Anda di halaman 1dari 14

Modul 3

KERANGKA KARANGAN

Uraian dan Contoh 1. Pengertian: Kerangka karangan merupakan rencana penulisan yang memuat garisgaris besar dari suatu karangan yang akan digarap, dan merupakan rangkaian ide-ide yang disusun secara sistematis, logis, jelas, terstruktur, dan teratur. 2. Manfaat Kerangka Karangan:

a. Untuk menjamin penulisan bersifat konseptual, menyeluruh, dan terarah b. Untuk menyusun karangan secara teratur.
Kerangka karangan membantu penulis untuk melihat gagasan-gagasan dalam sekilas pandang, sehingga dapat dipastikan apakah susunan dan hubungan timbal-balik antara gagasan-gagasan itu sudah tepat, apakah gagasan-gagasan itu sudah disajikan dengan baik, harmonis dalam perimbangannya.

c. Memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda-beda. Setiap tulisan


dikembangkan menuju ke satu klimaks tertentu. Namun sebelum mencapai klimaks dari seluruh karangan itu, terdapat sejumlah bagian yang berbeda-beda kepentingannya terhadap klimaks utama tadi. Tiap bagian juga mempunyai klimaks tersendiri dalam bagiannya. Supaya pembaca dapat terpikat secara terus menerus menuju kepada klimaks utama, maka susunan bagian-bagian harus diatur pula sekian macam sehingga tercapai klimaks yang berbeda-beda yang dapat memikat perhatian pembaca.

d. Menghindari penggarapan topik dua kali atau lebih. Ada kemungkinan suatu
bagian perlu dibicarakan dua kali atau lebih, sesuai kebutuhan tiap bagian dari karangan itu. Namun penggarapan suatu topik sampai dua kali atau lebih tidak perlu, karena hal itu hanya akan membawa efek yang tidak menguntungkan; misalnya, bila penulis tidak sadar betul maka pendapatnya mengenai topik yang sama pada bagian terdahulu berbeda dengan yang diutarakan pada bagian kemudian, atau bahkan bertentangan satu sama lain. Hal yang demikian ini tidak Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB WORO ARYADINI BAHASA INDONESIA

dapat diterima. Di pihak lain menggarap suatu topik lebih dari satu kali hanya membuang waktu, tenaga, dan materi. Kalau memang tidak dapat dihindari maka penulis harus menetapkan pada bagian mana topik tadi akan diuraikan, sedangkan di bagian lain cukup dengan menunjuk kepada bagian tadi.

e. Memudahkan penulis mencari materi pembantu.


Dengan mempergunakan rincian-rincian dalam kerangka karangan penulis akan dengan mudah mencari data-data atau fakta-fakta untuk memperjelas atau membuktikan pendapatnya. Atau data dan fakta yang telah dikumpulkan itu akan dipergunakan di bagian mana dalam karangannya itu. Bila seorang pembaca kelak menghadapi karangan yang telah siap, ia dapat menyusutkan kembali kepada kerangka karangan yang hakekatnya sama dengan apa yang telah dibuat penggarapnya. Dengan penyusutan ini pembaca akan melihat wujud, gagasan, struktur, serta nilai umum dari karangan itu. Kerangka karangan merupakan miniatur atau prototipe dari sebuah karangan. Dalam bentuk miniatur ini karangan tersebut dapat diteliti, dianalisis, dan dipertimbangkan secara menyelurih, bukan secara terlepas-lepas. 3. Penyusunan Kerangka Karangan

a. Langkah pertama adalah merumuskan tema yang jelas berdasarkan suatu topik
dan tujuan yang akan dicapai melalui topik tadi. Tema yang dirumuskan untuk kepentingan suatu kerangka karangan haruslah berbentuk tesis atau pengungkaan maksud.

b. Langkah kedua adalah mengadakan inventarisasi atau mengumpulkan topiktopik bawahan yang dianggap merupakan rincian dari tesis atau pengungkapan maksud tadi. Dalam hal ini penulis boleh mencatat sebanyak-banyaknya topiktopik yang terlintas dalam pikirannya, dengan tidak perlu langsung mengadakan evaluasi terhadap topik-topik tadi.

c. Langkah ketiga adalah mengadakan evaluasi semua topik bawahan yang telah
tercatat pada langkah kedua di atas. Evaluasi tersebut dapat dilakukan dalam beberapa tahap sebagai berikut: Pertama: apakah semua topik yang tercatat mempunyai relevansi atau pertalian langsung dengan tesis atau pengungkapan maksud. Bila ternyata sama sekali tidak ada hubungan maka topik tersebut dicoret dari daftar di atas Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB WORO ARYADINI BAHASA INDONESIA

Kedua: Semua topik yang masih dipertahankan kemudian dievaluasi lebh lanjut. Bila ada dua topik atau lebih yang hampir sama, maka harus dibuat perumusan baru yang mencakup semua topik tadi. Ketiga: Evaluasi lebih lanjut ditujukan kepada persoalan, apakah semua topik sama derajatnya, atau ada topik yang sebenarnya merupakan bawahan atau rincian dari topik lain. Bila ada masukkanlah topik bawahan itu ke dalam topik yang dianggap lebih tinggi kedudukannya. Keempat: Ada kemungkinan bahwa ada dua topik atau lebih yang kedudukannya sederajat, tapi lebih rendah dari topik yang lain. Bila terdapat hal yang demikian, maka usahakanlah untuk mencari satu topik yang lebih tinggi yang akan membawahi topik-topik tadi.

d. Untuk mendapatkan sebuah kerangka karangan yang sangat rinci maka langkah
kedua dan ketiga dikerjakan berulang-ulang untuk menyusun topik-topik yang lebih rendah tingkatannya.

e. Sesudah semuanya siap masih harus dilakukan langkah yang terakhir, yaitu
menentukan sebuah pola susunan yang paling sesuai untuk mengurutkan semua rincian dari tesis atau pengungkapan maksud sebagai yang telah diperoleh dengan mempergunakan semua langkah di atas. Dengan pola susunan tersebut semua rincian akan disusun kembali sehingga akan diperoleh sebuah kerangka karangan yang baik. 4. Pola Susunan Kerangka Karangan a. Pola Alamiah Susunan atau pola alamiah adalah suatu urutan unit-unit kerangka karangan sesuai dengan keadaan yang nyata di alam. Sebab itu susunan alamiah dapat dibagi lagi menjadi tiga bagian utama, yaitu berdasar urutan ruang, urutan waktu, dan urutan topik yang ada. 1) berdasar urutan ruang Topik: Tanah longsor Tujuan: Untuk mengetahui lokasi tanah lonsor. Tema: Beberapa lokasi tanah longsor di dunia

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

WORO ARYADINI BAHASA INDONESIA

I. TANAH LONGSOR YANG TERJADI DI LUAR INDONESIA A. Tanah Longsor di Asia 1. Tanah longsor di China 2. Tanah longsor di Pegunungan Himalaya B. Tanah Longsor di Amerika Selatan 1. Tanah longsor di Pegunungan Andes 2. Tanah longsor di Mexico II. TANAH LONGSOR YANG TERJADI DI INDONESIA A. Tanah Longsor di Pulau Jawa 1. Tanah longsor di Banjarnegara 2. Tanah longsor di lereng Gunung Lawu B. Tanah Longsor di luar Pulau Jawa 1. Tanah longsor di sekitar Jalan Tran-Sumatra 2. Tanah longsor di sekitar Jalan Ladia Galaska 2) berdasar urutan waktu Topik: masyarakat Tujuan: untuk mengetahui perkembangan masyarakat Tema: Perkembangan masyarakat dari jaman ke jaman. I. MASYARAKAT PEMBURU DAN PERAMU A. Masyarakat Pemburu dan Peramu di Dunia B. Masyarakat Pemburu dan Peramu di Indonesia 1. Di Irian 2. Di Kepulauan Mentawai II. MASYARAKAT PETANI DAN PETERNAK A. Masyarakat Petani dan Peramu di Dunia B. Masyarakat Petani dan Peternak di Indonesia 1. Masyarakat petani di Pulau Jawa 2. Masyarakat peternak di Nusa TenggaraTimur III. MASYARAKAT INDUSTRI A. Masyarakat Industri Modern B. Masyarakat Industri Canggih

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

WORO ARYADINI BAHASA INDONESIA

3) berdasar urutan topik yang ada Topik: Penyakit Tujuan: Untuk mengetahui berbagai penyakit di Indonesia Tema: Berbagai penyakit di Indonesia I. DI DAERAH PEDESAAN A. Malaria B. Tuberculosis II. DI DAERAH PERKOTAAN A. Kanker 1. Kanker kulit 2. Kanker paru-paru 3. Kanker tulang B. HIV C. AID Topik: Hutan Tujuan: Untuk mengetahui pemanfaatan hutan Tema: Pemanfaatan hutan. I. MANFAAT HUTAN SECARA ALAMIAH A. Mencegah Erosi B. Mengurangi Polusi 1. Polusi Udara 2. Polusi Suara C. Sebagai Hutan Lindung II. MANFAAT HUTAN SECARA EKONOMIS A. Hutan Tanaman Industri B. Hutan untuk Rekreasi C. Hutan untuk Penelitian Untuk pola berdasar urutan topik yang ada, penulis tidak perlu memperhatikan mana yang akan didahulukan.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

WORO ARYADINI BAHASA INDONESIA

b. Pola Logis Pola logis berdasar urutan: 1) klimaks anti klimaks Topik: Banjir Tujuan: Untuk mengetahui akibat banjir Tema: Banjir dan akibatnya I. II. MUSIM PENGHUJAN MULAI PENGGUNDULAN HUTAN

III. EROSI DI MANA-MANA IV. PENDANGKALAN SUNGAI V. MUSIBAH BANJIR VI. PENDERITAAN MASYARAKAT 2) umum khusus Topik: Pendidikan Tujuan: Untuk mengetahui pendidikan di masyarakat Tema: Pendidikan di masyarakat I. PENDIDIKAN DALAM LINGKUNGAN MASYARAKAT SECARA UMUM II. PENDIDIKAN DALAM MASYARAKAT PERKOTAAN III. PENDIDIKAN DI MASYARAKAT T PEDESAAN IV. PENDIDIKAN PADA GENERASI MUDA 3) sebab akibat Topik: Premanisme di Jakarta

I.

PERTUMBUHAN EKONOMI YANG TERSENDAT

II. INDUSTRI TUTUP KARENA BAHAN BAKAR LANGKA III. LAPANGAN KERJA MENCIUT IV. MENCARI UANG DENGAN CARA MUDAH 4) proses 5) dan lain-lain. Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB WORO ARYADINI BAHASA INDONESIA

5. Macam-macam Kerangka Karangan a. Berdasar Sifat Rinciannya: 1) Kerangka Karangan Sementara / Non-formal: cukup terdiri atas dua tingkat, dengan alasan: a) topiknya tidak kompleks b) akan segera digarap 2) Kerangka Karangan Formal: terdiri atas tiga tingkat, dengan alasan: a) topiknya sangat kompleks b) topiknya sederhana, tetapi tidak segera digarap Cara kerjanya: Rumuskan tema berupa tesis , kemudian pecah-pecah menjadi sub-ordinasi yang dikembangkan untuk menjelaskan gagasan utama. Tiap sub-ordinasi dapat dirinci lebih lanjut. Tesis yang dirinci minimal tiga tingkat sudah dapat disebut Kerangka Karangan Formal. Agar tingkatan-tingkatan jelas hubungannya, dipergunakan simbol-simbol dan tipografi yang konsisten bagi tingkat yang sederajat. Simbol-simbol berupa: Topik tingkat 1: angka Romawi I, II, dan seterusnya Topik tingkat 2: huruf kapital A, B, dan seterusnya Topik tingkat 3: angka Arab 1, 2, dan seterusnya Topik tingkat 4: huruf kecil a, b, dan seterusnya Topik tingkat 5: angka Arab dalam kurung (1), (2) , dan seterusnya Topik tingkat 6: huruf kecil dalam kurung (a), (b), dan seterusnya Simbol-simbol harus ditempatkan sedemikan rupa sehingga mudah terlihat. Letak tipografinya sbb.: I. A. .. 1. a. .. (1) . (a) .. Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB WORO ARYADINI BAHASA INDONESIA

Semakin penting atau semakin tinggi sebuah unit, semakin ke kiri tempatnya. Semakin kurang penting atau semakin rendah unitnya, semakin ke kanan tempatnya. Dapat pula disusun sbb.: Topik tingkat 1: angka Arab 1. (dengan titik) Topik tingkat 2: Angka Arab 1.1 (tanpa titik) Topik tingkat 3: angka Arab 1.1.1 (tanpa titik) Topik tingkat 4: angka Arab 1.1.1.1 (tanpa titik) Topik tingkat 5: angka Arab 1.1.1.1.1. (tanpa titik) Topik tingkat 6: angka Arab 1.1.1.1.1.1 (tanpa titik) b. Berdasar perumusan teksnya 1) Kerangka Kalimat Contoh I. MASALAH KEMISKINAN DI INDONESIA SUDAH TERJADI SEJAK JAMAN PENJAJAHAN BELANDA A. Tanah Adat Dijadikan Perkebunan B. Pemilik Tanah Menjadi Kuli Perkebunan II. MASALAH KEMISKINAN YANG TERJADI PADA JAMAN REPUBLIK INDONESIA A. Sistem Pewarisan di Indonesia Menimbulkan Pemiskinan 1. Tanah yang diwariskan semakin menyempit 2. Penduduk desa mencari kerja di kota B. Tanah-tanah di Pedesaan Diborong Penduduk Kota 2) Kerangka Topik KEMISKINAN DI JAMAN PENJAJAHAN A. Tanah Adat B. Kuli Perkebunan II. KEMISKINAN DI JAMAN REPUBLIK INDONESIA A. Sistem Pewarisan 1. Proses Involusi 2. Urbanisasi B. Pengalihan kepemilikan tanah

I.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

WORO ARYADINI BAHASA INDONESIA

3) Gabungan antara Kerangka Kalimat dan Kerangka Topik 6. Syarat Kerangka Karangan yang baik: a. Tesis atau Pengungkapan Maksud harus jelas Pilihlah topik yang merupakan hal yang khas, kemudian tentukan tujuan yang jelas. Lalu buatlah tesis atau pengungkapan maksud.

b. Tiap unit hanya mengandung satu gagasan.


Bila satu unit terdapat lebih dari satu gagasan, maka unit itu harus dirinci Salah Karakter geografis Kurdistan yang terdiri dari gugusan perbukitan, struktur sosial yang sangat sarat sentimen tribalisme, serta sistem mata pencarian yang mengandalkan pertanian dan menggembala memang membuat bangsa dan wilayah Kurdistan menjadi semieksklusif sepanjang sejarahnya selama 3000 tahun, tidak ada satu bangsa atau satu kekuatan pun yang mampu menguasai secara penuh bangsa dan wilayah Kurdi, yang juga sering disebut sebagai Kurdistan; Yunani, Romawi, Persia, dan bahkan dinasti berbasis Islam selalu gagal menundukkan secara penuh bangsa Kurdi. Benar 1. Bangsa Kurdistan menjadi semi-eksklusif karena: a. wilayahnya secara geografis terdiri dari gugusan perbukitan b. struktur sosialnya sangat sarat dengan sentimen tribalisme c.sistem pencariannya mengandalkan: 1) pertanian 2) peternakan 2. Sepanjang sejarahnya yang selama 3000 tahun tidak ada satu bangsa atau satu kekuatan pun yang mampu mengusai penuh bangsa dan wilayah Kurdi. 3. Kekuatan yang selalu gagal menundukkan secara penuh bangsa Kurdi antara lain: 1) bangsa Yunani 2) bangsa Romawi 3) bangsa Persia Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB WORO ARYADINI BAHASA INDONESIA

4) bahkan dinasti berbasis Islam..

c. Pokok-pokok dalam kerangka karangan harus disusun secara logis, sehingga


rangkaian ide atau pikiran itu tergambar dengan jelas Salah I. DIPIKIR SAMBE BETA TERNYATA ANTRAKS A.. Ciri-ciri Penyakit Antraks 1. Pembengkakan di bagian: a. anus, dan dada B. Terkait Kemiskinan II. ANTRAKS DIKIRA KUTUKAN A. Keluar darah merah kehitaman dari isi perut B. Sambe Beta 1. Kosmologi Mistik Orang Kota Baru, Ende 2. Pola Pikir Arkais Benar II. DIPIKIR SAMBE BETA TERNYATA ANTRAKS A.. Ciri-ciri Penyakit Antraks 1. Pembengkakan di bagian: a. leher b. dada c. isi perut 2. Keluar darah merah kehitaman dari: a. anus b. hidung B. Pengertian Sambe Beta II. ANTRAKS DIKIRA KUTUKAN A. Kosmologi Mistik Orang Kota Baru, Ende B. Pola Pikir Arkais III. TERKAIT KEMISKINAN d. Harus menggunakan simbol yang konsisten (Contoh c telah menggunakan simbol yang konsisten) Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB WORO ARYADINI BAHASA INDONESIA

4. Bentuk Kerangka Karangan: a. Kerangka topik b. Kerangka kalimat c. Gabungan kerangka topik dan kerangka kalimat Contoh b. Kerangka topik, terdiri atas kata atau frasa. Ini lebih banyak dipakai. Topik : Kaus Tujuan: Menggalakkan produksi industri Dalam Negeri Tema : Penggunaan kaus dimaksudkan untuk menggalakkan produsi industri Dalam Negeri

II.

JENIS-JENIS KAUS A. Kaus yang dipakai sehari-hari B. Kaus untuk olahraga 1. Basket 2. Senam III. BAHAN DASAR KAUS A. Kapas B. Tetoron c. Kerangka kalimat d. Gabungan kerangka topik dan kerangka kalimat

5. Macam-macam Kerangka Karangan 1. Berdasar Sifat Rinciannya: b. Kerangka Karangan Sementara / Non-formal: biasanya terdiri atas dua tingkat, dengan alasan: 1) topiknya tidak kompleks 2) akan segera digarap c. Kerangka Karangan Formal: Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB WORO ARYADINI BAHASA INDONESIA

Dengan alasan: 1) topiknya sangat kompleks 2) topiknya sederhana, tetapi tidak segera digarap Cara kerjanya: Rumuskan tema berupa tesis , kemudian pecah-pecah menjadi sub-ordinasi yang dikembangkan untuk menjelaskan gagasan utama. Tiap sub-ordinasi dapat diperinci lebih lanjut. Tesis yang diperinci minimal tiga tingkat sudah dapat disebut Kerangka Karangan Formal. Agar tingkatan-tingkatan jelas hubungannya, dipergunakan simbol-simbol dan tipografi yang konsisten bagi tingkat yang sederajat. Simbol-simbol berupa: Topik tingkat 1: angka Romawi I, II, dan seterusnya Topik tingkat 2: huruf kapital A, B, dan seterusnya Topik tingkat 3: angka Arab 1, 2, dan seterusnya Topik tingkat 4: huruf kecil a, b, dan seterusnya Topik tingkat 5: angka Arab dalam kurung (1), (2) , dan seterusnya Topik tingkat 6: huruf kecil dalam kurung (a), (b), dan seterusnya Simbol-simbol harus ditempatkan sedemikan rupa sehingga mudah terlihat. Letak tipografinya sbb.: I. A. .. 1. a. .. (1) . (b) .. Semakin penting atau tinggi sebuah unit, semakin ke kiri tempatnya. Semakin kurang penting atau rendah unitnya, semakin ke kanan tempatnya. Dapat pula disusun sbb.: Topik tingkat 1: angka Arab 1. (dengan titik) Topik tingkat 2: Angka Arab 1.1 (tanpa titik) Topik tingkat 3: angka Arab 1.1.1 (tanpa titik) Topik tingkat 4: angka Arab 1.1.1.1 (tanpa titik) Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB WORO ARYADINI BAHASA INDONESIA

Topik tingkat 5: angka Arab 1.1.1.1.1. (tanpa titik) Topik tingkat 6: angka Arab 1.1.1.1.1.1 (tanpa titik) 6. Syarat Kerangka Karangan yang baik:

d. Pilihlah topik yang merupakan hal yang khas, kemudian tentukan tujuan yang
akan dicapai dengan topik itu. Dari topik dan tujuan itu tersusun tema yang jelas

e. Dalam tiap unit hanya mengandung satu gagasan. Bila satu unit terdapat lebih
dari satu gagasan, maka unit itu harus dirinci

f. Pokok-pokok dalam kerangka karangan harus disusun secara logis, sehingga


rangkaian ide atau pikiran itu tegambar dengan jelas g. Harus menggunakan simbol yang konsisten 4. Bentuk Kerangka Karangan: a. Kerangka topik b. Kerangka kalimat c. Gabungan kerangka topik dan kerangka kalimat Contoh e. Kerangka topik, terdiri atas kata atau frasa. Ini lebih banyak dipakai. Topik : Kaus Tujuan: Menggalakkan produksi industri Dalam Negeri Tema : Penggunaan kaus dimaksudkan untuk menggalakkan produsi industri Dalam Negeri

IV.

JENIS-JENIS KAUS A. Kaus yang dipakai sehari-hari B. Kaus untuk olahraga 1. Basket 2. Senam V. BAHAN DASAR KAUS A. Kapas B. Tetoron f. Kerangka kalimat WORO ARYADINI BAHASA INDONESIA

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

g. Gabungan kerangka topik dan kerangka kalimat

5. Macam-macam Kerangka Karangan 1. Berdasar Sifat Rinciannya: d. Kerangka Karangan Sementara / Non-formal: biasanya terdiri atas dua tingkat, dengan alasan: 1) topiknya tidak kompleks 2) akan segera digarap e. Kerangka Karangan Formal: Dengan alasan: 1) topiknya sangat kompleks 2) topiknya sederhana, tetapi tidak segera digarap Cara kerjanya: Rumuskan tema berupa tesis , kemudian pecah-pecah menjadi sub-ordinasi yang dikembangkan untuk menjelaskan .

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

WORO ARYADINI BAHASA INDONESIA