM
MASYARAKAT ;

TERGUGAT
SELALU BADAN ATAU PEJABAT TUN
ADALAH BADAN ATAU PEJABAT YANG
MELAKSANAKAN URUSAN PEMERINTAHAN
BERDASAR PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN YANG BERLAKU.
KLASIFIKASI TERGUGAT
1. PEMERINTAH
- PEMERINTAH PUSAT
- PEMDA TINGKAT I
- PEMDA TINGKAT II

2. SEMI PEMERINTAH
- BADAN USAHA PEMERINTAH
BUMN & BUMD, CONTOH : PT, PUSRI, PERTAMINA,
PT.TELKOM, PT. PLN, PT. PAM, PT.
GARUDA DLL.

3. KERJASAMA PEMERINTAH
DENGAN SWASTA
CONTOH :

- PEMBANGUNAN JALAN TOL;


- PEMBANGUNAN PERUMAHA.

4. SWASTA
- YAYASAN DIBIDANG PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
SEKOLAH TINGGI
AKADEMI, DLL.

- YAYASAN DIBIDANG KESEHATAN


RUMAH SAKIT
KLINIK, DLL.

OBJEK SENGKETA

ADALAH KEPUTUSAN TUN YANG BERISI


TINDAKAN/PENETAPAN TERTULIS, YANG
DIKELUARKAN OLEH BADAN/PEJABAT TUN DI BIDANG
HUKUM TUN BERDASAR PERUNDANG-UNDANGAN
YANG BERLAKU, BERSIFAT KONKRIT, INDIVIDUAL
DAN FINAL, YANG MENIMBULKAN AKIBAT HUKUM
BAGI SESEORANG ATAU BADAN HUKUM PERDATA (PS
1 ANGKA 3).
DIANGGAP SAMA DENGAN MENGELUARKAN
KEPUTUSAN TUN, YAITU APABILA BADAN ATAU
PEJABAT TATA USHA NEGARA TIDAK MENGELUARKAN
KEPUTUSAN (YANG DIMOHONKAN) SEDANG HAL
TERSEBUT MENJADI KEWAJIBANNYA (PS 3)

KEPUTUSAN TUN YANG DAPAT DIGUGAT


o TERTULIS ------ AKTIF POSITIF/NEGATIF
o FIKTIF NEGATIF BERSIKAP DIAM (DIANGGAP
MENOLAK)

PENGECUALIAN
PASAL 2

MERUPAKAN PERBUATAN HUKUM PERDATA


PENGATURAN YANG BERSIFAT UMUM ;
MASIH MEMERLUKAN PERSETUJUAN ;
DIKELUARKAN BERDASAR KUHP/KUHAP
ATAU BERSIFAT HUKUM PIDANA ;
HASIL PEMERIKSAAN BADAN PERADILAN ;
MENGENAI TUN TNI ;
KEPUTUSAN PANITIA PEMILU.

PASAL 49

DIKELUARKAN PADA WAKTU PERANG, KEADAAN


BAHAYA, BENCANA ALAM, KEADAAN LUAR
BIASA YANG MEMBAHAYAKAN NEGARA ;
DALAM KEADAAN MENDESAK UNTUK KEPENTINGAN UMUM ;

PENGAJUAN GUGATAN
( PASAL 54 )

DI TEMPAT KEDUDUKAN TERGUGAT ;


DI TEMPAT KEDUDUKAN SALAH SATU
TERGUGAT ;
DI TEMPAT KEDIAMAN PENGGUGAT UNTUK
SELANJUTNYA DITERUSKAN KEPADA
PENGADILAN YANG BERSANGKUTAN ;
BERDASARKAN PP SESUAI DENGAN SIFAT
SENGKETA TUN, DIAJUKAN DITEMPAT
KEDIAMAN PENGGUGAT ;
DIAJUKAN DI PENGADILAN TUN JAKARTA
APABILA PENGGUGAT DAN TERGUGAT
BERKEDUDUKAN DI LUAR NEGERI ;
PENGGUGAT DI LUAR NEGERI DIAJUKAN DI
TEMPAT KEDUDUKAN TERGUGAT DI DALAM
NEGERI ;

TENGGANG WAKTU GUGATAN


( PASAL 55 )

90 HARI TERHITUNG SEJAK


DITERIMA/DIUMUMKAN KEPUTUSAN
BADAN/PEJABAT TUN
BAGI PIHAK KETIGA SEJAK DIKETAHUI
ADANYA KEPUTUSAN BADAN/PEJABAT TUN
DAN MERASAKAN KEPENTINGANNYA
DIRUGIKAN (KASUISTIS)

ALASAN/DASAR GUGATAN

PS 53 AYAT (2)

KEPUTUSAN TUN BERTENTANGAN DENGAN


PERUNDANG-UNDANGAN YANG BERLAKU
(ONRECHT MATIGHEID)
KEPUTUSAN TUN MELANGGAR ASAS-ASAS
UMUM PEMERINTAHAN YANG BAIK;

PETITUM GUGATAN
PASAL 53 AYAT (1)

KEPUTUSAN TUN DINYATAKAN BATAL ATAU TIDAK


SAH DENGAN ATAU TANPA DISERTAI TUNTUTAN
GANTI RUGI DAN/ ATAU REHABILITASI;

ISI GUGATAN (PASAL

56)
GUGATAN HARUS MEMUAT :
NAMA, KEWARGANEGARAAN, TEMPAT TINGGAL,
PEKERJAAN PENGGUGAT ATAU KUASANYA ;
NAMA JABATAN DAN TEMPAT KEDUDUKAN TERGUGAT ;
DASAR GUGATAN DAN HAL YANG DIMINTA UNTUK
DIPUTUSKAN OLEH PENGADILAN ;

KUASA SURAT KUASA/SURAT TUGAS YANG SAH ;


KEPUTUSAN TUN YANG DIGUGAT ;

SISTIMATIKA GUGATAN
KEPALA GUGATAN;
IDENTITAS PARA PIHAK;
OBJEK SENGKETA;
ALASAN/DASAR
MENGAJUKAN GUGATAN;
PETITUM;
PENUTUP;

DISMISAL PROSEDURE
( PASAL 62 )

GUGATAN YANG DIAJUKAN DINYATAKAN TIDAK DAPAT


DITERIMA ATAU TIDAK BERDASAR (NO), DENGAN
PENETAPAN DALAM HAL :
POKOK GUGATAN TIDAK TERMASUK WEWENANG
PENGADILAN ;
SETELAH DIBERITAHU SYARAT-SYARAT GUGATAN
(PASAL 56) TIDAK DIPENUHI ;
GUGATAN TIDAK BERDASAR ALASAN YANG LAYAK ;
TUNTUTAN DALAM GUGATAN SUDAH DIPENUHI
OLEH KEPUTUSAN TUN YANG DIGUGAT ;
GUGATAN DIAJUKAN SEBELUM/LEWAT WAKTUNYA.

PENETAPAN TERSEBUT DIUCAPKAN DALAM RAPAT


PERMUSYAWARATAN, SEBELUM HARI PERSIDANGAN
DITENTUKAN, YAITU DENGAN MEMANGGIL KEDUA
BELAH PIHAK UNTUK
MENDENGARKANNYA ;

GUGATAN
PERLAWANAN

TERHADAP PENETAPAN TIDAK LOLOS


DISMISSAL
DAPAT DIAJUKAN GUGATAN PERLAWANAN
DALAM TENGGANG WAKTU 14 HARI (CARA
PENGAJUAN SESUAI PADAL 56)
PERLAWANAN TERSEBUT DIPERIKSA DAN
DIPUTUS DENGAN ACARA SINGKAT;
APABILA PERLAWANAN DIBENARKAN
PENETAPAN GUGUR DEMI HUKUM, MAKA
POKOK PERKARA (GUGATAN) DIPERIKSA
DENGAN ACARA BIASA;
APABILA PERLAWANAN DITOLAK HARUS DALAM
BENTUK PUTUSAN DAN TERHADAP PUTUSAN
TERSEBUT, TIDAK ADA UPAYA HUKUM.

PEMERIKSAAN PERSIAPAN
( PASAL 63 )

HAKIM WAJIB MElAKUKAN PEMERIKSAAN


PERSIAPAN, UNTUK MENYEMPURNAKAN/
MEMANTAPKAN GUGATAN PENGGUGAT;
HAKIM MEMBERIKAN NASEHAT
PERBAIKAN/PEMANTAPAN GUGATAN KEPADA
PENGGUGAT DAN DAPAT MEMINTA PENJELASAN
KEPADA BADAN/PEJABAT TATA USAHA NEGARA;
PENGGUGAT YANG TIDAK MENYEMPURNAKAN
GUGATAN DALAM WAKTU (30 HARI), MAKA
GUGATAN DINYATAKAN TIDAK DAPAT DITERIMA;
TERHADAP PUTUSAN TERSEBUT TIDAK DAPAT
DIAJUKAN UPAYA HUKUM, TETAPI DAPAT
DIAJUKAN GUGATAN BARU, KALAU MASIH ADA
WAKTU (Pasal 55)

PENETAPAN PENUNDAAN
PELAKSANAAN KEPUTUSAN TUN

GUGATAN TIDAK MENUNDA DILAKSANAKANNYA


KEPUTUSAN MAUPUN
TINDAKAN
BADAN/PEJABAT
(SKORSING)>>>
PASAL
67
TATA USAHA NEGARA ;

TATA USAHA NEGARA ;


PENGGUGAT DAPAT MENGAJUKAN PERMOHONAN
PENUNDAAN PELEKSANAAN KEPUTUSAN TUN YANG
MENJADI OBJEK SENGKETA SAMPAI ADA PUTUSAN
PENGADILAN YANG TELAH MEMPUNYAI KEKUATAN
HUKUM TETAP ;
PERMOHONAN DIAJUKAN BERSAMA DALAM GUGATAN
DAN DAPAT DIPUTUS LEBIH DAHULU;
DAPAT DIKABULKAN HANYA APABILA TERDAPAT
KEPENTINGAN PENGGUGAT YANG SANGAT MENDESAK
DAN KEPENTINGANNYA SANGAT DIRUGIKAN ;
TIDAK DAPAT DIKABULKAN APABILA TERDAPAT
KEPENTINGAN UMUM DALAM RANGKA
PEMBANGUNAN NASIONAL MENGHARUSKAN
DILAKSANAKANNYA KEPUTUSAN TATA USAHA
NEGARA TERSEBUT ;

KEIKUTSERTAAN PIHAK KETIGA


(INTERVENSI PSL 83)
SETIAP ORANG YANG BERKEPENTINGAN
DAPAT MASUK DLM PERKARA YG SEDANG
BERJALAN/DIPERIKSA ATAS :

PRAKARSA HAKIM ATAU


PRAKARSA SENDIRI, DAPAT MASUK DALAM
SENGKETA TUN DAN BERTINDAK SEBAGAI :

PIHAK YANG MEMBELA HAKNYA, ATAU


PESERTA YANG BERGABUNG DALAM SALAH SATU
PIHAK YANG BERSENGKETA.

PERMOHONAN TERSEBUT :
- DAPAT DITOLAK/DIKABULKAN
- DENGAN PUTUSAN/DALAM BERITA ACARA
PERMOHONAN BANDING >>PUTUSAN
AKHIR

ACARA BIASA
(PASAL 63-97)

SEBELUM MEMERIKSA POKOK PERKARA HAKIM


WAJIB MENGADAKAN PEMERIKSAAN PERSIAPAN.
DALAM PEMERIKSAAN PERSIAPAN HAKIM
BERWENANG MEMINTA DATA DAN PENJELASAN
DARI PENGGUGAT DAN TERGUGAT ATAU
INSTANSI LAIN TERKAIT.
HAKIM WAJIB MEMBERIKAN NASIHAT PERBAIKAN
DAN PENYEMPURNAAN GUGATAN KEPADA
PENGGUGAT
DALAM TENGGANG WAKTU 30 (TIGA PULUH)
HARI PENGGUGAT TETAP TIDAK
MENYEMPURNAKAN GUGATANNYA, MAKA
GUGATAN DIPUTUS TIDAK DAPAT DITERIMA
TERHADAP PUTUSAN TERSEBUT TIDAK TERSEDIA
UPAYA HUKUM, NAMUN BILA DIMUNGKINKAN
PENGGUGAT DAPAT MENGAJUKAN GUGATAN
BARU.

PENGGUGAT ATAU KUASA HUKUMNYA PADA


SIDANG PERTAMA DAN KEDUA TIDAK HADIR
MAKA GUGATAN DINYATAKAN GUGUR.
TERGUGAT ATAU KUASA HUKUMNYA TIDAK
HADIR PADA SIDANG PERTAMA DAN KEDUA,
MAKA KETUA SIDANG DENGAN PENETAPAN
MEMINTA ATASAN TERGUGAT MEMERINTAHKAN
AGAR TERGUGAT HADIRI SIDANG.
LEWAT WAKTU 2 (DUA) BULAN TANPA BERITA
DARI PIHAK TERGUGAT, SIDANG DILANJUTKAN
DENGAN ACARA SELANJUTNYA (PEMBUKTIAN).
HAKIM KETUA SIDANG SECARA AKTIF
MENENTUNKAN APA YANG HARUS DIBUKTIKAN
DAN KEPADA SIAPA BEBAN PEMBUKTIAN
DIWAJIBKAN.
UNTUK PERMINTAAN SALAH SATU PIHAK ATAU
KARENA JABATAANNYA, HAKIM KETUA SIDANG
DAPAT MEMERINTAHKAN SEORANG SAKSI
UNTUK DIDENGAR DIPERSIDANGAN.
BAGI PEJABAT YANG DIPANGGIL SEBAGAI SAKSI
WAJIB DATANG SENDIRI.

ACARA CEPAT
(PASAL 98 99)

PEMERIKSAAN SENGKETA DIPERCEPAT


BILA BERDASARKAN ALASAN-ALASAN
KEPENTINGAN PENGGUGAT CUKUP
MENDESAK.
DALAM WAKTU 14 HARI DITERIMA
PERMOHONAN, DENGAN PENETAPAN
DIKABULKAN/DITOLAK.
TIDAK ADA UPAYA HUKUM ATAS
PENETAPAN TERSEBUT.
PEMERIKSAAN DENGAN HAKIM TUNGGAL.
TANPA PEMERIKSAAN PERSIAPAN DALAM
7 HARI DITETAPKAN HARI SIDANG
TENGGANG WAKTU UNTUK JAWABAN DAN
PEMBUKTIAN BAGI MASING-MASING
PIHAK TIDAK LEBIH DARI 14 HARI.

PEMBUKTIAN

PEMBUKTIAN ADALAH CARA PARA PIHAK UNTUK


MEYAKINKAN HAKIM AKAN KEBENARAN MASING-MASING
DALIL YANG MENJADI DASAR GUGATAN PENGGUGAT
MAUPUN JAWABAN ATAU SANGKALAN TERGUGAT.

ADA DUA MACAM PEMBUKTIAN :


PEMBUKTIAN SECARA FORMAL, YAITU PEMBUK-TIAN YANG
DIDASARKAN PADA ALAT-ALAT BUKTI YANG SAH, TANPA
PERLU ADANYA KEYAKINAN HAKIM;
PEMBUKTIAN SECARA MATERIIL, YAITU PEMBUK-TIAN
YANG DIDASARKAN PADA ALAT-ALAT BUKTI YANG SAH
DENGAN DISERTAI KEYAKINAN HAKIM BAHWA TELAH
TERJADI PERISTIWA HUKUM, DIMANA SESEORANG
DINYATAKAN BERSALAH/ SUATU SK MENGANDUNG CACAT
HUKUM SEHINGGA HARUS DINYATAKAN BATAL ATAU TIDAK
SAH.

1.
2.

1.
2.

ADA 2 (DUA) HAL YANG TIDAK PERLU DIBUKTIKAN, YAITU :


DALIL YANG DIAKUI ATAU SETIDAK-TIDAKNYA TIDAK
DISANGKAL OLEH PIHAK LAWAN;
HAL-HAL ATAU KEADAAN-KEADAAN YANG TELAH
DIKETAHUI OLEH KHALAYAK UMUM ( NOTOIR );

SISTIM PEMBUKTIKAN

4.

o HAKIM MENENTUKAN APA YANG HARUS


DIBUKTIKAN;
o HAKIM MENENTUKAN BEBAN PEMBUKTIAN;
o PENILAIAN PEMBUKTIAN;
o UNTUK SAHNYA PEMBUKTIAN DIPERLUKAN
SEKURANG-KURANGNYA DUA ALAT BUKTI
BERDASARKAN KEYAKINAN HAKIM.

DOMINUS LITIS
BERDASARKAN KETENTUAN PASAL 100 UU NO.
5 THN 1986 ALAT BUKTI :
SURAT ATAU TULISAN;
KETERANGAN AHLI;
KETERANGAN SAKSI;
PENGAKUAN PARA PIHAK;

5.

PENGETAHUAN HAKIM.

1.
2.
3.

PUTUSAN = VONIS
PUTUSAN/VONIS ADALAH HASIL ATAU
KESIMPULAN SUATU PEMERIKSAAN
PERKARA YANG DIDASARKAN PADA
PERTIMBANGAN YANG MENETAPKAN
APA YANG HUKUM.

1.

2.
3.

MENURUT SIFATNYA PUTUSAN TERBAGI 3 :


PUTUSAN DECLARATOIR ( MENERANGKAN
ATAU MENEGASKAN SUATU KEADAAN
HUKUM;
PUTUSAN CONSTITUTIF ( MENIADAKAN ATAU
MENIMBULKAN KEADAAN HUKUM BARU );
PUTUSAN CONDEMNATOIR ( BERISI
PENGHUKUMAN ).

MACAM PUTUSAN :

PUTUSAN MENGENAI PERLAWANAN


TERHADAP PENETAPAN DISMISSAL
( Psl 62 Ay 2);
PUTUSAN BAHWA GUGATAN TIDAK
DAPAT DITERIMA ( Psl 63 Ay 3 );
PUTUSAN TERHADAP POKOK GUGATAN
DALAM HAL TERGUGAT TIDAK HADIR
( Psl 72 Ay 3);
PUTUSAN DALAM HAL INTERVENSI
( Psl 83 Ay 2 );
PUTUSAN DALAM HAL KUASA HUKUM
BERTINDAK MELAMPAUI WEWENANG
( Psl 84 Ay 2 );
PUTUSAN AKHIR ( Psl 97 Ay 2 ).

ISI PUTUSAN DAPAT BERUPA :


1.
2.
3.
4.

GUGATAN
GUGATAN
GUGATAN
GUGATAN

DITOLAK;
DIKABULKAN;
TIDAK DAPAT DITERIMA;
GUGUR.

DALAM HAL GUGATAN DIKABULKAN,


PUTUSAN DAPAT MENETAPKAN KEWAJIBAN
YANG HARUS DILAKUKAN PEJABAT/BADAN
TUN :

1.

PENCABUTAN SKTUN YANG BERSANGKUTAN;


PENCABUTAN SKTUN YANG BERSANGKUTAN
DAN MENERBITKAN SKTUN YANG BARU;
PENERBITAN KEPUTUSAN TUN DALAM HAL
GUGATAN DIDASARKAN PADA PASAL 3.
+ PEMBEBANAN GANTI RUGI &
REHABILITASI.

2.
3.

SISTEMATIKA PUTUSAN

KEPALA PUTUSAN;

JUDUL DAN NOMOR PERKARA;


IRAH-IRAH DEMI KEADILAN BERDASARKAN
KETUHANAN YANG MAHA ESA;
PENGADILAN YANG MENGADILI;

IDENTITAS PARA PIHAK;

NAMA, KEWARGANEGARAAN, TEMPAT


TINGGGAL DAN PEKERJAAN PENGGUGAT
DAN KUASA HUKUMNYA;
NAMA JABATAN DAN KEDUDUKAN
TERGUGAT DAN KUASA HUKUMNYA;

URAIAN FAKTA & JALANNYA


PEMERIKSAAN PERKARA;

TENTANG DUDUKNYA PERKARA;


RINGKASAN GUGATAN, JAWABAN DAN
BUKTI-BUKTI;
URAIAN JALANNYA PEMERIKSAAN DARI
AWAL SAMPAI AKHIR;

PERTIMBANGAN HUKUM;

PENILAIAN ATAS FAKTA-FAKTA YANG DIKEMUKAKAN


PARA PIHAK;
ANALISA HUKUM, YANG MENJADI DASAR HUKUM
PUTUSAN;
KEADAAN-KEADAAN MENEURUT PENGETAHUAN
HAKUM;

KESIMPULAN;

MERUPAKAN PENUTUP PERTIMBANGAN HUKUM


YANG MENGGAMBARKAN PENILAIAN AKHIR
PENGADILAN;

DIKTUM/AMAR PUTUSAN;

APA YANG SECARA FINAL DIPUTUS PENGADILAN;


BAGIAN YANG PALING PENTING BAGI PARA PIHAK;

PENUTUP

KETERANGAN HARI/TANGAL PENGAMBILAN PUTUSAN


OLEH MUSYAWARAH HAKIM/MAJELIS HAKIM;
KETERANGAN TENTANG PENGUCAPAN PUTUSAN
DALAM SIDANG TERBUKA UNTUK UMUM;
NAMA HAKIM/MAJELIS HAKIM;
KETERANGAN KEHADIRAN PARA PIHAK;
TANDA TANGAN HAKIM DAN PANITERA;

UPAYA HUKUM

SECARA FILOSOFIS DIPERLUKANNYA UPAYA HUKUM


BAHWA SETIAP HAKIM YANG MEMUTUS PERKARA/
SENGKETA YANG DIAJUKAN DI PENGADILAN
ADALAH MANUSIA BIASA YANG TIDAK LUPUT DARI
KELEMAHAN DAN KEKURANGAN, YAITU BISA SALAH,
KELIRU DAN KHILAF, SEHINGGA PEMBENTUK
UNDANG-UNDANG MEMBUKA KEMUNGKINAN BAGI
ORANG YANG TIDAK PUAS ATAU DIKALAHKAN
UNTUK MELAKUKAN UPAYA HUKUM;

PENGERTIAN UPAYA HUKUM ADALAH UPAYA YANG


DIBERIKAN UNDANG-UNDANG KEPADA SESEORANG
ATAU BADAN HUKUM UNTUK DALAM HALTERTENTU
MELAWAN PUTUSAN HAKIM/PENGADILAN;

UPAYA HUKUM TERDIRI DARI :


1. UPAYA HUKUM BIASA :
- PERLAWANAN TERHADAP PENETAPAN DISMISSAL;
- BANDING;
- KASASI.
2. UPAYA HUKUM LUAR BIASA, BERUPA PENINJAUAN
KEMBALI.

UPAYA HUKUM BIASA

o PADA PRINSIPNYA UPAYA HUKUM BIASA SELALU TERBUKA


UNTUK DIAJUKAN TERHADAP SETIAP PUTUSAN SELAMA
TENGGANG WAKTU YANG DITENTUKAN OLEH UNDANGUNDANG BELUM LEWAT.
o UPAYA HUKUM INI BERSIFAT MENGHENTIKAN PELAKSANAAN
PUTUSAN UNTUK SEMENTARA HINGGA ADANYA SUATU
PUTUSAN YANG BERKEKUATAN HUKUM TETAP.
o UPAYA HUKUM BIASA ADALAH MELIPUTI : PERLAWANAN
TERHADAP PENETAPAN DISMISSAL, BANDING DAN KASASI.

o
o

UPAYA HUKUM PERLAWANAN

MERUPAKAN UPAYA HUKUM YANG DISEDIAKAN PEMBENTUK


UNDANG-UNDANG BAGI PENGGUGAT YANG TIDAK MENERIMA
PENETAPAN KETUA PENGADILAN YANG MENYATAKAN GUGATAN
PENGGUGAT TIDAK DAPAT DITERIMA, DENGAN KETENTUAN SBB
:
GUGATAN PERLAWANAN DIAJUKAN DALAM TENGGANG WAKTU
14 HARI SETELAH PENETAPAN DIUCAPKAN DAN DIAJUKAN
SEBAGAIMANA SYARAT MENGAJUKAN GUGATAN;
GUGATAN PERLAWANAN DIPERIKSA OLEH PENGADILAN
DENGAN ACARA SINGKAT;
DALAM HAL PERLAWANAN DIBENARKAN OLEH PENGADILAN,
MAKA PENETAPAN KETUA DINYATAKAN GUGUR DAN PERKARA
POKOK DIPERIKSA DENGAN ACARA BIASA;
TERHADAP PUTUSAN PERLAWANAN TERSEBUT TIDAK TERSEDIA
UPAYA HUKUM.

BANDING

BANDING ADALAH UPAYA HUKUM YANG DAPAT


DILAKUKAN TERHADAP SETIAP PUTUSAN PTUN
OLEH PARA PIHAK, DENGAN KETENTUAN SBB :

DIAJUKAN SECARA TERTULIS DALAM TENGGANG


WAKTU 14 HARI SETELAH PENGUCAPAN PUTUSAN
ATAU PEMBERITAHUAN PUTUSAN KE PT.TUN;
DENGAN PERMOHONAN BANDING, PERKARA
MENJADI MENTAH LAGI;
PUTUSAN PTUN YANG BUKAN PUTUSAN AKHIR
HANYA DAPAT DIAJUKAN BANDING BERSAMA
DENGAN PUTUSAN AKHIR TENTANG POKOK
PERKARAPT.
TUN MENGADILI PERKARA PADA TINGKAT
BANDING DENGAN MAJELIS HAKIM DENGAN
SEKURUNG-KURANGNYA TIGA ORANG HAKIM;
PERMOHONAN BANDING DAPAT DICABUT
SEBELUM DIPUTUS OLEH PT.TUN, DAN
SETELAHNYA TIDAK DAPAT DIAJUKAN LAGI
MESKIPUN MASIH ADA WAKTU;
MENERIMA PUTUSAN PTUN, TIDAK DAPAT
DICABUT LAGI !

KASASI

KASASI ADALAH UPAYA HUKUM TERAKHIR. KATA


KASASI BERASAL DARI PERKATAAN PERANCIS
CASSER, YANG ARTINYA MEMECAHKAN ATAU
MEMBATALKAN, DAPAT DIAJUKAN DENGAN
KETENTUAN SBB :
DIAJUKAN NSECARA TERTULIS DALAM TENGGANG WAKTU
14 HARI SEJAK MENERIMA PEMBERITAHUAN PUTUSAN
BANDING OLEH PENGADILAN TINGKAT PERTAMA;
PEMOHON KASASI WAJIB MEMBUAT MEMORI KASASI DALAM
TENGGANG WAKTU 14 HARI SEJAK MENGATAKAN KASASI;
KKASASI ADALAH TINDAKAN MAHKAMAH AGUNG UNTUK
MENEGAKKAN DAN MEMBETULKAN PENERAPAN HUKUM
YANG SALAH OLEH PENGADILAN DI BAWAHNYA;
KASASI MERUPAKAN SALAH SATU TINDAKAN MAHKAMAH
AGUNG UNTUK MELAKUKAN PENGAWASAN TERTINGGI ATAS
PUTUSAN-PUTUSAN PENGADILAN DARI SEMUA
LINGKUNGAN;
TERHADAP SEMUA PUTUSAN TINGKAT AKHIR PENGADILAN
DAPAT DIMOHONKAN PEMERIKSAAN KASASI SECARA
TERTULIS ATAU LISAN MELALUI PANITERA PENGADILAN
TINGKAT PERTAMA KEPADA MAHKAMAH AGUNG, KECUALI
PERKARA YANG DITENTUKAN LAIN DALAM UNDANGUNDANG;

UPAYA HUKUM LUAR


PADA
PRINSIPNYA UPAYA HUKUM LUAR
BIASA
BIASA
DILAKUKAN TERHADAP

PUTUSAN PENGADILAN YANG TELAH


MEMPUNYAI KEKUATAN HUKUM TETAP;
UPAYA HUKUM LUAR BIASA TIDAK
MENANGGUHKAN EKSEKUSI PUTUSAN
YANG TELAH BERKEKUATAN HUKUM
TTETAP;
UPAYA HUKUM LUAR BIASA BERUPA
PENIJAUAN KEMBALI;
PERMOHONAN PENIJAUAN KEMBALI
DAPAT DIAJUKAN HANYA 1 (SATU) KALI
KEPADA MAHKAMAH AGUNG MELALUI
KETUA PENGADILAN YANG MEMUTUS
PERKARA PADA TINGKAT PERTAMA DAN
DAPAT DICABUT SELAMA BELUM DIPUTUS;

ALASAN-ALASAN PENGAJUAN
PK :
PASAL 67 UU NO. 4 YAHUN 2004

a.

b.
c.
d.
e.
f.

PUTUSAN DIDASARKAN PADA


KEBOHONGAN, TIPU MUSLIHAT DAN
PALSU;
DITEMUKAN BUKTI BARU (NOVUM);
PUTUSAN YANG ULTRA PETITA;
ADA BAGIAN YANG DITUNTUT BELUM
DIPUTUS TANPA PERTIMBANGAN;
TERDAPAT PUTUSAN YANG SALING
BERTENTANGAN;
TERDAPAT KESILAFAN ATAU KEKLIRUAN
HAKIM;

EKSEKUSI

PADA HAKEKATNYA PUTUSAN HAKIM


(PENGADILAN) YANG SUDAH MEMPUNYAI
KEKUATAN HUKUM TETAP YANG DAPAT
DIJALANKAN/DILAKSANAKAN.
DARI TIGA MACAM PUTUSAN MENURUT
SIFATNYA YAITU :
PUTUSAN DECLARATOIR ( MENERANGKAN
ATAU MENEGASKAN SUATU KEADAAN HUKUM;
PUTUSAN CONSTITUTIF ( MENIADAKAN ATAU
MENIMBULKAN KEADAAN HUKUM BARU );
PUTUSAN CONDEMNATOIR ( BERISI
PENGHUKUMAN ).

HANYA JENIS PUTUSAN CONDEMNATOIR,


YAITU PUTUSAN YANG MENGANDUNG
PERINTAH KEPADA SUATU PIHAK UNTUK
MELAKUKAN SUATU PERBUATAN, YANG
HARUS DILAKSANAKAN.

EKSEKUSI DI PERADILAN TATA USAHA NEGARA


ADALAH EKSEKUSI ADMINISTRASI, YAITU SANGAT
TERGANTUNG KEPADA AMAR PUTUSAN PENGADILAN
YANG TELAH MEMPUNYAI KEKUATAN HUKUM TETAP;

ISI PUTUSAN DAPAT BERUPA :


- GUGATAN DITOLAK;
- GUGATAN DIKABULKAN;
- GUGATAN TIDAK DAPAT DITERIMA;
- GUGATAN GUGUR.

DALAM HAL GUGATAN DIKABULKAN, PUTUSAN


DAPAT MENETAPKAN KEWAJIBAN YANG HARUS
DILAKUKAN PEJABAT/BADAN TUN :
- PENCABUTAN SKTUN YANG BERSANGKUTAN;
- PENCABUTAN SKTUN YANG BERSANGKUTAN DAN
MENERBITKAN SKTUN YANG BARU;
- PENERBITAN KEPUTUSAN TUN DALAM HAL
GUGATAN DIDASARKAN PADA PASAL 3.
+ PEMBEBANAN GANTI RUGI & R REHABILITASI.

ADA 2 (DUA) BENTUK EKSEKUSI

EKSEKUSI SEMPURNA, YAITU EKSEKUSI

SEBAGAIMANA DIATUR PASAL 116 UU NO. 9


TAHUN 2004, YANG PADA POKOKNYA
SEBAGAI BERIKUT :
o

DALAM 4 BULAN TIDAK DICABUT, MAKA SKTUN YANG


DISENGKETAKAN TIDAK MEMPUNYAI KEKUATAN
HUKUM LAGI;
DALAM HAL 3 BULAN TERGUGAT BELUM MENERBITK
AN SKTUN YHANG DIPERINTAHKAN, MAKA
PENGGUGAT MEMOHON KEPADA KPTUN UNTUK
PERINTAHKAN TERGUGAT MELAKSANAKAN PUTUSAN
PENGADILAN;
DALAM TERGUGAT TIDAK BERSEDIA MELAKSANAKAN
PUTUSAN PENGADILAN YANG TELAH BHT, MAKA
TERHADAP PEJABAT YANG BERSANGKUTAN
DIKENAKAN UPAYA PAKSA BERUPA :
- PEMBAYARAN SEJUMLAH UANG PAKSA/
- SANKSI ADMINISTRASI;
- PENGUMUMAN MELALUI MEDIA MASSA CETAK;

EKSEKUSI TIDAK SEMPURNA, YAITU

EKSEKUSI TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN


YANG TELAH BHT YANG SULIT DILAKSANAKAN
KARENA SEDEMIKIAN RUPA TELAH TERDAPAT
KEADAAN BERUBAH, MAKA SOLUSINYA DIATUR
PADA PASAL 117 UU NO.5/1986, SEBAGAI
BERIKUT :
o

o
o
o

KEADAAN BERUBAH TERSEBUT WAJIB TERGUGAT


MEMBERITAHUKAN KEPADA KETUA PTUN DAN
PENGGUGAT;
DALAM WAKTU 30 HARI, PENGGUGAT MEMOHON
KEPADA KETUA PTUN AGAR TERGUGAT DIBEBANI
BAYAR GANTI RUGI ATAU KOMPENSASI LAIN YANG
DIINGINKAN;
DIUPAYAKAN PERSETUJUAN ANTARA KEDUA BELAH
PIHAK MENGENAI SEJUMLAH UANG ATAU KOMPENSASI
LAIN;
PENETAPAN KETUA PTUN;
PENGGUGAT ATAU TERGUGAT DAPAT MENGAJUKANNYA
KEPADA MAHKAMAH AGUNG UNTUK DITETAPKAN;
PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG DALAM EKSEKUSI INI
WAJIB DITAATI KEDUA BELAH PIHAK;

ASAS-ASAS UMUM PERADILAN YANG


MENJUNJUNG TINGGI HAK SESEORANG
BAIK

UNTUK
MENDAPAT PUTUSAN ( RIGHT TO ADECISION );
SETIAP ORANG BERHAK UNTUK MENGAJUKAN
PERKARA SEPANJANG MEMPUNYAI KEPENTINGAN;
LARANGAN MENOLAK UNTUK MENGADILI PERKARA,
KECUALI DITENTUKAN LAIN OLEH UNDANGUNDANG;
PUTUSAN HARUS DIJATUHKAN DALAM WAKTU YANG
PANTAS DAN TIDAK TERLALU LAMA;
ASAS IMPARTIALITAS;
ASAS AUDI ET ALTERAM PARTEM;
ASAS OBJEKTIFITAS (NO BIAS) TIDAK ADA
KEPENTINGAN PRIBADI ATAU PIHAK LAIN;
MENJUNJUNG TINGGI PRINSIP NEMO JUDEX IN REX
SUA;
LEGAL REASONING ( PENALARAN HUKUM ) YANG
JELAS DALAM ISI PUTUSAN;
AKUNTABILITAS;
TRANSPARANSI;
KEPASTIAN HUKUM DAN KONSISTENSI;
MENJUNJUNG TINGGI HAK-HAK AZASI MANUSIA;

TERIMA KASIH
ATAS
SEGALA PERHATIAN
SERTA
MINTA MAAF ATAS SEGALA
KEKURANGAN DAN KEKHILAFAN
WALAUPUN MATERI DAN PENYAJIAN
SANGAT SEDERHANA
KIRANYA BERMANFAAT.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


Nama
Tempat, Tanggal Lahir
Kewarga Negaraan
Pekerjaan
Lampung
Alamat Rumah

: Disiplin. F. Manao, SH.MH


: Bawomataluo, Nias 12 Juli 1961.
: Indonesia
: Hakim/Wakil Ketua PTUN Bandar
: 1. Jln. Gudang Peluru Raya Blok B1/ 6A
Jakarta Selatan. (021) 8298343;
HP. 081514090000;
2. Jl. Pulau Buru Gg. Morosenang No. 21,
WHP Bandar Lampung (0721) 705112;

Pendidikan Terakhir
:
S1- Fakultas Hukum UNIKA Atma Jaya Jakarta, Lulus Tahun 1985
S2-Fakultas Hukum Universitas Krisnadwipayana Jakarta, Lulus
Tahun 2004

Riwayat Pekerjaan :

Pengacara pada kantor Advokat RL. Soepriyatso SH &


Associates Jakarta, Tahun 1985-1988.
Calon Hakim pada Pengadilan Negeri Jakarta Barat Tahun
1988-1992.
Hakim pada Pengadilan Negeri Sidikalang, Tahun 1992-1996.
Hakim pada Pengadilan Tata Usaha Negara Bandar Lampung,
Tahun 1996-2001.
Hakim pada Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta, Tahun
2001-2004.
Hakim Yustisial pada Mahkamah Agung RI, Tahun 2004
2007;
Hakim/Wakil Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Bandar
Lampung, Tahun 2007 sekarang;
Dosen pada Pendidikan Calon Hakim Tahun 2001 sekarang;
Dosen Pada Pendidikan Hakim Berkelanjutan Kerja Sama Uni
Eropa dengan Mahkamah Agung RI 2006 - sekarang
Dosen pada Fakultas Hukum Universitas Krisnadwipayana
Program Pendidikan Sarjana dan Pasca Sarjana dari Tahun
2003 sekarang;
Dosen pada Pendidikan Calon Advocat yang diselenggarakan
DPN PERADI bekerja sama dengan Fakultas Hukum Univ.
Krisnadwipayana;