Anda di halaman 1dari 32

ORGANISME PENGGANGGU DALAM PENYIMPANAN PRODUK PERTANIAN

Syahri Budi Raharjo

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan Jl. Kol H. Barlian No. 83 KM 6 Puntikayu Palembang 30153 Tel: (0711) 410 155, Fax : (0711) 411 845 Email: bptp-sumsel@litbang.deptan.go.id; budi.fire@telkom.net

Arti Penting Organisme Pengganggu dalam Penyimpanan (Gudang)

OPT dalam penyimpanan menyebabkan penurunan kuantitas maupun kualitas bahan simpanan. Di Indonesia, serangan Sitotroga cereallela dan Sitophilus sp. pada simpanan padi yang hanya beberapa bulan saja akan menimbulkan penurunan berat sekitar 23%.

Penggolongan Organisme Pengganggu dalam Simpanan


1) Hama Hama merupakan organisme yang dalam aktivitasnya mengganggu, merusak tanaman maupun hasilnya dan secara ekonomis merugikan. Hama gudang ini terdiri dari serangga (insekta), mamalia (tikus), aves (burung). Namun, dari beberapa kelompok hama gudang ini yang paling sering dijumpai adalah golongan serangga dan tikus. 2) Penyakit Penyebab penyakit pada produk dalam simpanan di antaranya disebabkan oleh cendawan, bakteri, virus, dan nematoda.

Jenis Serangga Hama dalam Simpanan


1. Sitophilus oryzae
Gejala Serangan Kumbang ini merupakan hama utama pada beras yang disimpan. Serangan kumbang ini ditandai dengan butir beras berlubang-lubang atau hancur menjadi tepung karena gerekan kumbang. Akibat hama ini, beras mengalami susut berat mencapai 23% setelah disimpan beberapa bulan Ciri-ciri Kumbang. Kumbang muda berwarna coklat agak kemerahmerahan, setelah tua menjadi hitam. Pada kedua belah sayapnya terutama di bagian depan terdapat 4 bercak berwarna kuning agak kemerahan, 2 bercak pada sayap sebelah kiri dan 2 bercak pada sayap sebelah kanan. Panjang tubuh kumbang 3,5-5 mm, tergantung dari tempat hidup larvanya

2. Kumbang Penggerek Gabah (Rhizopertha dominica)


Gejala Serangan Gejala serangan kumbang ini ditandai dengan berlubangnya gabah dan adanya sisa gerekan berupa dedak halus. Selain merusak produk padi-padian kumbang ini juga menyerang produk tanaman yang banyak mengandung karbohidrat seperti jagung, gaplek, dan lainnya. Kerusakan yang ditimbulkannya bisa mencapai 7%. Ciri-ciri kumbang. Kumbang ini memiliki tubuh slindris dan ramping, protorak berbentuk seperti perisai atau tudung, mempunyai benjolan kecil yang kasar terutama bagian depan. Kepalanya berada di bawah pronotumnya, berwarna coklat gelap atau hitam. Panjang tubuh kumbang 1,5-3 mm. Induk dapat meletakkan telur 300-500 butir.

3. Ngengat Gabah (Sitotroga cereallela)


Gejala serangan Gejala kerusakan berupa lubang-lubang bekas gerekan dan adanya sisa gerekan berbentuk tepung (serasah halus). Ngengat ini bersama dengan R. dominica menyebabkan kerusakan berat pada gabah dalam simpanan. Ciri-ciri ngengat. Ngengat dewasa tubuhnya berwarna kekuningan hingga merah muda yang mengilap. Tubuhnya ramping dengan panjang 3-4 mm, panjang rentang sayapnya 11-15 mm. Larva berwarna putih kekuningkuningan dengan bagian kepala berwarna coklat gelap. Tubuhnya beruasruas dan pada ruas ke 1-3 dilengkapi dengan kaki. Betina mampu menghasilkan telur 200-369 butir dan akan menetas setelah 3-4 hari. Siklus hidup ngengat pada lingkungan ideal berlangsung 25-28 hari.

4. Kumbang Tepung (Tribolium spp.)


Gejala serangan Kumbang dan larva merusak tepung, dan jika belum terdapat tepung maka akan menunggu hasil perusakan butiran beras oleh hama lain dan kumbang ini akan bergerak setelah berlangsung kehancuran pada materian tersebut, sehingga sering disebut secagai secondary pest. Ciri-ciri kumbang. Kumbang ini berbentuk pipih, berwarna coklat kemerahmerahan, panjang tubuh sekitar 4mm. Telur yang dihasilkan berjumlah 450 butir berwarna putih keruh dan diletakkan pada tepung yang dirusak. Larva dewasa berukuran 8-11 mm dan berkakui 3 pasang sehingga sangat aktif bergerak. Menjelang berpupa, larva akan bergerak ke permukaan material, dan selanjutnya setelah menjadi imago akan kembali ke dalam material. Siklus hidup hama ini yakni 35-42 hari.

5. Kumbang gigi gergaji (Oryzaerphilus surinamensis)


Gejala serangan Kumbang umumnya menggerek bagian material sehingga tampak berlubang-lubang dan bentuknya berkelok-kelok. Ciri-ciri kumbang Bagian thorax (dada) kumbang menyerupai gigi gergaji. Tubuh kumbang dewasa berwarna coklat gelap dengan panjang antara 2,5-3,5 mm. Larva berwarna putih, bentuknya memanjang dan pipih, berukuran 4-5 mm. Kumbang betina menghasilkan 6-10 butir per hari dan total telur sebanyak 375 butir. Pada butir padi, telur biasanya diletakkan di dekat lekukan biji. Larva yang akan berkepompong mencari tempat berupa celah atau lekukan untuk menjadi popa. Siklus hidup hama ini mencapai 1 bulan

Sitophilus

Tribolium

Oryzaephilus

Sitotroga

Faktor yang Mempengaruhi Peningkatan Aktivitas Hama Gudang


1. Temperatur/Suhu

Serangga hama gudang memerlukan keadaan suhu udara minimum dan maksimum untuk kelangsungan hidupnya. Pada umumnya suhu optimum untuk perkembangan hama gudang yakni 25-30oC (Kartasapoetra, 1991). Suhu sangat mempengaruhi aktivitas biologi serangga gudang, di mana pada kondisi suhu tinggi maka masa inkubasi (penetasan) telur serangga akan berlangsung lebih cepat. Menurut Kartasapoetra (1991), kumbang Tribolium castaneum memiliki masa indukasi cepat yakni 3,5 hari pada bulan JuliAgstus (suhu tinggi) dibandingkan dengan pada bulan AprilNopember yakni selama 12,2 hari.

2. Kelembaban

Menurut Yos Sutyoso (1964) dalam Kartasapoetra (1991), hama Sitophilus oryzae yang dipelihara pada temperatur 21oC siklus hidupnya berbeda pada tingkat kelembaban berbeda. Menurutnya, pada kelembaban udara relatif 50% siklus hidup serangga tersebut 59 hari, sedangkan pada kelembaban udara 80% siklus hidup serangga tersebut hanya 37 hari. Kelembaban juga akan sangat mempengaruhi kadar air bahan, artinya pada tingkat kelembaban udara yang tinggi pada umumnya kadar air bahan simpanan juga relatif tingg

Hubungan antara kadar air biji dengan perubahan biji dan kehidupan hama gudang
Kadar Air Bahan (%) >45 18-20

Perubahan Biji Terjadi proses perkecambahan biji di tempat penyimpanan. Di dalam ruang penyimpanan akan timbul uap panas. Biji dapat berkecambah, tetapi cendawan dan bakteri yang terbawa akan berkembang subur dan merusak biji Serangga akan merusak biji dalam simpanan

12-18

8-9
4-8

Kehidupan serangga gudang dapat dihambat


Keadaan aman untuk menyimpan biji.

Sumber: Neergaard (1977) dalam Imdad dan Nawangsih (1999)

3. Cahaya

Warna cahaya yang berbeda akan memancarkan perbedaan panjang gelombang. Semakin panjang gelombang yang dipancarkan maka akan semakin besar pula energi yang dihasilkannya. Semakin besar energi yang dipancarkan akan semakin besar juga kenaikan suhu yang ditimbulkannya dalam satuan luas yang tetap atau konstan. Menurut Kartasapoetra (1991), hama-hama gudang saat melakukan kopulasi dan meletakkan telurnya serta aktivitas pengerusakan sangat menyukai kondisi cahaya yang gelap.

4. Aerasi

Pada umumnya pada kondisi oksigen yang rendah maka akan terjadi kematian pada serangga gudang. Berdasarkan hasil penelitian terhadap Sitophilus sp. yang ditempatkan pada tempat dengan aerasi yang diatur, maka diketahui bahwa apabila kadar CO2 > 40% atau O2 <2%, maka hama tersebut akan mati dalam semua tingkat pertumbuhannya, sedangkan apabila kadar CO2 dalam kondisi biasa dan kadar O2 hanya 4%, pada temperatur 29oC akan terjadi kematian total pada imago Sitophilus sp. Apabila kadar CO2 5% dan O2 seperti biasa di udara, maka akan terjadi keamtian total setelah + 3 minggu (Kartasapoetra, 1991).

Tindakan Pengendalian Serangga dalam Simpanan


1. Pengurangan Kadar Air Bahan Simpanan
Penjemuran Bahan Selain untuk mengatasi tingginya serangan serangga gudang, penjemuran juga dapat mengurangi kerusakan gabah akibat tingginya kadar air gabah. Hasil penelitian Nugraha et al. (2007) menunjukkan bahwa kehilangan hasil pada tahapan pengeringan gabah pada ekosistem padi lahan irigasi sebesar 0,98%, untuk ekosistem padi lahan tadah hujan sebesar 1,05% dan pada ekosistem lahan pasang surut sebesar 1,52% - Penggunaan Mesin Pengering

2. Pengaturan Tempat Penyimpanan

Tempat penyimpanan juga sangat mempengaruhi kesukaan serangga gudang terhadap gabah yang disimpan. Tempat penyimpanan yang tidak baik dengan kelembaban tinggi dan temperatur yang tidak sesuai akan memacu perkembangbiakan serangga. Walaupun kadar air gabah sudah memenuhi standar setelah dikeringkan, akan tetapi jika tempat penyimpanan tidak sesuai justru akan meningkatkan kembali kadar air gabah.

3. Penggunaan Pestisida Nabati


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Nama Tumbuhan Babadotan, Ageratum conyzoides Lempuyang gajah, Zingiber zerumbet Lempuyang emprit, Zingiber americans Jeringau, Acorus calamus Bengkuang, Pachyrhizus erosus Serai dapur, Cymbopogon nardus Bawang putih, Allium sativum Tuba, Derris eliptica Brotowali, Tinospora sp. Srikaya, Annona squamosa Bagian Tumbuhan Daun, bunga, batang, akar Rimpang Rimpang Rimpang Biji Daun Umbi Akar Batang Biji Serangga Uji Tribolium castaneum Sitophilus sp. Sitophilus sp. Sitophilus sp. Callosobruchus analis, Sitophilusi sp. Callosobruchus analis Callosobruchus analis Sitophilus sp., Carpophilus sp. Tribolium castaneum Callosobruchus analis

4. Pemanfaatan Sistem Kedap (Hermetic Storage)

Penyimpanan kedap udara mencakup penempatan gabah/beras/benih kedalam kontainer (wadah) yang menghentikan pergerakan udara (oksigen) dan air antara atmosfir luar dan gabah/benih yang disimpan. Penyimpanan tertutup mengendalikan serangga karena serangga menggunakan oksigen yang ada sepanjang respirasi dan mengeluarkan karbon dioksida (misalnya tingkat oksigen dapat berkurang dari 21% menjadi kurang dari 5% dalam 10-21 hari). Pada kondisi oksigen rendah ini, aktivitas serangga menjadi minimal dan reproduksi terhenti.

Sistem Sealed IRRI

Jumlah Serangga yg Hidup


(Serangga/kg)
Open Storage
(bags) 0

Months

Hermetic (5 ton) 8.8 0 0.4 0.4 2.2

Hermetic (small) 7.4 1.4 1.6 1.2 1.2

Cold room 8.4 0 0 0 0

Air conditioner 8.4 1.6 3.0 3.4 9.0

3.2 234 114 54.4 27.2

3 6 9 12

Sumber: Joe Rickman and Martin Gummert

5. Tindakan Kuratif (Fumigasi)

Fumigasi merupakan tindakan pemabasmian hama gudang dengan menggunakan senyawa kimiawi berupa fumigan. Beberapa jenis senyawa fumigan yang sering digunakan di antaranya metilbormide, carbon disulphide, hydricianic acid, phospine, ethylene oxide, ethylene dibromide.

B. Patogen dalam Penyimpanan

Patogen adalah penyebab penyakit pada tanaman ataupun hasilnya. Beberapa patogen yang dapat menyebabkan kerusakan pada material yang disimpan di antaranya adalah kelompok cendawan dan bakteri. Tetapi umumnya, pada produk simpanan gabah (beras), serangan bakteri jarang ditemukan. Cendawan gudang umumnya dapat tumbuh dan berkembang pada bahan yang berkadar air rendah.

Arti Penting Patogen yang Terbawa Benih

Patogen pada benih akan menimbulkan gangguan pada tanaman seperti pada proses perkecambahan, pada waktu tanaman masih muda atau pada waktu tanaman menjelang berbunga atau berbuah. Patogen yang terbawa benih selain dapat menimbulkan penyakit pada tanaman itu sendiri, dapat pula menjadi sumber infeksi untuk tanaman lain. Patogen yang terbawa benih dapat terbawa benih dalam jarak yang jauh. Dengan demikian penyakit tersebut dapat tersebar dari satu negara ke negara lain atau dari satu daerah ke daerah lain. Patogen yang terbawa benih akan menimbulkan kerugian besar jika masuk ke suatu daerah baru yang keadaan lingkungannya baik utnuk perkembangan penyakit.

Jenis-Jenis Patogen Benih


1.

Cendawan Aspergillus sp. (Yellow Mold) Gejala kerusakan. Pada bahan awalnya terlihat bercak kecil yang menempel pada permukaan biji atau bahan, yang kemudian berkembang melebar dan membentuk kumpulan cendawan berwarna kuning kehijauan. Selain menurunkan kualitas bahan, cendawan ini juga dapat menghasilkan racun aflatoksin yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

2. Cendawan Penicillium spp. (Blue Mold)

Gejala Kerusakan. Berawal dari munculnya bercak berwarna abu-abu kehijauan. Bercak akan membesar dan mempentuk seperti tepung berwarna hijau atau biru abu-abu. Racun yang dihasilkan berupa citreoviridin yang dapat merusak sistem syaraf pusat.

3. Cendawan Fusarium spp.


Gejala kerusakan Pada umumnya warna material yang diserang cendawan ini berubah menjadi berwana pinkcoklat kemerahan, kemerahan, biru tua tergantung dengan spesies Fusarium yang menyerang. Cendawan ini menghasilkan racun seperti zearalenon (F-2) yang mengakibatkan kemandulan pada hewan dan fusariogenin.yang sangat berbahaya bagi manusia dan hewan ternak.

Pencegahan dan Pengendalian Patogen Benih


Melaksanakan budidaya tanaman yang sehat agar benih yang diperoleh terbebas dari penyakit. Melakukan tindakan perlakuan benih dengan menggunakan fungisida ataupun air hangat sebelum melakukan penanaman. Bakteri dapat diaplikasi dengan perlakuan panas lembab 65oC selama 6 hari atau perendamana dengan air panas pada suhu 5255oC. Benih juga dapat diaplikasi dengan fungsiida seperti Dithane M-45 and Benlate sebanyak 3 g/kg benih. Mengusahakan agar benih/material yang dipanen benar-benar memiliki kadar air yang sesuai untuk disimpan (13-14%). Tindakan ini dilakukan dengan cara penjemuran atau pengeringan dengan mesin pengering. Sanitasi tempat penyimpanan sehingga lingkungan yang ada tidak sesuai untuk pertumbuhan patogen. Usahakan agar kelembaban ruangan tetap terjaga pada konidisi yang tidak terlalu tinggi. Suhu dijaga antara 20-40oC. Membuang material yang telah terinfeksi oleh patogen.

TIKUS (RODENTIA)

Tikus merupakan organisme perusak bahan yang mempunyai ukuran tubuh paling besar dibandingkan dengan serangga atau patogen gudang lainnya. Tikus dapat mengkonsumsi bahan makanan sebanyak 25 g per hari. Diperkirakan kehilangan hasil akibat serangan tikus di negara berkembang mencapai 3-5%. Tikus yang termasuk dalam kelompok Rodentia (binatang pengerat) merupakan hewan nokturnal (aktif malam hari). Tikus cepat menjadi dewasa (2-3 bulan), masa bunting pendek yakni hanya 3 minggu, siklus estrus yang pendek yakni 4-5 hari jumlah keturunan banyak yakni 8-12 ekor (sex ratio 1:1)

Jenis tikus yang berpotensi menjadi hama gudang


1. Tikus rumah (Rattus rattus diardii). 2. Tikus riul (Rattus norvegicus) 3. Mencit rumah (Mus musculus).

Tindakan Pengendalian Tikus


Secara mekanis, dengan menangkap dan membunuh tikus secara langsung. Penggunaan perangkap tikus untuk menangkap tikus dalam keadaan hidup dan umpan beracun untuk menangkap tikus sampai tikus tersebut mati. Kimiawi. Penggunaan rodentisida seperti Klerat, Seng Fosfit Temik atau melakukan fumigasi dengan menggunakan bahan kimia berupa HCN, metil bromida, CO terhadap tempat penyimpanan. Penggunaan pestisida nabati. Kardinan (2001) melaporkan bahwa campuran umbi gadung racun (1 kg), dedak padi (10 kg), tepung ikan 1 ons, kemiri sebagai pemikat dan air yang dibentuk menjadi pelet dapat digunakan untuk membunuh tikus.