Anda di halaman 1dari 19

POTRET AKUNTANSI DARI LENSA CRITICAL STRUCTURALIS

Disusun Oleh :
Bertha Beloan (NIM. P3400212505)

Tugas Final : Filsafat Ilmu

PENDAHULUAN

1. Pengertian Paradigma
Paradigma dalam bahasa Inggris disebut paradigm dan dalam bahasa Perancis disebut paradigme, istilah tersebut berasal dari bahasa Latin, yakni para dan deigma. Secara etimologis, para berarti (di samping, di sebelah) dan deigma berarti (memperlihatkan, yang berarti, model, contoh, arketipe, ideal). Sedangkan deigma dalam bentuk kata kerja deiknynai berarti menunjukkan atau mempertunjukkan sesuatu. Arti paradigma secara etimologis. Kata paradigma berasal dari bahasa Yunani yang berarti suatu model, teladan, arketif dan ideal. Berasal dari kata para yang berarti di samping memperlihatkan dirinya. Arti paradigma ditinjau dari asal usul beberapa bahasa diantaranya: a) Menurut bahasa Inggris adalah keadaan lingkungan.

b) Menurut bahasa Yunani adalah para yang berarti disamping di sebelah dan dikenal sedangkan deigma berarti suatu model, teladan, arketip, dan ideal. Arti paradigma secara terminologis. a) Paradigma adalah konstruk berpikir berdasarkan pandangan yang menyeluruh dan konseptual terhadap suatu permasalah dengan menggunakan teori formal, eksperimentasi dan metode keilmuan yang terpercaya. b) Paradigma adalah suatu pandangan terhadap dunia alam sekitarnya, yang merupakan persfektif umum, suatu cara untuk menjabarkan masalah-masalah dunia nyata yang kompleks. Pengertian paradigma menurut para ahli. 1) Thomas Khun Menurut Thomas Khun Paradigma merupakan landasan berpikir atau konsep dasar yang dianut atau dijadikan model, baik berupa model atau pola yang

Tugas Final : Filsafat Ilmu

dimaksud para ilmuwan dalam upayanya mengandalkan studi-studi keilmuan. Thomas Khun dalam karyanya The Structure of Scientific Revolution (Chicago: The Univesity of Chicago Prerss, 1970). Paradigma di sini diartikan Khun sebagai kerangka referensi atau pandangan dunia yang menjadi dasar keyakinan atau pijakan suatu teori. 2) C.J. Ritzer Menurut C.J. Ritzer paradigma merupakan pandangan mendasar para ilmuawan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang seharusnya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan. Dari pengertian ini dapat disimpulkan, dalam suatu cabang ilmu pengetahuan dimungkinkan terdapat beberapa paradigma. Artinya dimungkinkan terdapatnya beberapa komunitas ilmuwan yang masing-masing berbeda titik pandangnya tentang apa yang menurutnya menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari dan diteliti oleh cabang ilmu pengetahuan tersebut

3) Robert Friedrichs. Paradigma adalah kumpulan tata nilai yang membentuk pola pikir seseorang sebagai titik tolak pandangannya sehingga akan membentuk citra subyektif seseorang mengenai realita dan akhirnya akan menentukan bagaimana seseorang menanggapi realita itu. 4) Masterman Masterman sendiri merumuskan paradigma sebagai pandangan mendasar dari suatu ilmu yang menjadi pokok persoalan yang dipelajari (a fundamental image a dicipline has of its subject matter) Mastermen mengklasifikasikan dalam tiga pengertian paradigma. Paradigma metafisik yang mengacu pada sesuatu yang menjadi pusat kajian ilmuwan. Paradigma Sosiologi yang mengacu pada suatu kebiasaan sosial masyarakat atau penemuan teori yang diterima secara umum.

Tugas Final : Filsafat Ilmu

Paradigma Konstrak sebagai sesuatu yang mendasari bangunan konsep dalam lingkup tertentu, misalnya paradigma pembangunan, paradigma pergerakan.

2.

Paradigma kritikal Strukturalis Paradigma ini mempercayai bahwa perubahan radikal dibentuk pada sifat

struktur sosial. Masyarakat kontemporer dapat dikarakteristikan dengan konflik fundamental yang akan menghasilkan perubahan radikal melalui krisis politik dan ekonomi. Paradigma ini berdasarkan pada Marx, yang diikuti oleh Engles, Lenin, dan Bukharin. Paradigma ini memiliki sedikit perhatian di Amerika diluar teori konflik. Adapun kekuatan dari paradigma teori kritis ini terletak pada karakternya yang ingin selalu membebaskan (to emancipate) dan mengubah (to transform). Pandangan ini berangkat dari pemikiran bahwa masyarakat yang normal adalah masyarakat yang selalu menghendaki adanya perubahan bukannya masyarakat yang cenderung stabil atau pada posisi status quo Studi tentang teori kritis tidak dapat dilepaskan dari Mazhab Frankfurt. Sebuah mazhab yang berisikan kumpulan filsuf-filsuf yang berafiliasi dengan institut penelitian sosial di Frankfurt, Jerman. Mazhab ini berdiri tahun 1930 dengan Max Horkheimer sebagai direktur dari institut penelitian sosial tersebut. Beberapa nama terkenal seperti Theodor Adorno, Walter Benjamin dan Jurgen Habermas merupakan anggota dan pendukung dari mazhab Frankfurt ini. Pemikiran mazhab ini sebenarnya berakar dari pemikiran Karl Marx yang menentang hegemoni dan dominasi kapitalisme pada abad 19. Max Horkheimer mengembangkan teori kritis dengan beberapa asumsi sebagai berikut : 1) Teori kritis bersifat historis, artinya dikembangkan berdasarkan situasi masyarakat yang konkret dan berpijak di atasnya. Teori kritis tidak bermaksud menentukan hukum-hukum universal yang berlaku di segala masa dan tempat;

Tugas Final : Filsafat Ilmu

2).

Teori

kritis

bersifat

kritis

terhadap

dirinya

sendiri.

Teori

kritis

mempertahankan kesahihannya melalui evaluasi, kritis dan refleksi terhadap dirinya sendiri, bukan pada sikap netral; 3). Teori kritis memiliki kecurigaan kritis terhadap masyarakat aktual; 4). Teori kritis itu merupakan teori dengan maksud praktis. Ketidaknetralan teori kritis itu terletak pada pemihakannya pada praksis sejarah tertentu. Pemihakan itu terdapat dalam tujuan teori kritis yaitu pembebasan manusia dari perbudakan, membangun masyarakat atas dasar hubungan antar pribadi yang merdeka dan pemulihan kedudukan manusia sebagai subyek yang mengolah sendiri kenyataan sosialnya. Dengan demikian, teori kritis hendak mengkritis keadaan-keadaan aktual dengan referensi pada tujuannya. Jadi teori kritis mengandung muatan utopia tertentu sehingga tidak netral dan memiliki maksud praksis emansipatoris Jika dilihat secara seksama maka tujuan teori kritis adalah menghilangkan berbagai bentuk dominasi maupun hegemoni yang berkembang dalam konteks sosial tertentu dan mendorong kebebasan, keadilan dan persamaan. Teori ini menggunakan metode reflektif dengan cara mengkritis secara terus menerus terhadap tatanan atau institusi sosial, politik atau ekonomi yang ada, yang cenderung tidak kondusif bagi pencapaian kebebasan, keadilan, dan persamaan. Secara substantif teori kritis ini tidak sama dengan pemikiran filsafat dan sosiologi tradisional yang tidak bersifat kontemplatif murni. Selain itu, tidak hanya mau menjelaskan, mempertimbangkan, merefleksikan dan menata realitas sosial tapi juga bahwa teori tersebut mampu membawa perubahan. Pada dasarnya, esensi teori kritis adalah konstruktivisme, yaitu memahami keberadaan struktur-stuktur sosial dan politik sebagai bagian atau produk dari intersubyektivitas dan pengetahuan secara alamiah yang memiliki karakter politis, terkait dengan kehidupan sosial dan politik. Sifat politis pengetahuan ini berkembang dari atau dipengaruhi oleh tiga pemikiran yang berbeda, yaitu : 1. Pertama, pemikiran Kant mengenai keterbatasan pengetahuan, yaitu bahwa manusia tidak dapat memahami dunia secara keseluruhan melainkan hanya sebagian saja (parsial).

Tugas Final : Filsafat Ilmu

2.

Kedua, pemikiran Hegel dan Marx bahwa teori dan pembentukan teori tidak bisa dipisahkan dari masyarakat. Ilmuwan harus melakukan refleksi terhadap teori atau proses pembentukan teori tersebut.

3.

Ketiga, pemikiran Horkheimer yang membedakan teori ke dalam dua kategori, yakni tradisional dan kritis. Teori tradisional menganggap adanya pemisahan antara teoretisi dan obyek kajiannya. Artinya, teori tradisional berangkat dari asumsi mengenai keberadaan realitas yang berada di luar pengamat, sementara teori kritis menolak asumsi pemisahan antara subyekobyek dan berargumen bahwa teori selalu memiliki dan melayani tujuan atau fungsi tertentu.

Tugas Final : Filsafat Ilmu

AKUNTANSI DARI SUDUT PANDANG PARADIGMA KRITIKAL STRUKTURALIS

1. Napak Tilas Akuntansi

Akuntansi berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat. Sejarah perkembangan pemikiran akuntansi (accounting thought) dibagi dalam tiga periode: tahun 4000 SM 1300 M; tahun 1300 1850 M, dan tahun 1850 M sampai sekarang. Masing-masing periode memberi kontribusi yang berarti bagi ilmu akuntansi. Pada periode pertama akuntansi hanyalah bentuk record-keeping yang sangat sederhana, maksudnya hanyalah bentuk pencatatan dari apa saja yang terjadi dalam dunia bisnis saat itu. Periode kedua merupakan penyempurnaan dari periode pertama, dikenal dengan masa lahirnya double-entry bookkeeping. Pada periode terakhir banyak sekali perkembangan pemikiran akuntansi yang bukan lagi sekedar masalah debit kiri kredit kanan, tetapi sudah masuk ke dalam kehidupan masyarakat. Perkembangan sekulerisasi melahirkan ilmu pengetahuan yang bersifat positivistik. Perspektif positivistik menitikberatkan pada praktik akuntansi sebagaimana adanya (menjawab pertanyaan what is). Dalam Watts and Zimmerman (1986) menyatakan bahwa fungsi dari ilmu pengetahuan positivistik adalah to explain (menjelaskan hubungan antar variabel) dan to predict (memprediksi kejadian di masa yang akan datang berdasarkan teori yang telah ada). Sebaliknya pertanyaan normatif seperti what should atau apa yang seharusnya dilakukan menjadi terpinggirkan bahkan diserahkan sepenuhnya kepada individu-individu sesuai dengan selera dan hawa nafsunya. Dalam sejarah ilmu pengetahuan barat kondisi demikian mencerminkan adanya semangat kebangkitan manusia (renaissance) dan gerakan pencerahan (aufklarung) di Eropa Barat. Manusia menjadi bebas dari belenggu agama dan Tuhan. Efek dari sekulerisasi ini melahirkan praktik kapitalisme yang merambah hampir di

Tugas Final : Filsafat Ilmu

sebagian besar negara di dunia. Kapitalisme global mengancam ke semua aspek kehidupan manusia tak terkecuali di bidang ilmu akuntansi. Pada sisi yang lain konsekuensi dari penerapan akuntansi positivistik tersebut menunjukkan dampak yang kurang memuaskan. Fakta menunjukkan banyaknya skandal akuntansi dan manipulasi laporan keuangan yang melanda perusahaan serta rendahnya kepedulian mereka akan tanggung jawab sosial dan lingkungan menyiratkan bahwa terjadi perubahan yang sangat besar pada para pelaku akuntansi. Akuntansi dari sudut pandang positivis atau yang biasa disebut mainstream lebih mempertahankan status quo dan kapitalis, hal ini lah yang coba di bongkar oleh kaum non positivis dalam hal ini kaum kritikal strukturalis dimana: Akuntansi Fungsional mengabaikan dua aspek penting yaitu lingkungan dan sosial sehingga gagal menggambarkan realitas bisnis yang semakin kompleks; Sifat egoisme sangat melekat pada akuntansi fungsional sehingga terefleksi ke dalam bentuk private costs/benefits dan berorientasi melaporkan profit untuk kepentingan pemilik modal/pemegang saham. Oleh karena itu informasi akuntansi menjadi egois dan mengabaikan pihak lain. Akuntansi modern lebih bersifat materialistik sehingga memarjinalkan nilainilai spiritualitas padahal manusia sebagai pelaku akuntansi memiliki dua hal tersebut yakni material dan spiritual. Jika manusia diarahkan untuk menjalankan praktik akuntansi yang beorientasi pada materi (profit) maka perilaku yang muncul berkaitan dengan upaya pencapaian tujuan tersebut berpotensi melanggar aturan dan kehilangan nilai-nilai etika, agama dan moralitas.

Tugas Final : Filsafat Ilmu

2. AKUNTASI DALAM PANDANGAN PARADIGMA KRITIKAL STRUKTURALIS

Pandangan strukturalis radikal terhadap akuntansi akan melihat susunan sosial dari sudut pandang realisme, positivisme, deterministik, dan nomotesis. Pandangan ini berusaha mencari perubahan radikal, emansipasi, dan

menggunakan suatu analisis yang menekankan pada konflik struktural, bentuk dominasi, pertentangan, dan penghapusan. Paradigma ini akan menghasilkan teori akuntansi yang berdasar pada metafora seperti: instrumen dominasi, sistem perpecahan dan bencana. Akuntan strukturalis akan mempertahankan pandangan objektif mengenai dunia sosial, tetapi tetap berfokus pada pertentangan dan kecenderungan krisis yang ditimbulhan oleh proses akuntansi. Tidak seperti humanis radikal yang menekankan pada fenomena super struktural seperti: ideologi dan kesadaran yang terdistorsi, strukturalis radikal pada akuntansi berfokus pada hubungan antara akuntansi dengan hubungan dominasi ekonomi dan politik. Tulisan ini mencoba memaparkan akuntansi dalam perspektif paradigma kritikal strukturalis. Ulasan dimulai dari awal sejarah kemunculan akuntansi kemudian berkembangnya pemikiran akuntansi tersebut. Akuntansi sejak kemunculannya hingga saat ini semakin menunjukkan peran dan fungsinya dalam masyarakat sebagai suatu sistem utama yang memproses dan menghasilkan informasi keuangan, dan akan terus berkembang sejalan dengan perubahan dan perkembangan masyarakat. Peran akuntansi pada analisis klasik Weber mengenai birokrasi sebagai suatu bentuk dominasi, yang pada analisis Robert Michels disebut hukum kaku oligarki:, analisis Marxist yang menyatakan bahwa organisasi timbul sebagai instrumen dominasi yang bermanfaat, yang dipahami sebagai bagian penting dari proses dominasi yang lebih luas dalam masyarakat secara keselurahan. David Cooper menyatakan, Dari sudut pandang golongan strukturalis radikal ini, organisasi merupakan kekuatan sosial yang berusaha mempertahankan

Tugas Final : Filsafat Ilmu

pembagian kerja dan distribusi kekayaan dan kekuasaan dalam masyarakat. Menurut peneliti dalam bidang ini, perspektif penelitian akuntansi terkini sudah hampir hilang, ada aktualitas organisasi yang mencakup diskriminasi- seksual dan ras, pola- pola lapisan sosial dan distribusi kekayaan, kekuasaan dan penghargaan yang tidak merata. Dengan memperhatikan inisiatif akuntansi, pendekatan ini menekankan pada kebebasan relatif praktik, kebijakan, dan teori akuntansi dari kekuatan politis, ekonomi yang terang-terangan. Perkembangan akuntansi dapat dipandang sebagai suatu proses sui generis yang dijabarkan dari dalam. Agenda serupa untuk akuntansi pada pemikiran strukturalis radikal telah jelas dinyatakan, Teori radikal mungkin dapat juga diterapkan pada pertanyaan-pertanyaan khusus akuntansi lebih lanjut. Apa yang mendasari pergeseran utama pada praktik pelaporan yang teratur dan seberapa besar kepentingan yang diberikan akuntan pada perubahan ini? Apakah faktor yang menentukan tingkat etonomi, dibandingkan dengan keuntungan dan kerugian kelompok-kelompok, berapa banyak penjelasan yang diberikan bagi wawasan penulis, seperti yang diungkapkan Benson bahwa aturan itu merupakan kepentingan yang tertahan atau bebas? Apakah tingkat otonomi pemyataan berbeda untuk setiap bidang kepentingan yang diatur? Bagaimanakah seharusnya posisi akuntan terkait dengan lokasi perjuangan aturan pernyataan? Siapakah yang berada pada posisi beijuang untuk mengendalikan peralatan aturan pemyataan, dan bagaimanakah seharusnya Akuntan memilih posisi sebagai pendukung? Dominasi pemikiran neoklasik lanjutan berfungsi untuk mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut dari agenda penelitian akuntansi. Situasi ini akan terns berjalan selama akuntansi tidak jauh dari pemikiran ideal, yaitu segala sesuatunya seharusnya terbuka untuk diadakannya diskusi pada komunitas intelektual. Patut dipahami bahwa studi akuntansi kritis dilakukan atau disetting dalam situasi dan kondisi tertentu. Hal ini menegaskan bahwa disiplin akuntansi tidaklah dikembangkan pada media yang hampa (kosong) namun lahir dalam konteks lingkungan sosial dan masyarakat tertentu. Satu statement yang sangat familiar bahwa akuntansi sangat dipengaruhi oleh lingkungannya (socially constructed),

Tugas Final : Filsafat Ilmu

10

telah menjadi sebuah keniscayaan dalam pengembangan praktek akuntansi. Sekiranya riset akuntansi dilakukan dalam perspektif ini maka sejumlah konsep, kumpulan prinsip maupun teori-teori baru akan muncul sejalan dengan perkembangan lingkungannya yang bersifat kontekstual. Sejalan dengan hal tersebut Geuss (1981) menyatakan bahwa studi akuntansi kritis sangat kental dengan nuansa pencerahan (producing

enlightenment) dan pembebasan (being inherently emancipator). Maksud yang sama juga ditegaskan oleh Catchpowle et al. ( 2004) yakni salah satu pusat perhatian dari teori kritis adalah bagaimana membebaskan manusia dalam lingkungan sosial tertentu dari belenggu alienasi, dominasi dan eksploitasi. Terjadinya kesenjangan distribusi pendapatan antar golongan masyarakat dalam sebuah aktifitas ekonomi di Indonesia disebabkan oleh kontribusi praktek akuntansi. Bahwa akuntansi modern berwajah kapitalistik telah melegalisasikan laba perusahaan kepada para pemilik modal. Semakin besar laba yang didapat maka semakin besar pula pendapatan yang diperoleh para pemilik modal. Laba perusahaan seolah-olah hanya milik para pemilik modal bukan milik karyawan atau masyarakat umum. Akuntansi modern menegasikan bahkan menafikan peran karyawan atau masyarakat umum dalam menghasilkan laba perusahaan. Kaum kritikal mencoba mengkritisi dominasi praktek akuntansi modern yang melegalisasi kekayaan semata-mata untuk para pemilik modal. Akuntansi yang benar tentunya harus berpijak pada prinsip distribusi keadilan yang merata bagi semua pihak ternasuk masyarakat di luar perusahaan. Oleh karena itu perlu adanya reformasi pada bentuk akuntansi saat ini supaya lebih bernilai keadilan. Kritik yang dilakukan secara konsisten akan berdampak pada upaya meluruskan kembali situasi kemapanan yang cenderung membelenggu dan mendominasi pada jalan keadilan bagi semua pihak (bukan hanya pemilik modal) tak terkecuali pada praktek akuntansi.

Tugas Final : Filsafat Ilmu

11

3. Dekonstruksi Akuntansi
dekonstruksi nilai postulat akuntansi dan konsep teori akuntansi adalah Persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan stakeholder yang meliputi mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri, mendapatkan perlakuan yang manusiawi sebagaimana mestinya tanpa diskriminasi, tidak meremehkan, tidak mengeksploitasi, apalagi menyiksa, dan mendapatkan kesejahteraan yang adil dan proporsional. Berlandaskan nilai-nilai Ketuhanan (Jujur & Amanah), Kebijaksanaan (mengedepankan kearifan local), Peri Kemanusiaan (mengedepankan cinta kasih antar sesama) dan cinta tanah air (perlindungan terhadap lingkungan, bangsa dan negara). Sehingga konsep ini berpandangan bahwa Owners Capital, Owners Employess, Owners Manager dan Owener Society mendapatkan persamaan hak dalam hal perlakukan

kesejahteraan. Sehingga dalam pandangan emansipasi pemilik perusahaan adalah pemodal, manajemen, buruh dan masyarakat. Untuk itu, konsep teoritis akuntansi merupakan pernyataan yang harus dapat dibuktikan kebenarannya untuk menopang dan mewujudkan tujuan laporan keuangan yang menggambarkan sifat-sifat akuntansi yang berperan dalam ekonomi bebas yang ditandai oleh adanya pengakuan pada kepemilikan bersama. Dengan demikian, perubahan yang diharapkan dari dekonstuksi akuntansi kritis ini adalah Pertama, membongkar paham akuntansi kapitalis dengan mendekonstruksi akuntansi yang melihat manusia (buruh) bukan sebagai mesin, pendulang Income bagi kepentingan manajemen dan Kas untuk meningkatkan kekayaan/kesejahteraan bagi kasta tertinggi dalam akuntansi yakni pemilik modal, namun akuntansi melihat buruh, manajemen dan pemodal adalah sama-sama pemilik. Sehingga baik buruh, manajemen dan pemodal mendapatkan

kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri, mendapatkan perlakukan yang manusiawi sebagaimana mestinya tanpa diskriminasi, tidak meremehkan, tidak mengeksploitasi, apalagi menyiksa, dan mendapatkan kesejahteraan yang adil dan proporsional. Dengan mengedepankan moral, etika, jujur dan amanah.

Tugas Final : Filsafat Ilmu

12

Kedua, membongkar keyakinan kaum positivis bahwa akuntansi itu benar atau salah tidak dibutuhkan pembuktian. Melainkan ketika terjadi pelanggaran dalam praktek akuntansi perlu ada pembuktian sehingga diketahui siapa yang benar dan siapa yang salah jika yang salah adalah akuntansi maka dilakukan perbaikan konsep teori yang melatarbelakangi praktek akuntansi. Namun jika oknum yang salah maka sangki tegas harus diberikan. Ketiga membongkar keyakinan bahwa akuntansi itu tidak membutuhkan moral, etika apalagi kejujuran dan amanah, karena akuntansi merupakan sekuler. Dengan mendekonstruksi konsep akuntansi fungsional maka uentuk tujuan income disyaratkan mengedepankan nilai-nilai ketuhanan, kebijaksanaan, peri kemanusiaan dan cinta tanah air, sehingga peran moralitas, etika, kejujuran dan amanah serta kecintaan terhadap pelestarian lingkungan, bangsa dan negara sanggat dominan. Hal ini jelas menunjukan bahwa dengan konsep akuntansi terbebas dari sekuler.

Tugas Final : Filsafat Ilmu

13

KESIMPULAN

Akuntansi semakin menunjukkan peran dan fungsinya dalam masyarakat sebagai sistem yang memproses dan menghasilkan informasi keuangan dan akan terus berkembang sejalan dengan perubahan dan perkembangan masyarakat terutama dalam masyarakat bisnis. Sejarah akuntansi adalah studi tentang evolusi pemikiran, praktik dan institusi akuntansi sebagai tanggapan terhadap perubahan lingkungan dan kebutuhan sosial. Pandangan strukturalis radikal terhadap akuntansi tidak hanya sekedar angka-angka untuk para pemilik modal tapi juga tetap memperhatikan lingkungan dan mempertahankan pandangan objektif mengenai dunia social. Kaum kritikal mencoba mengkritisi dominasi praktek akuntansi modern yang melegalisasi kekayaan semata-mata untuk para pemilik modal. Akuntansi yang benar tentunya harus berpijak pada prinsip distribusi keadilan yang merata bagi semua pihak ternasuk masyarakat di luar perusahaan dan lingkungan. Akuntansi Kritis berpandangan bawah: 1) Manusia (buruh) bukan sebagai mesin, pendulang Income bagi kepentingan manajemen dan Kas untuk meningkatkan kekayaan/kesejahteraan bagi kasta tertinggi dalam akuntansi yakni pemilik modal, namun akuntansi melihat buruh, manajemen dan pemodal adalah sama-sama pemilik, 2) Ketika terjadi pelanggaran dalam praktek akuntansi perlu ada pembuktian sehingga diketahui siapa yang benar dan siapa yang salah jika yang salah adalah akuntansi maka dilakukan perbaikan konsep teori yang

melatarbelakangi praktek akuntansi. Namun jika oknum yang salah maka sangki tegas harus diberikan. 3) Untuk tujuan income disyaratkan mengedepankan nilai-nilai ketuhanan, kebijaksanaan, peri kemanusiaan dan cinta tanah air, penekanannya adalah peran aktif moralitas, etika, kejujuran, amanah serta kecintaan terhadap pelestarian lingkungan, bangsa dan negara.

Tugas Final : Filsafat Ilmu

14

DAFTAR PUSTAKA

Andrianto, Jati dan Gugus Irianto. 2008. Akuntansi & Kekuasaan : dalam konteks Bank BUMN Indonesia. FE Univ. Brawijaya & Aditya Media Publishing. Malang.

Burrell, G dan G. Morgan, 1979, Sociological Paradigms and Organisational Analysis : Elements of The Sociology of Corporate Life. Heinemann Educational Books, London

Roslender, R. 1992. Sociological Perspectives on Modern Accountancy. London and New York:

Soetriono dan SRDm Rita Hanafie. 2007. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. CV Andi Offset. Yogyakarta.

Triyuwono, Iwan. 2006. Perspektif, Metodologi, Dan Teori Akuntansi Syariah. Edisi Satu. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada. http://kumparta.blogspot.com/2012/07/akuntansi-emansipasi-agenda_143.html

Tugas Final : Filsafat Ilmu

15

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR .. DAFTAR ISI PENDAHULUAN .. 1. Pengertian Paradigma ... 2. Paradigma Strukturalis . AKUNTANSI DARI SUDUT PANDANG PARADIGMA KRITIKAL STRUKTURALIS .. 1. Napak Tilas Akuntansi... 2. Akuntansi dari sudut pandang kritikal strukturalis ... 3. Dekonstruksi Akuntansi .... KESIMPULAN .... DAFTAR PUSTAKA

i ii iii 1 1 3

6 6 8 11 13

Tugas Final : Filsafat Ilmu

16

KATA PENGANTAR
Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunianya yang telah diberikan sehingga penulis dapat

menyelesaikan penyusunan Makalah Potret Akuntasi dari Lensa Kritikal Strukturalis. Makalah ini diajukan sebagai tugas Final dalam matakuliah Final Filsafat Ilmu Penulis menyadari bahwa penulisan dan penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu adanya masukan, pendapat, maupun kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan. Semoga hasil makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan menambah kazana pengetahuan mengenai paradigm kritikal strukturalis dalam melihat Akuntansi.

Makassar, 20 Januari 2013

Bertha Beloan

Tugas Final : Filsafat Ilmu

17

Tugas Final : Filsafat Ilmu

18

Tugas Final : Filsafat Ilmu

19