Anda di halaman 1dari 61

Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Fakultas TeknikTeknik
Fakultas Jurusan Teknik
Jurusan SipilSipil
Teknik Universitas
UniversitasLampung
Lampung
Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.
Pertemuan ke-1

IRIGASI
Irigasi sudah dikenal di :
Mesir 4000 SM
China 2000 SM
Indonesia pada Jaman Majapahit
Air irigasi harus meninjau juga kualitas air,
dikarenakan air dapat mengandung:
Lumpur halus
Limbah industri
Zat mineral yang bermanfaat atau
berbahaya bagi tanaman

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

PEMBANGUNAN JARINGAN
IRIGASI
Tujuan pemerintah dalam
pembangunan
jaringan irigasi :
Pembukaan daerah pesawahan baru
Peningkatan produksi pangan
Pemanfaatan air untuk sungai untuk
keperluan lainnya seperti : Air
minum,PLTA, Industri

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Untuk pembangunan sarana pengairan terutama


sarana irigasi harus dilakukan
penelitian/penyelidikan yang antara lain :
Ketersediaan air sepanjang tahun
Sifat-sifat tanah didaerah aliran sungai yang
airnya akan dimanfaatkan untuk irigasi yang
akan diairi
Topografi daerah pengaliran
Luasan areal yang akan diairi
Janis tanaman pangan
Potensi produksi setiap tanaman pangan
Curah hujan dihulu sungai maupun didataran
rendah

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

ISTILAH DAN DEFINISI


Irigasi :
adalah usaha penyediaan, pengaturan , dan
pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian,
yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi air
bawah tanah, irigasi pompa dan irigasi tambak
Jaringan Irigasi :
adalah saluran, bangunan dan bangunan
pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan dan
diperlukan untuk penyediaan, pembagian,pemberian,
penggunaan dan pembuangan air irigasi
Daerah Irigasi:
adalah kesatuan lahan yang mendapat air dari satu
jaringan irigasi

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Jaringan Irigasi Primer


Adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri dari
bangunan utama saluran induk/primer, saluran
pembuangnya, bangunan bagi, bangunan bagi sadap,
bangunan sadap dan bangunan pelengkapnya
Jaringan Irigasi Sekunder
Adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri dari
saluran sekunder, saluran pembuangnya, bangunan
bagi, bangunan bagi sadap, bangunan sadap dan
bangunan pelengkapnya
Jaringan Irigasi Tersier
adalah jaringan irigasi yang berfungsi sebagai prasarana
pelayanan air irigasi dalam petak tersier yang terdiri dari
saluran tersier, saluran kuarter dan saluran pembuang,
boks tersier,boks kuarter serta bangunan pelengkapnya
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung
Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Petak tersier
adalah kumpulan petak irigasi yang
merupakan kesatuan dan mendapat air
irigasi melalui saluran tersier yang sama
Petak sekunder
Adalah kumpulan petak tersier yang
merupakan satu kesatuan dan mendapat
air irigasi melalui saluran sekunder yang
sama
Petak Primer
Adalah kumpulan petak sekunder yang
merupakan satu kesatuan dan mendapat
air irigasi melalui saluran primer yang sama

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Daerah Irigasi Total/Bruto/Baku


Adalah daerah yang tergambarkan dalam
peta situasi dikurangi dengan
perkampungan, daerah yang tidak dapat
diairi, jalan utama, rawa-rawa dan daerah
yang tidak akan/bisa dikembangkan lagi

Daerah irigasi netto/bersih


Adalah daerah total yang bisa diairi
dikurangi dengan saluran-saluran irigasi dan
pembuang (primer,sekunder,tersier dan
kuarter),jalan inspeksi,jalan sawah dan
tanggul sawah

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.
Daerah potensial
Adalah daerah yang mempunyai kemungkinan
baik untuk dikembangkan, luas daerah ini sama
dengan daerah irigasi netto, tetapi biasanya
belum dikembangkan sepenuhnya akibat
terdapatnya hambatan non teknis

Daerah fungsional
Adalah bagian dari daerah potensial yang
telah memiliki jaringan irigasi yang telah
dikembangkan.daerah fungsional luasnya
sama dengan atau lebih kecil dari daerah
potensial.

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Pengembangan Jaringan irigasi


Adalah pembangunan jaringan irigasi baru
dan/atau peningkatan jaringan irigasi yang
sudah ada
Pembangunan jaringan irigasi
Adalah seluruh kegiatan penyediaan jaringan
rigasi di wilayah tertentu yang belum ada
jaringan irigasinya
Peningkatan jaringan irigasi
Adalah kegiatan meningkatkan fungsi dan
kondisi jaringan irigasi yang sudah ada atau
kegiatan menambah luas areal pelayanan
pada jaringan irigasi yang sudah ada dengan
mempertimbangkan perubahan kondisi
lingkungan daerah irigasi

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.
Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A)
adalah kelembagaan pengelolaan irigasi
yang menjadi wadah petani pemakai air
dalam suatu daerah pelayanan irigasi yang
dibentuk oleh petani pemakai air sendiri
secara demokratis,termasuk lembaga lokal
pengelola irigasi.
Komisi irigasi
adalah lembaga koordinasi dan komunikasi
antara wakil pemerintah, wakil perkumpulan
petani pemakai air, wakil pengguna jaringan
irigasi

Komisi Irigasi Kabupaten/Kota,Komisi Irigasi


Provinsi dan Komisi irigasi antar Provinsi

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.
Pertemuan ke-2

PEMBAGIAN KEWENANGAN
Pada UU No. 7 tahun 2004 tentang
Sumber Daya Air pada pasal 41
(penjelasan) bahwa kewenangan
Pengelolaan Jaringan irigasi adalah
berdasarkan pada luasan areal sbb:
Pusat : areal > 3000 Ha
Provinsi :1000 Ha < areal < 3000
Ha
Kabupaten/Kota : areal < 1000 Ha
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung
Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.
KLASIFIKASI JARINGAN IRIGASI

Teknis Semi teknis Sederhana


1. Bangunan Bangunan Bangunan permanen Bangunan
utama permanen atau semi permanen sementara
2. Kemampuan Baik Sedang Jelek
bangunan
dalam
mengukur &
mengatur debit
3. Jaringan Saluran irigasi Saluran irigasi dan Saluran irigasi dan
saluran dan pembuang pembuang tidak pembuang jadi satu
terpisah sepenuhnya terpisah
4. Petak tersier Dikembangkan Belum dikembangkan Belum ada jaringan
sepenuhnya atau densitas bangunan terpisah yang
tersier jarang dikembangkan

5. Efisiensi secara 50 60 % 40 50 % < 40 %


keseluruhan
6. Ukuran Tak ada batasan Sampai 2.000 ha Tak lebih dari 500 ha

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T. Pertemuan ke-3

TAHAP-TAHAPAN PERENCANAAN IRIGASI


Yaitu Pembuatan :
1. Peta lay out jaringan irigasi/tata letak (saluran
pembawa dan saluran pembuang, daerah yang
tidak bisa diairi, kampung, jalan raya, jalan ka,
batas petak)
2. Peta petak, luasan : 50 100 ha
3. Perhitungan neraca air
4. Perencanaan saluran irigasi (pembawa dan
pembuang)
5. Profil/potongan memanjang saluran (menentukan
elevasi muka air)
6. Profil/potongan melintang saluran (mengetahui
galian dan timbunan)
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung
Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

7. Desain Bangunan Pemberian Air :


Bangunan Oncoran
Bangunan Sadap
Bangunan Bagi
Bangunan Bagi Sadap
8. Desain Bangunan Ukur :
Pintu Romijn, Crum De Gruyter
Cipoletti,ambang Lebar
Parshall Flumes
Long Throated Flume (Leher Panjang)

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

9. Desain Bangunan Pelengkap:


Gorong Gorong
Bangunan Terjun
Bangunan Got Miring
Talang
Shypon
Pelimpah
Bangunan Penguras
Saluran Tertutup
Jembatan Penyebrangan, Dll

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T. Pertemuan ke-4

HAL HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN


DALAM PERENCANAAN IRIGASI

1.Gambar tata letak dicek kembali dengan peta


yang baru
2.Lokasi bangunan utama harus memperhatikan
tinggi pengambilan dan peta situasi
3. tipe-tipe saluran irigasi, saluran tanah atau saluran
pasangan dengan memperhatikan kondisi tanah
yang ada dilapangan
4. Kecocokan daerah yang bersangkutan untuk irigasi
pertanian
5. batas-batas administrative

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

6. Konsultasi dan sosialisasi dengan pemerintah setempat dan


petani (P3A) disepanjang rencana trase saluran dan batas-
batas daerah irigasi.
7. Jaringan irigasi yang ada
8. Perkampungan penduduk dan lahan yang tidak bisa diairi.
9. Kondisi pembuang yang ada atau yang akan dibuat, apakah
perlu saluran pembuang silang
10.Perhitungan neraca air dengan data-data daerah irigasi dan
perhitungan kebutuhan air yang lebih tepat
11.Pemilihan jenis bangunan dan bahan bahan bangunan
(pasangan, beton dll)
12. Penyelidikan geologi teknik untuk bangunan utama dan
apabila diperlukan untuk bangunan dan saluran.
13. Penyelidikan model hidrolis ( Bendung )
14. Adanya pengukuran lokasi pada bangunan bangunan
khusus (talang, shypon dll)

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

LANGKAH LANGKAH PERENCANAAN TATA LETAK


TAHAP 1
1. Tentukan lokasi saluran pembuang, jalan,
kampung dan daerah yang tidak dapat diairi
berdasarkan peta topografi skala 1 : 25.000
2. Tentukan lokasi cekungan, punggung medan
dan tempat tinggi pada peta skala 1 : 25.000
3.Cek apakah jaringan pembuang intern dan
ekstern yang ada dapat dipisahkan
4. Buatlah tata letak pendahuluan jaringan
pembuang primer
5.Plotkan saluran sekunder disepanjang
punggung medan dan daerah-daerah tinggi

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

6. Pindahkan trase saluran, batas petak dan lokasi


sadap pada peta skala 1 : 5000 atau 1 : 2000
7.Plotkan batas-batas petak tersier dengan kriteria
sbb:
batas-batas ditentukan dengan topografi
saluran tersier mengikuti kemiringan medan
dengan kemiringan minimum 0,25%
(kecepatan minimum 0,20 m/det)
ukuran petak tersier sebaiknya antara 50 100
ha
sesuaikan batas-batas petak tersier dengan
batas-batas administratif
8.Plotkan lokasi bangunan sadap, bangunan bagi
9.Tentukan lokasi bangunan pembawa
10.Tentukan trase saluran primer dengan kemiringan
minimum 0,30%

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T. Pertemuan ke-5

Tahap 2
1. Penelusuran trase saluran seperti yang ditunjukan
pada peta berskala 1 : 5000
2. Penyelidikan dan pengukuran trase saluran
3. Cek lokasi bangunan sadap dan muka air yang
diperlukan
4. Cek lokasi bangunan pembawa
5. Buat perencanaan bangunan utama
6. Buat profil memanjang saluran dan melintang
saluran
7. Buat trase saluran yang telah disesuaikan dengan
lokasi bangunan pengatur dan pembawa serta
batas-batas petak tersier pada peta skala 1 : 5000
8. Buat program penyelidikan detail untuk lokasi
bendung, bangunan pembawa utama dan saluran
(bila perlu)

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T. Pertemuan ke-6

NERACA AIR
KETERSEDIAAN AIR
KEBUTUHAN AIR POLA TANAM DAN
AREAL YANG DAPAT
DIAIRI

POLA TANAM : Padi Padi Palawija


Padi Padi/Palawija Palawija
Padi Palawija - Bera

Areal dapat diairi A = Qa/NFR

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

KETERSEDIAAN AIR
Perhitungan Debit Andalan dengan
menggunakan data debit atau curah
hujan bulanan minimal 10 tahun.
Rumus rumus yang dipakai :
Metode F.J. Mock,
Metode Ranking
Metode SMEC

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T. Pertemuan ke-7
KEBUTUHAN AIR
Faktor faktor yang menentukan adalah:
1. Areal tanam
2. Pola dan jadwal tanam
3. Tata cara bercocok tanam/sisitim golongan
4. Penyiapan lahan (LP = Land Preparation)
5. Penggunaan konsumtif (Etc = Consumtive Use)
6. Perkolasi dan rembesan (P = Percolation)
7. Penggantian Lapisan Air (WLR = Water Layer
Replacement)
8. Curah Hujan Efektif ( Re = Rainall Efektive)
9. Kebutuhan air untuk tanaman di sawah (NFR =
Nett Field Requirement = q)
10. Efisiensi saluran, e (kehilangan air selama
penyaluran/distribusi)
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung
Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.
Ad.1 . Areal Tanam
adalah lahan yang dapat dilayani/diairi oleh suatu
jaringan/saluran irgasi.
Contoh Peta Areal Tanam

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.
Ad. 2 Pola Dan Jadwal Tanam
Ialah susunan rencana penanaman berbagai jenis
tanaman selama satu tahun yang umumnya di di
Indonesia diklasifikasikan dala 3 (tiga) jenis
tanaman Padi, tebu dan palawija

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

POLA TANAM
Pola tanam adalah gambaran rencana tanam
padi, palawija/ tebu selama kurun waktu 1 ( satu )
tahun.
Berdasarkan pengalaman pola tanam yang sering
dipakaI adalah :
1.Padi padi palawija.
2.Padi padi/palawija padi.
3.Padi palawija/tebu bera.
Pola tersebut biasanya tergantung kepada
ketersediaan air di jaringna irigasi, dan pada
daerah yang biasa menanam tebu pola tersebut
dia atas bisa diprogramkan tanaman tebu.

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Ad.3. Rencana Tata tanam/Sistim golongan


Rencana Tata Tanam suatu daerah irigasi adalah
suatu daftar perhitungan atau grafik yang
menggambarkan hal-hal sebagai berikut :
Berapa rencana luas tanam (
padi,palawija, tebu)
Kapan mulai tanam
Kapan diadakan pengeringan saluran
( Kalau dipakai rencana golongan, maka perlu
ditentukan kapan pertama kali dilaksanakan
pemberian air untuk untuk pengolahan tanah dari
masing-masing golongan).

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Ad.4.Penyiapan Lahan (LP = Land Preparation)


Perhitungan kebutuhan air untuk pengolahan tanah (LP)
sebelum penanaman padi dapat dihitung dengan
pendekatan berdasarkan hasil interpolasi tabel Van de
Goor/ Zijlstra yang dipengaruhi oleh :
Lamanya waktu pengolahan penyiapan lahan
(T : 30 45 hari)
Jumlah air yang diperlukan untuk penjenuhan
( S : 250 300 mm)
Jumlah air akibat kehilangan karena penguapan dan
rembesan, dengan menggunakan rumus :
M = Eo + P, dimana Eo adalah evaporasi air terbuka,
Eo = 1,1 x ETo

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Ad.5.Penggunaan Konsumtif ( Etc)


Perkiraan kebutuhan air untuk pertumbuhan
tanaman diukur dari penguapan tanaman.
Pada penerapan praktis dapat dihitung dengan
pendekatan perkalian evapotranspirasi potensial
(Eto) dengan koefisien tanaman (kc) dengan rumus :
ETc = ETo x kc
Dimana :
ETc = penggunaan konsumtif
ETo = evaporasi potensial
kc = koefisien tanaman

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Evaporasi Potensial dipengaruhi oleh :


Temperatur rerata ( C) bulanan/setengah bulanan
Kelembaban relatif rerata (Relative humadity, %)
Kecepatan angin (wind velocity, m/det) acuan
setinggi 2 m di atas tanah
Lamanya penyinaran matahari (Duration o
Radiation, %)
Kedudukan meridian (Latitude, .. , ..', .." )
Koefisien Albedo untuk tanaman acuan
(rerumputan pendek = 0,25)

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Ad.6. KOEFISIEN TANAMAN (kc)


Koeisien Tanaman (kc) adalah besaran yang
menunjukkan kebutuhan tanaman akan air untuk
pertumbuhan optimal yang besarnya tergantung
kepada tahapan perkembangan tanaman
tersebut
Periode PADI
Tengah NEDECO/PROSIDA FAO KEDELAI
Bulanan Varitas Biasa Varitas Unggul Varitas Biasa Variras Unggul
1 1,20 1,20 1,10 1,10 0,50
2 1,20 1,27 1,10 1,10 0,75
3 1,32 1,33 1,10 1,05 1.00
4 1,40 1,30 1,10 1,05 1.00
5 1,35 1,30 1,10 0,95 0,82
6 1,24 0.00 1,05 0.00 0,45
7 1,12 0,95
8 0.00 0.00

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Ad.7 Perkolasi dan rembesan (P = Percolation)


Perkolasi atau gerakan aliran air dalam tanah
secara vertikal ke bawah dan kesamping
sebenarnya juga didapatkan dari hasil penelitian di
lapangan, sangat tergantung pada sifat-sifat tanah
dan karakteristik pengolahannya.
Pada tanah lempung dengan pengolahan yang
baik mempunyai laju perkolasi antar 1-3 mm/hari
dan pada tanah pasiran antara 3-6 mm/hari.

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Ad.8. Penggantian Lapisan Air


(WLR = Water Layer Replacement)
Air untuk penjenuhan tanah adalah meliputi air yang
dibutuhkan untuk penyiapan lahan sebesar 250 mm(Padi 1)
dan 200 mm(Padi 2) ditambah pergantian lapisan air di
sawah sebesar 50 mm sehingga total menjadi 300 mm untuk
padi musim hujan dan 250 mm untuk padi musim kemarau.
Penggantian lapisan air di sawah ( Water Layer Replacement)
setinggai 50 mm selama jangka waktu penyiapan lahan (LP)
yaitu,
Jika LP selama 45 hari maka WLR=50 mm/45 hari =1.1 mm/hari
Jika LP selama 30 hari makaWLR=50 mm/30 hari =1.7 mm/hari
Nilai WLR tersebut disusun dalam 2 atau 3 tahapan lama waktu
pengolahan tanah dengan selang tiap 15 harian.

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T. Pertemuan 8

Ad.9 Curah Hujan Efektif ( Re = Rainall Efektive)


Hujan efektif adalah hujan yang betul-betul yang
dapat dimanfaatkan oleh tanaman selama masa
pertumbuhannya baik langsung maupun tidak
langsung.
Secara pendekatan perhitungan dilakukan
terhadap data curah hujan rerata
(bulanan/setengah bulan, mm) dari hasil
pencatatan statiun hujan di lokasi daerah Irigasi,
yang diolah secara ranking utnuk menentukan
urutan andalannya (R-80% untuk tanaman padi
dan R-50% untuk tanaman palawija.
Kemudian besarnya hujan efektif direkomendasikan
sebagai 70% dari hujan andalan.
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung
Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Cara menghitung Curah Hujan Effektif (Re)


1. Dari data curah hujan bulanan selama n tahun
diranking dari mulai terkecil keterbesar
2. Hitung R 80 untuk padi dengan rumus n /5 + 1 dan
3. R 50 dengan rumus n/2 untuk palawija
4. Sehingga didapat : R-eff = 0.7 x R80untuk padi,
mm/bulan
5. R-eff = 0.7 x R50 untuk palawija, mm/ bulan

Untuk menghitung R 80 1/2 bulanan dengan


menggunakan angka pembanding rumus:
R80 I = AP I/(AP-I +AP- II) * R 80
R80 II = AP II/(AP-I +AP- II) * R 80

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Untuk menghitung R 80 1/2 bulanan dengan


menggunakan angka pembanding rumus:

AP -I = R80JAN (R80JAN R80DES)/4


AP- II = R80JAN - (R80JAN - R80FEB)/4
R80 I = API/(AP-I +AP-II) * R80
R80II = AP -II/(AP-I +AP- II) * R80
Ref JAN-I = 0.70 * R80-I/15
Ref JAN-II = 0.70 * R80-II/15 untuk padi

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T. Pertemuan 9

Ad.9.Menghitung kebutuhan air di sawah dapat


dihitung dengan rumus sebagai berikut :

NFR = Etc + P Re + WLR


Dimana :
Etc = penggunaan air konsumtif, mm
P = kehilangan air akibat Perkolasi, mm/hari
Re = curah hujan effektif, mm.hari
WLR = penggantian lapisan air, mm/hari ntuk periode

Untuk Periode LP, maka rumus yang dipakai


NFR = LP Re

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.
Ad.10. Efisiensi saluran, e
(kehilangan air selama penyaluran/distribusi)
Adalah perbandingan antara air yang dipakai dan air
yang disadap dalam %. Besarnya tergantung dari
kehilangan air selama pengaliran dari pengambilan
utama bendung sampai saluran dan petak sawah
tersier. Jika tidak ada penelitian maka untuk daerah
irigasi direkomendasikan memakai efesiensi dengan
tingkat :
1.efisiensi di saluran tersier 75 80 %
2.efisiensi di saluran sekunder 85 90 %
3.efisiensi di saluran primer 90 95 %
Sehingga efisiensi total jaringan adalah 60 65 %.
Untuk daerah irigasi dengan areal yang relatif kecil atau
pemberian airnya dari waduk atau banyak buangan air
yang dimanfaatkan kembali, efisiensi total bisa
mencapai sampai 75%.
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung
Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T. Pertemuan 10

PERENCANAAN SALURAN IRIGASI


(PEMBAWA DAN PEMBUANG)
Tahapan yang harus diikuti dalam :
A. Saluran pembawa :
1. Plot trase saluran pada peta situasi yang dibuat
misalnya 1 : 5000 atau 1 : 2000
2. Tentukan batas-batas petak pada peta tersebut
3. Plot rencana lokasi bangunan pada peta sesuai
dengan trase yang direncanakan
4. Tentukan elevasi muka air yang dibutuhkan pada
bangunan pengambilan (Bendung)
5. Perhitungan debit rencana

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

6. Plot lokasi bangunan pembawa dan bangunan


pemberi serta tentukan kehilangan tinggi energi
untuk setiap bangunan
7. Penentuan kemiringan rencana pada ruas-ruas
saluran
8. Perhitungan dimensi saluran
9. Perhitungan muka air saluran
10. Pembuatan profil memanjang saluran
11. Pembuatan profil melintang saluran

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

B. Saluran Pembuang
1. Plot rencana trase saluran pada peta skala yang
dibuat misal 1:5000 atau 1:2000
2. Tentukan pada peta tersebut luas daerah yang
akan dibuang airnya
3. Tentukan muka air maksimum
4. Tetapkan kehilangan tinggi energi untuk di
bangunan
5. Perhitungan debit pembuangan rencana
6. Tentukan kemiringan rencana
7. Hitung dimensi saluran
8. Buat profil memanjang dan melintang

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Penentuan Muka Air Rencana


(MAR)
Muka air rencana adalah muka air pada Q70%
ditambah dengan variannya (0.18 x h100%). Tahapan
penentuan muka air rencana ;
1. Tentukan muka air tertinggi (P) pada bangunan
bagi yang paling hilir = muka air hilir (Q70%) pada
ruas saluran tersebut
2. Hitung dimensi saluran untuk memperoleh
kedalaman air (h) pada debit rencana = h100%
3. Hitung varian (V) = (0.18 x h100%) sehingga,
MAR : P + V

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.
4. Hitung muka air di ujung hilir ruas saluran MAud
MAud= MAR + Ia x L +Ha
Dimana Ha = kehilangan tinggi energi di
bangunan
5. Tentukan muka air tertinggi yang diperlukan
pada bangunan bagi berikutnya dengan
menghitung varian (V)=(0.18 x h100%)
6. Bandingkan muka air yang diperlukan di
bangunan bangunan udik pada Q100% degan
muka air hulu di hilir bangunan berikutnya
ditambah dengan kehilangan energi di
bangunan bagi (0.05m),ambil elevasi yang
tertinggi
7. Untuk ruas-ruas lainnya ikuti langkah-langkah no.
4,5,6
8. Plotkan muka air yang diperoleh pada
potongan memanjang
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung
Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Penentuan Muka Air yang Dibutuhkan


pada Bangunan Sadap
Tinggi muka air yang diinginkan dalam jaringan
utama didasarkan pada tinggi muka air yang
diperlukan di sawah-sawah yang akan diairi dengan
langkah-langkah sebagai berikut :
1. Menghitung tinggi bangunan air di bangunan
sadap tersier
2. Hitung seluruh kehilangan di saluran kuarter dan
tersier serta bangunan
3. Hitung tinggi muka air di petak tersier dengan
menjumlahkan no 1 + no 2 + Ha dibangunan
sadap tersier ,dengan ilustrasi sebagai berikut ;

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

P = A+a+b+c+d+e+f+g+h+Z
Keterangan:
P = muka air di saluran sekunder
A = elevasi tertinggi di sawah
a = lapisan air di sawah=10 cm
b = kehilangan tinggi energi di saluran kuarter ke sawah = 5cm
c = kehilangan tinggi energi di boks bagi kuarter = 5cm/boks
d = kehilangan tinggi energi slm pengaliran di saluran irigasi= IxL
e = kehilangan tinggi energi di boks bagi tersier = 10 cm
f = kehilangan tinggi energi di gorong-gorong =5 cm
g = kehilangan tinggi energi di bangunan sadap tersier
h = variasi tinggi muka air = 0.18 h100%
Z = kehilangan tinggi energi di bangunan tersier lainnya

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T. Pertemuan 11

DIMENSI SALURAN
Setelah diketahui kebutuhan air disawah , kita akan
menghitung besarnya debit disaluran tersier, sekunder
dan saluran primer, kemudian menghitung dimensi
saluran dengan cara coba-coba dengan memakai
rumus keseimbangan seperti dibawah ini :
Q = VxA
V = k R 2/3 I
A = ( b + mh) h
P = b + 2 h V 1 + m2
R = A/P

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Dimana :
Q = debit rencana , m3/det
V = kecepatan saluran (m/det), dengan
memakai rumus Strikler
k = kekasaran saluran dari Strikler, m 1/2/det
R = jari jari hidrolis, m
I = kemiringan saluran
A = luas penampang saluran, m2
P = luas penampang basah saluran, m2
b = lebar dasar saluran, m
h = tinggi air disaluran ,m
m = kemiringan talud

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

PENAMPANG/PROFIL MEMANJANG
SALURAN
Penampang memanjang saluran dibuat pada
tampang memanjang yang telah dibuat dari hasil
pengukuran lapangan dan setelah mendapatkan
data :
Elevasi muka air rencana
Dimensi saluran
Elevasi Bangunan Sadap, Bangunan Bagi, dan
Bangunan Pelengkap

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

PENAMPANG/PROFIL MELINTANG
SALURAN

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T.

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung


Dr. H. Ahmad Herison, S.T., M.T. Pertemuan 12

BANGUNAN UTAMA/ BENDUNG


PERENCANAAN BENDUNG :
Jenis Konstruksi Bendung (Tetap, Gerak, Kombinasi)
Bagian-bagian Bangunan Bendung dan
Kelengkapannya
Data yang dibutuhkan (Topografi, Morfologi, Hidrologi,
dan Penyelidikan Tanah)
Analisa dan Perhitungan (Analisa Hidrologi : Curah
Hujan, Iklim, Debit Banjir, Ketersediaan dan
Kebutuhan Air (Neraca); Perhitungan Dimensi
Bangunan Utama; Pemeriksaan Stabilitas Bangunan

LANJUTKAN KE PERENCANAAN BENDUNG

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung