Anda di halaman 1dari 80

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

DIREKTORAT JENDERAL MINERAL DAN BATUBARA

INSPEKSI
INSPEKSI PENYANGGAAN
PENYANGGAAN TAMBANG
TAMBANG BAWAH
BAWAH TANAH
TANAH

Donny P. Simorangkir
Inspektur Tambang
Direktorat Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara

Sistematika Materi
I.

PRINSIP-PRINSIP PENYANGGAAN

II. JENIS-JENIS PENYANGGAAN


III. PERATURAN KESELAMATAN TERKAIT
PENYANGGAAN
IV. TATA CARA INSPEKSI PENYANGGAAN
V.

STUDI KASUS PENYANGGAAN

I. PRINSIP-PRINSIP PENYANGGAAN

I. PRINSIP-PRINSIP PENYANGGAAN
Pengertian Penyangga Batuan
Adalah suatu metode yang digunakan untuk menahan
beban
dari
massa
batuan
untuk
menjaga
keseimbangan/kestabilan bukaan terowongan sehingga
keselamatan kerja dapat dicapai dengan aman.
Dipakai untuk :
- Membuat tunnel atau terowongan
- Drift
-Dsb nya

I. PRINSIP-PRINSIP PENYANGGAAN

PENYANGGAAN BATUAN
Pada prinsipnya bukan untuk menahan
beban seluruh batuan yang ada di atasnya,
tetapi hanya menahan sebagian kecil batuan
yang dibebaskan yang tidak dapat disangga
oleh batuan induknya.
Tujuan penyanggaan adalah:
untuk
mempertahankan
penampang
terowongan
yang
diperlukan
untuk
transportasi, ventilasi, lalu lintas orang dan
tempat bekerja orang.
melindungi pekerja dan sarana dari resiko
tertimpa reruntuhan (atap ambruk).

II. JENIS-JENIS PENYANGGAAN

I. 1 Penyangga Pasif
I. 2 Penyangga Aktif

II. JENIS-JENIS PENYANGGAAN


BERDASARKAN SIFAT PENYANGGAANNYA, DIBEDAKAN
MENJADI 2:

1. Penyangga pasif (passive support)


Bersifat mendukung batuan yang akan
runtuh dan membatasi gerakan
batuan tersebut (rigid).
2. Penyangga aktif (active support)
Bersifat memperkuat (reinforcement)
batuan tersebut secara langsung.

II. JENIS-JENIS PENYANGGAAN


1. PENYANGGA PASIF YANG UMUM DIGUNAKAN :
a.
b.
c.
d.
e.

Penyangga kayu (timbered support)


Penyangga besi baja (steel support)
Penyangga beton
hydraulic prop
powered roof support (PRS).

a. Baut Batuan (Rock bolt)


b. Kabel batuan

II. 1. PENYANGGA PASIF


II.1. (a). PENYANGGA KAYU (timbered support)
KEUNTUNGAN YANG DIMILIKI MATERIAL KAYU :
Ringan, mudah dibawa, dibentuk dan dipasang
Akan retak sepanjang seratnya sehingga mudah dideteksi
Sisa potongan atau patahan dapat digunakan sebagai
pasak, material isian dan sebagainya.

KERUGIANNYA :

Kekuatan mekaniknya tergantung pada struktur serat


dan cacat alami
Kelembaban dapat mempengaruhi kekuatannya
Jamur dan hewan yang tinggal di daerah lembab
berpengaruh dalam penurunan kekuatannya
Mudah terbakar

II.1. (a). PENYANGGA KAYU (timbered support)


FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEKUATAN MATERIAL KAYU ADALAH :
Kandungan Air
Struktur Serat
Cacat Alami

DARI KONDISI MATERIAL KAYU TERSEBUT, MAKA KEKUATAN


KAYU DIGOLONGKAN KEDALAM 5 KELAS:
Kelas Kuat

Berat Jenis

Kekuatan Lengkung

Kekuatan Tekan

(Kg/cm2)

(Kg/cm2)

0,9

1100

650

II

0,9 0,60

1100 725

650 425

III

0,60 0,40

725 500

425 300

IV

0,40 0,30

500 360

300 215

0,30

360

215

II.1. (a). PENYANGGA KAYU (timbered support)

Berdasarkan susunan pemasangannya,


Penyangga kayu dibedakan menjadi :
Cribbing
Mempunyai bentuk penampang yang lebar dan umumnya digunakan
didaerah yang memerlukan pemerkuatan tinggi, seperti di lubang
produksi dan perempatan (junction)
Three pieces set
Digunakan pada lubang bukaan yang berbentuk persegi panjang dan
terdiri dari tiga bagian utama, yaitu bagian atas (cap) dan bagian
samping/tiang (side post)
Square set
Penyangga ini umumnya digunakan pada lubang vertikal (raise / winze)
Five pieces set
Digunakan pada lubang bukaan yang berbentuk persegi panjang dan
terdiri dari lima bagian utama

Penyangga Kayu Cribbing


UKURAN BALOK KAYU YANG
DIGUNAKAN PADA UMUMNYA :
20 cm x 20 cm
Panjang 1 meter hingga 2 meter
tergantung pada posisi mana
cribing hendak dipasang
Bila nantinya cribbing akan
dibongkar untuk dipasang lagi
ditempat yang lain, maka pada
pemasangan cribing harus
dilengkapi dengan chok release.

Penyangga Kayu Three Pieces Set


2,40 m
Ventilation Tube
Breacing

2,00 m

Lagging (5 x20 x 120) cm

Compressor Pipe

78
0,60 m

0,3 m

0,3 m
0,2 m

1,20 m

3,70 m

Penyangga Kayu Square Set

Penyangga Kayu five Pieces Set

II.1. (b). PENYANGGA BAJA (steel support)

Memiliki beberapa keuntungan, diantaranya :


Homogen dan mempunyai sifat elastisitas yang
tinggi
Tidak dipengaruhi oleh kelembaban atau tidak
mudah lapuk
Lebih tahan lama dibandingkan dengan kayu dan
mempunyai kekuatan yang tinggi meskipun dengan
luas penampang yang kecil

Kekuranganya :
Harganya mahal
Sulit diolah untuk menyesuaikan kondisi lapangan

Penyangga Baja arches

Penyangga Baja Three


Pieces Set

Kombinasi Penyangga Kayu dan

II.1. (c). PENYANGGA BETON (concrete)


Beton (concrete) adalah campuran antara semen, pasir
dan air yang kadang-kadang ditambah CaCl2 (calsium
chlorida) yang berfungsi mempercepat waktu
pengerasan (curing time).
Dalam bidang teknik, beton banyak digunakan karena
antara lain :
Mempunyai kuat tekan tinggi
Bahan-bahan mudah didapat
Tahan terhadap pengaruh cuaca

Kelemahan dari beton adalah :


Mempunyai kuat tarik rendah
Dapat hancur tiba-tiba, tanpa menunjukkan tanda-tanda
terlebih dahulu
Hancuran beton tidak dapat digunakan lagi

Penyangga Beton
(Concrete)

BETON BERTULANG

1. (c). PENYANGGA BETON (concrete)

Beton Tembak (Shotcrete)


Ada dua tipe dasar shotcrete, yaitu :
Shotcrete campuran kering (dry mix shotcrete),
dimana campuran semennya kering dan air
ditambahkan pada saat penyemprotan (di nozzle).
Shotcrete campuran basah (wet mix shotcrete), pada
dasarnya memiliki komponen yang sama dengan
campuran kering, tetapi airnya telah dicampurkan di
dalam mixer.

Pada kasus shotcrete campuran kering, pemercepat


pengerasan (akselerator) dapat ditambahkan pada
campuran, tetapi pada shotcrete campuran basah,
akselerator harus ditambahkan pada saat
penyemprotan (nozzle).

Perbandingan shotcrete
campuran kering dan campuran basah
Campuran Basah

Penggumpalan

rendah

Campuran Kering
ketika

penyemprotan

Lebih mudah beradaptasi dengan kondisi


tanah, terutama jika terdapat air

Debu kurang

Kontrol rasio semen/air

terlalu mahal dan suku cadang / peralatan

Kontrol kualitas preparasi material lebih

bekas banyak tersedia

mudah karena peralatan mirip dengan

Mesin campuran kering lebih kecil dan

concrete

mudah beradaptasi dengan terowongan

Nozzleman secara langsung mengontrol

(tunnel) yang ruangnya terbatas

kecepatan partikel dan mengkompaknya


dengan mengatur aliran udara di nozzle

Alat mudah dibersihkan

Biaya pemeliharaan rendah

Tingkat produksi tinggi

Peralatan campuran kering biasanya tidak

II.1. (d). Hydraulic Prop(steel


prop dan kappe)
Prop
Pada awalnya penyanggaan pada front kerja
penambangan batubara bawah tanah yang
menerapkan metode longwall mining adalah
menggunakan kayu.
Seiring kemajuan penambangan, penyangga kayu
yang telah terpasang tidak dapat diambil kembali
karena tekanan batuan atap yang sangat besar
sehinngga harus ditinggalkan.
Dengan kemajuan teknologi, steel prop
(hydraulic prop) dan kappe diciptakan untuk
menggantikan penyangga kayu
Pemakaian steel prop dan kappe lebih fleksibel
dan dapat dibongkar untuk digunakan kembali
seiring kemajuan penambangan.

PENYANGGA STEEL PROP DAN KAPPE

II.1. (e). Power Roof Support (PRS)

Penambangan batubara bawah tanah dengan


menerapkan metode longwall dibedakan menjadi
longwall semi mekanis dan longwall full mekanis.
Penyanggaan front kerja pada longwall semi mekanis
adalah steel prop (hidrolik Prop) dan kappe.
Penyanggaan front kerja pada longwall full mekanis
adalah Power roof support (PRS)
Power roof support dipasang satu set bersama
armoured face conveyor yang dapat dimajukan dan
diposisikan tiang besinya seiring dengan kemajuan
permuka kerja dan juga drum shearer.

PENYANGGA POWER ROOF SUPPORT


(PRS)

II. 2. PENYANGGA AKTIF


Obyek utama dari rancangan suatu sistem
penyanggaan adalah menolong massa batuan
untuk menyanga dirinya sendiri.
Baut batuan bila digunakan akan merupakan
bagian dari massa batuan.
Keadaan sistem penyangga ini dapat digunakan
sebagai penyangga permanen dan penyangga
sementara.

II.2. (a). Baut Batuan (Rock Bolt)


Pemakaian Baut Batuan dalam penyanggaan lubang
bukaan berkembang sangat pesat, karena beberapa
alasan sebagai berikut :
Fleksibel, dapat digunakan pada bentuk geometri yang
bervariasi.
Umumnya mudah digunakan.
Relatif murah
Pemasangan dapat sepenuhnya dengan mekanisasi
Kerapatannya (jumlah baut batuan per satuan luas)
dengan mudah dapat disesuaikan dengan kondisi
batuan lokal.
Dapat dikombinasikan dengan sistem penyanggaan
yang lain, seperti : mesh kawat, beton tembak dan
selimut beton.

JENIS BAUT BATUAN BERDASARKAN CARA


PENGIKATANNYA :

a. Baut batuan dengan pengikatan mekanis


b. Baut batuan dengan pengikatan menggunakan
kimia
c. Cable bolt batuan dengan pengikatan
menggunakan kimia
d. Baut batuan dengan pengikatan geser

a. BAUT BATUAN DENGAN PENGIKATAN


MEKANIS
Pengikatan mekanis
ini dilakukan dengan sel
penjangkaran terkembang (the expansion shell
anchored rockbolt)
Baut batuan dengan pengikatan mekanis ini terdiri
dari 2 tipe, yaitu :
1. Slot & wedge bolt
2. Expansion shell bolt

Slot and wedge

a. BAUT BATUAN DENGAN PENGIKATAN


MEKANIS

(b)

(a)

Expansion shell bolt

b. BAUT BATUAN DENGAN PENGIKATAN


KIMIA

Baut batuan jenis ini telah digunakan diseluruh


dunia sejak 40 tahun yang lalu dalam aplikasi
rekayasa pertambangan dan sipil. Sebagian
besar biasa digunakan baut batuan grouted
rebar

Baut batuan dengan pengikatan secara kimia ini


dibedakan menjadi 2 macam :
1. Baut Batuan rebar menggunakan RESIN
2. Baut Batuan rebar menggunakan SEMEN

BAUT BATUAN DENGAN PENGIKATAN


KIMIA

CABLE BOLT BATUAN DENGAN


PENGIKATAN MENGGUNAKAN KIMIA

Cable bolt batuan telah digunakan sejak 20


hingga 30 tahun yang lalu
Penggunaanya untuk sistem penyanggaa
sementara
Jenis kabel yang biasa digunakan untuk
penguatan adalah kabel dengan diameter
15,2 mm jenis kabel wire steel strand

CABLE BOLT BATUAN DENGAN


PENGIKATAN MENGGUNAKAN KIMIA

BAUT BATUAN DENGAN PENGIKATAN GESER

SPLIT SET

BAUT BATUAN DENGAN PENGIKATAN GESER

SWELLEX

PERLENGKAPAN PENUNJANG BAUT


BATUAN

FACE PLATE :
untuk mendistribusikan beban pada kepala baut secara merata di sekitar
batuan sekelilingnya
Bila digunakan baut tak tertegangkan (misal : rebar disemen penuh),
sebuah face plate sederhana dapat digunakan
Beberapa grouted rockbolt dapat dipasang tanpa face plate yang
terpasang
MES KAWAT (WIRE MESH) :
umumnya digunakan untuk mencegah jatuhan/runtuhan batuan lepas yang
berukuran tertentu.
Dari bentuk mes (anyaman kawatnya), wire mesh dibedakan menjadi 2 yaitu
: chailink mesh dan weld mesh
ROCK STRAPS :
dibuat dengan besi baja berukuran tebal 6 mm (1/4 in) dengan lebar sekitar
100 mm (4 in) dan berbagai ukuran panjang.
digunakan dimana kondisi batuan jelek dan sering terjadi batuan lepas pada
sekitar ujung baut batuan

FACE PLATE

CHAILINK MESH

WELD MESH

ROCK STRAPS

REKOMENDASI PEMAKAIAN BAUT


BATUAN
BAUT BATUAN DENGAN PENGIKATAN MEKANIK TIDAK
DIREKOMENDASIKAN UNTUK :
Pada kondisi batuan lunak dimana jenis batuan ini dan material
pengisi rekahan dapat melepaskan pengikatan baut ini.
Dekat daerah yang menggunakan teknik peledakan dimana
tegangan tarik dapat hilang
Pada sistem penyanggaan permanent, kecuali dikombinasikan
dengan pengikatan yang memakai zat kimia (resin dan semen)
Dekat dengan permukaan kerja dimana deformasi batuan cukup
besar.
Di dalam daerah yang mempunyai tegangan yang besar
Pada penggunaan dimana tegangan tarik baut batuan tidak dapat di
periksa
Daerah yang ada gerakan geser
Di dalam batuan yang sangat keras
Di dalam batuan yang sangat terkekarkan

REKOMENDASI PEMAKAIAN BAUT


BATUAN
BAUT BATUAN DENGAN PENGIKATAN KIMIA TIDAK
DIREKOMENDASIKAN UNTUK :
Pada kondisi dimana kualitas zat kimia tidak dapat diperiksa
Adanya aliran air tanah melalui lubang bor
Penggunaan semen dimana penyanggaan harus segera berfungsi
Adanya rongga dan rekahan yang terbuka
Baut batuan/cable bolt tanpa tertegangkan (untensioned) tidak
direkomendasikan untuk kondisi pada massa batuan yang mengalami
deformasi ekstensif.
Baut batuan/cable bolt tertegangkan (tensioned) tidak
direkomendasikan untuk kondisi sebagai berikut :
Daerah yang dekat dengan permukaan kerja
Daerah dengan tegangan yang besar

REKOMENDASI PEMAKAIAN BAUT


BATUAN
BAUT BATUAN DENGAN PENGIKATAN GESER TIDAK
DIREKOMENDASIKAN UNTUK :
Pada kondisi batuan lunak dimana jenis batuan ini dan material
pengisi rekahan dapat melepaskan pengikatan baut ini.
Dekat daerah yang menggunakan teknik peledakan dimana
tegangan tarik dapat hilang
Pada sistem penyanggaan permanent, kecuali dikombinasikan
dengan pengikatan yang memakai zat kimia (resin dan semen)
Dekat dengan permukaan kerja dimana deformasi batuan cukup
besar.
Di dalam daerah yang mempunyai tegangan yang besar
Pada penggunaan dimana tegangan tarik baut batuan tidak dapat di
periksa
Daerah yang ada gerakan geser
Di dalam batuan yang sangat keras
Di dalam batuan yang sangat terkekarkan

TELL TALE
PERALATAN TELL TALE TERDIRI DARI :
Upper Anchor dengan kabelnya
Lower Anchor dengan kabelnya
Copper Splir Tube Collar
Top Scale (Skala Atas)
Bottom Scale (Skala Bawah)
KEUNTUNGANNYA :
Mudah diinstall /dipasang
Hanya memerlukan diameter lubang bor sama dengan
yang digunakan untuk pemasangan baut batuan
Harganya relatif murah
Pengambilan data monitoring dilakukan secara visual
KETERBATASANNYA :
Tingkat akurasi pengambilan data tergantung sudut
pandang pembacaan skala
kondisi mental dan fisik pekerja pengambil data juga
sangat menentukan
Karena pengamatan dilakukan secara visual, sehingga
apabila pengambilan data pengamatan dilakukan oleh
beberapa orang yang berbeda, maka akan mendapatkan
hasil pengamatan yang kurang akurat pula

III. PERATURAN KESELAMATAN TERKAIT PENYANGGAAN

III. 1 Tambang Bijih Bawah Tanah


III. 2 Tambang Batubara Bawah Tanah

III. PERATURAN KESELAMATAN TERKAIT


PENYANGGAAN
Kepmen PE No. 555.K Tahun

1995

Pengawas Operasional harus


melakukan (Psl 300 Ayat 4):
a.Pemeriksaan seluruh saluran ventilasi setiap
selang waktu tidak lebih dari 30 hari,
b.Pemeriksaan sepanjang jalan yang tidak umum
digunakan, tetapi dapat dilakukan sebagai jalan
darurat alternatif, setiap selang waktu tidak
lebih dari 3 bulan
c.Pemeriksaan terhadap potensi bahaya air dan
atau lumpur yang terakumulasi dan melakukan
tindakan pengamanan.

Kepmen PE No. 555.K Tahun


1995

Pengawas teknis harus melakukan (Psl 300

Ayat 5):
a.Melakukan pemeriksaan terhadap sarana dan
prasarana penggunaan derek pada tambang bawah
tanah dengan selang waktu tidak lebih dari 24 jam
untuk derek yang digunakan untuk mengangkut orang
dan selang waktu 7 hari untuk derek yang digunakan
mengangkut barang,
b.Pemeriksaan sarana transportasi orang dan
barang setiap level,
c.Pemeriksaan pompa-pompa pengeringan tambang
d.Pemeriksaan terhadap kondisi penyanggaan.

Kepmen PE No. 555.K Tahun


1995
Tugas Dan Kewajiban Pekerja Tambang
Bawah Tanah (Pasal 301-ayat 2), a.l:
a. Pekerja tambang harus memeriksa secara teliti pada:
1.Permuka kerja;
2.Jalan yang sedang di bongkar atau diperbaiki dan
3.Penyangga yang sedang dipasang atau di bongkar;
Terutama apabila di sekitar tempat tersebut baru dilakukan
kegiatan peledakan.

III. 1. TAMBANG BIJIH BAWAH TANAH

Kepmen PE No. 555.K Tahun


1995
Kontrol Batuan, Penyangga Dan Cara
Melakukannya (Pasal 346):
Kepala Teknik Tambang harus melakukan
pengendalian gerakan lapisan batuan atap di
dalam tambang bawah tanah dan bilamana
diperlukan harus menyangga atap dan
dinding suatu bukaan di setiap tempat kerja.

Kepmen PE No. 555.K Tahun


1995
Penyangga Alami (Pasal 347):
1. Penyangga alami harus disediakan untuk melindungi sumuran dan jalan
keluar.
2. Penyangga alami harus disediakan untuk pengamanan apabila di atas
tambang tersebut terdapat danau, sungai dan bendungan.
3. Penyangga alami harus disediakan apabila di atas tambang tersebut terdapat
fasilitas umum.
4. Kepala Teknik Tambang haurs mengirimkan peta perencanaan tambang, peta
geologi atau peta perencanaan kepada Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang
apabila terdapat kondisi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), (2), dan (3).
5. Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang dapat merubah ukuran penyangga alami
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), (2), dan (3) termasuk persyaratan
lainnya.
6. Dilarang menambah dan mengurangi ukuran penyangga alami kecuali telah
mendapat persetujuan dari Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang.

Kepmen PE No. 555.K Tahun


1995
Batas Tambang (Pasal 348):
1. Penyangga alami harus disediakan sepanjang perpotongan
lapisan bahan galian dengan batuan dasar kecuali batuan
dasar cukup padat dan kuat.
2. Lapisan bahan galian sebagai penyangga alami harus
disediakan antara tingkat dengan tingkat dan antara blok
dengan blok penambangan termasuk penyangga mahkota
alami (crown Pillar).
Permuka
Kerja (Pasal 349):
1. Dilarang menambang dengan cara potong bawah (Under
cut) apabila bahan galian dapat runtuh secara tiba-tiba.
2. Jarak antara permuka kerja dengan ruang yang diisi harus
sedekat mungkin, tetapi masih memungkinkan untuk orang
bekerja.

Kepmen PE No. 555.K Tahun


1995
Tugas para pekerja (Pasal 350):
1. Pekerja tambang bawah tanah harus diberi petunjuk untuk
mengenal tanda-tanda runtuhnya batuan.
2. Apabila diperkirakan batuan segera runtuh, tanda bahaya harus
dibunyikan dan semua pekerja harus meninggalkan daerah
tersebut.
3. Pekerja tambang harus memeriksa kondisi tempat kerjanya
setiap memulai pekerjaan.
4. Batuan lepas harus digugurkan atau disangga sebelum
pekerjaan di tempat itu dilakukan.
5. Pengawas Operasional harus mengamati pelaksanaan pedoman
kerja dan memeriksa kondisi tempat kerja. Kondisi jalan di
tambang termasuk jalan angkutan harus diuji secara periodik.

Kepmen PE No. 555.K Tahun


1995

Penyanggaan(Pasal 351):

1. Kepala Teknik Tambang harus membuat pedoman penyanggaan


untuk setiap jenis bukaan.
2. Bukaan yang memerlukan penyanggaan harus dilakukan sesuai
dengan jenis batuan dan metoda penambangan.
3. Dilarang melepas atau merubah penyangga yang sudah terpasang,
kecuali diperintah dan diawasi.
4. Dilarang melepas atau merubah lantai, atap, alas, kayu batangan
atau balok kayu, dan sejenisnya apabila hal tersebut akan
menimbulkan bukaan berbahaya kecuali dalam pengawasan ketat.
5. Material penyangga harus cukup kuat dan dalam jumlah yang cukup
serta siap pakai.
6. Apabila bahan penyangga tidak tersedia dan kondisi tempat kerja
berbahaya, maka kegiatan pada tempat kerja tersebut harus
dihentikan.

Kepmen PE No. 555.K Tahun


1995

Kayu Penyangga (Pasal 352):

1. Kayu untuk penyangga di daerah kerja yang aktif harus terpasang benar, apabila
diperlukan dipasang baja untuk mengencangkan sehingga fungsi penyangaan
maksimum tercapai.
2. Setiap penyangga batang dari kayu (prop set) untuk atap atau dinding permuka
kerja atau jalan tambang harus dipasang pada alas yang kokoh.
3. Kayu penyangga yang rusak, longgar atau terlepas yang menimbulkan kondisi
yang tidak aman harus segera diperbaiki atau diganti.
4. Pekerja tambang yang bekerja di bukaan produksi yang menggunakan
penyangga kubus harus memperhatikan bahwa lantai sejajar dengan balok atas
(cap) terutama setelah peledakan dan bila dianggap perlu kayu panyangga
kubus tersebut dipaku.
5. Penyangga kubus pada bukaan produksi harus dilengkapi dengan baik dan pasak
yang dipasang pada dinding dan atap serta pada bagian teratas penyangga
kubus harus dipasang penahan atap (top lagging), sedangkan ruang terbuka
antara penahan atap dengan atap batuan harus disangga dengan balok kayu
(pigsties) atau balok-balok dipasang diatas penyangga tegak dari penyangga
kubus.

Kepmen PE No. 555.K Tahun


1995

Pemasangan Baut Batuan (Rock Bolting)(Pasal


353):
1.Apabila baut batuan untuk penyanggaan, maka baut batuan
secepat mungkin dipasang setelah terbentuknya bukaan.
2.Tata cara pengujian penjangkaran harus dibuat untuk
mengetahui kemampuan penjangkaran dan hasil pengujian
tersebut dibuat, ditulis serta disimpan di kantor tambang.
3.Pada penggunaan baut batuan puntiran maka daya
puntirnya harus tidak melebihi ukuran dari hasil uji.
4.Dilarang memberikan daya puntir melebihi kekuatan
penjangkaran.

Kepmen PE No. 555.K Tahun


1995

Peraturan Perusahaan Mengenai Penyanggaan (Pasal


361):
1.Pada suatu tambang yang memerlukan penyangga, maka
Kepala Teknik Tambang harus membuat peraturan perusahaan
mengenai penyanggaan dalam bentuk gambar tampak depan,
tampak samping, tampak atas atau diagram sistem
penyanggaan termasuk tatacara pemasangan dan
pembongkaran yang mudah dimengerti oleh pekerja tambang
yang melakukan pekerjaan tersebut.
2.Kopi peraturan perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) harus ditempelkan pada jalan masuk ke bagian tempat
kerja yang menggunakan penyangga dan mudah terlihat.

III. 2. TAMBANG BATUBARA BAWAH TANAH

Kepmen PE No. 555.K Tahun


1995
Penyangga Sistematis
(Pasal 538), a.l:

1. Penyangga Sistematis harus dibuat untuk menyangga batuan atap dan dinding
dari:
a. Setiap permuka kerja;
b. Setiap lubang maju;
c. Setiap persimpangan dua atau lebih lorong apabila kendaraan atau ban berjalan
melalui salah satu dari lorong tersebut dan
d. Setiap lorong dimana ada orang yang sedang bekerja.
2. Pelaksana Inspeksi Tambang dapat memerintahkan secara tertulis kepada Kepala
Teknik Tambang untuk membuat ketentuan Penyangga Sistematis pada tempattempat atau ruas jalan tertentu didalam tambang selain dari ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan
3. Kepala Pelaksana Inspeksi tambang dapat memberlakukan ketentuan Penyangga
Sistematis pada tambang lain selain tambang batubara bawah tanah.
4. Dilarang mencegah seseorang untuk memasang penyangga tambahan pada
suatu sistem penyanggaan yang ada apabila hal tersebut diperlukan untuk
keselamatan.

Kepmen PE No. 555.K Tahun


1995

Peraturan Perusahaan Penyanggaan (Pasal 539):


1. Selain ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 361 maka
salinan peraturan perusahaan penyanggaan harus dimiliki oleh
setiap orang yang bertugas memasang dan membongkar
penyanggaan atau mengawasi pekerjaan tersebut.
2. Dalam hal pekerja tambang mendapat kesulitan bahasa atau
buta huruf maka pengawas yang bersangkutan harus
memberikan petunjuk dan perintah secara lisan.
3. Salinan semua peraturan perusahaan penyanggaan yang masih
berlaku harus disimpan dikantor tambang atau pada tempat lain
yang disetujui atau yang telah ditentukan oleh Pelaksana
Inspeksi Tambang.
4. Pelaksana Inspeksi Tambang dapat merubah suatu peraturan
perusahaan penyanggaan secara tertulis dalam buku tambang.

Kepmen PE No. 555.K Tahun


1995

Pedoman Penyanggaan Pada Kondisi Khusus (Pasal

540):
1.Peraturan perusahaan penyanggaan untuk jalan yang
merupakan bagian kegiatan penambangan sistem ruang dan
penyangga alami atau pembuatan lubang maju penambangan
sistem lorong panjang atau lorong pendek harus memuat rincian
tentang urutan pemasangan, memajukan dan jarak maksimum
antara:
a. Baris terakhir dengan permuka lubang maju tidak lebih dari 1,0 meter;
b. Tiap baris penyangga baut batuan atau penyangga lain tidak lebih dari ,,25
meter;
c. Penyangga batang palang baut batuan atau penyangga lain dengan
penyangga disamping lainnya tidak lebih dari 1,25 meter;
d. Penyangga busur atau penyangga balok tidak lebih dari 1,25 meter dan
e. Penyangga kubus tidak lebih dari 1,50 meter

Kepmen PE No. 555.K Tahun


1995

Pedoman Penyanggaan Pada Kondisi Khusus (Pasal

540):
2.Peraturan perusahaan penyanggaan pada sistem
penambangan lorong panjang atau lorong pendek harus
mencakup penyanggaan terhadap seluruh panjang dan
lebar atap permuka kerja dan harus menentukan metoda
dan cara melepas penyangga.
Jarak maksimum antar penyangga harus:
a. Jarak antar baris penyangga batang harus tidak boleh lebih dari 1
meter;
b. Jarak antar deret penyangga batang kesamping pada baris yang
sama haris tidak boleh lebih dari 1,25 meter dan
c. Jarak antar baris penyangga batang terdepan dengan permuka kerja
harus sedekat mungkin.

Kepmen PE No. 555.K Tahun


1995

Pedoman Penyanggaan Pada Kondisi Khusus

(Pasal 540):
8.Penyangga Sementara:
b. Pada tempat penggalian tetapi bukan pada permuka lorong
panjang atau pemotong atap pedoman penyanggan harus
mencakup ketentuan penyanggaan yang sesuai dari
penggalian tersebut.
Apabila sistem penyangga yang sesuai tersebut menggunakan
penyangga batang dan palang, maka ketentuan dalam
Pedoman Penyanggaan harus memuat pemasangan
penyangga batang sementara dengan jarak tidak lebih dari 1,0
meter dimuka penyangga terakhir yang terpasang dan jarak
antar penyangga batang tidak lebih 1,25 meter;

Kepmen PE No. 555.K Tahun


1995

Pedoman Penyanggaan Pada Kondisi Khusus (Pasal

540):
8.Penyangga Sementara:
c. Pada tempat penggalian batubara tetapi bukan pada permuka lorong
panjang, atau pemotongan atap pedoman penyanggan harus
mencakup ketentuan penyanggaan yang sesuai dari penggalian
tersebut. Apabila sistem penyangga yang sesuai sebagaimana
disebut diatas menggunakan penyangga batang dan palang.
Ketentuan tersebut harus memuat pemasangan penyangga batang
sementara dengan jarak tidak lebih dari 1,0 meter dimuka
penyangga terakhir yang terpasang dan jarak antar penyangga
batang tidak lebih dari 1,25 meter.

Kepmen PE No. 555.K Tahun


1995

Pedoman Penyanggaan Pada Kondisi Khusus (Pasal

540):
9. Penyangga busur atau penyangga balok pada lubang maju
(roadhead).
Apabila sistem penyanggan atap dan dinding pada permuka lubang
maju dilakukan dengan menggunakan penyangga busur atau
penyangga balok, maka pedoman penyanggaan harus memuat
rincian jarak maksimum antar penyangga tidak lebih dari 1,25 meter.
10. Baut Batuan Atap:
a. Dilarang menggunakan baut batuan sebagai satu-satunya penyangga pada
permuka kerja lorong panjang kecuali untuk tujuan pembongkaran
penyangga bertenaga dan
b. Apabila baut atap digunakan sebagai penyangga, pedoman penyanggaan
harus memuat pola, selang jarak dan nilai daya puntir yang dipakai.
Pengunaan baut atap harus sesuai dengan ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 353.

Kepmen PE No. 555.K Tahun


1995

Pedoman Penyanggaan Pada Kondisi Khusus

(Pasal 540):
11. Kontrol Lapisan Batuan Atap dengan Bronjong:
Apabila bronjong digunakan untuk mengendalikan sebagian
besar pergerakan lapisan batuan atap, maka pedoman
penyanggaan harus memuat:
a. Jarak maksimum antara permuka kerja dengan dinding
bagian depan bronjong yang berdiri berlawanan dengan
permuka kerja;
b. Lebar minimum bronjong dan
c. Jarak maksimum antar bronjong

Kepmen PE No. 555.K Tahun


1995

Tugas Dalam Peraturan Perusahaan Penyanggaan

(Pasal 541), a.l:


1. Pengawas operasional atau orang berkemampuan yang ditunjuk
untuk bertanggung jawab terhadap suatu bagian kerja yang pada
tempat tersebut penyangga dipasang, dimajukan atau dibongkar,
atau bertanggung jawab terhadap orang yang tugasnya memasang,
memajukan atau membongkar penyangga, harus memastikan
bahwa peraturan perusahaan penyanggaan dilaksanakan.
Orang tersebut juga harus memastikan bahwa apabila terlihat suatu
kondisi yang memerlukan penyangga tambahan maka penyangga
tambahan tersebut harus dipasang segera walaupun hal tersebut
tidak tercantum dalam peraturan perusahaan penyanggaan.
2.
dst

IV. TATA CARA INSPEKSI

I. 1 Tahapan Inspeksi
I. 2

Contoh Pelaksanaan Inspeksi

IV. 1. TAHAPAN INSPEKSI


1. Persiapan Inspeksi
- Pemeriksaan Dokumen (Review Document)
a.
b.
c.
d.

Pemeriksaan ijin operasi


Memeriksa hal-hal yang terkait dengan ijin pengoperasian tambang bawah tanah dan SK IUP
Tahap Operasi Produksi.
Pemeriksaan rencana pertambangan
Memeriksa rencana pertambangan termasuk pemilihan penyanggaan
Pemeriksaan peraturan keselamatan
Peraturan Keselamatan Kerja termasuk SOP, JSA, struktur organisasi, (KTT, Kepala Tambang
Bawah Tanah, pengawas operasional, pengawas teknis, petugas ventilasi, juru ledak, dsbnya).
Persetujuan fasilitas
Apabila pemegang IUP ingin menginstalasi atau mengubah bangunan, struktur atau fasilitas
lain yang ditetapkan dalam Peraturan Keselamatan Tambang, ia harus mengirimkan
permohonan persetujuan dengan rencana dan spesifikasi desain konstruksinya. Kepala
Inspektur Tambang melalui Inspektur Tambang akan memeriksa bahan yang diserahkan dan
menentukan apakah akan menyetujui fasilitas tersebut sesuai dengan kriteria persetujuan
fasilitas. (Kepmen PE No. 555.K/26/M.PE/1995, pasal terkait)
Contoh Fasilitas terkait: mine hoist dan cage

Perlengkapan yang perlu dibawa (APD, Peralatan Inspeksi, Surat


Tugas, Dokumen-dokumen, dsb nya)

IV. 1. TAHAPAN INSPEKSI


2. Opening Meeting
-

Penjelasan mengenai kondisi tambang dan aturan keselamatan


Klarifikasi hasil review dokumen dengan KTT dan petugas terkait

3. Pelaksanaan Inspeksi

Inspeksi umum atau kinerja terhadap semua permuka kerja

Inspeksi fasilitas atau kelengkapan


Inspeksi khusus (daerah yang paling berpotensi bahaya,/ runtuh)

4. Close Meeting
-

Penyusunan draft presentasi/ berita acara hasil temuan serta Buku


Tambang
Presentasi dan penuilisan perintah-perintah dalam Buku Tambang

5. Penyusunan Laporan
-

Laporan kepada Kepala Inspektur Tambang


Surat Tindak Lanjut hasil inspeksi dari Kepala Inspektur Tambang kepada KTT/
Direksi Perusahaan

IV. 2. CONTOH PELAKSANAAN INSPEKSI

Animasi Inspeksi penyanggaan dengan Virtual

Studi Banding Tata Cara Inspeksi TBT Batubara di


Jepang

JICA - Jepang

V. STUDI KASUS PENYANGGAAN

V. STUDI KASUS PENYANGGAAN


Convergence Monitoring at The Extraction

PT Freeport

Damage Class - DOZ Mine

PT Freeport

BACK TO CANOPY LOADER - 1700


July 31,08

August 7,08

August 13,08

August 18,08

Loader 1700 cannot dumping from south


to Grizzly-10 (Sept 16.08)

Sept 03,08
Sept 16,08

0.205m

PT Freeport

CONDITION SOUTH GRIZZLY-10


tSe

tSe

tSe

Set 6-8 have possible to


break. Concrete at the
back was broken

Set-7
App-2. 59 m