Anda di halaman 1dari 36

Referat Strabismus

Bag.Ophtalmology
Definisi

 Suatu keadaan yang ditandai penyimpangan


abnormal dari letak satu mata terhadap mata yang
lainnya, atau pada orang awam menyebutnya mata
juling.
Epidemiologi

 Strabismus terjadi kira kira 2% pada anak usia dibawah


3 tahun dan sekitar 3% pada remaja muda.

 Di Jerussalem dilaporkan 20 sampai 86% pasien


strabismus terjadi pada populasi anak setelah
mendapat operasi katarak.
Etiologi

 Strabismus ditimbulkan oleh cacat motorik, sensorik


atau sentral. Cacat sensorik disebabkan oleh
penglihatan yang buruk, tempat ptosis, palpebra,
Parut Kornea Katarak Kongenital Cacat Sentral akibat
kerusakan otak.

 Gangguan fungsi mata seperti pada kasus kesalahan


refraksi berat atau pandangan yang lemah karena
penyakit bisa berakhir pada strabismus.
anatomi
Fisiologi

 Faal penglihatan yang normal adalah apapbila


bayangan benda yang dilihat kedua mata dapat
diterima dengan ketajaman yang sama dan kemudian
secara serentak dikirim ke susunan saraf pusat untuk
diolah menjadi sensasi penglihatan tunggal.
Fusi

 Fusi adalah pertumbuhan bayangan menjadi satu atau


persatuan, peleburan, dan penggabungan di otak
yang berasal dari 2 bayangan mata sehingga secara
mental berdasarkan kemampuan otak didapatkan
suatu penglihatan tungal, yang berasal dari sensasi/
penghayatan masing-masing mata.
Cont…

 Dimana difusi adalah ;


1. Kemampuan otak untuk membuat satu bayangan
gambar yang berasal dari kedua mata.
2. Fusi akan hilang bila penglihatan satu mata tidak
ada.
Reflex fusi

 Usaha mata mempertahankan letak mata searah atau


sejajar. dimana otak mengabaikan bayangan benda
mata yang lainnya untuk mencegah terjadinya
diplopia. Supresi terjadi akibat ;
1. Juling kongenital
2. Satu mata sering berdeviasi
3. Mata deviasi berganti dimana tidak akan terjadi
diplopia karena akan terjadi supresi pada salah satu
mata.
Hukum hukum dalam strabismus

1. Hukum desmaress
2. Hukum donder
3. Hukum gullstrand
4. Hukum hering
5. Hukum listing
6. Hukum sherington
Pemeriksaan strabismus

1. Anamnesis riwayat
2. Ketajaman penglihatan
3. Penentuan kesalahan refraksi
4. inspeksi\
5. Penentuan sudut deviasi
6. Duksi (rotasi monokular)
7. Versi (gerakan mata konjugat)
8. Gerakan disjugttif
9. Pemeriksaan sensorik
Tujuan & prinsip terapi strabismus
pada anak

 Pemulihan efek sensorik yang merugikan (ambliopia,


supresi dan hilangnya stereopsis) dan

 Penjajaran mata terbaik yang dpat dicapai dengan


terapi medis atau bedah.
Terapi medis

1. Terapi ambliopia
2. Terapi atropin
3. Obat farmakologik
4. ortoptik
Terapi bedah

1. Reseksi dan resesi


2. Penggeseran titik perlekatan otot
3. Tindakan faden
Foria

 Dikenal 2 bentuk foria:


1. Ortoforia: merupakan keduudkan bola mata dimana
kerja otot-otot luar bola mata seimbang sehingga
memungkinkan terjadinya fusi tanpa usaha apapun.
2. Heteroforia: Heterotrofi adalah keadaan kedudukan
bola mata yang normal namun akan timbul
pengimpangan (deviasi) apabila refleks fusi
diganggu.

HETEROFORIA
Esoforia (juling ke dalam)

 Esofori adalah suatu penyimpangan sumbu


penglihatan ke arah nasal yang tersembunyi oleh
karenan masih adanya refleks fusi.
Eksoforia (juling ke luar)

 strabismus divergen latin adalah suatu tendensi


penyimpangan sumbu penglihatan ke arah temporal.
Dimana pada eksforia akan terjadi deviasi ke luar pada
mata yang ditutup atau dicegah terbentuknya refleks
fusi.
hiperforia

 Hiperforia atau strabismus sursumvergen laten adalah


suatu tendensi penyimpangan sumbu penglihatan
kearah atas.

 Dimana pada hiperforia akan terjadi deviasi ke atas


pada mata yang ditutup.
hipoforia

 Hipoforia atau strabismus deorsumvergen laten


adalah suatu tendensi penyimpangan sumbu
penglihatan ke arah bawah. Mata akan berdeviasi ke
bawah bila ditutup.
heterotropia

 Heterotropia adalah suatu keadaan penyimpangan


sumbu bola mata yang nyata di mana kedua sumbu
penglihatan tidak berpotongan pada titik fiksasi.
Esotropia

 Esotropia adalah suatu penyimpangan sumbu


penglihatan yang nyata dimana salah satu sumbu
penglihatan menuju tiitk fiksasi sedangkan sumbu
penglihatan lainnya menyimpang pada bidang
horizontal ke arah medial.
Eksotropia

 juling ke luar atau strabismus divergen manifes


dimana sumbu penglihatan yang nyata dimana sumbu
penglihatan menuju titik fiksasi sedangkan sumbu
penglihatan yang lainnya menyimpang pada bidang
horizontal ke arah lateral.
Heterotropia komitan atau non
komitan

 Strabismus konkomitan, yaitu juling akibat terjadinya


gangguan fusi. Kelainan ini dapat terjadi pada
kekeruhan kornea pada satu mata dan katarak.
Cont…

 Strabismus inkomitan atau strabismus paralitik terjadi


akibat paralisis otot penggerak mata, dimana juling
akan bertambah nyata bila mata digerakkan ke arah
otot yang lumpuh.
Sudut kappa

 Sudut Kappa merupakan sudut yang dibentuk untuk


sumbu penglihatan dan sumbu bola mata. Sudut
Kappa positif terdapat pada keadaan refleks cahaya
pupil digeser ke arah nasal. Ini menimbulkan
gambaran suatu eksodeviasi dan merupakan suatu
varian mata normal yang terdapat pada banyak orang
Ambliopia

 Ambliopia adalah suatu keadaan mata dimana tajam


penglihatan tidak mencapai optimal sesuai dengan
usia dan inetelegensinya walaupun sudah dikoreksi
kelainan refraksinya. Pada ambliopia terjadi
penurunan tajam penglihatan unilateral atau bilateral
disebabkan karena kehilangan penegnalan betuk,
interaksi binokular abnormal, atau keduanya
Tanda ambliopia

1. Berkurangnya penglihatan satu mata


2. Menurunnya tajam penglihatan etrutama pada fenomena
crowding
3. Hilangnya sensitifitas kontras
4. Mata mudah mengalami fiksasi eksentrik
5. Adanya anisokoria
6. Tidak mempengaruhi penglihatan warna
7. Biasanya daya akomodasi menurun
8. ERG dan EEG penderita ambliopia selalu normal yang berarti
tidak terdapat kelainan organik pada retina maupun korteks
serebri
9. Pencegahan terhadap ambliopia ialah pada anak berusia
kurang 5 tahun perlu periksa pemeriksaaan tajam penglihatan
terutama apabila memperlihatkan tanda-tanda juling.
Pemeriksaan ambliopia

 Uji crowding phenomena


 Uji density filter netral
 Uji worths four dot
 Visuskop
Macam macam ambliopia

 Ambliopia fungsional
 Ambliopia strabismik
 Ambliopia refraktif
 Ambliopia anisometrik
 Ambliopia eks anopsia
 Ambliopia organik
Diplopia

 Diplopa adalah keadaan melihat sebuah benda ganda


bila dilihat denga satu atau dua mata.
 Dikenal beberapa macam;
1. Diplopia homonim
2. Diplopia heteronim
3. Diplopia monokular
Uji diplopia

 Pasien memakai kacamata dengan filter merah pada mata


kanan dan kaca filter hijau pada mata kiri. Pasien diminta
melihat satu sumber cahaya dan akan menyatakan letak
lampu merah dan hijau yang terlihat. Secara normal atau bila
mata berkedudukan ortoforia dan bayangan difokuskan pada
makula maka lampu akan terlihat satu.
Cont…

 Diplopia bersilang bila letak bayangan lampu merah


terletak di sebelah kiri bayangan biru, ini terlihat pada
mata eksotropia.
 Bila letak lampu merah di sebelah kanan lampu hijau
ini disebut diplopia homonim yang terjadi pada mata
dengan esotropia.
Pseudostrabismus
 Perbedaan pseudostrabismus dengan strabismus
yaitu meskipun secara klinis mata terlihat tidak
simetris, namun jika diberi reflex cahaya positif
simetris pada kedua mata.
kesimpulan

 Suatu keadaan yang ditandai penyimpangan


abnormal dari letak satu mata terhadap mata yang
lainnya, atau pada orang awam menyebutnya mata
juling.
 Dalam mendiagnosis strabismus diperlukan anamnesa
yang cermat dari mulai riwayat keluarga, usia, jenis
onset, jenis deviasi
 Terapi pada strabismus untuk memulihkan efek
sensorik yang merugikan penjajaran mata terbaik
yang dpat dicapai dengan terapi medis atau bedah
Daftar pustaka

 Ilyas,Sidharta, Ilmu penyakit mata,cetakan V, balai penerbitan FKUI : Jakarta. 2017.


 Vaughan, Daniel; Asbury, Taylor; Riordan-Eva, Paul. Oftalmologi Umum. Edisi 17. KDT :
Jakarta. 2009.
 David R, Davelman J; Mechoulam H, Cohen Er . Strabismus developing after unilateral
and bilateral cataract surgery in children. Pediatric oftalmology center : Jerussalem.
2016.
 Solebo, ameenant lola; Rahi, jugnoo.Epidemiology,etiology and management of visual
impairment in children.MRC center of epidemiology for child health,UCL
institute:London.2014.
 Ahn, ye jin;park, shin hae;shin,yun song,Risk factors of persistent diplopia following
secondary intraokular lens implantation in patients with sensory strabismus from
uncorrected monokular aphakia.department of ophtalmology college of medicine. st
marry hospital:Seoul.2016.
 www. cermin dunia kedokteran/write
 www. indonesian ophtalmologys society.com
 www.medicastore.com/mata dan penglihatan