Anda di halaman 1dari 21

STATUS PENDERITA Masuk RSAY Pukul : 21 Agustus 2012 : 19.

45 WIB

I. II.

IDENTITAS PASIEN Nama penderita Jenis kelamin Umur Agama Suku Status Alamat ANAMNESIS Riwayat Penyakit Keluhan utama Keluhan tambahan : massa di perut bagian bawah : bab dan bak tidak terasa,badan lemas, nafsu makan berkurang, BB turun. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke UGD RSUD A. Yani dengan keluhan massa di perut bagian bawah yang mulai dirasakan pada setahun yang lalu. Awalnya hanya sebesar jempol kaki dewasa namun lama-kelamaan massa semakin membesar hingga saat ini massa sudah sebesar kepalan tangan dewasa. Massa ini terasa nyeri yang semakin memberat 10 hari SMRS. Nyerinya hilang timbul, lama serangan nyeri tidak

: Tn. D : Laki-laki : 33 Tahun : Islam : Jawa : Menikah : Suka Dana, Lampung Timur

menentu. Nyeri semakin memberat pada saat perut diraba, batuk dan kalau banyak bergerak. Jadi untuk mengurangi rasa nyerinya os lebih sering berbaring ditempat tidur. Keluhan massa di perut bagian bawah ini disertai BAB, BAB kadang-kadang cair dan kadang-kadang lembek. Dalam sehari os BAB 4 kali. BAK juga tidak terasa.os mengeluh kembung dan bias buang angin. Mual dan muntah disangkal pasien. waktu SMA os sering makan mie instan, mie ayam dan jajan-jajan siap saji lainnya. Kebiasaan makan instan ini sampe os bekerja. Os mengeluh tidak nafsu makan sejak keluhan benjolan dan merasa berat badannya berkurang. Berat badannya ini berkurang darastis 4 bulan terakhir, berkurang hampir setengah berat badan sebelum keluhannya ini. Os sudah pernah dirawat di RS waktu massa di perutnya masi sebesar jempol kaki. Karena keluahannya menurut pasien dan keluarga tidak apa-apa. Keluarga sepakat untuk pulang dan rawat jalan atas permintaan sendiri. Saat ditanya diagnosis dan pemeriksaan penunjang usg dan rontegen os dan keluarga tidak tahu.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pernah mengeluh keluhan yang sama pada saat massa diperut masi kesil kira-ra setahun yang lalu. Os mempunyai riwayat kencing manis sejak oktober 2008, os jarang control cek darah.

Riwayat Penyakit Keluarga


Keganasan disangkal DM Sangkal

III.

PEMERIKSAAN FISIK Status Present Keadaan umum Kesadaran : Tampak sakit berat : Compos Mentis / E4V5M6

Untuk orang yang aku cintai SHT

HR Respirasi Suhu Tekanan Darah Status gizi

: 80 x/menit : 20 x/menit : 36,1 C : 110/70 : kurang

Status Generalis Kelainan mukosa kulit/subkutan yang menyeluruh - Pucat - Sianosis - Ikterus - Perdarahan - Oedem umum - Turgor - Pembesaran KGB generalisata KEPALA : Normocephalik - Rambut - Mata : Hitam, lurus, tidak mudah dicabut : Tak cekung,edema palpebra (-/-), konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor, diameter 2 mm, refleks cahaya +/+. - Hidung - Mulut - Telinga - Tenggorokan LEHER - Bentuk - Trakhea : Simetris : Di tengah : Bentuk normal, deviasi septum (-), sekret (-) : Bibir tidak kering, lidah tidak kotor, sianosis (-) : Simetris, liang lapang, serumen (-) : Uvula ditengah, hiperemis (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : Cukup : (-)

Untuk orang yang aku cintai SHT

- KGB - JVP PARU-PARU - Inspeksi - Palpasi - Perkusi

: Tidak membesar : Tidak meningkat

: Pernapasan simetris kanan dan kiri : Fremitus taktil kanan = kiri : Sonor pada seluruh lapang paru kanan dan kiri

- Auskultasi : Suara napas vesikuler kanan = kiri, ronkhi -/-,wheezing -/JANTUNG - Inspeksi - Palpasi - Perkusi : Iktus kordis tidak terlihat : Iktus kordis tidak teraba : Batas atas Batas jantung kiri : ICS II linea parasternal sinistra : ICS V linea midklavikula sinistra Batas jantung kanan : ICS IV linea parasternal dextra - Auskultasi : Bunyi jantung I-II murni, murmur (-), gallop (-) ABDOMEN Lihat di satus lokalis GENITALIA - Tidak dilakukan pemeriksaan SISTEM UROGENITAL - Pemeriksaan colok dubur a. Tidak tampak hemoroid, tonus sfingter ani normall b. tidak teraba massa di mukosa rectum c. tidak teraba prostat membesar. d. Tidak ada darah di hanscoon EKSTREMITAS

Untuk orang yang aku cintai SHT

- Superior - Inferior

: Oedem (-), sianosis (-), pucat (-) : Oedem (-), sianosis (-), pucat (-)

STATUS LOKALIS - Inspeksi : massa didaerah umbilical hipogastric,ukuran 15x20, bentuknya bulat, warna sama dengan, permukaannya rata, batas tegas, jumlah satu, tidak edema.

- Palpasi - Perkusi

: massa tidak mobile, konsistensi keras,NT (+) : timpani

Hepar dan lien tidak teraba membesar. - Auskultasi : Bising usus (+) menurun

e.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium (20 April 2012) 1. Hematologi WBC HGB HCT MCV MCH : 9200 : 11,3 : 33,5 : 88 : 28 (5.000-10.000/ uL) (14,8-18 g/dL) (41-54 %) (80-92 Fl) (27-31 pg)

Untuk orang yang aku cintai SHT

MCHC PLT GDS f. RESUME

: 34,3 : 366000 : 600

(32-36 g/dL) (150-450 rb/uL) (<200)

Pasien laki-laki, 33 tahun, datang ke RSUD Ahmad yani dengan keluan massa diperut bagian bawah yang makin lama makin membesar. Massa terasa nyeri hilang timbul dan semakin memberat 10 hari SMRS. Massa diperut ini disertai dengan keluahan BAB dan BAK yang tidak terasa. BAB kadang cair kadang lembek,kembung (+) , tidak nafsu makan, dan BB berkurang drastic 4 bulan trakhir. Os mempunyai kebiasaan sering makan mie instan sejak SMA.

Status Present Keadaan umum : Tampak sakit berat Tekanan Darah : 110/70 mmHg Nadi : 80 x/mnt RR : 20 x/mnt Suhu : 36,1 o C Status Lokalis : Massa intraabdomen a. b. c. d. e. f. g. Bentuknya bulat Ukuran 15 x 20 Permukaan rata Konsistensi keras Batas tegas Tidak mobile Warna sama dengan kulit sekitar h. NT (+) i. Jumlah 1 j. Edema (-)

Untuk orang yang aku cintai SHT

Pemeriksaan colok dubur Tidak tampak hemoroid, tonus sfingter ani normall tidak teraba massa di mukosa rectum tidak teraba prostat membesar. Tidak ada darah di hanscoon

PEMERIKSAAN PENUNJANG Hematologi WBC HGB HCT MCV MCH MCHC PLT GDS : 9200 : 11,3 : 33,5 : 88 : 28 : 34,3 : 366000 : 600 (5.000-10.000/ uL) (14,8-18 g/dL) (41-54 %) (80-92 Fl) (27-31 pg) (32-36 g/dL) (150-450 rb/uL) (<200)

Untuk orang yang aku cintai SHT

g.

DIAGNOSIS KERJA Massa intraabdomen suspect tumor colon + DM II

h.

DIAGNOSIS BANDING Tumor usus halus

VIII. PEMERIKSAAN ANJURAN USG FOTO POLOS ABDOMEN 3 POSISI GDS PERHARI CT SCAN LFT U/K URINALISIS TES FESES DARAH SAMAR

IX. PENGOBATAN Non medikamentosa : Rawat inap Diet lunak IVFD RL gtt xx/menit Antibiotic : Cefotaxim 2x1 gr vial IV Antiemtik : Ondansetron 2x1 amp IV dan ranintidin 2 x 1 amp IV Anlgesik : ketorolak k/p

Medikamentosa :

Untuk orang yang aku cintai SHT

X. PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad fungtionam Quo ad sanationam : dubia ad malam : dubia ad malam : dubia ad malam

XI. FOLLOW UP Hari rawat ke-1, Tanggal 22 agustus 2012 tgl SOAP Perjalanan penyakit 22/8 S Nyeri perut bawah hilang timbul Mual(-) muntah (-) Kedua kaki sulit digerakkan BAB dan BAK tidak terasa BAB lembek 5x O TD : 110/60 HR : 80 RR : 20 T:36 CA-/- SI-/Pulmo Cor : vesikuler +/+ : bj I dan bj II reuler murni pengobatan Cefotaxim 2x1 Ranitidine 2x1 Keterolac k/p Insuli 12-12-12u

Extremitas : edema (-)

Untuk orang yang aku cintai SHT

PEMERIKSAAN PENUNJANG USG LFT GDS PERHARI URINALISIS 23/8 S Nyeri perut bawah hilang timbul Mual(+) muntah (-) Kedua kaki sulit digerakkan Kembung (+) bisa buang angin BAB dan BAK tidak terasa BAB lembek 4x RUJUK RSAM Cefotaxim 2x1 Ranitidine 2x1 Keterolac k/p Insuli 12-12-12u

TD : 110/60 HR : 84 RR : 20 T:37 CA-/- SI-/Pulmo Cor : vesikuler +/+ : bj I dan bj II reuler murni

Extremitas : edema (-) Hasil Pemeriksaan Penunjang USG belum LFT Albumin 3,42 SGPT 14 SGOT 9,3 Alkali pospat 127,6 Bil direk 0,1 Bil tot 0,26 L (3,5-5,2)

Untuk orang yang aku cintai SHT

10

Creatinin 1,36 Ureum 58,4 Globulin 3,4 Protein 6,82 GDS 666,6 URINALISI Glukosa ++ 24/8 S

H H

(0,9-1,3) (17-43)

Cefotaxim 2x1 Nyeri perut bawah hilang timbul Mual(-) muntah (-) Kedua kaki sulit digerakkan Kembung (+) bisa buang angin BAB dan BAK tidak terasa BAB lembek 6x TD : 110/60 HR : 84 RR : 20 T:37 CA-/- SI-/Pulmo Cor : vesikuler +/+ : bj I dan bj II reuler murni Ranitidine 2x1 Keterolac k/p Insuli 10-10-10u RUJUK RSAM

Extremitas : edema (-) Pemeriksaan Penunjang USG belum GDS : 566

Untuk orang yang aku cintai SHT

11

MASSA INTRA ABDOMEN

Massa di perut dapat disebabkan oleh tumor maligna, kista, inflamasi, atau aneurisma. Kadang, massa ini disebabkan oleh hepatomegali, splenomegali, atau pembesaran kelenjar limfe. Tidak jarang dari salah satu dari 5 f, yaitu fetus, feses, fat, dan fluid, menyamarkan tanda massa di perut. Artinya, kehamilan, obstipasi, meteorismus, adipositas, dan asites tidak saja menyulitkan diagnosis banding pada massa perut atau kembung (distensi) perut, tetapi jugfa merupakan unsur khusus dalam mempertimbangkan diagnosis banding. Letak Massa Perut a. Kuadran kanan atas (hipokondrium kanan ) Massa di hipokondrium kanan biasanya hati dan organ memberikan pekak perkusi serta bergerak sesuai dengan gerak nafas pada arah tegak lurus. Bila

Untuk orang yang aku cintai SHT

12

teraba, hati pada sirosis konsistensinya keras, demikian pula tumor ganas primer atau sekunder pada hati. Peradangan menyebabkan nyeri tekan atau nyeri perkusi. Kadang kandung empedu membesar dan mengikuti pergerakan hati. b. Epigastrium Massa di epigastrium biasanya merupakan tumor lambung, tumor pangkreas atau gumpalan metastasis di omentum yang mungkin berasal dari karsinoma ovarium. c. Kuadran kiri atas ( hipokondrium kiri ) Massa di hipokondrium kiri biasanya berasal dari lambung atau dari kelok kolon kiri. Pembesaran limpa dimulai dari dari posterior dengan tepi mediokaudal yang bercelah dan pekak pada perkusi. Limpa selalu mengikuti gerak napas dengan arah medikaudal. Limpa yang normal jarang teraba. d. Sisi Massa di sisi atau pinggang biasanya berasal dari ginjal yang terletak agak tinggi dan jauh kebelakang. e. Region umbilikalis Massa dibagian sentral perut dapat berasal dari usus halus, usus besar, atau bangun retroperitoneal, seperti kelenjar limf, aneurisma aorta, pancreas, atau tumor jaringan ikat retroperitoneal. Aneurisma aorta umumnya terletak ditengah perut dan bersifat pulsatif ekspansif,artinya berdenyut mengembang ke segala jurusan seperti balon. Massa lain mungkin juga menunjukkan pulsasi, tetapi pulsasi itu merupakan pulsasi searah saja, yaitu meneruskan pulsasi aorta dibelakangnya. f. Fosa iliaka kanan Pada kuadaran kanan bawah sering ditemukan massa yang mungkin lama tidak bergejala seperti karsinoma sekum yang sering sudah besar sebelum menunjukkan gejala. Massa appendeks atau massa akibat inflamasilain di usus sering ditemukan dengan anamnesis khas berhubungan dengan riwayat infeksinya.

Untuk orang yang aku cintai SHT

13

g. Suprapubik Massa di suprapubik biasanyan berasal dari organ pelvis seperti kandung kemih, uterus, atau adneksa. Kandung kemih yang teraba dan memberikan pekak perkusi biasanya timbul pada retensi urin. Massa ini merupakan tumor yang simetris dengan perbatasan kurang jelas karena konsistensinya sedikit lunak. Jika massa kandung kemih disebabkan oleh tumor, umunya ada keluhan lain. Uterus umunya teraba pada wanita hamil atau pengidap mioma. Kista ovarium kadang menjadi besar sekali. Pemeriksaan bimanual harus dilakukan untuk memperoleh informasi lebih lanjut h. Massa di kuadran kiri bawah sering berasal dari kolon sigmoid yang mungkin berupa karsinoma, diverticulitis, feses padat, atau tumor maupun kista ovarium. Pemeriksaan bimanual akan memberikan keterangan lebih lanjut.

TUMOR KOLON REKTAL PENDAHULUAN Tumor kolorektal dapat dibagi dalam dua kelompok yakni polip kolon dan kanker kolon. Polip adalah tonjolan di atas permukaan mukosa. Polip kolon dapat dibagi dalam 3 tipe yakni neoplasma epithelium, nonneoplasma dan submukosa. Makna klinis yang penting dari dari polip ada 2 yakni pertama kemungkinan mengalami transformasi menjadi kanker kolorektal dan kedua dengan tindakan pengangkatan polip, kanker kolorektal dapat dicegah. INSIDEN DAN EPIDEMIOLOGI

Untuk orang yang aku cintai SHT

14

Secara epidemiologic, kanker kolorektal di dunia mencapai urutan ke-4 dalam hal kejadian, dengan jumlah pasien laki-laki ssedikit lebih banyak daripada perempuan dengan perbandingan 19,4 dan 15 per 100.000 penduduk. Penyakit terdebut paling banyak ditemukan di Amerika Utara, Autralia, Selandia Baru, dan sebagian Eropa. Kejadiannya beragam di antara berbagai populasi etnik, ras, atau populasi multietnik/multirasial. Secara umum didapatkan kejadian kanker kolorektal meningkat tajam setelah usia 50 tahun. Suatu fenomena yang dikaitkan dengan pajanan terhadap berbagai karsinogen dan gaya hidup. Kanker kolorektal adalah penyebab kematian kedua tebanyak dari seluruh pasien kanker di Amerika Serikat. Lebih dari 150.000 kasus baru, terdiagnosis setiap tahunnya di AS dengan angka kematian per tahun mendekati angka 60.000. Di AS umumnya rata-rata pasien kanker kolorektal adalah berusia 67 tahun dan lebih dari 50% kematian terjadi pada mereka yang berumur di atas 55 tahun. Di Inndonesia seperti yang terdapat pada laporan registrasi kanker nasional yang dikeluarkan oleh Direktorat Pelayanan Medik Departemen Kesehatan bekerjasama dengna Himpunan Patologi Anatomik Indonesia, didapatkan angka yang agak berbeda. Hal yang menarik disini adalah kecenderungan untuk umur yang lebih muda dibandingkan dengan laporan dari Negara barat. Untuk usia di bawah 40 tahun data dari bagian Patologi Anatomik FKUI didapatkan angka 35,265%. ETIOLOGI DAN PATOGENESIS Kanker kolorektal timbul melalui interaksi yang kompleks antara factor genetic dan factor lingkungan. Factor genetic mendominasi yang lainnya pada kasus sindrom herediter seperti familial adenomatous polyposis (FAP) dan hereditary Nonpolyposis colorectal cancer (HNCC), kanker kolorektal yang sporadic muncul setelah melewati rentang masa yang lebih panjang sebagai akibat factor lingkungan yang menimbulkan perubahan genetic yang Berkembang menjadi kanker. Kedua jenis kanker kolorektal (herediter vs sporadic) tidak muncul secara mendadak melainkan melalui proses yang dapat diidentifikasikan pada mukosa kolon (seperti: dysplasia adenoma).

Untuk orang yang aku cintai SHT

15

PENGARUH LINGKUNGAN Sejumlah bukti menunjukkan bahwa lingkunagn berperan penting pada kejadian kanker kolorektal. Risiko mendapat kanker kolorektal meningkat pada masyarakat yang bermigrasi dai wilayah dengan insiden kanker kolorektal yang rendah ke wilayah yang insidennya tinggi. Hal ini menambah bukti bahwa lingkungan sentrum perbedaan pola makanan berpengaruh pada karsinogenesis. Kandungan dari makronutrien dan mikronutrien berhubungan dengan kanker kolorektal. Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa lemak hewani, terutama dari sumber daging merah, berpengaruh pada kejadian kanker kolorektal. Penelitian pada binatang yang diberikan diet lemak tinggi meningkatkan proliferasi kolonosit dan pembentukan tumor. Transformasi sel tampaknya melalui peningkatan konsentrasi empedu dalam kolon dan ini telah diketahui sebagai promoter kanker lagipula pada masyarakat dengan konsumsi serat rendah disertai dengan insiden kanker kolon yang tinggi. Keseringan minum alkohol meningkatkan 3 sampai 3 kali lipat kejadian kanker kolon. Sebaliknya masyarakat yang mengonsumsi ikan laut memiliki insiden kanker kolorektal yang rendah. Diet folat tinggi berhubungan dengan risiko mendapat kanker kolorektal yang lebih rendah. Meskipun antioksidan seperti vitamin A,E, dan C dianggap dapat menurunkan risiko kanker, namun sebuah pnelitian prospektif gagal membuktikan penurunan insiden polip pada kelompok yang mendapat suplemen vitamin tersebut, FACTOR GENETIK Banyak factor genetic yang dikaitkan dengan keganasan kolorektal diantaranya sindroma poliposis. Namun demikian sindroma poliposis hanya terhitung <1% dari semua kanker kolorektal. Selain itu terdapat hereditary Non-polyposis Colorectal Cancer (HNPCC atau sindroma Lynch) terhitung 2-3% dari kanker kolorektal. KKR terjadi sebagai akibat dari kerusakan genetic pada lokus yang menngontrol pertumbuhan sel. Terdapat dua mekanisme yang menimbulkan

Untuk orang yang aku cintai SHT

16

instabilitas genom dan berujung pada kanker kolorektal yakni : 1) instabilitas kromosom, 2) instabilitas mikrosattelit. Umumnya asal kanker kolon melalui mekanisme CIN yang melibatkan penyebaran material genetic yang tidak berimbang kepada sel anak sehingga menimbulakn aneuploidi.

PENYAKIT-PENYAKIT YANG BERHUBUNGAN DENGAN KKR IBD. Khususnya colitis ulcerative berhubungan dengan meningkatnya risiko KKR. Risiko KKR bergantung waktu dan luasnya inflamasi. Demikian juga pasienpasien kanker serviks yang menjalani radioterapi atau pasien kanker kandung kemih yang menjalani uterosigmoidektomi mempunyai risiko untuk mendapat KKR yang lebih tinggi. Keadaan klinis lainnya yang berhubungan dengan KKR meliputi bakteremia oleh Streptokokus grup D, infeksi skistosoma haematobium dan akromegali.Prevensi primer. Beberapa jenis obat minum telah dipeljari dan memiliki kemampuan menghambat KKR. Di antara obat-obat ini yang paling efektif adalah aspirin dan obat antiinflamasi non steroid lainnya yang juga bersifat menghambat proliferasi sel melalui supresi sintesis prostaglandin. Suplemen asam folat dan kalsium berakibat menurunkan risiko timbulnya polip adenomatosa dan KKR. Estrogent replacement therapy mempunyai hubungan dengan penurunan risiko KKR pada perempuan. Penapisan. Alasan melakukan penapisan KKR adalah untuk deteksi dini, lesi yang masih terbatas superfisialpada individu yang asimtomatik untuk meningkatkan angka kesembuhan dari pembedahan. Modalitas untukpenapisan KKR ini di antaranya tes darah samar feses, pemeriksaan enema barium kontras ganda. Sigmoidoskopi fleksibel dan kolonoskopi. STADIUM, FAKTOR PROGNOSTIK DAN POLA PENPAISAN Prognosis dari pasien KKR berhubungan dengan dalamnya penetrasi tumor ke dinding kolon, keterlibatan KGB regional atau metastasis jauh. Semua variabel ini

Untuk orang yang aku cintai SHT

17

digabung sehingga dapat ditentukan system staging yang awalnya diperhatikan oleh Dukes dan diaplikasi dalam metode klasifikasi TNH dalam hal ini, T menunjukkan kedalaman penetrasi tumor, N menandakan keterlibatan KGB dan M ada tidaknya metastasis jauh. Umumnya rekurensi kanker kolorektal terjadi dalam 4 tahun setelah pembedahan sehingga harapan hidup rata-rata 5 tahun dapat menjadi indicator kesembuhan. Kanker kolorektal umumnya menyebar ke KGB regional atau ke hati melalui sirkulasi vena portal. GAMBARAN KLINIS Keluhan dan Tanda Kebanyakan kasus KKR didiagnosis pada usia 50 tahun dan umumnya sudah memasuki stadium lanjut sehingga prognosis juga buruk. Keluhan yang paling sering dirasakan : perubahan pola buang air besar, perdrahan per anus (hematokezia dan konstipasi) KKR umumnya berkembang lamban, keluhan dan tanda fisik timbul sebagai bagian dari obstruksi. Obstruksi kolon biasanya terjadi di kolon transversum. PENDEKATAN DIAGNOSIS Prosedur Diagnosis pada Passien dengan Gejala Keberadaan kanker kolorektal dapat dikenali dari beberapa tanda seperti : anemia mikrositik, hematokezia, nyeri perut, berat badan turun, atau perubahan defekasi, oleh sebab itu perlu segera dilakukan pemeriksaan endoskopi atau radiologi.

Laboratorium

Untuk orang yang aku cintai SHT

18

Umumnya pemeriksaan laboratorium pada adenoma kolon memberikan hasil normal. Perdarahan intermitten dan polip yang besar dapat dideteksi melalui darah samar feses atau anemia defisiensi Fe. Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan enema barium kontras ganda hanya mampu mendeteksi 50% polip kolon dengan spesifisitas 85%. Kolonoskopi Kolonoskopi merupakan cara pemeriksaan mukosa kolon yang sangat akurat dan dapat sekaligus melakukan biopsy pada lesi yang mencurigakan . Pemeriksaan kolon yang lengkap dapat mencapai >95% ppasien. Evaluasi Histologi Adenoma diklasiifikasikan dengan gambaran histology yang dominan. Yang paling sering adalah adenoma tubular (85%), adenoma tubulovilosum (10%) dan adenoma serrata (1%). Temuan sel atipik pada adenoma dikelompokkan menjadi ringan, sedang, dan berat. Penapisan pada Pasien Tanpa Gejala Sebenarnya KKR dapat diobati bilamana terdeteksi pada stadium dini. Penapisan pada masyarakt luas dilakukan dengan beberapa cara : tes darah samar dari feses dan sigmoidoskopi. PENATALAKSANAAN Perjalanan Alami Meskipun adenoma kolon merupakan lesi premaligna, namun perjalanan menjadi adenocarsinoma belum diketahui. Pertumbuhan dan potensi menjadi ganas bervariasi secara substansial. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk perubahan adenoma menjadi adenokarsinoma adalah 7 tahun.

Untuk orang yang aku cintai SHT

19

Pengobatan Kemoprevensi Obat antiinflamasi nonsteroid termasuk aspirin dianggap berhubungan dengan penurunan mortalitas KKR. Beberapa OINS seperti sulindac dan colecoxib telah terbukti secara efektif menurunkan insidens berulangnya adenoma pada pasien dengan FAP. Endoskopi dan Operasi Umumnya polip adenokarsinoma dapat diangkat dengan tindakan polipektomi. Bila ukuran<5 mm makan pengangkatan cukup dengan biopsy atau elektrokoagulasi bipolar. Di samping polipektomi KKR dapat diatasi dengan operasi, indikasi untuk hemikoleltomi adalah tumor caecum, kolon asenden, kolon transversum tetapi lesi di fleksura lienalis dan kolon desenden di atasi dengan hemikolektomi. Terapi Ajuvan Sepertiga pasien yang menjalani operasi kuratif akan mengalami rekurensi. Kemoterapi ajuvan dimaksudkan untuk menurunkan tingkat rekurensi KKR setelah operasi.

Untuk orang yang aku cintai SHT

20

DAFTAR PUSTAKA Sabiston , David C. 1995. Buku Ajar Ilmu Bedah. Bagian 1. Jakarta : EGC Sjamsuhidayat, R & Wim de Jong, 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. Jakarta : EGC w. sudoyo Aru, Setiyohadi bambang, dkk. 2006. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1. Jakarta : FKUI

Untuk orang yang aku cintai SHT

21