Anda di halaman 1dari 17

DASAR STANDAR PROFESI KONSELING

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Profesi Bimbingan dan
konseling

Dosen Pengampu : Dony Darma Sagita, M.Pd

Oleh

1. Bella Nike Nurmalina (1501015024)


2. Mardy Handika (1501015142)
3. Nazilatu Annisaa Rahman (1501015084)
4. Siti Aulia Rahmah (1501015112)
5. Tri Ulan Sari (1501015124)

PROGRAM PENDIDIKAN BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan, rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya penulis dapat
menyelesaikan makalah ini dengan baik meskipun masih ada kekurangan
didalamnya. Dan juga penulis berterima kasih kepada Bapak Dony Darma Sagita,
M.Pd selaku dosen mata kuliah Profesi Bimbingan dan Konseling yang telah
memberikan tugas ini.

Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka


menambah wawasan serta pengetahuan kita. Penulis juga menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh sebab itu, penulis berharap adanya kritik dan saran membangun untuk
perbaikan makalah yang akan dibuat dimasa yang akan datang.

Semoga makalah ini dapat dipahami bagi pembaca. Sekiranya makalah


yang telah disusun ini dapat berguna bagi pembaca. Sebelumnya penulis mohon
maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan.

Jakarta, 11 Oktober 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .................................................................................... 1


B. Rumusan Masalah ............................................................................... 2
C. Tujuan ................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Kredensialisasi Profesi Konseling........................................................ 3


B. Organisasi Dan Kode Etik Profesi Konselor ........................................ 4
C. Agenda Pengembangan Profesi Konselor ............................................ 6

BAB III SIMPULAN .................................................................................... 11


DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Istilah profesional memiliki dua pengertian. Pertama, profesional

menunjuk pada orang yang pekerjaannya merupakan suatu profesi. Kedua,

professional artinya kinerja seseorang sesuai dengan profesinya.

Profesionalisasi adalah proses penyiapan dan peningkatan kemampuan tenaga-

tenaga professional.

Kredensialisasi merupakan penganugerahan kepercayaan kepada konselor

profesional yang menyatakan bahwa yang bersangkutan memiliki kewenangan

dan memperoleh lisensi untuk menyelenggarakan layanan profesional secara

independen kepada masyarakat maupun di lembaga tertentu.

Pemberian kewenangan yang dimaksudkan itu dilakukan berdasarkan aturan

kredensial yang dikeluarkan oleh pihak-pihak yang berwenang. Aturan kredensial

itu meliputi pemberian sertifikasi, akreditasi, dan lisensi.

B. Rumusan Masalah

1. Apa itu kredensialisasi profesi konseling ?

2. Bagaimana organisasi dan kode etik profesi konselor ?

3. Bagaimana agenda pengembangan profesi konselor ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui apa itu kredensialisasi profesi konseling

2. Untuk mengetahui bagaimana organisasi dan kode etik profesi

konselor
3. Untuk mnegetahui bagaimana agenda pengembangan profesi

konselor
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kredensialisasi Profesi Konseling


Dalam dunia profesi, kemampuan seorang tenaga professional atau
lembaga yang bersangkut paut dengan profesi diuji dan kepadanya
diberikan tanda bukti bahwa yang bersangkutan benar-benar diyakini dan
dapat diberi kepercayaan untuk melaksanakan tugas dalam bidang profesi
yang dimaksudkan.
Kredensialisasi adalah penganugerahan kepercayaan kepada
konselor profesional yang menyatakan bahwa yang bersangkutan memiliki
kewenangan dan memperoleh lisensi untuk menyelenggarakan layanan
profesional secara independen kepada masyarakat maupun di dalam
lembaga tertentu. Lisensi diberikan oleh ABKIN atas dasar permohonan
yang bersangkutan. Pemberian lisensi deberikan atas hasil assesmen
nasional yang dilakukan oleh ABKIN melalui Badan Akreditasi dan
Kredensialisasi Konselor Nasional.

1. Jenis-jenis Kredensialisasi
Pengujian dan pemberian tanda bukti yang dimaksudkan itu
dilakukan berdasarkan aturan kredensial yang dikeluarkan oleh pihak-
pihak yang berwenang. Aturan kredensial itu meliputi pemberian
akreditasi, sertifikasi, dan lisensi.

a. Akreditasi
Akreditasi memberikan derajat penilaian terhadap kondisi
yang telah dimiliki oleh satuan pengembang dan/atau pelaksana
konseling, seperti Program Studi Bimbingan dan Konseling di
LPTK, yang menyatakan kelayakan program satuan pendidikan
atau lembaga yang dimaksud. Keterlibatan ABKIN dalam
melakukan akriditasi dipandang penting karena ABKIN adalah
institusi yang menetapkan kompetensi nasional yang harus dicapai
melalui program pendidikan konselor di LPTK (Lembaga
Pendidikan Tenaga Kependidikan). Dengan sertifikasi dan
akriditasi , pekerjaan bimbingan dan konseling akan menjadi
profesional karena hanya dilakukan oleh konselor yang telah
tersertifikasi.
Lembaga pendidikan konselor perlu diakreditasi untuk
menjamin mutu lulusannya. Akreditasi itu meliputi penilaian
terhadap misi, tujuan, struktur dan isi program, jumlah dan mutu
pengajar, prosedur, seleksi, mutu penyelenggaraan program,
potensi pengembangan lembaga, unsur-unsusr penunjang dan
hubungan masyarakat. Untuk dapat diselenggarakannya akreditasi
secara baik, perlu terlebih dahulu ditetapkan standar pendidikan
konselor yang berlaku secara nasional. Penyusunan standar ini
menjadi tugas bersama organisasi profesi bimbignan dan konseling
dan pemerintah.
Akreditasi dikenakan terhadap lembaga pendidikan, baik
milik pemerintah maupun swasta. Penyelenggara akreditasi ialah
pemerintah dengan bantuan organisasi profesi bimbingan dan
konseling.
Akreditasi merupakan prosedur yang secara resmi diakui
bagi suatu profesi untuk memepengaruhi jenis dan mutu anggota
profesi yang dimaksud (Steinhouser & Bradley, dalam Prayitno,
1987 ).
Tujuan pokok akreditasi adalah untuk memantapkan
kreatifitas profesi. Tujuan ini lebih lanjut dirumuskan sebagai
berikut :
a) Untuk menilai bahwa program yang ada memenuhi standar
yang ditetapkan oleh profesi
b) Untuk menegaskan misi dan tujuan program
c) Untuk menarik calon konselor dan tenaga pengajar yang
bermutu tinggi
d) Untuk membantu para lulusan memenuhi tuntutan
kredensial seperti lisensi
e) Untuk meningkatkan kemampuan program dan pengakuan
terhadap program tersebut
f) Untuk meningkatkan program dari penampilan dan
penutupan
g) Untuk membantu mahasiswa yang berpotensi dalam seleksi
memakai program pendidikan konselor
h) Memungkinkan mahasiswa dan staf pengajar berperan serta
dalam evaluasi program secara intensif
i) Membantu para pemakai lulusan untuk mengetahui
program mana yang telah standar
j) Untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat
pendidikan, masyarakat profesi dan masyarakat pada
umumnya tentang kemantapan pelayanan bimbingan dan
konseling.
b. Sertifikasi
Sertifikasi ialah memberikan pengakuan bahwa seseorang
telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan pelayanan
konseling pada jenjang dan jenis setting tertentu, setelah lulus uji
kompetensi yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan tenaga
profesi konseling yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi.
Sertifikasi merupakan upaya untuk memantapkan dan
menjamin profesionalisasi bimbingan dan konseling. Para lulusan
pendidikan konselor yang akan bekerja di lembaga-lembaga
pemerintah, misalnya di sekolah-sekolah, diharuskan menempuh
program sertifikasi yang diselenggarakan oleh pemerintah.
Sedangkan mereka yang bekerja diluar lembaga atau badan
pemerintah diwajibkan memperoleh lisensi atau sertifikat
kredensial dari organisasi profesi bimbingan dan konseling. Hal ini
semua dimaksudkan untuk menjaga profesionalitas para petugas
yang akan menangani pelayanan bimbingan dan konseling.
c. Lisensi
Lisensi memberikan ijin kepada tenaga profesi bimbingan
dan konseling untuk melaksanakan praktik pelayanan bimbingan
dan konseling pada jenjang dan setting tertentu, khususnya untuk
praktik mandiri (privat). Lisensi diberikan oleh ABKIN atas dasar
permohonan yang bersangkutan, berlaku untuk masa waktu
tertentu dan dilakukan evaluasi secara periodik untuk menentukan
apakah lisensi masih bisa diberikan. Pemberian lisensi diberikan
atas hasil assessment nasional yang dilakukan ABKIN melalui
BAKKN (Badan Akreditasi dan Kredensialisasi Konselor
Nasional). Seorang konselor tidak secara otomatis memperoleh
kredensialisasi kecuali atas dasar permohonan dan melakukan
secara nyata layanan profesi bagi masyarakat atau sekolah.
2. Arah dan Sasaran Kredensialisasi
Sertifikasi, akreditasi, dan lisensi diberikan kepada perorangan,
kelompok, atau lembaga pengembang dan/atau pelaksana konseling, yaitu:
1. Sertifikasi kepada Sarjana (S-1) Konseling untuk bekerja pada setting
pendidikan.
2. Lisensi kepada Konselor (umum dan spesialis) untuk membuka praktik
mandiri (privat).
3. Sertifikasi kepada Magister (S-2) dan Doktor (S-3) Konseling untuk
menyelenggarakan kegiatan akademik (seperti mengajar, melatih, dan
meneliti) dalam bidang konseling.
4. Sertifikasi kepada alumni pelatihan konseling tertentu untuk kegiatan-
kegiatan khusus dalam bidang konseling.
5. Akreditasi kepada lembaga pendidikan konseling untuk
menyelenggarakan pendidikan tenaga profesi konseling, baik yang bersifat
prajabatan maupun dalam-jabatan.
6. Akreditasi kepada lembaga pelayanan konseling di masyarakat, untuk
melakukan praktik pelayanan kepada warga masyarakat luas, baik yang
dilakukan oleh pemerintah maupun pihak lain.
B. Organisasi dan Kode Etik Profesi Konselor
Organisasi merupakan suatu system aktifitas kerja sama yang
dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan yang telah di
tetapkan. Sementara itu, yang di maksud organisasi profesi adalah
organisasi masyarakat yang mewadahi suatu pekerjaan spesifik yang
membutuhkan suatu keahlian. Organisasi merupakan suatu tempat wadah
para anggota profesi tersebut menggabungkan diri untuk mendapat
perlindungan.
Kelahiran suatu organisasi profesi tidak lepas dari perkembangan
jenis bidang pekerjaan yang bersangkutan karena organisasi tersebut
terbentuk atas dasar prakasa dari pra pengemban bidang pekerjaan
tersebut. Alasan yang mendasari kelahiran suatu organisasi profesi
sangatlah bervariasi, ada yang bersifat sosial, politik, ekonomi, budaya,
atau falsafah tentang system nilai. Akan tetapi pada umumnya, suatu
organisasi profesi terbentuk dari latar belakang solidaritas di antara para
pengemban bidang pekerjaan yang bersangkutan, dorongan diri dari dalam
diri mereka sendiri (secara intrinsic), dan dapat pula dikarenakan
lingkungan mereka (secara ekstrinsik). Dorongan yang datang dari diri
dalam sendiri pada umumnya berkaitan erat dengan permasalahan nasib,
dalam arti kesadaran atas kebutuhan untuk berkehidupan secara baik
sesuai bidang pekerjaanya. Selain itu, juga terdapat dorongan atas
semangat pengabdian untuk menunaiukan tugas secara baik dan ikhlas.
Sementara itu, dorongan dari luar profesi pada umumnya terdorong oleh
tuntutan dari masyarakat pengguna jasa, adanya pesaingan serta
perkembangan atau perubahan dalam dunia kerja sesuai dengan
perkembangan ilmudan tekhnologi.
Tuntutan dan tantangan internal dan eksternal tersebut mustahil
dapat dihadapi dan di selesaikan oleh para pengemban suatu bidang
pekerjaan secara individual. Inilah sebabnya para pengemban suatu bidang
pekerjaan membutuhkan suatu wadah organisasi yang dapat memiliki
wibawa (authority) dan kekuatan (power) untuk menentukan arah dan
kebijakan dalam melakukan tindakan bersama (collective action) guna
melindungi dan memperjuangkan kepentingan para pengemban profesi,
kepentingan pengguna jasa (stakeholders), dan masyarakat pada
umumnya.
Bentuk organisasi ternyata cukup bervariasi jika di pandang dari
segi keeratan dan keterikatan antara para anggotanya. Bentuk organisasi
profesi diantaranya :
1. Persatuan (Union), contohnya Persatuan Guru Replublik Indonesia
(PGRI), Australion Union, Singaphore Teavher’s Union, Japan
Teacher’s Union.
2. Federasi (Federation), contohnya All India federation of Teacher
Organization, Bangladesh Of Teacher’s Federation.
3. Aliansi (Alliance), contohnya Elementary Education Teachers
Assocatin Of Thailand.
Keragaman bentuk organisasi juga menyebabkan status
keanggotaan bervariasi. Organisasi yang bersifat asosiasi atau persatuan
milik sifat keanggotaan setiap langsung dari setiap pribadi atau setiap
pengemban profesi yang bersangkutan, sedangkan federasi atau
perserikatan keanggotaanya cukup terbatas dari pucuk organisasi yang
berserikat saja.
1. Organisasi Profesi Bimbingan Konseling di Indonesia
Saat ini, profesi bimbingan dan konseling di Indonesia mewadahi
diri dalam organisasi yang di beri nama Asosiasi Bimbingan dan
Konseling Indonesia (ABKIN), yang sebelumnya yang bernama Ikatan
Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) yang berdiri pada tanggal 17
Desember 1975 di Malang. Pada saat itu, IPBI menghimpun konselor
lulusan Progam Sarjana Muda dan sarjana yang bertugas di sekolah dan
para pendidik konselor yang bertugas di LPTK, di samping para konselor
dengan bragam latar belakang yang secara de facto bertugas sebagai guru
pembimbing dilapangan. Saat ini, AKBIN menghimpun anggota profesi
yang memiliki berbagai keahlian dan latar belakang yang lebih luas di
bandingkan IPBI, diantaranya adalah para pendidik konselor, guru
pembimbing dan konseling di sekolah, konselor di perusahaan, dan para
professional yang bergerak dalam devisi serupa. Saat ini AKBIN memiliki
6 devisi, yaitu :
a. IIBKIN singkatan dari Ikatan Instrumentasi Bimbingan dan
Konseling Indonesia. Devisi ini beranggotakan para konselor yang
memiliki keahlian dan lisensi dalam mengadsministrasikan
tespsikologi.
b. IBKS Ikatan Bimbingan dan Konseling Sekolah. Devisi ini
beranggotakan para guru bimbingan dan konseling yang bertugas
di sekolah mulai SD, SMP, SMA dan SMK sederajat.
c. IKI singkatan dari Ikatan Konselor Indonesia. Devisi ini
beranggotakan para alumni Progam Pendidikan Konselor.
d. IKIO sengkatan dari Ikatan Konselor Industri dan Organisasi.
Devisi ini beranggotakan para konselor yang bertugas di
lingkungan industry dan organisasi sosial kemasyarakatan.
e. IPSIKON singkatan dari Ikatan Pendidikan dan Supervisi
Konselor. Devisi ini beranggotakan para pendidik konselor.
f. IPKOPTI singkatan dari Ikatan Bimbingan dan Konseling
Perguruan Tinggi. Devisi ini beranggotrakan para konselor yang
bertugas di perguruan tinggi.
Dalam menjalankan visinya, organisasi profesi bimbingan dan
konseling memiliki misi sebagai berikut :

a. Meningkatkan kualitas proses dan hasil pelaksanaan bimbingan


dan konseling.
b. Meningkatkan pembinaan dan pengembangan profesi bimbingan
konseling.
c. Meningkatkan kesejahteraan konselor.
d. Memberi perlindungan hukum pada konselor dalam menjalakankan
tugas profesinya.
e. Meberi layanan pada masyarakat pengguna jasa profesi bimbingan
dan konseling.

Fungsi organisasi profesi (dalam hal ini AKBIN ) adalah:

a. Memantapkan landasan keilmuan dan tekhnologi dalam wilayah


konseling.
b. Menetapkan standarp rofesikonseling
c. Mengadakan kolaborasi dengan lembaga pendidikan konselor
dalam menyiapkan tenaga profesi konseling.
d. Menyiapkan atau melaksanakan upaya kredensialisasi bagi tenaga
profesi konseling dan lembaga pengembangnya.
e. Mensupervisi pelayanan konseling yang dilakukan oleh perorangan
maupun lembaga.
f. Melakukan advokasi, baik terhadap anggota profesi maupun
penerima layanan profesi konseling.
g. Membina kerja sama dengan organisasi profesi sejenis dari
berbagai Negara.
h. Membina kerja sama dengan pemerintah, masyarakat, dan profesi
lain-lain.
i. Sebagai sarana komunikasi bagi para konselor dan pusat informasi
tentang perkembangan bimbingan dan konseling.
Untuk mewujudkan misi, fungsi, dan perannya, ABKIN memiliki
progam yang di susun dan sipertanggungjawabkan melalui kongres
ABKIN. Secara garis besar, progam ABKIN mencakup hal-hal sebagai
berikut.
a. Pengembangan kemampuan professional dan karier para anggota
ABKIN melalui kegiatan ilmiah dan professional, seperti pelatihan,
seminar, workshop, shimposium , penerbitan, dan sebagainya.
b. Peningkata pelaksanaandan hak para anggota ABKIN.
c. Peningkatan pelaksanaan hak dan kewajiban penggunaan layanan
professional.
d. Terlibat dalam pengambilan keputusan yang relevan dengan
keprofessionalan bimbingan dan konseling, misalnya undang-
undang : kurikulum dan penentuan standart pendidikan : latihan
pra jabatan dan dalam jabatan profesi bimbinganm dan konseling.
2. Kode Etik Profesi
Kode etik adalah seperangkat standar, peraturan , pedoman, dan
nilai-nilai yang mengatur/ mengarahkan perbuatan atau tindakan dalam
suatu profesi, atau organisasi bagi para pekerjaatau anggotanya, dan
interaksi antara para pekerja atau anggota dengan masyarakat.
Kode Etik Bimbingan dan Konseling Indonesia merupakan
landasan moral dan pedoman tingkah laku professional yang di junjung
tinggi, di amalkan, dan di amankan oleh setiap anggota profesi bimbingan
dan konseling Indonesia. Kode Etik Bimbingan dan Konseling Indonesia
wajib di patuhi dan di amalkan oleh pengurus dan anggota organisasi
tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/ kota (Anggaran Rumah Tangga
ABKIN, Bab II, Pasal 2)
Etika profesi bimbingan dan konseling adalah kaidah-kaidah
perilaku yang menjadi rujukan sebagai konselor dalam melaksanakan
tugas atau tanggung jawabnya memberikan layanan bimbingan dan
konseli.
Kaidah-kaidah yang dimaksud adalah :
a. Setiap orang berhak untuk mendapatkan penghargaan sebagai
manusia dan mendapat layanan konseling tanpa melihat suku
bangsa, agama atau budaya.
b. Setiap orang/ individu memiliki hak untuk mendapatkan dan
mengarahkan diri.
c. Setiap orang memiliki hak untuk memilih dan bertanggung jawab
terhadap keputusan yang di ambilnya.
d. Setiap konselor membantu perkembangan setiap konseli, melalui
layanan bimbingan dan konseling secara professional.
e. Hubungan konselor-konseli sebagai hubungan yang membantu
yang didasarkan kepada kode etik ( etika profesi ).
BAB III
SIMPULAN

Kredensialisasi adalah penganugerahan kepercayaan kepada konselor

profesional yang menyatakan bahwa yang bersangkutan memiliki kewenangan

dan memperoleh lisensi untuk menyelenggarakan layanan profesional secara

independen kepada masyarakat maupun di dalam lembaga tertentu.

Pengujian dan pemberian tanda bukti yang dimaksudkan itu dilakukan

berdasarkan aturan kredensial yang dikeluarkan oleh pihak-pihak yang

berwenang. Aturan kredensial itu meliputi pemberian akreditasi, sertifikasi, dan

lisensi.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.google.co.id/amp/s/sugithewae.wordpress.com/2012/01/01/pengemb
angan-profesionalisme-konselor/amp/

https://www.academia.edu/30638944/Organisasi_dan_kode_etik

http://sonikuskus.blogspot.com/2012/05/