Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk yang penuh misteri. Banyak hal-hal yang belum terungkap sepenuhnya dalam diri manusia. upaya-upaya untuk memahami pribadi manusia ini telah dilakukan oleh para ahli sejak lama bahkan hingga saat ini. Hal ini dibuktikan dengan bukubuku kontemporer yang membahas tentang kepribadian manusia yang terus dicetak dan diperbaharui dari tahun ketahun. Salah satu upaya yang dilakukan oleh para ahli untuk memahami kepribadian manusia adalah dengan disusunnya teori-teori konseling. Agar memberikan Penjelasan mengenai fenomena-fenomena tersebut maka lahirlah teori-teori konseling yang diharapkan dapat memberi kemudahan kepada kita untuk mendapatkan pemahaman tentang manusia. Menurut Hall dan Lindzey (Farozin dan Fathiyah, 2004:5) sebuah teori konseling yang diharapkan mampu memberikan jawaban atas pertanyaan sekitar apa, bagaimana, dan mengapa tentang tingkah laku manusia. Sejak zaman dahulu hingga saat ini telah banyak teori-teori konseling yang telah ditemukan dan diajarkan oleh para ahli-ahli psikologi. Salah satunya adalah konseling ego yang dikemukakan oleh Erik Erikson. Makalah ini membahas tentang konseling ego yang memberikan peranan dalam pembentukan tingkah laku kehidupan seseorang.

BAB II PEMBAHASAN A. Penemu Konseling Ego Konseling ego dipopulerkan oleh Erik Homburger Erikson dilahirkan di Frankurt, Jerman pada tanggal 15 juni 1902. Sangat sedikit yang bisa diketahui tentang asal usulnya. Ayahnya adalah seorang laki-laki berkebangsaan Denmark yang tidak dikenal namanya dan tidak mau mengaku Erikson sebagai anaknya sewaktu masih dalam kandungan dan langsung meninggalkan ibunya. Ibunya bernama Karla Abrahamsen yang berkebangsaan Yahudi. Saat Erikson berusia tiga tahun ibunya menikah lagi dengan seorang dokter bernama Theodore Homburger, kemudian mereka pindah kedaerah Karlsruhe di Jerman Selatan. Pada 1911 Erik secara resmi diadopsi oleh ayah tirinya. Nama Erik Erikson dipakai pada tahun 1939 sebagai ganti Erik Homburger. Erikson menyebut dirinya sebagai ayah bagi dirinya sendiri, nama Homburger direduksi sebagai nama tengah bukan nama akhir. Erikson adalah NeoFreudian, digambarkan sebagai seorang psikolog ego yang mempelajari tahap pembangunan yang mencakup seluruh siklus hidup. Setiap tahap menurut Erikson dalam pengembangan psikososial ditandai oleh konflik, untuk yang resolusi sukses akan menghasilkan hasil yang menguntungkan, misalnya, kepercayaan vs ketidakpercayaan dan oleh sebuah peristiwa penting, maka konflik ini terselesaikan sendiri. Perbedaan ego menurut Freud dengan ego menurut Erikson adalah: Menurut Freud ego tumbuh dari id, sedangkan menurut Erikson ego tumbuh sendiri yang menjadi kepribadian seseorang.

B. Konsep Konseling Ego Konseling ego memiliki ciri khas yang lebih menekankan pada fungsi ego. Erikson membangun di atas konsep Freud pada tahap perkembangan, memperluas target sendiri melalui seluruh siklus hidup, dari lahir sampai mati. Salah satu kontribusi besar Erikson adalah menekankan interaksi individu dengan lingkungan sosial dalam membentuk kepribadian, ego telah berakar dalam organisasi sosial. Erikson menjelaskan bahwa ego itu memiliki kreatifitas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, tidak hanya di tentukan oleh faktor internal yang berasal dari dalam diri individu, tetapi juga di tentukan oleh faktor sosial dan budaya tempat individu itu berada. Kegiatan konseling yang dilakukan pada umumnya bertujuan untuk memperkuat ego strength, yang berarti melatih kekuatan ego

klien. Seringkali orang yang

bermasalah adalah orang yang memiliki ego yang lemah.

Misalnya, orang yang rendah diri, dan tidak bisa mengambil keputusan secara tepat dikarenakan ia tidak mampu memfungsikan egonya secara penuh, baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, maupun meraih keinginannya. Erikson memandang ego sebagai kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri secara kreatif dan otonom. Ciri khas Psikologi Ego yang dikemukakan Erikson yaitu: 1. Erikson menekankan kesadaran individu untuk menyesuaikan diri dengan pengaruh sosial. Pusat perhatian psikologi ego adalah kemasakan ego yang sehat 2. Erikson mengemukakan bahwa fungsi ego dalam pemecahan masalah, persepsi, identitas ego, dan dasar kepercayaan bebas dari id, membangun sistem kerja sendiri yang terlepas dari sistem kerja id. 3. Erikson menganggap ego sebagai sumber kesadaran diri seseorang. Selama menyesuaikan diri dengan realita, ego mengembangkan perasaan yang berkelanjutan pada diri dengan masa lalu dan masa yang akan datang.

C. Asumsi Tentang Manusia Erikson beranggapan bahwa manusia tidaklah bertingkah laku berdasarkan pada instink atau semata-mata memenuhi kebutuhannya. Manusia tidaklah didorong oleh energi dari dalam, tetapi manusia itu lahir ke dunia untuk merespon perangsang yang berbeda-beda, misalnya individu dalam kehidupannya perlu menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungannya, perlu melakukan sesuatu untuk keperluan orang lain di sekitarnya dan lainlain. Dari asumsi tersebut maka Erikson memberikan pemahaman mengenai konseling ego dimana lebih menekankan peranan ego dalam kehidupan seseorang. Egolah yang mengembangkan segala sesuatunya, misalnya kemampuan individu, keadaan dirinya, penyaluran minatnya, hubungan sosialnya dan sebagainya.

D. Fungsi Ego Fungsi ego yang terdapat dalam diri individu dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: 1. Fungsi Dorongan Ekonomis Ego berfungsi untuk menyalurkan dengan cara mewujudkan dalam bentuk tingkah laku secara baik yaitu yang baik dan dapat diterima oleh lingkungan. 2. Fungsi Kognitif Ego berfungsi pada diri individu untuk menerima rangsangan dari luar kemudian menyimpannya setelah itu dapat mempergunakannya untuk suatu keperluan. 3. Fungsi Pengawasan Ego ditekankan sebagai fungsi kontrol, maksudnya ego tidak membiarkan tingkah laku seseorang itu sembarangan tapi hendaknya merupakan tingkah laku yang terpola dan menurut aturan tertentu.

E. Perkembangan Tingkah Laku Salah Suai Erikson merumuskan munculnya tingkah laku salah suai pada diri seseorang disebabkan oleh tiga faktor, yaitu : 1. Individu di masa lalunya kehilangan kemampuan atau tidak diperkenankan merespon rangsangan dari luar secara tepat sehingga pada saat sekarang menjadi salah suai dalam bertingkah. 2. Apabila pola coping yang sudah terbina pada dirinya sekarang tidak sesuai lagi dengan situasi sekarang. 3. Fungsi ego tidak berjalan dengan baik, saat bertingkah laku salah satu fungsi ego atau ketiga-tiganya tidak berfungsi dengan baik, misalnya individu tersebut tidak mempertimbangkan untung ruginya dalam bertingkah laku, kurang memanfaatkan pikiran atau kurang mengontrol perasaan, sehingga menjadi sorotan dari lingkungan dan tentu saja menimbulkan ketidaknyamanan bagi individu.

F. Tujuan Konseling dan Proses Konseling menurut pandangan Erikson 1. Tujuan Konseling Tujuan konseling berdasarkan pandangan Erikson adalah memfungsikan ego klien yang sebelumnya tidak berfungsi dengan penuh. Selain itu tujuan konseling itu adalah melakukan perubahan pada diri klien sehingga terbentuk Coping Behavior yang dikehendaki dan dapat terbina dan agar ego klien itu dapat lebih kuat (ego integrety). Coping behavior adalah kemampuan atau tingkah laku individu yang dapat menangani suatu masalah secara tepat dan hasilnya baik.

2.

Proses Konseling

Langkah-langkah dalam penyelenggaraan konseling ego adalah : a. Pertama-tama membantu klien mengkaji perasaan-perasaannya berkenaan dengan kehidupan, juga feeling terhadap peranan-peranannya, feeling penampilannya dan halhal lain yang bersangkut paut dengan tugas-tugas kehidupannya. b. Klien kita proyeksikan dirinya terhadap masa depan. c. Selanjutnya konselor berusaha mendiskusikan dengan klien hambatan-hambatan yang dijumpainya untuk mencapai tujuan masa depannya d. Kalau pendiskusian tentang hambatan-hambatan itu sudah berlangsung cukup jauh, konselor melalui proses interpretasi dan refleksi, mengajak klien untuk mengkaji lagi diri sendiri dan lingkungannya. Agar konseling ego dapat diselenggarakan dengan efektif, maka ada beberapa aturan dalam konseling ego, yaitu : a. Proses konseling harus bertitik tolak dari proses kesadaran karena dalam suasana sadar itulah fungsi kognitif dapat dilakukan, dalam keadaan sadar, fungsi kognitif ego itu tidak dapat jalan sebagaimana yang diharapkan. b. Proses konseling hendaklah bertitik tolak dari azas kekinian atau tingkah laku sekarang dan tidak membahas nostalgia masa lampau. c. Proses konseling lebih ditekankan pada pembahasan secara rasional, aspek kognitif dan dimensi kognitif yang ada hubungannya dengan bagaimana individu berfikir tentang dasar-dasar tingkah lakunya.

d. Konselor hendaklah menciptakan suasana hangat dan spontan, baik dalam penerimaan klien maupun dalam proses konseling. e. Konseling harus dilakukan secara profesional dan dilakukan oleh konselor-konselor yang sudah terlatih. f. Proses konseling hendaklah tidak berusaha mengorganisir keseluruhan kepribadian individu, tetapi hanya pada pola tingkah laku yang salah suai. G. Teknik Konseling a. Konselor membina hubungan yang akrab dengan kliennya, sehingga dapat muncul kepercayaan pada diri klien terhadap konselornya. b. Usaha yang dilakukan konselor harus dipusatkan pada masalah yang dikeluhkan oleh klien, khususnya pada masalah yang ternyata di dalamnya tampak kekuatan egonya melemah . c. Pembahasan itu dipusatkan pada aspek kognitif, tetapi hal yang mempunyai kaitan langsung dengan perasaan juga disinggung. d. Mengembangkan situasi ambiguitas (keadaan bebas dan boleh kemana saja dan tidak dibatasi, tidak dihalangi, tidak dihambat-hambat). Untuk terbinanya suasana ambiguitas itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu: 1. Konselor memberikan kesempatan kepada klien bagi munculnya perasaan-perasaan dari dalam diri klien. 2. Konselor menyediakan fasilitas yang memungkinkan terjadinya tranference melalui proyeksi. Tranference maksudnya adalah tembus pandang dalam arti bisa dilihat orang. Misalnya pribadi yang tranference adalah pribadi yang tidak miskin dan orang lain boleh melihat pribadi yang terbuka tersebut. Sedangkan proyeksi disini maksudnya adalah mengemukakan sesuatu yang sebetulnya ada pada diri sendiri, tapi menyebutkan hal itu terdapat pada diri orang lain. 3. Pada saat klien melakukan tranference, maka konselor hendaklah melakukan kontak tranference. Maksudnya konselor mengendalikan diri terhadap kesan-kesan pada klien. 4. Konselor hendaknya melakukan diagnosis dengan dimensi-dimensinya, yaitu : - Perincian dari masalah yang sedang dialami klien saat diselenggarakan konseling itu

- Sebab-sebab timbulnya masalah tersebut, bisa juga titik api yang menjadikan masalah tersebut menyebar saat ini - Letaknya masalah itu dimana, apakah pada kebiasaan klien, sikapnya atau pada cara tingkah laku yang dilakukan pada saat itu - Kekuatan dan kelemahan masing-masing orang yang bermasalah, misalnya apa yang dimilikinya baik yang sifatnya tidak dimilikinya. 5. Membangun fungsi ego yang baru dengan cara : - Dengan mengemukakan berbagai gagasan-gagasan baru - Berdasarkan diagnosis dan gagasan tersebut langsung diberikan upaya pengubahan tingkah laku Pembuatan kontrak untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang telah diputuskan dalam konseling. H. Kekuatan dan Kelemahan Konseling Ego a. Kelemahan Konseling Ego 1. Konselor hanya menggunakan teknik konseling biasa karena tidak ada teknik khusus yang bisa diterapkan untuk menggali masalah klien 2. Lebih memusatkan pada ciri individu yang normal dan sadar, daripada mengungkapkan motif tidak disadari 3. Apabila individu tertekan oleh keadaan yang menimpanya dan ego kehilangan kontrol, maka kontrol terhadap tingkah laku beralih dari kesadaran ke ketidaksadaran sehingga beralih dari ego ke id. b. Kelebihan Konseling Ego 1. Membangun identitas ego klien, serta memperluas dan memperkuat berfungsinya sistem ego 2. Konseling ego tidak hanya mementingkan permasalahan yang terjadi pada masa balita saja, tetapi juga masa setelah itu. 3. Dapat membangun dan membentuk tingkah laku yang tepat sesuai dengan penekanan adanya kekuatan ego (ego strengh) 4. Setelah dilakukannya konseling maka individu dapat menggerakkan dirinya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya

5. Memperkuat tiga fungsi ego, yaitu fungsi dorongan ekonomis, fungsi kognitif dan fungsi pengawasan 6. Kembalinya kemampuan seseorang untuk mengembangkan coping behavior dalam setiap kali menghadapi masalah-masalah dalam kehidupannya.

BAB III PENUTUP


Kesimpulan

Model konseling ego lebih menekankan pada fungsi ego, yaitu dengan menonjolkan ego strength (kekuatan ego). Individu yang memiliki ego yang kuat akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan membina hubungan sosial yang harmonis bersama orang lain. Dalam perkembangan individu Erikson membaginya menjadi perkembangan yang sukses dan perkembangan yang gagal pada setiap tahap perkembangan.

DAFTAR PUSTAKA

Alwisol (2009). Psikologi Kepribadian, Edisi Revisi. Malang: UMM Press. Suryabrata, S (2011). Psikologi Kepribadian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.