SISTEM SILVIKULTUR TPI, TPTI, DAN TR
Dosen Penanggungjawab :
Dr. Kansih Sri Hartini, S.Hut., MP
ANGGOTA KELOMPOK 7
Putri Armenia Urelia 191201005
Muhammad Syawal Akbar 191201007
Alfi Hidayat 191201019
Aisyah Aqilah 191201137
Samuel Jaya Sianipar 191201181
Priskian Arswenta Siboro 191201188
Sistem silvikultur
Menurut Peraturan Menteri Kehutanan Nomor:
P.11/Menhut-II/2009, sistem silvikultur merupakan
sistem pemanenan sesuai tapak/ tempat tumbuh
berdasarkan formasi terbentuknya hutan yaitu
melalui proses edafis dan klimatologis dan tipe-tipe
hutan yang terbentuk dalam rangka pengelolaan
hutan lestari.
Penyempurnaan
Sejak dikeluarkan pedoman dalam pengelolaan atau
pemanenan di hutan alam pada 1972, dilakukan tiga
kali penyempurnaan, pertama 1989 tentang sistem
silvikultur pengelolaan hutan alam produksi di
Indonesia, Kedua tahun 2005 tentang tebang pilih
tanam Indonesia intensif (SILIN), Ketiga tahun 2009
tentang tebang pilih tanam Indonesia.
Konsep sistem silvikultur
Sistem silvikultur Tebang Pilih Tanaman Indonesia
TPTI (Tebang Pilih Tanaman Indonesia)
(TPTI) adalah salah satu sistem silvikultur yang
diterapkan pada hutan-hutan alam yang tak seumur di
Indonesia. Tujuan TPTI adalah meningkatkan
produktivitas hutan alam tegakan tidak seumur
melalui tebang pilih dan pembinaan tegakan tinggal
dalam rangka memperoleh panenan yang lestari
TPI(Tebang Pilih Indonesia)
Sistem silvikultur Tebang Pilih Indonesia (TPi) adalah
suatu sistem silvikultur meliputi cara penebangan dan
permudaan hutan. Sistem ini merupakan suatu
perpaduan antara sistem-sistem tebang dengan batas
minimum diameter dari Indonesia, tebang pilih
Filipina (selective logging), dan pembinaan
permudaan
TR (Tebang Rumpang)
Sistem TR ini sering disebut juga sebagai ”Gap
Simulation System”. Sistem Tebang Rumpang ini
berbasis permudaan alami, dan menjadi salah satu
sistem yang ditawarkan untuk dijadikan suatu sistem
silvikultur alternatif untuk pengelolaan hutan alam
produksi. Secara umum, pada dasarnya adalah
menciptakan ruang-ruang terbuka di dalam hutan.
Tahapan kegiatan sistem silvikultur TPI, TPTI,
dan TR
TPI
Sistem silvikultur TPI mensyaratkan adanya inventarisasi tegakan dan
permudaan, penunjukkan dan penandaan pohon inti, serta penunjukkan
dan penandaan pohon yang akan ditebang.
Sebelum penebangan harus sudah dipersiapkan persemaian dari jenis-
jenis pohon kayu perdagangan. Untuk membatasi kerusakan tegakan
hutan perlu dipersiapkan tempat pengumpulan kayu, penggunaan teknik
penebangan, dan pengangkutan .
Usaha-usaha yang perlu dikerjakan setelah selesai penebangan adalah
inventarisasi tegakan sisa
TPTI
Tahapan kegiatan TPTI mencakup penataan areal kerja (PAK);
inventarisasi tegakan sebelum penebangan (ITSP); pembukaan
wilayah hutan (PWH); pemanenan; penanaman dan pemeliharaan
tanaman pengayaan; pembebasan pohon binaan; serta;
perlindungan dan pengamanan hutan.
Sistem silvikultur dipandang TPTI paling sesuai untuk menjamin
kelestarian manfaat jangka panjang melalui rotasi tebang serta
kesuburan tanah melalui siklus hara. Rotasi Tebang pada TPTI 35
tahun dengan asumsi riap diameter 1 (satu) cm/tahun.
TR
Penerapan sistem silvikultur Tebang Rumpang adalah seluas 50% areal
tidak dibalak/ditebang sebagai kantong pelestarian, yang dibalak
hanya 50%,
tidak menebang diameter pohon tertentu, tidak menebang jenis
pohon tertentu, tempat tebangan berbentuk rumpang
(membulat/lingkaran) dengan lebar 1-1,5 tinggi pohon tepi atau 2.000-
2.500 m2 (tergantung kondisi tegakan di lahan tersebut),
semua pohon di dalam rumpang ditebang habis, kecuali tingkat semai
semua jenis tinggi 1,5 m kebawah yang digunakan sebagai material
tegakan
Aplikasi dan analisis sistem silvikultur TPI, TPTI, dan TR
TPI
Pertimbangan yang digunakan dalam sistem silvikultur TPI adalah azas
kelestarian hutan (tidak terjadi penurunan produksi pada siklus tebang
berikutnya, penyelamatan tanah dan air dan perlindungan alam), Teknik
silvikultur (kesesuaian dengan kondisi ekologi, tipe hutan dan sifat-sifat
tumbuhan) dan, memungkinkan pengusahaan hutan mendapatkan
keuntungan serta memungkinkan adanya pengawasan yang efektif dan
efisien.
TPTI
Sistem silvikultur Tebang Pilih (yang kemudian diberi nama sebagai
sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia atau TPTI) cenderung dianggap
sebagai sistem silvikultur untuk pengusahaan hutan alam. Sistem
silvikultur ini bisa diterapkan baik hutan alam maupun hutan buatan.
TR
Tebang rumpang dimaksudkan agar unit pengelolaan mempunyai
bestek yang jelas serta kuvio yang dapat dikenali. Rumpang (gap) yang
dibuat dapat berfungsi sebagai iklim mikro rumpang jenis klimaks.
Keuntungan Tebang Rumpang adalah unsur tanah, iklim mikro, bahan
bakar dan seresah sudah terkelola, areal tebangan bisa dikelola karena
mempunyai unit homogen, sistem ekologi hutan tidak rusak sebab
proses rumpang adalah bagian dari sistem ekologi hutan itu sendiri,
KESIMPULAN
Dalam Tebang Rumpang, sistem ini paling efektif dalam
menjaga ekosistem hutan areal tebangan bisa dikelola karena
mempunyai unit homogen tidak rusak sebab proses
rumpang adalah bagian dari sistem ekologi hutan.
TPTI adalah sistem yang banyak diterapkan dalam
pengelolaan hutan seperti di HTI saat sekarang ini.
Sementara TR belum dilaksanakan oleh pemegang IUPHHK
TERIMA KASIH