Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI Kompetisi Intraspesifik dan Interspesifik

Pada Tumbuhan

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI DASAR


Kompetisi Intraspesifik dan Interspesifik Pada Tumbuhan


Nama : Sara Fadlah Iq
NIM : 1110095000031
Kelompok : 1 (satu)
Semester : 3/A
Asisten Dosen : Angga Restiadi Nugraha
Tanggal Praktikum : 26 Oktober 2011
Tanggal Dikumpul : 2 November 2011


PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Organisme hidup di dalam suatu ekosistem yang didalamnya saling berinteraksi antar satu
spesies dengan spesies lain. Interaksi tersebut dapat berupa interaksi positif yang saling
menguntungkan dapat juga interaksi negatif seperti kompetisi. Kompetisi tumbuhan dalam suatu
spesies mampu di liat pada jarak antar tumbuhan, di mana sebenarnya persaingan yang paling
keras terjadi antara tumbuhan yang sama spesiesnya, sehingga tegakan besar dari sepesies
tunggal sangat jarang di temukan di alam. Persaingan antar tumbuhan yang sejenis ini
mempengaruhi pertumbuhannya karena pada umumnya bersifat merugikan.
Pengaturan populasi tanaman pada hakekatnya adalah pengaturan jarak tanam yang
nantinya akan berpengaruh pada persaingan dalam penyerapan zat hara, air, dan cahaya
matahari. Jika hal tersebut tidak diatur dengan baik , hasil tanaman akan ikut terpengaruh. Jarak
tanam rapat akan mengakibatkan terjadinya suatu kompetisi, baik inter maupun intraspesies.
Penelitian tentang jarak tanam menunjukkan bahwa semakin rapat jarak tanam maka semakin
tinggi tanaman tersebut dan secara nyata akan berpengaruh terhadap jumlah cabang, luas
permukaan daun dan pertumbuhan tanaman. Mengingat pentingnya mengengetahui jarak
tanaman ideal untuk pertumbuhan tanaman, maka dilakukan penelitian tentang kompetisi yang
terjadi pada tanaman yang sejenis maupun berbedaspesies.
Kacang hijau dan jagung merupakan jenis tumbuhan dengan habitat yang berbeda. Akan
tetapi, jika keduanya ditanam pada satu media bukan tidak mungkin akan terjadi suatu interaksi.
Interaksi tersebut tentu saja berupa kompetisi dimana keduanya tidak hanya memperebutkan
tempat tumbuh, tetapi juga saling memperebutkan unsur hara, air dan cahaya matahari untuk
berfotosintesis. Hal ini berarti terjadi tumpang tindih relung ekologi antara kacang hijau dan
jagung. Tumpang tindihnya relung ekologi antara kacang hijau dan Jagung akan mempengaruhi
pertumbuhan dan daya hidup keduanya. Oleh karena itulah percobaan ini dilakukan sehingga
dapat diketahui pengaruh kompetisi terhadap pertumbuhan kacang hijau (Vigna radiata) dan
jagung (Zea mays).
1.2 Tujuan
Mengamati pengaruh kompetisi intraspesifik dan interspesifik terhadap pertumbuhan tanaman
jagung dan kacang hijau.















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengaruh Lingkungan Terhadap Tumbuhan
Faktor-faktor lingkungan akan mempengaruhi fungsi fisiologis tanaman. Respons tanaman
sebagai akibat faktor lingkungan akan terlihat pada penampilan tanaman. Tumbuhan
menyesuaikan diri dengan lingkungannya, disini terlihat bahwa tumbuhan saling mempengaruhi
dengan lingkungannya. Begitu pula biasanya vegetasi yang tumbuh disekitar ekosistem tersebut
juga spesifik atau tertentu. Karena hanya tumbuhan yang sesuai dan cocok saja yang dapat hidup
berdampingan. Tumbuhan pun mempunyai sifat menolak terhadap tumbuhan yang tidak
disukainya, yaitu dengan mengeluarkan zat kimia yang dapat bersifat bagi jenis tertentu. Sifat
tersebut dinamakan allelopati (Irwan,2007).
2.2 Hubungan atau Interaksi Sesama Tanaman
Dalam usaha mengkomposisikan jenis-jenis tanaman misalnya untuk keperluan estetika,
perlu diketahui bahwa hubungan sesama tanaman tertentu memerlukan bantuan tanaman tertentu
pula, misalnya untuk perlindungan. Tumbuh-tumbuhan dapat mengahasilkan zat-zat yang dapat
merangsang atau meracuni jenis tumbuhan lain. Senyawa-senyawa ini dapat meracuni biji-biji
tanaman yang ada disekitarnya (Irwan,2007). Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya
hubungan sesama tanaman yaitu:
Adanya kompetisi yang disebabkan kekurangan sumber energy atau sumber daya lainnya yang
terbatas seperti sinar matahari, unsur hara, dan air. Kompetisi ini disebut juga alelospoli.
Tumbuhan tertentu baik masih hidup atau sudah mati menghasilkan senyawa kimia yang dapat
mempengaruhi tumbuhan lain. Senyawa kimia tersebut disebut allelopati.
Adanya pengaruh baik fisik maupun maupun biologis lingkungan yang dap[at mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan jenis-jenis tumbuhan yang bertindak sebagai tuan rumah atau
inang (Irwan,2007).
2.3 Kompetisi
Kompetisi adalah interakksi antar individu yang muncul akibat kesamaan kebutuhan akan
sumberdaya yang bersifat terbatas, sehingga membatasi kemampuan bertahan (survival),
pertumbuhan dan reproduksi individu penyaing (Begon et al .1990), sedangkan Molles (2002)
kompettisi didefinisikan sebagai interaksi antar individu yang berakibat pada pengurangan
kemampuan hidup mereka. Kompetisi dapat terjadi antar individu (intraspesifik) dan antar
individu pada satu spesies yang sama atau interspesifik.
Kompetisi dapat didefenisikan sebagai salah satu bentuk interaksi antar tumbuhan yang saling
memperebutkan sumber daya alam yang tersedia terbatas pada lahan dan waktu sama yang
menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan hasil salah satu jenis tumbuhan atau
lebih. Sumber daya alam tersebut, contohnya air, hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh
(Kastono,2005).
Definisi kompetisi sebagai interaksi antara dua atau banyak individu apabila (1) suplai
sumber yang diperlukan terbatas, dalam hubungannya dengan permintaan organisme atau (2)
kualitas sumber bervariasi dan permintaan terhadap sumber yang berkualitas tinggi lebih
banyak.organisme mungkin bersaing jika masing-masing berusaha untuk mencapai sumber yang
paling baik di sepanjang gradien kualitas atau apabila dua individu mencoba menempati tempat
yang sama secara simultan. Sumber yang dipersaingkan oleh individu adalah untuk hidup dan
bereproduksi, contohnya makanan, oksigen, dan cahaya (Noughton,1990).
Secara teoritis ,apabila dalam suatu populasi yang terdiri dari dua spesies , maka akan
terjadi interaksi diantara keduanya. Bentuk interaksi tersebut dapat bermacam-macam,salah
satunya adalah kompetisi. Kompetisi dalam arti yang luas ditujukan pada interaksi antara dua
organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Kompetisi antar spesies merupakan suatu
interaksi antar dua atau lebih populasi spesies yang mempengaruhi pertumbuhannya dan
hidupnya secar merugikan.Bentuk dari kompetisi dapat bermacam-macam. Kecenderungan
dalam kompetisi menimbulkan adanya pemisahan secara ekologi , spesies yang berdekatan atau
yang serupa dan hal tersebut di kenal sebagai azaz pengecualian kompetitif ( competitive
exclusion principles ) .Kompetisi dalam suatu komunitas dibagi menjadi dua , yaitu kompetisi
sumber daya (resources competition atau scramble atau exploitative competition ), yaitu
kompetisi dalam memanfaatkan secara bersama-sama sumber daya yang terbatas Inferensi
(inference competition atau contest competition), yaitu usaha pencarian sumber daya yang
menyebabkan kerugian pada individu lain, meskipun sumber daya tersebut tersedia secara tidak
terbatas. Biasanya proses ini diiringai dengan pengeluaran senyawa kimia (allelochemical) yang
berpengaruh negatif pada individu lain.
2.4 Persaingan Dalam Komunitas
Dalam artian yang luas persaingan ditunjukan pada interaksi antara dua organisme yang
memperebutkan sesuatu yang sama. Persaingan ini dapat terjadi antara indifidu yang sejenis
ataupun antara individu yang berbeda jenis. Persaingan yang terjadi antara individu yang sejenis
disebut dengan persaingan intraspesifik sedangkan persaingan yang terjadi antara individu yang
berbeda jenisnya disebut sebagai persaingan interspesifik.
Persaingan yang terjadi antara organisme-organisme tersebut mempengaruhi
pertumbuhan dan hidupnya, dalam hal ini bersifat merugikan (Odum, 1971). Setiap organisme
yang berinteraksi akan di rugikan jika sumber daya alam menjadi terbatas jumlahnya. Yang jadi
penyebab terjadinya persaingan antara lain makanan atau zat hara, sinar matahari, dan lain lain
(Setiadi, 1989). Faktor-fator intraspesifik merupakan mekanisme interaksi dari dalam individu
organisme yang turut mengendalikan kelimpahan populasi. Pada hakikatnya mekanisme
intraspesifik yang di maksud merupakan perubahan biologi yang berlangsung dari waktu ke
waktu (Wirakusumah, 2003).
Harter (1961), mengatakan bahwa persaingan intraspesifik di gunakan untuk
menggambarkan adanya persaingan antar individu-individu tanaman yang sejenis. Persaingan
intraspesifik terdiri atas :
1 Persaingan aktivitas
2 Persaingan sumber daya alam
Dua jenis populasi tumbuhan dapat bertahan bersama bila individu-individunya secara
bebas di kendalikan oleh hal hal sebagai berikut:
1. Perbedaan unsur hara
2. Perbedaan sebab sebab kematian
3. Kepekaan terhadap berbagai senyawa racun
4. Kepekaan terhadap faktor faktor yang mengendalikan sama dan pada waktu yang
berbeda.

Beberapa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persaingan intraspesifik dan
interspesifik pada tumbuhan, yaitu :
1. Jenis tanaman
Faktor ini meliputi sifat biologi tumbuhan, system perakaran, bentuk pertumbuhan secara
fisiologis. Misalnya adalah pada tanaman ilalang yang memiliki system perakaran yang
menyebar luas sehingga menyebabkan persaingan dalam memperebutkan unsure hara. Bentuk
daun yang lebar pada daun talas menyebabkan laju transpirasi yang tinggi sehingga
menimbulkan persaingan dalam memperebutkan air.
2. Kepadatan tumbuhan
Jarak yang sempit antar tanaman pada suatu lahan dapat menyebabkan persaingan
terhadap zat-zat makanan hal ini karena zat hara yang tersedia tidak mencukupi bagi
pertumbuhan tanaman.
3. Penyebaran tanaman
Untuk menyebarkan tanaman dapat dilakukan dengan penyebaran biji atau melalui
rimpang (akar tunas). Tanaman yang penyebarannya dengan biji mempunyai kemampuan
bersaing yang lebih tinggi daripada tanaman yang menyebar dengan rimpang. Namun persaingan
yang terjadi karena factor penyebaran tanaman sangat dipengaruhi factor-faktor lingkungan lain
seperti suhu, cahaya, oksigen, dan air.
4. Waktu
Lamanya periode tanaman sejenis hidup bersama dapat memberikan tanggapan tertentu yang
mempengaruhi kegiatan fisiologis tanaman. Periode 25-30 % pertama dari daur tanaman
merupakan periode yang paling peka terhadap kerugian yang disebabkan oleh kompetisi.













BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Pusat Laboratorium Terpadu (PLT) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Di ilakukan pada hari Rabu, 12 oktober 2011 selama 21 hari.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain skop, garpu tanah, polybag 17 x 25 cm,
penggaris, dan timbangan. Bahan yang digunakan pada praktikum ini antara lain biji jagung, biji
kacang hijau, tanah gembur, dan pupuk kandang,
3.3 Cara Kerja
3.3.1. Tahap persiapan
Cara kerja pada praktikum ini pertama dipilih tanah subur dan dicampurkan dengan pupuk
kandang. Tanah dimasukan kedalam polybag. Biji jagung dan kacang hijau ditanam dalam
polybag yang telah disediakan baik secara terpisah maupun bersamaan dengan pola kerapatan
tertentu. Dilakukan pengukuran faktor fisik diantaranya pH tanah, suhu tanah,
kelembaban udara, intensitas cahaya, temperatur udara dan kelembaban tanah.
3.3.2 Tahap penanaman
Sebelum menanam, dilakukan pemilihan biji yang baik untuk ditanam.Untuk perlakuan J,
ditanam biji jagung sesuai dengan pola kerapatan pada tabel 1 demikian pula untuk perlakuan K,
sitanam biji kacang hijau sesuai dengan pola kerapatan pada tabel 2. Pada perlakuan JK, ditanam
biji jagung dan kacang dengan pola bergantian seperti pada tabel 3. Diberi label pada setiap
polybag untuk menunjukan perlakuan kerapatan yang diberikan. Jarak masing-masing biji
diatur sedemikian rupa sehingga tidak terlalu berdekatan. Semua tanaman disir am
setiap harisebanyak 30ml.
Tabel1. pola penanaman jagung (perlakuan J)
Kode perlakuan Jumlah Lubang Pola penanaman
J-1 1 J
J-2 2 J J
J-4 4 J J

J J
J-8 8 J

J J J

J J J

J

Tabel 2. Pola penenaman Kacang hijau (Perlakuan K)
Kode perlakuan Jumlah Lubang Pola penanaman
K-1 1 K
K-2 2 K K
K-4 4 K K

K K
K-8 8 K

K K K

K K K

K

Tabel 3. Pola penanaman jagung dan kacang hijau (JK)
Kode perlakuan Jumlah Lubang J Jumlah Lubang K Pola penanaman
JK-1 1 1 J K
JK-2 2 2 J K

K J
JK-4 4 4 J

J K J

K J K

K

3.3.3 Pengamatan
Pengamatan dilakukan dengan mengukur pertumbuhan tanaman secara berkala yaitu 3
hari sekali. Data yang didapat dicatat dan disusun berdasarkan hari atau tanggal pengamatannya
hingga waktu panen tiba yaitu setelah sekitar satu bulan. Pada saat panen dilakukan pengukuran
faktor fisik akhir seperti yang dilakukan di awal.
Tanaman yang dipanen dipisahkan setiap plot dan setiap jenisnya kemudian ditimbang
berat basahnya dengan menggunakan timbangan, dicatat data yang diperoleh.
3.5. Analisi Data
Analisis data terhadap faktor fisik dilakukan dengan melakukan pengukuran faktor fisik
sebelum tanam dan setelah panen dengan menggunakan alat-alat yang telah disediakan seperti
luxmeter untuk mengukur intensitas cahaya, soil tester untuk mengukur pH tanah dan
kelembaban tanah, termometer untuk mengukur suhu tanah , dan sling untuk mengukur
kelembaban udara
Sedangkan untuk data hasil pengamatan terhadap tumbuhan disajikan dalam bentuk
grafik. Grafik yang disajikan didapat dari hasil pengukuran yang dilakukan secara bertahap, hasil
pengukuran di catat dalam bentuk tabel. Data yang di tulis dalam bentuk tabel berasal dari hasil
pengukuran pertambahan tinggi tanaman selama kurang lebih 4 minggu. Pemanenan tanaman
hanya dilakukan pada bagian tumbuhan diatas permukaan tanah(taruk).
Untuk pengukuran biomassa hasil panen dilakukan dengan menimbang setiap tanaman
sesuai dengan perlakuan secara terpisah. Dan dihitung pula jumlah tanaman yang ada untuk
menetukan rata-rata biomassa setiap spesies.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Faktor-faktor yang mempengaruhi kompetisi antar tumbuhan dapat berasal dari faktor
internal dan eksternal. Faktor internalnya yaitu kemampuan biji atau tumbuhan tersebut untuk
bertahan hidup berdampingan dengan tumbuhan lain.Faktor eksternal yang menjadi perebutan
antar tanaman diantaranya intensitas cahaya, unsure hara, suhu, air, oksigen , dan
karbondioksida. Selain faktor yang menjadi perebutan, ada juga faktor yang mempengaruhi
keadaan fisiologis pertumbuhan tanaman diantaranya kondisi tanah, kelembaban tanah,
udara,angin, dan gangguan dari spesies-spesies tertentu di suatu habitat juga dapat berpengaruh
terhadap kelangsungan hidup dan fisiologis tumbuhan.
Biji suatu tanaman dapat mengakhiri masa dormansinya apabila terdapat faktor-faktor
yang mengukung pemutusan dormansi. Beberapa hal yang berpengaruh terhadap pemutusan
dormansi biji adalah struktur biji itu sendiri, sedangkan faktor lingkungan yang berpengaruh
adalah kadar air, kelembaban tanah, suhu tanah, intensitas cahaya dan faktor fisik lainnya.
No Faktor fisik Awal Akhir
1 pH Tanah 5 5.8
2 Suhu Tanah 29 0C 28.5 0C
3 Kelembaban Udara 67% 75%
4 Intensitas cahaya 0,59 Lux 2,08 Lux
5 Suhu udara 27
0
C 27
0
C
6 Kelembaban tanah 3 3.6
Tabel 1 Pengukuran Faktor Fisik
Faktor-faktor pada tabel diatas adalah faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman biji
jagung dan biji kacang hijau pada praktikum ini. Faktor-faktor tersebut diukur agar mengetahui
keadaan makroklimat pada awal penanaman dan akhir penanaman. Dan selama pengamatan
pertumbuhan tanaman, yang lebih dilihat adalah persaingan yang terjadi antara biji yang ditanam
dalam 1 plot baik persaingan intaraspesifik ataupun persaing interspesifiknya.
Setelah dilakukan pengamatan pertumbuhan tanaman jagung dan kacang hijau selama 3
minggu, dilakukan pemanenan dan penimbangan berat basah (biomassa total) dari masing-
masing jenis dan masing-masing plot. Didapatkan biomassa rata-rata tanaman jagung dan kacang
hijau sebagai berikut:










Grafik diatas menunjukan biomassa tanaman jagung yang ditanam oleh kelompok 1.
Dapat terlihat pada J1 biomassanya lebih besar dibandingkan dengan biomassa pada J4. Tetapi
jika dilihat dari jumlah biji yang ditanam terdapat lebih banyak biji yang ditanam pada J4 dari
pada J1, sehingga seharusnya biomassa lebih besar biomassa pada J4. Tetapi pada percobaan
tersebut lebih besar J1. Hal ini disebabkan pada plot J4 terdapat tanaman yang layu sehingga
menurunkan beras basah tanaman tersebut. Layunya tanaman pada J4 dapat dikarenakan oleh
adanya kompetisi berupa perebutan unsure hara dan air dari tanah. Tanaman jagung pada plot J8
memiliki biomassa paling besar dibandingkan pada J1 J2 dan J4. Hal ini disebabkan dalam plot
J8 ditanam biji dengan jumlah 8 sehingga otomatis memiliki biomassa yang paling besar. Namun
pada dasarnya tanaman J8 mengalami kompetisi perebutan unsur hara dalam plot karena besar
plot dan jumlah tanah yang disediakan sama dengan plot J1 J2 dan J4.












Grafik 2 diatas
menunjukan biomassa pata tanaman kacang hijau yang ditaman oleh kelompok 4. Dapat terlihat
bahwa pada K1 dan K2 tidak terjadi perbedaan yang signifikan. Biomassa K1 sedikit lebih besar
dibanding dengan biomassa K2. Hal ini disebabkan adanya tanaman yang layu pada K2 sehingga
menurunkan biomassa tanaman tersebut. Sedangkan pada K4 dan K8 memiliki biomassa yang
lebih tinggi dari pada K1 dan K2 karena jumlah tanaman yang ditanam lebih banyak yaitu pada
K4 berjumlah 4, dan pada K8 berjumlah 8. Namun sebenarnya terjadi kompetisi diantara
tanaman tersebut seperti perebutan unsur hara dan air dari tanah karena plot yang disediakan


memiliki ukuran yang sama dengan K1 da K2, sedangkan pada K4 dan K8 memiliki kebutuhan
yang lebih untuk menutrisi lebih banyak jumlah tanaman.






Grafik 3 menunjukan perbandingan biomassa pada tanaman jagung dan kacang hijau yang
ditanam dengan pola JK. Pada JK1 terlihat bahwa biomassa kacang hijau lebih besar
dibadingkan dengan biomassa jagung. Sehingga dapat dikatakan bahwa kacang hijau
memenangkan kompetisi. Karena kacang hijau lebih dahulu berkecambah sehingga kacang hijau
menyerap unsure hara lebih dulu dari pada jagung. Sedangkan jagung membutuhkan waktu lama
dalam berkecambah.

Kecepatan perkecambahan biji tumbuhan dan pertumbuhan anakan (seedling) merupakan suatu
faktor yang menentukan kemampuan spesies tumbuhan tertentu untuk menghadapi dan
menaggulangi persaingan yang terjadi. Apabila suatu tanaman berkecambah terlebih dahulu di
banding suatu tanaman yang lain maka tanaman yang tumbuh lebih dahulu dapat menyebar lebih
luas sehingga mampu memperoleh cahaya matahari, air, dan unsur hara tanah lebih banyak di
bandingkan dengan yang lain(Setiadi, 1989).










Grafik 4.
menunjukan rata-rata tinggi pertumbuhan jagung selama 3 minggu. terlihat bahwa tinggi J1 dan
J2 lebih besar atau lebih tinggi dari pada tinggi rata-rata pada J4 dan J8. Hal ini dikarenakan
jarak tanam di J4 dan J8 lebih rapat dari pada J1 dan J4, sedangkan polybag tempat ditanamnya
jagung memiliki ukuran yang sama antara J1 hingga J8. Kerapatan penanaman menyebabkan
kompetisi yang lebih ketat antar tanaman dikarenakan semakin kecil ruang atau plot maka
semakin sedikit pembagian unsure hara dan air yang diserap oleh tanaman tersebut.











Grafik 6 diatas adalah grafik yang menujukan interaksi yang terjadi antara tanaman
jagung dan kacang hijau yang ditanam dalam plot yang sama yaitu JK1 dimana dalam 1 polybag
ditanam 1 biji kacang dan 1 biji jagung, JK2 pada polybag ditanam 2 biji kacang dan dua biji
jagung, dan JK4 pada polybag ditanam 4 biji kacang dan 4 biji jagung. Dari data yang diperoleh
maka dapat diketahui bahwa tanaman kacang hijau memiliki nilai rata-rata tinggi tanaman yang
lebih besar daripada jagung. Hal ini dapat terjadi karena perkecambahan pada kacang hijau jauh
lebih cepat daripada perkecambahan pada jagung. Sehingga kacang hijau mampu tumbuh lebih
cepat dibanding dengan jagung.
Berdasarkan grafik di atas dapat terlihat beberapa tanaman yang pada hari ke 9 nilai rata-
ratanya tinggi namun pada pengukuran berikutnya mengalami penurunan. Hal ini terjadi pada
tanaman jagung, beberapa dari tanaman jagung mati pada hari ke 14. Matinya tanaman jagung
ini membuktikan bahwa kacang hijau pada hari ke 14 tidak dapat bertahan hidup, hal ini dapat
terjadi karena pada hari ke 14 dan sebelumnya tanaman kacang hijau telah tumbuh dengan baik
dan mulai mengambil unsure hara dan zat-zat yang diperlukan untuk pertumbuhan dari dalam
tanah maka menyebabkan jagung mengalami kekalahan dalam kompetisi. Selain itu juga
dikarenakan kacang hijau mampu lebih dulu berkecambah sehingga lebih dulu menyerap
sumber daya dari dalam tanah.
Tinggi tanaman kacang hijau lebih tinggi dibandingkan tinggi tanaman jagung.
Persaingan diantara tumbuhan ini secara tidak langsung terbawa oleh modifikasi lingkungan. Di
dalam tanah, sistem-sistem ini akan bersaing untuk mendapatkan air dan bahan makanan. Dan
karena mereka tidak bergerak, maka ruang menjadi faktor penting, di atas tanah, tumbuhan yang
lebih tinggi menguasai sinar yang mencapai tumbuhan yang lebih rendah dan memodifikasi
suhu, kelembaban serta aliran udara pada permukaan tanah (Michael, 1994).







BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan dan pengamatan yang dilakukan terhadap tanaman jagung dan
kacang hijau selama kurang lebih 21 hari maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Pertumbuhan tanaman kacang hijau lebih cepat daripada tanaman jagung maka kacang
hijau adalah pemenang dalam kompetisi intraspesifik dan interspesifik.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi persaingan intraspesifik dan interspesifik adalah
kepadatan atau jarak tanaman, luas lahan tanam, jenis tanaman, dan waktu lamanya
tanaman hidup.
3. Semakin rapat jarak suatu tanaman maka pertumbuhannya akan semakin terhambat
karena persaingan mendapatkan sumber daya atau unsur hara dari tanah semakin ketat.
4. Cepat atau lambatnya perkecambahan pada tanaman juga berpengaruh terhadap
menangnya suatu tanaman dalam berkompetisi.
5. Terjadinya kompetisi antar tanaman dapat menyebabkan tanaman mati









DAFTAR PUSTAKA
Irwan, Z.D.. 2007. Prinsip-Prinsip Ekologi. Jakarta: Bumi Aksara.
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Bumi Aksara: Jakarta
Michael. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium.
UI Press . Jakarta.
Naughhton.1973. Ekologi Umum edisi Ke 2. UGM Press Yogyakarta
Odum, E.P. 1971. Dasar-dasar Ekologi (diterjemahkanTjahjono, S. dan Srigandono, B)
Yogyakarta: Penerbit Universitas Gajah Mada.
Setiadi, Dedi, Muhadiono, Ayip Yusron.1989. Penuntun Praktikum Ekologi.PAU Ilmu
Hayat IPB: Bogor.
Wirakusumah, S. 1003. Dasar-dasar Ekologi bagi populasi dan Komunitas. UI-Press:
Jakarta