Anda di halaman 1dari 20

ACARA 1

IDENTIFIKASI IKAN









Disusun oleh:
Kelompok 4

Haji Mustakin (H1K013006)
Siti Aisah (H1K013018)
Adi Nuryadi n (H1K013019)
Aprilliani Dwi W (H1K013031)
Azizah Kuswardini (H1K013033)


JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2014

I. Pendahuluan

1.1. Latar Belakang
Kata sistematika berasal dari
bahasa Latin, yaitu systema. Kata
systema biasa digunakan sebagai
suatu cara atau sistem untuk
mengelompokan tumbuhan dan
binatang. Istilah ini digunakan
pertama kali oleh Carolus Linnaeus
pada saat menulis bukunya Systema
Naturae pada tahun 1773. Selain
istilah sistematika, juga dikenal
istilah taksonomi yang berasal dari
bahasa Yunani, yaitu taxis yang
berarti susunan dan nomos yang
berarti hukum. Istilah ini diusulkan
oleh Candolle pada tahun 1813 yang
dimaksudkan sebagai teori
mengklasifikasikan tumbuhan. Salah
satu bagian dari ilmu taksonomi
adalah identifikasi.
Identifikasi adalah tugas untuk
mencari dan mengenal ciri-ciri
taksonomi individu yang
beranekaragam dan memasukannya
kedalam suatu takson. Identifikasi
berkaitan dengan ciri-ciri taksonomi
yang akan menuntun suatu sampel
kedalam suatu urutan kunci
identifikasi. Dalam identifikasi, jasad
yang beranekaragam di alam
dikelompokan dalam kelompok yang
mudah dikenal, kemudian ditetapkan
ciri-ciri penting dan senantiasa dicari
pembeda yang tetap antara kelompok
itu, kemudian diberi nama ilmiah.
Identifikasi penting artinya bila
ditinjau dari sudut ilmiah seluruh
urutan pekerjaan selanjutnya sangat
bergantung dari hasil identifikasi
yang benar dari suatu spesies.





1.2. Tujuan Praktikum
Mahasiswa dapat
mengidentifikasi suatu specimen ikan
tertentu dan memberikan
klasifikasinya.
II. Tinjauan Pustaka
2.1 Bagian-bagian Tubuh Ikan
Pengenalan struktur ikan tidak
terlepas dari morfologi ikan yaitu
bentuk luar ikan yang merupakan ciri-
ciri yang mudah dilihat dan diingat
dalam mempelajari jenis-jenis ikan.
Morfologi ikan sangat berhubungan
dengan habitat ikan tersebut di perairan.
Sebelum kita mengenal bentuk-bentuk
tubuh ikan yang bisa menunjukkan
dimana habitat ikan tersebut, ada
baiknya kita mengenal bagian-bagian
tubuh ikan secara keseluruhan beserta
ukuran-ukuran yang digunakan dalam
identifikasi. Ukuran tubuh ikan. Ukuran
standar yang dipakai Semua ukuran
yang digunakan merupakan pengukuran
yang diambil dari satu titik ke titik lain
tanpa melalui lengkungan badan.
1. Panjang total (TL) diukur mulai dari
bagian terdepan moncong/bibir
(premaxillae)
hingga ujung ekor.
2. Panjang standar (SL) diukur mulai
dari bagian terdepan moncong/bibir
(premaxillae) hingga pertengan pangkal
sirip ekor (pangkal sirip ekor bukan
berarti sisik terakhir karena sisik-sisik
tersebut biasanya memanjang sampai ke
sirip ekor.
3. Panjang kepala (HL) diukur mulai
dari bagian terdepan moncong/bibir
(premaxilla) hingga bagian terbelakang
operculum atau membran operculum
(Jeffri, 2010).

2.2 Rangka dan Bentuk Tubuh
Pengenalan struktur ikan tidak
terlepas dari morfologi ikan yaitu
bentuk luar ikan yang merupakan ciri-
ciri yang mudah dilihat dan diingat
dalam mempelajari jenis-jenis ikan.
Morfologi ikan sangat berhubungan
dengan habitat ikan tersebut di perairan
(Wahyuningsih dan barus, 2006).
Rangka ikan berfungsi untuk
menegakkan tubuh, menunjang atau
atau menyokong organ-organ tubuh.
Secara tidak langsung rangka
menentukan bentuk tubuh ikan yang
beraneka ragam. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa tulang-tulang
yang membentuk sistem rangka
berkaitan dengan terhadap
lingkungannya secara terus menerus
(Rahardjo.dkk, 2011).


A. Sirip
Sirip pada ikan umumnya ada
yang berpasangan ada yang tidak. Sirip
punggung, sirip ekor, dan sirip dubu
disebut sirip tunggal atau sirip tidak
berpasangan. Sirip dada dan sirip perut
disebut sirip berpasangan. Macam
macam sirip ekor dapat dibedakan
berdasarkan bentuk sirip tersebut.
Bentuk-bentuk sirip ekor yang simetris
yaitu bentuk membulat,bentuk persegi
atau tegak, bentuk sedikit cekung atau
berlengkuk tunggal, bentuk bulan sabit,
bentuk bercagak, bentuk meruncing dan
bentuk lanset (Wahyuningsih dan
barus,2006).
B. Struktur Kulit
Kulit terdiri atas lapisan luar
(epidermis) dan lapisan dalam yang
disebut dermis (porium). Epidermis
selalu basah karena adanya lendir yang
dihasilkan oleh sel-sel yang berbentuk
piala yang terdapat diseluruh permukaan
tubuhnya. Lendir berguna untuk
mengurangi gesekan dengan air agar
ikan dapat beranang lebih cepat,
mencegah infeksi, menutup luka,
sebagai lapisan semi permiable yang
menghambat masuk keluarnya air
melalui kulit (Rahardjo dkk, 2011).

2.3. Klasifikasi Ikan
Klasifikasi ikan dibedakan
menjadi tiga kelas utama berdasarkan
taksonominya, yaitu:
1. Kelas agantha
Meliputi ikan primitif seperti lamprey,
berumur 550 juta tahun yang lalu dan
sekarang tinggal 50 spesies.
Karakteristik ikan ini tidak memiliki
sirip-sirip yang berpasangan tetapi
memiliki satu dua sirip punggung dan
satu sirip ekor.
2. Kelas chondroichthyes
Memiliki karakteristik adanya tulang
rawan dan tidak mempunyai sisik ,
termasuk kelas primitif umur 450 juta
tahun yang lalu dan sekarang tinggal
300 spesies. Misalnya ikan pari dan ikan
hiu.
3. Kelas osteichthtyes
Meliputi ikan teleostei yang merupakan
ikan tulang sejati, merupakan ikan
kelompok terbesar jumlahnya dari
seluruh ikan yaitu melebihi 20.000
spesies dan ditemukan pada 300 juta
tahun lalu( Barus dan Hesti, 2006).
1. Klasifikasi Ikan Mas:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
kelas : Pisces
Ordo : Ostariophysi
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio
Secara umum, karakteristik ikan mas
memiliki bentuk tubuh yang agak
memanjang dan sedikit memipih ke
samping (compressed ). Sebagian besar
tubuh ikan mas ditutupi oleh sisik. Pada
bagian dalam mulut terdapat gigi
kerongkongan (pharynreal teeth) sebanyak
tiga baris berbentuk geraham (Pribadi,
2002). Sirip punggung ikan mas
memanjang dan bagian permukaannya
terletak berseberangan dengan permukaan
sirip perut (ventral). Sirip punggungnya
(dorsal) berjari- jari keras, sedangkan di
bagian akhir bergerigi. Sirip ekornya
menyerupai cagak memanjang simetris.
Sisik ikan mas relatif besar dengan tipe
sisik lingkaran (cycloid) yang terletak
beraturan (Pribadi, 2002).

2. Klasifikasi ikan patin (Pangasius
pangasius) menurut Saanin (1984)
diacu dalam Subagja 2009 adalah
sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
kelas : Pisces
Ordo : Ostariophyri
Famili : Pangasidae
Genus : Pangasius
Spesies : Pangasius sp
Ikan patin (Pangasius sp) merupakan
jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan
panjang berwarna putih perak dengan
punggung berwarna kebiru-biruan. Kepala
ikan patin relatif kecil, mulut terletak di
ujung kepala agak di sebelah bawah
(merupakan ciri khas golongan catfish). Pada
sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis
pendek yang berfungsi sebagai peraba
(Anonim 2006 diacu dalam Subagja 2009).
Morfologi ikan patin (Pangasius sp)
mempunyai badan memanjang dan pipih,
posisi mulut sub terminal dengan 4 buah
sungut. Sirip punggung berduri dan bersirip
tambahan serta terdapat sirip lengkung mulai
dari kepala sampai pangkal sirip ekor.
Bentuk sirip tersebut agak bercagak dengan
bagian tepi berwarna putih dan garis hitam di
tengah. Ikan ini mempunyai panjang
maksimum 150 cm (Subagja 2009).
Ikan patin sangat toleransi terhadap
derajat keasaman (pH) air. Artinya, ikan ini
dapat bertahan hidup pada kisaran pH air
yang lebar, dari perairan yang agak asam
(pH 5) sampai perairan yang basa (pH 9)
(Subagja 2009). Kandungan oksigen terlarut
yang dibutuhkan bagi kehidupan ikan patin
adalah berkisar antara 3-6 ppm, sementara
karbondioksida yang bias ditolerir berkisar
antara 9-20 ppm, dengan alkalinitas antara
80-250 (Subagja 2009). Suhu air media
pemeliharaan yang optimal berada dalam
kisaran 28-30C (Khairuman dan Suhenda
2002 diacu dalam Subagja 2009).
3. Klasifikasi ikan nilem, Menurut Rukmana
(1997), bahwa sistematika atau klasifikasi
ikan nila yaitu
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Ostariophysi
Family : Cyprinidae
Genus : Osteochilus
Spesies :Osteochilus
haselti
Pada badan dan sirip ekor (Candal
fin) ditemukan garis-garis lurus (vertical)
sedangkan garis-garis berbentuk
memanjang ditemukan pada sirip
punggung (Dorsal fin) dan sirip dubur
(Anal fin Santoso, 1996). Perbandingan
tubuh antara panjang dan tinggi ikan
nilem 3 : 1, mata ikan nilem berbentuk
bulat, menonjol dan bagian tepi berwarna
putih.
4. Ikan lele Menurut Sanin (1984) dan
Simanjuntak (1989) dalam Rustidja
(1997) adalah sebagai brikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Ostariophysi
Family : Clariidae
Genus : Clariias
Spesies : Clarias batrachus
Menurut Najiyati (1992), dalam
Rustidja (1997) bentuk luar ikan lele
dumbo yaitu memanjang, bentuk kepala
pipih dan tidak bersisik. Mempunyai
sungut yang memenjang yang terletak di
seitar kepala sebagai alat peraba ikan.
Mempunyai alat olfactory yang terletak
berdekatan dengan sungut hidung .
Penglihatannya kurang berfungsi
dengan baik. Ikan lele dumbo
mempuyai 5 sirip yaitu sirip ekor, sirip
punggung, sirip dada, dan sirip dubur.
Pada sirip dada jari-jarinya mengeras
yang berfungsi sebagai patil, tetapi pada
lele dumbo lemah dan tidak beracun.
Insang berukuran kecil, sehingga
kesulitan jika bernafas. Selain brnafas
dengan insang juga mempunyai alat
pernafasan tambahan (arborencent)
yang terletak padainsang bagian atas.
Sebagaimna halnya ikan dari jenis lele,
lele dumbo memiliki kulit tubuh yang
licin, berlendir, dan tidak bersisik. Jika
terkena sinar matahari, warna tubuhnya
otomatis menjadi loreng seperti mozaik
hitam putih. Mulut lele dumbo relatif
lebar, yaitu sekitar dari panjang total
tubuhnya. Tanda spesifik lainnya dari
lele dumbo adalah adanya kumis di
sekitar mulut sebanyak 8 buah yang
berfungsi sebagai alat peraba. Saat
berfungsi sebagai alat peraba saat
bargerak atau mencari makan
(Khairuman, 2005).
5. Klasifikasi Ikan Tongkol
(Euthynnus sp)
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Pisces
Ordo : Percomorphi
Family : Scombridae
Genus : Euthynus
Spesies : Euthynnus sp
Bentuk tubuh ikan tongkol
seperti betuto dengan kulit yang licin .
Sirip dada melengkung ujungnya lurus
dan pangkalnya sangat kecil. Ikan
tongkol merupakan perenang yang
tercepat diantara ikan-ikan laut yang
berangka tulang. Sirip-sirip punggung,
dubur, perut, dan dada pada pangkalnya
mempunyai lekukan pada tubuh,
sehingga sirip-sirip ini dapat dilipat
masuk kedalam lekukan tersebut
sehingga dapat memperkecil daya
gesekan dari air pada waktu ikan
tersebut berenang cepat dan dibelakang
sirip punggung dan sirip dubur terdapat
sirip-sirip tambahan yang kecil-kecil
yang disebut finlet (Cholik 2000). Ikan
tongkol dapat mencapai ukuran panjang
60 65 cm dengan berat 1.720 gr pada
umur 5 tahun. Panjang pertama kali
matang gonad ialah 29-30cm. Ikan
tongkol memiliki 10 12 jari-jari sirip
punggung,10 13 jari-jari halus sirip
punggung,10 14 jari-jari halus sirip
dubur dengan warna punggung kebiru-
biruan.Sebuah pola 15 garis-garis halus
miring hampir horisontal,garis
bergelombang gelap di daerah scaleless
diatas gurat sisi (linea lateralis) bagian
bawah agak putih (cerah), dada dan sirip
perut ungu sisi bagian dalam mereka
hitam badan kuat memanjang dan
bulat. Gigi kecil dan berbentuk kerucut
dalam rangkaian tunggal. Sirip dada
pendek tapi mencapai garis vertikal
melewati batas anterior dari daerah
scaleless atas corselet. Sebuah flap
tunggal besar (proses interpelvic) antara
sirip perut tubuh telanjang kecuali untuk
corselet yang dikembangkan dengan
baik dan sempit di bagian posterior
(tidak lebih dari 5 skala yang luas di
bawah asal-sirip punggung kedua).
Sebuah keel pusat yang kuat pada setiap
sisi dasar sirip ekor-kecil antara 2 keel
(Cholik 2000).


6. Menurut Saanin (1984), ikan
Kembung mempunyai klasifikasi
sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Percomorphi
Famili : Scombridae
Genus : Restrellinger sp
Spesies : Restrellinger sp.
Kembung merupakan ikan yang
memiliki nilai komersil yang tinggi baik
di bidang berikanan tangkap dan
rekreasi, namun permasalahan saat ini
adalah eksploitasi yang tak terkendali
(Newman dkk 1996;. Kaunda-Arara dan
Ntiba 1997; Marriott dan Mapstone
2006;. Amezcua et al 2006). Karena
nilai perikanan yang tinggi, ada
kekhawatiran tentang laju ekpoitasi
yang meningkat sehingga mengancam
tingakt keberlangsungan populasi ikan
lutjanid. Perilaku agregatif dan
distribusi terumbu karang berbasis
membuat lutjanidae sangat rentan
terhadap eksploitasi (Baskoro et al,
2004).
7. Klasifikasi Ikan kurisin
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Malacopterygii
Family : Notopterydae
Genus : Nemiterus
Spesies :Nemiterus
nematophorus
Warna sangat bervariasi, seperti
kemerah-merahan, kecoklat coklatan,
merah kekuningan ataupun kehijau-
hiajuan. Sirip ekor bagian atas
memanjang membentuk flagel
sedangkan pada sirip ekor bagian
bawahnya tidak. Warna pada bagian
atas kepala kecoklatan, satu sampai tiga
garis kuning membujur diatas garis
rusuk, 7 sampai 9 pada bagian bawah
garis rusuk dan sebuah pita kuning
sepanjang perut. Terdapat totol orange
atau merah terang dekat pangkal garis
rusuk (linea lateral). Sirip dorsal
berwarna merah, dengan garis tepi
berwarna kuning atau orange dengan
satu pita kuning yang luas sepanjang
dasar sirip dorsal. (Sulistiawati, 2011).
8. Klasifikasi Ikan Bandeng (Chanos
chanos)
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Pisces
Ordo : Malacopterygii
Family : Chanidae
Genus : Chanos
Species : Chanos chanos
Ikan bandeng dikenal sebagai
ikan petualang yang suka merantau.
Ikan bandeng ini mempunyai bentuk
tubuh langsing mirip terpedo, dengan
moncong agak runcing, ekor bercabang
dan sisiknya halus. Warnanya putih
gemerlapan seperti perak pada tubuh
bagian bawah dan agak gelap pada
punggungnya (Mudjiman, 1998). Ciri
umum ikan bandeng adalah tubuh
memanjang agak gepeng, mata tertutup
lapisan lemak (adipase eyelid), pangkal
sirip punggung dan dubur tertutup sisik,
tipe sisik cycloid lunak, warna hitam
kehijauan dan keperakan bagian sisi,
terdapat sisik tambahan yang besar pada
sirip dada dan sirip perut. Bandeng
jantan memiliki ciri-ciri warna sisik
tubuh cerah dan mengkilap keperakan
serta memiliki dua lubang kecil di
bagian anus yang tampak jelas pada
jantan dewasa (Hadie, 2000).

2.4. Habitat Ikan
Habitat ikan dibagi atas tiga
tempat yaitu, di air tawar, di air laut dan
di air payau. Habitat air tawar dibagi
atas dua yakni, habitat air tergenang dan
habitat air mengalir. Habitat air laut
dibagi atas tiga lapisan zona yakni, zona
epipelagik pada permukaan laut sampai
kedalaman 100 meter, zona eufotik pada
kedalaman 100 meter yang masih
terjadi fotosintesis, zona mesopelagik
pada kedalaman 100 m sampai 2000 m
dan zona batial pelagik pada kedalaman
2000 sampai 4000 m. sedangkan pada
habitat payau adalah badan badan air
dimana air tawar dari air sungai
bercampur dengan air asin dari laut
(Fatkhomi, 2009).




1. Ikan Mas (Cyprinus carpio)
Menurut Asmawi (1986), ikan
Mas adalah salah satu jenis ikan
peliharaan yang penting sejak dahulu
hingga sekarang. Daerah yang sesuai
untuk mengusahakan pemeliharaan ikan
ini yaitu daerah yang berada antara 150
600 meter di atas permukaan laut, pH
perairan berkisar antara 7-8 dan suhu
optimum 20-25
o
C. Ikan Mas hidup di
tempat-tempat yang dangkal dengan
arus air yang tidak deras, baik di sungai
danau maupun di genangan air lainnya
(Jeffri, 2010).
2. Ikan patin ( Pangasius sp )
Habitat ikan patin adalah di
tepi sungai sungai besar dan di
muara muara sungai serta danau.
Dilihat dari bentuk mulut ikan patin
yang letaknya sedikit agak ke bawah,
maka ikan patin termasuk ikan yang
hidup di dasar perairan. Ikan patin
sangat terkenal dan digemari
olehmasyarakat karena daging ikan
patin sangat gurih dan lezat untuk
dikonsumsi (Susanto Heru dan
Khairul Amri, 1996). Patin dikenal
sebagai hewan yang bersifat
nokturnal, yakni melakukan aktivitas
atau yang aktif pada malam hari. Ikan
ini suka bersembunyi di liang liang
tepi sungai. Benih patin di alam
biasanya bergerombol dan sesekali
muncul di permukaan air untuk
menghirup oksigen langsung dari
udara pada menjelang fajar. Untuk
budidaya ikan patin, media atau
lingkungan yang dibutuhkan tidaklah
rumit, karena patin termasuk
golongan ikan yang mampu bertahan
pada lingkungan perairan yang jelek.
Walaupun patin dikenal ikan yang
mampu hidup pada lingkungan
perairan yang jelek, namun ikan ini
lebih menyukai perairan dengan
kondisi perairan baik (Kordi, 2005).

3. Ikan Nilem ( Osteochilus haselti )
Ikan Nilem banyak hidup di dareah
sungai dan danau. Ikan nila sangat
cocok dengan dipelihara pada
perairan yang tenang, kolam atau
reservoir. Ikan nila merupakan ikan
tropis yang hidup pada perairan
hangat yang berasal dari benua
Afrika dan memiliki sifat cepat
tumbuh dan berkembang biak pada
umur masih muda, sekitar 3.6 bulan.
Ikan nila akan mampu bertahan hidup
pada air dengan salinitas 50 g/l dan
tumbuh baik pada air dengan salinitas
18ppt. sedangkan ikan nila dengan
jenis Tilapia Aurea dan Tilapia
Nilotica akan berkembang biak dan
tumbuh baik pada salinitas perairan
berkisar 10-20 g/l (Boya, 1990).
4. Ikan Lele (Clariias batrachus)
Lele mudah beradaptasi dengan
lingkungan yang tergenang air. Bila
sudah dewasa, lele dapat beradaptasi
pula pada lingkungan perairan yang
mengalir. Parameter kualitas air yang
disukai oleh lele adalah brsuhu
sedang (2225
0
C), keasaman (pH)
normal (6,5-7,5) kandungan oksigen
cukup (<3> ) Menurut Najiyati
(1992), lele termasuk ikan air tawar
yang menyukai genangan air yang
tidak tenang. Di sungai-sungai, ikan
ini lebih banyak dijumpai di tempat-
tempat yang aliran airnya tidak
terlalu deras. Kondisi yang ideal bagi
hidup lele adalah air yang
mempunyai pH 6,5-9 dan bersuhu
2426
0
C. Kandungan O
2
yang
terlalu tinggi akan menyebabkan
timbulnya gelembung-gelembung
dalam jaringan tubuhnya. Sebaliknya
penurunan kandungan O
2
secara tiba-
tiba, dapat menyebabkan
kematiannya.


5. Ikan Tongkol (Euthynnus sp)
Ikan tongkol ditemukan pada
kedalaman lebih dari 100 m. Ikan ini
terdapat pada lingkungan mencakup
100-330 m. Habitatnya di daerah
karang dan area dasar berbatu-batu
dengan kedalaman minimal 100 m.
Ikan ini ditemukan pada kedalaman
90-360 m. Ikan tongkol terdapat pada
kedalaman lebih dari 100 m (antara
100-600 m). Distribusi ikan tongkol
meliputi bagian utara sampai selatan
Jepang, secara luas ditemukan di
Indo-Pasifik. Ikan ini penyebarannya
selain di Indo-Pasifik juga terdapat di
timur Afrika. Kepulauan hawai, utara
Ryukyu. Kepulauan Ogasawara,
Australia Selatan dan Atlantik
Tenggara: Port Alfred, Afrika
Selatan.
6. Ikan Kembung (Restrellinger sp)
Ikan kembung termasuk salah
satu jenis ikan yang hidup dan
banyak dijumpai di perairan pantai,
perairan karang, dan muara-muara
sungai di seluruh di dunia terutama
pada daerah subtropics sehingga
disebut juga sebagai ikan demersal
(Manickchand, et al, 1996,
McPherson, 1992). Michelle R.
Heupel, et al, (2010) menemukan
pada tujuh jenis terumbu karang
dapat dimanfaatkan oleh
Restrellinger sp, dibandingkan
dengan tingkat variasi intrafamili
pada sejarah hidup untuk beberapa
spesies yang siap panen. Di Hawai
ikan kembung yang di introduksi
pada tahun 1950an-1960an pada
perairan dangkal dapat hidup dan
berkembang, dari tiga jenis kembung
yang di introduksi dapat berkembang
dengan baik hingga saat ini (Randall,
1987). Daerah penyebaran kembung
hampir di seluruh Perairan Laut
Jawa, mulai dari Perairan Bawean,
Kepulauan Karimun Jawa, Selat
Sunda, Selatan Jawa, Timur dan
Barat Kalimantan, Perairan Sulawesi,
Kepulauan Riau. Kelompok ikan dari
famili Restrellinger pada umumnya
menempati wilayah perairan dengan
substrat sedikit berkarang dan banyak
tertangkap pada ke dalaman antara
40-70 m terutama untuk yang
berukuran besar, ikan muda yang
masih berukuran kecil biasa
menempati daerah hutan bakau yang
dangkal atau daerah-daerah yang
banyak ditumbuhi oleh rumput laut
(Widodo et al., 1991 dalam Herianti
dan Djamal, 1993).
7. Ikan Kurisi (Nemiterus
nematophorus)
Ikan kurisi termasuk dalam jenis
ikan demersal. Hal ini dicirikan
dengan bentuk mulut yang letaknya
agak ke bawah dan adanya sungut
yang terletak di dagunya yang
digunakan untuk meraba dalam usaha
pencarian makanan, badan langsing
dan padat (compressiform ). Tipe
mulut terminal dengan bentuk gigi
kecil membujur dan gigi taring pada
rahang atas (kadang-kadang ada juga
pada rahang bawah). Bagian depan
kepala tidak bersisik. Sisik dimulai
dari pinggiran depan mata dan keping
tutup insang. Sisik dibagian badan
lebih besar dan berbentuk seperti sisir
dan kasar bila disentuh. Sebuah garis
rusuk (linea lateral) dengan satu sisik
atau lebih. (Sulistiawati, 2011).

8. Ikan Bandeng (Chanos chanos)
Bandeng banyak dikenal orang
sebagai ikan air tawar. Habitat asli
ikan bandeng sebenarnya di laut,
tetapi ikan ini dapat hidup di air
tawar maupun air payau. Ikan
bandeng hidup di Samudra Hindia
dan menyeberanginya sampai
Samudra Pasifik, mereka cenderung
bergerombol di sekitar pesisir dan
pulau-pulau dengan koral. Ikan yang
muda dan baru menetas hidup di laut
untuk 2 - 3 minggu, lalu berpindah ke
rawa-rawa bakau, daerah payau, dan
kadangkala danau-danau. Bandeng
baru kembali ke laut kalau sudah
dewasa dan bisa berkembang biak
(Anonim, 2009).


III. Materi dan Metode
3.1. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada
praktikum identifikasi ikan yaitu
alat bedah, baki parafin, jarum
penusuk, kunci identifikasi,
kamera dan pensil.
Bahan yang digunakan yaitu,
ikan bandeng, ikan lele, ikan
tongkol, ikan kurisi, ikan patin,
ikan mas, ikan kakap merah, dan
ikan nilem.

3.3. Cara Kerja

ikan diletakan
pada baki
parafin
sirip dan ekor
diregangkan dan
ditusuk dengan
jarum pentul
ikan di amati dan di
identifikasi menurut
buku identifikasi
hasil identifikasi yang
diketahui dicatat
IV. Hasil dan Pembahasan
4.1. Hasil Praktikum
No Gambar Klasifikasi
1

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Malacopterygii
Family : Chanidae
Genus : Chanos
Spesies : Chanos chanos

2

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Percomorphi
Famili : Scombridae
Genus : Restrellinger sp
Spesies : Restrellinger sp.

3

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Malacopterygii
Family : Notopterydae
Genus : Nemipterus
Spesies :
Nemipterus nematophorus

4

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Family : Clariidae
Genus : Clarias
Spesies : Clarias batrachus

5

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio

6

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Family : Cyprinidae
Genus : Osteochilus
Spesies :
Osteochilus haselti

7

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Famili : Pangasidae
Genus : Pangasius
Spesies : Pangasius sp

8

Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Percomorphi
Family : Scombridae
Genus : Euthynus
Spesies : Euthynus sp


4.2. Pembahasan
Secara garis besar ikan memiliki
rangka yang terdiri dari tulang benar;
tertutup insang dan berasal dari subclass
Teleostei. Berdasarkan hasil identifikasi
dapat diketahui bahwa ikan Bandeng
memiliki nama ilmiah Chanos chanos.
Berdasarkan buku identifikasi pada saat
praktikum dapat diketahui bahwa ikan
bandeng bersisik, tidak bersungut, tidak
memiliki jari-jari keras pada sirip
punggung, hal ini dapat diartikan bahwa
ikan ini berasal dari ordo
Malacopterygii. Memiliki sirip dubur
yang jauh dibelakang sirip punggung,
ikan ini berasal dari family Chanidae.
Hasil terakhir dari identifikasi ikan
bandeng ini adalah sirip ekor panjang
dan beragak kemudian keeping sebelah
atas lebih panjang yang mengartikan
bahwa ikan ini dari genus Chanos.
Selanjutnya ikan Kembung memiliki
nama ilmiah Restrellinger sp. Nama
ilmiah ini bisa didapatkan setelah
melalui beberapa tahap identifikasi
diantaranya sirip punggung dan dubur
tidak panjang, ikan ini berasal dari ordo
Percomorphy. Berdasarkan bentuknya
ikan ini berbentuk suatu V:15 yang
berjari-jari lemah, sirip ekor bercabang
pada pangkalnya, dan terdapat sirip
kecil dibelakang sirip punggung serta
terdapat sirip dubur, ikan ini berasal dari
family Scombridae. Pada bagian depan
tulang mata banyak dan langit-langit
tidak bergigi, sirip dubur tidak berjari-
jari, yang dapat dikatakan bahwa ikan
ini berasal dari genus Restrellinger.
Jenis ikan ketiga yang teridentifikasi
pada praktikum kali ini adalah ikan
kurisi dengan nama ilmiah Nemipterus
nematophorus. Ikan ini bersisik, tidak
bersungut, tidak berjari-jari keras pada
sirip punggung, ikan ini berasal dari
ordo Malacopterygii. Pada bagian
kepala, ikan ini bersisik, perut tipis dan
bergigi kembar yang dapat diartikan
bahwa ikan ini berasal dari family
Notopterydae. Rahang tulang mata
banyak dan langit tidak bergigi, ikan ini
termasuk genus Notopterus. Ikan ke
empat yang dapat teridentifikasi adalah
ikan Lele dengan nama ilmiah Clariias
batrachus. Ikan ini tidak bersisik,
disekitar mulut terdapat sungut, terdapat
satu jari-jari yang mengeras pada sirip
punggung, ikan ini berasal dari ordo
Ostariophysi. Sirip punggung berjari-
jari banyak, memiliki sungut 4 pasang
yang dapat diartikan bahwa ikan ini
berasal dari family Clariidae. Tidak
bersirip lemak, sirip punggung hampir
bersambungan dengan sirip ekor, ini
merupakan ciri dari genus Clariias.
Jenis ikan ke lima pada
praktikum identifikasi ikan ini adalah
ikan Mas dengan nama ilmiah Cyprinus
carpio. Penamaan ilmiah tersebut berasal
dari beberapa tahapan identifikasi
diantaranya adalah ikan ini memiliki
sungut di sekeliling mulutnya, terdapat
empat jari-jari yang mengeras pada bagian
punggung, ikan ini dapat dikatakan bahwa
berasal dari ordo Ostariophysi. Duri tunggal
atau berbelah melingkar ada di muka atau di
bawah mata, pinggir rongga mulut bebas,
posisi mulut agak kebawah dan tidak
pernah lebih dari sama dengan 4 helai
sungut, ikan ini berasal dari family
Cyprinidae. Memiliki empat sungut, 3 garis
gigi dan kerongkongan yang terbentuk
geraham, ikan ini berasal dari genus
Cyprinus. Ikan nilem adalah jenis ikan
ketujuh yang teridentifikasi pada praktikum
identifikasi ikan. Ikan ini memiliki nama
ilmiah Osteochilus haselti. Ciri identifikasi
yang didapatkan adalah bersisik, terdapat
sungut disekitar mulut, empat jari-jari yang
mengeras pada sirip punggung. Hasil ini
menyatakan bahwa ikan ini berasal dari
ordo Ostariophysi. Duri tunggal atau
berbelah melingkari ada di muka atau di
bawah, pinggir rongga mata bebas, posisi
mata agak kebawah dan tidak pernah
terdapat 4 helai sungut, ikan ini berasal dari
family Cyprinidae. Pada sirip punggung
dengan 10-18 jari-jari lemah bercabang
adalah ciri genus Osteochilus. Ikan ketujuh
yang teridentifikasi adalah ikan patin
yang memiliki nama ilmiah Pangasius
sp. Ikan ini tidak bersisik, memiliki
sungut disekitar mulutnya dan memiliki
satu jari-jari yang mengeras pada bagian
punggung yang menandakan bahwa
ikan ini berasal dari ordo Ostariophysi.
Lubang sungut pada ikan ini sangat
kecil, berpinggiran mata yang bebas dan
sirip punggung kecil serta di hidungnya
memiliki sungut, ikan ini berasal dari
family Pangasidae. Posisi lubang hidung
dekat ke yang depan dan diatas garis
antara lubang hidung di depan mata.
Mata sebagian dibawah garis yang
melewati sudut mulut yang dapat
diartikan bahwa ikan ini berasal dari
genus Pangasius. Ikan terakhir yang
teridentifikasi adalah ikan Tongkol dengan
nama ilmiah Euthynnus sp. Ciri-ciri nya
adalah sirip punggung dan dubur tidak
panjang yang merupakan identitas dari ordo
Percomorphy. Badan memiliki bentuk V:15
jari-jari lemah, sirip ekor bercabang pada
pangkalnya, sirip kecil dibelakang sirip
punggung dan terdapat sirip dubur, ikan ini
berasal dari family Scombridae. Badan
tidak bersisik, kecuali lapisan daerah sirip
dada, merupakan ciri dari genus Euthynnus


V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan
pembahasan mengenai identifikasi dapat
diambil kesimpulan :
1. Pada praktikum ini mahasiswa diharapkan
dapat mengetahui mengenai identifikasi
spesies ikan yang di praktikan sebagai
berikut. Secara umum semua ikan berasal dari
Kingdom Animalia, Filum Chordata dan
Kelas pisces. Namun jika dilihat lebih
mengkerucut pada praktikum ini dapat
diketahui bahwa, Ikan Patin merupakan jenis
ikan dari ordo Ostariophyri , family
Pangasidae dan genus Pangasius. Ikan Patin
secara identifikasi memiliki nama ilmiah
Pangasius sp. Ikan Lele, ikan Mas, dan ikan
Nilem berasal dari ordo yang sama, yakni
berasal dari ordo Ostariophysi. Ketiga spesies
ini memiliki nama ilmiah, yakni ikan Lele (
Clariias batrachus ), ikan Mas (Cyprinus
carpio) dan ikan Nilem (Osteochilus haselti).
Ikan Tongkol dan ikan Kembung berasal dari
ordo dan family yang sama yakni, ordo
Percimorphy dan family Scombridae. Ikan
Tongkol memiliki nama ilmiah (Euthynus sp)
dan ikan Kembung memiliki nama ilmiah
(Restrellinger sp). Ikan Bandeng dengan ikan
Kurisi berasal dari ordo yang sama yakni ordo
Malacopterygi. Ikan Bandeng memiliki nama
ilmiah (Chanos chanos) dan ikan Kurisi
memiliki nama ilmiah (Nemiterus
nematophorus).






DAFTAR PUSTAKA

Barus T.A dan Hesti wahyiningsih.
2006. Ikhtiologi. Usu-press, Medan
Boya, 1990. Anatomi. Yogyakarta :
Kanisius
Fatkhomi. 2009.ekologi ikan.
http://www.habitat-ikan09.pdf [30
september 2012].
Jeffri. 2010. Morfologi Ikan, Universitas
Sriwijaya, Palembang.
Khairuman dan Suhenda D. 2002.
Budidaya Ikan Patin Secara Intensif.
Agromedia Pustaka.
Jakarta. 89 hal.
Najiyati, S. 1992. Memelihara Lele
Dumbo di Kolam Taman. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Saanin 1984, Subagja Y. 2009.
Fortifikasi ikan patin (Pangasius sp)
[skripsi].Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan, Institut
Pertanian Bogor.
Rahardjo.M.F dkk, 2011. Ikhtiology,
Lubuk Agung, Jakarta.

Rahardjo, M.F. 1980. Ichthyologi.
Departemen Biologi Perairan.
Fakultas Perikanan. Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Rukmana R.1997.Ikan Nila. Budidaya
dan Prospek Agribisnis. Kanisius.
Yogyakarta
Rustidja. 2004. Pembenihan Ikan-Ikan
Tropis. Fakultas Perikanan Universitas
Brawijaya. Malang.
Santoso. 1996. Budidaya Ikan Nila.
Kanisius. Jakarta.
Sari, Citra. 2006. Kebiasaan Makan
Ikan Lidah Di Perairan Ujung Pangkah
Jawa Timur.
repositoryipb.ac.id [30
September 2012].

Wahyuningsih.H dan Barus. 2006.
Ikhtiologi. Departemen Biologi FMIPA
USU, Medan.
.