Anda di halaman 1dari 10

HALAMAN PENGESAHAN Laporan lengkap praktikum Kimia Fisik 1 dengan judul Penentuan Koefisien Distribusi disusun oleh : Nama

NIM Kelas Kelompok : Sitti Hajar : 101314035 :B :V

Telah diperiksa oleh asisten dan koordinator asisten dan dinyatakan diterima.

Makassar, Koordinator Asisten Asisten

Juni 2012

Kurnia Ramadhani S.Si Mengetahui, Dosen Penanggung Jawab

Akhwani Mutiara Dewi

Diana Eka Pratiwi, S.Si, M.Si

A. Judul Percobaan
Penentuan Koefisien Distribusi

B. Tujuan Percobaan
Menentukan koefisien distribusi I2 dalam sistem air-kloroform.

C. Landasan Teori
Eksraksi pelarut menyangkut distribusi suatu zat terlarut (solute). Menurut hukum distribusi solute) diantara dua fase cair yang tidak saling berrcampur.

Menurut Hukum distribusi Nernst, bila kedalam dua pelarut yang tidak saling bercampur dimasukkkan solute yang dapat larut dalam kedalam kedua pelarut tersebut maka akan terjadi pembagian kelarutan. Kedua pelarut tersebut umumnya pelarut rganik dan air. Dalam praktek solute akan terdistribusi dengan sendirinya kedalam dua pelarut tersebut setelah dikocok dan dibiarkan terpisah, perbandingan konsentrasi solute didalam kedua pelarut tersebut tetap, dan merupakan satu tetapan pada suhu tetap. Tetapan tersebut disebut tetapan distribusi atau koefisien distribusi ( Soebagio, 2004 : 34). Koefesien disribusi (KD) dinyataka denga rumus: atau C1 atau Ca adalah konsentrasi solute dalam pelarut perama atau pelarut air. C2 atau Co adalah konsentrasi solute dalam pelarut dua atau pelarut organic sesuai dengan kesepakatan, konsentrasi solute dalam pelarut organik dituliskan dibawah. Dari rumus diatas apabila harga KD besar, solute secara kuantitatif akan cenderung terdistribusi lebi banyak dalam pelarut organic dan sebaliknya ( Robbaniryo,2010). Merkuri bromide dapat larut dlm air dn dlam bnezena. Bila larutan merkuri bromide dalam air dilocok dengan bensena yang tidak bercampur dengan air ,maka HgBr2 dalam air dan benzena pada temperature tetap juga tetap. Hal ini merupakan akibat langsung hokum termodinamika bagi kesetimbangan. Bial pelarut yang satu

disebut A dan ang lain disebut B, maka tnaga bebas zat terlarut dalam pelarut A dan B adalah: GA = G0 A + RT ln aA GB = G0 B + RT ln aB Dalam keadaan setimbang GA = GB G0 A + RT ln aA = = G0 B + RT ln aB

RT.ln =G0B-G0A=k ln = =k Bila Larutan encer atau zat terlarut besifat ideal a dapat diganti c sehingga Ca/CB = k Koefesien distrinusi dimana nilai K berubah sedikit dengan naiknya konsentrasi, harga K tergantung pada jenis pelarutnya dan zat pelarut ( sukardjo,1997 : 241-242). Bila larutan jenih I2 dalam CHCl3 dikocok dengan air yang tidak larut dalam CHCl3. Setelah tercapai kesetimbangan perbandingan I2 dalam air dan CHCl3 pada temperature tetap juga tetap. Kenyataan ini merupakan akibat langsung hukum termodinamika pada kesetimbangan ( Tim Dosen Kimia Fisik 2012 : 17). Menurut Partangs (2010) factor- factor yang dapat mempengaruhi distibusi zat adalah : 1. Temperatur : Kecepatan berbagai reaksi bertambah kira-kira 2 atau 3 tiap kenaikan suhu 100C. 2. Kekuatan ion : Semakn kecil konsentrasi suatu larutan maka laju distribusi makin kecil. =k

3. Katalis : katalis dapat menurunkan laju- laju distribusi yang dapat juga menurunkan energy atifitas dengan mengubah mekanisme reaksi. 4. Konstanta dielektrik : untuk reaktan yang kekeuatannya bermutan berlawanan maka laju distribusi raktan tersebut adalah positif dan sebaliknya. 5. Katalis dan Basa Spesifik : laju distribusi dapat dipercepat engan penambahan asam atau basa. Analat harus terbentuk suatu oksidator yang cukup kuat, arena dalam metode ini analat selalu tereduksi dulu dengan KI sehingga menjadi I2. I2 inilah yang dititrasi dengan Na2S2O3. titrasi dapat dilakukan tanpa indicator dari luar karena warna I2 yang dititrasi itu akan lenyap bila titik akhir tercapai. Warna mula-mula coklat agak tua, menadi lebih muda, lalu kuning, kuning muda dan seterusnya sampai akhirnya lenyap. Bila diamati dengan cermat perubahan warna tersebut, maka titik dapat tentukan dengan jelas, pada titik akhir iod yang terikat itupun hilang bereaksi dengan titran sehingga wana biru lnyap mendadak dan perubahan warnanya tampak sangat jelas ( Harjadi.W. 1986 : 212).

D. Alat Dan Bahan


Alat: 1. Labu Erlenmeyer 250 ml (dengan tutup) 3 buah 2. Labu Erlenmeyer 250 ml (tanpa tutup) 3 buah 3. Pipet tetes 4. Pipet ukur 5 ml 1 buah 5. Botol semprot 1 buah 6. Gelas ukur 250 ml 2 buah 7. Ball pipet 1 buah 8. Buret 50 ml 2 buah 9. Corong biasa 10. Statif dan klem 1 set

11. Batang Pengaduk 12. Corong pisah 13. Lap halus dan Lap kasar Bahan: 1. Larutan Na2S2O3 0,1 M 2. Larutan jenuh I2 dalam CHCl3 3. Indikator amilum 4. Aquadest 5. Tissue 6. Aluminium Foil

E. Prosedur Kerja
1. Menyiapkan larutan jenuh I2 dalam CHCl3 sebanyak 125 ml 2. Menambahkan 100 ml aquadest dalam corong pisah. 3. Mengocok campuran tersebut selama 60 menit. 4. Mendiamkan larutan tersebut hingga terbentuk dua lapisan. 5. Memisahkan kedua lapisan yang terbentuk dalam labu erlenmeyer 6. Mengambil masing-maing 5 ml dari kedua larutan tersebuat. 7. Menitrasi larutan tersebut , masing masing sebanyak tiga kali,tiap laisan dengan larutan natrium tiosulfat(Na2S2O3). 8. Mencatat volume titran.

F. Hasil Pengamatan
125 ml larutan I2 jenuh dalam CHCl3 + 100 ml aquades

terbentuk 2 lapisan: Lapisan atas : lapisan I2 dalam air berwaran coklat ,lapisan bawah: lapisan I2 dalam kloroform berwarna ungu

Volume larutan(ml) Titrasi keLapisan atas 5 ml Lapisan bawah 5 ml I

Volume Na2S2O3 0,1 N (ml) II 0,2 16,6 III 0,1 16,5

0,2 16,7

G. Analisis Data
1. Titrasi I (5 ml I2 dalam air) Dik : Volume titrasi I : 0,2 ml Volume titrasi II : 0,2 ml Volume titrasi III : 0,1 ml Dit : Volume rata-rata.? Penyelesaian:

= 0,1666 ml

2. Titrasi II Dik : Volume titrasi I Volume titrasi II Volume titrasi III : 16,7 ml : 16,6 ml : 16,5 ml

Dit : Volume rata-rata.? Penyelesaian:

= 16,6 ml 2S2O32- + I2 S4O62- + 2I-

= 0,1 N

= (0,1 M) (1 ml) = 0,1 mmol

= = 0,0100 H. Pembahasan
Koefisien disribusi merupakan perbandingan zat terlarut dalam dua pelarut yang tidak saling melarutkan(berbeda). Percobaan berdasarkan hokum Nerst yang menyatakan bahwa jika kedalam system dua fase cair yang tidak dapat saling

bercampur ditambahkan zat ketiga yang dapat melarut pada kedanya, maka zat ketiga akan terdistribusi diantara kedua fase tadi dalm jumlah tertentu. Pada percobaaan in akan dientukn koefisien distribusi I2 dalam kloroform-air. Langkah pertama aquades ditambahkan kedalam laruta iod dalam klroform lalu dikocok. Pengocokan ini berfungsi untuk memepercepar terjadinya distribusi yang disebabkan karena tumbukan-tumbukan antara partikel yang juga semakin cepat. Proses pengocokan dilakukan selama 60 menit agar I2 dapat terdistribusi secar sempurna. Setelah pengocokan larutan didiamkan beberapa mnit hingga terbentuk dua lapisan, terbentuknya dual apian ini disebabkan karena perbedaan massa jenis dan kepolaran. Dimana berdasarkan tori, mass jenis kloroform adalah 1,49 g/ml sedangkan massa jenis air 1,00 g/ml dan air bersifat polar sdangkan klorform bersifat nonpolar. Lapisan atas yang terbentuk adalah lapisan I2 dalam air karena massa jenis air lebih kecil loroform dan lapisan bawah adalah I2 dalam kloroform. Lapisan yang telah terpisah tersebut di tamping,pada erleneyer yang berbeda , kemudian dititrasi dengan Na2S2O3 0,1 N sebagai larutan standar sekunder , larutan ini perlu distandarisasi karena larutan standar sekunder mudah berubah-ubah konsentrasinya. Jenis titrasi ini adalah titrasi iodometri dimana iod sebagai analitnya yang bersifat primer. Adaun reaksi yang terjadi: Reduksi Oksidator : I2 + 2e 2I S4O62- + 2e

: 2S2O32-

I2 + 2S2O32- S4O62- + 2IReaksi lengkapnya : 2Na2S2O3 + I2 Na2S4O6 + 2 NaI

Pada saat proses titrasi, tidak ditambahakan amilum karena larutan iod bersifat autoindikator artinya dapat berfunsgsi sebagai indicator.

Dari hasil analisis data diperoleh Jumlah KD sebesar 00100. Hal ini menandakan bahwa iodium lebih banyak terdisribusi ke air daripada kloroform, karena KD yang diperoleh lebih kecil dari satu (KD<1). Sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa apabila KD<1 maka iod yang akan terdistrbusi lebih banyak ke air dan apabila KD>1 maka iod yang akan terdistribusi lebih banyak ke pelarut organic dalam percobaan ini adalah kloroform

I. Kesimpulan dan Saran


1. Kesimpulan a. Harga koefisien distribusi yang diperoleh adalah 0,0100 b. KD < 1,artinya iod lebih banyak terdistribusi k air di bandingkan kloroform. 2. Saran Untuk raktikum berikutnya, sebaiknya lebih memahami prosedur kerja dan sebaiknya lebih teliti dalam mlakukan percobaan.

DAFTAR PUSTAKA

Harjadi . 1990. Ilmu kimia Analitik Dasar. Jakarta : Gramedia Partangs, Alfian. 2010. Fenomena Distribusi. http://www. Chem-is-

try.org.id.Fenomena Distribusi.co.id. Diakses pada tanggal 28 Mei 2012 di Makassar Robbanryo .2010. Hukum Distribusi. http:// www Robbanryo.com/ ilmu- kimia/ Hukum- distribusi. Diakses pada tanggal 28 Mei 2012 di Makassar Soebagio. 2004. Kimia Analitik II. Malang. JICA Sukadjo. 1997. Kimia Fisik 1. Jakarta : Rineka Cipta Tim Dosen Kimia Fisik. 2012. Penuntun Praktikum Kimia Fisik 1. Makassar : Laboratorium Kimia, FMIPA, UNM.