Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH IMUNOLOGI SISTEM IMUN

0leh : ANDITA DWI PRAMESTY 1001013

Dosen : SILFY HASTI, M.Farm.,Apt

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI (STIFAR) YAYASAN UNIVERSITAS RIAU TAHUN 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem kekebalan tubuh sangat mendasar peranannya bagi kesehatan, tentunya harus disertai dengan pola makan sehat, cukup berolahraga, dan terhindar dari masuknya senyawa beracun ke dalam tubuh. Sekali senyawa beracun hadir dalam tubuh, maka harus segera dikeluarkan. Kondisi sistem kekebalan tubuh menentukan kualitas hidup. Dalam tubuh yang sehat terdapat sistem kekebalan tubuh yang kuat sehingga daya tahan tubuh terhadap penyakit juga prima. Pada bayi yang baru lahir, pembentukan sistem kekebalan tubuhnya belum sempurnadan memerlukan ASI yang membawa sistem kekebalan tubuh sang ibu untuk membantu dayatahan tubuh bayi. Semakin dewasa, sistem kekebalan tubuh terbentuk sempurna. Namun, pada orang lanjut usia, sistem kekebalan tubuhnya secara alami menurun. Itulah sebabnya timbul penyakit degeneratif atau penyakit penuaan. Pola hidup modern menuntut segala sesuatu dilakukan serba cepat dan instan. Hal ini berdampak juga pada pola makan. Sarapan di dalam kendaraan, makan siang serba tergesa,dan malam karena kelelahan tidak ada nafsu makan. Belum lagi kualitas makanan yang dikonsumsi, polusi udara, kurang berolahraga, dan stres. Apabila terus berlanjut, daya tahan tubuh akan menurun, lesu, cepat lelah, dan mudah terserang penyakit. Karena itu, banyak orang yang masih muda mengidap penyakit degeneratif.Kondisi stres dan pola hidup modern sarat polusi, diet tidak seimbang, dan kelelahan menurunkan daya tahan tubuh sehingga memerlukan kecukupan antibodi. Gejala menurunnya daya tahan tubuh sering kali terabaikan sehingga timbul berbagai penyakit infeksi, penuaan dini pada usia produktif. Sejak dasawarsa 1960 perhatian terhadap teknik imunisasi makin meningkat. Dewasaini, imunisasi telah menjadi amat terkenal sebagai metoda pilihan untuk penentuan analit secara kuantitatif. Imunisasi telah masuk ke dalam banyak cabang dan disiplin dari penelitian ilmiah terutama yang berkaitan dengan subyek biologis.

BAB II ISI 2.1 Sejarah Imunologi Pada mulanya imunologi merupakan cabang mikrobiologi yang mempelajari respons tubuh, terutama respons kekebalan, terhadap penyakit infeksi. Pada tahun 1546, Girolamo Fracastoro mengajukan teori kontagion yang menyatakan bahwa pada penyakit infeksi terdapat suatu zat yang dapat memindahkan penyakit tersebut dari satu individu ke individu lain, tetapi zat tersebut sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata dan pada waktu itu belum dapat diidentifikasi. EDWAR JENNER Pada tahun 1798, Edward Jenner mengamati bahwa seseorang dapat terhindar dari infeksi variola secara alamiah, bila ia telah terpajan sebelumnya dengan cacar sapi (cow pox). Sejak saat itu, mulai dipakailah vaksin cacar walaupun pada waktu itu belum diketahui bagaimana mekanisme yang sebenarnya terjadi. Memang imunologi tidak akan maju bila tidak diiringi dengan kemajuan dalam bidang teknologi, terutama teknologi kedokteran. Dengan ditemukannya mikroskop maka kemajuan dalam bidang mikrobiologi meningkat dan mulai dapat ditelusuri penyebab penyakit infeksi. Penelitian ilmiah mengenai imunologi baru dimulai setelah Louis Pasteur pada tahun 1880 menemukan penyebab penyakit infeksi dan dapat membiak mikroorganisme serta menetapkan teori kuman (germ theory) penyakit. Penemuan ini kemudian dilanjutkan dengan diperolehnya vaksin rabies pada manusia tahun 1885. Hasil karya Pasteur ini kemudian merupakan dasar perkembangan vaksin selanjutnya yang merupakan pencapaian gemilang di bidang imunologi yang memberi dampak positif pada penurunan morbiditas dan mortalitas penyakit infeksi pada anak. ROBERT KOCH Pada tahun 1880, Robert Koch menemukan kuman penyebab penyakit tuberkulosis. Dalam rangka mencari vaksin terhadap tuberkulosis ini, ia mengamati adanya reaksi tuberkulin (1891) yang merupakan reaksi hipersensitivitas lambat pada kulit terhadap kuman

tuberkulosis. Reaksi tuberkulin ini kemudian oleh Mantoux (1908) dipakai untuk mendiagnosis penyakit tuberkulosis pada anak. Imunologi mulai dipakai untuk menegakkan diagnosis penyakit pada anak. Vaksin terhadap tuberkulosis ditemukan pada tahun 1921 oleh Calmette dan Guerin yang dikenal dengan vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Kemudian diketahui bahwa tidak hanya mikroorganisme hidup yang dapat menimbulkan kekebalan, bahan yang tidak hidup pun dapat menginduksi kekebalan. ALEXANDER YERSIN DAN ROUX Setelah Roux dan Yersin menemukan toksin difteri pada tahun 1885, Von Behring dan Kitasato menemukan antitoksin difteri pada binatang (1890). Sejak itu dimulailah pengobatan dengan serum kebal yang diperoleh dari kuda dan imunologi diterapkan dalam pengobatan penyakit infeksi pada anak. Pengobatan dengan serum kebal ini di kemudian hari berkembang menjadi pengobatan dengan imunoglobulin spesifik atau globulin gama yang diperoleh dari manusia. 2.2 PENGERTIAN Imunitas atau kekebalan adalah sistem mekanisme pada organisme yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan mengidentifikasi dan membunuh patogen serta sel tumor. Sistem ini mendeteksi berbagai macam pengaruh biologis luar yang luas, organisme akan melindungi tubuh dari infeksi, bakteri, virus sampai cacing parasit, serta menghancurkan zat-zat asing lain dan memusnahkan mereka dari sel organisme yang sehat dan jaringan agar tetap dapat berfungsi seperti biasa. Deteksi sistem ini sulit karena adaptasi patogen dan memiliki cara baru agar dapat menginfeksi organisme. 2.3 FUNGSI SISTEM IMUN Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit dengan menghancurkan dan menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur, dan virus, serta tumor) yang masuk ke dalam tubuh, Menghilangkan jaringan atau sel yg mati atau rusak untuk perbaikan jaringan, Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal.

Dan Sasaran utama yaitu bakteri patogen dan virus. Leukosit merupakan sel imun utama (disamping sel plasma, makrofag, dan sel mast).

2.4

RESPONS IMUN Tahap : Deteksi dan mengenali benda asing, Komunikasi dengan sel lain untuk berespons, Rekruitmen bantuan dan koordinasi respons dan estruksi atau supresi penginvasi

2.5.

JENIS-JENIS SISTEM IMUN 1. Sistem imun non spesifik ,natural atau sudah ada dalam tubuh (pembawaan) merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam melawan mikroorganisme. Disebut nonspesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu.Terdiri dari: a) Pertahanan fisik/mekanik Kulit, selaput lendir , silia saluran pernafasan, batuk, bersin akan mencegah masuknya berbagai kuman patogen kedalam tubuh. Kulit yang rusak misalnya oleh luka bakar dan selaput lendir yang rusak oleh asap rokok akan meninggikan resiko infeksi. b) Pertahanan biokimia Bahan yang disekresi mukosa saluran nafas, kelenjar sebaseus kulit, kel kulit, telinga, spermin dalam semen, mengandung bahan yang berperan dalam pertahanan tubuh secara biokimiawi. asam HCL dalam cairan lambung , lisozim dalam keringat, ludah , air mata dan air susu dapat melindungi tubuh terhadap berbagai kuman gram positif dengan menghancurkan dinding selnya. c) Pertahanan humoral Berbagai bahan dalam sirkulasi berperan pada pertahanan tubuh secara humoral. Bahan-bahan tersebut adalah: Komplemen Komplemen mengaktifkan fagosit dan membantu destruktif bakteri dan parasit karena: Komplemen dapat menghancurkan sel membran bakteri Merupakan faktor kemotaktik yang mengarahkan makrofag ke tempat bakteri Komponen

komplemen lain yang mengendap pada permukaan bakteri memudahkan makrofag untuk mengenal dan memfagositosis (opsonisasi). 2. Sistem imun spesifik atau adaptasi Mempunyai kemampuan untuk mengenal benda asing. Benda asing yang pertama kalimuncul dikenal oleh sistem imun spesifik sehingga terjadi sensitiasi sel-sel imun tersebut.Bila sel imun tersebut berpapasan kembali dengan benda asing yang sama, maka benda asing yang terakhir ini akan dikenal lebih cepat, kemudian akan dihancurkan olehnya. Oleh karenasistem tersebut hanya mengahancurkan benda asing yang sudah dikenal sebelumnya, makasistem itu disebut spesifik.sistem imun spesifik dapat bekerja sendiri untuk menghancurkan benda asing yang berbahaya, tetapi umumnya terjalin kerjasama yang baik antara antibodi,komplemen , fagosit dan antara sel T makrofag.Sistem imun spesifik ada 2 yaitu; a) Sistem imun spesifik humoral Yang berperanan dalam sistem imun humoral adalah limfosit B atau sel B. b) Sistem imun spesifik selular Yang berperanan dalam sistem imun spesifik seluler adalah limfosit T atau sel T.

Faktor yang Mempengaruhi Sistem Imun Beberapa faktor yang mempengaruhi sistem imun, yaitu : 1. Usia 2. Jenis kelamin 3. Lingkungan

Sistem imun kita terdiri dari rangkaian sel, protein, jaringan otot, dan organ-organ tertentu. Sel yang terlibat dalam sistem imun manusia adalah lekosit (sel darah putih) yang diproduksi dan disimpan di berbagai lokasi di tubuh, seperti thymus, limpa, dan sumsum tulang. Dari lokasilokasi tersebut, lekosit menyebar ke seluruh organ tubuh melalui pembuluh limpatik dan pembuluh darah. Dengan demikian, sistem kekebalan tubuh dapat bekerja secara terkoordinasi dalam mengawasi pertahanan tubuh kita. Ada dua jenis lekosit, yakni fagosit dan limposit. Fagosit adalah selsel yang menghancurkan organisme pengganggu, sementara limposit adalah sel-sel yang mengingat dan mengenali para pengganggu sebelumnya dan kemudian membantu tubuh untuk menghancurkan mereka. Rangkaian sel, protein, jaringan otot, dan organ-organ tertentu itu adalah bagian dari sistem imun yang melindungi manusia dalam serangkaian proses yang dinamai respon imun. Karena ada respon imun, maka sistem imun kita dapat menyerang para pengganggu penyebab berbagai penyakit tersebut. Sistem respon itu dimulai ketika suatu antigen (substansi asing yang menyerang tubuh) memasuki tubuh. Tubuh kemudian mengenali dan merespon antigen tersebut dengan cara memicu produksi antibodi (protein khusus yang diarahkan untuk antigen tertentu juga). Bila sudah diproduksi, antibodi itu akan bertahan di dalam tubuh dan bersiaga untuk menghalau antigen yang telah dikenali sebelumnya. Makanya, bila seseorang sudah pernah terkena suatu penyakit tertentu, misalnya cacar air, biasanya ia tidak akan terkena penyakit yang sama untuk kedua kalinya. Konsep itulah yang mendasari cara kerja imunisasi. Vaksin imunisasi memperkenalkan tubuh terhadap antigen tertentu. Antigen itu diformulasikan sedemikian rupa untuk tidak membuat tubuh sakit, melainkan memicu tubuh untuk memproduksi antibodi yang akan melindungi tubuh dari serangan antigen tersebut. Dengan demikian, antibodi itu diharapkan akan melindungi tubuh dari serangan antigen sejenis di masa depan. Walau antibodi mampu mengenali antigen dan menempatkannya sebagai sasaran, antibodi tidak dapat menghancurkannya tanpa bantuan. Di sinilah sel-T menunjukkan kemampuannya sehingga lumrah bila sel-T dikenal dengan nama "sel pembunuh". Selain mengenali dan

menargetkan antigen, antibodi juga dapat menetralkan racun yang diproduksi oleh berbagai organisme. Pun, antibodi punya wewenang untuk mengaktivasi "komplemen", satu kelompok protein yang merupakan bagian dari sistem imun dan berfungsi membantu membunuh bakteri, virus, atau sel yang terinfeksi. Semua bagian sistem imun itu bekerja melindungi tubuh kita dari berbagai penyakit. Perlindungan itu dinamai imunitas. Namun, imunitas setiap orang berbeda. Ada yang terlihat selalu sehat, ada yang mudah sakit. Seiring pertambahan usia, antibodi kita pun mengenal semakin banyak antigen. Itulah sebabnya orang dewasa cenderung lebih jarang sakit dibandingkan anak-anak. Perbedaan itu bisa terletak pada salah satu dari tiga jenis imunitas yang pada dasarnya dimiliki oleh setiap orang. Imunitas tak selalu berhasil menjalankan tugasnya. Inilah penyebab mengapa kita menjadi sakit atau terinfeksi.Biasanya hal tersebut disebabkan oleh berbagai masalah. Ada empat kategori penyebab masalah pada sistem imun manusia, yakni gangguan immunodefisiensi, autoimun, alergi, atau kanker pada bagian tertentu di sistem imun. Beberapa contoh sediaan yang berkaitan dengan sistem imun seperti; DEXTAMINE (PT Pharos) Tiap tablet berisi: Deksametason (micronized) 0.5 mg Deksklorfeniramina maleat 2 mg LORATADINE (PTIndofarma) Tiap tablet mengandung 10 mg loratadine cTm (PT Zenith Pharmaceuticals) Tiap tablet mengandung: Chlorpheniramini maleas 4 mg CLARITIN (PT Schering Indonesia) Tiap tablet mengandung 10 mg micronized loratadine IMUNEX SYRUP (Galenium) Komposisi: Loratadine ALLERON 4MG Tiap tablet mengandung Chlorpeniramini maleas (CTM) 4 mg

DEXTEEM PLUS Tiap tablet mengandung: Dexchlorpheniramine Maleat 2mg Dexamethazone Micronised 0,5mg

Claritin Tablet

Indikasi: Untuk menyembuhkan gejala-gejala yang berkaitan dengan rinitis alergik, seperti bersin-bersin, pilek (rinorea) dan rasa gatal pada hidung, demikian juga rasa gatal dan terbakar pada mata. Juga diindikasikan untuk menyembuhkan gejala dan tanda-tanda urtikaria kronis serta penyakit-penyakit dermatologis alergik lainnya.

Kontra Indikasi: Pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas atau idiosinkrasi terhadap komponen-komponennya. Komposisi: Setiap tablet mengandung 10 mg micronized loratadine. Cara kerja: Loratadine merupakan suatu antihistamin trisiklik poten kerja-lama dengan aktivitas antagonistik selektif pada reseptor-H, periferal.

Dosis dan Aturan Pakai: Orang dewasa dan anak-anak berumur 12 tahun atau lebih: satu tablet sekali sehari. Interaksi Obat: Pemberian loratadine bersama alkohol tidak memberikan efek potensiasi seperti yang terukur pada penampilan psikomotor. Pemberian loratadine bersama Erythromycin, Ketoconazole & Cimetidine dapat menghambat metabolisme loratadine. Cara Penyimpanan: Simpan pada suhu 2 - 3C.

Efek Samping: CLARITIN tidak memperlihatkan efek sedatif yang secara klinis bermakna pada pemberian dosis 10 mg per hari. Efek sampingan yang paling sering dilaporkan rasa kecapaian, sakit kepala, somnolensi, mulut kering, gangguan pencernaan seperti nausea, gastritis, dan juga gejala alergi yang menyerupai ruam. Selama pemasaran CLARITIN tablet, pernah dilaporkan terjadinya alopesia, anafilaksis, fungsi hati abnormal dan takiaritmia supraventikular walaupun jarang. Demikian juga insiden efek samping yang berkaitan dengan sirop CLARITIN juga sebanding dengan plasebo. Pada uji klinis terkontrol pada pediatrik, insiden yang berkaitan dengan pengobatan sakit kepala, sedasi dan gelisah, peristiwa yang jarang dilaporkan, adalah serupa dengan pada plasebo. HARUS DENGAN RESEP DOKTER Jenis: Tablet Produsen: PT Schering Indonesia

2.6

DISKRIPSI OBAT: Loratadin ( INN ) adalah generasi kedua histamin antagonis obat yang digunakan untuk mengobati alergi . Dalam hal struktur, itu berkaitan erat dengan antidepresan trisiklik , seperti imipramine , dan jauh terkait dengan atipikal antipsikotik quetiapine . Loratadin dipasarkan oleh beberapa nama dagang (misalnya, Claritin) dan juga oleh Shionogi di Jepang. Ini tersedia sebagai obat generik dan dipasarkan untuk sifat non sedatingnya. Dalam versi bernama Claritin-D atau Clarinase, dikombinasikan dengan pseudoefedrin, dekongestan, ini membuatnya berguna untuk pilek serta alergi tetapi menambahkan potensi efek samping sulit tidur, kecemasan, dan kegelisahan. Peringatan dan perhatian: Pasien dengan gangguan fungsi hati berat harus diberikan dosis permulaan yang lebih rendah; dianjurkan pada dosis awal 5mg sekali sehari atau 10 mg setiap 2 hari. Keamanan dan khasiat CLARITIN pada anak-anak usian dibawah 2 tahun belum ditetapkan. Keamanan pemakaian CLEARITIN selama kehamilan belum ditetapkan; oleh karena itu hanya diberikan bila potensi manfaatnya lebih besar dari potensial resikonya terhadap janin. Karena obat ini dieksresikan dalam air susu, hati-hati apabila diberkan pada wanita yang sedang menyusui. Bila diberikan bersama-sama dengan alkohol , loratadine tiak memiliki efek potensiasi seperti yang diukur dengan penelitian penampilan psikomotor. Pernah dilaporkan peningkatan kadar loratadine dalam plasma setelah pemakaian bersama-sama dengan ketokanzol, erithromisin atau simetidin paa penelitian klinik terkendalai, tetapi tidak ada perubahan klinis yang bermakna (termasuk elektrokardiografik). Obat lain yang diketahui menghambat metabolisme hati harus diberikn dengan hatihati hingga interaksi definit dapat diselesaikan. Pemberian antihistamin harus dihentikan kurang dari 48 jam sebelum prosedur uji kulit karena kalau tidak obat-obat ini dapat mencegah atau mengurangi reaksi positif terhadap indikator reaktiitas dermal. Jika dosis berlebihan maka akan mengakibatkan Somnolensi,

takikardia dan sakit kepala. Sekali minum 160 mg tidk pernah menghasilkan efek-efek yang diinginkan. Pada situasi kelebihan dosis, pengobatan yang harus segera dilakukan adalah simtomatis dan suportif dan dengan pengobatan: Pasien harus diinduksi agar muntah, meskipun bila telah terjadi muntah secara spontan. Muntah yang diinduksi secara farmakologis dengan pemberian sirop ipeka adalah cara yang paling disukai. Namun demikian, jangan menginduksi muntah pada pasien dengan kesadaran yang terganggu. Kerja dari ipeka dipermudah dengan aktivitas fisik dan dengan pemberian 240 sampai 360 mililiter air. Bila tidak terjadi muntah dalam waktu 15 menit, pemberian ipeka harus diulangi lagi. Aspirasi harus diperhatikan, terutama pada anak-anak. Setelah muntah, absorpsi obat yang masih tertinggal dalam lambung dapat diusahakan dengan pemberian karbon aktif yang diberikan bersama dengan air. Bila tidak berhasil muntah atau dikontraindikasikan, harus dilakukan lavase lambung. Larutan salin fisiologis merupakan merupakan larutan lavase pilihan, terutama pada anak-anak. Pada orang dewasa, dapat digunakan air minum, namun sebanyak mungkin dari jumlah yang diberikan harus dibuang lagi sebelum instilasi berikutnya.Katartika salin menarik air ke dalam usus besar secara osmosa dan, oleh karena itu, mungkin berguna bagi kerjanya dalam mempercepat pengenceran isi usus. Loratadine tidak dihilangkan dengan hemodialisis dalam jumlah yang memadai. Setelah pengobatan darurat, pasien harus dipantau terus secara medis.

BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus yang menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor, dan terhambatnya sistem ini juga telah dilaporkan meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker.

Daftar Pustaka Garna Baratawidjaja Karnen dan Rengganis Iris. 2009. Imunologi Dasar edisi VIII. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ernets, Jawetz. 1996. Mikrobiologi Kedokteran Edisi 20. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
http://apotik.berkahanugrah.net/produk-2352-bufacaryl-tablet.html http://www.dechacare.com/informasi-obat/Zat-Antidotum-dan-Zat-Antitoksik-O30.html http://www.rxlist.com/claritin-drug/indications-dosage.html http://www.medicinenet.com/loratadine-oral/article.html http://lazy-innateimunekekebalanbawaan.blogspot.com/ https://www.google.co.id/#q=micronized+loratadine+10mg http://kidungkawan.blogspot.com/2013/10/pengertian-fungsi-dan-mekanisme-sistem.html http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Loratadine&action=edit&section=1